Anda di halaman 1dari 10

POLARIMETER

Nama BP. Kelompok Anggota : AWILDA MIKE PERTIWI : 1120006 :6A : Dewi Rahmadani Eza Syahmi Putri Firlan Hendrew R. Julaini Leli Astuti

I.

TUJUAN a. b. Mempelajari prinsip kerja polarimeter Mengukur sudut putar jenis larutan gula (sukrosa) sebagai fungsi konsentrasi c. Menentukan konsentrasi dari larutan sampel gula (Cx)

II.

TEORI DASAR Polarimeter adalah instrument ilmiah yang digunakan untuk mengukur sudut

rotasi yang disebabkan oleh melewati cahaya terpolarisasi melalui optic aktif substansi. Beberapa zat kimia optic aktif, dan terpolarisasi (alias searah) cahaya akan memutar baik ke kiri (berlawanan arah jarum jam) atau ke kanan (searah jarum jam) ketika melawati zat ini. Jumlah dimana cahaya diputar dikenal sebagai sudut rotasi. Bila cahaya polikromatik dilewatkan pada prisma Nicol akan diperoleh suatu cahaya monokromatik dan cahaya ini disebut cahaya terpolarisasi. Suatu isomer optis aktif dapat berinteraksi dengan cahaya terpolarisasi dan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan suatu sudut yang dilambangkan dengan dan disebut rotasi optik. Alat yang digunakan untuk mengukur besaran adalah polarimeter. Isomer optis merupakan senyawa-senyawa dengan rumus molekul sama tetapi tatanan atom-atomnya dalam ruang berbeda. Isomer-isomer optis dapat mengalami reaksi yang sama, mempunyai sifat fisika yang mirip, perbedaan

isomer-isomer tersebut terletak pada interaksinya dengan bidang cahaya terpolarisasi. Bila cahaya terpolarisasi dilewatkan pada larutan isomer optis, maka isomer aktif ini akan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan arah tertentu. Isomer optis mengandung atom karbon asimetris (atom karbon yang mengikat empat atom/gugus yang berbeda) dalam strukturnya. Molekul dengan satu atom karbon asimetris merupakan molekul kiral (tidak simetris), molekul demikian dapat memutar bidang cahaya terpolarisasi. Molekul/senyawa tersebut dinamakan senyawa/isomer optis aktif. Molekul dengan dua atau lebih atom karbon asimetris, tidak selalu membentuk molekul kiral. Dengan demikian mungkin saja terdapat molekul yang mempunyai atom-atom
karbon asimetris tetapi tidak optis aktif. Contoh isomer dengan satu atom karbon asimetris adalah asam laktat.

OH H3C C* H
Atom C dengan tanda * adalah atom karbon asimetris, atom karbon tersebut mengikat empat atom/gugus yang berbeda (H, CH3, OH, dan COOH).

COOH

Skema dari alat polarimeter dapat dilihat pada gambar berikut.

Cahaya dari lampu sumber, terpolarisasi setelah melewati prisma Nicol pertama yang disebut polarisator. Cahaya terpolarisasi kemudian melewati senyawa optis aktif yang akan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan arah tertentu. Prisma Nicol ke dua yang disebut analisator akan membuat cahaya dapat melalui celah secara maksimum.

Cahaya monokromatik dihasilkan dengan menggunakan sodium lamp (lampu natrium) dimana gas natrium pijar akan menghasilkan lampu warna kuning. Cahaya monokromatik pada dasarnya mempunyai bidang getar yang banyak sekali. Bila dihayalkan maka bidang getar tersebut akan tegak lurus pada bidang datar. Bidang getar yang banyak ini secara mekanik dapat dipisahkan menjadi dua bidang getar yang saling tegak lurus.

Rotasi optis yang diamati/diukur dari suatu larutan bergantung kepada jumlah senyawa dalam tabung sampel, panjang jalan/larutan yang dilalui cahaya, temperatur pengukuran, dan panjang gelombang cahaya yang digunakan. Untuk mengukur rotasi optik, diperlukan suatu besaran yang disebut rotasi spesifik yang diartikan suatu rotasi optik yang terjadi bila cahaya terpolarisasi melewati larutan dengan konsentrasi 1 gram per mililiter sepanjang 1 desimeter. Rotasi spesifik dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:

[]t =
Ket : a = sudut putaran optik (yang teramati) c = konsentrasi larutan gram/mL larutan l = panjang jalan/larutan yang dilalui cahaya dalam desimeter =panjang gelombang cahaya (bila menggunakan lampu natrium dilambangkan dengan D) t = temperatur (oC).

