Anda di halaman 1dari 48

BLOK GINJAL DAN SALURAN KEMIH

WRAP UP
Anyang-Anyangan

KELOMPOK B9
Ketua

: Muhammad Fathan

1102011175

Sekretaris

: Rika Yuliana

1102009246

Anggota

: Sandra Aldira

1102010262

Sausan Rasmiyyah

1102011255

Rachmat Putra P

1102010225

Mazaya Ekawati

1102011158

Nuraga Wishnu Putra

1102011199

Putri Nisrina Hamdan

1102011213

Widya Amalia Swastika

1102011290

Yudisthira Pratama

1102011297

FakultasKedokteran
Universitas Yarsi
Jakarta
2012/2013

Anyang Anyangan
Seorang perempuan usia 23 tahun datang kedokter puskesmas dengan keluhan nyeri saat
buang air kecil dan Anyang Anyangan. Keluhan ini dirasakan sejak dua hari yang lalu.Dalam
pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan kecuali nyeri tekan supra kubik. Pada pemeriksaan
urinalisis didapatkan lrukosit dalam sedimen urin kemudian disaarankan untuk melakukan
pemeriksaan kultur urin.

Kata kata sulit

Anyang-anyangan = gejala buang air kecil lebih sering. Gejala ini umumnya
timbul karena adanya

rangsangan pada kandung kemih oleh infeksi bakteri..

Supra pubik = diatas ruang pubis.

Kultur urin = pertumbuhan dimedia kultur untuk melihat mikro organism.

Pertanyaan

1. Mengapa pasien merasa nyeri saat berkemih?


Karena terjadi proses inflamasi disaluran kemih
2. Mengapa nyeri tekan di supra pubik?
Karena letak saluran kemih sendiri berada disupra pubik
3. Mengapa terjadi anyang anyangan secara berulang?
Karena addanya koloni bakteri yang menyebabkan VU berkontraksi terus
menerus
4. Kenapa terjadi penungkatan leukosit?
Karena adanya proses inflamasi
5. Apakah diagnosis banding dari penyakit ini?
Urolitiasis, uretrolitiasis, ureteritis, cystisis
6. Terapi dari penyakit diatas ialah?
Antibiotic
7. Komplikasi apa yang terjadi dr penyakit diatas?
Obstruksi saluran kemih
8. Sebutkan bakteri penyebab kasus diatas?
E.coli

HIPOTESIS

ISK

Inflamasi Perlekatan bakteri pada VU yang seharusnya steril


Ex: E.Coli
Nyeri saat buang air kecil, anyang-anyangan

PF = Nyeri tekan Supra Publik


Urinalisis
Pemeriksaan Penunjang
Kultur Urin
Diagnosis ISK DD: Urolitiasis, uretrolitiasis, ureteritis, cystisis

Terapi Antibiiotik

Komplikasi Obstruksi saluran kemih

Sasaran Belajar
1. Memahami dan menjelaskan tentang Vesika Urinaria
I.

Anatomi makroskopik

II.

Anatomi mikroskopik

2. Memahami dan menjelaskan tentang Fisiologi berkemih dan persyarafannya


3. Memahami dan menjelaskan tentang ISK
I.
Definisi
II.
Etiologi
III.
Klasifikasi
IV. Patofisiologi
V. Manifestasi
VI.
Diagnosis
VII.
Diagnosis banding
VIII.
Komplikasi
IX.
Prognosis
4. Memahami dan menjelaskan tentang rukhsah dan tharah

1. Mampu memahami dan menjelaskan tentang anatomi saluran kemih bagian bawah
(vesica urinaria dan urethra)
LO. 1.1. Anatomi makro
VESIKA URINARIA
Isi normal penuh :

Adalah kantong urine ( buli buli ) yang merupakan tempat muara saluran urinarius
ureter dextra dan sinistra dan terdapat dalam rongga pelvis.
Adapun struktur anatomi dari vesika urinaria, sebagai berikut:
Berbentuk piramid 3 sisi , apex menuju ventral atas dan basis (fundus) menuju
dorso kaudal dan corpus terdapat antara apex dan fundus vesicae.
Pada bagian kiri/kanan fundus vesicae terdapat tempat kedua muara ureter yang
dinamakan Orificium Uretericum Vesicae dan daerah tersebut berbentuk
segitiga yang dikenal dengan trigonum vesicae, dan pada basis caudal terdapat
tempat keluar urine menuju urethra yang dinamakan orificium urethra internum
vesicae .
Pada bagian apex vesicae terdapat jaringan ikat yang merupakan sisa embryologis
dari Urachus yang menuju umbilicus dinamakan ligamentum vesiko
umbilikalis medianum .
Mempunyai lapisan fibrosa, serosa dan tunica muscularis. Pada tunica musculare
terdapat serabut otot stratum longitudinalis dari apex ke fundus dan stratum
circulare yang melingkari orificium internum vesicae.otot tersebut diatas
berfungsi untuk merangsang urine keluar vesicae yang dikenal dengan
m.destrusor vesicae dan m.sphincter vesicae.
Pada daerah trigonal vesicae terdapat otot yang merupakan lanjutan dari stratum
longitudinalis yang menghubungkan kedua orificium uretericum dan membentuk
plica inter uretericum yang berfungsi untuk vesicae jika sudah penuh.

Gambar 1. Vesika Urinaria

VASKULARISASI VESICAE URINARIA

Mendapatkan perdarahan dari pembuluh darah sebagai berikut:


1
2

A . Vesicalis Superior cabang dari A. Hypogastrica.


A . Vesicalis Inferior cabang dari A. Hypogarstica.

PERSYARAFAN VESICA URINARIA


Di urus oleh syaraf otonom parasympatis yang berassal dari N . Splanchnicus pelvicis
( sacral 2-3-4 ) dan syaraf sympatis ganglion symphaticus (lumbal 1-2-3 ).

Gambar 2. Vesika Urinaria

URETHRA
Adalah saluran terakhir dari saluran urinarius mulai dari orificium internum urethra
sampai ke orificium urethra externa ( tempat urine dikeluarkan ). Urethra pada laki laki lebih
panjang dapi perempuan sebab pada laki laki terdapat penis dan kelenjar prostat sedangkan
pada wanita tidak ada. Pada laki laki panjang urethra ( 18-20 ) cm dan pada wanita hanya ( 58 ).
STRUKTUR ANATOMI URETHRA :
Pada laki laki terbagi atas 3 daerah yaitu :

Urethra pars prostatica mulai dari orificium urethra internum sampai ke urethra
yang ditutupi oleh kelenjar prostata dan berada dalam rongga panggul. Cairan
mani + sperma masuk kedalam urethra pars prostatica ini kemudian keluar pada

orificium urethra externum.


Urethra pars membranacea dari pars prostatica sampai bulbus penis pars

cavernosa ( urethra ini paling pendek 1-2 cm )


Uerthra pars cavernosa ( spongiosa ) mulai dari daerah bulbus penis sampai
orificium urethra externum . berjalan dalam corpus cavernosa urethra ( penis ),
12-15 cm.
Bermuara 2 macam kelenjar yaitu :
1. kelenjar para urethralis
2. kelenjar bulbo urethralis

PERDARAHAN URETHRA
Di urus oleh cabang cabang arteria pudenda interna
1. A. Dorsalis penis
2. A. Bulbo Urethralis
PERSARAFAN URETHRA
Di urus oleh cabang cabang N. Pudendus ke N. Dorsalis penis.

LO. 1.2. Anatomi mikro


VESIKA URINARIA

Adalah organ berongga yang fungsi utamanya adalah menampung urine. Lumen vesika urinaria
dilapisi epitel transisional yang dapat meregang atau membesar ( berubah bentuk ) saat diisi
urine. Vesika urinaria dilapisi oleh 3 lapisan yaitu mukosa, muskularis dan adventisia /
serosa.Lapisan yang menyusun epitel transisional pada mukosa lebih banyak, pada permukaan
epitel yang teregang dapat ditemukan sel payung dengan dinding apikalnyaberwarna
asidofil.Dibawah epitel terdapat lamina propia.Tunika muskularis tersusun oleh lapisan lapisan
otot polos yang berjalan ke berbagai arah.Tunika adventitia berupa jaringan ikat, sebagian vesika
urinaria ditutupi oleh peritoneum (serosa).

Gambar 4. Mikroskopik vesika urinaria

URETHRA
Pada urethra pria Epitel pembatas urethra pars prostatica ialah epitel transisional, tetapi pada
bagian lain berubah menjadi epitel berlapis / bertingkat silindris, dengan bercak epitel berlapis
gepeng, ujung urethra bagian penis yang melebar atau fosa naviculare dibatasi oleh epitel
berlapis gepeng terdapat sedikit sel goblet penghasil mukus.sedangkan pada wanita
muskularisnya terdiri dari dua lapisan sel otot polos tetapi diperkuat sfingter otot pada muaranya,
dan epitel pembatasnya berupa epitel berlapis gepeng. Lamina propianya merupakan jaringan
ikat fibrosa longgar yang ditandai dengan banyaknya sinus venosus mirip jaringan cavernosa.

