Anda di halaman 1dari 13

KONSEP PEMIKIRAN

PEMBANGUNAN EKONOMI BERKELANJUTAN


Oleh: Slamet Prayogi )

1. Tinjauan Ke Belakang

Melihat kondisi perekonomian Indonesia diperlukan suatu pengertian yang cukup


mendalam baik dari sisi mikro ekonomi dan terutama sisi makro ekonomi. Seperti
diketahui bahwa kondisi perekonomian Indonesia diwarnai dengan berbagai kejutan
(shock) sejak tahun 1960an sampai saat ini. Berbagai kejadian moneter dan non
moneter menyebabkan fluktuasi yang senantiasa berulang sehingga memberikan tingkat
ketidakpastian (uncertainty) dan country risk yang cukup tinggi.
Meskipun agak riskan dan kasar, untuk memudahkan memperoleh gambaran sekilas
serta kemungkinan tren ekonomi Indonesia di masa mendatang, maka tinjauan ini
dibagi 2 (dua) periode perkembangan ekonomi Indonesia yaitu periode Pra - Krisis
dan Paska Krisis.

Pra - Krisis Ekonomi


Adalah menjadi karakteristik perekonomian Indonesia sejak Pelita I dimulai, bahwa
sektor swasta ternyata sangat bergantung pada sektor pemerintah. Oleh karena itu
semua kebijakan di sektor pemerintah akan berdampak langsung terhadap sektor riel
misalnya adanya tight money policy tahun 1986 yang langsung diikuti oleh lesunya
hampir semua sektor perekonomian Indonesia.
Pada tahun 1970an terjadi resesi dunia yang membawa dampak amat besar terhadap
perekonomian Indonesia. Sektor pemerintah mengalami kontraksi cukup signifikan dan
diikuti kontraksi yang lebih besar di sektor riel. Krisis tersebut berdimensi
banyak bukan hanya berpengaruh pada kelesuan ekonomi dalam negeri tetapi juga
telah merambah pada sektor luar negeri yang menghadapi krisis devisa dan kemacetan
industrial.
Semenjak digulirkannya deregulasi sektor perbankan tahun 1983, serentetan
kebijakan dikeluarkan pemerintah termasuk di antaranya Inpres No. 4/1985, disusul
dengan Paket 6 Mei 1986 (Pakem), dan devaluasi 19 Desember 1986 serta kebijakan 25
Oktober 1986. Kesemuanya dikeluarkan dengan alasan untuk meningkatkan devisa
dari sektor non migas. Namun semua kebijakan tersebut tidak sepenuhnya berjalan
mulus karena peningkatan sektor devisa adalah merupakan langkah jangka panjang dan
sangat bergantung pada struktur industri dan tata niaga yang ada.
Kelesuan atau resesi ekonomi yang terjadi sekitar tahun 1986an tidak saja melanda
sektor industri barang mahal seperti otomotif tetapi juga melanda sektor lainnya
seperti papan, sandang dan pangan dengan derajat kelesuan yang berbeda beda.
Gejala yang sifatnya menyeluruh tersebut tentu saja tidak hanya disebabkan oleh
masalah masalah mikro yang dihadapi oleh sektor riel secara individu, namun lebih
condong pada masalah makro, yaitu turunnya pendapatan nasional perekonomian
Indonesia dari keadaan sebelumnya. Pada lima tahun pertama dan kedua tahun 1970 an
pertumbuhan pendapatan nasional Indonesia tercatat sebesar 7,1% dan 7,9%.
Sedangkan pada periode 1983-1988 pertumbuhan ekonomi merosot hingga mencapai rata
rata 5,1%.
Menghadapi hal ini pemerintah mengeluarkan paket kebijakan pada tahun 1988 yang
dikenal dengan Pakto 1988 yang intinya (terutama pada sektor moneter ) adalah:

1. Keharusan memenuhi persyaratan modal, sistem dan ijin bila hendak mendirikan
bank dan lembaga keuangan lainnya di kota dan di daerah, atau bila akan melakukan
merger dan menarik partisipasi modal asing.

2. Keharusan memenuhi koefisien tentang sehat tidaknya lembaga keuangan.

3. Cara menjalankan transaksi call money, Certificate of Deposits, SBI, SBPU,


devisa-swap, dan jenis kertas yang harus digunakan.

4. Tugas tugas yang harus dipenuhi oleh money changers.

5. Penurunan reserve ratio, yaitu alat kontrol Bank Indonesia terhadap


likuiditas yang harus dipelihara bank komersial, dari 15% menjadi 2%.

6. Ketentuan bahwa BUMN diperbolehkan mentransfer 50% depositonya di bank


pemerintah ke bank swasta.

7. Pengenaan pajak baru sebesar 15% terhadap pendapatan dari deposito


berjangka, sertifikat deposito dan lain sebagainya.
Dengan adanya Pakto 1988 tersebut, perokonomian nasional sontak bangkit dan
bergairah yang ditandai dengan melonjaknya uang beredar, tingginya likuiditas
perbankan yang bahkan over liquid, ekspansi kredit besar-besaran sebagaimana dapat
dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2 di bawah ini.
Namun kondisi ini ternyata membawa dampak yang cukup besar pada total perekonomian
Indonesia di belakang hari karena ternyata fundamental perekonomian Indonesia
rapuh dan sektor finansial cenderung lepas kendali.

Pakto 88 ternyata menjadi tonggak kebangkitan perekonomian secara umum dan


khususnya sektor finansial / perbankan dalam menjawab era globalisasi. Bersama
sama pasar modal yang berkembang cepat, kita melihat maraknya perkembangan sektor
finansial ini.

