Anda di halaman 1dari 75

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perkembangan Wilayah
Perkembangan wilayah merupakan salah satu aspek yang penting dalam
pelaksanaan pembangunan. Tujuannya antara lain untuk memacu perkembangan
sosial ekonomi dan mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah dalam
rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk mengetahui perkembangan
suatu wilayah,

dapat

dilakukan dengan menganalisis pencapaian hasil

pembangunan melalui indikator-indikator kinerja di bidang ekonomi dan sosial


serta bidang-bidang lain dengan menggunakan berbagai metode analisis. Dalam
penelitian ini, perkembangan wilayah dianalisis dengan tiga metode, yaitu metode
skalogram untuk melihat perkembangan wilayah berdasarkan tingkat hirarkinya
(ketersediaan sarana dan prasarna wilayah), indeks entropi untuk melihat
perkembangan atau keberagaman sektor-sektor perekonomiannya dan tipologi
Klassen (matriks Klassen) untuk mengetahui tingkat perkembangan wilayah dari
aspek ekonomi (rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita).
Hirarki Wilayah di Kabupaten Sambas
Tingkat perkembangan suatu wilayah pada analisis skalogram dicerminkan
oleh nilai indeks perkembangan wilayah (desa/IPD atau kecamatan/IPK), semakin
tinggi IPD/IPK maka semakin berkembang atau maju desa atau kecamatan tersebut,
sehingga dapat menjadi pusat pelayanan bagi wilayah sekitarnya atau bagi wilayah
yang memiliki nilai IPD/IPK yang lebih rendah.

Analisis skalogram dalam

penentuan indeks perkembangan desa (IPD) maupun kecamatan (IPK) di


Kabupaten Sambas dilakukan dalam tiga titik tahun yaitu tahun 2000, 2003 dan
2006 dengan menggunakan jenis data yang sama dari data Podes pada ketiga tahun
tersebut seperti terlihat pada Lampiran 1. Berdasarkan hasil analisis skalogram pada
tahun 2000, diperoleh IPD antara 14,16 (di Desa Keraban Kecamatan Subah)
sampai dengan 117,18 (Desa Tumuk Manggis Kecamatan Sambas), sedangkan nilai
IPK pada tahun yang sama diperoleh antara 30,76 (Kecamatan Sajad) sampai
dengan 135,64 (Kecamatan Sambas). Di tahun 2003 diperoleh IPD antara 17,66
(Desa Twi Mentibar Kecamatan Selakau) sampai dengan 88,00 (Desa Pemangkat
Kota Kecamatan Pemangkat) dan IPK antara 23,40 (Kecamatan Sajad) sampai

94

dengan 128,04 (Kecamatan Sambas), sedangkan pada tahun 2006 diperoleh IPD
antara 16,28 (Desa Cepala Kecamatan Tekarang) sampai dengan 167,85 (Desa
Pasar Melayu Kecamatan Sambas) dan IPK antara 35,41 (Kecamatan Sajad) sampai
dengan 134,54 (Kecamatan Sambas). Secara rinci nilai IPD dan IPK pada ketiga
tahun tersebut di Kabupaten Sambas serta sebarannya pada wilayah pengembangan
(WP) dan kecamatan ditunjukkan pada Lampiran 5 dan 6.
Hirarki wilayah pada tahun 2006 menurut ketersediaan sarana dan prasarana
serta fasilitas pelayanan umum berdasarkan perhitungan skalogram diperoleh hasil
sebagai berikut:
a.

Wilayah yang termasuk pada hirarki I merupakan desa-desa atau kecamatan


dengan tingkat perkembangan wilayah yang lebih tinggi/maju dibandingkan
desa atau kecamatan lainnya di Kabupaten Sambas. Desa-desa yang
termasuk pada hirarki ini memiliki IPD antara 76,14 sampai dengan 167,85,
yaitu sebanyak 14 desa dari 184 desa yang ada di Kabupaten Sambas (7,61%
dari total desa yang ada di Kabupaten Sambas). Desa hirarki I ini terdapat di
8 Kecamatan, yaitu: 6 desa di Kecamatan Sambas, 2 desa di Kecamatan
Pemangkat dan 1 desa masing-masing di Kecamatan Tebas, Teluk Keramat
Subah, Jawai, Jawai Selatan dan Paloh.

Desa-desa tersebut umumnya

merupakan ibu kota kecamatan yang merupakan pusat pelayanan lokal


kecamatan, seperti Desa Pemangkat Kota (Kec. Pemangkat), Tebas Kuala
(Kec. Tebas), Sentebang (Kec.Jawai), Matang Terap (Kec. Jawai Selatan),
Tumuk Manggis (Kec. Sambas), Balai Gemuruh (Kec. Subah) dan Nibung
(Kec.Paloh). Sedangkan wilayah kecamatan yang termasuk pada hirarki ini
sebanyak satu kecamatan, yaitu Kecamatan Sambas (5,88% dari total
kecamatan yang ada di Kabupaten Sambas) dengan nilai IPK 134,54 yang
merupakan pusat pelayanan kabupaten. Desa-desa atau kecamatan tersebut
memiliki tingkat ketersediaan sarana dan prasarana serta fasilitas pelayanan
umum yang lebih memadai, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan
dan ekonomi. Desa-desa atau kecamatan ini memiliki aksesibilitas yang
tinggi terhadap pusat pemerintahan dan empat puluh persen desa tersebut
berada di pusat ibu kota kabupaten yang merupakan wilayah perkotaan.
b.

Wilayah yang termasuk pada hirarki II merupakan desa-desa atau kecamatan

95

yang memiliki tingkat perkembangan wilayah sedang, memiliki nilai IPD


antara 45,95 sampai dengan 74,76 atau 58,33 sampai 73,47 untuk nilai IPK.
Desa-desa yang termasuk pada hirarki ini sebanyak 43 desa (23,37%) dari
total desa yang ada di Kabupaten Sambas) yang tersebar pada semua
kecamatan kecuali di Kecamatan Sajad seperti terlihat pada Lampiran 6.
Kecamatan yang didominasi desa hirarki ini terdapat di kecamatan Tekarang
(57,14%) dan Subah (63,64%). Di Kabupaten Sambas, kecamatan yang
termasuk pada hirarki ini sebanyak 4 kecamatan (23,53%), yaitu Kecamatan
Pemangkat, Semparuk, Tebas, dan Jawai Selatan. Ciri-ciri yang menonjol
dari desa-desa atau kecamatan ini adalah ketersediaan sarana dan prasarana
dan fasilitas pelayanan umum relatif lebih rendah dibandingkan desadesa/kecamatan pada hirarki I. Kecuali Kecamatan Sajad, beberapa dari desa
berhirarki II ini merupakan ibu kota kecamatan pada kecamatan yang
memiliki tingkat perkembangan wilayah sedang (hirarki II) atau lebih
rendah (Lampiran 5), seperti Desa Sei Nyirih (Kec. Selakau), Semparuk
(Kec. Semparuk), Tekarang (Kec. Tekarang), Sebawi (Kec.Sebawi), Parit
Raja (Kec. Sejangkung), Simpang Empat (Kec. Tangaran), Galing (Kec.
Galing) dan Kaliau (Kec. Sajingan Besar).
c.

Wilayah yang termasuk pada hirarki III merupakan desa-desa atau


kecamatan yang memiliki tingkat perkembangan wilayah paling rendah,
memiliki nilai IPD antara 16,28 sampai dengan 45,68 atau nilai IPK antara
35,41 sampai 57,64. Di Kabupaten Sambas, desa-desa pada hirarki III paling
banyak jumlahnya, yaitu sebanyak 127 desa (69,02% dari total desa yang
ada di Kabupaten Sambas) yang tersebar pada semua kecamatan. Seperti
terlihat pada Lampiran 6, hampir semua kecamatan di Kabupaten Sambas
didominasi oleh desa-desa pada hirarki ini, yaitu dari 17 kecamatan yang
ada, 14 kecamatan diantaranya didominasi oleh desa-desa hirarki III
(82,35%). Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Kecamatan Sajad (100%),
Sejangkung (91,67%), Tangaran (85,71%), Selakau (84,62%), Teluk
Keramat (83,33%), Jawai (81,82%), Galing (80,00%), Paloh (75%), Sebawi
(71,43%), Pemangkat (70,00%), Jawai Selatan (66,67%), Tebas (60,87%),
Semparuk (60,00%) dan Sajingan Besar (60,00%). Sedangkan wilayah

96

kecamatan yang termasuk dalam hirarki ini ada sebanyak 12 Kecamatan


(70,59%), yaitu Kecamatan Sajad, Sajingan Besar, Selakau, Tangaran,
Galing, Paloh, Sejangkung, Subah, Tekarang, Sebawi, Jawai dan Teluk
Keramat. Ciri-ciri yang menonjol dari desa-desa atau kecamatan ini adalah
ketersediaan sarana dan prasarana wilayah yang relatif kurang dibandingkan
desa-desa atau kecamatan pada hirarki yang lebih tinggi, mempunyai akses
terhadap pusat

pemerintahan yang

relatif lebih sulit

dan masih

mengandalkan sektor pertanian. Penyebaran desa-desa dan kecamatan


menurut hirarki pada tahun 2006 di Kabupaten Sambas secara spasial
ditunjukkan pada Gambar 16 dan 17.

