Anda di halaman 1dari 27

TUGAS PROSEDUR PENATALAKSANAAN

SUMBATAN JALAN NAFAS

Oleh:
Azmiadi
(1414201108)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN FORT DE KOCK
TAHUN AJARAN 2015/2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Obstruksi jalan napas menyebabkan gejala sesak napas. Sesak napas adalah
kesukaran bernapas yang dirasakan oleh pasien sebagai suatu gejala subjektif.
Kelainan sesak napas dapat disebabkan oleh kelainan rongga dada, kelainan paru,
sumbatan saluran napas, kelainan vaskuler paru dan lain-lain. Sesak napas di
bidang THT terutama disebabkan oleh sumbatan saluran napas atas, sumbatan
bronkus secara mekanik disebabkan oleh gangguan ventilasi, dan drainase sekret
bronkus. Secara fisiologis, bronkus yang

sangat erat hubungannya dengan

ventilasi dan drainase paru, daya pertahanan paru, tekanan intrapulmonal,


keseimbangan sirkulasi dan tekanan karbondioksida. Drainase paru secara
normal, bila terdapat infeksi traktus trakheobronkhial dilakukan dengan gerak
silia, batuk sehingga sekret yang terkumpul dapat dikeluarkan sebelum terjadi
penyempitan saluran napas. Apapun yang mempengaruhi mekanisme fisiologis
tersebut menyebabkan terjadinya sumbatan bronkus. Faktor lain adalah silia yang
tertutup oleh edema mukosa dan sekret kental yang disebabkan oleh peradangan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Obstruksi Saluran Napas Atas


Obstruksi saluran napas atas adalah sumbatan pada saluran napas atas (laring)
yang disebabkan oleh adanya radang, benda asing, trauma, tumor dan kelumpuhan
nervus rekuren bilateral sehingga ventilasi pada saluran pernapasan terganggu.1
B. Penyebab dan Gejala Klinis Obstruksi Saluran Napas Atas
Obstruksi saluran napas bagian atas disebabkan oleh trauma, tumor, infeksi
akut, kelainan kongenital hidung atau laring, difteri, paralysis satu atau kedua
plika vokalis, pangkal lidah jatuh ke belakang pada penderita yang tidak sadar
karena penyakit, cedera, atau narkose maupun karena benda asing.
Obstruksi saluran napas bagian atas ditandai dengan sesak napas, stridor
inspiratore, ortopne, pernapasan cuping hidung, dan cekung di daerah jugularissupraklavikula-interkostal. Selanjutnya penderita akan sianotik dan gelisah.
Obstruksi jalan napas atas
Kelainan Kongenital
Atresia koane
Koane dapat menyumbat total atau sebagian, di satu atau dua sisi, akibat
kegagalan absorpsi membran bukofaringeal. Obstruksi mungkin berupa membran
atau tulang. Gejalanya ialah kesulitan bernapas dan keluar sekret hidung terus
menerus. Diagnosis mudah dibuat dengan timbulnya sianosis pada waktu diam yang
menghilang pada waktu menangis, dan melihat sumbatan di belakang rongga hidung.
Pengobatan dengan pembedahan.
Sindrom Piere Robin

Sindrom ini terdiri dari trias gejala yaitu mikrognasia, celah langit-langit, dan
oleh karena mikrognasia, lidah jatuh ke belakang mengakibatkan obstruksi jalan
napas atas. Kadang sindroma ini disertai defek pada mata.
Selaput (web) glotis dan stenosis glotis
Pita suara terbentuk dari membran horizontal primordial yang terbelah pada
garis tengah. Kegagalan pemisahan mengakibatkan berbagai derajat stenosis glotis,
mulai dari selaput pada komisura anterior sampai atresia total glotis. Biasanya
ditandai suara parau sedangkan pada bayi menifestasinya berupa suara serak dan
menangis tidak keras. Derajat sesak dan disfonia tergantung dari luasnya kelainan.
Pengobatan sementara pada bayi atau anak dengan businasi. Diperlukan
tindakan bedah untuk memisahkan pita suara melalui tirotomi.
Obstruksi di subglotis jarang ditemukan, yaitu berupa penyempitan jalan
napas setinggi rawan krikoid.
Radang
Angina Ludwig
Angina Ludwig ialah selulitis di dasar mulut dan leher akut yang invasif,
menyebabkan udem hebat di leher bagian atas yang dapat menyumbat jalan napas.
Kuman penyebab biasanya streptokokus atau stafilokokus. Infeksi biasanya berasal
dari lesi di mulut seperti abses alveolar gigi atau infeksi sekunder pada karsinoma
dasar mulut. Kelainan ini cepat meluas melalui ruang fasia tertutup dan dapat
menyebabkan udem glotis yang dapat mengancam jiwa karena obstruksi jalan napas.
Karena radang dasar mulut ini lidah terdorong ke palatum dan ke dorsal, ke arah
dinding dorsal faring sehingga menutup jalan napas.
Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis dan dibantu dengan pemeriksaan
biakan dan uji kepekaan kuman dari nanah.
Bila dapat dibuat diagnosis dini maka pemberian antibiotik kadang-kadang
memberikan hasil yang memuaskan. Bila pembengkakan leher dan dasar mulut tidak

