Anda di halaman 1dari 7

Agung Setiaji dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 789-795, September 2013

PRODUKTIVITAS DAN POLA WARNA KAMBING KEJOBONG YANG DIPELIHARA OLEH PETERNAK
KELOMPOK DAN PETERNAK INDIVIDU
PRODUCTIVITY AND COLOR PATTERNS OF KEJOBONG GOATS MAINTAINED BY GOAT BREEDERS
GROUPS AND INDIVIDUALS
Agung Setiaji, Paulus Suparman, Hartoko
Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto. Banyumas
agungsetiaji14@yahoo.com
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah Mempelajari Produktivitas yang ada pada Kambing
Kejobong yang diPelihara oleh peternak kelompok dengan yang di Pelihara peternak individu,
Mengamati Pola Warna yang ada pada Kambing Kejobong yang diPelihara oleh peternak kelompok
dengan yang diPelihara peternak individu. Penelitian ini menggunakan metode survei, Variabel
yang diukur ialah Jumlah anak sekelahiran (Litter size), Bobot lahir (Birth Weight), Bobot sapih
(Weaning Weight), Daya Hidup (Survival Rate) dan Pola warna pada kambing kejobong. Teknik
penetapan sampel menggunakan metode purposive sampling, Kemudian di lanjutkan dengan
menggunakan metode Stratified random sampling yaitu untuk mengambil sampel peternak, strata
yang di gunakan adalah tingkat kepemilikan ternak, sampel sebesar 50% dengan cara random.
Hasil penelitian menunjukan untuk litter size untuk peternak kelompok dan peternak individu tidak
berbeda nyata artinya untuk rata-rata bobot badan peternak kelompok 1,8 sedangkan untuk
peternak individu 1,7, hanya terdapat pebedaan 0,139 kg, bobot lahir terdapat perbedaan atau
berbeda nyata antara antara peternak kelompok dan peternak individu, nilai rata-rata untuk
peternak kelompok mencapai 2,814 kg sedangkan untuk peternak individu hanya mencapai 2,335
kg terdapat selisih 0,479 kg, bobot sapih berbeda nyata antara antara peternakan kelompok dan
peternakan individu, nilai rata-rata untuk peternak kelompok mencapai 16,141 kg sedangkan
untuk peternak individu 14,080 kg terdapat selisih yang cukup signifikan yaitu 2,061 Kg, Daya
Hidup tidak berbeda nyata, pada peternak kelompok memiliki nilai rata-rata 92,00 sedangkan
pada peternak individu 76,63 terdapat selisih 12,370, dan untuk pola warna kambing yang di
pelihara oleh kelompok peternak dan individu menunjukan bahwa warna hitam lebih banyak
dikelompok peternak yaitu mencapai 56,25% sedangkan untuk peternak individu mencapai
43,75%, kemudian warna dominan kedua ditempati warna hitam putih untuk peternak kelompok
42,86 sedangkan untuk individu 57,17 dan warna ketiga yang dominan adalah warna coklat untuk
peternak kelompok warna coklat dengan persentase 71,43%.
Kata kunci:produktivitas dan pola warna kambing kejobong
ABSTRACT
The purpose of this study was to investigate the Productivity of Kejobong Goats maintained
by the Goats Farmer Groups and by the individual, and to View the color Patterns the Goats
maintained by the Groups and by individual farmers. This study used a survey method, the
measured variables were the number of lambs (litter size), birth weight, weaning weight, Survival
Rate, and, the color patterns. The sample determination technique used purposive random
sampling method, then proceeded by using stratified random sampling method to take samples of
farmers, the strata use was the level of ownership of great the sample crasisled of 50%of the
population and it was taken random ly. The results showed that there was no difrences for litter
size goat betwen individual farmer and groups of farmers, meant that the average goats body
weight was 1.8 kg for farmer groups and 1.7 kg for individual farmer; the difference was only 0,139