Gambar 16 Peta penyebaran desa-desa menurut hirarki di Kabupaten Sambas


Pada Gambar 16 tersebut, tampak bahwa desa-desa yang berhirarki I
terdapat di delapan kecamatan yaitu Kecamatan Sambas (42,86%), Kecamatan
Pemangkat (14,29%) dan 7,14% masing-masing terdapat di Kecamatan Tebas,
Jawai, Jawai Selatan, Subah, Teluk Keramat dan Paloh yang sebagian besar
berdasarkan RTRW Kabupaten Sambas merupakan pusat dari wilayah
pengembangan yang melayani daerah hinterland di sekitarnya. Pada desa-desa
yang berhirarki II dan III pada umumnya relatif menyebar pada seluruh wilayah

97

Kabupaten Sambas, tetapi desa-desa yang berhirarki II relatif lebih dekat dengan
desa-desa hirarki I, sedangkan desa-desa yang berhirarki III berada dekat pada
wilayah perbatasan negara. Gambar 16 juga menunjukkan bahwa desa-desa pada
hirarki I dan II berada pada jalur transportasi utama (jalan provinsi dan
kabupaten). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sarana-prasarana dan
fasilitas pelayanan umum di Kabupaten Sambas relatif masih terpusat pada pusat
kota pelayanan dan menyebar di sepanjang jalur transportasi utama. Secara
rekapitulasi jumlah desa-desa di wilayah kecamatan berdasarkan hirarkinya di
Kabupaten Sambas tahun 2006 ditunjukkan pada Tabel 23.
Tabel 23 Jumlah desa-desa di wilayah kecamatan berdasarkan hirarkinya di
Kabupaten Sambas tahun 2006
WP

Kecamatan

Pemangkat*
Selakau
Semparuk
Tebas
Tekarang
Jawai
Jawai Selatan

II

Sambas**
Subah
Sebawi
Sajad
Sejangkung

III

Teluk Keramat*
Tangaran
Paloh

IV

Galing*
Sajingan Besar
Jumlah Total

I
2
0
0
1
0
1
1
5
6
1
0
0
0
7
1
0
1
2
0
0
0
14

Jumlah Desa
II
III
Total
1
7
10
2
11
13
2
3
5
8
14
23
4
3
7
1
9
11
2
6
9
20
53
78
4
8
18
7
3
11
2
5
7
0
4
4
1
11
12
14
31
52
3
20
24
1
6
7
1
6
8
5
32
39
2
8
10
2
3
5
4
11
15
43 127
184

Persentase Desa***
I
II
III
1,09
0,54
3,80
0,00
1,09
5,98
0,00
1,09
1,63
0,54
4,35
7,61
0,00
2,17
1,63
0,54
0,54
4,89
0,54
1,09
3,26
2,72 10,87 28,80
3,26
2,17
4,35
0,54
3,80
1,63
0,00
1,09
2,72
0,00
0,00
2,17
0,00
0,54
5,98
3,80
7,61 16,85
0,54
1,63 10,87
0,00
0,54
3,26
0,54
0,54
3,26
1,09
2,72 17,39
0,00
1,09
4,35
0,00
1,09
1,63
0,00
2,17
5,98
7,61 23,37 69,02

Sumber : Hasil analisis


Keterangan: * = pusat pengembangan; ** = pusat pengembangan dan ibu kota kabupaten;
*** = persen terhadap seluruh desa di Kabupaten Sambas.

Seperti ditunjukkan Tabel 23 bahwa seluruh wilayah pengembangan (WP)


di Kabupaten Sambas di dominasi oleh desa-desa berhirarki III. WP yang
memiliki persentase desa hirarki III tertinggi hingga terendah dari total desa yang

98

ada di Kabupaten Sambas secara berturut-turut adalah WP I (28,80%), WP III


(17,39%), WP II (16,85%) dan WP IV (5,98%). Pada hirarki II, WP yang
memiliki persentase desa hirarki II tertinggi adalah WP I yaitu sebesar 10,87%,
disusul WP II sebesar 7,61%, sedangkan WP III dan IV berturut-turut hanya
sebesar 2,72% dan 2,17%.
Tabel 23 juga menunjukkan bahwa dari empat WP yang ada, ternyata WP
IV tidak memiliki desa hirarki I. WP yang memiliki desa berhirarki I tertinggi
dalam wilayah pengembangannya adalah WP II, yaitu sebesar 3,80%, kemudian
diikuti WP III dan I, yaitu sebesar 2,72% dan 1,09% dari jumlah seluruh desa
yang ada di Kabupaten Sambas. Desa-desa tersebut sebagian besar berada pada
pusat-pusat pengembangan pada tiap WP, yaitu pada Kecamatan Sambas,
Pemangkat dan Teluk Keramat. Hal ini menunjukan bahwa struktur pusat
pelayanan masih memusat di pusat pertumbuhan yang ada di wilayah
Pengembangan. Kondisi tersebut sesuai dengan rencana strategi pengembangan
struktur tata ruang yang tertuang dalam RTRW Kabupaten Sambas yang berupaya
memantapkan Kota Sambas dan Pemangkat sebagai pusat pengembangan utama
dengan fungsi sebagai simpul utama transportasi regional, pusat kegiatan ekonomi
regional, pusat permukiman utama, pusat pelayanan fasilitas sosial skala regional,
dan pusat kegiatan pemerintahan kabupaten khususnya untuk Kota Sambas. Selain
itu, rencana strategi tersbut juga bertujuan memantapkan Kota Tebas, Sekura (ibu
kota Kec. Teluk Keramat), dan Galing sebagai pusat pengembangan subregional
dengan fungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan kecamatan, pusat kegiatan
ekonomi dan pelayanan sosial tingkat kecamatan dan sekitarnya. Namun
kenyataannya untuk Kecamatan Galing kurang berkembang (tidak memiliki desa
berhirarki I).
Struktur yang memusat tersebut juga diperkuat dengan hasil perhitungan Indeks
Perkembangan Kecamatan (IPK) pada tahun 2006 di Kabupaten Sambas seperti yang
ditunjukkan pada Tabel 24 dan Gambar 17, bahwa wilayah yang berada pada hirarki I
hanya Kecamatan Sambas dengan IPK 134,54. Nilai IPK ini sangat jauh berbeda
dengan nilai-nilai IPK yang dimiliki kecamatan lainnya, termasuk IPK rata-rata
kabupaten yang hanya mencapai 58,09. Sedangkan IPK hirarki II memiliki selang
nilai antara 58,33 sampai dengan 73,47 yang terdapat di 4 kecamatan yaitu:

99

Kecamatan Pemangkat, Jawai Selatan, Tebas dan Semparuk. Pada hirarki III, IPKnya
memiliki selang nilai antara 35,41 sampai dengan 57,64 meliputi 12 Kecamatan yaitu
Kecamatan Jawai, Sebawi, Teluk Keramat, Tekarang, Subah, Sejangkung, Paloh,
Galing, Tangaran, Selakau, Sajingan Besar dan Sajad. Gambaran tersebut
menunjukkan bahwa di Kabupaten Sambas pada tahun 2006 masih terjadi pemusatan
sarana dan prasarana serta fasilitas pelayanan umum. Hal ini juga menunjukkan
bahwa hasil-hasil pembangunan berupa sarana prasarana dan fasilitas pelayanan
umum yang dibangun masih belum merata dinikmati oleh seluruh masyarakat
Kabupaten Sambas.

