Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN.

E DENGAN DIARE PADA


TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH DI DUKUH
KEPUTREN RT 03 DESA PLERET KECAMATAN
PLERET KABUPATEN BANTUL
YOGYAKARTA

Disusun Guna Memenuhi Tugas Stase Keperawatan Keluarga

Di Susun Oleh :
MAMUNAH
24.13.0474

Di Susun Oleh :

NI PUTU DIANA CAHYANTI


24.15.0708

PROGRAM STUDI PROFESI NERS ANGKATAN XVI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2016

LEMBAR PENGESAHAN
Telah disahkan dan disetujui Asuhan Keperawatan Keluarga Tn. E Dengan
Tahap Perkembangan Anak Usia Sekolah Di Dukuh Keputren RT 03, Desa Pleret
Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul Yogyakarta sebagai laporan tugas individu
pada stase Keperawatan Komunitas Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Surya
Global Yogyakarta 2016.

Pleret, 21 Juli 2016


Mahasiswa

(Ni Putu Diana Cahyanti)

Mengetahui,

Pembimbing Akademik

Pembimbing Lapangan

(Fitri Dian Eka Kurniati, S.Kep, Ns)

(Apni Novita, Amd.Kep)

LAPORAN PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan
keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing
masing yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman, 2003). Keluarga adalah
satu atau lebih individu yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan
emosional dan mengembangkan dalam interelasi social, peran dan tugas
(Spredley, 1996 dalam Murwani, 2011).
Sedangkan menurut Departemen Kesehatan RI (2002), keluarga adalah unit
terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang
yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan
saling bergantung.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah
beberapa individu yang tinggal dalam sebuah keluarga yang mempunyai ikatan
perkawinan, ada hubungan keluarga, sanak famili, maupun adopsi yang hidup
bersama sesuai dengan tujuan keluarga tersebut.
B. STRUKTUR KELUARGA
Struktur keluarga terdiri atas:
1. Patrilineal, adalah keluarga sedarah yang terdiri atas sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan ini disusun melalui garis
keturunan ayah.
2. Matrilineal, adalah keluarga sedarah yang terdiri atas sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan ini disusun melalui garis
keturunan ibu.
3. Matrilokal, adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah dari istri.
4. Patrilokal, adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
dari suami.
5. Keluarga kawinan, adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian dari keluarga
karena adanya hubungan dengan suami istri.

C. PERAN KELUARGA
1. Peran ayah : pencari nafkah, pendidik, pelindung, rasa aman, sebagai kepala
keluarga, dan anggota masyarakat

2. Peran ibu : mengurus Rumah tangga, pengasuh/pendidik anak, pencari


nafkah tambahan, dan anggota masyarakat
3. Peran anak : peran psikososial sesuai tingkat perkembangan, baik mental fisik
sosial dan spiritual.
D. FUNGSI KELUARGA
Ada beberapa fungsi keluarga antara lain (Suprajitno, 2004)
1. Fungsi biologis, kebutuhan meliputi:
a. Sandang, Pangan dan papan
b. Hubungan seksual suami istri
c. Reproduksi atau pengembangan keturunan
2. Fungsi ekonomi: Keluarga (dalam hal ini ayah) mempunyai kewajiban
menafkahi keluarganya (istri dan anaknya)
3. Fungsi pendidikan: keluarga berfungsi sebagai (transmiter budaya atau
mediator sosial budaya bagi anak)
4. Fungsi sosialisasi: Keluarga merupakan penyamaan bagi masyarakat masa
depan dan lingkungan keluarga merupakan faktor penentu yang sangat
mempengaruhi kualitas generasi yang akan datang
5. Fungsi perlindungan: Keluarga sebagai pelindung bagi para anggota
keluarga dari gangguan, ancaman atau

