Anda di halaman 1dari 10

STEP 1 1.

Trismus Trismus adalah gangguan pembukaan mulut yang disebabkan adanya konstraksi otot-otot pengunyahan dan bersifat sementara. Trismus adalah suatu gejala, dimana terjadi kekakuan sendi yang menyebabkan gangguan membuka mulut yang tidak permanen. Angkilosis adalah kekakuan sendi yang menyebabkan gangguan membuka mulut secara permanen. Fluktuasi adalah ketidaktetapan atau guncangan, sebagai contoh terhadap harga barang dan sebagainya, atas segala hal yang bisa dilihat di dalam sebuah grafik. Limfonodi atau nodul limfa adalah nama lain untuk kelenjar getah bening, organ tubuh organ yang menyaring semua bakteri, virus, dan jaringan mati lainnya dari cairan limfatik dan menghapusnya dari tubuh. Antalgin adalah salah satu obat penghilang rasa sakit (analgetik) turunan NSAID, atau Non-Steroidal Anti Inflammatory Drugs. Umumnya, obat-obatan analgetik adalah golongan obat antiinflamasi (antipembengkakan), dan beberapa jenis obat golongan ini memiliki pula sifat antipiretik (penurun panas), sehingga dikategorikan sebagai analgetik-antipiretik. Impaksi gigi adalah kegagalan gigi untuk erupsi secara sempurna pada posisinya akibat terhalang oleh gigi pada anteriornya maupun jaringan lunak atau padat di sekitarnya. (Peterson, 2003). Discharge adalah substansi yang dikeluarkan oleh tubuh, dapat merupakan suatu proses normal (fisiologis), dapat pula karena penyakit(patologis). Posisi mesioangular merupakan posisi yang paling sering didapatkan pada kasus impaksi gigi. Pada posisi ini, gigi molar ketiga berinklinasi ke arah mesial sehingga mendorong gigi molar kedua bawah. Partial erupted Gigi geraham bongsu tercondong menghadap ke belakang. Arahnya bertentangan dengan terimpak ke mesial. Selain daripada itu terdapat juga gigi geraham bongsu yang terimpak oleh tisu lembut iaitu gigi sudah melepasi tulang rahang tetapi sebahagian permukaannya ditutupi gusi, dan ada yang terimpak oleh tulang rahang di mana gigi masih terkandung di dalam tulang rahang.

2. 3.

4.

5.

6.

7.

8.

Parameter Trismus Trismus dapat disebabkan oleh edema pasca bedah. Hal ini didukung pendapat Osmani (2001), edema sekitar bekas pembedahan molar ketiga akan meyebabkan perubahan jaringan sekitarnya dan muskulus pengunyahan mengalami kontraksi sehingga akan menimbulkan trismus. Menurut Vriezen, trismus terjadi bukan karena meningkatnya volume dari muskulus karena edema dan infiltrate tetapi lebih disebabkan karena reaksi atas rasa sakit yang disebabkan oleh gerakan rahang (Dwipayani et al., 2009).

Gambar 1. Pengukuran trismus dengan tongue blade (Fragiskos, 2007) Pengukuran trismus menggunakan metode Maximum Interincisal Opening Distance (MID) (Gambar 1) yaitu mngukur jarak antara insisal gigi insisif RA dan gigi insisif RB. Menurut Osmani (2001), parameter derajat trismus adalah sebagai berikut

Penyebab dari pada Trismus 1. Intra artikuler Angkilosis Atritis sinotritis Kelainan patologis pada diskus Ekstra artikuler 2.1 Infeksi odontogenik - Pulpa - Periodental - Perikoronal 2.2 Infeksi non odontogenik : - Peritonsiler - Abses parotis - Meningitis - Infeksi di Cordatimpani - Tetanus 2.3 Trauma : - Fraktur Mandibular (condyle) - Fraktur Zigoma - Adanya benda asing 2.4 Faktor Iatrogenik : Post ekstraksi Akibat-akibat terjadinya Trismus : 1. Gangguan pengunyahan 2. Gangguan nutrisi 3. Gangguan fungsi bicara Disease

- Lokal anestesi - Temporo Mandibular - Trauma - Miofasialmuscle spasmus - Internal Disarangement 2.5 Tumor : - Tumor pada ephiparingeal - Tumor parotis - Tumor pada TMJ 2.6 Obat - obatan : - Succinyl chocholin - Anti depresan 2.7 Radio Terapi : - Post Radiasi Vibrosis - Osteo radio nekrosis 2.8 Konginital Hypertropy Prosesus coronoideus 2.9 Psikis Hysteria

4. Masalah kebersihan mulut 5. Menurunya kesehatan umum 6. Esthetika

Pemeriksaan : Bila penderita dengan bukaan mulut kurang dari 20 mm sudah dapat dikatagorikan sebagai Trismus Cara sederhana untuk mengetahui bahwa penderita dengan bukaan mulut normal ialah apabila penderita dapat memasukkan 3 jari secara vertikal kedalam mulut diantara gigi-gigi incicivusnya. Tanda tanda Trismus Secara umum ialah : Sulit membuka mulut Rasa terbakar Sakit pada gigi Rasa sakit Sakit pada daerah telinga Serostomia Sakit pada gerakan membuka mulut Rasa sakit yang timbul yang disebabkan oleh Trismus karena terjadinya konstraksi otot-otot Temporalis, Masseter dan Pterygoid medial dan lateral dimana akan memicu saraf trigeminal.

