Anda di halaman 1dari 39

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab II ini akan dijelaskan tentang : A. Konsep Teori yang terdiri dari Kecemasan, Mahasiswa, Terapi Tertawa, dan Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Kecemasan; B. Kerangka Konseptual; dan C. Hipotesa Penelitian. A. Konsep Teori 1. Konsep Kecemasan a. Pengertian Kecemasan Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut tidak tentram disertai berbagai keluhan fisik. keadaan tersebut dapat terjadi dalam berbagai situasi kehidupan maupun gangguan sakit. Selain itu kecemasan dapat menimbulkan reaksi tubuh yang akan terjadi secara berulang, seperti rasa kosong diperut, sesak nafas, jantung berdebar, keringat banyak, sakit kepala, rasa keinginan buang air kecil dan buang air besar, perasaan ini disertai perasaan ingin bergerak untuk lari menghindari hal yang dicemaskan (Stuart dan Sundeen, 1998). Menurut Sigmund freud mengatakan bahwa kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang

sesuai. Kecemasan member sinyal kepada kita bahwa ada bahaya dan jika tidak dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu akan meningkatkan ego dikalahkan (Alwisol, 2005). Kecemasan adalah kondisi kejiwaan yang penuh dengan ke khawatiran dan ketakutan akan apa yang mungkin terjadi, baik berkaitan dengan permasalahan yang terbatas dan hal hal yang aneh (Az-zahrani, 2005). Kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup (Kaplan, Sadock, dan Grebb, 1994 dalam Fausiah 2007). Menurut pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa

kecemasan adalah reaksi emosional yang timbul oleh sebab yang tidak spesifik yang dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan merasa terancam. Keadaan emosi ini biasanya merupakan pengalaman individu yang subyektif yang tidak diketahui secara khusus penyebabnya. Cemas berbeda dengan takut, seseorang yang

mengalami kecemasan tidak dapat mengidentifikasi ancaman. Cemas dapat terjadi rasa takut namun ketakutan tidak terjadi tanpa kecemasan. b. Teori Kecemasan Menurut Stuart dan Sundeen (1998) teoriyang dikembangkan untuk menjelaskan terjadinya kecemasan adalah : 1) Faktor predisposisi

a) Teori psikoanalitik Menurut pandangan psikoanalitik, kecemasan

terjadi karena adanya konflik yang terjadi antara emosional elemen kepribadian yaitu id, ego, dan super ego. Id mewakili insting, super ego mewakili hati nurani, sedangkan ego mewakili konflik yang terjadi anatara kedua elemen yang bertentangan. Dan timbulnya merupakan upaya dalam memberikan bahaya pada elemen ego. b) Teori interpersonal Menurut timbul dari pandangan takut interpersonal, terhadap kecemasan adanya

perasaan

tidak

penerimaan dan penolakan interpersonal. Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti

perpisahan dan kehilangan, yang menim,bulkan kelemahan spesifik. Orang dengan harga diri rendah mudah mengalami perkembangan kecemasan yang berat. c) Teori perilaku Berdasarkan teori perilaku, kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pakar perilaku menganggap kecemasan sebagai suatu dorongan untuk belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari kepedihan.

10

d) Teori keluarga Intensitas cemas yang dialami oleh inidividu kemungkinan memiliki dasar genetik. Orang tua yang memiliki gangguan cemas tampaknya memiliki resiko tinggi untuk memiliki anak dengan gangguan cemas. Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan kecemasan

merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. e) Teori perspektif biologis Kajian biologi menunjukkan bahwa otak

mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepines. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. Penghambat asam aminobutirik-gamma neroregulator

(GABA) dan endorphin juga memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan

kecemasan. f) Teori ketidak seimbangan kimia Menurut teori biologis, gejala gangguan panik dapat dikaitkan dengan ketidak seimbangan kimia di otak. Alami utusan kimia, dikenal sebagai neurotransmitter yang mengirim seluruh informasi ke otak. Otak manusia diperkirakan memiliki ratusan jenis berbeda

neurotransmitter, dan teori teori biologi menunjukkan bahwa seseorang dapat menjadi lebih rentan untuk

11

mengembangkan gejala gangguan panik jika satu atau lebih neurotransmitter ini tidak seimbang, Neurotransmiter ini meliputi serotonin, dopamine, norepinefrin, dan gamma-aminobutyric acid (GABA) secara khusus diyakini terkait gangguan mood dan kecemasan. Neurotransmitter ini bertanggung jawab

mengatur berbagai fungsi tubuh dan emosi. Pertama serotonin adalah neurotransmitter yang sebagian besar terkait dengan suasana hati, tidur, nafsu makan dan fungsi pengatur lain dalam tubuh. Para ahli telah menemukan bahwa penurunan kadar serotonin yang terhubung ke depresi dan kecemasan. Neurotransmiter dopamine juga dapat menyebabkan gejala. Pengaruh dopamine, antara fungsi lainnya, tingkat energy seseorang,perhatian,penghargaan dan gerakan yang dapat menyebabkan gejala kecemasan jika tidak seimbang. Norepinefrin juga terkait dengan kecemasan karena melibatkan respon fight or flight, atau bagaimana seseorang bereaksi terhadap stress. Terakhir GABA berperan dalam menyeimbangkan kegembiraan atau agitasi dan perasaan tenang dan relaksasi 2) Faktor presipitasi a) Faktor eksternal