kondisi yang menimbulkan

ketidaknyamanan (fisik, psikologis) para anggotanya


6. Fungsi rekreasi: Keluarga diciptakan sebagai lingkungan yang memberi
kenyamanan,

keceriaan,

kehangatan

dan

penuh

semangat

bagi

anggotanya
7. Fungsi agama (religius): keluarga berfungsi sebagai penanam nilai-nilai
agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar
E. TIPE KELUARGA (SECARA TRADISIONAL)
1. Keluarga inti (Nuclear Family) terdiri dari: ayah , ibu dan anaknya dari
keturunannya atau adopsi
2. Keluarga besar (Extended Family) keluarga inti dan anggota keluarga lain
yang masih ada hubungan darah. (kakek, nenek , paman, bibi)
F. PERAN PERAWAT KELUARGA
Dalam meningkatkan kemampuan perawat menyelesaikan masalah kesehatan,
perawat dapat berperan dalam keperawatan keluarga sebagai:
1. Pemantau kesehatan (Health Monitor).
Perawat membantu keluarga mengenali penyimpangan kesehatan dengan
menganalisis data secara objektif serta membuat keluarga sadar tentang akibat
masalah tersebut terhadap perkembangan anggota keluarga.
2. Pemberi asuhan keperawatan pada anggota keluarga yang sakit.

Selain berperan mencegah dalam penyakit, meningkatkan kesehatan, perawat


keluarga tetap berperan dalam memberi perawatan pada anggota keluarga
yang sakit
3. Koordinator perawatan kesehatan keluarga
4. Fasilitator
5. Pendidik
6. Penasihat
G. FUNGSI KELUARGA (FRIEDMAN)
1. Mengenal masalah kesehatan keluarga. Orang tua perlu mengenal keadaan
kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga.
Perubahan sekesil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak
langsung menjadi perhatian orang tua atau keluarga.
2. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Tugas ini
merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat
sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara
keluarga yang memiliki kemampuan memutuskan untuk menentukan
tindakan keluarga.
3. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan.
4. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.
5. Memanfaatkan fasilitas kesehatan di sekitarnya bagi keluarga
H. TAHAPAN PERKEMBANGAN KELUARGA
Duvall membagi tahapan keluarga menjadi delapan tahapan perkembangan
keluarga, yaitu:
1. Keluarga pemula.
2. Keluarga yang sedang mengasuh anak.
3. Keluarga dengan anak usia pra sekolah.
4. Keluarga dengan anak usia sekolah.
Pengertian Anak Usia Sekolah
Anak usia sekolah merupakan suatu periode yang dimulai saat anak
masuk sekolah dasar sekitar usia 6 tahun sampai menunjukan tanda akhir
masa kanak-kanak yaitu 12 tahun.
Langkah perkembangan selama anak mengembangkan kompetensi dalam
keterampilan fisik, kognitif, dan psikososial. Selama masa ini anak menjadi
lebih baik dalam berbagai hal, misalnya mereka dapat berlari dengan cepat
dan lebih jauh sesuai perkembangan kecakapan dan daya tahannya.
Tahap ini dimulai ketika anak pertama telah berusia 6 tahun (mulai masuk
sekolah dasar) dan berakhir pada usia 13 tahun (awal dari masa remaja).
Tugas perkembangan keluarganya adalah:
a. Mensosialisasikan

anak-anak,

termasuk

meningkatkan

prestasi

sekolah,dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sehat.


b. Mempertahankan hubungan pernikahan yang memuaskan.

c. Memenuhi kebutuhan fisik anggota keluarga.


Masalah kesehatan tahap ini adalah:
a. Orang tua akan memulai berpisah dengan anak karena anak sudah mulai
memiliki banyak teman sebaya, hati-hati dengan pengaruh lingkungan
anak.
b. Orang tua mengalami banyak tekanan dari luar, misalnya dari sekolah dan
komunitas, untuk menyesuaikan anak dengan komunitas dan sekolah.
c. Kecacatan atau kelemahan anak akan tampak pada periode ini melalui
pengamatan perawat sekolah dan guru.
Tahap perkembangan anak usia sekolah:
a. Perkembangan biologis
Pada usia sekolah pertumbuhan pada anak laki-laki dan perempuan
memiliki perbedaan, pada anak lai-laki lebih tinggi dan kurus, pada anak
perempuan lebih pendek dan gemuk. Pada usia ini pembentukan lemak
lebih cepat dari pada otot.
b. Perkembangan psikososial
Pada masa ini anak-anak selalu melakukan aktivas bersama atau
berkelompok. Menurut Freud perkembangan psikososial pada anak usia
sekolah digolongkan dalam fase laten, yaitu ketika anak berada dalam
fase oidipus.
c. Perkembangan kognitif
Menurut Pieget anak berada dalam tahap operasional konkret, yaitu anak
mengekspresikan apa yang dilakukan dengan verbal dan simbol.
Kemampuan anak yang dimiliki pada tahap operasional konkret, yaitu:
1) Konservasi: menyukai sesuatu yang dapat dipelajari secara konkret
bukan magis.
2) Klasifikasi: mulai