789

Agung Setiaji dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 789-795, September 2013

kg. There was significant differen between the birth weight bewen the goats maintained by the
farmer groups and individual farmers; the average value of goats birth weight by group of farmers
reached 2.814 kg, while for individual farmers, the goat birth weight only reached 2.335 kg. It
meant there was only 0.479 ounces difference. The goats weaning weight was significantly
different between those maintained by the farmer groups and by individual farmer; the average
value for goats weaning weight of the farmer groups reached 16.141 kg whereas for individual
breeders was 14.080 kg with significant difference of 2.061 Kg. The survival rate was not
significantly different, the farmer groups had an average value for their goats survival rate of
92.00% while individual farmer had average value of 76.63%.difrence of 12.37% For goats color
pattern, the research showed that then were more black goats available thet when mantained by
the farmers groups that reached 56.25%, while for individual farmers, the black pattern reached
43.75%. The second dominant color pattern was white and black, in which the goats that were
mainedtaind by the farmers group reached 42.86% while those mainedtaind by individual farmers
the white and black color pattern was 57.17%; and the third dominant color was brown in which
for farmer groups the percentage of this color pattern was 71.43%.
Keywords: Productivity and Color Patterns of Kejobong Goats
PENDAHULUAN
Kecamatan Kejobong adalah salah satu dari 18 Kecamatan di Kabupaten Purbalingga
terletak di ujung timur dengan jarak sekirtar 20 km dari Ibu Kota Kabupaten. Populasi kambing di
Kecamatan kejobong menempati urutan nomor dua setelah Kabupaten Banyumas, masing-masing
Sebanyak 165.089 ekor dan 284.347 ekor (Dinas Peternakan Propinsi Jawa Tengah, 2006). Tujuan
beternak kambing adalah untuk memperoleh penghasilan tambahan atau sebagai tabungan.
Apabila peternak sedang butuh uang untuk keperluan keluarga, peternak tidak segan-segan
menjual kambing bahkan yang betina pun ikut di jual di pasar lokal. Kambing Kejobong (KK)
merupakan satu diantara spesies-spesies asli kambing yang berasal dari lokal Indonesia, yakni
Purbalingga, Jawa Tengah. Kambing yang merupakan hasil persilangan Kambing PE (Peranakan
Ettawa) dengan kambing kacang ini memiliki bentuk tubuh bulat disertai tingkat pertumbuhan
relatif lebih cepat serta warna kambing kejobong ialah hitam polos.
Produktivitas dalam usaha pemeliharaan ternak kambing memiliki peranan yang sangat
menentukan dalam rangka meraih hasil yang cukup optimal. Produtivitas mempunyai pengertian
kemampuan dari ternak tersebut di dalam meretensi nutrisi menjadi bobot tubuh, indeks
kebapuhan dan litter size (Socheh, 2000). (Hardjosubroto, 1994) juga menyatakan produktivitas
merupakan hasil yang di peroleh seekor ternak dalam kurun waktu tertentu dan dapat di nyatakan
sebagai fungsi dari tingkat reproduksi dan pertumbuhan. Abdulgani (1981) menyatakan bahwa
produktivitas kambing di daerah tropis lebih tinggi dari pada kambing yang didatangkan dari
daerah yang beriklim sedang. Domba dan kambing di indonesia potensial beranak lebih banyak
setiap tahun, atau kira kira tiga kali dalam dua tahun dengan kelahiran lebih dari seekor
perkelahiran (Setiadi et al., 1995). Namun menurut sodiq dan sumaryadi (2002) tingginya
kematian anak dan buruknya reproduksi induk dapat menyebabkan rendahnya produktivitas
ternak. Produktivitas induk dan indeks reproduksi induk di tentukan oleh jumlah anak sekelahiran,
kemapuan hidup anak pra sapih dan selang beranak serta bobot sapih (Gatenby, 1995)
Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah anak lahir perkelahiran (litter size) pada ternak
kambing diantaranya umur induk, tingkat nutrisi maupun pengaruh lingkungan lainnya. Astuti

790

Agung Setiaji dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 789-795, September 2013

