Anda di halaman 1dari 32

BAB II

LANDASAN TEORI
II.1 Tinjauan Pustaka
II.1.1 Pengertian Pubertas
Pubertas diartikan sebagai proses biologis yang akhirnya menuju
kepada kemampuan reproduksi. Selama masa pubertas, perubahan penting
terjadi dalam sistem pengaturan hormonal pada sistem saraf pusat, gonad,
dan adrenal, menyebabkan perubahan pada pertumbuhan skeleton dan
dalam komposisi tubuh serta diperolehnya ciri-ciri seks sekunder
(Isselbacher et al., 1999)
Pubertas adalah proses kematangan, hormonal dan pertumbuhan
yang terjadi ketika organ-organ reproduksi mulai berfungsi dan
karakteristik seks sekunder mulai muncul.
Proses ini umumnya dibagi dalam tiga tahap, yaitu prapubertas,
yaitu periode sekitar 2 tahun sebelum pubertas ketika anak pertama kali
mengalami perubahan fisik yang menandakan kematangan seksual;
kemudian pubertas, yang merupakan titik pencapaian kematangan
seksual, ditandai dengan keluarnya darah menstruasi pertama kali pada
remaja putri; dan pasca pubertas, merupakan periode 1 sampai 2 tahun
setelah pubertas, ketika pertumbuhan tulang telah lengkap dan fungsi
reproduksi terbentuk dengan cukup baik. (Wong et al, 2009)

II.1.2 Awitan Pubertas


Awitan dan saat terjadinya pubertas bervariasi menurut jenis
kelamin, kelompok populasi dan tiap-tiap individu. Usia rata-rata (mean)
awitan pubertas untuk anak perempuan sebagaimana ditentukan oleh
penonjolan payudara adalah 11,2 1,6 tahun (Isselbacher et al., 1999). Di
Amerika Utara dan Eropa, pubertas terlihat saat dimulainya perkembangan
payudara pada usia antara 8 dan 10 tahun. Ciri-ciri seksual sekunder lain

akan tampak dalam 2,5 tahun kemudian. Pubertas mencapai puncak saat
terjadi menstruasi (Heffner & Schust, 2005).

Gambar 1. Rentang Usia dan Rerata Perubahan Fisik Pada Pubertas


http://www.merckmanuals.com/professional/gynecology_and_obstetrics/female_reproduc
tive_endocrinology/female_reproductive_endocrinology.html

II.1.3 Fisiologi Pubertas


Antara masa anak awal dan usia sekitar 8-9 tahun (yaitu fase pra
pubertas), aksis hipotalamus-pituitaria-gonad adalah tidak aktif, seperti
direfleksikan oleh kadar hormon luteinisasi (LH) serum dan juga hormon
seks (yaitu estradiol pada anak perempuan) yang tidak terdeteksi. Pada
fase ini, aktivitas hipotalamus dan kelenjar pituitaria diduga tertekan oleh
jalur pengendalian saraf dan oleh umpan balik negatif oleh sejumlah kecil
steroid gonad dalam sirkulasi (Behrman et al, 2000)
Pubertas terjadi akibat peningkatan ambang batas terhadap inhibisi
umpan balik tersebut, tetapi mekanisme penyesuaiannya masih belum
diketahui. Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa sejak usia 6
tahun, telah terjadi ritme pelepasan LH pada malam hari, yang frekuensi
dan amplitudonya akan meningkat secara bertahap. Pemeriksaan

ultrasonografi ovarium juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas


folikel sejak pertengahan masa kanak-kanak. (Hull & Johnston, 2008).
Satu sampai tiga tahun sebelum mulainya pubertas, kadar LH
serum yang rendah selama tidur menjadi dapat diperagakan (yaitu masa
peripubertas) dan menjadi nyata secara klinis. Sekresi LH selama tidur ini
terjadi dengan cara berdenyut dan mungkin mencerminkan pengeluaran
episodik endogen hormon pelepas-gonadotropin dari hipotalamus (GnRH).
Denyut LH nokturna amplitudonya terus meningkat dan pada sebagian
kecil frekuensinya juga meningkat ketika mendekati pubertas klinis.
Denyut sekresi gonadotropin ini menyebabkan pembesaran dan maturasi
gonad dan sekresi hormon seks. Munculnya ciri-ciri kelamin sekunder
pada awal pubertas merupakan kulminasi interaksi yang aktif dan mapan
yang terjadi pada hipotalamus, kelenjar pituitaria dan gonad pada masa
peripubertas. Menjelang mid-pubertas, denyut LH menjadi jelas kelihatan
bahkan pada siang hari dan terjadi dengan interval sekitar 90-120 menit.

Gambar 2. Fisiologi Pubertas


http://www.merckmanuals.com/professional/gynecology_and_obstetrics/female_
reproductive_endocrinology/female_reproductive_endocrinology.html

Kejadian kritis kedua terjadi pada pertengahan dan akhir masa


remaja pada wanita, padanya terjadi siklisitas dan ovulasi. Mekanisme
umpan balik positif berkembang ke arah meningkatnya kadar estrogen
pada pertengahan siklus yang menyebabkan kenaikan LH yang jelas.
Faktor-faktor yang mengaktifkan atau mengendalikan secara
normal neuron hipotalamik yang menimbulkan sekresi GnRH (yaitu unit
neurosekretori yang dikenal sebagai generator denyut GnRH) belum
diketahui.
Androgen korteks adrenal juga memainkan peran pada maturasi
pubertas. Kadar dehidroepiandrosteron (DHEA) serum dan sulfatnya
(DHEAS) mulai meningkat sekitar usia 6-8 tahun, sebelum meningkatnya
LH atau hormon kelamin dan sebelum perubahan fisik pubertas paling
awal nampak (Behrman et al, 2000).

