Anda di halaman 1dari 100

Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan

Provinsi Sumatera Utara), 2007.


USU Repository 2009

PERAN PPNS DALAM MENANGGULANGI
TINDAK PIDANA
ILLEGAL LOGGING
(Studi di Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara)

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan dan Melengkapi Tugas-Tugas
Dalam Rangka Memperoleh Gelar
Sarjana Hukum

Oleh :

OBRIKA SIMBOLON
NIM. 030200151
BAGIAN HUKUM PIDANA























FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2007
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

PERAN PPNS DALAM MENANGGULANGI
TINDAK PIDANA
ILLEGAL LOGGING
(Studi di Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara)

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan dan Melengkapi Tugas-Tugas
Dalam Rangka Memperoleh Gelar
Sarjana Hukum

Oleh :

OBRIKA SIMBOLON
NIM. 030200151
BAGIAN HUKUM PIDANA


Disetujui oleh :

Ketua Bagian Hukum Pidana




NIP. 131 842 854
(Abul Khair, SH, Mhum)


Pembimbing I Pembimbing II




(Tambah Sembiring SH.) (Berlin Nainggolan SH.,M.Hum.)





FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
20007
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

KATA PENGANTAR


Segala puji dan syukur penulis haturkan kepada Dia yang punya kuasa atas
segala hidup manusia di bumi, Tuhan Yesus Kristus, atas segala berkat dan
penyertaannya kepada penulis sehingga di dalam penyelesaian skripsi ini penulis
dalam keadaan sehat.
Skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana
hukum pada Fakultas hukum Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan skripsi
ini, penulis menyadari terdapatnya kekurangan, namun dengan lapang dada penulis
menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang
menaruh perhatian terhadap skripsi ini.
Demi terwujudnya penyelesaian dan penyusunan skripsi ini, penulis
mengucapkan terima kasuh yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
banyak memberikan bantuan untuk memperoleh bahan-bahan yang dirlukan dalam
penulisan skripsi ini.
Pada kesempatan ini juga penulis mengucapkan terima kasih yanh sebesar-
besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., MHum., sebagai dekan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH., MH., sebagai Pembantu Dekan I Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus sebagai dosen wali.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

3. Bapak Syafruddin Hasibuan, SH., MH., sebagai Pembantu Dekan II Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara
4. Bapak M. Husni, SH., MH., sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara.
5. Bapak Abul Khair, SH., MHum., sebagai ketua bagian departemen Hukum
Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
6. Ibu Nurmalawaty, SH., MHum., sebagai sekretaris Departemen Hukum
Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
7. Bapak Tambah Sembiring, SH., sebagai Dosen Pembingbing I yang telah
bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan
pembuatan skripsi.
8. Bapak Berlin Nainggolan, SH., MHum., sebagai Dosen Pembimbing II yang
telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan
pembuatan skripsi.
9. Seluruh Staf Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang
telah mengajari dan memberikan ilmunya kepada penulis selama duduk di
bangku perkuliahan sampai dengan menyelesaikan skripsi ini.
10. Bapak Pudja, SH. selaku Penyidik Pegawai Negeri Sipil di kantor Dinas
Kehutanan Provinsi Sumatera Utara.
11. Teristimewa kepada Ayahanda Drs. Osmar Simbolon dan Ibunda R. br.
Sitepu, SPd., dengan segala kerendahan hati ku presembahkan karya
sederhana ini. Treima kasih buat doa, kasih saying,erta dukungannya, baik
moril maupun materil yang tiada hentinya mengalir dicurahkan kepada
penulis. Tak lupa buat adik-adik ku, Florikana br. Simbolon, Yulisriana br.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Simbolon dan Michael Simbolon, terima kasih buat doa dan kasih sayangnya
selama ini.
12. Teman-teman stambuk 2003, terima kasih buat dukungannya selama ini.
13. Trima kasih buat adik-adik stambuk 2004, 2005, 2006, dan 2007, terima
kasih buat dukungannya.
14. Buat kawan-kawan GmnI komisariat Fakultas Hukum USU, KMK St.
Fidelis Fakultas Hukum, dan PERMAHI Cabang Medan.
15. Pada pihak-pihak lain yang telah memberkan bantuan kepada penulis untuk
Menyusun skripsi ini, namun tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari apa yang penulis sajikan dalam skripsi ini masih jauh dari
sempurna, kaena masih banyak ditemui tutur kata yang tidak pada tempatnya
serta bobot ilmiah yang masih jauh dari yang diharapkan karena keterbatasan
ilmu yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis mengharapkan petunjuk dan
saran dari pembaca semua.
Akhir kata penulis berharap semoga karya sederhana ini dapat berguna bagi kita
semua. Serta dapat memberikan gambaran dan menambah wawasan tentang
permasalahan yang penulis bahas serta dapat menambah refrensi bagi pihak-
pihak yang berkepentingan dalam mengatasi permasalahan yang penulis angkat
dalam penelitian ini.
Medan, 1 September 2007
Penulis


OBRIKA SIMBOLON
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... iv
ABSTRAKSI..................................................................................................................... vi
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................................... 1
B. Perumusan Masalah ............................................................................................... 4
C. Tujuan Penulisan.................................................................................................... 4
D. Manfaat Penuisan ................................................................................................... 5
E. Keaslian Penulisan ................................................................................................. 6
F. Tinjauan kepustakaan ............................................................................................. 6
G. Metode penelitian................................................................................................... 24
H. Sistematika Penulisan............................................................................................. 26
BAB II : PERSPEKTIF HUKUM INDONESIA TENTANG TINDAK PIDANA
ILLEGAL LOGGING
A. Peraturan mengenai Tindak Pidana Illegal Logging di Indonesia ........................... 28
B. Proses Penyidikan Tindak Pidana Illegal Logging ................................................. 42
C. Faktor-ni yang mempengaruhi Tindak Pidana Illegal Logging ............................. 48
BAB III : PERAN PPNS DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA
ILLEGAL LOGGING
A. Peran PPNS dalam Tindak Pidana Illegal Logging ................................................. 57
B. Hubungan antara PPNS dan Penyidik Polri ............................................................ 66
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

C. Pelaku dan modus perandi tindak pidana llegal logging .......................................... 71
BAB IV : KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI PPNS
A. Kendala yang dihadapi PPNS dalam penanggulangan Tindak Pidana Illegal
Logging ................................................................................................................. 75
B. Upaya-upaya yang dilakukan ................................................................................ 84
BAB IV : PENUTUP
A. Kesimpulan. ........................................................................................................... 92
B. Saran . .................................................................................................................... 95

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN













Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

ABSTRAK

Pembalakan hutan di Indonesia menjadi salah satu kejahatan yang berat dan
sulit di berantas. Hutan yang berfungsi sebagai sakah satu penentu penentu system
penyangga kehidupan. Keadaannya sekarang cenderung menurun kelestariannya.
Oleh karena itu pemerintah berusaha mengadakan pengaturan-pengaturan hukum
terhadap penebangan liar (illegal logging) yang dilakukan orang-orang yang tidak
bertanggungjawab. Untuk itu diperlukan adanya pengawasan hutan secara terpadu
sehingga dapat meminimalkan kerusakan yang terjadi.
Dalam skripsi ini penulis mengangkat persoalan bagaimana peran Penyidik Pegawai
Negri Sipil dalam pemberantasantindak pidana illegal logging, dan apa-pa saja
kendala yang dihadapi oleh Penyidik Pegawai Negri SIpil dalam usaha
pemberantasan tindak pidana illegal logging, serta upaya-upaya yang dilakukan
untuk pemberantasan tindak pidana illegal logging.
Penelitian ini dilakukandengan cara penelitian lapangan dengan studi kepustakaan,
yaitu dengan melakukan penelusuran terhadap buku-buku literature-literatur yang
berkaitan dengan tindak pidana llegal logging juga melakkan wawancara secara
langsung dngan pihk-pihak yang terkait dengan pihak-pihak yang terkait dengan
penyidik PNS dengan menggunakan data di atas pada Bab Pembahasan dijelaskan
dan diuraikan hasil-hasil penelitian melalui data primer dan sekunder yang
kemudian di seleksi serta dianalisa sedangkan data yang diperoleh di lapangan di
edit sehingga diperoleh suatu kesimpulan sebagai jawaban dari permaslahan yang
dibahas yaiu mengenai peran Penyidik PNS.
UU No. 41 Tahun 1999 merupakan upaya untuk menanggulangi tindak pidana
illegal logging akan tetapi perkembangan selanjutnya menunjukkan bagaimana
variatifnya modus operandi tindak pidana illegal logging. Dalam proses penyidikan
terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana illegal logging maka tunduk
kepada UU No.41 Tahun yang tidak terlepas dengan ketentuan-ketentuan yang
diatur dalam KUHAP
Peran Penyidik PNS bidang kehutanan dalam tindak pidana illegal logging lebih
efektif dalam melakukan penyidikan terhadap tindak pidana illegal loging hal ini
disebabkan karena keterbatasan yang selalu dihadapi Polri Khususnya keterbatasan
personil di bidang penyidik dan keterbatasan di bidang pengetahuan di bidang
tertentu yang menyebabkan Polri tidak mampu menangani semua tindak pidana
yang terjadi.
Dan berdasarkan penelitian yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa.
Kendala-kendala yang dihadapi Penyidik PNS dalam penanggulangan tindak pidana
illegal logging secara umum adalah : lemahnya koordinasi antar penegak hukum,
pelaku utama (actor intelektual) yang sulit ditembus oleh hukum, adanya otonomi
daerah, kurangnya sarana dan sarana dan prasarana, dan keterbatasan dana.
Bahwa supaya peangulangan tindak pidana illegal logging adalah dengan
mningkatkan pemberantasan illegal logging di seluruh Indonesia, mempersiapkan
aparatur penegak hukum baik dari segi kualitas maupun kuantitas dan
memberlakukan peraturan tentang hutan sebaik-baiknya.

Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Negara Indonesia merupakan negara yang subur akan kekayaan alam yamg
terkandung di dalamnya. Di Indonesia hutan terancam kekayaan alamnya baik itu
dari alam ataupun dari tangan manusia itu sendiri. Untuk itu pemerintah melakukan
pengelolaan sumber daya hutan sebagai ekosistem secara adil, demokratis, efisien,
dan profesional guna menjamin keterlanjutan fungsi dan manfaatnya untuk
kesejahteraan bagi masyarakat.
Kerusakan hutan di berbagai belahan bumi sudah terjadi sejak pecahnya
perang Dunia I memasuki abad teknologi industri di Prancis dan Inggris. Di Negara
berkembang, kersakan hutan tampak makin mencemaska dengan pesatnya daya
pengelolaan hutan yang tidak diikuti dengan norma-norma yang tela ditetapkan
secara yuridis.
1
Persoalan yang paling mencolok di bidang kehutanan adalah marakanya
praktek pembalakan liar atau illegal logging. Penebangan liar (illegal logging)
nyatanya hingga saat ini masih hampir terjadi di seluruh dunia, namun yang paling
parah justru banyak dilakukan di kawasan Asia pasifik, khususnya di Negara-negara
Amerika latin, Benua Afrika, dan ASEAN yang keadaanya makin hari semakin
mengkhawatirkan. Diduga illegal logging yang menghancurkan jutaan hektare hutan
hujan tropis ini, diatur oleh semacam sindikat yang terkoordinasi rapi hingga pihak
berwajib pun sulit untuk membongkarnya.


1
Zain,Alam Setia, Hukum Lingkungan Konservasi Hutan. Penerbit Rineka cipta, 1997, hal 14
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Menghadapi kenyataan seperti ini diperlukan langkah-langkah pengamanan
yang efisien dan sefektif mungkin, dengan cara pengamanan hutan oleh Polri dan
masyarakat serta seluruh komponen bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab
bersama dalam menjaga dan memelihara keamanan dalam negri termasuk keamanan
hutan
Lahirnya Undang-Undang no. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan sebagai
dasar penegakan hukum terhadap aksi illegal logging di Indonesia memang
dirasakan belum maksimal. Polri sebagai institusi yang bertugas melakukan
penyelidikan dan penyidikan terhadap suatu tindak pidana masih banyak mengalami
hambatan dan keterbatasan dalam pelaksanaan tugas-tugasnya.
Penyidikan tindak pidana di bidang kehutanan merupakan salah satu bentuk
penyidikan yang dilakukan oleh Pejabat Pegawai Negri Sipil. Penyidikan ini
dimaksudkan untuk melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau yang
berkenaan laporan atau keterangan berkenaan tindak pidana di bidang illegal
logging.
Dalam melakukan tugasnya penyidik di bidang tindak pidana kehutanan
selaku penyidik Pegawai Negri Sipil harus berlandaskan kepada Undang-Undang
No.41 Tahun 1999 tentang kehutanan dan KUHAP. Selanjutnya berdasarkan pasal 7
ayat (2) KUHAp dinyatakan adanya koordinasi dan pengawasan oleh penyidik Polri.
Pada hakekatnya penyidikan tindak pidana di bidang kehutanan merupakan
salah satu upaya untuk menegakkan ketentuan peraturan perundang-undangan
kehutanan. Penyidikan merupakan tindak lanjut dari pemeriksaan bukti permulaan
yang diinstruksikan untuk disidik.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Penyidik menurut pasal 1 huruf 1 KUHAP adalah Polisi NegaraRepublik
Indonesia Atau Pejabat Pegawai Negri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus
oleh Undang-undang untuk melakukan penyidikan. Keberadaan Penyidik Pegawai
Negri Sipil didorong oleh suatu kebutuhan akan aparat penegak hukum di bidang
tertentu yang disebabkan perkembanagan dewasa ini. Keberadaan Penyidik Pegawai
Negri Sipil secara implisit diatur di dalam pasal 6 ayat 1 huruf b KUHAP dengan
wewenang sesuai yang ditetapkan dalam Undang-Undang yang menjadi dasar
hukumnya.
Keberadaan Penyidik Pegawai Negri Sipil dalam sistem peradilan pidana
berada dalam satu komponen yang sama dengan Polri sehingga oleh karenanya
KUHAP mengatur pula bahwa di dalam pelaksanaan tugas penyidikan Pegawai
Negri Sipil berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik Polri. Hal ini
sesuai denganm ketentuan Pasal 6 ayat (2) KUHAP yang menyebutkan bahwa
penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat(1) huruf b mempunyai
wewenang sesuai dengan Undang-Undang yang menjadi dasar hukumnya masing-
masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan
pengawasan penyidik tersebut dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a.
Hal ini disebabkan karena keterbatasan yang selalu dihadapi Polri khususnya
keterbatasan personil di bidang penyidik, dan keterbatasan pengetahuan di bidang
tertentu menyebabkan Polri tidak mampu menangani semua tindak pidana yang
terjadi. Meskipun kewenangannya selaku penyidik umum memungkinkan Polri
menjangkau semua jenis tindak pidana.
Dengan keberadaan Penyidik Pegawai Negri Sipil tersebut, maka tindak
pidana tertentu yang terjadi di luar KUHP telah ada organ yang menanganinya,
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

termasuk tindak pidana di bidang kehutanan yang penyidikannya dan
penanganannya dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negri Sipil.

B. PERMASALAHAN

Tindak pidana di bidang kehutanan seperti yang tercantum dalam Undang-
Undang 41 tahun 1999 bukan merupakan delik aduan. Oleh sebab itu Penyidik
dalam bidang kehutanan baik Polisi maupun Penyidik Pegawai Negri Sipil dapat
melakukan penyidikan baik setelah menerima laporan atau pengaduan maupun
belum menerima laporan dari masyarakat dan orang yang dirugikan.
Adapun permasalahan yang akan diangkat dalam skripsi ini, sebagai berikut :
1. bagaimana kinerja Penyidik Pegawai Negri Sipil dalam penanggulangan
tindak pidana illegal logging?
2. Bagaimana kendala-kendala Penyidik Pegawai Negri Sipil dalam
menanagani Tindak pidana illegal logging serta upaya yang dilakukan?

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun yang menjadi tujuan dari pembahasan skripsi ini adalah:
1. Untuk mengetahui peran Penyidik Pegawai Negri Sipil dalam
penanggulangan tindak pidana di bidang kehutanan khususnya illegal
logging.
2. untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi oleh Peyidik
Pegawai Negri Sipil dalam penanggulangan tindak pidana Illegal
logging.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

3. Untuk mengetahui upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk
menanggulangi tindak pidana di bidang illegal logging.

D. MANFAAT PENULISAN
Adapun yang menjadi manfaat dalam penulisan skripsi ini adalah:
1. secara toritis
diharapkan menjadi bahan untuk pengembangan wawasan dan untuk
memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, menambah dan melengkapi
perbendaharaan dan koleksi ilmiah serta memberikan kontribusi
pemikiran yang menyoroti dan membahas mengenai peran Penyidik
Pegawai Negri Sipil, yang diharapkan dapat memberikan sumbangan
bagi perkembanagan hukum pidana Indonesia.
2. Secara praktis
a. sebagai masukan atau pedoaman bagi aparat penegak hukum
maupun praktisi hukum dalam menentukan kebijakan untuk
menangani dan menyelesaikan perkara-perkara tindak pidana illegal
logging khususnya
b. Memberikan sumbangan pikiran dan kajian tentang peran Penyidik,
terutama Penyidik Pegawai Negri Sipil di bidang kehutanan.
c. Memberikan sumbangan pemikian bagi masyarakat khususnya
memberikan informasi ilmiah mengenai wewenang penyidik di
bidang tindak pidana kehutanan.