(1984) melaporkan bahwa rataan jumlah anak lahir per kelahiran kambing Peranakan Etawah di
Yogyakarta sebesar 1.7relatif tinggi bila dibanding pengamatan Setiadi et al. 1984 di Bogor yakni
sebesar 1.3 ekor Kambing kejobong memiliki masa beranak yang cepat, dua tahun bisa sampai tiga
kali beranak dengan jumlah cempe dua sampai tiga ekor, sehingga kambing kejobong sangat di
gemari warga kejobong dan sekitarnya untuk di budidayakan.
Bobot lahir adalah Bobot saat cempe tersebut dilahirkan dari induknya, (cempe ditimbang
pada 1-2 hari setelah lahir). Faktor-faktor yang mempengaruhi bobot lahir adalah :
1. Genetik
2. Umur serta besar badan induk yang melahirkan. cempe yang dilahirkan dari induk yang
besar serta umur tidak terlalu tua pada umumnya akan menghasilkan anak dengan bobot lahir
yang tinggi.
3. Makanan Induk Selama Kebuntingan.
Bobot lahir merupakan faktor penting yang mempengaruhi produktivitas, karna bobot lahir sangat
berkorelasi dengan laju pertumbuhan, ukuran dewasa dan daya hidup anak kambing (Devandra
dan burens, 1994). Keragaman dan bobot lahir disebabkan oleh faktor genetik yaitu bangsa dan
lingkungan terutama makanan dan kesehatan. Pada kondisi pedesaan faktor yang berpengaruh
nyata hanyalah jumlah anak yang dilahirkan (Setiadi, 1999)
Bobot Sapih merupakan indikator kemampuan induk untuk menghasilkan air susu dan
kemampuan cempe mendapatkan air susu untuk tumbuh. Menurut Sukendar (2004) bobot sapih
di pengaruhi oleh bobot lahir, jenis kelamin, tipe kelahiran, umur penyapihan, dan bangsa. Bobot
lahir berkolerasi nyata dengan bobot sapih umur 120 hari, Depison et al, (2001). Laju
pertumbuhan setelah di sapih umumnya memiliki korelasi yang tinggi dengan bobot sapih hal ini
di tunjukan dengan nilai ripitabilitas yang tinggi 0,07 pada domba (Iniguez et al 1991). Bobot sapih
biasanya di sesuaikan dengan rerata bobot sapih umur tertentu, pada sapi dan kerbau biasanya
umur sapih di sesuaikan dengan umur 105 hari sedangkan pada kambing pada umur 90 hari
(Hardjosubroto 1994). Menurut Sukendar (2004) bobot sapih di pengaruhi oleh bobot lahir, jenis
kelamin, tipe kelahiran, umur penyapihan, dan bangsa. Bobot lahir berkolerasi nyata dengan
bobot sapih umur 120 hari, Depison et al, (2001).
Daya hidup adalah kemampuan seekor ternak dalam mempertahankan hidupnya, Dalam
sebuah peternakan pasti terdapat daya hidup atau survival rate, Daya Hidup sangat erat
hubungannya dengan produktivitas (Gall, 1981). Kematian sesudah kelahiran pada anak kambing
sangat mempengaruhi produktivitas ternak (Sutama et al., 1993). Masa periode tiga bulan antara
lahir dengan penyapihan (masa prasapih) adalah saat-saat rawan kematian pada ternak anak
kambing. Faktor - faktor yang mungkin terlibat dalam tingkat kelangsungan hidup anak adalah
berat kelahiran anak, genetika, kemampuan pengasuhan dan produksi susu induk, lingkungan,
nutrisi, penyakit dan predator (Synaman, 2010). Devandra dan Burns (1994) juga menyatakn
bahwa kematian yang paling besar terjadi selama 14 hari pertama setelah lahir, yang di sebabkan
oleh kedinginan, kekurangan pakan, dan karan terkena penyakit.
Pola Warna pada kambing sangat di pengaruhi oleh faktor genetik, warna pada kambing
kejobong ialah hitam, Kambing Kejobong diduga hasil persilangan antara kambing dari India
(Ettawa) dengan Kambing Kacang, kemudian diseleksi oleh para petani turun temurun, akhirnya
terjadi keseragaman warna bulu yaitu hitam, Menurut Devandra dan Burns (1994) warna rambut
kambing lokal antara lain hitam, coklat, putih atau kombinasi dari ketiganya.
791

Agung Setiaji dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 789-795, September 2013