II.1.4 Perubahan Fisik Pada Pubertas


Perubahan fisik pada pubertas terutama merupakan hasil aktivitas
hormonal di bawah pengaruh sistem saraf pusat, walaupun semua aspek
fungsi fisiologis berinteraksi secara bersama-sama. Perubahan fisik yang
sangat jelas tampak pada pertumbuhan peningkatan fisik dan pada
penampakan serta perkembangan karakteristik seks sekunder. Perubahan
yang tidak tampak jelas adalah perubahan fisiologis dan kematangan
neurogonad yang disertai dengan kemampuan untuk bereproduksi.
Perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin ditentukan berdasarkan
karakteristik pembeda : karakteristik seks primer merupakan organ
eksternal dan internal yang melaksanakan fungsi reproduktif (misalnya
ovarium, uterus, payudara pada wanita); dan karakteristik seks sekunder
yang merupakan perubahan yang terjadi di seluruh tubuh sebagai hasil
dari perubahan hormonal (misalnya munculnya rambut pubertas,
penumpukan lemak pada pinggul) tetapi tidak berperan langsung dalam
reproduksi (Wong et al, 2009).

Perubahan fisik pada pubertas anak perempuan dibagi menjadi 5


tahap menurut sistem yang dikembangkan oleh Marshall dan Tanner,
yang memeriksa sekelompok anak perempuan Inggris saat mengalami
pematangan seksual. Mereka kemudian mengelompokkan perubahan
relatif dan absolut dari ciri-ciri seksual anak-anak tersebut. Walaupun
mereka tidak menempatkan penemuan mereka ini untuk dapat digunakan
secara universal, namun sistem tersebut telah digunakan secara luas
dalam menggambarkan waktu dan progresivitas perubahan pada pubertas
yang normal. Pola dari gambaran perubahan pada pubertas ini adalah
tetap, namun ciri-ciri dan waktu dari perubahan-perubahan ini
dipengaruhi oleh ras, nutrisi, faktor genetik serta faktor lingkungan
lainnya (Heffner & Schust, 2005).
Pada kebanyakan remaja putri, indikasi awal pubertas adalah
tampaknya tonjolan payudara yang dikenal sebagai telarke, terjadi pada
usia antara 9 dan 13 tahun. Kondisi ini diikuti dengan pertumbuhan
rambut pubis pada mons pubis sekitar 2 sampai 6 bulan, yang dikenal
sebagai adrenarke. Pada sebagian kecil remaja putri yang sedang
berkembang secara normal, rambut pubis dapat tumbuh mendahului
perkembangan payudara.
Awal munculnya menstruasi, atau menarke, terjadi sekitar 2 tahun
setelah penampakan perubahan pubertas pertama, kira-kira 9 bulan
setelah kecepatan pertambahan tinggi badan dan 3 bulan setelah
kecepatan pertambahan berat badan mencapai puncaknya. Awal periode
menstruasi biasanya sedikit, tidak teratur, dan anovulasi. Ovulasi dan
periode menstruasi yang teratur biasanya terjadi 6 sampai 14 bulan
setelah menarke (Wong et al, 2009).

II.1.4.1 Telarche
Kelenjar mammae atau payudara merupakan turunan lapisan
ektoderm. Jaringan payudara ini sangat sensitif terhadap hormon. Efek

hormonal paling jelas terlihat selama perkembangan embrionik dan


setelah pubertas. Struktur dasar payudara hampir sama pada semua
mamalia walaupun terdapat variasi yang luas dalam hal jumlah,
ukuran, lokasi dan bentuk kelenjar mammae. Setiap kelenjar mammae
terdiri atas massa jaringan kelenjar yang berlobul. Jaringan kelenjar
melekat di dalam jaringan adiposa dan dipisahkan oleh jaringan ikat
fibrosa. Setiap lobus mengandung lobulus-lobulus alveoli, pembuluh
darah dan duktus laktiferus.
Pada

onset

pubertas,

estrogen

ovarium

menginduksi

pertumbuhan sistem duktus laktiferus. Duktus-duktus ini bercabangcabang selama pertumbuhannya dan ujung duktus ini membentuk
massa sel kecil dan padat. Struktur ini akan membentuk alveoli
lobular. Payudara dan alveoli kemudian membesar. Saat menarche,
sekresi estrogen dan progesteron siklik dimulai dan akan terjadi fase
tambahan pada pertumbuhan duktus dan lobulus yang rudimenter.
Kortikosteroid adrenal selanjutnya akan meningkatkan perkembangan
duktus. Payudara terus membesar selama beberapa waktu setelah
menarche akibat timbunan lemak dan jaringan ikat tambahan.
Diferensiasi dan pertumbuhan akhir payudara tidak akan terjadi
sampai kehamilan (Heffner & Schust, 2005).

Tahapan perkembangan payudara saat pubertas dibagi menjadi 5


tahapan menurut Marshall dan Tanner seperti yang terlihat pada
gambar 3.

Gambar 3. Tahapan Pertumbuhan Payudara Saat Pubertas (Telarche)


http://www.merckmanuals.com/professional/gynecology_and_obstetrics/female_reproduc
tive_endocrinology/female_reproductive_endocrinology.html

Deskripsi, rerata dan kisaran usia dari tahapan pertumbuhan


payudara saat pubertas atau Telarche dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Tahapan Pertumbuhan Payudara Saat Pubertas (Telarche)
TAHAP

DESKRIPSI

Praremaja. Hanya papila yang terangkat.

II

Tahap permulaan payudara. Payudara dan

RERATA

KISARAN

11.2

9.0 13.3

12.2

10.0 14.3

13.1

10.8 15.3

15.3

11.9 18.8

papila berupa gundukan kecil. Diameter


areola membesar.
III

Payudara sedikit membesar dan areola tidak


memperlihatkan perbedaan kontur.

IV

Areola

dan

papilla

mammae

sudah

membentuk penonjolan sekunder diatas


payudara.
V

Dewasa, penonjolan hanya terjadi pada


papilla

Sumber : Heffner & Schust, 2005


II.1.4.2 Adrenarche
Istilah ini menggambarkan peran kelenjar adrenal pada pubertas
baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan. Pada adrenarke
terdapat peningkatan sintesis dan sekresi androgen lemah oleh
adrenal, yaitu androstenedion, dehidroepiandrosteron (DHEA) dan
dehidroepiandrosteron sulfat (DHEA-S). Adrenarke terjadi pada usia
6-8 tahun pada anak perempuan. Sekresi androgen lemah oleh adrenal
terjadi lebih awal 2 tahun sebelum onset pubertas. DHEA dan DHEAS bertanggung jawab terhadap awal pertumbuhan rambut pubis dan
aksila dan juga pertumbuhan dan sekresi kelenjar sebasea. Rambut

aksila dan pubis tumbuh bersamaan dengan dimulainya perkembangan


payudara dan menandai onset pubertas pada anak perempuan.
Pemicu yang pasti untuk terjadinya adrenarke belum diketahui.
Adrenarke tidak tergantung pada pelepasan ACTH, pelepasan
gonadotropin, dan fungsi ovarium, dan sepertinya merupakan intrinsik
dan telah diprogram di dalam kelenjar adrenal. Adrenarke berbeda
dengan peristiwa lain pada pubertas dan masing-masing dapat terjadi
tanpa keadaan lain yang menyertai (Heffner & Schust, 2005).

