Anda di halaman 1dari 34

1. Memahami dan menjelaskan antomi bola mata 1.

1 anatomi makro

Anatomi kelopak mata Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedang di bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal.1 Kelenjar seperti : kelenjar sebasea, kelenjar Moll atau kelenjar keringat, kelenjar Zeis pada pangkal rambut, dan kelenjar Meibom pada tarsus. Otot seperti : -

M. orbikularis okuli yang berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan bawah, dan
terletak di bawah kulit kelopak. Pada dekat tepi margo palpebra terdapat otot orbikularis okuli yang disebut sebagai M.

Rioland. M. orbikularis berfungsi menutup bola mata yang dipersarafi N. facial M. levator palpebra, yang berorigo pada anulus foramen orbita dan berinsersi pada tarsus
atas dengan sebagian menembus M. orbikularis okuli menuju kulit kelopak bagian tengah. Bagian kulit tempat insersi M. levator palpebra terlihat sebagai sulkus (lipatan) palpebra. Otot ini dipersarafi oleh n. III, yang berfungsi untuk mengangkat kelopak mata atau membuka mata. Di dalam kelopak terdapat tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan kelenjar di dalamnya atau kelenjar Meibom yang bermuara pada margo palpebra. Tarsus ditahan oleh septum orbita yang melekat pada rima orbita pada seluruh lingkaran pembukaan rongga orbita. Tarsus (terdiri atas jaringan ikat yang merupakan jaringan penyokong kelopak dengan kelenjar Meibom (40 bush di kelopak atas dan 20 pada kelopak bawah). Septum orbita yang merupakan jaringan fibrosis berasal dari rima orbita merupakan pembatas isi orbita dengan kelopak depan. Pembuluh darah yang memperdarahinya adalah a. palpebra. Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal N.V, sedang kelopak bawah oleh cabang ke II saraf ke V. Konjungtiva tarsal yang terletak di belakang kelopak hanya dapat dilihat dengan melakukan eversi kelopak. Konjungtiva tarsal melalui forniks menutup bulbus okuli. Konjungtiva merupakan membran mukosa yang mempunyai sel Goblet yang menghasilkan musin.1 Konjungtiva Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :1 - Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari tarsus. - Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya. - Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi. Bola Mata

Bola mata terdiri atas : dinding bola mata dan isi bola mata. Dinding bola mata terdiri atas sclera dan kornea. Isi bola mata terdiri atas uvea, retina, badan kaca dan lensa. Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda. Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, Badan kaca mengisi rongga di dalam bola mata dan bersifat gelatin yang hanya menempel pupil saraf optik, makula dan pars plans. Bila terdapat jaringan ikat di dalam badan kaca disertai dengan tarikan pada retina, maka akan robek dan terjadi ablasi retina. Lensa terletak di belakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya pada badan siliar melalui Zonula Zinn. Uvea Pendarahan uvea dibedakan antara bagian anterior yang diperdarahi oleh 2 buah arteri siliar posterior longus yang masuk menembus sklera di temporal dan nasal dekat tempat masuk saraf optik dan 7 buah arteri siliar anterior, yang terdapat 2 pada setiap otot superior, medial inferior, satu pada otot rektus lateral. Arteri siliar anterior dan posterior ini bergabung menjadi satu membentuk arteri sirkularis mayor pada badan siliar. Uvae posterior mendapat perdarahan dari 15 - 20 buah arteri siliar posterior brevis yang menembus sklera di sekitar tempat masuk saraf optik.1 Persarafan uvea didapatkan dari ganglion siliar , Pada ganglion siliar hanya saraf parasimpatis yang melakukan sinaps yang terletak antara bola mata dengan otot rektus lateral, 1 cm di depan foramen optik, yang menerima 3 akar saraf di bagian posterior yaitu : 1. Saraf sensoris, yang berasal dari saraf nasosiliar yang mengandung serabut sensoris untuk komea, iris, dan badan siliar. 2. Saraf simpatis yang membuat pupil berdilatasi, yang berasal dari saraf simpatis yang melingkari arteri karotis; mempersarafi pembuluh darah uvea dan untuk dilatasi pupil. 3. Akar saraf motor yang akan memberikan saraf parasimpatis untuk mengecilkan pupil. IRIS Iris terdiri atas bagian pupil dan bagian tepi siliar, dan badan siliar terletak antara iris dan koroid. Batas antara korneosklera dengan badan siliar belakang adalah 8 mm temporal dan 7 mm nasal. Di dalam badan siliar terdapat 3 otot akomodasi yaitu longitudinal, radiar, dan sirkular. Sudut bilik mata depan Sudut filtrasi berbatas dengan akar berhubungan dengan sklera kornea dan disini ditemukan sklera spur yang membuat cincin melingkar 360 derajat

merupakan batas belakang sudut filtrasi Berta tempat insersi otot siliar longitudinal. Anyaman trabekula mengisi kelengkungan sudut filtrasi yang mempunyai dua komponen yaitu badan siliar dan uvea.

BADAN KACA Badan kaca melekat pada bagian tertentu jaringan bola mata. Perlekatan itu terdapat pada bagian yang disebut ora serata, pars plana, dan papil saraf optik. Lensa mata Lensa merupakan badan yang bening, bikonveks 5 mm tebalnya dan berdiameter 9 mm pada orang dewasa. Permukaan lensa bagian posterior lebih melengkung daripada bagian anterior. Rongga Orbita Rongga orbita adalah rongga yang berisi bola mata dan terdapat 7 tulang yang membentuk dinding orbita yaitu : lakrimal, etmoid, sfenoid, frontal, dan dasar orbita yang terutama terdiri atas tulang maksila, bersama-sama tulang palatinum dan zigomatikus.1 Dinding orbita terdiri atas tulang

Atap atau superior : os.frontal Lateral : os.frontal. os. zigomatik, ala magna os. Fenoid Inferior : os. zigomatik, os. maksila, os. Palatina Nasal : os. maksila, os. lakrimal, os. EtmoiD

Foramen optik terletak pada apeks rongga orbita, dilalui oleh saraf optik, arteri, vena, dan saraf simpatik yang berasal dari pleksus karotid. Fisura orbita superior di sudut orbita atas temporal dilalui oleh saraf lakrimal (V), saraf frontal (V), saraf troklear (IV), saraf okulomotor (III), saraf nasosiliar (V), abdusen (VI), dan arteri vena oftalmik. Fisura orbita inferior terletak di dasar tengah temporal orbita dilalui oleh saraf infra-orbita dan zigomatik dan arteri infra orbita. Fosa lakrimal terletak di sebelah temporal atas tempat duduknya kelenjar lakrimal. Rongga orbita tidak mengandung pembuluh atau kelenjar limfa. 1. Otot Oblik Inferior Oblik inferior mempunyai origo pada foss lakrimal tulang lakrimal, berinsersi pada sklera posterior 2 mm dari kedudukan makula, dipersarafi saraf okulomotor, bekerja untuk menggerakkan mata keatas, abduksi dan eksiklotorsi.1 2. Otot Oblik Superior Oblik superior berorigo pada anulus Zinn dan ala parva tulang sfenodi di atas foramen optik, berjalan menuju troklea dan dikatrol batik dan kemudian berjalan di atas otot rektus superior, yang kemudian berinsersi pada sklera dibagian temporal belakang bola mata. Oblik superior dipersarafi saraf ke IV atau saraf troklear yang keluar dari bagian dorsal susunan saraf pusat.1

3.

Otot Rektus Inferior Rektus inferior mempunyai origo pada anulus Zinn, berjalan

antara oblik inferior dan bola mata atau sklera dan insersi 6 mm di belakang limbus yang pada persilangan dengan oblik inferior diikat kuat oleh ligamen Lockwood. Rektus inferior dipersarafi oleh n. III. Fungsi menggerakkan mata - depresi (gerak primer)- eksoklotorsi (gerak sekunder) - aduksi (gerak sekunder). Rektus inferior membentuk sudut 23 derajat dengan sumbu penglihatan.1

4.

Otot Rektus Lateral Rektus lateral mempunyai origo pada anulus Zinn di atas dan di

bawah foramen optik. Rektus lateral dipersarafi oleh N. VI. Dengan pekerjaan menggerakkan mata terutama abduksi.1

5.