12

(1) Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidak mampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktifitas hidup sehari hari (2) Ancaman terhadap system diri seseorang dapat

membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi sosial yang terintegritas. b) Faktor internal (1) Usia, seseorang yang mempunyai usia lebih muda ternyata lebih mudah mengalami gangguan kecemasan daripada seseorang yang lebih tua umurnya (2) Jenis kelamin, gangguan panik merupakan gagasan cemas yang ditandai dengan kecemasan yang spontan. Perempuan memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki laki. Dikarenakan wanita lebih peka terhadap emosinya, yang pada akhirnya peka juga terhadap perasaan cemasnya. Perbedaan ini bukan hanya dipengaruhi oleh faktor emosi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor kognitif. Wanita cenderung melihat hidup atau peristiwa yang dialaminya dari segi detail, sedangkan laki laki cara berfikirnya cenderung global atau tidak detail. Individu yang melihat lebih detail akan juga lebih mudah dirundung oleh kecemasan karena informasi yang di

13

miliki lebih banyak dan itu akhirnya bisa benar benar menekan perasaannya. (3) Tipe kepribadian, orang yang berkepribadian A lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan

daripada orang dengan kepribadian B. Adapun ciri- ciri orang dengan kepribadian A adalah tidak sabar, pendiam, ambisius, ingin serba sempurna, merasa diburu waktu, mudah gelisah, tidak dapat tenang, mudah tersinggung, otot- otot mudah tegang. Sedang orang dengan tipe kepribadian B mempunyai ciri- ciri berlawanan dengan tipe kepribadian A. Karena tipe keribadian B adalah orang yang penyabar, teliti, mudah bergaul,tenang, bekerja keras dan rutinitas. (4) Lingkungan dan situasi, seseorang yang berada dilingkungan asing ternyata lebih mudah mengalami kecemasan dibandingkan bila berada di lingkungan yang biasa ditempati. Selain faktor faktor diatas tersebut, Ervita (laporan sarasehan, 2000) mengungkapkan faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan pada mahasisiwa yang sedang mengerjakan skripsi, antara lain : 1) Faktor eksternal a) Mahasiswa tidak jelas mengenai topik yang akan diteliti.

14

b) Mempunyai kekhawatiran terjadinya hambatan penelitian. c) Tidak terbiasa dalam menulis skripsi. d) Kurang paham terhadap metodologi. e) Keterbatasan penguasaan bahasa asing. f) Biaya penelitian dan pembuatan skripsi yang mahal. g) Terbatas dan sulitnya mencari literatur. 2) Faktor internal a) Malas, tampaknya ini merupakan momok terbesar dalam menyelesaikan skripsi. Hal ini dapat berkaitan dengan pemilihan judul yang tidak sesuai. b) Bosan atau jenuh, kejunahan dalam mengerjakan skripsi serimng terjadi, hal ini dikarenakan mahasiswa harus mengulang bab yang sama sehingga menimbulkan

keengganan untuk menyelesaikannya. c) Keengganan untuk bertemu dosen pembimbing, mahasiswa yang tidak antusias dalam mengerjakan skripsi dapat mengyebabkan dosen untuk memeriksa skripsi mahasiswa tersebut dan dosen pembimbing menjadi acuh. d) Kurangnya motivasi diri, motivasi dari dalam diri harus ditumbuhkan dan dipelihara. Hal ini sebenarnya merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam menyelesaikan skripsi.

15

e) Pesimis, pesimis dengan kata lain adalah berfikir negatif. Mahasiswa yang berfikir negatif mudah putus asa, dan tidak berusaha untuk mencapai hasil yang terbaik dari keadaan terburuk, sehingga mahasiswa tidak dapat

menghadapi hambatan - hambatan dalam membuat skripsi.

c. Tingkat kecemasan Tarwoto dan Wartonah (2004) membagi kecemasan menjadi 4 tingkat, yaitu : 1) Kecemasan ringan Kecemasan ini biasanya dengan ketegangan dalam kehidupan sehari hari dan menyebabkan remaja menjadi waspada serta meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreatifitas. Respon cemas ringan seperti sesekali

bernafaspendek, nadi dan tekanan darah naik, bibir gemetar,

16

lapang

persepsi

meluas,

kurangnya

konsentrasi

pada

penyelesaian masalah, dan tidak dapat duduk dengan tenang. 2) Kecemasan sedang Pada tingkat ini lahan persepsi terhadap masalah menurun. Individu lebih memfokuskan hal hal yang penting saat itu dan mengesampingkan hal lain. Respon cemas sedang seperti : sering nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, mulut kering, anoreksia, gelisah, lapang pandang menyempit, rangsangan luar tidak mampu diterima, bicara banyak dan lebih cepat, susah tidur dan perasaan tidak enak. 3) Kecemasan berat Pada cemas berat lahan persepsi menjadi sempit. Seseorang cenderung memikirkan hal hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Seseorang tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan lebih banyak pengarahan atau tuntunan. Respon cemas berat seperti : nafas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat, berkeringat dan sakit kepala, penglihatan kabur, ketegangan, lapang persepsi sangat sempit, tidak mampu menyelesaikan masalah, bicara cepat, dan perasaan ancaman meningkat. 4) Panik

17

Pada tingkat panic dari kecemasan berhubungan dengan terpengaruh, ketakutan dan terror. Karena mengalami

kehilangan kendali, seseorang yang mengalami panic tidak mampu melakukan sesuatu walaupun pengan pengarahan. Panic menyebabkan peningkattan aktivitas motorik,

menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan kehidupan, dan jika berlangsung pada waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Stuart dan Sundeen, 1998). Respon panic seperti nafas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, sakit dada, pucat, hipotensi, lapang persepsi sangat sempit, tidak dapat berfikir logis, mengamuk, marah,ketakutan, berteriak teriak, kehilangan kendali, dan persepsi kacau (Tarwoto dan Wartonah, 2004).

