Anda di halaman 1dari 7

1.

Berdasarkan SPM Seksi 100 [PSPM No. 01] Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik mensyaratkan setiap kantor akuntan publik (KAP), untuk memiliki sistem pengendalian mutu atas praktik akuntansi dan auditnya. Hal ini mengidentifikasi sembilan unsur pengendalian mutu dan menyatakan bahwa KAP harus mempertimbangkan setiap unsur tersebut. Sehubungan dengan itu, Seksi itu mengatur bahwa jenis dan lingkup kebijakan serta prosedur pengendalian mutu KAP tergantung pada beberapa faktor, seperti ukuran, tingkat otonomi operasional yang diberikan bagi personel dan kantor cabangnya, jenis praktiknya, organisasinya dan pertimbangan biaya dan manfaat yang semestinya. Dalam implementasinya, program ini dilandasi oleh kepercayaan bersama (mutual trust) dan kerjasama sehingga akan menimbulkan dampak positif dan menguntungkan. Di dalam PSPM No. 3 tujuan program review mutu TAT dicapai melalui kinerja review yang mencakup prosedur yang didesain sesuai dengan ukuran KAP dan jenis praktiknya. KAP yang melakukan audit atas laporan keuangan historis atau prospektif (audit atas laporan keuangan prospektif dimaksudkan sebagai pemeriksaan sesuai dengan standar profesional yang berlaku) memiliki on-site quality review, sedangkan KAP yang hanya menyediakan jasa kompilasi dan review mendapatkan off-site quality review atas laporan pilihan yang dihasilkan dari jasa tersebut, kecuali jika mereka memilih untuk mendapatkan on-site quality review. KAP yang tidak menyediakan jasa-jasa tersebut tidak perlu direview.

On-site quality review bertujuan kepentingan masyarakat umum dan kepentingan profesi di bidang akuntansi untuk mempertahankan mutu atau kualitas jasa-jasanya serta menyediakan dasar memadai bagi pelaksana review untuk menyatakan pendapat apakah selama tahun yang di-review dan tentu saja: a. Sistem pengendalian mutu untuk praktik akuntansi dan audit KAP yang di-review telah memenuhi tujuan standar pengendalian mutu yang ditetapkan oleh IAI (lihat SPM Seksi 100 (PSPM No. 01). b. Kebijakan dan prosedur pengendalian mutu KAP yang di-review telah dipatuhi, sehingga memberikan keyakinan memadai bagi KAP bahwa kebijakan dan prosedur tersebut telah sesuai dengan standar profesional. c. KAP yang di-review telah mematuhi persyaratan keanggotaan IAI (lihat paragraf 78 tentang deskripsi persyaratan keanggotaan). Selanjutnya, tujuan off-site quality review adalah menyediakan bagi pelaksana review dasar yang memadai untuk mengungkapkan keyakinan terbatas bahwa laporan keuangan dan laporan akuntan yang berkaitan dengan perikatan review dan kompilasi yang diajukan untuk di-review tidak menyimpang, dalam semua hal yang material, dari persyaratan yang ditetapkan dalam standar profesional. Tujuan ini berbeda dengan tujuan on-site quality review, karena off site quality review hanya dapat

dilakukan pada KAP yang melakukan perikatan review atau kompilasi tetapi tidak melakukan audit atas laporan keuangan historis atau prospektif. Pengujian yang dilakukan dalam hal ini adalah dengan sebuah studi dan evaluasi tentang kebijakan dan prosedur pengendalian mutu KAP yang di-review atas praktik akuntansi dan auditnya dalam hubungannya dengan materi panduan yang termuat dalam Kebijakan dan Prosedur Pengendalian Mutu untuk Kantor Akuntan Publik, Perumusan Kebijakan dan Prosedur Pengendalian Mutu (PSPM No. 021) dan program untuk pelaksana review yang diterbitkan oleh IAI. Pembatasan pengujian kepatuhan atas fungsi yang luas hanya yang berhubungan dengan unsur pengendalian mutu: independensi, konsultasi, supervisi, dan pengembangan profesional. Studi dan evaluasi ini, yang harus dinilai kembali secara berkelanjutan selama pelaksanaan review, membantu tim pe-review dalam menentukan apakah KAP yang di-review telah mengadopsi kebijakan dan prosedur yang didesain dengan semestinya, lengkap dan sesuai dengan ukuran dan jenis praktiknya.

2.

