Anda di halaman 1dari 31

PENDAHULUAN

Bayi baru lahir mengalami perubahan fisiologis yang dramatis dalam menit
pertama sampai beberapa jam setelah dilahirkan. Perubahan fisiologis pada
bayi ini diakibatkan oleh transisi dari lingkungan intrauterine menjadi
lingkungan ekstrauterine. Pada saat bayi di lingkungan intrauterine,
pertukaran gas dan sirkulasi dibantu oleh plasenta. Sedangkan di luar uterus,
bayi memiliki sistem kardiopulmoner yang independen. 1
Setiap tahunnya 136 milyar bayi lahir di seluruh dunia. Pada setiap
bayi baru lahir, dapat dilakukan APGAR scoring dan scoring yang lain untuk
menilai vitalitas dari bayi. Kurang lebih 5-10% dari bayi yang lahir setiap
tahunnya memerlukan rangsangan sederhana untuk membantu mereka
bernapas, 3-5% membutuhkan resusitasi dasar, dan <1% memerlukan
resusitasi lanjutan berupa kompresi dada atau obat-obatan. Diperkirakan pula
814.000 bayi baru lahir meninggal setiap tahunya di seluruh dunia, dan salah
satu penyebab kematian bayi tersebut adalah kegagalan respirasi dan
kegagalan sirkulasi pada saat bayi baru lahir.1 2
Kegagalan respirasi biasanya disebabkan oleh tidak adekuatnya
pernapasan untuk mendorong cairan untuk keluar dari alveoli. Adanya benda
asing yang menghalangi jalan napas. Kehilangann darah yang berlebihan
atau kontraktilitas jantung yang tidak baik atau bradikardi sehingga
menyebabkan hipoksia dan iskemia lalu menyebabkan hipotensi sistemik.
Berkurangnya ventilasi dari paru sehingga paru mengalami konstriksi
arteriole paru, lalu menghambat oksigenasi darah di arteri sistemik. Perfusi
dan oksigenasi ke organ bayi yang tidak adekuat dan terjadi terus menerus
dapat menyebabkan kerusakan pada otak dan organ lainnya dan kemudian
menyebabkan kematian.2

Perfusi dan oksigenasi ke organ-organ tubuh bayi sangatlah penting


untuk mencegah kematian bayi baru lahir, oleh karena itu resusitasi neonatus
yang bertujuan untuk mendukung dan memelihara pernapasan dan sirkulasi
pada bayi baru lahir sangatlah diperlukan pada bayi yang mengalami
masalah adaptasi terhadap lingkungan ekstrauterin. 2

TINJAUAN PUSTAKA
Oksigen sangat penting untuk kehidupan sebelum dan sesudah kelahiran.
Sebelum lahir, seluruh oksigen yang digunakan janin berasal dari difusi darah
ibu ke darah kanin melewati membran plasenta. Hanya sebagian kecil darah
janin yang mengalir ke paru-paru janin. Paru janin tidak berfungsi sebagai
alur transportasi oksigen ataupun eksresi karbon dioksida.

Secara normal, ada tiga perubahan besar segera setelah kelahiran,


antara lain3 :
1. Cairan dalam alveoli diserap ke pembuluh limfe paru dan digantikan oleh
udara.
2. Arteri umbilikalis konstriksi, kemudian arteri dan vena umbilikalis menutup
ketika tali pusat dijepit.
3. Pembuluh darah paru relaksasi sehingga tahanan terhadap aliran darah
menurun.
Kesulitan yang dapat ditemui setelah kelahiran, biasanya lebih banyak
berkaitan dengan jalan napas bayi dan/atau paru-paru. Masalah yang dapat
timbul antara lain3 :
1. Paru tidak terisi udara meskipun sudah ada pernapasan spontan (ventilasi
tidak adekuat). Tarikan awal napas bayi mingkin tidak cukup adekuat
untuk mendorong cairan keluar dari alveoli, atau bila ada materi misalnya
mekonium yang menhalangi udara masuk ke alveoli.
2. Tidak terjadi peningkatan tekanan darah sistemik (hipotensi sistemik).
Kehilangan darah berlebihan atau hipoksia neonatus dapat menyebabkan
kontraksi jantung menjadi buruk atau bradikardia dan tekanan darah
rendah pada bayi baru lahir.
3. Arteri pulmonal tetapi konstriksi setelah kelahiran, karena sebagian atau
seluruh paru gagal mengembang, atau karena kekurangan oksigen
sebelum/selama persalinan.
3

Asfiksia
Asfiksia neonatorum didefinisikan sebagai kegagalan bernapas secara
spontan dan teratur pada saat bayi lahir atau sesaat setelah bayi lahir yang
ditandai dengan keadaan PaO2 di dalam darah yang rendah (hipoksemia),
hiperkarbia (PaCO2 meningkat) dan asidosis. Dalam uterus, asfiksia
disebabkan oleh hipoksia maternal, penurunan aliran darah plasentalumbilikal, dan gagal jantung fetal. Hipoksia maternal disebabkan oleh
penyakit jantung sianotik kongenital maternal, gagal jantung kongestif, atau
gagal napas.4
Selama stadium awal dari asfiksia, cardiac output tetap stabil tetapi
terjadi perubahan distribusi. Aliran darah ke hati, ginjal, usus, kulit dan otot
menurun, dimana aliran darah ke jantung, otak, kelenjar adrenal dan plasenta
dipertahankan tetap konstan atau dinaikkan. Distribusi aliran darah ini
membantu memelihara oksigenasi dan nutrisi otak dan jantung, mengingat
kandungan oksigen dalam darah arteri sangatlah rendah. 4,5
Fungsi dari jantung yang hipoksemik dijaga oleh metabolisme glikogen
miokardial dan metabolisme asam laktat. Ketika sumber energi habis, dengan
cepat terjadi kegagalan miokardial, dan tekanan darah arteri dan cardiac
output menurun. Apabila denyut jantung menurun sampai kurang dari 100
denyut/menit selama asfiksia, maka cardiac output akan menurun secara
bermakna. Tekanan vena sentral meningkat selama asfiksia karena
pembuluh darah sistemik mengalami kontriksi dan volume darah sentral
meningkat akibatnya terjadi kegagalan jantung untuk memompa darah. Janin
dan bayi baru lahir bisa mengatasi hipoksia karena mempunyai sejumlah
opiat endogen dalam darahnya. Substansi tersebut, yang meningkat selama
hipoksia dapat menurunkan konsumsi oksigen. Respon normal terhadap
katekolamin juga penting untuk menyelamatkan dari asfiksia. Respon normal
terhadap asfiksia meliputi peningkatan hormon adrenokortikotropik plasma,
4