E. KEASLIAN PENULISAN
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Skripsi ini berjudul Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana
Illegal Logging
Penulisan ini dilakukan oleh peneliti dimulai dengan mengumpulkan bahan-
bahan yang berkaitan dengan tindak pidana illegal logging, baik melalui literatur
yang diperoleh dari perpustakaan maupun media cetak maupun elektronik dan di
samping itu juga diadakan penelitian. Dan sehubungan degan keaslian judul skripsi
ini, pada saat penulis menulis skripsi ini belum ada judul yang sama, walaupun ada
judul yang berbicara tentang illegal logging namun judul dan objek pembahasan
yang dibicarakan tidak sama.
Bila di kemudian hari ternyata terdapat judul yang sama atau telah ditulis
oleh orang lain dalam bentuk skripsi, maka hal itu menjadi tanggung jawab penulis
sepenuhnya.
F. TINJAUAN KEPUSTAKAAN
1. Peyidikan
1.1 Pengertian Penyidikan
Sebelum sampai pada tahap Penyidikan terhadap suatu peristiwa yang
daianggap sebagai tindak pidana terlebih dahulu harus dilakukan suatu proses yang
disebut penyelidikan. Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk
mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna
menentukan dapat tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam
Undang-Undang ini (Pasal 1 angka 5 KUHAP).
Dengan kata lain penyelidikan tersebut dilakukan untuk menentukan dapat atau
tidaknya dilakukan penyidikan terhadap suatu peristiwa yang dianggap sebagai
tindak pidana. Sedangkan yang berwenang melakukan penyelidikan adalah setiap
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia (POLRI) seperti yang termuat dlam pasal
4 KUHAP.
Pada tahap penyelidikan ini penyelidik berusaha atas inisiatif sendiri
menemukan peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana adalah benar merupakan
tindak pidana sehingga dapat diproses lebih lanjut. Berita Acara Penyelidikan dan
melaporkannya kepada Penyidik untuk diproses lebih lanjut. Berita Acara
Penyelidikan ini akan dijadikan Penyidik sebagai dasar dalam rangka proses
Penyidikan. Terutama dalam menentukan tindakan-tindakan apa yang diperlukan
untuk mencari dan mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan sehingga menjadi
jelas tindak pidananya (criminal act) dan siapa pelaku yang akan bertanggung jawab
terhadap tindak pidana yang terjadi tersebut.(criminal responsibility)
2
1) Penyidik adalah :
.
Dalam pasal 1 angka1 KUHAP dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan penyidik
adalah Pejabat Polisi Negara atau Pejabat Pegawai Negri Sipil tertentu yang diberi
wewenang khusus oleh Undang-Undang untuk melakukan penyidikan. Dalam
pelaksanaanya lebih lanjut pada Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun
1983 tentang pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana menentukan
bahwa:
a. pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertenti sekurang-kurangnya
berpangkat Pembantu Letnan Dua Polisi.
b. Pejabat Pegawai Negri Sipil tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat
Pengatur Muda Tingkat I (golongan II/b) atau yang disamakan dengan itu.
2) dalam hal di suatu tempat sektor Kepolisian tidak ada Pejabat Penyidik
sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a, maka Komandan Sektor Kepolisian
yang berpangkat di bawah Pembantu Letnan Dua Polisi karena jabatannya
adalah Penyidik

2
Djoko Prakoso,Eksistensi Jaksa Di Tengah-Tengah Masyarakat, Ghalia Indonesia, Jakarta Timur,
1985,hal 48
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, ditunjuk oleh kepala
Kepolisian Republik Indonesia sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
4) Wewenang peunjuk sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat
dilimpahkan kepada Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai
peraturan perundangan yang berlaku.
5) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, diangkat oleh
mentri atas usul dari Departemen yang membawahkan Pegawai Negri
tersebut. Mentri sebelum melaksanakan pengangkatan terlebih dahulu
mendengar pertimbangan J aksa Agung dan Kepolisian Republik Indonesia.
6) Wewenang Pengangkatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dapat
dilimpahkan kepada pejabat yang ditunjuk oleh Mentri
3

Berdasarkan Pasal 6 ayat (1) jo Pasal 1 angka 1 KUHAP ada dua badan yang
berhak dan berwenang melakukan penyidikan yaitu:
.
a. Pejabat Polisi Negara republik Indonesia
b. Pejabat Pegawai Negri Sipil tertentu yang diberi wewenang
khusus oleh Undang-Undang.
Namun selain kedua penyidik di atas ada dikenal juga penyidik perwira TNI-
AL dan kewenangan melakukan penyidikan oleh Kejaksaan terhadap tindak pidana
khusus sepertiTindak Pidana Ekonomi, Tindak Pidana Subversi, dan Tindak Pidana
Korupsi. Hal ini didasarkan pada Pasal 284 ayat (2) KUHAP yang menyatkan bahwa
dalam dua tahunsetelah berlakunya KUHAP masih diberi wewenang untuk
melakukan penyidikan.
4
Dari uraian di atas dapat kita lihat bahwa Polisi memiliki tugas ganda yaitu
selain dibebanitugas sebagai Penyidik, polisi juga dibebani tugas sebagai seorang
penyidik. Dari Pengertian Penyelidikan dan Peyidikan yang tercantum dalam
KUHAP menunjukkan bahwa antara Penyelidikan dan Penyidikan adalah
merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dan saling menunjang


3
M.Yahya Harahap,Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Penyidikan dan Penuntutan,
Sinar Grafika, Jakarta, 2000, hal 97
4
IGM Nurjana,dkk,Korupsi dan Illegal Logging DAlam Sistem Desentralisasi, Penerbit Pustaka
Pelajar, Yogyakarta,2005,cetakan I,hal 131.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

antara satu dengan yang lain. Proses Penyelidikan yang baik dan benar sesuai
dengan ketentuan yang berlaku akan memperlancar proses Penyidikan terhadap
suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana.
Di samping pejabat Penyidik sebagaimana dimaksud Pasal 6 KUHAP, dalam
Pasal 10 KUHAP ditentukan pula tentang pejabat Penyidik pembantu. Sesuai
dengan ketentuan Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1983, ditentukan
penyidik pembantu adalah :
1) Penyidik Pembantu adalah:
a. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurang-kurangnya
berpangkat Sersan Dua Polisi. (Serda).
b. Pejabat Pegawai Negri Sipil tertentu dalam Lingkungan Kepolisian Negara
Republik Indonesia atas usul Komandan atau Pimpinan Kesatuan Masing-
masing.
c. Wewenang pengangkatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat
dilimpahkan kepada Pejabat Kepolisian Negara Reublik Indonesia sesuai
dengan peraturan perundangan yang berlaku.
5


Dengan demikian istilah Kepolisian Sebagai Penyidik Tunggal tidaklah tepat
dan idak lebih tepat lagi bila istilah tersebut dihubungkan dengan ketentuan Pasal 17
Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1983 yang menyatakan : Penyidikan
menurut ketentuan khusus acara pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 284 ayat
2 KUHAP dilaksanakan oleh penyidik yang berwenang lainnya
6
1.2 kewenanagan penyidikan

Dari pengertian penyidikan yang tercantum dalam pasal 1 angka 2 KUHAP:

Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang
diatur dalam Undang-Undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang
dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna
menemukan tersangkanya

Dari rumusan pengertian penyidikan di atas maka tugas utama penyidik adalah :

5
M. Yahya Harahap, Op.Cit,hal.98
6
Ibid, hal.102
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

a. Mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti-bukti tersebut
membuat terang tindak pidana yang terjadi.
b. Menemukan tersangka
Demi tercapainya tugas utama penyidik diberikan kewenangan-kewenangan dalam
melaksanakan kewajibannya yang diatur dalam pasal 7 KUHAP yaitu:

1) Penyidik sebagaimana dimaksud pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewjibannya
mempunyai wewenang
a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya
tindak pidana ;
b. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian ;
c. menyuruh berhenti seorang tersangka atau memeriksa tanda pengenal
diri tersangka;
d. melakukan penangkapan,penahanan,penggeledahan,dan penyitaan;
e. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
f. mengambil sidik jari dan memotret seseorang;
g. memanggil orang untuk didengar atau didengar dan diperiksa sebagai
tersangka atau saksi;
h. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubunganya dengan
pemeriksaan perkara;
i. mengadakan penghentian penyidikan;
j. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab.
2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai
wewenang sesuai dengan Undang-Undang Yang menjadi dasar hukumnya
masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi
dan pengawasan penyidik tersebut dalam pasal 6 ayat (1) huruf a.
3) Dealam melakukan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat
(2), penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku.

Secara umum hak seorang Penyidik pegawai Negri Sipil dengan Penyidik Polri
itu adalah sama, hanya saja ruang lingkup dan kewenangan masing-masing yang
berbeda. Kewenangan Penyidik Pegawai Negri Sipil itu terbatas pada kejahatan
tertentu dalam ruang lingkup tugas instansi di tempat pejabat tersebut berada.
Ketentuan mengenai penyidikan terhadap kejahatan di bidang kehutanan diatur
secara khusus dalam Pasal 77 UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan.
Dimana dalam pasal 77 ayat (1) UU No. 41 Tahun1999 dinyatakan bahwa:
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai
Negri Sipil tertentu yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya meliputi pengurusan
hutan, diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagai penyidik sebagaimana
yang dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
7
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan
yang berkenaan dengan tindak pidana yang menyangkut hutan,
kawasan hutan ,dan hasil hutan;


Pasal 77 ayat (1) UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan ini adalah merupakan
penjabaran dari Pasal 6 ayat(1) KUHAP. Dalam penjelasan Pasal 77 ayat (1) UU
No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan
Pejabat Pegawai Negri Sipil tertentu meliputi Pejabat Pegawai Negri Sipil di tingkat
pusat maupun tingkat daerah yag mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam
pengurusan hutan.
Mengenai kewenangan dari PPNS Kehutanan tersebut diatur dalam Pasal 77
ayat (2) UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagai bentuk penjabaran dari
Pasal 7 ayat (2) KUHAP yang menyatakan bahwa wewenang PPNS diatur dalam
Undang-Undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing.
Pasal 77 ayat (2) UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dinyatakan :
Pejabat Penyidik Pegawai Negri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berwenang untuk :
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan
tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil
hutan;
c. Memeriksa tanda pengenal seorang yang berada dalam kawasan
hutan atau wilayah hukumnya;
d. Melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak
pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan dan hasil
hutansesuai dengan peraturan perundangn yang berlaku;
e. Menerima keterangan dan barang bukti dari orang atau badan
huklum sehubungan dengan tindak pidana yang menyangkut
hutan kawasan hutan,dan hasil hutan;

7
Undang-Undang Kehutanan No.41 Tahun 1999, Penerbit Eko Jaya, Jakarta,2004.hal 92
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

f. Menangkap dan menahan dalam koordinasi dan pengawasan
penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana;
g. Membuat dan menendatangani berita acara;
h. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti
tentang adanya tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan
hutan dan hasil hutan.
8

Sedangkan mengenai kewenangan yang lainnya adalah berbeda. Perbedaan-
perbedaan itu ditemukan di dalam melakukan penahanan dan penangkapan.
Penyidik Pegawai Negri Sipil tertentu dikatakan sebagai seorang penyidik apabila
telah memenuhi syarat yang antara lain harus sehat jasmani dan rohani serta
sekurang-kurangnya berpangkat Pengatur Muda Tingkat I (II/b). setelah memenuhi
syarat-syarat tersebut maka penyidik tersebut haruslah mempunyai surat
pengangkatan dari Mentri Kehakiman atas usul Departemen yang membawahi
pejabat tersebut, dengan terlebih dahulu mendengar Jaksa Agung dan Kepala
Kepolisian Republik Indonesia.
Selain PPNS Kehutanan dalam UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
ada juga dikenal Polisi Hutan (polhut) yang bertugas melakukan perlindungan hutan
yang dahuklu dikenal dengan istilah jagawana. Mengenai kewenangan Polhut ini
diatur dalam Pasal 51 ayat (1) UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yaitu
disebutkan bahwa :
Untuk menjamin terselenggaranya perlindungan hutan, maka kepada
pejabat kehutanan tertentu sesuai dengan sifat pekerjaanya diberikan wewenang
kepolisin khusus.

Kewenangan Polisi Kehutanan (polhut) ini diatur dalam Pasal 51 ayat (2) UU
No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Yaitu:

8
Ibid, hal 92-93
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

a. mengadakan Patroli / perondaan di dalam kawasan hutan atau
wilayah hukumnya
b. memeriksa surat-surat atau dokumen yang berkaitan dengan
pengangkutan hasil hutan di dalam kawasan hutan atau wilayah
hukumnya;
c. menerima laporan tentang telah terjadinya tindak pidana yang
menyangkut hutan, kawasan hutan dan hasil hutan;
d. mencari keterangan dan baranag bukti terjadinya tindak pidana
yang menyangkut hutan, kawasan hutan dan hasil hutan;
e. dalam hal tertangkap tangan, wajib menangkap tersangka untuk
diserahkan kepada yang berwenang.
f. Membuat laporan dan menendatangani laporan tentang
terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan
hutan dan hasil hutan.
Bila dibandingkan dengan kewenangan penyidik yang dimuat dalam pasal 7
KUHAP, maka PPNS Kehutanan dan Polisi Hutan (Polhut) tidak mempunyai
kewenangan :
a. melakukan penangkapan dan penahanan
b. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat
c. mengambil sidik jari dan memotret seseorang
d. mendatangi seorang ahli
e. mengadakan tindakan lain yang menurut hukum bertanggungjawab.
Mengenai mekanisme tata kerja PPNS Kehutanan diatur juga secara khusus dalam
UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yaitu dimuat dalam Pasal 77 ayat (3) :
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Pejabat Pegawai Negri Sipil sebagaimana dimaksud ayat (1) memberitahukan
dimulainya penyidikandan menyerahkan hasil penyidikannya kepada Penuntut
Umum, sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

Bila kita perhatikan rumusan dari pasal 77 ayat (3) ini agak menyimpang dari apa
yang diatur dalam pasal 7 ayat (2) KUHAP menngenai mekanisme tat kerja PPNS.
Di dalam pasal 7 ayat (2) KUHAP dinyatakan bahwa dalam pelaksanaan tugasnya
PPNS berada di bawah pengawasan dan koordinasi penyidik Polri namun dalam
pasal 77 ayat (3) UU No. 41 Tahun 1999 secara tegas memberikan kewenangan
kepada PPNS kehutanan dalam melakukan penyidikan terhadap kasus-kasus
Kehutanan yang langsung diserahkan berkasnya kepada Penuntut Umum untuk
proses hukum lebih lanjut, ini berarti dapat dilakukan penyidikan tanpa koordinasi
dengan Polri. Tumpang tindihnya kebijakan ini akan membawa dampak negatif
yaitu akan muncul arogansi masing-masing penyidik yang diberi kewenangan oleh
Undang-Undang untuk melakukan perlindungan dan penanggulangan tindak pidana
di bidang kehutanan.
Selain Penyidik Polri dan Penyidik PPNS Kehutanan dan Polisi Hutan
(Polhut) penyidik perwira TNI-AL atas dasar kerjasama dengan departemen
kehutanana juga diberikan kewenangan dalam rangka peyidikan terhadap
penyeludupan kayu illlegal yang merupakan bagian dari kejahatan illegal logging
9
2 TINDAK PIDANA ILLEGAL LOGGING
.
Kondisi seperti ini tentu memungkinkan sekali terjadi tumpang tindih penyidikan
terhadap satu tersangka tindak pidana illegal loggiong masing-masing berjalan
sendiri-sendiri dan tidak terintegrasi ke dalam suatu lembaga penyidikan yang
terpadu sehingga berpotensi menciptakan konflik antar penyidik tersebut.

9
IGM Nurjana.dkk, Op Cit, hal 11
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

2.1 Pengertian tindak pidana
Pidana berasal dari Bahasa Belanda yaitu straf, yang kadang-kadang disebut
dengan istilah hukuman. Walaupun istilah pidana lebih tepat dari istilah hukuman,
karena hukum sudah lazim merupakan terjemahan dari recht.
Pidana dapat dikatakan sebagai suatu penderitaan yang sengaja dijatuhkan atau
diberikan oleh negara kepada seseorang atau beberapa orang sebagai akibat hukum
(sanksi) baginya atas perbuatannya yang telah melanggar larangan hukum pidana.
Istilah tindak pidana adalah berasal dari istilah asing terdapat di dalam hukum
pidana Belanda (WvS) yang dikenal dengan istilah stafbaarfeit, dimana seperti
kita ketahui bahwa WvS Hindia Belanda yangsekarang menjadi KUHP kita adalah
merupakan terjemahan dari WvS Belanda. Tetapi tidak ada penjelasan resmi
mengenai arti dan isi dari istilah tersebut, baik dalam WvS Belanda maupun dalam
WvS Hindia Belanda (KUHP). Tindak pidana adalah prilaku yang ada pada waktu
tertentu dalam konteks suatu budaya dianggap tidak dapat ditolerir dan harus
diperbaiki dengan mendayagunakan sarana-sarana yang disediakan oleh hukum.
10
1. Straf diterjemahkan sebagai pidana atau hukuman

Istilah stafbaarfeit ini terdiri dari (3) tiga kata yaitu :
2. Barr diterjemahkan sebagai dapat atau boleh
3. Feit diterjemahkan sebagai perbuatan
Jadi istilah Strafbaar feit secara etiomologi dapat diartikan sebagai perbuatan yang
dapat dipidana atau dihukum.

10
Jan Remelink, Hukum Pidana Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Undang-Undang Hukum
Pidana Belandadan Padanannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia, Penerbit Pt
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,2003, hal 61
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Istilah lain yang sering dipergunakan baik dalam perundang-undangan yang ada
maupun dalam berbagai literatur hukum sebagai terjemahan dari istilah strsfbaarfeit
adalah :
a. tindak pidana, yang merupakan istilah resmi dalam perundang-undangan
kita yang sering digunakan.
Peristiwa pidana, digunakan oleh beberapa ahli hukum. Peristiwa tidak
saja menunjuk pada perbuatan manusia, melainkan mencakup pada
seluruh kejadian yang tidak saja disebabkan oleh adanya perbuatan
manusia semata, tetapi juga oleh alam, seperti matinya seorang karena
disambar petir atau tertimbun tanah longsor yang tidak penting dalam
hukum pidana, baru menjadi penting dalam hukum pidana,apabila
kematian orang itu diakibatkan oleh perbuatan manusia baik aktif
maupun pasif. Tindak pidana menunjuk pada hal kelakuan manusia
dalam arti positif atau aktif. Perbuatan aktif maksudnya suatu bentuk
perbuatn untk mewujudkannya diperlukan atau disyaratkan adanya suatu
gerakan atau gerakan dari tubuh atau bagian dari tubuh manusia,
misalnya mengambil yang terdapat dalam Pasal 362 KUHP.
b. Delik, yang sebenarnya berasal dari bahasa latin delictum juga
digunakan untuk menggambarkan tentang apa yang dimaksud dengan
starfbaarfeit.
Delik merupakan perbuatan yang dapat dikenakan hukuman karena
merupakan pelanggaran terhadap undang-undang tindak pidana
11
c. Pelanggaran Pidana.
.

11
Leden Marpaung, Tindak Pidana Terhadap Hutan, Hasil Hutan dan Satwa, Erlangga,Jakarta,hal 9
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

d. Perbuatan yang boleh dihukum
e. Perbuatn yang dapat dihukum
f. Perbuatan Pidana
Karena tidak adanya penjelasan yang resmi mengenai arti dan isi dari
istilah straffbaarfeit tersebut maka beberapa ahli hukum berusaha memberikan
pendapat mereka mengenai defenisi dari istilah straffbaarfeit tersebut antara lain:
Pompe, ia merumuskan bahwa strafbaarfeit itu sebenarnya adalah titindak lain dari
pada suatu tindakan yang menurut suatu rumusan undang-undang telah dinyatakan
sebagai tindakan yang dapat dihukum.
12
Sedangkan R. Tresna merumuskan bahwa
peristiwa pidana itu adalah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia, yang
bertentangan dengan undang-undang atau peraturan perundang-undangan lainnya,
terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman.
13
1. Harus merupakan suatu perbuatan manusia
Dari rumusan defenisi
strafbaarfeit (tindak pidana) yang dikemukakan oleh beberapa ahli hukum maka
dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan strafbaarfeit (tindak pidana) adalah
perbuatan manusia yang dilarang oleh undang-undang ataupun peraturan perundang-
undangan lainnya yang berlaku dimana perbuatan tersebut diancam dengan
hukuman dan atas perbuatan tersebut dapat dipertanggungjawabkan oleh pelaku.
Jadi suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai tindak pidana apabila memenuhi
unsur-unsur sebagai berikut, yaitu:
2. Perbuatan tersebut dilarang dan diberi ancaman hukuman baik oleh
undang-undang maupun peraturan perundang-undangan lainnya.

