Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka. Duktus
arteriosus adalah suatu pembuluh darah yang menghubungkan aorta (pembuluh arteri
besar yang mengangkut darah ke seluruh tubuh) dengan arteri pulmonalis (arteri yang
membawa darah ke paru-paru), yang merupakan bagian dari peredaran darah yang normal
pada janin. Sebuah ductus arteriosus paten kecil sering tidak menyebabkan gejala. Bayi
dengan patent ductus arteriosus kemungkinan besar kesulitan mengalami kenaikan berat
badan. Sedangkan anak-anak dengan ductus arteriosus paten kemungkinan tidak seaktif
anak normal. Anak tersebut juga berpotensi paru-parunya terinfeksi.
Duktus arteriosus merupakan kelainan jantung kongenital. Penyakit jantung
kongenital atau penyakit jantung bawaan adalah sekumpulan malformasi struktur jantung
atau pembuluh darah besar yang telah ada sejak lahir. Penyakit jantung kongenital ini
terjadi akibat kelainan dalam perkembangan jantung dan pembuluh darah, sehingga dapat
mengganggu dalam fungsi jantung dan sirkulasi darah jantung atau yang dapat
mengakibatkan sianosis dan asianosis.
Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak.
Apabila tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi. Diperkirakan insidens
dari PDA sebesar 1 dari 2000 kelahiran normal, dan insidens pada bayi perempuan 2 kali
lebih banyak dari bayi laki-laki. Sedangkan pada bayi prematur diperkirakan sebesar 15
%. Apabila penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang dewasa, hal ini menunjukkan
bahwa pasien tersebut mampu melalui seleksi alam, atau telah mengalami tindakan
operasi dini pada usia muda.
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam makalah ini akan membahas mengenai
konsep medis PDA dan konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan PDA.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep medis Patent Ductus Arterious (PDA) ?
2. Bagiaman konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan Patent Ductus Arterious
(PDA) ?

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui bagaimana konsep medis Patent Ductus Arterious (PDA) dan
konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan Patent Ductus Arterious (PDA).

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Penyakit


2.1.1 Pengertian
Patent Ductus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus
(arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama
kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta tang bertekanan
tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. ( Suriadi, Rita Yuliani, 2001 :
235)
2

Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah tetap terbukanya duktus arteriosus


setelah lahir, yang menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta
(tekanan lebih tinggi) ke dalam arteri pulmoner (tekanan lebih rendah). (Betz &
Sowden, 2002 ; 375)
Patent Duktus arteriosus merupakan kelainan jantung kongenital, Penyakit
jantung kongenital merupakan penyakit jantung yang terjadi akibat kelainan
dalam perkembangan jantung dan pembuluh darah, sehingga dapat mengganggu
dalam fungsi jantung dan sirkulasi darah jantung atau yang dapat mengakibatkan
sianosis dan asianosis.
Jadi, Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Paten (DAP)
adalah kelainan jantung kongenital (bawaan) dimana tidak terdapat penutupan
(patensi) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta dan pembuluh darah besar
pulmonal setelah 2 bulan pasca kelahiran bayi.
Biasanya duktus arteriosus akan menutup secara normal dalam waktu 2
bulan dan meninggalkan suatu jaringan ikat yang dikenal sebagai ligamentum
arteriosum. PDA dapat merupakan kelainan yang berdiri sendiri (isolated), atau
2.1.2

disertai kelainan jantung lain.


Insidensi
PDA sering ditemukan pada neonatus, tapi secara fungsional menutup pada
24 jam pertama setelah kelahiran. Sedangkan secara anatomi menutup dalam 4
minggu pertama. Bayi premature banyak yang menderita PDA. Diperkirakan
insidens dari PDA sebesar 1 dari 2000 kelahiran normal, dan insidens pada bayi
perempuan 2x lebih banyak dari bayi laki-laki. Sedangkan pada bayi prematur
diperkirakan sebesar 15 %. Biasanya gejalanya ringan, tetapi akan semakin berat
jika tidak diobati/diperbaiki pada usia 2 tahun.

2.1.3 Anatomi Patent Ductus Arterious

Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran


darah pulmonal (arteri pulmonalis) ke aliran darah sistemik (aorta) dalam masa
3

kehamilan (fetus). Hubungan ini (shunt) diperlukan oleh karena sistem respirasi
fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut. Aliran darah balik
fetus akan bercampur dengan aliran darah bersih dari ibu (melalui vena
umbilikalis) kemudian masuk ke dalam atrium kanan dan kemudian dipompa
oleh ventrikel kanan kembali ke aliran sistemik melalui duktus arteriosus, dan
hanya sebagian yang diteruskan ke paru.
Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI pada
janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens. Pada bayi
normal duktus tersebut menutup secara fungsional 10 15 jam setelah lahir dan
secara anatomis menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2 3 minggu. (Buku
ajar kardiologi FKUI, 2001 ; 227)
Dinding duktus arteriosus terutama terdiri dari lapisan otot polos (tunika
media) yang tersusun spiral. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat-serat elastin
yang membentuk lapisan yang berfragmen, berbeda dengan aorta yang memiliki
lapisan elastin yang tebal dan tersusun rapat (unfragmented). Sel-sel otot polos
pada duktus arteriosus sensitif terhadap mediator vasodilator prostaglandin dan
vasokonstriktor (pO2). Setelah persalinan terjadi perubahan sirkulasi dan
fisiologis yang dimulai segera setelah eliminasi plasenta dari neonatus. Adanya
perubahan tekanan, sirkulasi dan meningkatnya pO2 akan menyebabkan
2.1.4

penutupan spontan duktus arteriosus dalam waktu 2 minggu.


