Anda di halaman 1dari 63

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nutrisi adalah proses dimana tubuh manusia menggunakan makanan
untuk membentuk energi, mempertahankan kesehatan, pertumbuhan dan
untuk berlangsungnya fungsi normal setiap organ dan jaringan tubuh.
Terdapata enam komponen nutrisi, antara lain karbohidrat, protein, lemak,
vitamin,

mineral,

dan

air.

Status

nutrisi

normal

menggambarkan

keseimbangan yang baik antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi.


Kekurangan nutrisi memberikan efek yang tidak diinginkan terhadap struktur
dan fungsi hampir semua organ dan sistem tubuh.1
Nutrisi dapat diberikan melalui saluran pencernaan (nutrisi enteral)
atau secara intravena (nutrisi parenteral). Kebutuhan energi adalah sama
untuk kedua metode pemberian tersebut. Pemberian makan secara enteral
tetap menjadi jalur pilihan pertama, karena efek sampingnya lebih sedikit
dibandingkan nutrisi parenteral. Indikasi untuk pemberian nutrisi secara
parenteral adalah ketika pemberian nutrisi enteral telah gagal. Pada pasien
yang sebelumnya mengalami kurang gizi, pemberian nutrisi parenteral
mungkin dapat dimulai lebih dini dalam waktu 24 jam setelah tercapainya
hemodinamik yang stabil. Sebaliknya, pasien yang sebelumnya cukup gizi,
dapat menunggu sampai 7 hari sebelum dimulainya pemberian nutrisi
parenteral.16
Kebutuhan energi orang yang sehat dapat diartikan sebagai tingkat
asupan energi yang dapat dimetabolisasi dari makanan yang akan
menyeimbangkan keluaran energi, ditambah dengan kebutuhan tambahan
untuk pertumbuhan, kehamilan, dan penyusunan yaitu energi makanan yang
diperlukan untuk memelihara keadaan yang telah baik. Kebutuhan energi
dapat dihitung berdasarkan RBW (teori berat badan relatif) atau energi BMR
(basal metabolisme rate). 15
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Nutrisi


Nutrisi adalah ikatan kimia yang yang diperlukan tubuh untuk
melakukan fungsinya yaitu energi, membangun dan memelihara jaringan,
serta mengatur proses-proses kehidupan.2 Nutrisi merupakan kebutuhan
utama pasien kritis dan nutrisi enteral lebih baik dari parenteral karena
lebih mudah, murah, aman, fisiologis dan penggunaan nutrien oleh tubuh
lebih efisien.2
2.2 Komponen-komponen Nutrisi
Terdapat enam zat gizi

esensial

yang

diperukan

untuk

mempertahankan kesehatan antara lain:


1. Karbohidrat
a. Metabolisme Karbohidrat
1) Glikolisis
Glikolisis adalah rangkaian reaksi kimia penguraian
glukosa (yang memiliki 6 atom C) menjadi asam piruvat
(senyawa yang memiliki 3 atom C), NADH, dan ATP. NADH
(Nikotinamida

Adenina

Dinukleotida

Hidrogen)

adalah

koenzim yang mengikat elektron (H), sehingga disebut sumber


elektron berenergi tinggi. ATP (adenosin trifosfat) merupakan
senyawa berenergi tinggi. Setiap pelepasan gugus fosfatnya
menghasilkan energi. Pada proses glikolisis, setiap 1 molekul
glukosa diubah menjadi 2 molekul asam piruvat, 2 NADH, dan
2 ATP.3
Glikolisis memiliki sifat-sifat, antara lain: glikolisis
dapat berlangsung secara aerob maupun anaerob, glikolisis
melibatkan enzim ATP dan ADP, serta peranan ATP dan ADP
pada glikolisis adalah memindahkan (mentransfer) fosfat dari
molekul yang satu ke molekul yang lain. Pada sel eukariotik,
glikolisis terjadi di sitoplasma (sitosol). Glikolisis terjadi
melalui 10 tahapan yang terdiri dari 5 tahapan penggunaan
energi dan 5 tahapan pelepasan energi. Berikut ini reaksi
glikolisis secara lengkap: Dari skema tahapan glikolisis
menunjukkan bahwa energi yang dibutuhkan pada tahap
penggunaan energi adalah 2 ATP. Sementara itu, energy yang

dihasilkan pada tahap pelepasan energi adalah 4 ATP dan 2


NADH. Dengan demikian, selisih energi atau hasil akhir
glikolisis adalah 2 ATP + 2 NADH.3
Proses pembentukan ATP

inilah

yang

disebut

fosforilasi. Pada tahapan glikolisis tersebut, enzim mentransfer


gugus fosfat dari substrat (molekul organic dalam glikolisis) ke
ADP sehingga prosesnya disebut fosforilasi tingkat substrat.3

Gambar reaksi glikolisis

2) Dekarboksilasi Oksidatif
Tahapan dekarboksilasi oksidatif, yaitu tahapan
pembentukan CO2 melalui reaksi oksidasi reduksi (redoks)
dengan O2 sebagai penerima elektronnya. Dekarboksilasi
oksidatif ini terjadi di dalam mitokondria sebelum masuk ke
tahapan siklus Krebs. Oleh karena itu, tahapan ini disebut
sebagai tahapan sambungan (junction) antara glikolisis dengan
siklus Krebs. Pada tahapan ini, asam piruvat (3 atom C) hasil
glikolisis dari sitosol diubah menjadi asetil koenzim A (2 atom
C) di dalam mitokondria. Pada tahap 1, molekul piruvat (3
atom C) melepaskan elektron (oksidasi) membentuk CO2
(piruvat dipecah menjadi CO2 dan molekul berkarbon 2). Pada

tahap 2, NAD+ direduksi (menerima elektron) menjadi NADH


+ H+. Pada tahap 3, molekul berkarbon 2 dioksidasi dan
mengikat Ko-A (koenzim A) sehingga terbentuk asetil Ko-A.
Hasil akhir tahapan ini adalah asetil koenzim A, CO2, dan
2NADH.3 Berikut gambar di bawah ini reaksi dekarboksilasi
oksidatif dan reaksinya.

3) Siklus Krebs
Siklus Krebs terjadi di matriks mitokondria dan disebut
juga siklus asam trikarboksilat. Hal ini disebabkan siklus
Krebs tersebut menghasilkan senyawa yang mempunyai gugus
karboksil, seperti asam sitrat dan asam isositrat. Asetil koenzim
A hasi dekarboksilasi oksidatif memasuki matriks mitokondria
untuk bergabung dengan asam oksaloasetat dalam siklus
Krebs, membentuk asam sitrat. Demikian seterusnya, asam
sitrat

membentuk

bermacam-macam

zat

dan

akhirnya

membentuk asam oksaloasetat lagi.3

Berikut ini tahapan-tahapan dari 1 kali siklus Krebs:

1. Asetil Ko-A (2 atom C) menambahkan atom C pada


oksaloasetat (4 atom C) sehingga dihasilkan asam sitrat (6
atom C).
2. Sitrat menjadi isositrat (6 atom C) dengan melepas H2O
dan menerima H2O kembali.
3. Isositrat melepaskan CO2

sehingga

terbentuk

ketoglutarat (5 atom C).


4. - ketoglutarat melepaskan CO2. NAD+ sebagai akseptor
atau penerima elektron) untuk membentuk NADH dan
menghasilkan suksinil Ko-A (4 atom C).
5. Terjadi fosforilasi tingkat substrat pada pembentukan GTP
(guanosin trifosfat) dan terbentuk suksinat (4 atom C).
6. Pembentukan fumarat (4 atom C) melalui pelepasan
FADH2.
7. Fumarat terhidrolisis (mengikat 1 molekul H2O) sehingga
membentuk malat (4 atom C).
8. Pembentukan oksaloasetat (4 atom C) melalui pelepasan
NADH. satu siklus Krebs tersebut hanya untuk satu
molekul piruvat saja.
Sementara itu, hasil glikolisis menghasilkan 2 molekul
piruvat (untuk 1 molekul glukosa). Oleh karena itu, hasil akhir
total dari siklus Krebs tersebut adalah 2 kalinya. Dengan
demikian, diperoleh hasil sebanyak 6 NADH, 2FADH2 dan
2ATP (ingat: jumlah ini untuk katabolisme setiap 1 molekul
glukosa).

4) Transfer Elektron
Sebelum masuk rantai tanspor elektron yang berada
dalam mitokondria, 8 pasang atom H yang dibebaskan selama
berlangsungnya siklus Krebs akan ditangkap oleh NAD dan
FAD menjadi NADH dan FADH. Pada saat masuk ke rantai

transpor elektron, molekul tersebut mengalami rangkaian


reaksi oksidasi-reduksi (Redoks) yang terjadi secara berantai
dengan melibatkan beberapa zat perantara untuk menghasilkan
ATP dan H2O. Beberapa zat perantara dalam reaksi redoks,
antara lain flavoprotein, koenzim A dan Q serta sitokrom yaitu
sitokrom a, a3, b, c, dan c1. Semua zat perantara itu berfungsi
sebagai pembawa hidrogen/pembawa elektron (electron
carriers) untuk 1 molekul NADH2 yang masuk ke rantai
transpor elektron dapat dihasilkan 3 molekul ATP sedangkan
dari 1 molekul FADH2 dapat dihasilkan 2 molekul ATP.4
Molekul pertama yang menerima elektron berupa
avoprotein,

dinamakan

avin

mononukleotida

(FMN).

Selanjutnya, elektron dipindahkan berturut-turut melewati


molekul protein besi-sulfur (Fe-S), ubiquinon (Q atau CoQ),
dan sitokrom (Cyst). Elektron melewati sitokrom b, Fe-S,
sitokrom c1, sitokrom c, sitokrom a, sitokrom a3, dan oksigen
sebagai penerima elektron terakhir. Akhirnya terbentuklah
molekul H2O (air). Pada sistem transportasi elektron, NADH
dan FADH2 masingmasing menghasilkan rata-rata 3 ATP dan 2
ATP. Sebanyak 2 NADH hasil glikolisis dan 2 NADH hasil
dekarboksilasi oksidatif masing-masing menghasilkan 6 ATP.
Sementara itu, 6 NADH dan 2 FADH2 hasil siklus Krebs
masing-masing menghasilkan 18 ATP dan 4 ATP. Jadi, sistem
transportasi elektron menghasilkan 34 ATP.3

Setiap molekul glukosa akan menghasilkan 36 ATP


dalam respirasi. Hasil ini berbeda dengan respirasi pada
organism prokariotik. Telah diketahui bahwa oksidasi NADH
atau NADPH2 dan FADH2 terjadi dalam membrane
mitokondria, namun ada NADH yang dibentuk di sitoplasma
(dalam proses glikolisis). Pada organism eukariotik, untuk
memasukkan setiap 1 NADH dari sitoplasma ke dalam
mitokondria diperlukan 1 ATP. Dengan demikian, 2 NADH
dari glikolisis menghasilkan hasil bersih 4 ATP setelah
dikurangi 2 ATP. Sementara itu, pada organisme prokariotik,
karena tidak memiliki sistem membran dalam maka tidak
diperlukan ATP lagi untuk memasukkan NADH ke dalam
mitokondria sehingga 2 NADH menghasilkan 6 ATP.
Akibatnya total hasil bersih ATP yang dihasilkan respirasi
aerob pada organisme prokariotik, yaitu 38 ATP.5

5) Glikogenesis
Kelebihan glukosa dalam tubuh akan disimpan dalam
hati dan otot (glikogen) ini disebut glikogenesis. Glukosa yang
berlebih ini akan mengalami fosforilasi menjadi glukosa-6phospat. Di otot reakssi ini dikatalis oleh enzim heksokinase
sedangkan di hati dikatalis oleh glukokinase. Glukosa-6phospat diubah menjadi glukosa-1-phospat dengan katalis
fosfoglukomutase menjadi glukosa-1,6-biphospat. Selanjutnya
glukosa-1-phospat bereaksi ddengan uridin triphospat (UTP)

untuk membentuk uridin biphospat glukosa (UDPGlc) dengan


katalis UDPGlc pirofosforilase.
Atom C1 pada glukosa yang diaktifkan oleh UDPGlc
membentuk

ikantan

glikosidik

dengan

atom C4 pada residu


glukosa

terminal

glikogen,

sehingga

membebaskan UDP.
Reaksi ini dikatalis
oleh enzim glikogen
sintase.

Molekul

glikogen yang sudah


ada
harus

sebelumnya
ada

untuk

memulai reaksi ini.


Glikogen

primer

selanjutnya dapat terbentuk pada primer protein yang dikenal


sebagai

glokogenin.

