Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ketuban Pecah Dini (KPD) sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan morbiditas dan mortilitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi. Penyebab kematian ibu terbanyak

adalah perdarahan 60-70% preeklamsi dan eklamsi 10-20%, infeksi 10-20%. Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan salah satu penyebab terjadinya infeksi. Pada sebagian besar kasus ketuban pecah dini berhubungan dengan infeksi intra partum. Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera bersikap aktif terutama pada kehamilan yang cukup bulan, atau harus menunggu terjadinya proses persalinan, sehingga masa tunggu akan memanjang berikutnya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Dengan masih tingginya angka kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD) maka penyusun membuat makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Ibu Hamil yang mengalami Ketuban Pecah Dini.

1.2 Rumusan Masalah Bagaimanakah asuhan keperawatan pada ibu hamil yang mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD)?

1.3 Tujuan 1. Tujuan Umum Mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada ibu hamil yang mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD) meliputi biopsikososial spiritual.

2. Tujuan Khusus a. Dapat mengidentifikasi pengkajian terhadap ibu hamil yang mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD). b. Dapat merumuskan diagnosa keperawatan terhadap ibu hamil yang mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD). c. Dapat menetapkan intervensi terhadap ibu hamil yang mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD). d. Melaksanakan implementasi terhadap ibu hamil yang mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD). e. Melaksanakan evaluasi terhadap ibu hamil yang mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD). f. Mendokumentasikan hasil implementasi terhadap ibu hamil yang mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD).

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi 1. Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda mulai persalinan dan di tunggu satu jam sebelum terjadi inpartu (Manuaba, 2008). 2. Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah keluarnya cairan dari jalan lahir/vagina sebelum proses persalinan (Feryanto, achmad dan fadlun.2011). 3. Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum proses persalinan berlangsung. Ketuban Pecah Dini dapat terjadi pada kehamilan aterm dan preterm. Ketuban Pecah Dini Aterm adalah Ketuban Pecah Dini terjadi pada kehamilan lebih dari 37 minggu. Ketuban Pecah Dini Preterm adalah Ketuban Pecah Dini terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (Sukowati, Umi.,2010). 4. Ketuban Pecah Dini di definisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. Ketuban Pecah Dini yang memanjang adalah Ketuban pecah yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi kontraksi rahim disebut kejadian ketuban pecah dini (periode laten).

( http://www.dokumen.org/browse/ketuban-pecah-dini-pdf).

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Ketuban Pecah Dini adalah kondisi yang berhubungan dengan pecah atau rupturnya membran amnion secara spontan sebelum adanya tanda persalinan aktif, yang muncul saat usia kehamilan preterm ataupun aterm.

2.2 Anatomi Fisiologi Ketuban Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis, halus, licin, dan berkilau yang berisi cairan ketuban dan janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama disebut amnion, terdapat di sebelah dalam. Sedangkan, bagian kedua, yang terdapat di sebelah luar disebut chorion.

(www.google.co.id)

Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan ketuban ini terdiri dari 98 persen air dan sisanya padatan organik dan anorganik (1%-2%). Cairan ini dihasilkan oleh selaput ketuban dan dibentuk oleh sel-sel amnion, ditambah air kencing janin, serta cairan otak pada anensefalus. Pada ibu hamil, jumlah cairan ketuban ini beragam. Normalnya antara 1 liter sampai 1,5 liter. Namun bisa juga kurang dari jumlah tersebut atau lebih hingga mencapai 3-5 liter. Diperkirakan janin menelan lebih kurang 8-10 cc air ketuban atau 1 persen dari seluruh volume dalam tiap jam. Fungsi dari cairan ketuban, yaitu: 1. Melindungi pertumbuhan dan perkembangan janin. 2. Menjadi bantalan untuk melindungi janin terhadap trauma dari luar.