Etiologi
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara
pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada
peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :
1. Faktor Prenatal :
1) Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.
2) Ibu alkoholisme.
3) Umur ibu lebih dari 40 tahun.
4) Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan
insulin.
5) Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.
6) Bayi yang lahir prematur (kurang dari 37 minggu).
2. Faktor Genetik :
1) Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
2) Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
3) Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
4) Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.
(Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, Pusat Kesehatan Jantung dan

2.1.5

Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita, 2001 ; 109)


Klasifikasi
4

Berdasarkan kelainan fungsi sirkulasi yang terjadi penyakit jantung bawaan


dibagi menjadi 2 yakni :
1) Penyakit jantung bawaan non-sianotik :
a. Dengan vaskularisasi paru normal: stenosis aorta, stenosis pulmonal,
koarktasio aorta, kardiomiopati.
b. Dengan vaskularisasi paru bertambah: defek septum atrium, defek
atrioventrikularis, defek septum ventrikel, duktus arteriosus persisten,
anomaly drainase vena pulmonalis parsial.

2) Penyakit jantung bawaan sianotik :


a. Dengan vaskularisasi paru bertambah: transposisi arteri besar tanpa
stenosis pulmonal, double outlet right ventricle tanpa stenosis pulmonal,
trunkus arteriosus persisten, ventrikel tunggal tanpa stenosis pulmonal,
anomaly total drainase vena pulmonalis.
b. Dengan vaskularisasi paru berkurang: stenosis pulmonal berat pada
neonates, tetralogi Fallot, atresia pulmonal, atresia tricuspid, anomaly
2.1.6

Ebstein. (Sastroasmoro & Maldiyono, 1996)


Patofisiologi
Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah tetap terbukanya duktus arteriosus
setelah lahir, yang menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta
(tekanan lebih tinggi) ke dalam arteri pulmonal (tekanan lebih rendah). Aliran kiri
ke kanan ini meneyebabkan resirkulasi darah beroksigen tinggi yang jumlahnya
semakin banyak dan mengalir ke dalam paru, serta menambah beban jantung
sebelah kiri. Usaha tambahan dari ventrikel kiri untuk memenuhi peningkatan
kebutuhan ini menyebabkan pelebaran dan hipertensi atrium kiri yang progresif.
Dampak semuanya ini adalah meningkatnya tekanan vena dan kapiler
pulmoner, menyebabkan terjadinya edema paru. Edema paru ini menimbulkan
penurunan difusi oksigen dan hipoksia, dan terjadi kontriksi arteriol paru yang
progresif. Sehingga akan terjadi hipertensi pulmoner dan gagal jantung kanan jika
keadaan ini tidak dikoreksi melalui terapi medis atau bedah.
Penutupan PDA terutama tergantung pada respon konstriktor dari duktus
terhadap tekanan oksigen dalam darah. Faktor lain yang mempengaruhi
penutupan duktus adalah pengaruh kerja prostalglandin, tahanan pulmoner dan
sistemik, besarnya duktus, dan keadaan si bayi (prematur atau cukup bulan). PDA
lebih sering terdapat pada bayi prematur dan kurang dapat ditoleransi karena

mekanisme kompensasi jantungnya tidak berkembang baik dan pirai kiri ke


kanan itu cenderung lebih besar.
Pada bayi prematur (kurang dari 37 minggu) duktus dipertahankan tetap
terbuka oleh prostaglandin yang kadarnya masih tinggi, karena memang belum
waktunya bayi lahir. Karena itu duktus arteriosus persisten pada bayi prematur
dianggap sebagai developmental patent ductus arteriosus, bukan struktural patent
ductus arteriosus seperti yang terjadi pada bayi cukup bulan. Pada bayi prematur
dengan penyakit membran hialin (sindrom gawat nafas akibat kekurangan
surfaktan), ductus arteriosus persisten sering bermanifestasi setelah sindrom
gawat nafasnya membaik.
Pada ibu yang terinfeksi

rubella,

pelepasan

prostaglandin

(6-

ketoprostaglandin F1) akan meningkat yang disertai dengan faktor nekrosis


2.1.7

tumor yang dapat meningkatkan resiko pembukaan duktus arteriosus.


Pathway

2.1.8

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis PDA pada anak digolongkan menjadi 4 yaitu :
1. PDA Kecil
Biasanya bersifat asimtomatik, dengan tekanan darah dan tekanan nadi
dalam keadaan normal. Jantung tidak membesar, kadang teraba getaran bising
di iga II kiri sternum. Terdapat bising kontinyu (continuos murmur, machinery
murmur) yang khas pada PDA didaerah subklavia kiri.
2. PDA Sedang
Gejala biasanya timbul pada usia 2-5 bulan tetapi tidak berat. Pasien
mengalami kesulitan makan, sering menderita infeksi saluran nafas, namun
biasanya berat badan masih dalam keadaan normal. Frekuensi nafas sedikit
lebih cepat dibandingkan dengan anak normal. Dijumpai pulsus seler dan
tekanan nadi lebih dari 40 mmHg. Terdapat getaran bising di daerah sela iga III para sternal kiri dan bising kontinu disela iga II III garis parasternal kiri
yang menjalar kedaerah sekitarnya. Juga sering ditemukan bising middiastolik
dini.
3. PDA Besar
Gejala tampak berat sejak minggu-minggu pertama kehidupan. Pasien
sulit makan dan minum hingga berat badannya tidak bertambah dengan
memuaskan, tampak dispneu dan takipneu, serta berkeringat banyak ketika
minum. Pada pemeriksaan tidak teraba getaran bising sistolik dan pada
auskultasi terdengar bising kontinu atau hanya bising sistolik. Bising
middiastolik terdengar di apeks karena aliran darah berlebihan melalui katub
mitral (stenosis mitral relative). Bunyi jantung II tunggal dan keras. Gagal
jantung mungkin terjadi dan biasanya didahului infeksi saluran nafas bagian
bawah.