Setelah

rantai

glikogen

primer

diperpanjang dengan penambahan glukosa tersebut hingga


mencapai minimal 11 residu glukosa, maka enzim pembentuk
cabang memindahkan bagian dari rantai 1 ke 4 (panjang
minimal 6 residu glukosa0 pada rantai yang berdekatan untuk
membentuk rangkaian 1 ke 6 sehingga membuat titik cabang
pad molekul tersebut. Cabang-cabang ini akan tumbuh dengan
penambahan cabang selanjutnya. Setelah jumlah residu
terminal yang non reduktif bertambaah, jumlah total tapak
reaktif dalam molekul akan meningkat sehinggaa akan
mempercepat glikogenesis maupun glikogenolisis.6
6) Glikogenolisis
Proses perubahan glikogen menjadi glukosa. atau
kebalikan dari glikogenesis.

10

7) Glikoneogenesis
Proses pembentukan glukosa dari senyawa prekursor
karbohidrat pada jaringan hewan (hati), tumbuhan (biji) dan
mikroorganisme

Pada hewan

prekursor penting

dalam

glukoneogenesis :piruvat, gliserol dan asam Amino Reaksi


glukoneogenesis berlangsung di semua organisme dengan pola
yang sama, perbedaan terjadi pada beberapa senyawa metabolit
dan sistem pengaturannya. Perbedaan utama glikolisis dan
glukoneogenesis:
Glikolisis : glukosa menjadi piruvat
Glukoneogenesis : piruvat menjadi glukosa
Pengaturan glikolisis dan glukoneogenesis adalah
secara berlawanan. Asetil KoA akan menghambat secara
allosterik pembentukan piruvat menjadi asetil Ko A, tetapi
meningkatkan piruvat menjadi oksaloasetat.

11

Kelebihan glukosa pada organisme akan diubah


menjadi glikogen (pada hewan), amilum, sukrosa dan
polisakarida yang lain (pada tumbuhan) Glukosa akan diubah
menjadi glukosa nukleotida yakni glukosa-UDP (uridin
difosfat) yang dikatalisis oleh glikogen sintetase untuk
pembentukan ikatan a1 menjadi 4, untuk pembentukan ikatan 1
menjadi 6 oleh glikosil (1 menjadi 6) transferase atau amilo (1
menjadi 4) menjadi (1 menjadi 6) transglikosilase GlukosaUDP juga merupakan substrat bagi sintesis sukrosa sedangkan
glukosa-ADP merupakan substrat bagi sintesis amilum.7
b. Fungsi Karbohidrat
Karbohidrat
mempunyai

peranan

penting

dalam

menentukan karakteristik bahan makanan, seperti rasa, warna dan


tekstur.8
Fungsi karbohidrat di dalam tubuh adalah:
1. Fungsi utamanya sebagai sumber enersi (1 gram karbohidrat
menghasilkan 4 kalori) bagi kebutuhan sel-sel jaringan tubuh.
Sebagian dari karbohidrat diubah langsung menjadi enersi
untuk aktifitas tubuh, clan sebagian lagi disimpan dalam
bentuk glikogen di hati dan di otot. Ada beberapa jaringan

12

tubuh seperti sistem syaraf dan eritrosit, hanya dapat


menggunakan enersi yang berasal dari karbohidrat saja.
2. Melindungi protein agar tidak dibakar sebagai penghasil
enersi. Kebutuhan tubuh akan enersi merupakan prioritas
pertama; bila karbohidrat yang di konsumsi tidak mencukupi
untuk kebutuhan enersi tubuh dan jika tidak cukup terdapat
lemak di dalam makanan atau cadangan lemak yang disimpan
di dalam tubuh, maka protein akan menggantikan fungsi
karbohidrat sebagai penghasil enersi. Dengan demikian protein
akan meninggalkan fungsi utamanya sebagai zat pembangun.
Apabila keadaan ini berlangsung terus menerus, maka keadaan
kekurangan enersi dan protein (KEP) tidak dapat dihindari
lagi.
3. Membantu metabolisme lemak dan protein dengan demikian
dapat mencegah terjadinya ketosis dan pemecahan protein
yang berlebihan.
4. Di dalam hepar berfungsi untuk detoksifikasi zat-zat toksik
tertentu.
5. Beberapa jenis karbohidrat mempunyai fungsi khusus di dalam
tubuh. Laktosa rnisalnya berfungsi membantu penyerapan
kalsium. Ribosa merupakan merupakan komponen yang
penting dalam asam nukleat.
6. Selain itu beberapa golongan karbohidrat yang tidak dapat
dicerna, mengandung serat (dietary fiber) berguna untuk
pencernaan, memperlancar defekasi.
2. Protein
Protein bersama karbohidrat dan lemak merupakan sumber
energi bagi tubuh. Protein tersusun dari molekul-molekul yang disebut
asam amino. Di dalam tubuh mamalia asam amino terbagi menjadi dua
bagian yaitu asam amino esensial dan non esensial. Asam

amino

esensial ialah asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh. Asam
amino esensial dapat disintesis oleh tubuh namun tetap diperlukan

13

asupan dari makanan untuk menjaga keseimbangan asam amino


tersebut di dalam tubuh.9
Metabolisme protein meliputi:
1. Degradasi protein (makanan dan protein intraseluler) menjadi asam
amino
2. Oksidasi asam amino
3. Biosintesis asam amino
4. Biosintesis protein
Gambar 1. Jalur metabolisme asam amino dalam siklus asam sitrat

Setiap asam amino didegradasi menjadi piruvat atau zat siklus


asam sitrat lainnya dan dapat menjadi prekrusor sintesis glukosa di
hepar yang disebut glikogenik atau glukoneogenik. Untuk beberapa
asam amino seperti tirosin dan fenilalanin, hanya sebagian dari rantai
karbonnya yang digunakan untuk mensintesis glukosa karena sisa
rantai karbon di ubah menjadi asetil koa yang tidak dapat digunakan
untuk sintesis glukosa. 9
Sedangkan metabolisme protein menurut Suparyanto dalam
Mulasari dan Tri6 yaitu:
a. Penggunaan Protein untuk Energi
Jika jumlah protein terus meningkat protein sel dipecah
jadi asam amino untuk dijadikan energi atau disimpan dalam
bentuk lemak. Pemecahan protein jadi asam amino terjadi di hati
dengan proses deaminasi atau transaminasi. Deaminasi merupakan

14

proses pembuangan gugus amino dari asam amino sedangkan


transaminasi adalah proses perubahan asam amino menjadi asam
keto.
b. Pemecahan Protein
Transaminasi yaitu mengubah alanin dan alfa ketoglutarat

menjadi piruvat dan glutamate.


Diaminasi yaitu mengubah asam amino dan NAD+ menjadi
asam keto dan NH3. NH3 merupakan racun bagi tubuh, tetapi
tidak dapat dibuang oleh ginjal. Maka harus diubah dulu
menjadi urea (di hati) agar dapat dibuang oleh ginjal.

c. Ekskresi NH3
NH3 tidak dapat
diekskresi
ginjal

dan

oleh
harus

diubah dulu menjadi


urea oleh hati. Jika
hati

ada

kelainan

(sakit) maka proses


pengubahan

NH3

akan terganggu dan


akan

terjadi

penumpukan NH3 di
dalam darah yang menyebabkan terjadinya uremia. NH3 bersifat
meracuni otak yang dapat menyebabkan koma. Jika hati telah rusak
maka disebut koma hepatikum.
d. Pemecahan Protein
Deaminasi maupun

transaminasi

merupakan

proses

perubahan protein menjadi zat yang dapat masuk ke dalam siklus


Krebs. Zat-zat yang dapat masuk adalah alfa ketoglutarat, suksinil
Ko-A, fumarat, oksaloasetat, dan sitrat.

15

e. Siklus Krebs
Siklus

ini

merupakan

proses

perubahan asetil Co-A menjadi H dan


Proses

ini

terjadi

di

CO2.

mitokondria.

Pengambilan asetil Co-A di


sitoplasma dilakukan
oleh oksaloasetat. Proses
pengambilan ini terus
berlangsung
asetil

sampai

Co-A

sitoplasma

di

habis.

Oksalo asetat berasal dari asam


piruvat.

Jika

asupan

nutrisi kekurangan karbohidrat


maka juga akan kekurangan asam piruvat dan oksaloasetat.
f. Rantai Respirasi
Hydrogen hasil utama dari siklus krebs ditangkap oleh carrier
NAD menjadi NADH. Hydrogen dari NADH ditransfer ke

16

flavoprotein, quinon, sitokrom b, sitokrom c, sitokrom a3, terus


direaksikan dengan O2 membentuk H2O dan energy.
g. Fosfoilasi Oksidatif
Dalam proses rantai respirasi dihasilkan energy yang tinggi,
energy tersebut ditangkap oleh ADP untuk menambah satu gugus
fosfat menjadi ATP.
h. Keratin dan Kreatinin
Keratin disintesa di hati dari metionin, glisin, dan arginin.
Dalam otot rangka difosforilasi fosforilkreatin (simpanan energy).
Fosforilkreatin dapat mejadi kreatinin dan gerak urine.
3. Lemak
Lemak merupakan sumber nutrisi yang disimpan dari tubuh dan
berasal dari makanan yang dikonsumsi. Zat gizi ini menyumbangkan
60 % dari total energi yang dibutuhkan pada saat beristirahat dan juga
dibutuhkan dalam jumlah lebih besar saatz berolahraga. Ketika
mengonsumsi makanan yang mengandung lemak, maka akan terjadi
penyimpanan dalam tubuh. Selain itu jika terdapat kelebihan konsumsi
protein dan karbohidrat, maka kedua zat ini akan dikonversi menjadi
lemak. Namun, reaksi ini tidak terjadi sebaliknya, lemak tidak dapat
diubah kembali menjadi protein dan karbohidrat. Lemak, disebut juga
lipid, adalah suatu zat yang kaya akan energi, berfungsi sebagai
sumber energi yang utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak
yang beredar di dalam tubuh diperoleh dari dua sumber yaitu dari
makanan dan hasil produksi organ hati, yang bisa disimpan di dalam
sel-sel lemak sebagai cadangan energy.10
a. Metabolisme Lemak
Metabolisme Lemak Ada 3 fase:

oksidasi: proses merubah asam lemak menjadi asetil Co-A


Siklus Kreb: proses merubah asetil Co-A menjadi H
Fosforilasi Oksidatif: proses mereaksikan H + O menjadi H2O
+ ATP

17

Di mulut, lemak mulai mengalami tahapan pencernaan,


terjadi penyesuaian suhu tertentu pada saat lemak dikunyah di
mulut. Pada lambung, lemak mengalami proses pencernaan
dengan bantuan asam dan enzim menjadi bentuk yang lebih
sederhana. Selanjutnya lemak akan memasuki hati, empedu, dan
masuk ke dalam usus kecil. Dari kantung empedu lemak akan
bergabung dengan bile yang merupakan senyawa yang penting
untuk proses pencernaan pada usus kecil. Selanjutnya hasil
pemecahan tersebut akan diubah oleh enzim lipase pankreas
menjadi asam lemak dan gliserol. Kelebihan lemak kemudian
disimpan dalam tubuh, dan sebagai akan bergabung dengan
senyawa lain seperti fiber yang akan di keluarkan melewat usus
besar.
b. Jalur Pengangkutan Lemak dalam Darah
Lemak dalam darah diangkut dengan dua cara, yaitu melalui
jalur eksogen dan jalur endogen.
Jalur eksogen: Trigliserida & kolesterol yang berasal dari
makanan dalam usus dikemas dalam bentuk partikel besar
lipoprotein, yang disebut Kilomikron. Kilomikron ini akan
membawanya ke dalam aliran darah. Kemudian trigliserid
dalam kilomikron tadi mengalami penguraian oleh enzim
lipoprotein lipase, sehingga terbentuk asam lemak bebas dan
kilomikron remnan. Asam lemak bebas akan menembus
jaringan lemak atau sel otot untuk diubah menjadi trigliserida
kembali sebagai cadangan energi. Sedangkan kilomikron
remnant

akan

dimetabolisme

dalam

hati

sehingga

menghasilkan kolesterol bebas. Sebagian kolesterol yang


mencapai organ hati diubah menjadi asam empedu, yang akan
dikeluarkan ke dalam usus, berfungsi seperti detergen &
membantu proses penyerapan lemak dari makanan. Sebagian
lagi dari kolesterol dikeluarkan melalui saluran empedu tanpa
dimetabolisme menjadi asam empedu kemudian organ hati

18

akan mendistribusikan kolesterol ke jaringan tubuh lainnya


melalui jalur endogen. Pada akhirnya, kilomikron yang tersisa
(yang lemaknya telah diambil), dibuang dari aliran darah oleh
hati. Kolesterol juga dapat diproduksi oleh hati dengan bantuan
enzim yang disebut HMG Koenzim-A Reduktase, kemudian

dikirimkan ke dalam aliran darah.