Otot Rektus Medius Rektus medius mempunyai origo pada anulus Zinn dan

pembungkus dura saraf optik yang sering memberikan dan rasa sakit pada pergerakkan mata bila terdapat neuritis retrobulbar, dan berinsersi 5 mm di belakang limbus. Rektus medius merupakan otot mata yang paling tebal dengan tendon terpendek.1 Menggerakkan mata untuk aduksi (gerak primer).1

6. Otot Rektus Superior Rektus superior mempunyai origo pada anulus Zinn dekat fisura
orbita superior beserta lapis dura saraf optik yang akan memberikan rasa sakit pada pergerakkan bola mata bila terdapat neuritis retrobulbar. Otot ini berinsersi 7 mm di belakang limbus dan dipersarafi cabang superior N.III. Fungsinya menggerakkan mata-elevasi, terutama bila mata melihat ke lateral :aduksi, terutama bila tidak melihat ke lateral dan insiklotorsi 1.2 anatomi mikro Dinding bola mata bola mata (2 buah) terletak pada bagian anterior rongga orbita (bagian posterior berisi bantalan lemak). Berbentuk sferis diameter 24 mm dan diameter anteroposterior 21-26 mm . beratnya 7,5gr, volume: 6,5 ml. Bagian posterior dipisahkan adri bantalan lemak oleh kapsula tenon. Kearah anterior, capsula tenon menipis menyatu dengan sclera. Pada bagian anterior berkontak dengan palpebra. Bola mata terdiri dari : Dinding bola mata Ruangan berisi cairan humor aqueus Cornea Lensa Corpus vitreus Media refraktif/aparatus dioptik

Tunica Fibrosa corne terdiri dari 5 lapisan : 1. Epitel cornea Berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk

Lapisan basal terdiri dari sel silindris yang terletak di bawah membrana basalis (sering memperlihatkan mitosis) 2. Membrana bowman / membrana limitans anterior Terletak dibawah membrana basalis. Modifikasi superfisial substansia propria. Ditembus syaraf-syaraf yang menuju epitel cornea 3. Substansia propria (stroma) o o o o o 0,9 kali keseluruhan tebal kornea Dengan MC : td. Lamel-lamel collagen// permukaan kornea Sitoplasma bercabang-cabang disebut keratocyte Memproduksi collagen dan glycosaminoglican Terdapat limfosit dan macrophage

Dg ME: lamel terdiri dari microfibril collagen 4. Membrana descement/membrana limitans posterior Merupakan membrana basalis endothel cornea Elastis, tebal 10 micron Collagen terbenam dalam substansia dasar homogen Waktu lahir berukuran 3-4 micron seangkan pada saat dewasa berukuran 10-18micron

5. Endothel cornea Epitel selapis gepeng , cenderung mesothel Sel-sel dihubungkan dengan zonula occludens mensekresi protein dan sintesa komponen membrana descement. Persyarafan cornea : Ujung-ujung syaraf sensoris terutama percabangan dari n. Cilliaris longus Nutrisi : Nutrisi dari jaringan capillar dalam limbus Difusi dari humor aqueus di COA Cornea avaskular Oksigen dari udara luar dan humor aqueus Sclera Jaringan putih,opaque, meliputi 5/6 posterior bola mata tertanam dalam orbita mll jar. Penyambung padat CAPSULA TENON Terdiri dari: Episclera Substansia propria Lamina fusca SPUR SCLERA daerah penonjolan dibatas belakang, melingkar

Limbus a9daerah penglihatan anatara cornea dan sclera)

Struktur dari luar ke dalam : conjungtiva bulbi capsula Tenon episclera stroma limbus canal schlemmjar. Trabecula

Tunica interna (retina) o o o o o o o o o o Ora serata : membatasi anterior dan posterior Lapisan retina : Epitel pigmen Lapisan rod dan cone Membrana limitans externa Lapisan inti luar Lapisan plexiform luar Lapisan inti dalam Lapisan pelxiform dalam Lapisan ganglion Lapisan sel syaraf Membrana limitans interna

Bagian anterior : melapisi bagian belakang corpus ciliaris dan iris (non photosensitive) Bagian posterior : 1. Epithellium berpigmen 2. Neural retina Tunica vasculosa merupakan daerah yang >>pembuluh darah dan >> pigmen 1. Choroid Membran coklat tua diantara sclera dan retina. Di anterior berlanjut menjadi corpus cilliaris dan berakhir menjadi nervus opticus . Choroid memiliki 4 lapisan : o o o o Lamina suprachoroidea Substansia propria/stroma Choriocapillaris Lamina basalis (membrana Bruch)

2. Corpus/processus cilliaris o o Dari oraserata sampai denganpangkal iris Struktur utamanya adalah membrana cilliaris (terdiri dari 3 berkas : o Meridionalis Radialis Circularis

Ketiganya membantu daya akomodasi lensa mata , jika berkontraksi maka lensa akan menyembung, sedangkan jika berelaksasi maka lensa menjadi lebih cekung.

3. Processus cilliaris

o o 4. Iris o

Tonjolan ari jaringan penyambung kearah lensa Sel-sel permukaanya menyekresikan humor aqueus Dianterior lensa , membatasa Camera oculi anterior dan Camera oculi posterior (COA dan COP). Fungsinya seperti daifragma kamera , biasanya berwarna biru sampai coklat tua. M.Sphincter pupilae : mengecilkan pupil sedangkan M. Dilator pupilae : melebarkan pupil.

Bagian-bagiannya : Permukaan anterior : kasar, >> sel-sel pigmen dan fibroblas Stroma >>pembuluh darah, sel-sel fibroblas melanosit Stratum vascularis >> pembuluh darah Permukaan posterior

5. Retina Sel bipolar terdiri dari 1 dendrit dan 1 akson Sel muller neuroglia ; banyak cabang sitoplasmanya membentuk limitans interna Sel horizontal bersinaps dengan sel cone dan sel rode Sel amacrine badan sel terletak pada bagian luar lapisan inti dalam; bebentuk seperti buah pir; berakhir pada lapisan plexiform dalam Fovea centralis (macula lutea) cekungan pada retina dekat kutub posterior bola mata dan hanya terdapat sel kerucut (cone) Papilla Optica (discus opticus) tidak ada forotreceptor dan tidak sensitif terhadap cahaya Nervus opticus meninggalkan mata, dibungkus dengan pia mater, arachnoid mater; dura mater. Corpus vitreus Struktur Tambahan

1. Konjungtiva
Membrane mukosa tipis dan transparan yang menutupi bagian anterior matasampai kornea dan permukaan dalam kelopak mata. Berupa epitel berlapis selindris dengan banyak sel goblet dan lamina proprianya terdiri atas jaringan ikat longgar

2. Kelopak Mata
Lipatan jaringan yamg dapat digerakan yang berfungsi melindungi mata. Kulit kelopak ini longgar dan elastis. Terdapat 3 jenis kelenjar a. Meibom Kelenjar sebasea panjang dalam lempeng tarsal. Tidak berhubungan dengan folikel rambut. Menghasilkan substansi sebaseus membentuk lapisan berminyak pada permukaan film air mata, membantu mencegah penguapan cepat dari lapisan air mata. b. Zeis Kelenjar sebaceous yang lebih kecil yang memodifikasi dan berhubungan dengan folikel bulu mata. c. Moll Kelenjar keringat, berupa tubulus mirip sinus yang tidak bercabang.

3. Alat Lakrimal

Kelenjar Lakrimal Merupakan kelenjar air mata. Terdiri atas lobus-lobus. Berupa kelenjar tubuloalveolar yang lumennya besar, terdiri atas sel-sel berbentuk kolom jenis serosa. Kanalikuli Dilapisi epitel berlapis gepeng tebal Sakus Lakrimalis, dilapisi epitel bertingkat silindris bersilia Duktus hasalakrimalis

LO 2. Memahami dan menjelaskan fisiologi bola mata Kelopak Mata Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta mengeluarkan sekresi

kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan komea. Palpebra merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan pengeringan bola mata.1,2 Dapat membuka diri untuk memberi jalan masuk sinar kedalam bola mata yang dibutuhkan Pembasahan dan. pelicinan seluruh permukaan bola mata terjadi karena pemerataan air mata untuk penglihatan.2 dan sekresi berbagai kelenjar sebagai akibat gerakan buka tutup kelopak mata. Kedipan kelopak mata sekaligus menyingkirkan debu yang masuk. Gangguan penutupan kelopak akan mengakibatkan keringnya permukaan mata sehingga terjadi keratitis et lagoftalmos. Sistem Lakrimal Sistem sekresi air mata atau lakrimal terletak di daerah temporal bola mata. Sistem ekskresi mulai pada pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal, duktus nasolakrimal, meatus inferior.1,2 Sistem lakrimal terdiri atas 2 bagian, yaitu :1,2 - Sistem produksi atau glandula lakrimal. Glandula lakrimal terletak di temporo antero superior rongga orbita. - Sistem ekskresi, yang terdiri atas pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal dan duktus nasolakrimal. Sakus lakrimal terletak dibagian depan rongga orbita. Air mata dari duktus lakrimal akan mengalir ke dalam rongga hidung di dalam meatus inferior. Film air mata sangat berguna untuk kesehatan mata. Air mata akan masuk ke dalam sakus lakrimal melalui pungtum lakrimal. Bila pungtum lakrimal tidak menyinggung bola mata, maka air mata akan keluar melalui margo palpebra yang disebut epifora. Epifora juga akan terjadi akibat pengeluaran air mata yang berlebihan dari kelenjar lakrimal.1 Untuk melihat adanya sumbatan pada duktus nasolakrimal, maka sebaiknya dilakukan penekanan pada sakus lakrimal. Bila terdapat penyumbatan yang disertai dakriosistitis, maka cairan berlendir kental akan keluar melalui pungtum lakrimal.1

