Anda di halaman 1dari 9

PENGARUH PEMBERIAN SUSU KEDELAI HITAM (Glycine soja) TERHADAP

PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS MODEL DIABETES MELITUS TIPE 2


YANG DIINDUKSI DENGAN STREPTOZOTOCIN
Harris Mullyasari1, Diah Hermayanti2, Bragastio Sidharta3
Abstrak
Latar belakang: Diabetes Melitus adalah penyakit metabolic dengan karakteristik
hiperglikemia karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau dua-duanya.
Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kedelai hitam
(Glycine soja) terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus model diabetes mellitus tipe 2
yang diinduksi dengan streptozotocin.
Metode: Penelitian dilakukan dengan desain eksperimental menggunakan metode The Post
Test Only Control Group Design. Sampel yang digunakan adalah tikus putih jantan (Rattus
norvegicus strain wistar) dengan berat badan 150 200 gram dan berusia 2 3 bulan
sebanyak 25 ekor. Dikelompokkan dalam kelompok kontrol positif, negatif dan tiga kelompok
perlakuan dengan pemberian susu kedelai hitam 200mg/kgBB/hari, 400mg/kgBB/hari dan
800mg/kgBB/hari. Pemberian susu kedelai hitam diberikan selama 14 hari, dilakukan
perlakuan pemberian pakan dan minuman standar selama 21 hari, lalu diinduksi
streptozotocin setelah adaptasi selama 7 hari. Analisis data menggunakan uji normalitas, uji
homogenitas, uji Anova, uji Tukey, uji korelasi dan uji regresi menggunakan program
komputasi statistik SPSS 15.
Hasil: Pemberian susu kedelai hitam terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus model
diabetes melitus tipe 2 menunjukkan hasil yang berbeda tiap dosisnya. Hasil penelitian
menunjukkan pemberian susu kedelai hitam dengan dosis 200mg/kgBB/hari,
400mg/kgBB/hari, 800mg/kgBB/hari secara signifikan (p<0,05) mampu menurunkan kadar
glukosa darah tikus model diabetes tipe 2 dengan korelasi negatif (r=-0,957) yang berarti
semakin tinggi dosis akan diikuti dengan penurunan kadar glukosa darah tikus model
diabetes melitus tipe 2.
Kesimpulan:Kesimpulan penelitian ini adalah peningkatan dosis susu kedelai hitam
mempunyai pengaruh signifikan dalam penurunan kadar glukosa darah tikus model diabetes
melitus tipe 2.
Kata Kunci: susu kedelai hitam, kadar glukosa darah, diabetes melitus tipe 2
Abstract
Background: Diabetes mellitus is a metabolic disease with characteristics of hyperglycemia
due to abnormalities in insulin secretion, insulin action or both.
Objective: The aim of this study is to determine the effect of black soy milk (Glycine soja)
on decreasing the blood glucose levels on rats model diabetes mellitus type 2 induced by
streptozotocin.
Methode: The study was conducted with an experimental design using The Post Test Only
Control Group Design. The sample used is white male rats (Rattus norvegicus strain Wistar)
weigh 150-200 gram and aged 2-3 months as much as 25 animals. Divide into the positive
control group, negative control group and three treatment groups by giving black soy milk as
much as 200 mg / kg body weight / day, 400 mg / kg body weight / day and 800mg / kg body
weight / day. Black soy milk was given for 14 days after treatment of feeding and standard
drinks for 21 days and streptozotocin induced after adaptation for 7 days. Analysis of the
data using normality test, homogeneity test, Anova, Tukey test, correlation, and regression
test using SPSS 15 statistical computing program.
Results: The giving of black soy milk on decreasing the blood glucose levels on rats model
diabetes mellitus type 2 showed different effect for each doses. The results showed by
giving the black soy milk at a dose of 200mg/kg body weight/day, 400mg/kg body
weight/day, 800mg/kg body weight/day significantly (p <0,05) were able to decrease the
blood glucose levels on rats model diabetes mellitus type 2 with a negative correlation (r =
1

