Anda di halaman 1dari 7

BAB 11

GAYA AIR
Pekerjaan air merupakan suatu Siklus dalam proses geologi, yakni pengikisan pegunungan,
pengangkatan bahan-bahan yang telah dihancurkan, dan pengendapan kembali di tempat-
tempat lain. Perombakan batuan di atas permukaan bumi oleh aktivitas air bersamaan
dengan gejala-gejala pelapukan. Proses-proses tersebut dapat terjadi secara kimia dan
secara mekanik. Proses secara kimia dapat dilihat pada batukapur atau pelarutan endapan
garam, Sedangkan proses secara mekanik yang terjadi di permukaan seperti erosi, abrasi,
dan denudasi. Dalam bab ini yang dipaparkan adalah proses secara mekanik.
11. 1. Erosi
Erosi merupakan kelompok proses-proses eksogen, yang menguraikan batuan secara fisik
dan kimia dan mentransport mineral yang dihasilkannya dengan media yang bergerak, air,
angin, dan es, tentunya dibawah pengaruh gaya gravitasi. Sesuai judul materi ini, hanya
diperdalam erosi oleh air. Erosi air sudah dimulai sebelum air mengalir. Butir-butir air
hujan yang jatuh menghantam permukaan tanah dan melemparkan partikel tanah ke segala
arah. Air hujan yang mengalir diatas permukaan tanah membawa partikel-partikel tersebut.
Air yang mengalir lambat partikel-partikelnya bergerak lambat dan sejajar, arus air
demikian dinamakan arus laminer. Meningkatnya kecepatan, menjadikan gerak partikelnya
tidak beraturan dan kompleks, berputar (swirls) dan eddi (berlawanan arah), menjadi arus
turbulen. Kecepatan aliran dalam suatu saluran sudah cukup untuk arus turbulen, hanya
selapisan tipis pada dinding dalam saluran berkecapatan rendah akibat gaya gesekkan,
terdapat arus laminer.
Kemampuan arus untuk mengambil dan membawa partikel sedimen sedimen dari
salurannya bergantung pada turbulensi dan kecepatan arusnya. Makin cepat arusnya makin
besar kemampuan arus turbulen mengangkat partikel besar seperti tampak dalam kurva
kecepatan besar butir (Gambr 11.1) kecuali lempung dan lanau, karena gaya kohesinya
besar.
11.1. 1. Transportasi Partikel
Partikel sedimen yang terbawa arus ditransport dengan 3 cara; (1) Dalam larutan
(Dissolved load), (2) Dalam suspensi (suspended load), dan (3) Sepanjang dasar saluran
(bed load). Matrial yang terbawa arus aliran disebut sebagai beban atau muatan (load).
Gaya Air
98
Larutan yang terbawa arus berasal dari air tanah dan sedikit dari batuan yang dapat larut
sepanjang aliran. . jumlah beban yang dapat terangkut arus bergantung pada iklim dan
tatanan geologi.
Umumnya arus membawa material sebagai suspensi. Material yang dibawanya umumnya
berukuran lumpur, silt, dan pasir halus, sebagai terlihat pada aliran sungai. Beban arus ini
terbawa dari regolith berbutir halus yang tersapu karena tidak tertutup vegetasi dan
sedimen yang dierosi arus itu sendiri sepanjang tepi alur aliran. Beban dapat terangkut
akibat kuat arus keatas dalam arus turbulen melebihi dari kecepatan dimana partikel-
partikel lempung dan silt mengendap akibat gaya gravitasi. Dengan demikian partikel-
partikel itu dapat lebih lama berada dalam suspensi daripada dalam air yang nonturbulen,
dan akan terendapkan apabila kecepatan arus menurun dan turbulensinya reda, seperti di
danau dan laut.
Partikel-partikel kasar terbawa sebagai bedload, bergerak sepanjang dasar aliran.
