Anda di halaman 1dari 12

INDUKSI MATURASI OOSIT IKAN PADA IKAN NILEM

Oleh :
Nama : Laila Andini
NIM : B1J012053
Rombongan : I
Kelompok : 2





LAPORAN PRAKTIKUM ENDOKRINOLOGI






KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan teleostei endemik
Indonesia yang hidup di sungai dan rawa-rawa(Donartha, 2007). Keadaan seperti ini
menuntut adanya ketersediaan benih Ikan Nilem untuk pembesaran dalam jumlah
besar dan berkesinambungan. Penyediaan benih ikan sebelumnya dilakukan dengan
cara konvensional, akan tetapi cara pemijahan semacam itu untuk saat ini kurang
mendukung untuk penyediaan benih sepanjang tahun. Oleh karena itu, pembenihan
secara intensif melalui pembuahan buatan menjadi salah satu alternatifnya (Wijayanti
et al., 2005).
Siklus reproduksi ikan terbagi menjadi tahap pertumbuhan dan perkembangan
serta maturasi oosit (Yueh dan Chang, 2000). Selama oosit mengalami
perkembangan, terjadi beberapa perubahan pada struktur oosit yang mengakibatkan
oosit dapat dibedakan menjadi beberapa stadia. Menurut Utoh et al. (2003),
bertambah besarnya diameter oosit selama perkembangan berlangsung dikarenakan
deposisi yolk.
Perubahan morfologi Oosit meliputi germinal vesicle (GV), germinal vesicle
breakdown GVBD), metafase I, dan Metafase II. Pada tahap GV ooplasma
dipisahkan oleh membran inti yang jelas, perkembanan metafase I kromosom berjajar
dibidang equator siap untuk membelah dan kromosom memisah kearah kutub kutub
yang berlawanan yang disebut anafase I, telofase I, setelah itu kromosom mengalami
metafase II saat ini kromosom berjajar pada bidang equator dan terbentuklah first
polar body (Yadav et al., 1997). Proses pematangan oosit secara invitro ditandai
dengan adanya cumulus oophorus yang mengelilingi oosit (Goto et al., 1995).
Proses pematangan gonad ikan secara garis besar dikontrol terutama oleh
serangkaian aksi mediator yakni gonadotropin hormone (GTH), maturation inducing
hormone (MIH), dan maturation promoting factor (MPF). Hormon gonadotropin
sebagai mediator primer dihasilkan oleh kelenjar pituitari akan merangsang sel-sel
granulosa untuk mensintesis dan mensekresi mediator sekunder yakni MIH. MIH
akan beraksi pada permukaan oosit dan merangsang formasi mediator tersier dalam
sitoplasma yakni MPF. Faktor MPF kemudian menginduksi terjadinya perubahan-
perubahan oosit sehingga oosit menjadi matang (Kagawa, 1994). Praktikum kali ini
menggunakan oosit ikan nilem, karena diameter telur ikan nilem yang cukup besar
untuk dapat diamati proses pematangan oositnya, dan lebih mudah untuk
mendapatkan induk nilem yang matang kelamin.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah dapat mengevaluasi pengaruh GnRH analog
terhadap maturasi oosit ikan nilem.

II. MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat - alat yang di gunakan dalam praktikum ini adalah akuarium beserta
aerator, mikroskop, kanula, pipet transfer, botol sampel, dan cavity slide.
Bahan - bahan yang di gunakan dalam praktikum ini adalah ikan nilem betina
(Osteochilus hasselti) matang kelamin, GnRH analog, dan larutan penjernih.