Tabel 1
Profil M1, M2, Kredit Swasta dan Sumber Dananya
Tahun 1988 - 1991

Kenaikan dalam (%) Sumber Dana (Rp. Trilyun)


Kredit Sumber Giro & R/K Valas Modal
Tahun M1 M2 Untuk Dana Deposit dan Pinja- Perbank-
Swasta Berjangka man LN an
1988 13 24 39 28 28.9 7.7 4.5
1989 40 40 57 51 43.0 1.3 7.9
1990 18 48 60 63 62.7 27.2 11.3
1991 11 17 21 10 69.4 32 10.2
Sumber : BI, Statistik Ekonomi Keuangan

Tabel 2
Kondisi Likuiditas Perbankan Tahu 1988 - 1991

Alat Likuid Persentase Simp. Wajib Kelebihan


Perbankan Likuiditas Perbankan Likuiditas
(Rp. Trilyun) ( % ) (Rp. Trilyun) (Rp. trilyun)
1988 1.8 6 0.6 1.2
1989 2.6 6 0.8 1.8
1990 2.7 4 1.2 1.5
1991 2.8 4 1.5 1.3
Sumber : BI, Statistik Ekonomi Keuangan

Sebagaimana diketahui bahwa dengan Pakto 1988, rasio cadangan perbankan (reserve
requirement) diturunkan dari 15% menjadi sangat rendah yakni 2%. Demikian
rendahnya sehingga perbankan menjadi sangat leluasa memperluas kredit dan uang
beredar (M1), yang seolah olah tanpa kendali dari Bank Indonesia seperti terlihat
pada Tabel 3. Sebagaimana diketahui, Rasio Cadangan, sesuai ketentuan BI, adalah
perbandingan antara cadangan perbankan (R) dengan uang giro dan deposito
berjangka.
Tabel 3
Kondisi Cadangan, Uang Kas dan GWM Perbankan 1987 -1991
Dalam Trilyun Rupiah

Uang Giro Wajib Cadangan / Kredit Kenaikan Kenaikan


Tahun Kas Minimum Reserve u/ Swasta dalam % dalam %
A B C D c d
1987 0.7 2.1 2.8 28.0
1988 0.7 1.1 1.8 38.9 -36 39
1989 1.0 1.6 2.6 60.9 44 57
1990 1.2 1.6 2.8 97.3 8 60
1991 1.5 1.4 2.9 117.5 4 21
Sumber: BI, Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia

Dari Tabel 3 tersebut di atas dapat diinterpretasikan bahwa sejak


diberlakukannya Pakto 1988, cadangan perbankan turun 36% dari Rp. 2,8 trilyun pada
1987 menjadi hanya Rp. 1,8 trilyun pada 1988. Hal ini karena perbankan menarik
cadangannya di BI sebanyak Rp. 1 trilyun untuk menambah sumber pendanaan
kreditnya. Oleh karena itu kredit perbankan untuk swasta naik tajam sebesar 39%
dari Rp. 28,0 trilyun pada 1987 menjadi Rp. 38,9 trilyun pada 1988. Selama 1988-
1991, cadangan mengalami peningkatan rata-rata 5% per tahun, yang jauh lebih
rendah dibandingkan dengan kenaikan kredit untuk swasta yang mencapai kenaikan
rata-rata 45% per tahun. Kenaikan kredit untuk swasta tersebut terus meningkat
pesat terutama pada 1988-1990 yaitu sebesar 39% per tahun menjadi pada 1988
menjadi 60% per tahun pada tahun 1990.
Tetapi setelah adanya beberapa kasus yang dimulai dengan kasus runtuhnya Bank
Summa, kemudian kasus Bank Pacific dan Bank Arta Prima, mulai terlihat deregulasi
(dan liberalisasi) di sektor perbankan ternyata mengundang ekses yang tidak
diinginkan. Meski demikian, Paket Pebruari pada Kabinet Pembangunan V yang lalu,
sedikit banyak dapat mencegah ekses-ekses negatif ekspansi perbankan tersebut.
Hanya saja, walaupun sudah ada UU Perbankan yang baru, serta UU Pasar Modal, tetap
saja terlihat perkembangan siklus sektor finansial mulai terasa ekspansif dengan
kecepatan dan volatility yang cukup mencemaskan. Ini berkaitan dengan sektor
property yang banyak berhubungan dengan kredit perbankan, baik kepada calon
pemilik rumah maupun kepada pengembang (developer). Begitu juga perkembangan yang
cepat di sektor jasa, seperti leasing dan produk produk derivatif perbankan yang
menambah maraknya kehidupan sektor finansial, dan sekaligus menambah tingginya
risiko bisnis yang bergerak di sektor keuangan.
Kondisi tersebut terus berlangsung hingga pertengahan tahun 1997 dan puncaknya
terjadi ketika otoritas moneter memperlebar intervention band BI dan bahkan
melepaskannya sama sekali sehingga nilai rupiah dibiarkan bebas mengambang (free
floating) terhadap dollar Amerika.
Akibatnya nilai rupiah, selain juga dipengaruhi oleh faktor-faktor non ekonomi
misalnya politik dll, merosot drastis, suku bunga pinjaman membubung tinggi dan
indeks harga saham gabungan maupun nilai kapitalisasi pasarnya anjlok tak
terbendung seperti terlihat pada Tabel 4.
Hal ini membawa konsekuensi yang sangat tidak diinginkan baik oleh sektor
pemerintah, sektor finansial sendiri maupun sektor riel. Dari sektor pemerintah
terjadi gejolak dan terjadi krisis politik. Dari sektor finansial terjadi
penghentian operasional puluhan bank sehingga sempat terjadi krisis kepercayaan
terhadap dunia perbankan. Sektor riel juga merasakan penderitaan yang amat
dahsyat, karena tidak ada lagi kredit yang terkucur baik untuk keperluan modal
kerja (apalagi investasi) di dalam negeri maupun untuk menunjang ekspor. Hal ini
karena L/C dari perbankan di Indonesia banyak ditolak di luar negeri. Padahal
sebagian besar industri kita, termasuk industri otomotif, sebagian besar
komponennya masih harus diimpor dari luar negeri.
Yang pasti merasakan dampaknya secara luas adalah masyarakat. Dengan terpuruknya
nilai rupiah tersebut praktis daya beli masyarakat turun drastis sementara tingkat
inflasi membubung tinggi sampai dengan 20 %. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto
turun secara signifikan dari 7,54 % pada tahun 1994 menjadi 4,65 % pada tahun
1997.
Hal ini semakin diperparah dengan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia yang
tercermin dari Neraca Pembayaran yang terus menerus mengalami defisit.
Parahnya lagi defisit tersebut terus ditutup dengan utang yang baru dengan notasi
US dollar. Menurut divisi riset JP Morgan, di tahun 1997 total utang luar negeri
Indonesia telah mencapai 128 miliar dollar yang mana sekitar 65 miliar dollar
merupakan utang sektor swasta. Akibatnya dengan terpuruknya nilai rupiah, beban
utang (baik pemerintah maupun swasta) semakin berat, karena nilainya meroket
sementara nilai kapitalisasi asset perusahaan-perusahaan dalam negeri justru
merosot.

