Anda di halaman 1dari 19

BATUAN METAMORF (METHAMORPHIC ROCKS)

A. Defenisi

Proses metamorfosisme adalah proses yang menyebabkan perubahan komposisi mineral, tekstur dan struktur pada batuan karena panas dan tekanan tinggi, serta larutan kimia yang aktif. Hasil akhir dari proses metamorfisme adalah batuan metamorf. Batuan metamorf adalah salah satu kelompok utama batuan yang merupakan hasil transformasi atau ubahan dari suatu tipe batuan yang telah ada sebelumnya, protolith, oleh suatu proses yang disebut metamorfisme, yang berarti "perubahan bentuk". Protolith yang dikenai panas (lebih besar dari 150 Celsius) dan tekanan ekstrim akan mengalami perubahan fisika dan/atau kimia yang besar. Protolith dapat berupa batuan sedimen, batuan beku, atau batuan metamorf lain yang lebih tua. Batuan metamorf disebut juga dengan batuan malihan atau ubahan. Didalam ilmu geologi, ada beberapa versi pengertian tentang batuan metamorf, yaitu : Batuan metamorf adalah batuan yang telah mengalami perubahan, asalnya dari batuan yang telah ada baik batuan beku maupun batuan sedimen. Batuan metamorf (batuan malihan) adalah jenis batuan yang sangat padat dan kedap air. Batuan metamorf ialah batuan yang sifatnya telah berubah sesudah pembentukan asalnya melalui proses yang terjadi di dalam bumi

Batuan metamorf memerlukan perhatian tersendiri, karena perubahannya berlangsung dalam keadaan padat. Saat lempeng-lempeng tektonik bergerak dan fragmen kerak bertabrakan, batuan terkoyak, tetarik (extended), terlipat, terpanaskan dan berubah dengan cara yang kompleks. Tetapi meskipun batuan sudah mengalami perubahan dua kali atau lebih, biasanya bekas atau bentuk batuan semula masih tersimpan, karena perubahannya terjadi dalam keadaan padat. Padat tidak seperti cair atau gas cenderung untuk menyimpan peristiwaperistiwa (events) pengubahannya.

B. Klasifikasi Batuan Metamorf

Klasifikasi yang paling sering digunakan adalah berdasarkan keadaan foliasi yang berkembang, dengan komposisi mineral berperan sebagai tambahan. Berdasarkan foliasi, batuan metamorf dibedakan menjadi tiga, yaitu batuan yang : 1. Berfoliasi sangat kuat; yaitu yang mudah pecah melalui bidang foliasi, biasanya karena melimpahnya mika yang terorientasi. Batuannya adalah : a. Slate (batusabak). Bersifat afanitik, mempunyai kilap suram pada bidang foliasi. Berkomposisi utama mineral lempung. Batusabak tampak merah bila banyak mengandung hematit, hijau bila klorit, dan umumnya abu-abu sampai hitam bila banyak grafit. b. Phyllite (fillit). Bersifat afanitik, berbutir lebih kasar dari pada batusabak, dan bidang foliasinya mengkilat karena mika dan klorit yang sudah lebih banyak dari pada batusabak. Batu ini merupakan peralihan dari batusabk ke skis. c. Schist (skis). Bersifat faneritik, banyak mengandung mineral pipih yang terorientasi seperti : mika, klorit, grafit, talk. 2. Berfoliasi rendah : yaitu yang berfoliasi tetapi tidak mudah/tidak dapat pecah melalui bidang foliasi. Orientasi mineral-mineral pipih berselingan dengan

