Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai sebuah siklus hidup kehamilan merupakan gerbang awal sebuah kehidupan.

Tentu saja tidak gampang, sebab ada banyak penghalang yang melintang. Sejak masih berupa sperma dan ovum pun penghalang pertemuan keduanya sudah terjadi. Demikian pula dengan penyakit. Beragam penyakit ada di sekitar kehamilan, baik yang menyerang sang ibu ataupun janin. Di antara penyakit yang wajib diwaspadai selama masa kehamilan adalah toksoplasma, rubella, cytomegalovirus dan herpes simplek. Beberapa penyakit lainnya a.l. sipilis, infeksi streptococcus grup B, listeriosis dll. Tetapi di antara penyakit ganas itu, dunia kedokteran mengakui toksoplasma adalah yang paling ganas. Tokso, begitu penyakit ini biasa disingkat, juga cukup cerdik, sebab sulit terdeteksi dan mampu menyusup dengan beragam cara. Penelitian menunjukkan sekitar 40% wanita hamil pengidap toksoplasma pada awal kehamilan, janin yang dilahirkan akan terinfeksi, dan 15% mengalami abortus atau kelahiran dini. Sedangkan bagi janin tercatat 17% janin terinfeksi pada tiga bulan pertama, 24% pada tiga bulan kedua, dan 62% pada tiga bulan ketiga. Memang, 90% bayi yang terinfeksi dapat lahir dengan normal namun 80%-90 % bayi tersebut dapat menderita gangguan penglihatan sampai buta setelah beberapa bulan atau beberapa tahun setelah lahir, dan 10% di antaranya dapat mengalami gangguan pendengaran. Toksoplasma memang biang kerok berbagai kondisi abnormal bayi antara lain kelainan pada saraf, mata, serta kelainan sistemik seperti pucat, kuning, demam, pembesaran hati dan limpa atau pendarahan. Infeksi pada bayi juga berpotensi menyebabkan cacat bawaan, terutama bila terjadi pada usia kehamilan awal sampai tiga bulan. Toksoplasma juga dapat menyebabkan encephalus (tidak memiliki tulang tengkorak), hydrocephalus (pembesaran kepala), dan bahkan kematian. Sampai saat ini masyarakat seringkali salah kaprah menganggap kucing sebagai penyebab penyakit ini. Padahal dalangnya adalah parasit toksoplasma gondii, yang dapat ditularkan oleh kucing. Namun, salah besar apabila beranggapan hanya kucing yang dapat menjadi dalang penyebaran penyakit toksoplasma. Sebab parasit ini dapat menyerang semua jenis satwa, termasuk burung, ikan, kelinci, anjing, babi, kambing dan mamalia bahkan manusia.

1.2 1.2.1

Tujuan Tujuan Umum Makalah yang berjudul Toxoplasmosis ini dibuat dengan tujuan memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan Patologi.

1.2.2

Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui pengertian dari Toxoplasmosis 2. Untuk mengetahui cara-cara penularan Toxoplasmosis 3. Untuk mengetahui pengaruh Toxoplasmosis dalam kehamilan 4. Untuk mengetahui gejala klinis dari penderita Toxoplasmosis 5. Untuk mengetahui penatalaksanaan dan pencegahan penyakit Toxoplasmosis 6. Untuk mengetahui cara pemberian asuhan kebidanan yang dilakukan saat pertama kali ada ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Toxoplasmosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa toxoplasma gondii ddan biasanya diderita oleh binatang herbivora, karnivora, omnivora termasuk mamalia dan burung. (Ilmu Kebidanan 2006, hal.572) Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh toxoplasma gondii. Parasit ini dapat menginfeksi manusia maupun binatang dan dapat menimbulkan masalah kesehatan maupun masalah ekonomi. (Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak 1993, hal.245) Toksoplasmosis merupakan suatu penyakit zoonosis, yaitu penyakit pada hewan yang ditularkan kepada manusia. Penyakit ini disebabkan oleh suatu parasit yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii, yang dapat menginfeksi hewan dan manusia. (www.google com) 2.2 Sejarah Toxoplasma mulai dikenal sejak tahun 1908 ketika Charles Nocholle dan Louis Manceaux menemukan parasit ini dalam sel mononukleus limpa dan hati binatang mengerat Ctenodactilus Gondii yang hidup di Afrika Utara. Castellani (1913) dari Ceylon melaporkan adanya toxoplasmosis pada manusia, Janku seorang ahli mata yang pertama kali melaporkan adanya toxoplasmosis disertai hidrosefalus congenital dan mikrosefalus dengan koloboma di macula. Penemuan pemeriksaan serologis pertama kali diselidiki oleh Sabin dan Feldman (1948). 2.3 Angka Kejadian Angka kejadian toxoplasmosis diberbagai Negara berbeda-beda dan lebih sering ditemukan di daerah dataran rendah dengan kelembaban udara yang tinggi. Di Amerika Serikat dilaporkan 5-30 % penderita berumur 10-19 tahun dan 10-67 % pada kelompok umur di atas 50 tahun. Di Inggris dilaporkan angka prevalensi 30 % sedang Paris 87 % dan hal ini erat hubunganya dengan kebiasaan makan daging setengah matang. Di Indonesia test Survey indirect prevalensi di zat anti toxoplasma menunjukkan dengan bahwa hemaaglutination beberapa daerah