Paska Krisis Ekonomi


Sejak pertengahan 1997, perekonomian Indonesia mulai terkena imbas krisis ekonomi
yang menimpa negara-negara di kawasan Asia. Dimulai dengan krisis nilai tukar
rupiah, yang kemudian menerpa sektor perbankan dan sektor riel.
Nilai tukar rupiah yang terus melemah secara berkelanjutan menyebabkan masyarakat
tidak percaya pada mata uangnya sendiri. Sementara itu sebagian besar bank mulai
mengalami kelangkaan likuiditas. Kondisi ini membawa efek pada ketidakpercayaan
masyarakat terhadap perbankan. Karena bank tidak memiliki kemampuan untuk
menyediakan dana setiap saat. Untuk mengatasinya, pemerintah segera turun tangan
memberikan bantuan melalui apa yang dikenal sebagai bantuan Likuiditas bank
Indonesia (BLBI) yang belakangan ini justru menambah masalah baru. Sebaliknya
kemacetan yang melanda sektor riel akhirnya menyebabkan sektor ini tidak dapat
mengembalikan pinjamannya ke bank.
Mimpi buruk akibat ditutupnya 16 bank swasta nasional pada bulan November 1997
semakin bertambah dengan adanya kondisi perbankan nasional yang modalnya mulai
tergerogoti oleh kewajiban membayar bunga kepada deposan. Ketidakpercayaan
masyarakat semakin tinggi sehingga bank-bank pun kian goyah.
Untuk meredam ketidakpercayaan masyarakat atas keamanan dananya, pemerintah
kemudian mengeluarkan keputusan yang berkaitan dengan masalah penjaminan dana-dana
masyarakat di bank.
Memperhatikan kondisi perekonomian khususnya sektor keuangan dan perbankan yang
sudah sangat parah, pemerintah juga mulai ancang-ancang membentuk lembaga khusus
yang kemudian dinamakan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
Pada mulanya BPPN dibentuk melalui Keppres Nomor 27 tahun 1998, bertugas untuk
menjalankan fungsi penjaminan pemerintah di sektor perbankan. Kemudian mengingat
bahwa krisis perbankan sudah begitu sistemik sehingga membawa dampak pada sektor
ekonomi secara keseluruhan, maka tugas BPPN diperluas dengan dikeluarkannya
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1999.

Tabel 4
Kurs Rupiah, Tingkat Bunga, IHSG dan Kapitalisasi Pasar Saham
Juli 1997 - Juli 1998

TGL Rp./US $ SBI JIBOR IHSG Rp Juta $ Juta


01/07/97 2.432 10.5 13.07 731,619 262.943.921 108.118
31 2.599 11.5 17.18 721,270 268.126.623 101.724
01/08 2.609 11.5 17.43 721,772 264.563.671 101.404
29 3.035 30.0 52.52 493,962 181.681.448 59.862
01/09 2.955 30.0 43.75 485,969 178.741.458 60.488
30 3.275 21.0 23.48 546,686 203.695.786 62.197
01/10 3.355 21.0 23.95 536,986 200.083.532 59.637
31 3.670 20.0 20.60 500,418 188.287.756 51.305
03/11 3.380 20.0 20.88 501,714 189.023.990 55.924
27 3.648 20.0 21.85 401,708 154.828.346 42.442
01/12 3.688 20.0 21.73 398,616 153.639.805 41.659
30 5.097 20.0 28.52 401,712 159.929.860 31.377
02/01/98 5.650 20.0 28.71 401,011 165.219.187 29.242
29 10.375 22.0 36.55 485,938 199.858.801 19.263
02/02 9.550 22.0 36.23 554,107 227.895.935 23.863
27 8.800 22.0 37.69 482,378 198.400.571 22.546
02/03 8.750 22.0 37.32 496,729 204.303.385 23.349
30 8.325 45.0 47.00 541,425 223.309.108 26.824
01/04 8.325 45.0 46.32 523,948 216.100.908 25.958
30 7.970 50.0 49.41 460,135 191.852.259 24.072
01/05 7.925 50.0 49.36 448,525 187.011.423 23.598
29 10.637 58.0 60.05 420,465 175.319.177 16.482
01/06 11.150 58.0 60.00 414,680 172.657.689 15.485
30 14.900 58.0 55.14 445,920 188.146.371 12.627
01/07 14.000 n.a n.a 456,541 192.627.528 13.759
31 13.000 n.a n.a 481,717 203.331.671 15.641
Sumber: BI, Business News & Bloomberg, Bursa Efek Jakarta - data diolah
IHSG = Indeks Harga Saham Gabungan

Sampai saat ini perekonomian Indonesia masih belum dapat dikatakan pulih meskipun
di sana-sini sudah terlihat indikator yang mengarah pada “perbaikan” di antaranya
adalah IHSG yang mencapai level 1004,43 yang berarti mencatat kenaikan 44,93%
tahun 2004. Tingkat bunga SBI meskipun hari-hari terakhir ini mulai merangkak naik
lagi, sudah mengalami penurunan sehingga per Juni 2001 tercatat sebesar sekitar
9%-12%. Demikian pula tingkat suku bunga bank, meskipun kredit masih seret sudah
mulai moderat sekitar 15%-20% per tahun. Namun hal ini belum menandai adanya
pemulihan perekonomian seperti yang diharapkan.
Secara makro diprakirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2004 mencapai 4,9% dan
taun 2005 sebesar 5,5%, namun pertumbuhan tersebut diukur dari level sebelum
krisis dan belum sustainable. Surplus Neraca Perdagangan memang ada karena
didorong oleh pertumbuhan Ekspor dan melemahnya Impor namun tampaknya hal ini
banyak dipengaruhi oleh faktor ekstern seperti harga BBM yang tinggi di pasaran
dunia serta kondisi ekonomi negara maju seperti AS dan Jepang yang sedang memanas.
Keadaan seperti ini jelas tidak mungkin berlangsung terus menerus atau dengan kata
lain faktor tersebut bersifat tentative / sementara saja.
Dari sisi inflasi, beberapa pengamat mengatakan untuk sementara ini inflasi masih
dapat ditekan karena pertama, jumlah uang inti (base money) dan uang beredar (M2)
dikontrol dengan ketat dan kedua, masih rendahnya daya beli konsumen. Namun
kekhawatiran terhadap inflasi ini pada tahun 2005 tampaknya kembali terasa karena
pemerintah berencana kembali menaikkan harga BBM sebesar 30%-40 % sebelum April
2005, kenaikan tarif listrik, tarif telepon, rencana kenaikan harga dasar gabah,
cukai rokok, kenaikan tarif transportasi, bahan makanan dan lain lain. Selain itu
mulai diberlakukannya otonomi daerah tahun 2001 juga tampaknya dapat menjadi
pagkal yang memacu laju inflasi terutama jika daerah berlomba-lomba meningkatkan
pungutan, retribusi dan pajak daerah dalam upaya eningkatkan PAD.

