Anda di halaman 1dari 4

Nama: Jihan Asyrofi N. H NIM: 0910230017 Tugas Prak.

Audit ke 4 Risiko Audit dan Prosedur Analisis Pertanyaan Diskusi 1. Perjanjian hitam di atas putih merupakan hal yang sangat penting. Terlebih lagi dalam hal ini perjanjian tersebut merupakan suatu perikatan audit yang merupakan bukti otentik mengenai adanya suatu perikatan yang tentu saja mempunyai kekuatan hukum baik bagi pihak pertama maupun kedua. Lebih lanjut dalam surat perikatan audit juga terlampir mengenai tujuan atas dilakukannya audit, ruang lingkup audit, dan tentu saja besaran fee yang dibebankan kepada klien. Beberapa hal yang dapat dilampirkan kemungkinan yaitu pernyataan mengenai CRL (Client Representation Letter) yang memberikan pemahaman jika segala aspek mengenai laporan keuangan yang disajikan merupakan sepenuhnya tanggung jawab klien. Tanggung jawab KAP (auditor) telah terangkum dalam SPAP maupun peraturan akuntan publik lainnya telah terjadi saat perikatan audit dilakukan. Dalam hal ini, tanggung jawab spesifik pada aspek keyakinan memadai terhadap auditor dalam hal pemberian opini atas laporan keuangan klien. Selanjutnya tanggung jawab yang dibebankan kepada perusahaan klien pada aspek pemenuhan asersi-asersi manajemen, sehingga klien diharuskan pro aktif selama proses audit berlangsung. 2. Harga pokok penjualan (HPP) = persediaan awal + pembelian bersih - persediaan akhir. Berdasarkan perhitungan HPP tersebut, dalam hal ini diperlukan nilai HPP periode lalu sebagai pembanding, nilai persediaan rata-rata per periode, nilai total pembelian yang dilakukan PT. Maju Makmur secara per periode, dan nilai total persediaan akhir yang terdapat dalam gudang maupun di cabang toko-toko PT. Maju Makmur per periode. Berdasarkan data-data tersebut dapat dibuat nilai rata-rata mengenai besaran nilai per akun-akunnya sehingga dalam prosedur analitis ini dapat dicapai pemahaman yang memadai guna mendukung tujuan dilakukannya prosedur analitis ini. 3. Sesuai dengan jenis usaha atau bisnis PT. Maju Makmur dapat dipastikan jika hal-hal yang terkait dengan penjualan berperanan penting. Dalam perusahaan dagang, pos penjualan dan proses pemasaran (pemberian bonus/insentif dalam tiap cabang toko) diberikan perhatian lebih karena selain banyaknya bukti, di kedua pos tersebut sangat rawan tindak kecurangan yang kemungkinan terjadi.

Resiko inherent akan tinggi pada akun dan transaksi berkaitan dengan penjualan, akun persediaan tentu harus selalu sama dengan stock opname bagian gudang begitu juga dengan pengeluaran barang yang dianut PT. Maju Makmur, akun kas harus disesuaikan dengan cash count karena tentu arus kas juga cukup tinggi, dan karena sistem pembelian barang kadang juga dilakukan dengan metode utang maka sudah barang tentu jika akun utang/piutang juga menjadi perhatian pula. 4. Berdasarkan PSA No. 7 (SA Seksi 326), bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan. Berdasarkan artian tersebut dapat diambil kesimpulan jika jenis dan jumlah bukti audit yang digunakan oleh auditor harus memadai, andal, sah, dan relevan dalam hubungannya membuktikan asersi manajemen (laporan keuangan) karena bukti audit ini merepresentasikan populasi auditnya. 5. Prosedur analitis sudah diatur dalam PSA No. 22 (SA Seksi 329) yang bertujuan untuk: a. Membantu auditor dalam merencanakan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit lainnya. b. Sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu yang berhubungan dengan saldo akun atau jenis transaksi. c. Sebagai review menyeluruh informasi keuangan pada tahap review akhir audit. Dalam beberapa hal, prosedur analitik lebih efektif atau efisien daripada pengujian rinci untuk mencapai tujuan pengujian substantif. Hal ini dikarenakan berkaitan dengan tingkat kepercayaan terhadap bukti, jika kualitas bukti dari prosedur analitis ini cukup kompeten karena meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat atau ratio yang dihitung dari jumlah-jumlah yang tercatat, dibandingkan dengan harapan yang dikembangkan oleh auditor. Auditor mengembangkan harapan tersebut dengan mengidentifikasi dan menggunakan hubungan yang masuk akal, yang secara pantas diharapkan terjadi berdasarkan pemahaman auditor mengenai klien dan industrinya. Jadi, berdasarkan hal-hal tersebut dapat disimpulakan jika kualitas bukti audit yang berasal dari prosedur tes substantif ini cukup baik dan relevan. Sedangkan mengenai tingkat kompetensinya, prosedur ini digunakan berdasarkan atas suatu kondisi tertentu sehingga tingkat keyakinan atas kompetensinya juga didasarkan atas tujuan serta tahapan proses audit yang sedang dilakukan, selain juga tetap mempertimbangkan ruang lingkup auditnya.

