Anda di halaman 1dari 16

Anemia Defisiensi Besi

Reading Assignment
Divisi Hemato Onkologi Medik
Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FK-USU/RSHAM

Telah dibacakan

ANEMIA DEFISIENSI BESI


Dian Anindita Lubis
Divisi Hemato Onkologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
RSUP. H. Adam Malik Medan RSU Pirngadi Medan

PENDAHULUAN
Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di klinik di seluruh
dunia, disamping sebagai masalah kesehatan utama masyarakat, terutama di negara
berkembang. Diperkirakan lebih dari 30% penduduk dunia atau 1500 juta orang menderita
anemia dengan sebagian besar tinggal di daerah tropik.1Pada tahun 2002, anemia defisiensi
besi dikatakan memiliki faktor kontribusi terpenting untuk beban penyakit global. 2
Anemia didefenisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit (red cell mass)
dan/atau massa hemoglobin sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa
oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity).1, 3
Dengan pertimbangan untuk mengurangi beban klinisi melakukan work up anemia
jika kita menggunakan kriteria WHO, kriteria anemia yang digunakan di Indonesia adalah:

Hemoglobin < 10 g/dl


Hematokrit < 30%
Eritrosit < 2,8 juta/mm3
Secara global, prevalensi anemia dari tahun 1993-2005 yang dilakukan oleh WHO

mengenai 1,62 milyar orang. Prevalensi tertinggi pada anak-anak sebelum sekolah (47,4%),

Anemia Defisiensi Besi


dan terendah pada pria (12,7%). Di Indonesia sendiri, pada tahun 2006, dilaporkan angka
anemia terjadi pada 9.608 orang.2
Salah satu bentuk anemia yang paling sering dijumpai, terutama di daerah tropis atau
di daerah dunia ketiga, karena sangat berkaitan erat dengan taraf ekonomi, adalah anemia
defisiensi besi, yang akan dibahas lebih mendalam pada tulisan ini.
Anemia ini mengenai lebih dari sepertiga penduduk dunia yang memberikan dampak
kesehatan yang sangat merugikan serta dampak sosial yang cukup serius. Anemia defisiensi
besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh (depleted iron store)
sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang, yang pada akhirnya pembentukan
hemoglobin berkurang. Kelainan ini ditandai oleh besi serum menurun, TIBC (total iron binding
capacity) meningkat, saturasi transferin menurun, feritin serum menurun, pengecatan besi
sumsum ulang negatif dan adanya respon terhadap pengobatan dengan preparat besi.3
PREVALENSI
Seperti yang telah dijelaskan di atas, anemia merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang mengenai negara-negara kaya maupun miskin. Meskipun penyebab
terbanyak adalah anemia defisiensi besi, tetapi jarang timbul sebagai penyebab tunggal. Lebih
sering timbul bersama-sama dengan beberapa penyakit, seperti malaria, infeksi parasit,
kekurangan gizi, dan hemoglobinopati. Akibat pentingnya penyakit ini, beberapa negara telah
menempuh langkah-langkah untuk mengurangi anemia jenis ini, khususnya pada kelompokkelompok masyarakat yang paling rentan dan memiliki efek yang sangat merugikan; ibu hamil
dan anak-anak. Dalam rangka untuk mengetahui hasil dari langkah intervensi yang diambil
tersebut, adekuasi dari strategi yang diterapkan, dan kemajuan yang telah dicapai, informasi
tentang prevalensi anemia harus didapatkan.
WHO dalam Global Database on Anemia berusaha mendapatkan prevalensi anemia
defisiensi besi, dan yang tak kalah pentingnya adalah mendapatkan prevalensi anemia tersebut
beserta gambaran tentang faktor-faktor yang berhubungan dan menyebabkan berkembangnya
anemia ini. Kenyataannya faktor-faktor ini kompleks dan saling berkaitan, tetapi usaha untuk
mengumpulkan data tentang faktor-faktor ini penting untuk mendapatkan strategi yang tepat
dalam mengintervensi berkembangnya keadaan anemia defisiensi besi.
Tidak ada satu tulisanpun yang menggambarkan prevalensi pasti anemia defisiensi
besi secra global, bahkan suatu terbitan yang dikeluarkan oleh WHO yang berjudul Iron
Deficiency Anemia; Assesment, Prevention, and Control tahun 2001 menggunakan prevalensi
2