METODE
Materi
Materi yang digunakan dalam penelitian adalah Kambing Kejobong.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode survey
HASIL DAN PEMBAHASAN
Litter Size
Hasil penelitian menunjukkkan bahwa jumlah anak sekelahiran (litter size) untuk peternak
kelompok dan peternak individu tidak berbeda nyata, artinya perbedaan antara peternak
kelompok dan individu sangat kecil yaitu untuk rata-rata bobot badan peternak kelompok 1,8
sedangkan untuk individu 1,7 hanya terdapat pebedaan 0,139 artinya litter size dipeternak
kelompok dan individu hampir sama yaitu anak dilahirkan dua ekor sekelahiran, dari hasil
penelitian menjelaskan bahwa untuk peternak kelompok dan individu memang anak yang
dilahirkan sama yaitu dua ekor hanya ada beberapa yang melahirkan tunggal, Menurut hasil
penelitian Rachmawati (2006) litter size pada kambing hasil persilangan antara kambing lokal dan
kambing Boer yaitu 1,54. Nilai tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan hasil penelitian ini.
Bobot Lahir
Hasil penelitian bobot lahir menunjukan bahwa terdapat perbedaan atau berbeda nyata
antara antara peternak kelompok dan peternak individu, hal ini disimpulkan dari jumlah rata-rata
bobot lahir yaitu untuk peternak kelompok mencapai 2,814 kg sedangkan untuk peternak individu
hanya mencapai 2,335 kg terdapat selisih 0,479 kg, artinya pemeliharaan peternak kelompok dan
individu lebih besar peternak kelompok, Menurut Lindsay (1982), anak kambing yang dilahirkan
dengan tipe kelahiran tunggal memiliki bobot lahir yang lebih besar, hal ini disebabkan zat
makanan yang diperoleh fetus dari induk yang memiliki anak tunggal lebih banyak dibandingkan
anak kembar, sementara faktor lain yang mempengaruhi bobot lahir ialah asupan gizi saat proses
bunting, peternak kelompok lebih memperhatikan pemberian pakan pada ternaknya yaitu
kambing saat bunting biasanya diberi pakan dengan jumlah yang lebih banyak bisa sampai empat
kali dalam pemberian pakan, berbeda halnya dengan para peternak individu yang sama sekali
tidak memberikan pakan tambahan atau asupan gizi terhadap ternaknya yang sedang bunting,
mereka hanya memberikan ruput segar dan daun singkong. Pada peternak kelompok dan peternak
individu di Desa Kedarpan Kecamatan Kejobong Kabupaten Purbalingga bobot lahir sangatlah
mempengaruhi pertumbuhan cempe atau (pbbh) bobot lahir yang tinggi akan lebih cepat tumbuh
dibandingkan dengan bobol lahir yang relative kecil hal ini dikarnakan bobot lahir yang lebih tinggi
akan lebih mudah mendapatkan susu dari induknya sedangkan yang bobot lahir kecil akan kalah
dalam perebutan susu dari induknya
Bobot Sapih
Hasil penelitian bobot sapih menunjukan bahwa terdapat perbedaan atau berbeda nyata
antara antara peternak kelompok dan peternak individu, hal ini di simpulkan dari jumlah rata-rata
792

Agung Setiaji dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 789-795, September 2013

