Anda di halaman 1dari 18

ACARA II PERBANDINGAN ANTAR KULTIVAR

I. (Zea mays).

TUJUAN

Mengamati dan mengetahui perbedaan keragaan fisiologis antara dua varietas jagung

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi (Anonim, 2010). Jenis jagung dapat diklasifkasikan berdasarkan : i). sifat biji dan endosperm, ii). Warna biji, iii). Lingkungan tempat tumbuh, iv). Umur panen, dan v). dan kegunaan. Jenis jagung berdasarkan lingkungan tempat tumbuh meliputi : dataran rendah tropik, dataran rendah sub tropik dan mid altittude, dan dataran tinggi tropik. Jenis jagung berdasarkan umur panen dikelompokan menjadi dua yaitu jagung umur genjah dan umur dalam. Berdasarkan komposisi genetiknya jagung dapat dibedakan menjadi dua yaitu jagung hibrida(hibrida) dan jagung bersari bebas (Hardman dan Gunsolus, 1998). Perkembangan tanaman dan pembungaan tanaman dipengaruhi oleh panjang hari dan suhu, pada hari pendek tanaman lebih cepat berbunga. Banyak kultivar tropika tidak akan berbunga di wilayah iklim sedang sampai panjang hari berkurang hingga kurang dari 13 atau 12 jam. Pada hari panjang, jagung tropika ini tetap vegetatif dan kadang-kadang dapat mencapai tinggi 5-6 m sebelum tumbuh bunga jantan (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).

Untuk mendapatkan hasil tanaman yang tinggi adalah dengan menggunakan kultivar yang mampu beradaptasi di beberapa daerah. Kultivar-kultivar akan menunjukkan hasil yang berbeda tergantung dengan kondisi tanah dan iklim pada wilayah satu dengan yang lain, sehingga dapat disimpulkan kultivar yang mampu beradaptasi di berbagai wilayah (Saruhan et al., 2007). Salah satu faktor pembatas utama terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman khususnya tanaman jagung pada lahan kering yang tidak bereaksi masam di daerah tropis basah adalah keracunan Al. Keracunan Al dapat menyebabkan kerusakan dan terhambatnya pertumbuhan akar tanaman. Salah satu pilihan untuk mengatasi keracunan Al adalah penggunaan varieatas yang teggang. Sampai saat ini baru varietas Artasena yang telah dilepas sebagai varietas yang beradaptasi baik pada tanah masam. Oleh karena itu dibutuhkan varietas baru yang dapat dijadikan pilihan dalam mengembangkan tanaman jagung di lahan kering masam (Syafrudin dan Trikoesoemaningtyas, 2006). Kalium adalah unsur yang sangat berperan dalam proses fotosintesis maupun translokasi hasil fotosintesis (fotosintat) keluar daun. Pada tanaman jagung hibrida ternyata peningkatan bobot tongkol dan kandungan gula dalam biji seiring dengan meningkatnya efisiensi proses fotosintesis maupun laju translokasi fotosintat ke bagian tongkol. Laju pertumbuhan tongkol sebagai dasar kekuatan organ pengguna dan penampung hasil fotosintat sangat ditentukan oleh unsur kalium (Wijaya dan Wahyuni, 2007).

III.

METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Praktikum Fisiologi Tanaman Acara 2 yang berjudul Perbandingan antar Kultivar ini dilaksanakan pada hari Selasa, 23 Oktober 2012, di lahan milik petani di daerah Kotagede, Yogyakarta. Adapun bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah hamparan pertanaman jagung (Zea mays). Sedangkan, alat-alat yang digunakan adalah timbangan, penggaris, gunting, oven, hand counter, dan alat tulis. Perlakuan yang dilakukan pada praktikum ini adalah perbedaan dua kultivar jagung, yaitu jagung lokal dan jagung hibrida. Cara kerja pada praktikum ini adalah lahan pertanaman jagung (Zea mays) yang akan diamati disiapkan. Lahan pertanaman jagung yang harus disiapkan meliputi lahan pertanaman jagung hibrida dan jagung lokal. Kemudian, diambil 6 tanaman sampel dari kedua lahan tersebut untuk diamati lebih lanjut yang meliputi 3 tanaman sampel jagung hibrida dan 3 tanaman sampel jagung lokal. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun per tanaman, luas daun per tanaman, bobot kering total, jumlah tongkol per tanaman, jumlah biji per tongkol, dan bobot kering biji per tanaman. Dari hasil pengamatan,kemudian dihitung LAI, NAR, RGR, dan HI. Kemudian, dilakukan analisis dengan uji t dengan =5% pada setiap variabel dan analisis pertumbuhan. Selanjutnya, dibuat persamaan regresi antara LAI dengan NAR, LAI dengan RGR, dan LAI dengan HI. Setelah itu, dibuat grafik tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, serta histogram berat kering total dan bobot kering biji per tanaman.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Jagung. <http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung.html>. Diakses pada 20 Oktober 2012. Hardman dan Gunsolus, 1998. Corn Growth and Development. University of Minesota. Rubatzky, V. E., dan M, Yamaguchi, 1998. Sayuran Dunia I. Prinsip Produksi dan Gizi. Institut Teknologi Bandung Press. Bandung. Syafrudin, Soepandi Dyadi, dan Trikoesoemaningtyas, 2006. Ketenggangan genotip jagung (zea mays) terhadap cekaman alumunium. Buletin Agronomi. 34 :1-10. Saruhan, V., I. Gul, dan C. Akinci. 2007. A study of adaptation of some corn cultivars as grown second crop. Asian J. Plant Sci. 6: 326-331. Wijaya dan S. Wahyuni. 2007. Respon tanaman jagung manis (Zea mays Var. saccharata Sturt) kultivar hawaian super manis pada berbagai takaran pupuk kalium. Jurnal Agrijati6:42-47.

IV.

HASIL PENGAMATAN
jenis

Tabel hasil pengamatan pertumbuhan tananam antar kultivar tanaman jagung Jagung hibrida 276,556 9,889 43,637 34,387 1 13,556 254 178,676 26,732 Jagung Lokal 148,878 6,889 9,136 46,953 1 6,667 65,667 44,137 0,938 keterang an * * * * NS * * * *

Variabel Tinggi tanaman(cm) Jumlah daun luas daun (dm2) sudut daun jumlah tongkol Baris per tongkol Jumlah biji per tongkol Berat kering total (gr) Berat kering biji gr)

Tabel analisis pertumbuhan jagung hibrida korban dua variabel LAI NAR CGR HI Jagung hibrida korban 2 276,556 9,889 43,637 34,387

V.

