Anda di halaman 1dari 19

I.

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Seperti yang telah diketahui bahwa beton adalah suatu material yang tahan

terhadap tekanan, akan tetapi tidak tahan terhadap tarikan. Sedangkan baja adalah
suatu material yang sangat tahan terhadap tarikan. Dengan mengkombinasikan antara
beton dan baja dimana beton yang menahan tekanan sedangkan tarikan ditahan oleh
baja akan menjadi material yang tahan terhadap tekanan dan tarikan yang dikenal
sebagai beton bertulang (reinforced concrete). Jadi pada beton bertulang, beton
hanya memikul tegangan tekan, sedangkan tegangan tarik dipikul oleh baja sebagai
penulangan (rebar). Sehingga pada beton bertulang, penampang beton tidak dapat
efektif 100 % digunakan, karena bagian yang tertarik tidak diperhitungkan sebagai
pemikul tegangan.
Hal ini dapat dilihat pada sketsa gambar di bawah ini. Suatu penampang
beton bertulang dimana penampang beton yang diperhitungkan untuk memikul
tegangan tekan adalah bagian diatas garis netral (bagian yang diarsir), sedangkan
bagian dibawah garis netral adalah bagian tarik yang tidak diperhitungkan untuk
memikul gaya tarik karena beton tidak tahan terhadap tegangan tarik.

Gambar 1
Gaya tarik pada beton bertulang dipikul oleh besi penulangan (rebar).
Kelemahan lain dari konstruksi beton bertulang adalah bera t sendiri (self weight)
yang besar, yaitu 2.400 kg/m3, dapat dibayangkan berapa berat penampang yang
tidak diperhitungkan untuk memikul tegangan (bagian tarik). Untuk mengatasi ini
pada beton diberi tekanan awal sebelum beban-beban bekerja, sehingga seluruh
penampang beton dalam keadaan tertekan seluruhnya, inilah yang kemudian disebut
beton pratekan atau beton prategang (prestressed concrete).

1.2.

Tujuan
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian,

prinsip dasar, materian pembentuk, keuntungan dan kelemahan, metode serta sejarah
dari beton prategang.
1.3.

Batasan Masalah
Dalam makalah ini pembahasan dibatasi dengan pembahasan mengenai

pengertian, prinsip dasar, materian pembentuk, keuntungan dan kelemahan, metode


serta sejarah dari beton prategang.
1.4.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang penulis ambil adalah apa pengertian, prinsip dasar,

dan material pembentuk serta bagaimana metode dan sejarah dari beton prategang.

II. PEMBAHASAN

2.1.

Pengertian Beton Prategang


Beton prategang adalah

material yang sangat banyak digunakan dalam

kontruksi. Beton prategang pada dasarnya adalah beton di mana tegangan-tegangan


internal dengan besar serta distribusi yang sesuai diberikan sedemikian rupa sehingga
tegangan-tegangan yang diakibatkan oleh beban-beban luar dilawan sampai suatu
tingkat yang diinginkan. Prategang meliputi tambahan gaya tekan pada struktur
untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan gaya tarik internal dan dalam hal ini
retak pada beton dapat dihilangkan. Pada beton bertulang, prategang pada umumnya
diberikan dengan menarik baja tulangan. Gaya tekan disebabkan oleh reaksi baja
tulangan yang ditarik, mengakibatkan berkurangnya retak, elemen beton prategang
akan jauh lebih kokoh dari elemen beton bertulang biasa. Prategangan juga
menyebabkan gaya dalam yang berlawanan dengan gaya luar dan mengurangi atau
bahkan menghilangkan lendutan secara signifikan pada struktur.
Beton yang digunkan dalam beton prategang adalah mempunyai kuat tekan
yang cukup tinggi dengan nilai fc min K300, modulus elastis yang tinggi dan
mengalami rangkak ultimit yang lebih kecil, yang menghasilkan kehilanga
n

prategang yang lebih kecil pada baja. Kuat tekan yang tinggi ini diperlukan untuk

menahan tegangan tekan pada serat tertekan, pengangkuran tendon, mencegah


terjadinya keretakan.
Definisi beton prategang menurut beberapa peraturan adalah sebagai berikut:
a.