Gambar 5. Mikroskopik urethra

LI 2. Mampu memahami dan menjelaskan tentang fisiologi berkemih


a) Proses berkemih
Setelah dibentuk ginjal, urin disalurkan melalui ureter ke kandung kemih.Kontraksi otot
peristaltik otot polos dalam dinding uretra juga mendorong urin bergerak dari ginjal menuju
kandung kemih.Ureter menembus dinding kandung kemih secara oblik sebelum bermuara di
rongga kandung kemih.Susunan anatomis ini mencegah aliran balik urin dari kandung kemih ke
ginjal ketika terjadi peningkatan tekanan di kandung kemih.
Ketika kandung kemih terisi, ujung ureter yang terdapat di dinding kandung kemih tertekan dan
menutup.Tapi urin masih tetap bisa masuk ke kandung kemih, karena kontraksi ureter
menghasilkan tekanan yang cukup besar untuk mendorong urin melewati saluran yang tertutup.
Lapisan epitel kandung kemih (epitel transisional) mampu meningkatkan atau mengurangi luas
permukaan melalui proses teratur daur membran saat kandung kemih terisi atau kosong.

Kandung kemih terisi permukaan epitel meluas dengan cara vesikel-vesikel sitoplasma

disisipkan ke dalam membran permukaan melalui proses eksositosis.


Isi kandung kemih keluar vesikel-vesikel ditarik melalui proses eksositosis.

Kandung kemih harus memiliki kapasitas penyimpanan yang cukup, sehingga urin tidak perlu
terus menerus dikeluarkan.

Otot polos kandung kemih banyak mendapatkan persarafan parasimpatis, yang apabila
dirangsang akan menyebabkan kontraksi kandung kemih. Ketika m.detrussor vesicae
berkontraksi terjadi perangsangan urin.
Pintu keluar kandung kemih dijaga 2 sfingter:

Sfingter uretra interna, terdiri dari otot polos dan berada di bawah kontrol involunter.
Sewaktu kandung kemih melemas/ rileks, susunan anatomis uretra interna menutupi pintu

keluar kandung kemih.


Sfingter uretra eksterna, diperkuat seluruh diafragma pelvis, dipersarafi neuron motorik,
di bawah kesadaran karena merupakan otot rangka. Dapat dengan sengaja dikontraksikan
untuk mencegah pengeluaran urin sewaktu kandung kemih kontraksi & sfingter uretra
interna terbuka.

Daya tampung kandung kemih berkisar 250-400ml, semakin banyak terisi urin maka volume di
dalam kandung kemih juga semakin besar dan semakin besar pula tingkat pengaktifan reseptor
regang.
Aktivasi reseptor regangke serat-serat aferenkorda spinalisantar neuronrangsang
parasimpatishambat neuron motorik yang persarafi sfingter eksterna, kedua sfingter terbuka
dan urin terdorong keluar menuju uretra karena gaya kontraksi kandung kemih.
Proses Miksi (Rangsangan Berkemih).
Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada
dinding kandung kemih dengan jumlah 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih
(proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat
yang sama terjadi relaksasi sfingter internus, diikuti oleh relaksasi sfingter eksternus, dan
akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi
kandung kemih dan relaksasi sfingter interus dihantarkan melalui serabut serabut para
simpatis.Kontraksi sfingter eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau
menghentikan miksi.kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf saraf yang menangani
kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Bila terjadi kerusakan pada saraf
saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus menerus tanpa

disadari) dan retensi urine (kencing tertahan). Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria,
diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom.Torako lumbar berfungsi
untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna.Peritonium melapis kandung kemih
sampai kira kira perbatasan ureter masuk kandung kemih.Peritoneum dapat digerakkan
membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh.Pembuluh darah
Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal, vena membentuk anyaman
dibawah kandung kemih.Pembuluh limfe berjalan menuju duktus limfatilis sepanjang arteri
umbilikalis.

LI .3 Memahami dan menjelaskan Infeksi Saluran Kemih


LO 3.1 Definisi
Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan istilah umum yang menunjukkan keberadaan
mikroorganisme dalam urin. Adanya bakteri dalam urin disebut bakteriuria.Bakteriuria bermakna
menunjukkan pertumbuhan mikroorganisme lebih dari 10 5 colony forming units (CFU) pada
biakan urin.Bakteriuria bermakna tanpa disertai manifestasi klinis ISK disebut bakteriuria
asimptomatik.Sebaliknya bakteriuria bermakna disertai manifestasi klinis disebut bakteriuria
simptomatik. ISK akan menunjukkan adanya ketidaknyamanan dan rasa sakit berulang pada
kandung kemih dan disekitar pelvis.
ISK ini lebih sering menyerang wanita, karena uretra wanita yang pendek, dan ostium
uretra externa dekat dengan anus, yang berarti bisa terkontaminasi. Prevalensi ISK menyerang
5% wanita dan 1 sampai 2% laki-laki dengan prevalensi 5,3% pada bayi bayi yang demam di
gawat darurat. Banyak terjadi juga pada wanita hamil, wanita dengan aktivitas seksual yang

dominan, wanita menopause, tapi tetap bisa terjadi kapan saja. Seorang wanita minimal sekali
pernah mengalami ISK
Brady, Eamon. Whelehans Pharmacy.
Yulianto. Pola Kepekaan Literatur. FK UI 2009
LI 3.2 Etiologi
Penyebab terbanyak adalah bakteri gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya
menghuni usus kemudian naik ke sistem saluran kemih. Dari gram negatif tersebut, ternyata
Escherichia coli menduduki tempat teratas kemudian diikuti oleh Proteus sp., Klebsiella sp.,
Enterobacter sp., dan Pseudomonas sp.,Bermacam-macam mikro organisme dapat menyebabkan
ISK, antara lain dapat dilihat pada tabel berikut:

Persentase biakan mikroorganisme penyebab ISK


No

Mikroorganisme

Persentase
biakan (%)

1
2

Escherichia coli
Klebsiela sp. atau

50-90
10-40

3
4
5

Enterobacter sp.
Proteus sp.
Pseudomonas aeroginosa
Staphylococcus

5-10
2-10
2-10

6
7
8

epidermidis
Enterococci sp.
Candida albicans
Staphylococcus aureus

2-10
1-2
1-2

Jenis penyebab ISK non-bakterial adalah biasanya adenovirus yang dapat menyebabkan
sistitis hemoragik. Bakteri lain yang dapat menyebabkan ISK melalui cara hematogen adalah
brusella, nocardia, actinomises, dan Mycobacterium tuberculosa .Candida sp merupakan jamur

yang paling sering menyebabkan ISK terutama pada pasien-pasien yang menggunakan kateter
urin, pasien dengan penyakit imunnocompromised, dan pasien yang mendapat pengobatan
antibiotik berspektrum luas.Jenis Candida yang paling sering ditemukan adalah Candida albicans
dan Candida tropicalis. Semua jamur sistemik dapat menulari saluran kemih secara hematogen .
Faktor predisposisi yang menaikkan prevalensi ISK :
1. Tidak mengosongkan kandung kemih segera, karena bisa menyebabkan multiplikasi bakteri,
dan bakteri tinggal di vesika urinaria.
2. Saat menggunakan tampon, atau saat melakukan aktivitas seksual, bisa saja bakteri terdorong
masuk ke uretra wanita bagian dalam
3. Menyebarnya bakteri dari anus saat membilas dari belakang ke depan, yang seharusnya dari
depan ke belakang
4. Saat mengganti kateter, bisa terjadi kerusakan
5. Bendungan di sistem urinarius yang menghalangi pengosongan kandung kemih
a. Anomali kongenital
b. Batu saluran kemih
c. Oklusi ureter (sebagian atau total)
6. Pada wanita menopause, saluran dari vesika urinaria ke uretra menjadi tipis karena
kekurangan hormone estrogen. Hal ini menyebabkan mudahnya terjadi kerusankan dan
infeksi. Wanita juga memproduksi mucus lebih sedikit saat menopause, dan tanpa mucus ini,
bakteri bisa bermultiplikasi dengan mudahnya. Tapi bila wanita menopause melakukan
hormone replacement therapy (HRT) maka kemungkinan ISK lebih kecil
7. Pada wanita, kerusakan fisik dan memar bisa disebabkan aktivitas seksual yang sering dan
kuat, dan menyebabkan honeymoon cystitis
Brady, Eamon. Whelehans Pharmacy.
LO 3.3 Klasifikasi
Infeksi saluran kemih dapat diklasifikasikan berdasarkan anatomi, yaitu:
1. Infeksi saluran kemih atas
Pielonefritis adalah infeksi pada ginjal itu sendiri.Pielonefritis dapat bersifat akut atau kronik.
a. Pielonefritis akut adalah proses inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan oleh infeksi
bakteri, biasanya terjadi akibat infeksi kandung kemih asendens. Pielonefritis akut juga dapat
terjadi melalui infeksi hematogen.
b. Pielonefritis kronis (PNK), mungkin terjadi akibat lanjut atau berulang dari infeksi bakteri
berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil. Biasanya dijumpai pada individu yang mengidap