12
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal 72
13
Ibid
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

3. Perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang dapat dipersalahkan
karena melakukan perbuatan tersebut. (Simon)
14
Dari sudut undang-undang adalah bagaimana kenyataan tindak pidana itu
dirumuskan menjadi tindak pidana tertentu dalam pasal-pasal peraturan perundang-
undangan yang ada. Dalam KUHP terdapat adanya beberapa unsur dari tindak
pidana, yaitu :

a. Unsur tingkah laku
b. Unsur melawan hukum
c. Unsur kesalahan
Di samping itu dalam ilmu hukum pidana dikenal beberapa jenis yindak pidana,
diantaranya adalah:
1. Menurut dari sistem KUHP, dibedakan antara kejahatan dan pelanggaran.
Kejahatan diatur dalam Buku II KUHP, dimana kejahatan dijatuhkan
terhadap tindak pidana yang berat, misalnya pembunuhan. Pelanggaran
diatur dalam Buku III KUHP, pelanggaran dijatuhkan terhadap tindak
pidana ringan, seperti tidak memakai helm pada waktu berkendaraan di
jalan raya.
2. Menurut cara perumusannya, dibedakan antara tindak pidana formil dan
tindak pidana materil. Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang
perumusannya, dititikberatkan kepada perbuatan yang dilarang, jadi
tindak pidana tersebut telah selesai dengan dilakukannya perbuatan yang
dilarang sebagaimana yang dirumuskan dalam peraturan perundang-
undangan pidana. Misalnya Pasal 362 KUHP yaitu perbuatan melarang

14
Satochid K, Hukum Pidana I, Balai Lektur Mahasiswa, hal 65
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

untuk mengambil milik orang lain. Tindak pidana materil adalah tindak
pidana yang perumusannya dititikberatkan kepada akibat yang dilarang.
Jadi tindak pidana ini baru selesai apabila akibat yang dilarang itu telah
terjadi. Misalnya Pasal 338 KUHP, akibat yang dilarang tersebut adalah
hilangnya nyawa orang lain.
3. Berdasarkan macam perbuatannya dibedakan, antara tindak pidana
komisi dan tindak pidana omisi. Tindak pidana komisi adalah tindak
pidana yang terjadi karena suatu perbuatan seseorang. Tindak pidana
omisi adalah tindak pidana yang terjadi karena seseorang tidak berbuat
sesuatu. Misalnya tidak menghadap sebagai saksi di pengadilan.
4. Berdasarkan bentuk kesalahannya dibedakan antara dolus dan culpa,
dolus adalah tindak pidana yang dilakukan dengan sengaja sedangkan
culpa adalah tindak pidana yang dilakukan dengan kelalaian atau karena
kealpaan.
5. Berdasarkan perlu tidaknya pengaduan dalam hal penuntutan, dibedakan
antara tindak pidana aduan (klachtdelict) dan tindak pidana biasa. Tindak
pidana aduan adalah tindak pidana yang dilakukan itu baru dapat
dilakukan penuntutan, apabila ada pengaduan. Misalnya Pasal 284
KUHP, mengenai tindak pidana perzinahan.
Tindak pidana aduan ada dua macam, yaitu tindak pidana aduan mutlak
atau absolut dan tindak pidana aduan relatif. Tindak pidana aduan
mutlak, yaitu tindak pidana aduan yang setiap kejadian syarat pengaduan
itu harus ada. Sedangkan tindak pidana aduan relatif adalah sebaliknya,
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

ialah hanya dalam keadaan tertentu atau jika memenuhi syarat maka
tindak pidana itu menjadi aduan.
Tindak pidana biasa maksudnya tindak pidana yang untuk dilakukannya
penuntutan pidana terhadap pembuatnya tidak disyaratkan adanya
pengaduan dari yang berhak.
6. Berdasarkan sumbernya, tindak pidana dibagi dua, yaitu tindak pidana
umum dan tindak pidana khusus. Tindak pidana umum adalah semua
tindak pidana yang dimuat dalam KUHP, yaitu yang terdapat dalam
Buku II dan Buku III KUHP, sedangkan tindak pidana khusus adalah
semua tindak pidana yang pengaturannya terdapat di luar KUHP, seperti
Undang-Undang No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Walupun sudah
ada kodifikasi tetapi adanya tindak pidana di luar KUHP adalah suatu
keharusan yang tidak dapat dihindari. Karena perbuatan-perbuatan
tertentu yang dinilai merugikan masyarakat dan patut diancam dengan
pidana itu terus berkembang, sesuai dengan perkembangan teknologi dan
kemajuan ilmu pengetahuan.
7. Berdasarkan saat dan jangka waktu terjadinya. Tindak pidana yang
terjadi seketika, bahwa untuk terwujudnya atau terjadinya dalam waktu
seketika atau dalam waktu singkat. Tindak pidana yang berlangsung
lama,. Yakni setelah perbuatan dilakukan. Tindak pidana itu masih
berlangsung terus, tindak pidana itu dapat disebut sebagai tindak pidana
yang menciptakan keadaan terlarang.
Pengertian illegal logging
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Dalam peraturan Perundang-undangan yang berlakau tidak ada yang secara eksplisiy
menyebutkan defenisi dari istilah illegal logging secara tegas. Bahkan di dalam
peraturan perundang-undangan yang ada tidak pernah ada di temukan istilah illegal
looging, istilah illegal logging ini pernah digunakandalam Inpres RI No. 5 Tahun
2001 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Illegal (illegal logging ) dan
Peredaran Hasil huutan ilegal di kawasan ekosis tem Leuser dan Taman Nasional
Tanjung Putting dimana istilah Illegal logging ini disamakan dengan Penebangan
Kayu Illegal tetapi dengan berlakunya Inpres No. 4 Tahun 2005 tentang
Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegal di kawasan hutan dan peredarannya
di seluruh wilayah Republik Indonesia maka Inpres No. 5 Tahun 2001 tidak berlaku
lagi. Dalam Inpres No. 4 tahun 2005 tersebut tidak ada menggunakan istilah
Penebangan Kayu Secara Illegal begitu pula halnya sdengan UU No. 41 Tahun
1999 tentang Kehutanan juga tidak ada menggunakan istilah illegal logging
Secara terminologi istilah illegal logging yang merupakan bahasa Inggris terdiri
dari 2 kata :
1. illegal, yang artinya tidak sah, dilarang arau bertentangan dengan
hukum, haram.
2. Log, yang artinya batang kayu, kayu bundar dan gelondongan.
Sehingga kata logging berarti menebang kayu dan membawa ke
tempat gergajian.
15
Dari pengertian Illegal logging tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa
pengertian dari illegal logging adalah menebang kayu dan kemudian membawa ke


15
Jhon M Echols, An English-Indonesian Dictionary, Cetakan XXIII, Gramedia, Jakarta,1996, hal
363
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

tempat gergajian yang bertentangan dengan hukum atau menebang kayu secara tidak
sah menurut hukum.
Forest Wacth Indonesia (FWI) dan Global Forest Wacth (GFW) menggunakan
istilah :Pembalakan Illegal sebagai sinonim dari illegal logging. Pembalakan
kayu adalah semua praktek atau kegiatan kehutanan yang berkaitan dengan
pemanenan, pengelolaan dan perdagangan kayu yang tidak sesuai dengan hukum
yang berlaku di Indonesia. Sementara menurut Drs. IGM. Nurdjana Illegal logging
adalah rangkaian kegiatan dalam bidang kehutanan dalam rangka pemanfatan dan
pengelolaan hasil hutan hingga kegiatan ekspor kayu yang tidak mempunyai izin
dari pihak yang berwenang sehingga tidak sah atau bertentangan dengan aturan
hukum yang berlaku oleh karena dipandang sebagai suatu perbuatan yang merusak
hutan. Sedangkan Riza Suarga megatakan bahwa illegal logging adalah sebuah
praktek eksploitasi hasil hutan berupa kyu dari kawasan hutan negara melalui
aktifitas penebangan pohon atau pemanfaatan dan peredaran kayu atau olahannya
yang berasal dari hasil tebanagn yang tidak sah.
16
Terkait dengan pengrusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang
menimbulkan perubahan langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang

Esensi yang penting dalam praktek Illegal logging ini adalah perusakan hutan
yang akan berdampak pada kerugian baik dari aspek ekonomi, ekologi dan sosial
budaya. Oleh karena kegiatan itu tidak melalui perencanaan secara komprehensif,
maka illegal logging mempunyai potensi merusak hutan yang kemudian berdampak
pada pengrusakan lingkungan.

16
Riza Suarga, Pemberantasan Illegal Logging I, Wana Aksara, Jakarta, 2005,hal 7
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang
Pembangunan berkelanjutan.
Dalam UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dalam penjelasan Pasal 50 ayat
(1) yaitu bahwa Yang dimaksud dengan kerusakan hutan adalah terjadinya
perubahan fisik, sifat fisik atau hayatinya yang menyebabkan hutan tersebut
terganggu atau tidak dapat berperan sesuai dengan fungsinya.
Dari pengertian illegal logging di atas maka dapat dilihat bahwa kejahatan
illegal logging tersebut bukan hanya sebatas menebang kayu secara illegal tetapi
lebih luas lagi. Selain penebangan kayu, mengangkut kayu, pengelolaan kayu
penjualan kayu, pembelian kayu yang tidak dilengkapi dengan surat izin dari pihak
yag berwenang adalah merupakan bagian dari kejahatn illegal logging.
G. Metode Penelitian
1. Jenis penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, metode yang digunakan adlah metode penelitian
yuridis empiris (sosiologis yang deskriptif. Dalam hal penelitian hukum yang
sosiologis menggunakan Peraturan Perundang-undangan yang berhubungan
dengan judul skripsi ini yang berjudul PERAN PPNS DALAM
MENANGGULANGI TINDAK PIDANA ILLEGAL LOGGING dan juga
melekukan penelitian mengenai kendala-kendala apa saja yang di hadapi
PPNS dalam Penanggulangan tindak pidana Illegal logging.
2. Lokasi Penelitian
Adapun yang menjadi lokasi penelitian yang akan Penulis laksanakan adlah
di Dina Kehutanan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
3. Sumber data
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Data yang didapat dalam penulisan ini adalah bersumber dari :
a. Data Primer, yang merupakan data pokok yang bersumber dari
responden yang ada terkait dengan permasalahn dalam penulisan
skripsi ini.
b. Data Sekunder, data yang diperileh dari bahan baku pennjang
yang mencakup bahan yang memberi petunjuk maupun
penjelasan terhadap data Primer dan data yang diperoleh dari
Peraturan PerUndang-Undangan yang berlaku. Yang berkaitan
dengan Permasalahan dalam skripsi ini.
4. Metode Pengumpulan data
Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adlah
a. Studi Kepustakaan, yaitu dengan membaca dan mempelajari berbagai
literatur yang berhubengan dengan judul skripsi ini.
b. Wawancara Langsung, melakukan penelitian langsung ke lapangan
dalam hal ini Penulis langsung mengadakan penelitian ke Kantor
Dinas Kehutanan Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara dengan
menggunakan teknik wawancra secara lisan.
5. Analisis Data
Analisis data dalam penulisan ini digunakan data kualitatif, yaitu suatu
analisis data secara jelas serta diuraikan dalam bentuk kalimat tanpa
menggunakan rumus-rumus statistik sehingga diperoleh gambatan yang jelas
dan menyeluruh mengenai Peranan Penyidik PNS dalam menanggulangi
tindak pidana Illegal logging.

Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

H. Sistematika Penulisan
Dalam rangka memberukan gambaran yang jelas dari maksud dan tujuan
serta hubungan antara bagian yang terpenting dalam tuisan ini, maka sistematika
penulisan skripsi ini dibagi dalam Bab-Bab dan masing-masing Bab dibagi ke
dalam Sub Bab yabg secara garis besar terdi dari:
1. BAB I : Pendahuluan
Yang menjadi sub Bab terdiri dari, yaitu Latar Belakang Penelitian, Identifikasi
Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Keaslian Penulisan, Tinjauan
Kepustakaan Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
2. BAB II : Perspektif Hukum Indonesia Tentang Illegal logging
tang terdiri dari sub bab : Peraturan menegenai tindak pidana Illegal logging di
Indonesia, Proses Penyidikan Tindak Pidana ILLegal Logging, Faktor-faktor
yang mempengaruhi illegal logging.
3. BAB III : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal
Logging
yang terdiri dari sub bab, Peran PPNS Dalam Tindak Pidana Illegal Logging,
Hubungan antara PPNS dan Penyidik Polri, Pelaku dan Modus Operandi Tindak
Pidana Illegal Logging
4. BAB IV : Kendala-Kendala Yang dihadapi PPNS
yang terdiri dari sub bab, Kendala Yang Dihadapi PPNS Dalam Penanggulangan
Tindak Pidana Illegal Logging, Upaya- upaya yang dilakukan.
5. BAB V : Penutup
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

dalam bab ini penulis membuat satu Kesimpulan dan juga saran-saran yang
menjadi bahan masukan untuk penelitian mengenai masalah ini dan dalam
skripsi ini akan turut pula dimasukkan daftar bacaan dan lampiran-lampiran.







Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

BAB II
PERPEKTIF HUKUM INDONESIA
TENTANG
TINDAK PIDANA ILLEGAL LOGGING

A. Peraturan mengenai tindak Pidana Illegal logging
A.1 ketentuan pidana di bidang kehutanan
Sejak bangsa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 sampai sekarang
ternyata Pemerintah dengan persetujuan DPR telah berhasil menetapkan peraturan
perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dalam bidang Kehutanan. Pada
saat diberlakukannya UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan maka berdasarkan
ketentuan Penutup Undang-Undang tersebut, Pasal 83 mencabut Undang-Undang
No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan
Semakin berkembang dan kompleksnya kejahatan di bidang kehutanan
dirasakan tidak lagi memenuhi rasa keadilan masyarakat atau dengan kata lain UU
No. 5 Tahun 1967 tidak efektif lagi untuk di pertahankan. Melihat keadaan ini maka
Pemerintah (Presiden bersama DPR) memberlakukan UU No.. 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan.
Dalam UU No. 5 tahun 1967 tidak diatur tentang sanksi pidana terhadap kejahatan
di bidang Kehutanan namun diatur dalam Peraturan Pelaksananya berdasarkan Pasal
15 UU No. 5 tahun 1967 tersebut. Namun demikian dalam Pasal 82 Undang-Undang
No. 41 Tahun 199 disebutkan bahwa: Semua peraturan pelaksana dari peraturan
perundang-undangan di bidang kehutanan yang telah ada, sepanjang tidak
bertentangan dengan dikeluarkannya Peratuaran Pelaksana yang berdasarkan
undang-undang ini.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Untuk menegakkan hukum pidana terhadap kejahatan di bidang Kehutanan
pada umumnya dan kejahatan Illegal logging pada khususnya maka ketentuan
pidana yang dapat diterapkan pada kejahatan illegal logging antara lain pasal 78
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan untuk menerapkan sanksi
pidana. Ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 78 UU. No. 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan adalah merupakan salah satu dari upaya perlindungan hutan
dalam rangka mempertahankan fungsi hutan secara lestari.
Dalam penjelasan umum paragraf ke 18 UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
dikatakan, diberikannya sanksi pidana yang berat terhadap setiap orang yang
melanggar hukum di bidang kehutanan ini adalah agar dapat menimbulkan efek jera
bagi pelanggar hukum di bidang Kehutanan. Efek jera yang dimaksud bukan hanya
kepada pelaku yang telah melakukan tindak pidana di bidang kehutanan akan tetapi
juga kepada orang lain, yang mempunyai kegiatan di dalam bidang kehutanan
menjadi enggan melakukan perbuatan melanggar hukum karena sanksi pidananya
berat.
Ada tiga jenis sanksi pidana yang diatur dalam Pasal 78 UU No. 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan yaitu;
1. Pidana Penjara
2. Pidana denda
3. Pidana Perampasan benda yang digunakan untuk melakukan perbuatan
pidana.
Ketiga jenis pidana ini dapat dijatuhkan secara kumulatif. Hal ini dapat dilihat dalam
rumusan sanksi pidana yang diatur dalam Pasal 78 UU No. 41 Tahun 1999. jenis
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

pidana itu merupakan sanksi yang diberikan kepada pelaku yangmelakukan
kejahatan sebagaimana diatur dalam Pasal 50 UU No. 41 Tahun 1999.
Adapun dasar dari peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia
bersumber dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945 (Pasal 33 ayat 3), yang berbunyi:
Bumi air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara
dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Dari penjelasan UUPA mengenai hal ini dinyatakan bahwa wewenang Hak
Menguasai dari Negara ini dalam tingkatan tertinggi :
a. mengatur dan meyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan,
dan pemeliharaannya.
b. Menentukan dan mengatur hak-hak yang mempunyai atas (bagian dari)
bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
c. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antar orang-
orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
17
Berdasarkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, maka dibentuklah berbagai peraturan
perundang-undangn yang berlaku di Indonesiayang mengatur mengenai Illegal
logging, yang akan di uraikan satu persatu di bawah ini:

1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Undang-Undang Pokok
Agraria (UUPA)
Pada dasarnya undang-undang ini tidak secara tegas mengatur secara khusus
tentang Kehutanan, tetapi yang diatur hanyalah hubungan-hubungan hukum yang

17
Ap. Parlindungan, Komentar Undang-Undang Pokok Agraria,Mandar Maju, Bandung, 1998, hal 43
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

berkaitan dengan hasil hutan, yaitu yang tercantum dalam Pasal 46 UUPA, yang
berbunyi:
1. Hak membuka tanah dan memungut hasil hutan dapat dipunyai oleh Warga
Negara Indonesia dan diatur dengan peraturan Pemerintah
2. Dengan mempergunakan hak memungut hasil hutan secara tidak sah tidak
dengan sendirinya diperoleh hak milik atas tanah itu.

Ketentuan ini memberikan kesempatan kepada Warga Negara Indonesia
(terutama yang memenuhi syarat ) untuk memungut hasil hutan, seperti kayu, rotan,
getah dan lain-lain. Kepada pemungut hasil hutan hanya diberikan hak untuk
memungut hasil hutan semata-mata, sedangkan tanahnya tetap dikuasai oleh negara
sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat.
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Kehutanan
Undang-Undang Pokok Kehutanan (UUPK) terdiri dari 8 Bab dan 22 pasal.
Hal-hal yang ditur dalam UUPK, adalah : (1) pengertian hutan, hasil
hutan,kehutanan, hutan menurut pemilikannya, dan fungsinya; (2) perencanaan
hutan; (3) pengurusan hutan; (4) pengusahaan hutan ; (5) perlindungan hutan; dan
(6) ketentuan pidana dan penutup.
UUPK dijabarkan lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan lainnya.
Peraturan perundang-undangan yang dimaksud, seperti :
a. PP Nomor 22 Thun 1967 tentang Hak Penguasaan Hutan dan Iuran Hasil
Hutan
b. PP Nomor 21 Tahun 1970 tentang Hak Penguasaan Hutan dan Hak
Pemungutan Hasil Hutan.
c. PP Nomor 33 Tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

d. PP Nomor 18 Tahun !975 tentang Perubahan Pasal 9 PP No. 21 tahun 1970
tentang hak Penguasaan Hutan dan Pemungutan Hasil Hutan.
e. PP Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan
f. PP Nomor 7 tahun 1990 tentang Hak Penguasaan Hutan Tanaman Industri
g. Kepres Nomor 66 tahun 1971 tentang Peningkatan Prasarana Pengusahaan
Hutan
h. Kepres Nomor 20 Tahun 1975 tentang Kebijaksanaan di Bidang Pemberian
Hak Pengusahaan Hutan
i. Kepres Nomor 19 Tahun 1974 Tentang berlakunya Kepres Nomor 66 Tahun
1971 tentang Peningkatan Prasarana Pengusahaan Hutan Untuk Seluruh
Wilayah RI.
j. Kepres Nomor 48 tahun 1977 tentang Simpanan Wajib Pemegang
Pengusahaan Hutan dan Eksportir Kayu.
k. Kepres Nomor 20 Tahun 1979 tentang Penggunaan Dana Simpanan Wajib
Pemegang Hak Pengusahaan Hutan dan Eksportir Kayu.
l. Kepres Nomor 39 Tahun 1979 tentang Perubahan atas Kepres Nomor 48
Tahun 1977 tentang Simpanan Wajib Pemegang Hak Pengusahaan Hutan
dan Eksportir Kayu
m. Kepres Nomor 3 Tahun 1985 tentang Pembangunan Taman Wisata Curug
Dago sebagai Taman Hutan Rakyat Ir. H. Djuanda.
n. Kepres Nomor 25 Tahun 1990 tentang Perubahan Kepres Nomor 15 tahun
1984 tentang Susunan Organisasi Departemen.
o. Kepres Nomor 29 Tahun 1990 tentang Dana Reboisasi
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

p. Kepres Nomor 30 Tahun 1990 tentangt Pengelolaan Kawasan Hutan
Lindung
q. Kepres Nomor 33 Tahun 1990 tentang Penggunaan Tanah Bagi
Pembangunan Kawasan Industri.
3. Undang-Undang Nomor 41 Thun 1999 sebagai Pengganti dari
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967.
Ada empat pertimbangan ditetapkannya Undang-Undang ini yaitu:
a. Bahwa hutan, sebagai karunia dan amanah dari Tuahan Yang Maha Esa yang
dianugrahkan kepada Bangsa Indonesia, merupakan kekayaan yang dikuasai
oleh negara, memberikan manfaat serbaguna bagi umat manusia, karenanya
wajib disyukuri, diurus dan dimanfaatkan secara optimal, serta dijaga
kelestariannya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bagi generasi
sekarang maupun generasi mendatang;
b. Bahwa hutan, sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan dan
sumber kemakmuran rakyat, cenderung menurun kondisinya, oleh karena itu
keberadaanya harus dipertahankan secara optimal, dijaga daya dukungnya
secara lestari, dan diurus dengan akhlak mulia, adil, arif, bijaksana, terbuka,
profsional, serta bertanggung-gugat;
c. Bahwa pengurusan hutan yang berkelanjutan dan berwawasan mendunia
harus menampung dinamika aspirasi dan peran serta masyarakat, adat dan
budaya, serta tata nilai masyarakat yang berdasarkan pada norma hukum
nasional;
d. Bahwa Undang-Undang Nomor 5 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Kehutanan( Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8)sudah tidak
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