glukokortikoid, katekolamin, faktor intrisik atrium, renin, arginin vasopresin


dan penurunan kadar insulin darah. Arginin vasopresin mengakibatkan
hipertensi, bradikardi dan redistribusi aliran darah sistemik. Glikogenolisis
mempertahankan kadar glukosa darah.4
Penilaian Pada Fetus dan Neonatus
Asfiksia janin atau neonatus akan terjadi jika terdapat gangguan pertukaran
gas atau pengangkutan O2 dari ibu ke janin. Gangguan ini dapat timbul pada
masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. Dengan demikian
diperlukan diagnosis dini terhadap gangguan tersebut sehingga dapat
dilakukan persiapan untuk resusitasi sedini mungkin. 1,3
Penilaian Fetus
Diagnosis anoksia/hipoksia janin yang sering berujung pada asfiksia
neonatorum dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tandatanda gawat janin. Yang perlu diperhatikan dalam menilai tanda-tanda gawat
janin adalah :
a. Perubahan gerakan janin
Gerakan janin yang menurun

atau

berlebihan

biasanya

menandakan keadaan gawat janin, namun gejala ini merupakan


gejala subyektif yang biasanya disampaikan oleh ibu.
b. Denyut jantung janin
Frekuensi denyut jantung janin yang normal adalah 120 sampai 160
kali per menit, selama his, frekuensi ini dapat turun, namun di luar
his frekuensi akan kembali seperti keadaan semula. Peningkatan
kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya, akan
tetapi apabila frekuensi denyut jantung janin menurun hingga < 100
kali per menit di luar his, dan diikuti oleh denyut yang tidak teratur,
hal itu merupakan tanda bahaya. 6

c. Mekonium dalam air ketuban


Mekonium dalam presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi
pada

presentasi

oksigenasi

dan

kepala
harus

mungkin

menimbulkan

menunjukkan
kewaspadaan.

gangguan
Adanya

mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala dapat


merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan. 6
d. Pemeriksaan PH darah
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks
dibuat sayatan kecil pada kepala janin, dan diambil contoh darah
janin. Darah ini diperiksakan PH-nya. Apabila PH turun sampai di
bawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya. 7
Penilaian Neonatus
Penilaian pada bayi baru lahir meliputi penilaian terhadap denyut jantung,
pernapasan, tonus otot, reflek, dan warna kulit.
a. Denyut Jantung
Normalnya denyut jantung pada bayi baru lahir adalah 120 sampai
160 denyut/menit. Walaupun banyak neonatus bertoleransi dengan
denyut jantung diatas 220 denyut/menit dengan sedikit pengaruh
buruk, denyut jantung dibawah 100 denyut/menit sering sulit
ditoleransi sebab terjadi penurunan cardiac output dan perfusi
jaringan. Elektrokardiogram dan ekokardiogram dapat membantu
mendiagnosa masalah tersebut sebelum lahir. Jika hal tersebut
terjadi, pertama harus dipersiapkan untuk menangani keadaan
bradikardinya.8
b. Pernapasan
Bayi biasanya mulai bernapas 30 detik setelah lahir dan perlu
bantuan bila tidak bernapas setelah 90 detik. Beberapa menit

setelah lahir, frekuensi napas neonatus antara 30 sampai 60


kali/menit. Apneu dan bradipneu terjadi pada keadaan asidosis
berat, asfiksia, infeksi (meningitis, septikemia, pneumonia) dan
kerusakan CNS. Takipneu (>60 kali/menit) terjadi pada hipoksemia,
hipovolemia, asidosis (metabolik dan respiratorik), perdarahan CNS,
kebocoran gas paru, kelainan paru (hyalin membrane disease,
sindrom aspirasi, infeksi), udem paru, dan penggunaan obat-obatan
oleh ibu (narkotik, alkohol, magnesium, barbiturat). 8,9
c. Tonus Otot
Sebagian besar neonatus, termasuk yang preterm akan aktif saat
lahir dan menggerakan semua ekstremitas sebagai respon terhadap
rangsangan. Asfiksia, penggunaan obat pada ibu, kerusakan CNS,
amiotonia kongenital, dan miastenia grafis akan menurunkan tonus
otot. Fleksi kontraktur serta tidak adanya lipatan sendi merupakan
tanda kerusakan CNS yang terjadi di dalam rahim.8,9
d. Refleks
Neonatus normal bergerak ketika salah satu ekstremitas digerakkan
dan meringis atau menangis ketika selang dimasukkan ke dalam
hidungnya. Tidak adanya respon terjadi pada bayi hipoksia,
asidosis, penggunaan obat sedatif pada ibu, trauma CNS dan
penyakit otot kongenital.8,9

e. Warna Kulit
Pada umumnya semua kulit neonatus berwarna biru keunguan
sesaat setelah lahir. Sekitar 60 detik, seluruh tubuhnya menjadi
7

merah muda kecuali tangan dan kaki yang tetap biru (sianosis
sentral). Sianosis sentral diketahui dengan memeriksa wajah,
punggung dan membran mukosa. Jika sianosis sentral menetap
sampai lebih dari 90 detik perlu dipikirkan asfiksia, cardiac output
rendah, udem paru, methemoglobinemia, polisitemia, penyakit
jantung kongenital, aritmia dan kelainan paru (distres pernapasan,
obstruksi jalan napas, hipoplastik paru, hernia diafragmatika),
terutama bila bayi tetap sianosis dibawah respirasi kendali dan
oksigen ysng mencukupi. Pucat menandakan penurunan cardiac
output, anemia berat, hipovolemia, hipotermia atau asidosis. 8,9
Apgar Skor
Apgar skor adalah ekspresi dari kondisi fisiologis bayi baru lahir. Dengan
apgar skor memungkinkan dilakukan evaluasi kondisi bayi yang baru lahir
pada menit pertama dan kelima kehidupannya. Apgar skor pada menit
pertama merefleksikan kondisi bayi pada saat lahir dan berhubungan dengan
kemampuannya untuk bertahan hidup, apgar skor yang tidak banyak
meningkat dari menit pertama hingga menit ke 5 dikatakan meningkatkan
resiko kematian pada bayi. Sedangkan apgar skor pada menit ke-5
merefleksikan

