Anda di halaman 1dari 6

Jangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

20 April 2010, 7:00 am


maksiat, Syirik

Kebanyakan manusia yang hidup di jaman sekarang ini, menjadikan barometer dalam menilai hal-hal
yang terjadi di sekitarnya dengan perkara-perkara lahir yang nampak dalam pandangan mereka, sebagai
akibat dari kuatnya dominasi hawa nafsu dan kecintaan terhadapa dunia dalam diri mereka.
Mereka lalai dari memahami hakekat semua kejadian tersebut, karena mereka tidak memiliki keyakinan
yang kokoh terhadap perkara-perkara yang gaib (tidak nampak) dan lupa pada kehidupan abadi di akhirat
nanti.
Allah Taala berfirman:



{









}

Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang
(kehidupan) akhirat adalah lalai (QS ar-Ruum:7).
Sebagai contoh nyata dalam hal ini, memahami arti kerusakan di muka bumi yang sebenarnya.
Sementara ini, banyak orang, tidak terkecuali kaum muslimin, yang mengartikan kerusakan di muka
bumi hanya sebatas pada hal-hal yang nampak, seperti bencana alam, kebakaran, pengrusakan hutan,
tersebarnya penyakit menular dan lain sebagainya.
Mereka melupakan kerusakan-kerusakan yang tidak kasat mata, padahal ini adalah kerusakan yang
paling besar dan fatal akibatnya, bahkan kerusakan inilah yang menjadi sebab terjadinya kerusakankerusakan lahir di atas.
Arti kerusakan di muka bumi yang sebenarnya
Allah Taala berfirman,
{
}
Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat)
[1] manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar Ruum:41).
Dalam ayat yang mulia ini Allah Taala menyatakan bahwa semua kerusakan yang terjadi di muka bumi,
dalam berbagai bentuknya, penyebab utamanya adalah perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan
manusia. Maka ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat adalah inti kerusakan yang sebenarnya dan
merupakan sumber utama kerusakan-kerusakan yang tampak di muka bumi.
Imam Abul Aliyah ar-Riyaahi[2] berkata, Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi
maka (berarti) dia telah berbuat kerusakan padanya, karena perbaikan di muka bumi dan di langit
(hanyalah dicapai) dengan ketaatan (kepada Allah Taala)[3].
Imam asy-Syaukaani ketika menafsirkan ayat di atas berkata, (Dalam ayat ini) Allah menjelaskan
bahwa perbuatan syirk dan maksiat adalah sebab timbulnya (berbagai) kerusakan di alam semesta[4].
Dalam ayat lain Allah Taala berfirman:
{

}

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri,
dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS asy-Syuura:30).
Syaikh Abdurrahman as-Sadi ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, Allah Taala memberitakan
bahwa semua musibah yang menimpa manusia, (baik) pada diri, harta maupun anak-anak mereka, serta
pada apa yang mereka sukai, tidak lain sebabnya adalah perbuatan-perbuatan buruk (maksiat) yang
pernah mereka lakukan[5].
Tidak terkecuali dalam hal ini, musibah dan kerusakan yang terjadi dalam rumah tangga, seperti tidak
rukunnya hubungan antara suami dan istri, serta seringnya terjadi pertengkaran di antara mereka,
penyebab utama semua ini adalah perbuatan maksiat yang dilakukan oleh sang suami atau istri.
Inilah makna yang diisyaratkan dalam ucapan salah seorang ulama salaf yang mengatakan, Sungguh
(ketika) aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut
pada tingkah laku istriku[6].
Oleh sebab itu, Allah menamakan orang-orang munafik sebagai orang-orang yang berbuat kerusakan di
muka bumi, karena buruknya perbuatan maksiat yang mereka lakukan dalam menentang
Allah Taala dan rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Allah berfirman,
{

}
Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka
menjawab: Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya
mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar (QS al-Baqarah:11-12).
Syaikh Abdurrahman as-Sadi berkata, Melakukan maksiat di muka bumi (dinamakan) berbuat
kerusakan karena perbuatan tersebut menyebabkan rusaknya apa yang ada di muka bumi, seperti bijibijian, buah-buahan, pepohonan dan tumbuh-tumbuhan, karena terkena penyakit yang disebabkan
perbuatan maksiat. Demikian juga karena melakukan perbaikan di muka bumi adalah dengan
memakmurkan bumi dengan ketaatan dan keimanan kepada Allah, yang untuk tujuan inilah Allah
menciptakan manusia dan menempatkan mereka di bumi, serta melimpahkan rezeki kepada mereka,
agar mereka menjadikan (nikmat tersebut) sebagai penolong mereka untuk melaksanakan ketaatan dan
ibadah kepada Allah, maka jika mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketaatan
kepada Allah (maksiat) berarti mereka telah mengusahakan (sesuatu yang menyebabkan) kerusakan dan
kehancuran di muka bumi [7].
Maka kematian orang-orang pelaku maksiat merupakan sebab utama berkurangnya kerusakan di muka
bumi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, (Kematian) seorang hamba
yang fajir (banyak berbuat maksiat) akan menjadikan manusia, negeri, pepohonan dan binatang terlepas
(terselamatkan dari kerusakan karena perbuatan maksiatnya)[8].
Syirik dan bidah sebab terbesar kerusakan di muka bumi
Dikarenakan perbuatan syirik (menyekutukan Allah dalam beribadah) adalah dosa yang paling besar di
sisi Allah, maka kerusakan yang ditimbulkan akibat perbuatan ini sangat besar, bahkan perbuatan inilah
yang menjadi sebab utama kerusakan terbesar di muka bumi.
Imam Qatadah[9] dan as-Suddi berkata, Kerusakan (yang sesungguhnya) adalah perbuatan syirik, dan
inilah kerusakan yang paling besar [10].