PEMBAHASAN

Kultivar adalah tanaman yang telah diseleksi kemudian dibudidayakan dan diberi nama yang unik berdasarkan perbedaan karakteristik, biasanya digunakan untuk menjelaskan beberapa tanaman ketika dipropagasi menahan karakternya. Kultivar adalah bagian dari tanaman (spesies, hasil perkawinan, dll) yang dibudidayakan. Jagung merupakan tanaman semusim, yang tinggi, teap, biasanya dengan batang tunggal yang dominan, walaupun mungkin ada beberapa cabang pangkal (anakan) pada beberapa genotipa dan lingkunga. Kedudukan daunnya distik (dua baris daun tunggal yang keluar dalam kedudukan berselang), dengan pelepah-pelepah daun yang saling bertumpang tindih dan daun-daunnya lebar yang relatif panjang. Jagung merupakan salah satu spesies pertama yang ditunjukkan memiliki lintasa fotosintesis asam dikarboksilat C4. Epidermis bdaun bagian atas biasanya berambut halus dan mempunyai baris-baris sel mmbuyar berbentuk gelembung (buliform) yang, dengan perubahan turgor, menyebabkan daun-daun menggulung atau membuka. Permukaan daun bagian bawah glabrus (tanpa rambut-rambut) dan biasanya mempunyai agak lebih banyak stomata daripada permukaan bagian atas. Kemiringan daun dangat bervariasi antar genotipa dan kedudukan daun, yang berkisar dari hampi datar sampai tegak dalam satu mutan (tanpa lidah daun). Pengujian kultivar ini mutlak dilakukan untuk mengamati dan mengetahui perbedaan keragaan fisiologis antara beberapa kultivar tanaman, dan untuk membantu dalam proses pemilihan suatu kultivar yang sesuai serta dipandang dapat meningkatkan hasil secara nyata baik kualitatif maupun kuantitatif. Pemilihan kultivar hibrida dapat dilakukan apabila kita mengetahui sifat-sifat dari kultivar-kultivar hibrida tersebut. Untuk mengetahui sifat-sifat yang ada pada suatu kultivar, maka perlu dilakukan tes kultivar pada beberapa kultivar, sehingga nantinya kita dapat membandingkan dan memilih kultivar mana yang akan digunakan dalam budidaya pertanian. Dalam budidaya pertanian, salah satu aspek yang dipertimbangkan adalah penggunaan kultivat-kultivar hibrida yang akan memberi jaminan atau kepastian untuk mendapatkan produksi serta hasil yang tertinggi. Dalam praktikum ini dianalisis sifat morfologi dari kutivar hibrida dan kultivar lokal sehingga dapat diketahui pengaruh sifat morfologi dari kedua kultivar itu terhadap hasil. Perbedaan seperti apakah yang menyebabkan kultivar hibrida bisa memberikan hasil yang optimal. Selain itu dengan mengetahui perbedaan morfologi tersebut dapat dijadikan

acuan untuk mendapatkan kultivar yang lebih baik lagi dengan memperoleh kultivar yang mempunyai morfologi yang mendukung. Pertama dilihat perbedaan tinggi tanamannya, dari hasil analisis varian dan uji DMRT diperoleh perbedaan nyata yang signifikan. Kultivar hibrida jauh lebih tinggi dibandingkan kultivar lokal. Dengan mempunyai tinggi tanaman yang lebih besar memberikan keuntungan tersendiri bagi jagung hibrida. Apabila batang pendek maka akan menyebabkan penutupan yang dilakukan daun paling atas terhadap daun dibawahnya sehingga daun yang berada di bawah tersebut tidak dapat melakukan fotointesis secara optimal. Sehingga menyebabkan penimbunan asimilat untuk tongkol ataupun untuk organorgan yang lain akan berkurang. tanaman yang kekar dan tinggi. Kultivar hibrida mempunyai diameter batang yang lebih besar sehingga pada analisis diperoleh hasil beda nyata anatar kultivar hibrida dan lokal. Batang dengan diameter yang lebih besar akan meneyebabka jaringan pengangkutan lebih besar sehingga penyerapan air bisa lebih banyak. Dengan diameter yang lebih besar juga menyebabkan tanaman kokoh dan tidak mudah tumbang ketika ada keadaan cuaca yang tidak menguntungkan. Dan juga dengan diameter batang yang lebih besar akan menyebabkan tinggi tanaman lebih besar dan dapat menopang tongkol jagung yang lebih besar pula. Besar tongkol ini disebakan oleh hara dan air yang banyak dengan didukung fotosintesis daun yang optimal. Jika diamati dari sudut daun masing-masing kultivar jagung, maka dapat dilihat bahwa sudut daun jagung lokal lebih besar dibandingkan dengan jagung hibrida. Ini berdampak pada jumlah sinar matahari yang akan didapat oleh daun-daun sebelah bawah pada tajuk tanaman. Jumlah daun pada jagung lokal lebih sedikit dan anakannya pun tumbuh lebih sedikit karena cahaya matahari yang diterima dalam suatu tajuk tidak merata. Sudut daun yang besar menyebabkan daun sebelah bawah dari tajuk akan tenaungi. Ini berdampak negatif bagi daun disebelah bawah karena tidak mendapatkan energi cahaya matahari yang cukup untuk melakukan fotosintesis. Jika dibandingkan dengan jagung hibrida yang memiliki sudut daun yang lebih sedikit, maka proses fotosintesis pada jagung hibrida akan berlangsung secara baik dan merata diseluruh tajuk tanaman karena daun sebelah atas tidak menaungi daun dibawahnya. Jadi, untuk sampai saat ini tanaman jagung dibuat