Jalur endogen: Pembentukan trigliserida dalam hati akan
meningkat apabila makanan sehari-hari mengandung karbohidrat
yang berlebihan. Hati mengubah karbohidrat menjadi asam lemak,
kemudian membentuk trigliserida, trigliserida ini dibawa melalui
aliran darah dalam bentuk Very Low Density Lipoprotein (VLDL).
VLDL kemudian akan dimetabolisme oleh enzim lipoprotein lipase
menjadi IDL (Intermediate Density Lipoprotein). Kemudian IDL
melalui serangkaian proses akan berubah menjadi LDL (Low
Density Lipoprotein) yang kaya akan kolesterol. Kira-kira dari
kolesterol total dalam plasma normal manusia mengandung
partikel LDL. LDL ini bertugas menghantarkan kolesterol ke
dalam tubuh. Kolesterol yang tidak diperlukan akan dilepaskan ke
dalam darah, dimana pertama-tama akan berikatan dengan HDL
(High Density Lipoprotein). HDL bertugas membuang kelebihan
kolesterol dari dalam tubuh. Itulah sebab munculnya istilah LDLKolesterol disebut lemak jahat. dan HDLKolesterol disebut lemak
baik. Sehingga rasio keduanya harus seimbang. Kilomikron
membawa lemak dari usus (berasal dari makanan) dan mengirim
trigliserid ke sel-sel tubuh. VLDL membawa lemak dari hati dan
mengirim trigliserid ke sel-sel tubuh. LDL yang berasal dari
pemecahan IDL (sebelumnya berbentuk VLDL) merupakan
pengirim kolesterol yang utama ke sel-sel tubuh. HDL membawa

kelebihan kolesterol dari dalam sel untuk dibuang.10


c. Pencernaan Lemak
Makanan akan melewati kerongkongan menuju lambung,
tempat penyerapan lemak berlangsung. Di sini, 10-20% lemak dari
makanan dipecah. Lemak tersebut akan memasuki usus kecil, di

19

mana tetes-tetes lemak besar diuraikan lebih lanjut oleh kontraksi


usus (peristaltik) dan emulsifier (asam empedu dan lesitin) menjadi
tetesan lemak yang lebih kecil. Sebagian besar lemak pada
makanan berbentuk trigliserida. Trigliserida terdiri dari rangka
struktur gliserol dengan tiga asam lemak yang menempel dan
menjadi bentuk molekuler seperti huruf besar E. Enzim lipase
gastrointestinal memecah trigliserida yang terdapat di tetesan
lemak kecil menjadi asam lemak bebas dan monogliserida, yang
cukup kecil untuk memasuki sel-sel mukosa dinding usus. Untuk
itu, molekulmolekul ini harus dapat larut dalam air. Asam empedu
membungkus asam lemak bebas, monogliserida, vitamin yang larut
dalam lemak, lesitin dan kolesterol untuk membentuk tetesan
mikroskopik larut air yang disebut misel. Misel kemudian menuju
dinding sel dinding usus, di mana asam lemak bebas dan
monogliserida melewati membran dan memasuki sel. Misel sendiri
tidak melewati membran. Setelah memasuki sel mukosa, asam
lemak dan monogliserida bergabung lagi menjadi trigliserida.
Proses pencernaan selesai dan lemak dapat diedarkan melalui
sistem limfatik menuju sistem peredaran darah lalu ke seluruh
tubuh untuk digunakan sebagai energi atau disimpan di sel lemak
yang disebut dengan adiposity.10
Lemak yang terdapat dalam diet sebagian besar merupakan
lemak netral (trigliserida) yang tersusun atas molekul gliserol, dan
3 molekul asam lemak. Pelarutan (solubilisasi) hasil lipolisis di
dalam garam empedu. Digesti lemak sudah mulai terjadi di mulut
dan lambung oleh enzim lipase ludah Lipase ludah dihasilkan oleh
kelenjar Ebner di pemurkaan dorsal lidah. Lipase ludah berfungsi
untuk hidrolisa asam lemak, proses emulsifikasi dan membantu
kerja lipase pankreas dan lipase lambung. Lipase lambung
berfungsi untuk hidrolisa asam lemak dan gliserol. Namun
demikian proses digesti lemak dalam mulut dan lambung sangat
kecil jumlahnya. Tetapi bila pankreas mengalami gangguan fungsi,
aktifitas lipase ludah dan lambung akan meningkat. Digesti lemak

20

sebagian besar terjadi di usus halus yaitu di duodenum oleh enzim


lipase pankreas.Enzim ini melakukan hidrolisa semua trigliserida
hanya dalam waktu beberapa menit. Sel epitel usus halus juga
menghasilkan lipase enterik dalam jumlah kecil. Aktifitas enzim
lipase pankreas mencapai puncaknya pada pH 8.0. pH yang lebih
rendah dari 3.0 akan merusak enzim ini. 10
d. Penyimpanan Lemak dalam Tubuh
Lemak yang disimpan dalam tubuh dibedakan menjadi dua
jenis yaitu:
lemak subkutan Lemak subkutan terdapat tepat dibawah

jaringan kulit dan


lemak visceral. Lemak visceral terdapat di dekat organ tubuh
bagian dalam. Lemak visceral ini berfungsi untuk melindungi
organ-organ tubuh bagian dalam.
Kedua jenis lemak tersebut dapat dikurangi dengan cara yang

berbeda. Lemak visceral dapat dikontrol dengan menjaga pola


makan lemak yang tidak berlebihan, sementara lemak yang
terdapat

langsung

dibawah

kulit

dapat

dikurangi

dengan

berolahraga. Kelebihan lemak ini biasanya akan menumpuk pada


bagian tertentu pada tubuh seperti perut, pinggul, dan paha, namun
yang paling jelas terlihat pada bagian perut. Faktor lain yang juga
mempengaruhi penumpukan lemak tersebut adalah stress. Stress
dapat mempengaruhi selera makan dan dapat menyebabkan
penumpukan

lemak

semakin

meningkat,

secara

mudah

mekanismenya dapat dijelaskan sebagai berikut: Stress merupakan


stimulus yang dikirimkan ke otak dan kemudian otak akan
mengirimkan sinyal ke tubuh untuk meningkatkan nafsu makan.
Hasilnya, kecenderungan untuk mengonsumsi makanan akan
mengalami peningkatan. 10
e. Emulsfikasi Lemak
Tahap pertama dari digesti lemak ialah memecahkan globulus
lemak kedalam ukuran yang lebih kecil sehingga enzim-enzim

21

lipolitik yang larut dalam air dapat bekerja pada permukaan


globulus. Proses ini disebut sebagai proses emulsifikasi lemak,
yang berlangsung di bawah pengaruh empedu yang dihasilkan oleh
hati. Empedu tidak mengandung enzim pencernaan tetapi
mengandung garam empedu dan lesitin-fosfolipid yang sangat
penting untuk emulsifikasi lemak. Bila garam empedu di dalam
usus meningkat, lemak dan garam empedu secara spontan
membentuk micelles yang merupakan globulus dengan ukuran 36nm yang terdiri dari molekul garam empedu dan molekul lemak
yang terutama asam lemak, monogliserida, dan kholesterol.
Pembentukan micelles akan melarutkan lemak yang selanjutnya
memungkinkan lemak tersebut di absorbsi melalui sel epitel usus
halus. Setelah melewati epitel usus
halus , monogliserida dan asam lemak
akan

diproses

oleh

retikulum

endoplasmik halus ,yang kemudiannya


akan dirubah menjadi molekul trigliserida
yang baru dan ditransportasi ke dalam
limpe chylomicrons dan mengalir melalui
duktus

thoracikus

limpatikus

dan

selanjutnya ke sirkulasi darah.


Bile + agitation
Fat > emulsified fat
Pancreatic lipase
Emulsified fat> fatty

acids

2-

monoglycerides
Enzim lipase yang berperan pada emulsifikasi ini, akan
memecah

trigliserida

monogliserida.

Untuk

menjadi
dapat

asam

lemak

menembus

bebas

dinding

dan
usus,

monogliserida dan asam lemak bebas ini harus berikatan terlebih


dahulu dengan garam empedu untuk membentuk micelle. Bagian
dalam usus kecil diselimuti dengan apa yang disebut villi yang
berfungsi memperluas permukaan, guna mempercepat penyerapan

22

hasil-hasil pencernaan. Saat lemak diabsorpsi, akan melewati small


lymph

vessels

yang

disebut

lacteal,

untuk

kemundian

didisstribusikan ke dalam sistem limpa dan masuk ke dalam sistim


sirkulasi. 10
f. Fungsi Lemak
Lemak merupakan nutrisi yang berfungsi sebagai10:
Sumber cadangan energi yang disimpan dalam tubuh
Media untuk transportasi beberapa vitamin yg larut dalam

lemak (vitamin A, D,E, dan K)


Membantu menekan lasa

rapar

dengan

mekanisme

memperlambat pengosongan pada lambung sehingga rasa

kenyang dapat bertahan lebih lama.


Merupakan zat gizi yang menambah citarasa pada makanan
pembentukan sel,
sumber asam lemak esensial,
menghemat protein,
sebagai pelumas, dan
memelihara suhu tubuh

4. Mineral
a. Pengertian
Unsur mineral adalah unsur kimia selain karbon, hidrogen,
oksigen dan nitrogen yang dibutuhkan oleh tubuh. Dalam makanan,
unsu-unsur tersebut kebanyak terdapat dalam bentuk garam-garam
organik, seperti natium klorida. Namun, beberapa mineral juga
terdapat bentuk senyawa organik seperti sulfur dan fosfor. Sekitar
45 berat tubuh manusia tersusun atas unsur mineral. Sejumlah
mineral, seperti kalsium dan fosfor, terdapat dalam jumlah yang
relatif besar di dalam sel tubuh. Mineral lain yang terdapat dalam
jumlah yang sangat sedikit dikenal dengan istilah unsur kelumit
trace element).11
b. Fungsi Mineral
Unsur mineral mempunyai beberapa fungsi dalam tubuh.
Sebagai contoh, kalsium, fosfor dan magnesium penting untuk
penyusunan tulang dan gigi. Dari segi nutrisi, kalsium dan zat besi

23

adalah unsur mineral yang paling penting karena terdapat dalam


jumlah sedikit disusunan makanan. Sedangkan unsur kelumit yang
terpenting bagi tubuh adalah iodin, sebab unsur ini dibutuhkan oleh
kelenjar tiroid untuk membentuk tiroksin, yakni hormon yang
berperan dalam pengaturan kecepatan oksidasi nutien dalam sel
tubuh.11
c. Klasifikasi Mineral11
Nama

Fungsi

Jumlah

Mineral

sumber

Defisiensi

kebutuha

atau

n perhari

Kelebihan

Kalsium

Bersama

Dewasa:

Susu,

(Ca)

fosfor

0,8 g

kuning telur, karies

membentuk
matriks
tulang

dan

gigi,

Anakanak: 1,4
g

keju Defisiensi:

mentega,

gigi,

udang,

(pertumbuhan

sayuran kol, tulang


wortel,kacan

sempurna),

proses

hamil

: g-kacangan,

pembekuan

1,5 g

bawang,

kejang

buah-buahan

otot,

penggumpala
n

darah,

proses

yang

tidak

Ibu

Ibu

rakitis

bit,

membantu

dan

pada

mudah terjadi
pada
darah

sulit

menyusui

membeku,

: 2,0 g

osteoporosis,

kontraksi

Kelebihan:

otot,

hiperkalsemia

transmisi
implus saraf
Fosforus (P) Pembentukan

1,14

% Ikan, jagung, Defisiensi:

matriks

berat

kacang-

pada

tulang,

tubuh (0,8 kacangan

hakikatnya

kontraksi

g)

sama dengan

24

otot,

defisiensi Ca,

metabolisme,

demineralisas

bahan

i tulang

baku

fosfatid,
pembelahan
sel
Besi (Fe)

Komponrn

15-30 mg

Sayuran

Defisiensi:

enzim

hijau: bayam, anemia

sitokrom

kangkung

yang

Kelebihan:
sirosis

berperan

pada

hati

dalam
respirasi sel,
komponen
inti

logam

dari
hemoglobin
Natrium

Membentuk

0,1-0,2 % Garam dapur

Defisiensi:

(Na)

natrium

berat

nilai osmotik

bikarbonat

tubuh

cairan

yang

ekstraseluler

berperan

turun

dalam

sehingga

keseimbanga

mengakibatka

n asam-basa

cairan tubuh,

terganggunya

membantu

pengaturan

mempertahan

suhu

kan

kejang

iritabilitas

kelelahan

kepekaan

terhadap

tubuh,
otot,

Kelebihan:

25

rangsangan)

tekanan darah

sel-sel

tinggi

otot

dan

saraf,

keseimbanga
n

osmotik

cairan
ekstraseluler
Kalium (K)

Sebagai

0,1-0,2%

Daging

Defisiensi:

katalisator

berat

unggas,

hambatan

pembentukan

badan

buah-buahan,

pertumbuhan,

karbonhidrat

sayur-

kelemahan

dan

sayuran

otot,

protein,

denyut

kontraksi

jantung tidak

otottransmisi

normal

implus saraf,

Kelebihan:

memelihara

kejang

denyut

otot,

bahkan

jantung,

kematian

pengaturan
pelepasan
insulin

dari

pancreas
Iodin (I)

