Anda di halaman 1dari 26

Skenario3

MenggigilDisertaiDemam
(BlokIPT)

Kelompok:A.6
Ketua:FarizalArief(1102014095)
Sekertaris:AmandaPutri(1102014017)
Anggota:AnnisaYunitaRani(1102014035)
ArifRahman(1102014038)
DadiSatrioWibisonoRachmat(1102013067)
DeniRizkiKurniawan(1102014067)
DiahAyuKusumaWardani(1102014072)

HannaKumariD.(1102014120)
KhaulaNurulFadhilah(1102014144)
LaksmiR.Afiani(1102011140)

Skenario

Menggigil disertai demam


Tn. C, laki-laki, 35 tahun datang ke Poliklinik dengan keluhan utama demam sejak satu minggu lalu.
Demam dirasakan setiap dua hari sekali. Setiap kali demam didahului menggigil dan diakhiri
bekeringat. Setelah demam dapat pulih seperti biasa. Pasien baru kembali dari melakukan studi
lapangan di Sumatera Selatan selama dua minggu. Setelah melakukan pemeriksaan sediaan hapus
darah tepi, dokter mengatakan pasien terinfeksi Plasmodium vivax.

Kata Sulit
1. Plasmodium vivax: Protozoa parasite yang bersifat pathogen yang dapat menyebabkan malaria
vivax. Yang melalui nyamuk Anopheles vivax.
2. Berkeringat: Mekanisme alami suhu tubuh saat bereaksi dengan panas atau pada saat
melakukan aktivitas.
3. Menggigil: Respon tubuh terhadap penurunan suhu dibawah normal.
4. Sediaan hapus darah tepi: Menilai adanya suatu sel leukosit dan mencari adanya parasit.

Pertanyaan
1. Kenapa demam dirasakan tiap dua hari sekali? Karena parasit Plasmodium vivax aktif
menginfeksi setiap 48 jam sekali.
3

2. Mengapa bisa terjadi menggigil saat demam dan diakhiri dengan berkeringat? Karena ketika
ada mikroba yang masuk ke dalam tubuh akan di fagositosis oleh makrofag dan menghasilkan
pirogen-endogen lalu merangsang hormone prostaglandin naik sehingga hipotalamus
menaikkan suhu tubuh. Saat suhu tubuh naik terjadi vasokonstriksi dan bekerja sama dengan
otot sehingga terjadi menggigil. Sedangkan berkeringat itu merupakan suatu respon tubuh untuk
menyeimbangkan suhu dan mengeluarkan panas.
3. Kenapa pasien bisa terinfeksi Plasmodium vivax? Karena nyamuk Anopheles endemis di daerah
sub-tropis dan tropis. Terutama banyak ditemukan pada saat musim kemarau.
4. Mengapa harus dilakukan pemeriksaan sediaan hapus darah tepi? Karena untuk mengetahui
adanya infeksi parasit di sel-sel eritrosit dan untuk melihat jumlah leukosit.
5. Mengapa setelah pasien pulang dari menjalankan studi lapangan di Sumatera Selatan, dia
terkena demam disertai dengan menggigil? Karena nyamuk Anopheles endemis di daerah subtropis dan tropis. Terutama banyak ditemukan pada saat musim kemarau. Di Indonesia, banyak
terdapat di Kepulauan Sumatera contohnya; di Lampung dan di Sumatera Selatan.

Sasaran Belajar
LI 1. Memahami dan menjelaskan Plasmodium
LO 1.1 Definisi
LO 1.2 Klasifikasi
4

LO 1.3 Siklus hidup

LI 2. Memahami dan Menjelaskan Anopheles


LO 2.1 Morfologi
LO 2.2 Siklus hidup
LO 2.3 Transmisi
LO 2.4 Habitat (Tempat perindukan)

LI 3. Memahami dan Menjelaskan Malaria


LO 3.1 Definisi
LO 3.2 Klasifikasi
LO 3.3 Etiologi
LO 3.4 Patofisiologi
LO 3.5 Manifestasi
LO 3.6 Pemeriksaan utama dan penunjang
LO 3.7 Diagnosis
LO 3.8 Tatalaksana (pencegahan dan pengobotan)
LO 3.9 Komplikasi
LO 3.10 Prognosis
LO 3.11 Epidemiologi
LO 3.12 GEBRAK Malaria

LI 1. Memahami dan menjelaskan Plasmodium


Definisi
Pengertian Plasmodium Plasmodium merupakan genus protozoa parasit. Penyakit yang
disebabkan oleh genus ini dikenal sebagai malaria. Parasit ini sentiasa mempunyai dua inang dalam
5

siklus hidupnya: vektor nyamuk dan inang vertebra. Sekurang-kurangnya sepuluh spesies menjangkiti
manusia. Spesies lain menjangkiti hewan lain, termasuk burung, reptilia dan hewan pengerat.
Klasifikasi

Klasifikasi plasmodium
a. Plasmodium falcifarum
Yang sering menjadi penyebab malaria cerebral dengan angka kematian yang tinggi. Infeksi
oleh spesies ini menyebabkan parasitemia yang meningkat jauh lebih cepat dibandingkan
spesies lain dan merozoitnya menginfeksi sel darah merah dari segala umur (baik muda
maupun tua). Spesies ini menjadi penyebab 50% malaria diseluruh dunia.
- Hanya ditemukan bentuk tropozoit dan gametosit pada darah tepi, kecuali pada kasus infeksi
yang berat.
- Schizogoni terjadi di dalam kapiler organ dalam termasuk jantung.
- Sedikit schizont di darah tepi, terkait berat ringannya infeksi.
Penyebab
Distribusi
Masa tunas

: malaria falsiparum/ malaria tropika/ malaria tersiana maligna


: daerah tropik (Afrika dan Asia tenggara)
: 9-14 hari

b. Plasmodium vivax
Spesies ini cenderung menginfeksi sel-sel darah merah yang muda (retikulosit) kira-kira 43%
dari aksus malaria diseluruh dunia disebabkan oleh Plasmodium vivax.
Penyebab
: malaria vivaks/ malaria tersiana
Distribusi
: kepulauan Indonesia (menjadi frekuaensi tertinggi diantara spesies lain), korea
selatan, china, turki. Eropa saat musim panas, amerika selatan dan utara. Di
afrika jarang ditemukan.
Masa tunas
: 12-17 hari
Diagnosis
: dengan ulasan Giemsa
c. Plasmodium Malariae
Mempunyai kecenderungan untuk menginfeksi sel-sel darah merah yang lebih
tua.
Penyebab
: malaria malariae/ malaria kuartana (karena serangan demam berulang pada 4
hari)
Distribusi
Masa tunas
Diagnosis
Pengobatan

: daerah tropik tetapi frekuensi cenderung rendah. Di indonesia dilaporkan


terdapat di papua barat, nusa tenggara timurdan sumatera selatan
: 30-40 hari
:dengan ulasan Giemsa. Sering ditemukan di sediaan darah tipis tanpa sengaja.
: klorokuin basa (mengeleminasi semua stadium)banyak yang resisten.
Berganti ke arteminisin dan pironaridin.