Gambar 17 Peta penyebaran kecamatan menurut hirarki di Kabupaten Sambas


Dilihat dari hirarki wilayah seperti terlihat pada Tabel 24, bahwa selama
kurun waktu tahun 2000-2006, wilayah-wilayah kecamatan di Kabupaten Sambas
sebagian besar (64,71% atau 11 dari 17 kecamatan yang ada) memiliki struktur
hirarki yang tidak berubah, sedangkan IPK tertinggi tetap terdapat di Kecamatan
Sambas dan IPK terendah masih terdapat di Kecamatan Sajad. Sebagian yang lain
(35,29%) kecamatan-kecamatan di Kabupaten Sambas relatif mengalami
perubahan baik peningkatan maupun penurunan tingkat hirarki, seperti Kecamatan

100

Selakau, Semparuk, Sebawi dan Sejangkung yang mengalami penurunan dari


hirarki II pada tahun 2000 menjadi hirarki III pada tahun 2003, sedangkan
Kecamatan Subah dan Teluk Keramat mengalami kenaikan dari hirarki III
menjadi hirarki II. Akan tetapi pada kurun waktu 2003-2006, Kecamatan Subah
dan Teluk Keramat malah mengalami penurunan hirarki dari hirarki II menjadi
hirarki III kembali, sedangkan Kecamatan Semparuk mengalami kenaikan dari
hirarki III menjadi hirarki II.
Tabel 24 Indek perkembangan kecamatan (IPK) di Kabupaten Sambas Tahun
2000, 2003, dan 2006
WP
I

II

III

IV

Kecamatan

Tahun 2000
IPK

Hirarki

Pemangkat

67,67

II

Selakau
Semparuk
Tebas
Tekarang

58,72
64,67
63,02
44,84

II
II
II
III

Jawai

55,89

Jawai Selatan

Tahun 2003
IPK

Hirarki

Tahun 2006
IPK

Hirarki

II

70,29

II

67,56
46,43

III
III
II
III

III
II
II
III

III

57,15

III

48,18
58,33
66,40
53,26
57,15

66,75

II

82,77

II

73,47

II

135,64
46,91
60,08

I
III
II

128,04
65,80
59,94

I
II
III

134,54
57,64
56,97

I
III
III

Sajad

30,76

III

23,40

III

35,41

III

Sejangkung

58,48

II

48,22

III

48,45

III

Teluk Keramat
Tangaran
Paloh

51,23
48,64
51,97

III
III
III

64,88
33,19
49,66

II
III
III

54,49
38,28
43,34

III
III
III

Galing

45,00

III

46,58

III

45,52

III

Sajingan Besar

41,95

III

59,24

III

45,80

III

Sambas
Subah
Sebawi

Rataan
Standar Deviasi (ST Dev)

58,37
22,23

82,64
45,69
59,72

60,05
23,26

III

58,09
22,31

Sumber: Hasil analisis data PODES tahun 2000, 2003 dan 20006
Keterangan: Angka yang dicetak tebal menunjukkan kenaikkan IPK dari tahun sebelumnya.

Selain perkembangan hirarki wilayah, perkembangan IPK juga dapat


dibandingkan dari tahun 2000, 2003 dan 2006, karena variabel yang digunakan
dalam menentukan IPK pada tiga titik tahun tersebut sama. Seperti terlihat pada
Tabel 24, bahwa dalam kurun waktu 2000-2003 dan 2003-2006, perkembangan
IPK wilayah kecamatan di Kabupaten Sambas menunjukkan hal yang sama
dengan perkembangan hirarkinya, yaitu ada yang mengalami peningkatan dan ada

101

pula yang mengalami kenaikan. Beberapa kecamatan yang mengalami kenaikan


IPK dari tahun 2000 ke 2003 adalah Kecamatan Pemangkat, Tebas, Tekarang,
Jawai, Jawai Selatan, Subah, Teluk Keramat Galing dan Sajingan Besar,
sedangkan kecamatan lainnya mengalami penurunan.
Pada perkembangan IPK dari tahun 2003 ke 2006 menunjukkan bahwa
kecamatan-kecamatan yang mengalami peningkatan IPK adalah Kecamatan
Selakau, Tekarang, Sambas, Sajad, Sejangkung dan Tangaran. Hal menarik dari
perkembangan IPK tersebut kecuali pada Kecamatan Tekarang adalah kecamatankecamatan yang mengalami kenaikan IPK pada kurun waktu 2003-2006
merupakan kecamatan yang mengalami penurunan indeks pada kurun waktu
sebelumnya (2000-2003). Hal ini menggambarkan bahwa pelaksanaan kebijakan
pembangunan sarana dan prasarana wilayah di Kabupaten Sambas dalam kurun
waktu 2000-2006 sudah mengupayakan pemerataan pembangunan fisik, karena
kenaikan IPK menggambarkan penambahan baik jumlah maupun jumlah jenis
fasilitas serta meningkatkan pendekatan jarak pelayanan fasilitas di suatu wilayah,
meskipun upaya pemerataan tersebut belum menunjukkan hasil yang nyata .
Tabel 24 juga menunjukkan bahwa walaupun terjadi perubahan (kenaikan
atau penurunan) indeks perkembangan wilayah, akan tetapi perubahan tersebut
tidak selalu diikuti dengan perubahan hirarki wilayahnya. Dari beberapa kecamatan
yang mengalami kenaikan IPK, hanya Kecamatan Subah yang diikuti dengan
kenaikan Hirarki dari hirarki III pada tahun 2000 menjadi hirarki II pada tahun
2003, sedangkan kecamatan lainnya tetap. Hal ini dikarenakan perubahan tersebut
umumnya tidak terlalu tinggi sehingga belum melebihi batas kriteria tingkat
hirarkinya. Selain itu, adanya perubahan kenaikan baik pada nilai IPK maupun
tingkat hirarki pada beberapa kecamatan, diakibatkan oleh terjadinya penambahan
jumlah

dan

jenis

fasilitas

pada

kecamatan

tersebut

sehingga

indeks

perkembangannya menjadi meningkat dan pada tingkat yang tinggi dapat disertai
dengan peningkatan hirarkinya. Sedangkan pada wilayah kecamatan yang
mengalami penurunan IPK atau hirarki diakibatkan oleh tidak terjadinya
penambahan jumlah maupun jenis fasilitas di wilayah tersebut atau walaupun
terjadi penambahan akan tetapi penambahan tersebut jauh lebih sedikit
dibandingkan dengan penambahan jumlah maupun jenis fasilitas di kecamatan lain.

102

Dalam wilayah pengembangan (WP), perkembangan hirarki wilayah pada


tingkat desa di Kabupaten Sambas pada tahun 2000, 2003 dan 2006 menurut
ketersediaan sarana dan prasarana serta aksesibilitas ke fasilitas/pelayanan umum
berdasarkan hasil analisis dengan metode skalogram ditunjukkan pada Tabel 25.
Tabel 25 Jumlah dan persentase tingkat hirarki desa dalam wilayah
pengembangan (WP) di Kabupaten Sambas tahun 2000, 2003 dan 2006
Hirarki

WP

I
II
III
IV
Jumlah
I
II
III
IV
Jumlah
I
II
III
IV
Jumlah
Total

II

III

2000
Jlh Desa
5
7
3
0
15
16
16
5
4
41
57
28
29
7
121
177

%
2,82
3,95
1,69
0,00
8,47
9,04
9,04
2,82
2,26
23,16
32,20
15,82
16,38
3,95
68,36
100,00

2003
Jlh Desa
6
5
2
0
13
12
20
10
5
47
60
26
26
10
122
182

%
3,30
2,75
1,10
0,00

2006
Jlh Desa
5
7
2
0

7,14
6,59
10,99
5,49
2,75
25,82
32,97
14,29
14,29
5,49
67,03
100,00

14
20
14
5
4
43
53
31
32
11
127
184

%
2,72
3,80
1,09
0,00
7,61
10,87
7,61
2,72
2,17
23,37
28,80
16,85
17,39
5,98
69,02
100,00

Sumber: Hasil analisis


Keterangan: % = Persentase terhadap total jumlah desa di Kabupaten Sambas.