sesuai lagi dengan prinsip penguasaan dan pengurusan hutan, dan tuntutan
perkembangan keadaan, sehingga perlu diganti;
hal-hal yang ditur dalam Undang-Undang ini, yaitu ;
a. Ketentuan Umum
b. Status dan Fungsi Hutan (Pasal 5 s/d Pasal 9)
c. Pengurusan Hutan (Pasal 10)
d. Perencanaan Kehutanan (Pasal 11 s/d Pasal 20)
e. Pengelolaan Hutan ( Pasal 21 s/d Pasal 51)
f. Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Latihan serta Penyuluhan
Kehutanan (Pasal 52 s/d Pasal 65)
g. Penyerahan wewenang ( Pasal 66)
h. Masyrakat hukum adat ( Pasal 67)
i. Peran serta masyarakat (Pasal 68 s/d Pasal 69)
j. Gugatan Perwakilan (Pasal 71 s/d Pasal 73)
k. Penyelesaian sengketa Kehutanan ( Pasal 74 s/d Pasal 76)
l. Penyidikan (Pasal 77)
m. Ketentuan Pidana ( Pasal 78 s/d Pasal 79)
n. Ganti rugi dan sanksi adaministratif ( Pasl 80)
o. Ketentuan Peralihan ( Pasal 81 s/d Pasal 82)
p. Ketentuan Penutup ( Pasal 83 s/d Pasal 84)
UU No 41 tahun 1999 merupakan ketentuan yang bersifat menyeluruh karena
telah memuat ketentuan-ketentuan baru, yang belum dikenal dalam UUPK No. 5
Tahun 1967. hal-hal baru itu adalah seperti gugatan perwakilan (class action), yaitu
gugatan yang diajukan oleh masyarakat ke pengadilan dan atau melaporkan ke
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

penegak hukum terhadap kerusakan hutan yang merugikan kehidupn masyarakat;
penyelesaian sengketa Kehutanan; ketentuan pidana; ganti rugi dan sanksi
administratif.
UU Kehutanan dijabarkan lebih lanjut dalam peraturan perundangan lainnya.
Peraturan Perundangan yang dimaksud seperti :
a. Perpu No 1 tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan
b. Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota
c. Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan
d. Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan
e. Instruksi Presiden No. 4 Athun 2005 tentang Pemberantasan Penebanagn
Kayu secara Illegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya di Seluruh
Wilayah Republik Indonesia.
f. Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2001 tentang Pemberantasan
Penebangan Kayu illegal (Illegal logging) dan Peredaran Hasil Hutan
Illegal di Kawasan Ekosistem Leuser dan Taman Nasional Tanjung
Putting.
4. Undang Undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Ada lima pertimbangan dikeluarkannya Undang-Undang ini, yaitu;
a. Lingkungan hidup Indonesia sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang
Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia yang merupakan ruang
bagi kehidupan dalam aspek kemanusiaan sesuai dengan Wawasan
Nusantara.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

b. Dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan
kesejahteraan umum seperti diamanatkan dalam UUD 1945 dan untuk
mencapai kebahagian hidup berdasarkan Pancasila, perlu dilaksanakan
Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup
berdasarkan kebijakan nasional yang terpadu dan menyeluruh dengan
memperhitungkan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa
depan.
c. Dipandang perlu melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk
melestarikan dan mengembangkan kemampuan lingkungan hidup yang
serasi, selaras, dan seimbang guna menunjang terlaksananya
pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup.
d. Penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka
pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkunagn hidup telah
berkembang sedemikian rupa sehingga pokok materi sebagaimana diatur
dalam UU No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup perlu disempurnakan untuk mencapai tujuan
pembangunan berkelanjutan yang berawasan lingkungan hidup.
Hal-hal yang diatur dalam Undang-undang ini, yaitu;
a. Ketentuan umum (Pasal 1 s/d Pasal 2)
b. Azas, tujuan dan sasaran (Pasal 3 s/d Pasal 4)
c. Hak, Kewajiban dan Peran serta masyarakat (Pasal 5 s/d Pasal 7)
d. Wewenang Pengelolaan lingkungan hidup (Pasl 8 s/d Pasal 13)
e. Pelestarian fungsi lingkungan hidup ( Pasal 14 s/d Pasal 17)
f. Persyaratan penataan lingkungan hidup (Pasal 18 s/d Pasal 29)
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

g. Penyelesaian sengketa Lingkungan hidup (Pasal 30 s/d 39)
h. Penyidikan (Pasal 40)
i. Ketentuan pidana (Pasal 41 s/d Pasal 48)
j. Ketentuan Peralihan (Pasal 49)
k. Ketentuan Penutup (Pasal 50 s/d Pasal 52)
5. Undang-undang Nomor 19 tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang No 1 Tahun 2004 tentang
Perubahan atas Undng-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan menjadi Undang-Undang
Ada tiga pertimbanagn Undang-Undang ini di tetapkan, yaitu ;
a. Bahwa di dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
tidak mengatur kelangsungan perizinan atau perjanjian pertambangan yang
telah ada sebelum berlakunya Undang Undang tersebut;
b. Bahwa hal tersebut menimbulkan ketidakpastian hukum dalam berusaha di
bidang pertambangan yang di kawasan hutuan terutama bagi investor yang
telah memiliki izin atau perjanjian sebelum berlakunya Undang-Undang
tersebut, sehingga dapat menempatkan pemerintah dalam posisi yang sulit
dalam mengembangkan iklim investasi;
c. Bahwa dalam rangka terciptanya kepastian hukum dalam berusaha di bidang
pertambangan yang berada di kawasan hutan, dan mendorong minat serta
kepercayaan investor untuk berusaha di Indonesia, Pemerintah telah
menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999
tentang Kehutanan.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

A.2. Ketentuan pidana lain terkait dengan illegal logging
Tindak pidana di bidang Kehutanan adalah merupakan tindak pidana khusus
yang diatur dengan ketentuan pidana dan hukum acara tersendiri. Kejahatan illegal
logging merupakan tindak pidana khusus yang dalam kategori hukum pidana yang
perbuatannya khusus, yaitu untuk delik-delik kehutanan yang menyangkut
pengelolaan hasil hutan
18
1. Pengrusakan

Pada dasarnya kejahatn illegal logging, secara umum kaitannya dengan
unsur-unsur tindak pidana umum dalam KUHP, dapat dikelompkkan dalam
beberapa bentuk kejahatansecara umum yaitu:
Pengrusakan sebagaimana diatur dalam Pasal 406 sampai 412 KUHP
terbatas hanya mengatur tentang pengrusakan barang dalam arti barang-barang biasa
yang dimiliki orang. Barang tersebut dapat berupa barang terangkat, namun barang-
barang yang mempunyai fungsi sosial artinya dipergunakan untuk kepentingan
umum.
Unsur Pengrusakan terhadap hutan dalam kejahatan illegal logging berangkat
dari pemikiran tentang konsep perizinan dalam sistem pengelolaan hutan yang
mengandung fungsi pengendalian dan pengawassan terhadap hutan, untuk tetap
menjamin kelestarian fungsi huutan. Ancaman hukuman dalam Pasal 406 sampai
denagn Pasal 412 KUHP paling lama lima tahun atau denda paling banyak Rp.
4500 (empat ribu lima ratus rupiah) yaitu bagi pengrusakan terhadap rumah(gedung)
atau kapal. Hukuman itu di tambah sepertiganya apabila dilakukan bersama-sama.
2. Pencurian

18
IGM Nurjana, Op Cit, hal 119
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

pencurian menurut penjelasan Pasal 363 Kitab Undang-Undang hukum Pidana
mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:
a. Perbuatan mengambil, yaitu mengambil untuk dikuasai.
b. Sesuatu barang, dalam hal ini barang berupa kayu yang pada waktu
diambil tidak berada dalam penguasaan pelaku.
c. Sebagian atau seluruhnya milik orang lain, dalam hal ini hutan dapat
merupakan hutan adat dan hutan hak yang termasuk dalam hutan negara
maupun hutan negara yang tidak dibebani hak.
d. Dengan sengaja atau dengan maksud ingin memiliki dengan melawan
hukum. J elas bahwa kegiatan penebanagn kayu dilakukan dengan sengaja
dan tujuan dari kegiatan itu adalah untuk mengambil manfaat dari hasil
hutan berupa kayu tersebut (untuk dimiliki).
Ancaman hukuman yang paling berat dalam kasus pencurian menurut
KUHP adalah Pasal 362 lima tahun, Pasal 363 Tujuh sampai sembilan
tahun, Pasal 365 lima belas tahun.
3. Pemalsuan
Pemalsuan surat-surat diatur dalam Pasal 263-276, pemalsuan materai dan
merk diatur dalam Pasal 253-262. Pemalsuan surat atau pembuatan surat palsu
menurut penjelasan Pasal 263 KUHP adalah membuat surat yang isinya bukan
semestinya atau membuat surat sedemikian rupa, sehingga menunjukkan seperti
aslinya.
Dalam praktik-praktik kejahatan illegal logging, salah satu modus operandi
yang sering di gunakan oleh pelaku dalam melekukan kegiatannya adalah
Pemalsuan Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH), pemalsuan tanda
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

tangan, pembuatan stempel palsu, dan keterangan palsu dalam SKSHH. Modus
operandi ini belum diatur secara tegas dalam Undang-Undang Kehutanan.
Ancaman hukuman terhadap terhadap tindak pidana pemalsuan surat ini dalam Pasal
263 KUHP paling lama enam tahun, Pasal 264 paling lama delapan tahun dan Pasal
266 paling lama tujuh tahun. Sedangkan pemalsuan terhadap pemalsuan materai dan
merk dalam Pasal 253 KUHP paling lama tujuh tahun.
4. Penggelapan
Penggelapan dalam KUHP diatur dalam Pasal 372 sampai dengan Pasal 377.
Dalam Penjelasan pasal 372 KUHP, penggelapan artinya mengambil suatu barang
yang sebagian atau seluruhnya adalah milik orang lain yang berada di dalam
kekuasaannya untuk dimiliki dengan melawan hak.
Modus penggelapan dalam kejahatan illegal logging antara lain seperti over cutting
yaitu penebangan di luar areal konsesi yang dimiliki, penebangan yang melebihi
target kuota yang ada(over capasity).
Ancaman hukuman yang ada dalam Pasal 372 KUHP adalah paling lama empat
tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 900 (sembilan ratus rupiah).
5. Penadahan
Dalam KUHP penadahan, adalah sebutan lain dari perbuatan persekongkolan
atau sekongkol atau pertolongan jahat. Dalam penjelasan Pasal 480 dijelaskan
bahwa perbuatan itu dibagi menjadi; perbuatan membeli atau menyewa barang ytang
diketahui atau patut diduga sebagai hasil dari kejahatan, dan perbuatan menjual ,
menukar atau menggadaikan barang yang diketahui atau patut diduga hasil dari
kejahatan
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Modus ini banyak dilakukan dalam transaksi perdagangan kayu illegal baik di dalam
maupun di luar negri, bahkan terhadap kayu-kayu hasil illegal logging yang nyata-
nyata diketahui oleh para pelaku baik penjual maupun pembeli.
Ancaman pidana dalam Pasal 480 ini adalah paling lama empat tahun atau denda
sebanyak-banyaknya Rp. 900 (sembilan ratus rupiah)


B. Penyidikan tindak Pidana Illegal logging
Untuk dimulainya suatu Penyidikan Polisi harus mengetahui terlebih dahulu
adanya suatu peristiwa pidana yang terjadi.
Pasl 106 KUHAP merumuskan sebagi berikut:
Penyidik yang mengetahui, menerima laporan atau pengaduan tentang
terjadinya suatu peristiwa pidana yang patut diduga merupakan tindak pidana
wajib segera melakukan tindakan penyelidikan yang diperlukan.

Sebelum suatu penyidikan dimulai dengan konskoensi penggunaan upaya
paksa, terlebih dahulu perlu ditentukan secara cermat berdasarkan data yang
diperoleh dari hasil penyelidikan bahwa suatu peristiwa yang semula diduga sebagai
sutau tindak pidana adalah benar-benar merupakan tindak pidana.
19

19
Harun M. Husein, Penyidikan dan Penuntutan Dalam Proses Pidana, Penerbit Rineka Cipta
1991,hal 87
Dimulainya
penyidikan secara formal prosedural dengan di keluarkannya suatu perintah
penyidikan oleh pejabat yang berwenang di instansi penyidik. Bahwa suatu peristiwa
pidana telah terjadi dapat diketahui dari 4 kemungkinan yaitu : (1) adanya laporan
atau pemberitahuan; (2) pengaduan; (3) tertangkap tangan; (4) media massa.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Tiap-tiap orang terhadap siapa suatu tindak pidana dilakukan atau
mengetahui hal itu berhak mengajukan pengaduan atau memberitahukan kepada
pejabat yang berwenag untuk menindaknya menurut hukum.
Pasal 1 butir 25 KUHAP, yang dimaksud dengan pengaduan adalah
pemberitahuan disertai permintaan oleh pihak yang berkepentingan kepada pejabat
yang berwenang untuk menindak menurut hukum seorang yang telah melakukan
tindak pidana aduan yang merugikannya
Laporan berbeda dengan pengaduan, dimana perbedaan tersebut sebagai
berikut:
1. Laporan dilakukan terhadap tindak pidana biasa, sedangkan
pengaduan dilakukan terhadap tindak pidana aduan.
2. Untuk melakukan penentutan suatu delik biasa atau tindak pidana
biasa, laporan tidak merupakan syarat, artinya walau tidak ada
laporan, tetapi diketahui oleh penyidik atau tertangkap basah dapat
dilakukan penentutan.
3. Laporan dapat dilakukan atau diajuakn oleh siapa saja atau setiap
orang, sedangkan pengaduan hanya dapat diajukan oleh orang yang
berhak mengadu yaitu orang yang dirugikan.
4. Penyampaian laporan tidak terikat pada jangka waktu tetentu,
sedangkan pengaduan hanya dapat disampaikan dalam jangka
waktu tertentu. Menurut Pasal 74 ayat 1 KUHAP ditentukan jangka
waktu pengajuan pengaduan yaitu enam bulan setelah yang
berkepentingan menegetahui tindak pidana itu apabila pengadu
berdiam di Indonesia, sedangkan bagi orang yang berkepentingan
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

yang berdiam di luar Indonesia, jangka waktu pengajuan pengaduan
itu adalah sembilan bulan sejak saat diketahuinya tindak pidana itu.
5. laporan yang sudah disampaikan kepada penyelidik atau penyidik
tidak dapat dicabut kembali, sedangkan pengaduan yang telah
disampaikan kepada penyelidik atau penyidik dapat mencaabut
kembali pengaduannya dalam jangka waktu tiga bulan sejak
diajukan pengaduan itu.
6. Dalam laporan tidak perlu ditegaskan bahwa pelapor menghendaki
agar terhadap pelaku diambil tindakan sesuai dengan ketentuan
hukum yang berlaku.
Dalam delik aduan, dengan adanya pengaduan baru dapat dilakukannya
penuntutan terhadap delik tersebutu, karena suatu delik yang merupakan delik aduan
hanya dapat dituntut apabila ada pengaduan dari pihak yang dirugikan.
Tetapi pengaduan dalam delik yang bukan aduan, tidak merupakan syarat
untuk dapat dilakukan penuntutan. Bila hal tersebut mengenai delik aduan, maka
perlu diperhatiakn antara delik aduan absolut atau delik aduan relatif.
Delik aduan absolut adalah peristiwa pidana yang penentutannya hanya dapat
dilakukan bila ada pengaduan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Akan tetapi hal
ini tidak menutup kemungkinan dilakukannya penyidikan untuk menjaga jangan
sampai hilangnya bukti-bukti jika di kemudian hari ada pengaduan dari pihak yang
dirugikan, misalnya. Sedangkan delik aduan relatif adalah suatu peristiwa pidana
yang biasanya bukan merupakan delik aduan, tetapi dalam keadaan tertentu
merupakan delik aduan.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Dalam ketentuan yang diatur dalam KUHAP maupun dalam peraturan
perundang-undangan hukum acara pidana di luar KUHAP tidak terdapat ketentuan
yang memberikan wewenang kepada penyidik untuk menolak laporan atau
pengaduan dari seseorang atau warga masyarakat tentang terjadinya peristiwa yang
patut diduga merupakan tindak pidana. Laporan atau pengaduan dapat dilakukan
secara lisan maupun secara tulisan oleh setiap orang yang mengalami atau yang
menjadi korban tindak pidana atau mengetahui/melihat/menyaksikan terjadinya
suatu peristiwa yang patut diduga sebagai tindak pidana. Maka merupakan tindakan
yang tidak dapat dibenarkan bahkan dapat dikualifikasikan sebagai tindakan yang
brtentangan dengan tugas dan kewajibannya apabila terjadi ada penyidik yang
bersikap atau bertindak menolak atau tidak bersedia menerima laporan atau
pengaduan dengan berbagai macam alasan, misalnya dengan alasan bahwa materi
laporan atau pengaduan itu bukan merupakan tindak pidana atau perkara itu sudah
kadaluwarsa atau nebis in idem.
Penyidikan terhadap tindak pidana illegal logging, dilakukan oleh pejabat
penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, selain itu pejabat pegawai negri
sipil tertentu yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya meliputi pengurusan hutan,
diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Pasal 77 ayat (1) Undang-Undang No. 41
Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Wewenang pejabat Pegawai Negri sipil kehutanan sebagai penyidik diatur
dalam Pasal 77 ayat (2) Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 yaitu:
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan yang
berkenaan dengan tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan,
dan hasil hutan;
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

b. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak
pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan;
c. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan hutan
atau wilayah hukumnya;
d. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana yang
menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
e. meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau badan hukum
sehubungan dengan tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan,
dan hasil hutan;
f. menagkap dan menahan dalam koordinasi dan pengawasan penyidik
kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana;
g. membuat dan menandatangani berita acara;
h. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang
adanya tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil
hutan.