batu, obstruksi saluran kemih, serta refluks vesikoureter dengan atau tanpa bakteriuria kronik
sering diikuti pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal yang ditandai pielonefritis kronik
yang spesifik.Kemampuan ginjal untuk memekatkan urin menurun karena rusaknya tubulustubulus.Glomerulus biasanya tidak terkena, hal ini dapat menimbulkan gagal ginjal kronik.
2. Infeksi saluran kemih bawah
Cystitis adalah infeksi kandung kemih, yang merupakan tempat tersering terjadinya
infeksi.Cystitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering disebabkan oleh infeksi
asenden dari uretra.Penyebab lainnya mungkin aliran balik urine dari uretra kedalam kandung
kemih.Kontaminasi fekal atau penggunaan kateter atau sistoskop.
Beberapa

penyelidikan

menunjukkan

20%

dari

wanita-wanita

dewasa

tanpa

mempedulikan umur setiap tahun mengalami disuria dan insidennya meningkat sesuai
pertumbuhan usia dan aktifitas seksual, meningkatnya frekwensi infeksi saluran perkemihan
pada wanita terutama yang gagal berkemih setelah melakukan hubungan seksual dan
diperkirakan pula karena uretra wanita lebih pendek dan tidak mempunyai substansi anti mikroba
seperti yang ditemukan pada cairan seminal.
Infeksi ini berkaitan juga dengan penggunaan kontrasepsi spermasida-diafragma karena
kontrsepsi ini dapat menyebabkan obstruksi uretra parsial dan mencegah pengosongan sempurna
kandung kemih.Cistitis pada pria merupakan kondisi sekunder akibat bebarapa faktor misalnya
prostat yang terinfeksi, epididimitis, atau batu pada kandung kemih.
Cystitis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu;
a. Cystitis primer,merupakan radang yang mengenai kandung kemih radang ini dapat terjadi
karena penyakit lainseperti batu pada kandung kemih, divertikel, hipertropi prostat dan
striktura uretra.
b. Cystitis sekunder, merukan gejala yang timbul kemudian sebagai akibat dari penyakit
primer misalnya uretritis dan prostatitis
Universitas Sumatera Utara. Infeksi Saluran Kemih, Chapter II
http://omzainul.wordpress.com/2010/03/29/isk-infeksi-saluran-kemih-dari-berbagai-sumbermoga-berguna/ (11apr2013, 5:14)
Menurut komplikasi:

1. ISK sederhana ( tanpa faktor predisposisi )


ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun
fungsional normal. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi
hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
2. ISK berkomplikasi ( disertai faktor perdisposisi )
Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas,
kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi
bakterimia, sepsis, dan shock. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan- keadaan sebagai berikut :
a. Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral obstruksi, atoni
kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap dan prostatitis.
b. Kelainan faal ginjal :GGA maupun GGK
c. Gangguan daya tahan tubuh
d. Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen seperti prosteus spp yang memproduksi
urease.
LO 3.4 Patogenesis dan Patofisiologi
Dua

jalur

utama

terjadinya

ISK

adalah

hematogen

dan ascending, tetapi dari kedua cara ini ascendinglah yang paling
sering

terjadi.Kuman penyebab ISK pada umumnya adalah kuman yang berasal

dari

flora normal usus. Dan hidup secara komensal di dalam introitus vagina,
preputium penis, kulit perineum, dan di sekitar anus. Mikroorganisme

memasuki

saluran kemih melalui uretra prostate vas deferens testis (pada pria)

buli-buli ureter, dan sampai ke ginjal


Masuknya kuman secara ascending ke dalam saluran kemih, (1) Kolonisasi kuman di
sekitar uretra, (2) masuknya kuman melalui uretra ke buli-buli, (3) penempelan kuman pada
dinding buli-buli, (4) masuknya kuman melalui ureter ke ginjal.
Meskipun begitu,faktor-faktor yang berpengaruh pada ISK akut yang terjadi pada wanita tidak
dapat ditemukan. Mikroorganisme yang paling sering ditemukan adalah jenis bakteri
aerob.Selain bakteri aerob, ISK dapat disebabkan oleh virus dan jamur.Terjadinya infeksi saluran
kemih karena adanya gangguan keseimbangan antar mikroorganisme penyebab infeksi

sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan
oleh karena pertahanan tubuh dari host yang menurun atau karena virulensi agent meningkat.
Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih disebabkan
oleh beberapa faktor, antara lain adalah :
1. pertahanan lokal dari host
2. peranan dari sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas kekebalan humoral maupun
imunitas seluler.
Kuman Escherichia coli yang menyebabkan ISK mudah berkembang biak di dalam urine,
disisi lain urine bersifat bakterisidal terhadap hampir sebagian besar kuman dan
spesies Escherichia coli. Sebenarnya pertahanan sistem saluran kemih yang paling baik adalah
mekanisme wash-out urine, yaitu aliran urine yang mampu membersihkan kuman-kuman yang
ada di dalam urine bila jumlah cukup. Oleh karena itu kebiasaan jarang minum menghasilkan
urine yang tidak adekuat sehingga memudahkan untuk terjadinya infeksi saluran kemih. ISK
juga banyak terjadi melalui kateterisasi yang terjadi di rumah sakit. Berikut data dari infeksi
nosokomial terbanyak yang terjadi di rumah sakit

Gambar 3. infeksi nosokomial yang paling sering terjadi

Purnomo BB: Dasar-Dasar Urologi 2nd Edition . Jakarta, Sagung Seto. 2003
LO 3.5 Manifestasi
Gejala klinis ISK sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi sebagai berikut :
-

Pada ISK bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra

sewaktu kencing dengan air kemih sedikit-sedikit serta rasa tidak enak di daerah suprapubik
- Pada ISK bagian atas dapat ditemukan gejala sakit kepala, malaise, mual, muntah, demam,
menggigil, rasa tidak enak, atau nyeri di pinggang
Tessy A, Ardaya, Suwanto. Infeksi Saluran Kemih. In: Suyono HS. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam 3rd edition. Jakarta, FKUI. 2001.
Gejala Cystitis:
- peningkatan frekwensi miksi baik diurnal maupun nokturnal
- nyeri buang air kecil (dysuria) karena epitelium yang meradang tertekan
- rasa nyeri pada daerah suprapubik atau perineal / pinggang belakang
- rasa ingin buang air kecil
- hematuria
-demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah
- sering buang air kecil (frequency),
- gejala gejala sistemik
Gejala infeksi saluran kemih berdasarkan umur penderita adalah sebagai berikut :
a. 0-1 Bulan: Gangguan pertumbuhan, anoreksia, muntah dan diare, kejang, koma,
panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya, ikterus (sepsis).
b. 1 bln-2 thn : Panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya, gangguan pertumbuhan, anoreksia,
muntah, diare, kejang, koma, kolik (anak menjerit keras), air kemih berbau/berubah warna,
kadang-kadang disertai nyeri perut/pinggang.
c. 2-6 thn: Panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya, tidak dapat menahan kencing,
polakisuria, disuria, enuresis, air kemih berbau dan berubah warna, diare, muntah, gangguan
pertumbuhan serta anoreksia.

d. 6-18 thn: Nyeri perut/pinggang, panas tanpa diketahui sebabnya, tak dapat menahan kencing,
polakisuria, disuria, enuresis, air kemih berbau dan berubah warna.
LO 3.6 Diagnosis
ANAMNESIS
ISK bawah : disuria terminal, polakisuria, nyeri suprapubik
ISK atas: nyeri pinggang, demam, menggigil, mual dan muntah, hematuria
PEMERIKSAAN FISIK
Febris, nyeri tekan suprapubik, nyeri ketok sudut kostovertebra
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
1.1 Urinalisis
Urinalisa merupakan test yang mengevaluasi sample urin, yang bertujuan untuk
mendeteksi kelainan pada traktus urinarius, kelainan ginjal, dan diabetes. Pada pemeriksaan urin
rutin, jika ditemukan leukosit yang jumlahnya >10/LPB (Lapangan Pandang Besar) dengan
mikroskop, maka hal ini merupakan tanda tidak normal.Piuria merupakan tanda yang penting
pada ISK.Oleh karena itu, leukosit >10 kemungkinan menandakan adanya ISK.
Cara Pengambilan Sampel
Bahan urin untuk pemeriksaaan harus segar dan sebaiknya diambil pagi hari. Bahan urin
dapat diambil dengan cara punksi suprapubik (suprapubic puncture=spp), dari kateter dan urin
porsi tengah (midstream urine). Bahan urin yang paling mudah diperoleh adalah urin porsi
tengah yang ditampung dalam wadah bermulut lebar dan steril.
a. Punksi Suprapubik
Pengambilan urin dengan punksi suprapubik dilakukan pengambilan urin langsung dari
kandung kemih melalui kulit dan dinding perut dengan semprit dan jarum steril. Yang penting
pada punksi suprapubik ini adalah tindakan antisepsis yang baik pada daerah yang akan ditusuk,
anestesi lokal pada daerah yang akan ditusuk dan keadaan asepsis harus selalu dijaga. Bila

