Anda di halaman 1dari 22

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tuberkulosis Paru
1. Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (DepKes,
2007). Mycobacterium tuberculosis menyebabkan TBC dan merupakan
patogen manusia yang sangat penting (Jawetz, Melnick & Adfcerg, 2008).

Sebagian besar dinding kuman terdiri atas lipid, kemudian peptidoglikan
dan arabinomannan. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap
asam (asam alkohol) sehingga bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih
tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat hidup dalam udara
kering maupun dalam keadaan dingin, hal ini terjadi karena kuman berada
dalam sifat dormant. Sifat dormant inilah yang dapat menyebabkan penyakit
tuberkulosis menjadi aktif lagi (Bahar, 2003).

2. Cara Penularan
Sebagian besar basil Mycobacterium masuk ke dalam jaringan paru melalui
airborne infection). Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan
kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang
mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama
beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke
dalam saluran pernafasan. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh
manusia melalui pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru
ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran
limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh
lainnya (Depkes, 2007).


7

8

3. Klasifikasi
Berdasarkan Depkes (2007) Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien
tuberculosis memerlukan suatu definisi kasus yang meliputi empat hal ,
yaitu:
a. Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru;
b. Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis): BTA positif
atau BTA negatif;
c. Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat.
d. Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati

Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah untuk
menentukan paduan pengobatan yang sesuai, registrasi kasus secara benar,
menentukan prioritas pengobatan TB BTA positif, dan analisis kohort hasil
pengobatan. Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori
diagnostik sangat diperlukan untuk menghindari terapi yang tidak adekuat
(undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi, menghindari
pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan
pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) dan mengurangi
efek samping.

Ada beberapa klasifikasi TB yaitu menurut Depkes (2007) yaitu:
a. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:
1) Tuberkulosis paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan
(parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar
pada hilus.
2) Tuberkulosis ekstra paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya
pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe,
tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin,
dan lain-lain.
9

b. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu pada
TB Paru:
1) Tuberkulosis paru BTA positif.
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA
positif.
b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB
positif.
d) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen
dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif
dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
2) Tuberkulosis paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif.
Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
a) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif.
b) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
d) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.

c. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit.
1) TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat
keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat
bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru
yang luas (misalnya proses far advanced), dan atau keadaan umum
pasien buruk.
2) TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu:
a) TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis
eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan
kelenjar adrenal.
10

b) TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis,
peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB
usus, TB saluran kemih dan alat kelamin.

d. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya, dibagi menjadi
beberapa tipe pasien, yaitu:
1) Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
2) Kasus kambuh (Relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan
atau kultur).
3) Kasus setelah putus berobat (Default )
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih
dengan BTA positif.
4) Kasus setelah gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau
kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama
pengobatan.
5) Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB
lain untuk melanjutkan pengobatannya.
6) Kasus lain:
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam
kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil
pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan.




11

4. Gejala - gejala Tuberkulosis
Gejala-gejala tuberkulosis terdiri atas gejala umum yaitu batuk terus-
menerus dan berdahak selama tiga minggu atau lebih dan gejala lain, yang
sering dijumpai yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas dan
rasa nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun,
malaise, berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, serta demam/ meriang
lebih dari sebulan (Depkes, 2007).

5. Komplikasi Tuberculosis
Komplikasi yang sering terjadi pada penderita stadium lanjut menurut
Depkes (2005):
a. Hemoptisis berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau
tersumbatnya jalan nafas.
b. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial
c. Bronkiektasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis
(pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau retraktif) pada
paru.
d. Pneumotorak (adanya udara didalam rongga pleura) spontan:
kolapsspontan karena kerusakan jaringan paru.
e. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian,ginjal
dan sebagainya.
f. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap dirumah
sakit. Penderita TBC paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah
sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini
seringkali dikelirukan dengan kasus sembuh. Pada kasus seperti
ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan, tapi cukup
diberikan pengobatan simtomatis. Bila pendarahan berat, penderita harus
dirujuk ke unit spesialistik (Depkes, 2005).