Anemia Defisiensi Besi


anemia secara global untuk mewakili anemia defisiensi besi. Hal ini beralasan karena 50% dari
anemia disebabkan oleh anemia defisiensi besi.2,3
Tabel 1. Prevalensi anemia secara global

METABOLISME BESI
Besi merupakan elemen penting dalam fungsi seluruh sel, meskipun jumlah besi
yang dibutuhkan tiap individu bervariasi. Pada saat yang bersamaan, tubuh juga harus
melindungi dirinya dari besi bebas, yang memiliki toksin tinggi dan berpartisipasi dalam reaksi
kimia yang menghasilkan radikal bebas seperti O2 atau OH- tunggal. Konsekuensinya,
mekanisme yang rumit telah berevolusi yang memungkinkan besi tersedia untuk fungsi-fungsi
fisiologis sementara dalam waktu yang bersamaan menjaga elemen ini dan penanganan
sedemikian rupa sehingga toksisitasnya dapat terhindar.4
Peranan utama besi pada mamalia adalah untuk membawa O2 sebagai bagian
hemoglobin. O2 juga berikatan dengan mioglobin di otot. Distribusi besi pada tubuh dapat
terlihat pada tabel. Tanpa besi, sel dapat kehilangan kapasitasnya untuk mengantar elektron
3

Anemia Defisiensi Besi


dan metabolisme energi. Pada sel eritroid, sintesa hemoglobin yang buruk, menghasilkan
anemia dan penurunan hantaran O2 ke jaringan.4
Tabel 2. Distribusi besi pada tubuh
DISTRIBUSI BESI PADA TUBUH
KANDUNGAN BESI, mg
PRIA DEWASA,
80 kg
Hemoglobin
Mioglobin/enzim
Besi transferrin
Cadangan besi

2500
500
3
600-1000

WANITA DEWASA,
60 kg
1700
300
3
0-300

ABSORBSI BESI
Absorbsi besi bergantung tidak hanya pada jumlah besi pada makanan, namun juga,
yang lebih penting, pada bioavailibilitas besi itu sendiri, dan kebutuhan tubuh akan besi.
Absorbsi besi dapat dipengaruhi beberapa fase yang berbeda.5 Fase luminal, besi dalam
makanan diolah dalam lambung kemudian siap diserap di duodenum. Fase Mukosal, proses
penyerapan dalam mukosa usus yang merupakan suatu proses aktif. Fase korporeal, meliputi
proses transportasi besi dalam sirkulasi, utilisasi besi oleh sel-sel yang memerlukan, dan
penyimpanan besi oleh tubuh.6
Tabel 3. Absorbsi besi
DIBANTU OLEH
Faktor diet
Peningkatan besi heme
Peningkatan makanan hewani
Garam besi ferrous
Faktor luminal
pH asam
Low-molecular-weight-soluble chelates
(mis. vitamin C, gula, asam amino)
Daging
Faktor sistemik
Defisiensi besi
Peningkatan eritropoiesis
Eritropoiesis infektif
Kehamilan
Hipoksia

DIHAMBAT OLEH
Penurunan besi heme
Penurunan makanan hewani
Garam besi ferric
Basa (mis. sekresi pankreas)
Kompleks besi insoluble (phytates,
tannates pada besi, kulit padi)

Besi berlebih
Penurunan eritropoiesis
Kelainan inflamasi (hepcidin)