keadaan asepsis baik, maka bakteri apapun dan berapapun jumlah koloni yang tumbuh pada
biakan, dapat dipastikan merupakan penyebab ISK.
b. Kateter
Bahan urin dapat diambil dari kateter dengan jarum dan semprit yang steril. Pada cara ini
juga penting tindakan antisepsis pada daerah kateter yang akan ditusuk dan keadaan asepsis
harus selalu dijaga. Tempat penusukan kateter sebaiknya sedekat mungkin dengan ujung kateter
yang berada di dalam kandung kemih (ujung distal). Penilaian urin yang diperoleh dari kateter
sama dengan hasil biakan urin yang diperoleh dari punksi suprapubik.
c. Urin Porsi Tengah
Urin porsi tengah sebagai sampel pemeriksaan urinalisis merupakan teknik pengambilan
yang paling sering dilakukan dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada penderita.Akan
tetapi resiko kontaminasi akibat kesalahan pengambilan cukup besar. Tidak boleh menggunakan
antiseptik untuk persiapan pasien karena dapat mengkontaminasi sampel dan menyebabkan
kultur false-negative.
Cara pengambilan dan penampungan urin porsi tengah pada wanita :
1. Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah vagina dan muara
uretra. Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua potong kasa steril dibasahi air
atau salin hangat dan sepotong lagi dibiarkan dalam keadaan kering.Jangan memakai larutan
antiseptik untuk membersihkan daerah tersebut.Siapkan pula wadah steril dan jangan buka
tutupnya sebelum pembersihan daerah vagina selesai.
2. Dengan 2 jari pisahkan kedua labia dan bersihkan daerah vagina dengan potongan kasa
steril yang mengandung sabun. Arah pembersihan dari depan ke belakang. Kemudian buang
kasa yang telah dipakai ke tempat sampah.
3. Bilas daerah tersebut dari arah depan ke belakang dengan potongan kasa yang dibasahi
dengan air atau salin hangat. Selama pembilasan tetap pisahkan kedua labia dengan 2 jari dan
jangan biarkan labia menyentuh muara uretra.Lakukan pembilasan sekali lagi, kemudian
keringkan daerah tersebut dengan potongan kasa steril yang kering.Buang kasa yang telah
dipakai ke tempat sampah.

4. Dengan tetap memisahkan kedua labia, mulailah berkemih. Buang beberapa mililiter urin
yang mula-mula keluar.Kemudian tampung aliran urin selanjutnya ke dalam wadah steril
sampai kurang lebih sepertiga atau setengah wadah terisi.
5. Setelah selesai, tutup kembali wadah urin dengan rapat dan bersihkan dinding luar wadah
dari urin yang tertumpah. Tuliskan identitas penderita pada wadah tersebut dan kirim segera
ke laboratorium.

Cara pengambilan dan penampungan urin porsi tengah pada pria :


1. Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah penis dan muara uretra.
Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua potong kasa steril dibasahi dengan air
sabun, dua potong kasa steril dibasahi dengan air atau salin hangat dan sepotong lagi
dibiarkan dalam keadaan kering.Jangan memakai larutan antiseptik untuk membersihkan
daerah tersebut.Siapkan pula wadah steril dan jangan buka tutupnya sebelum pembersihan
selesai.
2. Tarik prepusium ke belakang dengan satu tangan dan bersihkan daerah ujung penis dengan
kasa yang dibasahi air sabun. Buang kasa yang telah dipakai ke tempat sampah.
3. Bilas ujung penis dengan kasa yang dibasahi air atau salin hangat. Ulangi sekali lagi, lalu
keringkan daerah tersebut dengan potongan kasa steril yang kering.Buang kasa yang telah
dipakai ke dalam tempat sampah.
4. Dengan tetap menahan prepusium ke belakang, mulailah berkemih. Buang beberapa mililiter
urin yang keluar, kemudian tampung urin yang keluar berikutnya ke dalam wadah steril
sampai terisi sepertiga sampai setengahnya.
5. Setelah selesai, tutup kembali wadah urin dengan rapat dan bersihkan dinding luar wadah
dari urin yang tertumpah. Tuliskan identitas penderita pada wadah tersebut dan kirim segera
ke laboratorium.
Setelah pengambilan sampel, maka harus dilakukan :
1. Bahan urin harus segera dikirim ke laboratorium, karena penundaan akan menyebabkan
bakteri yang terdapat dalam urin berkembang biak dan penghitungan koloni yang tumbuh

pada biakan menunjukkan jumlah bakteri sebenarnya yang terdapat dalam urin pada saat
pengambilan. Sampel harus diterima maksimun 1 jam setelah penampungan.
2 Sampel harus sudah diperiksa dalam waktu 2 jam. Setiap sampel yang diterima lebih dari 2
jam setelah pengambilan tanpa bukti telah disimpan dalam kulkas, seharusnya tidak dikultur
dan sebaiknya dimintakan sampel baru.
3 Bila pengiriman terpaksa ditunda, bahan urin harus disimpan pada suhu 4oC selama tidak
lebih dari 24 jam.
d. Pemeriksaan Urin Empat Porsi (Meares Stamey)
Pemeriksaan ini dilakukan untuk penderita prostatitis. Pemeriksaan ini terdiri dari urin empat
porsi yaitu :
1. Porsi pertama (VB1) : 10 ml pertama urin, menunjukkan kondisi uretra,
2. Porsi kedua (VB2) : sama dengan urin porsi tengah, menunjukkan kondisi buli-buli,
3. Porsi ketiga (EPS) : sekret yang didapatkan setelah masase prostat,
4. Porsi keempat (VB4) : urin setelah masase prostat.
a. Eritrosit
Ditemukannya eritrosit dalam urin (hematuria) dapat merupakan penanda bagi berbagai
penyakit glomeruler maupun non-gromeruler, seperti batu saluran kemih dan infeksi saluran
kemih.
b. Piuria
Piuria atau sedimen leukosit dalam urin yang didefinisikan oleh Stamm, bila ditemukan paling
sedikit 8000/ml urin yang tidak disentrifus atau setara dengan 2-5/LPB pada urin yang di
sentrifus. Infeksi saluran kemih dapat dipastikan bila terdapat leukosit sebanyak > 10 per
mikroliter urin atau > 10.000 per ml urin .
Piuria yang steril dapat ditemukan pada keadaan :
1. infeksi tuberkulosis;
2. urin terkontaminasi dengan antiseptik;
3. urin terkontaminasi dengan leukosit vagina;
4. nefritis intersisial kronik (nefropati analgetik);

5. nefrolitiasis;
6. tumor uroepitelial
c. Silinder
Silinder dalam urin dapat memiliki arti dalam diagnosis penyakit ginjal, antara lain:
1. silinder eritrosit, sangat diagnostik untuk glomerulonefritis atau vaskulitis ginjal;
2. silinder leukosit bersama dengan hanya piuria, diagnostik untuk pielonefritis;
3. silinder epitel, dapat ditemukan pada nekrosis tubuler akut atau pada gromerulonefritis akut;
4. silinder lemak, merupakan penanda untuk sindroma nefrotik bila ditemukan bersamaan
dengan proteinuria nefrotik.
d. Kristal
Kristal dalam urin tidak diagnostik untuk penyakit ginjal.
e. Bakteri
o Mikroskopis, pada pemeriksaan mikroskopis dapat digunakan urin segar tanpa diputar atau
pewarnaan gram. Bakteri

dinyatakan positif bila dijumpai satu bakteri lapangan pandang

minyak emersi.
o Biakan bakteri, pembiakan bakteri sedimen urin dimaksudkan untuk memastikan diagnosis
ISK yaitu bila ditemukan bakteri dalam jumlah bermakna, yaitu:
Pengambilan spesimen
Aspirasi supra pubik

Jumlah koloni bakteri per ml urin


> 100 cfu/ml dari 1 atau lebih

Kateter

organisme patogen
> 20.000 cfu/ml dari 1 organisme

patogen
Urine bag atau urin porsi > 100.000 cfu/ml
tengah
f. Tes Kimiawi
Beberapa tes kimiawi dapat dipakai untuk penyaring adanya bakteriuria, diantaranya yang paling
sering dipakai adalah tes reduksi griess nitrate. Dasarnya adalah sebagian besar mikroba kecuali
enterococci mereduksi nitrat.
g. Tes Plat Celup (Dip-Slide)