Kondisi Sektor Finansial


Kondisi sektor finansial banyak memberikan pengaruh kepada sektor-sektor lainnya.
Tabel 5 menunjukkan sebagian dari indikator finansial tersebut khususnya
perbankan.
Pada saat itu kondisi suku bunga perbankan masih dalam keadaan volatile. Jika hal
ini terus berlanjut, maka dikhawatirkan akan menganggu performance para bank
pendana tersebut. Hal ini sebagian terlihat dari kinerja beberapa bank
rekapitalisasi, yakni BII, Lippo, Bank Universal, Bank Patriot, Bank Arthamedia,
Bank Prima Express, Bank Bukopin, Bank Niaga, Bank Bali, Bank danamon dan Bank
Central Asia (BCA). Pada saat awal dilakukan rekapitalisasi pada tahun 1999, CAR
bank-bank tersebut sedikitnya menjadi 4 %. Pada saat ini umumnya CAR bank-bank
tersebut mencapai angka diatas 8 %, namun ada beberapa bank yang CARnya dibawah 8
% padahal sasaran rekapitaliasi sedikitnya ada dua sisi yaitu CAR sebesar 8 %
serta NPL (Non Performing Loan) kurang dari 5 % di akhir 2001.
Beberapa faktor menyebabkan turunnya CAR beberapa bank tersebut antara lain:

• Naiknya suku bunga simpanan


• Provisi (penjaminan) asset Bank
• Penyaluran kredit cukup aktif (karena costnya lebih sensitif daripada
incomenya)

Pada saat ini sisi aktiva neraca semua bank peserta rekapitalisasi didominasi
(sekitar 2/3) oleh obligasi pemerintah dengan tingkat bunga tetap (fixed rate)
sebesar 12,5% yang merupakan sebagian (besar) income bank. Padahal saat itu
tingkat bunga mulai merambah naik seperti ditunjukkan oleh terus merangkaknya
bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yakni tercatat pada April 2000 sebesr 10,8%
maka Desember 2000 menjadi 14,5 % dan per bulan Juni 2001 mencapai 16,3%. Hal ini
terasa aneh padahal bank sentral terkemuka di dunia seperti The Fed (bank sentral
AS), Bank of England (Inggris), Bundes Bank (Jerman) sama sama menurunkan tingkat
suku bunganya.
Jika tingkat bunga simpanan mencapai lebih dari 12,5% maka dipastikan akan terjadi
pendarahan (bleeding) pada bank-bank tersebut karena menderita negative spread.
Jika hal ini tidak segera ditanggulangi bukan tidak mungkin akan terjadi krisis
perbankan babak ke dua. Karena obligasi tersebut adalah milik pemerintah, maka
berarti beban bunga obligasi adalah beban negara yang dalam hal ini dapat ditutupi
dengan, salah satunya, penjualan aset BPPN. Jika linkage ini terputus salah satu
saja dapat mengakibatkan perlambatan pemulihan ekonomi karena bank jelas tidak
akan mampu menyalurkan kreditnya kepada sektor riel untuk mendorong bergulirnya
roda perekonomian.
Di sisi lain dengan NPL yang pada saat ini mencapai sekitar 20%-30% akan lebih
memperparah keadaan. Sebagai indikasi bahwa pada kuartal ketiga 2000 NPL dari
bank-bank rekapitalisasi mencapai 34%. Padahal dengan NPL sebesar 15% saja bank
harus mencadangkan provisi sebesar 7,5% yang berarti pasti akan menggerogoti modal
bank tersebut.

Tabel 5
STRUKTUR NERACA PERBANKAN NASIONAL
Desember 2000

Kategori Bank Aset (TA) Total Obligasi LDR NPL (3-5)/ TPL Surat Ber-
CAR
(milyar Rp) Pinjaman Pemerintah (%) Gross Loan (milyar Rp) harga i/c
SBI (%)
(milyar Rp) (milyar Rp) (%) (milyar Rp)
A. Bank Rekap & BTO
Bank BCA 96,585,682 5,994,990 59,611,090 6.8 5.5 87,764,974 20,294,251
45.9
Bank Danamon 60,542,699 5,686,024 47,537,968 19.7 19.1 28,833,704
1,842,993 41.3
Bank BII 35,571,059 17,100,722 8,714,000 60.8 24.1 28,119,174 7,734,813
6.8
Bank Lippo 21,831,400 4,271,714 6,031,477 23.5 36.1 18,173,421 6,355,958
19.7
Bank Bali* 5,414,984 1,195,677 - 15.3 49.5 7,799,475 2,030,648 -240.9
Bank Niaga 17,382,044 5,480,880 9,400,000 40.3 61.2 13,597,256 1,788,154
18.0
Bank Universal 11,320,347 5,367,508 4,244,174 53.6 21.0 10,009,162
162,616 4.8
Bank Bulopin 8,222,971 5,455,608 370,409 82.1 2.4 6,644,506
1,764,053 16.2
B. Bank Swasta Lainnya
Bank Panin 15,147,730 4,405,896 - 45.7 41.7 9,634,359 9,696,715 54.4
Bank NISP 4,748,185 2,586,520 - 74.1 5.9 3,490,870 1,519,300 10.9
Bank Buana 10,416,589 1,556,457 - 16.6 4.5 9,396,234 7,936,696 38.1
Bank Mega 5,792,252 1,960,919 - 42.2 0.9 4,643,440 3,286,248 21.2
C. Bank Pemerintah
Bank Mandiri 232,035,886 41,901,569 181,188,534 27.1 50.7 154,646,854
7,893,063 25.8
Bank BNI 113,067,957 30,296,339 61,812,375 37.4 39.3 81,009,011 14,307,271
13.1
Bank BRI** 53,472,309 25,249,583 20,404,300 51.7 15.2 48,836,732 3,769,619
-25.6
TOTAL 691,552,094 158,510,406 399,314,327 39.8 25.1 512,599,172 90,382,398 -