Menurut ketentuan hukum acara pidana yang berlaku tugas dan kewajiban
penyidik setelah menerima laporan atau pengaduan adalah memberikan Surat
Tanda Penerimaan Laporan/Pengaduan kepada orang yang menyampaikan laporan/
pengaduan penyidik yang bersangkutan wajib segera menindaklanjuti dengan
melakukan penyelidikan dan penyidikan. Menurut Pasal 1 butir 19 KUHAP yang
dimaksud dengan tertangkap tangan adalah:
Tertangkapnya seseorang pada waktu sedang melakukan tindak pidana atau dengan
segera sesudah beberapa saat tindak pidana itu dilakukan, atau sesaat kemudian
diserukan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukannya, atau sesaat
kemudian padanya ditemukan benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk
melakukan tindak pidana itu menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya atau turut
melakukan atau mebantu melakukan tindak pidana itu

Tertangkap tangan disebut juga dengan tertangkap basah, dan menurut HIR
meyebutkan kedapatan tengah berbuat, yaitu bila kejahatan atau tindak pidana
kedapatan sedang dilakukan, atau dengan segera kedapatan sesudah dilakukan, atau
bila dengan segera kedapatan sesudah itu ada orang diserukan oleh suara ramai
sebagi orang yang melakukannya atau bila ada padanya kedapatan barang-barang,
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

senjata-senjata alat perkakas atau surat-surat yang menunjukkan bahwa kejahatan
atau pelanggaran itu ia yang melaksanakan atau membantu melakukannya.
Penyidik dalam melakukan penyidikan menurut ketentuan KUHAP kadang-
kadang diawali dengan tindakan penyelidikan oleh seorang penyelidik, dan dalam
hal tertentu dilakukan oleh penyidik pembantu. Namun dalam tahap pertama
sebelum penyerahan berkas perkara kepada penuntut umum penyempurnaan berita
acara pada tingkat penyidikan sebagai tahap pemeriksaan pendahuluan.
Dalam melakukan penyidikan adakalanya penyidikan ini dihentikan atau tidak
dilanjutkan karena suatu alasan. Pasal 102 ayat (2) KUHAP menetapkan alasan-
alasan penghentian penyidikan yaitu:
1. Tidak terdapat cukup bukti
2. Peristiwa tersebut ternyata bukan peristiwa pidana
3. Penyidikan dihentikan demi hukum
Selanjutnya setelah penyidikan selesai dilakukan maka penyidik dalam hal ini
wajib segera menyerahkan berkas-berkas kepada penuntut umum, dalam hal
penyidikan dilakukan oleh penyidik PNS maka penyerahan berkas harus melalui
Penyidik Polri. Dan penuntut umum juga berhak mengembalikan berkas perkara itu
kepada penyidik apabila penuntut umum berpendapat bahwa hasil penyidikan
tersebut kurang lengkap, dengan disertai petunjuk-petunjuk untuk dilengkapi. Hal
inilah yang dikatakan penyidikan tambahan oleh Polisi dalam KUHAP.
Setelah penyerahan berkas perkara kepada penuntut umum maka menurut
Pasal 110 ayat (4) KUHAP bahwa dalam tempo 14 hari setelah penyerahan berkas
tersebut, penuntut umum tidak mengembalikan kepada penyidik atau sebelum 14
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

hari penuntut umum telah memberitahukan bahwa hal penyidikan dianggap selesai,
maka barulah penyidikan telah selesai.
Jadi dapat dikatakan bahwa penyidikan dianggap selesai atau tuntas apabila
segala berkas perkara yang diperlukan telah diserahkan kepada penuntut umum oleh
penyidik beserta dengan si tersangka dengan tidak mengandung kekurangan-
kekurangan lagi untuk selanjutnya diajukan penuntutan di depan sidang pengadilan
oleh penuntut umum. Artinya bahwa pada tahap pertama penyidik hanya
menyerahkan berkas perkara saja dan jika penyidikan sudah dianggap selesai oleh
jaksa, maka penyidik menyerahkan tanggungjawab atas tersangka dan barang-
barang bukti kepada jaksa atau penuntut umum. (Pasal 8 ayat (3) KUHAP)

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tindak pidana illegal
logging
Dampak pembalakan hutan di Indonesia sungguh luar biasa, banjir longsor,
kebakaran, bahakan hingga kekeringan kerap terjadi di Negara ini. Eksploitasi hutan
yang tidak sah melalui mekanisme praktek illegal logging yang terjadi khususnya di
kawasan hutan yang ada di Propinsi Sumatera Utara yang telah berlangsung cukup
lama telah membawa hutan dalam kondisi yang rusak parah. Praktek illegal logging
yang terjadi telah mengantarkan hutan dalam kondisi ada dan tiada. Hutan tersebut
ada namun tidak lagi sesuai fungsinya seperti apa yang digunakan dan diamanatkan
dalam UU NO. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Maraknya praktek illegal logging yang terjadi disebabkan karena beberapa faktor:
1. Lemahnya sisitem pengawasan hutan dan koordinasi antara aparat penegak
hukum
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Pengelolaan hutan merupakan usaha yang meliputi beberapa aspek seperti
perencanaan, organisasi pelaksanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi,
dimana setiap fungsi tersebut saling berkaitan dan menjadi satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan. Pengelolaan hutan bertujuan untuk menghasilkan suatu hasil hutan
yang dapat dikelola. Akan tetapi harus diperhatikan bahwa dalam melakukan
pengelolaan hutan harus diperhatikan bahwa dalam melakukan pengelolaan hutan
harus diperhatikan berbagai kehidupan ekosistem di dalam hutan yang saling
ketergantungan.
Untuk itu dalam aspek pengelolaan hutan ini diperlukan beberapa ilmu yang
mendukung, seperti ilmu tanah, agronomi, perlindungan tanaman, sosial ekonomi,
dan lingkungan bahkan pada perkembangan globalisasi ini juga diperlukan
komputerisasi, dan ini sangat mendukung melihat pda keadaan semakin banyaknya
tuntutan terhadap fungsi hutan dan memberikan informasi yang akurat.
Mengingat luasnya wilayah hutan di Indonesia tidak sebanding dengan jumlah
petugas jagawana yang secara khusus memang mempunyai tugas melekukan
pengamanan pengamanan hutan, sehingga tidak seluruh hutan dapat
dilakukanpengawasan secara maksimal sampai saat ini, jumlah polisi kehutanan
(polhut) yang telah direkrutsebanyak 7555 personil dengan tugas untuk
mengamankan hutan seluas 149.429.694 Ha. Yang tersebar di seluruh wilayah
Indonesia. Rasio jumlah polhut dengan luas kawasan hutan yang tidak seimbang ini
menjadikan lemahnya pengamanan hutan. Terlebih lagi personil polisi hutan
tersebut tidak dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai,akibatnya
pengamanan hutan semakin lemah, kondisi ini sering dimanfaatkan oleh para pelaku
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

illegal logging untuk lebih berani melakukan penebangan liar.
20
Kondisi ini
dipengaruhi keadaan dimana mereka mereka sangat gampang lolos dari pengawasan
aparat kehutanan, karena dalam melakukan pengawasan terhadap hutan luas
kawasan hutan dengan jumlah personil yang dibutuhkan masih belum memadai,
sehingga aparat kehutanan sangat sulit untuk menjangkau setiap kawasan hutan.
21

20
Hasil Wawancara dengan Puja ( Penyidik PNS Dinas Kehutanan Provinsi SUMUT), 13 Agustus
2007
21
ibid

Lemahnya koordinasi antara aparat penegak hukum yaitu polisi sebagai penyidik,
jaksa sebagai penuntut, dan hakim sebagai eksekutor vonis juga menjadi pemicu
semakin maraknya illegal logging. Fakta di lapangan menunjukkan koordinasi
antara aparat penegak hukum belum berjalan dengan optimal padahal koordinasi
yang optimal akan memberikan pengaruh tegaknya hukum di negara ini. Bahkan
sering kali terjadi perbedaan interprestasi antara penyidik dan penuntut mengenai
pasal-pasal yang ada dalam UU. No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sehingga
seringkali berkas yang sudah dilimpahkan kepada pihak kejaksaan dikembalikan lagi
kepada penyidik dengan alasan berkas belum lengkap dan sempurna. Kenyataan ini
memperlambat terungkapnya kasus tindak pidana illegal logging yang terjadi.
Organisasi penaggulangan illegallogging sekarang ini dinilai kurang berjalan efektif
dalam melakkan koordinasi lintas sektoral, ketidakefektifan ini karena Departemen
Kehutanan merasa merasa bekerja sendirian. Ditinjau dari beberapa kasus illegal
logging yang berhasil diungkap, di daerah hukum Sumatera Utara belum menyentuh
aktor intelektual (dalang utama) pelaku tindak pidana illegal logging. Yang terjaring
hanya sebatas penebang kayu, pengangkut kayu sedangkan dalang utamanya tidak
tersentuh .
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Dengan tidak tersentuhnya dalang utama yang kebanyakan adalah pemodal
besar yang dekat dengan tampuk kekuasaan mengakibatkan praktek illegal logging
tidak dapat dihentikan bahkan semakin merajalela merusak hutan.
Hakim sebagai eksekutor juga ikut membawa pengaruh semakin maraknya tindak
pidana illegal logging. Karena seringkali kita lihat bahwa vonis yang dijatuhkan
hakim tidak sesuai denagn beratnya pengaruh yang akan dirasakan masyarakat
akibat perbuatan tindak pidana illegal logging. Vonis yang ringan ini tidak
menimbulkan efek jera bagi pelaku tindak pidana illegal logging. Bila sanksi yang
dijatuhkan berat maka dengan sendirinya akan membawa efek jera bagi pelaku
sendiri sehingga praktek illegal logging dapat dihentikan.
2. Faktor Ekonomi
Krisis ekonomi yang berkepanjangan yang melanda Indonesia sejak tahun
1997 mengakibatkan semakin sulitnya golongan ekonomi lemah untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya mengakibatkan mereka mencari jalan pintas agar tetap dapat
bertahan hidup. Dan salah satu jalan pintas tersebut adalah dengan beralih profesi
antara lain menjadi buruh tebang liar, tenaga angkut, pengumpul maupun menjadi
tangan kanan pemodal dalam praktek illegal logging. Pekerjaan tersebut tidak
memerlukan keahlian profesional hanya dengan mengandalkan tenaga yang kuat
maka uang dapat diperoleh dengan cepat.
Praktek illegal logging yang terjadi terus bertahan bahkan semakin luas
jaringannya manakala praktek ini didukung oleh aparat pemerintah dan aparat
keamanan. Para pemodal memanfaatkan keadaan ekonomi aparat keamanan dan
aparat pemerintah yang terbatas untuk melakukan kerjasama yang menguntungkan
antara mereka. Kerjasama yang menguntungkan tersebut mengakibatkan praktek
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

illegal logging melenggang dengan tenang, tanpa ada pihak yang berani melarang.
22
3. Faktor sosial

Dengan adanya dukungan dari aparat keamanan dan aparat pemerintahan semakin
memuluskan aksi para pelaku tindak pidana illegal logging membalak hutan tanpa
rasa takut terhadap ketentuan hukum yang berlaku.
Selain itu keuntungan Finansial atau uang yang dihasilkan cukup tinggi,
harga kayu yang tinggi membuat sekelompok orang tergiur untuk melakuakan
eksploitasi hutan secara besar-besaran dan tanpa terkendali sehingga memicu
kerusakan hutan semakin cepat. Keuntungan finansial (uang) yang menggiurkan
tersebut tidak luput dari perhatian para pengusaha kayu (cukong/pemodal) untuk
meningkatkan bisnis dan memperoleh peningkatan laba sekalipun harus memenuhi
jalan illegal demi memenuhi permintaan konsumen yang tinggi.
Bahkan untuk melancarkan aksi dan misinya, para pengusaha kayu tidak
segan-segan merayu pejabat lokal untuk memberikan izin penebangan secara besar-
besaran sekalipun ini tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku dalam hal
pengeksploitasian hutan termasuk hasil hutan. Tetapi karena diberi imbalan yang
cukup besar dari pengusaha kayu membuat sebagian pejabat lokal memberikan izin
sesuai dengan permintaan pengusaha kayu tersebut.ini memang ironis namun inilah
terjadi di negara kita pejabat yang seharusnya melindungi rakyat dan menjaga agar
hukum dapat berjalan degan semestinya malah memberikan izin terjadinya
pelanggaran bahkan kejahatan.
Pranata sosial yang bersumber dari kepercayaan maupun adat istiadat yang
khusus mengatur hubungan manusia dalam hal pemanfaatan hutan di sebagian

22
Riza Suarga, Op Cit,hal 10
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

daerah yang memiliki kawasan hutan tidak lagi ditemukan, karena saat ini tidak ada
lagi tempat keramat di hutan yang dilarang untuk diganggu atau dimasuki oleh
masyarakat di sekitar kawasan hutan. Akan tetapi walaupun demikian halnya masih
ada juga masyarakat yang mempercayai adanya tempat keramat di dalam hutan, dan
tempat tersebut tidak boleh dilakukan penebangan.
Sejak zaman dahulu sampai sekarang, di kawasan hutan khususnya, hutan
sangat erat hubungannya dengan kehidupan sosial masyrakat desa dimana setiap
aktifitas masyarkat pedesaan banyak dilakukan di sekitar kawasan hutan seperti
berburu dan juga masih dijumpai adanya hak ulayat hutan oleh masayrakat. Khusus
mengenai hak ulayat terhadap hutan, masyarakat desa pada umumnya mengganggap
bahwa hutan adalah milik mereka sehingga bebas untuk memanfaatkan hutan dalam
melakukan aktifitas mereka.
Hutan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa, sehingga
keadaan tersebut membuat rata-rata anggota masyarakat desa sehingga keadaan
tersebut membuat rata-rata anggota masyarakat di pedesaan tidak mengetahui
keberadaan peraturan yang mengatur tentang hutan, dan hal ini disebabkan
kurangnya informasi yang didapat msyarakat mengenai peraturan hutan dalam
perundang-undangan. Dalam perturan perundang-undangan tentang hutan masih
mengakui adanya hutan adat atau hak ulayat atas hutan, akan tetapi ditekankan juga
kepada masyarakat adat tersebut bahwa dilarang adanya penebangan hutan secara
liar.
Pada umumnya masyarakat yang tinggal atau berada di sekitar kawasan
hutan sudah mengetahui manfaat hutan sebagi penyanggah dan juga sebagai sumber
mata air bersih, akan tetapi karena sesuatu hal yang mendesak di dalam memenuhi
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

kebutuhannya, maka hutan dapat dijadikan sebagai salah satu sarana untuk mendapat
penghasilan dengan melakukan penebangan terhadap pohon dan juga berburu hewan
hutan yang dimanfaatkan untuk dijual.
4. permintaan kayu yang tinggi
Industri kayu yang berkembang pesat, mangakibatkan permintaan akan
pasokan kayu ikut meningkat. Sementara kemampuan pasokan kayu dan
kemempuan penyediaan industri perkayuan yang legal tidak sebanding dengan
permintaan pasokan kayu dari perindustri yang menggunakan kayu sebagai bahan
bakunya. Kurangnya pasokan kayu membuat para pengusaha kayu
(cukong/pemodal) menempuh jalan illegal dengan melakukan penebangan liar demi
memenuhi permintaan industri kayu.
Permintaan dan persediaan kayu yang tidak seimbang inilah yang menjadi
pemicu semakin maraknya tindak pidana illegal logging di wilayah hukum Sumatera
Utara. Permintaan akan kayu yang meningkat ini akan menimbulkan dampak
permintaan akan tenaga kerja yang akan ikut meningkat, dan lapangan kerja ini
dimanfaatkan oleh masyarakat yang berada disekitar kawasan hutan tersebut.
23

Selain itu harga kayu illegal lebih murah bila dibandingkan dengan haraga kayu
yang legal. Hal ini dikarenakan kayu ilegal tidak membayar pajak kepada negara
misalnya Dana Reboisasi (DR) dan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH).
24

23
IGM Nurajana, Op Cit, hal 97
24
Ibid, hal 14
Keadaan
ini tentu tidak disiasiakan oleh industri kayu yaitu dapat menekan biaya produksi.
Alasan ini membuat industri kayu lebih memilih kayu illegal dari pada kayu yang
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

legal karena selain untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kayu juga harganya lebih
murah.
5. kurangnya pengetahuan dan pendidikan masyarakat yang berada di sekitar
kawasan hutan.
Pada umumnya pelaku illegal logging (penebang kayu) adalah masyarakat
yang tinggal di sekitar hutan dengan tingkat pendidikan yang rendah. Tingkat
pendidikan yang rendah itu memberi dampak minimnya pengetahuan tentang fungsi
hutan terhadap lingkungan hidup. Bagi mereka hutan adalah merupakan Sumber
Daya Alam yang selalu dapat mereka pergunakan setiap saat. Pandangan ini tentu
berbeda dengan tujuan pebangunan kehutanan di Provinsi Sumatera Utara yaitu
untuk mewujudkan Sumber Daya Huatn yang lestari dan peningkatan kesejahteraan
rakyat melalui mekanisme pengelolaan yang partisipatif, terpadu, transparan dan
bertanggungjawab. Dengan persepsi masyrakat sepeti itu mengakibatkan masyrakat
melakukan kegiatan illegal logging tanpa ada rasa beban.
Persepsi masyarakat yang salah akan fungsi hutan tadi tidak dapat dibiarkan
begitu saja. Apabila hal ini dibiarkan akan membawa pengaruh yang buruk bagi
kondisi hutan kita karena mereka berada dekat dengan kawasan hutan dan mereka
akan terus melakukan praktek illegal logging.






Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009
















BAB III
PERAN PPNS DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA
ILLEGAL LOGGING

A. Peran PPNS dalam penanggulangan Tindak Pidana Illegal Logging

Berdasarkan tujuan dari kodifikasi dan unifikasi, maka segala tata cara dari
suatu proses pidana yang akan diperiksakan diadili oleh lingkungan peradilan umum
harus berdasarkan pada Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

undang Hukum Acara Pidana. Walaupun pada dasarnya baik Undang-Undang No.
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan Undang-Undang No.8 Tahun 1981 tentang
Acara Pidana mempunyai kedudukan yang sejajar, tetapi antara kedua Undang-
Undang tersebut mempunyai fungsi yang berbeda karena, Undang-undang No. 41
Tahun 1999 adalah merupakan ketentuan hukum materil yang berfungsi mengatur
dan menetapkan kewajiban, larangan atau sanksi pidanannya, sedangkan Undang-
Undang No. 8 Tahun 1981 adalah ketentuan hukum formil yang berfungsi mengatur
cara-cara menetapkan sansi pidananya secara benar jika terjadi hambatan-hambatan
dalam melaksanakan UU No. 41 Tahun 1999.
Pada Tahun 2000 Departemen kehutan melaporkan bahwa laju deforetasi sebesar 1,6
juta Ha, empat Tahun kemudian (2001-2004) meningkat menjadi sekitar 3,6 juta Ha
per tahun sebagai maraknya penjarahan hutan dan penebangan liar. Sebuah laporan
Pengelolaan Sumber daya Alam (PSDA) menemukan bahwa Illlegal logging
menyumbang 67 juta Km
3
kayu tiap tahunnya. Studi lainnya mengungkapkan bahwa
Illegal logging telah mengakibatkan kerugian materil sebesar paling tidak Rp. 30
triliun per Tahun
25
Dalam hal melakukan penyidikan, penyidik kehutanan sepenuhnya
berpedoman kepada hukum acara pidana sebagaimana dimaksud dalam UU No. 8
Tahun 1981, tentang KUHAP.

Di dalam UU No. 41 tahun 1999, penyidikan di bidang Kehutanan adalah
suatu proses yang ditangani oleh pejabat Penyidik Polisi Negara Republik Indonesia
dan Penyidik Pegawai Negri Sipil (PPNS) Kehutanan, terhadap setiap orang yang
melakukan perbuatan dalam tindak pidana kehutanan.

25
http://www.republika.co.id, Memberantas Illegal Logging, 20 Juni 2004
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Dengan demikian penyidik Pegawai Negri Sipil tertentu di lingkungan instansi
pemerintah yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya di bidang Kehutanan diberi
wewenang khusus sebagai Penyidik sebagaimana diamaksud dalam Hukum Acara
Pidana yang berlaku.
Kewenangan Penyidik Pegawai Negri Sipil Kehutan dalam melakukan penyidikan
sebagaimana diatur dalam Pasal 77 ayat (2) UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutan
terdiri dari:
i. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan yang
berkenaan dengan tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan,
dan hasil hutan;
j. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak
pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan;
k. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan hutan
atau wilayah hukumnya;
l. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana yang
menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
m. meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau badan hukum
sehubungan dengan tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan,
dan hasil hutan;
n. menagkap dan menahan dalam koordinasi dan pengawasan penyidik
kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana;
o. membuat dan menandatangani berita acara;
p. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang
adanya tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil
hutan.