Beberapa pabrik mengeluarkan biakan buatan yang berupa lempengan plastik bertangkai dimana
pada kedua sisi permukaannya dilapisi pembenihan padat khusus.Lempengan tersebut
dicelupkan ke dalam urin pasien atau dengan digenangi urin.Setelah itu lempengan dimasukkan
kembali kedalam tabung plastik tempat penyimpanan semula, lalu diletakkan pada suhu 37 oC
selama satu malam.Penentuan jumlah kuman/mL dilakukan dengan membandingkan pola
pertumbuhan kuman yang terjadi dengan serangkaian gambar yang memperlihatkan pola
kepadatan koloni antara 1000 hingga 10.000.000 cfu per mL urin yang diperiksa.Cara ini mudah
dilakukan, murah dan cukup adekuat. Kekurangannya adalah jenis kuman dan kepekaannya tidak
dapat diketahui .
1.2. Radiologis
Pemeriksaan radiologis pada ISK dimaksudkan untuk mengetahui adanya batu atau kelainan
anatomis yang merupakan faktor predisposisi ISK. Pemeriksaan ini dapat berupa foto polos
abdomen, pielografi intravena, demikian pula dengan pemeriksaan lainnya, misalnya
ultrasonografi dan CT Scan.
Tessy A, Ardaya, Suwanto. Infeksi Saluran Kemih. In: Suyono HS. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam 3rd edition. Jakarta, FKUI. 2001.
Purnomo BB: Dasar-Dasar Urologi 2nd Edition . Jakarta, Sagung Seto. 2003
Hooton TM, Scholes D, Hughes JP, Winter C, Robert PL, stapleton AE, Stergachis A, Stamm
WE. A Prospective Study of Risk Factor for Symtomatic Urinary Tract

LO 3.7 Diagnosis Banding


Yang penting adalah membedakan antara pielonefritis dan sistitis. Ingat akan pielonefritis apabila
didapatkan infeksi dengan hipertensi, disertai gejala-gejala umum, adanya faktor predisposisi,
fungsi konsentrasi ginjal menurun, respons terhadap antibiotik kurang baik.

LO 3.8 penatalaksanaan
Manajemen ISK
Infeksi saluran kemih (ISK) bawah

Prinsip manajemen ISK bawah adalah intake cairan yang banyak, antibiotka yang
adekuat, dan kalau perlu terapi simtomatik untuk lkalinisasi urin:
Hamper 80% pasien akan memberikan respon setelah 48 jam dengan antibiotika

tunggal; seperti ampisilin 3 gr, trimetoprim 200 mg.


Bila infeksi menetap disertai urinalisis (lekosuria) diperlukan terapi

konvensional selama 5-10 hari


Pemeriksaan mikroskopik urin dan biakan urin tidak diperlukan bila semua
gejala hilang dan tanpa lekosuria.

Reinfeksi berulang (frequent re-infection)

Disertai factor predisposisi: Terapi antimikroba yang intensif diikuti factor resiko
Tanpa factor predisposisi:
Asupan cairan banyak
Cuci setelah melakukan senggama diikuti terapi antimikroba takaran
tunggal (misal: trimetoprim 200mg)
Terapi antimikroba jangka lama sampai 6 bulan

Sindrom Uretra Akut (SUA)


Pasien dengan SUA dengan hitung kuman 103-105 memerlukan antibiotika yang
adekuat.
Infeksi klamidia memberikan hasil yang baik dengan tetrasiklin
Infeksi disebebkan MO anaerobic di perlukan antimikroba yang serasi, missal
golongan kuinolon.
Infeksi Saluran Kemih (ISK) Atas
Pielonefritis Akut
Pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut memerlukan rawat inap untuk
memelihara status hidrasi dan terapi antibiotika parenteral paling sedikit 48 jam.
Indikasi Rawat Inap Pilonefritis Akut:

Kegagalan mempertahankan hidrasi normal atau toleransi terhadap antibiotika oral


Pasien sakit berat atau debilitasi
Terapi antibiotika oral rawat jalan mengalami kegagalan
Factor predisposisi utuk ISK tipe berkomplikasi

Diperlukan investigasi lanjutan


Komorbiditas seperti kehamilan, DM, usia lanjut

Tujuan Terapi
Tujuan terapi ISK adalah mencegah atau mengobati akibat sistemik dari infeksi,
membunuh mikroorganisme penyebab infeksi dan mencegah terjadinya infeksi ulangan.
Strategi Terapi
Terapi tanpa obat pada ISK adalah minum air dalam jumlah banyak agar urine
yang keluar juga meningkat.
Pengobatan ISK adalah menggunakan antibiotik.Idealnya, antibiotik yang
digunakan harus dapat ditoleransi dengan baik, mencapai konsentrasi tinggi dalam urine
dan mempunyai spektrum aktivitas terhadap mikroorganisme penyebab infeksi.Pemilihan
antibiotik untuk pengobatan didasarkan pada tingkat keparahan, tempat terjadinya infeksi
dan jenis mikroorganisme yang menginfeksi.
Terapi ISK dewasa

Lanjutan

Pilihan antimikroba berdasarkan Educated Guess (Farmakologi, FKUI)


Jenis infeksi
Sistitis akut

Penyebab tersering

Pilihan antimikroba

E.coli,

Nitrofurantion,

S.saprophyticus,

ampisilin, trimetroprim

kuman gram negative


lainnya

Pielonefritis akut

E.coli, kuman gram


negative lainnya,
Streptococcus

Untuk pasien rawat:


Gentamisin(atau
aminoglikosida lainnya),
kotrikmoksazol
parenteral, sefalosporin
generasi III, aztreonam
Untuk pasien berobat
jalan:
Kotrimoksazol oral,
fluorokuinolon,
amoksisilin-asam
klavulanat

Prostatitis akut

E.coli, kuman gram

Kotrimoksazol atau

negative lainnya,

fluorokuinolon, atau

E.faecalis

aminoglikosid+ampisili
n parenteral

Prostatitis kronis

E.coli, kuman gram

Kotrimoksazol atau

negative lainnya,

fluorokuinolon atau

E.faecalis

trimetroprim

Yang termasuk aminoglikosida:gentamisin, tobramisin, netilmisin, dan amikasin


(streptomisin dan kanamisin tidak termasuk)

Yang termasuk sefalosporin generasi III:sefotaksim, sefoperazon, setriakson, seftazidin,


sefsulodin, moksalaktam, dll.

Yang termasuk fluorokuinolon:siprofloksasin, ofloksasin, pefloksasin, norfloksasin, dll.

SULFONAMID
Mekanisme kerja:

Kuman memerlukan PABA(p-aminobenzoic-acid)untuk membentuk asam folat yang


digunakan untuk sintesis purin asam nukleat. Sulfonamide merupakan penghambat
kompetitif PABA.

PABA
Dihidropteroat sintetase

sulfonamide berkompetisi dgn PABA

Asam dihidrofolat
Dihidrofolat reduktase

trimetroprim

Asam tetrahidrofolat

Purin

DNA
Efek sulfonamide dihambat oleh adanya darah, nanah dan jaringan nekrotik, karena
kebutuhan mikroba akan asam folat berkurang dalam media yang mengandung basa purin
dan timidin.
Kombinasi dengan Trimetoprim
Menyebabkan hambatan berangkai dalam reaksi pembentukan asam tetrahidrofolat.
Farmakokinetik
Absorpsi:
melalui saluran cerna mudah dan cepat, terutama pada usus halus, beberapa jenis sulfa di
absorpsi di lambung.

Distribusi:
Semua sulfonamis terikat dengan protein plasma terutama albumin dalam derajat yang
berbeda-beda.Obat ini tersebar ke seluruh jaringan tubuh, karena itu berguna untuk
infeksi sistemik.
Obat dapat menembus sawar uri dan menimbulkan efek antimikroba dan efek toksik pada
janin.

Sulfonamide di bagi ke dalam 3 golongan besar:


1. sulfonamide dengan absorpsi dan eksresi cepat
sulfisoksazol

dosis permulaan untuk dewasa 2-4mg, di lanjutkan dengan 1g setiap 46jam

untuk anak 150mg/kgBB sehari

obat ini bisa menimbulkan hipersensitivitas yang kadang bersifat letal

sediaan dalam bentuk tablet 500mg untuk oral

sulfametoksazol
derivate sulfisoksazol dgn absorpsi dan eksresi lebih lambat
dapat diberikan pada pasien dengan infeksi saluran kemih dan infeksi
sistemik
umumnya di gunakan dengan kombinasi tetap dengan trimetoprim
sulfadiazine
dosis permulaan oral pada orang dewasa 2-4g, dilanjutkan dgn 2-4g dalam
3-6 kali pemberian, lama pemberian tergantung keadaan penyakit.
Anak-anak >2 bln, diberikan setengah dosis awal per hari, kemudian di
lanjutkan dengan 60-150mg/kgBB(maksimum 6g/hari) dalam 4-6 kali
pemberian
Sediaan dalam bentuk tablet 500mg

Sulfasitin
Eksresinya cepat untuk penggunaan per-oral pada infeksi

saluran kemih.

