Anda di halaman 1dari 8

Korona

Korona adalah terlepasnya muatan listrik dari permukaan konduktor. Modus terlepasnya muatan ini dalam skala besar dapat terlihat oleh mata telanjang., sedangkan dalam skala kecil tidak dapat terlihat oleh mata. Dengan melebihi kuat medan breakdown udara yang terjadi dipermukaan kawat tegangan tinggi. Korona dipengaruhi oleh beberapa kondisi yaitu, tekanan udara, adanya uap air diudara, potoionisasi dan type tegangan tinggi yang diterapkan.

Pengertian dasar Korona Bila dua kawat sejajar yang mempunyai penampang kecil (dibandingkan dengan jarak antara kedua kawat tersebut) diberi tegangan bolak-balik, maka korona dapat terjadi. Pada tegangan yang cukup rendah tidak terlihat adanya tanda-tanda. Bila tegangan dinaikkan, maka korona dapat terjadi secara bertahap. Pertama kali kawat kelihatan bercahaya, mengeluarkan suara mendesis (hissing) dan berbau ozone. Warnah cahaya adalah ungu (violet) muda. Bila tegangan dinaikkan terus, maka karakteristik diatas makin nyata kelihatan terutama pada daerah yang kasar permukaanya, runcing dan kotor. Cahaya bertambah besar dan terang. Bila tegangan tersebut masih tetap dinaikkan, maka akan terjadi busur api. Korona mengeluarkan panas, hal ini dapat dibuktikan dari pengukuran dengan wattmeter. Dalam keadaan udara lembab, korona menghasilkan asam nitrogen (nitrous acid), yang menyebabkan kawat menjadi berkarat bila kehilangan daya yang cukup besar. Apabila tegangan searah diterapkan, maka pada kawat positif korona menampakkan diri dalam bentuk cahaya yang seragam (uniform) pada permukaan kawat, sedangkan pada kawat negatifnya hanya pada tempat tertentu saja (spooty). Fenomena korona dapat dianalisa dari muatan pada medium gas. Perlepasan muatan listrik umumnya dibangkitkan oleh suatu medan listrik yang mempercepat elektron bebas melalui suatu gas. Jika elektron elektron bebas ini mendapatkan energi yang cukup dalam medan listrik maka akan menghasilkan ion-ion baru dengan proses tabrakan atomik. Proses ini disebut

sebagai ionisasi akibat elektron tadi. Jumlah elektron akan berlipat ganda seperti terlihat pada gambar 1 Pertama elektron terlepas dari permukaan elektroda. Elektron ini menabrak atom didalam gas dan terbentuk ion positif dan terdapat dua elektron dalam gas ini pada proses kedua, selanjutnya terjadi pelipat gandaan muatan-muatan didalam gas itu; Dasar ionisasi dapat digambarkan dengan proses sebagai berikut :

+ 2e

Gambar. 1 Pelepasan elektron pada elektroda negatif.

Setelah sebuah elektron bertabrakan dengan sebuah atom, maka maka sebuah elektron pada atom dibebaskan. Kemudian, beberapa elektron berkemungkinan dapat juga membebaskan dua atau lebih elektron. Selanjutnya, terjadilah reaksi berantai yang menyebabkan bertambahnya kuantitas elektron secara cepat. Eksperimen pelepasan muatan dalam gas telah dilakukan oleh Townsend, yang memberikan suatu koefisien dari jumlah elektrojn yang dihasilkan oleh sebuah elektron yang bergerak sepanjang satu sentimeter dalam medan yang seragam, koefisien ini disebut dengan koefisien ionisasi pertama dari Townsend.

Arus litrik yang terjadi oleh pelepasan elektron adalah :

I = I0ead
Dimana : I I0 a d : arus pelepasan : arus awal : koefisien townsend ; jarak

Koefisien a dipengaruhi oleh kuat medan, tekanan gas, dan kondisi lain yang mempengaruhi pembebasan elektron. Sedangkan untuk keadaan medan yang seragam, tetapi tidak melebihi break down gas maka arus pelepasan pada celah yang berjarak d adalah :

I = (I0 ead}/(1 Dimana : I I0 g a d : arus celah yang terjadi : arus awal dalam gas yang diluar sumber : koefisien Townsend ionisasi kedua : koefisien Townsend ionisasi pertama : jarak celah

ad

1)

Untuk keadaan breakdown arus akan menjadi tidak terbatas sehingga didapat :
ad

1) = 1

Ionisasi udara mengakibatkan redistribusi gradien tegangan. Bila redistribusi ini sedemikian rupa, sehingga gradien udara diantara dua kawat lebih besar daripada gradien udara normal maka

terjadilah lompatan api. Bila hanya sebahagian saja daripada udara antara dua kawat terionisasikan, maka korona merupakan sampul (envelope) mengelilingi kawat. Gradient tegangan seragam yang dapat menimbulkan ionisasi kumulatif udara normal (25o C, 760 mm Hg) adalah 30 KV/cm.