seropositivitas berkisar antara 2-53 %. Di Jakarta ditemukan prevalensi 10-12,5 %. Cross (1975) dan Beaver (1986) mengatakan bahwa zat anti toxoplasma meningkat

sesuai umur dan tidak ada perbedaan yang bermakna antara laki-laki dan wanita. Sedang di Indonesia sesuai dengan penelitian Srisasi (1980) tidak ditemuakan adanya hubungan tersebut. Dari hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa anjing dan kucing merupakan hospes yang sangat potensial, hal ini disebabkan oleh karena hewanhewan ini umumnya hidup secara bebas dan makan daging mentah yang mengandung troposoit. Angka kejadian toxoplasmosis congenital berbeda di tiap Negara, di Paris ditemukan 5/1000 kehamilan per tahun sedangkan di Amerika Serikat 1/1000 1/8000 kelahiran per tahun. Bahkan akhir-akhir ini diperkirakan dari 3,3 juta bayi yang dilahirkan per tahun di Amerika Serikat, 3.300 bayi menderita infeksi congenital. 2.4 Sikus Hidup Dalam siklus hihup toxoplasma dikenal ada 3 bentuk yaitu : Tropozoid atau bentuk proliferatif Kista Ookista Ditemukan dalam usus kucing dan binatang sejenisnya (fellidae), dimana disini terjadi daur siklus seksual dan dihasilkannya ookista bersama tinja. Ookista yang dikeluarkan dari tanah dapat hidup bertahun-tahun dan diluar tubuh kucing akan membentuk sporokista yang masing-masing berisi 4 sporozoid. Seekor kucing dapat menghasilkan 10 juta ookista dalam sehari, dan ookista menjadi matang dalam 1-5 hari. Ookista dapat mati bila dibekukan, dipanaskan pada suhu 45-55o C, dikeringkan atau dicampur dengan formalin, ammonia dan tinktur. Sporozoid ini bila tertelan oleh binatang mamalia akan dibentuk tropozoid dalam darah, cairan tubuh dan jaringan. Tropozoid ini akan membelah dengan cepat sehingga tropozoid ini sering juga disebut sebagai takizoid. Merozoid akan keluar dari sel hospes yang rusak kemudian memasuki sel yang baru untuk selanjutnya menjadi tropozoid dan sizon. Selain itu merozoid juga dapat mengalami diferensiasi menjadi macrogamet dan mikrogamet. Kemudian mikrogamet akan berkontak dengan makrogamet dan menghasilkan kista. Oleh karena pembelahan yang lambat maka sering disebut bradizoid. Kista dapat hidup bertahun-tahun di dalam jaringan otak, limpa dan ginjal. Hanya kucing dan sejenisnya yang mengadakan siklus seksual sedangkan hospes perantara lainnya tidak.

2.5

Patogenesis Manusia akan terinfeksi melalui beberapa cara : 1. Dengan makan daging yang tidak dimasak dengan baik yang mengandung tropozoid dan kista, atau terkontaminasi deengan tinja kucing yang mengandung ookista. 2. Transmisi transplasental terjadi dari ibu yang mengalami infeksi akut dengan toxoplasma selama kehamilan, kemudian parasit melalui plasenta dan ditularkan kepada anaknya. Dilaporkan bahwa kira-kira 20-30 % ibu yang menderita toksoplasma akan melahirkan bayi dengan toxoplasma congenital. Transmisi infeksi congenital sebagian besar (65 %) terjadi pada trimester ketiga dan makin muda usia kehamilan makin besar resiko terjadi kelainan yang berat bahkan kadang-kadang berakhir denga abortus. 3. Melalui transfusi darah Toxoplasma dapat ditemukan dalam darah donor yang asimtomatik dan parasit ini dapat hidup dalam darah lengakap dengan sitrat pada suhu 30 o C selama 50 hari. 4. Melalui transplantasi organ Mc.Cabe pernah melaporkan pada penderita yang mengalami transplantasi jantung dan sumsum tulang serta ginjal. 5. Melalui susu ternak 6. Lain-lain Pernah dilaporkan beberapa kasus toxoplasmosis pada para laboran. Dari saliva bayi toxoplasmosis congenital pernah diisolasi adanya toxoplasma, begitu juga didalam ginjal dan mukosa kandung kemih sehingga ada yang mengatakan bahwa urin dan tinja dapat menjadi sumber infeksi, tetapi hal ini belum terbukti. Di dalam tubuh manusia, sporozoid akan memasuki sel tubuh manusia terutama system retikuloendotelial dan mengadakan pengrusakan kemudian menyebara melalui aliran darah dan pembuluh limfe ke seluruh jaringan tubuh. Proliferasi parasit di dalam jaringan menyababkan kematian sel yang ditempatinya dan berakibat timbulnya focus nekrosis yang dikelilingi oleh reaksi radang. Focus-fokus ini dapat ditemukan di otak, paru, jantung, hati dan otot. Terdapatnya tropozoid pada mata akan bermanifestasi dini sebagai korioretinitis. Pada infeksi akut memgenai system saraf pusat, terjadi meningoensefalitis fokal atau difus dengan nekrosis dengan nekrosis dan pembentukan nodul. Tropozoid biasanya ditemukan di tepi daerah nekrosis. Ukuran dan lokasi lesi bervariasi, tetapi