6. Sebagai auditor, pemahaman atas bisnis klien sudah merupakan kewajiban karena hal ini sangat penting guna memberikan gambaran umum serta implikasinya secara utuh dalam rangka melakukan audit. Hal ini telah menjadi bahan pertimbangan sendiri selama masa perikatan audit. Oleh karena itu tingkat pengetahuan atas operasi bisnis klien sudah harus diketahui sedalam-dalamnya. Pemahaman atas hal ini biasanya dapat diperoleh dengan beberapa cara, yakni : a. Membaca artikel, perundang-undangan, publikasi ataupun mencari referensi mengenai jenis operasi bisnis klien b. Melakukan komunikasi dengan auditor terdahulu guna memperoleh informasi tambahan yang cukup penting dan juga merupakan standar umum dalam proses audit c. Melakukan komunikasi langsung dengan klien, baik dari wawancara ataupun dokumen-dokumen dari klien d. Tidak menutup kemungkinan jika pengetahuan ataupun informasi tambahan mungkin juga dapat diperoleh saat audit berjalan 7. Masalah terkait kompetisi fee memang telah menjadi rahasia umum bagi KAP-KAP dalam menjaring klien. Karena hal ini berimbas pada ruang lingkup audit, kualitas audit, dan tentu jumlah bukti audit. Bagaimanapun jika suatu perikatan dilakukan berdasarkan kompetisi fee audit sudah barang tentu terdapat suatu kompromi di dalamnya sehingga dapat dipastikan proses audit yang dijalankan seperti di setir oleh kehendak klien. Dalam konteks etika sudah tentu sangat jauh dari sudut pandang etis. Selain menggugurkan aspek integritas seorang auditor, hal ini juga sekaligus akan membuat kepercayaan publik menurun dan tentu saja akan berdampak signifikan terhadap profesi. 8. Resiko pengendalian (Control Risk) merupakan resiko terjadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak akan dapat dicegah oleh SPI klien. Sedangkan resiko deteksi (Detection Risk) merupakan resiko yang timbul karena auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Hubungan keduanya adalah saling bertolak belakang. Dalam hubungannya antara resiko deteksi dan tes substantif adalah diperluasnya pengujian substantif sehingga dapat lebih menjangkau berbagai elemen tes maupun bukti yang dikumpulkan sekaligus meninimalisir resiko deteksinya.

9. Pada PSA No. 70 (SA Seksi 316) dijelaskan jika melakukan penaksiran ini, auditor harus mempertimbangkan faktor risiko kecurangan yang berkaitan dengan beberapa hal, yaitu: a. Salah saji yang timbul sebagai akibat kecurangan yang berkaitan dengan baik b. Salah saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva untuk setiap golongan yang bersangkutan Beberapa taksiran tersebut digunakan untuk dapat desain mengenai prosedur audit yang akan dilakukan. Namun, faktor resiko tidak langsung memastikan tentang adanya suatu tindak kecurangan, hal ini lebih pada faktor pengamatan yang seringkali menunjukkan jika faktor resiko sekaligus menjadi anggapan jika terjadi adanya tindak kecurangan. Berkaitan dengan hubungan antara penaksiran dengan materialitas penilaian resiko audit lebih pada penentuan lingkup prosedur audit secara langsung berdasarkan pertimbangan atas risiko audit dan menunjukkan bahwa risiko tentang salah saji material dalam laporan keuangan sebagai akibat dari kecurangan merupakan bagian dari risiko audit.