Menurut PBI 1971


Beton prategang adalah beton bertulang dimana telah ditimbulkan tegangan-

tegangan intern dengan nilai dan pembagian yang sedemikian rupa hingga tegangantegangan akibat beton-beton dapat dinetralkan sampai suatu taraf yang diinginkan.
b.

Menurut Draft Konsensus Pedoman Beton 1998


Beton prategang adalah beton bertulang dimana telah diberikan tegangan

dalam untuk mengurangi tegangan tarik potensial dalam beton akibat pemberian
beban yang bekerja.
c.

Menurut ACI
Beton prategang adalah beton yang mengalami tegangan internal dengan

besar dan distribusi sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi sampai batas
tertentu tegangan yang terjadi akibat beban eksternal.

Dapat ditambahkan bahwa beton prategang, dalam arti seluas-luasnya, dapat


juga termasuk keadaan (kasus) dimana tegangan-tegangan yang diakibatkan oleh
regangan-regangan internal diimbangi sampai batas tertentu, seperti pada konstruksi
yang melengkung (busur). Tetapi dalam tulisan ini pembahasannya dibatasi dengan
beton prategang yang memakai tulangan baja yang ditarik dan dikenal sebagai
tendon.
Beton prategang pada dasarnya adalah beton di mana tegangan-tegangan
internal dengan besar serta distribusi yang sesuai diberikan sedemikian rupa sehingga
tegangan-tegangan yang diakibatkan oleh beban-beban luar dilawan sampai suatu
tingkat yang diinginkan. Pada batang beton bertulang, prategang pada umumnya
diberikan dengan menarik baja tulangannya.
Kekuatan tarik beton polos hanyalah merupakan suatu fraksi saja dari
kekuatan tekannya dan masalah kurang sempurnanya kekuatan tarik ini ternyata
menjadi faktor pendorong dalam pengembangan material komposit yang dikenal
sebagai beton bertulang.
Timbulnya retak-retak awal pada beton bertulang yang disebabkan oleh
ketidakcocokan (non compatibility) dalam regangan-regangan baja dan beton
barangkali merupakan titik awal dikembangkannya suatu material baru seperti beton
prategang. Penerapan tegangan tekan permanen pada suatu material seperti beton,
yang kuat menahan tekanan tetapi lemah dalam menahan tarikan, akan meningkatkan
kekuatan tarik yang nyata dari material tersebut, sebab penerapan tegangan tarik
yang berikutnya pertama-tama harus meniadakan prategang tekanan. Dalam tahun
1904, Freyssinet mencoba memasukkan gaya-gaya yang bekerja secara permanen
pada beton untuk melawan gaya-gaya elastik yang ditimbulkan oleh beban dan
gagasan ini kemudian telah dikembangkan dengan sebutan prategang.
beton prategang adalah beton yang didalamnya terdapat kawat baja yang
diberi tegangan dahulu dengan cara ditarik terus stelah itu di cor dan dipasang.Beton
prategang sangat baik untuk digunakan pada bangunan tingkat tinggi karena
memiliki kuat tarik dan tekan sama baiknya dan dibanding beton biasa beton
memilki kadar usia yang panjang.Beton ini memakai baja mutu tinggi sehingga
dalam pembuatannya juga memakan cost yang tidak sedikit.
Perbedaan utama antara beton bertulang dan beton pratekan.
Beton bertulang :
Cara bekerja beton bertulang adalah mengkombinasikan antara beton dan baja
tulangan dengan membiarkan kedua material tersebut bekerja sendiri-sendiri, dimana
beton bekerja memikul tegangan tekan dan baja penulangan memikul tegangan tarik.

Jadi dengan menempatkan penulangan pada tempat yang tepat, beton bertulang dapat
sekaligus memikul baik tegangan tekan maupun tegangan tarik.

Beton pratekan :
Pada beton pratekan, kombinasi antara beton dengan mutu yang tinggi dan baja
bermutu tinggi dikombinasikan dengan cara aktif, sedangan beton bertulang
kombinasinya secara pasif. Cara aktif ini dapat dicapai dengan cara menarik baja
dengan menahannya kebeton, sehingga beton dalam keadaan tertekan. Karena
penampang beton sebelum beban bekerja telah dalam kondisi tertekan, maka bila
beban bekerja tegangan tarik yang terjadi dapat di-eliminir oleh tegangan tekan yang
telah diberikan pada penampang sebelum beban bekerja.
2.2.