d. Rentang respon kecemasan

Respon adaptif

Respon maladaptif

18

antisipasi

Ringan

Sedang

Berat

Panik

Gambar 2.1 Rentang Respon Kecemasan (Stuart dan Sundeen, 1998)

e. Faktor yang mempengaruhi respon kecemasan Menurut Rasmun (2004), kemampuan individu dalam

merespon kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : 1) Sifat stresor Sifat stressor dapat berubah secara tiba tiba atau berangsur angsur dan dapat mempengaruhi seseorang dalam menghadapi seseorang. 2) Jumlah stressor yang bersamaan Pada waktu yang sama terdapat jumlah stresor yang harus dihadapi bersama. Semakin banyak stresor yang dialami seseorang, semakin besar dampaknya bagi fungsi tubuh sehingga jika terjadi stresor yang kecil dapat mengakibatkan reaksi yang berlebihan. kecemasan tergantung mekanisme koping

3) Lama stresor Memanjangnya stresor dapat menyebabkan

menurunnya kemampuan individu mengalami stress, karena

19

individu sudah kehabisan tenaga untuk menghadapi stresor tersebut. 4) Pengalaman masa lalu Pengalaman masa lalu individu dalam menghadap kecemasan dapat mempengaruhi individu ketika menghadapi stresor yang sama karena individu memiliki kemampuan beradaptasi atau mekanisme koping yang lebih baik, sehingga tingkat kecemasan pun akan berbeda dan dapat menunjukan tingkat kecemasan yang lebih ringan. 5) Tingkat perkembangan Tingkat perkembangan inidividu dapat membentuk kemampuan adaptasi yang semakin baik terhadap stresor yang berbeda sehingga resiko terjadinya stress dan kecemasan akan berbeda pula. f. Respon terhadap kecemasan Menurut Stuart dan Sundeen (1998) respon kecemasan diklasifikasikan menjadi 4 respon antara lain : 1) Respon fisiologis a) Kardiovaskuler meliputi : papitasi, jantung berdebar, tekanan darah meninggi, rasa mau pingsan, pingsan, denyut nadi menurun.

20

b) Pernafasan meliputi : nafas cepat, nafas pendek, tekanan pada dada, pembengkakan pada tenggorok, sensasi tercekik, terengah engah c) Neuromuskuler, meliputi : ttremor, insomnia, reflek meningkat, reaksi kejutan mata berkedip kedip. Gelisah, wajah tegang, kaki goyah, kelemahan umum. d) Gastrointestinal, meliputi : kehilangan nafsu makan, menolak makan, mual, diare, rasa tidak nyaman pada abdomen. e) Traktus urinarius, meliputi : tidak dapat menahan kencing, sering berkemih. f) Kulit, meliputi : wajah kemerahan, berkeringat pada telapak tangan, gatal, rasa panas dan rasa dingin pada kulit, wajah pucat. 2) Respon perilaku Respon perilaku terhadap kecemasan meliputi : gelisah, ketegangan fisik, tremor gugup, bicara cepat, kurang

koordinasi, menarik diri dari hubungan personal, melarikan diri dari masalah, dan menghindari. 3) Respon kognitif

21

Respon kognitif terhadap kecemasan meliputi : perhatian terganggu, konsentrasi buruk, pelupa, salah dalam memberikan penilaian, hambatan berfikir, bidang persepsi menurun, bingung, takut cedera, dan kematian. 4) Respon afektif Respon afektif kecemasan meliputi : mudah terganggu, tidak sabar, gelisah tegang, nervus, ketakutan, teror, dan gugup. g. Pengukuran kecemasan Kecemasan dapat diukur dengan skala HARS ( Hamilton Anxiety Rating Scale ). Skala HARS merupakan pengukuran

kecemasan yang didasarkan pada munculnya symptom pada individu yang mengalami kecemasan. Skala HARS digunakan pertama kali pada tahun 1959, yang diperkenalkan oleh Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standart dalam pengukuran kecemasan terutama pada penelirian trial clinic. Skala Hars telah dibuktikan memiliki validitas dan reliabelitas cukup tinggi untuk melakukan pengukuran pada penelitian trial clinic yaitu 0,93 dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran kecemasan dengan menggunakan skala HARS akan diperoleh hasil yang valid dan reliable. Skala HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) yang dikutip Nursalam (2008) penilaian kecemasan terdiri dan 14 item, meliputi:

22

1) Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah tersinggung. 2) Ketegangan merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan lesu. 3) Ketakutan: takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila tinggal sendiri dan takut pada binatang besar. 4) Gangguan tidur: sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak pulas dan mimpi buruk. 5) Gangguan kecerdasan: penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit konsentrasi. 6) Perasaan depresi: hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari. 7) Gejala somatik: nyeri pada otot-otot dan kaku, gertakan gigi, suara tidak stabil dan kedutan otot. 8) Gejala sensorik: perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka merah dan pucat serta merasa lemah. 9) Gejala kardiovaskuler: takikardi, nyeri di dada, denyut nadi mengeras dan detak jantung hilang sekejap. 10) Gejala pernapasan: rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering menarik napas panjang dan merasa napas pendek.