3. Menstabilkan perubahan suhu. 4. Pertukaran cairan. 5. Sarana yang memungkinkan untuk bayi bergerak bebas. 6. Mengatur tekanan dalam rahim. 7. Melindungi janin terhadap infeksi. Pengukuran Cairan Amnion Minggu Gestasi 16 28 36 40 100 1000 2500 3300 100 200 400 500 Janin (g) Plasenta (g) Cairan Amnion (ml) 200 1000 900 800 Cairan (%) 50 45 24 17

(Cuningham et al.,2005)

2.3 Etiologi Penyebab pasti dari KPD ini belum jelas. Akan tetapi, ada beberapa keadaan yang berhubungan dengan terjadinya KPD ini, di antaranya adalah sebagai berikut : 1. Fisiologi selaput amnion/ketuban yang abnormal. 2. Trauma : amniosintesis, pemeriksaan pelvis, dan hubungan seksual. 3. Peningkatan tekanan intra uteri, kehamilan kembar atau polihidromnion. 4. Infeksi vagina, serviks atau korioamnionitis, streptokokus, serta bakteri vagina. 5. Selaput amnion yang mempunyai struktur yang lemah atau selaput terlalu tipis. 6. Keadaan abnormal dari fetus seperti malpresentasi. 7. Kelainan pada serviks atau alat genetalia seperti ukuran serviks yang pendek (<25 cm) pada usia kehamilan 23 minggu. 8. Multipara dan peningkatan usia ibu.

9. Defisiensi nutrisi. 10. Stres maternal. 11. Stres fetal. 12. Riwayat KPD sebelumnya sebanyak dua kali atau lebih. 13. Faktor-faktor yang berhubungan dengan berat badan ibu a. Kelebihan berat badan sebelum kehamilan b. Penambahan berat badan yang sedikit selama kehamilan 14. Merokok selama kehamilan

2.4 Patofisiologis Ketuban pecah dini biasanya terjadi karena berkurangnya kekuatan membrane atau penambahan tekanan intra uteri ataupun oleh sebab keduaduanya. Kemungkinan tekanan intra uteri yang kuat adalah penyebab independent dari ketuban pecah dini dan selaput ketuban yang tidak adekuat akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi akan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban.

PATHWAY
Etiologi Berkurangnya kekuatan membrane dan penambahan Tekanan intra uteri Kurangnya jaringan ikat Selaput ketuban tidak adekuat Selaput ketuban lemah dan mudah pecah Mengeluarkan air ketuban (www.google.co.id)

2.5 Manifestasi Klinis Ibu biasanya datang dengan keluhan utama keluarnya cairan

amnion/ketuban melewati vagina. Selanjutnya jika masa laten panjang, dapat terjadi koriomnionitis. Untuk mengetahui bahwa telah terjadi infeksi ini adalah mula-mula dengan terjadinya takikardia pada janin. Takikardi pada ibu

muncul kemudian, ketika ibu mulai demam, maka diagnosis koriomnionitis dapat ditegakkan, dan diperkuat dengan terlihat adanya pus dan bau pada sekret.

2.6 Komplikasi Pengaruh ketuban pecah dini terhadap ibu dan janin adalah sebagai berikut : 1. Prognosis ibu a. Infeksi intrapartal/dalam persalinan. Jika terjadi infeksi dan kontraksi saat ketuban pecah, dapat menyebabkan sepsis yang selanjutnya dapat mengakibatkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas. b. Partus lama/dry labour. c. Perdarahan postpartum. d. Meningkatkan tindakan operatif obstetri e. Morbiditas dan mortalitas maternal.

2. Prognosis janin a. Prematuritas Masalah yang dapat terjadi pada persalinan prematur di antaranya adalah respiratory distress syndrom, hipotermia, gangguan makan neonatus, perdarahan intravertikular, gangguan otak cerebral palsy, anemia, sepsis. b. Penurunan tali pusat. c. Hipoksia dan asfiksia sekunder (kekurangan oksigen pada bayi). Mengakibatkan kompresi tali pusat, partus lama, perdarahan dan risiko

intrakarnial, distress pernapasan.

d. Sindrom deformitas janin Terjadi akibat oligohidramnion, diantaranya terjadi hipoplosia paru dan pertumbuhan janin terhambat. e. Morbiditas dan mortalitas perinatal.