-0,957) which means the higher dose, will be followed by decreasing the blood glucose
levels on rats model diabetes mellitus type 2.
Conclusions: The conclusion of this study is the higher dose of the black soy milk has a
significant effect on decreasing the blood glucose levels on rats model diabetes mellitus type
2.
Keywords : black soy milk, blood glucose levels, diabetes mellitus type 2
PENDAHULUAN
Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit
metabolik dengan karakteristik hiperglikemia
yang terjadi karena kelainansekresi insulin,
kerja insulin atau kedua duanya. DM
merupakan penyakit yang bersifat kronis dan
memerlukan pengelolaan seumur hidup
(Fidianingsih, 2011).
World Health Organization (WHO)pada
September 2012 melaporkan bahwa jumlah
penderita DM di dunia mencapai 347 juta
orang dan lebih dari 80% kematian akibat DM
terjadi pada Negara miskin dan berkembang.
Di Indonesia dalam Diabetes Atlas 2000
(International
Diabetes
Federation)
diperkirakan pada tahun 2020 nanti akan ada
sejumlah 178 juta penduduk Indonesia berusia
diatas 20 tahun dengan asumsi prevalensi DM
sebesar 4,6% akan didapatkan 8,2 juta pasien
menderita DM (Yuliani dkk, 2014).
Penatalaksanaan diabetes melitus tipe 2
secara non farmakologi dan farmakologi.
Pengelolaan diabetes melitus yang bersifat non
farmakologi dilakukan dengan pengaturan
makan, latihan jasmani. Sedangkan yang
bersifat farmakologi dilakukan dengan
pemberian golongan obat sulfonilurea,
biguanides, alfa glukosidase inhibitor,
thiazolidinediones, meglitinides, serta injeksi
insulin (Manaf, 2008). Keterbatasan obat
glikemikoral yaitu efikasinya akan hilang
setelah digunakan lebih dari 5 tahun
(Fidianingsih, 2011).
Berbagai bahan alami yang berupa tumbuhan
dapat digunakan sebagai komplemen dalam
pengobatan diabetes melitus tipe 2 karena
mengandung isoflavon yang mempuanyai
kemampuan meningkatkan aktifitas sel beta
pankreas
dan
sebagai
antidiabetik
(Fidianingsih, 2011). Protein yang terkandung
dalam susu kedelai mampu menjaga
keseimbangan hormon insulin. Protein kedelai
juga memiliki banyak manfaat pada diabetes
melitus tipe 2 antara lain dapat menurunkan
kadar glukosa darah, kadar insulin (Wihastuti,
2011).

Kedelai hitam memiliki kandungan


protein 40,4 g/100g dan antioksidan yakni
antosianin dan isoflavon. Isoflavon merupakan
antioksidan golongan flavonoid yang biasa
terdapat pada kedelai dan memiliki efek
bermanfaat padapenderita DM dengan
meningkatkan serum insulin (Sabuluntika,
Ayustaningwarno, 2013).
Kedelai mungkin mempunyai efek
positif secara langsung dalam manajemen
diabetes melalui beberapa mekanisme yang
belum diketahui, salah satunya melalui
peroxisome proliferator activated receptors
(PPAR) yang berperan dalam sel untuk
menjaga keseimbangan lemak dan aksi insulin.
(Bintanah, Kusuma,2010).
Berdasarkan uraian tersebut, maka
penulis melakukan penelitian mengenai efek
pemberian susu kedelai hitam terhadap
penurunan kadar glukosa darah pada tikus
model diabetes melitus tipe 2 yang telah
diinduksi streptozotocin dengan berbagai dosis
yang dapat digunakan untuk pengobatan.
Tujuan umum dari penelitian ini yaitu
untuk membuktikan bahwa susu kedelai hitam
(Glycine
soja)
berpengaruh
terhadap
penurunankadar glukosa darah tikus model
diabetes mellitus tipe 2 yang diinduksi dengan
streptozotocin. Sedangkan, tujuan khusus dari
penelitian ini adalah membandingkan besarnya
penurunan kadar glukosa darah yang terjadi
pada berbagai kelompok tikus putih yang telah
diberi perlakuan serta menentukan dosis
optimal susu kedelai hitam yang dapat
menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian
ini dapat digunakan masyarakat untuk
mengetahui lebih jauh tentang manfaat susu
kedelai
hitam
(Glycine
soja)
untuk
menurunkan kadar gula darah.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian
eksperimental dengan menggunakan metode
The Post Test Only Control Group Design.
Adapun penelitian ini dilaksanakan selama 22
hari bertempat di Laboratorium Farmakologi
Universitas Muhammadiyah Malang. Populasi
dalam penelitian ini adalah tikus putih jantan
(Rattus norvegicus strain wistar). Sampel yang
2