bobot sapih yaitu untuk peternak kelompok mencapai 16,141 kg sedangkan untuk peternak
individu hanya mencapai 14,080 kg terdapat selisih yang cukup signifikan yaitu 2,061 Kg, dari hasil
ini maka dapat disimpulkan bahwa peternak kelomok lebih baik dalam pola pemeliharaan kambing
kejobong. Dari hasil bobot sapih peternak kelompok dan peternak individu kambing kejobong
memiliki rata-rata bobot sapi sebesar 15,1 Kg, angka yang cukup besar untuk kambing lokal, bobot
sapih kambing kejobong lebih baik bila dibandingkan dengan berat sapih kambing Peranakan
Etawah (11,3 kg) (Safrial, Muthalib, Mulyana, Nur dan Nasution, 2007), maupun hasil pengamatan
Sutama (2007) yang menunjukkan bahwa berat sapih umur 3 bulan kambing hasil persilangan Boer
dengan kambing Peranakan Etawah adalah 12,43 kg. Kemudian hal lain yang mempengaruhi
bobot lahir pada peternak kelompok lebih besar daripada peternak individu ialah faktor
lingkungan dan kebersihan kandang, terlihat kalau kandang peternak kelompok jauh lebih bersih
dan nyaman dibandingkan dengan peternak individu, Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh
Hardjosubroto (1994) bahwa lingkungan memberikan pengaruh yang besar pada performan
ternak.
Daya Hidup
Daya hidup atau survival rate pada peternak kelompok dan peternak individu menunjukan
tidak berbeda nyata, pada peternak kelompok memiliki nilai rata-rata 92,00% sedangkan pada
peternak individu 76,63% terdapat selisih 12,37%. menurut pengamatan selama penelitian para
peternak individu sudah sering mengikuti atau menimba ilmu dari para peternak kelompok
sehingga ilmu yang didapat peternak individu bisa diterapkan pada ternak mereka. Berdasarkan
data hasil penelitian bahwa nilai survival rate pada kambing kejobong lebih kecil jika dibandingkan
dengan hasil penelitian Setiadi dan Sitorus (1984) pada kondisi pembibitan yaitu sebesar 86,3%.
Handayani (2008) menyatakan bahwa pengalaman yang dilakukan seharihari secara sadar maupun
tidak sadar di dalam lingkungan pekerjaan dan sosialnya akan menambah pengetahuan dan
ketrampilan seseorang dalam bekerja sehingga memperlancar usahanya, lebih lanjut Asikin (2007)
juga menyatakan bahwa pengalaman merupakan sumber terpenting dalam pembelajaran dan
pendidikan informal, pengalaman merupakan proses belajar seumur hidup bagi peternak,
sehingga peternak bisa belajar dari pengalaman yang mereka dapat sebelumnya.
Pola Warna
Pola warna kambing kejobong yang dipelihara oleh peternak kelompok dan peternak
individu menunjukan bahwa warna hitam lebih banyak dikelompok peternak yaitu mencapai
55,38% sedangkan untuk peternak individu mencapai 46,67%, kemudian warna dominan kedua
ditempati warna hitam putih untuk peternak kelompok 27,69% sedangkan untuk individu 40,00%
warna hitam putih lebih banyak ditemukan pada peternak individu, hal ini sesuai dengan
pendapat Mulliadi, (1996) Sebaran warna dasar, kombinasi warna dan pola warna kambing
mungkin disebabkan oleh gen yang berlainan. Pola warna ditentukan oleh gen yang berbeda,
tetapi bekerjasama dengan gen warna dasar, demikian pula gen warna dalam pola warna, Sebagai
contoh kambing yang memiliki gen warna dasar hitam dan gen pola warna belang atau bercak
hitam maka kambing tersebut akan berwarna hitam tetapi karier sebagai kambing belang atau
bercak hitam. Warna yang unik pada kambing Kejobong adalah warna hitam dengan belang putih
diperutnya warga kejobong menyebutnya dengan kambing kendik, menurut para peternak jenis
793

Agung Setiaji dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 789-795, September 2013

