Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Disentri merupakan tipe diare yang berbahaya dan sering kali menyebabkan kematian
dibandingkan dengan tipe diare akut yang lain. Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri
(disentri basiler) dan amoeba (disentri amoeba).
Di Amerika serikat, insiden diseentri amoeba mencapai 1-5 % sedangkan disentri basiler
dilaporkan kurang dari 500.000kasus tiap tahunnya. Sedangkan kejadian disentri amoeba di
Indonesia sampai saat ini masih belum ada, akan tetapi untuk disentri basiler dilaporkan 5%
dari 3848 orang penderita diare berat menderita disentri basiler.
Di dunia sekurangnya 200 juta kasusdan 650.000 kematian terjadi akibat disentri basiler
pada anak-anak dibawah usia 5 tahun. Kebanyakan kuman penyebab disentri basiler
ditemukan di Negara berkembang dengan kesehatan lingkungan yang masih kurang. Disentri
amoeba hampir menyebar di seluruh dunia terutama di Negara yang berkembang yang berada
didaerah tropis. Hal ini dikarenakan faktor kepadatan penduduk, hygiene individu, sanitasi
lingkungan dan keadaan sosial ekonomi serta cultural yang menunjang. Penyakit ini biasa
menyerang anak dengan usia lebih dari 5 tahun. Spesies Entamoeba menyerang 10% populasi
di dunia. Prevalensi yang tinggi mencapai 50% di Asia, Afrika, dan Amerika selatan.
Sedangkan pada Shigella di Amerika serikat menyerang 150.000 kasus dan di Negara-negara
yang berkembang Shigella flexeneri dan S. dysentriae menyebabkan 600.000 kematian per
tahun.
WHO menyebutkan bahwa sekitar 15 persen dari seluruh kejadian diare pada anak di
bawah usia 5 tahun adalah disentri. Adapun hasil survei evaluasi di Indonesia pada tahun
1989-1990 juga menunjukkan angka kejadian yang sama. Disentri menjadi penyebab panting
pada kesehatan dan kematian yang dikaitkan dengan diare.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja yang lunak atau cair tiga kali atau lebih
dalam satu hari, atau lebih praktis mendefinisikan diare sebagai meningkatnya frekuensi tinja
atau konsistensinya menjadi lebih lunak sehingga dianggap abnormal oleh ibunya 4.
Diare secara umum dihubungkan dengan peningkatan volume dan perubahan kosistensi
tinja. Pada anak kurang dari dua tahun, diare didefinisikan sebagai pengekuaran tinja lebih
dari 10ml/kgBB/hr. Sedangkan pada anak lebih dari 2 tahun, diare didefinisikan pengeluaran
tinja lebih dari 200 gram/hari atau dapat dikatakan adanya berak cair empat kali atau lebih
dalam satu hari 5.
Disentri didefinisikan sebagai diare yang disertai darah dalam tinja. Penyebab yang
terpenting dan tersering adalah Shigella, khususnya S. Flexneri dan S. Dysenteriae tipe 1.
Entamoeba histolytica menyebabkan disentri pada anak yang lebih besar, tetapi jarang pada
balita 4. Disentri amoeba adalah penyakit infeksi usus besar yang disebabkan oleh parasit
usus Entamoeba histolytica 3.

2.2 PENYEBAB DISENTRI


Penyebab Disentri yang paling umum adalah tidak mencuci tangan setelah menggunakan
toilet umum atau tidak mencuci tangan sebelum makan. Cukup simple memang untuk
penyebab disentri sebagai kasus klasik, tapi itulah kenyataannya. Secara garis besar penyebab
penyakit disentri sangat erat kaitannya dengan kebersihan lingkungan dan kebiasaan hidup
bersih.
Bakteri penyebab penyakit disentri antara lain kontak dengan bakteri Shigella dan
beberapa jenis Escherichia coli (E. coli). Penyebab lain bakteri yang kurang umum
dari diare berdarah