12

6. Masalah Tuberkulosis di Indonesia
Hasil evaluasi pada tahun 1998 menggambarkan bahwa cakupan penemuan
penderita baru mencapai 9,8% dengan angka keberhasilan 89%, sehingga
WHO menggolongkan Indonesia sebagai penyelenggara program yang baik
tapi ekspansi sangat lambat (Depkes, 1999). Berdasarkan hasil Suskernas
tahun 2004, prevalensi TB di DIY dan Bali sebesar 64 per 100.000
penduduk, di Jawa 107 per 100.000, di Sumatra 160 per 100000, dan yang
tertinggi daerah Indonesia Timur sebesar 210 per 100.000 penduduk.
Keadaan ini masih memprihatinkan padahal Menteri Kesehatan melalui SK
Menkes 2004 sudah menyatakan program TB di Indonesia menunjukkan
hasil yang baik dan pemerintah telah mencanangkan program bebas biaya
untuk pemberantasan TB.

Peningkatan kembali morbiditas penyakit TB ini, ternyata diikuti oleh
peningkatan prevalensi Mycobacterium tuberculosis yang resisten terhadap
banyak obat atau Multi Drug Resistance Tuberculosis (MDR-TB). Batasan
MDR-TB menurut American Thoracic Society (ATS) adalah strain M.
tuberculosis yang secara in vitro resisten terhadap isoniazid (INH) dan
rifampisin, dengan atau tanpa resisten terhadap OAT lain. MDR-TB
seringkali disebabkan oleh pengawasan pengobatan yang tidak benar
(Depkes, 2002).

Masalah penanggulangan TB semakin pelik dengan adanya beberapa
kondisi saat ini seperti ko-infeksi dengan HIV dan berkembangnya
fenomena resistensi obat. Ko-infeksi TB dan HIV merupakan salah satu
tantangan terbesar, sebab TB merupakan penyebab utama kematian pada
orang dengan HIV/AIDS, dan sebaliknya HIV merupakan risiko terbesar
mengubah TB laten menjadi TB aktif. Sebagai catatan diperkirakan 2,5-3
juta ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) mengalami ko-infeksi dengan TB
(Djoerban, 2005).

13

Menurut Permatasari (2005) hasil penelitian dan program yang dilakukan di
Indonesia oleh berbagai pihak maka ada beberapa masalah dalam program
TB yang harus diatasi bersama antara lain:
a. Belum seragamnya definisi dari Tuberkulosis
b. Penemuan penderita yang terkena TB (Deteksi Kasus)
c. Ketidakmampuan petugas menurunkan angka DO terhadap OAT
d. Tidak tersedianya vaksin yang ampuh, yaitu yang bertahan dalam jangka
waktu lama/ seumur hidup
e. Angka Multi Drug Resisten (MDR)-TB yang tinggi
f. Obat pencegahan yang kurang memadai. (Saat ini hanya menyembuhkan
penderita, tanpa memperhatikan anggota keluarga yang potensial untuk
tertular)
g. Kurangnya perhatian dari pihak-pihak terkait
h. Lain-lain.

7. Program DOTS dalam penanggulangan TB di Indonesia
Sebagai salah satu program penanggulangan TB pada tahun 1994,
pemerintah Indonesia bekerja sama dengan World Health Organization
(WHO), melaksanakan suatu evaluasi bersama yang menghasilkan
rekomendasi, perlunya segera dilakukan perubahan mendasar yang
kemudian disebut sebagai Strategi DOTS. Sejak saat itulah dimulailah era
baru pemberantasan TB di Indonesia (Depkes, 1999).

Upaya penurunan angka penderita TB paru yang telah dilakukan oleh pihak
program pada tahun 1995 berupa pemberian obat intensif melalui
puskesmas ternyata kurang berhasil. Survei pada tahun 1995 menunjukkan
bahwa TB merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua golongan dan
nomor satu dari golongan infeksi (Depkes, 2007).

Lima kunci utama dalam strategi DOTS yaitu: (1) Komitmen; (2) Diagnosis
yang benar dan baik; (3) Ketersediaan dan lancarnya distribusi obat; (4)
14

Pengawasan penderita minum obat; (5) Pencatatan dan pelaporan penderita
dengan sistem kohort (WHO, 2006). Kunci sukses penanggulangan TB
adalah menemukan penderita dan mengobati penderita sampai sembuh.
WHO menetapkan target global Case Detection Rate (CDR) atau penemuan
kasus TB menular sebesar 70%, dan Cure Rate (CR) atau angka
kesembuhan/ keberhasilan pengobatan sebesar 85%.

