Anda di halaman 1dari 1

Johnes Disease

Paratuberkulosis atau Johnes disease merupakan penyakit radang granulomatosa kronis saluran pecernaan pada ruminansia (sapi, kerbau, domba dan kambing), disebabkan oleh Mycobacterium avium subspecies paratuberculosis (MAP). M. paratuberculosis termasuk patogen obligat dalam keluarga Mycobacteriaceae dan selanjutnya dikelompokkan dalam kelompok Mycobacterium avium complex. M. paratuberculosis merupakan bakteri gram positif, berbentuk batang dengan ukuran 0,2 - 0,7 x 1,0 - 2,0 m, non motil, merupakan bakteri tahan asam, suhu optimal perumbuhannya 39oC, waktu tumbuhnya 4 - 24 minggu dan mampu tumbuh pada konsentrasi garam kurang dari 5% pada pH 5,5. MAP dapat hidup dalam tanah dan air selama lebih dari satu tahun, dalam keadaan dingin atau kering. Tempat infeksi dari bakteri M. partuberculosis adalah usus (ileum-sekum), sehingga hewan yang terinfeksi akan mengeluarkan bakteri ini melalui feses. Susu dari induk terinfeksi merupakan sumber infeksi kedua. Gejala klinik pada stadium akhir berupa diare kronik, penurunan produksi susu, anemia, oedema dan kehilangan berat badan. Gejala tersebut baru muncul setelah sapi berumur dua sampai 10 tahun, meskipun infeksinya terjadi sejak anak sapi dilahirkan (nepnatal). Penularannya pada anak sapi umumnya melalui kotoran (feses) hewan sakit yang mengandung bakteri yang menempel pada puting susu induk atau melalui pakan yang terkontaminasi feses yang mengandung MAP. Bakteri diekskresikan lewat kolostrum dan susu, sehingga dapat menginfeksi anak sapi sejak periode neonatal. Beberapa peneliti melaporkan bahwa, lebih dari 90% hewan yang terinfeksi oleh MAP menampakkan diri sepertinya sehat, namun berpotensi menyebarkan MAP melalui fesesnya. Gejala klinik biasanya terjadi segera setelah hewan melahirkan anak pertama atau kedua. Anak sapi atau sapi muda lebih peka terhadap infeksi MAP dibanding dengan sapi dewasa Diagnosis dapat dilakukan dengan identifikasi agen, uji serologis, dan test of cellmediated immunity. Identifikasi agen dapat dilakukan dengan melakukan nekropsi, pemeriksaan mikroskopik, biakan bakteri, dan pelacakan DNA. Deteksi terhadap MAP berdasarkan uji serologis dilakukan dengan complement fixation test (CFT), enzyme linked immunosorrbent assay (ELISA), agar gel immunodiffusion (AGID). Reaksi tanggap kebal humoral mulai dapat terdeteksi pada fase pre-klinis tanpa disertai pengeluaran bakteri di dalam fesesnya. Uji ELISA berkaitan erat dengan fase perkembangan penyakit pada inang. Pada fase preklinis infeksi MAP, sensitivitas ELISA masih sangat rendah dan akan meningkat pada fase klinis seiring reaksi tanggap kebal inang. Diagnosis MAP berdasarkan uji cellmediated immunity dilakukan dengan gamma interferon assay dan delayed-typed hipersensitivity test. Identifikasi genotipik merupakan satu metode yang sangat membantu mengenali MAP dengan cepat. Penggunaan polymerase chain reaction (PCR) sebagai salah satu metode identifikasi genotipik sangat membantu dalam penelitian tentang MAP.