Gambar 4. Tahapan Pertumbuhan Rambut Pubis Saat Pubertas


(Adrenarche)
http://www.endotext.org/pediatrics/pediatrics13/pediatrics13.htm

Deskripsi, rerata dan kisaran usia dari tahapan pertumbuhan


rambut pubis saat pubertas atau Adrenarche dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Tahapan Pertumbuhan Rambut Pubis Saat Pubertas (Adrenarche)

TAHAP

DESKRIPSI

RERATA

KISARAN

tipis

11.7

9.3-14.1

Rambut menghitam, menebal dan sebagian

12.4

10.2 14.6

13.0

10.8 15.1

14.4

12.2 16.7

Ph1

Praremaja. Tidak terdapat rambut pubis.

Ph2

Pertumbuhan

rambut

halus

dan

disepanjang labia
Ph3

besar keriting. Menyebar jarang sepanjang


perbatasan labia
Ph4

Pertumbuhan rambut menyerupai dewasa


namun lebih sempit. Tidak menyebar ke
medial paha

Ph5

Penampakan

seperti

dewasa.

Berbentuk

segitiga

Sumber : Heffner & Schust, 2005

II.1.4.3 Menarche
II.1.4.3.1 Pengertian Menarche
Menarche adalah perdarahan pertama dari uterus yang
terjadi pada seorang wanita (Wiknjosastro, 2008).

II.1.4.3.2 Karakteristik Usia Menarche


Usia remaja yang mendapat menarche bervariasi yaitu :
antara

usia

10-16

tahun,

tetapi

rata-rata

12,5

tahun

(Wiknjosastro, 2008), antara 11-15 tahun, rata-rata 13 tahun


(Pardede, 2002).

II.1.4.3.3 Fisiologis Menarche


Menarche sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian
perubahan yang terjadi pada seorang gadis yang sedang
menginjak dewasa. Perubahan timbul karena serangkaian
interaksi antara beberapa kelenjar di dalam tubuh.
Pusat pengendalian yang utama adalah bagian otak, disebut
hypothalamus, yang bekerjasama dengan kelenjar bawah otak
untuk mengendalikan urutan-urutan rangkaian perubahan itu.
Oleh sebab yang hingga kini belum jelas, empat tahun sebelum
menarche, hypothalamus sudah mengeluarkan zat yang disebut
faktor pencetus. Faktor pencetus bergerak melalui pembuluh
darah kelenjar bawah otak, dan menyebabkan kelenjar itu
mengeluarkan hormon-hormon tertentu. Salah satunya ialah
hormon pertumbuhan yang menyebabkan pertumbuhan lebih
cepat menjelang gadis.
Pertumbuhan yang cepat ini dimulai kira-kira 4 tahun
sebelum menarche, terutama dalam dua tahun yang pertama, dan
melambat saat datangnya menarche. Sekitar usia 12 tahun,
hormon pencetus yang lain yaitu Gonadotropin Releasing
Hormone (GnRH) mulai dihasilkan hypothalamus secara
bergelombang, yang terjadi setiap 90 menit. Gelombang GnRH
mempunyai efek yang sangat besar pada kematangan seksual
seorang gadis remaja. Hormon ini mencapai kelenjar pituitary
dan menyebabkan sel-sel istimewa tertentu menghasilkan dua
hormon yang mempengaruhi indung telur berisi cairan yang
dinamai folikel.
Satu diantara dua hormon itu bertugas mempengaruhi
folikel, dengan merangsang pertumbuhannya, sehingga diberi
nama hormon perangsang folikel (Follicle Stimulating Hormone
atau FSH). Pada mulanya folikel yang tumbuh sedikit.
Sementara itu, sel-sel yang mengelilinginya membuat seorang

anak perempuan memiliki sifat wanita setelah remaja. Folikelfolikel yang terangsang tadi selama sebulan menghasilkan
hormon estrogen, dan kemudian mati. Tetapi pada saat folikel
rombongan pertama mati, sejumlah folikel lain sudah mulai di
rangsang FSH dan memproduksi estrogen.
Semakin lama, semakin banyak folikel yang dirangsang
oleh FSH dalam tiap bulannya (kira-kira antara 12-20 folikel),
sehingga jumlah estrogen yang terbentuk banyak. Estrogen juga
mempengaruhi pertumbuhan saluran susu di payudara, sehingga
payudara membesar. Juga dapat merangsang pertumbuhan
saluran telur, rongga rahim dan vagina, sehingga membesar. Di
vagina, estrogen membuat dinding kian tebal dan cairan vagina
bertambah banyak.

Estrogen

juga dapat

mengakibatkan

tertimbunnya lemak di daerah pinggul wanita, juga dapat


memperlambat

pertumbuhan

tubuh

yang

semula

sudah

dirangsang oleh kelenjar bawah otak. Itulah sebabnya mengapa


remaja tidak setinggi anak laki-laki yang sama umurnya.
Kadar estrogen yang beredar bersama darah semakin lama
semakin banyak. Masa menarche pun semakin dekat, kenaikan
estrogen merangsang lapisan dalam rongga rahim yang disebut
endometrium sehingga menebal. Tetapi juga menekan kelenjar
bawah otak sehingga produksi FSH berkurang. Dengan kadar
hormon perangsang folikel (FSH) mulai menurun, pertumbuhan
folikel melambat. Akibatnya, produksi estrogen pun menurun.
Pembuluh darah yang mengaliri lapisan dalam rahim mengerut
dan putus, sehingga terjadi perdarahan di dalam rahim.
Endometrium ikut runtuh, berbentuk cairan berupa darah
dan sel-sel endometrium yang terkumpul di rahim kemudian
mengalir melalui vagina, mulailah terjadi haid pertama yaitu
menarche (Llewellyn, 2005).