Kista Rongga Mulut 1. Definisi Kista adalah rongga patologik yang dapat berisi cairan, semisolid/semifluid, atau gas yang bukan berasal dari akumulasi pus maupun darah. Kista dapat terjadi dianatara tulang atau jaringan lunak. Dapat asymptomatic atau dapat dihubungkan dengan nyeri dan pembengkakan. Pada umumnya kista berjalan lambat dengan lesi yang meluas. Mayoritas kista berukuran kecil dan tidak menyebabkan pembengkakan di permukaan jaringan. Apabila tidak ada infeksi, maka secara klinis pembesarannya minimal dan berbatas jelas. Pembesaran kista dapat menyebabkan asimetri wajah, pergeseran gigi yang terlibat, hilangnya gigi yang berhubungan atau gigi tetangga. Dilihat dari gambaran radiograf, terlihat radiolusen yang dikelilingi lapisan radiopak tipis, dapat berbentuk unilokular atau multilokular. 2. Klasifikasi a. Odontogenik Kista odontogenik adalah kista yang berasal dari sisa-sisa epitelium pembentuk gigi (epitelium odontogenik). Seperti kista lainnya, kista odontogenik dapat mengandung cairan, gas atau material semisolid. Kista odontogenik disubklasifikasikan menjadi kista yang berasal dari developmental atau inflammatory. Kista developmental yakni kista yang tidak diketahui penyebabnya, namun tidak terlihat sebagai hasil reaksi inflamasi. Sedangkan kista inflammatory merupakan kista yang terjadi karena inflamasi. A. Epitelial (mempunyai epitelium) 1. Perkembangan A. Odontogenik Kista gingival pada bayi Keratosisi odontogenik (kista primordial)

Kista dentigerus (folikular) Kista erupsi Kista periodontal laten Kista gingival pada orang dewasa Kista odontogenik Botryoid Kista odontogenik glandular (sialo-odontogenik; mukoepidermoid odontogenik) Kista odontogenik berkalsifikasi

B. Non-odontogenik Kista duktus nasoplatina (kanalis insisivus) Kista nasolabial Kista raphe midpalatal pada bayi

Kista median palatinal, median alveolar, dan median mandibular Kista globulomaksilari

2. Peradangan Kista radikular, apikal dan lateral Kista residual


Kista paradental dan kista mandibular yang terfinfeksi sampai ke bukal Kista kolateral inflamatori

B. Non-epitelial Kista tulang soliter (kista traumatik, simpel, kista hemoragik tulang) Kista tulang aneurismal II. Kista yang berhubungan dengan antrum maksila Kista mukosa jinak pada antrum maksila Kista pada maksila pascaoperatif (kista bersilia setelah pembedahan pada maksila) III. Kista jaringan lunak, mulut, wajah, dan leher Kista dermoid dan epidermoid Kista limfo-epitelial (celah brankial)

Kista duktus triglossus Kista lingual median anterior (kista intralingual yang berasal dari usus bagian depan) Kista oral dengan epitelium gastrik atau intestinal (kista saluran pencernaan oral)

Kista higroma Kista nasofaringeal Kista timus Kista pada kelenjar saliva: kista mukus ekstravasasi; kista retensi mukus; ranula; penyakit polikistik (disgenetik) pada parotis Kista parasitik; kista hidatid; Cysticerus cellulosae; trikinosis

3. Patogenesis Kista a. Inisiasi kista Inisiasi kista mengakibatkan proliferasi batas epithelia dan pembentukan suatu kavitas kecil. Inisiasi pembentukan kista umumnya berasal dari epithelium odontogenic. Bagaimanapun rangsangan yang mengawali proses ini tidak diketahui. Faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan suatu kista adalah proliferasi epithelia, akumulasi cairan dalam kavitas kista dan resorpsi tulang. b. Pembesaran kista Proses ini umumnya sama pada setiap jenis kista yang memiliki batas epithelium. Tahap pembesaran kista meliputi peningkatan volume kandungan kista, peningkatan area permukaan kantung kista, pergeseran jaringan lunak disekitar kista dan resorpsi tulang. 1) Peningkatan volume kandungan kista Infeksi pada pulpa non-vital merangsang sisa sel malasez pada membran periodontal periapikal untuk berproliferasi dan membentuk suatu jalur menutup melengkung pada tepi granuloma periapikal, yang pada akhirnya membentuk suatu lapisan yang menutupi foramen apikal dan diisi oleh jaringan granulasi dan sel infiltrasi melebur. Sel-sel berproliferasi dalam lapisan dari permukaan vaskular jaringan penghubung sehingga membentuk suatu kapsul kista. Setiap sel menyebar dari membran dasar dengan percabangan lapisan basal sehingga kista dapat membesar di dalam lingkungan tulang yang padat dengan