4. PDA Besar dengan Hipertensi Pulmonal


Pasien PDA besar apabila tidak diobati akan berkembang menjadi
hipertensi pulmonal akibat penyakit vascular paru yakni suatu komplikasi
yang ditakuti. Komplikasi ini dapat terjadi pada usia kurang dari 1 tahun,
namun jauh lebih sering terjadi pada tahum ke 2 atau ke 3. Komplikasi
berkembang secara progresif, sehingga akhirnya irreversible, dan pada tahap
tersebut opersi koreksi tidak dapat di lakukan.
(Kapita Selekta kedokteran jilid II, 2000 ; 448)
Manifestasi klinis PDA pada bayi prematur sering disamarkan oleh masalahmasalah lain yang berhubungan dengan prematur (misalnya sindrom gawat
nafas). Tanda-tanda kelebihan beban ventrikel tidak terlihat selama 4 6 jam
sesudah lahir.
Bayi dengan PDA kecil mungkin asimptomatik, bayi dengan PDA lebih besar
dapat menunjukkan tanda-tanda gagal jantung kongestif (CHF), diantaranya :
1. Kadang-kadang terdapat tanda-tanda gagal jantung.
2. Machinery mur-mur persisten (sistolik, kemudian menetap, paling nyata
terdengar di tepi sternum kiri atas).
3. Tekanan nadi besar (water hammer pulses) / Nadi menonjol dan meloncat-

2.1.9

loncat, Tekanan nadi yang lebar (lebih dari 25 mmHg).


4. Takhikardia (denyut apeks lebih dari 170), ujung jari hiperemik.
5. Resiko endokarditis dan obstruksi pembuluh darah pulmonal.
6. Infeksi saluran nafas berulang, mudah lelah.
7. Prekordiumhiperaktif (akibat peningkatan isis sekuncup ventrikel kiri).
8. Apnea.
9. Tachypnea.
10. Nasal flaring.
11. Retraksi dada.
12. Hipoksemia.
13. Peningkatan kebutuhan ventilator (sehubungan dengan masalah paru).
(Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236, Betz & Sowden, 2002 ; 376)
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada PDA :
1) Endokarditis (Infeksi Jantung)
Orang-orang dengan masalah jantung sruktural, seperti PDA berada pada
risiko tinggi infeksi endokarditis daripada populasi umum. Endokarditis
adalah suatu peradangan pada lapisan dalam jantung yang disebabkan oleh
infeksi bakteri.
2) CHF
Merupakan ketidakmampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh
tubuh. Risiko CHF akan meningkat pada orang lanjut usia(lansia) karena
penurunan fungsi ventrikel akibat penuaan. CHF ini dapat menjadi kronik
8

apabila disertai dengan penyakit-penyakit seperti: hipertensi, penyakit katub


jantung, kardiomiopati, dan lain-lain. CHF juga dapat menjadi kondisi akut
dan berkembang secara tiba-tiba pada miokard infark.
3) Tekanan darah tinggi di paru-paru (Hipertensi Pulmonal)
Bila terlalu banyak darah terus beredar melalui jantung arteri utama
melaui PDA dapat

menyebabkan hipertensi pulmonal. Hipertensi paru

dapat menyebabkan kerusakan paru-paru permanen.


4) Enterokolitis nekrosis
Kelainan pada saluran pencernaan berupa bercak pada mukosa atau
submokosa yang sering terjadi pada bayi pematur.
5) Aritmia (detak jantung tidak teratur)
Pembesaran hati karena PDA meningkatkan risiko arithmia. Biasanya
terjadi peningkatan risiko hanya dengan PDA ynag besar.
6) Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau
displasia bronkkopulmoner)
7) Obstruksi pembuluh darah pulmonal
8) Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur)
9) Perdarahan gastrointestinal, penurunan jumlah trombosit.
10) Hiperkalemia (penurunan keluaran urin).
11) Gagal ginjal.
12) Gagal tumbuh.
(Betz & Sowden, 2002 ; 376-377, Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236)
2.1.10 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat diberikan pada pasien dengan PDA yakni :
a. Penatalaksanaan Medis
1. Konservatif
1) Restriksi cairan dan diet rendah natrium untuk mengurangi beban
jantung.
2) Pemberian obat-obatan
a. Furosemid
Yaitu obat diuretic yang paling sering digunakan pada
penderita gagal jantung. Cara kerjanya yaitu dengan menghambat
kembali natrium dan klorida pada tubulus distal dan lengkung
henle di ginjal. Obat ini diberikan secara intravena atau
intramuscular dengan dosis awal 1-2 mg/kg. biasanya setelah
diberikan obat ini akan menyebabkan dieresis cepat dan perbaikan
segera status klinis, terutama jika ada gejala kongestif paru. Efek
sampingnya adalah tubuh mungkin akan kekurangan kalium
sehingga penambahan kalium klorida dibutuhkan dan dapat
meyebabkan kontraksi diruangan cairan ekstraseluler.

Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk


meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban
kardiovaskuler.
b. Digoksin
Digunakan untuk meningkatkan gaya dan kecepatan
kontraksi miokardium dan mengendalikan aritmia jantung dengan
membatasi hantaran pulsa melalui nodus AV selama fibrilasi dan
flutter atrium.
Efek sampingnya jika kelebihan dosis yaitu kontraksi
ventrikel premature, disosiasi atrium-venrikel disertai blok jantung
total, takikarsi atrium paroksimal, fibrilasi ventrikel, rasa lelah,
disorientasi, gangguan penglihatan, dan kejang.
c. Indometasin
Merupakan
inhibitor
prostaglandin
memudahkan

penutupan

duktus. Efek

yang

dapat

sampingnya

adalah

perubahan sementara pada fungsi ginjal, pengingkatan insiden


hilangnya darah samar melalui saluran cerna, dan menghambat
fungsi trombosit selama 7-9 hari. kontraindikasi pemakaian
indometasin adalah :
- Nitrogen urea darah > 30 mg/dl.
- Kadar kreatinin >1.8 mg/dl.
- Keluaran urine < 0.6 ml/kg/jam selama 8 jam terakhir.
- Jumlah trombosit < 60000/mm3 karena aktivitas trombosit
-