digunakan adalah tikus putih jantan (Rattus


norvegicus strain wistar) dengan berat badan
150 200 gram dan berusia 2 3 bulan
dengan kondisi sehat yang ditandai dengan
gerakan yang aktif serta mata yang jernih.
Sampel ini diambil secara random dari
populasi tikus putih jantan (Rattus norvegicus
strain wistar) sebagai hewan coba. Sampel
terdiri dari 5 kelompok yang diambil secara
random.
Pada penelitian ini terdapat 5 kelompok
perlakuan yaitu I. Kelompok normal tanpa
perlakuan
apapun (kontol negatif), II.
Kelompok kontrol positif (tikus diabetik yang
tidak diberi susu kedelai hitam ), III.
Kelompok kedelai (tikus diabetik yang
mendapat susu kedelai 200mg/kgBB/hari), IV.
Kelompok kedelai (tikus diabetik yang
mendapat susu kedelai 400mg/kgBB/hari), V.
Kelompok kedelai (tikus diabetik yang diberi
kedelai 800mg/kgBB/hari) (Purwaningsih,
Maryatun, 2010).
Estimasi besarnya sampel yang
digunakan pada penelitian ini adalah dengan
rumus berikut :
(t 1) (n 1) 15
(t 1) (5 1) 15
4t 4
15
T
4,75 5 (Supranto,
2007)
Keterangan :
n = perlakuan
t = jumlah sampel perlakuan
Jadi jumlah sampel keseluruhan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah 25 ekor
tikus. 25 ekor tikus dibagi menjadi 5 kelompok
dan tiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus.
Karakteristik Inklusi Sampel Penelitian
antara lain : tikus berumur 2 3 bulan, berat
badan 150 200 gram, jenis kelamin jantan,
strain wistar, sehat (ditandai dengan gerakan
yang aktif, bulu bewarna putih serta matanya
jernih). Adapun kriteria eksklusi yaitu : Tikus
yang pernah dibuat penelitian sebelumnya,
tikus yang mati sebelum proses perlakuan.
Kriteria Dropout pada penelitian ini yaitu tikus
yang mati selama proses perlakuan.
Variabel bebas dalam penelitian ini
adalah pemberian dosis susu kedelai hitam
(Glycine Soja). Variabel tergantung dalam
penelitian ini adalah kadar glukosa darah pada
tikus putih jantan (Rattus norvegicus strain
wistar).
Definisi Operasional

a. Susu kedelai hitam adalah susu


yang dibuat dari kedelai hitam
(Glycine soja). Susu kedelai hitam
diberikan
dengan
dosis
200mg/kgBB/hari,
400mg/kgBB/hari,
800mg/kgBB/hari dengan cara
disonde modifikasi (Purwaningsih,
Maryatun, 2010).
b. Streptozotocin
adalah
suatu
senyawa
glukosaminenitrosourea
seperti agen alkilating lainnya pada
kelas nitrosourea (R-NO), STZ
menimbulkan
toksik
dengan
menyebabkan kerusakan pada DNA
sel.Pemberian
streptozotocin
sebanyak 60mg/kg BB diinjeksi
secara intraperitoneal pada kuadran
kiri abdomen (Akbarzadeh et al,
2007).
c. Kadar glukosa darah adalah istilah
yang mengacu kepada tingkat
glukosa di dalam darah.Kadar
glukosa darah tikus percobaan
ditentukan dengan menggunakan
metode enzimatik dengan pereaksi
Glucose Oxidase Phenol 4Aminoantipyrine(GOD PAP) dan
dibaca
menggunakan
spektrofotometer .
Dasar Penentuan Dosis Kedelai Hitam
a. Pemberian susu kedelai hitam
dilakukan sehari satu kali dibagi
menjadi 3 dosis secara gastric
lavage menggunakan sonde selama
14 hari (Handayani et al, 2009).
b. Dosis minimal yang digunakan
pada
penelitian
adalah
200mg/kgBB/hari dan komposisi
dosis dalam penelitian ini dibagi
dalam 3 dosis perlakuan. Hal ini
berdasarkan penelitian pengaruh
suspense bubuk kedelai terhadap
penurunan kadar glukosa darah
pada tikus putih diabetes melitus
yang diinduksi streptozotocin.
Pembagian dosis ini berdasarkan
hasil penelitian Purwaningsih,
Maryatun (2010) yang menyatakan
bahwa
dosis
yang
dapat
menurunkan kadar glukosa darah
secara signifikan yaitu : dosis 1 :
200mg/kgBB/hari,dosis2:
400mg/kgBB/hari, dosis 3 :
800mg/kgBB/hari.
3