Prinsip Dasar Beton Pratekan


Gaya prategang P ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip mekanika dan

hubungan tegangan-regangan sebagai berikut:


a.

Balok persegi panjang dengan tumpuan sederhana, diberi gaya prategang P,

sehingga balok tersebut mengalami tegangan tekan sebesar:


=Keterangan :
A = luas penampang balok (b x h)

Gambar 2
b.

Balok persegi panjang dengan tumpuan sederhana, diberi gaya prategang P

dan beban merata, sehingga timbul momen di tengah bentang, tegangannya menjadi:
t = -

b = -

Keterangan :
t = Tegangan di serat atas
b = Tegangan di serat bawah
Y = h/2 untuk penampang persegi panjang
I = Momen inersia bruto penampang (1/12 bh3)

Persamaan di atas membuktikan bahwa dengan diberi tegangan tekan


prategang, P/A, dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan tegangan tarik MY/I
akibat beban merata.

Gambar 3
c.

Tegangan tekan akibat penjumlahan gaya prategang dan beban merata

mengakibatkan kapasitas tekan balok dalam memikul beban luar berkurang. Oleh
karena itu, maka tendon prategang diletakkan di bawah sumbu netral di tengah
bentang. Sedangkan di daerah tumpuan tendon diletakkan dengan jarak yang kecil
terhadap sumbu netral yang berarti tendon prategang diletakkan di atas sumbu netral.
Sehingga tegangannya menjadi:
t = -

b = -

Gambar 4
Beton pratekan dapat didefinisikan sebagai beton yang diberikan tegangan
tekan internal sedemikian rupa sehingga dapat meng-eliminir tegangan tarik yang
terjadi akibat beban ekternal sampai suatu batas tertentu.
Ada 3 ( tiga ) konsep yang dapat di pergunakan untuk menjelaskan dan
menganalisa sifat-sifat dasar dari beton pratekan atau prategang :
Konsep Pertama :
Sistem pratekan/prategang untuk mengubah beton yang getas menjadi bahan yang
elastis.

Eugene Freyssiinett menggambarkan dengan memberikan tekanan terlebih


dahulu (pratekan) pada bahan beton yang pada dasarnya getas akan menjadi bahan
yang elastis.
Dengan memberikan tekanan ( dengan menarik baja mutu tinggi ), beton
yang bersifat getas dan kuat memikul tekanan, akibat adanya tekanan internal ini
dapat

memikul tegangan tarik akibat beban eksternal. Hal ini dapat dijelaskan

dengan gambar dibawah ini :

Gambar 5
Akibat diberi gaya tekan (gaya prategang) F yang bekerja pada pusat berat
penampang beton akan memberikan tegangan tekan yang merata diseluruh
penampang beton sebaesar F/A, dimana A adalah luas penampang beton tsb.
Akibat beban merata (termasuk berat sendiri beton) akan memberikan
tegangan tarik dibawah garis netral dan tegangan tekan diatas garis netral yang
besarnya pada serat terluar penampang adalah :
Tegangan lentur : f =
Dimana : M

: momen lentur pada penampang yang ditinjau

: jarak garis netral ke serat terluar penampang

: momen inersia penampang.

Kalau kedua tegangan akibat gaya prategang dan tegangan akibat momen
lentur ini dijumlahkan, maka tegangan maksimum pada serat terluar penampang
adalah :
a.

Diatas garis netral :


fTotal =

b.

tidak boleh melampaui tegangan hancur beton

tidak boleh lebih kecil dari nol

Dibawah garis netral :


fTotal =

>0

Jadi dengan adanya gaya internal tekan ini, maka beton akan dapat memikul
beban tarik.