2.7 Penatalaksanaan Beberapa langkah dalam penatalaksanaan ketuban pecah dini adalah sebagai berikut : 1. Pencegahan a. Diskusikan pengaruh merokok selama kehamilan dan dukung usaha untuk mengurangi atau berhenti. b. Motivasi untuk menambah berat badan yang cukup selama hamil. c. Anjurkan pasangan agar menghentikan koitus pada trimester akhir bila ada faktor predisposisi. 2. Penatalaksanaan ketuban pecah dini bergantung pada umur kehamilan dan tanda infeksi intrauterin. 3. Pada umumnya lebih baik untuk membawa pasien dengan KPD ke rumah sakit dan melahirkan bayi yang berumur >37 minggu dalam 24 jam dari pecahnya ketuban untuk meminimalisirkan infeksi intra uterin. 4. Tindakan konservatif (mempertahankan kehamilan) kolaborasi dengan dokter di antaranya dalam pemberian antibiotik dan cegah infeksi, pematangan paru, amnionfusion. Tindakan aktif (terminasi/mengakhiri kehamilan) yaitu dengan amniotomi (secio cesaria) ataupun partus pervaginam. 5. Dalam penetapan langkah penatalaksanaan tindakan yang dilakukan apakah langkah konservatif (mempertahankan kehamilan) ataukah aktif (terminasi/mengakhiri kehamilan), sebaiknya perlu mempertimbangkan usia kehamilan, kondisi dan ibu janin, fasilitas perawatan intensif, kondisi, waktu, dan tempat perawatan, kondisi/status imunologi ibu, dan kemampuan finansial keluarga.

2.8 Pemeriksaan Diagnostik 1. Hitung darah lengkap untuk menentukan adanya anemia, infeksi. 2. Golongan darah dan faktor Rh. 3. Rasio lesitin terhadap sfingomielin (rasio US) : menentukan maturitas janin. 4. Tes Ferning dan kertas nitrazine : memastikan pecah ketuban. 5. Ultrasonografi : menentukan usia gestasi, ukuran janin, gerakan jantung janin, dan lokasi plasenta. 6. Pelvimetri : identifikasi posisi janin. 7. Amniocentesis : kelainan kromosom (termasuk translokasi, aneuploidi), gangguan autosomal, x-linked gangguan, penyakit metabolik, kegagalan enzime, penyakit hematopoietik, dan immunodeficiencies.

2.9 Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a. Identitas 1) Nama Ibu 2) Umur 3) Pekerjaan 4) Agama 5) Alamat 6) Nama Suami b. Riwayat penyakit. 1) Riwayat kesehatan sekarang : ibu datang dengan pecahnya ketuban sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa komplikasi. 2) Riwayat kesehatan dahulu : a) Adanya trauma sebelumnya akibat efek pemeriksaan amnion. b) Sintesis, pemeriksaan pelvis, dan hubungan seksual. c) Kehamilan ganda, polihidramnion. d) Infeksi vagina/serviks oleh kuman streptokokus.

e) Selaput amnion yang lemah atau tipis. f) Posisi fetus tidak normal. g) Kelainan pada otot serviks atau genital seperti pendeknya serviks. h) Multiparitas dan peningkatan usia ibu serta defisiensi nutrisi. 3) Riwayat kesehatan keluarga : ada tidaknya keluhan ibu yang lain yang pernah hamil kembar atau turunan kembar. c. d. e. Keluhan utama, sejak kapan keluhan tersebut dirasakan Riwayat haid Riwayat perkawinan Menikah atau tidak, berapa kali menikah, berapa lama menikah. f. Riwayat kehamilan Persalinan premature g. h. Riwayat psikososial Riwayat hubungan seksual baru-baru ini Pola Hubungan Seksualitas Pada Kehamilan i. Anamnesa Keluarga j. Kebiasaan Sehari-hari. k. Pemeriksaan Fisik Umum Kesadaran Tanda-tanda vital meliputi tensi, nadi, suhu, respirasi. Berat badan sebelum hamil dan sesudah hamil

1) Inspeksi (a) Muka Kelopak mata Sklera : cekung atau tidak Konjungtiva : anemis atau tidak : ikterik atau tidak

(b) Mulut dan gigi : apakah ada stoma, mulut kering, warna mukosa gigi, karies pada gigi, lidah, graham gigi, dan gusi.