Pemberian dosis awal 500mg, dilanjutkan dengan dosis

250mg empat kali sehari.


Tersedia dalam bentuk tablet 250mg(tdk di Indonesia)

Sulfametizol

Digunakan untuk infeksi saluran kemih dengan dosis 500-1000mg dalam


3-4 kali pemberian sehari.

Tersedia dalam bentuk tablet 250mg dan 500mg

2. sulfonamide yang hanya di absorpsi sedikit bila diberikan per-oral dan kerjanya
dalam lumen usus
sulfasalazin
suksinilsulfatiazol dan ftalilsulfatiazol
3. sulfonamide yang terutama di gunakan untuk pemberian topical
sulfasetamid
Ag-sulfadiazin(sulfadiazine perak)
Mafenid
4. sulfonamide dengan masa kerja panjang
sulfadoksin
Efek samping

Reaksi ini dapat hebat dan kadang bersifat letal. Bila mulai terlihat adannya gejala
reaksi toksik dan sensitisasi, pemakain secepat mungkin dihentikan. Dan tidak
diberikan lagi.

Gangguan

system

Agranulositosis(sulfadiazine),

hematopoetik:anemia
anemia

aplastik,

hemolitik
trombositopenia

akut,
ringan,

eosinofilia, gejala HPS.

Gangguan saluran kemih: anuria dan kematian dapat terjadi kristaluria atau
hematuria(jarang terjadi)

Reaksi alergi: gambaran HPS pada kulit dan mukosa bervariasi, berupa kelainan
morbiliform, purpura, petekia, eritema nodosum, eritema multiformis tipe
stevens-johnson, dll. Demam obat dapat terjadi(timbul demam tiba2, pada hari ke
tujuh sampai ke 10 pengobatan, di sertai sakit kepala, menggigil, rasa lemah, dan
erupsi kulit, semuanya bersifat reversible).

Lain2:mual dan muntah

Tidak diberikan pada wanita hamil aterm

CORTIMOKSAZOL

Trimetropin + sulfametoksazol
Mikroba yang peka : enterobacter, klebsiella, diphteri, E.coli, S.aureus, S.viridans,
dll
Untuk mikroba yang resisten sulfonamid agak resisten trimetropin
Farmako dinamik : 2 tahap berurutan rekasi enzimatis 1. Sulfo = hambat PABA,
2. Trime : hambat reaksi dari dehidrofolat tetrahidrofolat
Farmako kinetik : karena trimetropin lipofilik volume distribusi >> besar dari
sulfa
Rasio sulfa : trime 5:1
Diekskresi di urin
Indikasi : ISK, IS nafas, IS cerna, Inf. Genital
E.S : megaloblastosis, leukopenia atau trombositopenia, pada kulit karena
sulfonamid

GOL. PENISILIN
Farmako dinamik :
penisilin menginaktifkan protein yang berada dalam membran sel bakteri yang
penting untuk sintesis dinding sel sehingga bakteri menjadi lisin.

Destruksi dinding sel oleh autolisin / enzim degradatif yang dimiliki penisilin.

Farmako kinetik : ditentukan oleh stabilitas obat terhadap asam lambung dan beratnya
infeksi.
Cara pemberian :
Ampisilin + sulbaktam

IV, IM

Tikarsilin + as.klavulanat
Amoksisilin

ORAL

Amoksisilin + as.klavulanat
Absorbsi tidak lengkap secara oral, tetapi amoksisilin hampir lengkap di absorpsi,
absorbsi penisilin lainnya = penurunan jika ada makanan di dalam lambung = 30-60
menit sebelum makan / 2-3 jam setelah makan. Distribusi ke seluruh tubuh, penisilin
bisa melewati sawar plasenta = tidak teratogenik. Tidak ke SSP
Ekskresi : melalui ginjal
E.S : hipersensitivitas (angioedem, makulopapular, anafilaktik), diare, nefritis
(metisilin), neurotoksisitas, gangguan pembentukan darah (karbanesilin dan karsilin =
antipseudomonas), toksisitas kation

Tidak bisa untuk kuman B-laktamase


Resistensi E.Coli
Efek samping : reaksi alergi , Syok anafilaksis umumnya tidak toksik pada

manusia
Dapat di gunakan secara oral dan parenteral.

GOL. CEPHALOSPORIN

Generasi 3 tunggal atau dalam kombinasi dengan aminoglikosida merupakan obat


pilihan utama untuk infeksi berat oleh Klebsiella , Enterobacter , Proteus ,
Providencia , Srratia , Dan Haemophillus Spesies.

Farmako dinamik :

a) Generasi I : proteus, E.coli, klebsiella


b) Generasi II : Haemophilus, enterobacter, Neisseria=gram (-)
c) Generasi III : contoh : cefritriaavus, cefotaxim, ceftazidim
(pseudomonas aeruginosa)
Farmako kinetik : IV karena absorbsi oral jelek, distribusi ; luas, ekskresi melaui
empedu ke dalam feses
E.S : alergi, perdarahan jika diberikan bersama sefamandol atau sefoperason = anti
vitamin K

Efek samping : reaksi alergi , anafilaksis , dengan spasme bronkus dan urtikaria

dapat terjadi
Secara oral
Obat Mahal

GOL. TETRACYCLIN

Efektif untuk infeksi Chlamydia


Tidak boleh pada anak-anak dan wanita hamil.
Secara Oral

GOL. FLUOROKUINOLON

Efektif untuk ISK dengan atau tanpa penyulit disebabkan oleh kuman-kuman yang

multiresisten dan P.Aeruginosa.


Siprofloksasin, Norfloksasin, dan Ofloksasin untuk terapi Prostatitis bacterial akut
maupun kronis anak-anak dan ibu hamil tidak boleh.
Farmako dinamik : hambat pemisahan double helix DNA saat replikasi dan transkripsi
dengan bantuan enzim DNA girase hambat DNA girase pada kuman dan bersifat
bakterisid
Untuk bakteri : kuinolon lama (gram (-)) E.coli, proteus, klebsiella, enterobakter
Flurokuinolon baru : gram (+), gram (-) dan kuman atipik (mycoplasma, klamidia)
Farmako kinetik : diserap baik di saluran cerna, dalam sediaan oral, hanya sakit yang
terikat protein, distribusi baik ke berbagai organ, capai kadar tinggi di prostat, T1/2

panjang 2x sehari diperlukan. Di metabolisme di hati, ekskresi ginjal sebagian


empedu.
Indikasi : ISK, Infeksi saluran nafas, penyakit menular hubungan sex, infeksi tukak dan
sendi, dll.
E.S : mual, muntah, tidak enak diperut : halunisasi, kejang ; hepatotoksik ; fatotoksif dll.
Interaksi obat : antasit = habis berkuran, hambat teofilin, tidak dikombinasi dengan obat
yang dapat perpanjang interval Qtc.
AMINOGLIKOSIDA

Farmako dinamik : terhadap MO anaerobik rendah, transpor aminogliko butuh


O2, aktivitas terhadap gram (+) terbatas, aktifitas dipengaruhi pH (alkali lebih
tinggi), aerobik-anarobik, keadaan hiperkapnik. Berdifusi lewat kanal air yang
dibentuk porin protein pada membran luar bakteri gram (-) masuk ke ruang
periplasmik. Setelah masuk sel terikat pada ribosom 30 s dan hambat sintesis

protein kerusakan membran sitosol mati. Bersifat bakterisid.


Farmako kinetik : sangat polar, sukar di absorbsi di saluran cerna, per oral hanya
untuk efek lokal di saluran cerna. Untuk kadar sistemik parenteral, ikatan
protein rendah kecuali streptomisin 30-50%. Distribusi ke dalam cairan otak
sangat terbatas, ekskresi di ginjal, kadar dalam urin capai 50-200 mg/ml,

gangguan ginjal hambat ekskresi.


E.S : alergi, reaksi iritasi (rasa nyeri di tempat suntik), toksik (gangguan
pendengaran dan keseimbangan), ototoksik pada N. VII, nefrotoksik.
Kanamisin : untuk E.coli, enterobacter, klebsiella, proteus dll (untuk ISK)
Gentamisin, tobramisin, dan netilmisin Indikasi : infeksi karena proteus,
pseudomanas, klebsiella, E.colli, enterobacter
Amikasin : untuk E.coli, P.aeruginosa, proteus, enterobacter

Sumber : faramakologi dan terapi FKUI ed 5, 2007


ANTISEPTIK

1. Metenamin
Indikasi : Untuk Profilaksis terhadap ISK berulang khususnya bila ada residu

kemih.Tidak diindikasikan untuk infeksi akut saluran kemih.


Untuk berbagai jenis mikroba, kecuali proteus
E.S : iritasi lambung (>500 g ), 4-8 gram/sehari >> 3 mg, iritasi saluran

kemih, proteinuria, hematuria, erupsi kulit.