Konsep Kedua :
Sistem Prategang untuk Kombinasi Baja Mutu Tinggi dengan Beton Mutu Tinggi.
Konsep ini hampir sama dengan konsep beton bertulang biasa, yaitu beton
prategang merupakan kombinasi kerja sama antara baja prategang dan beton, dimana
beton menahan betan tekan dan baja prategang menahan beban tarik. Hal ini dapat
dijelaskan sebagai berikut :

Gambar 6
Pada beton prategang, baja prategang ditarik dengan gaya prategang T yang
mana membentuk suatu kopel momen dengan gaya tekan pada beton C untuk
melawan momen akibat beban luar.
Sedangkan pada beton bertulang biasa, besi penulangan menahan gaya tarik T
akibat beban luar, yang juga membentuk kopel momen dengan gaya tekan pada
beton C untuk melawan momen luar akibat beban luar.
Konsep Ketiga :
Sistem Prategang untuk Mencapai Keseimbangan Beban.
Disini menggunakan prategang sebagai suatu usaha untuk membuat
keseimbangan gaya-gaya pada suatu balok. Pada design struktur beton prategang,
pengaruh dari prategang dipandang sebagai keseimbangan berat sendiri, sehingga
batang yang mengalami lendutan seperti plat, balok dan gelagar tidak akan
mengalami tegangan lentur pada kondisi pembebanan yang terjadi.
Hal ini dapat dijelaskan sbagai berikut :

Gambar 7
Suatu balok beton diatas dua perletakan (simple beam) yang diberi gaya
prategang F melalui suatu kabel prategang dengan lintasan parabola. Beban akibat
gaya prategang yang terdistribusi secara merata kearah atas dinyatakan :
Wb =
Dimana : Wb : beban merata kearah atas, akibat gaya prategang F
h

: tinggi parabola lintasan kabel prategang.

: bentangan balok.

: gaya prategang.

Jadi beban merata akibat beban (mengarah kebawah) diimbangi oleh gaya
merata akibat prategang wb yang mengarah keatas.
Inilah tiga konsep dari beton prategang (pratekan), yang nantinya
dipergunakan untuk menganalisa suatu struktur beton prategang.
2.3.
A.

Material Beton Prategang


Beton
Seperti telah di ketahui bahwa beton adalah campuran dari Semen, Agregat

kasar (split), Agregat halus (pasir), Air dan bahan tambahan yang lain. Perbandingan
berat campuran beton pada umumnya Semen 18 %, Agregat kasar 44 %, Agregat
halus 31 % dan Air 7 %. Setelah beberapa jam campuran tersebut dituangkan atau
dicor pada acuan (formwork) yang telah disediakan, bahan-bahan tersebut
akanlangsung mengeras sesuai bentuk acuan (formwork) yang telah dibuat. Kekuatan
beton ditentukan oleh kuat tekan karakteristik (fc) pada usia 28 hari.
Kuat tekan karakteristik adalah tegangan yang melampaui 95% dari
pengukuran kuat tekan uniaksial yang diambil dari tes penekanan contoh (sample)

beton dengan ukuran kubus 150 x 150 mm, atau silinder dengan diameter 150 mm
dan tinggi 300 mm.
Tabel 1. Perbandingan kekuatan tekan beton pada berbagai-bagai benda uji (sample).
Benda Uji
Perbandingan Kekuatan
Kubus 150 x 150 x 150 mm

1,00

Kubus 200 x 200 x 200 mm

0,95

Silinder ( D = 150 ) x ( H = 300 ) mm

0,83

Tabel 2. Perbandingan kekuatan tekan beton pada berbagai umur beton ( benda uji ).
Umur Benda Beton ( hari )

Perbandingan Kekuatan

14

21

28

90

365

0,40 0,65 0,88 0,95 1,00 1,20

1,35

Pada konstruksi beton prategang biasanya dipergunakan beton mutu tinggi


dengan kuat tekan fc = 30 ~ 40 MPa, hal ini diperlukan untuk menahan tegangan
tekan pada pengangkuran tendon (baja prategang) agar tidak terjadi keretakankeretakan.
Kuat tarik beton mempunyai harga yang jauh lebih rendah dari kuat tekannya.
SNI 03 2874 2002 menetapkan untuk kuat tarik beton ts = 0,50
ACI menetapkan ts = 0,60

sedangkan

Modulus elastisitas beton E dalam SNI 03 2874 2002 ditetapkan :


Ec = (Wc )1,5 x 0,043
Dimana : Ec : modulus elastisitas beton ( MPa )
Wc : berat volum beton (Kg/m3)
fc' : tegangan tekan beton ( MPa )
Sedangkan untuk beton normal diambil : Ec = 4700
B.