termasuk

infeksi

Salmonella

dan

Campylobacter. Untuk

penyakit disentri amoeba, disebabkan oleh parasit Entamoeba histolytica

jenis

Mikroorganisme penyebab disentri baik itu berupa bakteri maupun parasit menyebar dari
orang ke orang. Hal yang sering terjadi penderita menularkan anggota keluarga untuk
menyebarkannya ke seluruh anggota keluarga yang lainnya. Infeksi oleh mikroorganisme
penyebab disentri ini dapat bertahan dan menyebar untuk sekitar empat minggu.
Disentri juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi. Negara miskin yang
memiliki sistem sanitasi yang tidak memadai menunjukkan angka yang tinggi untuk kejadian
kasus penyakit disentri. Frekuensi setiap patogen penyebab penyakit disentri bervariasi di
berbagai wilayah dunia. Sebagai contoh, Shigellosis yang paling umum di Amerika Latin
sementara Campylobacter adalah bakteri yang dominan di Asia Tenggara. Disentri jarang
disebabkan oleh iritasi kimia atau oleh cacing usus.
Mikroorganisme Penyebab Disentri
Disentri Amoeba (amoebiasis) disebabkan oleh parasit protozoa yang dikenal dengan
nama Entamoeba histolytica. Amuba bisa eksis untuk jangka waktu yang lama di usus besar
(kolon). Pada sebagian besar kasus, amoebiasis tidak menimbulkan gejala (hanya sekitar 10%
dari individu yang terinfeksi). Hal ini jarang kecuali di zona tropis dunia, di mana penyakit
ini sangat lazim. Orang dapat terinfeksi setelah menelan kotoran yang mengandung parasit
kemudian di ekskresikan seseorang.
Orang-orang berisiko tinggi tertular parasit melalui makanan dan air jika terkontaminasi
atau tercemar oleh limbah. Parasit juga dapat masuk melalui mulut ketika tangan di cuci
dalam air yang terkontaminasi. Jika orang mengabaikan untuk mencuci dengan benar
sebelum menyiapkan makanan, makanan dapat terkontaminasi. Buah-buahan dan sayuran
bisa terkontaminasi jika dicuci dalam air tercemar atau ditanam di tanah yang telah dipupuk
oleh limbah manusia.
Untuk mikroorganisme penyebab disentri bakteri Shigella dan Campylobacter,
merupakan penyebab penyakit disentri bacilliary yang dapat ditemukan di seluruh dunia.
Mereka menembus lapisan usus, menyebabkan pembengkakan, ulserasi, dan diare parah yang
mengandung darah dan nanah. Kedua infeksi disebarkan oleh konsumsi makanan yang
terkontaminasi tinja dan air. Jika orang tinggal atau melakukan perjalanan di wilayah di mana
kemiskinan atau kepadatan dapat mengganggu kebersihan dan sanitasi, mereka beresiko
terkena bakteri invasif. Anak-anak (usia 1 sampai 4) hidup dalam kemiskinan yang paling
mungkin untuk kontak Shigellosis, campylobakteriosis, atau salmonellosis.
2.3 EPIDEMIOLOGI
Di Amerika Serikat, insidensi penyakit ini rendah. Setiap tahunnya kurang dari 500.000
kasus yang dilaporkan ke Centers for Disease Control (CDC). Di Bagian Penyakit

Dalam RSUP Palembang selama 3 tahun (1990-1992) tercatat dic a t a t a n m e d i s , d a r i


7 4 8 k a s u s ya n g d i r a w a t k a r e n a d i a r e a d a 1 6 k a s u s y a n g disebabkan oleh
disentri basiler. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan di beberapa rumah sakit
di Indonesia dari Juni 1998 sampai dengan Nopember 1999, dari 3848 orang penderita diare
berat, ditemukan 5% shigella. Prevalensi amebiasis sangat bervariasi, diperkirakan
10 persen populasiterinfeksi. Prevalensi tertinggi di daerah tropis (50-80%).
Manusia merupakan host dan reservoir utama. Penularannya lewat kontaminasi tinja ke
makanandanm i n u m a n , d e n g a n p e r a n t a r a l a l a t , k e c o a k , k o n t a k i n t e r p e r s o n a
l , a t a u l e w a t hubungan seksual anal-oral. Sanitasi lingkungan yang jelek, penduduk yang
padat dan kurangnya sanitasi individual mempermudah penularannya.