Sejak DOTS diterapkan secara intensif terjadi penurunan angka kesakitan
TB menular yaitu pada tahun 2001 sebesar 122 per 100.000 penduduk dan
pada tahun 2005 menjadi 107 per 100.000 penduduk. Hasil yang dicapai
Indonesia dalam menanggulangi TB hingga saat ini telah meningkat. Angka
penemuan kasus TB menular yang ditemukan pada tahun 2004 sebesar
128.981 orang (54%) meningkat menjadi 156.508 orang (67%) pada tahun
2005. Keberhasilan pengobatan TB dari 86,7 % pada kelompok penderita
yang ditemukan pada tahun 2003 meningkat menjadi 88,8 % pada tahun
2004 (Depkes, 2004). Selain itu mulai tahun 2003 dipergunakan Obat Anti
Tuberkulosis (OAT) dalam bentuk Kombipak bagi penderita dewasa dan
anak dan didukung pula dalam kebijakan pemerintah melalui Surat
Keputusan tentang pemberian gratis Obat Anti Tuberkulosis dan Obat Anti
Retro Viral untuk HIV/AIDS (Depkes, 2005).

8. Pengobatan Tuberkulosis
a. Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan
mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.
b. Jenis, sifat dan dosis OAT
Jenis, sifat dan dosis OAT diuraikan dalam tabel 2.1




15

Tabel 2.1.
Jenis, sifat dan dosis OAT

Jenis OAT Sifat
Dosis yang direkomendasikan
(mg/kg)
Harian 3x seminggu
Isoniazid (H) Bakterisid 5 (4-6) 10 (8-12)
Rifampicin (R) Bakterisid 10 (8-12) 10 (8-12)
Pyrazinamide (Z) Bakterisid 25 (20-30) 35 (30-40)
Streptomycin (S) Bakterisid 15 (12-18) 15 (12-18)
Ethambutol (E) Bakteriostatik 15 (15-20) 30 (20-35)

c. Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis menurut Depkes (2007) dilakukan dengan
prinsip - prinsip sebagai berikut:
1) OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat,
dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori
pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian
OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan
sangat dianjurkan.
2) Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan
pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh
seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
3) Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan
lanjutan.
a) Tahap awal (intensif)
(1) Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari
dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya
resistensi obat.
(2) Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat,
biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun
waktu 2 minggu.
(3) Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif
(konversi) dalam 2 bulan.
16

(4) Jika setelah pengobatan 2 bulan pasien TB BTA positif belum
menjadi BTA negatif (tidak konversi), maka diberikan OAT
sisipan (HRZE) sama seperti paduan paket untuk tahap intensif
kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari).
b) Tahap Lanjutan
(1) Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit,
namun dalam jangka waktu yang lebih lama.
(2) Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister
sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

d. Paduan OAT yang digunakan di Indonesia
1) Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis di Indonesia:
a) Kategori 1 : 2(HRZE)/ 4(HR)3
b) Kategori 2 : 2(HRZE)S/ (HRZE)/ 5(HR)3E3
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan
(HRZE)
c) Kategori Anak: 2HRZ/ 4HR
2) Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket
berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori
anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Tablet
OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu
tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini
dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.
3) Paket Kombipak.
Adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid, Rifampisin,
Pirazinamid dan Etambutol yang dikemas dalam bentuk blister.
Paduan OAT ini disediakan program untuk digunakan dalam
pengobatan pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.
Paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) disediakan dalam bentuk paket,
dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin
17

kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Satu (1) paket
untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. Adapun paket
obat KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB:
1) Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin
efektifitas obat dan mengurangi efek samping.
2) Mencegah penggunaan obat tunggal sehingga menurunkan resiko
terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan
resep.
3) Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat
menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien

e. Paduan OAT dan peruntukannya.
1) Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
a) Pasien baru TB paru BTA positif.
b) Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
c) Pasien TB ekstra paru
Tabel 2.2 dan 2.3 menjelaskan dosis untuk paduan OAT KDT dan
kombipak kategori 1.
Tabel 2.2.
Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1