Di dalam penjelasan Pasal 77 UU No. 41 dijelaskan bahwa dalam hal dimulainya
Penyidikan Penyidik PNS harus memberitahukan dimulainya penyidikan kepada
Penyidik POLRI dan hasil penyidikan diserahkan kepada Penuntut Umum melelui
Pejabat Penyidik POLRI, hal ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan bahwa
hasil penyidikan telah memenuhi ketentuan dan persyaratan. Dan dalam Pasal 39
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan dikatakan
bahwa :
Dalam rangka kegiatan administrasi penyidikan Pejabat Pegawai Negri Sipil dalm
hal tertentu dapat secara lengsung menyampaikan Surat Pemberitahuan kepada
instansi terkait dan tembusannya kepada Penyidik Polri

Dalam hal dimulainya Penyidikan penyidik PNS menyampaikan Surat
Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kepada penyidik Polri.
Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan PPNS Kehutanan dalam menangani
tindak pidana khusus bidang kehutanan antara lain :
a. penyidik melakukan pemeriksaan ke TKP (Tempat Kejadian Perkara)
b. Melacak dan menangkap pelaku dari tindak pidana tersebut.
c. Pelaku tindak pidana diserahkan kepada Polri atau Polres setempat untuk
pengusutan yang lebih lanjut.
Dalam penenganan kasus tindak pidana khusus bidang kehutanan pada satu
ekosistem hutan, ada beberapa tahap-tahap yang harus dilakukan oleh PPNS
kehutanan dan Penyidik Polri yaitu :
Tahap penenganan kasus tindak pidana yang dilakukan oleh PPNS Kehutanan:
a. Penangkapan tersangka pelaku tindak pidana
Penangkapan tersebut dilakukan oleh PPNS Kehutanan di tempat
kejadian perkara pada waktu pelaku tindak pidana tertangkap tangan dan
ketika pelaku ditangkap pada saat hendak melarikan diri. Dalam hal ini
penangkapan dilakukan pada pelaku tindak pidana yang sudah diketahui
orangnya.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

b. Penahanan sementara tersangka di kantor PPNS Kehutanan selama 1
(satu) hari atau 1 X 24 jam. Hal ini dilakukan untuk melakukan
pemeriksaan terhadap pelaku tindak pidana, saksi dan mengumpulkan
barang bukti yang diperoleh PPNS Kehutanan. Dan juga PPNS
Kehutanan membuat keterangan tersebut.
c. Pengumpulan barang bukti
Pengumpulan barang bukti dilakukan PPNS Kehutanan untuk
mengetahui jenis tindak pidana yang dilakuakn oleh PPNS Kehutanan
dan untuk mengetahui status dari pelaku tindak pidana.
d. PPNS Kehutanan melakuakan pemeriksaan terhadap :
1) Tersangka
Sehubungan dengan pemeriksaan tersangka, undang-undang telah
memberikan beberapa hak yang bersifat perlindungan terhadap hak azasi
serta perlindungan terhadap haknya untuk mempertahankan kebenaran dan
pembenaran diri.
2) Saksi-saksi
Pada dasarnya pemeriksaan yang dilakukan oleh PPNS kehutanan terhadap
tersangka hampir sama dengan pemeriksaan yang dilakukan terhadap saksi
yang langsung melihat peristiwa tindak pidana itu dilakukan.
e. Pembuatan Berita Acra Pemeriksaan (BAP)
Hal tersebut perlu dilakukan untuk dapat mengetahui serta membuat laporan
kepada penyidik Polri yang merupakan suatu proses tindak lanjut yang
dilakukan terhadap pelaku tindak pidana bidang kehutanan tersebut.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

f. Penyerahan tersangka beserta surat pengantar dari PPNS kehutanan kepada
Penyidik Polri
Penyerahan tersangka kepada Penyidik Polri adalah untuk dapat melakukan
tindak lanjut dalam pemeriksaan perkara yang dilakukan kepada pelaku
tindak pidana.
Setelah dilakukannya tahap-tahap penangkapan tindak pidana yang
dilakukan PPNS Kehutanan yerhadap pelaku tindak pidana, maka dilakukan
beberapa tahap-tahap yang dilakukan penyidik Polri sebagai tindak lanjut yang
dilakukan, yaitu :
1. setelah PPNS Kehutanan menyerahkan tersangka beserta surat pengantar
kepada Penyidik Polri, maka penyidik Polri melakukan penyidikan lanjut
terhadap : Tersangka, Saksi-saksi,dan Barang bukti yang cukup kuat.
2. Pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP)
Setelah dilakukan proses pemeriksaan, maka penyidik Polri membuat
Berita Acara Pemeriksaan yang berarti ada tindak pidana yang terjadi,
serta merupakan berkas di Kepolisian agar dapat dilaporkan kepada
Kapolda setempat.
3. Pelimpahan ke kantor Pengadilan atau ke kantor kejaksaan
Hal ini dilakukan untuk membela akan kepentingan dari tersangka agar
dapat memperoleh perlindungan hukum hingga menjadi status terdakwa.
Dalam melaksanakan tugas penyidik terhadap suatu tindak pidana khusus
bidang Kehutanan (illegal logging) terdapat ciri-ciri yang khas dalam
penanganannya, yaitu
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

1. PPNS Kehutanan menerima laporan dan mengetahui sendiri telah terjadi
suatu tindak pidana bidang kehutanan maka dengan segera PPNS
Kehutanan melakukan penangkapan terhadap pelaku tindak pidana
tersebut.
2. PPNS Kehutanan kemudian melakukan penahanan selama-lamanya 1-2
hari, bila kemudian ditemukan cukup bukti-bukti yang kuat dari si pelaku
(tersangka) untuk selanjutnya diperiksa untuk dibuat Berita Acara
Pemeriksan(BAP).
3. di dalam proses ini pihak Polri setempat harus diberitahu oleh PPNS
Kehutanan bahwa telah terjadi tindak pidana Khusus bidang kehutanan
dan si tersangka dalam proses pemeriksaan.
4. Untuk kepentingan penyidikan, PPNS Kehutanan diberi petunjuk oleh
Penyidik Polri mengenai proses penyidikan tindak pidana yang terjadi.
5. bila proses pemeriksaan penyidikan dianggap telah cukup oleh PPNS
Kehutanan maka si tersangka diserahkan kepada Penyidik Polri setempat
yang disertai dengan BAP dan surat pelimpahan pemeriksaan. Bila
proses pemeriksaan dianggap lenkap maka pihak Polri berkewajiban
untuk melengkapinya.
6. dalam hal proses penyidikan dianggap telah selesai oleh penyidik PPNS
Kehutanan tersebut, maka PPNS kehutanan segera menyerahkan hasil
penyidikannya kepada penuntut umum melalui penyidik Polri.
7. dalam hal penuntut umum berpendapat bahwa hasil penyidikan masih
kurang lengkap, penentut umum segera mengembalikan berkas perkara
kepada penyidik Polri disertai petunjuk untuk dilengkapi.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

8. dalam hal Penuntut Umum mengembalikan hasil penyidikan untuk
dilengkapi, Penyidik wajib segera melakukan penyidikan tambahan
dengan petunjuk dari penuntut umum.
9. penyidikan dianggap telah selesai dalam waktu 14 hari Penuntut Umum
tidak mengembalikan hasil penyidikan atau apabila sebelum batas waktu
tersebut berakhir telah ada pemberitahuan tentang hal itu dari Penuntut
Umum kepada Penyidik.
Hukum pidana merupakan bagian dari hukum publik. Hukum yang mengatur
tingkah laku manusia agar dapat tertib dalam berhubungan dengan sesamanya. UU
41 tahun 1999 merupakan landasan hukum untuk pembinaan dan pengembangan
perlindungan hutan di Indonesia. Dengan adanya ketentuan Pidana di dalam UU 41
Tahun 1999 menanggulangi akibat dari lahirnya suatu tindak pidana di bidang
kehutanan. Luasnya kawasan hutan yang ada di wilayah Hukum Sumatera utara
memang menjadi satu kendala bagi aparat penegak hukum di dalam upaya
penegakan hukum dan perlindungan hutan di Sumatera Utara. Berdasarkan data
yang diperoleh dari Dinas Kehutanan Luas kawasan Hutan di Provinsi Sumatera
Utara sebesar 3.679.338,48 Ha. Yang terdiri dari :
1. Hutan Konservasi 362.333,69 Ha
2. Hutan Lindung 1.481.737,69 Ha
3. Hutan Produksi terbatas 851.159,07 Ha
4. Huatn Produksi tetap 936.861,12 Ha
5. Hutan Konversi 47.251,24 Ha
data ini berdasarkan rencana Tata Ruang Propinsi Sumatera Utara 2003-2018 yang
dituangkan dalam Perda No. 7 Tahun 2003.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Luasnya kawasan hutan yang ada di daerah sumatera Utara ini tidak sebanding
dengan jumlah personil pengamanan hutan. Menurut data yang diperoleh jumlah
Polisi Hutan yang ada di Provinsi Sumatera Utara pada Tahun 2006 berjumlah 150
orang. :
1. Tapanuli Selatan 12 orang
2. Deli Serdang 1 orang
3. Serdang Bedagai 7 orang
4. Langkat 15 orang
5 Toba Samosir 15 orang
6. Kabupaten Asahan 15 orang
7. Labuhan Batu 25 orang
8. Mandailing Natal 11 orang
9. Kabupaten Nias 5 orang
10. Tapanuli Tengah 3 orang
11. Dairi 17 orang
12. Tapanuli Utara 24 orang
13. Dinas Kehutanan Provinsi SU 21 orang
14. Wilayah I Medan 30 orang
15. Wilayah II Siantar 12 orang
16. Wilayah III Kisaran 36 orang
17. Wilayah IV P. Sidempuan 25 orang
18. Wilayah V Kabanjahe 26 orang

Itu artinya seorang polisi Hutan di Sumatera Utara menjaga +
Sedangkan jumlah Penyidik Pegawai Negri Sipil yang ada di Sumatera Utara
menurut data yang diperoleh, pada Tahun 2006 jumlah Penyidik Pegawai Negri
Sipil 32 orang :
24.548 Ha
hutan. Hal ini akan sangat menyulitkan bagi aparat untuk dapat menjaga hutan dan
hasil hutan yang ada di Sumatera Utara. Selain itu juga kurangnya sarana dan
prasarana turut menyulitkan aparat Polisi Kehutanan dalam melakukan perlindungan
erhadap hutan.
1. Dinas Kehutanan Provinsi SU 13 orang
2. Tapanuli Selatan 2 orang
3. Deli Serdang 1 orang
4. Dairi 1 orang
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

5. Tobasa 1 orang
6. Wilayah I Medan 4 orang
7. Wilayah II Siantar 1 orang
8. Wilayah III Kisaran 3 orang
9. Wilayah IV Padang Sidempuan 2 orang
10. Wilayah V Kabanjahe 4 orang

Jumlah Penyidik Pegawai Negri Sipil ini dirasa masih sangat kurang
mengingat banyaknya kasus-kasus Kehutanan khususnya Illegal logging di
Sumatera Utara. Dalam hal di daerah tertentu tidak tersedia Penyidik Pegawai Negri
Sipil maka daerah dapat meminta bantuan tenaga Penyidik dari Dinas Kehutanan
Provinsi, atau dapat menyerahkan penanganan kasus tersebut kepada penyidik dari
Kepolisian.
26
1. Karena ketrbatasan yang selalu dihadapi Penyidik Polri, khususnya
keterbatasan dalam jumlah personil di bidang penyidikan.

Peran Penyidik PNS Kehutanan seperti yang diatur dalam Undang-Undang
41 Tahun 1999 dirasakan lebih efektif dalam melakukan Penyidikan di didang
Kehutanan disebabkan.
2. Keterbatasan pengetahuan di bidang tertentu menyebabkan Polri tidak
mampu menangani semua tindak pidana yang terjadi.

B Hubungan antara PPNS dan Penyidik Polri

Pasal 1 butir 1 KUHAP yang dimaksud dengan penyidik adalah Pejabat
Polisi Negara Republik Indonesia atau Pegawai Negri Sipil tertentu yang diberi
wewenang khusus oleh Undang-Undang untuk melakukan penyidikan.

26
Hasil Wawancara, Op Cit
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Dalam pasal 6 KUHAP ditentukan bahwa syarat kepangkatan Pejabat Polisi
Negara Republik Indonesia yang berwenang menyidik akan diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Pemerintah. Peraturan Pemerintah yang dimaksud dalam Pasal 6
ayat (2) KUHAP tersebut adalah Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1983 yaitui
tentang pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1983 pada Pasal 2 telah
ditetapkan kepangkatan pejabat Polisi menjadi penyidik atau sekurang-kurangnya
Pembantu Letnan Dua Polisi, sedangkan bagi Pegawai Negri Sipil yang dibebani
wewenag penyidikan adalah sekurang-kurangnya Pengatur Muda Tingkat II (gol
II/b) atau yang disamakan dengan itu.
Suatu pengecualian, jika di suatu tempat tidak ada pejabat penyidik
berpangkat Pembantu Letnan Dua ke atas, maka Komandan sektor Kepolisian yang
berpangkat Bintara di bawah Pembantu Letnan Dua Polisi karena jabatannya adalah
Penyidik. Penyidik Pejabat Polisi Negara tersebut diangkat oleh Kepala Kepolisian
Republik Indonesia, yang dapat melimpahkan wewenag tersebut kepada pejabat
polisi lain.
Penyidik Pegawai Negri Sipil diangkat oleh Mentri Kehakiman atas usul
departemen yang mebawahi pegawai tersebut. Wewenang kepangkatan tersebut
dapat dilimpahkan pula oleh Mentri Kehakiman. Sebelum kepangkatan, terlebih
dahulu Mentri Kehakiman meminta pertimbangan jJaksa Agung dan Kepala
Kepolisian Republik Indonesia.
Selanjutnya pada Pasal 3 Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1983
menentukan bahwa Penyidik pembantu adalah pejabat Polisi Negara Republikl
Indonesia yang berpangkat Sersan Dua Polisi dan Pegawai Negri Sipil tertentu
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

dalam lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang sekurang-kurangnya
berpangkat Pengatur Muda (Golongan II/a) atau yang disamakan dengan itu.
Kedua macam penyidik yang tersebut di atas diangkat oleh Kepala
Kepolisian Negara Republik Indonesia atau usul komandan atau pemimpin kesatuan
masing-masing. Wewenang kepangkatan ini dapat juga dapat dilimpahkan kepada
pejabat Kepolisian yang lain.
Hubungan antara penyidik Polisi Republik Indonesia dengan Pejabat
Pegawai Negri Sipil dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 107 KUHAP, yaitu;
1. untuk kepentingan penyidikan, penyidik tersebut pada Pasla 6 ayat (1)
huruf a memberikan petunjuk kepada penyidik tersebut pada Pasal 6 ayat
(1) huruf b dan memberikan bantuan penyidikan yang diperlukan.
2. Dalam hal suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana
sedang dalam penyidikan oleh penyidik tersebut pada Pasal 6 ayat (1)
huruf b dan kemudian ditemukan bukti yang kuat untuk diajukan kepada
penuntut umum, penyidik tersebut pada Pasal 6 ayat 1 huruf b
melaporkan hal itu kepada penyidik tersebut pada Pasal 6 ayat 1 huruf a.
3. dalam hal tindak pidana telah selesai disidik oleh penyidik tersebut pada
Pasal 6 ayat 1 huruf b, segera ia menyerahkan hasil penyidikannya
kepada penuntut umum melalui penyidik tersebut pada Pasal 6 ayat 1
huru a.

kemudian dalam penjelasan Pasal 107 KUHAP tersebut dinyatakan bahwa:
Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat 1 huruf a, diminta atau
tidak diminta berdasarkan tanggungjawabnya wajib memberikan bantuan penyidikan
itu kepada penyidik tersebut pada Pasal 6 ayat 1 huruf a.
Kemudian Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat 1 huruf a.
dalam melakukan penyidikan suatu perkara pidana wajib melaporkan hal itu kepada
penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat 1 huruf a disertai dengan berita
acara penyidikan yang dikirim kepada penuntut umum.
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Penyidik Pegawai negri Sipil diberi wewenang khusus oleh Undang-undang dalam
melakukan penyidikan. Penyidik Pegawai Negri Sipil diatur dalam Pasal 6 ayat 1
huruf b, yaitu Pegawai Negri Sipil yang mempunyai fungsi dan wewenang sebagai
penyidik. Pada dasarnya wewenang yang mereka miliki bersumber pada undang-
undang khusus, yang telah menetapkan sendiri mengenai pemberian wewenang
kepada Penyidik Pegawai Negri Sipil pada salah satu Pasal.
Jadi di samping penyidik Polri, dalam undang-undang khusus tersebut
memberi wewenang kepada pejabat Pegawai negri sipil yang bersangkutan dalam
melakukan penyidikan. Misalnya dalam Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang
kehutanan dalam Pasal 77 mengenai penyidikan dalam pasal 2, adapun wewenang
dari Pejabat Penyidik Pegawai Negri Sipil sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1,
berwenang untuk:
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan yang
berkenaan dengan tindak pidana yang menyangkut hasil hutan, kawasan
hutan dan hasil hutan.
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak
pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan.
c. Memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan hutan
atau wilayah hukumnya;
d. Melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana
yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

e. Meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau badan hukum
sehubungan dengan tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan
hutan dan hasil hutan;
f. Menagkap dan menahan dalam koordinasi dan pengawasan Penyidik
Kepolisian Negara republik Indonesia ssesuai Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana;
g. Membuat dan menandatangani berita acara;
h. Menghentikan Penyidikan apabila tidak terdapat cukup alat bukti tentang
adanya tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan dan hasil
hutan.
Wewenang Penyidikan yang dimiliki oleh Pejabat Pegawai Negri Sipil hanya
terbatas sepanjang yang menyangkut dengan tindak pidana yang diatur dalam
undang-undang tertentu. Adapun yang menjadi kedudukan dan wewenang penyidik
pegawai negri sipil dalam melaksanakan tugas penyidikan;
a. penyidik Pegawai Negri Sipil kedudukannya berada di bawah koordinasi
penyidik Polri dan di bawah pengawasan Penyidik Polri.
b. Untuk kepentingan penyidikan, penyidik Polri memberikan petunjuk
kepada penyidik pegawai negri sipil tertentu, dan memberikan bantuan
penyidikan yang diperlukan.
c. Penyidik pegawai negri sipil tertentu harus melaporkan kepada penyidik
Polri tentang adanya suatu tindak pidana yang sedang disidik, jika dari
penyidikan itu oleh penyidik pegawai negri sipil ada ditemukan bukti
yang kuat untuk mengajukan tindak pidananya kepada penuntut umum.
d. Apabila penyidik pegawai negri sipil telah selesai melakukan penyidikan,
hasil penyidikan tersebut harus diserahkan kepada penuntut umum. Cara
penyerahannya kepada penuntut dilakukan penyidik pegawai negri sipil
melalui peyidik Polri. Apabila Penyidik Pegawai Negri sipil
menghentikan penyidikan yang telah dilaporkan kepada penyidik Polri,
penghentian penyidikan harus diberitahukan kepad apenyidik Polri dan
Penuntut umum.
27



27
M. Yahya Harahap, Op Cit, hal 113
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009





C Pelaku dan modus Operandi Tindak Pidana Illegal Logging

Secara umum dalam suatu tindak pidana yang terjadi biasanya melibatkan
beberapa orang atau lebih dari satu orang. Dimana keterlibatan orang-orang tersebut
dapat berupa:
a. beberapa orang bersama-sama melakukan delik
b. mungkin saja seseorang yang mempunyai kehendak dan merencanakan
delik, tapi delik tersebut tidak dilakukannya sendiri tetapi delik tersebut
tidak dilakukannya sendiri tetapi ia menggunakan orang lain untuk
melaksanakan delik tersebut
c. dapat juga terjadi, hanya seseorang yang melakukan delik sedangkan
orang lain membantu orang lain itu dalam melaksanakan delik.
28
Mengenai masalah pelaku diatur juga dalam KUHP, dalam KUHP mengenai siapa
saja yang dapat dipidana sebagai pelaku dari suatu tindak pidana dimuat dalam Pasal
55 KUHP, yaitu :

1. Orang yang melakukan (Pleger)
Dalam hal ini adalah seseorang yang secara sendiri melakukan perbuatan
tindak pidana. Dimana pelakunya adalah tunggal terhadap pelaku tindak
pidana yang tunggal dapat diminta pertanggungjawabannya apabila
memenuhi semua unsur dari yang terdapat dalam rumusan delik. Misalnya
seorang yang secara sengaja mencuri dan menebang kayu di dalam hutan.
2. Orang yang menyuruh melakukan (Doen Pleger)