23

11) Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun, mual dan muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, perasaan panas di perut. 12) Gejala urogenital: sering kencing, tidak dapat menahan kencing, aminorea, ereksi lemah atau impotensi. 13) Gejala vegetatif: mulut kering, mudah berkeringat, muka merah, bulu roma berdiri, pusing atau sakit kepala. 14) Perilaku sewaktu wawancara: gelisah, jari-jari gemetar,

mengkerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan napas pendek dan cepat. Cara penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan kategori: 0 = tidak ada gejala sama sekali 1 = Satu dari gejala yang ada 2 = Sedang/ separuh dari gejala yang ada 3 = berat/lebih dari gejala yang ada 4 = sangat berat semua gejala ada Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan item 1- 14 dengan hasil: a. Skor kurang dari 6 = tidak ada kecemasan.

24

b. Skor 7 14 = kecemasan ringan. c. Skur 15 27 = kecemasan sedang. d. Skor lebih dari 27 = kecemasan berat. 2. Konsep Mahasiswa a. Pengertian mahasiswa Mahasiswa dalam peraturan pemerintah RI No.30 1990 adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. b. Kewajiban dan hak mahasiswa 1) Kewajiban mahasiswa, antara lain : a) Menuntut ilmu. b) Menguasai ilmu dengan sungguh sungguh agar menjadi seorang yang berguna yang mengaplikasikan atau

mengembangkan disiplin ilmunya bagi lingkungan tempat dimana ia tinggal. c) Mematuhi peraturan yang berlaku, sebuah peraturan yang tidak menyimpang dari ketetapan hukum hukum Allah dan nilai nilai, norma norma yang ada. d) Mahasiswa juga harus memainkan peranan penting sebagai pencetus perubahan dab revolusi.

25

e) selain itu mahasiswa jugas wajib melaksanakan Tridharma Mahasiswa yaitu : (1) Melakukan penelitian. (2) Pengabdian. (3) Pengajaran yang diawali dengan proses belajar yang sungguh sungguh. 2) Berbicara tentang kewajiban mahasiswa juga berhak mendapatkan hak yang diterimanya, yaitu : a) Mendapatkan perlakuan yang sama dari pendidik tanpa memandang status sosial dari mahasiswa tersebut, apakah mahasiswa tersebut dari kalangan menengah atau darikalangan menengah ke bawah. b) Mendapatkan ilmu, menerima dan dapat menggunakan sarana prasarana yang ada. c) Mengemukakan aspirasinya tetap dengan sopan. d) Mendapat pencerahan agama sebagai penyeimbang dalam menjalani kehidupan.

3. Konsep Terapi Tertawa

26

a. Pengertian terapi tertawa Terapi tertawa adalah suatu terapi untuk mencapai

kegembiraan di dalam hati yang dikeluarkan melalui mulut dalam suara tawa, atau senyuman yang menghiasi wajah , perasaan hati yang lepas dan gembira, dada yang lapang, peredaran darah yang lancar sehingga dapat mencegah penyakit dan memelihara kesehatan. Tertawa juga bisa merangsang dan menambah pelepasan hormon endorphin di dalam tubuh manusia yang merupakan hormon gembira di dalam tubuh (Adnol,2009). Terapi Tawa merupakan metode terapi dengan menggunakan humor dan tawa dalam rangka membantu individu menyelesaikan masalah mereka, baik dalam bentuk gangguan fisik maupun gangguan mental Penggunaan tawa dalam terapi akan menghasilkan perasan lega pada individu. Ini disebabkan tawa secara alami menghasilkan pereda stres dan rasa sakit . Terapi tawa modern terjadi sekitar tahun 1930-an, dimana beberapa rumah sakit mengundang badut untuk menghibur anak-anak penderita polio. Tahun 1964, Norman Cousins menerbitkan Anatomy of an Illness yang mendokumentasikan kasus nyata tentang dampak positif penggunaan humor terhadap penyakit. Pada waktu itu, Norman Cousins didiagnosa menderita Cousins Ankylosing Spondylitis, yaitu sebuah penyakit mematikan yang meyebabkan disintegrasi pada jaringan spinalis. Para dokter memberikan prognosis kesembuhan pada

27

Cousin sebesar 1 dibanding 500 kasus. Menghadapi tipisnya angka peluang untuk sembuh, Cousins memutuskan untuk melakukan terapi humor untuk menghibur dirinya sendiri. Dalam pelaksanaannya, Cousins menemukan bahwa 15 menit tertawa terbahak-bahak dapat menghasilkan tidur tanpa rasa sakit selama 2 jam. Sampel darah juga menunjukkan bahwa tingkat penyebaran penyakit telah menurun setelah menjalani terapi humor. Pada akhirnya, Cousins benar-benar sembuh dari penyakitnya. Selanjutnya, dia menuliskan pengalaman tersebut pada buku Anatomy of an Illness (Holistic online, 2005). b. Konsep dasar terapi tertawa Saat kita berbahagia, secara alamiah kita banyak tersenyum dan tertawa. Kita tidak sadar membuat diri kita terlihat dan merasa riang. Saat suasana hati kita baik, raut muka kita secara alami mencerminkan jiwa kita yang riang. Saat kita merasa murung, secara alami kita terlihat murung dan muram. Dengan kata lain, kita lebih dulu merasa bahagia, atau sedih dan raut muka yang tepat akan muncul sendiri. Dari penelitian mutakhir soal ini tampaknya juga benar bahwa jika memaksa munculnya raut tertentu pada kita, maka pikiran dan tubuh kita akan menanggapinya, dan secara biokimia akan mengenalinya. Jika kita merasa sedih karena alasan tertentu, dan diminta tersenyum, ekspresi bahagia kita benar-benar akan membuat perasaan kita menjadi lebih baik, sebab ia mempengaruhi hormonhormon yang mengalir dalam sistem tubuh (Hodkinson, 1991).