lesi terbesar adalah di kortex, basal ganglia dan periventrikuler. Nekrosis berkembang menjadi kista yang disertai jaringan eosinofilik di tengah rongga kista dan sekitarnya tampak kalsifikasi jaringan yang nekrotik. Vasikulitis periventrikuler dan perikuaduktal dengan nekrosis sering terlihat dan jaringan yang nekrotik larut dan masuk ke ventrikel. Toxoplasma masuk ke dalam system ventrikel melalui lesi di parenkim sehingga cairan otak akan menjadi antigenic. Terjadi permbesan cairan ini melalui ependim yang rusak ke dalam pembuluh darah periventrikuler. Kerusakan ini mengakibatkan sumbatan pada aquaduktus sehingga terjadilah hidrosefalus. Mikrosefalus lebih jarang dibandingkan hidrosefalus dan keadaan ini dihubungkan dengan nekrosis multifokal pada ensefalitis terutama di hemisfer. 2.6 Gejala Klinis Gejala klinis toxoplasma dibagi menjadi : 1. Toxoplasmosis akuisita 2. Toxoplasmosis kongenital Toxoplasmosis Akuisita Limfadenopati merupakan gejala klinis yang paling sering di jumpai, yaitu 90 % kasus. Yang paling sering di kelenjar servicalis. Pembesaran kelenjar dapat tunggal atau ganda serta dapat simtomatik atau asimtomatik. Pembasaran kelenjar disertai demam terjadi pada 40 % kasus, hepatomegali 33 % dan nyeri tenggorokan 20 %. Penulis lain mengatakan bahwa gejala utama adalah panas (40 %), mialgia (40 %) dan rash makulopapuler (10 %). Toxoplasmosis cerebrospinal lebih banyak terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa. Gambaran klinis yang dapat ditemukan ialah korioretinitis, periuveitis, poliomyelitis. Toxoplasmosis Kongenital Diagnosis dapat dicurigai bila ditemukan gambaran klinis berupa hidrosefalus, korioretinitis dan kalsifikasi serebral (sindrom Sabin). Namun demikian diagnosis sering sukar ditegakan karena 60 % bayi lahir tidak menunjukkan gejala dan tanda klinis, sehingga ada yang membagi toxoplasmosis congenital menjadi 4 bentuk yaitu : 1. Bayi lahir dengan gejala 2. Gejala timbul dalam bulan-bulan pertama 3. Gejala sisa atau relaps penyakit yang tidak terdiagnosa selama masa anak-anak. pneumonitis, miokarditis, pericardial effusion, hepatitis dan

4. Infeksi sub klinis. Diagnosis Toxoplasmosis congenital harus dicurigai pada bayi baru lahir denagn hidrosefalus atau mikrosefalus, korioretinitis dan adanya focus kalsifikasi intracerebral pada gambaran radiology. Pada anak yang lebih besar gangguan penglihatan atau kebuataan karena korioretinis, retardasi mental dengan atau tanpa hidrosefalus juga harus dicurigai. Untuk mendapatkan diagnosis pasti dapat digunakan beberapa cara sebagai berikut : 1. Pemeriksaan langsung tropozoid atau kista 2. Isolasi parasit 3. Biopsi kelenjar 4. Pemeriksaan serologis 5. Pemeriksaan radiologis Diantara pemeriksaan-pemeriksaan diatas maka cara pemeriksaan serologis yang sering dipakai. Pemeriksaan Serologis Ada beberapa metode pemeriksaan serologis yaitu : Sabin Feldman Dye Test (Dye Test) IgG akan positif dalam 1-2 minggu kemudian meningakat mencapai titer tertinggi dalam 6-8 minggu. Selanjutnya titer akan menurun dan bertahan selam bertahun-tahun. Titer IgG ini tidak mempunyai korelasi dengan beratnya penyakit. Walaupun test ini sensitive dan spesifik namun teknik pelaksanaannya sukar sehingga saat ini tidak dipakai lagi di beberapa Negara. Indirect Flourecent Antibody (IFA) Test IgM Flourecent Antibody (IgM IFA) Berguna dalam mendiagnosis suatu infeksi akut, oleh kerana IgM segara meningkat (5 hari setelah infeksi) dan biasanya titernya segera menurun atau menghilang dalam beberapa bulan. Indirect Heamagglutination Test (IHA) Complemen Fixation Test (CT) Dengan cara ini antibody dapat dideteksi lebih lama. Denagn demikian hasil CF negative tidaklah menyingkirkan adanya infeksi akut sedangkan bila positif tidak dapat menegakkan suatu infeksi akut. Toxoplasma Skin Test/Frenkel Skin Test