d. Plasmodium ovale
Prediksinya terhadap sel sel darah merah. Mirip dengan Plasmodium vivax (menginfeksi sel-sel
darah muda).
6

Penyebab
Distribusi
Masa tunas
Diagnosis
Prognosis

: malaria ovale
: daerah tropik afrika bagian barat. Di indonesia banyak di irian jaya dan pulau
timor.
: 8-14 hari
: dengan ulasan Giemsa.
: dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan

Siklus Hidup
Daur hidup keempat spesies Plasmodium pada manusia umumnya sama. Proses tersebut terdiri
atas fase seksual eksogen (sporogoni) dalam badan nyamuk Anopheles dan fase aseksual (skizogoni)
dalam badan hospes vertebrata.
Fase aseksual mempunyai 2 daur, yaitu:
1) daur eritrosit dalam darah (skizogoni eritrosit)
2) daur dalam sel parenkim hati (skizogoni eksoeritrosit) atau stadium jaringan dengan a) skizogoni
praeritrosit (skizogoni eksoeritrosit primer) setelah sporozoit masuk dalam sel hati dan b) skizogoni
eksoeritrosit sekunder yang berlangsung dalam hati.
Pada infeksi P. falciparum dan P. malariae hanya terdapat satu generasi aseksual dalam hati sebelum
daur dalam darah dimulai; sesudah itu daur dalam hati tidak dilanjutkan lagi. Pada infeksi P. vivax dan
P. ovale daur eksoeritrosit berlangsung terus sampai bertahun-tahun melengkapi perjalanan penyakit
yang dapat berlangsung lama (bila tidak diobati) disertai banyak relaps.
Dalam Tubuh Nyamuk

Didalam tubuh hospes definitif nyamuk Anopheles betina (vektor) terjadi pembiakan seksual
(sporogoni) yang disebut juga fase ekstrinsik.
Saat nyamuk menghisap darah manusia, semua stadium masuk kedalam lambungnya namun yang
dapat bertahan dan melanjutkan siklusnya hanya bentuk gametosit (makrogametosit dan
mikrogametosit)
Terjadi pematangan gametosit menjadi gamet (mikrogamet dan makrogamet).
Mikrogametosit mengalami pembelahan inti menjadi inti multiple yang matang dengan
exfalgellasi. Lalu keluar dari eritrosit dan motil.
Makrogametosit menjadi makrogamet yang intinya bergeser ke permukaan yang merupakan
tempat masuknya mikrogamet pada waktu fertilisasi.
Makrogamet yang telah mengalami feritilisasi disebut zigot
Kurang lebih 20 menit setelah fertilisasi terbentuk ookinet, semacam pseudopodi yang dapat
bergerak.
Ookinet bergerak dan menembus dinding usus untuk menempel pada permukaan luar dinding usus
tsb.
Ookinet kemudian berubah menjadi ookista

Terjadi pematangan ookista dengan pembelahan inti dan transformasi sitoplasma membentuk
beribu-ribu sporozoit yang berada didalam ookista. Ookista matang 4-15 hari setelah nyamuk
menghisap gametosit
Ketika ookista matang pecah, sporozoit akan berhamburan ke dalam rongga tubuh nyamuk,
diantaranya ada yang sampai ke kelenjar liur nyamuk. Nyamuk infektif adalah nyamuk yang siap
mengeluarkan sporozoit bersama air liurnya.
Dalam Tubuh Manusia
Dengan tusukan nyamuk Anopheles betina sporozoit masuk ke peredaran darah perifer.
Setelah setengah jam sporofit masuk ke dalam sel hati dan tumbuh menjadi skizon hati namun
sebagian menjadi hipnozoit. Skizon hati ini masih dalam daur eksoeritrosit primer yang
berkembangbak secara aseksual dan prosesnya disebut skizogoni hati.
Hipnozoit tetap beristirahat dalam sel hati selama beberapa waktu dan mulai aktif kembali dengan
daur eksoeritrosi sekunder.
Skizon hati pecah mengeluarkan merozoit. Mulailah daur eritrosit dengan masuknya merozoit ke
peredaran darah dan menginfeksi eritrosit (skizogoni darah).
Kemudian merozoit hati pada eritrosit tumbuh menjadi trofozoit muda yang berbentuk cincin
(sitoplasmanya berwarna biru, inti merah, mempunyai vakuol besar). Eritrosit muda yang
dihinggapi parasit P.vivax ukurannya lebih besar dari eritrosit lain dan terdapat titik Schuffner yang
halus dan berwarna merah.
Trofozoit muda kemudian menjadi trofozoit tua.
Sebagian merozoit berubah menjadi trofozoit yang dapat membentuk sel kelamin yaitu
makrogametosit dan mikrogametosit (gametogoni).
Daur eritrosi berlangsung selama 48 jam

LI 2. Memahami dan

menjelaskan
Anopheles
Morfologi
Tidak
memiliki siphon
Jentik nyamuk
anopheles
akan sejajar

dipermukaan air
kotor
8

Pada bagian thoraks terdapat stoot spine


Bentuk tubuh kecil dan pendek
Antara palpi dan proboscis sama panjang
Menyebabkan penyakit malaria
Pada saat hinggap membentu sudut 90
Warna tubunya coklat kehitam
Bentuk sayap simetris
Berkembang biak di air kotor atau tumpukan sampah
Waktu keaktifan mencari darah dari masing -masing nyamuk berbedabeda tergantung
spesies. Genus Anopheles mempunyai kebiasaan aktif menggigit pada malam hari. Khusus
untuk anopheles, nyamuk ini bila menggigit mempunyai perilaku bila siap menggigit langsung
keluar rumah (Nurmaini, 2003). Morfologi nyamuk anophelini berbeda jika dibandingkan
dengan culicini (vector penyebab dengue fever). Telur anophelini yang diletakkan satu per satu
di atas permukaan air berbentuk seperti perahu yang bagian bawahnya konveks, bagian atasnya
konkaf dan mempunyai sepasang pelampung yang terletak pada sebelah lateral. Larva
anophelini tampak mengapung sejajar dengan permukaan air, mempunyai bagian-bagian badan
-yang bentuknya khas, yaitu spirakel pada bagisan posterior abdomen, tergal plate pada bagian
tengah sebelah dorsal abdomen dan sepasang bulu palma pada bagian lateral abdomen. Pupa
mempunyai tabung pernapasan (respiratory trumpet) yang bentuknya lebar dan pendek;
digunakan untuk mengambil O2 dari udara.
Pada nyamuk dewasa palpus nyamuk jantan dan betina mempunyai panjang hampir sama
dengan panjang probosisnya. Perbedaannya adalah pada nyamuk jantan ruas palpus bagian
apical berbentuk gada (club form) , sedangkan pada nyamuk betina ruas tersebut mengecil.
Sayap pada bagian pinggir (kosta dan vena I) ditumbuhi sisik-sisik sayap yang berkelompok
membentuk gambaran belang-belang hitam dan putih. Selain itu, bagian ujung sisik sayap
membentuk lengkung (tumpul). Bagian posterior abdomen tidak seruncing nyamuk Aedes dan
tidak setumpul nyamuk Mansonia, tetapi sedikit melancip.(Inge S,2013)