28

Waynabaum yang dikutip oleh Lewis et al (2004) menyebutkan bahwa otot-otot muka bekerja seperti penjepit pembuluh darah yang mengatur aliran darah ke otak. Aliran darah pada gilirannya memengaruhi perasaan kita. Teori yang ia kembangkan menyatakan bahwa emosi seringkali mengikuti ekpresi wajah, bukan

mendahuluinya. Waynbaum mengajukan hipotesa bahwa segala tanggapan emosi yang tampak, seperti merona, terisak-isak, menangis, dan seterusnya berkaitan dengan proses-proses vaskuler (pembuluh darah). Menagis dan tertawa mempengaruhi sirkulasi darah, terutama melalui kerja diafragma. Waynbaum berpendapat bahwa semua reaksi emosi, entah positif atau negatif, mempengaruhi sirkulasi dan bahwa ekspresi wajah memainkan peran penting dalam proses ini. Waynbaum bertanya, mengapa tersenyum dan tertawa selalu dikaitkan dengan kegembiraan dan sukacita? Ia menduga bahwa peningkatan aliran darah ke otak yang merupakan akibat fisologis dari tersenyum dan tertawa terkait dengan kesehatan tubuh dan suasana hati yang positif. Sebaliknya, suasana hati dan ekpresi tertekan menghasilkan penurunan aliran darah ke otak. Pada gilirannya hal ini dapat mengakibatkan penyakit fisik yang sebenarnya. Jadi, orang dengan wajah terus menerus terlihat murung menyebabkan penurunan aliran darah ke otak secara permanen. Artinya, otaknya tidak mendapat gizi yang memadai dan tidak bekerja pada taraf yang optimum (Plutchik, 2002).

29

Otot zigomatik berkaitan erat dengan senyum dan kebahagiaan. Menurut teori Waynbaum ini, otot ini secara langsung mengakibatkan darah mengalir di seluruh otak. Pembuluh vena dipenuhi darah, dan hal ini sendiri telah meringankan perasaan dan membuat merasa senang (Plutchik, 2002). Dalam bukunya, Waynbaum mengajukan gagasan bahwa tertawa merupakan tindakan yang sehat karena peningkatan sirkulasi itu bersifat baik. Tertawa itu seperti mandi oksigen sel-sel dan jaringan mendapat tambahan oksigen sehingga orang merasa lebih segar. Sebaliknya, merasa dan berprilaku murung mengakibatkan pengurangan oksigen dalam darah sehingga sel-sel kekurangan oksigen. Sel-sel darah menjadi lapar dan kosong, menghasilkan depresi, kecemasan, dan kemarahan (Plutchik, 2002). Mengomentari teori Waynbaum ini, Zajonc menyatakan bahwa darah arteri berdampak mendinginkan otak. Kemungkinan besar suhu otak mempengaruhi neurotransmiter yakni hormon-hormon yang membawa keadaan emosi dan perasaan keseluruh bagian tubuh. Kemungkinan besar saat kita merasa sedih, dan aliran darah ke otak terhambat, maka ini juga melemahkan proses pelepasan dan sintesis neurotransmiter yang penting (Hodgkinson, 1991). Saat otak dialiri darah beroksigen tinggi dengan baik, maka ia akan bekerja lebih baik ketimbang saat ia kekurangan oksigen. Yang lebih penting lagi, penyakit adalah hasil ketidakselarasan dalam tubuh.

30

Lebih dari masuk akal dikatakan bahwa kita akan cenderung merasa sedih dan sakit jika jumlah darah ke otak membuat otak tidak dapat bekerja secara optimal (Hodgkinson, 1991). Otak mengingat sesuatu untuk kurun waktu yang sangat lama dan agak mustahil ia sepenuhnya lupa hal-hal yang pernah ia alami. Jadi, jika Anda mencoba tersenyum saat anda merasa sedih, otak akan mengingat bahwa di masa lalu ekpresi ini berkaitan dengan kebahgiaan, dan akan segera menanggapinya dengan cara melepaskan neurotransmiter-neurotransmiter yang tepat. Hasilnya kita akan menjadi lebih berbahagia dan merasa lebih positif (Plutchik, 2002). Hasil-hasil penelitian ilmiah terbaru memperlihatkan bahwa kebahagiaan bukan hanya terletak dalam pikiran, tetapi terkandung dalam otot-otot dan hormon kita. Tindakan menggerakkan otot-otot wajah membentuk ekspresi yang berkaitan dengan kesukacitaan dapat menghasilkan efek positif yang berdampak besar pada sistem saraf. Paul Ekman, peneliti utama dalam bidang ini, meyakini bahwa mekanika gerakan otot-otot wajah sangat berkaitan dengan sistem saraf otonom, yang mengatur denyut jantung, pernapasan, dan fungsi-fungsi yang tidak bisa dikendalikan secara sadar. c. Fisiologi tawa Aspek-aspek emosi, termasuk tertawa, diatur oleh pusat emosi di dalam struktur otak yang dinamakan sistem limbic (limbic sistem). Sistem limbic berasal dari kata limbus yang berarti batas.