Kecepatan geraknya lebih lambat dari kecepatan arusnya, karena pergerakannya tidak
kontinu, secara menggelundung (berputar/rolling) atau meluncur (sliding). Apabila gaya
arus cukup besar untuk mengangkat partikel, maka pergerakannya akan menjadi meloncat-
loncat dalam jaraj yang pendek (saltation), (Gambar 11.2) Saltasi berlangsung selama arus
turbulen cukup kuat untuk mengangkat partikel dan membawanya sampai hilir. Distribusi
sedimen bedload dalam saluran sesuai dengan distribusi kecepatan arus dalam salurannya.
Dalam suatu alur, partikel arus air yang bergesekkan dengan dinding dan dasar alur
mendapat gaya gesek, makanya kecepatannya lebih rendah daripada arus yang ditengah-
tengah alur.
Gambar 11.1. Kurva menunjukkan kecepatan aliran mengontrol
erosi, transportasi, dan pengendapan berbagai butiran material
Gaya Air
99
11.1. 2. Daya Erosi
Aliran air di permukaan atau dalam alur cenderung mengerosi material yang dilaluinya.
Dengan jalan melarutkan dan/atau mengabrasi, kecepatan dan daya erosinya sangat
dipengaruhi oleh kecepatan arus. Makin besar kecepatan arus banyak dan besar partikel
sedimen yang dapat dibawanya. Partikel-partikel mengabrasi batuan yang ada di dinding
dan dasar saluran yang dapat dilaluinya. Apabila batuan yang dilalui dapat larut, maka
yang terjadi selain abrasi juga pelarutan. Derajat kesamaan air sangatberpengaruh dalam
erosi pelarutan batuan, seperti di daerah batugamping.
Material akibat abrasi dan pelarutan terbawa arus sebagai sedimen selama kecepatannya
masih memungkinkan. Bila kecepatannya menurun sebagian sedimen akan terendapkan.
Pada pertemuan sungai dan pertemuan dengan danau alamiah atau buatan dan laut,
kecepatannya dapat dikatakan nol. Sedimen terendapkan disini dan erosi tidak berlangsung
lagi. Daerah ini dinamakan dasar erosi (base level of erosi). Pada pertemuan sungai dan
dengan danau, air masih mengalir kembali ke tempat lebih rendah maka dasar erosinya
bersifat sementara, disebut dasar erosi sementara atau local base level. Demikian pula
halnya bila alur sungai melalui batuan yang daya tahan erosinya lebih besar dari pada
batuan di sekelilingnya. Sehingga merupakan tonjolan pada dasar sungai membentuk
seperti bendung, dinamakan nick point. Disini terjadi dasar erosi lokal.
11.1. 3. Erosi Sungai
Kecepatan arus pada penampang sungai tidak sama. Pada tepi dan dasar saluran lebih
lambat dibandingkan dengan bagian tengah sungai, karena pada bagian tengah hampir
tidak mengalami gaya gesekkan. Pada kelokkan sungai, kecepatan arus pada tepi luar lebih
besar daripada tepi dalamnya (Gambar 11.3). Akibatnya pada tepi luar terjadi erosi cukup
Gambar 11.2. Perpindahan pada bed load dalam arus dengan berbagai cara. Partikel yang terlalu
besar Untuk terbawa dalam suspensi bergerak dengan sliding, rolling, atau saltsi
Gaya Air
100
kuat sedangkan tepi dalam justru sebaliknya, terjadi pengendapan. Oleh karena pada satu
sisi tererosi terus menerus sedangkan sisi lainnya terjadi pengendapan, maka belookan
sungai makin membelok dan membentuk meander, apabila debit air naik, banjir bagian
yang penting, neck, tererosi dan alurnya menjadi lurus (cutoff). Dan sungai terpisah dari
sungai induk, membentuk danau yang disebut sebagai oxbow lake, seperti terlihat pada
Gambar 11.3.