respon

resusitasi

dan

mungkin

berhubungan

dengan

neurological outcome, apgar skor yang rendah pada menit ke 5 (0-3)


dikatakan meningkatkan resiko terjadinya palsi serebral. 10,11,12
Perlu disadari keterbatasan dari penilaian apgar, dimana banyak faktor
yang dapat mempengaruhi nilai apgar, antara lain pengaruh obat-obatan,
trauma lahir, kelainan bawaan, infeksi, hipoksia, hipovolemia, dan kelahiran
prematur. 10,11,12
Tabel 1. APGAR SKOR10,11,12

TANDA
Appearance

0
Seluruh tubuh

1
Tubuh merah,

2
Merah seluruh

(warna kulit)
Pulse/hearth

biru / pucat
Tidak ada

ektremitas biru
<100 kali/menit

tubuh
>100 kali/menit

(denyut jantung)
Grimace

Tidak bereaksi

Gerakan sedikit

Reaksi melawan

(reflek)
Activity

Lemas

Ekstremitas fleksi

Gerakan aktif

Tidak ada

sedikit
Lambat

Menangis kuat

rate

(tonus otot)
Respiration
(pernapasan)

Apgar skor 8-10. Apgar skor 8-10 umumnya dapat dicapai pada 90%
neonatus.

Dalam

hal

ini,

diperlukan

penghisapan

oral

dan

nasal,

mengeringkan kulit, dan menjaga temperatur tubuh tetap normal. Reevaluasi


kondisi neonatus dilakukan pada menit ke-5 pertama kehidupan. 5
Apgar skor 5-7. Neonatus ini akan merespon terhadap rangsangan
dan pemberian oksigen. Jika responnya lambat, maka dapat diberikan
ventilasi dengan pemberian oksigen 80-100% melalui bag and mask. Pada
menit ke-5 biasanya keadaannya akan membaik.5
Apgar

skor

3-4.

Neonatus

biasanya

sianotik

dan

usaha

pernapasannya berat, tetapi biasanya berespon terhadap bag and mask


ventilation dan kulitnya menjadi merah muda. Apabila neonatus ini tidak
bernapas spontan, maka ventilasi paru dengan bag and mask akan menjadi
sulit, karena terjadi resistensi jalan napas pada saat melewati esofagus.
Apabila neonatus tidak bernapas atau pernapasannya tidak efektif,
pemasangan pipa endotrakea diperlukan sebelum dilakukan ventilasi paru.
Hasil analisa gas darah seringkali abnormal (PaO 2 < 20 mmHg, PaCO2 > 60
mmHg, pH 7,15). Apabila pH dan defisit basa tidak berubah atau memburuk,

diperlukan pemasangan kateter arteri umbilikalis dan jika perlu dapat


diberikan natrium bikarbonat.5
Apgar skor 0-2. Neonatus dengan apgar skor ini memerlukan
resusitasi segera. Sebaiknya dilakukan intubasi dan kompresi dada dapat
dilakukan segera5,6.
Resusitasi Neonatus
Resusitasi neonatus terutama difokuskan pada saat bayi baru lahir, dan
banyak prinsip-prinsipnya yang dapat diterapkan selama masa neonatus dan
bayi. Istilah bayi baru lahir secara spesifik diartikan sebagai bayi pada menit
pertama sampai jam pertama setelah lahir. Istilah neonatus umumnya
diartikan sebagai bayi selama 28 hari pertama. Sedangkan istilah bayi
meliputi masa neonatus sampai umur 12 bulan.7
Dalam

proses

resusitasi

difokuskan

dengan

mengidentifikasi

abnormalitas pada oksigenasi dan perfusi. Tujuan yang ingin dicapai adalah
untuk mengoreksi keadaan tersebut dan mencegah pemburukan yang lebih
lanjut.8
Bayi-bayi yang tidak memerlukan resusitasi dapat dinilai dengan
mudah dan cepat. Penilaiannya meliputi 3 karakteristik yaitu :
-

Apakah bayi lahir aterm ?


Apakah bayi menangis atau bernapas ?
Apakah tonus otot bayi baik ?

Jika semua pertanyaan diatas jawabannya adalah iya, maka bayi tidak
memerlukan resusitasi dan tidak perlu dipisahkan dari ibunya. Bayi harus
dikeringkan, diletakkan salling bersentuhan dengan ibunya, dan ditutupi
dengan kain linen untuk menjaga temperatur. Selanjutnya tetap observasi
pernapasan, aktifitas, dan warna kulit bayi. 8
Jika ada dari pertanyaan diatas yang jawabannya adalah tidak, maka
bayi memerlukan resusitasi yang dibagi menjadi 4 kategori, yaitu :8

10

1. Langkah dasar, mencakup penilaian secara cepat dan stabilisasi awal


2. Ventilasi, mencakup bag-mask atau bag-tube ventilation
3. Kompresi dada
4. Pemberian cairan atau obat-obatan
Prosedur Resusitasi
Langkah awal resusitasi adalah dengan tindakan memberikan
kehangatan

dengan

meletakkan

bayi

dibawah

pemancar

panas,

memposisikan kepala pada posisi menghidu untuk membuka jalan napas,


jika

diperlukan

dengan

balon

penghisap

atau

keteter

penghisap,

mengeringkan bayi, dan merangsang napas. 3,7,8


1. Keringkan dan hangatkan (drying and warming)
a. Letakkan bayi dibawah lampu penghangat (radiant warmer)
b. Keringkan cairan amnion pada tubuh bayi
c. Singkirkan kain basah yang kontak dengan tubuh bayi
2. Jaga jalan napas (airway positioning)
a. Bayi posisi terlentang (supine) dengan leher pada posisi yang
normal
b. Posisi kepala sedikit direndahkan
c. Miringkan kepala dengan leher sedikit ekstensi jika sekretnya
banyak
3. Pembebasan jalan napas (Airway suctioning)
a. Ketuban jernih
Penghisapan segera setelah bayi lahir, hanya dilakukan pada
bayi-bayi yang menunjukkan sumbatan untuk memulai napas
spontan, atau yang membutuhkan VTP.
b. Mekonium Staining
b.1 Segera lakukan intubasi dan lakukan tracheal suction sebelum
bayi dikeringkan dan dirangsang. Suction hipofaring dan
11

kemudian lambung (dengan pipa orogastrik) dengan baik.