Anemia Defisiensi Besi


SIKLUS BESI PADA MANUSIA
Pertukaran besi dalam tubuh merupakan lingkaran yang tertutup yang diatur oleh
besarnya besi yang diserap usus, sedangkan kehilangan besi fisiologik bersifat tetap. Besi
diabsorbsi dari diet (berkisar antara 1-2 mg per hari) atau pelepasan sirkulasi cadangan dalam
ikatan plasma ke transferrin, besi pengangkut protein. Besi dari usus dalam bentuk transferin
akan bergabung dengan besi yang dimobilisasi dari makrofag dalam sumsum tulang sebesar
22 mg untuk dapat memenuhi kebutuhan eritropoiesis sebanyak 24 mg per hari. Pertukaran
(waktu paruh) transferin-terikat besi sangat cepat biasanya 60-90 menit. Oleh karena, hampir
seluruh besi yang ditranspor oleh transferin diantar ke eritroid sumsum tulang. Dengan
perkiraan level besi plasma 80-100 g/dL, jumlah besi yang melewati transferin adalah 20-40
mg per hari.4,6
Eritrosit yang terbentuk secara efektif yang akan beredar melalui sirkulasi
memerlukan besi 17 mg, sedangkan besi sebesar 7 mg akan dikembalikan ke makrofag karena
terjadinya eritropoiesis inefektif (hemolisis intramedular).6
Pada individu normal, rentang hidup rata-rata dari sel darah merah adalah 120 hari.
Sehingga 0,8-1,0% sel darah merah bertukar setiap hari. Pada akhir masa hidupnya, sel darah
merah tidak dikenali oleh sel dari sistem retikuloendotelial (RE), dan sel akan mengalami
fagositosis.4 Besi yang terdapat pada eritrosit yang beredar, setelah mengalami proses
penuaan juga akan dikembalikan pada makrofag sumsum tulang sebesar 17 mg. Sehingga
dengan demikian dapat dilihat suatu lingkaran tertutup (closed circuit).6
Tambahan besi yang dibutuhkan untuk produksi sel darah merah harian didapat dari
diet. Normalnya, pria dewasa membutuhkan absorbsi setidaknya 1 mg elemen besi perhari
untuk memenuhi kebutuhan; wanita membutuhkan setidaknya 1,4 mg/hari. Bagaimanapun,
untuk mencapai proliferasi maksimum respon sumsum tulang terhadap anemia, tambahan besi
harus tersedia. Dengan adanya stimulasi eritropoiesis, kebutuhan besi meningkat sebanyak
enam sampai delapan kali lipat. Jika hantaran besi ke sumsum tulang suboptimal, respon
proliferasi sumsum tulang tidak baik, maka sintesis hemoglobin akan terganggu. Hasilnya
adalah hipoproloferatif sumsum tulang diikuti dengan anemia mikrositik hipokromik.4

senescent by the
system, and the
within the RE cel
Transferrin
iron
red cell is broken
Gut
Extravascular
are returned to th
exchange
shuttled back to th
Parenchyma
presented to circul
(liver)
highly conserved r
Anemia Defisiensi Besi
cells that supports
ated) erythropoiesi
Because each m
FIGURE 7-1
elemental
iron, the
Internal iron exchange. Normally about 80% of iron passing
those
red
cells lo
through the plasma transferrin pool is recycled from broken1620
mg/d
(assum
down red cells. Absorption of about 1 mg/d is required from
2
L).
Any
additiona
the diet in men, 1.4 mg/d in women to maintain homeostasis.
duction comes fro
As long as transferrin saturation is maintained between 20 and
needs to absorb at
60% and erythropoiesis is not increased, iron stores are not
meet needs; wome
required. However, in the event of blood loss, dietary iron
need to absorb an
deficiency, or inadequate iron absorption, up to 40 mg/d of
achieve a maxim
iron can be mobilized from stores. RE, reticuloendothelial.
marrow

cells

Gambar 1. Pertukaran besi internal


TINGKATAN DEFISIENSI BESI
Anemia defisiensi besi merupakan kondisi dimana terdapat anemia dan bukti yang
jelas dari kurangnya besi. Progresi dari anemia defisiensi besi dibagi dalam 3 tingkatan. Tingkat
pertama adalah keseimbangan negatif besi, dimana kebutuhan untuk besi melebihi
kemampuan tubuh untuk mengabsorbsi besi dari diet. Tingkatan ini dihasilkan dari beberapa
keadaan fisiologis, termasuk perdarahan, kehamilan, diet besi yang tidak adekuat.4
Ketika cadangan besi habis, besi serum mulai menurun. Sedikit demi sedikit, TIBC
meningkat, begitu juga level sel merah protoporphyrin. Dengan defenisi cadangan besi
sumsum tulang tidak ditemukan ketika level feritin serum < 15 g/L. Selama iron serum dalam
batas normal, sintesa hemoglobin tidak dipengaruhi kecuali kurangnya cadangan besi. Bila
saturasi transferin jatuh menjadi 15-20%, sintesa hemoglobin menjadi terganggu. Periode ini
dinamakan eritropoiesis defisiensi besi. Perlahan-lahan, hemoglobin dan hematokrit menurun,
mencerminkan anemia defisiensi besi. Saturasi transferin pada titik ini adalah 10-15%. Ketika
dijumpai anemia sedang (hemoglobin 10-13 g/dl), sumsum tulang tetap hipoproliferatif. Dengan
anemia yang lebih berat (hemoglobin 7-8 g/dL), hipokrom dan mikrositosis menjadi menonjol.
Sebagai konsekuensinya, dengan anemia defisiensi besi yang berlama-lama, hiperplasia
eritroid dari sumsum tulang dijumpai.4