Aktivitas aliran air, mengerosi, mentransport dan pengendapan membuat alur sungai
berpindah-pindah. Endapan sedimen yang diendapkan olehair, mencerminkan energi air
pada saat pengendapan. Pada saat energinya masih besar, endapannya berbutir besar,
seperti konglomerat, sedangkan setelah energinya berkurang atau nol maka endapannya
berbutir halus, endapan delta di muara sungai. Bahkan di laut yang sangat tenang,
endapannya sangat halus, lempung.
11.1. 4. Erosi Gelombang
Gelombang laut mendapat energinya dari angin yang bertiup diatas permukaan. Besar
gelombang tergantung dari kecepatan, berapa jauh dan berapa lama angin bertiup.
Pengamatan pada gelombang menyatakan bahwa gerak partikel air dalam gelombang
merupakan gerak melingkar. Garis tengahnya sama dengan tinggi gelombang (Gambar
11.4). energi gelombang makin ke bawah makin kecil, oleh karena itu garis tengah
lingkaran lintasan partikel air mengecil. Paada kedalam panjang gelombang, garis
tengah lingkarannya menjadi 0.04 lingkaran di permukaan. Dan di kedalaman satu panjang
gelombang, praktis tidak bergerak lagi.
Batuan Dasar
Meander neck
Meander bend
Point bars
Oxbow lake
Oxbow
lake
Cutoff
Gambar 11.3. Perkembangan dataran banjir suatu lembah ada meander oxbow lake. Arus yang melalui kelokan
meander mengerosi sebelah luar kelokan dan mengendapkan sedimen pada bagian dalam dan membentuk point
bar. Kelokan meander berpindah secara lateral dan suatu saat terjadi pemotongan yang akan membentuk
oxbow lake (Hamblin, 1982)
Gaya Air
101
Apabila gelombang sampai pada tempat yang lebih dangkal, dasar laut menggangu gerak
partikel air. Lintasannya berbentuk ellips, gelombang melambat, panjang gelombang
memendek dan gelombangnya menjadi lebih curam. Satu saat gelombang kehilangan
kestabilannya dan pecah, menjadi riak gelombnag dan buih. Pada saat ini air terhampas ke
depan menghantam pantai, energi inilah yang mengerosi danmentransport material
sepanjang pantai. Akibat erosi gelombang, bentuk pantai selalu berubah, makin mundur ke
arah daratan. Contohnya pantai di padang, sumatera Barat dan pantai di utara Jakarta.
11. 2. Abrasi
Pekerjaan pemecahan ombak yang sangat mempengaruhi bentuk pantai dan dataran di
sekitarnya disebut abrasi. Ombak pecah bekerja mengikis dinding-dinding pantai yang
berupa batuan, kerikil, dan pasir kemudian dibawa ke tempat lain sesuai arah arus pantai.
Abrasi (erosi marin) dapat diperhatikan pada dinding-dinding batuan terjal di tepi pantai.
Awalnya, terbentuk lekukan pada batuan kemudian lambat-laun terkikir dan terlubangi
oleh hempasan ombak yang kian hari bertambah besar. Dengan demikian, lama kelamaan
dinding batuan akan runtuh. Lama tidaknya batuan jatuh, tergantung oleh sifat batuan di
tempat tersebut, sehingga ada bentuk lain yang dapat terbentuk oleh abrasi, yaitu goa-goa,
pintu air, rongga-rongga, dsb. Model-model bangunan ini suatu saat akan membentuk
suatu dataran yang melandai ke arah laut. Dataran tadi biasa disebut dataran abrasi atau
undak pantai (teras pantai). Bila dalam waktu tertentu, daerah ini mengalami pengangkatan
oleh tektonik, atau air laut mengami penurunan maka terlihat beberapa undakan di
sepanjang pantai.