MPa.

Baja Prategang
Didalam praktek baja prategang ( tendon ) yang dipergunakan ada 3 ( tiga )

macam, yaitu :
a. Kawat tunggal ( wire ).
Kawat tunggal ini biasanya dipergunakan dalam beton prategang dengan
sistem pra-tarik ( pretension method ).
b. Untaian kawat ( strand ).
Untaian kawat ini biasanya dipergunakan dalam beton prategang dengan
sistem pasca-tarik ( post-tension ).
c. Kawat batangan ( bar )

Kawat batangan ini biasanya digunakan untuk beton prategang dengan sistem
pra-tarik ( pretension ).
Selain baja prategang diatas, beton prategang masih memerlukan penulangan
biasa yang tidak diberi gaya prategang, seperti tulangan memanjang, sengkang,
tulangan untuk pengangkuran dan lain-lain.
Tabel 3. Tipikal Baja Prategang
Jenis
Diameter
Baja Prategang
( mm )
3
4
Kawat Tunggal
5
( Wire )
7
8
9,3
Untaian Kawat
12,7
( Stand )
15,2
23
26
Kawat Batangan
29
( Bar )
32
38

Luas
( mm2 )
7,1
12,6
19,6
38,5
50,3
54,7
100
143
415
530
660
804
1140

Beban Putus
( kN )
13,5
22,1
31,4
57,8
70,4
102
184
250
450
570
710
870

Tegangan Tarik
( MPa )
1900
1750
1600
1500
1400
1860
1840
1750
1080
1080
1080
1080
1080

Jenis-jenis lain tendon yang sering digunakan untuk beton prategang pada
sitem pre-tension adalah seven-wire strand dan single-wire. Untuk seven-wire ini,
satu bendel kawat teriri dari 7 buah kawat, sedangkan single wire terdiri dari kawat
tunggal.
Sedangkan untuk beton prategang dengan sistem post-tension sering
digunakan tendon monostrand, batang tunggal, multi-wire dan multi-strand. Untuk
jenis post-tension method ini tendon dapat bersifat bonded (dimana saluran kabel
diisi dengan material grouting) dan unbonded saluran kabel di-isi dengan minyak
gemuk atau grease. Tujuan utama dari grouting ini adalah untuk :
~

Melindungi tendon dari korosi

Mengembangkan lekatan antara baja prategang dan beton sekitarnya.


Material grouting ini biasanya terdiri dari campuran semen dan air dengan

w/c ratio 0,5 dan admixe ( water reducing dan expansive agent )
Tabel 4. Common Types from CPCI Metric Design Manual
Tendon Type

Seven
Wire
Strand

Grade
f'pu
( MPa )

Size
Design nation

1860
1860
1860
1860
1760

9
11
13
15
16

Nominal Dimension
Diameter
( mm )
9,53
11,13
12,70
15,24
15,47

Area
( mm2 )
55
74
99
140
148

Mass
( Kg/m )
0,432
0,582
0,775
1,109
1,173

Presterssing
Wire

Deformed
Prestressing
Bar

1550
1720
1620
1760
1080
1030
1100
1030
1100
1030

5,0
5,0
7,0
7,0
15,0
26,5
26,5
32,0
32,0
36,0

5
5
7
7
15
26
26
32
32
36

19,6
19,6
38,5
38,5
177
551
551
804
804
1018

0,154
0,154
0,302
0,302
1,44
4,48
4,48
6,53
6,53
8,27

Kabel pratekan yang berupa strand atau untaian kawat


ASTM A 416 Uncoated seven wire stress relieved strand ini ada 2 macam grade,
yaitu :
Grade 250
Tegangan tarik batas minimumnya fpu = 250.000 psi ( 17.250 kg/cm2 )
Grade 270
Tegangan tarik batas minimumnya fpu = 270.000 psi ( 18.600 kg/cm2 )
Tabel 5. Uncoated seven wire stress relieved strand
Luas Penampang
Diameter Nominal
Nominal
Grade