2.4 ETIOLOGI
Etiologi dari disentri ada 2, yaitu :
1. Disentri basiler, disebabkan oleh Shigella,s p.
Shigella adalah basil non motil, gram negatif, famili enterobacteriaceae. Ada 4
spesies Shigella, yaitu S.dysentriae, S.flexneri, S.bondii dan S.sonnei. Terdapat 43 serotipe O
dariShigella. S.sonnei adalah satu-satunya yang mempunyai serotipe tunggal. Karena
kekebalan tubuh yang didapat bersifat serotipe spesifik, maka seseorang dapat terinfeksi
beberapa kali oleh tipe yang berbeda. Genus ini memiliki kemampuan menginvasi sel epitel
intestinal dan menyebabkan infeksi dalam jumlah 102-103 organisme. Penyakit ini kadangkadang bersifat ringan dan kadang-kadang berat. Suatu keadaan lingkungan yang jelek akan
menyebabkan mudahnya penularan penyakit. Secara klinis mempunyai tanda-tanda berupa
diare, adanya lendir dan darah dalam tinja, perut terasa sakit dan tenesmus. Shigella
sp merupakan penyebab terbanyak dari diare invasif (disentri) dibandingkan dengan
penyebab lainnya. Hal ini tergambar dari penelitian yang dilakukan oleh Taylor dkk. di
Thailand pada tahun 1984.
2. Disentri amoeba, disebabkan Entamoeba hystolitica.
E.histolytica merupakan protozoa usus, sering hidup sebagai mikroorganisme
komensal apatogen) di usus besar manusia. Apabila kondisi mengijinkan dapat berubah
menjadi patogen dengan cara membentuk koloni di dinding usus dan menembus dinding usus
sehingga menimbulkan ulserasi. Siklus hidup amoeba ada 2 bentuk, yaitu bentuk trofozoit
yang dapat bergerak dan bentuk kista.
Bentuk trofozoit ada 2 macam, yaitu trofozoit komensal (berukuran < 10 mm) dan
trofozoit patogen (berukuran > 10 mm). Trofozoit komensal dapat dijumpai di lumen usus

tanpa menyebabkan gejala penyakit. Bila pasien mengalami diare, maka trofozoit akan keluar
bersama tinja. Sementara trofozoit patogen yang dapat dijumpai di lumen dan dinding usus
(intraintestinal) maupun luar usus (ekstraintestinal) dapat mengakibatkan gejala disentri.
Diameternya lebih besar dari trofozoit komensal dapat sampai 50 mm) dan mengandung
beberapa eritrosit di dalamnya. Hal ini dikarenakan trofozoit patogen sering menelan eritrosit
(haematophagous trophozoite). Bentuk trofozoit ini bertanggung jawab terhadap terjadinya
gejala penyakit namun cepat mati apabila berada di luar tubuh manusia. mempunyai tandatanda berupa diare, adanya lendir dan darah dalam tinja, perut terasa sakit dan tenesmus.
Bentuk kista juga ada 2 macam, yaitu kista muda dan kista dewasa. Bentuk kista hanya
dijumpai di lumen usus. Bentuk kista bertanggung jawab terhadap terjadinya penularan
penyakit dan dapat hidup lama di luar tubuh manusia serta tahan terhadap asam lambung dan
kadar klor standard di dalam sistem air minum. Diduga kekeringan akibat penyerapan air di
sepanjang usus besar menyebabkan trofozoit berubah menjadi kista.
2.5 PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI
a.

Disentri basiler Semua strain kuman Shigella menyebabkan disentri, yaitu suatu keadaan