Anemia Defisiensi Besi


PENYEBAB DEFISIENSI BESI
Kondisi peningkatan kebutuhan besi, kehilangan besi, atau penurunan asupan atau
absorbsi besi dapat mengakibatkan defisiensi besi.4
Tabel 4. Penyebab defisiensi besi
PENYEBAB DEFISIENSI BESI
Peningkatan kebutuhan besi dan/atau hematopoiesis
Pertumbuhan cepat pada bayi atau remaja
Kehamilan
Terapi eritropoietin
Peningkatan hilangnya darah
Kehilangan darah kronik
Menstruasi
Kehilangan darah akut
Donasi darah
Flebotomi sebagai pengobatan polisitemia vera
Penurunan asupan atau absrobsi besi
Diet yang tidak adekuat
Malabsorbsi dari penyakit (sprue, penyakit crohn)
Malabsorbsi dari pembedahan (postgastrectomy)
Inflamasi akut atau kronik
SKRINING
Rekomendasi dari The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) untuk
skrining anemia untuk remaja, menganjurkan seluruh wanita sebaiknya diperiksa setiap lima
tahun kecuali memiliki faktor risiko anemia, skrining dilakukan setiap tahun. Namun pada
remaja laki-laki pemeriksaan anemia hanya dilakukan apabila memiliki faktor risiko.7

GAMBARAN KLINIS DEFISIENSI BESI


Kondisi klinis tertentu menyebabkan peningkatan defisiensi besi. Gejala klinis yang
terkait dengan defisiensi besi bergantung keparahan dan kronisitas dari anemia disamping
tanda-tanda anemia biasanya lemah, pucat, dan berkurangnya kapasitas aktifitas. Pasien
juga sering memiliki keinginan untuk makan-makanan yang tidak lazim (pica), seperti tanah liat,
es, lem, dan lain-lain.4,5,6
Cheilosis (fisura di sudut mulut) dan koilonychia (kuku sendok) adalah tanda dari
defisiensi besi lanjut. Pasien juga dapat mengeluhkan atrofi papil lidah, atrofi kulit pada
7

Table 1.3 C

Anemia Defisiensi Besi


sepertiga pasien4,6,8 Diagnosis defisiensi besi umumnya berdasarkan hasil laboratorium.4

Degree of a
MCV
Serum ferri
sTfR
Marrow iro

MCV, mean

LABORATORIUM
Hapusan darah tepi menunjukkan gambaran sel darah merah yang hipokrom
mikrositik. Anisositosis merupakan tanda awal defisiensi besi, yang ditandai dengan
peningkatan RDW (red cell distribution width). Dan pada penggabungan MCV, MCH, MCHC
dan RDW makin meningkatkan spesifisitas indeks eritrosit, dimana indeks eritrosit sudah dapat
mengalami perubahan sebelum kadar hemoglobin menurun.6,8

Gambar 2. Hapusan darah tepi pada anemia defisiensi besi

Besi Serum dan Total Iron-Binding Capacity


Level besi serum menunjukkan jumlah besi yang berikatan dengan transferin yang di
sirkulasi. Nilai normal untuk besi serum antara 50-150 g/dL; nilai normal untuk TIBC adalah
300-360 g/dL. Saturasi transferin normalnya 25-50%. Status defisiensi besi dikaitkan dengan
level saturasi < 18%.4
Feritin Serum
Besi bebas bersifat toksik untuk sel, dan tubuh telah membentuk mekanisme proteksi
untuk mengikat besi dalam berbagai kompartmen jaringan. Dalam sel, besi disimpan secara
kompleks terhadap protein sebagai feritin atau hemosiderin. Apoferitin mengikat besi ferosus
bebas dan menyimpannya dalam status ferric. Setelah feritin terakumulasi dalam sel dari sistem
RE, agregasi protein dibentuk sebagai hemosiderin. Besi dalam feritin atau hemosiderin dapat
diekstraksi dan dilepaskan oleh RE sel, meskipun hemosiderin kurang tersedia. Dalam kondisi
mapan, level feritin serum dihubungkan dengan penyimpanan total besi tubuh; sehingga level
8