Alat yang digunakan dalam penelitian


ini antara lain :
a. Timbangan untuk menimbang berat
badan tikus
b. Alat pemeliharaan tikus :
1. Bak tikus
2. Penutup kandang dari anyaman
kawat
3. Botol air
c. Alat pembuatan susu kedelai hitam
1. Panci
2. Blender
3. Kain kasa
4. Kompor (Cahyadi, 2012)
d. Alat untuk memberikan perlakuan
1. Sarung tangan
2. Spuit dan sonde modifikasi
3. Spuit injeksi 3 ml
e. Alat pengambilan darah
1. Sarung tangan
2. Spuit injeksi 3 ml
3. Tabung plastik ependorf
4. Mikropipet
5. Papan lilin
6. Jarum
Bahan yang diperlukan dalam penelitian
ini yaitu :
a. Bahan pemeliharaan tikus
1. Bahan pakan BR-1
2. Air
3. Sekam
b. Bahan pembuatan susu kedelai
hitam
1. Kedelai hitam kering 1 kg
2. Air panas 8 liter
3. Air dingin untuk perendaman 3
liter (Cahyadi, 2012)
c. Bahan untuk perlakuan
1. Reagen Diasys
2. Ethanol 70%
3. Kloroform
d. Hewan percobaan
e. Streptozotocin
Prosedur penelitian yang dilakukan ini
yaitu tikus yang digunakan sebanyak 25 ekor
tikus yang terbagi dalam 5 kelompok dan tiap
kelompok terdiri dari 5 ekor tikus
a. Kelompok I : diberi pakan, minuman
standar tanpa induksi streptozotocin
dan pemberian susu kedelai hitam
selama 21 hari.
b. Kelompok II : diberi pakan, minuman
standar selama 21 hari dan diinduksi
streptozotocin setelah adaptasi tanpa
pemberian susu kedelai hitam.

c. Kelompok III : diberi pakan, minuman


standar selama 21 hari dan diinduksi
streptozotocin setelah adaptasi serta
pemberian susu kedelai hitam dengan
dosis 200mg/kgBB/hari selama 14
hari.
d. Kelompok IV : diberi pakan, minuman
standar selama 21 hari dan diinduksi
streptozotocin setelah adaptasi serta
pemberian susu kedelai hitam dengan
dosis 400mg/kgBB/hari selama 14
hari.
e. Kelompok V : diberi pakan, minuman
standar selama 21 hari dan diinduksi
streptozotocin
setelahadaptasiserta
pemberian susu kedelai hitam dengan
dosis 800mg/kgBB/hari selama 14
hari.
Proses adaptasi hewan coba dalam
kandang selama 7 hari dengan tujuan agar
tikus menyesuaikan diri terhadap lingkungan
yang baru. Adaptasi dilakukan di laboratorium
sebelum dilakukan injeksi streptozotocin
sambil diamati kesehataannya.
Pada pembuatan susu kedelai, biji
dibersihkan dari kotoran, kerikirl, pasir,
potongan ranting dan batang kedelai. Biji
rusak dan berkapang harus dibuang. Pencucian
dilakukan sampai air bilasan tampak jernih.
Kemudian biji yang telah dicuci, direndam
dalam air selama 8 jam. Air diganti ganti
setiap 2 sampai 3 jam. Setelah itu, kedelai
ditiriskan. Setelah itu kedelai dimasukkan ke
dalam air mendidih. Perendaman di dalam air
panas ini berlangsung selama 20 menit.
Setelah itu kedelai diangkat dan didinginkan
dengan air mengalir, kemudian ditiriskan. Biji
kedelai dihaluskan dengan blender sampai
menjadi
bubur
kedelai.
Penggilingan
dilakukan sambil ditambahkan air panas. Jika
air panas yang disediakan tidak habis untuk
menggiling kedelai, sisa air dicampurkan
dengan bubur kedelai, kemudian aduk aduk
selama 3 menit. Bubur kedelai kemudian
disaring dan diperas dengan kain saring
rangkap dua. Cairan yang diperoleh disebut
sebagai susu kedelai mentah. Setelah itu susu
kedelai dipanaskan sampai mendidih dan
selanjutnya direbus selama 5 10 menit
(Cahyadi, 2012).
Pembuatan
Larutan
Streptozotocin
dilakukan
dengan
cara
melarutkan
streptozotocin 100 gram ke dalam 3 ml buffer
sitrat PH 4,5. Setelah itu di vortex hingga
homogen. Setelah dia homogen, sudah
4