Gambar 5. Fisiologis Menarche

Setelah seorang remaja putri tersebut mengalami menstruasi


untuk yang pertama kalinya (menarche), berarti perempuan
tersebut telah memasuki puncak dari pubertas. Selanjutnya,
perempuan tersebut akan mengalami siklus menstruasi setiap
bulannya dan siklus menstruasi tersebut akan berhenti setelah
mencapai masa menopause.
Dalam keadaan normal, menarche diawali dengan periode
pematangan yang dapat memakan waktu 2 tahun. Pada awalnya,
sebagian besar anak perempuan terjadi menstruasi yang tidak
teratur, tapi setelah ovarium memproduksi estrogen siklik yang
adekuat, menstruasi pada seorang perempuan akan menjadi
lebih teratur (Bobak, 2004).
Pada tahun-tahun pertama setelah menarche, banyak terjadi
siklus menstruasi yang anovulatoir. Ini menggambarkan kurang
matangnya respons umpan balik positif hipotalamus terhadap

estrogen ovarium. Pola perdarahan saat menstruasi seringkali


terjadi lebih awal setelah menarche yang menggambarkan
paparan estrogen yang terus menerus pada ovarium dan
peluruhan endometrium yang berproliferasi atau hiperplastik.
Karena tidak terbentuknya korpus luteum pada keadaan
anovulasi, endometrium tidak dapat memperlihatkan efek
progesteron yang membuat menstruasi menjadi fenomena yang
berhenti sendiri (self-limited). Setelah 5 tahun sejak onset
menarche, 90% anak perempuan akan mengalami siklus
menstruasi yang teratur dan ovulatoir (Heffner & Schust, 2005)
Kejadian menstruasi dipengaruhi beberapa faktor yang
mempunyai sistem tersendiri yaitu sistem susunan saraf pusat
dengan panca indera nya, sistem hormonal aksis hipotalamohipofisis-ovarial,

perubahan

yang terjadi pada ovarium,

perubahan yang terjadi pada uterus sebagai organ akhir, dan


rangsangan estrogen dan progesteron pada panca indera,
langsung pada hipotalamus, dan melalui perubahan emosi.
Selain estrogen dan progesteron, hormon-hormon yang
berpengaruh terhadap terjadinya proses menstruasi yaitu hormon
perangsang folikel (FSH), berfungsi merangsang folikel
primordial yang dalam perjalanannya mengeluarkan hormon
estrogen untuk pertumbuhan tanda seks sekunder wanita,
luteinizing hormone (LH) yang berfungsi merangsang indung
telur. (Manuaba, 1999).
Proses menstruasi diawali dengan ovulasi (pelepasan sel
telur) yang ditandai dengan peningkatan produksi estrogen,
menyebabkan

menebalnya

dinding

dalam

rahim

(fase

proliferasi). Estrogen tersebut menekan hormon FSH tetapi juga


merangsang LH, sehingga LH merangsang folikel Graaf melepas
sel telur. Sel telur ditangkap oleh rumbai fallopii dan dibungkus
oleh korona radiata. Folikel Graaf yang mengalami ovulasi

berubah menjadi korpus rubrum dan segera menjadi korpus


luteum dan mengeluarkan hormon estrogen juga progesteron.
Estrogen menyebabkan endometrium atau dinding dalam rahim
menebal dan mengalami fase sekresi, dimana pembuluh darah
dominan mengeluarkan cairan. Karena tidak terjadi pembuahan,
korpus luteum mati menyebabkan tidak mampu menahan
endometrium, oleh karena estrogen dan progesteron berkurang
sampai menghilang (fase vasokonstriksi atau pengerutan
pembuluh darah). Akhirnya endometrium kekurangan aliran
darah diikuti vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan
pelepasan atau peluruhan endometrium berupa darah dalam
bentuk menstruasi (Wiknjosastro, 2008).
Pada dasarnya, siklus menstruasi pada setiap wanita
bervariasi, karena kadar hormon estrogen yang diproduksi oleh
setiap tubuh wanita berbeda. Siklus menstruasi itu sendiri adalah
jarak antara tanggal mulainya menstruasi yang lalu dan
mulainya menstruasi berikutnya. Panjang siklus menstruasi yang
normal atau dianggap sebagai siklus menstruasi yang klasik
adalah 28 hari ditambah atau dikurangi 2-3 hari. (Wiknjosastro,
2008).
Menarche diikuti menstruasi yang sering tidak teratur
karena folikel Graaf belum melepaskan ovum yang disebut
ovulasi. Tetapi lama-lama sekitar 4-6 tahun sejak menarche,
pola menstruasi sudah terbentuk dengan siklus menstruasi
menjadi teratur (Llewellyn-jones, 1997).
Lama menstruasi biasanya antara 3-5 hari, ada yang 1-2 hari
diikuti darah sedikit-sedikit kemudian ada yang 7-8 hari. Pada
setiap wanita biasanya lama menstruasi itu tetap. Jumlah darah
yang keluar rata-rata 16 cc, bila lebih dari 80 cc dianggap
patologik (Wiknjosastro, 2008).
Fase-fase dalam siklus menstruasi adalah sebagai berikut :

1.

Fase menstruasi
Berlangsung sekitar 3-5 hari. Dalam fase ini lapisan stratum
kompakta dan spongiosa endometrium dilepaskan dari
dinding uterus disertai perdarahan. Hanya tertinggal lapisan
stratum basalis 0,5 mm. Darah menstruasi mengandung
darah vena dan arteri dengan sel-sel darah merah dalam
hemolisis atau aglutinasi, sel-sel epitel dan stroma yang
mengalami disintegrasi dan dan otolisis, dan sekresi dari
uterus, serviks dan kelenjar-kelenjar vulva.

2.

Fase regenerasi
Fase ini dimulai pada hari ke empat menstruasi, luka bekas
pelepasan endometrium sebagian besar berangsur-angsur
sembuh

dan

ditutup

kembali

oleh

selaput

lendir

endometrium. Sel basalis mulai berkembang, mengalami


mitosis dan kelenjar endometrium mulai tumbuh kembali .
3.