250

270

Batas fpu

in

Mm

in2

mm2

ksi

MPa

0,250

6,35

0,036

23,22

250

1,725

0,313

7,94

0,058

37,42

250

1,725

0,375

9,53

0,080

51,61

250

1,725

0,438

11,11

0,108

69,68

250

1,725

0,500

12,54

0,144

92,90

250

1,725

0,600

15,24

0,216

139,35

250

1,725

0,375

9,53

0,085

54,85

270

1,860

0,438

11,11

0,115

74,19

270

1,860

0,500

12,54

0,153

98,71

270

1,860

0,563

14,29

0,192

123,87

270

1,860

0,600

15,24

0,216

139,35

270

1,860

Berat jenis tendon 7.850 kg/m3


Modulus elastisitas G 250 maupun G 270 adalah :
E = 27.500.000 psi = 1,925 x 106 kg/cm2
2.4.

Tegangan Tarik

Keuntungan dan Kelemahan Beton Prategang

Konstruksi beton prategang (Prestressed concrete) mempunyai beberapa


keuntungan bila dibandingkan dengan konstruksi beton bertulang biasa, antara lain :
a.

Terhindarnya retak terbuka didaerah tarik, sehingga beton prategang akan


lebih tahan terhadap korosi.

b.

Lebih kedap terhadap air, cocok untuk pipa dan tangki air.

c.

Karena terbentuknya lawan lendut akibat gaya prategang sebelum beban


rencana bekerja, maka lendutan akhir setelah beban rencana bekerja, akan
lebih kecil dari pada beton bertulang biasa.

d.

Penampang struktur akan lebih kecil/langsing, sebab seluruh luas penampang


dipergunakan secara efektif.

e.

Jumlah berat baja prategang jauh lebih kecil dari pada jumlah berat besi
penulangan pada konstruksi beton bertulang biasa.

f.

Ketahanan geser balok dan ketahanan puntirnya bertambah.

g.

Pada beton prategang seluruh penampang beton aktif menerima beban,


sedangkan pada beton bertulang biasa hanya penampang yang tidak retak saja
yang menerima beban.

h.

Lendutan efektif untuk beban jangka panjang dapat terkontrol lebih baik pada
beton prategang penuh maupun prategang sebagian

i.

Suatu struktur dengan bentangan besar penampangnya akan lebih langsing,


hal ini mengakibatkan Natural Frequency dari struktur berkurang, sehingga
menjadi dinamis instabil akibat beban getaran gempa atau angin, kecuali bila
struktur itu memiliki redaman yang cukup atau kekakuannya ditambah.
Bila ditinjau dari segi ekonomis, maka ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan :
a.

Jumlah voluma beton yang diperlukan lebih kecil.

b.

Jumlah berat baja prategang jauh lebih kecil dibandingkan dengan berat baja
tulangan biasa (1/5 1/3 nya) beton prategang akan menjadi lebih ringan atau
langsing, sehingga berkurangnya beban mati yang diterima pondasi.

c.

Tetapi biaya awalnya tidak sebanding dengan pengurangan beratnya. Harga


baja dan beton mutu tinggi lebih mahal, selain itu formwork dan penegangan
baja prategang perlu tambahan biaya. Perbedaan biaya awal ini akan menjadi
lebih kecil, jika beton prategang yang dibuat adalah beton pracetak dalam
jumlah yang besar.

d. Sebaliknya beton prategang hampir-hampir tidak memerlukan biaya


pemeliharan, lebih tahan lama karena tidak adanya retak-retak, berkurangnya
beban mati yang diterima pondasi, dapat mempunyai bentang yang lebih
besar, dan tinggi penampang konstruksinya berkurang.

Konstruksi beton prategang (Prestressed concrete) juga mempunyai beberapa


kelemahan, antara lain :
a.

Dituntut kualitas bahan yang lebih tinggi (pemakaian beton dan baja mutu
yang lebih tinggi), yang harganya lebih mahal.

b.

Memerlukan peralatan khusus seperti tendon, angkur, mesin penarik kabel,


dan lain-lain.

c.
2.5.

Dituntut keahlian dan ketelitian yang lebih tinggi.