Dengan menyuntik 0,1 ml 1/5000 antigen toxoplasma pada lengan secara intradermal, kemudian dievaluasi setelah 48-72 jam, hasilnya positif bila terbentuk areola dan indurasi yang lebih besar dari 0,5 cm. Cara ini hanya menunjukkan adanya antibody toxoplasma dalam tubuh. Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) Merupakan test yang sederhana dan obyektif untuk menentukan IgG dan IgM. Direct Agglutination Test (Bio Merieux. Lions, Farnce) Test Agglutinasi ini dapat diginakan untuk mendeteksi antibody IgG. Diagnosis dapat dibuat dengan mendeteksi zat anti IgM dan IgG. Post natal IgM spesifik dibentuk dalam serum setelah terjadi infeksi primer dan akan menghilang dalam waktu 1-3 bulan. Sedang IgG dapat dideteksi beberapa hari setelah munculnya IgM dan mencapai puncaknya setalah beberapa minggu kemudian menurun dan dapat ditemukan seumur hidup dalam darah. IgG dalam darah janin di dapat secara pasif dari ibunya melalui plasenta, sedangkan IgM tidak dapat melalui plasenta, sehingga bila ditemukan adanya IgM pada bayi maka ini menandakan bahwa adanya suatu infeksi akut. Jumlah IgG pada bayi yang baru lahir sama dengan jumlah IgG pada ibunya, kemudian akan menurun dan habis. IgG akan dibentuk oleh bayi pada usia 2-3 bulan. Pemeriksaan Radiologis Kalsifikasi serebral merupakan salah satu tanda toxoplasmosis congenital. Gambaran ini dapat noduler atau linier. Pemeriksaan CT scan akan lebih jelas menunjukkan tingkat beratnya kerusakan yang terjadi. Pemeriksaan Laboratorium Toxoplasma dapat diisolasi dari plasenta, cairan otak, cairan amnion, darah. Gambaran darah tepi menunjukkan lekositosis dengan kenaikan absolud limfosit dan monosit, sedangkan anemia biasanya ditemukan terutama pada fase lanjut. Pengobatan Pengobatan kausal toxoplasma diberikan : Sulfonamide (Sulfadiazin, sulfamerazin, sulfametazin, sulfametoksazol) Efek obat ini dapat membunuh tropozoid dan biasanya di kombinasikan dengan pirimetamine. Dosis yang dianjurkan : 25-35 mg/kg.BB/hari dibagi 4 dosis. Pirimetamine Obat ini mempunyai kerja sinergistik dengan obat golongan sulfonemide dalam membunuh tropozoid namun tidak efektif terhadap kista. Dosis yang dianjurkan

1 mg/kg.BB/hari diberikan selama 4-5 hari kemudian dosis diturunkan menjadi setengahnya setelah 3 hari pengobatan. Maksimal dosis 25 mg/hari. Lama pengobatan sulphonamide dan pirimetamine adalah 4-6 minggu. Efek samping : o Kristaluria o Hematuria o Rash o Depresi sumsum tulang sehingga dapat terjadi anemia, lekopenia dan trombositopenia, karena obat ini merupakan folic acid antagonis sehingga untuk mencegah depresi sumsum tulang dapat diberikan FOLINIC ACID (calcium leucovorin) dengan dosis 1 mg/hari. Klindamisin Juga merupakan obat yang efektif, tetapi penetrasi ke SSP kurang baik, nemun efektif terhadap toxoplasmosis mata karena konsentrasi dalam koroid. Spiramisin Suatu macrolide yang bersifat kurang toksis dibanding obat-obat diatas. Dosis yang dianjurkan 100-200 mg/kg.BB/hari di bagi dalam 2 dosis dan diberikan selama 4-6 minggu. Obat ini tidak dapat melalui plasenta sehingga dapat digunakan pada ibu hamil agar transmisi melalui plasenta dapat dicegah, tetapi tidak efektif terhadap toxoplasma yang telah melewati plasenta. Dosis untuk ibu hamil adalah 2 g/hari dosis tunggala atau dibagi dalam 2 dosis. Kortikosteroid Sebagai antiradang dapat digunakan untuk menenggulangi reaksi hipersensitif pada korioretinitis. Karena obat ini juga bersifat immunosupresif maka selalu digunakan bersama-sama obat anti toxoplasma lainnya. Dosis yang dianjurkan 1-2 mg/kg.BB/hari kemudian diturunkan perlahan-lahan. Prognosa Walaupun tidak atau jarang menimbulkan gejala klinis, tetap membawa akibat yang kurang baik terhadap anak. Gejala sisa banyak ditemukan pada toxoplasmosis congenital terutama pad asistem saraf pusat dibandingkan kelainan sistemik. Pencegahan Pencegahan terutama untuk ibu hamil yaitu dengan cara : Mencegah terjadinya infeksi primer pada ibu-ibu hamil memasak daging sampai dengan 60o C

jangan menyentuh mukosa mulut bila sedang memegang daging mentah, mencuci buah atau sayur sebelum dimakan, kebersihan dapur, cegah kontak dengan kotoran kucing, siram bekas piring makanan kucing dengan air panas. seleksi wanita hamil dengan test serologis pengobatan adekuat bila ada infeksi selama hamil tindakan abortus terapeutik pada trimester 1 atau 2.