LDR = Loan to Deposit ratio (perbandingan antara pinjaman dan dana pihak ketiga)
NPL = Non Performing Loan (Kredit Kurang Lancar)
TPL = Total Performing Loan (Total kredit lancar)
* CAR Bank Bali per 31 Oktober 25,47% dg obligasi rekapitalisasi sebesar Rp. 5,314
trilyun
** CAR BRI per 31 Oktober 4,00%, Total obligasi rekapitalisasi Rp. 29,149 trilyun

Catatan: 15 bank tersebut diatas menguasai sekitar 75 % dana masyarakat

Sumber: Berdasarkan Neraca Publikasi per 30 September 2000


Sumber: Stephen J Satyahadi, Harian Kompas 10 Januari 2001

Jika pada neraca bank terdapat dana masyarakat sebesar Rp. 100, maka pada sisi
lainnya bank hanya memiliki kredit, yang merupakan sumber utama pendapatan bank,
sebesar Rp. 31. Bank harus membayarkan biaya bunga atas Rp. 100, dan menerima
pendapatan bunga atas Rp. 21 (kredit sebesar Rp. 31 dikurangi pinjaman bermasalah
yang tidak memberikan pendapatan bunga bagi bank, yakni sebesar 32 % x Rp. 31).

Dengan struktur neraca seperti itu, perbankan nasional sangat rentan terhadap
kenaikan suku bunga, karena setiap kenaikan suku bunga 1 persen, maka jumlah biaya
bunga yang harus dibayarkan bank kepada deposan akan naik sebesar 1 persen kali
Rp. 100. Untuk menutupi kenaikan biaya bunga, bank harus menaikkan suku bunga
kredit sebesar 5 persen (21:100).

Selain kendala-kendala tersebut di atas, Indonesia masih dihadapkan pada berbagai


agenda ekonomi - politik yang membingungkan dan dalam hal tertentu mampu memicu
konflik di tingkat horisontal. Di antara agenda tersebut, yang akan memberikan
dampak yang besar pada kondisi perekonian di masa medatang adalah:
• Revisi APBN dalam rangka menanggulangi defisit neraca pembayaran yang telah
mencapai lebih dari 3% dari Produk Domestik Bruto
• Restrukturisasi lanjutan sektor finansial dan perbankan ex: Bank Asiatic,
Bank Dagang Bali, Bank Global, dll.
• Merger beberapa bank pemerintah dan swasta
• Proses Pilkada secara langsung
• Kenaikan harga BBM 30-40% sebelum April 2005.
• Restrukturisasi dan Pembangunan kembali wilayah bekas bencana
• dan sebagainya.

2. Ketidakmerataan dan Pertumbuhan


Sebelum Indonesia terjerumus ke dalam krisis ekonomi pada tahun 1997, Indonesia
merupakan salah satu dari negara-negara di Asia yang dianggap mengalami keajaiban,
di mana pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada saat itu mencapai rata-rata sekitar
7% per tahun dan tetap dapat menekan ketidakmerataan penghasilan (Tabel 6). Namun
pencapaian tersebut menutupi kejanggalan yang terjadi dalam hal pemerataan, yaitu
antara konsentrasi asset dan pemerataan penghasilan. Pengukuran tradisional atas
ketidakmerataan menunjukkan bahwa penghasilan di Indonesia terdistribusi kurang
lebih merata dan stabil sejak tahun 1960an. Tetapi ukuran ketidakmerataan
penghasilan yang rendah bertolak belakang dengan ketidakmerataan asset. Pada
situasi normal, konsentrasi asset akan berdampak pada konsentrasi penghasilan.
Namun di Indonesia data menunjukkan konsentrasi asset yang tinggi dengan
ketidakmerataan penghasilan yang rendah. Paradoks ini membuat argumen keajaiban
Asia Timur tidak masuk akal.
Konsentrasi aset akan menyebabkan konsentrasi penghasilan, kecuali ada mekanisme
distributif melalui reinvestasi swasta maupun sistem perpajakan. Karena mekanisme
distributif hampir tidak ada di Indonesia, distribusii penghasilan akan
terkonsentrasi pada kelompok-kelompok tertentu. Namun kurangnya mekanisme
distributif ini tidak tercerminkan pada ukuran ketidkmerataan penghasilan.

Tabel 6
Prkembangan Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Sebelum Krisis
TAHUN INFLASI Ec.Growth

1991 9.52 6.91


1992 4.94 6.50
1993 9.77 6.50
1994 9.24 7.48
1995 8.64 8.27
1996 6.47 7.82
1997 11..... .....krisis
1998 20..... .....
Sumber: Diambil dari berbagai sumber, 2000

Keidakmerataan penghasilan di Indonesia diukur dengan menggunakan data pengeluaran