Metode Prategang

Pada dasarnya ada 2 macam metode pemberian gaya prategang pada beton, yaitu :
A. Pratarik (Pre-Tension Method)
Metode ini baja prategang diberi gaya prategang dulu sebelum beton dicor,
oleh karena itu disebut pretension method.
Adapun prinsip dari Pratarik ini secara singkat adalah sebagai berikut :

Gambar 8
Tahap 1 : Kabel (Tendon) prategang ditarik atau diberi gaya prategang kemudian
diangker pada suatu abutment tetap (gambar 8 A).
Tahap 2 : Beton dicor pada cetakan (formwork) dan landasan yang sudah disediakan
sedemikian sehingga melingkupi tendon yang sudah diberi gaya prategang
dan dibiarkan mengering (gambar 8 B).

Tahap 3 : Setelah beton mengering dan cukup umur kuat untuk menerima gaya
prategang, tendon dipotong dan dilepas, sehingga gaya prategang
ditransfer ke beton (gambar 8 C).
Setelah gaya prategang ditransfer kebeton, balok beton tsb. akan melengkung
keatas sebelum menerima beban kerja. Setelah beban kerja bekerja, maka balok
beton
tersebut akan rata.
Keuntungan sistem pratarik terhadap sistem pemberian prategang yang lain
adalah sebagai berikut:
1. Daya lekat bagus dan kuat terjadi antara baja prategang dan beton pada
seluruh panjangnya.
2. Kualitas yang dihasilkan baik, karena biasanya sistem pratarik dikerjakan di
pabrik.
Namun demikian bukan berarti bahwa sistem pratarik tidak dapat
dilaksanakan di lapangan. Pada sistem pratarik diperlukan konstruksi pembantu
untuk menahan selama menunggu beton mengeras. Pada saat tegangan dilepaskan
perlahan-lahan pada jangkarnya, konstruksi harus dapat bergeser pada kedudukannya
untuk menghindari terjadinya gaya dalam. Gaya prategang yang dilepaskan terlalu
cepat dapat menimbulkan beban kejut yang tidak diinginkan.
Bila kondisi permukaan baja adalah sedemikian sehingga beton tidak melekat
dengan baik, maka terjadilah slip atau geseran sehingga gaya prategang yang cukup
tidak dapat ditransfer ke beton. Pada kondisi ini, konstruksi tidak dapat dianggap
sebagai beton prategang, dan ketahanan lenturnya jauh lebih berkurang daripada
beton bertulang biasa.
B. Pasca tarik (Post-Tension Method)
Pada metode Pascatarik, beton dicor lebih dahulu, dimana sebelumnya telah
disiapkan saluran kabel atau tendon yang disebut duct.
Secara singkat methode ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Gambar 9
Tahap 1 : Dengan cetakan (formwork) yang telah disediakan lengkap dengan
saluran/selongsong kabel prategang (tendon duct) yang dipasang
melengkung sesuai bidang momen balok, beton dicor (gambar 9 A).
Tahap 2 : Setelah beton cukup umur dan kuat memikul gaya prategang, tendon atau
kabel prategang dimasukkan dalam selongsong (tendon duct), kemudian
ditarik untuk mendapatkan gaya prategang. Methode pemberian gaya
prategang ini, salah satu ujung kabel diangker, kemudian ujung lainnya
ditarik (ditarik dari satu sisi). Ada pula yang ditarik di kedua sisinya dan
diangker secara bersamaan. Setelah diangkur, kemudian saluran digrouting
melalui lubang yang telah disediakan. (Gambar 9 B).
Tahap 3 : Setelah diangkur, balok beton menjadi tertekan, jadi gaya prategang telah
ditransfer kebeton. Karena tendon dipasang melengkung, maka akibat gaya
prategang tendon memberikan beban merata kebalok yang arahnya keatas,
akibatnya balok melengkung keatas (gambar 9 C).
Karena alasan transportasi dari pabrik beton kesite, maka biasanya beton
prategang dengan sistem post-tension ini dilaksanakan secara segmental (balok
dibagibagi, misalnya dengan panjang 1 - 1,5 m), kemudian pemberian gaya
prategang
dilaksanakan disite, setelah balok segmental tersebut. dirangkai.
2.6.

Sejarah Beton Prategang

Penerapan pertama dari beton prategang dimulai oleh P.H. Jackson dari
California, Amerika Serikat. Pada tahun 1886 telah dibuat hak paten dari kontruksi
beton prategang yang dipakai untuk pelat dan atap.