Gambar 2. Sistim Saluran air mata

Konjungtiva Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang.3 Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin bersifat Selaput ini mencegah benda-benda asing di dalam mata seperti bulu mata atau lensa kontak

Bermacam-macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva ini. membasahi bola mata terutama kornea.1 (contact lens), agar tidak tergelincir ke belakang mata. Bersama-sama dengan kelenjar lacrimal yang memproduksi air mata, selaput ini turut menjaga agar cornea tidak kering.3 Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.1 Bola Mata Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata, merupakan

bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sklera disebut kornea yang bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. Kelengkungan kornea lebih besar dibanding sklera. Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular. Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan siliar, dan

koroid. Pada iris didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. Otot dilatator dipersarafi oleh parasimpatis, sedang sfingter iris dan otot siliar di persarafi oleh parasimpatis. Otot siliar yang terletak di badan siliar mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi. Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor), yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas kornea dan sclera Retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan lapis sebanyak 10 lapis yang

merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga yang potensial antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dari koroid yang disebut ablasi retina. Lensa mata mempunyai peranan pada akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat Terdapat 6 otot penggerak bola mata, dan terdapat kelenjar lakrimal yang terletak di daerah

difokuskan di daerah makula lutea. temporal atas di dalam rongga orbita. KORNEA Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea IRIS

Ditengah iris terdapat lubang yang dinamakan pupil, yang mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk kedalam mata. Iris berpangkal pada badan siliar dan memisahkan bilik mata depan dengan bilik mata belakang. Permukaan depan iris warnanya sangat bervariasi dan mempunyai lekukan-lekukan kecil terutama sekitar pupil yang disebut kripti.2

Otot-otot siliar berfungsi untuk akomodasi. Jika otot-otot ini berkontraksi ia menarik proses siliar dan koroid kedepan dan kedalam, mengendorkan zonula Zinn sehingga lensa menjadi lebih cembung.2

Fungsi prosesus siliar adalah memproduksi Humor Akuos.2

KOROID Koroid adalah suatu membran yang berwarna coklat tua, yang letaknya diantara sklera dan. retina terbentang dari ora serata sampai kepapil saraf optik. Koroid kaya pembuluh darah dan berfungsi terutama memberi nutrisi kepada retina.2 Pupil merupakan lubang ditengah iris yang mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk. Pupil waktu tidur kecil , hal ini dipakai sebagai ukuran tidur, simulasi, koma dan tidur sesungguhnya. Pupil kecil waktu tidur akibat dari :1 1. Berkurangnya rangsangan simpatis 2. Kurang rangsangan hambatan miosis

Bila subkorteks bekerja sempurna maka terjadi miosis. Di waktu bangun korteks menghambat
pusat subkorteks sehingga terjadi midriasis. Waktu tidur hambatan subkorteks hilang sehingga terjadi kerja subkorteks yang sempurna yang akan menjadikan miosis.

Fungsi mengecilnya pupil untuk mencegah aberasi kromatis pada akomodasi dan untuk
memperdalam fokus seperti pada kamera foto yang difragmanya dikecilkan. SUDUT BILIK MATA Sudut bilik mata yang dibentuk jaringan korneosklera dengan pangkal iris. Pada bagian ini

terjadi pengaliran keluar cairan bilik mata. Bila terdapat hambatan pengaliran keluar cairan mata akan terjadi penimbunan cairan bilik mata di dalam bola mata sehinga tekanan bola mata meninggi atau glaukoma. Berdekatan dengan sudut ini didapatkan jaringan trabekulum, kanal Schelmm, baji sklera, garis Pada sudut fitrasi terdapat garis Schwalbe yang merupakan akhir perifer endotel dan membran Sudut bilik mata depan sempit terdapat pada mata berbakat glaukoma sudut tertutup, Schwalbe dan jonjot iris.1 descement, dan kanal Schlemm yang menampung cairan mata keluar ke salurannya.1 hipermetropia, blokade pupil, katarak intumesen, dan sinekia posterior perifer.1 Pupil Pupil anak-anak berukuran kecil akibat belum berkembangnya saraf simpatis. Orang dewasa ukuran pupil adalah sedang, dan orang tua pupil mengecil akibat rasa silau yang dibangkitkan oleh lensa yang sclerosis

Retina Retina adalah suatu membran yang tipis dan bening, terdiri atas penyebaran daripada serabutserabut saraf optic. Dibagian retina yang letaknya sesuai dengan sumbu penglihatan terdapat makula lutea (bintik kuning) kira-kira berdiameter 1 - 2 mm yang berperan penting untuk tajam penglihatan. Ditengah makula lutea terdapat bercak mengkilat yang merupakan reflek fovea.2 Lapisan luar retina atau sel kerucut dan batang mendapat nutrisi dari koroid.1 Batang lebih banyak daripada kerucut, kecuali didaerah makula, dimana kerucut lebih banyak. Daerah papil saraf optik terutama terdiri atas serabut saraf optik dan tidak mempunyai daya penglihatan (bintik buta).2 BADAN KACA Struktur badan kaca merupakan anyaman yang bening dengan diantaranya cairan bening. Badan kaca tidak mempunyai sekitarnya: koroid, badan siliar dan retina.2 LENSA Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu : - Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung - Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan, - Terletak di tempatnya. Keadaan patologik lensa ini dapat berupa :1 - Tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan presbiopia, - Keruh atau spa yang disebut katarak, - Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi. Lensa orang dewasa di dalam perjalanan hidupnya akan menjadi bertambah besar dan berat. Fungsi lensa adalah untuk membias cahaya, sehingga difokuskan pada retina. Peningkatan kekuatan pembiasan lensa disebut akomodasi. 1. Visus Mata membiaskan cahaya yang masuk untuk memfokuskannya ke retina.

pembuluh darah dan menerima nutrisinya dari jaringan

Cahaya adalah sebuah bentuk radiasi elektromagnetik yang terdiri atas paketpaket individual seperti partikel yang disebut foton yang berjalan menurut caracara gelombang. Jarak antara dua puncak gelombang dikenal sebagai panjang gelombang. Fotoreseptor di mata peka hanya pada panjang gelombang antara 400 dan 700 nanometer. Cahaya tampak ini hanya merupakan sebagian kecil dari spektrum elektromagnetik total. Cahaya dari berbagai panjang gelombang pada pita tampak dipersepsikan sebagai sensasi warna yang berbedabeda.

Panjang gelombang yang pendek dipersepsikan sebagai ungu dan biru, panjang gelomang yang panjang diinterpretasikan sebagai jingga dan merah. Pembelokan sebuah berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika suatu berkas cahaya berpindah dari satu medium dengan tingkat kepadatan tertentu ke medium dengan tingkat kepadatan yang berbeda.

Cahaya bergerak lebih cepat melalui udara daripada melalui medium transparan lainnya seperti kaca atau air. Ketika suatu berkas cahaya masuk ke sebuah medium yang lebih tinggi densitasnya, cahaya tersebut melambat (begitu pula sebaliknya). Berkas cahaya mengubah arah perjalanannya ketika melalui permukaan medium baru pada setiap sudut kecuali sudut tegak lurus.

Dua faktor berperan dalam derajat refraksi : densitas komparatif antara dua media dan

sudut jatuhnya benda ke madium kedua. Pada permukaan yang melengkung seperti lensa,
semakin besar kelengkungan, semakin besar derajat pembiasan dan semakin kuat lensa.

Suatu lensa dengan permukaan konveks (cembung) menyebabkan konvergensi atau penyatuan, berkasberkas cahaya, yaitu persyaratan untuk membawa suatu bayangan ke titik fokus. Dengan demikian, permukaan refraktif mata besifat konveks.

Lensa dengan permukaan konkaf (cekung) menyebabkan divergensi (penyebaran) berkas berkas cahaya, suatu lensa konkaf berguna untuk memperbaiki kesalahan refrektif mata tertentu, misalnya berpenglihatan dekat.

Pada permukaan yang melengkung seperti lensa, semakin besar kelengkungan, semakin besar derajat pembiasan dan semakin kuat lensa. Dua struktur yang paling penting dalam kemampuan refraktif mata adalah kornea dan lensa. Permukaan kornea, struktur pertama yang dilalui cahaya sewaktu masuk mata, yang melengkung berperan paling besar dalam kemampuan refraktif total mata karena perbedaan densitas pertemuan udara/kornea jauh lebih besar dari pada perbedaan densitas antara lensa dan cairan yang mengelilinginya.