Mencegah infeksi terhadap janin dengan jalan :

Anak yang lahir dari ibu dengan toxoplasmosis aktif harus diobservasi selama 2 minggu terhadap : gejala-gejala mata dan radiologist pemeriksaan serologis

Bila dalam pengamatan ternyata positif maka harus segera diobati. Penggunaan vaksin pada manusia belum dilakukan mengingat efek samping yang berbahaya sehingga memerluka penelitian yang lebih lanjut. Konsep Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dengan Toxoplasmosis 1. Pengkajian Data Dasar Klien Aktivitas/Istirahat Malaise, kelelahan Sirkulasi Mungkin Ikterik Eliminasi Disuria, frekuensi urinarius, penurunan haluan urin, hematuria. Makanan dan cairan Mual, muntah, anoreksia, penurunan BB, Lidah dapat terlihat lesi atau luka Seksualitas Dapat mengalami (lebih dari sekali) riwayat kehilangan kehamilan trimester awal. TFU tidak sesuai usia gestasi, kemungkinan menandakan retardasi pertumbuhan intrauterin (UIGR) 2. Pemeriksaan Diagnostik USG Didapatkan toksoplasma dari cairan amnion dan darah janin Ditemukan IgM antibodi spesifik dan gamma glutamiltransferase dalam darah bayi setelah 22 minggu : mendeteksi IUGR

10

3. Intervensi dan Rasional Tinjau ulang gaya hidup dan profesi terhadap adanya faktor-faktor resiko yang berhubungan R/ R/ : Pecinta binatang peliharaan seperti kucing beresiko thd penyakit ini : Tanda-tanda infeksi yang dapat diidentifikasi dapat membantu untuk menentukan bentuk tindakan, meskipun klien mungkin asimtomatik Mandiri Anjurkan pada ibu untuk mencuci sayur-sayuran dan memasak daging sampai matang R/ R/ R/ :Memastikan makanan bebas`dari toksoplasma :Agar ibu mengerti tentang mekanisme penularan toksoplasmosis :Untuk mencegah kontak langsung dengan toksoplasmosis Menjelaskan pada ibu tentang mekanisme penularan toksoplosmasis Anjurkan pada ibu untuk memakai sarung tangan jika hendak berkebun Kolaborasi Evaluasi pertumbuhan janin dengan memantau kemajuan pertumbuhan TFU berdasarkan USG R/ R/ : Infeksi toxoplasmosis dapat mengakibatkan IUGR :Ketersediaan staf dan peralatan menjamin perawatan optimal bagi klien resiko tinggi dan janin/bayi baru lahir Siapkan untuk terminasi kahamilan atau induksi persalinan sesuai indikasi R/ : Kehamilan dapat diterminasi untuk kondisi toxoplasmosis yang terjadi sebelum gestasi minggu ke-20 Siapkan/bantu dalam pemindahan ke pusat perawatn tersier sesuai indikasi. Kaji tanda dan gejala, beritahu dokter bila ada

11

2.12

Tinjauan Kasus Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dengan Toxoplasmosis ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL CARE

PADA Ny. S G1P00000 UK 37-38 MINGGU, TUNGGAL, HIDUP, LETAK KEPALA, INTRAUTERINE, KESAN JALAN LAHIR NORMAL, KEADAAN IBU BAIK, JANI N IUGR DENGAN TOXOPLASMOSIS I. Jam Pengkajian Tanggal : 18 Maret 2009 : 12.00 WIB

1.1 Data Subyektif 1.1.1 Identitas Nama Klien Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Alamat : Ny. S : 22 tahun : Islam : SMP : IRT :: Mojo TrisnoMojoagung 1.1.2 1.1.3 Alasan Kunjungan Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilan anak pertamanya. Keluhan Utama Ibu mengatakan pada usia kehamilan yang 9 bulan ini tidak merasakan keluhan apa-apa. 1.1.4 Riwayat Menstruasi Menarche Siklus Lamanya Banyaknya Warna Bau : 13 tahun : teratur, 28 hari : 5 6 hari : Hari 1 2 ganti koteks 2 3 x/hari Hari 3-6 ganti koteks + 2 x/hari : Merah kehitaman : Anyir Nama Suami : Tn. M Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Alamat : 28 tahun : Islam : SMP : Swasta : Rp. 800.000,00 : Mojo Trisno Mojoagung

Suku/bangsa : Jawa/Indonesia

Suku/bangsa : Jawa/Indonesia

12

Dysmenorrheal Flour Albus HPHT

: Tidak : Tidak : 27-06-2008

1.1.5 Riwayat Obstetri yang lalu N Sua o mi ke 1 1 Kehamilan Persalinan U Peny Tem Penol Je Pen mu ulit pat ong nis yulit r H A M I L Anak Hi BB/ du PB p N I Nifas Lama K Peny mene B ulit teki K et

Se ks I

M ati

1.1.6 Riwayat Kehamilan Sekarang 1) Taksiran persalinan : 03-04-2009 2) Keluhan pada : Trimester I Keluhan Terapi HE Trimester II Keluhan Terapi HE Keluhan Terapi HE : Nyeri Pinggang, pusing : Fe, B complex, Kalk : Nutrisi, tanda bahaya kehamilan, kunjungan ulang : Tak ada keluhan : Fe, Vit C, Kalk : Tanda bahaya kehamilan, kunjungan ulang : Mual, pusing : Fe, Kalk, Yodiol : Nutrisi, Kebutuhan dasar ibu hamil, Kunjungan ulang

Trimester III :

3) Pergerakan anak pertama kali dirasakan (Quickening) pada usia 4 bulan. 4) Penyuluhan yang sudah di dapat : Nutrisi, Kebutuhan dasar ibu hamil, tanda bahaya kehamilan, Kunjungan ulang. 5) Imunisasi TT Status TT5 6) Obat-obatan yang sudah diminum : Fe, Yodiol, Vit C, Kalk. 1.1.7 Riwayat Kesehatan 1) Riwayat Kesehatan Sekarang Ibu mengatakan selama kehamilannya ini mengeluh sakit tenggorokan.