segera berkurang maka dilakukan dekompresi terhadap ruang fasia yang tertutup di
dasar mulut dan leher, selanjutnya dipasang pipa penyalir.
Trauma
Menelan bahan kaustik
Larutan asam kuat seperti asam sulfat, nitrat dan hidroklorit, atau basa kuat
seperti soda kaustik, potasium kaustik dan ammonium bila tertelan dapa
mengakibatkan terbakarnya mukosa saluran cerna. Pada penderita yang tak sengaja
minum bahan tersebut, kemungkinan besar luka baker hanya pada mulut dan faring
karena bahan tersebut tidak ditelan dan hanya sedikit saja masuk ke dalam lambung.
Tetapi pada mereka yang coba bunuh diri akan terjadi luka bakar yang luas pada
esofagus bagian tengah dan distal karena larutan tersebut berdiam di sini agak lama
sebelum memasuki kardia lambung.
Diagnosis didasarkan riwayat menelan zat kaustik dan adanya luka bakar di
sekitar dan di dalam mulut. Kasus kecelakaan biasanya terjadi pada anak usia
dibawah enam tahun, sedangkan kasus bunuh diri pada dewasa.
Trauma trakea
Trauma tajam atau tumpul pada leher dapat mengenai trakea. Trauma tumpul
tidak menimbulkan gejala atau tanda tetapi dapat juga mengakibatkan kelainan hebat
berupa sesak napas, karena penekanan jalan napas atau aspirasi darah atau emfisema
kutis bila trakea robek.
Dari pemeriksaan photo roentgen dapat dilihat benda asing, trauma penyerta
seperti fraktur vertebra servikal atau emfisema di jaringan lunak di mediastinum,
leher dan subkutis.
Trauma tumpul trakea jarang memerlukan tindakan bedah. Penderita
diobservasi bila terjadi obstreksi jalan napas dikerjakan trakeotomi. Pada trauma
tajam yang menyebabkan robekan trakea segera dilakukan trakeotomi di distal
robekan. Kemudian robekan trakea dijahit kembali.

Trauma intubasi
Pemasangan pipa endotrakea yang lama dapat menimbulkan udem laring dan
trakea. Keadaan ini baru diketahui bila pipa dicabut karena suara penderita terdengar
parau dan ada kesulitan menelan, gangguan aktivitas laring, dan beberapa derajat
obstruksi pernapasan. Pengobatan dilakukan dengan pemberian kortikosteroid. Bila
obstruksi napas terlalu hebat maka dilakukan trakeotomi.
Stenosis trakea adalah komplikasi pemasangan pipa endotrakea berbalon
dalam waktu lama. Tekanan balon menyebabkan nekrosis mukosa trakea disertai
penyembuhan dengan jaringan fibrosis yang mengakibatkan stenosis.
Pengobatan stenosis ini berupa peregangan bagian yang stenosis dalam waktu
lama, tetapi seringkali perlu dilakukan reseksi segmental trakea dan anstomosis ujung
ke ujung.
Dislokasi krikoaritenoid
Trauma pada laring dapat menyebabkan dislokasi persendian krikoaritenoid
yang mengakibatkan suara parau disertai obstruksi jalan napas bagian atas. Pada
pemeriksaan roentgen leher tampak dislokasi struktur laring, penyempitan jalan
napas, dan udem jaringan lunak.
Penanganannya berupa trakeotomi, kemudian dislokasi direposisi secara
terbuka dan dipasang bidai dalam. Kelambatan penanganan dislokasi krikoaritenoid
dapat mengakibatkan stenosis laring.
Paralisis korda vokalis bilateral
Kedua pita suara tidak dapat bergerak sedangkan posisinya paramedian dan
cenderung bertaut satu sama lain waktu inspirasi. Penderita mengalami sesak napas
hebat yang mungkin memerlukan intubasi dan atau trakeotomi.
Tumor
Papiloma laring rekuren (papilomatosis laring infantil)