yang memanjang.
Hemates feses >+3.
Bukti klinis atau sinar-X.
Adanya enterokolitis nekrotik.
Bukti membesarnya perdarahan SPP.
Sepsis.
Indometasin tidak efektif untuk menutup PDA pada bayi

cukup bulan karena terbukanya duktus bukan disebabkan oleh


prostaglandin.
2. Invasif
Penutupan PDA melalui kateterisasi dapat dipertimbangkan.
Penggunaan stainless coil untuk menutup PDA diindikasikan untuk
diameter < 2,5 mm dengan residual shunt rate 5 10%. Komplikasi
tindakan ini adalah leakage, emboli coil ke perifer, hemolisis, stenosis
LPA, oklusi femoralis.
3. Bedah

10

Tindakan pembedahan seperti operasi penutupan defek, Pemotongan


atau pengikatan duktus. Tindakan bedah ligasi atau divisi PDA

melalui torakotomi kiri.


Angka mortalitas < 1 %
Jika pada saat bayi berusia beberapa minggu terjadi gagal
jantung, maka segera dilakukan pembedahan. Jika gejalanya hanya
berupa murmur, maka pembedahan biasanya dilakukan pada saat anak
berusia 1 tahun. Jika tidak ada gejala, pembedahan ditunda sampai
anak berumur 6 bulan 3 tahun.
(Betz & Sowden, 2002 ; 377-378, Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236)

b. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Perawatan Pra Bedah
1) Beri kesempatan pada orang tua untuk mengekspresikan perasaannya,
biarpun hanya pembedahan jantung kecil, perbaikan PDA tetap
mengkhawatirkan bagi orang tua.
2) Siapkan anak untuk pembedahan dengan memperoleh data kajian.
a) Hitung darah lengkap (CBC), urinalisis, glukosa serum, BUN.
b) Elektrolit garis dasar.
c) Koagulasi darah.
d) Golongan dan pencocokan darah silang.
e) Kajian foto thoraks, EKG.
3) Karena anak yang lebih besar biasanya berusia prasekolah, siapkanlah
anak sesuai umur, jangan katakan kepadanya bahwa pembedahan itu
akan membuatnya merasa lebih baik, karena anak tersebut biasanya
asimtomatik.
2. Perawatan Pasca Bedah
1) Pantau status jantung anak atau bayi (lihat bagian pengkajian
kardiovaskuler, Apendiks A)
a) Tanda-tanda vital (suhu, denyut apeks, frekuensi pernapasan,
tekanan darah).
b) Tekanan darah arteri dan tekanan vena sentral (CVP).
c) Nadi perifer-kualitas dan intensitas.
d) Waktu pengisian kapiler.
e) Adanya asites (jarang).
f) Aritmia.
2) Pantau dan laporkan adanya tanda dan gejala komplikasi.
a) Atelektasis.
b) Perdarahan.
c) Silotoraks.
d) Hemotoraks.
e) Pneumotoraks.
f) Kerusakan nervus frenikus.
g) Kerusakan nervus laringealis yang kambuhan.
11

3) Obati terjadinya silotoraks bila ada


a) Berikan dan pantau makanan anak yang mengandung trigliserida
rantai sedang.
b) Pantau adanya tanda dan gejala gawat pernapasan.
4) Lakukan pulmonary toilet bila perlu
a) Lakukan drainase postural dan perkusi.
b) Ubah posisi anak setiap 2 jam.
c) Anjurkan untuk menarik napas dalam dan menggunakan
spirometer setiap jam.
d) Anjurkan anak untuk batuk, jika anak tidak dapat batuk, gunakan
isapan.
5) Tingkatkan pengendalian nyeri yang intensif, karena nyeri dengan
insisi torakotomi umumnya lebih besar dari pada sternotomi median.
6) Pantau respons anak terhadap pengobatan
a) Diuretik.
b) Digitalis.
7) Beri dukungan emosional pada bayi dan anak selama hospitalisasi
a) Beri penjelasan sesuai umur sebelum terapi.
b) Anjurkan, dengan cara yang sesuai usia, untuk mengekspresikan
perasaan takut dan gelisah pada anak (mis.,ekspresi verbal,
bermain, menggambar).
c) Dorong orang tua untuk mengekspresikan perasaannya.
3. Perencanaan Pulang dan Perawatan Di Rumah
1) Instruksikan orang tua untuk mengamati dan melaporkan adanya
tanda-tanda distrs jantung dan pernapasan.
2) Ajarkan pada orang tua cara-cara pemberian obat.
3) Beri tahu orang tua nama dokter atau perawat yang dapat dihubungi
untuk mendapatkan pertolongan medis atau pemeriksaan kesehatan
tindak lanjut.
4) Ajarkan pada orang tua tentang prinsip-prinsip pengendalian infeksi
dan perawatan anak dengan baik (mis., penggunaan obat-obat
profilaktik sebelum perawatan gigi).
5) Anjurkan dan instruksikan orang tua tentang cara-cara mengadakan
aktivitas stimulasi yang sesuai dengan perkembangan (lihat bagian
pertumbuhan dan perkembangan, Apendiks B).
2.1.11 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan pada PDA dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut ;
1) Laboratorium
a. Analisis gas darah arteri
1. Biasanya menunjukkan kejenuhan yang normal karena paru
overcirculation.