13

2) Riwayat Kesehatan yang lalu Ibu mengatakan sebelumnya tidak pernah menderita penyait menular, menurun dan menahun seperti kencing manis, darah tinggi, sesak nafas, hepatitis, jantung, AIDS dan dll. 3) Riwayat Kesehatan Keluarga Ibu mengatakan dalam keluarganya ada riwayat keturunan kembar ibu mengatakan dari pihak keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti kencing manis, darah tinggi, sesak nafas, hepatitis, jantung, AIDS dan dll. 1.1.8 Riwayat Sosial 1) Status Perkawinan Istri Kawin ke berapa Umur Lama 2) Kehamilan Ibu mengatakan kehamilannya ini direncanakan 1.1.9 Riwayat KB Ibu mengatakan belum pernah memakai KB sebelumnya 1.1.10 Pola kebiasaan sehari-hari (sebelum dan selama hamil) No 1. Pola Kebiasaan Pola Nutrisi Sebelum hamil Makan 3x sehari Porsi 1 piring sedang (nasi, lauk pauk, sayur, buah) Minum + 5-8 gelas/hari (air 2. Pola Istirahat putih) Jarang tidur siang Tidur malam + 8 jam (21.00-05.00 WIB) Selama hamil Makan 2x sehari Porsi 1 piring (nasi, lauk pauk, sayur, buah) Minum + 7-8 gelas/hari (air putih, susu) Tidur siang + 1 jam Tidur malam + 8 jam (21.00-05.00 WIB) :1 : 21 tahun : 1 tahun Suami Kawin ke berapa :1 Umur Lama : 27 tahun : 1 tahun

14

3.

Pola Aktivitas

Ibu mengerjakan pekerjaan sebagai IRT (memasak, menyapu, mengepel, mencuci serta mengurus suami) BAB 1-2x sehari BAK 3-4x sehari Mandi 2x sehari Keramas 3x seminggu Gosok gigi 2x sehari Ganti pakaian 2x sehari Ibu melakukan hubungan seksual dengan suaminya 3x seminggu, tanpa keluhan

Ibu tidak pernah lagi mengerjakan pekerjaannya sebagai IRT. Ibu hanya dirumah duduk-duduk dan tiduran BAB 1x sehari BAK 3x sehari Mandi 2x sehari Keramas 4x seminggu Gosok gigi 2x sehari Ganti pakaian 2-3x sehari TM I : 1x/bulan tanpa keluhan TM II : 2x/bulan tanpa keluhan Ibu tidak pernah merokok, minumminuman

4. 5.

Pola Eliminasi Personal Hygiene

6.

Pola Seksual

7.

Pola Ketergantungan

Ibu tidak pernah merokok, minumminuman

berakohol, minum berakohol, minum 8. Kebiasan Lain jamu jamu Ibu memelihara ibu banyak kucing rumahnya. sekali banyak di kucing rumahnya. memelihara sekali di

1.1.11

Keadaan Psiko Sosial Spiritual 1) Keadaan Psikologi

15

Ibu

mengatakan

kehamilannya

ini

direncanakan

dan

sangat

diharapkan. Ibu tidak mengharapkan jenis kelamin tertentu pada anaknya yang penting anaknya bisa lahir sehat. 2) Keadaan Sosial Hubungan antara suami, keluarga, petugas kesehatan dan tetangga terjalin dengan baik. Ibu berencana melahirkan di bidan. Pengambil keputusan dalam keluarga ibu dan suami. 3) Keadaan Spiritual Ibu mengatakan selalu sholat 5 waktu dan selalu berdoa setelah selesai sholat. 1.1.12 Latar Belakang Sosial Budaya Ibu mengatakan tidak ada pantangan apapun selama kehamilannya. Ibu dan keluarga mempunyai adat selamatan pada waktu usia kehamilan 3 bulan dan 7 bulan. Ibu tidak pernah minum jamu dan melakukan pijat. 1.2 Data Obyektif 1.2.1 Pemeriksaan Umum a. Keadaan Umum b. Kesadaran c. TTV TD S : 38o C : 54 Kg : 151 cm : 26 cm : 37-38 minggu : 03-04-2009 : Normal, tidak pincang, postur tubuh lordosis : baik : composmentis : : 120/80 mmHg N RR : 90 x/menit : 22 x/menit

d. BB sebelum hamil : 45 Kg e. BB sekarang f. TB g. LILA h. UK i. TP j. Cara Berjalan Pemeriksaan Fisik 1) Inspeksi Kepala Muka Mata : bersih, tidak ketombe, rambut tidak rontok, warna rambut hitam, tidak nampak adanya benjolan. : tidak pucat, tidak oedema, tampak adanya cloasma gravidarium. : konjungtiva merah muda, sklera putih, tidak ada oedema palpebra, reflek pupil (+)

16

Hidung Mulut Telinga Leher Aksila

: bersih tidak ada secret, tidak tampak adanya polip, tidak ada pernapasan cuping hidung. : mukosa bibir lembab, tidak ada siomatitis, tidak ada caries gigi, tidak tampak pembesaran tonsil, lidah merah muda. : bersih, tidak tampak adanya purulen maupun serumen. : tidak tampak adanya pembesaran kelenjar tiroid dan bendungan vena jugularis. : tidak ada pembesaran retraksi dada areola mamae, tampak pembesaran kelenjar montgomery.