Tumor epithelial papiler yang multipel pada laring ini disebabkan oleh papova
virus yang banyak didapatkan di lembah sungai Missisipi (AS). Penderitanya sering
mempunyai veruka kulit yang mengandung virus. Biasanya kelainan sudah mulai
pada usia dua tahun. Jika si ibu mempunyai veruka vagina maka kelainan ini dapat
terjadi pada bayi usia enam bulan.
Gejala khas berupa disfonia dan sesak napas yang bertambah hebat sampai
terjadi sumbatan total jalan napas.
Terapi terdiri dari pembedahan dengan mikrolaringoskopi. Eksisi papiloma
dilakukan tanpa mengikutsertakan jaringan sehat. Kadang digunakan laser CO2,
pembedahan dingin atau radiasi ultrasonik. Angka kekambuhan tinggi sehingga perlu
dilakukan pembedahan berulang kali.
Papiloma pada orang dewasa merupakan lanjutan dari papilomatosis infantile
atau tumbuh pada usia pertengahan dan tetap sebagai satu lesi tunggal terbatas pada
satu korda.
Kedua keadaan ini dapat berubah jadi karsinoma sel skuamosa. Perubahan ke
keganasan terjadi khusus pada penderita yang sebelumnya pernah mendapat
radioterapi. Penanganannya sama seperti pada anak-anak, hanya tidak memerlukan
trakeotomi.
Neoplasma tiroid
Karsinoma tiroid dapat berinvasi ke laring dan mempengaruhi jalan napas.
Adanya invasi ini harus dicurigai bila tumor tiroid tidak dapat digerakkan dari
dasarnya, disertai suara parau dan gangguan napas. Pada pemeriksaan photo roentgen
leher terlihat distorsi laring atau bayangan suatu massa yang menonjol ke lumen
laring dan trakea.
Kadang tumor tiroid berada pada saluran napas atas secara primer. Diduga
tumor primer di laring atau trakea bagian atas berasal dari sisa tiroid yang terletak
dalam submukosa yang melapisi krikoid dan cincin trakea atas yang ditemukan pada
1-2 % populasi. Tumor ini harus dieksisi dengan laringektomi.
Udem angioneurotik

Udem angiopneurotik mukosa laring adalah salah satu penyebab obstruksi


laring yang disebabkan oleh alergi. Gejala berupa suara parau yang progresif setelah
kontak dengan menghirup atau menelan alergen tanpa tanda infeksi. Kadang
diperlukan trakeotomi untuk menyelamatkan jiwa.
C. Diagnosis Obstruksi Saluran Napas Atas
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan fisik, serta
pemeriksaan penunjang.
Gejala dan tanda sumbatan yang tampak adalah :

Serak (disfoni) sampai afoni

Sesak napas (dispnea)

Stridor (nafas berbunyi) yang terdengar pada waktu inspirasi.

Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal, epigastrium,


supraklavikula dan interkostal. Cekungan itu terjadi sebagai upaya dari otototot pernapasan untuk mendapatkan oksigen yang adekuat.

Gelisah karena pasien haus udara (air hunger)

Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena hipoksia.

Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan

untuk mengetahui letak

sumbatan, diantaranya adalah :

Laringoskop. Dilakukan bila terdapat sumbatan pada laring. Laringoskop


dapat dilakukan secara direk dan indirek.

Nasoendoskopi

X-ray. Dilakukan pada foto torak yang mencakup saluran nafas bagian atas.
Apabila sumbatan berupa benda logam maka akan tampak gambaran
radiolusen. Pada epiglotitis didapatkan gambaran thumb like.