mineral-mineral yang tidak pipih yang berbutir sama besar. Batuannya antara lain : a. Gneiss (gneis) bersifat faneritik. Berbutir sedang sampai kasar. Komposisinya yang utama : kwarsa, feldsfar, mika dan kadang-kadang hornblede. 3. Berfoliasi sangat lemah sampai non foliasi: batuan didominasi oleh mineralmineral berbentuk kubus, mineral-mineral pipih bila ada orientasinya acak. Batuan ada yang granular atau berlineasi. Batuannya antara lain : a. Qurtzite (kwarsit) komposisinya yang sangat utama adalah kwarsa; bila pecah takrata dan tidak mengelilingi butiran. Non foliasi. b. Marble (marmer) berkomposisi utama kalsit; warnaabu-abu (biasanya) karena grafit (bereaksi positif dengan HCl). c. Hornfels bersifat afanitik sampai faneritik halus, berkomposisi kwarsa, feldsfar, mika (diketahui melalui pengamatan lapangan). d. Granofels bersifat faneritik kasar, non foliasi, berkomposisi kwarsa dan feldsfar (yang berbentuk kubus). e. Granulit bersifat faneritik kasar, non foliasi, berkomposisi piroksin dan garnet disamping kwarsa dan feldsfar. f. Serpentinite Non foliasi sampai lineasi, berwarna hitam, hijau sampai kuning pucat. Komposisi utamanya serpentin.

C. Contoh Batuan Metamorf

1. Marmer Marmer adalah batuan metamorf, dibentuk oleh perubahan batu kapur di bawah suhu tinggi dan tekanan tinggi. Kelereng terbentuk dari batu gamping kalsit murni berwarna putih, dengan tekstur gula, dan bergelembung saat diuji dengan asam klorida encer. Kotoran dalam kapur dapat menyebabkan

pembentukan mineral baru, memberikan marmer berbagai warna. Taj Mahal di India dibangun dari marmer putih dari Makrana.

Marmer

Asal Warna Ukuran butir Struktur Komposisi Derajat metamorfisme Ciri khas

: Metamorfisme batu gamping, dolostone : Bervariasi : Medium Coarse Grained : Non foliasi : Kalsit atau Dolomit : Rendah Tinggi : Tekstur berupa butiran seperti gula, terkadang terdapat fosil, bereaksi dengan HCl.

2. Phyllite Merupakan batuan metamorf yang umumnya tersusun atas kuarsa, sericite mica dan klorit. Terbentuk dari kelanjutan proses metamorfosisme dari Slate. Kegunaan dari batuan metamorf ini sebagian besar untuk perhiasan dan bahan bangunan berupa bahan lantai dan dinding.

Phyllite

Asal Warna Ukuran butir Stuktur Komposisi Derajat metamorfisme Ciri khas

: Metamorfisme Shale : Merah, kehijauan : Halus : Foliated (Slaty-Schistose) : Mika, kuarsa : Rendah Intermediate : Membelah mengikuti permukaan gelombang

3. Milonit Mylonite adalah batuan, butiran besar yang kompak diproduksi oleh rekristalisasi dinamis dari konstituen mineral menghasilkan pengurangan ukuran butir batu. Hal ini diklasifikasikan sebagai batuan metamorf. Mylonite dapat memiliki banyak komposisi mineralogi yang berbeda, yang merupakan klasifikasi berdasarkan penampilan tekstur batu.

Milonit

Asal Warna Ukuran butir Struktur Komposisi Derajat metamorfisme Ciri khas

: Metamorfisme dinamik : Abu-abu, kehitaman, coklat, biru : Fine grained : Non foliasi : Kemungkinan berbeda untuk setiap batuan : Tinggi : Dapat dibelah-belah

4. Hornfels Hornfels terbentuk ketika shale dan claystone mengalami metamorfosis oleh temperatur dan intrusi beku, terbentuk di dekat dengan sumber panas seperti dapur magma, dike, sil. Hornfels bersifat padat tanpa foliasi. Kegunaannya antara lain untuk pembuatan bata refraktori, bahan abrasiv, industri gelas, kramik dan lain-lain.