Gambar 10. Struktur beton prategang pertama (Jackson, 1886)


Pada waktu yang hampir bersamaan yaitu pada tahun 1888, C.E.W. Doehting
dari Jerman memperoleh hak paten untuk memprategang pelat beton dari kawat baja.
Tetapi gaya prategang yang diterapkan dalam waktu yang singkat menjadi hilang
karena rendahnya mutu dan kekuatan baja. Untuk mengatasi hal tersebut oleh G.R.
Steiner dari Amerika Serikat pada tahun 1908 mengusulkan dilakukannya
penegangan kembali. Sedangkan J. Mandl dan M. Koenen dari Jerman menyelidiki
identitas dan besar kehilangan gaya prategang. Eugen Freyssonet dari Perancis yang
pertama-tama menemukan pentingnya kehilangan gaya prategang dan usaha untuk
mengatasinya. Berdasarkan pengalamannya membangun jembatan pelengkung pada
tahun 1907 dan 1927, maka disarankan untuk memakai baja dengan kekuataan yang
sangat tinggi dan perpanjangan yang besar. Kemudian pada tahun 1940
diperkenalkan sistem prategang yang pertama dengan bentang 47 meter di
Philadelphia (Walnut Lane Bridge) seperti gambar dibawah ini :

Gambar 11
Setelah Fresyssinnet para sarjana lain juga menemukan metode-metode
prategang. Mereka adalah G.Magnel (Belgia), Y.Guyon (Perancis), P. Abeles

(Inggris), F. Leonhardt (Jerman), V.V. Mikhailov (Rusia), dan T.Y. Lin (Amerika
Serikat). Sekarang telah dikembangkan banyak sistem dan teknik prategang. Beton
prategang sekarang telah diterima dan banyak dipakai. Setelah melalui banyak
penyempurnaan hampir pada setiap elemen beton prategang, misalnya pada
jembatan, komponen bangunan seperti balok, pelat dan kolom, pipa dan tiang
panjang, terowongan dan lain sebagainya. Dengan beton prategang dapat dibuat
bentang yang besar tetapi langsing.

II. PENUTUP

3.1.
a.

Kesimpulan
Beton prategang pada dasarnya adalah beton di mana tegangan-tegangan
internal dengan besar serta distribusi yang sesuai diberikan sedemikian rupa
sehingga tegangan-tegangan yang diakibatkan oleh beban-beban luar dilawan
sampai suatu tingkat yang diinginkan.

b.

Dengan

beton

prategang,

suatu

struktur

dengan

bentangan

besar

penampangnya akan lebih ringan dan langsing, hal ini mengakibatkan


Natural Frequency dari struktur berkurang, sehingga menjadi dinamis instabil
akibat beban getaran gempa atau angin, kecuali bila struktur itu memiliki
redaman yang cukup atau kekakuannya ditambah.
c.

Konsep dasar beton prategang yaitu sistem pratekan/prategang untuk


mengubah beton yang getas menjadi bahan yang elastis, sistem prategang
untuk kombinasi baja mutu tinggi dengan beton mutu tinggi, dan sistem
prategang untuk mencapai keseimbangan beban.

d.

Material pembentuk beton prategang adalah beton mutu tinggi dan baja
prategang.

e.

Pada dasarnya ada 2 macam metode pemberian gaya prategang pada beton,
yaitu pratarik (pre-tension method) dan pasca tarik (post-tension method).

DAFTAR PUSTAKA
https://www.scribd.com/doc/95294359/MAKALAH-BETONPRATEGANG#download
https://www.scribd.com/doc/62308459/Diktat-Beton-Prategang#download
https://www.academia.edu/5033063/MODUL_PRATEGANG_2
Prahutdi, Bagus. 2011. Bab IV : Beton Pratekan (Beton Prategang). (Online).
(http://sastrasipilindonesia.wordpress.com/2011/06/20/bab-iv-beton-pratekanbeton-prategang/, diakses 20 Juni 2011)
Sasmutaba. 2012. Konsep Dasar Prategang. (Online).
(http://5a5mutaba.blogspot.com/search/label/konsep%20dasar%20beton%20p
rategang, diakses 23 April 2012)