Foto polos sinus paranasal

CT-Scan kepala dan leher

Biopsi

D. Stadium Obstruksi Saluran Napas Atas


Jackson membagi sumbatan laring yang progresif dalam 4 stadium:
Stadium I : Adanya retraksi di suprasternal dan stridor. Pasien tampak tenang
Stadium II : Retraksi pada waktu inspirasi di daerah suprasternal makin dalam,
ditambah lagi dengan timbulnya retraksi di daerah epigastrium. Pasien sudah
mulai gelisah.
Stadium III

: Retraksi selain di daerah suprastrenal, epigastrium juga

terdapat di infraklavikula dan di sela-sela iga, pasien sangat gelisah dan dispnea.
Stadium IV

: Retraksi bertambah jelas, pasien sangat gelisah, tampak

sangat ketakutan dan sianosis, jika keadaan ini berlangsung terus maka penderita
akan kehabisan tenaga, pusat pernapasan paralitik karena hiperkapnea. Pada
keadaan ini penderita tampaknya tenang dan tertidur, akhirnya penderita
meninggal karena asfiksia.
E. Tindakan pada Obstruksi Saluran Napas Atas
Pada prinsipnya penanggulangan pada obstruksi atau obstruksi saluran
napas atas diusahakan supaya jalan napas lancar kembali.
Tindakan konservatif

: Pemberian antiinflamasi, antialergi, antibiotika serta


pemberian oksigen intermiten, yang dilakukan pada
obstruksi laring stadium I yang disebabkan oleh
peradangan.

Tindakan operatif/resusitasi : Memasukkan pipa endotrakeal melalui mulut (intubasi


orotrakea) atau melalui hidung (intubasi nasotrakea),
membuat trakeostoma yang dilakukan pada obstruksi
laring

stadium

II

dan

III,

atau

melakukan

krikotirotomi yang dilakukan pada obstruksi laring


stadium IV.
F. PENATALAKSANAAN

Untuk mengatasi gangguan pernapasan bagian atas dengan alat ada 4


cara, yaitu :
1. Intubasi
Intubasi dilakukan dengan memasukkan pipa endotrakeal lewat mulut atau
hidung.
Intubasi endotrakea merupakan tindakan penyelamat (lifesaving procedure) dan
dapat dilakukan tanpa atau dengan analgesia topikal dengan xylocain 10%.
Indikasi intubasi endotrakea adalah :
-

Untuk mengatasi obstruksi saluran napas bagian atas.

Membantu ventilasi.

Memudahkan mengisap sekret dari traktus trakeobronkial.

Mencegah aspirasi sekret yang ada di rongga mulut atau berasal dari
lambung.

Keuntungan intubasi, yaitu:


-

Tidak cacat karena tidak ada jaringan parut.

Mudah dikerjakan.

Kerugian intubasi, yaitu:


-

Dapat terjadi kerusakan lapisan mukosa saluran napas atas.

Tidak dapat digunakan dalam waktu lama.


Orang dewasa 1 minggu, anak-anak 7-10 hari.

Tidak enak dirasakan penderita.

Tidak bisa makan melalui mulut.

Tidak bisa bicara.

Komplikasi yang dapat timbul yaitu stenosis laring atau trakea.


Teknik intubasi endotrakea:
-

Posisi pasien tidur telentang, leher fleksi sedikit dan kepala ekstensi

Laringoskop dengan spatel bengkok dipegang dengan tangan kiri,


dimasukkan melalui mulut sebelah kanan, sehingga lidah terdorong ke kiri.

Spatel diarahkan menelusuri pangkal lidah ke valekula, lalu laringoskop


diangkat keatas, sehingga pita suara dapat terlihat.
-

Dengan tangan kanan, pipa endotrakea dimasukkan melalui mulut terus


melalui celah antara kedua pita suara kedalam trakea.

Kemudian balon diisi udara dan pipa endotrakea difiksasi dengan baik.

Jika menggunakan spatel laringoskop yang lurus maka pasien yang tidur
telentang itu pundaknya harus diganjal dengan bantal pasir, sehingga kepala
mudah diekstensikan maksimal.

Laringoskop dengan spatel yang lurus dipegang dengan tangan kiri dan
dimasukkan mengikuti dinding faring posterior dan epiglotis diangkat
horizontal ketas bersama-sama sehingga laring jelas terlihat.

Pipa endotrakea dipegang dengan tangan kanan dan dimasukkan melalui


celah pita suara sampai di trakea. Kemudian balon diisi udara dan pipa
endotrakea difiksasi dengan plester.