Ukuran tongkol yang lebih besar pada jagung lokal secara langsung mempengaruhi jumlah biji dalam tongkolnya. Jagung hibrida mempunyai kemampuan yang lebih dalam menyimpan asimilat. Dengan mempunyai jumlah biji per tongkolnya lebih banyak akan menambah nilai ekonomisnya. Perbedaan jumlah biji per tongkol tersebut secara otomatis akan menyebabkan perbedaan jumlah biji pertanaman karena juga diperoleh bahwa jumlah tongkolnya sama untuk kedua tanaman tersebut. Terdapat perbedaan yang nyata pada berat kering total tanaman. Hal ini disebabkan karena fotosintesis pada tanaman jagung hibrida lebih optimal dengan dukungan kondisi morfologi tanaman yang mendukung seperti tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan kedudukan daun. Luas daun kedua tanaman jagung tersebut juga menunjukkan perbedaan nyata dengan lebih luasnya daun jagung hibrida. Hal ini terjadi karena memang tanaman hibrida mempunyai morfologi daun yang panjang dan lebar Luas daun ini berbanding lurus dengan laju fotosintesis dari tanaman. Pada percobaan ini dilakukan pengamatan terhadap beberapa variabel primer tanaman, yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, sudut daun, luas daun, jumlah tongkol, jumlah baris pada tongkol, berat kering total, berat kering biji dan jumlah biji per tongkol. Selain itu juga diamati LAI, NAR, CGR, dan HI.

Gambar 2.1. Histogram tinggi tanaman jagung dua varietas

Dapat dilihat dari histogram diatas, bahwa terlihat tinggi tanaman jagung hibrida memiliki tinggi yang lebih dibandingkan jagung lokalan, jagung hibrida memiliki panjang 275,56 cm dan jagung varietas lokal mmiliki tinggi 148,8 cm. Hal ini memberikan keuntungan bagi tanaman jagung varietas hibrida. Jagung hibrida mampu mengootimalkan tinggi tanamannya terhadap penyerapan intensitas cahaya matahari dalam membantunya di proses fotosintesis. Dengan kata lain jagung hibrida memiliki jumlah daun yang lebih banyak dari pada jagung lokal, jagung lokal yang memiliki tinggi tanaman tidak begitu tinggi, maka jarak antar daunnya semakin pendek, sehingga kemungkinan besar terjadi penutupan daun yang atas terhadap daun yang bawah, hal ini mutual shading. Penutupan daun yang atas terhadap daun yang bawah ini menyebabkan fotosintesis tidak terjadi secara optimal, dan pertumbuhan tanaman tidak sebaik tanaman hibrida yang fotosintesisnya berjalan dengan optimal. .

Gambar 2.2. Histogram jumlah daun tanaman jagung dua varietas Dari histogram diatas jumlah daun jagung hibrida berjumlah lebih banyak daripada jumlah daun jagung lokal. Jumlah daun pada jagung hibrida adalah 9,89 sedangkan pada jagung lokal 6,89. Perbedaan jumlah daun ini akan sangat berpengaruh pada produktivitas tanaman jagung. Jumlah daun yang banyak akan mengakibatkan kapasitas sumber yang banyak sehingga proses fotosintesis akan memiliki laju lebih baik daripada tanaman dengan

jumlah daun yang lebih sedikit. Dengan jumlah daun yang lebih banyak maka fotosintat yang akan dihasilkan akan lebih banyak pula, selama belum mencapai LAI optimum. .

Gambar 2.3. Histogram sudut daun tanaman jagung dua varietas Pada histogram diatas sudut daun pada jagung lokal lebih besar dibandingkan dengan sudut daun pada tanaman jagung hibrida. Sudut daun memiliki pengaruh terhadap distribusi cahaya matahari pada tiap daun di tanaman tersebut. Pada jagung lokal, dengan besarnya sudut daun, maka akan terjadi mutual shading, yaitu daun yang berada dibagian bawah akan tertutupi oleh daun yang diatasnya, sehingga tidak dapat menerima intensitas cahaya matahari yang optimal untuk melakukan fotosintesis. Sedangkan pada jagung hibrida, kecilnya sudut daun akan menyebabkan penerimaan energi cahaya matahari pada setiap daun akan lebih maksimal, sehingga laju fotosintesis lebih tinggi dan produktivitas tanaman akan lebih baik.