10

(c) Leher : Pembendungan vena, pembesaran kelenjar thyroid dan kelenjar limfa. (d) Dada : Bentuk buah dada, pigmentasi puting dan areola, keadaan puting menonjol atau tidak. (e) Perut : Pembesaran, keadaan pusat, gerakan janin, kontraksi rahim, striae, linea, dan bekas luka. (f) Genitalia : adanya edema varices, luka keadaan perineum elastis atau tidak, apa ada benjolan,

kemerahan, kebersihan. 2) Palpasi (a) Besarnya rahim, dengan ini dapat menentukan tuanya kehamilan (TFU). (b) Menentukan letaknya anak dalam rahim (leopald I-IV), serta diraba apakah ada kelainan seperti tumor, cysta, pembesaran limfa, dll. (c) Kandung kemih penuh atau tidak. (d) Pembukaan serviks (0-4 cm). 3) Auskultasi (a) Denyut Jantung Janin (b) Bising tali pusat (c) Gerakan Janin 4) Vagina Taucher (a) Portio: masih tebal atau sudah mengalami penipisan (b) Pembukaan beberapa cm (c) Selaput ketuban masih ada atau tidak (d) Air ketuban (jumlah, warna, dan bau) (e) Lendir darah (f) Anus ada hemoroid apa tidak

11

2. Diagnosa Keperawatan a. Risiko tinggi infeksi maternal yang berhubungan dengan prosedur invasif, pemeriksaan vagina berulang, dan ruptur membran amniotik. b. Kerusakan pada pertukaran gas pada janin yang berhubungan dengan adanya penyakit. c. Ansietas yang berhubungan dengan situasi kritis, ancaman pada diri sendiri/janin. d. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terjadinya ketegangan otot rahim e. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan atau konfirmasi tentang penyakit. f. Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri , peningkatan HIS. g. Intoleransi aktifitas b.d. kelemahan fisik.

3. Intervensi Keperawatan a. Diagnosa : risiko tinggi infeksi maternal yang berhubungan dengan prosedur invasif, pemeriksaan vagina berulang, atau ruptur membran amniotik. Tujuan : infeksi maternal tidak terjadi. Kriteria hasil : dalam waktu 3 x 24 jam ibu bebas dari tanda-tanda infeksi (tidak demam, cairan amnion jernih hampir tidak berwarna, dan tidak berbau). Intervensi Mandiri 1 Lakukan pemeriksaan vagina awal, ulangi bila pola kontraksi atau perilaku ibu menandakan kemajuan. Gunakan teknik aseptik selama pemeriksaan vagina. Anjurkan perawatan perineum Pengulangan pemerikasaan vagina berperan dalam insiden infeksi saluran asenden. Mencegah pertumbuhan bakteri dari kontaminasi pada vagina. Menurunkan risiko infeksi Rasional

2 3

12

setelah eliminasi setiap 4 jam dan saluran asenden. sesuai indikasi. Pantau dan gambarkan karakter Pada infeksi, cairan amnion cairan amniotik. menjadi lebih kental dan kuning oekat serta dapat terdeteksi adanya bau yang kuat. Pantau suhu, nadi, pernapasan, Setelah 4 jam setelah membran dan sel darah putih sesuai ruptur, insiden korioamnionitis indikasi. meningkat secara progresif sesuai dengan waktu yang ditunjukan melalui TTV Tekankan pentingnya mencuci Mengurangi perkembangan tangan yang baik dengan benar. mikroorganisme.

Kolaborasi 7 Berikan cairan oral dan parenteral Meski sering tidak boleh

sesuai indikasi. Berikan enema dilakukan, namun evaluasi usus pembersih bula sesuai indikasi. dapat meningkatkan kemajuan persalinan dan menurunkan

risiko infeksi. 8 Berikan antibiotik profilaktik bila Antibiotik diindikasikan. dapat melindungi

perkembangan korioamnionitis pada ibu berisiko.

Dapatkan kultur darah bila gejala Mendeteksi sepsis ada. mengindentifikasi

dan organisme

penyebab terjadinya infeksi.

b. Diagnosa : gangguan kerusakan pertukaran gas pada janin yang berhubungan dengan proses penyakit. Tujuan : pertukaran gas pada janin kembali normal. Kriteria hasil : diharapkan dalam waktu 1 x 24 jam :
13

Klien menunjukkan DJJ dan variabilitas denyut per denyut dalam batas normal. Bebas dari efek-efek merugikan dan hipoksia selama persalinan.