Gambar 1. Teknik pelaksanaan intubasi endotrakea


2. Laringotomi (Krikotirotomi)
Laringotomi dilakukan dengan membuat lubang pada membran tirokrikoid
(krikotirotomi).
Krikotiromi merupakan tindakan penyelamat pada pasien dalam keadaan gawat
napas. Bahayanya besar tetapi mudah dikerjakan, dan harus dikerjakan cepat
walaupun persiapannya darurat.

Krikotirotomi merupakan kontraindikasi pada anak di bawah usia 12 tahun,


demikian juga pada tumor laring yang sudah meluas ke subglotik dan terdapat
laringitis.
Bila kanul dibiarkan terlalu lama maka akan timbul stenosis subglotik karena
kanul yang letaknya tinggi akan mengiritasi jaringan-jaringan di sekitar
subglotis, sehingga terbentuk jaringan granulasi dan sebaiknya diganti dengan
trakeostomi dalam waktu 48 jam.
Teknik krikotirotomi:
-

Pasien

tidur

telentang

dengan

kepala

ekstensi

pada

artikulasi

atlantooksipitalis.
-

Puncak tulang rawan tiroid mudah diidentifikasi difiksasi dengan jari tangan
kiri.

Dengan telunjuk jari tangan kanan tulang rawan tiroid diraba ke bawah
sampai ditemukan kartilago krikoid. Membran krikotiroid terletak di antara
kedua tulang rawan ini. Daerah ini diinfiltrasi dengan anestetikum kemudian
dibuat sayatan horizontal pada kulit.

Jaringan di bawah sayatan dipisahkan tepat pada garis tengah.

Setelah tepi bawah kartilago terlihat, tusukkan pisau dengan arah ke bawah.

Kemudian masukkan kanul bila tersedia. Jika tidak, dapat dipakai pipa
plastik untuk sementara.

Gambar 2. Krikotirotomi yang dilakukan pada obstruksi laring stadium IV


3. Trakeostomi
Trakeostomi adalah suatu tindakan bedah dengan mengiris atau membuat
lubang sehingga terjadi hubungan langsung lumen trakea dengan dunia luar
untuk mengatasi gangguan pernapasan bagian atas.
Indikasi trakeostomi adalah:
1. Mengatasi obstruksi laring.
2. Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran pernapasan atas.
3. Mempermudah pengisapan sekret dari bronkus.
4. Untuk memasang alat bantu pernapasan (respirator).
5. Untuk mengambil benda asing di subglotik, apabila tidak mempunyai
fasilitas bronkoskopi.
a. Keuntungan trakeostomi yaitu:
-

Dapat dipakai dalam waktu lama.

- Trauma saluran napas tidak ada.

Penderita masih dapat berbicara sehingga kelumpuhan otot laring dapat


dihindari.

Penderita merasa enak dan perawatan lebih mudah

Penderita dapat makan seperti biasa.

Menghindari aspirasi, menghisap sekret bronkus.

Jalan napas lancar, meringankan kerja paru.

Kerugian trakeostomi, yaitu:


- Tindakan lama.
-

Cacat dengan adanya jaringan sikatrik.

Jenis irisan trakeostomi ada dua macam:


-

Irisan vertikal di garis median leher.

Irisan horizontal.

Berdasarkan jenis trakeostomi:


- Trakeostomi letak tinggi, yaitu di cincin trakea 2-3.
- Trakeostomi letak tengah, yaitu setinggi trakea 3-4.
- Trakeostomi letak rendah, yaitu setinggi cincin trakea 4-5.
Untuk perawatan trakeostomi, yang harus diperhatikan adalah:
1. Kelembaban udara masuk.
-

Dapat dilakukan dengan uap air basah hangat.

Nebulizer.

Kassa steril yang dibasahi diletakkan di permukaan stoma.

2. Kebersihan dalam kanul.


-

Jangan tersumbat oleh sekret, dianjurkan disuksion -1 jam pada 24 jam


pertama dan tidak boleh terlalu lama setiap suksion, biasanya 10-15
detik. Bila lama penderita bisa sesak atau hipoksia atau cardiac arrest.

Lakukanlah berkali-kali sampai bersih.

3. Anak: kanul dibersihkan setiap hari kemudian pasang kembali.

Pengangkatan kanul dilakukan secepatnya, atau dengan indikasi berikut:


- Tutup lubang trakeostomi selama 3 menit, penderita tidak sesak.
-

Dalam 25 jam tidak ada keluhan sesak bila lubang trakeostomi ditutup waktu
tidur, makan dan bekerja.