Selain konsep materialitas berdasarkan PSA 25 (SA Seksi 312), pengertian materialitas adalah besarnya informasi akuntansi yang apabila terjadi penghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, mungkin dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan orang yangmeletakkan kepercayaan atas informasi tersebut. Definisi materialitas tersebut mengakui pertimbangan materialitas dilakukan dengan memperhitungkan keadaan yang melingkupi dan perlu melibatkan baik pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif. Keadaan yang melingkupi yang harus dipertimbangkan pemeriksa dalam menetapkan materialitas di antaranya adalah sifat dan jumlah pos dalam laporan keuangan yang diperiksa.

Pertimbangan kuantitatif dalam menetapkan materialitas biasanya disajikan dalam bentuk persentase atau angka tertentu yang ditetapkan pada tahap awal. Angka tersebut menjadi pedoman untuk menetapkan apakah suatu salah saji yang ditemukan dalam pemeriksaan merupakan salah saji yang material.Jumlah salah saji di bawah angka tersebut tanpa dilakukannya pengamatanlebih lanjut dapat dinyatakan tidak material. Pertimbangan kualitatif menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam haltanggapan pemeriksa terhadap salah saji yang terdeteksi. Umumnya,kekeliruan pada suatu akun yang tidak mempengaruhi akun-akun lainnyadalam laporan keuangan (kekeliruan yang terisolasi), yang tidak material dalam pengolahan data akuntansi atau penerapan prinsip akuntansi dianggap tidak signifikan terhadap pemeriksaan. Sebaliknya, bila pemeriksa mendeteksiadanya kecurangan, pemeriksa harus mempertimbangkan pengaruh (implikasi) integritas manajemen atau karyawan dan kemungkinan dampaknya terhadap aspek pemeriksaan. Konsep materialitas dapat dikelompokkan menjadi:

Materialitas Kuantitatif; materialitas yang menggunakan ukuran kuantitatif tertentu seperti nilai uang, jumlah waktu, frekuensi maupun jumlah unit. Materialitas Kualitatif; materialitas yang menggunakan ukuran kualitatif yang lebih ditentukan pada pertimbangan profesional. Pertimbangan profesional tersebut didasarkan pada cara pandang, pengetahuan, dan pengalaman pada situasi dan kondisi tertentu.

Penetapan materialitas awal meliputi lima tahapan kegiatan: a. Penentuan Dasar Penetapan Materialitas Dalam memutuskan nilai yang akan dijadikan dasar, pemeriksa sebaiknya mempertimbangkan: karakteristik (sifat, besar dan tugas pokok) dan lingkungan entitas yang diperiksa; area dalam laporan keuangan yang akan lebih diperhatikan oleh pengguna laporan keuangan; kestabilan atau keandalan nilai yang akan dijadikan dasar

b. Penentuan Tingkat Materialitas Tingkat materialitas dapat ditetapkan sebagai berikut: untuk entitas nirlaba: 0,5% sampai dengan 5% dari total penerimaan atautotal belanja; untuk entitas yang bertujuan mencari laba: 5% sampai dengan 10% darilaba sebelum pajak atau 0,5% sampai dengan 1% dari total penjualan/pendapatan; dan untuk entitas yang berbasis aset: 1% dari ekuitas atau 0,5% sampai 1%dari total aktiva

Pedoman umum penerapan tingkat materialitas adalah sebagai berikut: 0,5% dari belanja atau pendapatan digunakan pada entitas nirlaba padasaat pemeriksaan yang baru pertama kali dilakukan atau pada kondisi Sistem Pengendalian Intern (SPI) entitas yang belum memadai. Pemeriksa dapat berangsur-angsur meningkatkan tingkat materialitas yang akandigunakannya pada pemeriksaan-pemeriksaan selanjutnya sampai dengantingkat meaterialitas 5% dari total belanja atau pendapatan.

5% sampai 10% dari laba sebelum pajak. Tingkat materialitas 10% digunakan pada perusahaan nonpublik dan anak perusahaannya dan 5% digunakan pada perusahaan publik. 0,5% sampai 1% dari penjualan, apabila sebuah perusahaan telah beroperasi pada atau mendekati titik impas dan keuntungan atau kerugianbersih berfluktuasi dari tahun ke tahun. 1% dari ekuitas pada saat hasil dari operasi sangat rendah yang menyebabkan likuiditas sebagai perhatian utama, atau pada saat pengguna laporan keuangan lebih memfokuskan perhatian pada ekuitas dari padahasil dari operasi. 0,5% sampai 1% dari total aktiva pada saat ekuitas mengalami penurunan pada titik paling rendah.

c. Penetapan Nilai Materialitas Awal Nilai Materialitas Awal (PM) merupakan nilai materialitas awal untuk tingkat laporan keuangan secara keseluruhan. Nilai materialitas awal yang diperolehmerupakan besarnya kesalahan yang mempengaruhi pertimbangan pengguna Laporan Keuangan.