Berat
Badan
Tahap Intensif
tiap hari selama 56 hari
RHZE (150/75/400/275)
Tahap Lanjutan
3 kali seminggu selama 16
minggu
RH (150/150)
30 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT
38 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT
55 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT
71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT










18

Tabel 2.3.
Dosis paduan OAT-Kombipak untuk Kategori 1

Tahap
Pengobatan
Lama
Pengobatan
Dosis per hari / kali
Jumlah
hari/kali
menelan
obat
Tablet
Isoniasid
@ 300
mgr
Kaplet
Rifampisin
@ 450
mgr
Tablet
Pirazinamid
@ 500 mgr
Tablet
Etambutol
@ 250
mgr
Intensif

2 Bulan 1 1 3 3 56
Lanjutan

4 Bulan 2 1 - - 48

2) Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah
diobati sebelumnya:
a) Pasien kambuh
b) Pasien gagal
c) Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)
Tabel 2.4 dan tabel 2.5 menjelaskan dosis untuk paduan OAT KDT
dan Kombipak kategori 2

Tabel 2.4.
Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2

Berat
Badan
Tahap Intensif
tiap hari
RHZE (150/75/400/275) + S
Tahap Lanjutan
3 kali seminggu
RH (150/150) + E(400)
Selama 56 hari
Selama 28
hari
selama 20 minggu
30-37 kg 2 tab 4KDT
+ +500 mg Streptomisin inj.
2 tab 4KDT 2 tab 2KDT
+ 2 tab Etambutol
38-54 kg 3 tab 4KDT
+ 750 mg Streptomisin inj.
3 tab 4KDT 3 tab 2KDT
+ 3 tab Etambutol

55-70 kg 4 tab 4KDT
+ 1000 mg Streptomisin inj.
4 tab 4KDT

4 tab 2KDT
+ 4 tab Etambutol

71 kg 5 tab 4KDT
+ 1000mg Streptomisin inj.
5 tab 4KDT 5 tab 2KDT
+ 5 tab Etambutol





19


Tabel 2.5.
Dosis paduan OAT Kombipak untuk Kategori 2

Tahap
Pengobatan
Lama
Pengobata
n
Tablet
Isoniasid
@ 300
Mgr
Kaplet
Rifampisin
@ 450
Mgr
Tablet
Pirazinamid
@ 500 mgr
Etambutol

Strepto
misin
injeksi

Jumlah
hari/kali
menelan
obat
Tablet
@ 250
Mgr
Tablet
@ 400
mgr
Tahap
Intensif
(dosis
harian)

2 bulan
1 bulan

1
1

1
1

3
3

3
3

-
-

0,75 gr
-

56
28

Tahap
Lanjutan
(dosis 3x
Seminggu)

4 bulan 2 1 - 1 2 - 60

3) OAT Sisipan (HRZE)
Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap
intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). Tabel 2.6
dan 2.7 menjelaskan dosis KDT dan Kombipak untuk sisipan
Tabel 2.6.
Dosis KDT untuk Sisipan

Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari
RHZE (150/75/400/275)
30 37 kg 2 tablet 4KDT
38 54 kg 3 tablet 4KDT
55 70 kg 4 tablet 4KDT
71 kg 5 tablet 4KDT
Tabel 2.7.
Dosis OAT Kombipak untuk Sisipan

Tahap
Pengobatan
Lamanya
Pengobatan
Tablet
Isoniasid
@ 300
mgr
Kaplet
Ripamfisin
@ 450 mgr
Tablet
Pirazinamid
@ 500 mgr
Tablet
Etambutol
@ 250
mgr
Jumlah
hari/kali
menelan
obat
Tahap
intensif
(dosis
harian)
1 bulan 1 1 3 3 28

Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida
(misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan
20

kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut
jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. Disamping itu dapat juga
meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua (Depkes,
2007)

f. Permasalahan pengobatan TB
Proses penyembuhan akan berhasil jika penderita TBC mengkonsumsi
anti-TB (OAT) secara teratur sampai selesai dengan pengawasan yang
ketat Keteraturan berobat yaitu diminum tidaknya obat-obat tersebut,
penting karena ketidakteraturan berobat menyebabkan timbulnya
masalah resistensi (Taufan, 2008). Walaupun telah ada cara pengobatan
tuberkulosis dengan efektivitas yang tinggi, angka sembuh masih lebih
rendah dari yang diharapkan. Penyakit utama terjadinya hal tersebut
adalah pasien tidak mematuhi ketentuan dan lamanya pengobatan secara
teratur untuk mencapai kesembuhan. Terutama pemakaian obat secara
teratur pada 2 bulan fase inisial sering kali tidak tercapai, sementara itu
dengan mempersingkat lamanya pengobatan menjadi 6 bulan telah
menunjukkan penurunan angka drop out. Hal ini mudah dimengerti,
karena kalau penderita tidak tekun meminum obat-obatnya, hasil akhir
hanyalah kegagalan penyembuhan ditambah dengan timbulnya basil-
basil TB yang multiresisten. Resistensi obat anti tuberkulosis terjadi
akibat pengobatan tidak sempurna, putus berobat atau karena kombinasi
obat anti tuberkulosis tidak adekuat.

Kondisi seorang penderita penyakit tuberkulosis sering berada dalam
kondisi rentan dan lemah, baik fisik maupun mentalnya. Kelemahan itu
dapat menyebabkan penderita tidak berobat, putus berobat, dan atau
menghentikan pengobatan karena berbagai alasan. TB dapat
disembuhkan dengan berobat secara teratur sampai selesai dalam waktu
6-8 bulan.

21

Masa pemberian obat memang cukup lama yaitu 6-8 bulan secara terus-
menerus agar dapat mencegah penularan kepada orang lain. Oleh sebab
itu, para penderita TB jika ingin sembuh harus minum obat secara teratur.
Tanpa adanya keteraturan minum obat penyakit sulit disembuhkan. Jika
tidak teratur minum obat penyakitnya sukar diobati kuman TB dalam
tubuh akan berkembang semakin banyak dan menyerang organ tubuh lain
akan membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat sembuh biaya
pengobatan akan sangat besar dan tidak ditanggung oleh pemerintah
(Ainur, 2008).

g. Efek samping pemberian OAT
Tabel berikut, menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan
pendekatan gejala menurut Depkes (2007).

Tabel 2.8 Efek samping OAT
Efek Samping Penyebab Penatalaksanaan
1) Efek Samping Ringan
Tidak ada nafsu makan,
mual, sakit perut
Rifampisin Semua OAT diminum malam sebelum tidur
Nyeri Sendi Pirasinamid Beri Aspirin
Kesemutan s/d rasa
terbakar di kaki
INH Beri vitamin B6 (piridoxin) 100 mg per hari
Warna kemerahan pada
air seni (urine)

Rifampisin Tidak perlu diberi apa-apa, tapi perlu
penjelasan kepada pasien.
2) Efek Samping Berat
Gatal dan kemerahan
kulit
Semua jenis OAT Berikan dulu anti-histamin, sambil
meneruskan OAT dengan pengawasan ketat.
Jika tidak mereda, hentikan semua OAT.
Tuli Streptomisin Streptomisin dihentikan, ganti Etambutol.

Gangguan keseimbangan Streptomisin Streptomisin dihentikan, ganti Etambutol.
Ikterus tanpa penyebab
lain
Hampir semua OAT Hentikan semua OAT sampai
ikterus menghilang.
Bingung dan muntah-
muntah (permulaan
ikterus karena obat)
Hampir semua OAT

Hentikan semua OAT, segeralakukan tes
fungsi hati
Gangguan penglihatan Etambutol Hentikan Etambutol.
Purpura dan renjatan
(syok)
Rifampisin

Hentikan Rifampisin.