Penderita sudah dapat bersuara.

Komplikasi trakeostomi:
- Waktu operasi:
Perdarahan, lesi organ sekitarnya, apnea dan shock.
-

Pasca operasi:
Infeksi, sumbatan, kanul lepas, erosi ujung kanul atau desakan cuff pada
pembuluh darah, fistel trakeokutan, sumbatan subglotis dan trakea, disfagia,
granulasi.

Teknik trakeostomi:
-

Penderita tidur telentang dengan kaki lebih rendah 30 untuk menurunkan


tekanan vena di daerah leher. Punggung diberi ganjalan sehingga terjadi
ekstensi. Leher harus lurus, tidak boleh laterofleksi atau rotasi.

Dilakukan desinfektan daerah operasi dengan betadin atau alkohol.

Anestesi lokal subkutan, prokain 2% atau silokain dicampur dengan


epinefrin atau adrenalin 1/100.000. Anestesi lokal atau infiltrasi ini tetap
diberikan meskipun trakeostomi dilakukan secara anestesi umum.

Dilakukan insisi.

Insisi vertikal: dimulai dari batas bawah krikoid sampai fossa suprasternum,
insisi ini lebih mudah dan alir sekret lebih mudah

Insisi horizontal: dilakukan setinggi pertengahan krikoid dan fossa sternum,


membentang antara kedua tepi depan dan medial m.sternokleidomastoid,
panjang irisan 4-5 cm.
Irisan mulai dari kulit, subkutis, platisma sampai fasia colli superfisial
secara tumpul. Bila tampak ismus, maka ismus disisikan ke atas atau ke
bawah. Bila mengalami kesukaran dan tidak memungkinkan, potong saja.

Bila sudah tampak trakea maka difiksasi dengan kain tajam. Kemudian
suntikkan anestesi lokal kedalam trakea sehingga tidak timbul batuk pada
waktu memasang kanul.

Stoma dibuat pada cincin trakea 2-3 bagian depan, setelah dipastikan trakea
yaitu dengan menusukkan jarum suntik dan letakkan benang kapas tersebut.
Kemudian kanul dimasukkan dengan bantuan dilator.

Kanul difksasi dengan pita melingkar leher, jahitan kulit sebaiknya jahitan
longgar agar udara ekspirasi tidak masuk ke jaringan dibawah kulit.

Gambar 3. Trakeostomi yang dilakukan pada obstruksi laring


stadium II dan III

4. OPA (oro-pharyngeal airway)

- Bentuk pipa gepeng lengkung seperti huruf C berlubang di tengahnya dengan salah
satu ujungnya bertangkai dengan dinding lebih keras
- OPA juga dipasang bersama pipa trakhea atau sungkup laring utk menjaga patensi
kedua alat tersebut dari gigitan pasien

Sungkup Muka

Sungkup Laring

Pipa Trakhea

Laringoskopi dan Intubasi

Penatalaksanaan sumbatan jalan nafas tanpa alat:


Tujuannya adalah mengeluarkan benda asing sehingga jalan nafas tidak terhalang
oleh benda asing
Metode
1. Abdominal Thrust ( Heimlich manuver )

2. Chest Thrust
3. Back Blow
Indikasi
Untuk menghilangkan obstruksi di jalan napas atas yang disebabkan oleh benda asing
& yg ditandai oleh beberapa atau semua dari tanda dan gejala berikut ini:
1.

Secara mendadak tidak dapat berbicara

2. Tanda-tanda umum tercekikrasa leher tercengkeram


3. Bunyi berisik selama inspirasi.
4.

Penggunaan otot asesoris selama bernapas dan peningkatan kesulitan


bernapas.

5. Sukar batuk atau batuk tidak efektif atau tidak mampu utk batuk.
6. Tidak terjadi respirasi spontan atau sianosis
7.

Bayi dan anak dg distres respirasi mendadak disertai dg batuk, stidor atau
wizing.

1.