Anemia Defisiensi Besi


feritin serum merupakan tes laboratorium yang paling sesuai untuk memperkirakan cadangan
besi. Nilai normal untuk feritin beragam bergantung usia dan jenis kelamin dari individu. Pria
dewasa memiliki nilai feritin sekitar 100 g/L; wanita dewasa memiliki nilai sekitar 30 g/L.4
Pada anemia defisiensi besi dijumpai penurunan feritin serum, dengan cut off point <
12 g/l yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas 68% dan 98%. Namun, konsentrasi feritin
serum dapat normal atau bahkan meningkat pada penyakit inflamasi atau keganasan, seperti
pada penyakit rematoid, feritin serum sampai dengan 50-60 g/l masih menunjukkan adanya
defisiensi besi. Begitu juga pada penyakit hati, dimana penyimpanan feritin di hati dapat dilepas
setelah kerusakan hepatoselular, yang akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi feritin
serum. Angka feritin serum di atas 100 mg/dl dapat memastikan tidak adanya defisiensi besi.6,8
Evaluasi Cadangan Besi di Sumsum Tulang
Mesikpun penyimpanan besi RE sel dapat dinilai dari pewarnaan besi dari aspirasi
sumsum tulang atau biopsi, pengukuran feritin serum telah menggantikan aspirasi sumsum
tulang dalam menilai cadangan besi.
Level feritin serum adalah indikator yang lebih baik untuk kelebihan besi
dibandingkan pewarnaan besi sumsum tulang. Meskipun demikian, pewarnaan besi sumsum
tulang memiliki informasi mengenai hantaran efektif dari besi dalam menghasilkan eritroblast.
Normalnya, ketika hapusan sumsum tulang diwarnai untuk besi, 20-40% menghasilkan
eritroblas disebut sideroblast memiliki granul feritin pada sitoplasmanya.4
Pada defisiensi besi, aspirasi sumsum tulang dapat menunjukkan hiperplasia
normoblastik ringan sampai sedang dengan normoblas kecil-kecil. Sitoplasma sangat sedikit
dan tepi tidak teratur.6
Tabel 5. Penilaian cadangan besi
PENILAIAN CADANGAN BESI
Cadangan besi
0
1-300 mg
300-800 mg
800-1000 mg
12 g
Besi berlebih

Pewarnaan besi
sumsum tulang, 0-4+
0
Tersamar 1+
2+
3+
4+

Feritin serum,
g/L
< 15
15-30
30-60
60-150
>150
>500-1000

Anemia Defisiensi Besi


Level Sel Merah Protoporfirin
Protoporfirin adalah perantara dalam jalur sintesis heme. Pada kondisi dimana
sintesis heme terganggu, protoporfirin terakumulasi dalam sel merah. Hal ini mencerminkan
hantaran besi ke prekursor eritroid tidak adekuat untuk mensintesis hemoglobin. Nilai normal
adalah < 30 g/dL dari sel darah merah. Pada defisiensi besi, nilai > 100 g/dL dapat terlihat.
Penyebab paling sering dari peningkatan level sel merah protoporfirin adalah defisiensi besi
yang absolut atau relatif dan menghasilkan peracunan.4
Level Serum Tranferrin Receptor Protein
Karena sel eritroid memiliki jumlah tertinggi dari reseptor transferin pada permukaan
sel manapun di tubuh, dan karena transferrin receptor protein (TRP) dilepaskan oleh sel ke
sirkulasi, level serum TRP mencerminkan total massa eritroid sumsum tulang. Kondisi lain
dimana level TRP meningkat adalah pada defisiensi besi absolut. Nilai normal adalah 4-9 g/dL
dinilai dengan immunoassay.4
DIAGNOSIS BANDING
Selain dari defisiensi besi, hanya tiga kondisi yang perlu dipertimbangkan dalam
mendiagnosa banding dari anemia hipokrom mikrositer. Yang pertama adalah defek keturunan
pada sintesa rantai globin: thallasemia. Hal ini dibedakan dari defisiensi besi dari nilai besi
serum; normal atau meningkat level besi serum dan saturasi transferin merupakan karakteristik
thalassemia. Kondisi kedua adalah anemia pada penyakit kronis dengan hantaran besi yang
tidak adekuat ke eritroid sumsum tulang. Perbedaan antara anemia defisiensi besi
seseungguhnya dan anemia penyakit kronis, umumnya anemia pada inflamasi kronik adalah
normokrom normositer. Nilai besi juga menjelaskan diagnosa banding karena level feritin
normal atau meningkat dan persentase saturasi transferin dan TIBC biasanya di bawah normal.
Yang terakhir, sindroma myelodisplastik. Pasien dengan myelodisplasia memiliki sintesa
hemoglobin yang buruk dengan disfungsi mitokondrial, menghasilkan penggabungan besi yang
buruk menjadi heme. Nilai cadangan besi juga normal dan hantaran ke sumsum tulang lebih
adekuat, meskipun hipokrom mikrositik.4