Berperan

0,14%

Ikan

penting

berat

minyak ikan, kurangnya

dalam

faal tubuh

sayuran

laut, Defisiensi:
pendengaran

kelenjar

hijau,

kulit pada

janin

tiroid,

kentang,

yang

komponen

garam

dikandung,

penyusun

beriodin

pembengkaka

hormon

kelenjar

tiroksin

gondok,
kecerdaasan

26

menurun,
kerdil
Kelebihan:
aktivitas
tiroid
menurun
Belerang

Komponen

Tergantun

Telur, daging, Defisiensi:

(S)

penyusun

keju, sayuran

beberapa

kebutuhan

vitamin

dengan asam

: asam

amino sulfur

tiamin, biotin, amino


asam

berhubungan

Kelebihan:

sulfur

pertumbuhan

pathotenat,

terhambat

aktivator
enzim,
membantu
penyimpanan
dan
pembebasan
energy
Magnesium

Respirasi

(Mg)

intra

0,07%
sel, berat

katalisator

tubuh

Padi-padian,

Defisiensi:

daging, susu

kontrol emosi
dan

mental

beberapa

turun,

reaksi

perubahan

biokimia

yang

tubuh, unsur

mengarah

penting

pada

dalam

otot,

tulang

dan

eritrosiy

kerusakan
ginjal

dan

kardiovaskule

27

r
Kelebihan:
diare
Flourin (F)

Mengutamak

Telur,

an

garam,

dan

mmeningkatk

susu, Defisiensi:
ikan gigi

laut, teh

an daya tahan

gigis

(karies dentis)
Kelebihan:

gigi

gigi

corang-

coreng,
kepadatan
gigi
meningkat,
mengganggu
implus saraf
Klorin (Cl)

Komponen

2g

Garam dapur

Defisiensi

penyusun

kontrasksi

asam

otot abnormal

lambung,
keseimbanga
n asam basa

5. Vitamin
d. Pengertian
Vitamin adalah sekelompok senyawa kompleks organik yang
dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah kecil agar tetap sehat.
Penyakit akibat kekurangan vitamin telah dikenal selama berabadabad, akan tetapi tidak diketahui penyebabnya. Skorbut, suatu
penyakit akibat kekurangan vitamin C, dahulu sering dijumpai di
antara para pelaut yang mengadakan perjalanan jauh. Ternyata
penyakit tersebut dapat dicegah dengan mengonsumsi sayuran dan
buah-buahan segar. Hal ini pertama kali diperkenalkan oleh Kapten

28

Cook. Vitamin sendiri pertama kali diperkenalkan pada tahun 1912


oleh Hopkins.12
e. Jenis-jenis Vitamin
Vitamin yang Larut dalam Lemak
Vitamin yang termasuk dalam kelompok ini adalah vitamin A,
D, E dan K (Kozier & Erb, 1983). Normalnya, tubuh dapat
menyimpan vitamin jenis ini, meskipun terdapat batasan jumlah
untuk vitamin A dan K. Oleh karena itu, asupan vitamin larutlemak setiap hari merupakan keharusan. Akan tetapi, dalam
keadaan luar biasa, asupan vitamin lrut-lemak secara berlebihan
mungkin dilakukan. Vitamin A dan D disimpan dalam hati.
Banyaknya vitamin A dan D dapat diukur dalam satuan
mikrogram. 12
1) Vitamin A
Vitamin A diukur dalan retinol ekuivalen. Setiap 1
mikrogram retinol setara dengan 6 mikrogram karoten.
Retinol dijumpai pada minyak ikan, hati, mentega, susu, keju,
telur, serta minyak nabati. Sedangkan sumber vitamin A yang
utama adalah hati, wortel, mentega, susu, dan margarin.
Fungsi Vitamin A:
Mendukung pertumbuhan dan metabolisme sel-sel tubuh.
Membantu penbentukan rodopsin, yakni pigmen yang
terdapat dalam retina. Membran bagian belakang mata
penting untuk membantu penglihatan dalam sinar yang

redup.
Memelihara kesehatan jaringan permukaan, terutama
membran selaput lendir yang berair, seperti kornea dan

saluran pernafasan.
Mendukung pertumbuhan dan perkembangan tulang yang
baru serta memiliki sifat anti-kanker. 12

2) Vitamin D
Senyawa ini berwarna putih dan berbentuk kristal yang
larut dalam minyak dan lemak. Vitamin D banyak terdapat
pada minyak hati ikan, hati, telur, mentega, keju dan juga
susu. Meskipun dalam kadar yang rendah. Selain itu sinar

29

matahari juga berperan membantu pembentukan vitamin D.


Jumlah vitamin D yang terbantuk tergantung pada lama
kontak kulit dengan sinar matahari. Pada orang kulit hitam,
sistesisnya berkurang.12
Jenis-jenis Vitamin D
Kolekalsiferol (vitamin D3). Bentuk alami vitamin ini
dapat ditemukan dalam makanan. Vitamin ini terbentuk di
bawah kulit karena pengaruh sinar matahari (sinar

ultraviolet).13
Ergokalsiferol (vitamin D2). Bentuk sintetik vitamin ini
mempunyai aktivitas yang sama dengan vitamin alami.
Dihasilkan dari iradiasi ultraviolet pada ergosterol, sutu
senyawa yang dapat diekstraksi dari khamir. Bentuk inilah
yang ditambahkan ke dalam beberapa komoditi, seperti
margarin dan makanan bayi.13

Fungsi Vitamin D
Penting untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tulang dan

gigi.
Membantu absorbsi kalsium dari usus dan menyerap
kalsium dan fosfor oleh tulang dan gigi.
Defisiensi vitamin D dapat menyebabkan rakhitis,

gangguan absorbsi kalsium dan pelinakan tulang serta


osteomalasia yang ditandai dengan pelunakan tulang,
kelemahan dan nyeri pada individu dewasa. Anak balita, ibu
hamil dan menyusui dianjurkan untuk mengkonsumsi 10 mg
kolekalsiferol setiap harinya. Sedangkan individu dewasa
yang jarang sekali terkena sinar matahari dianjurkan
mengkonsumsi 10 mg kolekalsiferon setiap hari.12
3) Vitamin E
Bahan makanan yang mengandung vitamin E antara
lain biji gandum, sayuran hijau, dan minyak sayur. Fungsi
vitamin E bagi tubuh adalah untuk membantu memelihara

30

struktur sel dan membantu pembaentukan sel darah merah.


Kebutuhan vitamin E tubuh sekitar 15 IU setiap harinya.
Meskipun jarang terjadi, defisiensi vitamin E dapat
menyebabkan kemandulan pada hewan jantan. Oleh karena
itu, vitamin ini dikenal sebagai vitamin anti-kemandulan.12
4) Vitamin K
Bahan makanan yang mengandung vitamin K antara
lain sayuran hijau, hati, kacang kedelai. Vitamin K sangan
penting untuk membantu pembentukan protombin dalam hati
sehingga perperan dalam proses pembentukan darah. Dalam
tubuh, vitamin ini disintesis oleh bakteri dalam kolon.
Kebutuhan vitamin K harian tubuh belum diketahui secara
pasti.
Vitamin yang Larut dalam Air
Jenis vitamin larut-air menliputi vitamin C dan kelompok
vitamin B. Karena larut dalam air, vitamin ini tidak tersimpan
dalam tubuh. Kelebihannya akan dikeluarkan melalui urine. 14
1) Vitamin B
Senyawa yang termasuk vitamin B, antara lain:
a) Tiamin (B1). Vitamin ini berbentuk padat, berwarna putih,
dan larut dalam air. Tiamin banyak ditemukan pada bijibijian serealia, terutama lembaga dan bekatul biji-bijian.
Selain tiu, tiamin juga ditemukan pada beras pecah putih,
daging (terutama bacon, ham dan daging babi), kentang,
kapri, buncis, kacang-kacangan, susu, danroti tawar.
Tiamin berperan dalam oksidasi nutrien dan pelepasan
energi dalam tubuh. Di dalam sel tubuh, glukosa dipecah
secara berlahan melalui suatu reaksi yang melepaskan
energi, dan tata cara yang terkontrol. Reaksi tersebut
membutuhkan suatu enzim khusus. Dalam hal ini,
senyawa kompleks yang mengandung tiamin bertindak
sebagai enzim tersebut. Defisiensi tiamin menyebabkan
terlambatnya oksidasi glukosa dalam tubuh. Dengan kata

31

lain, hanya sebagian glukosa saja yang teroksidasi. Bila


pemecahan glukosa terhenti, akan terjadi peningkatan
asam piruvat dalam darah yang menyebabkab kelemahan
otot, jantung berdebar, dan degeneratif saraf. Gejala diatas
merupakan gejala utama penyakit beri-beri.
b) Riboflavin (vitamin B2). Senyawa ini berwarna kuning dan
larut dalam air. Riboflavin banyak ditemukan dalam keju,
hati (sumber riboflavin yang amat kaya 3,10 mg/100 g),
ginjal, telur, susu, daging, kentang, dan sayuran hijau.
Selain itu riboflavin juga t=dapat ditemukan dalam roti
dan serealia, tetapi dalam jumlah yang sedikit. Fungsinya
ialah untuk membentuk bagian sistem enzim yang penting
bagi oksidasi glukosa dan pelepasan energi dalam sel
tubuh. Defisiensi riboflavin akan mempengaruhi mata,
lidah, dan bibir. Gejala yang muncul meluputi pecahpecah pada sudut bibir dan bengkak kemerahan pada
lidah. Akan tetapi, gejala tersebut tidak spesifik untuk
defisiensi

riboflavin,

bisa

juga

disebabkan

oleh

kekurangan vitamin B lain. Kebutuhan riboflavin harian


untuk pria dewasa adalah 1,6 mg, sedangkan untuk wanita
dewasa 1,3 mg.
c) Asam nikotinat. Senyawa ini dikenal dengan nama niasin.
Bentuknya padat, berwarna putih, berbentu kristal, dan
larut dalam air. Di dalam tubuh, asam nikotinat diubah
menjadi amidanya, yaitu nikotinamida. Nikotinamida juga
dibentuk

dari

asam

amino

triptofan

di

dalam

tubuh.Sumber asam nikotinat terdistribusi secara luas


dalam bahan nabati dan hewani. Makanan yang memiliki
aktivitas asam nikotinat yang baik meliputi khamir,
daging, ikan, keju, sayuran, kacang-kacangan, serealia,
susu, telur, kentang dan bir. Asam nikotinat berperan
dalam membentuk bagian sistem enzim yang diperlukan
untuk untuk oksidasi glikosa dan pelepasan energi dalam

32

sel tubuh. Defisiensi asam nikotinat dalam waktu yang


lama dapat menimbulkan penyakit yang disebut pelagra.
Gejala pelagra meliputi diare, radang kulit (pada kulit
yang terkena sinar matahari tampak bersisik dan
kehilangan warna), dan demensia (gangguan mental).
Jumlah kebutuhan asam nikotinat harian untuk pria
dewasa 18 mg ekuivalen, sedangkan untuk wanita dewasa
15 mg ekuivalen (18 mg ekuivalen selama kehamilan).
2) Vitamin C
Senyawa ini berwarna putih, berbentuk kristal, dan larut
dalam air. Vitamin ini benyak ditemukan pada hampir semua
bahan pangan nabati seperti sayuran dan buah-buahan segar.
Akan tetapi, tidak ditemukan dalam serealia dan sayuran
seperti kacang-kacangan yang kering. Selain dalam panganan
nabati, vitamin C juga ditemukan dalam bahan pangan
hewani sperti hati, ginjal mentah, susu segar, tetapi dalam
jumlah yang sedikit. Vitamin C tidak rusak setelah
pasteurisasi. Defisiensi vitamin C dapat menyebabkan
shorbut (scuroy) dengan gejala memar dan pendarahan
spontan dibawah kulit. Gusi menjadi hitam seperti spons,
luka, retak, dan lama untuk sembuh. Ciri-ciri defisiensi yang
umum terlihat adalah anemia akibat kegagalan atau gangguan
absorbsi zat besi serta ketidakmampuan membentuk sel-sel
darah merah. Skorbut umumnya terjadi pada akhir musim
dingin atau awal musim semi karena langkanya persediaan
sayuran dan buah-buahan segar. Asupan vitamin C 10 mg
perhari cukup untuk mengobati dan mencegah skorbut.
Jumlah asupan vitamin C yang dianjurkan adalah 30 mg hari
(60 mg hari untuk wanita hamil).
Fungsi Vitamin C
Mendukung pembentukan semua

jaringan

terutama jaringan ikat.