yang ditandai dengan diare, dengan konsistensi tinja biasanya lunak, diserta ieksudat
inflamasi yang mengandung leukosit polymorfonuclear (PMN) dan darah. Kuman Shigella
secara genetik bertahan terhadap pH yang rendah, maka dapat melewati barrier asam
lambung. Ditularkan secara oral melalui air,makanan, dan lalat yang tercemar oleh ekskreta
pasien. Setelah melewati lambung dan usus halus, kuman ini menginvasi sel epitel mukosa
kolon dan berkembang biak didalamnya. Kolon merupakan tempat utama yang diserang
Shigella namun ileumterminalis dapat juga terserang. Kelainan yang terberat biasanya di
daerahsigmoid, sedang pada ilium hanya hiperemik saja. Pada keadaan akut dan
fatalditemukan mukosa usus hiperemik, lebam dan tebal, nekrosis superfisial, tapi biasanya
tanpa ulkus. Pada keadaan subakut terbentuk ulkus pada daerah folikel limfoid, dan pada
selaput lendir lipatan transversum didapatkan ulkus yang dangkal dan kecil, tepi ulkus
menebal dan infiltrat tetapi tidak berbentuk ulkus bergaung S.dysentriae, S.flexeneri, dan
S.sonei menghasilkan eksotoksin antara lain ShET1, ShET2, dan toksin Shiga, yang
mempunyai sifat enterotoksik, sitotoksik,dan neurotoksik. Enterotoksin tersebut merupakan
salah satu faktor virulen sehingga kuman lebih mampu menginvasi sel eptitel mukosa kolon
dan menyebabkan kelainan pada selaput lendir yang mempunyai warna hijau yang khas. Pada
infeksi yang menahun akan terbentuk selaput yang tebalnya sampai 1,5cm sehingga dinding

usus menjadi kaku, tidak rata dan lumen usus mengecil. Dapat terjadi perlekatan dengan
peritoneum.
b. Disentri Amuba Trofozoit yang mula-mula hidup sebagai komensal di lumen usus besar
dapat berubah menjadi patogen sehingga dapat menembus mukosa usus danmenimbulkan
ulkus. Akan tetapi faktor yang menyebabkan perubahan ini sampaisaat ini belum diketahui
secara pasti. Diduga baik faktor kerentanan tubuh pasien,sifat keganasan (virulensi) amoeba,
maupun lingkungannya mempunyai peran.Amoeba yang ganas dapat memproduksi enzim
fosfoglukomutase danlisozim yang dapat mengakibatkan kerusakan dan nekrosis jaringan
dinding usus.Bentuk ulkus amoeba sangat khas yaitu di lapisan mukosa berbentuk kecil,
tetapidi lapisan submukosa dan muskularis melebar (menggaung). Akibatnya terjadiulkus di
permukaan mukosa usus menonjol dan hanya terjadi reaksi radang yangminimal. Mukosa
usus antara ulkus-ulkus tampak normal. Ulkus dapat terjadi disemua bagian usus besar, tetapi
berdasarkan frekuensi dan urut-urutan tempatnya adalah sekum, kolon asenden, rektum,
sigmoid, apendiks dan ileum terminalis.

2.6 GEJALA KLINIS


-

Gejala-gejala disentri antara lain :


Buang air besar dengan tinja berdarah
Diare encer dengan volume sedikit
Buang air besar dengan tinja bercampur lendir (mucus)
Nyeri saat buang air besar (tenesmus)

Ciri-ciri saat jika terkena disentri adalah sebagai berikut :


- Panas tinggi (39,50C 40,0C), appear toxic
- Muntah-muntah
- Sakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB
- Kadang disertai gejala serupa ensefalitis dan sepsis
- Diare disertai darah dan lendir dalam tinja
- Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit
- Sakit berut hebat (kolik)
Gejala Disentri Basiler
Disentri Basiler Masa tunas berkisar antara 7 jam sampai 7 hari. Lama gejala rerata 7 hari
sampai 4 minggu. Pada fase awal pasien mengeluh nyeri perut bawah, diare disertai demam
yang mencapai 400C. Selanjutnya diare berkurang tetapi tinja masih mengandung darah dan
lendir, tenesmus, dan nafsu makan menurun.