B. Metode
1. Ikan di ambil dari akuarium, di timbang, kemudian di suntik dengan GnRH
analog dengan dosis 0,5 mL/kg. Ikan dimasukkan kembali ke dalam akuarium.
2. Oosit ikan di ambil dengan menggunakan kanula ( Feeding tube ukuran FR8
yang di sambungkan dengan spuit). Ujung kanula di masukkan 4 cm ke dalam
lubang genital ikan. Pemantik spuit di tarik secara perlahan hingga tampak oosit
masuk kedalam kanula. Kanula di lepaskan dengan hati - hati agar oosit tidak
tersedot ke dalam spuit.
3. Oosit di masukkan ke dalam botol sampel yang berisi larutan penjernih
sebanyak 1mL dan dibiarkan selama 1 2 menit.
4. Oosit di ambil menggunakan pipet transfer, di letakkan di atas cavity slide dan di
amati di bawah mikroskop untuk evaluasi posisi inti oosit.
5. Larutan NaCl dibuang kemudian diganti dengan larutan penjernih yang terdiri dari
6 bagian alkohol, 3 bagian formalin, dan 1 bagian asam asetat glasial. Oosit
direndam selama 2-3 menit
6. Oosit diambil dengan menggunakan pipet transfer kemudian diletakkan di cavity
slide dan diamati di bawah mikroskop.
7. Posisi inti oosit diamati dan dievaluasi dan dihitung berapa proporsi oosit dengan
inti di tengah (center), inti migrasi (migratory), inti di tepi (perifery), dan tanpa inti
(GVBD, germinal vesicle break down).
8. Hasil pengamatan didokumentasikan dan dicatat.


III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Pematangan Oosit Ikan
Lama Induksi
Posisi Inti
Total
Center Migrasi Perifer GVBD
5 jam (Kel.3)
1 12 16 1 30
(Kel.4)
1 8 8 18 35
6 jam (Kel.1)
0 12 18 0 30
(Kel.2)
6 25 0 0 31
7 jam (Kel.5)
0 0 0 34 34
(Kel.6)
0 0 9 21 30
8 jam (Kel.7)
0 0 1 29 30
(Kel.8)
0 0 2 35 37