Siklus Hidup
Nyamuk Anophelini mengalamai metamorphosis sempurna atau terdapat fase pupa.
Telur menetas menjadi larva dalam 2-3 hari, yang kemudian melakukan pengelupasan
kulit/eksoskelet sebanyak 4 kali; lalu tumbuh menjadi pupa atau kepompong. Bentuk fase pupa
adalah seperti koma, dan setelah beberapa hari pada bagian dorsal terbelah sebagai tampat
keluar nyamuk dewasa jantan atau betina. Pada nyamuk anopheles dewasa mempunyai
proboscis yang berfungsi untuk menghisap darah atau makanan lainnya. Kelangsungan hidup
nyamuk jantan lebih pendek daripada nyamuk betina. Nyamuk jantan bisa hidup sampai dengan
seminggu, sedangkan nyamuk betina bisa mencapai sebulan. Waktu yang diperlukan untuk
pertumbuhan sejak telur diletakkan sampai menjadi dewasa bervariasi antara 2-5 mminggu,
tergantung pada spesies, makanan yang tersedia dan suhu udara. Tempat perindukan nyamuk
anophelini bermacam-macam tergantung kepada spesies dan dapat dibagi menurut 3 kawasan
yaitu kawasan pantai, pedalaman, kaki gunung dan kawasan gunung.
9

Transmisi
Penularan atau transmisi malaria dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Lingkungan fisik.
Lingkungan fisik adalah faktor-faktor geografi yang berpengaruh pada
perkembangbiakan dan kemampuan hidup vektor malaria. Lingkungan fisik yang
berpengaruh pada Anopheles antara lain:
a. Suhu. Suhu atau temperatur mempengaruhi perkembangan hidup parasit malaria, Suhu
optimum adalah 20-30 C.
b. Kelembaban. Tingkat kelembaban yang masih ditolerir nyamuk anopheles adalah 60%.
Kelembaban yang rendah akan memperpendek usia nyamuk malaria. Sebaliknya
kelembaban yang tinggi akan -membuat nyamuk lebih aktif menggigit sehingga
meningkatkan penularan malaria.
c.

Hujan. Hujan yang sekali-sekali dan diselingi panas akan meningkatkan penularan.
Curah hujan yang cenderung tidak teratur akan menyebabkan terbentuknya tempattempat perindukan nyamuk di daerah endemis malaria.

d. Ketinggian. Nyamuk malaria tidak dapat hidup pada ketinggian lebih 2.500 meter di atas
permukaan laut. Ketinggian suatu daerah berhubungan dengan temperatur, kelembahan
dan kepadatan tekanan udara.
Penularan atau transmisi malaria dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
2. Lingkungan fisik.
Lingkungan fisik adalah faktor-faktor geografi yang berpengaruh pada
perkembangbiakan dan kemampuan hidup vektor malaria. Lingkungan fisik yang
berpengaruh pada Anopheles antara lain:
e. Suhu. Suhu atau temperatur mempengaruhi perkembangan hidup parasit malaria, Suhu
optimum adalah 20-30 C.
f. Kelembaban. Tingkat kelembaban yang masih ditolerir nyamuk anopheles adalah 60%.
Kelembaban yang rendah akan memperpendek usia nyamuk malaria. Sebaliknya
kelembaban yang tinggi akan membuat nyamuk lebih aktif menggigit sehingga
meningkatkan penularan malaria.

10

g.

Hujan. Hujan yang sekali-sekali dan diselingi panas akan meningkatkan penularan.
Curah hujan yang cenderung tidak teratur akan menyebabkan terbentuknya tempattempat perindukan nyamuk di daerah endemis malaria.

h. Ketinggian. Nyamuk malaria tidak dapat hidup pada ketinggian lebih 2.500 meter di atas
permukaan laut. Ketinggian suatu daerah berhubungan dengan temperatur, kelembahan
dan kepadatan tekanan udara.
Transmisi malaria berlangsung di lebih dari seratus negara di benua Afrika, Asia Oceania,
Amerika Latin, Kepulauan Karibia, dan Turki. Kira-kira 1,6 miliard penduduk di daerah ini selalu
berada dalam risiko terkena malaria. Tiap tahun ada 100 juta kasus terkena malaria dan meninggal 1
juta di daerah sahara Afrika. Sebagian besar yang meninggal adalah bayi dan anak-anak. Plasmodium
malariae dan Plasmodium falciparum terbanyak di negara ini. Malaria telah diberantas di negeri-negeri
seperti Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Australia, dan lain-lain negeri yang sudah maju atau
berkembang. Malaria yang berat adalah yang disebabkan Plasmodium falciparum.
Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Di daerah
transmigrasi dan daerah lain yang didatangi penduduk baru dari daerah non-endemik, sering terjadi
letusan atau wabah yang menimbulkan banyak -kematian. Lebih dari setengah penduduk Indonesia
masih hidup di daerah dimana terjadi penularan malaria, sehingga berisiko tertular malaria.
Habitat

11

NO

VEKTOR

An.sundaicus
1

(sumatera,Jawa,Sul
awesi,NT)

TEMPAT PERINDUKAN LARVA

PERILAKU NYAMUK
DEWASA

Muara sungai yang dangkal pada musim kemarau,


tambak ikan yang kurang terpelihara, parit- parit di
sepanjang pantai bekas galian yang terisi air payau,
tempat penggaraman (Bali) di air tawar (kaltim dan
Sum)

Antropofilik > zoofilik;


mengigit sepanjang malam, di
dalam dan di luar rumah
Zoofilik > antropofilik

An. Aconitus
(jawa)

An. Subpictus
3

(Jawa,Sulawesi,NT
)

An. Barbirostis
4
(Jawa)
An. Balanbacensis
5.

(Jawa,sulawesi,NT
)

Persawahan dengan saluran irigasi, tepi sungai pada


musim kemarau, kolam ikan dengan tanaman rumput
di tepinya

Ntropofilik > zoofilik


Kumpulan air yg permanan/sementara,celah tanah
bekas kaki binatang, tambak ikan dan bekas galian di
pantai (pantai utara pulaujawa).

7.

(Sumatera,

Antropofilik (sul& NT) zoofilik


(jawa&sumatera) eksofagik >
endofagik mengigit malam, di
luar rumah (padatanaman)

Bekas roda yang tergenang air, air, bekas jejak kaki


binatang yang berlumpur yang berair, tepi sungai pada
musim kemarau, kolam atau kali yang berbatu di hutan
atau daerah pedalaman

Antropofilik < zoofilik


endofilik mengigit malam, di
luar rumah (di sekitar kandang)
Antropofilik > zoofilik

Air tergenang (tahan hidup ditempa tasam) terutama


dataran pinggir pantai

kalimantan)

Bagian bawah atap di luar


rumah

An. Farauti

Antropofilik > zoofilik

(Maluku&IrianJaya
)

Kebun kangkung, kolam, genangan air dalam perahu,


genangan air hujan, rawa- rawa dan saluran air

(Maluku&IrianJaya
)

Eksofagik mengigit malam


di dalam dan diluar rumah
Antrofopolik > zoofilik

An. Punctulatus
8.