Bentuk klinis dapat bermacam-macam dari yang ringan, sedang sampai yang berat.Sakit
perut terutama di bagian sebelah kiri, terasa melilit diikuti pengeluaran tinja sehingga
mengakibatkan perut menjadi cekung. Bentuk yang berat (fulminating cases) biasanya
disebabkan olehS.dysentriae.
Gejalanya timbul mendadak dan berat, berjangkitnya cepat, berak-berak seperti air
denganlendir

dan

darah,

muntah-muntah,

suhu

badan

subnormal,

cepat

terjadi

dehidrasi,renjatan septik dan dapat meninggal bila tidak cepat ditolong. Akibatnya timbulrasa
haus, kulit kering dan dingin, turgor kulit berkurang karena dehidrasi. Mukamenjadi
berwarna kebiruan, ekstremitas dingin dan viskositas darah meningkat (hemokonsentrasi).
Kadang-kadang gejalanya tidak khas,dapat berupa seperti gejala kolera atau keracunan
makanan. Kematian biasanya terjadi karena gangguan sirkulasi perifer, anuria dan koma
uremik. Angka kematian bergantung pada keadaan dan tindakan pengobatan.
Angka ini bertambah pada keadaan malnutrisi dan keadaan darurat misalnya kelaparan.
Perkembangan penyakit ini selanjutnya dapat membaik secara perlahan-lahan tetapi
memerlukan waktu penyembuhan yang lama. Pada kasus yang sedang keluhan dan gejalanya
bervariasi, tinja biasanya lebih berbentuk, mungkin dapat mengandung sedikit darah/lendir.
Sedangkan pada kasus yang ringan, keluhan/gejala tersebut di atas lebih ringan. Berbeda
dengan kasus yang menahun, terdapat serangan seperti kasus akut secaramenahun. Kejadian
ini jarang sekali bila mendapat pengobatan yang baik.
Setelah masa inkubasi yang pendek (1-3 hari) secara mendadak timbul nyeri perut, demam,
dan tinja encer. Tinja yang encer tersebut berhubungan dengan kerja eksotoksin dalam usus
halus. Sehari atau beberapa hari kemudian, karena infeksi meliputi ileum dan kolon, maka
jumlah tinja meningkat, tinja kurang encer tapi sering mengandung lendir dan darah. Tiap
gerakan usus disertai dengan mengedan dan tenesmus (spasmus rektum), yang
menyebabkan nyeri perut bagian bawah. Demam dan diare sembuh secara spontan dalam 2-5
hari pada lebih dari setengah kasus dewasa. Namun, pada anak-anak dan orang tua,
kehilangan air dan elektrolit dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis, dan bahkan kematian.
Kebanyakan orang pada penyembuhan mengeluarkan kuman disentri untuk waktu yang
singkat, tetapi beberapa diantaranya tetap menjadi pembawa kuman usus menahun dan dapat
mengalami serangan penyakit berulang-ulang.Pada penyembuhan infeksi, kebanyakan orang
membentuk antibodi terhadap Shigella dalam darahnya, tetapi antibodi ini tidak melindungi
terhadap reinfeksi
Gejala Disentri Amuba meliputi:

diare berair, yang dapat berisi darah, lendir atau nanah,

mual dan muntah,

nyeri perut, dan

demam dan menggigil.


Gejala-gejala disentri amuba biasanya berlangsung dari beberapa hari sampai beberapa

minggu. Namun, tanpa pengobatan, bahkan jika gejala hilang, amuba dapat terus hidup di
usus selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Infeksi masih dapat ditularkan
kepada orang lain dan diare masih bisa kembali. Bahayanya penyakit desentri amuba dapat
bersifat fatal bila terjadi komplikasi antara lain usus berlubang (perforasi usus), infeksi
selaput rongga perut (peritonitis), abses di hati dan otak. Dan bila infeksi amuba ini tidak
diobati secara tuntas, dapat mengakibatkan kematian.

a) Carrier (Cyst Passer)