Pada astigmatisme, kelengkungan korneanya tidak seragam/ rata, sehingga berkas-berkas cahaya mengalami refraksi yang tidak setara. Kemampuan refraksi kornea seseorang tetap konstan karena kelengkungan kornea tidak pernah berubah. Sebaliknya, kemampuan refraksi lensa dapat disesuaikan dengan mengubah kelengkungannya sesuai keperlua untuk melihat dekat atau jauh.

Struktur-struktur refraksi pada mata harus membawa bayangan cahaya yang terfokus di retina agar penglihatan jelas. Apabila suatu bayangan sudah terfokus sebelum mencapai retina atau belum terfokus sewaktu mencapai retina, bayangan tersebut tambak kabur.

Berkas-berkas cahaya yang berasal dari benda dekat lebih divergen sewaktu mencapai mata daripada berkas dari sumber jauh. Berkas dari sumber cahaya yang terletak lebih dari 6 meter (20 kaki) dianggap sejajar saat mencapai mata.

Untuk kekuatan refraktif mata tertentu, sumber cahaya dekat memerlukan jarak yang lebih besar di belakang lensa agar dapat memfokuskan dari pada sumber jauh, karena berkas dari sumber cahaya dekat masih berdivergensi sewaktu mencapai mata.

Untuk mata tertentu, jarak antara lensa dan retina selalu sama. untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di retina (dalam jarak yang sama), harus dipergunakan lensa yang lebih kuat untuk sumber dekat. Kekuatan lensa dapat disesuaikan melalui proses akomodasi.

2. Daya Akomodasi Daya akomodasi dapat meningkatkan kekuatan lensa untuk penglihatan dekat. Kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa sehingga baik sumber cahaya dekat maupun jauh dapat di fokuskan di retina dikenal sebagai akomodasi. Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang di atur oleh otot siliaris.

Gambar 1. Daya akomodasi Otot siliaris adalah bagunan dari korpus siliaris, suatu spesialisasi lapisan koroid di sebelah anterior. Otot siliaris adalah otot polos melingkar yang melekat ke lensa melalui ligamentum suspensorium. Ketika otot siliaris melemas, ligamentum akan tegang dan menarik lensa, sehingga lensa berbentuk gepeng dengan kekuaan refraksi minimal. Ketika berkontraksi, garis tengah otot ini berkurang dan tegangan di ligamentum suspensorium mengendur. Sewaktu lensa kurang mendapat tarikan dari ligamentum suspendorium, lensa mengambil bentuk yang lebih sferis karena elastisitas inherennya. Semakin besar kelengkungan lensa ( karena semakin bulat), semakin besar kekuatannya, sehingga berkas-berkas cahaya lebih dibelokkan.

Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan jauh, tetapi otot tersebut berkontraksi untuk memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan lebih kuat untuk penglihatan dekat.

Otot siliaris dikontrol oleh sistem saraf otonom. Serat-serat saraf simpatis menginduksi relaksasi otot siliaris untuk penglihatan jauh, sementara sistem saraf parasimpatis menyebabkan kontraksi otot untuk penglihatan dekat.

Lensa adalah suatu struktur elastis yang terdiri dari serat-serat transparan. Kadang-kadang seratserat ini menjadi keruh (opak), sehingga berkas caya tidak dapat menembusnya, keadaan ini yang disebut dengan katarak.

Dengan berkurangnya kelenturan, lensa tidak lagi mampu mengambil bentuk sferis yang diperlukan untuk akomodasi untuk penglihatan dekat. Penurunan kemampuan akomodasi yang berkaitan dengan usia lanjut,disebut dengan presbiop, sehingga memerlukan lensa korektif untuk penglihatan dekat.

Gangguan penglihatan yang sering di jumpai lainnya adalah berpenglihatan dekat (miopia) dan berpenglihatan jauh (hiperopia). Pada mata normal, sumber cahaya jauh difokuskan di retina tanpa akomodasi, sementara kekuatan lensa ditingkatkan oleh akomodasi untuk membawa sumber dekat ke fokus.

Pada miopia, karena bola mata terlalu panjang atau lensa terlalu kuat, sumber cahaya dekat di bawa ke fokus retina tanpa akomodasi (walaupun dalam keadaan normal akomodasi diperlukan untuk penglihatan dekat), sementara sumber jauh difokuskan di depan retina dan tampak kabur.

Dengan demikian, dengan miopia dikoreksi oleh lensa konkaf. Pada hiperopia, bola mata mungkin terlalu pendek atau lensa yang terlalu lemah. Benda-benda jauh terfokuskan di retina hanya dengan akomodasi, sementara benda-benda dekat difokuskan di belakang retina, walaupun mata mengadakan akomodasi, sehingga tampak kabur. Keadaan ini dapat dikoreksi dengan lensa konveks.

3. Memahami dan Menjelaskan Proses Melihat

Proses melihat diawali ketika cahaya masuk, kemudian melalui kornea lalu ke iris lensa bayangan jatuh di retina ( tepatnya di fovea centralis), lalu impuls saraf berjalan ke belakang melalui nervus opticus chiasma opticum tractus opticus serabut- serabut di tractus opticus bersinaps di nucleus geniculatum laterale dorsalis tractus geniculo calcarina korteks penglihatan primer di calcarina lobus oksipitalis (area broadmann 17)

Dari tractus opticus berjalan ke nucleus suprachiasmatik di hipothalamus ( untuk pengaturan irama sirkadian) nervus pretektalus ( untuk mendatangkan gerakan refleks mata agar mata dapat difokuskan kearah objek yang penting dan untuk mengaktifkan refleks pupil terhadap cahaya) colliculus superior untuk pengaturan arah gerakan cepat kedua mata

menuju nucleus geniculatum lateral ventralis pada thalamus basal otak sekitarnya diduhga untuk membantu mengendalikan beberapa fungsi sikap tubuh.

Korteks penglihatan di Lobus occipitalis di otak dibagi menjadi korteks penglihatan primer dan korteks penglihatan sekunder : - Korteks penglihatan primer : Korteks penglihatan primer terletak pada fissura calcarina meluas

bersama dengan area kortikal 17 Broadman ( area penglihatan 1) - Area penglihatan sekunder pada korteks/ area asosiasi penglihatan, terletak di sebelah lateral, anterior, superior dan inferior terhadap korteks penglihatan primer.

Ketika cahaya bersinar pada satu mata, kedua pupil berkontriksi , konstriksi ini adalah refleks cahaya pupil.

optik atau saraf kranial II terdiri dari 80% visual dan serabut pupil afferent. Cahaya impuls ke dalam mata menyebabkan retina menyebarkan impuls ke saraf optik, bidang optik, otak tengah, dan korteks visual dari lobus occipitalis. Ini adalah otot afferent dari refleks cahaya.

Di otak tengah, serabut pupil menyebarkan dan disebarkan dengan serabut silang ke depan nucleus Edinger whestpaldari okulomotor, atau saraf kranial III. Beberapa serabut tinggal pada sisi yang sama.

Saraf kranial ketiga adalah otot efferent, yang mana berangkat melalui badan ciliary ke otot sphincts dari iris yang menyebabkannya berkontraksi.

Efek langsungnya adalah konstriksi dari pupil mata bagian atas yang mana cahaya bersinar. Refleks dekat terjadi ketika pelaku melihat jarak dekat.

Ada tiga bagian dari refleks dekat yakni akomodasi, menyebarkan, dan konstriksi pupil. Akomodasi didefenisikan sebagai fokus dekat dari mata yang mana diakibatkan oleh peningkatan kekuatan lensa oleh kontraksi dari otot ciliary, di inerfasi oleh saraf kranial III.

Reseptor, setiap sel batang dan kerucut dibagi menjadi segmen luar, segmen dalam yang mengandung inti-inti reseptor dan daerah sinaps. Segmen luar adalah modifikasi silia dan merupakan tumpukan teratur sakulus atau lempeng dari membrane. Sakulus dan membrane ini mengandung senyawa-senyawa peka cahaya yang bereaksi terhadap cahaya dan mampu membangkitkan potensial aksi di jaras penglihatan . segmen luar sel batang selalu diperbaharui oleh pembentukan lempeng-lempeng baru di tiap bagian dalam segmen disana proses fagositosis lempeng tua serta dari ujung luar oleh sel-sel eptel berpigmen.

Fotoreseptor terdiri atas dua jenis sel, yaitu koni (kerucut) dan basillli (batang).
o

Sel basilli yang lebih banyak, berfungsi untuk melihat dalam cahaya remang-remang, tidak untuk melihat warna.

Koni berfungsi untuk melihat cahaya terang dan warna. Lateral terhadap bintik buta terdapat daerah lonjong disebut macula lutea, demgam cekungan kecil dipusatnya yang disebut fovea sentralis.

Fovea sentralis hanya mengandung koni; macula mengandung kebanyakan koni, yang makin berkurang kea rah perifer.

Retina perifer hanya mengandung basilli. Agar melihat jelas, berkas cahaya harus jatuh tepat pada fovea sentralis, yang besarnya hanya seujubg jarum pentul.