b.2. Suction mulut sebelum hidung apabila mekonium tidak ada
b.3 Suction sebaiknya dibatasi selama 3-5 detik.
4. Berikan rangsangan (stimulation)
a. Rangsang bayi dengan mengeringkan, menghangatkan, dan
suction.
b. Rangsang taktil : dengan cara menyentil telapak kaki bayi, atau
dengan menepuk-nepuk punggung bayi.
c. Hindari metode-metode yang berlebihan dalam memberikan
rangsangan kepada bayi.
5. Berikan oksigen 1,3,7,8
Keadaan hipoksia selalu dijumpai pada bayi baru lahir yang
memerlukan resusitasi. Oleh karena itu, adanya sianosis, bradikardi,
atau tanda lainnya dari gagal napas selama stabilisasi bayi baru
lahir,

mengindikasikan

perlunya

pemberian

oksigan

100%.

Pemberian oksigen sebaiknya dilakukan dengan hati-hati karena


dapat membahayakan. Oksigen dapat diberikan melalui self-inflating
bag, sungkup muka, ataupun melalui kateter. Tujuan dari pemberian
oksigen adalah keadaan normoksia. Pemberian oksigen yang cukup
ditandai dengan membran mukosa menjadi berwarna merah. Jika
keadaan sianosis terjadi secara berulang ketika pemberian oksigen
telah

dihentikan,

maka

diperlukan

perhatian

post

resusitasi

mencakup monitoring konsentrasi oksigen yang diberikan dan


saturasi oksigen darah arteri.

12

Gambar 1. Algoritme Resusitasi pada Bayi Baru Lahir

6. Ventilasi
Indikasi dilakukan positive pressure ventilation yaitu :1,3

13

Apneu atau gasping respiration

Bradikardi : denyut jantung < 100 kali/menit

Sianosis sentral persisten (walaupun telah diberikan oksigen


100%)

Ventilasi dilakukan melalui bag-valve-mask, pada ventilatory rate 4060 kali/menit, Kunci dari keberhasilan resusitasi pada neonatus yaitu
menjaga agar ventilasinya tetap adekuat.

Gambar 2. Tehnik Ventilasi melalui Bag and Mask3


c. Intubasi endotrakeal, dilakukan pada saat :1,3

Ventilasi bag-valve-mask yang tidak efektif.

Tracheal suctioning apabila terjadi aspirasi mekonium yang


banyak.

Intermittent positive pressure ventilation yang lama.

14

Gambar 3 Intubasi pada Neonatus

7. Kompresi dada
a. Bradikardi dan cardiac arrest biasanya dapat dicegah dengan
oksigenasi dan ventilasi secara efektif pada tahap awal.
b. Kompresi dada sebaiknya dimulai jika denyut jantung < 60-80
kali/menit dan tidak meningkat dengan cepat walaupun telah
mendapatkan IPPV secara efektif selama 30 detik.
c. Pada sepertiga bawah sternum dilakukan kompresi - inchi
saat denyut jantung 120 kali/menit.
8. Obat-obatan
Obat-obatan yang digunakan yaitu epinefrin, volume expander,
ntrium bikarbonat, nalokson.
Panduan Menunda dan Menghentikan Resusitasi
Untuk bayi baru lahir yang berada pada batas kemungkinan dapat hidup dan
mempunyai kondisi yang menunjukkan resiko mortalitas atau morbiditas
tinggi, sikap dan tindakan yang diambil bervariasi tergantung tiap daerah dan
sumber daya yang tersedia.
Menunda Resusitasi
Pada kemungkinan indentifikasi kondisi yang terkait dengan mortalitas
yang tinggi dan hasil yang buruk, maka dapat dipertimbangkan alasan
15

menunda resusitasi, terutama bila ada kesempatan untuk meminta


persetujuan orang tua. Keadaan yang dapat dipertimbangkan seperti :
a)

Bila gestasi, berat lahir, atau kelainan kongenital


terkait dengan kematian dini yang hampir pasti dan bila morbiditas
sangat tinggi diantara bayi yang selamat. (contoh : Bayi dengan
masa gestasi < 23 minggu atau berat badan lahir < 400 gram, bayi
anensefali)

b)

Pada kondisi yang terkait dengan kemungkinan


hidup tinggi dan morbiditas dapat diterima, resusitasi hampir selalu
dilakukan (contoh bayi usia gestasi > 25 minggu atau dengan
malformasi kongenital)

c)

Pada kondisi yang terkait dengan prognosis yang


tidakjelas, dimana kelangsungan hidup pada garis batas, angka
morbiditas relatif tinggi, dan kemungkinan penderitaan anak tinggi.
Keinginan orang tua untuk memulai resusitasi harus didukung.

Menghentikan resusitasi
Pada bayi baru lahir yang denyut jantungnya tidak terdeteksi, selayaknya
dipertimbangkan untuk menghentikan resusitasi jika frekuensi jantung tetap
tidak

terdeteksi

selama

10

menit,

dimana

keputusan

ini

harus

mempertimbangkan faktor kemungkinan penyebab henti jantung, faktor


penyebabnya,gestasi bayi, komplikasi, perasaan orang tua untuk menerima
resiko morbiditas yang mungkin terjadi. Resusitasi pada bayi baru lahir
setelah 10 menit mengalami asistol akan sangat sulit bagi bayi tersebut untuk
bisa bertahan hidup atau bayi tersebut bisa bertahan hidup namun dengan
severe disability.8
Resusitasi pada Neonatus yang Mengalami Depresi Napas

16

Sekitar 6% bayi yang baru lahir mengalami depresi napas, dan sebagian
basar dari bayi tersebut memiliki berat badan kurang dari 1500 gram,
memerlukan

bantuan

hidup

lanjut.