Gambar 2.4. Histogram luas daun tanaman jagung dua varietas Dapat dilihat dari histogram diatas, bahwa luas daun pada tanaman jagung hibrida lebih luas dibanding jagung varietas lokal, pada jagung manis varietas hibrida luas daunnya adalah 43,64 dm2, sedangkan luas daun jagung varietas lokal adalah 9,14 dm2. Menurut teori luas daun mempengaruhi hasil fotosintat dari hasil fotosintesis tanaman,yang mana luas daun yang lebih lebar akan mampu mendapatkan intensitas matahari yang optimal dan laju fotosintesis berjalan dengan baik. Sedangkan pada tanaman jagung varietas lokal, luas daunnya kecil, sehingga penyerapan energi dari matahari hanya berjumlah sedikit maka laju fotosintesisnya sedikit lambat dari pada jagung varietas hibrida, dampaknya produktivitas jagung lokal tidak optimal.

Gambar 2.5. Histogram jumlah tongkol tanaman jagung dua varietas Dari histogram diatas, jumlah tongkol pada varietas jagung lokal dan hibrida berjumlah sama, yaitu 1 tongkol per batang jagung. Walaupun jumlah tongkolnya sama, jagung hibrida memiliki ukuran tongkol, berat, dan jumlah biji serta baris dalam tongkol yang lebih banyak dibanding jagung lokal.

Gambar 2.6. Histogram jumlah baris per tongkol jagung dua varietas Dapat dilihat dari histogram diatas, bahwa jumlah biji dalam tongkol tanaman jagung hibrida memiliki jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan pada tanaman jagung

lokal, yaitu berjumlah 254 biji, sedangkan pada jagung lokal berjumlah 65,67 biji. Hal ini disebabkan oleh luas dan banyaknya daun yang merupakan sumber pada tanaman untuk melakukan fotosintesis kemudian kemampuan penyimpanan fotosintatnya disimpan di lubuk yang dalam hal ini adalah biji pada tongkol. Artinya nilai ekonomi pada tanaman jagung hibrida ini memiliki nili yang lebih tinggi bila dibandingkan tanman jagung varietas lokal.

Gambar 2.7. Histogram jumlah biji per tongkol jagung dua varietas Berdasarkan histogram diatas, dapat diamati bahwa jumlah biji dalam tongkol tanaman jagung hibrida memiliki jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan pada tanaman jagung lokal, yaitu berjumlah 254 biji, sedangkan pada jagung lokal berjumlah 65,67 biji. Dengan banyaknya jumlah biji ini maka akan meningkatkan nilai ekonomi tanaman jagung hibrida dibandingkan jagung lokal. Banyaknya jumlah biji ini juga didukung oleh luas dan banyaknya daun yang merupakan sumber/source pada tanaman untuk melakukan fotosintesis dan fotosintatnya disimpan di lubuk yaitu biji pada tongkol.

Gambar 2.8. Histogram berat kering total tanaman jagung dua varietas Berat kering total jagung hibrida juga menunjukkan hasil yang lebih baik daripada varietas jagung lokal. Berat keringnya adalah 178,68 gr . Sedangkan berat kering jagung lokal adalah 44,14 gr. Beratnya berat kering pada tanaman jagung hibrida disebabkan jumlah biji per tongkol dan ukuran tongkol yang lebih besar. Berat kering mengindikasikan bahwa penimbunan asimilat yang terjadi cukup baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa jagung hirida mempunyai kemampuan untuk menimbum fotosintat pada tongkol lebih besar, kemampuan ini juga didukung dengan tanaman yang tinggi sehingga daun mendapatkan distribusi cahaya yang lebih merata.