Gambar 3.1 Hasil Pengamatan Pematangan Oosit Ikan

Keterangan : a. GVBD c. Inti di tepi (perifery)
b. Inti migrasi (migratory) d. Inti di tengah (center)
a
b
c
d
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum didapatkan data pada kelompok 3 dan 4 sebagai
kelompok yang ikan nilem (Osteochilus hasselti) pada kelompok ini diinduksi oleh
GnRH analog (ovaprim) selama 5 jam, oosit yang terambil oleh kelompok 3
sebanyak 30 buah sedangkan pada kelompok 4 sebanyak 35 buah. Hasil yang
diperoleh dari kelompok 3 adalah 1 oosit memiliki inti di tengah, 12 oosit memiliki
inti migrasi, 16 oosit dengan inti perifer dan 1 oosit GVBD. Kelompok 4
mendapatkan hasil 1 oosit yang memiliki inti di tengah, 8 oosit inti migrasi, 8 oosit
dengan inti perifer dan 18 oosit GVBD. Selanjutnya data pada kelompok 1 dan 2
sebagai kelompok yang ikan nilem (Osteochilus hasselti) diinduksi oleh GnRH
analog (ovaprim) selama 6 jam, oosit yang terambil oleh kelompok 1 sebanyak 30
buah sedangkan pada kelompok 2 sebanyak 31 buah. Hasil yang diperoleh dari
kelompok 1 adalah 12 oosit memiliki inti migrasi dan 18 oosit dengan inti perifer,
tidak didapatkan oosit yang memiliki inti di tengah dan GVBD. Kelompok 2
mendapatkan hasil 6 oosit yang memiliki inti di tengah dan 25 oosit inti migrasi,
sedangkan oosit dengan inti perifer dan GVBD tidak didapatkan.
Berdasarkan hasil data kelompok 5 dan 6 sebagai kelompok yang ikan nilem
(Osteochilus hasselti) diinduksi oleh GnRH analog (ovaprim) selama 7 jam, oosit
yang terambil oleh kelompok 5 sebanyak 34 buah sedangkan pada kelompok 6
sebanyak 30 buah. Hasil yang diperoleh dari kelompok 5 yaitu semua oosit sebanyak
34 buah adalah GVBD, tidak didapatkan oosit yang memiliki inti di tengah, inti
migrasi dan inti perifer. Kelompok 6 mendapatkan hasil 9 oosit dengan inti perifer
dan 21 oosit GVBD. Berikutnya data pada kelompok 7 dan 8 sebagai kelompok yang
ikan nilem (Osteochilus hasselti) diinduksi oleh GnRH analog (ovaprim) selama 8
jam, oosit yang terambil oleh kelompok 7 sebanyak 30 buah sedangkan 37 buah
untuk kelompok 8. Hasil yang diperoleh dari kelompok 7 adalah 1 oosit dengan inti
perifer dan 29 oosit GVBD, tidak didapatkan oosit yang memiliki inti di tengah dan
inti migrasi. Kelompok 8 memperoleh hasil 2 oosit inti perifer dan 35 oosit GVBD,
pada kelompok ini juga tidak ditemukan oosit yang memiliki inti di tengah dan inti
migrasi.
Hasil yang diperoleh tersebut sesuai dengan pernyataan Grave et al. (2005),
yang menyatakan bahwa kematangan oosit pada ikan setidaknya akan membutuhkan
waktu selama 8-10 jam untuk menempuh tahapan pematangan oosit tersebut. Oosit
yang baik dan siap untuk dibuahi akan mengalami migrasi pada intinya, semakin
lama waktu pengamatan maka inti dari oosit tersebut akan semakin menjauhi bagian
tengah oosit dan menuju bagian tepi oosit sehingga nantinya inti tersebut tidak akan
terlihat lagi. Presentase letak inti center akan semakin berkurang dan diikuti dengan
pertambahan presentase inti perifer, kemudian inti oosit akan melebur.
Inti oosit terbagi ke dalam empat tahapan. Tahapan pertama saat inti dari oosit
berada di tengah. Tahapan kedua saat inti oosit mulai migrasi awal atau kurang
setengah diameter oosit. Tahapan ketika saat inti oosit bermigrasi akhir atau lebih dari
setengah diameter oosit. Tahapan terakhir yaitu oosit tidak berinti atau Germinal
Vesicle Break Down (GVBD). Posisi dari inti oosit atau germinal vesicle merupakan
salah satu indikator penting dalam mengetahui pematangan oosit terhadap perlakuan
hormon yang diberikan (Targoska et al., 2012).
Praktikum ini menggunakan GnRH analog (ovaprim) dengan dosis 0,5 ml/kg.
Menurut Itishom (2008), dosis 0.5 ml/kg/bb dan 0.6 ml/kg/bb merupakan dosis yang
optimal untuk merangsang terjadinya GVBD pada ikan nilem (Osteochilus hasselti).
Semakin tinggi jumlah ovaprim yang diberikan menyebabkan makin singkat
tercapainya GVBD. Hal ini disebabkan semakin tinggi dosis ovaprim yang diberikan
maka gonadotropin yang dilepaskan oleh kelenjar pituitari juga semakin meningkat.
Meningkatnya gonadotropin ini akan merangsang proses preovulasi dan ovulasi ikan
mas. Menurut Redding dan Pattino (1993), aktivitas biologis ovaprim menyerupai
GnRH yang dihasilkan oleh hipotalamus. Akibat aksi hormon gonadotropin atau
steroid inti (GV = germinal vesicle) yang mulanya berada ditengah kemudian menuju
ke tepi dekat mikrofil dan saat sebelum ovulasi terjadi, inti melebur (GVBD) tetapi
materi genetiknya tidak berubah. Germinal vesicle break down (GVBD) biasanya
terjadi karena adanya rangsangan steroid (de Vlaming, 1983).
Hormon yang sering digunakan untuk merangsang pemijahan di berbagai
negara saat ini adalah sGnRHa + domperidon (ovaprim). Salah satu faktor yang
mempengaruhi rangsangan pemijahan adalah pemberian dosis yang tepat. Dosis
hormon yang kurang tepat akan memberikan hasil yang kurang memuaskan. Dari
latar belakang tersebut perlu dilakukan penelitian tentang dosis pemberian sGnRHa +
dopamin yang tepat pada induk ikan nilem agar diperoleh hasil yang optimal terhadap
migrasi inti (Itishom, 2008).
Hormon gonadotropin berfungsi mempercepat proses kematangan akhir oosit
dalam persiapan ovulasi ataupun spermiasi. Agar ikan mau memijah, maka dalam
prosesnya akan lebih baik jika menggunakan manipulasi hormon yaitu melalui
penyuntikan beberapa macam hormon (Davy dan Chouinard, 2010). Perkembangan
telur mencapai ovulasi (akhir pematangan) diatur oleh hormon gonadotropin, yang
dibentuk dan disimpan dalam kelenjar pituitari atau hipofisis, seperti FSH (Follicle
Stimulating Hormone ) dan LH (Luteinizing Hormone) kontinyu diproduksi dan
dikeluarkan ke dalam aliran darah, sedangkan organ target gonadotropin dan steroid
adalah gonad. Gonadotropin yang sudah dilepaskan akan mencapai gonad dan
merangsang proses preovulasi dan akhir ovulasi (Woynarovich and Horvath, 1980).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum induksi maturasi oosit ikan dapat
disimpulkan :
1. Pematangan oosit ikan dapat dipengaruhi oleh GnRH analog (ovaprim) yang
diinduksikan, semakin lama waktu induksi maka pematangan oosit akan
semakin cepat, ditandai dengan adanya oosit Germinal Vesicle Break Down
(GVBD) yang menandakan oosit siap untuk di fertilisasi.