Resusitasi

pada

neonatus

yang

mengalami depresi napas memerlukan 2 atau lebih tenaga penolong, satu


orang bertugas menjaga jalan napas dan ventilasi, sedangkan yang lain
melakukan kompresi dada jika diperlukan. Orang ketiga bertugas untuk
memfasilitasi pemasangan kateter intravaskuler dan pemberian cairan atau
obat. Penyebab tersering dari depresi napas pada neonatus adalah asfiksia
intrauterin,

sehingga

resusitasi

difokuskan

pada

respirasi.

Keadaan

hipovolemia juga merupakan faktor yang mendukung. 8


Kegagalan neonatus dalam merespon usaha resusitasi secara cepat
menandakan diperlukan suatu vascular access dan analisa gas darah. Perlu
dipikirkan adanya suatu pneumothoraks (1% kasus) dan anomali kongenital
pada jalan napas, termasuk fistula trakheoesofageal (1:3000-5000 lahir
hidup) dan hernia diafragmatika kongenital (1:2000-4000). 8
Resusitasi Kardiopulmoner
Tujuan dari resusitasi kardiopulmoner adalah untuk melindungi sistem saraf
pusat selama keadaan asfiksia. Tahap awal dari resusitasi kardiopulmoner
adalah dengan melakukan antisipasi. Hal ini mencakup pengetahuan
mengenai riwayat obstetri dari ibu, riwayat kehamilan termasuk riwayat
persalinan, persiapan dalam proses pemindahan (peralatan, material, dan
obat), dan yang terpenting adalah adanya tim terlatih yang bertugas untuk
melakukan resusitasi.8
Untuk melakukan resusitasi pulmoner, trakea sebaiknya diintubasi
dengan segera dan ventilasi tekanan positif sebaiknya dimulai pada frekuensi
napas 30-60 kali per menit. Setiap napas yang kelima, dilakukan napas
buatan selama 2-3 detik untuk mengembangkan paru yang mengalami
atelektasis dan membantu mengeluarkan cairan di dalam paru. Bukti terakhir

17

menunjukkan bahwa 6 napas yang kuat pada saat lahir, secara bermakna
dapat meningkatkan trauma paru pada bayi prematur 30 menit sampai
beberapa jam kemudian dan respon terhadap surfaktan secara signifikan
dibatasi pada saat pernapasan yang panjang tersebut. 6
Resusitasi Vaskular
Resusitasi vaskuler seringkali dilupakan dalam melakukan resusitasi pada
neonatus.5 Beberapa neonatus dan 2/3 bayi prematur yang memerlukan
resusitasi mengalami hipovolemia pada saat lahir. Diagnosis ini ditegakkan
dari pemeriksan fisik (rendahnya tekanan darah dan pucat) dan respon yang
buruk

terhadap

resusitasi.

Tekanan

darah

neonatus

secara

umum

berhubungan dengan volume intravaskuler dan seharusnya dilakukan


pemeriksaaan secara rutin. Tekanan darah yang normal tergantung dari berat
badan lahir dan bervariasi dari 50/25 mmHg untuk neonatus dengan berat
badan 1-2 kg sampai 70/40 mmHg untuk berat badan lebih dari 3 kg.
Rendahnya tekanan darah menunjukkan keadaan hipovolemia. Selain itu,
hipotensi juga dapat disebabkan oleh hipokalsemia, hipermagnesemia, dan
hipoglikemia.4
Apabila kondisi neonatus tidak membaik dengan rangsang taktil dan
ventilasi, maka sebaiknya pemasangan kateter arteri umbikalis untuk
mengukur pH dan analisa gas darah, mengukur tekanan arteri, menambah
volume darah, dan untuk memberikan obat. Sebagian besar neonatus
preterm memiliki berat badan lahir < 1250 gram, dan 1-3 % dari neonatus
tersebut memerlukan kateter arteri umbilikalis selama resusitasi. Hal ini
mungkin juga berguna untuk menyediakan jalur intravena untuk menentukan
keadekuatan penggantian volume darah. 6

Kompresi Dada
18

Indikasi dilakukannya kompresi dada yaitu apabila setelah 15-30 detik,


denyut jantung < 60 kali/menit atau antara 60-80 kali/menit dan tidak
meningkat setelah pemberian positive pressure ventilation dengan FiO2
100%.5
Kompresi dada dilakukan pada sternum 1/3 bawah. Terdapat 2 tehnik
dari kompresi dada yaitu:3,6
1. Menggunakan 2 ibu jari yang diletakkan pada sternum (sejajar
dengan 1 jari dibawah puting susu) dengan jari-jari tangan lainnya
melingkari dada (the two thumb-encircling hands technique).
2. Tehnik dengan dua jari tangan kanan(the two finger technique)
yang diletakkan di dada dengan tangan lainnya menyokong
punggung.
Beberapa data menunjukkan bahwa the two thumb-encircling hands
technique memiliki beberapa keuntungan dalam mencapai puncak tekanan
sistolik dan tekanan perfusi koroner, sehingga lebih dipilih dibandingkan
dengan the two finger technique.

Dalamnya kompresi dada kurang lebih

sepertiga dari diameter anterior-posterior dada. The pediatric basic live


support guidelines merekomendasikan dalamnya kompresi dada kurang lebih
1

/3 - dari diameter anterior posterior dada. Tidak ada data yang spesifik

mengenai dalamnya kompresi dada yang ideal, namun direkomendasikan


untuk melakukan kompresi dada sekitar sepertiga dari dalamnya dada, tetapi
kompresi ini harus dapat untuk membuat denyut nadi yang teraba secara
adekuat. Tehnik kompresi dada ini dapat dilihat pada gambar 2.4.
Perbandingan antara kompresi dada dengan ventilasi adalah 3:1, yaitu
dengan melakukan 90 kali kompresi dan 30 kali ventilasi dalam satu menit.
Denyut jantung harus dievaluasi secara periodik yaitu setiap 30 detik.
Kompresi dada dihentikan apabila denyut jantung terjadi secara spontan lebih
dari 80 kali/menit.3,8