Pada wilayah pengembangan (WP) I seperti ditunjukkan Tabel 25, jumlah


desa-desa hirarki I mengalami peningkatan, yaitu dari 2,82% pada tahun 2000,
menjadi 3,30% pada tahun 2003 dan pada tahun 2006 turun menjadi 2,72% dari
jumlah total desa yang ada di Kabupaten Sambas. Berbeda dengan WP I, pada WP
II setelah mengalami penurunan dari 3,95% pada tahun 2000 menjadi 2,75% pada
tahun 2003 kemudian bertambah menjadi 3,80% pada tahun 2006. Di WP III,
jumlah desa-desa hirarki I mengalami penurunan dari 1,69% pada tahun 2000
menjadi 1,10% pada tahun 2003 dan pada tahun 2006 menjadi 1,09%, sedangkan
pada WP IV tidak memiliki desa yang berhirarki I. Pada tingkat kabupaten,
perkembangan desa-desa hirarki I mengikuti kecenderungan seperti pada WP II,
yaitu dari 8,47% pada tahun 2000 turun menjadi 7,14% pada tahun 2003,
kemudian mengalami kenaikan pada tahun 2006 menjadi 7,61%. Perkembangan
desa-desa hirarki I dalam empat wilayah pengembangan (WP) dan Kabupaten
Sambas seperti terlihat pada Gambar 18.

Jmlah Desa Hirarki I (%)

103

9,00
8,00
7,00
6,00
5,00
4,00
3,00
2,00
1,00
0,00

8,47

7,61

7,14

WP I
WP II
3,95

3,80

3,30
2,82

2,75

1,69
2000

1,10
2003
Tahun

WP III

2,72

WP IV

1,09

Kab. Sambas

2006

Gambar 18 Perkembangan desa-desa hirarki I pada


pengembangan (WP) di Kabupaten Sambas

empat

wilayah

Perkembangan desa-desa hirarki II pada empat wilayah pengembangan


(WP) di Kabupaten Sambas dari tahun 2000 2006 menunjukkan kencederungan
yang sama, kecuali pada WP I (Gambar 19). Pada WP II, III dan IV berturut-turut
setelah mengalami kenaikan dari 9,04%; 2,82% dan 2,26% pada tahun 2000,
menjadi 10,99%; 5,49% dan 2,75% pada tahun 2003, kemudian turun menjadi
7,61% ; 2,72% dan 2,17 pada tahun 2006. Pada WP I, setelah mengalami
penurunan dari 9,04% pada tahun 2000 menjadi 6,59% pada tahun 2003,
kemudian

meningkat tajam menjadi 10,87% di tahun 2006. Pada tingkat

kabupaten, perkembangan desa-desa hirarki II memiliki kecenderungan yang


sama denga WP II, III dan IV, yaitu mengalami kenaikan dari 23,16% pada tahun
2000, menjadi 25,82% pada tahun 2003, dan mengalami penurunan pada tahun
2006 menjadi 23,37%.

Jmlah Desa Hirarki II (%)

30,00
25,00

25,82

23,16

23,37

20,00

WP I

15,00
10,00
5,00
0,00

9,04

WP II

10,99

10,87

6,59
2,82
2,26
2000

7,61
5,49

2,75
2003

2,72
2,17

WP III
WP IV
Kab. Sambas

2006

Tahun

Gambar 19 Perkembangan desa-desa hirarki II pada


pengembangan (WP) di Kabupaten Sambas

empat

wilayah

Pada tahun 2000 2003, perkembangan desa-desa hirarki III di Kabupaten

104

Sambas menunjukkan kecenderungan yang menurun, yaitu dari 68,36% pada


tahun 2000, turun menjadi 67,03% di tahun 2003, sedangkan pada kurun waktu
2003-2006 meningkat menjadi 69,02% (Gambar 20). Di empat wilayah
pengembangan (WP), perkembangan desa-desa hirarki III menunjukkan
kecenderungan yang berbeda-beda. Pada WP IV, perkembangan desa-desa hirarki
III menunjukkan kecenderungan yang meningkat, dari 3,95% pada tahun 2000,
meningkat menjadi 5,49% di tahun 2003, dan pada tahun 2006 meningkat menjadi
5,98%. Pada WP II dan III, perkembangan desa-desa hirarki III menunjukkan
kecenderungan yang sama, yaitu diawali dengan penurunan dari 15,82% dan
16,38% pada tahun 2000, keduanya menjadi 14,29% di tahun 2003, dan kemudian
meningkat masing-masing menjadi 16,85% dan 17,39% pada tahun 2006.
Sedangkan pada WP I, perkembangan desa-desa hirarki III menunjukkan
kecenderungan yang relatif menurun, walaupun pada tiga tahun pertama
menunjukkan kenaikan yang relatif sedikit dari 32,20% pada tahun 2000 menjadi
32,97% pada tahun 2003, akan tetapi pada tahun 2006 turun menjadi 28,80%.
Jmlah Desa Hirarki III (%)

70,00

68,36

67,03

32,20

32,97

16,38

14,29

69,02

60,00
50,00
40,00

WP I

30,00
20,00
10,00
0,00

15,82
3,95
2000

5,49
2003
Tahun

28,80
17,39

WP II
WP III

16,85

WP IV

5,98

Kab. Sambas

2006

Gambar 20 Perkembangan desa-desa hirarki III pada


pengembangan (WP) di Kabupaten Sambas

empat

wilayah

Perkembangan hirarki I, II dan III pada tingkat desa di Kabupaten Sambas


tersebut menunjukkan dinamika pembangunan sarana dan prasarana wilayah baik
dari aspek jumlah maupun jenisnya di tingkat perdesaan. Dari gambaran tersebut
di atas, baik pada hirarki I, II maupun III, terlihat bahwa perkembangan tingkat
hirarki desa-desa secara keseluruhan di Kabupaten Sambas sangat dipengaruhi
oleh perkembangan tingkat hirarki desa-desa pada wilayah pengembangan (WP)
II, dimana kecenderungan perkembangan desa-desa hirarki I, II dan III di tingkat
kabupaten, hampir selalu mengikuti kecenderungan yang terjadi pada WP II, baik

105

penurunan maupun kenaikannya. Hal ini disebabkan karena pada WP II terdapat


ibu kota kabupaten yang selalu mengalami peningkatan jumlah dan jenis berbagai
fasilitas atau sarana dan prasarana wilayah dalam rangka peningkatan pelayanan
regional kabupaten.
Perkembangan hirarki wilayah pada tingkat kecamatan dalam wilayah
pengembangan (WP) di Kabupaten Sambas pada tahun 2000, 2003 dan 2006
menurut ketersediaan sarana dan prasarana serta aksesibilitas ke fasilitas/
pelayanan umum berdasarkan hasil analisis dengan metode skalogram
ditunjukkan pada Tabel 26.
Tabel 26 Jumlah dan persentase tingkat hirarki kecamatan dalam wilayah
pengembangan (WP) di Kabupaten Sambas tahun 2000, 2003 dan 2006
Hirarki

WP

I
II
III
IV
Jumlah
I
II
III
IV
Jumlah
I
II
III
IV
Jumlah
Total

II

III

2000
Jlh Kec
%
0
0,00
1
5,88
0
0,00
0
0,00
1
5,88
5
29,41
2
11,76
0
0,00
0
0,00
7
41,18
2
11,76
2
11,76
3
17,65
2
11,76
9
52,94
17
100,00

2003
Jlh Kec
%
0
0,00
1
5,88
0
0,00
0
0,00
1
5,88
3
17,65
1
5,88
1
5,88
0
0,00
5
29,41
4
23,53
3
17,65
2
11,76
2
11,76
11
64,71
17
100,00

2006
Jlh Kec
%
0
0,00
1
5,88
0
0,00
0
0,00
1
5,88
4
23,53
0
0,00
0
0,00
0
0,00
4
23,53
3
17,65
4
23,53
3
17,65
2
11,76
12
70,59
17
100,00

Sumber: Hasil analisis


Keterangan: % = Persentase terhadap jumlah total kecamatan di Kabupaten Sambas.

Tabel 26 menunjukkan bahwa kecamatan yang berhirarki I hanya terdapat di


WP II dengan perkembangan dari tahun 2000 sampai 2006 tidak berubah (tetap),
yaitu 5,88% dari total kecamatan. Hal ini dikarenakan pada WP II terdapat
kecamatan yang merupakan ibu kota Kabupaten Sambas, yaitu Kecamatan
Sambas yang merupakan pusat pelayanan pemerintahan tingkat kabupaten.
Karena kecamatan berhirarki I hanya satu kecamatan, maka perkembangan
kecamatan yang berhirarki I pada WP II tersebut sama dengan perkembangan
kecamatan hirarki I pada wilayah Kabupaten Sambas.