B. Saran
Sebaiknya waktu perendaman oosit pada larutan penjernih tidak terlalu
lama karena pada saat diamati di bawah mikroskop penampakan inti oosit tidak
terlihat akibat terlalu lama direndam larutan penjenih.

DAFTAR REFERENSI
Davy, F.B., and Chouinard, A. 1980. Induced Fish Breeding in Southeast Asia .
IDRC. Ottawa, Canada.

De Vlaming, V. 1983. Oocyte Development Patterns and Hormonal Involvements
Among Teleosts. In : Rankin, J. C., Pitcher, T. J. and Duggan, R. T. (eds).
1983. Controle Process in Fish Physiology. 298 p. Croom Helm. Australia.
176 199.

Grave T, and Madison VG, 1993. Selectionof Immature Oocyte for Development
Potention In Vitro. Animal Reproduction Science. 27:1-9

Goto K, Yasuzuki T, Watani F, and Shiniciro T, 1995. In vitro Development of
Bovine Oocytes Collected Ovaries of Individual Cows After Fertilization.
Animal Reproduction Science 36:110-113.

Itishom, R. 2008. Pengaruh sGnRHa + Domperidon dengan Dosis Pemberian
yang Berbeda terhadap Ovulasi Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Strain
Punten. Jurnal Ilmiah Perikanan. 3(1) : 9-16.

Kagawa, H., G. Young,. and Y. Nagahama, 1983. Relationship Between Seasonal plasma
Estradiol-17 and Testosteron Levels and In Vitro Production by ovarian Follicles
of Amago Salmon (Oncorhynchus rhodurus). Biology of Reproduction 29 : 301
309.

Targoska, Katarzyna, T. Perkowski, D. arski, S. Krejszeff, A. Mamcarz, R.
Kujawa, D. Kucharczyk. 2012. Method of Evaluation of Wild Common
Tench, Tinca tinca (L.), Female Suitability for Artificial Reproduction
During the Spawning Season. Italian Journal of Animal Science 2012.
Volume 11:e30.

Utoh, T., N. Horie A. Okamura, Y. Yamada, S. Tanaka, N. Mikawa, A. Akazawa, and
H.P. Oka. 2003. Oogenesis in the Common Japanese Conger Conger myriaster.
Fisheries Science. 69 : 181-188.

Wijayanti, G. E., S.B.I. Simanjuntak dan Sugiharto. 2005. Optimalisasi Potensi
Reproduksi Ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V.) Melalui Kajian Gametogenesis.
Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, UNDIP 30
Vovember 2005.

Yadav, B. R., Katiya, D. K., Haucan, M. R., and Madam MI, 1997, Chromosome
Configuration During In Vitro in Goat, Sheep, and Buffalo Oocyte.
Theriogenology 47 : 947-951.

Yueh, W.S., and C.F. Chang. 2000. Morphological Changes and Competence of
Maturing Oocytes in The Protandrous Black Pory, Acanthopagrus schlegeli.
Zoological Science, 39 (2): 114-122.