Membantu absorbsi zat besi dalam usus halus.

tubuh,

33

Nama

Fungsi

vitamin

Jumlah

sumber

Defesiensi

kebutuhan

dan
kelebihan

Larut

Koenzim

1,5 mg

dalam air dalam


B
komplek
s:
B1:
Aneurin
(thiamin)

Kulit

ari Defisiensi:

beras/gand

pelepasan

um,

hati,

CO2 selama

jantung,

respirasi sel,

ginjal,

absropsi

otak, susu,

lemak,

kuning

keseimbanga

telur ,hati,

n air dalam

ragi

tubuh,

Aneuriti

menjaga

nafsu makan

menghambat
proses
glikolisis, sel
keracunan
asam piruvat,
kontraksi
otot jantung
dan transmisi
implus saraf
pusat
melemah,

Anti

nafsu makan

beri-beri

turun,
penumpukan

C12H17

cairan

ON4S

pada

jaringan,
sehingga
menderita
beri-beri
Kelebihan:
belum
diketahui

B2:
Riboflavi

Enzim
pembawa

1,8 mg

Ragi,
telur, hati,

Defisiensi:
luka

kulit

34

n
Laktofla
vin

hidrogen

otak,

terutama

berenergi

jantung

disudut

tinggi

pada

mulut

dan

proses

bibir

C17H22

transport

(keilosis),

O6

elektron,

terdapat

transmisi

pembuluh

rangsang

darah

cahaya,
saraf

ke

pada

kornea

mata,

sehingga

menjaga

penglihatan

nafsu makan,

kabur,

memelihara

katarak,

jaringan

dapat

seekitar

mengakibatk

mulut

an kebutaan
Kelebihan:
belum
diketahui

B3:

Pembelahan

20 mg

Ragi, hati, Defisiensi:

dan

ikan tuna,

pertumbuhan

telur, susu,

Asam

sel,

beberapa

nikotin

mencegah

macam

pelagra,

sayuran

Niasin

Anti
pelegra

dengan fosfat
membentuk

C6H5N

koenzim

O2

yang
berperan
dalam

penyakit
palagra
dengan
gejala

3D

(dermatitis,di
are,
dimensia)
Kelebihan:
kulit
desekitar

35

respirasi sel

leher, muka,
dan

telapak

tangan
terkelupas,ter
bakar,

dan

gatal-gatal
B5:
Asam
pathoten
at

Komponen

5-10 mg

struktur

Ragi, hati, Deefisiensi:


kuning

koenzim

telur,

yang

daging

berperan

penyakit
kulit,

nafsu

makan
menurun,

C9H7O5

dalam

oksidasi sel

insomnia,
dermatitis,
Kelebihan:
belum
diketahui

B6:
Piridoksi
n

Petumbuhan

2 mg

Ragi,

dan

gandum,

pembentukan

jagung,

sel-sel darah

hati, ikan

C8H12O

merah,

3N

kulit,

sel

metabolisme
lemak,
bagian

dari

gugus
prostetik dari
enzim
karboksilase
dan

Defisiensi:
palagra,
anemia,
obstipasi,
pertumbuhan
anak
terhmbat,
kejang otot
Kelebihan:
belum
diketahui

36

transaminase
yang
berperan
dalam
mengubah
kelebihan
asam amino
B11:
Asam
folat

Penting untuk 0,4 mg

Pisang,

pembentukan

lemoon,

sel

polong,

darah

merah,

dan

Defesiensi:
,

kecambah,

C19H19

asam nukleat

gandum,

O6N7

(RNAdanDN

ragi,

A)

daging
sapi

anemia
pernisiosa,
radang pada
lidah, diare,
pertumbuhan
pada

usia

remaja
terhambat
Kelebihan:
belum
diketahui

B12:

Koenzim

0,003 mg

Telur,

dalam

susu, hati,

metabolisme

ikan,

asam amino,

udang,

Antiane

merangsang

kerang,

mia

pembentukan

daging

Sianokob
alamin

Pernisios
a
C63H9O

sel

darah

merah
(eritropoietis)

Defesiensi:
anemia
pernisiosa,
mempengaru
hi saraf,
Kelebihan:
belum
diketahui

37

Biotin
Vitamin
H

Koenzim

0,15-0,3 mg

Kacang-

dalam

kacangan,

pembentukan

sayuran,

lemak,

ragi

C10H16

metabolisme

O3N2S

asam amino,

Defisiensi:
letih, depresi,
mual (nause),
dermatitis,
nyeri otot,
Kelebihan:

pembentukan
glikogen

belum
diketahui

Kolin

Penyusun

500-900 mg

Semua

fosfolipid,

makanan

penyusun

yang

asetilkolin

mengandu

belum
diketahui
Kelebihan:

ng
fosfolipid
(

Defisiensi:

kuning

telur, hati,

belum
diketahui

kacangkacangan,
padi)
PABA

Mencegah

Sangat

(paraami

timbulnya

sedikit

no

uban,

benzoat)

pertumbuhan

Ragi, hati

Defisiensi:
rambut
rontok, uban
Kelebihan:

rambut

belum
diketahui
C:
Asam
askorbat

Menjaga

45 mg

Hati,

elastisitas

ginjal,

kapiler darah,

sayuran

pembentukan

hijau,

Defisiensi:
degenerasi
kulit,

gigi,

38

Antiskor

serabut

buah

pembuluh

but

kolagen,

terutama

darah,

menjaga

yang

penyakit

pelekatan

berasa

skorbut,

C6H8O6

akar

gigi

asam,

kerusakan

pada

gusi,

misal

sendi

koenzim dari

jeruk dan

berbagai

tomat

Kelebihan:

reaksi

pembentukan

katabolisme

batu ginjal

karbonhidrat
dan

lemak,

pertumbuhan
tulang
Larut

Penyusun

dalam

rodopsin,

hijau dan

lemak

memelihara

kuning,

jaringan

wortel,

epitelium

susu,

A:
retinol

1 mg

Sayuran

margarin,

Antixero

minyak

flatmia

ikan, keju,

C20H30
O

mentega

Defisiensi:
xeroflatmia
(pengerasan
jaringan
okuler), buta
senja
(hemeralopi),
bintik

bitot,

buta
permanen,
frinoderma
Kelebihan:
sakit kepala,
muntah,
tulang retak,
kulit

39

mengelupas
D:
Ergoster
ol
Kalsifitis
C28H44
O

Mengatur

0,01 mg

kadar

Minyak
ikan,

kalsium

di

mentega,

dalam darah,

susu,

memperbesar

kuning

penyerapan

telur, ragi

ion Ca dan P,

Kofaktor

15 mg

Kecambah

untuk

transpor

hijau,

elektron

susu,

kacang

itas

telur, hati

sitokrom
(respirasi
antioksidan
untuk

Defisiensi:
gangguan
pada
pematangan
dan
diferensiasi
kemandulan,
keguguran,
otot

karena

kerusakan
membran sel,
mencegah
perdarahan
yang banyak
ibu

melahirkan,
keguguran

rakitis,

layuh

mencegah

mencegah

sehingga

sel,

sel),

pada

terganggu

mudah patah

kuning

O2

(penulangan)

tulang

Antisteril dalam rantai

C29H50

osifikasi

osifikasi

Tokofero

proses

menimbulka

berperan
dalam

E:

Defisiensi:

transmisi
implus saraf
terganggu
Kelebihan:
tidak
berakibat

40

K:

Penting

0,03 mg

Sayuran

dalam

hijau,

pembekuan

buah, dag

darah

ing,

Anti

termasuk

dibentuk

pendarah

dalam

sendiri

an

pembentukan

didalam

protombin di

usus besar

Filokuin
on

C31H46
O2

dalam sel hati

Defisiensi:
tergaangguny
a

proses

pembekuan
darah
Kelebihan:
menyebabka
n

penyakit

kuning

2.3 Penilaian Status Gizi


Penilaian status gizi pada dasarnya merupakan proses pmeriksaan
keadaan gizi seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik
yang bersifat objektif maupun subjektif, untuk kemudian dibandingkan
dengan baku yang telah tersedia. Data objektif dapat diperoleh dari data
pemeriksaan laoratorium perorangan, serta sumber lain yang dapat diukur
oleh anggota tim penilai.15
Komponen penilaian status gizi meliputi15:
1. Asupan pangan
2. Pemeriksaan biokimiawi
3. Pemeriksaan klinis dan riwayat mengenai kesehatan
4. Pemeriksaan antropometri
5. Data psikososial
Bagi pasien rawat inap, data berat dan tinggi badan, perubahan
berat badan yang tidak lazim, perubahan nafsu makan, dan serum albumin
harus didapat karena pengumpulannya tidak sulit, serta tidak memerlukan
biaya tinggi. Dari data tersebut, kemudian dapat dijaring orang-orang yang
berisiko tinggi malnutrisi.15
1. Asupan pangan

41

Penilaian ini merupakan satu tahanpan penilaian status gizi


yang paling sulit. Terdapat beberapa kendala yang sering terjadi pada
penilaian ini, antara lain (a) daftar komposisi makanan yang tersedia
masih jauh dari sempurna bahkan belum lengkap; (b) perhitungan
kandungan zat gizi belum akurat; (c) masih banyak pangan atau
makanan yang baru/telah beredar belum tercantum dalam daftar
komposisi makanan atau makanan siap santap; (d) cara memasak
sangat bervariasi, baik secara kedaerahan maupun perorangan dan ini
sangat mempengaruhi nilai gizi pangan; dan (e) perbedaan tempat
tumbuh satu jenis buah dan sayur akan berpengaruh pada nilai zat gizi
yang terkandung.15
Komponen penilaian asupan pangan mencakup, antara lain:
a. Ingatan pangan 24 jam
b. Kuesioner frekuensi pangan
c. Riwayat pangan
d. Catatan pangan
e. Pengamatan
f. Konsumsi pangan keluarga
Data yang diperoleh kemudian dicocokkan dengan nilai yang
tercantum dalam daftar komposisi bahan pangan, dan daftar
komposisi makanan siap santap.
2. Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan klinis

meliputi

pemeriksaan

fisik

secara

menyeluruh, termasuk riwayat kesehatan. Bagian tubuh yang harus


lebih diperhatikan dalam pemeriksaan klinis adalah kulit, gigi, gusi,
bibir, lidah, mata, dan (khusus lelaki) alat kelamin. Rambut, kulit, dan
mulut sangat rentan sebab usia sel epitel dan mukosa (termasuk
mukosa saluran pencernaan yang termanifestasi sebagai diare) tidak
lama. 15
3. Pemeriksaan Antropometris
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia, ditinjau
dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan
berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari
berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri secara umum

42

digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan


energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik
dan proporsi jaringan tubuh, seperti lemak, otot dan jumlah air dalam
tubuh. Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status
gizi.15

Kombinasi

antara

beberapa

parameter

disebut

indeks

antropometri. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan


yaitu15:
Berat Badan Menurut Umur (BB/U)
Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan
gambaran massa tubuh. Berat badan adalah parameter antropometri
yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana keadaan
kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan
gizi

terjamin,

maka

berat

badan

berkembang

mengikuti

pertambahan umur. Mengingat karakteristik berat badan yang labil,


maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat

ini (Current Nutrirional Status).


Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan
keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal tinggi badan

tumbuh seiring dengan pertambahan umur.


Berat badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan.
Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah

dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu.


Lingkar Lengan Atas Menurut Umur (LLA/U)
Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan
jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas

berkolerasi dengan indeks BB/U maupun BB/TB.


Indeks Massa Tubuh (IMT)
Pengukuran IMT dapat dilakukan pada anak-anak, remaja maupun
orang dewasa. Pada anak-anak dan remaja pengukuran IMT sangat
terkait dengan umurnya, karena dengan perubahan umur terjadi
perubahan komposisi tubuh dan densitas tubuh. Karena itu, pada
anak-anak dan remaja digunakan indikator IMT menurut umur,
biasa disimbolkan dengan IMT/U. IMT adalah perbandingan antara

43

berat badan dengan tinggi badan kuadrat. Cara pengukurannya


adalah pertama-tama ukur berat badan dan tinggi badannya.
Selanjutnya dihitung IMT-nya, yaitu:
Berat badan (kg)
IMT = ------------------------------------------Tinggi badan 2 (meter)
Untuk menentukan status gizi anak balita (usia 0-60 bulan), nilai
IMT-nya harus dibandingkan dengan nilai IMT standar WHO 2005
(WHO, 2006); sedangkan pada anak dan remaja usia 5-19 tahun
nilai IMT-nya harus dibandingkan dengan referensi WHO/NCHS
2007 (WHO, 2007). Pada saat ini, yang paling sering dilakukan
untuk menyatakan indeks tersebut adalah dengan Z-skor atau
persentil.
a) Z-skor : deviasi nilai seseorang dari nilai median populasi
referensi dibagi dengan simpangan baku populasi referensi.
b) Persentil : tingkatan posisi seseorang pada distribusi referensi
(WHO/NCHS), yang dijelaskan dengan nilai seseorang sama
atau lebih besar daripada nilai persentase kelompok populasi.
Z-skor paling sering digunakan.