belajar

mengelompokan,

menyusun

dan

mengurutkan.
3) Kombinasi: mulai mencoba belajar dengan angka dan huruf sesuai
dengan keinginannya yang dihubungkan dengan pengalaman yang
diperoleh sebelumnya.
4) Perkembangan spiritual
5) Pada usia ini anak-anak mulai tertarik terhadap surge dan neraka,
sehingga mereka mematuhi semua peraturan karena takut masuk
neraka.
6) Perkembangan bahasa
7) Kosa kata anak bertambah, kesalahan pengucapan mulai berkurang
karena bertambahnya pengalaman dan telah mendengar pengucapan
yang benar. Pembicaraan yang dilakukan dalam tahap ini lebih

terkendali dan terseleksi karena anak menggunakan pembicaraan


sebagai alat komunikasi.
8) Perkembangan seksual
9) Pada masa ini anak mulai menyesuaikan penampilan, pakaian, dan
gerak-geriknya sesuai dengan peran seksnya.
10) Perkembangan konsep diri
11) Dipengaruhi oleh hubungan dengan orang tua, saudara, dan saudara
lainnya. Dan anak membentuk konsep diri sehingga membentuk ego
ideal

yang

berfungsi

sebagai

standar

prilaku

umum

yang

diinternalisasi.

I. KELOMPOK ANAK
1.

Usia prasekolah

: 2 5 tahun

2.

Usia sekolah

: 6 12 tahun

Kelompok teman sebaya mempengaruhi perilaku anak. Perkembangan fisik,


kognitif dan sosial meningkat. Anak meningkatkan kemampuan komunikasi.
a. Anak usia 6-7 tahun :
1) membaca seperti mesin
2) mengulangi tiga angka mengurut ke belakang
3) membaca waktu untuk seperempat jam
4) anak wanita bermain dengan wanita
5) anak laki-laki bermain dengan laki-laki
6) cemas terhadap kegagalan
7) kadang malu atau sedih
8) peningkatan minat pada bidang spiritual
b. Anak usia 8-9 tahun:
1) kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat
2) menggunakan alat-alat seperti palu
3) peralatan rumah tangga
4) ketrampilan lebih individual
5) ingin terlibat dalam segala sesuatu
6) menyukai kelompok dan mode
7) mencari teman secara aktif
c. Anak usia 10-12 tahun:
1) pertambahan tinggi badan lambat
2) pertambahan berat badan cepat
3) perubahan tubuh yang berhubungan dengan pubertas mungkin tampak
4) mampu melakukan aktivitas seperti mencuci dan menjemur pakaian
sendiri
5) memasak, menggergaji, mengecat
6) menggambar, senang menulis surat atau catatan tertentu
7) membaca untuk kesenangan atau tujuan tertentu

