Anda di halaman 1dari 3

Cushings Disease Cushings disease atau hiperadrenokortisme atau hiperkortisolisme adalah suatu kondisi kelainan endokrin yang disebabkan

oleh kandungan kortisol yang berlebihan pada darah. Kortisol adalah hormon yang berpotensi sebagai anti-inflamatori yang memiliki efek imunosupresi. Penyebab utama cushings disease dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu (1) hiperadrenokortisme akibat aktifitas kelenjar hipofise yang berlebihan, (2) akibat tumor adrenokortikal dan (3) akibat induksi obat yang biasa diberikan kepada he an sebagai tindakan terapi (kondisi ini disebut sebagai iatrogeni!). "ekitar #$% cushings disease disebabkan oleh akti&itas kelenjar hipofise yang berlebihan. Kelenjar hipofise adalah kelenjar sebesar ka!ang yang terletak pada otak yang menghasilkan hormon '()*. +ilamana kelenjar hipofise memproduksi hormon '()* se!ara berlebihan maka akan menimbulkan reaksi umpan balik negatif yaitu menstimulasi kelenjar adrenal untuk memproduksi kortisol dalam jumlah yang berlebihan pula. *al inilah yang menyebabkan kondisi hiperadrenokortisme. Penyebab kedua dari hiperadrenokortisme adalah tumor pada kelenjar adrenal, meskipun $,% dari tumor tersebut bersifat jinak (benign). +erbeda dengan 2 penyebab lainnya, iatrogenic hiperadrenokortisme terjadi akibat penggunaan preparat kortikosteroid sebagai medikasi pada berbagai kasus penyakit. 'dapun !ontoh-!ontoh dari preparat kortikosteroid yang sering digunakan adalah glukokortikoid seperti Dexamethasone, Prednisone dan derivat-derivatnya. -mumnya preparat-preparat tersebut digunakan untuk pengobatan kelainan pada kulit, peradangan, atau obat yang diberikan dengan tujuan menurunkan sistem kekebalan tubuh setelah transplantasi organ. "eringkali kasus hiperadrenokortisme terjadi akibat pemberian kortikosteroid yang kontinyu dalam jangka aktu yang !ukup lama dan lebih sering terjadi pada pasien dengan pengobatan harian dibandingkan dengan pasien yang menerima terapi kortikosteroid setiap .# jam sekali, juga sering terjadi pada pasien dengan pengobatan injeksi preparat kortikosteroid dengan frekuensi lebih dari 1

kali/bulan. Kadar kortisol yang berlebihan pada tubuh tersebut selanjutnya memberikan sinyal ke kelenjar adrenal untuk mengurangi produksi kortisol normalnya, sehingga dalam jangka panjang berakibat menge!ilnya ukuran kelenjar adrenal. 0ejala klinis yang nampak diantaranya adalah makan-minum berlebihan, polyuria, keadaan !epat lelah, pot-bellied abdomen (bentuk abdomen seperti mengenakan ikat pinggang1 terjadi pembesaran hanya pada bagian perut dan menge!il pada bagian pinggang), serta infeksi kronis lain. 0ejala-gejala tersebut bukan merupakan gejala yang spesifik pada pasien hiperadrenokortisme dan oleh karenanya maka teman-teman praktisi harus melakukan beberapa tes laboratorium sebagai tindakan konfirmasi terhadap diagnosa penyakit dan sekaligus mendeteksi penyebab utama penyakit tersebut. "alah satu gejala spesifik yang terjadi pada pasien adalah ketika dirasakan sulit mengontrol kadar insulin pada pasien penderita diabetes. Ketika dosis insulin untuk maintenance sulit sekali ditetapkan, maka terdapat kemungkinan bah a pasien tersebut menderita cushings disease. )est laboratorium se!ara rutin tidak begitu membantu dalam mendiagnosa !ushing2s disease. 3amun, tes-tes tersebut dapat memberikan petunjuk kemungkinan terjadinya !ushing2s disease dan sebagai !ontoh adalah kadar alkalin phosphatase yang tinggi. 4alam mendiagnosa cushings disease diperlukan tes khusus. Pada pasien tersedia beberapa pilihan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. "aat ini ahli endokrinologi !enderung melakukan tes menggunakan tes supresi de5amethasone dosis rendah (low dose dexamethasone suppression test/LDSS ). "elain itu perbandingan kadar kortisol6 kreatinin pada urin juga dapat berguna sebagai screening test terhadap cushings disease meskipun dinilai kurang akurat untuk dijadikan sebagai dasar penentuan treatment. Keakuratan dari tes-tes yang dilakukan sangat diperlukan untuk mempertimbangkan sensitifitas dan spesifisitas dalam terapi. 74"" dinilai 8$% sensitif namun hanya 9,% spesifik. Kadar kortisol6 kreatinin pada urin dinilai kurang lebih 8,% sensitif namun memiliki spesifisitas rendah.

)erapi Pengobatan terhadap penderita cushings disease didasarkan pada usaha untuk menormalkan kembali kadar kortisol tanpa menyebabkan kondisi defisiensi kortisol yang tentunya memberikan efek negatif terhadap kesehatan. Pada kasus iatrogenic cushings disease, terapi dilakukan dengan pemberian kortisol se!ara perlahan dan pemberiannya harus se!ara hati-hati mengingat bilamana kelenjar adrenal belum siap akan penggantian kortisol dari sumber lainnya maka dapat menyebabkan pasien muntah, diare, kolaps pembuluh darah bahkan kematian. Prognosa terhadap cushings disease ber&ariasi, tergantung tipe penyakit yang diderita pasien. Pada kasus tumor kelenjar adrenal, tindakan bedah (adrenalectomy) dapat mengatasi tumor yang belum menyebar. 3amun bilamana telah terjadi penyebaran sel tumor kelenjar adrenal maka prognosa yang lebih buruk dapat terjadi (pada kasus tumor ganas). Cushings disease akibat aktifitas kelenjar hipofise yang berlebihan memiliki prognosa yang baik dalam jangka disease dalam jangka aktu singkat, namun demikian penderita cushings aktu yang lama memiliki predisposisi terhadap penyakit-penyakit

lain seperti diabetes mellitus, infeksi saluran urin, penyakit ginjal, hipertensi, dan pankreatitis. Penderita iatrogenic cushings disease memiliki prognosa yang baik bilamana substitusi kortisol yang sesuai tetap terjaga dengan baik. -mumnya, terapi terhadap penderita cushings disease diberikan dalam jangka senantiasa melakukan monitoring terhadap kadar kortisol tubuh. aktu !ukup lama dengan