Secara teoritis, Z-skor dapat

dihitung dengan cara berikut :


Nilai IMT yang diukur Median Nilai IMT
Z-Skor = -------------------------------------------------------------------Standar Deviasi dari standar/referensi
Klasifikasi dapat dilakukan menurut berbagai lembaga. Klasifikasi
WHO

agak

sedikit

berbeda

dengan

klasifikasi

menurut

Kementerian Kesehatan RI. Klasifikasi status gizi pada IMT yang


dihitung dengan menggunakan Z-skor menurut WHO
Nilai Z-skor

Klasifikasi

44

z-skor +2

Overweight (kelebihan berat badan

-2 < z-skor < +2


-3 < z-skor < -2
z-skor < -3

atau gemuk)
Normal
Kurus
\Sangat kurus

Klasifikasi menurut Kemenkes RI (2010) dibedakan pada


kelompok usia 0-60 bulan dengan kelompok usia 5-18 bulan.
Klasifikasi IMT untuk usia 0-60 bulan
Nilai Z-skor
z-skor +2
-2 < z-skor < +2
-3 < z-skor < -2
z-skor < -3

Klasifikasi
Gemuk
Normal
Kurus
Sangat kurus

Klasifikasi IMT menurut Kemenkes RI 2010 untuk anak usia 5-18


tahun
Nilai Z-skor
z-skor +2
+1 < z-skor < +2
-2 < z-skor < +1
-3 < z-skor < -2
z-skor < -3

Klasifikasi
Obesitas
Gemuk
Normal
Kurus
Sangat kurus

Pada orang dewasa, pengukuran status gizi dilakukan dengan


menggunakan indeks massa tubuh (IMT). Perhitungan IMT sama
seperti diatas. Hasilnya dibandingkan dengan nilai titik batas IMT
menurut WHO atau Departemen Kesehatan RI. Pada orang dewasa
faktor umur tidak dipertimbangkan dalam menghitung IMT. Pada
orang dewasa biasanya tinggi badannya tidak relatif stabil,
sehingga variasi yang terjadi hanya pada berat badannya.
Klasifikasi
< 16,0
16,00 16,99
17,00 18,49
18,50 24,99
25,00 29,99
30,00 39,99

Interpretasi
Severe thinness
Moderate thinness
Mild thinness
Normal
Grade 1 overweight
Grade 2 overweight

45

40,0

Grade 3 overweight

Klasifikasi IMT Dewasa menurut Kemenkes RI (2003)


Kategori IMT
< 17,0

Klasifikasi
Kurus (kekurangan berat badan tingkat

17,0 18,4

berat)
Kurus (kekurangan berat badan tingkat

18,5 25,0
25,1 27,0

ringan)
Normal
Kegemukan (kelebihan berat badan tingkat

> 27,0

ringan)
Gemuk (kelebihan berat badan tingkat
berat)

Penggunaan IMT mempunyai kelemahan. Kelemahan yang terjadi


adalah dalam menentukan obesitas.

Kita tahu bahwa obesitas

adalah kelebihan lemak tubuh. IMT hanya mengukur berat badan


dan tinggi badan.

Kelebihan berat badan tidak selalu identik

dengan kelebihan lemak. Berat badan terdiri dari lemak, air, otot
(protein), dan mineral. Pada seorang yang sangat aktif, misalkan
olahragawan, maka biasanya komposisi lemak tubuhnya relatif
rendah dan komposisi ototnya relatif tinggi.

Pada orang yang

sangat aktif IMT yang tinggi tidak berarti kelebihan lemak tubuh
atau bukan obesitas.

Tebal Lemak Bawah Kulit Menurut Umur


Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak
bawah kulit dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya pada
bagian lengan atas, lengan bawah, di tengah garis ketiak, sisi dada,
perut, paha, tempurung lutut, dan pertengahan tungkai bawah.

Rasio Lingkar Pinggang dengan Pinggul


Rasio Lingkar Pinggang dengan Pinggul digunakan untuk melihat
perubahan metabolisme yang memberikan gambaran tentang

46

pemeriksaan penyakit yang berhubungan dengan perbedaan


distribusi lemak tubuh.
Dari berbagai jenis

indeks

tersebut

di

atas,

untuk

menginterpretasikannya dibutuhkan ambang batas. Ambang batas


dapat disajikan kedalam 3 cara yaitu: persen terhadap median,
persentil, dan standar deviasi unit.
4. Pemeriksaan Biokimiawi
Terdapat dua jenis protein, viseral dan somatik, yang layak
dijadikan parameter penentu status gizi. Parameter protein viseral
ialah serum albumin, prealbumin, transferin, hitung jumah limfosit,
dan uji antigen pada kulit. Sementara cadangan protein somatik bukan
hanya dinilai secara biokimiawi, tetapi juga dengan mengukur
besarnya lingkaran pertengahan lengan atas. 15
2.4 Perhitungan Kebutuhan Energi
Kebutuhan energi orang yang sehat dapat diartikan sebagai tingkat
asupan energi yang dapat dimetabolisasi dari makanan yang akan
menyeimbangkan keluaran energi, ditambah dengan kebutuhan tambahan
untuk pertumbuhan, kehamilan, dan penyusunan yaitu energi makanan
yang diperlukan untuk memelihara keadaan yang telah baik. 15
Cara-cara menentukan kebutuhan energi (kalori) antara lain15 :
Teori RBW (teori berat badan relatif)
RBW = BB (Kg)/ TB(cm)-100X100 %
Keterangan : BB = Berat badan ; TB = Tinggi badan

Dengan ketentuan:
1.Kurus jika RBW < 90 %
2. Normal jika RBW = 90-100 %
3. Gemuk jika RBW >110 % atau -<120 %
4. Obesitas ringan RBW 120-130 %
5. Obesitas sedang RBW > 130-140 %
6. Obesitas berat RBW > 140 %

47

Kebutuhan kalori (energi) perhari


1.Orang kurus BB x 40-60 kalori
2.Orang normal BB x 30 kalori
3.Orang gemuk BB x 20 kalori
4.Orang Obesitas BB x (10 x15) kalori

Energi BMR (basal metabolisme rate)


Energi BMR adalah energi minimal untuk menjalankan proses kerja
atau proses faal dalam tubuh dalam kondisi Resting Bed (berbaring
istirahat di atas tempat tidur).
Laki-laki = 66 + (13.7 x BB) + (5 x TB) - (6.8 x U)
Perempuan = 65 + (9.6 x BB) + (1.8 x TB) - (4.7 x U)

2.5 Cara Pemberian Nutrisi


Nutrisi dapat diberikan melalui saluran pencernaan (nutrisi enteral)
atau secara intravena (nutrisi parenteral). Kebutuhan energi adalah sama
untuk kedua metode pemberian tersebut. Pemberian makan secara enteral
tetap menjadi jalur pilihan pertama, karena efek sampingnya lebih sedikit
dibandingkan nutrisi parenteral. Indikasi untuk pemberian nutrisi secara
parenteral adalah ketika pemberian nutrisi enteral telah gagal. Pada pasien
yang sebelumnya mengalami kurang gizi, pemberian nutrisi parenteral
mungkin dapat dimulai lebih dini dalam waktu 24 jam setelah tercapainya
hemodinamik yang stabil. Sebaliknya, pasien yang sebelumnya cukup gizi,
dapat menunggu sampai 7 hari sebelum dimulainya pemberian nutrisi
parenteral.16
1. Nutrisi Enteral
a. Jenis Pemberian Nutrisi Enteral
Oral feeding
Merupakan cara terbaik pemberian nutrisi enteral.
Meskipun demikian, pada pasien malnourished, pemberian
oral

feeding

diperlukan

kehati-hatian

kecuali

jika

intakenya terjamin. Jika jalur oral tidak terjamin maka pasien


sangat mudah jatuh kedalam keadaan malnutrisi. Bila jumlah

48

intake oralnya diragukan, dianjurkan pemasangan nasogastic


tube untuk feeding. 16

Nasoenteral tube feeding


Nasogastric feeding di indikasikan untuk pasien-pasien
dengan toleransi makanan yang baik terhadap usus dan tidak
terdapat kontraindikasi untuk memasukkan makanan ke
saluran cerna, tetapi tidak dapat atau tidak bisa makan secara
oral. Untuk tujuan ini nasogastric tube ukuran 10-14 Fr yang
paling dapat diterima dan paling umum digunakan, tersedia
juga tube khusus dengan ukuran 6-8 Fr yang lebih nyaman
bagi pasien tapi harganya lebih mahal. Tube ini tidak mudah
tersumbat karena dilapisi selaput hydrophobic khusus. Jika
feeding

ke

dalam

lambung

merupakan

kontraindikasi

(misalnya pankreatitis), dapat dipasang nasoyeyenal tube. Alat


ini dapat dipasang melalui endoscopy atau dengan bantuan
flouroscopy. 16

Invasive tube feeding


Pasien yang tidak dapat dipasang NGT atau tube nasoyeyenal (misalnya carsinoma pharing atau esofagus yang
inoperabel) atau mereka yang membutuhkan feeding jangka
lama untuk beberapa bulan sampai tahunan, harus dipasang
feeding

tube

percutaneus

yeyunostomy). Gastrostomy

dapat

(gastrostomy
dikerjakan

atau
secara

endoscopic (PEG: percutaneus endoscopic gastrostomy) atau


laparotomy (Stamm gastrostomy). Jika telah dilakukan operasi
bypass pada lambung, feeding yeyenostomy dapat dilakukan
sebagai pengganti .
b. Pemilihan Formula Enteral
Makanan dapur
Makanan dapat diolah dengan baik menggunakan
pengolah makanan, makanan dapur merupakan makanan tube

49

yang paling ekonomis. Jumlah kalori per saji biasanya tidak


diberikan dengan tepat sehingga sulit untuk menentukan
berapa kalori yang seharusnya telah didapatkan. Bahan
makanan yang tidak dapat larut akan menyumbat feeding tube,
ini merupakan masalah yang tidak dijumpai pada makanan
komersial yang tersedia. Intoleransi Lactosa sering ditemukan
pada pasien malnutrisi dan jika diberikan Lactosa yang berasal
dari susu akan menimbulkan diare. Makanan yang berbahan
dasar susu dapat dibuat bebas Lactosa dengan memakai
kacang-kacangan, kanji dan sereal. 16

Formula Enteral Terbaik


Formula yang tersedia, mengandung bubuk berbahan
dasar susu atau kacang kedelai dengan beberapa bahan
tambahan lain supaya makanan menjadi lebih lengkap dan
didalamnya mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin,
mineral, dan trace elemen yang berimbang. Karena bahan ini
ditambah aroma rasa, dapat diberikan melalui tube feeding
maupun per-oral. Bahan ini lebih mahal dari makanan dapur,
tapi tidak menyumbat tube serta jumlah kalori yang diberikan
dapat diketahui dengan pasti. 16

Formula polipeptida
Formula ini

dirancang

untuk

feeding

awal

pada pankreatitis akut. Bahaya feeding awal pada pankreatitis


adalah karena beberapa kandungan makanan (protein dan
lemak) dapat merangsang pankreas untuk mengeluarkan
hormon

gastro-duodenal,

terutama

Cholecystokinin. Polipeptida rantai pendek dan sejumlah kecil


lemak yang ada dalam formula ini akan mengurangi
rangsangan hormon lambung. (metoda lain pemberian feeding
pada

penderita-penderita

pankreatitis

low-grade

adalah

mangarahkan langsung makanan ke yeyenum, lewat nasoyeyenal tube maupun feeding yeyenostomy. Dalam keadaan

50

tertentu makanan normal dapat diberikan karena terdapat


bypass pada lambung dan duodenum). 16

Formula MCT
Medium chain triglycerides (MCT) mempunyai rantai
yang lebih pendek dari Long Chain Triglycerides (LCT) yang
umumnya ada di alam. MCT lebih cepat diabsorbsi dan di
oxidasi untuk memproduksi kalori karena tidak melewati
kontrol normal regulator tubuh untuk pembatasan penggunaan
lemak. Kontrol yang terlewati tidak selalu menguntungkan,
tapi pada pasien-pasien yang mengalami malnutrisi dan tidak
dapat memetabolisma glukosa ( metabolisme glukosa selalu
tertekan pada kondisi stres), MCT merupakan sumber kalori
yang baik dan kurang menekan sistem imune dibanding larutan
lipid standart. 16

Immuno-Nutrien
Beberapa kandungan sat makanan dalam diet mampu
memperbaiki respon immune dalam kondisi stress pasien yang
sakit. Sat tersebut adalah Glutamine, Arginine, asam lemak 3, dan Nukleotida. Makanan enteral yang tersedia banyak
mengandung immuno-nutrien ini. Glutamine, secara khusus,
berperan

dalam

mempertahankan

barier

mukosa

dan

mengurangi translokasi bakteri, serta mengurangi angka


kejadian sepsis. Meskipun masih sangat terbatas, immunonutrien membawa perubahan yang besar. Data yang ada masih
kontroversial, masih dibutuhkan bukti-bukti yang lebih banyak
mengenai peran dari Glutamine. Immuno-nutrien masih belum
diterima secara luas karena butuh biaya yang mahal. 16
c. Komplikasi Pemberian Nutrisi Enteral
NGT meningkatkan resiko aspirasi isi lambung, khususnya
pada pasien yang tidak sadar. Jika resiko ini muncul, pemberian
makanan ke dalam yeyenum melalui naso-yeyenal tube dapat