menjadi streptozotocin stok. Disimpan pada


suhu 4 C. Dan sudah bisa dipakai
(Wihastuti,2011).
Dua puluh lima ekor tikus kemudian
dibagi dalam lima kelompok secara random,
masing masing sebanyak 5 ekor. Kelompok I
tidak diberi streptozotocin karena kelompok I
adalah kelompok kontrol negatif. Sedangkan
untuk kelompok II, III, IV, dan V diberi
perlakuan
pemberian
injeksi
larutan
streptozotocin dengan dosis 60mg/kgBB
secara intraperitoneal untuk mendapatkan tikus
Diabetes Melitus Tipe 2 (Akbarzadeh et al,
2007).
Dosis pemberan susu kedelai hitam
yang diberikan yaitu : 1. Dosis I :
200mg/kgBB/hari,
2.
Dosis
II
:
400mg/kgBB/hari,
3.
Dosis
III
:
800mg/kgBB/hari.
Pemberian susu kedelai hitam selama 14
hari melalui sonde. Untuk keseragaman
pemberian susu kedelai hitam dilakukan setiap
hari selama 14 hari setiap jam 12.00 13.00.
Anastesi ini dilakukan satu persatu
terhadap
hewan
coba
yaitu
dengan
memasukkan hewan coba kedalam toples kaca
yang berisi kapas yang sudah dicampur dengan
kloroform. Penggunaan kloroform oleh karena
bahan mudah didapat. Anastesi dilakukan
secara inhalasi pada hewan coba dengan dosis
kloroform 10 ml per 10 hewan coba, anastesi
dilakukan sampai tikus pingsan, kemudian
dihitung selama 20 detik, kemudian langsung
diangkat dari toples pembiusan untuk
dilakukan
pembedahan
(Purwaningsih,
Maryatun, 2010).
Setelah hewan coba teranastesi dengan
baik (keadaan pingsan), hewan coba
diletakkan pada meja lilin dan keempat kaki
hewan coba difiksasi terhadap meja lilin
dengan menggunakan jarum pentul. Dengan
menggunakan gunting bedah, dilakukan
pembedahan abdomen hingga setinggi leher.
Kemudian dengan menggunakan spuit 3 ml,
darah hewan coba siap diambil (Purwaningsih,
Maryatun, 2010).
Agar
serum
memisah
dengan
sempurna, darah yang ditampung di tabung
plastik ependorf di sentrifuge selama 15 20
menit dengan kecepatan 2500 rpm.Serum
yang diperoleh diambil sebanyak 10 l
kemudian ditambahkan 1 ml reagen GOD-PAP
(GlukosaOksidase

Phenol
Amino
Peroksidase),
divertekselama
5
detik
kemudian diinkubasi pada suhu 37 C selama

10 menit. Absorbansi diukur dengan


spektrofotometer dengan panjang gelombang
505 nm(Purwaningsih, Maryatun, 2010).
Data data yang diperoleh dalam
penelitian ini dianalisis menggunakan uji
normalitas, uji homogenitas, uji Anova, uji
Tukey, uji korelasi, dan uji regresi dengan
menggunakan program komputasi statistik
SPSS 15.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam pengujian efek pemberian susu
kedelai hitam (Glycine soja) terhadap
penurunan kadar glukosa darah tikus diabetes
mellitus tipe 2 digunakan bentuk susu kedelai
hitam dengan variasi dosis yang berbeda untuk
masing masing perlakuan yaitu dosis
200mg/kgBB/hari,
400mg/kgBB/hari,
800mg/kgBB/hari, serta satu kelompok kontrol
negatif dan satu kelompok kontrol positif.
Hasil dari penelitian adalah sebagaimana
tertera pada table 5.1 sebagai berikut.
Tabel 5.1 Hasil Penelitian Rata Rata Kadar
Glukosa Darah (mg/dL)

Perlak
uan

Kelom
pok 1
(Kelo
mpok
Negati
f)
Kelom
pok 2
(Kelo
mpok
Positif)
Kelom
pok 3

Kelompok

Rat
a
Rat
a

Sta
nda
rt
De
via
si

164.
9

36.
9

1
1
1
6.
8

2
2
0
2.
5

3
1
6
0.
8

4
1
5
8.
6

5
1
3
7.
9

6
2
1
2.
7

4
5
3.
3

5
0
7.
2

5
2
6.
2

4
9
7.
7

4
8
9.
3

494.
7

26.
9

4
5
9.
1
2
5
8.
4
2
3
8.
6

4
1
5.
2
2
6
6.
2
1
5
5.
8

4
4
2.
7
-

4
5
6.
3
3
1
5.
9
1
2
5.
9

431.
5

31.
7

2
8
1.
3
1
5
5.
2

293.
7

36.
9

164.
0

49.
7

3
8
4.
2
Kelom 3
pok 4
4
6.
8
Kelom 1
pok 5
0
4.
2
Keterangan :
Dosis susu

2
0
4.
5

kedelai hitam kelompok 3


(200mg/kgBB/hari),
kelompok 4 (400mg/KgBB/hari), kelompok 5
(800mg/kgBB/hari).
Berdasarkan tabel 5.1 diatas terlihat bahwa
adanya pengaruh pemberian susu kedelai
hitam (Glycine soja) tersebut mulai terlihat
dimana kadar glukosa darah tikus putih
menjadi menurun setelah diberikan perlakuan
berupa susu kedelai hitam (Glycine soja) mulai
pada dosis 200mg/kgBB/hari dibandingkan
dengan kadar glukosa tikus pada kelompok
kontrol positif. Kemudian kadar glukosa
cenderung semnakin menurun ketika diberi
dosis
400mg/kgBB/hari
dan
800mg/kgBB/hari. Adapun adanya perbedaan
kadar glukosa darah tikus putih secara
keseluruhan pada setiap perlakuan di atas juga
dapat digambarkan dalam bentuk grafik
sebagai berikut.