Perasat Heimlich (Heimlich Maneuver)


Perasat heimlich adalah suatu cara mengeluarkan benda asing yang menyumbat
laring secara total atau benda asing ukuran besar yang terletak di hipofaring.
Prinsip mekanisme perasat heimlich adalah dengan memberi tekanan pada paru.
Diibaratkan paru sebagai sebuah botol plastik berisi udara yang tertutup oleh
sumbatan. Dengan memencet botol plastik itu sumbatan akan terlempar keluar.
Perasat heimlich ini dapat dilakukan pada orang dewasa dan juga pada anak.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah ruptur lambung, ruptur hati dan fraktur
iga.
Teknik perasat heimlich:
-

Penolong berdiri di belakang pasien sambil memeluk badannya.

Tangan kanan dikepalkan dan dengqan bantuan tangan kiri, kedua tangan
diletakkan pada perut bagian atas.

Kemudian dilakukan penekanan pada rongga perut kearah dalam dan kearah
atas dengan hentakan beberapa kali. Diharapkan dengan hentakan 4-5 kali
benda asing akan terlempar keluar. Pada anak, penekanan cukup dengan
memakai jari telunjuk dan jari tengah kedua tangan.

Pada pasien yang tidak sadar atau terbaring, dapat dilakukan dengan cara
penolong berlutut dengan kedua kaki pada kedua sisi pasien. Kepalan
tangan diletakkan di bawah tangan kiri di daerah epigastrium.

Dengan hentakan tangan kiri ke bawah dan ke atas beberapa kali udara
dalam paru akan mendorong benda asing keluar.

Gambar 5. Perasat heimlich


2. Tahapan Prosedur Chest Thrust
Jika posisi klien duduk/ berdiri:Anda berdiri di belakang klien
-

Lingkarkan lengan kanan anda dengan tangan kanan terkepal di area


midsternal di atas prosesus xipoideus klien (sama seperti pada posisi
saat kompresi jantung luar).

Lakukan dorongan (thrust) lurus ke bawah ke arah spinal. Jika perlu


ulangi chest thrust beberapa kali utk menghilangkan obstruksi jalan
napas.
d. Kaji jalan napas secara sering utk memastikan keberhasilan tindakan
ini.

Jika posisi klien supine:


-

Anda mengambil posisi berlutut/mengangkangi paha klien.

Tempatkan lengan kiri anda diatas lengan kanan anda dan posisikan
bagian bawah lengan kanan anda pada area midsternal di atas prosesus
xipoideus klien (sama seperti pada posisi saat kompresi jantung luar).

Lakukan dorongan (thrust) lurus ke bawah ke arah spinal. Jika perlu


ulangi chest thrust beberapa kali utk menghilangkan obstruksi jalan
napas.

Kaji jalan napas secara sering utk memastikan keberhasilan tindakan


ini.

Jika mungkin, lihat secara langsung mulut dan paring klien dengan
laringoskopi dan jika tampak utamakan mengekstraksi benda asing
tersebut menggunakan Kelly atau Megil forcep.

Gambar 6. Chest trust

3. Tahapan Prosedur Back Blow ( Back slaps ) & Chest Thrust


a.

(untuk Bayi)

Bayi diposisikan prone diatas lengan bawah anda, dimana kepala bayi
lebih rendah dari pada badannya.
Topang kepala bayi dengan memegang rahang bayi.
Lakukan 5 kali back blow dengan kuat antara tulang belikat menggunakan
tumit tangan anda.
Putar bayi ke posisi supine, topang kepala dan leher bayi dan posisikan di
atas paha.
Tentukan lokasi jari setingkat dibawah nipple bayi. Tempatkan jari tengah
anda pada sternum dampingi dengan jari manis.
Lakukan chest thrust dengan cepat.
Ulangi langkah 1-6 sampai benda asing keluar atau hilangnya kesadaran

Jika bayi kehilangan kesadaran, buka jalan napas dan buang benda asing
jika ia terlihat. Hindari melakukan usapan jari secara membuta pada
bayi dan anak, karena benda asing dapat terdorong lebih jauh ke dalam
jalan napas.

Gambar 7. back blow/ back slaps dan chest trust

b. Tahapan Prosedur Back Blow & Chest Thrust (untuk Anak 1-8 th)
Untuk klien yg berdiri/duduk:
-

Posisi anda dibelakang klien.

Tempatkan lengan anda dibawah aksila, melingkari tubuh korban

Tempatkan tangan anda melawan abdomen klien, sedikit di atas pusar


dan dibawah prosesus xipoideus.

Lakukan dorongan ke atas (upward thrusts) sampai benda asing keluar


atau pasien kehilangan kesadaran.