12

2. Ductus arteriosus besar dapat menyebabkan hypercarbia dan


hypoxemia dari CHF dan ruang udara penyakit (atelektasis atau intraalveolar cairan / pulmonary edema).
3. Dalam kejadian hipertensi arteri pulmonal persisten (terus-menerus
sirkulasi janin), kanan-ke-kiri intracardiac shunting darah, aliran
darah paru berkurang dengan dihasilkannya hypoxemia, sianosis, dan
mungkin acidemia hadir.
2) Pemeriksaan Diagnostik
1. Foto Thorak
- Pada PDA kecil bayangan jantung normal.
- Pada PDA besar terjadi kardiomegali (atrium dan ventrikel kiri
membesar, gambaran vaskuler paru meningkat).
2. Ekhokardiografi : Rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1,3:1
pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1,0 pada bayi praterm (disebabkan
oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke
kanan).
3. Pemeriksaan dengan Doppler berwarna : digunakan untuk mengevaluasi
aliran darah dan arahnya.
4. Elektrokardiografi (EKG) : bervariasi sesuai tingkat keparahan, pada
PDA kecil tidak ada abnormalitas, dan menunjukkan hipertrofi ventrikel
kiri pada PDA yang lebih besar.
5. Kateterisasi jantung : untuk menentukan resistensi vaskuler paru biasanya
hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau
Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan
lainnya.
(Betz & Sowden, 2002 ;377)
2.1.12 Pencegahan
Pencegahan terhadap paparan factor resiko sejak bayi dalam kandungan oleh
ibu. Pencegahan factor ini sangat memegang peranan penting untuk mengurang
kelahiran bayi yang mengidap penyakit jantung bawaan ini. Selain itu intake
nutrisi yang adekuat selama masa kehamilan harus diperhitungkan agar kesehatan
ibu hamil terjaga dengan makana-makanan bergizi, rutin periksa ke dokter dan
perbanyak istirahat.

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Pada PDA


13

2.2.1 Pengkajian
I. Data Subyektif
a. Anamnesa
1. Identitas
PDA sering ditemukan pada neonatus, tapi secara fungsional
menutup pada 24 jam pertama setelah kelahiran. Sedangkan secara
anatomic menutup dalam 4 minggu pertama. PDA ( Patent Ductus
Arteriosus) lebih sering insidens pada bayi perempuan 2 x lebih
banyak dari bayi laki-laki. Sedangkan pada bayi prematur diperkirakan
sebesar 15 %. PDA juga bisa diturunkan secara genetik dari orang tua
yang menderita jantung bawaan atau juga bisa karena kelainan
kromosom.
2. Keluhan
Pasien dengan PDA biasanya merasa lelah, sesak napas.
3. Riwayat Keperawatan
a) Riwayat Penyakit Sekarang
Pada pasien PDA, biasanya akan diawali dengan tanda-tanda
respiratory distress, dispnea, tacipnea, hipertropi ventrikel kiri,
retraksi dada dan hiposekmia.
b) Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien lahir prematur atau ibu
menderita infeksi dari rubella.
c) Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita
penyakit PDA karena PDA juga bisa diturunkan secara genetik dari
orang tua yang menderita penyakit jantung bawaan atau juga bisa
karena kelainan kromosom.
d) Riwayat Psikososial
Meliputi tugas perasaan anak terhadap penyakitnya, bagaimana
perilaku anak terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya,
perkembangan anak, koping yang digunakan, kebiasaan anak,
respon keluarga terhadap penyakit anak, koping keluarga dan
penyesuaian keluarga terhadap stress.
4. Riwayat Imunisasi
Riwayat imunisasi tidak ada hubungan. Artinya imunisasi dasar
yang dilakukan klien (anak) tidak mempengaruhi timbul tidaknya
penyakit ini (PDA) karena seperti yang kita ketahui bahwa Patent
Duktus Arteriosus merupakan kelainan jantung bawaan. Namun,

14

imunisasi dasar tetap harus dilakukan guna melindungi anak dari


infeksi atau penularan penyakit lain.
Berikut adalah 5 imunisasi dasar yang wajib diberikan pada anak:
No.

Jenis
immunisasi

1.

BCG

2.

DPT (I,II,III)

3.

Polio
(I,II,III,IV)

4.

Campak

5.

Hepatitis

Waktu
pemberian

Frekuensi

Reaksi setelah
pemberian

Frekuensi

5. Riwayat Tumbuh Kembang


a. Pertumbuhan Fisik
1. Berat badan

: .kg

2. Tinggi badan

:. cm.

3. Waktu tumbuh gigi

. gigi tanggal

........... Jumlah gigi ...................... buah.


b. Perkembangan Tiap tahap
Usia anak saat
1. Berguling

: bulan

2. Duduk

: bulan

3. Merangkak

: bulan

4. Berdiri

: tahun

5. Berjalan

: tahun

6. Senyum kepada orang lain pertama kali : tahun


7. Bicara pertama kali

: ....tahun dengan menyebutkan :

8. Berpakaian tanpa bantuan :


6. Reaksi Hospitalisasi
A. Pengalaman keluarga tentang sakit dan rawat inap
- Ibu membawa anaknya ke RS karena : ..........................................
- Apakah dokter menceritakan tentang kondisi anak : .......................
- Perasaan orang tua saat ini : ............................................................
- Orang tua selalu berkunjung ke RS : ................................................
- Yang akan tinggal dengan anak : .....................................................
15

B. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap........................................


.................................................................................................................
.................................................................................................................
.................................................................................................................
7. Pola-Pola Kesehatan Gordon

a.

Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan


Yang perlu dikaji yaitu kebersihan lingkungan dari debu,

b.

bagaimana cara menyusui bayi (menyendawakan atau tidak).


Pola Aktivitas dan Latihan
Biasanya lemah, kemampuan pergerakan sendi terbatas,

c.

kelelahan, dan penurunan toleransi terhadap aktivitas.


Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pasien dengan PDA akan mengalami sulit makan dan minum.
Pada PDA besar kesulitan makan dan minum ini mengakibatkan
berat badan pasien tidak bertambah dengan memuaskan namun

d.
e.

pada PDA sedang berat badan masih dalam keadaan normal.