Gambar 5.1 Grafik Kadar Glukosa Darah


Berdasarkan hasil pengamatan secara
deskriptif pada kelompok 1 (kontrol negatif)
dan kelompok 2 (kontrol positif), didapatkan
perbedaan yang signifikan rata rata jumlah
kadar glukosa pada kelompok tersebut (uji
anova dan uji tukey sig 0,000). Perbedaan
jumlah kadar glukosa darah yang sangat
bermakna ini dikarenakan pada kelompok 1
(kontrol negatif) hewan coba hanya diberikan
pakan standart, sedangkan pada kelompok 2
(kontrol positif) hewan coba diberikan induksi
streptozotocin
sehingga
mengalami
peningkatan kadar glukosa darah. Hal ini
sejalan dengan penelitian sebelumnya bahwa
pemberian alloxan, induksi streptozotocin
induksi hiperglikemi vacor, dithizone, 8hidroksikuinolon, danobat hipertensi diaksosid
(induksi hiperglikemi) akan meningkatkan rata
rata kadar glukosa darah (Nugroho, 2006).
Secara fisiologis di seluruh tubuh,
kerja insulin dipengaruhi oleh peran hormon
lain. Insulin bersama GH dan IGF-I
mendorong proses metabolik pada saat makan.
GH disekresi sebagai respon terhadap
peningkatan insulin, sehingga tidak terjadi
hipoglikemia
akibat
insulin.
Hormon
kontraregulator insulin seperti glukagon,
glukokortikoid, dan ketokelamin mendorong
proses metabolik pada saat puasa. Sekresi
yang berlebihan dari hormon hormon
kontraregulator akan berakibat resistensi
insulin (Prabawati, 2012). Oleh sebab itulah
pada kelompok 1 yang merupakan kontrol
negatif juga terjadi kenaikan kadar glukosa
darah.
Sedangkan pada kelompok 2 yang
merupakan kontrol positif, hewan coba
diinduksi dengan streptozotocin tanpa
pemberian susu kedelai hitam. STZ membuat
hewan menjadi diabetogenik dengan cara
masuk ke dalam sel pankreas melalui
reseptor yang sama dengan glukosa yaitu
GLUT-2. Setalah itu STZ mengeluarkan
6

senyawa NO yang dapat mengaktifasi ROS


sehingga terjadi pembentukan radikal bebas
berupa O2-, OH, H2O2 yang bersifat sangat
toksik, menyebabkan terjadinya kerusakan
DNA yang mengaktifasi poly ADP-ribose,
penekanan NAD+ dan ATP, sehingga terjadi
penurunan jumlah ATP. Dengan mekanisme
tersebut menyebabkan disfungsi sel pankreas
yang pada akhirnya menghambat sekresi
insulin dan sintesin insulin, sehingga glukosa
darah meningkat (Nugroho, 2006). Hal ini
menyebabkan pada kelompok 2 dapat terjadi
kenaikan kadar glukosa darah dengan rata
rata jumlah yang sangat tinggi dibandingkan
kelompok 1.
Hasil analisis uji Tukey antara
kelompok 2 dengan kelompok 3 yang
memiliki sig 0,097 yang berarti tidak berbeda
signifikan. Sedangkan pada kelompok 2
dengan kelompok 4 dan 5 dengan sig 0,000
yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan antara kelompok kontrol positif
dengan kelompok dosis 400mg/kgBB/hari dan
800mg/kgBB/hari. Hal ini dikarenakan adanya
pembuktian bahwa isoflavon pada kedelai
berfungsi sebagai antioksidan (Astuti, 2008).
Penelitian ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya oleh Purwaningsih, Maryatun
(2010) yang menggunakan suspensi bubuk
kedelai dapat menurunkan kadar glukosa darah
pada tikus diabetes yang diinduksi dengan
streptozotocin dan penelitian Bitanah, Kusuma
(2010) yang menggunakan bekatul dan tepung
tempe terhadap profil gula darah pada tikus
yang diberi alloxan.
Sebagai
antioksidan,
senyawa
isoflavon diharapkan dapat menetralkan
senyawa radikal bebas, baik yang dihasilkan
oleh tubuh selama metabolism normal,
maupun akibat hiperglikemia sehingga dapat
mencegah disfungsi sel atau berpotensi
menjaga sel dari kerusakan yang lebih parah
(Astuti, 2008).
Isoflavon
berfungsi
sebagai
antioksidan primer karena berperan sebagai
kseptor radikal bebas sehingga dapat
menghambat reaksi rantai radikal bebas pada
oksidasi. Senyawa bioaktif isoflavon yang
mengandung gugus fenolik telah dilaporkan
mempunyai kemampuan sebagai antioksidan
dan mencegah terjadinya kerusakan akibat
radikal bebas melalui dua mekanisme, yaitu :
mendonorkan ion hidrogen dan bertindak
sebagai scangever radikal bebas secara
langsung (Astuti, 2008).