Fase proliferasi
Berlangsung sejak hari ke-5 sampai 14, pada fase ini
endometrium tumbuh menjadi setebal 3,5 mm. Pada fase
regenerasi sampai proliferasi, endometrium dipengaruhi
oleh hormon estrogen dan sejak ovulasi, korpus luteum
mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron yang
mempengaruhi terjadinya fase sekresi.

4.

Fase sekresi
Fase ini dimulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari
ke 14 sampai ke 28. Dalam fase ini, tebal endometrium
tetap,

hanya

mengeluarkan

kelenjarnya

lebih

sekret.

endometrium

Sel

berkelok-kelok

dan

mengandung

banyak glikogen, protein, air dan mineral untuk persiapan


menerima implantasi dalam memberikan nutrisi pada zigot.
Umur korpus luteum hanya berlangsung 8 hari dan
setelahnya mengalami kematian sehingga tidak lagi

mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron, kemudian


menimbulkan iskemia stratum kompakta dan stratum
spongiosa diikuti vasodilatasi pembuluh darah yang
menyebabkan pelepasan lapisan endometrium dalam bentuk
perdarahan menstruasi dan siklus menstruasi berulang
kembali (Manuaba, 1999).

II.1.4.3.4. Macam- macam Menarche


Menurut Wiknjosastro (2008) macam-macam menarche ada
2 yaitu :
1.

Menarche prekoks
Menarche prekoks yaitu sudah ada haid sebelum umur
10 tahun.

2.

Menarche tarda
Menarche tarda yaitu menarche yang baru datang umur
14-16 tahun.

II.1.4.3.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Menarche


Faktor-faktor yang mempengaruhi menarche adalah sebagai
berikut :
1. Faktor keturunan / genetik
Saat timbulnya menarche juga kebanyakan ditentukan
oleh pola dalam keluarga. Penelitian Ersoy B. et al (2005)
menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara umur menarche
ibu dan umur menarche anak perempuannya yaitu hanya
terpaut 1 tahun, dimana umur anak saat menarche adalah 12,82
tahun sedangkan umur ibu saat menarche adalah 13,6 tahun.
Hubungan antara usia menarche sesama saudara kandung
lebih erat dari pada antara ibu dan anak perempuannya
(Winkjosastro, 2005). Peran genetis dalam mengatur menarche
tidak bekerja sendirian. Menarche yang diatur secara genetis

ini berhubungan pula dengan faktor-faktor lain, misalnya


faktor

lingkungan

akan

berhubungan

dengan

proses

pematangan seksual sehingga berakibat dipercepat atau


diperlambatnya menarche (Damayanti, 2002, Myrtati, 1992).

2. Ras/etnik
Beberapa studi yang dilakukan terutama di Amerika
Serikat, menunjukkan bahwa adanya perbedaan maturasi
seksual dan menarche pada berbagai etnik-ras. Anak
perempuan kulit hitam mengalami tingkat perkembangan
payudara dan rambut pubis dan menarche pada usia yang lebih
muda dibandingkan anak perempuan kulit putih.
Lebih lanjut, penelitian lain di Amerika Serikat dengan
menggunakan data dari The Third National Health and
Nutrition Examination Survey, menunjukkan usia rata-rata
onset perkembangan rambut pubis, payudara dan menarche
pada anak perempuan kulit hitam adalah 9,5, 9,5 dan 12,1
tahun; dan 10,5, 10,3 dan 12,7 pada anak perempuan kulit
putih. Perbedaan ras atau etnik tersebut tetap bahkan setelah
menyesuaikan indeks massa tubuh saat ini dan berbagai
variabel sosial dan ekonomi. Perbedaan maturasi pubertas dari
berbagai ras mencerminkan pengaruh faktor genetik.
Anak perempuan di Eropa Selatan mengalami menarche
lebih awal daripada anak perempuan di Eropa Utara. Rata-rata
usia menarche di Perancis dan negara Mediterania lain lebih
rendah daripada negara Eropa Barat lainnya dimana hal ini
berhubungan dengan perbedaan geografi yang mencerminkan
baik genetik atau etnik dan faktor lingkungan.
Usia menarche di Asia mirip dengan anak perempuan di
Mediterania; rata-rata usia menarche di Hongkong dan Jepang
berturut-turut adalah 12,38 dan 12,2 tahun, dan di Yunani atau

Spanyol berturut adalah 12,27 dan 12,34 (Karapanou &


Papadimitriou, 2010).

3. Status gizi
Makin baiknya nutrisi mempercepat usia menarche.
Beberapa ahli mengatakan anak perempuan dengan jaringan
lemak yang lebih banyak, lebih cepat mengalami menarche
dari pada anak yang kurus (Winkjosastro, 2005). Helm et al
(1996) menemukan bahwa usia menarche cepat berhubungan
dengan overweight dan menarche terlambat berhubungan
dengan underweight (Damayanti, 2002).
Guthrie dan Picciano (1995) mengatakan bahwa ada
berat badan kritis yang harus dicapai sebelum memasuki
pubertas yaitu sekitar 30 kilogram. Berat ini dapat disamakan
dengan komposisi tubuh dimana 10% diantaranya adalah
lemak. Pertambahan berat badan dimulai sekitar 6 bulan
setelah peak height velocity (PHV) atau puncak pertumbuhan
tinggi badan, dan ini berjalan selama 2,5-3 tahun (Ginarhayu,
2002).
Menurut Bagga (2000), remaja putri yang mengalami
menarche dengan umur lebih awal (9-11 tahun) mempunyai
berat badan maksimum adalah 46 kg dibandingkan umur
menarche yang ideal (12-14 tahun) yaitu 41 kg. Sedangkan
remaja putri yang telat menarche nya (14-15 tahun)
mempunyai berat badan sekitar 37 kg. Penelitian yang serupa
adalah dengan mengukur tinggi badan yang dilakukan terhadap
remaja putri yang mendapat menarche dengan umur lebih awal
(9-11 tahun) yaitu 154,84 cm, sedangkan tinggi remaja putri
yang mendapat menarche telat adalah 147,89 cm. Penelitian
tersebut menyatakan bahwa ada hubungan yang kuat antara

satus gizi terhadap menarche remaja putri. (Anni Kartika Putri,


2009).
Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi dibagi
menjadi 2 kategori :