d. Penetapan Kesalahan Yang Dapat Ditoleransi TE dapat dialokasikan sesuai dengan proporsi besaran nilai setiap akun, atau pemeriksa dapat menggunakan pertimbangan profesionalnya untuk menilai apakah ia perlu mengalokasikan TE yang lebih ketat atau cukup longgar untuk akun tertentu berdasarkan pengalamannya terutama mengenai kecenderungan terjadinya salah saji pada akun-akun tertentu tersebut. Aturan umum yangsering digunakan adalah bahwa alokasi pada satu akun tertentu tidak lebih dari 60% dari PM, dan jumlah dari seluruh TE tidak lebih dari dua kali nilai PM. Langkah-langkah pengalokasian PM menjadi TE pada akun-akun laporan keuangan adalah sebagai berikut: tentukan nilai PM hitung total nilai seluruh akun pada laporan keuangan yang akan diperiksa, kecuali akun-akun yang bersifat residual, seperti SILPA/SIKPA, ekuitas dana, dan sebagainya. alokasikan nilai PM pada akun-akun utama dengan menggunakan rumus TE = PM * (N/T)

Ket:

TE = Tingkat kesalahan yang dapat ditoleransi; PM = Materialitas awal; N T = Nilai akun; = Total nilai akun-akun pada laporan keuangan yang akan diperiksa.

e. Pertimbangan atas Penetapan Materialitas Awal Penetapan materialitas awal (PM) pada tahap perencanaan pemeriksaan sangat dipengaruhi oleh tingkat risiko pemeriksaan. Besarnya batas materialitas berbanding terbalik dangan risiko pemeriksaan yang ditetapkan oleh pemeriksa. Pada entitas yang menurut pertimbangan pemeriksa memiliki risiko pemeriksaan lebih tinggi, pemeriksa dapat menetapkan batasan materialitas yang lebih rendah daripada batasan materialitas untuk entitas yang menurut pemeriksa memiliki risiko pemeriksaan lebih rendah. Langkah-langkah untuk melakukan analisis risiko pemeriksaan dapat dilihat pada juknis tentang analisis risiko. Selain itu, PM dan TE pada tahap perencanaan pemeriksaan sangat berpengaruh terhadap banyaknya bukti pemeriksaan yang harus diperoleh atau ukuran sampel yang akan diuji. Tingkat materialitas berhubungan terbalik dengan banyak bukti/ukuran sampel. Semakin tinggi tingkat materialitas,semakin sedikit bahan bukti yang harus diperoleh sehingga semakin sediki tsampel yang harus diambil jika pemeriksa memutuskan untuk melakukan uji petik. 3. Kewajiban menurut Common Law diartikan sebagai hukum yang tidak tertulis. Common law ini berasal dari prinsip-prinsip berdasarkan keadilan, alasan, dan hal yang tidak bersifat kaku yang ditetntukan oleh kebutuhan sosial atass masyarakat. Menurut common law, profesi akuntan publik ini berkaitan dengan pihak klien dan pihak ketiga. Berikut penjelasannya: a. Kewajiban kepada klien Berdasarkan hubungan kontraktual dengan klien yang ditandai dengan adanya surat perikatan audit, seorang auditor bertanggung jawab kepada klien sesuai dengan hukum kontrak atau contract law dan kerugian atau tort law (hukum yang mengatur tentang tuntutan ganti rugi). Hukum kontrak mengatur mengenai pertanggungjawaban mengenai pelanggaran ketidaksesuaian laporan audit dengan GAAS, menyelesaikan laporan audit di luar batas yang telah dispakati, dan melanggar hubungan kerahasiaan klien. Sedangkan hukum kerugian disebabkan kelalaian biasa, kelalaian paling ringan pada kondisi tertentu, dan kecurangan (fraud). Konsekuensi berdasarkan pelanggaran-pelanggaran tersebut disesuaikan berdasaran kesepakatan dalam kontrak yang telah disepakati sebelumnya.

b. Kewajiban kepada pihak ketiga Hal ini dapat didefinisikan sebagai seseorang yang tidak mengetahui tentang pihak-pihak yang ada di dalam kontrak (pemegang hak utama dan pemegang hak lainnya). pemegang hak utama yaitu seseorang yan g telah diketahui auditor sebelum audit dilaksanakan sebagai penerima laporan auditor dan pemegang hak lainnya ini merupakan pihak ketiga yang namanya tidak disebutkan, seperti pihak kreditor, pemegang saham, dan investor potensial.