10

Anemia Defisiensi Besi


Tabel 6. Diagnosis anemia mikrositik
DIAGNOSIS ANEMIA MIKROSITIK
Anemia
Sideroblastik

Tes

Defisiensi Besi

Inflamasi

Thalassemia

Hapusan

Mikro/hipo
<30
> 360
< 10

Mikro/hipo
dengan target
Normal tinggi
Normal
30-80

Bervariasi

SI
TIBC
Persentase
saturasi
Feritin (g/dL)
Pola hemoglobin

Normal
mikro/hipo
< 50
< 300
10-20

< 15
Normal

30-200
Normal

50-300
abnormal

50-300
Normal

Normal tinggi
Normal
30-80

PENATALAKSANAAN
Keparahan dan penyebab anemia defisiensi besi menentukan pendekatan yang tepat
untuk pengobatan. Seperti misalnya, pasien lanjut usia dengan anemia defisiensi berat dan
instabilitas kardiovaskular mungkin membutuhkan transfusi sel darah merah. Pasien lebih muda
dengan anemia yang terkompensasi dapat diterapi lebih konservatif dengan penggantian besi.
Pada banyak kasus defisiensi besi (wanita hamil, anak-anak dan remaja dalam pertumbuhan,
pasien dengan episode perdarahan berulang. dan yang dengan asupan besi tidak adekuat),
terapi besi oral sudah cukup. Untuk pasien dengan kehilangan darah tidak biasa atau
malabsorbsi, test diagnostik spesifik dan terapi yang tepat diperlukan. Sekali diagnosis anemia
defisiensi ditegakkan, terdapat tiga pendekatan terapi.4
Transfusi Sel Darah Merah
Terapi transfusi digunakan untuk orang yang memiliki gejala anemia, instabilitas
kardiovaskular, kehilangan darah berat dari sumber manapun dan membutuhkan intervensi
segera. Penanganan pasien-pasien ini kurang dihubungkan dengan defisiensi besi namun
karena konsekuensi dari anemia beratnya. Transfusi tidak hanya mengoreksi anemia akutnya,
namun transfusi sel darah merah juga menjadi sumber besi untuk penggunaannya kembali.
Terapi transfusi dapat menstabilkan pasien.4