Hornfels

Asal Warna Ukuran butir Struktur Komposisi Derajat metamorfisme Ciri khas

: Metamorfisme kontak shale dan claystone : Abu-abu, biru kehitaman, hitam : Fine grained : Non foliasi : Kuarsa, mika : Metamorfisme kontak : Lebih keras dari pada glass, tekstur merata

VULKANOLOGI

A. Pengertian

Vulkanologi merupakan studi tentang gunung berapi, lava, magma, dan fenomena geologi yang berhubungan. Seorang ahli vulkanologi adalah orang yang melakukan studi pada bidang ini. Istilah vulkanologi berasal dari Bahasa Latin Vulcan, dewa api Romawi. Gunung api mempunyai pengertian yang cukup kompleks, yaitu : Merupakan bentuk timbulan di permukaan bumi yang dibangun oleh timbunan rempah gunungapi. Dapat diartikan sebagai jenis atau kegiatan magma yang sedang berlangsung. Atau merupakan tempat munculnya batuan leleran dan rempah lepas gunungapi yang berasal dari dalam bumi.

Sebuah gunungapi disebut aktif apabila kegiatan magmatisnya dapat dilihat secara nyata. Leleran lava dari kawah puncak atau kawah samping, adanya awan panas letusan dan awan panas guguran, lahar letusan dan lain sebagainya mencirikan bahwa gunung api tersebut masih aktif. Morfologi gunung api aktif biasanya menampakan bentukan kerucut sempurna. Apabila gejala kegiatan magmatisnya tidak teramati, suatu gunungapi dapat dikelompokan menjadi gunung api padam. Tetapi keadaan seperti ini bukan berarti bahwa gunung api tersebut mati, sebab pada suatu saat gunungapi itu dapat aktif kembali. Kenampakan gejala panas bumi di permukaan seperti daerah ubahan hidrotermal, kubangan Lumpur panas, hembusan fumarol dan mata air panas memang sering dikaitkan dengan gejala padamnya suatu gunungapi. Sebagai contoh kontras, jalur panas bumi di Indonesia ternyata merupakan tempat kedudukan gunungapi aktif, sebab gas-gas belerang akan dijumpai melimpah di daerah gunungapi aktif.

B. Material Keluaran Vulkanologi

Berikut adalah hasil dari letusan gunung berapi, antara lain : 1. Gas vulkanik Gas yang dikeluarkan gunung berapi pada saat meletus. Gas tersebut antara lain Karbon monoksida (CO), Karbon dioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S), Sulfur dioksida (S02), dan Nitrogen (NO2) yang dapat membahayakan manusia. 2. Lava dan aliran pasir serta batu panas Lava adalah cairan magma dengan suhu tinggi yang mengalir dari dalam Bumi ke permukaan melalui kawah. Lava encer akan mengalir mengikuti aliran sungai sedangkan lava kental akan membeku dekat dengan sumbernya. Lava yang membeku akan membentuk bermacam-macam batuan. 3. Lahar Lahar adalah lava yang telah bercampur dengan batuan, air, dan material lainnya. Lahar sangat berbahaya bagi penduduk di lereng gunung berapi. 4. Hujan Abu Yakni material yang sangat halus yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan. Karena sangat halus, abu letusan dapat terbawa angin dan dirasakan sampai ratusan kilometer jauhnya. Abu letusan ini bisa menganggu pernapasan. 5. Awan panas Yakni hasil letusan yang mengalir bergulung seperti awan. Di dalam gulungan ini terdapat batuan pijar yang panas dan material vulkanik padat dengan suhu lebih besar dari 600 C. Awan panas dapat mengakibatkan luka bakar pada tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan, leher atau kaki dan juga dapat menyebabkan sesak napas.