Semua bangunan transparan yang harus dilalui berkas cahaya untuk mencapai retina disebut media refraksi, yaitu kornea, lensa dan korpus vitreous. Mata normal akan membiaskan cahaya yang memasuki mata sedemikian rupa sehingga bayangannya tepat jatuh tepat di retina, di fovea sentralis.

Mekanisme pembentukan bayangan.


o

Mata mengubah energi dalam spekturm yang dapat dilihat menjadi potensial aksi di nervus optikus Panjang gelombang cahaya yang dapat dilihat berkisar dari 397 nm sampai 723 nm. Bayangan benda di sekitar difokuskan di retina Berkas cahaya yang mencapai retina akan mencetuskan potensial didalam sel kerucut dan batang Impuls yang timbul di retina dihantarkan ke korteks serebrum, untuk dapat menimbulkan kesan penglihatan.

Daya akomodasi
o

bila m. siliaris dalam keadaan istirahat, berkas sinar paralel yang jatuh dimata yang optiknya normal (emetropia) akan difokuskan ke retina Selama relaksasi ini dipertahankan, maka berkas sinar dari benda yang kurang dari 6 m akan difokuskan di belakang retina akibatnya benda tersebut akan nampak kabur proses meningkatnya kelengkungan lensa disebut akomodasi.

Pada keadaan istirahat ketegangan lensa dipertahankan oleh tarikan ligamentum lensa Karena bahan lensa mudah dibentuk dan kelenturan kapsul lensa cukup tinggi, lensa dapat ditarik menjadi gepeng Bila pandangan diarahkan ke benda yang dekat, otot siliaris akan berkontraksi Hal ini mengurangi jarak antara tepi-tepi korpus siliaris dan melemaskan ligamentum lensa sehingga lensa membentuk mengerut membentuk benda yang lebih cembung.

Pada orang berusia muda bentuk ini dapat meningkatkan daya bias mata hingga 12 dioptri.

Selain akomodasi, terjadi konvergensi sumbu penglihatan dan konstriksi pupil bila seseorang melihat benda yang dekat. Respon 3 bagian ini : akomodasi, konvergensi, sumbu penglihatan, dan kontriksi pupil disebut respon melihat dekat.

Gangguan umum pada mekanisme pembentukan bayangan


o

pada beberapa orang, bola mata berukuran lebih pendek daripada normal dan sinar yang sejajar difokuskan dibelakang retina. Kelainan ini disebut hiperopia atau penglihatan jauh.

Akomodasi yang terus menerus, bahkan sewaktu melihat benda jauh dapat sedikit mengkompensasi kelainan, tetapi kerja otot yang terus menerus akan melelahkan dan dapat menimbulkan nyeri kepala dan penglihatan kabur.

Konvergensi sumbu penglihatan yang terus menerus yang disertai akomodasi akhirnya dapat menimbulkan juling (strabismus) kelainan ini dapat diperbaiki dengan menggunakan kacamata dengan lensa konveks, yang membantu daya bias mata dalam memperpendek jarak fokus.

Pada miopia (penglihatan dekat), garis tengah antero posterior bola mata terlalu panjang

Miopia bersifat genetik. Pada orang berusia muda aktivitas pekerjaan yang berkaitan dengan benda-benda dekat, misalnya belajar dapat mempercepat timbulnya miopia. Kelainan ini dapat diatasi dengan kacamata lensa bikonkaf, yang membuat berkas cahaya sejajar sedikit berdivergensi sebelum masuk ke mata.

Astigmatisme adalah keadaan yang sering dijumpai dengan kelengkungan kornea tidak merata.

Bila kelengkungan disatu meridian berbeda dengan kelengkungan dimeridian lain, berkas cahaya di meridian tersebut akan dibiaskan ke fokus yang berbeda.yang kurang dari 6 meter akan difokuskan di belakang retina dan akibatnya benda tersebut tampak kabur.

LO 3 Memahami dan menjelaskan keratitis LI 3.1 Definisi Keratitis adalah radang pada kornea atau infiltrasi sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh sehingga tajam penglihatan menurun. Infeksi pada kornea bisa mengenai lapisan superficial yaitu pada lapisan epitel atau membran bowman dan lapisan profunda jika sudah mengenai lapisan stroma. 3.2 Epidemiologi Spesies Fusarium merupakan penyebab paling umum infeksi jamur kornea di Amerika Serikat bagian selatan (45-76% dari keratitis jamur), sedangkan spesies Candida dan Aspergillus lebih umum di negara-negara utara. secara signifikan lebih sedikit yang berkaitan dengan infeksi lensa kontak. 3.3 Etiologi

Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya: Virus Bakteri Jamur Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari atau sunlamps. Hubungan ke sumber cahaya yang kuat lainnya seperti pengelasan busur Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak. Mata kering yang disebabkan oleh kelopak mata robek atau tidak cukupnya pembentukan air mata Adanya benda asing di mata Reaksi terhadap obat tetes mata, kosmetik, polusi, atau partikel udara seperti debu, serbuk sari, jamur, atau ragi Efek samping obat tertentu Kekurangan vitamin A

3.4 Patofisiologi Mata yang kaya akan pembuluh darah dapat dipandang sebagai pertahanan imunologik yang alamiah. Pada proses radang, mula-mula pembuluh darah mengalami dilatasi terjadi kebocoran serum dan elemen darah yang meningkat masuk ke dalam ruang ekstraseluler Elemen-elemen darah makrofag, leukosit polimorf nuklear, limfosit, protein C-reaktif imunoglobulin pada permukaan jaringan yang utuh membentuk garis pertahanan yang pertama. Karena tidak mengandung vaskularisasi, mekanisme kornea dimodifikasi oleh pengenalan antigen yang lemah. Keadaan ini dapat berubah, kalau di kornea terjadi vaskularisasi. Rangsangan untuk vaskularisasi timbul oleh adanya jaringan nekrosis yang dapat dipengaruhi adanya toksin, protease atau mikroorganisme. Secara normal kornea yang avaskuler tidak mempunyai pembuluh limfe. Bila terjadi vaskularisasi terjadi juga pertumbuhan pembuluh limfe dilapisi sel. Reaksi imunologik di kornea dan konjungtiva kadang-kadang disertai dengan kegiatan imunologik nodus limfe yang masuk limbus (kornea perifer) dan sklera yang letaknya berdekatan sindrom iskhemik kornea perifer, suatu kelainan yang jarang terjadi, tetapi merupakan kelainan yang serius. Patofisiologi keadaan ini tidak jelas, Antigen cenderung ditahan oleh komponen polisakarida di membrana basalis. Dengan demikian antigen dilepas dari kornea yang avaskuler, dan dalam waktu lama akan menghasilkan akumulasi sel-sel yang memiliki kompetensi imunologik di limbus Selsel ini bergerak ke arah sumber antigen di kornea dan dapat menimbulkan reaksi imun di tepi kornea. Sindrom iskhemik dapat dimulai oleh berbagai stimuli. Proses imunologik secara histologik terdapat sel plasma, terutama di konjungtiva yang berdekatan dengan ulkus. Penemuan sel plasma merupakan petunjuk adanya proses imunologik. Pada keratitis

herpetika yang khronik dan disertai dengan neo-vaskularisasi akan timbul limfosit yang sensitif terhadap jaringan kornea. 3.5 Klasifikasi Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal. Berdasarkan lapisan yang terkena, keratitis dibagi menjadi: 1. Keratitis Pungtata (Keratitis Pungtata Superfisial dan Keratitis Pungtata Subepitel) 2. Keratitis Marginal 3. Keratitis Interstisial Berdasarkan penyebabnya, keratitis diklasifikasikan menjadi: 1. Keratitis Bakteri 2. Keratitis Jamur 3. Keratitis Virus 4. Keratitis Herpetik a. Keratitis Infeksi Herpes Zoster b. Keratitis Infeksi Herpes Simplek Keratitis Dendritik dan Keratitis Disiformis 5. Keratitis Alergi a. Keratokonjungtivitis b. Keratokonjungtivitis epidemi c. Tukak atau ulkus fliktenular d. Keratitis fasikularis e. Keratokonjungtivitis vernal Berdasarkan bentuk klinisnya, keratitis diklasifikasikan menjadi: 1. Keratitis Flikten 2. Keratitis Sika 3. Keratitis Neuroparalitik 4. Keratitis Numuralis Klasifikasi keratitis berdasarkan lapisan kornea yang terkena, yaitu: A. Keratitis Pungtata Keratitis yang terkumpul di daerah Bowman, dengan infiltrat berbentuk bercak-bercak halus. Keratitis pungtata superfisial memberikan gambaran seperti infiltrat halus

bertitik-titik pada permukaan kornea. Merupakan cacat halus kornea superfisial dan hijau bila
diwarnai fluoresein. Sedangkan keratitis pungtata subepitel adalah keratitis yang terkumpul di daerah membran Bowman. B. Keratitis Marginal/katarak Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus. Penyakit infeksi lokal konjungtiva dapat menyebabkan keratitis katarak atau keratitis

marginal ini. Keratitis marginal kataral biasanya terdapat pada pasien setengah umur dengan adanya blefarokonjungtivitis. C. Keratitis Interstitial kondisi serius dimana masuknya pembuluh darah ke dalam kornea dan dapat menyebabkan hilangnya transparansi kornea. Keratitis interstitial dapat berlanjut menjadi

kebutaan. Sifilis adalah penyebab paling sering dari keratitis interstitial.