Mengigit di waktu malam, di


dalam dan di luar rumah
(kandang)

Sawah dan saluran irigasi, kolam, rawa, mata air,


sumur dan lain- lain

An. Letifer
6.

Eksofagik mengigit di waktu


senjasampai dengan dini hari,
di luar rumah (pit traps)

Air di tempatterbukadanterkenasinarmatahari, pantai


(pad amusim penghujan), tepi sungai

Mengigitmalam
Tit: di dalamrumah

An. Lodlowi
9.

10.

(Maluku&IrianJaya
)

Sungai di daerah pergunungan

An. Koliensis

Bekasjejakrodakendaraan, lubang- lubang di tanah


yang berisi air, saluran- saluran, kolam,
kebunkangkungdanrawa- rawatertutup

(Maluku&IrianJaya
)

Antropofilik>>zoofilik
Mengigitmalam
Tit: di dalamrumah
Zoofilik>antropofilik

An. Nigerrimus
11.

Antropofilik >> zoofilik

Sawah, kolamdanrawa yang adatanaman air

Mengigitpadasenja- malam

12

LI 3. Memahami dan menjelaskan Malaria


Definisi
Malaria adalah penyakit demam infeksi yang endemik di banyak daerah beriklim hangat di
dunia, disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium, yang merupakan parasit pada sel darah merah;
malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles dan ditandai dengan adanya serangan menggigil, demam,
dan berkeringat, yang terjadi dalam interval yang bergantung pada waktu yang diperlukan untuk
berkembangnya generasi baru parasit didalam tubuh. (Dorland,2011)
Klasifikasi
Malaria tropika/ falciparum malaria tropika merupakan bentuk yang paling berat,
ditandai dengan panas yang irreguler, anemia, splenomegali, parasitemia yang banyak dan
sering terjadi komplikasi.Masa inkubasi 9-14 hari.Malaria tropika menyerang semua bentuk
eritrosit.Disebabkan oleh Plasmodium falciparum.Plasmodium ini berupa Ring/ cincin kecil
yang berdiameter 1/3 diameter eritrosit normal dan merupakan satu-satunya spesies yang
memiliki 2 kromatin inti (Double Chromatin).
Klasifikasi penyebaran Malaria Tropika:
Plasmodium Falcifarum menyerang sel darah merah seumur hidup. Infeksi Plasmodium
Falcifarum sering kali menyebabkan sel darah merah yang mengandung parasit menghasilkan
banyak tonjolan untuk melekat pada lapisan endotel dinding kapiler dengan akibat obstruksi
trombosis dan iskemik lokal.Infeksi ini sering kali lebih berat dari infeksi lainnya dengan angka
komplikasi tinggi (Malaria Serebral, gangguan gastrointestinal, Algid Malaria, dan Black Water
Fever).

b. Malaria Kwartana (Plasmoduim Malariae)


Plasmodium Malariae mempunyai tropozoit yang serupa dengan Plasmoduim vivax,
lebih kecil dan sitoplasmanya lebih kompak/ lebih biru.Tropozoit matur mempunyai granula
coklat tua sampai hitam dan kadang-kadang mengumpul sampai membentuk pita.Skizon
Plasmodium malariae mempunyai 8-10 merozoit yang tersusun seperti kelopak bunga/
rossete.Bentuk gametosit sangat mirip dengan Plasmodium vivax tetapi lebih kecil.Ciri-ciri
demam tiga hari sekali setelah puncak 48 jam. Gejala lain nyeri pada kepala dan punggung,
mual, pembesaran limpa, dan malaise umum. Komplikasi yang jarang terjadi namun dapat
terjadi seperti sindrom nefrotik dan komplikasi terhadap ginjal lainnya. Pada pemeriksaan akan
di temukan edema, asites, proteinuria, hipoproteinemia, tanpa uremia dan hipertensi.

c. Malaria Ovale (Plasmodium Ovale)


13

Malaria Tersiana (Plasmodium Ovale) bentuknya mirip Plasmodium malariae,


skizonnya hanya mempunyai 8 merozoit dengan masa pigmen hitam di tengah.Karakteristik
yang dapat di pakai untuk identifikasi adalah bentuk eritrosit yang terinfeksi Plasmodium Ovale
biasanya oval atau ireguler dan fibriated.Malaria ovale merupakan bentuk yang paling ringan
dari semua malaria disebabkan oleh Plasmodium ovale. Masa inkubasi 11-16 hari, walau pun
periode laten sampai 4 tahun. Serangan paroksismal 3-4 hari dan jarang terjadi lebih dari 10 kali
walau pun tanpa terapi dan terjadi pada malam hari.
d. Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax)
Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax) biasanya menginfeksi eritrosit muda yang
diameternya lebih besar dari eritrosit normal.Bentuknya mirip dengan plasmodium Falcifarum,
namun seiring dengan maturasi, tropozoit vivax berubah menjadi amoeboid.Terdiri dari 12-24
merozoit ovale dan pigmen kuning tengguli.Gametosit berbentuk oval hampir memenuhi
seluruh eritrosit, kromatinin eksentris, pigmen kuning.Gejala malaria jenis ini secara periodik
48 jam dengan gejala klasik trias malaria dan mengakibatkan demam berkala 4 hari sekali
dengan puncak demam setiap 72 jam.
Dari semua jenis malaria dan jenis plasmodium yang menyerang system tubuh, malaria tropika
merupakan malaria yang paling berat di tandai dengan panas yang ireguler, anemia,
splenomegali, parasitemis yang banyak, dan sering terjadinya komplikasi

Etiologi
Penyebab infeksi adalah plasmodium, yang juga dapat menginfeksi burungm reptil dan
mamalia. Plasmodium ini menginfeksi eritrosit pada manusia dan mengalami pembiakan aseksual di
jaringan hati dan eritrosit. Pembiakan seksual terjadi pada tubuh nyamuk yaitu Anopheles betina.
Sebagian besar nyamuk mengigit pada waktu senja atau malam hari, pada beberapa jenis nyamuk
puncak gigitannya adalah tengah malam sampai fajar. Selain melalui gigitan nyamuk, malaria dapat
menjangkiti orang lain melalui bawaan lahir dari ibu ke anak, yang disebabkan pada kelainan sawar
plasenta yang menghalangi penularan infeksi vertikal. Metode penularan lainnya adalah dengan jarum
suntik misalnya ketika transfusi darah dan parasit langsung memasuki siklus eritrositer.
(Widoyono,2011)