C. Jenis Jenis Erupsi

1. Letusan Plinial Merupakan jenis letusan dahsyat yang mengakibatkan kerusakan parah terhadap wilayah di sekitarnya. Letusan ini pulalah yang telah mengubur kota Pompeii dan Herculaneam. Magma pada letusan Plinial sangat kental dan memiliki kandungan gas yang sangat tinggi. Material piroklastik yang dihasilkan dalam letusan ini dapat terlempar sampai setinggi 48 km di udara, dengan kecepatan ratusan kilometer per detik. Letusan Plinial dapat berlangsung selama beberapa jam, atau bahkan beberapa hari, dan mengeluarkan asap tebal yang membubung tinggi di udara. Material vulkanik yang terkandung dalam asap ini berjatuhan di wilayah-wilayah sekitar gunung tersebut. Kadang bukan hanya di satu sisi, tergantung dari arah angin yang menerbangkannya. Tambahan lagi, letusan Plinian dapat mengeluarkan aliran lava yang bergerak sangat cepat dan memusnahkan apa pun yang dilaluinya.

2. Letusan Hawaiian Secara umum, letusan jenis ini tidak terlalu eksplosif juga tidak terlalu merusak. Letusan ini tidak memancarkan terlalu banyak material piroklastik ke udara, melainkan lebih banyak mengeluarkan lava yang tidak terlalu kental dengan kandungan gas rendah. Lava mengalir dengan bermacam cara, namun yang paling menarik adalah air mancur api, yang sesuai namanya memang merupakan air mancur lava berwarna oranye terang yang memancar setinggi ratusan meter ke udara, kadang hanya terjadi sesaat, kadang juga bisa beberapa jam. Cara lainnya yang juga sering dijumpai adalah lava mengalir secara teratur dari satu lubang, yang akhirnya membentuk danau atau kolam lava pada kawah atau cekungan lainnya.

Lava yang mengalir dan memancar dari air mancur api dapat merusak tanaman dan pepohonan di sekitarnya, namun gerakannya cukup lamban sehingga memungkinkan penduduk sekitar untuk mengungsi dan

menyelamatkan diri. Letusan ini dinamakan Letusan Hawaii karena jenis letusan ini memang umum dijumpai pada pegunungan berapi di Kepulauan Hawaii.

3. Letusan Strombolian Jenis letusan ini cukup menarik perhatian meskipun tidak terlalu berbahaya. Letusan ini mengeluarkan sejumlah kecil lava yang menjulang setinggi 15 hingga 90 meter ke udara, dengan letupan-letupan pendek. Lava cukup kental, sehingga tekanan gas harus terlebih dulu meningkat sebelum mampu mendesak material-material terbang ke udara. Ledakan-ledakan yang teratur pada letusan ini dapat menimbulkan bunyi dentuman seperti suara bom, namun letusannya relatif kecil. Letusan Strombolian, secara umum tidak menghasilkan aliran lava, namun sebagian lava mungkin akan menyertai proses letusan. Letusan ini juga mengeluarkan sejumlah kecil abu tepra.

4. Letusan Vulkanian Seperti halnya letusan Strombolian, letusan Vulkanian juga disertai dengan ledakan-ledakan pendek. Namun diameter asap yang membubung ke udara pada letusan ini biasanya lebih besar dibanding pada letusan Strombolian, dan asap ini sebagian besar tersusun oleh material piroklastik. Ledakan diawali dengan keluarnya magma kental dengan kandungan gas yang tinggi, dimana sebagian kecil tekanan gas mendorong magma terlempar ke udara. Selain abu tepra, letusan Vulkanian juga meluncurkan gumpalan-gumpalan piroklastik seukuran bola sepak ke udara. Umumnya, letusan Vulkanian ini tidak disertai dengan aliran lava.

5. Letusan Hidrovulkanik Bila letusan gunung berapi terjadi di dekat samudra, awan mendung, atau wilayah lembab lainnya, interaksi antara magma dan air dapat menciptakan gumpalan asap yang unik. Sebenarnya dalam proses ini magma yang panas memanaskan air sehingga menjadi uap. Perubahan bentuk yang cepat dari air ke uap dapat menyebabkan ledakan dalam partikel-partikel air, yang dapat memecahkan material piroklastik, dan kemudian menciptakan debu api. Letusan hidrovulkanik sangat bervariasi. Sebagian lebih banyak diwarnai oleh letupan-letupan pendek, sebagian lainnya ditandai dengan munculnya bubungan asap yang bertahan selama beberapa saat. Letusan ini juga dapat melelehkan salju dalam skala besar, yang mengakibatkan terjadinya tanah longsor dan banjir bandang.