31

Nama ini dipilih karena menunjukkan daerah fungsional yang dibatasi. Daerah itu sendiri dibentuk oleh beberapa komponen otak, antara lain hippocampus, gyrus limbic, dan amiygdale. Sistem limbic ini memainkan peranan dalam mengatur emosi manusia (Aswin, 2005. Pasiak, 2004). Sistem limbik yang juga berhubungan dengan aspek-aspek tingkah laku tertentu ini bentuknya seperti lingkaran sehingga oleh seorang ahli bernama Papez dinamai lingkaran bergema. Papez menemukan hal ini karena ketika intinya dirusak, orang yang bersangkutan menunjukkan suatu emosi yang tidak tepat atau kacau. Artinya, secara tidak sengaja orang ini bisa mudah marah, tetapi gampang pula tertawa terbahak-bahak meskipun tidak lucu. Itu karena lingkaran yang juga merupakan pusat emosi manusia itu terputus. Kalau salah satu bagian dari lingkaran ini rusak, memori orang itu juga akan hilang. Hal ini terjadi pada orang yang sudah pikun. Sementara itu, Ekman dan Friesen (1984, dalam Hasanat, 1996) membagi wajah ke dalam tiga bagian (a) alis/dahi (b) mata/kelopak mata, pangkal hidung dan (c) wajah bagian bawah yaitu bibir, mulut, sebagian besar hidung, dagu, pembagian ini didasarkan fakta bahwa daerah ini secara motorik tidak saling tergantung. Menurut Ekman dan Friesen (1984, dalam Hasanat, 1996) ekpresi wajah bahagia tampak pada ekpresi senyum yang ditunjukkan pada:

32

1) Sudut bibir tertarik kebelakang dan tertarik ke atas 2) Bibir merapat atau meregang dengan gigi terlihat atau tidak 3) Ada kerutan turun dari hidung sampai sudut luar bibir 4) Pipi terangkat 5) Ada kerutan dibawah kelopak mata bagian bawah 6) Ada kerutan disudut luar mata. Selanjutnya Ekman dan Friesen (1984, dalam Hasanat, 1996) mengatakan bahwa dalam ekspresi bahagia biasanya mata terlihat bersinar. Intensitas bahagia terutama ditentukan oleh posisi bibir. Apabila sudut bibir semakin kebalakang dan keatas disertai dengan kerutan naso labial, dan kerutan dibawah kelopak mata bagian bawah, maka ekspresi bahagia semakin kuat. d. Kelebihan dan kekurangan terapi tertawa Sebagai terapi dengan pendekatan yang holistik, terapi tawa tidak terlepas dari adanya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan terapi tawa adalah, antara lain (Ariana, 2006). 1) Terapi tawa merupakan terapi yang tidak membutuhkan banyak peralatan. Terapi ini dapat dilakukan dengan menggunakan media VCD, majalah, televisi, atau tidak menggunakan peralatan sama sekali, yaitu dengan saling berbagi cerita lucu dengan orang lain.

33

2) Terapi tawa tidak memiliki batasan ruang dan waktu dalam pelaksanaannya. Ini dapat diterapkan di kamar, kelas, maupun ruangan terbuka. 3) Terapi tawa tidak menuntut kehadiran seorang terapis profesional dan dapat diterapkan secara mandiri oleh individu atau kelompok yang menginginkanya. 4) Terapi tawa dapat dilakukan dalam kelompok maupun individual. Namun, untuk mendapatkan manfaat yang lebih banyak, biasanya cenderung dilakukan dalam kelompok kecil. 5) Tidak ada ketentuan mengenai materi yang digunakan sebagai stimulus humor. Masing-masing individu bebas memilih jenis humor sesuai dengan minat dan keinginannya. Selain kelebihan-kelebihan di atas, penggunaan tawa dalam terapi tawa juga memiliki beberapa keterbatasan yang menjadi kekurangannya sebagai sebuah intervensi kesehatan, antara lain: 1) Terapi humor tidak dapat diterapkan pada individu dengan beberapa gangguan kesehatan, seperti hernia, wasir parah, penyakit jantung dengan sesak napas, pasca operasi, peranakan turun, kehamilan, serangan pilek dan flu, tuberkulosis, dan komplikasi mata (Kataria, 2004). Hal ini dikarenakan produksi tawa dikhawatirkan akan mengganggu proses penyembuhan serta dapat menularkan beberapa penyakit tertentu bila dilakukan dalam kelompok. Namun, kekurangan ini dapat dikendalikan jika

34

individu yang bergabung dapat menguasai dirinya sendiri, sehingga tidak melakukan aktifitas tertawa yang berlebihan selama sesi terapi berlangsung. 2) Faktor lain yang dapat menjadi penghalang keberhasilan terapi tawa adalah tingkat dan jenis sense of humor. Sense of humor adalah bagaimana seseorang mempersepsikan sebuah stimulus sebagai stimulasi humor sehingga dapat menghasilkan tawa. Tingkat sense of humor mengacu kepada seberapa sering seseorang mempersepsikan humor sebagai sebuah stimulus untuk

menghasilkan tawa; sedangkan jenis sense of humor mengacu kepada jenis humor apa yang paling dapat membuat seseorang tertawa. Menurut penelitian Hartanti (2002) hanya orang-orang dengan tingkat dan jenis sense of humor tertentu yang mampu merespon stimulasi humor sesuai dengan yang diharapkan. e. Indikasi dan kontra indikasi terapi tertawa Terapi tawa adalah terapi yang sangat ringan dan tidak membatasi usia, setiap orang bsa melakukannya. Disamping

mempunyai manfaat besar, terapi juga mengandung sejumlah potensi bahaya. Potensi ini dilarang untuk dilakukan oleh mereka yang mempunyai beberapa jenis penyakit dan problem. 1) Indikasi Terapi tawa merupakan teknik yang mudah dilakukan, tetapi efeknya sangat luar biasa, bahkan dapat menyembuhkan