28
A. Fuad dan Tongat, Pengantar Hukum Pidana, UMM, 2004.edisi pertama, hal 115
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Dalam hal ini harus ada setidaknya dua orang, yaitu orang yang menyuruh
melakukan dan orang yang disuruh melakukan. Orang yang menyuruh
melakukan tidak melakukan tindak pidana akan tetapi orang yang disuruhlah
yang melakukan tindak pidana tersebut. Misalnya orang yang menyuruh
orang lain untuk mencuri dan menebang kayu di dalam hutan.
3. Orang yang turut serta melakukan (Medepleger)
Dalam hal ini harus ada dua orang yang secara bersama-sama melakukan
suatu tindak pidana, mereka ini secara sadar bersama-sama melakukan tindak
pidana tertentu. Yang termasuk dalam kategori turut melakukan adalah :
apabila beberapa orang melakukan suatu perbuatan pidana secara bersama-
sama melakukan perbuatan pidana secara bersama-sama. Jadi perbuatan
pidana tersebut dilakukan dengan kekuatan pelaku sendiri.; antara beberapa
orang yang secara bersama-sama melakukan perbuatan pidana tersebut harus
ada kesadaran bahwa mereka bekerjasama pada waktu melakukan tindak
pidana tersebut. Jadi dalam hal in sebelum melakukan tindak pidana terlebih
dahulu melakukan peundingan /pemufakatan. Misalnya seseorang yang
mengajak orang lain untuk bersama-sama mencuri dan menebang pohon di
hutan.
4. Orang yang membujuk melakukan (Uitloker)
Dalam hal ini membutuhkan setidaknya dua orang, yaitu orang yang
membujuk, yang menggerakkan orang lain untuk melekukan suatu tindak
pidana dan orang yang dibujuk atau digerakkan untuk melakukan tindak
pidana. Misalnya, seoraang pimpinan perusahaan atau seorang lainnya yang
mempunyai pengaruh di perusahaan tersebut membujuk atau menggerakkan
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

karyawannya dengan janji akan memberikan upah atau kenaikan gaji, agar
karyawannya tersebut dapat melakukan, misalnya mencuri dan menebang
pohon di dalam hutan. Dengan demikian yang membujuk yaitu direktur dan
yang dibujuk yaitu karyawan dianggap sebagai pelaku.
Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 55 KUHP dan UU No. 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan maka yang dapat digolongkan sebagai pelaku tindak pidana illegal
logging adalah:
1. Penebang Kayu
Biasanya yang menjadi penebang kayu adalah masyarakat yang berada disekitar
kawasan hutan namun terkadang ada yang sengaja didatangkan dari luar daerah
untuk menjadi penebang kayu bayaran. Mereka melakukan penebangan secara
langsung dengan tujuan untuk kepentingan diri sendiri maupun untuk dijual pada
pemilik modal. Kegiatan mereka ini tidak berdampak besar terhadap kerusakan
hutan karena sarana atau alat yang mereka gunakan masih sederhana dan minim.
2. pengangkut Kayu
Berdasarkan Pasal 50 ayat (3) huruf h dinyatakan bahwa orang yang
mengangkut hasil hutan tanpa dilengkapi dengan Surat Keterangan Sahnya Hasil
Hutan (SKSHH) dikategorikan segbagai pelaku tindak pidana. Kenyataanya
dilapangan pengangkut kayu (supir) ini yang paling banyak tertangkap,
29

29
Hasil Wawancara, Op Cit
padahal
bila diteliti lebih jauh mereka tidak tahu apa-apa karena mereka hanya mendapat
perintah dari majikannya untuk mengangkut kayu tersebut ke suatu tempat tanpa
tahu asal usul dari kayu yang diangkutnya, namun hukum tidak melihat apa profesi
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

dari pelaku tetapi melihat akibat dari perbuatan pelaku yang dapat meresahkan
masyarakat.
3. pemilik modal
Dalam hal ini pelaku berperan sebagai fasilitator atau penadah kayu hasil
kegiatan praktek illegal logging. Bahkan terkadang pemilik modal inilah yang
menjadi dalang utama atau aktor intelektual dari prakti illegal logging itu sendiri
4. pemilik industri kayu atau pemilik Hak Pengelolaan Hutan (HPH)
Di sini pelaku bisa berperan sebagai pelaku praktek illegal logging secara
langsung ataupun bisa berperan sebagai penadah kayu hasil praktek illegal logging.
5. Nahkoda kapal
Dalam praktek illegal logging nahkoda kapal berperan dalam usaha
penyeludupan kayu baik keluar daerah maupun ke luar negri melalui laut karena
seperti kita tahu bahwa kejahatan illegal logging telah menjadi kejahatan lintas
negara. Nahkoda kapal di sini dapat dikategorikan sebagai turut serta melakukan
dan dalam UU No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan turut serta melakukan di
kategorikan sebagai pelaku tindak pidana.
6. Oknum Pejabat pemerintah atau oknum aparat keamanan
Dalam praktek illegal logging oknum pejabat pemerintah dan oknum aparat
kemanan turut ambil bagian yaitu melakukan kerjasama dengan pengusaha/pemilik
modal atau tentunya kerjasama yang saling menguntungkan diantara mereka.
Oknum pejabat pemerintah melakukan manipulasi kebijakan dalam pengelolaan
hutan tau memberikan konsesi penebangan yang melampaui batas izin eksploitasi
hutan kepada pemilik modal untuk melancarkan aksinya dan aparat kemanan
memberikan perlindungan terhadap kegiatan yang dilakukan oleh pemilik modal
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

dimana jelas-jelas kegiatan tersebut merupakan tindak pidana. Pelaku ini terdiri dari
oknum TNI, Oknum POLRI, Jagawana/ Polisi Kehutanan, PNS Bea cukai, Oknum
pemerintah daerah, oknum anggota DPRD, bahkan oknum politisi juga terkadang
turut ambil bagian dalam praktek illegal logging yang marak terjadi. Inilah yang
membuat dalang utama tindak pidana illegal logging sulit ditembus hukum karena
mendapat perlindungan dari aparat pemerintah dan aparat keamanan.
7 Pengusaha Asing
Pengusaha asing ini berperan sebagai pembeli atau penadah dari kayu hasil
praktik illegal logging untuk keperluan atau kepentingan perusahaan atau usaha
mereka.
Kerjasama yang baik antara pelaku pelaku tindak pidana illegal logging di atas akan
membawa dampak semakin kuat dan luasnya jaringan praktek illegal logging yang
terjadi tidak hanya dalam hutan produksi tetapi sudah merambat ke dalam kawasan
hutan lindung

Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana beserta penjelasannya tidak
ada di menyebutkan secara jelas tentang apa yang dimaksud dengan modus
operandi. Sedangkan masalah ini adalah sangat penting dalam hal mengusut dan
menumpas kejahatan, karena kejahatan itu tidak hanya ditumpas dengan peraturan
perundang-undangan saja melainkan juga ditumpas dari sudut diri pelaku kejahatan.
Menurut kamus hukum disebutkan bahwa modus operandi adalah teknik, atau cara-
caranya beroperasi, atau jalannya perbuatan-perbuatan kejahatan.
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa modus operandi itu adalah
merupakan teknik atau cara ataupun metode-metode yang dipergunakan oleh pelaku
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

(subjek) tindak pidana itu. Jadi jelaslah bahwa modus operandi ini titik beratnya
adalah terletak pada diri si pelaku dalam mempersiapkan suatu kejahatan.
Adapun modus operandi yang senantiasa digunakan oleh kejahatan yang terorganisir
ini adalah penyandang dana atau cukong melalui sistem sel yang melibatkan anggota
masyarakat untuk melakukan penebangan liar. J aringan organisasi ini terdiri dari
petugas/ pejabat kehutanan, bea cukai, kepolisian, TNI AD, TNI AL, Pemda
Kejaksaan, Pengadilan, serta Politikus. Berbagai upaaya penanggulangan illegal
logging dan pengamanan hutan, baik berupa operasi pengamanan fungsional,
gabungan dan operasi khusus serta berbagai kerjasama kelihatannya belum optimal,
bahkan cenderung berakibat pada merajalelanya penebangan liar baik di kawasan
hutan lindung maupun kawasan konservasi. FFNN
30
a. Modus operandi di daerah hulu adalah:

Untuk lebih jelasnya modus operandi dalam kegiatan illegal logging ini
dibedakan dalam dua (dua) bagian yaitu:
1. melakukan penebangan tanpa izin untuk kepentingan pribadi, dimana
biasanya dilakukan oleh masyarakat yang kemudian hasil tebangan
illegal dijual kepada pengusaha kayu atau kepada industri pengelolaan
kayu.
2. melakukan penebangan diluar izin yang ditentukan konsesinya oleh
pemerintah, biasanya ini dilakukan oleh pemilik Hak Pengelolaan Hutan
(HPH) dan pemegang izin Penebangan kayu (IPK) yang sah dengan
menggunakan tenaga kerja masyarakat setempat seabagai penebang kayu
atau mendatangkan langsung dari luar daerah. Modus ini dilakukan

30
http://www.republika.co.id, Op Cit
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

dengan tujuan untuk memenuhi pasokan kayu yang telah disepakati agar
terhindar dari kerugian karena tidak dapat memenuhi permintaan industri
kayu. Selain itu tujuan modus operandi ini adalah untuk mempercepat
tercapainya target produksi perindustrian kayu.
b. Modus operandi di daerah hilir adalah :
1. pengangkutan kayu tanpa dilengkapi Surat Ketrangan Sahnya Hasil
Hutan (SKSHH), dalam modus operandi ini tidak hanya melibatkan
pemilik kayu sebagai pelaku tetapi juga ikut melibatkan pemilik kayu
sebagai pelaku tetapi juga ikut melibatkan pengangkut kayu ( supir) atau
nahkoda kapal.
2. pengangkutan kayu dilengkapi dengan dokumen palsu, dalam hal
pemalsuan kayu ini ada tiga modus yang biasa dilakukan oleh para
pelaku, yakni pemalsuan blanko dan isinya, blankonya asli tetapi isinya
dipalsukan, dan Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH) yang
digunakan berasal dari daerah lain.
Dalam hal pengangkutan kayu dengan dokumen palsu selain pemilik
kayu sebagai pelaku, aparat penerbit dokumen palsu stempel dan cap
palsu juga adalah pelaku termasuk pengangkut kayu illegal tersebut.
31
3. Volume kayu yang diangkut tidak sesuai dengan data yang ada dalam
SKSHH, dalam modus operandi ini pemilik kayu bekerjasama dengan
penerbit SKSHH. Jadi di sini pelakunya tidak hanya pemilik kayu dan
pengantar kayu tetapi pejabat yang mengeluarkan SKSHH juga terlibat.


31
Hasil Wawancara, Op Cit
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Dalam hal ketidaksesuaian volme kayu ini, aparat memberikan toleransi
sebesar 5% dari data yang tercatat dalam dokumen.
32
4. Adanya dokomen SKSHH yang digunakan lebih dari satu kali, dalam hal
ini pelaku tidak memperbaharui SKSHH, dan mempergunakan SKSHH
berulangkali.

5. Menggunakan Dokumen pengganti SKSHH, seperti surat tilang di darat
atau dilaut sebagai pengganti SKSHH yang disita, atau faktur kayu
sebagai penggantu SKSHH atau surat-surat lain.


BAB IV
KENDALA-KENDALA DAN UPAYA YANG DILAKUKAN PPNS

A. KENDALA-KENDALA
Masalah illegal logging merupakan masalah utama sektor kehutanan.
Kejahatan ini dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi peradaban dan
generasi yang akan datang. Maraknya praktek illegal logging yang terjadi berakibat,
pada rusaknya kondisi hutan saat ini. Hutan yang sebenarnya memberikan manfaat
yang dapat dirasakan lansung oleh msyarakat, dimana masyarakat dapat
menggunakan atau memanfaatkan hasil yang didapat dari hutan, antara lain kayu
yang merupakan hasil utama dari hutan. Serta berbagai hasil hutan seperti, rotan,
getah, buah-buahan dan lain-lain.
33

32
ibid
33
Salim HS, Dasar-Dasar Hukum Kehutanan,Sinar Grafika, Jakarta,2002, hal 46
Selain manfaat yang dapat dirasakan langsung
oleh masyarakat, banyak lagi manfaat yang secara tidak langsung juga dapat
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

dirasakan oleh masyarakat seperti, hutan yang dapat mengatur tata air, dapat
mencegah terjadinya erosi sebagi penyebab terjadinya banjir, dapat juga
memberikan manfaat di sektor pariwisata dan lain-lain. Untuk itu perlu perlindungan
yang maksimal terhadap hutan.
Melihat keadaan hutan di Indonesia yang semakin buruk pemerintah
mengambil kebijaksanaan untuk menindak tegas semua pelaku tindak pidana illegal
logging, keseriusan Pemerintah dalam usaha pemberantasan tindak pidana illegal
loging dibuktikan dengan dikeluarkannya Inpres. No. 4 Tahun 2005. tentang
pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegal di Kawasan Hutan, dn
Peredarannya di Seluruh Wilayah Indonesia. Dimana dalam Inpres No. 4 Tahun
2005. Presiden Republik Indonesia menginstruksikan kepada 18 instansi untuk
memberantas praktek illegal loggingdi seluruh wilayah Republik Indonesia.
Namun dalam pelaksanaanya di lapangan pemberantasan tindak pidana
illegal logging selalu menemui hambatan-hambatan terutama dalam proses
penyidikannya.
Hambatan-hambatan dalam proses penyidikan tindak pidana illegal loggging ini
antara lain:
1. Lemahnya koordinasi antar penegak hukum
Koordinasi antar penegak hukum memegang peranan penting dalam proses
penegakan hukum terhadap tindak pidana illegal logging. Begitu pula halnya dengan
proses penyidikan tindak pidana illegal logging yang tidak hanya melibatkan POLRI
sebagi penyidik tetapi juga melibatkan Penyidik Pegawai Negri Sipil (PPNS)
Kehutanan dan Polisi Hutan (POLHUT) yang diberi kewenangan oleh Undang-
Undang untuk melakukan penyidikan terhadap tindak pidana di bidang kehutanan
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

khususnya illegal logging. Selain itu penyidik dari Perwira angkatan Laut juga dapat
melakukan penyidikan dalam hal terjadinya penyeludupan kayu. Keadaan ini
memungkinkan terjadinya tumpang tindih penyidikan terhadap satu tersangka dalam
praktek illegal logging, masing-masing berjalan sendiri-sendiri dan tidak terintegrasi
dalam satu lembaga penyidikan yang terpadu sehingga berpotensi menimbulkan
konflik antar penyidik yang diberi kewenangan oleh undang-undang. Bahkan
terkadang muncul arogansi masing-masing penyidik dalam melakukan penyidikan
terhadap kasus-kasus tindak pidana kehutanan berdasarkan kewenangan masing-
masing yang diberikan oleh undang-undang.
Seharusnya antar penyidik yang diberikan kewenangan masing-masing oleh
undang-undang dapat saling bekerjasama. Misalnya dapat saling tukar menukar data
dan informasi sehingga proses penyidikan dapat berjalan efektif sehingga kasus
illegal logging dapat terungkapdengan tuntas. Ketidakharmonisan antar penyidik
tindak pidana illegal logging dalam rangka penegakan hukum ini justru
dimanfaatkan oleh para pelaku illegal logging untuk lepas dari jerat hukum.
2. Pelaku utama (aktor intelektual) yang sulit ditembus oleh hukum.
Peredaran hasil hutan illegal dan penebangan liar di Indonesia merupakan tindak
kejahatan yang terorganisasi karena melibatkan banyak aktor dengan berbagai
kepentingan dan jaringan, baik di Departemen kehutanan, maupun instansi lainnya
serta jaringan pasar di dalam negri dan di luar negri. Dalam prakteknya di lapangan
sering kali ditemukan bahwa yang tertangkap hanyalah para pekerja lapangan yaitu,
para penebang, pengangkut kayu atau, penadah kayu illegal. Sedangkan otak pelaku
utama dari tindak pidana illegal logging sepertinya tidak dapat tertembus oleh
hukum. Hal ini dikarenakan bisanya para pelaku utama adalah orang-orang yang
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

dekat dengan penguasa atau pejabat-pejabat daerah. Sehingga seolah-olah mendapat
perlindungan selain itu sulitnya pelaku utama tertangkap karena pelaku utama telah
mengetahui terlebih dahulu bahwa orang yang bekerja padanya telah tertangkap
tangan dan ia mempunyai banyak kesempatan untuk melarikan diri dan akhirnya
dapat lolos dari jeratan hukum. Dengan tidak tertangkapnya aktor intelektual dari
pelaku illegal logging maka akan semakin menghambat terungkapnya tindak pidana
illegal logging yang terjadi.
3. Adanya otonomi daerah
Penebanagan liar ( illegal logging) mengakibatkan hutan menjadi semakin
gundul. Dengan keluarnya pengaturan mengenai otonomi daerah maka kewenangan
pelaksanaan pengamanan hutan yang terdapat pada suatu wilayah kabupaten /kota
menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Illegal logging dipicu otonomi
daerah yang kebablasan, dimana timbul pemikiran bahwa sumber daya hutan
diminta untuk dipilah-pilah sesuai dengan batasan wilayah administrasi utamanya
pada tingkat kabupaten/kota. Pemikiran dan tuntutan muncul sebagai akibat dari
adanya perbedaan persepsi tentang hutan sebagai ekosistem yang tidak dapat dibagi
menurut batasan administrasi. Dengan adanya kewenangan tersebut maka dalam
penanganan kasus illegal logging yang terjadi di daerah kabupaten/kota menjadi
kendala karena Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara tidak dapat langsung
menangani tindak pidana illegal logging yang terjadi tetapi harus melalui permintaan
kabupaten/ kota tersebut.
34
4. Kurangnya sarana dan prasarana
Hal ini tentu akan menghambat proses penegakan hukum
terhadap tindak pidana illegal logging yang terjadi.

34
Hasil Wawancara, Op Cit
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Sarana dan prasarana yang cukup dan memadai memegang peranan penting
dalam rangka penegakan hukum. Tanpa adanya sarana atau fasilitas yang cukup
memadai, maka tidak mungkin penegakan hukum dapat berjalan dengan lancar.
Dimana sarana dan prasarana tersebut dapat berupa tenaga manusia yang
berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai,
keuangan yang cukup dan lainnya. Kalau hal hal tersebut diatas tidak dipenuhi,
maka mustahil penegakan hukum dapat tercapai.
35
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan sarana dan prasarana yang
dimiliki pelaku praktek illegal logging jauh lebih maju diabandingkan sarana dan
prasarana yang dimiliki oleh aparat penegak hukum khususnya di daerah-daerah
yang justru memiliki areal hutan yang luas dan rawan terjadi praktek illegal
logging.

36
5. keterbatasan dana
Keterbatasan sarana dan sarana yang dimiliki aparat penegak hukum
menjadi faktor penghambat dalam proses penyidikan tindak pidana illegal logging.
Dengan terhambatnya proses penyidikan tentu berimbas terhadap semakin maraknya
tindak pidana illegal logging.
Minimnya dana yang juga menjadi slah satu penghambat dalam kelancaran
proses penyidikan tindak pidana illegal logging. Dalam penanganan tindak pidana
illegal logging tidak ada dana khusus, padahal dalam proses penenganan perkara
tindak pidana illegal logging ini memerlukan biaya yang jauh lebih besar dari
penyidikan tindak pidana biasa lainnya. Anggaran biaya penyidikan untuk satu
perkara pidana illegal logging yang di tangani polisi, itu sebesar 2,5 juta, sedangkan

35
Soerjono Soekamto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, hal 27
36
IGM Nurjana, Op Cit, hal 143
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

untuk perkara yang ditangani oleh PPNS, tidak ada nominal yang angka yang
ditetapkan untuk menangani perkara tindak pidana illegal logging.
37
1. Memberikan himbauan kepada masyarakat

Sebagai contoh apabila terjadi penyeludupan kayu ke daerah lain di luar propinsi
Sumatera Utara maka membutuhkan biaya dalam hal penyidikannya, biaya bongkar
barang bukti dan biaya-biaya lainnya. Dengan terbatasnya dana maka akan semakin
memberikan kesempatan bagi pelaku illegal logging untuk melarikan diri.