6. Letusan Rekahan (Fissure Eruptions) Tidak semua letusan gunung berapi dimulai dengan ledakan yang disebabkan oleh tekanan gas. Letusan rekahan terjadi apabila magma mengalir ke atas melalui celah-celah di tanah dan bocor keluar ke permukaan. Ini seringkali terjadi pada lokasi dimana pergeseran lempeng menimbulkan retakan besar di penampang bumi, dan mungkin juga menciptakan landasan gunung berapi dengan sebuah lubang di bagian tengahnya. Letusan rekahan ditandai dengan adanya tirai api, sebuah tirai yang memuntahkan lava ke atas permukaan tanah. Letusan rekahan dapat mengeluarkan aliran lava yang sangat berat, meskipun lavanya sendiri umumnya bergerak dengan sangat lamban

D. Manfaat Vulkanologi Aktifitas Gunung Api Terhadap Kehidupan Manusia

Gunung api mempunyai dampak bagi kehidupan manusia antara lain adalah sebagai berikut:

Gunung api mengeluarkan abu vulkanis yang dapat menyuburkan tanah Material gunung api berupa batu, kerikil, dan pasir dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan Magma yang telah membeku di permukaan bumi menyimpan bermacam material logam atau bahan tambang, seperti emas dan perak Kawasan gunung api bisa di manfaatkan untuk lahan hutan, perkebunan dan pariwisata

Adapun dampak negative atau kerugian yang disebabkan oleg gunung api adalah Lafa pijar yang bercampur air pada kawah gunning api membentuk lahar panas yang dapat meluncur menuruni lereng menghancurkan apaapun tak terkecuali daerah pemukiman. Lava dingin berupa aliran batu, kerikil, dan pasir bertumpuk tumpuk dipuncak gunung, pada saat tertentu akan meluncur menuruni daerah yang dilalui dan menghancurkan apapun yang ada Apabila gunung berapi dibawah permukaan laut meletus, biasannya diikuti gelombang tsunami Abu vulkanis yang membumbung tinggi keudara dapat mengganggu jalur penerbangan.

STATIGRAFI
A. Hukum Hukum Statigrafi

1. Hukum Superposisi (Nicolas Steno,1669) Dalam suatu urutan perlapisan batuan, maka lapisan batuan yang terletak di bawah umurnya relatif lebih tua dibanding lapisan diatasnya selama lapisan batuan tersebut belum mengalami deformasi.

2. Hukum Horizontalitas (Nicolas Steno,1669) Pada awal proses sedimentasi, sebelum terkena gaya atau perubahan, sedimen terendapkan secara horizontal

3. Original Continuity (Nicolas Steno,1669) Batuan sedimen melampar dalam area yang luas di permukaan bumi.

4. Uniformitarianism (James Hutton, 1785) Uniformitarianisme adalah peristiwa yang terjadi pada masa geologi lampau dikontrol oleh hukum-hukum alam yang mengendalikan peristiwa pada masa kini. Hukum ini lebih dikenal dengan semboyannya yaitu The Present is the key to the past. Maksudnya adalah bahwa proses-proses geologi alam yang terlihat sekarang ini dipergunakan sebagai dasar pembahasan proses geologi masa lampau.

5. Faunal Succession (Abble Giraud-Soulavie, 1778) Pada setiap lapisan yang berbeda umur geologinya akan ditemukan fosil yang berbeda pula. Secara sederhana bisa juga dikatakan Fosil yang berada pada lapisan bawah akan berbeda dengan fosil di lapisan atasnya. Fosil yang hidup

pada masa sebelumnya akan digantikan (terlindih) dengan fosil yang ada sesudahnya, dengan kenampakan fisik yang berbeda (karena evolusi). Perbedaan fosil ini bisa dijadikan sebagai pembatas satuan formasi dalam lithostratigrafi atau dalam koreksi stratigrafi.