Gambar 11.4. Gerak titik air pada gelombang di air dalam seperti lingkaran. Lintasan bagian air
di permukaan mengikuti gerak melingkar dari kanan ke kiri, yang resultannya adalah puncak
gelombang yang bergerak dari kiri ke kanan ditandai garis putus-putus (Skinner, 1992)
Gaya Air
102
Penurunan muka air laut biasa disebut dengan susut laut (regresi). Sebaliknya, peristiwa
naiknya muka air laut atau turunya daratan disebut genang laut (transgresi). Peristiwa
genang laut biasanya disertai dengan pengendapan atau pembentukan lapisan baru di atas
dataran abrasi, yang disebut komlomerat transgresi.
11. 3. Denudasi
Gejalah penurunan relief daratan pada umumnya disebut denudasi. Hasil terakhir dari
proses denudasi adalah pendataran relief dengan pembentukan suatu daratan yang landai
mengarah ke laut dan disebut peneplain. Peneplain atau dataran hampir rata dibentuk oleh
proses yang sangat lambat namun terus-menerus mengangkut bahan rombakan dari
pegunungan. Prose yang dimaksud adalah hujan, es, dan angin. Banyak peleplain yang
telah mengalami pengangkatan sehingga kini terletak beberapa ribu meter dari permukaan
air laut. Di Sulawesi Tengah misalnya, pada ketinggian 2000m terdapat pegunungan
dengan garis puncak yang rata, diperkirakan sebagai penelpain yang terangkat.
11.3. 1. Erosi Angin
Angin berhembus karena ada perbedaan tekanan udara yang diakibatkan oleh adanya
perbedaan suhu. Sesuai akibat fisika, apada suhu rendah tekana udara lebih tinggi daripada
daerah bersuhu lebih tinggi, dan udara mengalir sebagai angin. Seperti halnya air, angin
mengangkut partikel-partikel sesuai dengan kecepatannya. Partikel yang terbawa
mengabrasi material yang dilaluinya. Contohnya monument atau tiang-tiang pagar yang
berada di tempat terbuka, bagian bawahnya akan lebih gugus dibandingkan atasnya.
Partikel yang lebih besar terbawa pada bagian bawah karena lebih berat, sehingga
mengabrasi lebih cepat dari pada yang halus.
Namun demikian pengaruh angin terhadap perombakan muka bumi sangat kecil
dibandingkan air dan gletsyer. Endapan angin yang terdiri dari debu dengan ketebalan
bervariasi, tidak memperlihatkan topografi yang berarti dinamakan loes. Angin sering juga
mengonggokkan pasir membentuk bukit kecil yang disebut gugus pasir (sand dunes).
11.3. 2. Erosi Es (Gletsyer)
Gletsyer adalah masa es terbentuk dari salju yang turun di permukaan bumi dan bergerak
ke bawah akibat beratnya sendiri. Salju tidak hanya terdapat di kutub atau daerah
bermusim dingin saja. Di daerah ekuatorpun pada elevasi di atas 4000 m dijumpai salju.
Batas ketinggian dimana terdapat salju abadi adalah garis batas salju. Ketinggian garis
Gaya Air
103
batas salju tidak sama di semua tempat, tergantung letak daerahnya, makin dekat ekuator
makin tinggi. Di Indonesia salju dapat dijumpai di puncak pegunungan Jayawijaya, Irian
Barat.
Erosi gletsyer sangat mencolok karena yang bergerak adalah massa es yang sangat besar.
Sambil bergerak mengabrasi dan menyeret batuan dasar, seolah-olah mengelupas
(plucking). Hasil erosinya berupa cekungan melingkar, Bentuk huruf U atau tapal kuda,
yang bagian terbukanya mengarah ke lembah disebut cirque. Endapan yang merupakan
campuran bongkah beraneka Ukuran disebut till. Dataran yang dibentuk till dinamakan
moraine.
11. 4. Tugas
1. Cari di referensi lain tentang lokasi-lokasi yang terkenal erosi dan abrasi
2. Kira-kira tindakan apa yang harus dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah untuk
mencegah terjadinya erosi dan abrasi.
3. Apa akibatnya bila di suatu daerah/tempat terjadi erosi atau abrasi