Rotasi optik yang termati dapat berupa rotasi yang searah jarum jam, rotasi ini disebut putar kanan dan diberi tanda (+), sedangkan senyawa yang diukurnya disebut senyawa dekstro (d). Rotasi yang berlawanan dengan arah jarum jam disebut putar kiri dan diberi tanda (-), senyawanya disebut senyawa levo (l). Beberapa hal yang harus diperhatikan pada penggunaan polarimeter, yaitu: Larutan sampel harus jernih atau tidak mengandung partikel yang tersuspensi di dalamnya. Partikel tersebut akan menghamburkan cahaya yang melewati larutan. Tidak terdapat gelembung udara pada tabung sampel saat diisi larutan.

Selalu dimulai dengan menentukan keadaan nol untuk mengkoreksi pembacaan. Pembacaan rotasi optik dilakukan beberapa kali, sampai didapat data yang dapat dihitung rata-ratanya. Polerimetri dapat digunakan untuk mengukur rotasi optik, konsentrasi sampel, dan juga untuk menghitung komposisi isomer optik dalam campuran rasemik.

Tabel rotasi spesifik beberapa senyawa optis aktif Senyawa Champor Sukrosa D-glukosa L-fruktosa Laktosa Maltose Asam tartarat Pelarut Alcohol Air Air Air Air Air Air Temperature oC 25 20 20 20 15 20 20 Rotasi Spesifik + 43,8o + 66,5o + 52,5o - 93,0o + 56,0o + 136,9o + 13,4o

III.

PROSEDUR KERJA

a.

Alat yang digunakan Polarimeter Buret schelbach 50 mL Gelas piala 250 mL Labu ukur 50 mL Standar dan klem Labu semprot Batang pengaduk

b. Bahan yang digunakan Larutan sukrosa 25%

Aquades Larutan sampel

c.

Gambar Alat

Gambar alat Polarimeter

d. Cara Kerja

1) Pembuatan Larutan Standar a. Diambil larutan induk sukrosa 25%, kemudian dimasukkan ke dalam buret schelbach 50 mL. b. Setelah itu dibuat larutan standar dengan konsentrasi 0, 2%, 4%, 8%, 12% dan 20% dengan mengencerkan larutan sukrosa 25% di dalam labu ukur 50 mL, setelah itu ditambahkan aquades dan dipaskan sampai tanda tera. Lalu dihomogenkan. c. Kemudian diukur sudut putaran optis larutan standar dengan menggunakan Polarimeter.

2) Pengukuran dengan Polarimeter a. Hubungkan alat dengan sumber arus listrik dan ON kan alat, tekan tombol pada bahagian belakang pada posisi DEG dan dibiarkan stabil. b. Buka tutup polarimeter, tempatkan pada posisi vertical, isi penuh dengan aquades, usahakan seminimal mungkin adanya udara yang terperangkap. Tempatkan posisi tabung pada bagian tengah alat polarimeter (jika ada gelembung kecil, tempetkan dia pada bagian yang