Utk klien pada posisi supine:


-

Posisi anda berlutut disamping klien atau mengangkangi paha klien.

Tempatkan lengan anda di atas pusar & dibawah prosesus xipoideus.

Lakukan thrust ke atas dengan cepat, dengan arah menuju tengahtengah dan tidak diarahkan ke sisi abdomen.

Jika benda asing terlihat, keluarkan dengan menggunakan sapuan jari


tangan.

Gambar 8. back blow/ back slaps dan chest trust

BAB III
PENUTUP
Obstruksi saluran napas atas adalah sumbatan pada saluran napas atas (laring)
yang disebabkan oleh adanya radang, benda asing, trauma, tumor dan kelumpuhan
nervus rekuren bilateral sehingga ventilasi pada saluran pernapasan terganggu.
Obstruksi saluran napas atas dapat disebabkan oleh radang akut dan radang
kronis, benda asing, trauma akibat kecelakaan, perkelahian, percobaan bunuh diri
dengan senjata tajam dan trauma akibat tindakan medik yang dilakukan dengan
gerakan tangan yang kasar, tumor pada laring baik berupa tumor jinak maupun tumor
ganas, serta kelumpuhan nervus rekuren bilateral.
Jackson membagi sumbatan laring yang progresif dalam 4 stadium, yaitu
Stadium I: adanya retraksi di suprasternal dan stridor. Pasien tampak tenang. Stadium
II: retraksi pada waktu inspirasi di daerah suprasternal makin dalam, ditambah lagi
dengan timbulnya retraksi di daerah epigastrium. Pasien sudah mulai gelisah.
Stadium III: retraksi selain di daerah suprastrenal, epigastrium juga terdapat di
infraklavikula dan di sela-sela iga, pasien sangat gelisah dan dispnea. Stadium IV:
retraksi bertambah jelas, pasien sangat gelisah, tampak sangat ketakutan dan sianosis,
jika keadaan ini berlangsung terus maka penderita akan kehabisan tenaga, pusat
pernapasan paralitik karena hiperkapnea. Pada keadaan ini penderita tampaknya
tenang dan tertidur, akhirnya penderita meninggal karena asfiksia.
Penanggulangan pada obstruksi saluran napas atas diusahakan supaya jalan
napas lancar kembali. Tindakan konservatif berupa pemberian antiinflamasi,
antialergi, antibiotika serta pemberian oksigen intermitten, yang dilakukan pada
sumbatan laring stadium I yang disebabkan oleh peradangan. Tindakan operatif atau
resusitasi dengan memasukkan pipa endotrakeal melalui mulut (intubasi orotrakea)
atau melalui hidung (intubasi nasotrakea), membuat trakeostoma yang dilakukan pada
sumbatan laring stadium II dan III, atau melakukan krikotirotomi yang dilakukan

pada sumbatan laring stadium IV dan tindakan tanpa menggunakan alat seperti
heimlich manuver, chest trust dan backblow.

DAFTAR PUSTAKA
1. Soepardi EA, Iskandar N. Editor. Buku ajar ilmu kesehatan telinga-hidungtenggorok. Edisi 5. Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
2005.
2. Sjamsuhidajat R, Wim de Jong. Editor. Kepala dan Leher dalam: Buku ajar ilmu
bedah. Edisi revisi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1997.
3. D Gerard,MD. Epiglotitis. Dalam: Daniel J Kelley MD, Francisco Talavera,
harmD, PhD, Gregory C Allen,MD, Christopher L Slack, MD, Arlen D
Meyers,MD,MBA (editor). http://www.emedicine.com.
4. D Gerard,MD. Croup Dalam: Daniel J Kelley MD, Francisco Talavera, PharmD,
PhD, Gregory C Allen,MD, Christopher L Slack, MD, Arlen D Meyers,MD,MBA
(editor). http://www.emedicine.com.
5. Adams GL, Boies LR, Jr. Highler PA. Boies Buku Ajar THT. Edisi 6. Effendi H.
Santoso RAK. Editor. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1993.
6. Ballenger JJ. Penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. Edisi 13.
Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta. 1994.
7. Hermani B, Abdurrachman. Penanggulangan sumbatan laring. Dalam: S.A.Efiaty,
I.Nurbaiti, B.Jenny, R.D.Ratna (editor). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi VI. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta: 2003 : 243 - 253.