Jumlah Kecamatan Hirarki II (%)

106

45,00
40,00
35,00
30,00
25,00
20,00
15,00
10,00
5,00
0,00

41,18
29,41

29,41

WP I
23,53

WP III

17,65
11,76

WP IV
5,88

Kab. Sambas

0,00
2000

WP II

0,00
2003

2006

Tahun

Gambar 21 Perkembangan kecamatan hirarki II pada


pengembangan (WP) di Kabupaten Sambas

empat

wilayah

Perkembangan kecamatan hirarki II pada empat wilayah pengembangan


(WP) di Kabupaten Sambas dari tahun 20002006 seperti terlihat pada Gambar 21
menunjukkan kencederungan yang berbeda. Pada WP I, perkembangan kecamatan
hirarki II menurun dari 29,41% pada tahun 2000 menjadi 17,65% di tahun 2003,
dan naik menjadi 23,53% pada tahun 2006. Perkembangan kecamatan hirarki II
pada WP II menunjukkan kecenderungan yang selalu menurun, yaitu dari 11,76%
pada tahun 2000 menjadi 5,88% di tahun 2003, kemudian turun kembali menjadi
0% pada tahun 2006. Pada WP III, perkembangan kecamatan hirarki II naik dari
0% pada tahun 2000 menjadi 5,88% di tahun 2003, dan turun menjadi 0% pada
tahun 2006. Sedangkan pada WP IV dari tahun 2000 hingga 2006 tidak memiliki
kecamatan berhirarki II. Secara keseluruhan pada wilayah Kabupaten Sambas,
jumlah kecamatan berhirarki II memiliki kecenderungan menurun, dari 41,18%
pada tahun 2000,turun menjadi 29,41% pada tahun 2003, dan terus menurun
menjadi 23,53% pada tahun 2006.
Pada tahun 2000 2006, perkembangan kecamatan hirarki III pada empat
wilayah pengembangan (WP) di Kabupaten Sambas juga menunjukkan
kecenderungan yang berbeda (Gambar 22). Pada tahun 2000 di WP I, jumlah
kecamatan hirarki III sebesar 11,76%, kemudian meningkat menjadi 23,53% pada
tahun 2003 dan turun menjadi 17,65% dari jumlah total kecamatan pada tahun
2006. Di WP II jumlah kecamatan hirarki III memiliki kecenderungan yang selalu
meningkat, yaitu dari 11,76% pada tahun 2000, menjadi 17,65% pada tahun 2003
dan terus meningkat menjadi 23,53% pada tahun 2006. Perkembangan kecamatan
hirarki III di WP III pada kurun waktu 2000-2003 mengalami penurunan dari

107

17,65% menjadi 11,76%, akan tetapi padakurun waktu 2003-2006 mengalami


kenaikan menjadi 17,65%. Sedangkan di WP IV, jumlah kecamatan hirarki III
selama kurun waktu enam tahun (2000-2006) tidak berubah, yaitu sebesar
11,76%. Secara keseluruhan, perkembangan jumlah kecamatan hirarki III di
Kabupaten Sambas menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat, yaitu dari
52,94% pada tahun 2000 naik menjadi 64,71% pada tahun 2003 dan pada tahun
tahun 2006 naik menjadi 70,59%, seperti terlihat pada Gambar 22.
Jumlah Kecamatan Hirarki III (%)

80,00
60,00

70,59

64,71

70,00
52,94

WP I

50,00

WP II

40,00
30,00
20,00
10,00

17,65

23,53
17,65
11,76

17,65

11,76

11,76

2000

2003
Tahun

0,00

WP III

23,53

WP IV
Kab. Sambas

2006

Gambar 22 Perkembangan kecamatan hirarki III pada


pengembangan (WP) di Kabupaten Sambas

empat

wilayah

Perkembangan hirarki I, II dan III pada tingkat kecamatan di Kabupaten


Sambas tersebut juga menunjukkan dinamika pembangunan sarana dan prasarana
wilayah baik dari aspek jumlah maupun jenisnya di wilayah kecamatan. Sama
seperti perkembangan tingkat hirarki desa, dari gambaran tersebut di atas, baik
pada hirarki I, II maupun III, terlihat bahwa perkembangan tingkat hirarki pada
wilayah kecamatan di Kabupaten Sambas sangat dipengaruhi oleh perkembangan
tingkat hirarki kecamatan pada wilayah pengembangan (WP) II, dimana
kecenderungan perkembangan kecamatan pada hirarki I, II dan III di tingkat
kabupaten, selalu mengikuti kecenderungan yang terjadi pada WP II, baik
penurunan maupun kenaikannya. Hal ini disebabkan karena pada WP II terdapat
ibu kota kabupaten yang selalu mengalami peningkatan jumlah dan jenis berbagai
fasilitas atau sarana dan prasarana wilayah dalam rangka peningkatan pelayanan
regional kabupaten. Selain itu, pada WP II juga terdapat IPK tertinggi (Kecamatan
Sambas) dan IPK terendah (Kecamatan Sajad) pada kurun waktu 2000-2006,
sehingga perkembangan /perubahan IPK atau hirarki yang terjadi di WP II sangat
mempengaruhi perkembangan IPK atau hirarki secara keseluruhan.

108

Perkembangan Aktivitas Perekonomian Wilayah


Perkembangan aktivitas perekonomian pada suatu wilayah dapat dianalisis
dengan menghitung indeks diversifikasi dengan konsep entropi. Prinsip indeks
entropi ini adalah semakin beragam aktivitas atau semakin luas jangkauan spasial,
maka semakin tinggi entropi wilayah, yang berarti bahwa wilayah tersebut
semakin berkembang.

Aktivitas suatu wilayah dapat

dicerminkan dari

perkembangan sektor-sektor perekonomian dalam PDRB. Semakin besar indeks


entropinya maka dapat diperkirakan semakin berkembang dan proporsional
komposisi antar sektor-sektor perekonomian, dan sebaliknya semakin kecil
indeksnya maka dapat diperkirakan terdapat sektor perekonomian yang dominan
di wilayah tersebut. Analisis indeks entropi untuk kecamatan-kecamatan di
Kabupaten Sambas pada tahun 2000-2006 ditunjukkan pada Lampiran 7 s.d 13,
sedangkan hasilnya terlihat pada Tabel 27.
Tabel 27 Indeks entropi kecamatan berdasarkan PDRB sektoral atas dasar
harga konstan di Kabupaten Sambas tahun 2000-2006
WP