11

Anemia Defisiensi Besi


Terapi Besi Oral
Pada pasien asimtomatik dengan anemia defisiensi besi, pengobatan dengan besi
oral umumnya adekuat. Beberapa preparat yang tersedia, mulai dari garam besi yang
sederhana sampai bentuk besi kompleks didisain untuk dilepas melalui usus halus. Meskipun
berbagai preparat mengandung jumlah besi yang berbeda, semuanya diabsorbsi baik dan
efektif dalam pengobatan. Untuk terapi pengganti besi, elemen besi dapat diberikan sampai 300
mg per hari, umumnya dalam tiga atau empat tablet besi (masing-masing mengandung 50-65
mg elemen besi) diberikan sepanjang hari. Idealnya, preparat besi diberikan saat lambung
kosong karena makanan dapat menghambat absorbsi besi. Dosis elemen besi 200-300 mg per
hari dapat menghasilkan absorbsi besi sampai 50 mg per hari. Hal ini membantu produksi sel
darah merah dua sampai tiga kali normal pada individu dengan fungsi sumsum tulang yang
normal dan stimulus eritropoietin yang tepat.4
Target terapi pada individu dengan anemia defisiensi besi tidak hanya untuk
memperbaiki anemianya [terjadi peningkatan hemoglobin sekitar 1g/l per hari (20 g/l setiap tiga
minggu)], namun juga untuk menyediakan cadangan besi setidaknya 0,5-1,0 gr besi.
Pengobatan berkepanjangan dalam periode 6-12 bulan setelah koreksi anemia penting untuk
mencapai target ini. Nyeri abdominal, mual, muntah, atau konstipasi dapat mengakibatkan
ketidak patuhan. Meskipun dosis kecil dari besi atau preparat besi yang lepas lambat dapat
membantu, efek samping gastrointestinal adalah rintangan utama untuk pengobatan yang
efektif pada beberapa pasien. Respon terhadap terapi besi beragam, bergantung pada stimulus
eritropoietin (EPO) dan jumlah absorbsinya. Umumnya, jumlah retikulosit mulai meningkat
dalam 4-7 hari setelah inisiasi dari terapi dan puncaknya pada 1,5 minggu. Tidak adanya
respon dapat diakibatkan oleh absorbsi yang buruk, ketidak patuhan, atau ada diagnosis
pemberat.4,6,8
Sebuah tes yang membantu menilai kemampuan pasien untuk mengabsorbsi besi
adalah dengan tes toleransi besi. Dua tablet besi diberikan ke pasien dengan lambung kosong,
dan besi serum dinilai secara serial selama 2 jam kemudian. Absorbsi normal akan
menghasilkan besi serum yang meningkat, setidaknya 100 g/dL. Bila defisiensi besi tetap
bertahan pada pengobatan adekuat, sebaiknya diganti menjadi terapi besi parenteral.4

12

Anemia Defisiensi Besi


Tabel 7. Preparat besi oral
PREPARAT BESI ORAL
Nama generik
Ferrous sulfate
Extended release
Ferrous fumarate
Ferrous gluconate
Polysaccharide iron

Tablet (kandungan
besi), mg

Elixir (kandungan
besi), mg dalam 5 mL

325 (65)
195 (39)
525 (105)
325 (107)
195 (64)
325 (39)
150 (150)
50 (50)

300 (60)
90 (18)

100 (33)
300 (35)
100 (100)

Terapi Besi Parenteral


Besi intravena dapat diberikan ke pasien yang tidak dapat mentolerir besi oral; yang
cenderung memerlukan akut; atau yang memerlukan besi secara berkelanjutan, umumnya
akibat kehilangan darah persisten dari gastrointestinal. Keamanan besi parenteral terutama
iron dextran telah menjadi perhatian. Efek samping serius dari iron dextran intravena adalah
0,7%. Untungnya, kompleks besi yang baru telah tersedia di Amerika Serikat, seperti sodium
ferric gluconate (Ferrlecit) dan iron sucrose (Venofer), yang memiliki angka efek samping yang
lebih rendah.4
Sebuah studi yang dilakukan Chertow dkk (2004), mengenai keamanan besi
parenteral dengan menggunakan data dari US Food and Drug Administration dalam laporan
efek samping terkait tiga formula besi parenteral selama tahun 1998-2000. Formula besi
parenteral yang digunakan low Mw iron dextran (INFeD), High Mw iron dextran (Dexferrum),
dan Iron gluconate (Ferrlecit). Dilaporkan efek samping terjadi pada 1981 dari dosis
21.060.000. Frekuensi relatif dari total efek samping per 100 mg besi IV yang dimasukkan; 251
untuk Ferrlecit (n=271/total dosis 1.083.000), 220 untuk Dexferrum (n=1.112/total dosis
5.058.000), dan 40 untuk INFeD (n=598/total dosis 12.919.000).9
Coyne dkk (2003) menganalisa frekuensi efek samping terhadap iron dextran. Coyne
melaporkan diantara 2.338 pasien yang mendapatkan iron dextran, 1.937 (82,8%) mendapat
low Mw iron dextran (INFeD), hanya, 261 (11,2%) yang mendapatkan high Mw iron dextran
(Dexferrum) saja, dan 140 (6.0%) mendapatkan keduanya. Insidensi reaksi secara signifikan
lebih tinggi pada Dexferrum (39/401; 9,7%) dibandingkan pada INFED (113/2077; 5,4%;
P=0.002).10
13