atau konsumsi keluarga dari Susenas. Tetapi yang mungkin tidak terdata dari survey
tersebut adalah diversifikasi pengeluaan yang berasal dari konsentrasi
penghasilan. Kelompok yang mendapatkan pertambahan penghasilan yang disebabkan
oleh konsentrasi asset akan memperdalam dan memperlebar pola konsumsi mereka.
Bukan saja mereka akan membeli barang mewah, tetapi mereka juga akan membeli
barang primer dengan kualitas yang lebih baik. Diversifikasi inilah yang tidak
ditangkap oleh suvey pengeluaran keluarga dan berkibat pada rendahnya tafsiran
akan polarisasi penghasilan di Indonesia.
Tingkat ketidakmerataan yang sebenarnya lebih tinggi akan mempertanyakan
pentingnya pertumbuhan ekonomi. Bagaimanakah pertumbuhan masa lalu terkerangka
sehingga hanya segelintir orang saja yang dapat menikmati pertumbuhan tersebut?.
Benarkah pertumbuhan ekonomi setinggi yang dipublikasikan?. Tingkat permulaan
pertumbuhan ekonomi yang rendah (kemiskinan, keadaan makroekonomi yang kacau pada
tahun 1960an), revolusi hijau, oil boom, dan akumulasi faktor produksi dari pada
perbaikan produktivitas, menyebabkan kerangka petumbuhan ekonomi Indonesia menjadi
tidak berkelanjutan (sustainable) di masa depan dan tidak merata di masa lampau.
Pada akhirnya, mengapa pemerataan dan pertumbuhan menjadi sangat penting? Pertama,
hal tersebut mempertanyakan kembali efektifitas pertumbuhan ekonomi dalam
mengurangi kemiskinan. Dalam situasi dimana ketidakmerataan mencapai tingkat yang
tinggi, pertumbuhan ekonomi akan menjadi kurang efektif dalam mengurangi
kemiskinan karena tambahan penghasilan yang disebabkan oleh pertumbuhan akan
terkonsentrasi pada beberapa kelompok yang mempunyai asset produktif. Kedua,
tingkat pertumbuhan yang lebih rendah dan tingkat ketidakmerataan yang lebih
tinggi menutupi perbedaan-perbedaan sosial yang disebabkan oleh kecemburuan
ekonomi dan yang dapat mengambil bentuk prasangka-prasanka etnis dan agama. Ketika
krisis ekonomi terjadi, perbedaan-perbedaan ini muncul ke permukaan dan
memperburuk keadaan ekonomi dan politik, serta meperlambat pemulihan ekonomi.
Di masa yang akan datang dampak kebijakan dari kedua hal tersebut adalah pada cara
pandang kita terhadap pertumbuhan dan ketidakmertaan dan hubungan mereka dengan
pengentasan kemiskinan dan perbedaan sosial. Bagaimana dan bukan berapa besar,
pertumbuhan ekonomi dapat dihasilkan dan didistribusikan akan mengambil peranan
penting dalam mengurangi kemiskinan dan menjaga keselarasan sosial. Pada akhirnya
hal ini berarti merumuskan kembali kebijakan dimana kualitas pertumbuhan ekonomi
akan lebih penting daripada tingkat perumbuhan itu sendiri. Pertumbuhan ekonomi
bukanlah tujuan utama tetapi hanya jalan untuk memperbaiki standar dan kualitas
hidup penduduk Indonesia.

3. Konsep Fundamental
Secara umum, pembangunan merupakan usaha untuk memperbaiki kualitas manusia.
Konsep dasar pembangunan bidang ekonomi disusun sesuai dengan diagram di halaman
berikut. Di sisi lain, Pembangunan bidang ekonomi adalah suatu proses dimana
pemerintah dan masyarakat mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk
suatu pola kemitraan antara pemerintah dengan sektor swasta dan masyarakat pada
umumnya untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan
kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) yang berkelanjutan (sustainable) dan
berwawasan lingkungan dengan mempertimbangkan dan mengikutsertakan potensi-potensi
yang dimiliki.

Gambar 1. Kerangka dasar pembanunan yang berkelanjutan

Oleh karena itu, masalah pokok dalam pembangunan ekonomi terletak pada penekanan
terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan yang
dimiliki (endogenous development) dengan meggunakan potensi sumber daya manusia
termasuk di dalamnya keragaman sosial, kelembagaan, dan sumber daya fisik..
Orientasi ini mengarahkan pada pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari
wilayah itu sendiri dalam proses pembangunan untuk membangun masyarakat secara
utuh, menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan
ekonomi dan sosial.
Pembagunan bidang ekonomi adalah suatu proses, yang mencakup pembentukan
institusi-institusi baru, penyiapan pranata sosial masyarakat yang berakar dari
budaya lokal, pembangunan industri-industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga
kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi
pasar-pasar baru, alih ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengembangan usaha-
usaha baru.
Setiap upaya pembangunan ekonomi semestinya mempunyai tujuan utama untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik lahir maupun batin, serta meningkatkan
jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat. Dalam upaya untuk mencapai tujuan
tersebut, pemerintah dan masyarakat harus secara bersama-sama mengambil inisiatif
pembangunan. Oleh karena itu pemerintah beserta partisipasi masyarakat dan dengan
menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang ada harus mampu menaksir potensi
sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian.
Hal ini terutama sangat penting pada saat ini dimana era otonomi daerah telah
bergulir menjadi kenyataan yang tidak dapat dihindari lagi.
Berkaitan dengan tujuan pembangunan ekonomi, pada hakekatnya, pembangunan adalah
serangkaian usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat lahir dan batin melalui peningkatan peranserta
masyarakat, peningkatan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja,
meratakan pembagian pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional,
mengusahakan pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan
tersier. Dengan perkataan lain arah pembangunan ekonomi adalah mengusahakan agar
pendapatan masyarakat naik secara mantap, dengan tingkat pemerataan yang sebaik
mungkin.
Dari berbagai dampak globalisasi perekonomian dunia dan liberalisasi perdagangan
seperti yang terjadi pada saat sekarang dan di masa yang akan datang dapat
diketahui implikasi ekonomi dan sosial budaya baik yang positif maupun negatif
yang ditimbulkannya. Oleh karena itu pemerintah Republik Indonesia perlu menyadari
perlunya disusun suatu pola pembangunan nasional yang terdiri dari visi dan
arahan-arahan kebijakan yang jelas mengenai sistem perekonomian maupun tatanan
sosial budaya nasional sehingga mampu mewujudkan suatu negara sejahtera. Pola
pembangunan nasional tersebut nantinya menjadi pedoman dasar bagi tata pembangunan
oleh pemerintah.