KI : dengan gangguan hati, tidak untuk gagal ginjal, tidak diberikan bersama

sulfonamid.
Interaksi obat : susu, antasid tidak diberikan meningkatkan pH
Oral 4 x 1 gram/hari
2. Nitrofrantoin
Indikasi : Mengobati bakteriuria yang disebabkan oleh ISK bagian bawah
penggunanya terbatas untuk tujuan profilaksis atau pengobatan supresif ISK
menahun yaitu setelah kuman penyebabnya dibasmi atau dikurangi dalam

antimikroba lain dengan yang lebih sensitive.


Unruk E.coli, proteus, klebsiella, enterobacter, enterokokus
FK : lengkap dan cepat absorbsi di saluran cerna, dengan makanan dapat
menurunkan inhalasi kambung dan menigkatkan bioavailibitasnya, terikat

protein plasma, ekskresi di ginjal, T1/2 20 menit, urin agak cokelat


KI : Untuk gagal ginjal dengan klirens kreatinin < 40 ml/menit, hamil, bayi <

3 bulan anemia hemolitik


ES : mual, muntah dan siare ; sakit kepala vertigo, nyeri otot.
3. Asam nalidiksat
Indikasi : ISK bawah tanpa penyulit contohnya : Sistitis akut tidak efektif

untuk ISK bagian atas contohnya : Pielonefritis.


FD : hambat enzim DNA grase bakteri, bakterisid terhadap kuman penyebab

ISK, E.coli, proteus, klebsiella, pseudomonas resisten.


FK : per oral, 95% terikat protein plasma, sehingga diubah jadi asam

hidroksinalidiksat, masa penuh 11/2 2 jam


ES : mual, muntah, urtikaria ; diare demam fosfosensitivitas : sakit kepala,

ngantuk, vertigo, meningkat pada pasien epilepsi, parkinson.


KI : bayi < 3 bulan, trisemester p1 hamil : hati-hati untuk gangguan hati atau

ginjal : pembesaran dengan nitrofurantonin


Dosis : 4 x 500 mg/hr
4. Fosfomisin trometamin
Indikasi : ISK tanpa komplikasi ( Sistitis akut ) pada wanita yang disebabkan
oleh E.Coli dan E.Faeccalis

Efek samping : Diare , Mual , Sakit kepala , Vaginitis


FD : hambat tahap awal sintesis dinding sel kuman
FK : Biovailibilitas oral hanya 37%, dengan makanan menurunkan
penyerapan, tidak terikat protein plasma, ekskresi renal 38%, ekskresi di urin

dan tinja
ES : mual, muntah, diare, sakit kepala, bisa untuk wanita hamil,
Sediaan ; bubuk 3 gram dicampur air 100 ml tidak boleh dengan air panas

Perlu di perhatikan bahwa ada beberapa antibiotik tidak boleh dipergunakan selama masa
kehamilan karena dapat menyebabkan toksik pada janin, seperti nitrofurantion, asam
nalidik, dan tetrasiklin.
PENCEGAHAN
1. Beberapa hal paling penting untuk mencegah infeksi saluran kencing, infeksi kandung kemih,
dan infeksi ginjal adalah menjaga kebersihan diri , bila setelah buang air besar atau air kecil
bersihkan dengan cara membersihkan dari depan ke belakang, dan mencuci kulit di sekitar dan
antara rektum dan vagina setiap hari. Mencuci sebelum dan sesudah berhubungan seksual juga
dapat menurunkan resiko seorang wanita dari ISK.
2. Minum banyak cairan (air) setiap hari akan membantu pengeluaran bakteri melalui sistem
urine.
3. Mengosongkan kandung kemih segera setelah terjadi dorongan untuk buang air kecil juga bisa
membantu mengurangi risiko infeksi kandung kemih atau ISK.
4. Buang air kecil sebelum dan setelah melakukan hubungan seks dapat flush setiap bakteri yang
mungkin masuk ke uretra selama hubungan seksual.
5. Vitamin C membuat urin asam dan membantu mengurangi jumlah bakteri berbahaya dalam
sistem saluran kemih.
6. Hindari pemakaian celana dalam yang dapat membuat keadaan lembab dan berpotensi
berkembang biaknya bakteri. Hindari sandal jepit.
Kennedy ES. Pregnancy,Urinary Tract infections. http://www.eMedicine.com. last updated 8
August 2007. accesed 22 February 2008
Jawetz E. Sulfonamid dan trimetoprim. In: Katzung BG (Ed): Farmakologi dasar dan klinik.
Jakarta, EGC.2002
Trevor AJ, Katzung BG, Mastri SB. Katzung and Trevors Pharmacology Examination and
Board Review 7th Edition.Newyork, Mcgrtaw-hill.2005.

LO 3.9 Komplikasi
o Reaksi alergi merupakan resiko terapi antibiotik.
o Anak dengan pielonefritis akut dapat berkembang menjadi inflamasi lobus ginjal atau abses
ginjal.
o Inflamasi parenkim ginjal dapat mengawali pembentukan jaringan parut.
o Komplikasi jangka panjang dari pielonefritis akut adalah hipertensi, fungsi ginjal terganggu,
ESRD dan komplikasi terhadap kehamilan (cth. ISK, hipertensi pada kehamilan, BBLR).
o Komplikasi lain yang mungkin terjadi setelah terjadi ISK yang terjadi jangka panjang adalah
terjadinya renal scar yang berhubungan erat dengan terjadinya hipertensi dan gagal ginjal
kronik.
o ISK pada kehamilan dengan BAS (Basiluria Asimtomatik) yang tidak diobati: pielonefritis,
bayi prematur, anemia, Pregnancy-induced hypertension
o ISK pada kehamilan normal : retardasi mental, pertumbuhan bayi lambat, Cerebral palsy, fetal
death.
o Komplikasi yang dapat terjadi pada infeksi saluran kemih antara lain batu saluran kemih,
obstruksi saluran kemih, sepsis, infeksi kuman yang multisistem, dan gangguan fungsi ginjal.
o Sistitis emfisematosa , sering terjadi pada pasien DM.
o Pielonefritis emfisematosa syok septik dan nefropati akut vasomotor.
o Abses perinefrik
http://omzainul.wordpress.com/2010/03/29/isk-infeksi-saluran-kemih-dari-berbagai-sumbermoga-berguna/
LO 3.10 Prognosis
ISK tanpa kelainan anatomis mempunyai prognosis lebih baik bila dilakukan pengobatan
pada fase akut yang adekuat dan disertai pengawasan terhadap kemungkinan infeksi
berulang.Prognosis jangka panjang pada sebagian besar penderita dengan kelainan anatomis
umumnya kurang memuaskan meskipun telah diberikan pengobatan yang adekuat dan dilakukan
koreksi bedah.Hal ini terjadi terutama pada penderita dengan nefropati refluk.Deteksi dini
terhadap adanya kelainan anatomis, pengobatan yang segera pada fase akut.kerjasama yang baik
antara dokter, ahli bedah urologi dan orang tua penderita sangat diperlukan untuk mencegah
terjadinya perburukan yang mengarah pada terminal gagal ginjal kronis.

LO 4. Thaharah dan Rukhsah


THAHARAH
A. Pengertian Thaharah
Menurut bahasa (etimologi), thaharah berarti pembersihan dari segala kotoran yang
tampak maupun yang tidak tampak.Menurut pengertian syariat (terminologi), thaharah berarti
tindakan menghilangkan hadats dengan air atau debu yang bisa menyucikan.Juga berarti upaya
meglenyapkan najis dan kotoran.Berarti, thaharah menghilangkan sesuatu yang ada di tubuh
yang menjadi penghalang bagi pelaksanaan shalat dan ibadah semisalnya.
B. Dua Macam Thaharah: Batin dan Lahir
1. Thaharah batin spiritual, yaitu dari kemusyrikan dan kemaksiatan. Dilakukan dengan cara
bertauhid dan beramal shalih. Ini lebih penting daripada thaharah fisik, bahkan thaharah badan
tidak mungkin bisa terwujud jika masih terdapat najis kemusyrikan.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:


Sesungguhnya orang Mukmin itu tidak najis
Oleh karena itu, setiap mukallaf berkewajiban untuk menyucikan hatinya dari najis kemusyrikan
dan keraguan.Hal itu dapat diwujudkan dengan keikhlasan, tauhid, dan keyakinan.Selain hal itu,
mereka juga harus membersihkan diri dan hatinya dari kotoran kemaksiatan, pengaruh dengki
dan iri, kecurangan, suap-menyuap, sombong, ujub, riya, dan sumah.Hal itu dapat dilakukan
dengan taubat yang sebenarnya dari segala macam dosa dan kemaksiatan.Thaharah ini
merupakan sebagian dari iman.Sedangkan sebagian lainnya adalah thaharah fisik atau lahir.
2. Thaharah fisik, yaitu bersuci dari berbagai hadats dan najis. Dan yang merupakan bagian
kedua dari iman. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Bersuci itu setengah dari
iman
Thaharah yang kedua ini dilakukan dengan cara yang telah disyariatkan oleh Allah Taala
berupa wudhu, mandi, dan tayammum pada saat tidak ada air, menghilangkan najis dari
pakaian, badan, dan tempat shalat.