Pola Eliminasi
Produksi urin menurun (oliguria).
Pola Istirahat dan Tidur
Pada bayi belum memiliki pola tidur. Namun pada anak biasanya
istirahat tidur berkurang, karena sesak atau rasa tidak nyaman

f.
g.
h.

akibat gejala lain yang menyertai PDA.


Pola Persepsi dan Konsep Diri
Pada anak kurang bisa di kaji.
Pola Toleransi Koping
Biasanya anak rewel dan menangis karena merasa tidak nyaman.
Pola Hubungan dan Peran
Peran anak sebagai pasien. Anak akan merasa nyaman bila di

dekat orang tua.


Pola Kognitif Perseptual
Pada anak kurang bisa di kaji.
j. Pola Reproduksi Seksual
Pada bayi dan anak belum terjadi pematangan reproduksi.
k. Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Keyakinan dalam agama.
II. Data Obyektif
1. Keadaan Umum
Anak (pasien) dengan PDA biasanya terlihat lemas dan sesak nafas.
2. TTV
a. Tekanan Darah
Pada PDA kecil tekanan darah dalam keadaan normal.
b. Nadi
Pada PDA kecil tekanan nadi dalam keadaan normal, pada PDA sedang
i.

tekanan nadi lebih dari 40 mmHg.


c. Suhu
16

PDA 30 % diderita oleh bayi premature, Bayi prematur dapat


kehilangan panas tubuh dengan cepat, karena mereka tidak memiliki
lemak tubuh seperti yang lazimnya dimiliki bayi lahir cukup umur.
Bayi prematur juga tidak dapat menghasilkan panas yang cukup untuk
melawan apa yang hilang melalui permukaan tubuhnya.
d. RR
Pada PDA sedang frekuensi nafas sedikit lebih cepat dibandingkan
dengan anak normal. Pada PDA besar tampak dispneu dan takipneu.
3. Berat Badan
Pada PDA sedang biasanya berat badan masih dalam keadaan normal
meskipun pasien mengalami kesulitan makan, dan

sering menderita

infeksi saluran nafas. Pada PDA besar berat badan tidak bertambah dengan
memuaskan.
4. Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breathing)
Nafas cepat, sesak nafas, adanya otot bantu nafas saat inspirasi,
retraksi.
b. B2 (Blood)
Jantung membesar, bunyi tambahan (marchinery murmur), hipertropi
ventrikel kiri, peningkatan tekanan darah sistolik, edema tungkai,
clubbing finger, sianosis.
c. B3 (Brain)
Otot muka tegang, gelisah, menangis, penurunan kesadaran.
d. B4 (Bladder)
Produksi urin menurun (oliguria).
e. B5 (Bowel)
Nafsu makan menurun (anoreksia), porsi makan tidak habis, kesulitan
makan dan minum.
f. B6 (Bone)
Kemampuan pergerakan sendi terbatas, kelelahan.
5. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
a. Analisis gas darah arteri
- Biasanya menunjukkan kejenuhan yang normal karena paru
-

overcirculation.
Ductus arteriosus besar dapat menyebabkan hypercarbia dan
hypoxemia dari CHF dan ruang udara penyakit (atelektasis

atau intra-alveolar cairan / pulmonary edema).


b. Dalam kejadian hipertensi arteri pulmonal persisten (terus-menerus
sirkulasi janin), kanan-ke-kiri intracardiac shunting darah, aliran
17

darah paru berkurang dengan dihasilkannya hypoxemia, sianosis,


2.

dan mungkin acidemia hadir.


Pemeriksaan Diagnostik
1) Foto Thorak
- Pada PDA kecil bayangan jantung normal
- Pada PDA besar terjadi kardiomegali (atrium dan ventrikel kiri
membesar, gambaran vaskuler paru meningkat)
2) Ekhokardiografi : Rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih
dari 1,3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1,0 pada bayi
praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai
akibat dari pirau kiri ke kanan).
3) Pemeriksaan dengan Doppler berwarna : digunakan untuk
mengevaluasi aliran darah dan arahnya.
4) Elektrokardiografi (EKG) : bervariasi sesuai tingkat keparahan,
pada PDA kecil tidak ada abnormalitas, dan menunjukkan
hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar.
5) Kateterisasi jantung : untuk menentukan resistensi vaskuler paru
biasanya hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil
ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan

defek tambahan lainnya.


(Betz & Sowden, 2002 ;377)
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
1) Penurunan curah jantung berhubungan dengan malforasi jantung.
2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal.
3) Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan tidak
adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan.
4) Ketidakseimbangan nutrisi b.d. asupan makanan yang tidak seimbang dengan
kebutuhan.
5) Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh

tubuh dan suplai oksigen ke sel.


6) Pola nafas tidak efektif b.d. adanya kelebihan cairan dalam paru.
7) Resiko infeksi berhubungan dengan menurunya status kesehatan.
8) Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan orang tua dan
hospitalisasi.

2.2.3 Perencanaan
1) Penurunan Curah jantung b.d malformasi jantung.
18

- Tujuan
- Kriteria hasil

: Mempertahankan curah jantung yang adekuat.


: Anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya

curah jantung.
Intervensi

Rasional

Mandiri

Mandiri

1) Observasi kualitas dan kekuatan denyut 1) Permulaan gangguan pada jantung akan
jantung,

nadi

perifer,

warna

dan

kehangatan kulit.

ada

perubahan

tanda-tanda

vital,

semuanya harus cepat dideteksi untuk

2) Tegakkan derajat sianosis (sirkumoral,

penanganan lebih lanjut.