Selanjutnya merupakan hubungan antara kewajiban hukum dengan profesi akuntan publik y dalam memberikan jasanya, berdasarkan temuan-temuan bukti pelanggaran apapun yang bersifat pelanggaran ringan hingga yang bersifat pelanggaran berat, berdasarkan PMK No. 17/PMK.01/2008 hanya dikenakan sanksi administratif, berupa: sanksi peringatan, sanksi pembekuan ijin dan sanksi pencabutan ijin seperti yang diatur antara lain dalam pasal 62, pasal 63, pasal 64 dan pasal 65. Pemberian sanksi hingga pencabutan izin baru dilakukan dalam hal seorang Akuntan Publik tersebut telah melanggar ketentuan-ketentuan yang diatur dalam SPAP dan termasuk juga pelanggaran kode etik yang ditetapkan oleh IAPI, serta juga melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berhubungan dengan bidang jasa yang diberikan, atau juga akibat dari pelanggaran yang terus dilakukan walaupun telah mendapatkan sanksi pembekuan izin sebelumya, ataupun tindakantindakan yang menentang langkah pemeriksaan sehubungan dengan adanya dugaan pelanggaran profesionalisme akuntan publik. Akan tetapi, hukuman yang bersifat administratif tersebut walaupun diakui merupakan suatu hukuman yang cukup berat bagi eksistensi dan masa depan dari seorang Akuntan Publik ataupun KAP, ternyata masih belum menjawab penyelesaian permasalahan ataupun resiko kerugian yang telah diderita oleh anggota masyarakat, sebagai akibat dari penggunaan hasil audit dari Akuntan Publik tersebut.

Dalam hal ini, kami berpendapat bahwa suatu entitas yang dirugikan mempunyai dasar hukum untuk meminta pertanggungjawaban perdata, yaitu pembayaran ganti rugi dari Akuntan Publik tersebut. Hal ini diatur secara tegas dalam pasal 44 PMK No. 17/PMK.01/2008. Inti peraturan itu bahwa Akuntan Publik atau KAP bertanggung jawab atas seluruh jasa yang diberikannya. Tanggung jawab dari Akuntan Publik terhadap konsekuensi dari hasil Audit Laporan Keuangan yang dilakukannya yang dimaksud dalam pasal 44 tersebut walaupun berdasarkan PMK itu hanya terbatas pada pemberian sanksi administrasi, akan tetapi berdasarkan pasal 1365 KUH Perdata mewajibkan Akuntan Publik untuk mengganti kerugian yang dialami oleh Bank sebagai konsekuensi dari tindakan melawan hukum yang telah

dilakukannya, sehubungan dengan Laporan Keuangan yang hadir secara menyesatkan tersebut.

Sehubungan dengan kewajiban untuk mengganti kerugian sebagai akibat dari Perbuatan Melawan Hukum itu, maka langkah pemenuhan dari ganti kerugian tersebut berdasarkan pasal 1131 KUH Perdata, mengatur sebagai berikut: Segala kebendaan siberutang, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan. Pasal itu jelas mengatur bahwa harta pribadi dari pihak yang dihukum untuk membayar ganti rugi lah yang digunakan untuk membayar ganti kerugian akibat Perbuatan Melawan Hukum tersebut.

Dalam ketentuan hukum Indonesia, tidak dikenal adanya pembatasan pertanggunganjawaban pribadi dari anggota persekutuan perdata, baik yang berbentuk firma ataupun non firma. Artinya dalam hal total dari nilai kerugian yang dibebankan kepadanya tersebut tidak mencukupi untuk dibayarkan dari hartanya, maka ada kemungkinan seorang Akuntan Publik untuk dapat dipailitkan secara pribadi sepanjang ketentuan dalam pasal 2 ayat (1) dari Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terpenuhi. Berbeda halnya di Amerika dan beberapa Negara lainnya, yang mengenal adanya pembatasan pertanggungjawaban dari anggota persekutuan perdata dalam suatu badan usaha yang berbentuk Limited Liability Partnership (LLP).

Jelas sikap professional dari sang Akuntan Publik timbul bukan karena rangkaian ancaman hukuman administratif, perdata dan bahkan pidana yang dapat menjeratnya dalam hal terjadinya pelanggaran tersebut, akan tetapi lebih karena memang dunia bisnis Indonesia membutuhkan suatu proses perjalanan yang sehat dan transparan, sehingga dalam hal menyajikan suatu keberadaan suatu perusahaan melalui laporan keuangannya tersebut, publik sangat membutuhkan akuntan publik yang benar-benar mempunyai kemampuan yang baik, professional dan independen dalam menjamin maksimumnya tingkat akurasi kebenaran dari hasil pernyataan pendapatnya terhadap Laporan Keuangan tersebut.