mengeluarkan faktor-faktor untuk meresorpsi tulang dari kapsul yang menstimulasi pembentukan osteoclast. 2) Proliferasi epitel Pembentukan dinding dalam membentuk proliferasi epitel adalah salah satu dari proses penting peningkatan permukaan area kapsul dengan akumulasi kandungan seluler. Pola mulrisentrik pertumbuhan kista membawa proliferasi sel-sel epitel sebagai keratosis mengakibatkan ekspansi kista. Aktifitas kolagenase meningkatkan kolagenalisis. Pertumbuhan tidak mengurangi batas epitel akibat meningkatnya mitosis. Adanya infeksi merangsang sel-sel seperti sisa sel malasez untuk berploriferasi dan membentuk jalur penutup. Jumlah lapisan epitel ditentukan oleh periode viabilitas tiap sel dan tingkat maturasi serta deskuamasinya. 3) Resorpsi tulang Seperti percabangan sel-sel epitel, kista mampu untuk membesar di dalam kavitas tulang yang padat dengan mengeluarkan fakor resorpsi tulang dari kapsul yang merangsang fungsi osteoklas (PGE2). Perbedaan ukuran kista dihasilkan dari kuantitas pengeluaran prostaglandin dan faktor-faktor lain yang meresorpsi tulang. 4. Gambaran Secara Umum Menurut Cawson (2002) kista dentigerous merupakan kista kedua yang paling banyak terjadi setelah kista radikular, yakni dengan jumlah 15-18%. Pada tahun 2006, dengan jumlah kasus 695 ditemukan bahwa persentase kista odontogenik yang terdapat di Pitie-salpetriere University Hospital, Paris, Prancis yaitu : 1. Kista periodontal 53,5% 2. Kista dentigerous 22,3% 3. Keratosis odontogenik 19,1% 4. Residual cyst 4,6% 5. Kista lateral periodontal 0,3% 6. Kista glandular odontogenik 0,2%

Kista tumbuh secara ekspansi hidrolik dan dilihat dari gambar radiografik biasanya menunjukkan lapisan tipis radioopak yang mengelilingi radiolusensi. Adanya proses kortikasi yang terlihat secara radiografik adalah merupakan hasil untuk membentuk tulang baru dari lebih kemampuan tulang disekitarnya cepat dibandingkan proses

resorpsinya, hal inilah yang terjadi selama perluasan lesi.


PERBEDAAN ABSES DAN KISTA RONGGA MULUT

Radiologi :

Kista Abses Berbentuk membulat atau Bentuknya tidak oval unilokuler atau multilokuler berbatas jelas radiolusen Margin : terdapat peripheral cortication (radio-opaque margin) Asymtomatic (kecuali pada kista yang beradang/terinfeksi) Berkembang dalam waktu yang lama beraturan Tidak berbatas jelas Margin : tidak terdapat peripheral cortication (radio-opaque margin Terdapat symtom (terasa sakit) Berkembang dalam waktu yang singkat

Tanda klinis :

REFERENSI Aryati, R. 2006. Uji Kepekaan Mikroorganisme Yang Diisolasi Dari Abses Di Rongga Mulut Terhadap Antimikroba. Tidak Diterbitkan. Sumatra Utara : Universitas Sumatra Utara Canina, V. 2010. Kista Odontogenik. Tidak Diterbitkan. Aceh : Universitas Syah Kuala Cawson, R.A., Odel, E.W., Porter, J., 2002,Cawsons Essentials of Oral Pathology and Oral Medicine, 7th ed., Elsevier, Science, Limited, Edinburgh Cilmiaty, R. 2009. Infeksi Odontogen. WWW Dental World [serial on line] http://cilmiaty.blogspot.com/2009/04/infeksi-odontogen-by-risya-cilmiatyar.html [6 November 2012]

Daud ME., Karasutisna T. 2001. Infeksi odontogenik 1th ed. Bandung. Bagian Bedah Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Unpad. p.1-12 Fragiskos, F.D. 2007. Oral Surgery. Heidelberg : Springer. Lopez-Piriz, R., dkk.2007. Management of Odontogenic Infection of Pulpal and Periodontal Origin. Med Oral Patol Oral Cir Bucal 2007;12:E154-9. Pedersen, G.W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Alih Bahasa : Purwanti dan Basoeseno. Oral Surgery 1st ed. Jakarta : EGC.