2) Pucat menunjukkan adanya penurunan
perfusi

membran mukosa, clubbing).

sekunder

terhadap

ketidak

adekuatan curah jantung, vasokonstriksi


dan anemia.
3) Monitor

tanda-tanda

CHF

(gelisah,

takikardi, tachypnea, sesak, mudah lelah,


periorbital

edema,

oliguria,

3) Deteksi dini untuk mengetahui adanya


gagal jantung kongestif.

dan

hepatomegali).
Kolaborasi

Kolaborasi

1) Pemberian digoxin sesuai order, dengan


menggunakan teknik pencegahan bahaya
toksisitas.
2) Berikan pengobatan untuk menurunkan
afterload.
3) Berikan diuretik sesuai indikasi.

1) Obat

ini

dapat

mencegah

semakin

memburuknya keadaan klien.


2) Obat anti afterload mencegah terjadinya
vasokonstriksi.
3) Diuretik bertujuan untuk menurunkan
volume plasma dan menurunkan retensi
cairan di jaringan sehingga menurunkan
risiko terjadinya edema paru.

2) Gangguan pertukaran gas b.d kongesti pulmonal.


- Tujuan : Mengurangi adanya peningkatan resistensi pembuluh paru.
- Kriteria hasil : Anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya
peningkatan resistensi pembuluh paru.
Intervensi
Mandiri

Rasional
Mandiri
19

1) Observasi kualitas dan kekuatan denyut 1) Untuk


jantung,

nadi

perifer,

warna

dan

kehangatan kulit.
2) Atur posisi anak dengan posisi fowler.

memudahkan

pasien

dalam

bernapas.
2) Agar anak tidak tertular infeksi yang akan
memperburuk keadaan.
3) Menurunkan kebutuhan oksigen dalam

3) Hindari anak dari orang yang terinfeksi.

tubuh.

4) Berikan istirahat yang cukup

4) Membantu

klien

untuk

memenuhi

oksigenasinya.
Kolaborasi
1) Berikan oksigen jika ada indikasi

Kolaborasi
1) Untuk deteksi dini terjadinya gangguan
pernapasan

3) Perubahan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai


oksigen dan zat nutrisi ke jaringan.
- Tujuan
: Memberikan support untuk tumbuh kembang.
- Kriteria hasil
: Anak akan tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan
berat dan tinggi badan.
Intervensi

Rasional

Mandiri
1)

1. Mandiri

Kaji tingkat tumbuh kembang anak.

1) Memantau masa tumbuh kebang anak.

2) Berikan stimulasi tumbuh kembang,


aktivitas bermain, game, nonton TV,

2) Agar anak bisa tumbuh dan berkembang


sebagaimana mestinya.

puzzle, nmenggambar, dan lain-lain


sesuai kondisi dan usia anak.
3) Libatkan
keluarga
agar

tetap

memberikan stimulasi selama dirawat.

3) Anggota
pengaruhnya

keluarga

sangat

terhadap

besar
proses

pertumbuhan dan juga perkembangan


anak-anak.
4) Ketidakseimbangan nutrisi b.d. asupan makanan yang tidak seimbang dengan
kebutuhan.
- Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu

makan timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi.


- Kriteria hasil
:
a. Status nutrisi terpenuhi.
20

b. Nafsu makan klien timbul kembali.


c. Berat badan normal.
d. Jumlah Hb dan albumin normal.

Intervensi

Rasional

Mandiri
1) Kaji

Mandiri
pemenuhan

kebutuhan

nutrisi 1) Mengetahui kekurangan nutrisi klien.


2) Mengetahui perkembangan pemenuhan
klien.
2) Mencatat intake dan output makanan
nutrisi klien.
3) Dengan sedikit tapi sering mengurangi
klien.
3) Manganjurkn makan sedikit- sedikit
penekanan yang berlebihan pada lambung.
tapi sering.
Kolaborasi
Kolaborasi
1) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk 1) Ahli gizi adalah spesialisasi dalam ilmu
yang

gizi yang membantu klien memilih

dapat memenuhi kebutuhan gizi selama

makanan sesuai dengan keadaan sakitnya,

sakit.

usia, tinggi, berat badannya.

membantu

memilih

makanan

5) Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh


tubuh dan suplai oksigen ke sel.
- Tujuan
: Mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat
- Kriteria hasil
: Anak akan mempertahankan tingkat aktivitas yang
adekuat
Intervensi
1. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas

Rasional
1. Jika tidak sesuai parameter, klien dikaji

menggunakan parameter berikut : Nadi

ulang untuk mendapatkan perawatan

20 per menit diatas frekuensi istirahat,

lebih lanjut.

catat peningkatan TD, Nyeri dada,


kelelahan berat, berkeringat, pusing
dan pingsan.
2. Kaji kesiapan pasien untuk
meningkatkan aktivitas.

2. Persiapkan dan dukung klien untuk


melakukan aktivitas jika sudah mampu.
3. Agar klien termotivasi untuk
melakukan aktivitas sehingga terpacu
untuk sembuh..

21

3. Dorong memajukan aktivitas.


4. Berikan bantuan sesuai dengan
kebutuhan dan anjurkan penggunaan

4. Memudahkan klien ntuk beraktivitas


tapi tidak memanjakan.
5. Klien termotivasi untuk sembuh.

kursi mandi.
5. Dorong pasien untuk partisipasi dalam
memilih periode.
6) Pola nafas tidak efektif b.d kelebihan cairan dalam pasru
- Tujuan
: Pola nafas teratur
- Kriteria hasil
: Nafas teratur, cairan dalam paru berkurang.
Intervensi
Mandiri

Rasional
Mandiri

1) Auskultasi bunyi napas.

1) Menyatakan

adanya

kongesti

paru/pengumpulan sekret menunjukkan


2) Anjurkan pasien batuk efektif, napas

kebutuhan untuk intervensi lanjut.


2) Membersihkan

dalam.

jalan

napas

dan

memudahkan aliran oksigen.

Kolaborasi
1) Berikan oksigen sesuai indikasi.

Kolaborasi
1) Untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada
pasien.

7) Resiko infeksi b.d menurunnya status kesehatan.