B Upaya-upaya dalam penanggulangan illegal logging
B.1. Upaya preventif
Upaya preventif adalah ,merupakan suatu usaha penanggulangan yang lebih
menitikberatkan pada pencegahan/ penanganan atau pengendalian sebelum
terjaddinya tindak pidana illegal logging. Dalam upaya penanggulangan ini, polisi
memang lebih dominan dalam upaya represif sedangkan dalam upaya preventif lebih
cenderung menjadi tanggungjawab dari Departemen Kehutanan dan Dinas
Kehutanan Provinsi Sumatera Utara walaupun tidak tertutup kemungkinan pihak
Kepolisian ikut terlibat dalam usaha-usaha yang berhubungan dengan upaya
preventif dalam rangka pemberantasan tindak pidana illegal logging di wilayah
hukum Sumatera Utara.
Adapun langkah yang ditempuh pihak Dianas Kehutanan Provinsi Sumatera
Utara sebagai upaya Preventif dalam rangka perlindunagn terhadap hutan:
Himbauan- himbauan ini dapat dilakukan melalui media massa seperti media
elektronik ataupun melalui media cetak seperti radio swasta dan surat kabar lokal.

37
Hasil Wawancara, Op Cit
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Himbauan-himbauan ini juga dapat dilakukan melelui spanduk-spanduk maupun
pamflet-pamflet yang berisi tentang ajakan masyarakat ikut serta dalam usaha-usaha
perlindungan terhadap hutan dan hasil hutan.
Peran serta masyarakat dalam usaha perlindungan hutan adalah merupakan salah
satu jalan yang efektif dalam usaha pencapaian pembangunan hutan di Provinsi
Sumatera Utara. Hal ini dikarenakan masyarakat adalah orang yang berhubungan
langsung dan hampir setiap hari bersentuhan dengan kawasan sekitar hutan.
2. Mendirikan pos peredaran pengangkutan hasil hutan
Selain dengan melakukan penangkapan terhadap pelaku tindak pidana illegal
logging usaha-usaha yang dilakukan oleh aparat hukum adalah dengan mendirikan
pos-pos peredaran hasil hutan. Pos ini didirikan di daerah perbatasan dan jalan lintas
Propinsi yang biasanya dilewati oleh para pelaku untuk mengangkut hasil hutan
yang tidak sah.
38
3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas Polisi Hutan(Polhut)

Pada saat sekarang ini tugas penjagaan, pengamanan dan perlindungan
kawasan hutan serata peredaran hasil hutan ditumpukan kepada polisi hutan.
Sementara gambaran keadaan Polisi Hutan saat ini menunjukkan gambaran yang
ironis dan memprihatinkan bila dibandingkan denagan ratio luas kawasan hutan
yang harus dijaga kemanannya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor terjadinya
praktik illegal logging karena sebagian kawasan hutan luput dari pengawasan
Polhut. Selain itu kualitas dan kwantitas dari SDM Polhut serta persepsi yang
kurang baik terhadap Polhut yang disebabkan tindakan sebagian oknum Polhut yang
tidak terpuji dalam melaksanakan tugasnya khususnya yang berhubungan dengan

38
ibid
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

pengamanan dan pengawasan peredaran kayu termasuk menjadi penentu semakin
maraknya praktik illegal logging.
Melihat keadaan yang seperti ini pemerintah dalam hal ini Departemen
Kehutanan mengambil langkah-langkah pembinaan kemampuan untuk
meningkatkan kuyalitas dan kuantitas SDM Polhut yaitu dengan mengadakan
program pendidikan dan latihan ( diklat). Salah satu Program yang sedang
dikembangkan adalah dengan dibentuknya Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat
(SPORC). Diklat pembentukan SPORC ini bertujuan untuk membentuk gugus
Polhut yang memiliki karakteristik berpikir dan bertindak cepat di dalam
melaksanakan tugas-tugas khusus di bidang Kehutanan.
39

39
Majalah Kehutanan Indonesia, hal 10
Selain itu tujuan dari
pembentukan SPORC ini adalah untuk penugasan khusus terhadap adanya eskalasi
ancaman/ gangguan kemanan hutan yang meningkat yaitu ganguan kemanan hutan
yang tidak ditangani secara rutin oleh satuan Polhut.
Dalam pelaksanaan diklat ini Departemen Kehutanan bekerjasama dengan
Mabes Polri karena tugas Polhut dalam hal ini SPORC terkait dengan tugas-tugas di
bidang kehutanan. Program diklat ini dilaksanakan berdasarkan amanat dari
Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Peraturan Pemerintah No.
45 tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan dan Instruksi Presiden No. 4 tahun 2005
tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegaldi Kawasan Hutan Dan
Peredarannya di Seluruh Wilayah Republik Indonesia.
Upaya-upaya preventif yang dilakukan Polhut dalam rangka penanggulangan
terjadinya tindak pidana illegal logging antara lain adalah:
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

a. berpatroli secara rutin, mendadak, periodik ataupun gabungan di dalam
kawasan hutan atau dalam wilayah hukum Polhut yang telah ditentukan
b. memeriksa surat-surat atau dokumen yang berkaitan dengan pengangkutan
hasil hutan di kawasan atau di wilayah hukum polhut yang telah ditentukan
c. melakukan koordinasi dengan mitra instansi/ lembaga yang terkait dalam
operasi perlindungan dan pengamanan hutan.
4. Memberikan penyuluhan hukum
Penyuluhan hukum dilakukan secara teratur dan terus menerus kepad
masyarakat. Dimana dalam penyuluhan hukum ini diinformasikan kepada
masyarakat tentang bahaya yang akan mengancam bila praktek illegal logging terus
berjalan selain itu dalam penyuluhan hukum juga diberitahukan kepada masyarakat
mengenai sanksi pidana yang akan diterima bila melakukan praktek illegal logging.
Dalam penyuluhan hukum ini tidak hanya melibatkan Dinas Kehutanan tetapi
juga melibatkan aparat penegak hukum lainnya yaitu pihak Kepolisisan, Kejaksaan,
dan Pengadilan. Selain itu pimpinan atau tokoh masyarakat setempat yang disegani
juga dilibatkan dalam program ini. Keikutsertaan tokoh masyarakat ini sangat
membantu dan berpengaruh kepada masyarakat, hal ini dikarenakan masyarakat
lebih percaya kepada pimpinan atau tokoh masyarakat dibandingkan dengan orang
luar. Dengan keikutsertaan pimpinan atau tokoh masyarakat setempat diharapkan
masyarakat menjadi ikut merasa memiliki hutan sehingga timbul keinginan untuk
menjaga kelestarian hutan. Guna kelangsungan hidup di masa yang akan datang.
Dengan dilakukannya penyuluhan ini maka diharapkan masyarakat dapat
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta mengubah sikap dan perilaku
masyarakat agar mau dan mampu mendukung pembangunan kehutanan atas dasar
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta sadar akan pentingnya sumber
daya hutan bagi kehidupan manusia. Dengan penyuluhan juga diharapkan
masyarakat menyadari bahwa dalam proses penegakan hukum bukan hanya
tanggungjawab aparat penegak hukum, akan tetapi juga menjadi tanggungjawab kita
bersama.
B.2. Upaya represif
Kelestarian dan fungsi hutan adalah salah satu sumber kehidupan seluruh
masyarakat maka perlindungan untuk mencapai tujuan tersebut pada hakekatnya
bukan saja menjadi tanggungjawab pemerintah aparat penegak hukum melainkan
tanggungjawab seluruh aspek kehidupan masyarakat. Khususnya yang
berkepentingan langsung dengan hutan. Oleh karena itu masyarakat diikutsertakan
dalam upaya perlindungan hutan.
Dan untuk itu pemerintah dan aparat penegak hukum juga mengusahakan
perlindungan terhadap kelestarian fungsi hutan tersebut yang salah satunya
dilakukan dengan usaha represif.
Usaha represif merupakan suatu usaha yang lebih bersifat pada
penindasan/pemberantasan atau penumpasan setelah tindak pidana illegal logging
terjadi. Usaha yang bersifat represif ini lebih dominan dilakukan oleh pihak
kepolisian.
Dalam terjaddi suatu peristiwa hukum yaitu laporan, pengaduan atau
tertangkap tangan yang mengarah kepada dugaan telah terjadi tindak pidana illegal
logging, yang kemudian oleh pihak yang berwenang akan dilakukan penyidikan
terhadap orang yang diketahui sedang atau telah melakukan tindak pidana illegal
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

logging, bila nantinya terbukti melakukan tindak pidana illegal logging pelaku
ditangkap untuk diproses lebih lanjut.
Dengan ditangkapnya pelaku illegal logging tersebut diharapkan memberikan efek
jera khususnya bagi pelaku sendiri dan dan memberikan rasa takut bagi masyarakat
agar tidak mau lagi melakukan praktek illegal logging namun yang terjadi di
lapangan dalam pemeberantasan tidak pidana illegal logging ini seringkali pihak
aparat menemui kendala dalam mengangkap pelaku yaitu ada kalanya yang ditemui
kayu truk beserta dengan kayu yang diduga adalah hasil praktik illegal logging,
namun yang membawa kayu tersebut ( supir truk) tidak ada karena telah lari terlebih
dahulu.
40
Selain itu pelaku yang menjadi otak pelaku dari praktek illegal logging ini
masih banyak yang belum tersentuh hukum hal ini dikarenakan pelaku yang adalah
orang-orang yang dekat dengan tampuk kekuasaan, dan mempunyai modal besar
untuk bisa lari dan lolos dari hukum.

41
1. Operasi Wanalaga III
Inilah yang merupakan kendala sehingga
pelaku illegal logging lolos darri jerat hukum.
Selain dengan melakukan penangkapan dengan melakukan operasi secara rutin.
Operasi yang dilakukan bekerjasama dengan aparat kepolisian.
Operasi yaang pernah dilakukan di Dinas Kehutanan Sumatera Utara:
2. Operasi Hutan Lestari I
Dengan dilakukannya operasi ini maka diharapkan pelanggaran hukum
dalam bentuk pencurian dan penyeludupan kayu dapat ditumpas.

40
Hasil Wawancara, Op Cit
41
ibid
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Dalam rangka pengamanan hutan khususnya pemeberantasan praktek illegal logging
pemerintahan propinsi Sumatera Utara juga mengambil kebijakan-kebijakan, hal ini
didasarkan pada Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
dan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Provinsi Sebagai
Daerah otonom, diamana kewenanagn pelaksanaan penagamanan hutan yang
terdapat dalam suatu wilayah kabupaten atau kota. Kebijakan pemerintah provinsi
Sumatera Utara dalam upaya melaksanakan pengamanan hutan khususnya untuk
menangani kegiaan illegal logging telah menetapkan :
a. Pembentukan Tim Operasi Gabungan Hutan dan Hasil Hutan Provinsi
Sumatera Utara dengan Keputusan Gubernur Sumatera Utara No.
522.05/073 K/2001 tanggal 23 Maret 2001 dan Keputusan Gubernur
Sumatera Utara No. 522.5/1821/K/2003 tanggal 25 September 2003.
b. Penunjukan lokasi Pos Pengawasan Peredaran Hasil Hutan Provinsi
Sumatera Utara ddengan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara No.
522/.816.K/2002 tanggal 25 Juli 2002.
c. Operasi Wanalaga yang dilaksanakan oleh Polda Sumatera Utara dan
Operasi Wanabahari yang dilaksanakan oleh jajaran Angkatan Laut.
d. Melaksanakan operasi fungsional oleh aparat Kehutanan, dan Operasi
gabungan dengan aparat Keamanan dan unsur trerkait lainnya.
42








42
Dinas Kehutanan Propinsai SUMUT, Penebangan Kayu dan Illegal Logging, Makalah, Seminar
Sehari, Pengurus GMKI, Medan,2005, hal 4
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN



A. KESIMPULAN

Di akhir penulisan ini, penulis akan merangkum seluruh hasil penbahasan menjadi
kesimpulan. Adapun kesimpulan penulis adalah:
1. Dalam proses penyidikan terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana
di bidang kehutanan khususnya illegal logging harus tunduk pada Undang-
Undang No. 41 Tahun 1999 yang juga tidak terlepas dari pasal-pasal dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) tentang penyidikan
kemudian menerapkan hukum acara yang berpedoman kepada KUHAP.
Penyidik Pegawai Negri Sipil berperan lebih aktif dalam melakukan
penyidikan terhadp tindak pidana illegal logging hal ini disebabkan oleh
keterbatasan yang selalu dihadapi oleh penyidik Polri, khususnya
keterbatasan personil di bidang penyidik. Selain itu keterbatasan
pengetahuan di bidang tertentu menyebabkan Polri tidak mampu menangani
semua tindak pidana yang terjadi.
2. Dalam menangani semakin maraknya tindak pidana illegal logging
khususnya di Sumatera Utara aparat penegak hukum selalu berusaha,
terutama dalam dalam hal penyidikan terhadap dugaan terjadinya tindak
pidana illegal logging. Dimana dalam melakukan penyidikan penyidik
memulai tugasnya melalui salah satu proses hukum yaitu dengan adanya
laporan atau aduan maupun tertangkap tangan, namun dalam melakukan
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

penyidikan Penyidik Pegawai Negri Sipil (PPNS) sering menemui hambatan-
hambatan yaitu antara lain:
a. Lemahnya koordinasi antar penegak hukum
Kewenangan melakukan penyidikan dalam tindak pidana illegal logging
yang tidak hanya melibatkan Polri sebagai penyidik tetapi juga PPNS
Kehutanan dan polhut yang diberi kewenanagn oleh undang-undang, hal ini
yang sering menyebabkan seringnya terjadi tumpang tindih kewenangan.
b. Pelaku utama yang sulit tertembus hukum
Pelaku utama atau aktor intelektual dari tindak pidana illegal logging adalah
orang-orang yang dekat dengan penguasa, sehingga sulit tertembus oleh
aparat penegak hukum.
c. Adanya otonomi daerah
Dimana dalam penanganan illegal logging sudah menjadi hak dari
kabupaten/kota, sehingga Dinas Kehutanan tidak dapat langsung menangani
perkara tanpa adanya permintaan dari daerah.
d. Keterbatasan sarana dan prasarana
Kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki aparat penegak hukum
menjadi faktor penghambat dari pemberantasan tindak pidana illegal logging.
e. Keterbatasan dana
Minimnya dana juga merupakan salah satu penghambat dalam kelancaran
proses penyidikan tindak pidana illegal logging.
3. Pemerintah dan aparat hukum juga telah melakukan upaya-upaya dalam
melakukan pencegahan dan penaggulangan terhadap tindak pidana illegal
logging yang terjadi. Upaya-upaya yang dilakukan:
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

a. Memberikan himbauan kepada masyarakat
Himbauan ini dilakukan melalui media massa seperti media elektronik
ataupun media cetak. Bisa juga melalui spanduk dan pamflet yang berisi
ajakan masyarakat untuk ikut serta dalam usaha-usaha perlindungan terhadap
hutan dan hasil hutan.
b. Mendirikan pos peredaran pengangkutan hasil hutan
Pos ini didirikan di daerah perbatasan dan jalan lintas yang biasa dilewati
dalam mengangkut hasil hutan yang tidak sah.
c. Meningkatkan kualitas dan kuantutas Polisi Hutan
hal ini dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas Sumber Daya
Manusia dan Polhut itu sendiri.
d. Memberikan penyuluhan hukum
Penyuluhan hukum ini tidak hanya melibatkan Dinas Kehutanan tetapi juga
melibatkan aparat penegak hukum yang lain yaitu kepolisian, Kejaksaan dan
pengadilan, serta mengikut sertakan tokoh-tokoh masyarakat.
B. SARAN
Saran-saran yang dapat penulis berikan :
1. Ketentuan peraturan per undang-undangan terhadap tindak pidana illegal
logging di Indonesia belum dapat dilakukan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku untuk itu pemerintah pusat harus
memberikan pendidikan dan pelatihan kepada aparatur pemerintah daerah
dengan harapan agar setiap pemerintah daerah dapat mempersiapkan
aparatur (kualitas dan kuantitas) guna menangani terjadinya tindak pidana
illegal loging. Dengan adanya aparatur yang baik (kualitas dan
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

kuantitas)maka diaharapkan penegakan hukum terhadap tindak pidana illegal
logging akan semakin meningkat.
2. Dalam menangani tindak pidana illegal logging diperlukan peran aktif
masyarakat sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Untuk itu diharapkan kepada masyarakat lebih berperan aktif untuk
melakukan pengawasan dan perlindungan terhadap hutan dan hasil hutan di
sekitarnya dan melaporkan kepada pihak yang berwajib setiap kejadian yang
mencurigakan. Pemerintah juga diharapkan untuk lebih memperhatikan
keadaan ekonomi masyarakat terutama yang yang tinggal di sekitar daerah
hutan yang umumnya tergantung pada hasil hutan. Sehingga tidak terdorong
untuk melakukan praktek illegal logging baik untuk kepentingan sendiri
maupun atas perintah atau suruhan dari masyarakat luar. Selain itu juga
pemerintah harus m,eningkatkan kegiatan penyuluhan hukum sehingga
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan arti dan fungsi
hutan.
3. Agar penyidik di bidang Kehutanan dapat lebih menunjukkan eksistensinya
maka harus diberikan otoritas dan wewenang yang lebih besar lagi. Hal ini
berdasarkan pertimbangan bahwa penyidik PNS khususnya di bidang
Kehutanan sebagai penyidik Pegawai Negri Sipil yang mempunyai
kewenangan yang relatif sempit.




Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

DAFTAR PUSTAKA
Chazawi, Adami, 2002, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, Raja Grafindo Persada,
Jakarta
Echols, M, Jhon, dan Shandly, Hasan,1996, An English-Indnesian Dictionary,
Cetakan XXIII, Gramedia, Jakarta
H. SAlim ,S, Dasar-dasar Hukum Kehutanan, Sinar Grafika,Jakarta,2002
Harahap, M, Yahya 2000, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP
Penyidikan dan Penuntutan, Sinar Grafika, Jakarta
Husin, M, Harun, 1991, Penyidikan dan Penuntutan Dalam Proses Pidana, Rineka
Cipta, Jakarta
K, Satochid, Hukum Pidana Bagian I, Balai Lektur Mahasiswa
Marpaung, Leden, 1995, Tindak Pidana Terhadap Hutan, Hasil Hutan dan Satwa,
Erlangga, Jakarta
Nurjana, IGM, dkk, 2005, Korupsi dan Illegal Logging Dalam Sistem
Desentralisasi, Pustaka Pelajar, Jakarta
Parlindungan, AP 1998, Komentar Undang-Undang Pokok Agraria, Mandar Maju,
Bandung,
Prakoso, Djoko, 1985,Eksistensi Jaksa Ditengah-tengah Masyarakat, Ghalia
Remelink, Jan, 2003 Hukum Pidana Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari
Undang- Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam
Kitab Undang- Undang Hukum Pidana Indonesia, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta
Suarga, Riza, 2005, Pemberantasan Illegal Logging, Ctakan I, WWana Aksara,
Jakarta
Obrika Simbolon : Peran PPNS Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Illegal Logging (Studi di Dinas Kehutanan
Provinsi Sumatera Utara), 2007.
USU Repository 2009

Soekamto,Sojono,2002,Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum,
cetakan IV,Grafindo, Jakarta
Usfa, Fuad, A, & Tongat, 2004, Pengantar Hukum Pidana, Edisi Pertama,
Universitas Muhamadiyah Malang Press, Malang
Zain, S, A, 1996, Hukum Lingkungan Konservasi Hutan, Rineka Cipta, Jakarta
Indonesia, Jakarta Timur

Peraturan Perundang-undangan :
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, 2004,Eko Jaya,Jakarta
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta komentar-komentar lengkap Pasal demi
Pasal, 1994, Politeia Bogor
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, 1997, Departemen Kehakiman RI,
Jakarta
Praturan Pemrintah Nomor 45 Tahun 2204 tentang Perlindungan Hutan.
Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu
secara Illegal Di kawasan Hutan dan Peredarannya di seluruh Wilayah
Republik Indonesia.