Demikian juga perbuatan bidah[11] dan semua seruan dakwah yang bertentangan dengan petunjuk
Rasulullah r, pada hakekatnya merupakan sebab terbesar terjadinya kerusakan di muka bumi. Karena
petunjuk dan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah satu-satunya
aturan untuk memakmurkan dan mensejahterakan alam semesta, sehingga semua seruan agama yang
bertentangan dengan petunjuk beliau adalah sebab utama terjadinya kerusakan di muka bumi.
Oleh karena itu, imam Abu Bakar Ibnu Ayyasy Al Kuufi[12] ketika ditanya tentang makna firman
Allah Taala,
}
{


Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.
Beliau berkata: Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam kepada
umat manusia, (sewaktu) mereka dalam keadaan rusak, maka Allah memperbaiki (keadaan) mereka
dengan (petunjuk yang dibawa) Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, sehingga barangsiapa
yang mengajak (manusia) kepada selain petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam maka dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi[13].
Cara mengatasi dan memperbaiki kerusakan di muka bumi
Karena sebab utama terjadinya kerusakan di muka bumi adalah perbuatan maksiat dengan segala
bentuknya, maka satu-satunya cara untuk memperbaiki kerusakan tersebut adalah dengan bertobat
dengan taubat yang nasuh[14] dan kembali kepada Allah. Karena taubat yang nasuh akan
menghilangkan semua pengaruh buruk perbuatan dosa yang pernah dilakuakan.
Rasululah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Orang yang telah bertobat (dengan sungguh-sungguh)
dari perbuatan dosanya, adalah seperti orang yang tidak punya dosa (sama sekali)[15].
Inilah makna yang diisyaratkan dalam firman Allah Taala di atas,
{
}
supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar Ruum:41).
Artinya: agar mereka kembali (bertobat) dari perbuatan-perbuatan (maksiat) yang berdampak timbulnya
kerusakan besar (dalam kehidupan mereka), sehingga (dengan tobat tersebut) akan baik dan
sejahteralah semua keadaan mereka [16].
Dalam hal ini, sahabat yang mulia, Umar bin Khattab radhiyallahu anha pernah mengucapkan dalam
doanya: Ya Allah, sesungguhnya tidak akan terjadi suatu malapetaka kecuali dengan (sebab) perbuatan
dosa, dan tidak akan hilang malapetaka tersebut kecuali dengan taubat (yang sungguh-sungguh)[17].
Maka kembali kepada petunjuk Allah Taala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam dengan
mempelajari, memahami dan mengamalkannya adalah solusi untuk menghilangkan kerusakan di muka
bumi dalam segala bentuknya, bahkan menggantikan kerusakan tersebut dengan kebaikan,
kemaslahatan dan kesejahteraan. Karena memang agama Islam disyariatkan oleh Allah Taala yang
maha sempurna ilmu dan hikmah-Nya[18], untuk kebaikan dan kemaslahan hidup manusia.
Allah Taala berfirman,
{}

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada
suatu yang memberi (kemaslahatan)[19] hidup bagimu (QS al-Anfaal:24).
Imam Ibnul Qayyim semoga Allah Taala merahmatinya berkata: (Ayat ini menunjukkan) bahwa
kehidupan yang bermanfaat hanyalah didapatkan dengan memenuhi seruan Allah dan RasulNya shallallahu alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya
maka dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik). Meskipun dia memiliki kehidupan (seperti) hewan
yang juga dimiliki oleh binatang yang paling hina (sekalipun). Maka kehidupan baik yang hakiki adalah
kehidupan seorang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin[20].
Dalam ayat lain Allah Taala berfirman,
}
{