tabung yang besar) lalu tutup. Lakukan pengamatan pada jenis okuler, atur seperlunya agar pengamatan didapat cukup tajam. c. Jika pengamatan indicator menunjukkan Gelap-Terang, tekan tombol R dan TEMP secara bersamaan sampai zero set menyala, atau jika pengamatan indicator menunjukkan Terang-Gelap, tekan tombol L dan TEMP secara bersamaan sampai zero set menyala. Pengamatan pada bahagian indicator didapat (baur-baur) merata. Tekan tombol ZERO SET indicator alat akan menunjukkan 0.00 . d. Diukur larutan standar 0, 2%, 4%, 8%, 12% dan 20% yang telah dibuat tadi. Jika pengamatan indicator menunjukkan Gelap-Terang, maka tekan tombol R sampai didapat baur-baur (untuk zat yang dextro rotary) atau pengamatan indicator menunjukkan Terang-Gelap, maka tekan tombol L sampai didapat baur-baur (untuk zat yang leuvo rotary). e. Pada saat didapatkan baur-baur dicatat nilai sudut putaran optisnya. Pengamatan dilakukan dua kali, namun dari arah datang yang berbeda. Kedua nilai yang didapat dirata-ratakan. f. Setelah larutan standar diukur maka ganti dengan larutan sampel yang telah disediakan, lakukan hal yang sama dan dapatkan nilai putaran optisnya. g. Dibuat kurva kalibrasi standar, dan gunakan kurva ini untuk menentukan kadar Cx (sampel) ataupun dengan menentukan persamaan regresi linear pengukuran polarimetris.

IV.

HASIL DAN PERHITUNGAN

a) Pembuatan Larutan Standar Larutan induk sukrosa adalah 25% (V x C)pekat = (V x C)encer Untuk 2%

Untuk 4%

Untuk 8%

Untuk 12%

Untuk 20%

b) Pengukuran Deret Standar Rumus : a =


( ) ( )

2% a1 = 2, 45 dan a2 = 0,15
( ) ( )

4% a1 = 2,55 dan a2 = 2,55


( ) ( )

8% a1 = 7,35 dan a2 = 7,45


( ) ( )

12% a1 = 12,50 dan a2 = 12,55


( ) ( )

20% a1 = 22,55 dan a2 = 22,55


( ) ( )

Membuat Kurva Kalibrasi Standar :

Konsentrasi (%) 2 4 8 12 20

Sudut Perputaran 1.30 2.55 7.40 12.52 22.55

KURVA KALIBRASI STANDAR


25 20 15 10 5 0 2% -5 4% 8% 12% 20%

KURVA KALIBRASI STANDAR Linear (KURVA KALIBRASI STANDAR)

Keterangan : a = sudut perputaran C = konsentrasi

c) Pengukuran Larutan Sampel Untuk Cx : a1 = 14,00 dan a2 = 13,00


( ) ( )

Mencari persamaan linear : x 2 4 8 12 20 = 46 1.30 2.55 7.40 12.52 22.55 = 46.32 y 4 16 64 144 400 = 628 x2 2.6 10.20 59.2 150.24 451 = 673.24 x.y

X rata-rata = Y rata-rata =

) ( )

b=

b=

= 1.207

y = a + bx 9.264 = a + 1.207 (9.2) 9.264 = a + 11.10 a = 9.264 11.10 a = - 1.84

y = a + bx 13.50 = -1.84 + 1.207 (Cx) 1.207 Cx = 13.5 + 1.84 Cx = Cx = 12.71 %

V.

DISKUSI

Pada percobaan mengukur sudut putaran optis dari larutan sukrosa maka dapat diketahui nilai sudut putaran optis dari senyawa optis aktif ini adalah 13.50 besaran ini didapatkan dari pengukuran gelap-terang ke baur-baur (a1) dan dari terang-gelap ke baur-baur (a2). Dari percobaan yang dilakukan dan melihat kurva kalibrasi standar maka dapat diketahui bahwa konsentrasi dan jenis larutan akan mempengaruhi sudut putar. Semakin tinggi konsentrasi maka sudut putar dari senyawa optis aktif atau larutan sukrosa akan semakin tinggi pula, namun pengukuran yang didapatkan tidak begitu linear itu berarti bahwa pengukuran yang dilakukan kurang teliti. Dan konsentrasi larutan sampel yang didapatkan adalah 12.71%.

VI.

KESIMPULAN

Setelah dilakukan praktikum pemgukuran senyawa optis aktif yakni larutan sukrosa dengan metode polarimetri, maka didapatkan konsentrasi larutan sukrosa tersebut adalah 12.71%.

VII.

DAFTAR PUSTAKA

Khopkar, S.M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-PRESS Tim Dosen Kimia Analisis Instrumen. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Analisis Instrumen. Makassar: Laboratorium Kimia FMIPA UNM. Zemansky, Sears. 1994. Fisika untuk Universitas 3 Optika. Jakarta: Bina cipta.