- Tujuan
: Mencegah resiko infeksi.
- Kriteria hasil
: Anak tidak menunjukkan tanda-tanda adanya infeksi.
Intervensi
Mandiri
1) Pantau tanda-tanda vital.

Rasional
Mandiri
1) Jika ada peningkatan tanda-tanda vital
besar kemungkinan adanya gejala infeksi
karena tubuh berusaha intuk melawan

2) Lakukan perawatan terhadap prosedur


infasif seperti infus, kateter, drainase luka,
dll.

mikroorganisme asing yang masuk maka


terjadi peningkatan tanda vital.
2) Untuk
mengurangi
risiko

infeksi

nosokomial.

Kolaborasi
22

1) Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasiKolaborasi


untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan 1) Penurunan Hb dan peningkatan jumlah
leukosit.

leukosit dari normal membuktikan adanya

2) Kolaborasi untuk pemberian antibiotik,

tanda-tanda infeksi.
2) Antibiotik

mencegah

perkembangan

mikroorganisme patogen.
8) Kecemasan orang tua b.d kurang pengetahuan orang tua dan hospitalisasi.
- Tujuan
: Kecemasan menurun.
- Kriteria hasil
: Orang tua tampak tenang ,orang tua tidak bertanyatanya lagi,orangtua berpartisipasi dalam proses perawatan.
Intervensi
1) Kaji tingkat pengetahuan orang tua.

Rasional
1) Pengetahuan
orang
mempengaruhi

2) Beri

penjelasan

tentang

keadaan

bayi/anaknya.

tua

persepsi

akan
dan

tingkahlakunya pada anak.


2) Dengan mengetahui kondisi anaknya, akan
mengurangi kecemasan orang tua.

3) Libatkan

keluarga

dalam

perawatan
3) Akan membuat orang tua nyaman dan

bayinya.

lebih tenang jika senantiasa dekat dengan


4) Berikan support dan reinforcement atas
apa yang dapat dicapai oleh orang tua.
5) Latih

orang

tua

tentang

cara-cara

anaknya.
4) Dukungan dan kasih sayang orang tua
akan mempercepat kesembuhan anak.

perawatan bayi dirumah sebelum bayi 5) Dengan menambah pengetahuan orang tua
pulang.

dalam

perawatan

mempermudah

proses

anaknya
perawatan

akan
dan

penyembuhan anak.
2.2.4 Implementasi
Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang
spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai dimulai setelah rencana tindakan disusun dan
ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang
diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk
memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien.
Adapun tahap-tahap dalam tindakan keperawatan adalah sebagai berikut :
a. Tahap 1 : persiapan
23

Tahap awal tindakan keperawatan ini menuntut perawat untuk mengevaluasi


yang diindentifikasi pada tahap perencanaan.
b. Tahap 2 : intervensi
Focus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan dan pelaksanaan
tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional.
Pendekatan

tindakan

keperawatan

meliputi

tindakan

independen,dependen,dan interdependen.
c. Tahap 3 : dokumentasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap


dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.
2.2.5 Evaluasi
Evaluasi hasil berfokus pada respons dan fungsi klien. Respons prilaku
klien merupakan pengaruh dari intervensi keperawatan dan akan terlihat pada
pencapaian tujuan dan kriteria hasil.
Berikut adalah ukuran pencapaian tujuan pada tahap evaluasi yang meliputi:
1. Tujuan tercapai : jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan standar
yang telahditetapkan.
2. Tujuan tercapai sebagian : jika klien menunjukkan perubahan sebagian dari
standar dan kriteria yang telah ditetapan.
3. Tujuan tidak tercapai : jika klien tidak menunjukkan perubahan dan kemajuan
sama sekali dan bahkan timbul masalah baru.
Adapun evaluasi yang perlu dilakukan dan dicapai terkait masalah-masalah
yang muncul pada anak dengan PDA yakni :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Curah jantung adekuat.


Tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru.
Anak tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan berat dan tinggi badan.
Status nutrisi terpenuhi.
Tingkat aktivitas yang adekuat.
Pola nafas teratur.
Tidak menunjukkan tanda-tanda adanya infeksi.
Kecemasan menurun.

24

BAB III
PENUTUP

3.1 Penutup
Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah kelainan jantung kongenital (bawaan)
dimana tidak terdapat penutupan (patensi) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta
dan pembuluh darah besar pulmonal.
Kondisi ini sering ditemui pada bayi yang lahir prematur namun tidak menutup
kemungkinan terjadi pada bayi cukup bulan. Duktur arteriosus umumnya menutup 12-24
jam setelah bayi lahir dan mencapai penutupan sempurna pada usia 3 minggu. Apabila
duktus tersebut masih terbuka, penutupan spontan 75% dapat terjadi sampai bayi berusia
3 bulan. Lebih dari 3 bulan, penutupan spontan sangat jarang terjadi.
Gejala dari PDA tergantung dari besarnya kebocoran, apabila Duktus Arteriosus
(DA) kecil mungkin saja tidak menimbulkan gejala, apabila DA sedang sampai besar
dapat mengalami batuk, sering infeksi saluran pernapasan, dan infeksi paru. Apabila DA
besar, maka gagal jantung serta gagal tumbuh dapat terjadi.
Pada PDA manapun juga, penutupan baik dengan operasi maupun kateterisasi (tanpa
operasi) sebaiknya dilakukan mempertimbangkan risiko terinfeksinya jantung akibat
kelainan ini. Apabila tetap tidak ditangani, dapat terjadi kemungkinan risiko kematian
20% pada usia 20 tahun, 42% pada usia 45 tahun, dan 60% pada usia 60 tahun.
3.2 Saran
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada bayi atau anak dengan PDA
diharapkan perawat selalu mengacu pada konsep medis dan konsep asuhan keperawatan
pada pasien dengan PDA sehingga dalam memberikan asuhan dengan baik dan tepat.

25