22

Pada UPK (Unit Pelayanan Kesehatan) Rujukan penanganan kasus-kasus
efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui, maka
pemberian kembali OAT harus dengan cara drug challenging
dengan menggunakan obat lepas. Hal ini dimaksudkan untuk
menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping
tersebut.
b. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi
hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. Untuk membedakannya,
semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan
prinsip dechallenge-rechalenge. Bila dalam proses rechallenge yang
dimulai dengan dosis rendah sudah timbul reaksi, berarti
hepatotoksisitas karena reaksi hipersensitivitas.
c. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui,
misalnya pirasinamid, etambutol atau streptomisin, maka pengobatan
TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Bila mungkin,
ganti obat tersebut dengan obat lain. Lamanya pengobatan mungkin
perlu diperpanjang, tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya
kambuh.
d. Kadang-kadang, pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas
(kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. Kedua obat ini
merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat
utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek. Bila pasien
dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin
tersebut HIV negatif, mungkin dapat dilakukan desensitisasi. Namun,
jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif
sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat.

B. Kinerja Pengawas Menelan Obat (PMO)
Salah satu dari komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka
pendek dengan pengawasan langsung. Sejak tahun 1995, manajemen
23

operasional yang menyesuaikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment
Shortcourse) menekankan adanya pengawas menelan obat (PMO) untuk setiap
penderita TB paru dengan harapan dapat menjamin keteraturan minum obat
bagi setiap penderita selama masa pengobatan.
1. Persyaratan/ kriteria PMO
a. Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas
kesehatan maupun penderita, selain itu harus disegani dan dihormati
oleh penderita.
b. Seseorang yang tinggal dekat penderita.
c. Bersedia membantu penderita dengan sukarela.
d. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan
penderita.
2. Siapa yang bisa jadi PMO
Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya Bidan di Desa,
Perawat, Pekarya, Sanitarian, Juru Imunisasi, dan lain-lain. Bila tidak ada
petugas kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader
kesehatan, guru, anggota PPTI, PKK, atau tokoh masyarakat lainnya atau
anggota keluarga (Depkes, 2007).
3. Tugas seorang PMO
Menurut PDPI (2006), tugas PMO antara lain:
a. Bersedia mendapat penjelasan di poliklinik.
b. Melakukan pengawasan terhadap pasien dalam hal minum obat.
c. Mengingatkan pasien untuk pemeriksaan ulang dahak sesuai jadwal
yang telah ditentukan yaitu akhir bulan kedua, 1 bulan sebelum akhir
pengobatan dan atau akhir bulan pengobatan.
d. Memberikan dorongan terhadap pasien untuk berobat secara teratur
hingga selesai.
e. Mengenali efek samping ringan obat, dan menasehati pasien agar tetap
mau menelan obat serta merujuk pasien bila efek samping memberat.
f. Melakukan kunjungan rumah (jika PMO bukan anggota keluarga)
24

g. Memberikan penyuluhan pada anggota keluarga penderita TB yang
mempunyai gejala-gejala tersangka TB untuk segera memeriksakan diri
kepada petugas kesehatan.

Kinerja PMO yang optimal akan meningkatkan keberhasilan pngobatan TBC.
Ada beberapa pengertian tentang kinerja yaitu:
1. Menurut Sulistiyani (2003) pengertian kinerja adalah kombinasi dari
kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya.
Sedangkan menurut Bernardin dan Russel dalam Sulistiyani (2003)
menyatakan bahwa kinerja merupakan catatan outcome yang dihasilkan
dari fungsi pegawai tertentu atau kegiatan yang dilakukan selama periode
waktu tertentu.
2. Menurut Rivai dan Basri (2005) pengertian kinerja adalah kesediaan
seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan
menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawab dengan hasil seperti
yang diharapkan.
Adapun Kinerja Pengawas Menelan Obat (PMO) adalah hasil kerja yang
dicapai oleh PMO melalui aktivitas kerja yang telah ditentukan menurut
kriteria yang berlaku bagi pekerjaan tersebut. Kinerja PMO dipengaruhi
beberapa variabel antara lain usia, jenis kelamin, pendidikan, keluarga, tingkat
sosial, pengalaman, kemampuan, dll (Sukamto, 2002).

C. Pemantauan dan Hasil Pengobatan TB
1. Pemantauan kemajuan pengobatan TB
Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan
dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak
secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis
dalam memantau kemajuan pengobatan. Laju Endap Darah (LED) tidak
digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik
untuk TB. Pemantauan kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan
spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Hasil pemeriksaan
25

dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. Bila salah satu
spesimen positif atau keduanya positif, hasil pemeriksaan ulang dahak
tersebut dinyatakan positif.