8) teman sebaya dan orang tua penting


9) mulai tertarik dengan lawan jenis
10) sangat tertarik pada bacaan, ilmu pengetahuan
J. CIRI-CIRI ANAK USIA SEKOLAH
Anak usia sekolah disebut sebagai masa akhir anak-anak sejak usia 6 tahun
dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Label yang digunakan oleh orang tua
a. Usia yang menyulitkan karena anak tidak mau lagi menuruti perintah dan
lebih dipengaruhi oleh teman sebaya dari pada orang tua ataupun anggota
keluarga lainnya
b. Usia tidak rapi karena anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh
dalam penampilan
c. Usia bertengkar karena banyak terjadi pertengkaran antar keluarga dan
membuat suasana rumah yang tidak menyenangkan bagi semua anggota
keluarga
2. Label yang digunakan pendidik/guru
a. Usia sekolah dasar : anak diharapkan memperoleh dasar-dasar
pengetahuan yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri
pada kehidupan dewasa dan mempelajari perbagai ketrampilan penting
tertentu baik kurikuler maupu ekstrakurikuler
b. Periode kritis dalam berprestasi : anak membentuk kebiasaan untuk
mencapai sukses, tidak sukses, atau sangat sukses yang cenderung
menetap sampai dewasa
3. Label yang digunakan oleh ahli psikologi
a. Usia berkelompok : perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima
oleh teman-teman sebaya sebagai anggota kelompok
b. Usia penyesuaian diri : anak ingin menyesuaikan dengan standar yang
disetujui oleh kelompok dalam penampilan, berbicara dan berperilaku
c. Usia kreatif :suatu masa yang akan menentukan apakah anak akan
menjadi konformis (pencipta karya baru) atau tidak
d. Usia bermain : suatu masa yang mempunyai keinginan bermain yang
sangat besar karena adanya minat dan kegiatan untuk bermain
K. MASALAH KESEHATAN SPESIFIK PADA ANAK USIA SEKOLAH
Kecelakaan dan cedera merupakan masalah kesehatan utama yang terjadi
pada anak. Anak usia sekolah juga secara signifikan mengalami kanker, cacat
lahir, pembunuhan, dan penyakit jantung. Pada kelompok usia ini, masalah ini
memiliki angka mordibitas tinggi jumlah infeksi hamper 80% dari seluruh
penyakit anak. Infeksi pernafasan merupakan prevalensi terbanyak, flu biasa tetap
merupakan penyakit utama pada masa ini.

Beberapa kelompok lebih mudah mengalami penyakit dan ketidakmampuan,


sering kali sebagai akibat adanya rintangan pencapaian pelayanan kesehatan.
Retardasi mental, gangguan belajar, kerusakan sensasi, dan malnutrisi merupakan
prevalensi terbanyak di antara anak-anak yang hidup dalam kemiskinan.
Masalah-masalah yang sering terjadi pada anak usia sekolah meliputi bahaya
fisik dan psikologis.
1. Bahaya Fisik
a. Penyakit
1) Penyakit palsu/khayal untuk menghindari tugas-tugas yang menjadi
tanggung jawabnya
2) Penyakit yang sering dialami adalah yang berhubungan dengan
kebersihan diri
b. Kegemukan
Bahaya kegemukan yang dapat terjadi :
1) Anak kesulitan mengikuti kegiatan bermain sehingga kehilangan
kesempatan untuk keberhasilan social
2) Teman-temannya sering mengganggu dan mengejek sehingga anak
menjadi rendah diri
c. Kecelakaan
Meskipun tidak meninggalkan bekas fisik, kecelakaan sering dianggap
sebagai kegagalan dan anak lebih bersikap hati-hati akan bahayanya bagi
psikologisnya sehingga anak merasa takut dan hal ini dapat berkembang
menjadi rasa malu yang akan mempengaruhi hubungan sosial.
d. Kecanggungan
Anak mulai membandingkan kemampuannya dengan teman sebaya
bila muncul perasaan tidak mampu dapat menjadi dasar untuk rendah diri.
e. Kesederhanaan
Hal ini sering dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa
memandangnya sebagai perilaku kurang menarik sehingga anak
menafsirkannya sebagai penolakan yang dapat mempengaruhi konsep diri
anak.
2. Bahaya Psikologis
a. Bahaya dalam berbicara
Ada 4 (empat) bahaya dalam berbicara yang umum terdapat pada anakanak usia sekolah yaitu :
1) Kosakata yang kurang dari rata-rata menghambat tugas-tugas di sekolah dan
menghambat komunikasi dengan orang lain.
2) Kesalahan dalam berbicara, cacat dalam berbicara (gagap) akan membuat
anak jadi sadar diri sehingga anak hanya berbicara bila perlu saja.