6. Strata Identified by Fossils (Smith, 1816) Perlapisan batuan dapat dibedakan satu dengan yang lain dengan melihat kandungan fosilnya yang khas

7. Facies Sedimenter (Selley, 1978) Suatu kelompok litologi dengan ciri-ciri yang khas yang merupakan hasil dari suatu lingkungan pengendapan yang tertentu. Aspek fisik, kimia atau biologi suatu endapan dalam kesamaan waktu. Dua tubuh batuan yang diendapakan pada waktu yang sama dikatakan berbeda fsies apabila kedua batuan tersebut berbeda fisik, kimia atau biologi (S.S.I.)

8. Cross-Cutting Relationship (A.W.R Potter & H. Robinson) Apabila terdapat penyebaran lap. Batuan (satuan lapisan batuan), dimana salah satu dari lapisan tersebut memotong lapisan yang lain, maka satuan batuan yang memotong umurnya relatif lebih muda dari pada satuan batuan yang di potongnya.

9. Law of Inclusion Inklusi terjadi bila magma bergerak keatas menembus kerak, menelan fragmen2 besar disekitarnya yang tetap sebagai inklusi asing yang tidak meleleh. Jadi jika ada fragmen batuan yang terinklusi dalam suatu perlapisan batuan, maka perlapisan batuan itu terbentuk setelah fragmen batuan. Dengan kata lain batuan/lapisan batuan yang mengandung fragmen inklusi, lebih muda dari batuan/lapisan batuan yang menghasilkan fragmen tersebut.

B. Manfaat Korelasi Terhadap Bidang Geologi Korelasi adalah sebuah bagian fundamental dari stratigrafi, dan lebih lagi merupakan usaha dari stratigraphers dalam membuat unit stratigrafi yang formal yang mengarah pada penemuan praktis dan metode yang dapat dipercaya untuk korelasi unit ini dari suatu area dengan lainnya (Boggs, 1987). Korelasi dapat dipandang sebagai suatu yang langsung (direct)(formal) ataupun tidak langsung (indirect) (informal) (B.R.Shaw,1982). Korelasi langsung adalah korelasi yang tidak dapat dipungkiri secara fisik dan tegas. Pelacakan secara fisik dari kemenerusan unit stratigrafi adalah hanya metode yang tepat untuk menunjukkan persesuaian dari sebuah unit dalam suatu lokal dengan unit itu di lokal lain. Korelasi tidak langsung dapat menjadi tidak dipungkiri oleh metode numerik seperti contoh pembandingan secara visual dari instrumen well logs, rekaman pembalikan polaritas,atau kumpulan fosil; meskipun demikian, seperti pembandingan mempunyai perbedaan derajat reabilitas dan tidak pernah secara keseluruhan tegas (tidak meragukan). Lithokorelasi merupakan metode yang digunakan untuk korelasi strata (lapisan) dengan dasar lithologi.

1. Pelacakan Kemenerusan Lateral dari Unit Litostratigrafi Pelacakan kemenerusan secara langsung dari sebuah unit lithostratografi dari suatu local ke local lain adalah satunya metode korelasi yang dapat menetapkan kesamaan dari sebuah unit tanpa keraguan. Metode korelasi ini dapat digunakan hanya jika lapisan secara menerus atau mendekati menerus tersingkap. Jika singkapan dari lapisan tersela oleh daerah yang luas yang tertutup tanah dan vegetasi lebat, atau lapisan terhenti oleh erosi, atau dipotong lembah yang besar, atau tersesarkan, penelusuran secara fisik pada lapisan menjadi tidak mungkin. Dalam keadaan itu, teknik korelasi lainnya (tidak langsung) harus digunakan (Boggs, 1987).