Intervensi Mandiri 1 Pantau DJJ setiap 15-30 menit

Rasional

Takikardi atau brdikardi janin adalah indikasi dari kemungkinan penurunan yang mungkin perlu intervensi

Periksa DJJ dengan segera bila Mendeteksi distres janin karena terjadi periksa pecah 5 ketuban dan kolaps alveoli.

menit

kemudian,

observasi perineum ibu untuk mendeteksin prolaps tali pusat. 3 Perhatikan dan catat warna serta Pada presentasi verteks, hipoksia jumlah cairan amnion dan waktu yang lama mengakibatkan cairan pecahnya ketuban. amnion mekonium vagal berwarna karena seperti rangsangan

yang

merelaksasikan

sfingter anus janin. 4 Catat perubahan DJJ selama Mendeteksi beratnya hioksia dan kontraksi. uterus Pantau aktivitas kemungkinan penyebab janin

secara

manual Bicara dan

atau rentan terhadap potensi cedera pada selama persalinan karena

elektronik. ibu/pasangan informasi tersebut.

berikan menurunnya kadar oksigen. situasi

tentang

Kolaborasi 5 Siapkan untuk melahirkan Dengan penurunan viabilitas

dengan cara yang paling baik mungkin memerlukan kelahiran atau dengan intervensi bedah secsio caesaria untuk mrncegah bila tidak terjadi perbaikan. cidera janin dan kematian karena hipoksia.

14

c. Diagnosa : Ansietas yang berhubungan dengan situasi kritis, ancaman pada diri sendiri/janin. Tujuan : mengurangi kecemasan. Kriteria hasil : diharapkan dalam waktu 1 x 24 jam: Menggunakan teknik pernapasan dan relaksasi yang efektif. Berpartisipasi aktif dalam proses melahirkan.

Pada panggul yang normal, pada waktu pembukaan lengkap, janin harus segera dilahirkan. Pada letak sungsang janin harus dilahirkan dengan ekstraksi kaki, pada letak lintang dilakukan versi ekstraksi. Sedangkan pada presentasi belakang kepala dilakukan dengan tekanan yang cukup pada fundus uteri ketika his. Agar kepala janin masuk dalam rongga panggul dan segera dapat dilahirkan, bila perlu tindakan ini dapat dibantu dengan melakukan ekstraksi cunam. Pada keadaan dimana janin sudah meninggal, tidak ada alasan untuk menyelesaikan persalinan dengan segera. Persalinan di awasi, sehingga berlangsung spontan dan tindakan hanya dilakukan jika diperlukan demi kepentingan ibu. Ibu ditidurkan dengan posisi Trendelenburg dengan harapan bahwa ketuban tidak pecah terlalu dini dan tali pusat masuk kembali kedalam cavum uterus. Selama menunggu, denyut jantung janin diawasi dengan seksama, sedangkan kemajuan persalinan hendaknya selalu dinilai dengan pemeriksaan dalam untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan selanjutnya.

15

d. Diagnosa : Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terjadinya ketegangan otot rahim Tujuan : rasa nyeri berkurang Kriteria hasil : klien tampak tenang dan nyaman. Intervensi Monitor tanda tanda vital : TD, pernafasan, nadi dan suhu. ajrakan relaksasi atur posisi klien. berikan lingkungan yang nyaman pengunjung e. Diagnosa : Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan atau konfirmasi tentang penyakit. Tujuan : klien bertambah pengetahuan setelah diberikan informasi mengenai penyakitnya. Kriteria hasil : klien tidak resah lagi dengan peyakitnya. menunjukkan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis. Rasional memberikan pengetahuan dasar dimana klien dapat membuat pilihan. agar klien tidak merasa jenuh dan mempercepat proses penyembuhan. agar klien mengerti dengan bahaya nya infeksi dan dan batasi klien teknik Rasional nyeri nadi. untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan klien. untuk memberikan kenyamanan pada klien. agar klien dapat beristirahat dapat mengakibatkan

peningkatan frekuesni pernafasan dan

Intervensi tinjau proses penyakit dan harapan masa depan. dorong periode istirahat yang adekuat dengan aktifitas terjadwal.
16

berikan pelayanan kesehatan mengenai penyakitnya. jelaskan kepada klien apa yg

terjadi, berikan kesempatan untuk bertanya dan berikan jawaban yang terbuka dan jujur.