19

Gambar 4 Kompresi Dada 3


Resusitasi Bayi Prematur
Bayi yang lahir prematur mempunyai resiko komplikasi setelah kelahiran,
dimana beberapa komplikasi ini diakibatkan faktor kelahiran prematur,
imaturitas anatomi dan fisiologi bayi seperti (1) kulit yang tipis, permukaan
tubuh relatif luas dibandingkan massa tubuh, lapisan lemak tipis sehingga
gampang kehilangan panas, (2) Jaringan tubuh imatur, lebih mudah cidera
akibat kelebihan oksigen, (3) Otot dada lemah sehingga pernapasan tidak
efektif, sistem saraf juga tidak memberi rangsang adekuat untuk bernapas,
(4) Jaringan paru imatur dan kekurangan surfaktan sehingga sulit bernapas
dan mudah cedera akibat ventiasi tekanan positif, (5) Sistem imunitas imatur,
mudah terkena infeksi, (6) Kapiler otak yang rapuh dan mudah pecah, (7)
Volume darah sedikit, bayi rentan mengalami hipovolemia bila kehilangan
darah.

20

Cara untuk mempertahankan bayi prematur agar tetap hangat antara


lain (1) menaikkan suhu kamar bersalin dan suhu ruangan tempat resusitasi,
(2) aktifkan alat pemancar panas jauh sebelum bayi lahir, (3) gunakan plastik
polietilen bila bayi lahir dengan masa gestasi < 29 minggu, (4) gunakan
inkubator yang telah dihangatkan saat memindahkan bayi.
Untuk memberi bantuan ventilasi pada bayi prematur, digunakan
kriteria memulai VTP yang sama dengan kriteria bayi cukup bulan. Bila bayi
bernapas spontan dengan frekuensi jantung > 100 dpm, pertimbangkan
CPAP, tetapi bila mengalami kesulitan bernapas atau saturasi oksigen
rendah, pertimbangkan TPAE, pertimbangkan pemberian surfaktan.
Untuk mengurangi resiko cedera otak maka bayi harus diperlakukan
dengan lembut, hindari posisi trendelenburg, bila mungkin hindari tekanan
jalan napas terlalu tinggi, sesuaikan bantuan ventilasi berdasarkan
pemeriksaan fisik , oksimetri, dan analisa gas darah.
Setelah resusitasi selesai maka bayi prematur harus dipantau secara
ketat. Yang harus dipantau antara lain kadar glukosa darahnya, kejadian
apnu, bradikardia, desaturasi oksigen, pertimbangkan penundaan pemberian
minum, tingkatkan kecurigaan pada kejadian infeksi.
Obat-Obat Resusitasi
Obat-obatan jarang diindikasikan pada resusitasi bayi baru lahir 1. Obatobatan diberikan apabila denyut jantung < 60 kali/menit, walaupun telah
mendapatkan ventilasi yang adekuat dengan oksigen 100% dan telah
dilakukan kompresi dada minimal selama 30 detik 7,10. Obat-obatan yang
digunakan yaitu epinefrin, volume expander, natrium bikarbonat, nalokson1.

21

Epinefrin
Pemberian epinefrin diindikasikan apabila denyut jantung < 60 kali/menit
setelah ventilasi yang adekuat dan kompresi dada selama 30 detik. Epinefrin
terutama diindikasikan apabila terdapat asistol. 12
Epinefrin memiliki efek stimulasi terhadap reseptor dan adrenergik.
Pada cardiac arrest, adrenergik menyebabkan vasokonstriksi yang akan
meningkatkan tekanan perfusi selama kompresi dada, sehingga terjadi
peningkatan hantaran oksigen ke jantung dan otak. Epinefrin juga
meningkatkan keadaan kontraktil jantung, menstinulasi kontraksi spontan dan
meningkatkan denyut jantung.12
Dosis intravena atau endotrakea adalah 0,1-0,3 mL/kg dengan
pengenceran 1:10000 (0,01-0,03 mg/kg), dapat diulang setiap 3-5 menit.
Pemakaian epinefrin dosis tinggi pada binatang dapat menyebabkan
hipertensi dengan curah jantung yang rendah. Efek hipotensi yang diikuti
dengan hipertensi dapat meningkatkan risiko perdarahan intrakranial,
terutama pada bayi preterm.12
Volume Ekspander
Volume ekspander penting untuk melakukan resusitasi pada bayi baru lahir
yang mengalami hipovolemia. Kecurigaan terjadinya hipovolemia diketahui
dengan kegagalan dalam merespon resusitasi. Cairan yang dipilih kristaloid
isotonik misalnya normal salin atau ringer laktat. Pemberian sel darah merah
O-negatif dapat diindikasikan untuk mengganti kehilangan darah dalam
jumlah yang besar. Solution yang menggandung albumin jarang digunakan
untuk ekspansi volume pada tahap awal karena penggunaannya terbatas,
risiko infeksi, dan pada observasi dihubungkan dengan peningkatan
mortalitas.12
Dosis awal dari volume ekspander adalah 10 mL/kg yang diberikan
secar perlahan melalui jalur intravena selama 5-10 menit. Dosis ini dapat
22

diulang setelah ditentukan kondisi klinis lebih lanjut dan diobservasi respon
yang terjadi.pemberian bolus dalam dosis yang besar dapat dilakukan pada
bayi yang lebih besar. Akan tetapi, volume overload atau komplikasi
(misalnya perdarahan intrakranial) dapat terjadi akibat pemberian volume
ekspander intravaskuler yang tidak tepat pada bayi asfiksia dan bayi
preterm.12
Natrium Bikarbonat
Natrium bikarbonat diberikan pada keadaan asidosis metabolik yang
persisten ataupun hiperkalemia.dosis yang diberikan yaitu 1-2 mEq/kg dari
solution 0,5 mEq/mL yang diberikan melalui jalur intravena secara perlahan
(minimal dalm 2 menit) setelah ventilasi dan perfusi adekuat. 12
Nalokson
Nalokson hidroklorida merupakan antagonis narkotik yang tidak mempunyai
efek depresi respirasi. Secara spesifik diindikasikan untuk melawan efek
depresi respirasi pada bayi baru lahir, yang ibunya mendapat narkotik dalam
4 jam sebelum melahirkan. Sebelumpemberian nalokson selalu dijaga
keadekuatan ventilasi. Jangan memberikan nalokson pada bayi baru lahir
yang ibunya dicurigai menggunakan obat-obat narkotik (drug abuse) karena
dapat menyebabkan efek withdrawal.12
Dosis yang direkomendasikan yaitu 0,1 mg/kg dari 0,4 mg/mL atau
solution 1 mg/mL yang diberikan secara intravena, endotrakea, atau apabila
perfusinya adekuat dapat diberikan intramuskular atau subkutan. Karena
durasi dari narkotik lebih lama dibandingkan nalokson, maka monitoring
secara kontinyu merupakan hal yang penting, dan pemberian nalokson dapat
diulang untuk mencegah apneu rekuren.12
Tabel 2. Obat-obatan yang Digunakan selama Resusitasi 6
OBAT