14

Patofisiologi
Masa tunas intrinsic pada malaria adalah waktu antara sporzoit masuk dalam badan hospes
sampai timbul gejala demam, biasanya berlangsung 8-37 hari, tergantung pada spesies parasite,
beratnya infeksi dan pengobatan sebelumnya atau derajat imunitas hospes. Di samping itu juga
tergantung pada cara infeksi, yang disebabkan oleh tusukan nyamuk atau secara induksi, misalnya
melalui transfuse darah yang mengandung stadium aseksual. Masa tunas intrinsic berakhir dengan
timbulnya seragan pertama.
Masa prapaten berlangsung sejak saat sporozoit masuk sampai ditemukan parasit malaria dalam
darah untuk pertama kali, karena jumlah parasite telah melewati ambang mikroskopik. Masa tunas
intrinsic parasite malaria ditularkan oleh nyamuk kepada manusia adalah 12 hari untuk malaria
falciparum, 13-17 hari untuk malaria vivax dan malaria ovale serta 28-30 hari untuk malaria malariae
(kuartana)
Perjalanan penyakit malaria berbeda antara orang yang tidak kebal (tinggal di daerah nonendemis) dan orang yang kebal atau semi imun (tinggal di daerah endemis malaria). Kesalahan atau
keterlambatan diagnosis malaria pada orang non-imun, akan menyebabkan resiko tinggi terjadinya
malaria berat atau malaria komplikasi. Singkatnya : Nyamuk yang terinfeksi plasmodium menggigit
manusia Sporozoit Schizont Merozoit - Sel hati akan pecah Merozoit - keluar dari sel hati merozoit dapat masuk dan tumbuh lagi dalam sel hati. Merozoit akan masuk dalam aliran darah - siklus
eritrositer - trophozoit muda (bentuk cincin) - trophozoit tua - schizont dengan merozoit - Schizont
pecah merozoit memasuki eritrosit baru - makrogametosit dan mikrogametosit.

Manifestasi
Masa inkubasi malaria berkisar antara 9- 30 hari. Gejala kliniknya dikenal sebagai trias malaria
yang terdiri dari demam, anemia dan splenomegali.
a. Demam
Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang (sporulasi). Pada
malaria tertiana (Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale), pematangan skizon tiap 48
jam maka periodisitas demamnya setiap hari ke-3, sedangkan malaria kuartana
(Plasmodium malariae) pematangannya tiap 72 jam dan periodisitas demamnya tiap 4
hari. Tiap serangan ditandai dengan beberapa serangan demam periodik. Demam khas
15

malaria terdiri atas 3 stadium, yaitu menggigil (15 menit-1 jam), puncak demam (2-6
jam), dan berkeringat (2-4 jam). Demam akan mereda secara bertahap karena tubuh
dapat beradaptasi terhadap parasit dalam tubuh dan ada respons imun.

b. Splenomegali
Slenomegali merupakan gejala khas malaria kronik. Limpa mengalami kongesti,
menghitam, dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan
ikat yang bertambah.
c. Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah anemia
karena Plasmodium falciparum.
Anemia disebabkan oleh:
1) Penghancuran eritrosit yang berlebihan.
2) Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time).
3) Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sum-sum tulang
(diseritropoesis).
d. Ikterus
Ikterus
disebabkan
karena
hemolisis
dan
gangguan
hepar.
Malaria laten adalah masa pasien di luar masa serangan demam. Periode ini terjadi bila
parasit tidak dapat ditemukan dalam darah tepi, tetapi stadium eksoeritrosit masih
bertahan dalam jaringan hati.
Relaps adalah timbulnya gejala infeksi setelah serangan pertama. Relaps dapat bersifat:
Relaps jangka pendek (rekrudesensi), dapat timbul 8 minggu setelah serangan
pertama hilang karena parasit dalam eritrosit yang berkembang biak.
Relaps jangka panjang (rekurens), dapat muncul 24 minggu atau lebih setelah
serangan pertama hilang karena parasit eksoeritrosit hati masuk ke darah dan
berkembang biak

Beberapa keadaan klinik dalam infeksi malaria adalah:


serangan primer : yaitu keadaan mulai dari akhir masa inkubasi dan mulai terjadinya
serangan paroksismal yang terdiri dari dingin atau menggigil; panas dan berkeringat.
16

Serangan paroksismal ini dapat pendek atau panjang tergantung dari perbanyakan
parasit dalam imunitas penderita.
Periode latent : periode tanpa gejala dan tanpa parasitemia selama terjadinya infeksi
malaria. Biasanya terjadi diantara 2 keadaan paroksismal.
Recrudescense : yaitu berulangnya gejala klinik atau parasitemia setelah 24 minggu
berakhirnya serangan primer.
Relapse atau rechute : ialah berulangnya gejala klinik atau parasitemia yang lebih
lama dari waktu diantara serangan periodiik dari infeksi primer yaitu setelah infeksi
lama dari masa latent (sampai 5 tahun), biasanya terjadi karena infeksi tidak sembuh
atau oleh bentuk di luar eritrosit (hati) pada malaria vivaks atau ovale

Pemeriksaan utama dan penunjang


1. Pemeriksaan tetes darah untuk malaria
Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat
penting untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan satu kali dengan hasil negative
tidak mengenyampingkan diagnosa malaria. Pemeriksaan darah tepi tiga kali dan
hasil negative maka diagnosa malaria dapat dikesampingkan. Adapun pemeriksaan
darah tepi dapat dilakukan melalui :
a

Tetesan preparat darah tebal.


Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria karena tetesan darah
cukup banyak dibandingkan preparat darah tipis. Sediaan mudah dibuat khususnya
untuk studi di lapangan. Ketebalan dalam membuat sediaan perlu untuk
memudahkan identifikasi parasit. Pemeriksaan parasit dilakukan selama 5 menit
(diperkirakan 100 lapang pandangan dengan pembesaran kuat). Preparat
dinyatakan negative bila setelah diperiksa 200 lapang pandangan dengan
pembesaran 700-1000 kali tidak ditemukan parasit. Hitung parasit dapat dilakukan
pada tetes tebal dengan menghitung jumlah parasit per 200 leukosit. Bila leukosit
10.000/ul maka hitung parasitnya ialah jumlah parasit dikalikan 50 merupakan
jumlah parasit per mikro-liter darah.

b Tetesan preparat darah tipis.


Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium, bila dengan preparat darah tebal
sulit ditentukan. Kepadatan parasit dinyatakan sebagai hitung parasit (parasite
count), dapat dilakukan berdasar jumlah eritrosit yang mengandung parasit per
1000 sel darah merah. Bila jumlah parasit > 100.000/ul darah menandakan infeksi
yang berat. Hitung parasit penting untuk menentukan prognosa penderita malaria.
Pengecatan dilakukan dengan pewarnaan Giemsa, atau Leishmans, atau Fields
dan juga Romanowsky. Pengecatan Giemsa yang umum dipakai pada beberapa
laboratorium dan merupakan pengecatan yang mudah dengan hasil yang cukup
baik.