penyakitnya. menunjukkan realitas situasi yang dapat membantu klien atau orang terdekat menerima realitas dan mulai menerima apa yang terjadi

f. Diagnosa : Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri , peningkatan HIS. Tujuan : kebutuhan istirahat tidur klien terpenuhi. Kriteria hasil : klien dapat tidur dengan tenang dan tidak gelisah. klien menunjukkan pola tidur yang adekuat. Rasional agar dapat memberikan

Intervensi lakukan pengkajian terhadap gangguan kebutuhan tidur. motivasi klien agar

gambaran sampai sejauh mana kebutuhan tidur terganggu. dengan mengalihkan perhatian, maka perhatian klien tidak hanya tertuju pada rasa nyeri sehingga membantu relaksasi pada klien sewaktu tidur. untuk mengetahui apakah kebutuhan tidur klien terpenuhi seperti biasa atau belum. suasana yang tenang dapat

mengalihkan perhatian. monitor kebutuhan tidur. ciptakan suasana nyaman.

membantu relaksasi sehingga nyeri berkurang dan klien bisa tidur

17

g. Diagnosa : Intoleransi aktifitas b.d. kelemahan fisik. Tujuan : aktivitas kembali sesuai kemampuan pasien. Kriteria hasil : pasien bisa beraktivitas seperti biasa. Intervensi Bantu pasien dalam Rasional agar kebutuhan sehari hari klien dapat terpenuhi seperti biasanya. agar klien merasa nyaman dan tenang. kelelahan dapat menyebabkan

memenuhi kebutuhan seharihari seminimal mungkin. Beri posisi nyaman. Anjurkan menghemat energy hindari Jelaskan mobilisasi diri. 4. Implementasi keperawatan kegiatan yang

lama nya proses penyembuhan klien,jadi dengan menghindari kegiatan yang melelahkan dapat membantu proses penyembuhan. proses penyembuhan

melelahkan. pentingnya

a. Mengkaji risiko tinggi infeksi maternal yang berhubungan dengan prosedur invasif, pemeriksaan vagina berulang, dan ruptur membran amniotik. b. Mengkaji kerusakan pada pertukaran gas pada janin yang berhunungan dengan adanya penyakit. c. Mengkaji ansietas yang berhubungan dengan situasi kritis, ancaman pada diri sendiri/janin. d. Mengkaji gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terjadinya ketegangan otot rahim e. Mengkaji ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan atau konfirmasi tentang penyakit f. Mengkaji gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri , peningkatan HIS. g. Mengkaji intoleransi aktifitas b.d. kelemahan fisik.

18

5. Evaluasi keperawatan a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. infeksi maternal tidak terjadi. Klien menunjukkan DJJ dan variabilitas denyut per denyut dalam batas normal. Bebas dari efek-efek merugikan dan hipoksia selama persalinan. Menggunakan teknik pernapasan dan relaksasi yang efektif. Berpartisipasi aktif dalam proses melahirkan. klien tampak tenang dan nyaman. klien tidak resah lagi dengan peyakitnya. menunjukkan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis. klien dapat tidur dengan tenang dan tidak gelisah. klien menunjukkan pola tidur yang adekuat. pasien bisa beraktivitas seperti biasa.

6. Dokumentasi keperawatan a. Perawatan perineum dilakukan setiap 4 jam dan disesuaikan dengan adanya indikasi. b. Catat pemantaun pemeriksaan vagina dilakukan jika adanya kontraksi dan kemajuan lainnya. c. d. e. f. g. Pemeriksaan TTV dilakukan setiap 4 jam. Catat pemberian cairan oral dan parenteral. Pemantauan DJJ dilakukan 15-30 menit. Mengajarkan teknik relaksasi. Mengajarkan mobilisasi diri.

19

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan, dan setelah ditunggu satu jam, belum ada tanda persalinan. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi kontraksi rahim disebut kejadian ketuban pecah dini (periode laten). Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis, halus, licin, dan berkilau yang berisi cairan ketuban dan janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama disebut amnion, terdapat di sebelah dalam. Sedangkan, bagian kedua, yang terdapat di sebelah luar disebut chorion.

3.2 Saran Ibu hamil yang mengalami ketuban pecah dini agar istirahat total, tidak bersetubuh dan mencatat suhu rektal setiap 6 jam dan datang ke rumah sakit bila terdapat tanda-tanda amnionitis.

20