Faktor Langsung
o Konsumsi makanan
Makanan yang dikonsumsi sangat tergantung pada
kuantitas dan kualitas kandungan zat gizi yang ada
dalam bahan makanan, ada tidaknya pemberian
makanan di luar keluarga, daya beli keluarga, kebiasaan
makan yang didasari oleh pengetahuan orangtua/
pengelola makanan terhadap gizi dan kesehatan.
o Status kesehatan
Keadaan kesehatan sangat dipengaruhi oleh daya beli
keluarga, kebiasaan makan, pengetahuan pemeliharaan
kesehatan dan keadaan lingkungan fisik dan sosial
(Ginarhayu, 2002, Call & Levinson, 1977).
Badan yang lemah atau penyakit yang mendera seorang
anak gadis seperti penyakit kronis, terutama yang
mempengaruhi masukkan makanan dan oksigenasi
jaringan dapat memperlambat menarche. Demikian pula
obat-obatan (Winkjosastro, 2005).

Faktor Tidak Langsung


Faktor tidak langsung yang mempengaruhi status gizi antara
lain meliputi : tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan
jumlah anggota keluarga. (Ginarhayu, 2002).

4. Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi telah lama diduga sebagai faktor
yang berhubungan dengan umur menarche. Hal tersebut
disebabkan tingkat sosial ekonomi akan berhubungan dengan

tingkat

pengetahuan

orangtua

tentang

gizi

keluarga,

kemampuan dalam mencukupi gizi keluarga, status gizi anak


perempuan dalam mengakses informasi pengaruh budaya luar
dan tingkat rangsangan psikis yang pada akhirnya akan
berhubungan dengan umur menarche.
Beberapa jumlah studi menemukan bahwa status sosial
ekonomi yang lebih tinggi berasosiasi terhadap lebih awalnya
waktu pubertas baik pada anak perempuan maupun laki-laki.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Rokade & Mane (2009)
dari College of Medical Sciences & Research Centre, Bhopal,
India, dengan mengambil sebanyak 742 anak perempuan usia
9-16 tahun sebagai sampel, lalu membagi mereka berdasarkan
status sosial ekonomi keluarga nya yaitu tinggi, menengah dan
rendah berdasarkan pekerjaan dan pendidikan orangtua serta
pendapatan per kapita keluarga, didapatkan hasil mayoritas
subjek penelitian yang mengalami menarche lebih cepat yaitu
pada usia antara 10 & 12 tahun berasal dari anak dari kelas
sosial

ekonomi

menengah

dan

tinggi

(88,05%)

bila

dibandingkan anak perempuan dari kelas sosial ekonomi


rendah yang hanya 11,95%. Perbedaan tersebut secara statistik
signifikan (p<0,001).
Faktor sosial ekonomi yang berhubungan dengan status
menarche dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Faktor pendidikan orangtua
2. Faktor pekerjaan orangtua
3. Faktor pendapatan keluarga
4. Faktor jenis keluarga dan jumlah anggota keluarga
Status sosial ekonomi yang berhubungan dengan usia
menarche dapat diuraikan sebagai berikut :

a.

Pendidikan Orang Tua


Rana

et

penelitiannya

al

(1986),

bahwa

menyebutkan

terdapat

hubungan

dalam
antara

pendidikan orangtua terhadap usia menarche. Pendidikan


akhir yang dicapai orangtua secara tidak langsung akan
mempengaruhi

pekerjaan

orangtua

dimana

akan

berhubungan dengan pendapatan keluarga yang berimbas


dengan kecukupan dalam hal pemenuhan kebutuhan gizi
dan perhatian terhadap kesehatan setiap anggota keluarga
akan terpenuhi. Tingkat pendidikan orangtua juga akan
berhubungan dengan pendidikan seksual anak-anaknya.
Oleh karena itu, hal tersebut akan berhubungan dengan
usia menarche anak perempuan. (Anni Kartika Putri,
2009).
Penelitian di Jakarta Timur, menemukan bahwa ibu
yang memiliki pendidikan tinggi ternyata usia menarche
anaknya lebih dini daripada responden yang mempunyai
ibu dengan pendidikan rendah (Ginarhayu, 2002).
b.

Pekerjaan Orang Tua


Orangtua yang mempunyai pekerjaan baik akan

berhubungan pula dengan pendapatan atau penghasilan


yang baik untuk keluarga. Penghasilan baik dari keluarga
akan memperbaiki kebutuhan gizi keluarga sehingga
asupan gizi keluarga terpenuhi. Di samping itu,
penghasilan yang baik dari keluarga akan berpengaruh
pada gaya hidup keluarga dan jenis makanan yang akan
mempengaruhi

status

gizi,

dalam

hal

ini

anak

perempuan. Status gizi anak perempuan yang baik


tersebut akan mempengaruhi usia menarche nya. Rana et
al

(1986)

penelitiannya

juga

menyebutkan

adanya

hubungan

bahwa
antara

di

dalam

pekerjaan

orangtua dengan usia menarche (Anni Kartika Putri,


2009)
Laska-Mierzejewska (1995) menemukan bahwa
umur menarche yang paling cepat diamati pada wanita
Polandia yang ayahnya berasal dari kelompok bukan
petani, sedangkan umur menarche yang paling lambat
berasal dari kelompok petani (Damayanti, 2001).
c.

Pendapatan Keluarga
Usia menarche dapat dikatakan berhubungan

dengan faktor pendapatan keluarga. Pendapatan di dalam


suatu

keluarga

seringkali

dihubungkan

dengan

bagaimana kemampuan keluarga dalam hal pemenuhan


kebutuhan gizi dimana hal pemenuhan kebutuhan gizi
tersebut akan berkaitan pula dengan pematangan seksual
pada remaja.
Oleh

karena

itu,

biasanya

keluarga

yang

mempunyai pendapatan lebih dari cukup akan secara


otomatis mempengaruhi keadaan status gizinya apalagi
untuk anak perempuan yang akan berkorelasi terhadap
cepatnya menarche. (Anni Kartika Putri, 2009)
Penelitian di Jakarta Timur dan Yogyakarta
menunjukkan bahwa anak perempuan yang mendapat
menarche lebih awal, lebih banyak yang berasal dari
keluarga dengan penghasilan lebih besar, sedangkan
anak perempuan yang mendapat menarche lebih lambat,
berasal dari keluarga dengan penghasilan lebih kecil
(Ginarhayu, 2002, Aswin, 1982).
d.