Struktur meta 5,7-dihidroksil pada


cincin A menunjukkan kemampuan isoflavon
untuk berperan sebagai donor ion hidrogen
sehingga terbentuk senyawa yang lebih stabil
dan terbentuk radikal feknoksil yang kurang
reaktif, sedangkan gugus 4-dihidroksil pada
cincin B senyawa isoflavon berperan sebagai
scangever senyawa ROS. Sehingga dapat
membentuk radikal flavonoid yang relative
lebih stabil (Astuti, 2008).
Berdasarkan hasil analisis uji Tukey
antara kelompok 1 dengan kelompok 3 dan 4
memiliki sig 0,000 yang berarti terdapat
perbedaan yang signifikan. Sedangkan hasil
analisis pada kelompok 1 dan kelompok 5
memiliki sig 1,000 yang berarti tidak berbeda
signifikan. Hal ini dikarenakan dosis susu
kedelai hitam pada kelompok 5 yang paling
tinggi
(800mg/kgBB/hari)
dibandingkan
kelompok 3 dan 4 sehingga rata rata jumlah
kadar glukosa darah pada kelompok 5
menyamai rata rata jumlah kadar glukosa
darah pada kelompok 1 (kontrol negatif). Hal
ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh
Purwaningsih,
Maryatun
(2010)
yang
menggunakan suspensi bubuk kedelai hitam
dengan dosis 800mg/kgBB/hari yang juga
dapat menurunkan kadar glukosa darah pada
tikus yang diinduksi dengan streptozotocin.
Hasil analisis uji Korelasi (Pearson
correlation) yang memiliki nilai -0,957 dan sig
0,000 yang menunjukkan bahwa didapatkan
korelasi terbalik yang sangat kuat dan
signifikan antara penigkatan dosis susu kedelai
hitam dengan penurunan rata rata kadar
glukosa darah. Semakin tinggi dosis susu
kedelai hitam, rata rata kadar glukosa darah
juga seakin menurun. Hal ini sejalan dengan
penelitian Purwaningsih, Maryatun (2010)
yang menggunakan suspensi bubuk kedelai
dengan
kandungan
isoflavon
sebagai
antioksidan yang dapat memberikan perubahan
pada kadar glukosa darah yang lebih bermakna
dengan dosis yang lebih tinggi dengan
menurunkan kadar glukosa darah.
Berdasarkan hasil analisis uji regresi
didapatkan nilai R2 = 0,915 dan nilai sig 0,000
yang berarti bahwa dengan peningkatan dosis
susu
kedelai
hitam
yang
diberikan
berpengaruh signifikan sebesar 91,5%
terhadap penurunan rata rata kadar glukosa
darah. Sedangkan sisanya (8,5%) dipengaruhi
oleh faktor faktor lainnya, seperti genetik,
stres oksidatif. (Guyton, 2007; Astiyandani
dkk, 2010). Namun, faktor faktor tersebut
7

tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan


persamaan regresi, diperkirakan dosis susu
kedelai hitam yang dapat menurunkan rata
rata kadar glukosa darah hingga menyamai
kadar normal seperti kontrol negatif sebesar
776 mg/kgBB/hari.
Disposisi genetik juga berperan
penting. Namun, terdapat defisiensi insulin
relatif yang berarti pasien tidak mutlak
bergantung pada suplai insulin luar. Pelepasan
insulin dapat normal atau bahkan meningkat,
tetapi organ target memiliki sensitifitas yang
berkurang terhadap insulin (Guyton, 2007).
Mediator mayor terjadinya resistensi insulin
diinduksi oleh stres oksidatif. Stres oksidatif
adalah keadaan tidak seimbang antara radikal
bebas dan sistem antioksidan (Astiyandani
dkk, 2010). Penurunan transport glukosa ke
dalam sel adalah akibat dari metabolisme free
fatty acid, yang produk akhirnya adalah ROS,
secara langsung mempengaruhi aktivitas
GLUT-4 (Prabawati,2012). Stres oksidatif
mengakibatkan hambatan fosforilasi kaskade
protein untuk pengambilan glukosa dan
mengurangi sensitifitas terhadap insulin
sehingga terjadilah resistensi terhadap insulin
(Astiyandani dkk, 2010).
Penurunan rata rata kadar glukosa
darah pada kelompok pemberian dosis susu
kedelai hitam yang paling tinggi dalam
penelitian ini (kelompok 5, dosis susu kedelai
hitam 800mg/kgBB/hari) sudah menyamai
kadar normal seperti pada kelompok 1 yang
merupakan kontrol negatif.
KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan,
dapat disimpulkan bahwa, pemberian susu
kedelai hitam (Glycine soja) terbukti dapat
menurunkan kadar glukosa darah tikus putih
model diabetes melitus tipe 2. Semakin tinggi
dosis susu kedelai hitam (Glycine soja) akan
semakin menurunkan kadar glukosa darah
tikus putih model diabetes mellitus tipe 2.
Dosis susu kedelai hitam (Glycine soja) yang
dapat memberikan pengaruh kuat dalam
penurunan kadar glukosa darah tikus model
diabetes mellitus tipe 2 adalah 800 mg/ kgBB/
hari.
SARAN
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
tentang mekanisme kerja dari susu kedelai

hitam (Glycine soja) dan senyawa lain yang


terkandung di dalamnya terhadap kadar
glukosa darah, penelitian efek lain dari
pemberian susu kedelai hitam (Glycine soja)
yang berkaitan dengan diabetes mellitus tipe 2
serta efek samping (toksisitas) dari pemberian
susu kedelai hitam (Glycine soja) terhadap
manusia dalam upaya untuk menurunkan
kadar glukosa darah, dan perlu dilakukan
penelitian lanjutan dengan memperluas
variable yang diteliti maupun pengembangan
indikator serta item yang ada yang diduga
dapat berpengaruh terhadap kadar glukosa
darah tikus putih strain wistar (Rattus
norvegicus) selain dengan pemberian susu
kedelai hitam (Glycine soja).
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association. 2013.
Diagnosis and Classification of
Diabetes Mellitus. Diabetes Care.
Volume 36 Supplement 1. pp. S67
S74.
Cahyadi, W. 2012. Kedelai Khasiat dan
Teknologi. Bumi Aksara. Jakarta. hal.
5 39.
Erwin, Etriwati, Rusli. 2012. Mencit (Mus
musculus) Galur BALB C yang
Diinduksikan Streptozotocin Berulang
sebagai Hewan Model Diabetes
Melitus. Jurnal Kedokteran Hewan
Volume 6 No.1. Laboratorium Klinik
Fakultas
Kedokteran
Hewan
Universitas Syiah Kuala. hal. 47 50.
Kurniawan F, Surja SS. 2013. Gandum
Sebagai Faktor Pencetus Diabetes
Mellitus Tipe 1 pada Anak. CDK-201
Vol. 40 No.2. Fakultas Kedokteran
Universitas Katolik Indonesia Atma
Jaya. Jakarta. hal. 102 106.
Ndraha, S. 2014. Diabetes Melitus Tipe 2 dan
Tatalaksana Terkini. Medicinus Vol.
27 No.2. Departemen Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Krida
Wacana. Jakarta. hal. 9 16.
Prabawati, RK. 2012. Mekanisme Seluler dan
Molekular Resistensi Insulin. Thesis.
Program Double Dolgree Neurologi.
Fakultas
Kedokteran
Universitas
Brawijaya. Malang.
Rukmana HR, Yudirachman HH. 2013. Raup
Untung Bertanam Kedelai Hitam. Lily
Publisher. Yogyakarta. hal. 1 139.
Shrivastava SR, Shrivastava PS, Ramasamy J.
2013.
Role
of
Self-Care
in
8

Management of Diabetes Mellitus.


Journal of Diabetes & Metabolic
Disorders Volume 12. Department of
Community Medicine Shri Sathya Sai
Medical College & Research Institute
Tamil Nadu. India. pp. 1 15.
Yuliani F, Oenzil F, Iryani D. 2014. Hubungan
Berbagai Faktor Risiko Terhadap
Kejadian Penyakit Jantung Koroner
pada Penderita Diabetes Melitus Tipe
2. Jurnal Kesehatan Andalas Volume 3.
No.1. Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas. Sumatra Barat. hal. 37 40.