Gambar 2.9. Histogram berat kering biji tanaman jagung dua varietas Sama dengan berat kering total, berat kering biji tanaman jagung hibrida menunjukkan hasil yang jauh lebih besar dibanding berat kering biji pada jagung lokal. Berat kering biji tanaman jagung hibrida adalah 26,73 gram, sedangkan berat kering jagung lokal adalah 0,94 gram. Hal ini menandakan banyaknya penimbunan fotosintat pada tanaman hibrida yang disebabkan luas dan banyaknya daun, serta penerimaan energi matahari yang sangat baik dan mendukung untuk proses fotosintesis tanaman. Berikut grafik regresi antara LAI vs NAR, LAI vs CGR, dan LAI vs HI pada tanaman jagung hibrida

Gambar 2.10. grafik regresi LAI vs NAR pada tanaman jagung hibrida Berdasarkan regresi diatas, didapat hubungan antara LAI dengan NAR dari persamaan regresi y = 12,184x - 2,3655 dan R = 0,1921. Hal ini menandakan bahwa pada tanaman jagung hibrida, kenaikan LAI akan menyebabkan semakin tinggi NAR. Dengan nilai LAI yang tinggi, makan jagung tanaman memiliki luas daun yang besar sehingga akan mengoptimalkan penyerapan energi cahaya matahari yang akan digunakan untuk proses fotosintesis. Dengan tingginya laju fotosintesis maka akan terbentuk asimilat yang tinggi sehingga akan menyebabkan nilai NAR yang tinggi pula.

Gambar 2.11. grafik regresi LAI vs CGR pada tanaman jagung hibrida Berdasarkan grafik regresi diatas, didapat regresi antara LAI dan CGR persamaannya adalah y = 21,169x - 4,08141. Hal ini berarti pada jagung hibrida, semakin naik nilai LAI juga akan diikuti oleh kenaikan CGR tanaman tersebut. Hal ini dikarenakan tingginya nilai LAI yang merupakan cerminan dari luas daun yang tinggi, akan menyebabkan penyerapan cahaya matahari yang maksimum, sehingga fotosintesis berjalan semakin cepat. Oleh karena itu laju pertumbuhan tanaman atau CGR juga akan menjadi semakin besar. Nilai R = 0,193 masih jauh dari 1, persamaan regresi linier hubungan antara LAI dan HI sangat lemah atau bahkan hampir tidak ada. Atau bisa juga tidak cocok dianalisis dengan

Gambar 2.12. grafik regresi LAI vs HI pada tanaman jagung hibrida Berdasarkan grafik regresi antara LAI dengan HI diatas, didapatkan persamaan regresinya yaitu y = -0,523x + 0,2585. Hal ini berarti penaikan nilai LAI akan diikuti dengan penurunan nilai HI. Seharusnya penaikan nilai LAI akan diikuti oleh peningkatan nilai HI, dimana HI adalah perbandingan berat ekonomis dengan berat tanaman seluruhnya. Hal ini dikarenakan semakin luasnya daun, maka fotosintat yang akan dihasilkan dan disimpan di lubuk, yang pada tanaman jagung adalah biji didalam tongkol, yang merupakan nilai ekonomis dari tanaman jagung, harusnya menjadi semakin berat sehingga HI nya dapat bernilai tinggi pula. Akan tetapi pada hal ini, kenaikan LAI diikuti oleh penurunan HI dikarenakan. Nilai R = 0,0403 jauh dari 1 artinya, hubungan antara LAI dan HI sangat lemah atau bahkan hampir tidak ada. Atau bisa juga tidak cocok dianalisis dengan persamaan regresi linier

IV.

KESIMPULAN

1. Kedua kultivar jagung memeperlihatkan perbedaan keragaan fisiologis yang signifikan. 2. Kultivar hibrida secara umum mempunyai produkstifitas yang tinggi daripada jagung loKal. 3. Perbedaan yang nyata terletak pada parameter : tinggi tanaman, jumlah daun, berat kering total, sudut daun, jumlah biji/tongkol, berat kering biji, luas daun, berat segar total.