Pasien ini tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali. Hal ini disebabkan karena amoeba
yang berada dalam lumen usus besar tidak mengadakan invasi kedinding usus.
b) Disentri amoeba ringan
Timbulnya penyakit (onset penyakit) perlahan-lahan. Penderita biasanyamengeluh perut
kembung, kadang nyeri perut ringan yang bersifat kejang. Dapattimbul diare ringan, 4-5 kali
sehari, dengan tinja berbau busuk. Kadang juga tinja bercampur darah dan lendir. Terdapat
sedikit nyeri tekan di daerah sigmoid, jarang nyeri di daerah epigastrium. Keadaan tersebut
bergantung pada lokasiulkusnya. Keadaan umum pasien biasanya baik, tanpa atau sedikit
demam ringan(subfebris). Kadang dijumpai hepatomegali yang tidak atau sedikit nyeri tekan.
c) Disentri amoeba sedang
Keluhan pasien dan gejala klinis lebih berta dibanding disentri ringan,tetapi pasien masih
mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Tinja biasanyadisertai lendir dan darah. Pasien
mengeluh perut kram, demam dan lemah badan disertai hepatomegali yang nyeri ringan.
d) Disentri amoeba berat
Keluhan dan gejala klinis lebih berta lagi. Penderita mengalami diaredisertai darah yang
banyak, lebih dari 15 kali sehari. Demam tinggi (400C 40,5 0C) disertai mual dan anemia.
e) Disentri amoeba kronik
Gejalanya menyerupai disentri amoeba ringan, serangan-serangan diarediselingi dengan
periode normal atau tanpa gejala. Keadaan ini dapat berjalan berbulan-bulan hingga bertahuntahun. Pasien biasanya menunjukkan gejala neurastenia. Serangan diare yang terjadi biasanya
dikarenakan kelelahan, demam atau makanan yang sulit dicerna.

2.7 PENCEGAHAN PENYAKIT DISENTRI


Disentri amoeba Makanan, minuman dan keadaan lingkungan hidup yang memenuhi
syarat kesehatan merupakan sarana pencegahan penyakit yang sangat penting. Air minum
sebaiknya dimasak dahulu karena kista akan binasa bila air dipanaskan 500C selama 5 menit.
Penting sekali adanya jamban keluarga, isolasi dan pengobatan carrier. Carrier dilarang
bekerja sebagai juru masak atau segala pekerjaan yang berhubungan dengan makanan.
Sampai saat ini belum ada vaksin khusus untuk pencegahan. Pemberian kemoprofilaksis bagi
wisatawan yang akan mengunjungi daerah endemis tidak dianjurkan.
Disentri basiler Belum ada rekomendasi pemakaian vaksin untuk Shigella. Penularan
disentri basiler dapat dicegah dan dikurangi dengan kondisi lingkungan dan diri yang bersih
seperti membersihkan tangan dengan sabun, suplai air yang tidak terkontaminasi, penggunaan
jamban yang bersih
Dari program-program yang telah dibuat oleh pemerintah, terdapat cara-cara untuk
mencegah terjadinya disentri. Salah satunya dengan melakukan program PHBS (Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat) dari yang paling penting,yaitu mencuci tangan. Mencuci tangan
sering dianggap sebagai hal biasa di masyarakat. Ada yang tidak mencuci tangan sebelum
makan,ada yang mencuci tangan hanya sekedar dengan air. Padahal mencuci tangan
merupakan pencegahan terjadinya penyakit yang paling penting. Cara mencuci tangan yang
paling benar yaitu dengan cara memakai air bersih dan sabun atau antiseptik. Sabun dan
antiseptik berguna untuk membersihkan kuman atau bakteri yang ada di tangan. Mencuci
tangan hingga steril menggunakan tujuh langkah yang diterapkan dan dianjurkan oleh rumah
sakit adalah cara mencuci tangan yang paling benar. Mencuci tangan dilakukan setelah buang
air besar, sebelum memasak atau menjamah makanan, sebelum dan sesudah makan.
Langkah selanjutnya yaitu menutup rapat-rapat tempat menyimpan makanan. Ini
bertujuan agar makanan tidak berisi bakteri dan makanan menjadi makanan yang bersih dan
sehat untuk dikonsumsi. Dalam kehidupan sehari-hari, ada masyarakat yang kurang menjaga
kebersihan. Sehingga tidak jarang di dalam rumah atau ruangan mereka banyak terdapat
serangga atau binatang lain yang dapat menimbulkan penyakit seperti lalat, kecoak, tikus,
nyamuk, dan lainnya. Kebersihan alat-alat rumah tangga yang digunakan untuk membuat
makanan juga harus diperhatikan. Kita juga harus melindungi sumber air agar tetap bersih
dan terhindar dari kontaminasi tinja. Kamar mandi harus bersih dan diusahakan agar tidak
lembab dan ada sinar matahari yang masuk, karena bakteri dapat hidup di daerah yang
lembab. Tinja dibuang secara saniter dan teratur. Dalam menjalankan langkah-langkah