Kecamatan

Indeks Entropi

Pemangkat
Selakau
Semparuk
Tebas
Tekarang
Jawai
Jawai Selatan

2000
0,7000
0,5120
0,5570
0,6625
0,6466
0,5306
0,7420

II

Sambas
Subah
Sebawi
Sajad
Sejangkung

0,6344
0,8317
0,5378
0,7104
0,6272
0,6335

0,6300
0,8319
0,5289
0,7081
0,6274
0,6321

0,6380
0,8317
0,5141
0,7061
0,6279
0,6246

0,6330
0,8303
0,5207
0,7019
0,6259
0,6111

0,6289
0,8309
0,5143
0,7008
0,6247
0,6006

0,6649
0,8297
0,5083
0,6980
0,6244
0,5907

0,6330
0,8293
0,5037
0,6957
0,6240
0,5887

III

Teluk Keramat
Tangaran
Paloh

0,7850
0,6532
0,5457
0,5968

0,7833
0,6480
0,5414
0,5942

0,7801
0,6463
0,5368
0,5909

0,7762
0,6406
0,5284
0,5816

0,7738
0,6314
0,5276
0,5732

0,7694
0,6232
0,5231
0,5638

0,7691
0,6305
0,5282
0,5609

IV

Galing
Sajingan Besar

0,6266
0,3323
0,6726

0,6221
0,3245
0,6577

0,6194
0,3128
0,6471

0,6119
0,2992
0,6244

0,6045
0,2974
0,6214

0,5964
0,2909
0,6119

0,6006
0,3035
0,6087

0,4002
0,6799

0,3914
0,6753

0,3796
0,6780

0,3640
0,6719

0,3621
0,6672

0,3545
0,6781

0,3670
0,6630

Kabupaten Sambas
Sumber: Hasil analisis

2001
0,6954
0,5101
0,5533
0,6555
0,6425
0,5288
0,7348

2002
0,7110
0,5123
0,5607
0,6564
0,6450
0,5361
0,7308

2003
0,7056
0,5108
0,5579
0,6497
0,6382
0,5318
0,7246

2004
0,7020
0,5091
0,5547
0,6439
0,6344
0,5263
0,7174

2005
0,6722
0,5038
0,6681
0,6359
0,6373
0,5198
0,7091

2006
0,6983
0,4998
0,5421
0,6444
0,6356
0,5208
0,7099

109

Perkembangan indeks entropi dari tahun 2000 hingga 2006 seperti yang
terlihat pada Tabel 27, menunjukkan bahwa baik pada tingkat kecamatan, maupun
pada tingkat kabupaten memiliki nilai yang relatif tetap. Kondisi ini
menggambarkan bahwa selama kurun waktu tersebut (2000-2006) proporsi atau
keragaman sektor-sektor perekonomian wilayah, baik pada tingkat kecamatan,
wilayah pengembangan maupun di Kabupaten Sambas relatif tetap.
Pada tahun 2006 indeks entropi kecamatan-kecamatan di Kabupaten Sambas
berkisar antara 0,3035 (terendah) terdapat di Kecamatan Galing sampai 0,8293
(tertinggi) terdapat di Kecamatan Sambas. Hal tersebut menunjukkan bahwa
Kecamatan Sambas merupakan kecamatan yang paling berkembang dari wilayah
lainnya dari aspek perekonomian dan tiap sektor perekonomiannya berkembang
dengan baik (relatif merata) sehingga tidak didominansi oleh sektor tertentu saja,
sedangkan Kecamatan Galing merupakan kecamatan yang kurang berkembang
sektor-sektor perekonomiannya, dan cenderung didominasi oleh sektor tertentu
saja, yaitu sektor pertanian dengan kontribusi sebesar 83,98% dari total PDRB
wilayahnya. Kecamatan lain yang juga memiliki indeks entropi yang tinggi (lebih
tinggi dari indeks entropi kabupaten) adalah Kecamatan Pemangkat, Jawai Selatan
dan Sebawi, sedangkan kecamatan lainnya yang memiliki indeks entropi rendah
(jauh di bawah indeks entropi kabupaten) adalah Kecamatan Selakau, Subah,
Tangaran, Jawai, Semparuk dan Sejangkung. Kecamatan tersebut jika dilihat dari
hirarkinya menunjukkan bahwa kecamatan yang memiliki indeks entropi yang
relatif tinggi juga memiliki hirarki yang tinggi pula (hirarki I dan II), sedangkan
kecamatan yang memiliki indeks entropi relatif rendah juga memiliki indeks
entropi yang rendah. Selain itu, kecamatan lain yang memiliki indeks entropi
relatif sedang adalah Kecamatan Tebas, Tekarang, Sajad, Teluk Keramat, Paloh
dan Sajingan Besar.

Pada kecamatan ini,

perkembangan sektor-sektor

perekonomiannya walaupun masih agak didominasi sektor tertentu, tetapi sektorsektor lainnya relatif agak berkembang, sehingga dominasi sektor tertentu tidak
terlalu tinggi.
Dalam wilayah pengembangan (WP), proporsi keragaman sektor-sektor
perekonomian antar kecamatan relatif beragam atau mengindikasikan adanya
disparitas perkembangan wilayah dalam WP. Pada WP I, nilai indeks entropinya

110

berkisar antara 0,4998-0,7099, dalam WP II, nilai indeks entropi tertinggi sebesar
0,8293 dan terendah 0,5037, sedangkan dalam WP III dan WP IV, berturut-turut
nilai indeks entropi tertingginya sebesar 0,6305 dan 0,6087 dan nilai indeks
entropi terendah sebesar 0,5282 dan 0,3035. Dilihat dari selisih nilai indeks
entropi tertinggi dengan nilai indeks entropi terendah dalam WP, diperoleh selisih
indeks tertinggi terdapat dalam WP II, yaitu sebesar 0,3256, diikuti WP IV
dengan selisih sebesar 0,3052. Sedangkan dalam WP I dan III masing-masing
sebesar 0,2101 dan 0,1023. Hal ini mengindikasikan adanya disparitas
pembangunan sektoral yang tinggi di WP II, walaupun secara agregat dalam WP
II memiliki perkembangan sektor yang relatif merata atau berkembang dari WP
lainnya. Sedangkan WP yang memiliki indeks entropi paling rendah adalah WP
IV (0,3670) diikuti WP III (0,6006), yang menunjukkan bahwa perkembangan
aktivitas atau sektor-sektor perekonomian terutama di WP IV relatif kurang
berkembang dan cenderung didominasi oleh sektor tertentu saja, yaitu sektor
pertanian. Secara keseluruhan pada tahun 2006, nilai indeks entropi Kabupaten
Sambas cukup tinggi, yaitu sebesar 0,6630. Hal ini menunjukkan bahwa secara
umum perkembangan proporsi keragaman sektor-sektor perekonomian di
Kabupaten Sambas cukup baik atau relatif agak merata.
0,800
0,750

Indeks Entropi

0,700
0,650
0,600
0,550

0,785 0,783 0,780 0,776 0,774 0,769 0,769


0,680 0,675 0,678 0,672

0,678
0,663
0,667
0,634 0,630 0,638 0,633 0,629
0,633
0,665
0,627 0,622 0,619 0,612
0,604 0,596 0,601

0,400

WP 2
WP 3

0,500
0,450

WP 1

WP 4

0,400 0,391
0,380 0,364

0,362 0,355

0,367

2000

2004

2006

Kab. Sambas

0,350
0,300
2001

2002

2003

2005

Tahun

Gambar 23 Perkembangan nilai indeks entropi wilayah pengembangan (WP) di


Kabupaten Sambas tahun 2000-2006
Dilihat dari perkembangan nilai indeks entropi pada wilayah pengembangan
(WP) di Kabupaten Sambas seperti terlihat pada Gambar 23 menunjukkan bahwa
semua WP memiliki kecenderungan yang relatif sama, yaitu sedikit mengalami

111

penurunan dari tahun 2000 hingga 2004 baru kemudian sedikit mengalami
kenaikan pada tahun 2006. Dilihat dari besarnya nilai indeks entropi yang ada
(Tabel 27) dalam kurun waktu 2000-2006, WP IV memiliki indeks entropi yang
paling rendah, WP II memiliki indeks entropi yang paling tinggi, sedangkan WP I
dan III memiliki indeks yang relatif tinggi. Perkembangan besarnya selisih indeks
entropi tertinggi dengan terendah seperti Gambar 23 adalah sebesar 0,385 pada
tahun 2000 dan 0,412 pada tahun 2003 serta 0,402 pada tahun 2006. Hal tersebut
mengindikasikan terjadinya disparitas antar WP, karena besarnya nilai indeks
entropi menggambarkan tingkat perkembangan wilayah. Selain itu, Gambar 23
juga menunjukkan bahwa WP IV merupakan wilayah dengan tingkat
perkembangan yang paling rendah diantara keempat WP yang ada di Kabupaten
Sambas.
Tipologi Klassen di Kabupaten Sambas
Tipologi Klassen merupakan salah satu alat analisis ekonomi regional yang
dapat digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur
pertumbuhan ekonomi suatu daerah atau mengelompokan daerah berdasarkan
struktur pertumbuhannya. Pada penelitian ini, pengelompokkan wilayah
kecamatan dengan analisis tipologi Klassen dilakukan dengan menggunakan
indikator laju pertumbuhan ekonomi (Lampiran 15) dan pendapatan PDRB per
kapita kecamatan (Lampiran 14) yang dibandingkan dengan rata-rata laju
pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita kabupaten (Tabel 28) seperti yang
dilakukan oleh Sjafrizal (2008). Dengan menggunakan matriks Klassen, dapat
dilakukan 4 pengelompokan daerah dengan dua indikator tersebut, yaitu daerah
maju, daerah maju tapi tertekan, daerah berkembang dan daerah relatif
terbelakang. Pengelompokan ini bersifat dinamis, karena sangat tergantung pada
perkembangan kegiatan pembangunan di kecamatan yang bersangkutan. Ini
berarti bahwa dalam beberapa tahun ke depan, pengelompokan akan dapat
berubah sesuai dengan perkembangan laju pertumbuhan dan tingkat PDRB per
kapita kecamatan yang bersangkutan. Perubahan tersebut mudah terjadi pada
daerah-daerah yang kondisinya telah berada dekat dengan batas rata-rata dari
tingkat pertumbuhan dan PDRB per kapita.