35

pasien dengan gangguan mental akibat stres berat. Humor dalam bentuk tertawa dalam dunia medis, merupakan obat mujarab gangguan stres, atau gangguan penyakit lainnya. Orang yang mudah tertawa, akan lebih cepat sembuh dari sakitnya, daripada mereka yang banyak mengeluh, apalagi menangis. Tertawa membuat otak menekan kita untuk melakukan dua hal yang simultan. Pertama adalah visual, yaitu gerakan muka khusus. Yang kedua, adalah phonic, yaitu mengeluarkan bunyi tertentu. Selama tertawa, ada banyak perubahan dalam bagian tubuh termasuk tangan, kaki dan otot. Tertawa membantu melepaskan emosi dan ketegangan. Orang sering menyimpan emosi dari pada mengeluarkannya saat marah, takut, sedih, stres atau bosan. Tertawa merupakan cara lain untuk menemukan jalan keluar dari ketegangan-ketegangan tersebut. Pada saat tertawa, lima belas otot muka berkontraksi dan mendapatkan rangsangan efektif pada sebagian besar otot mulut. Bahkan dalam keadaan tertentu, pembuluh air mata terangsang sehingga selagi mulut terbuka dan tertutup, ada suatu dorongan untuk mengisap udara yang cukup, sehingga muka memerah dan mata berair. Dari banyak pengalaman, telah terbukti bahwa tertawa merupakan "mesin terbaik" untuk menghilangkan stres. Penelitian medis menunjukkan adanya pengaruh psikologi pada tertawa

36

terhadap kesehatan. Rasa humor akan masuk dengan mudah "mengobati" sakit, tekanan hidup sehari-hari, stres, atau rasa penat setelah bekerja. Rasa humor dapat secara dramatis mengubah kualitas dan pandangan hidup kita. Rasa humor merupakan suatu cara yang mudah untuk mengenali perasaan, dan mengontrolnya dalam situasi sulit.

Beberapa dampak psikologi tertawa terhadap tubuh, adalah sebagai berikut (Simanungkalit, & Pasaribu, 2007) a) Mengurangi stress atau cemas Tertawa akan mengurangi tingkat stres tertentu dan menumbuhkan hormon penyeimbang yang dihasilkan saat stres. Dalam keadaaan stres, akan dihasilkan hormon yang menekan sistem kekebalan, sehingga meningkatkan jumlah platelet (sesuatu yang dapat menyebabkan gangguan dalam arteri) dan

meningkatkan tekanan darah. Dengan tertawa, hormon stres dapat diimbangi sampai tingkat tertentu. b) Meningkatkan kekebalan

37

Tertawa dapat meningkatkan sistem kekebalan karena tertawa pada dasarnya membawa keseimbangan pada semua komponen dalam sistem kekebalan tubuh. c) Menurunkan tekanan darah tinggi Tertawa dapat meningkatkan aliran darah dan oksigen dalam darah, yang dapat membantu

pernapasan. d) Mencegah penyakit Tertawa dipercaya mampu mencegah penyakit, seperti penyakit jantung, karena marah dan takut yang merupakan emosi penyebab serangan jantung dapat diatasi dengan tertawa. Karena tertawa itu sehat, tertawalah selagi kita masih bisa tertawa, tetapi tentu saja tertawa yang ada sebabnya. Secara lebih khusus manfaat terapi tawa untuk anak-anak dapat dirumuskan sebagai berikut (Kataria, 2004): a) Sesi tawa rutin akan meningkatkan pasokan oksigen untuk memperbaiki fungsi mental dan prestasi akademis mereka b) Sesi tawa akan mengurangi stress saat ujian. Bahkan sebelum memasuki ruang ujian, mereka perlu dibuat tertawa selama sekitar sepuluh menit untuk mengurangi kecemasan

38

c)

Terapi tawa akan meningkatkan stamina dan kapasitas pernapasan untuk membantu mereka unggul dalam kegiatan olahraga. syaraf Kegiatan sebelum ini akan sangat olahraga

mengendurkan kompetitif.

kegiatan

d) Terapi tawa akan meningkatkan kadar relaksasi dan mengurangi kegugupan serta demam panggung. Hal ini juga membantu anak-anak menjadi lebih terbuka dan mengembangkan rasa percaya diri e) Mereka akan lebih jarang terserang penyakit batuk, pilek, infeksi kerongkongan dan pernapasan, karena tawa membantu meningkatkan kekebalan tubuh yang baik melawan semua infeksi. f) Jika pengambilan nafas dalam-dalam ala yoga dipraktekkan di antara latihan tawa, hal ini akan membantu mengembangkan stabilitas mental mereka. Jika sikap keceriaan menjadi cara hidup, mereka akan mempunyai sikap yang positif dalam menghadapi saatsaat sulit. Tawa juga akan membantu mereka

meningkatkan kemampuan kreatif mereka. g) Terapi tawa akan meningkatkan kemampuan kreativitas, intelektual, emosional dan juga sosialisasi anak ketika berada lingkunangan rumah dan disekolah (Mc. Ghee, 2006)

