Anda di halaman 1dari 3

Tujuan anestesi

menciptakan kondisi sedasi, analgesi, relaksasi, dan penekanan refleks yang


optimal dan adekuat untuk dilakukan tindakan dan prosedur diagnostik atau
pembedahan tanpa menimbulkan gangguan hemodinamik, respiratorik, dan
metabolik yang dapat mengancam.
Preanestesi adalah pemberian zat kimia sebelum tindakan anestesi umum dengan
tujuan utama menenangkan pasien, menghasilkan induksi anestesi yang halus,
mengurangi dosis anestetikum, mengurangi atau menghilangkan efek samping
anestetikum, dan mengurangi nyeri selama operasi maupun pasca operasi (Debuf
1991; McKelvey dan Hollingshead 2003).
Atropine digunakan untuk mengurangi salivasi, peristaltik dan mengurangi
bradikardia akibat anestesi.
Acepromazin digunakan sebagai penenang atau tranquilizer. Xylazine,
medetomidin, diazepam, dan midazolam digunakan sebagai agen sedatif dan
merelaksasi otot. Acepromazin digunakan sebagai penenang atau tranquilizer.
Xylazine, medetomidin, diazepam, dan midazolam digunakan sebagai agen sedatif
dan merelaksasi otot.
isofluran merelaksasi otot sehingga baik untuk intubasi.
Tendensi timbul aritmia amat kecil sebab isofluran tidak menyebabkan sensiitisasi
jantung terhadap ketokolamin
Pada anestesi yang dalam dengan isofluran tidak terjadi perangsangan SSP seperti
pada pemberian enfluran. Isofluran meningkatkan aliran darah otak pada kadar
labih dari 1,1 MAC (minimal Alveolar Concentration) dan meningkatkan tekanan
intracranial.

Ketamin merupakan larutan larutan yang tidak berwarna, stabil pada suhu kamar
dan relatif aman. Ketamin mempunyai sifat analgesic, anestetik dan kataleptik
dengan kerja singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk system somatik, tetapi
lemah untuk sistem visceral. Tidak menyebabkan relaksasi otot lurik, bahkan
kadang-kadang tonusnya sedikit meninggi. Ketamin akan meningkatkan tekanan
darah, frekuensi nadi dan curah jantung sampai 20%. Ketamin menyebabkan
reflek faring dan laring tetap normal. Ketamin sering menimbulkan halusinasi
terutama pada orang dewasa.
Sebagian besar ketamin mengalami dealkilasi dan dihidrolisis dalam hati, kemudian
diekskresi terutama dalam bentuk utuh. Untuk induksi ketamin secara intravena
dengan dosis 2 mm/kgBB dalam waktu 60 detik, stadium operasi dicapai dalam 510 menit. Untuk mempertahankan anestesi dapat diberikan dosis ulangan setengah

dari semula. Ketamin intramuscular untuk induksi diberikan 10 mg/kgBB, stadium


operasi terjadi dalam 12-25 menit.

Tahapan anestesi
preanestesi, induksi, pemeliharaan, dan pemulihan (McKelvey dan Hollingshead
2003).
Tahap induksi :
hilangnya rasa sakit atau analgesia, relaksasi otot rangka, berhenti bergerak,
dilanjutkan dengan hilangnya refleks palpebral, spingter ani longgar, serta respirasi
dan kardiovaskuler tertekan secara ringan. Begitu mulai memasuki tahap
pemeliharaan, respirasi kembali teratur dan gerakan tanpa sengaja anggota tubuh
berhenti. Bola mata akan bergerak menuju ventral, pupil mengalami konstriksi, dan
respon pupil sangat ringan. Refleks menelan sangat tertekan sehingga endotracheal
tube sangat mudah dimasukkan, refleks palpebral mulai hilang, dan kesadaran
mulai hilang. Anestesi semakin dalam sehingga sangat nyata menekan sirkulasi dan
respirasi. Pada anjing dan kucing, kecepatan respirasi kurang dari 12 kali per menit
dan respirasi semakin dangkal. Denyut jantung sangan rendah dan pulsus sangat
menurun karena terjadi penurunan seluruh tekanan darah. Nilai CRT akan
meningkat menjadi 2 atau 3 detik. Semua refleks tertekan secara total dan terjadi
relaksasi otot secara sempurna serta refleks rahang bawah sangat kendor. Apabila
anestesi dilanjutkan lebih dalam, pasien akan menunjukkan respirasi dan
kardiovaskuler lebih tertekan dan pada keadaan dosis anestetikum berlebih akan
menyebabkan respirasi dan jantung berhenti. Dengan demikian, pada tahap
pemeliharaan sangat diperlukan pemantauan dan pengawasan status teranestesi
terhadap sistim kardiovaskuler dan respirasi (McKelvey dan Hollingshead 2003;
Tranquilli et al. 2007 ).