Klasifikasi keratitis berdasarkan penyebabnya, yaitu : A. Keratitis Bakteri 1. Faktor Risiko Setiap faktor atau agen yang menciptakan kerusakan pada epitel kornea adalah potensi penyebab atau faktor risiko bakteri keratitis, beberapa faktor risiko terjadinya keratitis bakteri diantaranya: Penggunaan lensa kontak Trauma Kontaminasi pengobatan mata Riwayat keratitis bakteri sebelumnya Riwayat operasi mata sebelumnya Gangguan defense mechanism Perubahan struktur permukaan kornea

2. Etiologi Tabel 1. Etiologi Keratitis Bakteri1

3. Manifestasi Klinis Pasien keratitis biasanya mengeluh mata merah, berair, nyeri pada mata yang terinfeksi, penglihatan silau, adanya sekret dan penglihatan menjadi kabur. Pada pemeriksaan bola mata eksternal ditemukan hiperemis perikornea, blefarospasme, edema kornea, infiltrasi kornea 4. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan kultur bakteri dilakukan dengan menggores ulkus kornea dan bagian tepinya dengan menggunakan spatula steril kemudian ditanam di media cokelat, darah dan agar Sabouraud, kemudian dilakukan pengecatan dengan Gram. Biopsy kornea dilakukan jika kultur negatif dan tidak ada perbaikan secara klinis dengan menggunakan blade kornea bila

ditemukan infiltrat dalam di stroma 5. Terapi Dapat diberikan inisial antibiotik spektrum luas sambil menunggu hasil kultur bakteri. Berikut tabel pengobatan inisial antibiotik yang dapat diberikan:

Tabel 2. Terapi inisial untuk keratitis bakteri B. Keratitis Fungi (Jamur)1,2,3 1. Etiologi Keratitis jamur dapat disebabkan oleh: a. Jamur berfilamen (filamentous fungi) Bersifat multiseluler dengan cabang-cabang hifa, terdiri dari: Jamur bersepta : Furasium sp, Acremonium sp, Aspergillus sp, Cladosporium sp,

Penicillium sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp, Curvularia sp, Altenaria sp.
Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp. b. Jamur ragi (yeast) yaitu jamur uniseluler dengan pseudohifa dan tunas : Candida albicans,

Cryptococcus sp, Rodotolura sp.


c. Jamur difasik. Pada jaringan hidup membentuk ragi sedang media pembiakan membentuk miselium : Blastomices sp, Coccidiodidies sp, Histoplastoma sp, Sporothrix sp. 2. Patologi Hifa jamur cenderung masuk stroma secara paralel ke lamella kornea. Mungkin ada nekrosis koagulatif stroma kornea yang meluas dengan edema serat kolagen dan keratosit. Reaksi inflamasi yang menyertai kurang terlihat daripada keratitis bakterialis. Abses cincin steril mungkin ada yang terpisah pusat ulkus. Mikroabses yang multipel dapat mengelilingi lesi utama. Hifa berpotensi masuk ke membran descemet yang intak dan menyebar ke kamera okuli anterior. 3. Manifestasi Klinis Reaksi peradangan yang berat pada kornea yang timbul karena infeksi jamur dalam bentuk mikotoksin, enzim-enzim proteolitik, dan antigen jamur yang larut. Agen-agen ini dapat

menyebabkan nekrosis pada lamella kornea, peradangan akut , respon antigenik dengan formasi cincin imun, hipopion, dan uveitis yang berat. Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama, Lesi satelit; Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan tonjolan seperti hifa di bawah endotel utuh; Plak endotel ; Hypopyon, kadang-kadang rekuren ; Formasi cincin sekeliling ulku ; Lesi kornea yang indolen. 4. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan kerokan kornea (sebaiknya dengan spatula Kimura) yaitu dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop. Dapat dilakukan pewarnaan KOH, Gram, Giemsa atau KOH + Tinta India. Biopsi jaringan kornea dan diwamai dengan Periodic Acid Schiff atau Methenamine Silver.

5. Terapi Obat-obat anti jamur yang dapat diberikan meliputi: Polyenes termasuk natamycin, nistatin, dan amfoterisin B. Azoles (imidazoles dan triazoles) termasuk ketoconazole, Miconazole, flukonazol, itraconazole, econazole, dan clotrimazole.` C. Keratitis Virus 1. Etiologi Herpes Simpleks Virus (HSV) merupakan salah satu infeksi virus tersering pada kornea. Virus herpes simpleks menempati manusia sebagai host, merupakan parasit intraselular obligat, dapat ditemukan pada mukosa, rongga hidung, rongga mulut, vagina dan mata. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dan jaringan mata, rongga hidung, mulut, alat kelamin yang mengandung virus. 2. Patofisiologi Patofisiologi keratitis herpes simpleks dibagi dalam 2 bentuk : Pada epitelial : kerusakan terjadi akibat pembiakan virus intraepitelial mengakibatkan kerusakan sel epitel dan membentuk tukak kornea superfisial. Pada stromal : terjadi reaksi imunologik tubuh terhadap virus yang menyerang yaitu reaksi antigen-antibodi yang menarik sel radang ke dalam stroma. Sel radang ini mengeluarkan bahan proteolitik untuk merusak virus tetapi juga akan merusak stroma di sekitarnya. 3. Manifestasi Klinis Pasien dengan HSV keratitis mengeluh nyeri, fotofobia, penglihatan kabur, mata berair, mata merah, tajam penglihatan turun terutama jika bagian pusat yang terkena. Infeksi primer herpes simpleks pada mata biasanya berupa konjungtivitis folikularis akut disertai blefaritis vesikuler yang ulseratif, serta pembengkakan kelenjar limfe regional. Kebanyakan penderita juga disertai keratitis epitelial dan dapat mengenai stroma tetapi jarang. Pada dasarnya infeksi primer ini dapat sembuh sendiri, akan tetapi pada keadaan tertentu di mana daya tahan tubuh sangat lemah akan menjadi parah dan menyerang stroma

4. Pemeriksaan Penunjang Usapan epitel dengan Giemsa multinuklear noda dapat menunjukkan sel-sel raksasa, yang dihasilkan dari perpaduan dari sel-sel epitel kornea yang terinfeksi dan virus intranuclear inklusi 5. Terapi Debridement Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement epithelial, karena virus berlokasi didalam epithelial. Debridement juga mengurangi beban antigenic virus pada stroma kornea. Epitel sehat melekat erat pada kornea namun epitel yang terinfeksi mudah dilepaskan. Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus. Obat siklopegik seperti atropine 1% atau homatropin 5% diteteskan kedalam sakus konjungtiva, dan ditutup dengan sedikit tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai defek korneanya sembuh umumnya dalam 72 jam. Terapi Obat IDU (Idoxuridine) analog pirimidin (terdapat dalam larutan 1% dan diberikan setiap jam, salep 0,5% diberikan setiap 4 jam) Vibrabin: sama dengan IDU tetapi hanya terdapat dalam bentuk salep Trifluorotimetidin (TFT): sama dengan IDU, diberikan 1% setiap 4 jam Asiklovir (terapi spesifik) (salep 3%), diberikan setiap 4 jam. Asiklovir oral dapat bermanfaat untuk herpes mata berat, khususnya pada orang atopi yang rentan terhadap penyakit herpes mata dan kulit agresif. Terapi Bedah Keratoplasti penetrans mungkin diindikasikan untuk rehabilitasi penglihatan pasien yang mempunyai parut kornea yang berat, namun hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes non aktif. D. Keratitis Alergi 1. Etiologi Reaksi hipersensitivitas tipe I yang mengenai kedua mata, biasanya penderita sering menunjukkan gejala alergi terhadap tepung sari rumput-rumputan. 2. Manifestasi Klinis Bentuk palpebra: cobble stone (pertumbuhan papil yang besar), diliputi sekret mukoid. Bentuk limbus: tantras dot (penonjolan berwarna abu-abu, seperti lilin) Gatal Fotofobia Sensasi benda asing Mata berair dan blefarospasme Biasanya sembuh sendiri tanpa diobati Steroid topikal dan sistemik Kompres dingin

3. Terapi

Obat vasokonstriktor Cromolyn sodium topikal Koagulasi cryo CO2. Pembedahan kecil (eksisi). Antihistamin umumnya tidak efektif Kontraindikasi untuk pemasangan lensa kontak