Jenis keluarga dan jumlah anggota keluarga


Jumlah anggota keluarga yang ditanggung oleh

kepala rumah tangga akan mempengaruhi tingkat


kecukupan gizi dan kesehatan anggota keluarga,

sehingga akan berhubungan dengan umur menarche.


Penelitian Dann & Roberts (1993) pada mahasiswa di
Universitas Warwick menunjukkan bahwa penundaan
umur menarche terjadi pada mahasiswa yang berasal dari
keluarga besar. Sementara itu, penelitian yang dilakukan
Roberts, et al (1986) menemukan bahwa umur menarche
tidak

berhubungan

dengan

kelas

sosial,

tetapi

berhubungan dengan jumlah anggota keluarga dan posisi


anak perempuan dalam keluarga. Anak perempuan yang
lahir lebih akhir, mengalami menarche lebih awal. Sama
seperti yang dikemukakan Eveleth (1986) bahwa jumlah
anggota keluarga (family size) berhubungan dengan umur
menarche (Damayanti, 2001).

5. Tempat tinggal
Perbedaan tempat tinggal akan berhubungan dengan
perbedaan tingkat sosial ekonomi, jenis ras, iklim, dan
rangsangan psikis terhadap seorang anak perempuan. Hal tersebut
disebabkan perbedaan tempat tinggal yang antara lain akan
menentukan :
a. Besar/luasnya

kota

(kota

metropolitan/desa

pegunungan)
b. Lokasi kota (dekat pantai/pelabuhan atau pedalaman)
c. Keterbukaan terhadap kebudayaan luar negeri (Free
sex, NAPZA)
d. Kebudayaan/adat istiadat dan kebiasaan masyarakat
setempat (Ginarhayu, 2002, Syamsuar, 1984)

Barnes-Josiah, et al (1995) dalam Damayanti (2001)


mengemukakan studi longitudinal pada wanita Haiti yang
menunjukkan bahwa umur rata-rata menarche lebih tinggi pada

kelompok pedesaan daripada kelompok Port Au Prince yang


merupakan daerah perkotaan. Demikian pula dengan penelitian di
Republik Dominika yang menemukan bahwa umur rata-rata
menarche pada kelompok perkotaan sebesar 12,5 tahun lebih
rendah daripada kelompok pedesaan yaitu 13,1 tahun (Mancebo,
et al, 1990).

6. Aktivitas Olahraga
Bagga (2000) membuktikan bahwa olahraga/latihan fisik
yang rutin dan dilakukan dengan durasi waktu yang lama akan
menunda usia menarche pada seorang remaja putri (66,15%)
dibandingkan dengan remaja putri yang melakukan olahraga
latihan fisik yang jarang (33,84%). Penundaan menarche yang
berhubungan dengan aktifitas fisik ini telah diteliti bahwa
terdapatnya penundaan sekresi dari hormon-hormon spesifik yang
ada dalam tubuh terhadap kematangan seksualitas pada remaja
putri.

7. Rangsangan Psikis
Tingkat sosial ekonomi dan lingkungan pendidikan
berperan

penting

dalam

proses

perkembangan,

termasuk

pematangan seksual. Meningkatnya tingkat pendidikan orangtua


akan meningkatkan banyak aspek sosial yang dapat berhubungan
dengan pematangan seksual anak-anak gadis, antara lain
pengetahuan seksual, pergaulan yang cenderung lebih bebas,
kemudahan sarana komunikasi (radio, televisi dan film) sehingga
secara psikologis akan dapat mempercepat pematangan seksual
(Damayanti, 2001).
Kartono (1992) menyatakan bahwa salah satu terjadinya
menarche disebabkan oleh rangsangan-rangsangan kuat dari luar.
Rangsangan-rangsangan itu berupa film-film seks (blue film),

buku-buku atau majalah yang bergambar tidak senonoh (porno),


godaan dan rangsangan dari kaum pria, pengamatan secara
langsung terhadap perbuatan seksual, masuk ke pusat pancaindera
diteruskan melalui striae terminalis menuju pusat yang disebut
pubertas inhibitor. Rangsangan yang terus menerus, kemudian
menuju hipotalamus dan selanjutnya menuju hipofise pars
anterior, melalui sistem portal. Hipofise anterior mengeluarkan
hormon

yang

merangsang

kelenjar

indung

telur

untuk

mengeluarkan hormon spesifik, yaitu hormon estrogen dan


progesteron. Hormon yang dikeluarkan kelenjar indung telur
tersebut memberikan umpan balik ke pusat pancaindera dan otak
serta kelenjar induk hipotalamus dan hipofise, sehingga
mengeluarkan hormon berfluktuasi. Dengan dikeluarkannya
hormon

tersebut

reproduksi,

mempengaruhi

sehingga

semua

hal

kematangan
tersebut

organ-organ

mengakibatkan

kematangan seksual yang lebih cepat pada diri anak.


Remaja saat ini sudah sangat terpengaruh dengan media.
Media-media yang ada saat ini seringkali sudah berisi mengenai
hal-hal berbau seks. Brown et al (2005) membuktikan bahwa
keterpaparan media massa dapat mempercepat datangnya usia
pubertas yang akan berkaitan pula dengan usia menarche remaja
putri. Dari 471 responden yang berusia rata-rata 13,7 tahun,
didapatkan bahwa dua per tiga responden tersebut sangat
menyukai konten media massa yang berisi mengenai seks.
Penelitian

pada

pelajar

putri

di

Afrika

selatan

menemukan bahwa 18,7% pelajar putri yang diteliti telah mulai


melakukan hubungan seksual sebelum menarche. Sementara
umur rata-rata menarche adalah 13,91 tahun, umur rata-rata
kencan pertama 14,47 tahun dan umur rata-rata melakukan
hubungan seksual pertama adalah 14,86 tahun (Buga et al, 1996).

Dengan

mempertimbangkan

penemuan-penemuan

tersebut, tidak menutup kemungkinan bahwa pengetahuan dan


perilaku seksual yang tidak sehat pada remaja telah dimulai pada
usia yang sangat muda. Bahkan pengetahuan dan perilaku seksual
tersebut menjadi faktor yang mempercepat pematangan seksual
pada remaja, termasuk dalam hal mempercepat umur menarche
(Damayanti, 2001).