17

2. Tes Antigen : p-f test


Yaitu mendeteksi antigen dari P.falciparum (Histidine Rich Protein II). Deteksi sangat
cepat hanya 3-5 menit, tidak memerlukan latihan khusus, sensitivitasnya baik, tidak
memerlukan alat khusus. Deteksi untuk antigen vivaks sudah beredar dipasaran yaitu
dengan metode ICT. Tes sejenis dengan mendeteksi laktat dehidrogenase dari
plasmodium (pLDH) dengan cara immunochromatographic telah dipasarkan dengan
nama tes OPTIMAL. Optimal dapat mendeteksi dari 0-200 parasit/ul darah dan dapat
membedakan apakah infeksi P.falciparum atau P.vivax. Sensitivitas sampai 95 % dan
hasil positif salah lebih rendah dari tes deteksi HRP-2. Tes ini sekarang dikenal
sebagai tes cepat (Rapid test).
3. Tes Serologi
Tes serologi mulai diperkenalkan sejak tahun 1962 dengan memakai tekhnik indirect
fluorescent antibody test. Tes ini berguna mendeteksi adanya antibody specific
terhadap malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Tes ini kurang
bermanfaat sebagai alat diagnostic sebab antibody baru terjadi setelah beberapa hari
parasitemia. Manfaat tes serologi terutama untuk penelitian epidemiologi atau alat uji
saring donor darah. Titer > 1:200 dianggap sebagai infeksi baru ; dan test > 1:20
dinyatakan positif . Metode-metode tes serologi antara lain indirect
haemagglutination test, immunoprecipitation techniques, ELISA test, radioimmunoassay.
1

Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction)


Pemeriksaan ini dianggap sangat peka dengan tekhnologi amplifikasi DNA, waktu
dipakai cukup cepat dan sensitivitas maupun spesifitasnya tinggi. Keunggulan tes ini
walaupun jumlah parasit sangat sedikit dapat memberikan hasil positif. Tes ini baru
dipakai sebagai sarana penelitian dan belum untuk pemeriksaan rutin.

Anemnsis:
1 Keluhan utama: demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual,
muntah,diare, nyeri otot, atau pegal.Klasik: Trias Malaria, secara berurutan
periodedingin (15 -60 menit), mengigil, diikuti periode panas (beberapa jam),
diikuti periode berkeringat,temperatur turun dan merasa sehat
2 Riwayat berkunjung dan bermalam ke daerah endemic malaria
3 Riwayat tinggal di daerah endemic malaria
4 Riwayat sakit malaria
5 Riwayat minum obat malaria stu bulan terakhir
6 Riwayat transfusi darah
Pada penderita tersangka malaria berat dapat ditemukan:
1 Gangguan kesadaran dlm berbagai derajat
2 Keadaan umum yg lemah (tdk bisa duduk/berdiri)
3 Kejang-kejang
4 Panas sangat tinggi
5 Mata atau tubuh kuning (ikterus)
6 Perdarahan hidung, gusi, atau sal pencernaan
7 Napas cepat dan atau sesak napas
8 Muntah terus menerus dan tidak dapat makan minum
9 Warna air seni sepeti teh tua dan dapat sampai kehitaman
18

10 Jumlah air seni kurang (oliguri) sampai tidak ada (anuria)


11 Telapak tangan sangat pucat

Pemeriksaan Fisik
1 Demam
2 Konjungtiva atau telapak tangan pucat
3 Pembesaran limfa (splenomegali)
4 Pembesaran hati (hepatomegali)
Pemeriksaan Fisik malaria berat:
1 T Rektal 40o c
2 Nadi cepat dan lemah/kecil
3 TS < 70 mmHg (dewasa), < 50(anak)
4 R > 35 x/menit,
5 Penurunan kesadaran (GCS < 11)
6 Manifestasi perdarahan (petekhiae, purpura,hematom)
7 Tanda dehidrasi (mata cekung, turgor danelastisitas kulit berkurang, bibir kering,
produksi airseni berkurang)
8 Anemia berat
9 Ikterik
10 Ronkhi pada kedua paru
11 Pembesaran limfa dan hepar
12 Gagal ginjal (oliguri / anuri)
13 Gajala neurologik Kaku kuduk, reflak patologis
Pemeriksaan laboratorium
pemeriksaan dengan mikroskop:Pemeriksaan sediaan darah tebal dan tipis di
puskesmas/lapangan/RS untukmenentukan:
1 Ada tidaknya parasit malaria (+/-)
2 Spesies dan stadium plasmodium
3 Kepadatan parasit
Untuk tersangka malaria berat perlu memperhatikan hal sbb:
1 Bila pemeriksaan darah pertama negatip,perlu diperiksa ulang setiap 6 jam sampai
3hari berturut turut
2 Bila hasil pemeriksaan sediaan darah tebal selama 3 hari berturut turut tidak
ditemukanparasit maka diagnosis malaria disingkirkan
3 Pemeriksaan dengan test diagnostikcepat (Rapid diagnostik test)berdasarkan deteksi
antigen parasit malaria, dg menggunakan metodaimunokromatografi dlm bentuk
dipstick
Diagnosis
Diagnosis malaria ditegakkan seperti diagnosis penyakit lainnya berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis pasti malaria harus ditegakkan dengan
pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopik atau tes diagnostic cepat.
( Depkes, 2006 )
19

Anamnesis

Pada anamnesis sangat penting diperhatikan adalah gejala klasik yang menjadi Trias Malaria
secara berurutan :
a. Periode dingin (15-60 menit) : mulai menggigil, seluruh badan gemetar dan gigi sering
terantuk diikuti meningkatnya temperatur.
b. Periode panas : penderita muka merah, nadi cepat, dan panas badan tetap tinggi bebrapa jam
diikuti dengan keadaan berkeringat.
c. Periode berkeringat : penderita berkeringat banyak dan temperatur turun, dan penderita
merasa sehat.
Sering disertai sakit kepala, mual dan atau muntah
Kadang-kadang diare dan nyeri otot atau pegal-pegal pada orang dewasa
Riwayat berpergian dan bermalam 1 4 minggu yang lalu ke daerah malaria (masa
inkubasi)
Tinggal dan berdomisili di daerah endemis malaria
Pernah menderita malaria
Riwayat mendapat transfusi darah
Gejala pada daerah endemis biasanya lebih ringan dan tidak klasik karena timbulnya
antibodi, sedangkan pada non endemis lebih klasik/khas dan cenderung menjadi berat.
Selain hal-hal tersebut di atas, pada tersangka penderita malaria berat, dapat ditemukan keadaan
di bawah ini:
Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat.
Keadaan umum yang lemah.
Kejang-kejang.
Panas sangat tinggi.
Mata dan tubuh kuning.
Perdarahan hidung, gusi, atau saluran cerna.
Nafas cepat (sesak napas).
Muntah terus menerus dan tidak dapat makan minum.
Warna air seni seperti the pekat dan dapat sampai kehitaman.
Jumlah air seni kurang bahkan sampai tidak ada.
Telapak tangan sangat pucat.
Pemeriksaan fisik

Demam dengan suhu lebih 37,5 C


Konjungtiva palpebra bisa ditemukan anemis
Splenomegali. Pada daerah endemis splenomegali lebih sering dan berderajat besar khususnya
anak-anak
Hepatomegali
20

Gejala-gejala komplikasi seperti gangguan kesadaran, ikterik.