Klasifikasi keratitis berdasarkan bentuk klinisnya, yaitu: A. Keratitis Flikten/Skrofulosa/Eksemtosa Flikten benjolan berdiameter 1-3 mm berwarna abu-abu pada lapisan superfisial kornea Epitel diatasnya mudah pecah dan membentuk ulkus. sembuh atau tanpa meninggalkan sikatrik. Adapula ulkus yang menjalar dari pinggir ke tengah, dengan pinggir meninggalkan sikatrik sedangkan bagian tengah nya masih aktif, yang disebut wander phlyctaen. Keadaan ini merupakan proses yang mudah sembuh, tetapi kemudian kambuh lagi di tempat lain bila penyebabnya masih ada dapat menyebabkan kelainan kornea berbentuk bercak-bercak sikatrik, menyerupai pulau-pulau yang disertai geographic pattern B. Keratitis Sika Merupakan peradangan konjungtiva dan kornea akibat keringnya permukaan kornea dan konjungtiva. Penyebab kornea kering: Berkurangnya komponen lemak, seperti pada blefaritis Berkurangnya airmata, seperti pada syndrome syrogen, setelah memakai obat diuretik, atropin atau dijumapai pada usia tua. Berkurangnya komponen musin, dijumpai pada keadaan avitaminosis A, penyakit-penyakit yang menyebabkan cacatnya konjungtiva, seperti trauma kimia, Sindrom Steven Johnson, trakoma. Penguapan yang berlebihan seperti pada kehidupan gurun pasir, lagoftalmus, keratitis neuroparalitika. Adanya sikatrik pada kornea. Gejala klinis yang sering timbul mengeluh mata terasa gatal, terasa seperti ada pasir,fotopobi,visus menurun, secret lengket, mata terasa kering. Dari hasil pemeriksaan didapatkan sekret mukus dengan tanda-tanda konjungtivitis dengan xerosis konjuntiva, sehingga konjungtiva bulbi edema, hiperemi, menebal, kering, tak mengkilat, warnanya mengkilat. Terdapat infiltrat-infiltrat kecil, letak epiteleal, tes fluoresen (+). Terdapat juga benang-benang (filamen) yang sebenarnya sekret yang menempel, karena itu, disebut juga keratitis filamentosa C. Keratitis Numularis Diduga dari virus. Pada klinis, tanda-tanda radang tidak jelas, terdapat infiltrat bulat-bulat subepitelial di kornea, dimana tengahnya lebih jernih, disebut halo (diduga

terjadi karena resorpsi dari infiltrat yang dimulai di tengah). Tes fluoresen (-) kalau sembuh meninggalkan sikatrik yang ringan. 3.6 Komplikasi Komplikasi yang paling ditakuti dari keratitis adalah penipisan kornea dan akhirnya perforasi kornea yang dapat mengakibatkan endophtalmitis sampai hilangnya penglihatan (kebutaan). Beberapa komplikasi yang lain diantaranya: Gangguan refraksi Jaringan parut permanent Ulkus kornea Perforasi kornea Glaukoma sekunder

3.7 Prognosis Keratitis dapat sembuh dengan baik jika ditangani dengan tepat dan jika tidak diobati dengan baik dapat menimbulkan ulkus yang akan menjadi sikatriks dan dapat mengakibatkan hilang penglihatan selamanya. Prognosis visual tergantung pada beberapa faktor, tergantung dari: Virulensi organisme Luas dan lokasi keratitis Hasil vaskularisasi dan atau deposisi kolagen

3.8 PENCEGAHAN 1. Periksa teratur dengan deteksi dini Beberapa gangguan mata sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit dan gangguan penglihatan bisa terjadi secara perlahan sehingga sulit dideteksi pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan mata secara teratur sangat dianjurkan. Jika dilakukan deteksi dini, penanganannya tentu jauh lebih mudah. Selain itu, jika Anda sudah mengenakan kaca mata atau lensa kontak, jangan lupa periksa teratur paling tidak sekali setahun. Hal ini untuk memastikan kalau-kalau Anda perlu mengganti lensa Anda. Jika merasa lensa Anda sudah tidak senyaman sebelumnya, mungkin penglihatan Anda sudah berubah dan Anda perlu perbaikan. Dalam kondisi ini, periksalah ke dokter meskipun belum 1 tahun. 2. Bekerja di depan komputer cobalah untuk sejenak Istirahatkan mata Anda Setiap 5-10 menit sekali, jauhkan pandangan Anda dari layar komputer. Fokuslah pada satu objek yang terletak jauh dari Anda. Cara ini bisa membantu untuk menyesuaikan kembali fokus mata Anda. Sekali-sekali, buka kemudian tutuplah mata Anda selama beberapa detik. Cara ini bisa membantu melembabkan mata dan mencegah mata kering. Selain itu, cobalah mengedipkan mata lebih sering. Jika Anda merasa sudah tidak sanggup lagi melihat layar, istirahatlah sebentar. Jika bekerja di depan komputer, Anda dianjurkan untuk istirahat selama 10 menit per jam. Tinggalkan komputer, berjalanlah keluar ruangan dan lihatlah pemadangan yang bisa menyegarkan mata. Cara ini tidak hanya bagus untuk mata tetapi juga bagus bagi kaki dan punggung Anda.

Pastikan lampu di dekat Anda tidak terlalu terang. Jika menggunakan lampu meja, pastikan cahayanya tidak langsung ke mata Anda atau ke layar komputer Anda. Cara terbaik adalah meletakkan lampu ke samping. 3. Perhatikan makanan Anda Pilihan makanan juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan mata. Pilihlah makanan yang kaya akan vitamin-vitamin yang bagus untuk mata khususnya vitamin A, C, B dan E. Untuk mendapatkan semua asupan vitamin ini, perbanyak konsumsi sayur dan buah, khususnya jeruk dan wortel. Selain itu, seng juga dinyatakan baik untuk kesehatan mata. 4. Perhatikan perawatan lensa kontak Anda

Jangan lupa cuci tangan sebelum memasukkan atau mengeluarkan lensa. Bersihkan, serta cuci lensa Anda dengan anti bakteri setelah dikeluarkan dan sebelum digunakan kembali. Gunakan solution standar, solution ini pasti lebih steril dibandingkan solution yang dibuat di rumah. Sering-seringlah cuci dan bersihkan tempat penyimpanan lensa Anda. Banyak orang yang betul-betul memperhatikan kebersihan lensanya tetapi mengabaikan tempat penyimpanan lensa.

5. Gunakan sunglasses yang dilengkapi dengan pelindung UV dan gunakan topi lebar sehingga bisa melindungi mata dari sinar matahari. 6. Jangan lupa mengenakan pelindung mata saat bekerja dengan zat-zat kimia atau di lapangan 7. Jangan lupa untuk segera periksa ke dokter jika Anda mengalami:

Pandangan kabur Rasa sakit di mata Terjadi penumpukan deposit di mata Pandangan Anda menjadi ganda Mata merah atau pembengkakan di kelopak mata

LO 4. Memahami dan menjelaskan Mata merah dengan penurunan visus dan Mata merah dengan tanpa penurunan visus Penyebab mata merah dengan visus normal diantaranya: Konjungtivitis Pterigium Pseudopterigium Pinguektela Episkleritis Skleritis

Perdarahan subkonjungtiva 1. KONJUNGTIVITIS Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva. Konjungtivitis dibedakan bentuk akut dan kronis. Konjungtivitis dapat disebabkan bakteri seperti konjungtivitis gonokok, virus, klamidia, alergi toksis, dan molluscum contagiosum. Klasifikasi Konjungtivitis: Konjungtivitis akut A. Konjungtivitis bakterial

Konjungtivitis Bakterial Streptokokus, Corynebacterium Diphterica, Pseudomonas, Neisseria,

dan Haemophilus, 1. Konjungtivitis GonoreNeisseria gonorrhea, kuman yang sangat pathogen, virulen, dan bersifat invasive 2. Konjungtivitis angularKonjungtivitis pada daerah kantus interpalpebra disertai ekskoriasi kulit di sekitar daerah meradang 3. Konjungtivitis mukopurulen Konjungtivitis dengan gejala umum konjungtivitis kataral mukoid B. Konjungtivitis gonore C. Konjungtivitis Angular D. Konjungtivitis akut viral keratokonjungtivitis epidemic demam faringokonjungtiva keratokonjungtivitis herpetic keratokonjungtivitis New Castle konjungtivitis hemoragik akutE. Konjungtivi Jamur Konjungtivitis Kandida Candida spp. (biasanya Candida albicans). Pasien yang mengalami diabetes mellitus atau pasien immunocompromised. 1. Konjungtivitis alergi i. konjungtivitis vernal ii. konjungtivitis flikten iii. Konjungtivitis Kronis 2. KONJUNGTIVITIS FLIKTEN Suatu peradangan konjungtiva karena reaksi alergi yang dapat terjadi bilateral ataupun unilateral, biasanya terdapat pada anak-anak dan kadang-kadang pada orang dewasa 3. Trakoma suatu bentuk konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan oleh Chlamydia trachromatis. 4. PINGUEKULA Penebalan kuning keabuan pada konjungtiva bulbi karena degenerasi hyalin pada jaringan sub mukosa konjungtiva