pencegahan, sebaiknya masyarakat saling bergotong-royong, sehingga setiap orang akan tahu
bahaya dari penyakit ini. Dari pengetahuan tersebut akan tercipta masyarakat yang harmonis,
memiliki perilaku sehat, dan pola hidup sehat teratur.
Dalam bidang pelayanan kesehatan, sudah banyak diterapkan program-program untuk
mencegah disentri. Masyarakat juga harus mencari informasi-informasi terkini terkait dengan
upaya meningkatkan kesejahteraan kesehatan. Banyak juga klinik-klinik atau rumah sakit
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang professional dengan memperbanyak program
sosialisasi dan penyuluhan ke masyarakat,sekolah-sekolah,di banjar,dan dimana saja.
Jadi,dapat disimpulkan bahwa penyakit ini merupakan penyakit berbahaya yang dapat
dicegah. Memang sulit untuk mengobati penyakit disentri ini. Namun,dengan adanya
kesadaran dari setiap individu,dan menerapkan pengetahuan yang didapat dari sosialisasi,
edukasi, pengalaman, kontak sosial, atau motivasi dari orang terdekat,niscaya penyakit ini
setidaknya dapat dicegah. Bersama-sama semua orang bergotong-royong menerapkan pola
hidup sehat, berolahraga, dan memakan makanan yang sehat dan teratur. Semua orang
diharapkan dapat menjadi role mode bagi orang-orang yang belum tahu. Semuanya harus
dimulai dari diri sendiri.

Secara khusus sebagai berikut :


Disentri tersebar karena kebersihan yang buruk. Untuk meminimalkan risiko terkena

penyakit ini, jaga selalu kebiasaan hidup bersih dan sehat.


Cuci tangan dengan sabun setelah menggunakan toilet atau sebelum dan sesudah makan,

baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain/anak.


Bila Anda bepergian, jangan minum air setempat kecuali telah direbus selama paling
sedikit 10 menit. Atau gunakan air kemasan atau minuman bersoda dari kaleng atau

botol yang masih dalam kondisi bersegel.


Jangan minum dari air mancur umum atau membersihkan gigi dengan air keran
Jangan makan buah segar atau sayuran yang tidak bisa dikupas sebelum makan.
Jangan makan atau minum produk susu, keju atau susu yang mungkin belum

dipasteurisasi.
Jangan makan atau minum apa pun yang dijual oleh PKL (kecuali minuman dari kaleng
benar disegel atau botol).

2.8 PENGOBATAN
Disentri basiler Prinsip dalam melakukan tindakan pengobatan adalah istirahat, mencegah
atau memperbaiki dehidrasi dan pada kasus yang berat diberikan antibiotika. Cairan dan
elektrolit Dehidrasi ringan sampai sedang dapat dikoreksi dengan cairan rehidrasi oral. Jika
frekuensi buang air besar terlalu sering, dehidrasi akan terjadi dan berat badan penderita