4. Pemikiran dan Penemuan Kembali Pemerintahan


Melihat praktik manajemen dan administrasi publik di Indonesia sampai dengan saat
ini masih belum dapat dikatakan baik. Pelayanan pubik seringkali dikritik sebagai
tidak memadai, ekonomi yang birokratis, kebocoran anggaran, membudayanya korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN) merupakan sebagaian bukti kacaunya manajemen keuangan
publik. Buruknya manajemen keuangan publik tersebut juga dialami oleh perusahaan-
perusahaan milik pemerintah (BUMN dan BUMD). Di sisi lain, sebenarnya Indonesia
memiliki kekayaan alam, sosial budaya, serta sumber daya manusia yang sangat
potensial, namun tidak dikelola dengan baik sehingga belum dapat menciptakan
kesejahteraan bagi masyarakat.
Pemerintah perlu berpikir ulang untuk menentukan konsep pembangunan yang
demokratis dan memberi ruang bagi partisipasi publik. Hal ini merupakan upaya
pemerintah untuk berpikir strategik, bervisi strategik, dan memiliiki manajemen
yang strategik. Hal ini sangat penting untuk dilakukan oleh pemerintah dalam
rangka menciptakan landasan pembangunan di masa sekarang dan yang akan datang.

5. Tata Pemerintahan yang Baik


Tata pemerintahan yang baik dapat diartikan sebagai cara mengelola urusan-urusan
publik, yakni cara bagaimana kekuasaan pemerintahan digunakan untuk mengelola
sumberdaya ekonomi dan sosial untuk membangun masyarakat atau penggunaan
kewenangan politis, ekonomis dan administratif untuk mengelola segala urusan
masyarakat di semua tingkatan. Hal ini mengimplikasikan pada terwujudnya suatu
penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggungjawab sejalan
dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana
investasi, dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administratif,
menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan kerangka legal dan politis bagi
tumbuhnya aktivitas usaha. Karakteristik dari tata pemerintahan yang baik
dikemukakan oleh UNDP, antara lain: adanya partisipasi / keterlibatan masyarakat,
aturan main / kerangka hukum yang adil, transparansi, orientasi konsensus /
kepentingan masyarakat, kesempatan yang sama, efisiensi dan efektifitas,
akuntabilitas, dan visi strategis.
Struktur pemerintahan yang baik menyatukan semua yang telah dilakukan untuk
mendorong pertumbuhan. Berfungsinya secara efektif birokrasi, kerangka kerja
regulatif, kebebasan sipil, dan institusi yang transparan dan bertanggungjawab
untuk mebnjamin tegaknya hukum dan partisipasi merupakan hal yang sangat penting
bagi pertumbuhan dan pembangunan. Penguasaan kebijakan publik, hukum, dan
sumberdaya oleh kepentingan elit seringkali memelencengkan insentif serta
pembelanjaan publik ke arah aset yang secara sosial kurang produktif dan dengan
manafikan manfaat yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakt, megurangi dampak
terhadap kesejahteraan. Masyarakat seharusnya di set up untuk dapat menikmati
hasil pembangunan dalam bentuk pendapatan yang lebih tinggi atau hasil sosial yang
lebih baik, dalam berpindah dari tataran hukum yang rendah atau tingkat korupsi
yang tinggi ke arah tataran yang lebih baik secara bertahap.
Suatu tatanan masyarakat madani adalah sangat penting untuk mendukung terwujudanya
tata pemerintahan yang baik, dimana kebebasan sipil tidak sekedar terkait secara
positif dengan fungsi pemerintahan yang baik, berkurangnya korupsi, dan
meningkatnya produktivitas investasi publik, melainkan secara langsung juga
memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan. Perhatian harus diberikan tidak
hanya kepada sisi pemerinthan dan persamaan hak, tetapi juga kepada penguatan hak-
hak sipil dan memberikan kesempatan lebih besar kepada berbagai kelompok,
mempromosikan usaha yang kompetitif, dan melengkapi reformasi kebijakan pemerintah
dari atas ke bawah dengan formulasi dari bawah ke atas dan mengimplementasikan
strategi pembangunan.

7. Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkaitan dengan perbaikan kualitas hidup masyarakat, memperluas
kemampuan mereka untuk membentuk masa depan mereka sendiri. Secara umum,
pembengunan menuntut pendapatan per kapita yang lebih tinggi, meskipun sebenarnya
sasaran pembangunan mencakup lebih banyak dari sekedar itu. Pembagunan mencakup
pendidikan dan kesempatan kerja yang lebih setara, kesetaraan jender yang lebih
besar, kesehatan dan nutrisi yang lebih baik, lingkungan alam yang lebih bersih
dan lestari, sistem hukum dan pengadilan yang lebih adil, kebebasan politik dan
sipil yang lebih luas, kehidupan sosio kultural yang lebih kaya. Dengan kata lain
pertumbuhan yang dihasilkan dari suatu proses pembangunan tidak dapat hanya
diartikan secara kuantitatif, namun lebih memperhatikan segi kualitatif yang
mencakup tingkat kesejahteraan misalnya kesamaan dalam memperoleh peluang,
keamanan, pemberdayaan, dan proteksi lingkungan, sumberdaya alam dan
keanekaragaman hayati.
Selama ini pertumbuhan ekonomi secara positif diasosiasikan sebagai pengurangan
kemiskinan, namun kenyataan di lapangan tidak selalu dapat diartikan demikian.
Pengurangan kemiskinan yang berhubungan dengan pertumbuhan sangat variatif,
seperti halnya yang terjadi pada kemajuan sosial dan perbaikan kesejahteraan, baik
dalam pendidikan, kesehatan, suara atau partisipasi. Di mana pertumbuhan
mengalami kemandekan atau penurunan, maka dimensi sosial dan kesejahteraan juga
mengalami penurunan. Oleh karena itu untuk mewujudkan dimensi sosial dan
kesejahteraan yang mengalami perbaikan secara berkelanjutan, maka selayaknyalah
diperhatikan bagaimana cara pertumbuhan itu dihasilkan karena kualitas proses
pertumbuhan, dan bukan kecepatannya semata-mata, terbukti mempengaruhi hasil
pembangunan.
Di samping kecepatan dalam pertumbuhan, kualitas pertumbuhan menunjuk pada aspek-
aspek kunci yang membentuk prose pertumbuhan itu sendiri seperti distribusi
peluang, kelestarian lingkungan, pengelolaan risiko makro, dan pemerintahan.
Aspek-aspek ini memberikan kontribusi langsung terhadap hasil-hasil pembangunan,
sekaligus menambah dampak yang diberikan pertumbuhan terhadap hasil-hasil
pembangunan, menangani konflik-konflik sebagai akibat pertumbuhan terhadap
lingkungan alam dan sosial. Jadi, kualitas pertumbuhan merupakan campuran dari
kjebijakan dan institusi yang mebentuk proses pertumbuhan.
Seperti diungkapkan pada gambar 1 di atas dan penjelasan-penjelasan sesudahnya,
konsepsi pembangunan yang berkelnjutan bisa ditandai dengan meningkatnya investasi
baik fisik maupun manusia, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, pembangunan
sosial yang setara, terjaganya sumberdaya alam, dan adanya perlindungan terhadap
lingkungan dalam jangka panjang.
Indikator dari kegiatan-kgiatan di atas adalah terwujudnya tingkat pertumbuhan
ekonomi yang memadai, tingkat kemakmuran (secara sosial dan ekonomis) yang lebih
terdistribusi secara baik, terkendalinya tingkat inflasi yang menggerogoti
pertumbuhan ekonomi, terwajudnya struktur perekonomian yang maju ditandai dengan
semakin terberdayanya masyarakat, bagusnya angka / indeks pembangunan manusia
(IPM), dan terwujudnya suatu tata pemerintahan yang baik yang bersih dari KKN.