5. PTERIGIUM merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea 6. PSEUDOPTERIGIUM Merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat. 7. EPISKLERITIS Reaksi radang jaringan ikat vascular yang terletak antara konjungtiva dan permukaan sklera 8. SKLERITIS Peradangan (inflamasi) yang melibatkan sklera. 9. PERDARAHAN SUBKONJUNGTIVAL Pembuluh darah pada konjungtiva yang rapuh dan pecah yang mengakibatkan perdarahan subkonjungtiva (daerah dibawah konjungtiva) . Tampak sebagai patch merah terang (paling banyak) atau merah gelap. MATA MERAH DENGAN DISERTAI PENURUNAN VISUS 1 Infeksi Kornea (Keratitis) a. Keratitis Superfisialis Bentuk klinis : Keratitis pungtata superfisialis Berupa bintik-bintik putih pada permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit infeksi virus antara lain virus herpes, herpes zoster, dan vaksinia. Keratitis flikten Benjolan putih yang bermula di limbus tetapi mempunyai kecenderungan untuk menyerang kornea. Keratitis Sika Suatu bentuk keratitis yang disebabkan oleh kurangnya sekresi kelenjar lakrimal atau sel goblet yang berada di konjungtiva. Keratitis Lepra Suatu bentuk keratitis yang diakibatkan oleh gangguan trofik saraf, disebut juga keratitis neuroparalitik. b. c.

Keratitis Numularis Bercak putih berbentuk bulat pada permukaan kornea biasanya multipel dan banyak didapatkan pada petani. Keratitis Superfisialis

Keratitis Herpes Simpleks Keratitis Herpes ZosteR Disebabkan oleh virus varicella-zoster. Virus ini dapat menyerang
saraf kranial V, VII, dan VIII. Pada nervus trigeminus, bila yang terserang antara pons dan ganglion Gasseri, maka akan terjadi gangguan pada ketiga cabang N V. Biasanya yang terganggu adalah cabang oftalmik

Keratitis VaksiniA Keratitis Vaksinia kadang-kadang dijumpai sebagai suatu kecelakaan atau
komplikasi dari imunisasi terhadap variola

Keratitis Flikten Flikten adalah benjolan berwarna putih kekuningan berdiameter 2-3 mm
pada limbus, dapat berjumlah 1 atau lebih. Pada flikten terjadi penimbunan sel limfoid, dan ditemukan sel eosinofil serta mempunyai kecenderungan untuk menyerang kornea

Keratitis Sika Keratitis Sika adalah keratitis yang pada dasarnya diakibatkan oleh kurangnya
sekresi kelnjar lakrimal dan atau sel globet,

Keratitis Lepra Perubahan yang terjadi akibat serangan mikobakterium lepra adalah
membesar dan membengkaknya saraf kornea disertai bintil-bintil dalam benang (bead on a string). Pembengkakan saraf kornea adalah patognomonik untuk infeksi oleh mkobakterium lepra pada mata ataupun dapat mengindikasikan adanya suatu infeksi sistemik.

Keratitis Nummularis Keratitis nummularis adalah bentuk keratitis yang ditandai dengan
infiltrat bundar berkelompok dan tepinya berbatas tegas. Keratitis ini berjalan lambat, sering kali unilateral dan pada umumnya didapatkan pada petani yang bekerja di sawah.

Keratitis Profunda Keadaan dimana terjadi peradangan skelra dan kornea, biasanya unilateral, disertai dengan infiltrasi sel radang menahun pada sebagian sklera dan kornea Bentuk klinis : 1. Keratitis interstisial luetik atau keratitis sifilis kongenital 2. Keratitis sklerotikans (Sklerokeratitis)

Ulkus Kornea Ulserasi kornea dapat meluas ke dua arah yaitu melebar dan mendalam. Ulkus yang kecil dan superfisial akan lebih cepat sembuh, kornea dapat jernih kembali. A. Tukak karena Bakteri : Tukak streptokokus, Tukak stafilokokus, Tukak Pseudomonas B. Tukak Virus Tukak kornea oleh virus herpes simpleks cukup sering dijumai. Bentuk khas dendrit dapat diikuiti oleh vesikel-vesikel kecil di lapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan tukak. Tukak dapat juga terjadi pada bentuk diiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral.

Jamur Penggunaan antibiotik secara berlebihan dalam waktu yang lama atau pemakaian kortikosteroid jangka panjang; Fusarium dan sefalosporim menginfeksi kornea setelah suatu trauma yang disertai lecet epitel ; Infeksi oleh jamur lebih sering didapatkan di daerah yang beriklim tropik, maka faktor ekologi ikut memberikan kontribusi - Tukak karena Hipersensitifitas A. Tukak Marginal kornea bagian perifer dapat berbentuk bulat atau dapat juga rektangular dapat satu atau banyak dan terdapat daerah kornea yang sehat antara tukak dengan limbus. B. Tukak Cincin Tukak ini unilateral, letak tukak tepat di bagian dalam limbus dan hampir mengelilingi limbus 2. Uvea a. Radang uvea Radang iris dan badan siliar menyebabkan rusaknya Blood Aqueous Barrier sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin, dan sel-sel radang dalam humor akuos yang tampak pada penyinaran miring menggunakan sentolop atau akan lebi jelas bila menggunakan slit lamp, berkas sinar yang disebut fler. b. Uveitis Anterior

c. Glaukoma Kongestif Akut Seseorang yang datang dalam fase serangan akut glaukoma memberi kesan seperti orang yang sakit berat dan kelihatan payah LO 5. Memahami dan mejelaskan memelihara kesehatan mata menurut ajaran islam 1. Dalam Islam seseorang dikatakan sehat jika memenuhi tiga unsur yaitu sehat jasmani, sehat rohani dan sehat sosial 2. Beberapa tokoh muslim dalam ilmu kesehatan adalah Hunain Ibnu Ishaq, Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria Ar Razi, Ibnu Sina, Abu Mawar Abdul Malik ibnu Abil Ala Ibnu Zuhur 3. Menjaga Kesehatan fisik dengan pola hidup sehat dan olah raga yang teratur, Menjaga kesehatan rohani dengan senantiasa mengingat Allah, menjalankan perintah dan menjauhi segala laranganya sehingga kita mempunyai jiwa yang sehat ( Qolbun Salim ). Menjaga kesehatan sosial dengan selalu menjaga hubungan baik dengan masyarakat dan lingkungan sekitar sehingga mendatangkan muamalah (saling menguntungkan) 4. Pengcangkokan mata dan keberadaan donor mata diperbolehkan dalam perspektif kesehatan Islam. Pada umumnya, syarat diperbolehkannya transplantasi organ terdiri atas: harus dengan persetujuan orang tua mayit / walinya atau wasiat mayit, hanya bila dirasa benar-benar memerlukan dan darurat, Bila tidak darurat dan keperluannya tidak urgen atau mendesak, maka harus memberikan imbalan pantas kepada ahli waris donatur (tanpa transaksi dan kontrak jualbeli). 5. Sunnah Nabi menganggap keselamatan dan kesehatan sebagai nikmat Allah yang terbesar yang harus diterima dengan rasa syukur. o o Firman Allah dalam Al Quran Surah Ibrahim [14]:7:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

6. Bahwasannya menahan pandangan akan menutup jalan masuk kehati bagi syaitan, karena sesungguhnya syaithan masuk melalui pandangan dan menembus hati melalui pandangan lebih cepat dari udara dan ditempat kosong. o o Bahwasannya menahan pandangan akan memberi kesempatan kepada hati untuk mecurahkan segenap pikiran dan tenaganya dalam kemashlahatan-kemaslahatannya. Sesungguhnya antara mata dan hati terdapat celah dan jalan masuk yang mengharuskan pemisahan satu dengan yang lain, ia akan baik dengan baiknya dan akan rusak karena rusaknya. Apabila hati rusak maka rusaklah pandangan, dan apabila pandangan rusak maka rusaklah hati. Begitu pula kebalikannya di bidang kebaikan. o Rasulullah bersabda. Dua nikmat yang sering tidak diperhatikan oleh kebanyaka manusia

yaitu kesehatan dan waktu luang. (HR. Bukhari yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas
DAFTAR PUSTAKA 1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2009. h:1-12. 2. Radjiman T, dkk. Ilmu Penyakit Mata, Penerbit Airlangga, Surabaya, 1984. h:1-8.

3. Mason H. Anatomy and Physiology of the Eye, in Mason, H. & McCall, S. Visual Impairment:

Access to Education for Children and Young People, David Fulton Publishers, London, 1999.
p:30-38.