turun. Dalam keadaan ini perlu diberikancairan melalui infus untuk menggantikan cairan
yang hilang. Akan tetapi jika penderita tidak muntah, cairan dapat diberikan melalui
minuman atau pemberian air kaldu atau oralit. Bila penderita berangsur sembuh, susu tanpa
gula mulai dapat diberikan. Diet Diberikan makanan lunak sampai frekuensi berak kurang
dari 5kali/hari, kemudian diberikan makanan ringan biasa bila ada kemajuan.
Pengobatan spesifik Menurut pedoman WHO, bila telah terdiagnosis shigelosis pasien
diobati dengan antibiotika. Jika setelah 2 hari pengobatan menunjukkan perbaikan, terapi
diteruskan selama 5 hari. Bila tidak ada perbaikan, antibiotika diganti dengan jenis yang lain.
Resistensi terhadap sulfonamid, streptomisin, kloramfenikol dantetrasiklin hampir universal
terjadi. Kuman Shigella biasanya resisten terhadap ampisilin, namun apabila ternyata dalam
uji resistensi kuman Terhadap ampisilin masih peka, maka masih dapat digunakan dengan
dosis4 x 500 mg/hari selama 5 hari. Begitu pula dengan trimetoprim-sulfametoksazol, dosis
yang diberikan 2 x 960 mg/hari selama 3-5 hari. Amoksisilin tidak dianjurkan dalam
pengobatan disentri basiler karenatidak efektif. Pemakaian jangka pendek dengan dosis
tunggal fluorokuinolon seperti siprofloksasin atau makrolide azithromisin ternyata berhasil
baik untuk pengobatan disentri basiler. Dosis siprofloksasin yang dipakai adalah 2 x 500
mg/hari selama 3 hari sedangkan azithromisin diberikan 1gram dosis tunggal dan sefiksim
400 mg/hari selama 5 hari. Pemberian Ciprofloksasin merupakan kontraindikasi terhadap
anak-anak dan wanita hamil. Di negara-negara berkembang di mana terdapat kuman
S.dysentriae tipe 1 yang multiresisten terhadap obat-obat, diberikan asam nalidiksik dengan
dosis 3 x 1 gram/hari selama 5 hari. Tidak ada antibiotika yang dianjurkan dalam pengobatan
stadium carrier disentri basiler.
Disentri amuba Asimtomatik atau carrier : Iodoquinol (diidohydroxiquin) 650 mg tiga
kali perhari selama 20 hari.Amebiasis intestinal ringan atau sedang : tetrasiklin 500 mg empat
kali selama 5 hari. Amebiasis intestinal berat, menggunakan 3 obat : Metronidazol 750
mgtiga kali sehari selama 5-10 hari, tetrasiklin 500 mg empat kali selama5 hari, dan emetin 1
mg/kgBB/hari/IM selama 10 hari. Amebiasis ektraintestinal, menggunakan 3 obat :
Metonidazol 750 mg tiga kali sehari selama 5-10 hari, kloroquin fosfat 1 gram per hari
selama 2 hari dilanjutkan 500 mg/hari selama 4 minggu, dan emetin 1mg/kgBB/hari/IM
selama 10 hari.

BAB III
TINJAUAN KASUS

Pengumpulan Data
a.

Identitas Nama : Warni


Umur : 30 th Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl. perjuangan b.

b.

Anamnesa (Data subjektif)


Keluhan utama : Berak- berak encer sejak 2 hari yang lalu
Riwayat penyakit sekarang
-

Berak- berak encer sejak 2 hari yang lalu, frekuensi 3x sehari, berdarah, tidak
berlendir
Perut terasa sakit
Mual muntah tidak ada

Pemeriksaan fisik
Status generalis
Keadaan umum

: sedang

TD

: 130/60

Nadi

: 82x

Nafas

: 22x

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Dada

Paru

: dalam batas normal

Jantung

: dalam batas normal

Abdomen

: dalam batas normal

Diagnosis

Disentri
Management
Edukasi

Menjauhi makanan yang kebersihannya tidak terjamin dan tidak minum air langsung
dari keran.

Selalu mencuci tangan sebelum makan.

Memisahkan makanan yang mentah dari yang matang.

Jangan makan buah segar atau sayuran yang tidak bisa dikupas sebelum makan

Mengonsumsi makanan yang dimasak sampai benar-benar matang.

Menyimpan makanan di kulkas dan tidak membiarkan makanan tertinggal di bawah


paparan sinar matahari atau suhu ruangan.

mencegah penyebarannya pada orang-orang di sekitar:

Mencuci tangan sebelum makan atau menyiapkan makanan.

Mencuci tangan setelah dari toilet dan selalu bersihkan toilet dengan disinfektan
setelah buang air besar.

Jika tinggal satu rumah, pastikan penderita tidak menggunakan handuk atau peralatan
makan yang sama dengan anggota rumah lainnya.

Medika mentosa
-

trimetoprim-sulfametoksazol, 2 x 960 mg/hari selama 3-5 hari


Oralit,
Zinc, 1 x 1
Paracetamol 3 x 1