Selain pemantauan kemajuan pengobatan dan pemeriksaan dahak, telah
ditetapkan tata laksana pemantauan pasien dengan berobat tidak teratur.
Adapun tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur adalah:
a. Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan
1) Lacak pasien
2) Diskusikan dengan pasien untuk mencari penyebab berobat tidak
teratur
3) Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai
b. Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan:
1) Lacak pasien
2) Diskusikan dan cari masalah
3) Periksa 3 kali dahak (SPS) dan lanjutkan pengobatan sementara
menunggu hasilnya
Adapun tindakan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan BTA:
1) Bila hasil BTA negatif atau Tb extra paru:
Lanjutkan pengobatan sampai seluruhbdosis selesai
2) Bila satu atau lebih hasil BTA positif:
a) Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan:
Lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1
bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak.
b) Lama pengobatan sebelumnya lebih dari 5 bulan
i. Kategori-1: mulai kategori-2
ii. Kategori-2: rujuk, mungkin kasus kronik.
c. Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default)
1) Periksa 3 kali dahak SPS
2) Diskusikan dan cari masalah
3) Hentikan pengobatan sambil menunggu hasil pemeriksaan dahak.
26

Adapun tindakan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan BTA:
1) Bila hasil BTA negatif atau Tb extra paru:
Pengobatan dihentikan, pasien diobservasi bila gejalanya semakin
parah perlu pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan)
2) Bila satu atau lebih hasil BTA positif:
i. Kategori-1: mulai kategori-2
ii. Kategori-2: rujuk, mungkin kasus kronik.

2. Hasil Pengobatan Pasien TB BTA positif
Hasil pengobatan TB BTA positif menurut Depkes (2007) dikategorikan
menjadi:
a. Sembuh: Adalah pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara
lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada
AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya.
b. Pengobatan Lengkap: Adalah pasien yang telah menyelesaikan
pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan
sembuh atau gagal.
c. Meninggal: Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan
karena sebab apapun.
d. Pindah: Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB
03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui.
e. Default (Putus berobat): Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan
berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
f. Gagal: Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau
kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

3. Angka Keberhasilan Pengobatan
Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate = SR) ditunjukkan dari
angka kesembuhan yang ditentukan menurut target WHO sebesar 85%.
Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan prosentase pasien baru
TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh
27

maupun pengobatan lengkap) diantara pasien baru TB paru BTA positif
yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari
angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap. Cara perhitungan untuk
pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori menurut Depkes,
(2007) dapat dilihat dalam rumus berikut:




D. Kerangka Teori


















Skema 2.1.
Kerangka Teori
Sumber: Depkes (2007)

SR = Jumlah pasien baru TB BTA positif (sembuh + pengobatan lengkap) x 100%
Jumlah pasien baru TB BTA positif yang diobati
Regimen Pengobatan
Sarana & Prasarana
Kesehatan
Tingkat Pendidikan
Usia
Jenis Kelamin
Hubungan keluarga
Pendidikan
Keberhasilan Pengobatan
Penderita TB
Deteksi Kasus
Kinerja Pengawas
Menelan Obat (PMO)
Distribusi Obat
Komitmen Politik
Strategi DOTS
Tingkat sosial
Keteraturan
Berobat
Efek Samping Obat
Pengobatan TB
Pencatatan dan Pelaporan
Mutu Pelayanan
Pengalaman
Kemampuan
28

E. Kerangka Konsep
Skema 2.2.
Kerangka Konsep


Variabel Bebas Variabel Terikat



F. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas
Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang
menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2006).
Variabel bebas yang diteliti adalah kinerja Pengawas Menelan Obat (PMO).
2. Variabel terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat
karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2006). Variabel terikat dalam
penelitian ini adalah keberhasilan pengobatan penderita TB Paru dengan
strategi DOTS di RSUP Dr Kariadi Semarang.

G. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara kinerja Pengawas
Menelan Obat (PMO) terhadap keberhasilan pengobatan penderita TB Paru
dengan strategi DOTS di RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Kinerja Pengawas
Menelan Obat (PMO)
Keberhasilan Pengobatan
Penderita TB