kambing ini sangat disukai dan banyak dicari untuk kepentingan spiritual atau adat istiadat, untuk
harga kambing jenis ini juga relatife lebih mahal yaitu bisa mencapai selisih Rp. 400.000,00, akan
tetapi kambing jenis ini sangat sulit dijumpai.
SIMPULAN
Jumlah anak sekelahiran cempe yang dipelihara peternak kelompok tidak berbeda dengan
yang dipelihara peternak individu ( P > 0.05)
Bobot Lahir cempe yang dipelihara peternak kelompok lebih tinggi dari pada yang dipelihara oleh
peternak individu ( P < 0.05)
Bobot Sapih kambing yang dipelihara peternak kelompok lebih tinggi dari pada yang dipelihara
peternak individu atau ( P < 0.05)
Daya hidup kambing yang dipelihara peternak kelompok tidak berbeda dengan yang dipelihara
peternak individu ( P > 0.05)
Warna hitam adalah warna dominan pada kambing kejobong
Urutan warna kambing pada peternak kelompok yaitu hitam, hitam putih, coklat, hitam coklat,
hitam putih coklat, putih coklat dan putih, sedangkan pada peternak individu adalah hitam, hitam
putih, hitam coklat, coklat, hitam putih coklat, putih dan putih coklat.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulgani, I. K. 1981. Beberapa cirri populasi kambing di desa Ciburuy dan cigamong serta
kegunaanya bagi peningkatan produktivitas. Disertasi. Program pasca Sarjana. Institit
Pertanian Bogor, Bogor.
Asikin. 2007. Hubungan Faktor Sosial Ekonomi dengan Motivasi Beternak pada peternak Kambing
Di Kabupaten Cilacap. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Jenderal Soedirman.
Purwokerto
Astuti. 1984. The impact of altitude on sheep and goat produktion. Working Paper no.30. SRCRSP/Balai Penelitian Ternak.
Depison, E. Wiyanto dan H. Ediyanto. 2001. Simulasi system Genetik pada peternak kambing
Peranakan Etawah di daerah trasmigrasi Hitam Kabupaten Maringin Propinsi Jambi. Jurnal
Ilmiah ilmu-ilmu Peternakan. no 4(2) : 97-105.
Devandra, C. dan M. Burns. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Sebelas Maret
University Press, Surakarta.
Gall, C. 1981. Goat Production . Academic Press London. pp. 51 89; 542 544.
Hardosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliaan Ternak di Lapangan. Grasindo, Jakarta.
Lindsay, D.R, R.W. Enswistle dan Winantea. 1982. Reproduksi Ternak di Indonesia. Fakultas
Peternakan dan Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang.
Mulliadi, D. 1996. Sifat Fenotipik Domba Priangan di Kabupaten Pandeglang dan Garut. Disertasi.
Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogar. Bogor.
Rachmawati, N.B. 2006. Heritabilitas litter size serta pengaruh pejantan pada litter size dan bobot
lahir F1 Hasil Persilangan Kambing Boer Murni dan Lokal. Fakultas Peternakan Universitas
Brawijaya. Malang.

794

Agung Setiaji dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 789-795, September 2013

Safrial, R.A., S. Muthalib, Mulyana, H. Nur dan A. Nasution, 2007. Pengembangan Ternak Kambing
PE Melalui Desa Binaan di Desa Sukamaju, Kabupaten Batanghari, Propinsi
Jambi.http://www.asosiasi_politekn ik.or.id.
Setiadi,B. dan P. Sitorus. 1984. Penampilan reproduksi dan produksi kambing peranakan etawah,
Pertemuan ilmiah Penelitian Ruminansia kecil. Balitnak. Ciawi, Bogor.
Setiadi, B, Subandriyo dan L. C Iniguez 1995. Reproductive Performance of small ruminants in
outerch pilot project in West java. J. Ilmu Ternak dan Veteriner 1(2) : 73-79.
Socheh, M. 2000. Ilmu Beternak Kambing. Diktat Mata Kuliah Produksi Ternak Potong.
Universitas Jendral Soedirman Fakultas Peternakan, Purwokerto.
Sodiq, A. dan M. Y. Sumaryadi. 2002. Reproductive Performance of kacang and Peranakan
Etawah goat in Indonesia. J. Animal Production 4(2) : 52-59.
Sukendar, A. 2004. Produvtivitas dan dinamika populasi kambing peranakan etawah di desa
Hegarmanah Kecamatan Cicantayan Kabupaten Sukabumi. Skripsi. Fakultas Peternakan.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sutama, I.K., I.G. Putu dan M.W. Tomaszewksa. 1993. Peningkatan produktivitas ternak
ruminansia kecil melalui sifat reproduksi yang lebih efisien. Dalam:Tesis and Reproduksi
kambing dan domba di Indonesia.
Sutama, I. K. 2007. Tantangan dan Peluang Peningkatan Produktivitas Melalui Inovasi Teknologi
Reproduksi.
http//:www.balitnak.litbang.deptan.
go.id/
download/infoteknis/kambingpoton g/prokpo04-6.
Synman, M.A. 2010. Factors affecting pre-weaning kids mortality in South African Anggora. Outh
African Journal of Animal.

795