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami
siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS al-Araaf:96).
Artinya: Kalau saja mereka beriman dalam hati mereka dengan iman yang benar dan dibuktikan dengan
amalan shaleh, serta merealisasikan ketakwaan kepada Allah I lahir dan batin dengan meninggalkan
semua larangan-Nya, maka niscaya Allah akan membukakan bagi mereka (pintu-pintu) keberkahan di
langit dan bumi, dengan menurunkan hujan deras (yang bermanfaat), dan menumbuhkan tanamtanaman untuk kehidupan mereka dan hewan-hewan (ternak) mereka, (mereka hidup) dalam
kebahagiaan dan rezki yang berlimpah, tanpa ada kepayahan, keletihan maupun penderitaan, akan tetapi
mereka tidak beriman dan bertakwa maka Allah menyiksa mereka karena perbuatan (maksiat)
mereka [21].
Oleh karena itu, orang-orang yang mengusahakan perbaikan di muka bumi yang sebenarnya
adalah orang-orang yang menyeru manusia kembali kepada petunjuk Allah Taala dan RasulNya shallallahu alaihi wa sallam, dengan mengajarkan dan menyebarkan ilmu tentang tauhid dan
sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada manusia.
Mereka inilah orang-orang yang menyebabkan kemaslahatan dan kesejahteraan alam semesta beserta
isinya, tidak terkecuali hewan-hewan di daratan maupun lautan ikut merasakan kebaikan tersebut,
sehingga mereka senantiasa mendoakan kebaikan dari Allah untuk orang-orang tersebut, sebagai
ungkapan rasa terima kasih kepada mereka[22].
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya orang yang berilmu (dan mengajarkan
ilmunya kepada manusia) akan selalu dimohonkan pengampunan dosa baginya oleh semua makhluk
yang ada di langit (para malaikat) dan di bumi, sampai-sampai (termasuk) ikan-ikan yang ada di
lautan[23].
Sekaligus ini menunjukkan bahwa kematian orang-orang berilmu yang selalu mengajak manusia kepada
petunjuk Allah Taala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam merupakan pertanda akan munculnya
malapetaka dan kerusakan besar dalam kehidupan manusia. Karena dengan wafatnya mereka, akan
berkurang penyebaran ilmu tauhid dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di tengah-tengah
manusia, yang ini merupakan sebab timbulnya kerusakan dan bencana dalam kehidupan.

Dalam hal ini, imam al-Hasan al-Bashri[24] pernah berkata: Kematian orang yang berilmu merupakan
kebocoran (kerusakan) dalam Islam yang tidak bisa ditambal (diperbaiki) oleh apapun selama siang dan
malam masih terus berganti[25].
Penutup
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin dalam mengajak mereka untuk selalu kembali kepada
petunjuk Allah Taala dan Rasul-Nya, yang itu merupakan sumber kebaikan dan kebahagiaan hidup yang
hakiki bagi mereka.

Kota Kendari, 2 Rabiul awwal 1431 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/576).


[2] Beliau adalah Rufai bin Mihran ar-Riyaahi (wafat 90 H), seorang Tabiin senior yang terpercaya dalam
meriwayatkan hadits Rasulullah r , lihat Taqriibut tahdziib (hal. 162).
[3] Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (3/576).
[4] Kitab Fathul Qadiir (5/475).
[5] Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 759).
[6] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab ad-Da-u wad dawaa' (hal. 68).
[7] Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 42).
[8] HSR al-Bukhari (6512) dan Muslim (no. 2245).
[9] Beliau adalah Qotadah bin Diaamah As Saduusi Al Bashri (wafat setelah tahun 110 H), imam besar
dari kalangan tabiin yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah r (lihat kitab
Taqriibut tahdziib, hal. 409).
[10] Dinukil oleh imam al-Qurthubi dalam tafsir beliau (14/40).
[11] Yaitu mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama, yang tidak dicontohkan oleh Nabi r.
[12] Beliau adalah imam dari kalangan atbaut tabiin senior, seorang ahli ibadah dan terpercaya dalam
meriwayatkan hadits Rsulullah r (wafat 194 H), lihat kitab Taqriibut tahdziib (hal. 576).
[13] Tafsir Ibni abi Hatim Ar Raazi (6/74) dan Ad Durrul mantsuur (3/477).
[14] Yaitu taubat yang benar dan sungguh-sungguh, sehingga menghapuskan dosa-dosa yang lalu. Lihat
Tafsir Ibnu Katsir (8/168).
[15] HR Ibnu Majah (no. 4250) dan ath-Tahbraani dalam al-Mujamul kabiir (no. 10281) dan dinyatakan
hasan oleh Ibnu Hajar dan syaikh al-Albani. Lihat adh-Dhaiifah (no. 615).
[16] Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 643).
[17] Dinukil oleh imam Ibnu Hajar al-Asqalaani dalam Fathul Baari (3/443).
[18] Hikmah adalah menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya, yang ini bersumber dari

kesempurnaan ilmu Allah I, lihat kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 131).
[19] Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/34).
[20] Kitab al-Fawa-id (hal. 121- cet. Muassasatu ummil qura).
[21] Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 298).
[22] Lihat kitab Miftaahu daaris saaadah (1/64) dan Faidhul Qadiir (4/268).
[23] HR at-Tirmidzi (no. 2682) dan Ibnu Majah (no. 223), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.
[24] Beliau adalah al-Hasan bin abil Hasan Yasar al-Bashri (wafat 110 H), seorang imam besar dan
termasyhur dari kalangan tabiin. Lihat kitab Taqriibut tahdziib (hal. 160).
[25] Diriwayatkan oleh imam Ad-Darimi dalam kitab as-Sunan (no. 324) dengan sanad yang shahih.

Anda mungkin juga menyukai