2. Kesamaan Litologi dan Posisi Stratigrafi Pelacakan lateral secara langsung dari unit startigrafi dapat menjadi tidak berhasil diselesaikan dalam sebuah area yang sangat besar dikarenakan oleh ketidak menerusan singkapan. Geologist bekerja pada suatu area harus mempercayai korelasi unit lithostratigrafi dengan metode yang meliputi matching lapisan dari suatu area ke lainya dengan dasar kesamaan lithologi dan posisi stratigrafi (Boggs, 1987). Persamaan litologi dapat tidak dipungkiri atas dasar suatu macam properties batuan. Meliputi gross lithology (batupasir,serpih, atau

batugamping, sebagi contoh), warna, kelompok mineral berat atau kelompok mineral khusus, struktur sedimen utama seperti perlapisan dan laminasi silang-siur, dan ketebalan rata-rata, dan karakteristik pelapukan. Lebih banyak macam properties yang dapat dipakai untuk menetapakan sebuah kesuaian antar strata maka semakin kuat kemungkinan menuju sebuah kesesuaian yang benar (Boggs, 1987). Penyesuaian lapisan dengan dasar lithologi merupakan tidak sebuah garansi atas kebenaran dari korelasi. Lapisan dengan karakteristik litologi yang sangat sama dapat terbentuk dalam lingkungan pengendapan yang sama dengan luas dipisahkan dalam waktu (time) atau tempat (space) (Boggs, 1987). Selain atas dasar kesamaan litologi, Individual formasi dapat dikorelasikan juga oleh posisi dalam sikuennya (Boggs, 1987).

3. Korelasi Dengan Instrumen Well Logs Log adalah suatu terminologi yang secara original mengacu pada hubungan nilai dengan kedalaman, yang diambil dari pengamatan kembali (mudlog). Sekarang itu diambil sebagai suatu pernyataan untuk semua pengukuran kedalam lubang sumur (Mastoadji, 2007). Secara prinsip pengunaan dari well logs adalah untuk:

Penentuan lithologi Korelasi stratigrafi Evaluasi fluida dalam formasi Penentuan porositas Korelasi dengan data seismic Lokasi dari faults and fractures Penentuan dip dari strata Syarat untuk dapat dilakukannya korelasi well logs antara lain adalah : Deepest Thickest Sedikit gangguan struktur (unfaulted) Minimal ada 2 data well log pada daerah pengamatan Pada sikeun sand-shale yang tebal, itu mungkin menjadi petunjuk kecil dari bentuk kurva untuk zona batuan untuk korelasi zona. Regional dip superimposed pada cross section sumur akan membantu. Unit pasir yang individual mungkin akan tidak menerus sepanjang lintasan, tetapi garis korelasi memberikan petunjuk tentang possible time sikuen stratigrafi (Crain, 2008). Sequence Boundary (SB) merupakan batas atas dan bawah satuan sikuen stratigrafi adalah bidang ketidak selarasan atau bidang-bidang keselarasan padanannya (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996). Maximum flooding surface teridentifikasi oleh adanya maximum landward onlap dari lapiasan marine pada batas basin dan mencerminkan kenaikan maksimum secara relatif dari sea level (Armentout, 1991). Untuk sikeun stratigrafi, biasanya dipakai Sequence Boundary (SB) dan Maximum Flooding Surface (MSF) untuk korelasi. Hal ini dikarenakan pelamparan SB dan MSF yang luas. Sequence Boundary (SB) dan Maximum Flooding Surface (MFS) ini menandakan suatu proses perubahan muka air

laut yang terjadi secara global. Sehingga Sequence Boundary (SB) dan Maximum Flooding Surface (MFS) ini sering digunakan untuk korelasi antar sumur. Dari data Well logs, adanya Sequence Boundary (SB) biasanya ditandai dengan adanya perubahan secara tiba-tiba dari Coarsening Upward menjadi Fineing Upward atau sebalikknya. Sedangkan Maximum Flooding Surface (MFS) dari data log ditunjukkan dari adanya akumulasi shale yang banyak, dan MSF merupakan amplitude dari log yang daerah shale.

C. Contoh Sampel Korelasi