51

membantu. Penggunaan

tube

dalam

jangka

panjang

dapat

menyebabkan ulserasi esofagus.16


2. Nutrisi Parenteral
a. Jenis Nutrisi Parenteral
Via jalur vena sentral
Infus larutan TPN hampir selalu dilakukan lewat jalur
vena sentral. Ini karena larutan TPN sangat hipertonik dan
membutuhkan vena dengan aliran cepat guna pencairan larutan
secepat mungkin saat masuk ke dalam tubuh. 17

Via jalur vena perifer


TPN perifer sering digunakan karena menghindari
komplikasi dari penggunaan jalur vena sentral. Meliputi infus
larutan TPN melalui cannula (atau via periferal long cannula
dimana ujungnya berakhir di lengan atas dengan aliran darah
yang lebih cepat). Sayangnya, larutan standar TPN tidak dapat
dipakai

melalui

jalur

hyperosmolaritas. Osmolaritas

perifer
darah

berkisar

karena
300

mOsm. Larutan yang dipakai lewat perifer harus mempunyai


osmolaritas maximum kira-kira 700-800 mOsm. Pemasangan
infus lewat perifer hanya dapat bertahan maximum 7-14 hari
sebelum terjadi thromboplebitis dan tempat pemasangan infus
harus diganti. Lama pemberian TPN perifer tergantung pada
jumlah vena-vena yang terdapat di extremitas atas. Larutan
yang dipakai untuk penggunaan perifer selalu berupa larutan
Three-in-one. Hal ini karena campuran larutan tersebut
mempunyai kadar osmolaritas yang lebih rendah dari larutan
dextrosa murni (lihat penjelasan di bawah pada bagian all-inone solution). Meskipun demikian, jumlah kalori yang dapat
dimasukan melalui perifer hanya sebatas 1500 cal/hari. Jika
pasien membutuhkan lebih banyak kalori, TPN harus diberikan
melalui jalur sentral. 17
b. Formula Nutrisi Parenteral
Larutan Dextrosa Hypertonik

52

Larutan Dextrosa Hypertonik adalah larutan awal yang


digunakan untuk TPN (20%-50%). Harus di infus melalui
jalur sentral vena besar, high-flow untuk menghindari
thrombophlebitis. Sekarang baru disadari bahwa, pemenuhan
semua

kalori

hanya

dengan

glukosa

adalah

tidak

menguntungkan:
a) Pasien akan mengalami defesiensi asam lemak esensial
dalam beberapa minggu, tanpa infus lipid.
b) Terjadi degenerasi lemak di hati, karena synthesis lipid
lokal kurang dikeluarkan dan kurang termobilisasi.
Pasien-pasien dengan stress berat (politrauma, sepsis, luka
bakar, dll), tubuh akan berubah dari metabolisme glukosa
menjadi metabolisme lemak. Tubuh gagal untuk menggunakan
dextrosa walaupun dengan kadar glukosa darah yang tinggi,
tetapi

menggunakan

keton-bodies

untuk

menghasilkan

kalori. Hal ini terjadi dalam 24 jam setelah muncul kondisi


stress. 17

Larutan Lipid (lemak)


Lemak menghasilkan 9 kalori/gram (dextrosa 4 kal/gr).
Keuntungan tambahan dari larutan lemak adalah isotonos,
sehingga

dapat

di

infus

lewat

perifer. Lemak

sangat

dibutuhkan oleh pasien-pasien yang mengalami stress, yang


akan lebih memetabolisme lemak daripada glukosa selama
stress phase. Tambahan lagi, larutan lemak mengandung asam
lemak esensial acid Arachidonic, acid Linolenic, dan acid
Linoleic meskipun kandungannya sangat kecil. Seperti telah
dijelaskan di atas, infus larutan lemak juga mengurangi insiden
terjadinnya degenerasi lemak di hati. 17
Efek
sampingnya,
lemak

menyebabkan

immunosupresi. Konsentrasi tinggi dari asam lemak yang


tidak

termetabolisme

akan

menyebabkan

peningkatan

prostaglandine immunosupresive (E2 series). Hal ini dapat


dikurangi dengan pemberian MCT yang dapat dimetabolisme
dengan cepat. Lemak dengan konsentrasi yang tinggi secara

53

langsung bersifat hepatotoxik ( diatas dosis terapi), tapi


toxisitas

yang

ada

jarang

diperhatikan

belakangan

ini. Beberapa pasien yang alergi terhadap telur mungkin


bereaksi terhadap emulsi lemak yang mengandung komponen
Lacithin telur dan kadang-kadang dapat menimbulkan reaksi
anaphylaxis. Larutan lemak untuk TPN berupa emulsi
(minyak-dalam-air) yang stabil tapi tidak dapat bertahan
dengan

beberapa

zat

tambahan. Penambahan

dextrosa

konsentrasi tinggi atau larutan acidic/obat-obatan dapat


merusak

emulsi

ini,

lemak

akan

membentuk

lapisan

pemisah. Infus dengan larutan yang telah terurai ini dapat


berakibat fatal. Meskipun hal seperti ini jarang ditemukan,
tetapi tetap harus diperhatikan bila mencampur emulsi lemak
dengan larutan lain. 17

Larutan asam amino


Larutan ini harus dibedakan dari larutan protein
tersedia lainnya misalnya Albumin atau Plasma. Larutan
Albumin dan Plasma mengandung molekul protein yang lebih
besar yang akan dipecah menjadi asam amino sebelum
digunakan

untuk

menyusun

komposisi

protein

baru. Sebaliknyaa asam amino sederhana dapat digunakan


secara

langsung untuk

menyusun

komposisi

protein

baru. Lagi pula larutan ini tidak menimbulkan resiko transmisi


infeksi seperti pada larutan Albumin atau Plasma. Albumin
dan Plasma tidak berperan dalam hal nutrisi hanya larutan
murni asam amino yang digunakan. Asam amino jika
dioxidasi menghasikan 4 kal/gr. Walaupun demikian larutan
ini, harus dilindungi dari oxidasi yang tidak perlu dan harus
murni digunakan untuk penyusunan protein. Hal ini dapat
dicapai dengan menyediakan sejumlah substrat energy yang
adekuat secara bersamaan (dextrose, lemak). Untuk itu,

54

sebelum infus asam amino diberikan, ketersediaan kalori yang


adekuat harus dipastikan dulu. 17
Tersedia beberapa larutan asam amino khusus. Pada
pasien-pasien dengan penyakit hati lebih baik menggunakan
asam amino Branched-chain. Larutan asam amino yang
diperkaya

dengan

survivalitas

pada

Glutamine
pasien-pasien

terbukti
dengan

meningkatkan
stress. Arginine

memperbaiki fungsi immune. Larutan asam amino yang


diperkaya dengan asam amino esensial terbukti bermanfaat
pada pasien-pasien dengan gagal ginjal. 17
Asam amino biasanya tersedia dalam larutan 10%. Ini
terlalu hyperosmolar untuk penggunaan perifer. Tersedia
larutan 5% yang dapat digunakan secara perifer untuk
beberapa hari. Asam amino tidak mempunyai efek samping
yang berat. Meskipun demikian asam amino dosis tinggi harus
dihindari pada Encephalopathy hepatis. 17

Komponen Lainnya
1) Multivitamin (MVI) dan Trace Elemen
Kebanyakan pasien telah mengalami defesiensi
vitamin dan trace elemen saat diberikan TPN, sehingga
harus diberikan suplemen sesegera mungkin. Larutan MVI
dan Trace Elemen keduanya relatif tidak stabil bila
dicampur dan tidak tersedia dalam komposisi larutan TPN
siap pakai serta digunakan hanya sebelum larutan yang
lain diberikan. Trace Elemen oral dapat diberikan jika
pasien mampu untuk intake oral walaupun dengan jumlah
yang sangat sedikit. 17
2) Zat-zat additive lainnya
Pada pasien-pasien diabetes cenderung terjadi
hyperglicaemi karena penggunaan larutan hypertonis
dengan volume yang besar. Bahkan pasien-pasien nondiabetes harus memerlukan insulin jika terdapat glycosuria
selama infus dextrosa hypertonis (glycosuria urine harus

55

di cek secara berkala). Suplemen Calcium diberikan secara


khusus karena merusak larutan TPN dan jika dibutuhkan
diberikan lewat jalur vena lainnya. Jika bercampur
dengan larutan TPN, calcium dapat menyebabkan
presipitasi dari setiap phosphate inorganik dalam larutan
tersebut dan infus seperti ini sangat berbahaya. Dengan
adanya lemak dalam larutan TPN akan mengganggu
perkiraan presipitasi yang terjadi. Larutan-larutan TPN
khusus yang mengandung phophate organik yang tidak
dapat terpresipitasi juga mengandung calcium. 17
Heparin kadang-kadang juga ditambahkan pada
larutan all-in-one dengan kadar yang kecil untuk
mengurangi terjadinya thrombophlebitis dan thrombosis
vena. Juga memperlancar metabolisme lemak. 17
3) Larutan All-in-One
Larutan-larutan all-in-one (juga disebut dengan
larutan Three-in-one) merupakan pengembangan terapi
TPN yang paling besar saat ini. Larutan asam amino,
larutan dextrosa hypertonik dan emulsi lemak dicampur
didalam

satu

komposisi

dan

diberikan

sebagai

infus.17 Keuntungan dari jenis ini adalah:


Mengurangi resiko infeksi. Setiap penggantian botol
infus di bangsal membawa resiko infeksi melalui jalur
sentral. Dengan penambahan semua larutan ke dalam
satu wadah yang aseptik akan mengurangi jumlah
penggantian infus menjadi sekali sehari, mengurangi
angka kejadian infeksi.
Larutan yang diberikan menjadi lebih cair. Dengan
penambahan larutan asam amino dan larutan lemak
akan

melarutkan

larutan

dextrosa

dan

sebaliknya. Sehingga 250 gr glukosa (rata-rata


kebutuhan perhari) dapat diberikan seperti halnya
1000 ml dextrosa 25% atau seperti halnya 2.500 ml

56

dextrosa 10%. 2.500 ml larutan, pada contoh ini,


dapat dicapai dengan mencampurkan 1000 ml
dextrosa 25% dengan 500 ml larutan lemak, 500 ml
larutan asam amino dan 500 ml normal saline. Ini
akan melarutkan dextrosa dan larutan asam amino
hypertonis. Dengan campuran kadar lemak yang
tinggi dari larutan Three-in-one, infus lewat vena
perifer dapat diberikan.
Waktu perawatan menjadi

berkurang

karena

kurangnya fregkuensi penggantian kantong TPN.


Pemberian Home TPN menjadi mungkin.
c. Komplikasi Nutrisi Parenteral
Komplikasi Umum
Batu kantong empedu akan terjadi pada pasien yang
diberikan TPN dalam jangka panjang. Ini bukan merupakan
komplikasi langsung dari TPN tetapi karena hilangnya stimulasi
pada saluran cerna yang menyebabkan stasisnya kantong
empedu dan mulainya proses pembentukan batu. Hal ini dapat
dicegah dengan pemberian nutrisi parenteral parsial atau dengan
injeksi reguler cholecystokinin. 17
Kalori yang berlebihan
Dahulu pasien-pasien diberikan 3.000-5.000 kalori
dengan anggapan bahwa pemberian kalori yang besar membantu
terjadinya penyembuhan dengan lebih cepat. Ini disebut
hyperalimentasi. 17 Akhirnya disadari bahwa pemberian kalori
yang berlebihan mempunyai komplikasi tersendiri:
1) Carbon dioxida yang dihasilkan pada pasien menjadi
berlebihan dan pasien yang memakai ventilator sulit untuk diweaning.
2) Tercipta lingkungan yang sangat hyperosmolar, memicu
terjadinya diuresis osmotik serta gangguan cairan dan
elktrolit.
Saat ini kebutuhan kalori basal untuk orang dewasa berkisar 2530 kal/kg BB/hari, pada

pasien-pasien dengan stress berat

57

dapat dinaikan menjadi 45 kal/kg BB/hari. Untuk itu,


25%- 40% bersumber dari lemak (tetapi tidak boleh lebih dari
60%).
Komplikasi karena Dextrosa
Dengan Pemberian Dextrosa,
komplikasi

selain

tidak

menyebabkan

hyperglicaemia

dan

hyperosmolaritas17. Pemakaian dextrosa sebagai sumber kalori


tunggal, akan menyebabkan permasalahan:
1) Oxidasi dari glukosa akan menghasilkan lebih banyak carbon
dioxida dibandingkan oxidasi dari kombinasi antara glucosa
dan lemak. Walaupun ini bukan merupakan masalah bagi
penderita yang dapat bernapas dengan normal, pada pasienpasien dengan hypercapnoea sedang ( mis: weaning dari
ventilator,