Payudara : bersih, putting susu menonjol, tampak hiperpigmentasi, Perut : tampak pembesaran perut tidak sesuai usia kehamilan, tampak adanya linea alba dan linea miera serta striae lividae, tidak tampak adanya bekas luka operasi. Genetalia : vulva bersih, tidak tampak adanya bekas luka jahitan perineum, tidak ada varises, tidak tampak adanya flour albus, tidak ada perdarahan pervaginam, tidak ada kondiloma akuminata. Anus Atas : tidak tampak adanya haemorroid : simetris, tidak ada oedema, tidak nampak adanya ganguan aktivitas. Bawah : simetris, tidak ada varises, tidak ada oedema, tidak tampak adanya gangguan Aktivitas. 2) Palpasi Leher : terdapat pembasaran kelenjar limfe., tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada bendungan vena jugularis, tidak ada nyeri tekan. Dada Aksila Abdomen Leopold I TFU pertengahan pusat - PX, pada fundus teraba bagian bulat, lunak tidak melenting (Mc.Donald : TFU : 30 cm ) Leopold II Pada bagian kanan teraba bagian panjang keras seperti papan. : tidak teraba benjolan abnormal, tidak ada nyeri tekan, colostrums sudah keluar. : tidak ada pembesaran kelenjar limfe Ekstrimitas

17

Pada bagian kiri teraba bagian-bagian terkecil janin

Leopold III Kepala belum masuk PAP dan masih bisa digoyangkan. Leopold IV TBJ : (TFU - 13) x 155 : (30 - 13) x 155 : 2635 gram Genitalia : tidak ada pembesaran kelenjar Bartholini dan skene, tidak ada oedem. 3) Auskultasi Paru-paru : tidak ada bunyi napas tambahan ronchi/wheezing DJJ : (12.13.12) x 4 : 148 x/menit, teratur, terdengar jelas dibawah pusat 4) Perkusi Refleks patella +/+ 1.2.2 Pemeriksaan Panggul Luar Distantia Cristarium Distantia spinarum Distantia Boudeloque Lingkar Panggul 1.3 Data Penunjang a. Pemeriksaan Laboratorium II. Dx Ds PP test Hb : (+) tanggal 15-08-2008 : 11 gr/dl tanggal 27-10-2008 : 27 cm : 24 cm : 19 cm : 92 cm

Diagnosa Kebidanan : G1P00000, UK 37-38 minggu, tunggal, hidup, letak kepala, intra uterine, kesan jalan lahir normal, Keadaan ibu baik, janin IUGR dengan toxoplasmosis : ibu mengatakan sekarang hamil anak yang pertama, menurut ibu usia kehamilannya sekarang 9 bulan, dengan haid terakhir 27-06-2008. ibu pertama kali merasakan gerakan janin pada usia kehamilan 4 bulan sampai sekarang gerakan janin pada 1 tempat dan aktif.

18

Do

: TTV : TD S : 120/80 mmHg : 38o C N RR : 90 x/menit : 22 x/menit

Muka tampak adanya cloasma gravidarum Payudara tampak hiperpigmentasi areola mammae dan pembesaran kelenjar montgomery Pembesaran tidak sesuai dengan usia kehamilan tampak adanya line alba, linea nigra dan striae lividae. Palpasi : - TFU pertengahan pusat - Px - letak kepala punggung kanan DJJ : (12.13.12) x 4 : 148 x/menit, teratur Pemeriksaan Penunjang 1. PP test 2. Hb Masalah : tidak ada : tanggal 15-08-2008 : 11 gr/dl tanggal 27-10-2008

III. IV. V. Dx

Diagnosa/Masalah Potensial Retardasi pertumbuhan intrauterine (IUGR) Tindakan Segera Kolaborasi dengan tim medis lain Persiapan rujukan Intervensi : G1P00000, UK 37-38 minggu, tunggal, hidup, letak kepala, intra uterine, kesan jalan lahir normal, Keadaan ibu baik, janin IUGR dengan toxoplasmosis. Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan 1x30 menit ibu dapat mengetahui dan mengerti keadaan kehamilan saat ini. Kriteria hasil : KU TTV TD S N : Baik : : 120/70 130/80 mmHg : 36,5 37,5o C : 80 100 x/menit

19

RR DJJ TFU TBJ

: 20 24 x/ menit : 120 -160 x/menit : 3 jari bawah pusat setinggi pusat : > 2500 - < 3900 gram

Ibu mengerti dan memahami penjelasan yang diberikan bidan Ibu dapat mengulang kembali penjelasan yang diberikan oleh bidan Ibu bersedia untuk dilakukan rujukan