3) Anak yang kesulitan berbicara dalam bahasa yang digunakan dilingkungan


sekolah akan terhalang dalam usaha untuk berkomunikasi dan mudah merasa
bahwa ia berbeda.
4) Pembicaraan yang bersifat egosentris, mengkritik dan merendahkan orang
lain, membual akan ditentang oleh temannya.
Bahaya emosi
Anak akan dianggap tidak matang bila menunjukan pola-pola emosi

b.

yang kurang menyenangkan seperti marah yang berlebihan, cemburu


masih sangat kuat sehingga kurang disenangi orang lain.
Bahaya bermain
Anak yang kurang memiliki dukungan sosial akan merasa kekurangan

c.

kesempatan untuk mempelajari permainandan olah raga untuk menjadi


anggota kelompok, anak dilarang berkhayal, dilarang melakukan
d.

kegiatan kreatif dan bermain akan menjadi anak penurut yang kaku.
Bahaya dalam konsep diri
Anak yang mempunyai konsep diri yang ideal biasanya merasa tidak
puas terhadap diri sendiri dan tidak puas terhadap perlakuan orang
lainbila konsep sosialnya didasarkan pada pelbagai stereotip, anak
cenderung

berprasangka

dan

bersikap

diskriminatif

dalam

memperlakukan orang lain. Karena konsepnya berbobot emosi dan


cenderung menetap serta terus menerus akan memberikan pengaruh
e.

buruk pada penyesuaian sosial anak.


Bahaya moral
Bahaya umum diakitkan dengan perkembangan sikap moral dan
perilaku anak-anak :
1) Perkembangan kode moral

berdasarkan

konsep

teman-teman

atau

berdasarkan konsep-konsep media massa tentang benar dan salah yang tidak
sesuai dengan kode orang dewasa
2) Tidak berhasil mengembangkan suara hati sebagai pengawas perilaku
3) Disiplin yang tidak konsisten membuat anak tidak yakin akan apa yang
sebaiknya dilakukan
4) Hukuman fisik merupakan contoh agresivitas anak
5) Menganggap dukungan teman terhadap perilaku yang salah begitu
memuaskan sehingga menjadi perilaku kebiasaan
6) Tidak sabar terhadap perilaku orang lain yang salah
f. Bahaya yang menyangkut minat
Bahaya yang dihubungkan dengan minat masa kanak-kanak :
1) Tidak berminat terhadap hal-hal yang dianggap penting oleh teman-teman
sebaya
2) Mengembangkan sikap yang kurang baik terhadap minat yang dapat bernilai
g.

bagi dirinya, misal kesehatan dan sekolah


Bahaya hubungan keluarga

Kondisi-kondisi yang menyebabkan merosotnya hubungan keluarga :


1) Sikap terhadap peran orang tua, orang tua yang kurang menyukai peran orang
tua dan merasa bahwa waktu, usaha dan uang dihabiskan oleh anak
cenderung mempunyai hubungan yang buruk dengan anak-anaknya.
2) Harapan orang tua, kritikan orang tua pada saat anak gagal dalam
melaksanakan tugas sekolah dan harapan-harapan orang tua maka orang tua
sering mengkritik, memarahi dan bahkan menghukum anak.
3) Metode pelatihan anak, disiplin yang otoriter pada keluarga besar dan disiplin
lunak pada keluarga kecil yang keduanya menimbulkan pertentangan dirumah
dan meyebabkan kebencian pada anak. Disiplin yang demokratis biasanya
menghasilkan hubungan keluarga yang baik.
4) Status sosial ekonomi, bila anak merasa benda dan rumah miliknya lebih
buruk dari temannya maka anak sering menyalahkan orang tua dan orang tua
cenderung membenci hal itu.
5) Pekerjaan orang tua, pandangan mengenai pekerjaan ayah mempengaruhi
persaan anak dan bila ibu seorang karyawan sikap terhadap ibu diwarnai oleh
pandangan teman-temannya mengenai wanita karier dan oleh banyaknya
beban yang harus dilakukan di rumah.
6) Perubahan sikap kepada orang tua, bila orang tua tidak sesuai dengan harapan
idealnya anak, anak cenderung bersikap kritis dan membandingkan orang
tuanya dengan orang tua teman-temannya.
7) Pertentangan antar saudara, anak-anak yang merasa orang tuanya pilih kasih
terhadap saudara-saudaranya maka anak akan menentang orang tua dan
saudara yang dianggap kesayangan orang tua.
8) Perubahan sikap terhadap sanak keluarga, anak-anak tidak menyukai sikap
sanak keluarga yang terlalu memerintah atau terlalu tua dan orang tua akan
memarahi anak serta sanak keluarga membenci sikap sianak.
9) Orang tua tiri, anak yang membenci orang tua tiri karena teringat orang tua
kandung yang tidak serumah akan memperlihatkan sikap kritis, negativitas
5.
6.
7.
8.

dan perilaku yang sulit.