INDIKASI

DOSIS

CARA

EFEK

23

Epinefrin

Asistol

0,01mg/kg

PEMBERIAN
ET, IV

denyut

(0,1 mL/kg)

jantung

diencerkan

kontraktilitas

1:10000

miokard
tekanan arteri
Mengoreksi

Natrium

Asidosis

1-2 meq/kg

bikarbonat

metabolik

diluted 1:2

asodosis

(sangat

metabolik

perlahan)

COP dan

Nalokson

Ibu

IV

ET, IV, SC,

perfusi perifer
ventilatory

IM

rate

10-20

IV secara

tekanan darah

mL/kg

perlahan

perfusi perifer

0,1 mg/kg

menggunakan
opiat + bayi
Cairan

apneu
Hipovolemia

(PRC,
albumin
5%,
normal
salin)

Keterangan : ET: endotrakea; IM: intramuskular; IV: intravena; SC:


subkutan; PRC: Packed Red Cells; COP: cardiac output

Penyebab Kegagalan Resusitasi


Resusitasi

dapat

mengalami

kegagalan

akibat

hipotermia,

asidosis,

hiperbilirubinemia, dan hipovolemia.

24

Hipotermia pada Neonatus


Regulasi suhu tubuh merupakan fungsi fisiologis yang sangat penting pada
neonatus. Segera setelah kelahiran, bayi terpapar dengan lingkungan yang
kering dan dingin dibandingkan dengan saat ia berada di dalam uterus dan
mulai kehilangan panas melalui penguapan, konveksi, konduksi dan radiasi.
Neonatus memiliki mekanisme kompensasi yang terbatas yang memelihara
temperature tubuh mereka saat mereka terpapar suhu yang dingin. Non
shivering termogenesis adalah mekanisme kompensasi yang utama saat bayi
berespon terhadap suhu dingin yang bisa menimbulkan stres. Norepinephrin
akan dilepas sehingga mengaktivasi metabolisme trigliserida dan asam
lemak yang terdapat pada lemak coklat bayi. Hipotermi akan mempengaruhi
konsumsi oksigen pada bayi baru lahir.
Hipotermia berkepanjangan pada neonatus akan menyebabkan
dekompensasi jantung paru dan asidosis jaringan. Di samping itu, hipotermia
akan menghilangkan reflek hiperventilasi yang terjadi sebagai respon normal
bila terjadi hipoksia. Hipoventilasi atau apnea, umum terlihat pada bayi
prematur yang mengalami hipotermi. Hilangnya reflek hiperventilasi ini
menyebabkan tidak terkompensasinya perfusi ke jaringan pada bayi yang
semula

sudah

hypoxia.

Dengan

demikian

hypothermia

dikatakan

berkontribusi penting terhadap kegagalan resusitasi dan kematian bayi baru


lahir.

Asidosis pada Neonatus


Asidosis dapat disebabkan oleh asfiksia, hipovolemia, hipotermia. Asidosis
yang berat berhubungan dengan gangguan aliran darah ke otak, pendarahan
preventricular, leucomalacia, peningkatan resistensi vaskular perifer, dan
penurunan perfusi myocardial. Penurunan cardiac output secara drastis dan

25

penurunan perfusi ke jaringan dapat meningkatkan hypoxia jaringan dan


kembali memperburuk asidosis.13
Hiperbilirubinemia pada Neonatus
Jaundice fisiologis sering dijumpai pada bayi aterm yang disebabkan karena
belum matangnya sistem enzim hati. Kebanyakan bilirubin belum dikonjugasi
dan hal ini

merupakan

hasil dari meningkatnya

produksi

bilirubin,

berkurangnya ambilan dalam hepar dan berkurangnya konjugasi intra hepar.


Jaundice biasanya hilang sendiri pada beberapa hari pertama hingga
minggu-minggu pertama tanpa adanya masalah. Konsentrasi bilirubin
biasanya rendah (kurang dari 100 mikromol/liter) dan tidak menyebabkan
kerusakan neurologis karena sawar darah otak pada bayi aterm sudah
berfungsi. Akan tetapi, kerusakan otak dapat terjadi bila kadar bilirubin terlalu
tinggi ataupun terjadi kerusakan sawar darah otak. Sawar darah otak tidak
efektif pada keadaan prematuritas, sepsis, hipotermia, hipoksia, asidosis, dan
hipoalbuminemia.14
Hipovolemia pada Neonatus
Hipovolemia pada neonatus menyebabkan gangguan perfusi ke berbagai
jaringan dalam tubuh gangguan perfusi ini dapat menyebabkan iskemia. Otak
sangat sensitif terhadap hypoxic-ischemic injury. Kerusakan pada otak dapat
bersifat irreversible.15,16
Keadaan Otak Bayi Setelah Resusitasi
Asfiksia pada bayi dapat menyebabkan hipoxia-iskemia ensefalopati. Brain
injury mulai terjadi saat awal terjadinya hipoxia-iskemia jaringan. Setelah
resusitasi berhasil dilakukan, terjadi fase laten yang ditandai dengan
kembalinya metabolisme oksidatif pada otak. Pada saat 6-24 jam setelah
fase laten dapat terjadi energy failure fase 2. 16,17