112

Tabel 28 Rata-rata laju pertumbuhan PDRB dan PDRB per kapita kecamatan di
Kabupaten Sambas tahun 2000-2006

Pemangkat

4,06

Rata-Rata PDRB
per Kapita (ribu
rupiah)
6.850,81

Selakau

4,10

4.805,39

Semparuk

3,96

2.960,84

Tebas

4,68

4.582,55

Tekarang

3,51

2.383,31

Jawai

4,21

5.324,97

Jawai Selatan

4,78

2.064,64

Sambas

4,83

6.619,46

Subah

5,02

4.004,98

Sebawi

4,54

2.286,04

Sajad

4,00

1.878,80

Sejangkung

5,82

5.279,69

Teluk Keramat

5,03

3.457,12

Tangaran

3,44

2.795,72

Paloh

5,33

4.630,08

Galing

5,76

4.600,08

Sajingan Besar

7,54

1.755,74

4,57

4.508,92

WP
I

II

III

IV

Kecamatan

Kabupaten Sambas

Rata-Rata
LPE (%)

Sumber: BPS Kab. Sambas (2007b) diolah.


Keterangan: LPE = Laju Pertumbuhan Ekonomi

Hasil analisis tipologi Klassen di Kabupaten Sambas dengan menggunakan


indikator laju pertumbuhan ekonomi (PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000)
dan PDRB perkapita kecamatan seperti terlihat pada Gambar 24 menunjukkan
bahwa Kecamatan Sambas, Tebas, Galing, Sejangkung dan Paloh merupakan
kecamatan yang dapat dikelompokkan sebagai daerah maju karena mempunyai
rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dan rata-rata PDRB per kapita berada di atas
rata-rata kabupaten. Daerah maju ini relatif menyebar di empat wilayah
pengembangan, yaitu 2 kecamatan di WP II (Kec. Sambas dan Sejangkung) dan
masing-masing 1 kecamatan di WP I (Kec. Tebas), WP III (Kec. Paloh) dan WP
IV (Kec. Galing). Sedangkan Kecamatan Pemangkat, Selakau dan Jawai termasuk
ke dalam daerah yang relatif maju tapi tertekan, karena walaupun PDRB per
kapitanya relatif tinggi, tetapi laju pertumbuhan ekonominya lebih rendah dari
rata-rata laju pertumbuhan Kabupaten Sambas. Seluruh daerah ini berada pada
wilayah pengembangan (WP) I.

113

Gambar 24

Di atas Rata-Rata

Di bawah rata-rata

Di Atas
Rata-Rata

Daerah Maju:
Kecamatan Sambas, Tebas,
Galing, Sejangkung dan
Paloh

Daerah Maju Tapi


Tertekan:
Kecamatan Pemangkat,
Selakau dan Jawai.

Di bawah
rata-rata

PDRB Per Kapita

Laju Pertumbuhan Ekonomi

Daerah Berkembang:
Kecamatan Subah, Jawai
Selatan, Teluk Keramat,
dan Sajingan Besar.

Daerah Relatif
Terbelakang:
Kecamatan Semparuk,
Tekarang, Sebawi, Sajad,
dan Tangaran.

Pengelompokan pertumbuhan ekonomi kecamatan berdasarkan


tipologi Klassen

Gambar 25 Peta perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Sambas


berdasarkan klasifikasi tipologi Klassen
Kecamatan Jawai Selatan, Subah, Teluk Keramat, dan Sajingan Besar yang
masing-masing berada di WP I, II, III dan IV, dikelompokkan sebagai daerah
yang sedang berkembang, karena mempunyai laju pertumbuhan ekonomi relatif
lebih tinggi, walaupun PDRB per kapitanya masih lebih rendah dibandingkan
rata-rata keseluruhan kecamatan atau Kabupaten Sambas. Sedangkan kecamatankecamatan yang dapat dikelompokkan sebagai daerah yang kurang maju adalah
Kecamatan Semparuk, Tekarang, Sebawi, Sajad, dan Tangaran. Kecamatan ini

114

mempunyai tingkat PDRB per kapita dan laju pertumbuhan ekonomi yang lebih
rendah dari rata-rata seluruh kecamatan di Kabupaten Sambas dan tersebar di tiga
WP, yaitu WP I dan II masing-masing 2 kecamatan, dan 1 kecamatan di WP III.
Secara spasial pengelompokan perkembangan wilayah tersebut berdasarkan
analisis tipologi Klassen ditunjukkan pada Gambar 25.
Identifikasi Sektor Unggulan
Kemampuan memacu pertumbuhan suatu wilayah sangat tergantung dari
keunggulan atau daya saing sektor-sektor ekonomi di wilayahnya (Rustiadi et al.
2007). Di Indonesia, sektor-sektor ekonomi tersebut secara umum dibagi ke dalam
sembilan sektor, dan setiap sektor dibagi lagi menjadi beberapa subsektor. Untuk
mengembangkan semua sektor tersebut secara serentak diperlukan investasi yang
sangat besar. Di era otonomi daerah, terbatasnya dana pembangunan
mengharuskan adanya penetapan prioritas pengembangan dan biasanya sektor
yang menjadi prioritas tersebut adalah sektor unggulan (Suripto 2003). Oleh sebab
itu penentuan atau identifikasi sektor-sektor unggulan daerah dalam perumusan
kebijakan pembangunan daerah menjadi sangat penting, karena sektor unggulan
(leading sektor) merupakan sektor perekonomian yang diharapkan menjadi
penggerak utama (prime mover) perekonomian suatu wilayah. Dengan
mengetahui dan mengoptimalkan sektor unggulan yang dimiliki daerah, maka
diharapkan terdapat efek yang positif bagi kemajuan aktivitas perekonomian
daerah. Untuk menentukan apakah suatu sektor merupakan sektor unggulan bagi
suatu daerah atau tidaknya, dalam penelitian ini dilakukan dengan metode analisis
analisis Location Quotient (LQ ) dan Shift Share Analysis (SSA).
Sektor Basis di Kabupaten Sambas
Analisis sektor basis dengan metode Location Quotient (LQ) menggunakan
data PDRB harga konstan tahun 2000 per kecamatan berdasarkan sektor-sektor
perekonomian tahun 2006 ditunjukkan pada Lampiran 16, sedangkan hasil
perhitungannya ditunjukkan pada Tabel 29. Berdasarkan hasil analisis tersebut
(Tabel 29), terlihat bahwa hampir semua sektor, kecuali sektor pertanian dan
perdagangan di wilayah pengembangan (WP) II berpotensi menjadi sektor

115

unggulan atau merupakan sektor basis. Pada WP I, sektor yang berpotensi menjadi
sektor unggulan sebanyak empat sektor, yaitu sektor pertanian; listrik dan air
bersih; perdagangan dan angkutan. Sedangkan pada WP III dan IV hanya satu
sektor saja yang berpotensi menjadi sektor unggulan, yaitu sektor pertanian.
Tabel 29 Nilai LQ per sektor-sektor perekonomian di Kabupaten Sambas Tahun
2006
WP

Kecamatan

Pemangkat
Selakau
Semparuk
Tebas
Tekarang
Jawai
Jawai Selatan

II

Sambas
Subah
Sebawi
Sajad
Sejangkung

III

Teluk Keramat
Tangaran
Paloh

IV

Galing
Sajingan Besar

Tani
0,85
1,30
1,23
1,01
1,10
1,18
1,00
1,04
0,36
1,31
0,64
0,59
1,16
0,69
1,08
1,13
1,20
1,12
1,78
1,24
1,69

Tbm
1,11
0,14
0,23
0,14
0,77
6,97
0,82
0,82
0,47
18,89
0,99
2,01
0,13
1,47
0,50
0,00

Ind
1,21
0,36
0,10
0,50
0,50
0,65
0,47
0,73
2,46
0,64
1,49
1,96
2,15
2,05
0,73
0,83
0,42
0,66
0,28
0,34
0,29

Ligas
1,99
0,01
0,91
1,06
1,07
1,68
0,41
0,81
1,14
1,09
0,67
0,81
0,20
0,03

SEKTOR
Bang
1,07
0,46
0,63
1,17
0,88
0,16
1,09
0,82
2,97
0,49
1,67
0,95
0,26
1,89
0,66
0,37
0,42
0,55
0,27
0,49
0,31

Dag
1,14
0,95
0,81
1,09
0,88
1,13
0,80
1,06
1,01
0,92
1,47
1,60
0,57
0,96
0,96
1,16
1,00
1,00
0,30
0,54
0,34

Angkt
1,08
0,39
3,40
1,01
2,25
0,32
2,16
1,03
1,94
0,37
0,25
0,18
0,52
1,25
0,74
0,09
0,95
0,71
0,27
1,60
0,49

Keu
0,99
0,80
0,52
1,37
1,13
0,49
1,55
0,96
1,57
0,55
1,03
0,87
0,84
1,21
1,21
0,60
0,64
0,96
0,33
1,31
0,49