Intervensi 1. Lakukan pendekatan terapeutik kepada klien R/ : Dengan pendekatan terapeutik akan terjalin kerjasama dan kepercayaan terhadap petugas. 2. Jelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa pertumbuhan janinnya tidak sesuai dengan usia kehamilannya R/ : Penjelasan yang akurat akan membuat ibu dan mengerti tentang kondisi kehamilannya. 3. Jelaskan pada ibu tentang pengaruh toxoplasmosis dalam kehamilan R/ : Ibu mengerti dan memahami bayaha toxoplasmosis dalam kehamilan sehingga bersedia untuk dirujuk. 4. Tinjau ulang gaya hidup dan profesi terhadap adanya faktor-faktor resiko yang berhubungan R/ : Pecinta binatang peliharaan seperti kucing beresiko thd penyakit ini 5. Anjurkan pada ibu untuk mencuci sayur-sayuran dan memasak daging sampai matang R/ : Memastikan makanan bebas`dari toksoplasma 6. Anjurkan Ibu untuk membakar atau memberi zat antiseptic pada tinja kucing dan sisanya. R/ R/ R/ R/ VI. : Untuk membunuh parasit toxoplasma gondii : Agar ibu mengerti tentang mekanisme penularan toksoplasmosis : Untuk mencegah kontak langsung dengan penyebab toksoplasmosis : Ketersediaan staf dan peralatan menjamin perawatan optimal bagi klien resiko tinggi dan janin atau bayi baru lahir Implementasi 7. Menjelaskan pada ibu tentang mekanisme penularan toksoplosmasis 8. Anjurkan pada ibu untuk memakai sarung tangan jika hendak berkebun 9. Siapkan/bantu dalam pemindahan ke pusat perawatan tersier sesuai indikasi.

20

Dx

: G1P00000, UK 37-38 minggu, hidup, tunggal, letak kepala, intra uterine, kesan jalan lahir normal, Keadaan ibu baik, janin IUGR dengan toxoplasmosis

Tanggal : 18 Maret 2009 Jam : 12.00 WIB pendekatan terapeutik dengan cara senyum, sapa, salam, 1. Melakukan

memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dari dilakukannya pemeriksaan. 2. Menjelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. TTV : TD S Janin : Pembesaran perut tidak sesuai dengan usia kehamilan DJJ Presentasi : 148 x/menit, teratur : letak kepala : 120/80 mmHg : 38O C N RR : 90 x/menit : 22 x/menit

3. Menjelaskan pada ibu tentang pengaruh toxoplasmosis dalam kehamilan bahwa toxoplasmosis dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan pada bayinya, hidrosephalus, keguguran dan gangguan mental pada bayinya. 4. Meninjau ulang gaya hidup dan profesi terhadap adanya faktor-faktor resiko yang berhubungan dan didapatkan hasil bahwa ibu gemar memelihara kucing. 5. Menganjurkan pada ibu untuk mencuci sayur-sayuran dan memasak daging sampai matang 6. Menganjurkan Ibu untuk membakar atau memberi zat antiseptic pada tinja kucing dan sisanya. 7. Menjelaskan pada ibu tentang mekanisme penularan toxoplasmosis bahwa penularan toxoplasmosis dapat melalui kotoran kucing yang terinfeksi toxoplasma, daging atau telur yang dimasak setengah matang dan melalui plasenta ibu pada janinnya. 8. Menganjurkan pada ibu untuk memakai sarung tangan jika hendak berkebun 9. Mempersiapkan dan membantu ibu dalam pemindahan ke pusat perawatan tersier.

VII

Evaluasi

21

Tanggal : 18 Maret 2009 Jam S : 12.30 WIB : - ibu mengatakan sudah mengerti tentang penjelasan dari bidan - ibu bersedia untuk dirujuk ke RS O : - ibu bisa kooperatif. - ibu dapat mengulang kembali penjelasan yang disampaikan oleh bidan. - Ibu dengan kesadarannya berssedia dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan tersier A : G1P00000, UK 37-38 minggu, hidup, tunggal, letak kepala, intra uterine, kesan jalan lahir normal, Keadaan ibu baik, janin IUGR dengan toxoplasma P : Mengantar ibu ke tempat rujukan

BAB III

22

PENUTUP Kesimpulan Toxoplasmosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa toxoplasma gondii dan biasanya diderita oleh binatang herbivora, karnivora, omnivora termasuk mamalia dan burung. Parasit ini tersebar luas diseluruh dunia dan merupakan suatu antropozoonosis. Kucing dan binatang sejenisnya (fellidae) merupakan hospes definitive dari parasit ini sedangkan mamalia lainnya termasuk manusia dan burung merupakan hospes perantara. Infeksi terjadi bila tertelan ookista yang dikeluarkan bersama tinja kucing yang mencemari tanah atau makanan daging yang mengandung tropozoid/kista atau secara congenital infeksi dapat diturunkan oleh wanita hamil yang terinfeksi pada masa kehamilan. Insiden penyakit ini dilaporkan diberbagai Negara cukup tinggi dan ada hubungannya dengan pola makanan serta adanya hospes definitive, sedangkan khususnya di Indonesia belum ada yang pasti, namun penelitian tentang prevalensi zat anti toxoplasma pada manusia dan beberapa hewan sudah dapat dilaporkan. Sebagian besar penyakit ini asimtomatik dan bila ada gejalanya sama dengan penyakit lain sehingga diagnosis serologis sering dipakai sebagai patokan diagnosis penyakit ini. Sulphonamide dan pirimetamine merupakan kombinasi obat yang efektif terhadap toksoplasma. Pencegahan dengan cara hidup bersih dan makanan yang dimasak dengan baik dapat menurunkan insidensinya.

23