8. Sasaran Pembangunan Ekonomi


Sebagaimana dikemukakan bahwa pembangunan ekonomi dan sosial budaya adalah suatu
proses dimana pemerintah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang
ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah dengan sektor swasta dan
masyarakat pada umumnya untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang
perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) yang berkelanjutan
(sustainable) dan berwawasan lingkungan dalam wilayah tersebut dengan
mempertimbangkan dan mengikutsertakan potensi-potensi sosial budaya yang dimiliki
.
Dari ulasan tersebut jelas bahwa sasaran utama pembangunan ekonomi dan sosial
budaya yang berkelanjutan terutama adalah untuk meningktnya taraf hidup masyarakat
dalam arti tingkat kesejahteraannya baik secara sosial maupun ekonomis. Meluasnya
lapangan kerja dan kesempatan memperoleh peluang yang sama diantara para anggota
masyarakat ditandai dengan semakin meratanya distribusi pendapatan yang tercermin
dari semakin menurunnya tingkat kemiskinan, meningkatnya hubungan ekonomi regional
yang saling membawa sinergisme dan keuntungan berbagai pihak dalam skala regional
yang membawa damapak angka pengganda yang positif sehingga mampu menciptakan dan /
atau mendorong terjadinya pergeseran positif struktur ekonomi dari yang
tradisional-primer ke arah yang lebih tinggi yakni sekunder dan tersier yang lebih
mengutamakan supremasi dan kehandalan pengelolaan oleh manusia tanpa mengabaikan
kelestarian lingkungan hidup dalam jangka panjang. Kesemua ini dilakukan dalam
rangka mewujudkan meningkatnya kesejahteraan sosial yang bisa dirasakan oleh
masyarakat dari segala lapisan.
Oleh karena itu sasaran pertumbuhan yang akan dicapai didasarkan atas pandangan
sisi kuantitatif maupun kualitatif proses pertumbuhan itu sendiri secara serentak
dengan mempertimbangkan tiga prinsip kunci, yakni:
• Berfokus pada keseluruhan aset yang dimiliki, yang meliputi aset fisik,
manusia, dan alam termasuk kemajuan teknologis yang menyertai dan / atau
mempengaruhi penggunaannya. Aset-aset manusia (sosial budaya) dan alam sangat
penting bagi golongan menengah ke bawah, dan akumulasi aset-aset tersebut,
kemajuan teknologis terhadapnya, serta produktivitasnya, bersama-sama dengan aset
fisik, menentukan dampak jangka panjang terhadap kemiskinan dan karena itu tingkat
kesejahteraan masyarakat.
• Menyelesaikan aspek-aspek distributif sepanjang waktu, dalam arti bahwa
suatu distribusi yang lebih setara dalam hal modal manusia, lahan dan aset
produktif lainnya mengimplikasikan suatu distribusi peluang memperoleh pendapatan
yang lebih merata, memperbesar kapasitas masyarakat untuk memanfaatkan teknologi,
dan meningkatkan pendapatan.
• Menekankan kerangka kerja kelembagaan bagi pemerintahan yang baik, karena
struktur kelembagaan yang baik akan dapat menyatukan semua yang telah dilakukan
untuk mendorong adanya pertumbuhan yang lebih berkualitas. Berfungsinya secara
efektif birokrasi, kerangka kerja regulatif, kebebasan sipil, dan institusi yang
trasparan dan bertanggungjawab untuk menjamin tegaknya hukum dan partisipasi
merupakan hal yang sangat penting bagi pertumuhan dan pembangunan
Kesemua langkah-langkah tersebut dapat terlaksana jika dimulai dengan adanya
political will Yang baik dan kuat yang memulai dengan penemuan jati diri lembaga
keperintahan maupun legislatif. Inisiatif harus dimulai dari itu sendiri, dengan
menyusun dan menetapkan kebijakan yang efektif dan membangun serta dan membina
kemitraan swasta & publik untuk menyertakan dengan semaksimal mungkin partisipasi
masyarakat dan menyiasati tekanan-tekanan anggaran di era otonomi.

Daftar Referensi
Arsyad, L. (1999). Ekonomi Daerah. Edisi Pertama. BPFE. Yogjakarta.
Naisbitt, J. (1995). Megatrends Asia, The Eight Asian Megatrends that are Changing
the World. First Publishing. Nicholas Brealy Publishing Ltd. London.
Habir, A.D.; Sudjana, B.G. (2003). Keajaiban yang Tak Pernah Terjadi: Menjajagi
Kembali Ketidakmerataan dan Pertumbuhan di Indonesia. Makalah Kongres ISEI XV.
Tidak Dipublikaskan. Malang.
Opposunggu, HMT. (1998). Sumber Krisis Moneter Indonesia. Cetakan Kedua.
Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta.
Sjahrir. (1999). Krisis Ekonomi Menuju Reformasi Total. Edisi Kedua. Yayasan Obor
Indonesia. Jakarta.
World Bank. (2002). The Quality of Growth. Universitas Indonesia. Jakarta.
Prayogi, S. (2000). Laporan Penelitian Manajemen. Tidak dipublikasikan. Malang.