DC - Korona

Gambar. Distribusi muatan dalam medan yang tidak seragam

Pada tegangan tinggi dan ekstra tegangan tinggi, korona terjadi pada setengah periode gelombang tegangan positif dan negatif. Kejadian ini terlihat pada sifat korona DC untuk elektroda positif dan negatif. Dengan demikian terlihat bahwa korona pada setengah gelombang negatif akan memberikan arus korona yang besar dibandingkan dengan setengah gelombang positifnya, hal ini disebabkan oleh muatan negatif lebih tinggi yaitu : mobilitas muatan negatif 1,99[cm/dt)(V/cm)] dan muatan positif 1,40 [cm/dt)(V/cm)]. Pada gambar dibawah adalah model korona yang terjadi pada tegangan AC. Untuk kutub positif, model yang terjadi disebut permulaan cucuran (streamer onset), permulaan sinar (glow onset) dan permulaan breakdown cucuran. Sedangkan untuk kutub negatif adalah permulaan pulsa aliran kecil (trichel pulse negatif), permulaan sinar negatif dan permulaan cucuran negatif.

Gambar. Kemungkinan model korona pada tegangan AC

4.3. Rugi-rugu korona


Kuat medan listrik adalah negatif dari grafien tegangan dan bila tidak terjadi korona maka medan
2

V = 0. Sedangkan

bila ada korona maka terjadi aliran muatan dipermukaan sehingga konsep medan laplace tidak memenuhi syarat lagi. Metoda pengukuran muatan pada muatan yang mengalir di ruangan/udara adalah suatu masalah yang tersukar untuk dilakukan. Penyelidikan tentang rugi-rugi arus oleh adanya korona adalah dibutuhkan untuk menentukan medan listrik yang terjadi pada keadaan korona itu. Suatu masalah yang sederhana diturunkan dari konfigurasi silinder yang dianalisis melalui medan Poisson dengan muatan bebas. Dengan menerapkan hukum PEEK untuk jari-jari 0,9 cm, kerapatan udara relatif adalah satu, kekasaran permukaan 0,5 dan dilingkupi oleh sangkar dengan jari-jari 26 cm terdapat besaran medan maksimal terjadinya korona adalah 19,7 KV/cm

Ec 30M (1

0,3 (r ) 0,5

dimana : E : medan maksimal tidak terjadinya korona : kerapatan udara relatif M R : kekasaran permukaan : jari-jari konduktor (cm)

Bila besar medan lebih kecil dari dari Ec maka tidak terjadi korona dan sebaliknya. Berikut ini dapat dilihat beberapa perhitungan tegangan kritis untuk beberapa konfigurasi.

4.4. Silinder konsentris


Bila diameter dalam dan luar silinder adalah d1 dan d2 dalam satuan cm, tegangan pada silinder dalam adalah V dalam satuan KV dan silinder luar ditanahkan akan terdapat medan sebesar E dan kapasitansi adalah :

2V d1 ln(d 2 / d1 )

55,6 x1012 C ln(d 2 / d1 )


didapatkan medan dan tegangan kritis korona :

2V d1 ln(d 2 / d1 )

55,6.1012 C ln(d 2 / d1 )
Didapatkan medan dan tegangan kritis

Ec 31M (1

0,436 ) ( d1 )

Vc Ec (d1 / 2) ln(

d2 ) d1

4.5. Konduktor paralel di udara

Dua konduktor paralel yang identik dengan jarak antara konduktor s lebih besar dari diameter konduktor adalah d yang masingkonduktor adalah V dalam satuan KV. Dalam hal ini terdapat kuat medan dan kapasitansi yang terjadi diantara konduktor adalah :

V d ln(d 2 / d1 )

2V d1 ln(d 2 / d1 )

22,8.10 12 C ln(d 2 / d1 )
Sedangkan kuat medan dan tegangan kritis korona adalah :

Ec 30M (1

0,436 ) ( d1 )

Vc Ec d ln(

2s ) d

Gambar berikut menunjukkan konfigurasi dari susunan elektroda tersebut :

Gambar. Konfigurasi konduktor