Keluarga dengan anak remaja.
Keluarga yang melepaskan anak usia dewasa muda.
Orang tua usia pertengahan.
Keluarga dalam masa pensiun dan lansia.

L. DIARE
1. Pengertian
Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari, dengan/tanpa darah
dan lendir dalam tinja. Diare dikatakan sebagai keluarnya tinja berbentuk cair
sebanyak tiga kali atau lebih dalam dua puluh jam pertama, dengan
temperatur rectal di atas 38C, kolik, dan muntah-muntah.

2. Etiologi
Penyebab diare dapat dikelompokkan menjadi:
a.Virus: Rotavirus (40-60%), Adenovirus.
b.

Bakteri: Escherichia coli (20-30%), Shigela sp. (1-1%), Vibrio


cholerae, dan lain-lain.

c.Parasit: Entamoeba histolytica (<1%), Giardia lambia, Crystosporidium


(4-11%).
d.

Keracunan makanan

e.Malabsorbsi: karbohidrat, lemak dan protein.


f. Alergi: makanan, susu sapi
g.

Psikologis

h.

Imunodefisiensi: AIDS

3. Tanda dan gejala


a.Adapun tanda-tanda dan gejala-gejala yang ditimbulkan akibat diare:
1) Diare dengan dehidrasi ringan, dengan gejala sebagai berikut:
a) Frekuensi buang air besar 3 kali atau lebih dalam sehari
b) Keadaan umum baik dan sadar
c) Mata normal dan air mata ada
d) Mulut dan lidah basah
e) Tidak merasa haus dan bisa minum
2) Diare dengan dehidrasi sedang, kehilangan cairan sampai 5-10% dari
berat badan, dengan gejala sebagai berikut :
a) Frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dan sering
b) Kadang-kadang muntah, terasa haus
c) Kencing sedikit, nafsu makan kurang
d) Aktivitas menurun
e) Mata cekung, mulut dan lidah kering
f) Gelisah dan mengantuk
g) Nadi lebih cepat dari normal, ubun-ubun cekung
3) Diare dengan dehidrasi berat, kehilangan cairan lebih dari 10% berat
badan, dengan gejala:
a) Frekuensi buang air besar terus-menerus
b) Muntah lebih sering, terasa haus sekali
c) Tidak kencing, tidak ada nafsu makan
d) Sangat lemah sampai tidak sadar

e) Mata sangat cekung, mulut sangat kering


f) Nafas sangat cepat dan dalam
g) Nadi sangat cepat, lemah atau tidak teraba
h) Ubun-ubun sangat cekung

4. Patofisiologi

DAFTAR PUSTAKA

Friedman, M.M., Bowden, V.R., Jones, E.G. 2003. Family Nursing: Research, theory
and practice, 5th edition, Nem Jersey: Pearson Education, Inc.
https://www.scribd.com/doc/154269011/87426284-Asuhan-Keperawatan-KeluargaDengan-Anak-Usia-Sekolah (diakses pada tanggal 12 Juli 2016 pukul
15.00)
https://www.scribd.com/doc/50136705/Keluarga-Anak-Usia-Sekolah#download
(diakses pada tanggal 12 Juli 2016 pukul 15.05)
https://www.scribd.com/doc/251296927/Laporan-Pendahuluan-Keluarga-DenganAnak-Usia-Sekolah (diakses pada tanggal 12 Juli 2016 pukul 16.00)
https://www.scribd.com/doc/251296927/Laporan-Pendahuluan-Keluarga-DenganAnak-Usia-Sekolah (diakses pada tanggal 13 Juli 2016 pukul 18.00)
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/146/jtptunimus-gdl-diananggra-7263-3-babiipt.pdf (diakses tanggal 20 Juli 2016 pukul 10.10)
Muwarni & Setyowati. 2011. Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Fitramaya.
Sander,M.A. 2005. Hubungan Faktor Sosial Budaya dengan Kejadian Diare. Journal
Medika Vol II No.2. (diakses tanggal 21 Juli 2016 pukul 10.00)
Suharyono. 2008. Diare Akut. Jakarta : Balai penerbit FKUI
Suprajitno. 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga. APlikasi Dalam Praktik. Jakarta:
EGC.