39

2) Kontra Indikasi Tertawa adalah terapi yang sangat ringan dan tidak membatasi usia, walaupun begitu, terapi ini dilarang untuk dilakukan oleh mereka yang mempunyai beberapa jenis penyakit dan problem. Pelarangan melakukan tawa ini dikarenakan dikawatirkan berakibat buruk pada penyakitnya. Mereka yang dilarang untuk melakukan terapi humor ini adalah (Simanungkalit & Pasaribu, 2007). Tabel 2.1 Kontra indikasi terapi tertawa Kontra Indikasi Penderita penyakit wasir Rasionalisasi Berbahaya karena otot di sekitar pinggul dan perut mendapat tekanan lebih berat sehingga Penderita penyakit hernia dikhawatirkan memperparah

penyakit wasir Hal ini dapat memperparah penyakit hernia karena membutuhkan kerja keras otot dan kemungkinan isi perut akan

Penderita penyakit jantung

menonjol di sekitar saluran selangkangan. Memacu denyut jantung bekerja lebih cepat, sehingga dikhawatirkan berakibat

fatal. Penderita sesak nafas Mengganggu pernapasan Baru selesai melakukan Jahitan opersinya akan terlepas, apalagi operasi Sedang hamil yang melakukan operasi besar atau perus Mengakibatkan kontraksi dan bisa terjadi keguguran.

40

Peranakan turun Penyakit TBC Penyakit flu Penyakit pilek Komplikasi mata (glaukoma)

Menurunkan tali ligamen yang menopang peranakan menjadi lemah. Bibit-bibit penyakitnya akan menular kepada orang lain sekitarnya Bibit flu akan menyebar dan penderita flu sebaiknya istirahat saja. Akan menularkan bibi-bibit virusnya kepada orang lain. Akan meningkatkan tekanan pada bola mata karena bendungan aliran cairan mata melalui terusan Schlemm dalam pembuluh balik semakin meningkat,

mencekungnya pupil saraf mata, dan bisa berakibat pada kebutaan.

f. Prosedur terapi tertawa 1) Lakukan pemanasan dengan cara menghirup napas melalui hidung, tahan napas selama 15 detik dengan pernapasan perut. Lalu hembuskan secara perlahan melalui mulut. Lakukan lima kali berturut-turut. 2) Diusahakan ada seorang pemandu yang memimpin jalannya terapi. Pertama perawat mengemukakan pada kelompok bahwa terapi akan dimulai. Perawat kemudian tertawa lebar (haa haa haa) dengan membuka mulut kira kira 30, sudut bibir tertarik keatas dan tertarik kebelakang, kemudian pipi terangkat, ada kerutan dibawah kelopak mata dan disudut luar mata dan diikuti oleh

41

anggota kelompok. Gerakan pemandu hendaknya luwes atau tidak kaku. Tertawa ini bisa berlangsung selama 15 detik.

3) Setelah 5 menit, kembali tertawa (dengan menyuarakan hii hii hii) sudut bibir tertarik kebelakang dan ke atas, bibir meregang dengan gigi terlihat, ada kerutan dibawah kelopak mata dan disudut luar mata.

4) Bila kurang kompak, lakukan kembali dengan menyuarakan (huu huu huu) dengan memajukan bibir kedepan.

42

5) Terapi tertawa hendaknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Siang merupakan waktu yang kurang baik untuk terapi tertawa. Lakukan sehari 1 kali dan 3 kali seminggu. (Setyoadi, 2011)

4. Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Kecemasan Tertawa terbukti dapat menurunkan kecemasan karena dengan tertawa bisa merangsang dan menumbuhkan hormone endorphin didalam tubuh yang merupakan hormon gembira didalam tubuh sehingga dapat memperbaiki suasana hati. Tertawa juga dapat membentuk pola berfikir yang positif. Dengan tertawa akan merelaksasikan otot otot yang tegang. Selain itu tertawa juga bisa melebarkan pembuluh darah sehingga memperlancar aliran darah keseluruh tubuh. Disamping itu tertawa juga berperan menurunkan kadar hormone stress epinephrine dan kortisol

sehingga dapat menurunkan kecemasan atau stress (Tarigan, 2009).

43

B. Kerangka Konseptual
Mahasiswa Hipotalamus menghasilkan corticotropin relaxing factor (CRF) Faktor faktor yang menyebabkan kecemasan : Menurut Stuart dan Sundeen (1998). a. Faktor predisposisi. 1) Psikoanalitik. 2) Interpersonal. 3) Perilaku. kecemasan CRF merangsang kelenjar pituitary untuk meningkatkan produksi Merangsang endorphin Hormone norepinefrin turun Merespon relaksasi pada saraf otonom System limbic menjadi seimbang Pengaturan system emosi menjadi seimbang

Terapi tertawa

44

b. Faktor presipitasi. 1) Usia. 2) Jenis kelamin.

Tidak cemas

Cemas ringan

Cemas sedang

Cemas berat

Mekanisme koping mahasiswa menjadi adaptif

Mahasiswa dapat menyelesaikan skripsi

Keterangan :
: Yang diteliti : Yang tidak diteliti

Gambar 2.2 : Kerangka konseptual Pengaruh terapi tertawa terhadap kecemasan mahasiswa prodi sarjawa keperawatan semester VII dalam menghadapi skripsi di Stikes Satrtia Bhakti Nganjuk

C. Hipotesa Penelitian

45

Hipotesa adalah suatu asumsi tentang hubungan antara dua atau lebih variabel yang diharapkan menjawab pertanyaan dalam riset (Nursalam, 2008). Ha : Ada Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Kecemasan Mahasiswa Prodi Sarjana Keperawatan Semester VII Dalam Menghadapi Skripsi di Stikes Satria Bhakti Nganjuk.