26

27

RINGKASAN
Asfiksia diartikan sebagai hipoksemia yang disertai dengan asidosis
metabolik. Dalam uterus, asfiksia disebabkan oleh hipoksia maternal,
penurunan aliran darah plasental-umbilikal, dan gagal jantung fetal. Asfiksia
dalam kehamilan dapat menyebabkan keadaan hipervolemik maupun
hipovolemik. Asfiksia selama proses persalinan biasanya menyebabkan
hipervolemia kecuali pada kondisi berikut: tekanan tali pusat lebih besar pada
vena umbilikalis dibandingkan pada arteri umbilikalis, terjadi perdarahan dari
plasenta, dan hipotensi pada ibu (misalnya pada syok, trauma, pengaruh
obat anestesi.
Dengan apgar skor memungkinkan dilakukan evaluasi kondisi bayi yang
baru lahir pada menit pertama dan kelima kehidupannya. Apgar skor pada
menit pertama merefleksikan kondisi bayi pada saat lahir dan berhubungan
dengan kemampuannya untuk bertahan hidup. Sedangkan apgar skor pada
menit ke-5 merefleksikan usaha resusitasi dan mungkin berhubungan dengan
neurological outcome. Resusitasi neonatus dibagi menjadi 4 kategori, yaitu :
1. Langkah dasar, mencakup penilaian secara cepat dan stabilisasi awal
2. Ventilasi, mencakup bag-mask atau bag-tube ventilation
3. Kompresi dada
4. Pemberian cairan atau obat-obatan
Adapun prosedur resusitasi yaitu keringkan dan hangatkan (drying and
warming), jaga jalan napas (airway positioning), airway suctioning,
memberikan

rangsangan

(stimulation),

pemberian

oksigen,

ventilasi,

kompresi dada, obat-obatan.


Tujuan dari resusitasi kardiopulmoner adalah untuk melindungi sistem
saraf

pusat

selama

keadaan

asfiksia.

Tahap

awal

dari

resusitasi

kardiopulmoner adalah dengan melakukan antisipasi.

28

Resusitasi vaskuler seringkali dilupakan dalam melakukan resusitasi


pada neonatus. Beberapa neonatus dan 2/3 bayi prematur yang memerlukan
resusitasi mengalami hipovolemia pada saat lahir.
Indikasi dilakukannya kompresi dada yaitu apabila setelah 15-30 detik,
denyut jantung < 60 kali/menit atau antara 60-80 kali/menit dan tidak
meningkat setelah pemberian positive pressure ventilation dengan FiO2
100%.
Obat-obatan jarang diindikasikan pada resusitasi bayi baru lahir. Obatobatan diberikan apabila denyut jantung < 80 kali/menit, walaupun telah
mendapatkan ventilasi yang adekuat dengan oksigen 100% dan telah
dilakukan kompresi dada minimal selama 30 detik. Obat-obatan yang
digunakan yaitu epinefrin, volume expander, natrium bikarbonat, nalokson.
Beberapa

hal

yang

dapat menyebabkan

kegagalan

resusitasi

neonatus adalah hipotermia, asidosis, hiperbilirubinemia, dan hipovolemia.


Meskipun resusitasi berhasil, pada otak bayi dapat terjadi kerusakan yaitu
Hypoxic-Ischemic Encepalopaty

29

DAFTAR PUSTAKA
1. Anne CC Lee, at al : Neonatal Resuscitation and Immediate New Born
Assessment and Stimulation for The New Prevention of Neonatal Death.
BMC Public Health 2011. [diakses 10 September 2014]. Diunduh dari :
http://www.biomedcentral.com/1471-2458/11/S3/S12
2. Wiswell MD,Thomas: Neonatal resuscitation. Respiratory Care. Vol 48 No
3;2003.
3. Kattwinkel, J. Textbook of Neonatal Resuscitation, 6 th ed. American
Academy of Pediatrics; 2011
4. Greogery G A: Resuscitation of The Newborn. In: Miller: Anesthesia. 5 th
ed. Churchill Livingstone;2000
5. Rudolph A M, Kamei R K, Overby K J. Rudolphs Fundamentals of
Pediatrics. 3rd ed. International Edition: McGraw-Hill; 2002
6. Prawiroharjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta. P 708-715; 2007
7. American Academy of Pediatrics, Committee on fetus and Newborn,
AmericanCollage of Obstetricians and Gynecologists and Committee on
Obstetric Practice : The Apgar Score. Pediactrics 2006 ; 117 ; 1444.
8. Weinstein M. Neonatal Resusitation and Care of the Newborn at Risk. In:
DeCherney A H, Nathan L, eds. Current Obstetric and Gynecologic
Diagnosis and Treatment. 9th ed. International Edition: McGraw-Hill; 2003
9. Zareen Nusrat et al: An Early Diagnostic of Fetal Distress by Estimating
the Maternal Blood Gas Levels during Intrapartum Period. Pak J Physiol.
Vol 4 No 3 ; 2008.
10. Seidel J, Smerling A, Saltzberg D. Resusitation. In: Crain E F, Gershel J
C, eds. Clinical Manual of Emergency pediatrics. 4 th ed. International
Edition: McGraw-Hill;2003

30

11. Givens K. Neonatal Resusitation. In: som. 15 Agustus 2006. [diakses 16


September 2014]. Diunduh dari :
http://www.som.tulane.edu/departments/peds_respcare/neores.htm
12. Weinberger Barry, et al : Antecedents and Neonatal Consequences of
Low Apgar Scores in Preterm New Born. Arch Pediatr Adolesc Med. Vol
154: 294- 300; 2000
13. Kattwinkle John, et al : Part 15 : Neonatal Resuscitation : 2010 American
Heart Association Guidline for Cardiopulmonary Resuscitation and
emergency Cardiovascular Care. AHA Journal; 2010.
14. Lawn JE, Wilczynska-Katende K, Cousens SN : Estimating the cause of 4
million neonatal death in year 200. Int J Epidemol 35:706-718, 2006
15. Zeb A, Darmstardr GL : Sclerema neonatorum : a review of nomenclature,
clinical presentation, histological features, difrential diagnoses and
management. J Perinatol 28:453-460, 2008.
16. Ramesh Argawal et al : post resuscitation management of asphyxiated
neonates. All India Institute of Medical Sciences. New Delhi. 2007.
17. Hack M et al : Outcome in young adulthood for very low-weight infants.
New Eng J Med, 2002. Jan : 346(3): 149-57.

31