ARDS)

hal

ini

dapat

mempengaruhi keseimbangan.
2) Pasien yang hanya diberikan dextrosa cenderung terjadi fatty
liver, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. 17
Komplikasi karena Lemak
Untuk saat ini larutan lemak cukup aman, beberapa
masalah dapat saja terjadi:
1) Infus lemak yang

berlebihan

dapat

menyebabkan

hepatotoxik. Idealnya, tidak lebih dari 40% total kalori


perhari yang berasal dari lemak. Overdosis akut terlihat
dengan adanya demam, nausea, vomitus, dyspnea, dan
hypercoagulabilitas.
2) Kadar serum trigliserida dapat meningkat dengan cepat jika
kemampuan pembersihan terganggu. Kadar dalam darah
harus dicek secara teratur.
3) Akumulasi dari asam

lemak

bebas

yang

tidak

termetabolisme (FFA) dalam darah meningkatkan produksi


PGE2, menyebabkan immunosupressi.
4) Dysfungsi pulmonal terjadi karena adanya pelepasan
produksi vasoaktive

amine karena

kadar

PGE2 yang

berlebihan. MCT dapat menghindari beberapa hal karena

58

dapat dimetabolisme dengan cepat, sehingga kurang


terakumulasi di dalam pembuluh darah dan kurangnya
produksi PGE2. Karena semua asam amino esensial
mempunyai rantai panjang, pemberian beberapa LCT
menjadi penting. Campuran yang ideal adalah dengan ratio
50:50 antara LCT dan MCT.
Komplikasi Mekanik
a) Berhubungan dengan jalur sentral
Saat ini, komplikasi TPN terbanyak adalah yang
berhubungan dengan jalur sentral. Yang termasuk komplikasi
adalah trauma pada saraf-saraf dan pembuluh darah yang
berdekatan, pneumothorax, emboli udara, masuknya larutan
TPN kedalam cavum pleura karena salah penempatan jalur
dan infeksi. Letak dari pemasangan pada semua jalur vena
sentral harus dipastikan dengan x-ray sebelum diberikan
infus. Harus dengan prosedur aseptik. 17
b) Berhubungan dengan jalur perifer
Thrombophlebitis merupakan komplikasi tersering dari
TPN perifer. Penggunaan glyseril trinitrat patch tepat
dibawah sisi infus menyebabkan diatasi vena, meningkatkan
aliran darah dan mencairkan larutan infus TPN lebih cepat,
sehingga mengurangi insidens thrombophlebitis. Kanul TPN
perifer harus aseptik seperti pada jalur sentral. 17
2.6 Kebutuhan Nutrisi pada Keadaan Spesifik
Nutrisi Pada Keadaan Trauma
Pasien trauma cenderung mengalami malnutrisi protein akut
karena hipermetabolisme yang persisten, yang mana akan menekan
repon imun dan peningkatan terjadinya kegagalan multi organ (MOF)
yang berhubungan dengan infeksi nosokomial. Pemberian substrat
tambahan dari luar lebih awal akan dapat memenuhi kebutuhan akibat
peningkatan

kebutuhan

metabolik

yang

dapat

mencegah

atau

memperlambar malnutris protein akut dan menjamin outcome pasien.


Nutrisi enteral total lebih dipilih daripada TPN karena alasan keamanan,

59

murah, fisiologis dan tidak membuat hiperglisemia. Intoleransi TEN


dapat terjadi, yaitu muntah, distensi atau cramping abdomen, diare,
keluarnya makanan dari selang nasogastrik. Pemberian TPN secara dini
tidak diindikasikan kecuali pasien mengalami malnutrisi berat. 18
Nutrisi Pada Pasien Sepsis
Pada pasien sepsis, total kebutuhan energi basal pada minggu
pertama kurang lebih 25 kcal/kg/hari, tetapi pada minggu kedua
kebutuhan energi basal akan meningkat secara signifikan. Kalorimetri
indirek merupakan cara terbaik untuk menghitung kebutuhan kalori,
proporsi serta kuantitas zat nutrisi yang digunakan. Pemberian glukosa
sebagai sumber energi utama dapat mecapati 4-5 mg/kg/menit dan
memenuhi 50-60% dari kebutuhan kalori total atau 60-70% dari kalori
non preotein. Pemberian glukosa yang berlebihan dapat mengakibatkan
hipertrigliseridemia,

hiperglikemia,

diuresis

osmotoik,

dehidrasi,

peningkatan produksi CO2 yang dapat memperburuh insufisiensi


pernafasan dan ketergantungan terhadap ventilator, steatosis hepatis dan
kolestasis. Pemberian lemak sebaiknya memenuhin 25-30% dari
kebutuhan total kaloris dan 30-40% dari kaloris non protein. Kelebihan
lemak

dapat

mengakibatkan

disfungsi

neutrofil

dan

lomfosit,

menghalangi sistem fagositik mononuklear, merangsang hipoksemia


yang dikarenakan oleh gangguan perfusi-ventilasi dan cedera membran
alveolokapiler, merangsan steatosis hepatik, dan meningkatkan sintesis
PGE2. Dalam keadaan katabolik, protein otot dan viseral dipergunakan
sebagai energi di dalam otot dan untuk glukoneogenesis hepatik (alanin
dan glutamin). Kebutuhan protein melebihi protein normal yaitu 1,2
gr/kg/protein/hari. Kuantitas protein sebaiknya memenuhi 15-20% dari
kebutuhan kalori total dengan rasio kalori non protein/nitrogen adalah
80:1 sampai dengan 110:1. 18
Nutrisi Pada Penyakit Ginjal Akut
Penyakit ginjal akut secara umum tidak berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan energi. Meski demikian kondisi traumatik akut
yang menetap dapat meningkatkan total kebutuhan energi basal

60

(misalnya pada sepsis meningkat hingga 30%). Adanya penurunan


toleransi terhadap glukosa dan resistensi insulin menyebabkan uremia
akut, asidosis atau peningkatan glukoneogenesis. Pada pasien gagal
ginjal aku membutuhkan perhatian yang detil terhadap kadar glukosa
darah dan penggunaan insulin dimungkinkan dalam larutan glukosa
untuk mencapai kadar euglikemik. Pemberian lipid harus dibatasi
hingga 20-25% dari energi total. Meski demikian lipid sangatlah
penting karena osmolaritasnya yang rendah, sebagai sumber energi,
produksi CO2 yang rendah dan asam lemak esensial. Protein atau asam
amino diberika 1,0-1,5 gr/kg/hari tergantung dari beratnya penyakit dan
dapat diberikan lebih tinggi (1,5-2,5 gr/kg/hari) pada pasien gagal ginjal
yang lebih berat. 18
Nutrisi Pada Pankreatisis Akut
Nutrisi enteral dapat diberkan, namun ada beberapa bukti bahwa
pemberian nutris enteral dapat meningkatkan keparahan penyakit.
Nutrisi parenteral dan pankreatitis akut berguna sebagai tambahan pada
pemeliharaan nutrisi. Mortalistas dilaporkan menurun seiring dengan
peningkatan status nutrisi, terutama pada pasien-pasien pankreatitis akut
derajat sedang dan berat. Pada pasien dengan penyakit berat pemberian
nutrisi isokalorik maupun hiperkalorik dapat mencegah katabolisme
protein. Oleh karena itu, pemberian energi hipokalorik sebesar 15-220
kkal/kg/hari lebih sesuai pada keadaan katabolik awal pada pasienpasien non bedah dengan kegagalan multiorgan. Pemberian protein
sebesar 1,2-1,5gr/kg/hari optimal untuk sebagian besar pasien
pankreatitis akut. Pemberian nutrisi peroral dapat mulai diberikan
apabila nyeri sudah teratasi dan enzim pankreas telah kembali normal.
Pasien awalnya diberikan diet karbohidrat dan protein dalam jumlah
kecil, kemudian kalorinya ditingkatkan perlahan dan diberikan lemak
dengan hati-hati setelah 3-6 hari. 18
Nutrisi Pada Penyakit Hati
Pada penyakit hati terjadi peningkatan lipolisis, sehingga lipid
harus diberikan dengan hati-hati untuk mencegah hipertrigliseridemia,

61

yaitu tidak lebih dari 1gr/kg perhari. Pembatasan protein diperlukan


pada ensefalopati hepatik kronis, mulai dari 0,5 gr/kg/hari. Dosis ini
dapat ditingkatkan dengan hati-hati menuju ke arah pemberian normal.
Ensefalopati hepatik menyebabkan hilangnya branched chain amin
acidmengakibatkan peningkatan pengambilan asam amino aromatik
serebral, yang dapat menghambar neurotreansmiter. Pada pasien dengan
intoleransi protein pemberian nutrisi yang diperkaya dengan BCAAs
dapat

meningkatkan

pemberian

protein

tanpa

memperburuk

ensefalopati yang sudah ada. Kegagalan fungsi hati fulminan dapat


menurunkan glukoneogenesis sehingga terjadi hipoglikemia yang
memerlukan pemberian infus glukosa. Lipid dapat diberikan, karena
masih dapat ditoleransi dengan baik. 18

BAB III
KESIMPULAN
Nutrisi adalah ikatan kimia yang yang diperlukan tubuh untuk
melakukan fungsinya yaitu energi, membangun dan memelihara jaringan,
serta mengatur proses-proses kehidupan.2 Nutrisi merupakan kebutuhan
utama pasien kritis dan nutrisi enteral lebih baik dari parenteral karena
lebih mudah, murah, aman, fisiologis dan penggunaan nutrien oleh tubuh
lebih efisien.2
Terdapat

enam

zat

gizi

esensial

yang

diperukan

untuk

mempertahankan kesehatan antara lain karbohidrat, protein, lemak,


vitamin, mineral, dan air.
Penilaian status gizi pada dasarnya merupakan proses pmeriksaan
keadaan gizi seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik
yang bersifat objektif maupun subjektif, untuk kemudian dibandingkan
dengan baku yang telah tersedia. Komponen penilaian status gizi meliputi
Asupan pangan, Pemeriksaan biokimiawi, Pemeriksaan klinis dan riwayat
mengenai kesehatan, Pemeriksaan antropometri, Data psikososial.

62

Nutrisi dapat diberikan melalui saluran pencernaan (nutrisi enteral)


atau secara intravena (nutrisi parenteral). Kebutuhan energi orang yang
sehat dapat diartikan sebagai tingkat asupan energi yang dapat
dimetabolisasi dari makanan yang akan menyeimbangkan keluaran energi,
ditambah dengan kebutuhan tambahan untuk pertumbuhan, kehamilan,
dan penyusunan yaitu energi makanan yang diperlukan untuk memelihara
keadaan yang telah baik. Kebutuhan energi dapat dihitung berdasarkan
RBW (teori berat badan relatif) atau energi BMR (basal metabolisme rate).

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonymous. Nutrisi parenteral. Available at http://www.otsuka.co.id/?


content=article_detail&id=28&lang=id accessed March 20th 2015
2. Supariasa,I. Dewa Nyoman S. 2001. Penilaian Status Gizi. EGC : Jakarta.
3. Rochmah, Siti Nur. 2009. Biologi. Pusat Perbukuan Pendidikan Nasional:
Jakarta
4. Kistinnah, Idun dan Endang Sri Lestari. 2009. Biologi Makhluk Hidup dan
Lingkungannya. Pusat Perbukuan Pendidikan Nasional: Jakarta
5. Sembiring, Langkah. 2009. Biologi. Pusat Perbukuan Pendidikan
Nasional: Jakarta
6. Mulasari, Surahma Asti dan Tri Wahyuni Sukesi. 2013. Biokimia. Penerbit
Pustaka Kesehatan: Yogyakarta
7. Najmiatul. 2011. Metabolisme Karbohidrat. Universitas Gadjah Mada:
Yogyakarta
8. Hutagalung, Halomoan. 2004. Karbohidrat. Universitas Sumatera Utara:
Sumatera Utara

63

9. Burnama, Fitra Jaya. 2011. Metabolisme Protein dan Asam Nukleat.


Universitas Syiah Kuala: Banda Aceh
10. Tika. 2011. Makalah Metabolisme Lemak. Universitas Andalas: Padang
11. Suhardjo. 1988 . Perencanaan Pangan dan Gizi . Bumi Aksara : Jakarta.
12. Barasi, M. E. 2007. At A Glance Ilmu Gizi. Erlangga : Surabaya
13. Almatsar,S. 2001. Prinsip dasar ilmu gizi. Gramedia Pustaka Utama :
Jakarta.
14. asake, Anwar. 2009. Status Gizi dan Faktor yang Mempengaruhi.
http://www.giziku.com/Status Gizi. 20 Maret 2016, hal. 1.
15. Arisman. 2009. Buku ajar ilmu gizi ; Gizi dalam daur kehidupan Edisi 2.
EGC : Jakarta
16. Indonesian Society of Intensive Care Medicine. 2009. Basic Assesment
and Support in Intensive Care. PERDICI: Jakarta
17. MacDonald.A, Hildebrandt L. Comarison of Formulaic equation to
determine energy expenditure in the critical ill patient. Nutrition
20003;19:23-9.
18. Brian M. Hodges, dkk. Nutrition Management in the Intensive Care Unit.
Pharmacotherapy Self-Assesment Program, 5th Edition. 141-157.