Anemia Defisiensi Besi


Besi parenteral digunakan dalam dua cara: yang pertama diberikan dengan dosis
total dari besi yang dibutuhkan untuk mengoreksi defisit hemoglobin dan menyediakan
setidaknya 500 mg cadangan besi; yang kedua adalah dengan memberikan dosis kecil secara
berulang dari besi parenteral dalam waktu yang lama. Jumlah besi yang dibutuhkan pasien
dihitung dengan menggunakan rumus:4
Berat badan (kg) x 2,3 x (15 Hb pasien, g/dL) + 500 atau 1000mg (untuk cadangan)

PENCEGAHAN
Mengingat tingginya prevalensi anemia defisiensi besi di masyarakat maka diperlukan
suatu tindakan pencegahan yang terpadu. Tindakan pencegahan tersebut dapat berupa:

Pendidikan kesehatan:
o

Kesehatan lingkungan, misalnya tentang pemakaian jamban, perbaikan lingkungan


kerja, misalnya pemakaian alas kaki sehingga dapat mencegah penyakit cacing
tambang

Penyuluhan gizi untuk mendorong konsumsi makanan yang membantu absorbsi


besi

Pemberantasan infeksi cacing tambang sebagai sumber perdarahan kronik paling sering
dijumpai di daerah tropik. Pengendalian infeksi cacing tambang dapat dilakukan dengan
pengobatan masal dengan antihelmentik dan perbaikan sanitasi.

Suplementasi besi yaitu pemberian besi profilaksis pada segmen penduduk rentan, seperti
ibu hamil dan anak balita.

Fortifikasi bahan makanan dengan besi, yaitu mencampurkan besi pada bahan makan. Di
negara Barat dilakukan dengan mencampur tepung untuk roti atau bubuk susu dengan
besi.6

14

Anemia Defisiensi Besi


KESIMPULAN
1. Anemia merupakan kelainan yang sering dijumpai. Untuk penelitian lapangan umumnya
dipakai kriteria anemia menurut WHO, sedangkan untuk keperluan klinis dipakai kriteria
Hb < 10 g/dl atau hematokrit < 30%.
2. Langkah-langkah untuk meringankan beban dari anemia defisien besi harus mencakup
strategi untuk meningkatkan kesadaran akan masalah antara dokter dan masyarakat
umum, peningkatan ketersediaan obat oral yang sesuai, peningkatan akses untuk terapi
besi intravena.
3. Anemia dapat diklasifikasikan menurut etiopatogenesisnya ataupun berdasarkan
morfologi eritrosit. Gabungan kedua klasifikasi ini sangat bermanfaat untuk diagnosis.
4. Pengobatan anemia seyogyanya dilakukan atas indikasi yang jelas. Terapi dapat
diberikan dalam bentuk terapi darurat, terapi suportif, terapi yang khas untuk masingmasing anemia dan terapi kausal.

15

Anemia Defisiensi Besi

DAFTAR PUSTAKA
1. Bakta IM. Pendekatan terhadap pasien anemia. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi
I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V. Jakarta
Pusat: Interna Publishing; 2011. h.1109-15.
2. Benoist B, McLean E, Egli I, Cogswell M. Worldwide prevalence of anaemia 1993-2005.
Switzerland: WHO press; 2008.
3. Bakta IM. Hematologi klinik. Jakarta: EGC; 2007. h.26-39.
4. Edward J, Benz Jr. Disorders of Hemoglobin. Dalam: Fauci AS, Braunwald E,
penyunting. Harrisons principles of internal medicine. 17th ed. United states: The
McGraw-Hill Companies; 2008. h.635-42.
5. Worwood M, Hoffbrand AV. Iron metabolism, iron deficiency and disorders of haem
synthesis. Dalam: Hoffbrand AV, Catovsky D, Tuddenham EG, penyunting. Pstgraduate
haematology. 5th ed. UK; 2005. h.26-42.
6. Bakta IM, Suega K, Dharmayuda TG. Anemia defisiensi besi. Dalam: Sudoyo AW,
Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi V. Jakarta Pusat: Interna Publishing; 2011. h.1127-36.
7. Alton I. Iron deficiency anemia. Dalam: Stang J, Story M, penyunting. Guidelines for
adolescent nutrition services. Minnesota; 2005. h.101-08.
8. Provan D. Iron deficiency anaemia. Dalam: Provan D, penyunting. ABC of Clinical
Haematology. 2nd Ed. London: BMJ Publishing Group; 2003. h.1-4.
9. Chertow GM et al. Nephrol Dial Transplant 2004; 19: 1571-1575
10. Coyne DW et al. Kidney International 2003; 63: 217-224

16