Adanya riwayat demam, anemia dan splenomegali dapat mengarahkan pada diagnosis malaria.
( Depkes, 2006 )
Tatalaksana
Pengobatan malaria terutama tergantung dari beratnya penyakit, jenis parasit yang menginfeksi, usia,
dan kondisi lain. Terdapat beberapa macam obat anti-malaria, seperti artesunat, amodiakuin, klorokuin,
primakuin, kina, doksisiklin, dan tetrasiklin. Umumnya obat obatan anti malaria diberikan dalam bentuk
kombinasi. Selain obat anti-malaria, penderita malaria perlu diberikan obat pendukung lain seperti obat
penurunan panas, obat nyeri kepala, atau obat mual. Penderita malaria dengan komplikasi perlu dirawat inap di
rumah sakit karena memerlukan pengobatan melalui suntikan. Saatiniyangdigunakanprogramnasionaladalah
derivatartemisinindengangolonganaminokuinolin,yaitu:

1.Kombinasitetap(FixedDoseCombination=FDC)yangterdiriatasDihydroartemisinindanPiperakuin
(DHP).1(satu)tabletFDCmengandung40mgdihydroartemisinindan320mgpiperakuin.Obatinidiberikan
peroralselamatigaharidenganrangedosistunggalhariansebagaiberikut:Dihydroartemisinindosis24
mg/kgBB;Piperakuindosis1632mg/kgBB
2.ArtesunatAmodiakuinKemasanartesunatamodiakuinyangadapadaprogrampengendalianmalaria
dengan3blister,setiapblisterterdiridari4tabletartesunat@50mgdan4tabletamodiakuin150mg.

Pencegahan
I

Berbasis Masyarakat

II

Pola perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat harus selalu ditingkatkan
melalui penyuluhan kesehatan, pendidikan kesehatan, diskusi kelompok maupun
kampanye masal untuk mengurangi sarang nyamuk (pemberantasan sarang nyamuk).
Kegiatan ini meliputi menghilangkan genangan air kotor, dengan mengalirkan air atau
menimbun atau mengeringkan barang/wadah yang memungkinkan sebagai tempat air
tergenang
Menemukan dan mengobati penderita sedini mungkin akan sangat membantu mencegah
penularan
Melakukan penyemprotan melalui kajian mendalam tentang bionomik Anopheles seperti
waktu kebiasaan menggigit, jarak terbang dan resistensi terhadap insektisida

Berbasis pribadi
Pencegahan gigitan nyamuk antara lain
Tidak keluar rumah antara senja-malam hari, bila terpaksa keluar, sebaiknya
menggunakan kemeja dan celana panjang berwarna terang karena nyamuk lebih
menyukai warna gelap
Menggunakan repelan yang mengandung dimetilftalat atau zat anti-nyamuk lainnya
Membuat konstruksi rumah yang tahan nyamuk dengan memasang kasa anti nyamuk
pada ventilasi pintu dan jendela

21

Menggunakan kelambu yang mengandung insektisida (insecticide treated mosquito


net)
Menyemprotkan kamar dengan obat nyamuk atau menggunakan obat nyamuk bakar
Pengobatan profilaksis bila akan memasuki daerah endemi meliputi
Pada daerah dimana plasmodiumnya masih sensitif terhadap klorokuin, diberikan
klorokuin 300 mg basa atau 500 mg klorokuin fosfat untuk org dewasa, seminggu 1
tablet, dimulai 1 minggu sebelum masuk daerah sampai 4 minggu setelah
meninggalkan tempat tersebut
Pada daerah dengan resistensi klorokuin, pasien memerlukan pengobatan supresif,
yaitu dengan meflokuin 5mg/kgBB/minggu atau doksisiklin 100 mg/hari atau
sulfadoksin 500 mg/pirimetamin 25 mg, 3 tablet sekali minum
Pencegahan dan pengobatan malaria pada wanita hamil meliputi
Klorokuin, bukan kontraindikasi
Profilaksis dengan klorokuin 5 mg/kgBB/minggu dan proguanil 3 mg/kgBB/hari
untuk daerah yang masih sensitif klorokuin
Meflokuin 5mg/kgBB/minggu diberikan pada bulan keempat kehamilan untuk daerah
dimana plasmodiumnya resisten terhadap klorokuin
Profilaksis dengan doksisiklin tidak diperbolehkan
Informasi tentang donor darah. Banyak penilitian melaporkan bahwa donor dari daerah
daerah endemik malaria merupakan sumber infeksi. (Widoyono, 2011)
Komplikasi

Malaria serebral
Malaria otak merupakan penyulit yang menyebabkan kematian tertinggi bila di bandingkan
dengan malaria berat lainnya. Gejala klinisnya dapat di mulai secara lambat atau mendadak
setelah gejala permulaan. Sakit kepala dan rasa mengantuk disusul dengan gangguan
kesadaran, kelainan saraf, dan kejang yang bersifat fokal atau menyeluruh.

Anemia berat
Komplikasi ini ditandai dengan menurunnya Ht (hematocrit) secara mendadak atau kadar
hb.

Gagal ginjal
Penyulit ini terutama di temukan pada orang dewasa. Mula-mula terjadi peningkatan ureum
dan kreatinin darah, yang diikuti oliguria dan akhirnya anuria yang di sebabkan nekrosis
tubulus akut.

Edema paru
Komplikasi ini dapat terlihat beberapa hari setelah pemberian obat malaria atau pada saat
keadaan umum pasien membaik serta parasitemia menghilang.

Hipoglikemia

22

Merupakan manifestasi malaria falciparum yang paling penting. Dapat di temukan sebelum
pengobatan terutama pada ibu hamil dan anak atau setelah pemberian infus kina pada
penderita malaria berat

Diare
Kurang berfungsinya penyerapan usus pada malaria disebabkan karena adanya kelainan
mukosa berupa edema, kongesti, perdarahan petechiae dan terdapat banyak eritrosit yang
terinfeksi sehingga terjadi nekrosis dan ulserasi usus (Hall, 1977). Malabsorpsi diketemukan
selama fase akut malaria falsiparum E oleh Karney dkk (1972).

Abortus, kelahiran prematur, stillbirth dan bayi berat lahir rendah


Keadaan-keadaan ini mungkin disebabkan karena berkurangnya aliran darah plasenta akibat
kongesti dan timbunan eritrosit yang terinfeksi serta makrofag di dalam villus-villus
plasenta dan sinus-sinus vena (McGregor dkk, 1983). Eritrosit yang mengandung parasit
banyak terdapat pada aliran darah bagian maternal dan biasanya talc terlihat pada bagian
fetal (Hall, 1977). Menurut McGregor (1984) hiperpireksia dapat juga mengakibatkan
terjadinya abortus.

Hiperpireksia
Lebih banyak dijumpai pada anak daripada dewasa dan seringkali berhubungan dengan
kejang, delirium dan koma, maka pada malaria monitor suhu berkala sangat dianjurkan.
Hiperpireksia adalah keadaan diaman suhu tubuh meningkat menjadi 42 C atau lebih dan
dapat menyebabkan gejala sisa neurologic yang menatap. Pada penelitian di RSUP selama 2
tahun (1997-1998) ditemukan hiperpireksia pada penderita malaria sebanyak 3,75%.
Gagal sirkulasi/syoktekanan sistolik <70 mmHg disertai keringat dingin atau perbedaan
temperature kulit-mukosa >1oC.

Perdarahan spontan dari hidung, gusi, saluran cerna dan atau disertai kelainan laboratorik
adanya gangguan koagulasi intravaskuler.

Kejang berulang lebih dari 2 kali/24jam setelah pendinginan pada hipertermis.

Asidosis (plasma bikarbonat <15mmol/L).

Makroskopik hemaglobinuri oleh karena infeksi malaria akut bukan karena obat antimalaria
pada kekurangan Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase.