8. Stres
Riset longitudinal telah banyak yang mendukung
hipotesis bahwa stresor emosional berhubungan dengan waktu
pubertas yang lebih awal pada anak perempuan (Semiz, et al.,
2009). Pengaruh psikologis seperti kejadian pada masa kanakkanak yang penuh dengan tekanan/ stres kehidupan dan juga efek
kontekstual seperti lingkungan keluarga juga diketahui memiliki
pengaruh terhadap onset pubertas (Arim, et al., 2007).
Menurut Belsky et al (1991) dalam Gaudineau. et al
(2010), perkembangan atau pertumbuhan yang lebih cepat terjadi
akibat adanya pemicu dari lingkungan dan sebenarnya hal
tersebut merupakan suatu respon adaptif terhadap lingkungan
yang penuh tekanan/stres seperti adanya konflik keluarga,
absennya figur ayah kandung, pengasuhan orangtua yang buruk,
atau status sosial ekonomi yang rendah.
Hulanicka et al (2001) melaporkan bahwa anak
perempuan yang terekspos terhadap distres keluarga (Familial
distress) termasuk diantaranya kematian salah satu atau kedua
orangtua, perpisahan/perceraian orangtua, keluarga dengan
orangtua tunggal, penyakit berat yang diderita salah satu anggota
keluarga, adanya penyimpangan sosial seperti alkoholisme atau
catatan kriminal dari salah satu atau kedua orangtua akan

cenderung mengalami pubertas lebih awal yang juga berhubungan


dengan pendeknya tinggi badan akhir (Gaudineau, et al., 2009).
Gaudineau et al (2009) dalam penelitiannya mengungkap
bahwa dari hasil penelitiannya terhadap 1562 anak perempuan
dari usia 6-16,5 tahun di Turki, ternyata pubertas terjadi lebih
awal pada anak perempuan yang tinggal di keluarga yang penuh
konflik, adanya kekerasan fisik ayah kepada ibu atau dari ibu
kepada anak mereka.
Berbagai macam stres lainnya seperti penyakit akut atau
kronik dan kondisi psikologis yang buruk telah diketahui dapat
menekan

sistem

hipotalamus-hipofisis-gonad.

Terdapat

ketertarikan yang terus berkembang mengenai peran potensial


dari faktor psikologis dalam pertumbuhan dan maturasi. Dari
fakta-fakta yang didapat, pengaruh stres pada keluarga selama
berlangsungnya pertumbuhan dan maturasi telah lama dipelajari
secara mendalam. Beberapa laporan dari penelitian tersebut
mengindikasikan adanya percepatan maturasi seksual yang
berhubungan dengan lingkungan keluarga yang penuh stres
(Semiz, et al., 2009).

II.1.4.4 Ciri-ciri Seksual Lain


Estrogen ovarium juga menghasilkan perubahan pada anak
perempuan yang mengalami pubertas sebagai berikut (Heffner & Schust,
2005) :

Rambut pubis

Keratinisasi (kornifikasi) mukosa vagina

Pembesaran labia minor dan mayor

Pembesaran uterus

Peningkatan timbunan lemak di pinggul dan paha

II.1.4.5 Pertumbuhan Somatik


Percepatan pertumbuhan pubertas pada anak perempuan biasanya
dimulai 2 tahun sebelum anak laki-laki yang menyebabkan terdapat
sekitar 50% perbedaan tinggi rerata antara pria dan wanita sebanyak 12
cm. Lima puluh persen sisanya disebabkan oleh kecepatan pertumbuhan
yang lebih lambat selama percepatan pada anak perempuan dibandingkan
anak laki-laki. Mekanisme yang menyebabkan steroid seks menginduksi
pertumbuhan tulang pada anak perempuan sama seperti mekanisme yang
terjadi pada anak laki-laki. Pertumbuhan struktural anak perempuan
berhenti pada usia rerata 17 tahun (Heffner & Schust, 2005).

II.2 Kerangka Teori


Berdasarkan literatur dalam tinjauan pustaka, maka dapat disusun
kerangka teori faktor-faktor yang berhubungan dengan status menarche :

Bagan 1.
Kerangka Teori
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status dan Usia Menarche

1. Faktor Internal
Usia Menarche Ibu
Genetik
Ras/etnik/suku

2. Faktor Eksternal
Status Gizi
BB
TB
IMT

Sosial-ekonomi
Pendidikan
Orangtua
Pekerjaan
Orangtua

Mekanisme
Neuroendokrinologis
hipotalamus

Pendapatan
Keluarga

Jumlah
Keluarga
Demografi
Tempat
Tinggal

Aktifitas
Fisik/olahraga

Tingkat Stres

Rangsangan Psikis
Keterpaparan
informasi seksual
sebelumnya
Perilaku seksual
sebelumnya
Adat/kebiasaan
masyarakat

: Variabel yang diteliti

Hipofisis
Hormon
(FSH, LH)
Ovarium
Hormon
(Estrogen,
progesteron)

Status & Usia


Menarche

II.3 Kerangka Konsep


Dari kerangka teori yang sudah dibuat, maka disusunlah kerangka konsep
penelitian. Namun karena keterbatasan peneliti, maka tidak semua faktor akan
diteliti. Kerangka konsep di bawah ini mengasumsikan bahwa status menarche
dipengaruhi oleh pendapatan keluarga, usia menarche ibu dan tingkat stres siswi.

Bagan 2.
Kerangka Konsep

Variabel Independen

Variabel Dependen

Pendapatan Keluarga

Usia Menarche Ibu

Tingkat Stres Siswi

Status Menarche

II.4 Hipotesis
H1 : Ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan status menarche
siswi SLTP Al-Azhar 2 Pejaten dan SLTPN 175 tahun 2011.
H2 : Ada hubungan antara usia menarche ibu dengan usia menarche siswi
SLTP Al-Azhar 2 Pejaten dan SLTPN 175 tahun 2011.
H3 : Ada hubungan antara tingkat stres siswi dengan status menarche siswi
SLTP Al-Azhar 2 Pejaten dan SLTPN 175 tahun 2011.