C. Thaharah Dilakukan dengan Dua Cara


1. Thaharah dengan menggunakan air.
Dan inilah yang pokok. Dengan demikian, setiap air yang turun dari langit atau keluar
dari perut bumi adalah dalam posisi dasar penciptaannya, yaitu dapat menyucikan: menyucikan
dari hadats dan kotoran, meski telah mengalami perubahan rasa atau warna atau baunya oleh
sesuatu yang bersih. Hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
Sesungguhnya air itu dapat menyucikan, yang tidak bisa dibuat najis oleh sesuatu (HR Abu
Dawud)
Diantara air tersebut adalah air hujan, air dari sumber mata air, air sumur, air sungai, air
lembah, air salju yag mencair, dan air laut. Berkenaan dengan air laut, Nabi shallallahu alaihi
wasallam bersabda:Laut itu airnya bisa menyucikan dan bangkainya pun halal (HR Abu
Dawud). Adapun air Zam-zam telah ditetapkan dalam hadits Ali: Bahwa Rasulillah shallallahu
alaihi wasallam pernah mita dibawakan satu timba air Zam-zam, lalu air tersebut beliau
gunakan/pakai untuk minum dan berwudhu (HR Imam Ahmad). Akan tetapi, jika air itu
berubah warna, rasa, atau baunya yang disebabkan oleh suatu najis, menurut ijma ulama, air itu
pun menjadi najis yang harus dihindari
2. Thaharah dengan menggunakan debu yang suci.
Thaharah ini merupakan ganti dari thaharah dengan air jika tidak memungkinkan bersuci
dengan menggunakan air pada bagian-bagian yang harus disucikan, atau karena ketiadaan air,
atau karena tahut bahaya yang diakibatkan oleh penggunaan air, sehingga dapat digantikan oleh
debu yag suci
http://abughifary.wordpress.com/2012/01/28/pengertian-dan-macam-macam-thaharah/
(11apr2013, 7:14)
RUKHSAH
A. Pengertian Rukhsah
Kata rukhsah secara bahasa bermakna keringanan, kata ini berasal dari kata kerja
bentuk lampau (fiil madhi) yaitu rakhasa yang bermakna telah menurunkan atau telah

mengurangkan. Seseorang yang mendapat keringanan disebut sebagai raakhis, kata ini jika
digabungkan dengan kata lain memeiliki makna yang sama, misalnya ungkapan Rukhusha asSiru maka berarti harga yang murah. Jika huruf kha dibaca fathah (menjadi Rukhashah)
maka ia adalah bentuk ungkapan tentang seseorang yang mengambil, atau menjalankan
rukhshah, seperti yang disebutkan oleh Amidi.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa hukum rukhsah adalah:
o Hukum yang disyariatkan pada tahap kedua, sebagai pengucualian dari hukum asli yang umum
yaitu azimah.
o Bahwa dalil hukum asli yaitu azimah masih tetap berlaku dan masih harus dilaksanakan bagi
orang yang tidak memiliki udzur. Faktor udzur-lah yang membolehkan dilaksanakannya
rukhshah.
o Dari sini dapat dismpulkan bahwa adanya rukhsah adalah sebagai bentuk kemurahan dari Allah
taala kepada para hambaNya, terutama ketika kondisi tidak memungkinkan untuk
melaksanakan azimah tersebut
B. Sebab-Sebab Rukhsah
Rukhsah atau keringanan tidaklah terjadi begitu saja, ia memiliki sebab-sebab terwujudnya
rukhsah tersebut, diantaranya adalah:
a) Bermusafir. Seseorang yang dalam keadaan safar (perjalanan) diberikan keringanan untuk
mengqasar dan menjamak shalat, mengusap khuf dan tidak berpuasa selama masa safarnya.
b) Sakit. Ketika seseorang dalam keadaan sakit, maka dibolehkan baginya menjamak shalat,
bertayamum dan shalat berjamaah di masjid.
c) Lupa. Seseorang yang dalam keadaan lupa padahal ia sedang berpuasa maka ia tidak batal
jika makan atau minum karena terlupa. Begitu juga orang yang terlupa belum menunaikan
shalat tidak dihukum berdosa, walapun ia harus segera melaksanakannya ketika ia ingat belum
melakukan shalat tersebut.
d)

Kebodohan. Seseorang yang karena kejahilannya melakukan suatu perbuatan maka


mendapatkan keringanan untuk perbuatannya tersebut. Misalnya seseorang yang tidak paham
bahwa buang angin itu membatalkan shalat dan wudhunya, namun ia tetap melanjutkan
shalatnya tersebut. Maka shalat dan wudhunya tersebut dimaafkan karena kebodohannya.

e) Kesukaran. Setiap hal yang menyulitkan dalam Islam maka hal tersebut dimaafkan, misalnya
seseorang yang terkena penyakit selalu mengeluarkan air seni, padahal wajib baginya untuk
shalat dalam keadan suci, maka wajib baginya untuk tetap melaksanakan shalat walaupun
keadaannya demikian. Hal ini berlaku juga bagi wanita yang mengalami darah istihadhah.
f) Paksaan. Seseorang yang melakukan sesuatu bukan karena kehendaknya sendiri maka ia
tidaklah dapat dihukumi dengan perbuatannya tersebut, misalnya dia dipaksa untuk
mengucapkan kalimat kufur, dipaksa untuk meminum khamr dan bentuk paksaan lainnya maka
tidaklah ia dihukumi dengan perbuatan tersebut selama hatinya tidak condong dan suka dengan
perbuatan tersebut.
g) Kekurangan. Maksud kekurangan di sini adalah kekurangan akal yang ada pada anak kecil,
orang gila atau seseorang yang mabuk dan lupa ingatan.Maka mereka dibebaskan dari
tanggung jawab atas segala perbuatannya tersebut. Selain itu ia juga terbebas dari segala
kewajiban seperti shalat, jihad, zakat, haji dan lain sebagainya.
C. Jenis-jenis Rukhsah
Keringanan, disebut juga sebagai takhfif selain rukhsah, ia adalah bentuk kemudahan
yang diberikan oleh Islam bagi setiap hambaNya yang berada pada keadaan tertentu, Ibnu
Nujaim menyebutkan bahwa rukhsah terdiri dari beberapa jenis: Pertama, Menggugurkan
(Takhfif isqath), seperti pengguguran kewajiban shalat jumat kepada orang yang sakit kronik.
Kedua, Mengurangkan (Takhfif tanqish), seperti qasar shalat empat rakaat menjadi dua ketika
dalam keadaan safar, dibolehkan shalat sesuai dengan kemampuan bagi seseorang yang dalam
keadaan sakit dann yang lainnya. Ketiga, Menggantikan (Takhfif ibdal). Misalnya mengganti
wdudhu dengan air dengan tayamum menggunakan debu dikarenakan tidak adanya air yang
digunakan untuk berwudhu.Keempat, Mendahulukan (Takhfif taqdim), seperti rukhsah jamak
taqdim. Kelima, Mengakhirkan (Takhfif takhir). Ini termasuklah rukhsah jamak takhir,
melewatkan solat isyak dan lain-lain. Keenam, Meringankan (Takhfif tarkhish), seperti
dibolehkan minum arak jika tercekik sesuatu apabila tiada minuman lain di sekelilingnya.
Ketujuh, Mengubah (Takhfif taghyir). Misalnya perubahan bentuk perbuatan shalat menjadi
lebih ringan ketika terjadi peperangan.[3]

Semua rukhsah tersebut adalah bentuk perhatian Islam kepada para pemeluknya, aturanaturan yang ada dalam Islam bukanlah untuk menyusahkan manusia, sebaliknya ia adalah bentuk
pernghargaan kepada manusia sesuai dengan fitrahnya.

Daftar Pusaka

Brady, Eamon. Whelehans Pharmacy.


Clare J. Fowler, Derek Griffiths & William C. de Groat Nature Reviews Neuroscience 9, 453-466 (June 2008)
http://majelispenulis.blogspot.com/2012/04/rukhsah-dalam-islam.html (11april2013, 7:44)
http://nurad1k.blogspot.com/2010/02/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html
http://omzainul.wordpress.com/2010/03/29/isk-infeksi-saluran-kemih-dari-berbagai-sumber-moga-berguna/
Sukandar, E., 2004
Smiths General Urology 6th ED, September 18,2003 : Jack Mcaninch, Emil Tanagho, By McGrawn-Hill/Appleton
And Lange
Campbells Urology,8th ed.copyright,2002,elsevier
NursingBegin.com
Tessy A, Ardaya, Suwanto. Infeksi Saluran Kemih. In: Suyono HS. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam 3rd edition.
Jakarta, FKUI. 2001.
Universitas Sumatera Utara. Infeksi Saluran Kemih, Chapter II