Diagnosa post-mortem dengan ditemukannya parasit yang padat pada pembuluh kapiler
jaringan otak.

Prognosis

Plasmodium vivax
Prognosis malaria vivax biasanya baik (dubia ad bonam), tidak menyebabkan kematian. Bila
tidak diberi pengobatan, serangan pertama dapat berlangsung 2 bulan atau lebih. Rata-rata infeksi
23

malaria vivax tanpa pengobatan berlangsung 3 tahun, tetapi pada beberapa kasus dapat
berlangsung lebih lama, terutama karena relapsnya.

Plasmodium malariae
Tanpa pengobatan, malaria malariae dapat berlangsung sangat lama dan rekurens pernah tercatat
30-50 tahun sesudah infeksi. (dubia ad malam)

Plasmodium ovale
Malaria ovale penyakitnya ringan dan dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. (ad sanationam)

Plasmodium falciparum
Prognosis malaria falciparum buruk (malam) dan dapat menyebabkan kematian. Mortalitas
malaria ini masih cukup tinggi, yaitu 20-50%.(Parasitologi untuk keperawatan Muslim, H. M.
2009)

Epidemiologi
Malaria dapat ditemukan mulai dari belahan bumi utara hingga belahan bumi selatan; mulai dari
ketinggian 2850 m sampai daerah yang letaknya 400 m dibawah permukaan laut.
Keadaan malaria di dunia saat ini diperkirakan terdapat 300-500 juta kasus malaria klinis/tahun
dengan 1,5 juta - 2,7 juta kematian. Dan 90% kematian terjadi pada anak-anak. Menurut data yang
berkembang hampir separuh dari populasi Indonesia (lebih dari 90 juta orang atau 46% dari total
populasi Indonesia) bertempat tinggal di daerah endemik malarian dan diperkirakan ada 30 juta kasus
malaria setiap tahunnya.
Malaria disuatu daerah dapat ditemukan secara :

Autokton, siklus hidup parasit malaria dapat berlangsung karena adanya manusia yang
rentan, nyamuk dapat menjadi vektor dan ada parasitnya.

Impor, terjadi bila infeksinya berasal dari luar daerah endemi malaria

Introduksi, timbul karena adanya kasus kedua yang berasal dari kasus impor

Reintroduksi, bila kasus malaria muncul kembali yang sebelumnya sudah dilakukan
eradikasi malaria.

Induksi, bila kasis berasal dari transfusi darah, suntikan atau kongenital yang tercemar
malaria.

Program Pemerintah (Gebrak Malaria)


1. Definisi dan Tujuan
Gebrak Malaria adalah gerakan nasional seluruh komponen masyarakat untuk memberantas
Malaria secara intensif melalui kemitraan antara pemerintah, dunia usaha, lembaga swadaya
masyarakat dan badan-badan internasional serta penyandang dana, mengingat masalah Malaria
24

merupakan masalah yang komplek karena berhubungan dengan berbagai aspek seperti penyebab
penyakit (parasit), lingkungan (fisik dan biologis) dan nyamuk sebagai vektor penular.
2. Pelaksanaan
Strategi dalam Pemberantasan Malaria antara lain adalah dengan sistem kewaspadaan dini dan
upaya penanggulangan epidemi agar tidak semakin menyebar; intensifikasi pengawasan,
diagnosis awal dan pengobatan yang tepat, dan kontrol vektor secara selektif. Kebijakankebijakan yang diambil dalam pemberantasan malaria antara lain penekanan pada desentralisasi,
keterlibatan masyarakat dalam pemberantasan malaria, dan membangun kerja sama antarsektor,
NGO, dan lembaga donor. Gerakan Berantas Kembali Malaria atau Gebrak Malaria yang dimulai
pada 2000 adalah bentuk operasional dari Roll Back Malaria (RBM). Gebrak Malaria
memprioritaskan kemitraan antara pemerintah, swasta/sektor bisnis, dan masyarakat untuk
mencegah penyebaran penyakit malaria.
Program pemberantasan malaria di Indonesia saat ini terdiri atas delapan kegiatan, yaitu:
diagnosis awal dan pengobatan yang tepat; program kelambu dengan insektisida; penyemprotan;
pengawasan deteksi aktif dan pasif; survei demam dan pengawasan migran; deteksi dan kontrol
epidemik; langkah-langkah lain seperti larvaciding; dan peningkatan kemampuan (capacity
building). Untuk menanggulangi galur yang resisten terhadap klorokuin, pemerintah pusat dan
daerah akan menggunakan kombinasi baru obat-obatan malaria untuk memperbaiki kesuksesan
pengobatan. Karena kombinasi obat-obatan itu sangat mahal, penggunaannya akan ditargetkan di
daerah dengan prevalensi resistensi yang tinggi.
Dalam rangka merealisasikan Gebrak Malaria ini telah disusun Rencana Kegiatan Pengendalian
Malaria melalui Rencana Strategi Pembebasan (Eliminasi) Malaria di Indonesia, yang akhirnya
dituangkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
293/Menkes/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia dengan
sasaran wilayah Eliminasi yang dilaksanakan secara bertahap, yaitu:
a. Eliminasi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Kepulauan Seribu), Bali dan Batam pada tahun 2010.
b. Eliminasi Jawa, Nanggroe Aceh Darussalam, Kepulauan Riau pada tahun 2015.
c. Eliminasi Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi pada tahun 2020.
d. Eliminasi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur pada tahun 2030
Kegiatan Eliminasi Malaria harus dilaksanakan secara terpadu dan menyeluruh antara
Pemerintah, Pemerintah Daerah dan mitra kerja lainnya. Dari berbagai pengalaman Eliminasi
Malaria pada masa lalu, telah terbukti bahwa tanpa keterlibatan dan dukungan legislatif,
pemerintah daerah, masyarakat termasuk organisasi sosial, keagamaan dan pihak swasta, maka
hasil yang dicapai belum optimal.
Kegiatan Eliminasi Malaria lebih banyak terfokus kepada kegiatan promotif dan preventif. Oleh
karena itu peranan Promosi Kesehatan akan semakin besar agar pelaksanaannya lebih optimal.
Strategi promosi kesehatan untuk Eliminasi Malaria adalah Advokasi, Bina Suasana,
Pemberdayaan Masyarakat yang didukung dengan Kemitraan
Daftar Pustaka
25

Staf pengajar departemen parasitologi UI. (2013). Buku ajar parasitologi kedokteran ed.4. Jakarta : Badan
penerbit FKUI Jakarta

Widoyono. 2011. Penyakit Tropis Ed.2. Jakarta: Erlangga


Depkes. Epidemiologi Malaria di Indonesia. 2011. Buletin Data dan Informasi Kesehatan. Jakarta,
Pusat Data dan Informasi Kesehatan
http://www.pppl.depkes.go.id/_asset/_download/Pedoman_Penatalaksana_Kasus_Malaria_di_Indonesia.pdf
http://eprints.undip.ac.id/21280/1/Jerry.pdf [Diakses pada 08 April 2015 pukul 18:30
http://www.rph.wa.gov.au/malaria/diagnosis.html [Diakses pada 08 April 2015 pukul 20:00]

26