Jasa
1,10
0,57
0,46
0,98
0,80
0,57
1,61
0,88
2,06
0,38
0,55
0,53
0,51
1,34
1,16
0,60
0,88
1,00
0,39
2,21
0,69

Sumber: Hasil analisis

Seperti terlihat pada Tabel 29, sektor pertanian pada sebagian besar
kecamatan (76,47%) di Kabupaten Sambas memiliki nilai LQ>1. Hal ini
menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat menjadi sektor unggulan pada
sebagian besar wilayah kecamatan dan bahkan dapat menjadi sektor unggulan
Kabupaten Sambas. Sektor perekonomian lainnya yang memiliki nilai LQ>1 di
Kabupaten Sambas, relatif menyebar pada beberapa kecamatan tertentu saja. Pada
sektor pertambangan, nilai LQ>1 hanya terdapat di 4 wilayah kecamatan, yaitu
Kecamatan Pemangkat, Jawai Selatan, Sebawi dan Paloh. Sedangkan di sektor
industri, nilai LQ>1 hanya terdapat di kecamatan Pemangkat, Sambas, Sebawi,
Sajad dan sejangkung. Nilai LQ>1 pada sektor listrik dan air minum terdapat di
Kecamatan Pemangkat, Jawai, Sambas dan Teluk Keramat sedangkan di sektor

116

bangunan terdapat di Kecamatan Pemangkat,Tebas, Jawai Selatan, Sambas dan


Sebawi. Di sektor perdagangan, nilai LQ>1 terdapat di Kecamatan Pemangkat,
Tebas, Jawai, Sambas, Sebawi, Sajad, Tangaran dan Paloh, sedangkan pada sektor
angkutan, nilai LQ>1 terdapat di Pemangkat, Semparuk, Tebas, Tekarang, Jawai
Selatan, Sambas dan Sajingan Besar. Di Sektor keuangan, nilai LQ>1 terdapat di
Keamatan Tebas, Tekarang, Jawai Selatan, Sambas, Sebawi,Teluk Keramat dan
Sajingan Besar, sedangkan LQ>1 pada sektor jasa, terdapat di Kecamatan
Pemangkat, Jawai Selatan, Sambas, Teluk Keramat dan Sajingan Besar.
Tabel 29 juga menunjukkan bahwa hampir semua kecamatan di Kabupaten
Sambas memiliki sektor unggulan (nilai LQ>1) lebih dari satu sektor, yang
mengindikasikan adanya aktivitas yang beragam, kecuali di Kecamatan Galing
Selakau dan Subah yang memiliki indeks entropi rendah, hanya memiliki satu
sektor unggulan, yaitu sektor pertanian. Kecamatan yang memiliki sektor
unggulan paling banyak adalah Kecamatan Pemangkat dan Sambas. Di kedua
kecamatan tersebut 7 dari 9 sektor perekonomian (77,77%) memiliki nilai LQ>1,
yang mengindikasikan bahwa kedua kecamatan tersebut sangat berkembang.
Kecamatan lainnya yang memiliki sektor unggulan relatif banyak adalah
Kecamatan Jawai Selatan (66,66%), Tebas dan Sebawi yang masing-masing
memiliki nilai LQ>1 sebanyak 5 sektor dari 9 sektor perekonomian (55,55%).
Secara rinci, indikasi sektor unggulan atau beberapa sektor perekonomian yang
potensial menjadi sektor unggulan bagi masing-masing wilayah kecamatan
berdasarkan analisis LQ ditunjukkan pada Tabel 30.
Tabel 30 Identifikasi sektor unggulan berdasarkan PDRB harga konstan per
kecamatan dengan menggunakan analisis LQ di Kabupaten Sambas
tahun 2006
WP
I

Kecamatan

Identifikasi Sektor Unggulan

Pemangkat

Sektor Pertambangan & Pengalian; Industri Pengolahan; Listrik, Gas dan Air
Bersih; Bangunan; Angkutan dan Komunikasi; Keuangan, Persewaan & Jasa
Perusahaan; dan Jasa-jasa.

Selakau

Sektor Pertanian.

Semparuk

Sektor Pertanian; dan Angkutan dan Komunikasi.

Tebas

Sektor Pertanian; Bangunan; Perdagangan, Hotel & Restoran; Angkutan dan


Komunikasi; Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan.

Tekarang

Sektor Pertanian; Angkutan dan Komunikasi; Keuangan, Persewaan & Jasa


Perusahaan.

Jawai

Sektor Pertanian; Listrik, Gas dan Air Bersih; Perdagangan, Hotel & Restoran.

Jawai Selatan

Sektor Pertanian; Pertambangan & bahan Galian; Bangunan; Angkutan dan


Komunikasi; Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan; dan Jasa-jasa.
Sektor Pertanian; Listrik, Gas dan Air Bersih; Perdagangan;dan Angkutan.

117

Tabel 30 Lanjutan
WP
II

Kecamatan

Identifikasi Sektor Unggulan

Sambas

Sektor Industri Pengolahan; Listrik, Gas dan Air Bersih; Bangunan; Angkutan
& Komunikasi; Keuangan Persewaan & Jasa Perusahaan; dan Jasa-jasa.

Subah

Sektor Pertanian;

Sebawi

Sektor Pertambangan dan Pengalian; Industri Pengolahan; Bangunan;


Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan; dan Jasa-jasa.

Sajad

Sektor Industri Pengolahan; dan Perdagangan, Hotel & Restoran.

Sejangkung

Sektor Pertanian; dan Industri Pengolahan.


Sektor Pertambangan; Industri Pengolahan; Listrik, Gas dan Air Bersih;
Bangunan; Angkutan; Keuangan dan Jasa-jasa.

III

Teluk Keramat

Sektor Pertanian ; Listrik, Gas dan Air Bersih; Keuangan, Persewaan & Jasa
Perusahaan; dan Jasa-jasa.

Tangaran

Sektor Pertanian; dan Perdagangan, Hotel & Restoran.

Paloh

Sektor Pertanian;dan Pertambangan dan Pengalian.


Sektor Pertanian;

IV

Galing

Sektor Pertanian.

Sajingan Besar

Sektor Pertanian; Angkutan & Komunikasi; Keuangan, Persewaan & Jasa


Perusahaan; dan Jasa-jasa.
Sektor Pertanian;

Sumber: Hasil analisis

Identifikasi

sektor-sektor

unggulan

yang

memiliki

potensi

untuk

dikembangkan secara bersamaan di beberapa kecamatan adalah sebagai berikut:


1.

Sektor pertanian dapat dikembangkan di Kecamatan Selakau, Semparuk,


Tebas, Tekarang, Jawai, Jawai Selatan, Subah, Sejangkung, Teluk Keramat,
Tangaran, Paloh, Galing dan Sajingan Besar.

2.

Sektor Pertambangan dan Penggalian dapat dikembangkan di Kecamatan


Pemangkat, Jawai Selatan, Sebawi dan Paloh.

3.

Sektor Industri Pengolahan dapat dikembangkan di Kecamatan Pemangkat,


Sambas, Sebawi, Sajad dan Sejangkung.

4.

Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih dapat dikembangkan di Kecamatan


Pamangkat, Jawai, Sambas dan Teluk Keramat.

5.

Sektor Bangunan dapat dikembangkan di Kecamatan Pemangkat, Tebas,


Jawai Selatan, Sambas dan Sebawi.

6.

Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran dapat dikembangkan di Kecamatan


Pemangkat, Tebas, Jawai, Sambas, Sebawi, Sajad, Tangaran dan Paloh.

7.

Sektor Angkutan dan Komunikasi dapat dikembangkan di Kecamatan


Pemangkat, Semparuk, Tebas, Tekarang, Jawai Selatan, Sambas dan Sajingan
Besar.

118

8.

Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan dapat dikembangkan di


Kecamatan Tebas, Tekarang, Jawai Selatan, Sambas, Sebawi, Teluk Keramat
dan Sajingan Besar.

9.

Sektor Jasa-jasa dapat dikembangkan di Kecamatan Pemangkat, Jawai


Selatan, Sambas,Teluk Keramat dan Sajingan Besar.
Jika dihubungkan antara struktur hirarki wilayah, perkembangan wilayah

(yang diindikasikan dengan indeks entropi), dan indikasi sektor unggulan (LQ>1)
seperti ditunjukkan pada Tabel 31, terlihat bahwa semakin banyak sektor yang
berkembang, maka semakin banyak pula potensi sektor yang dapat dikembangkan
menjadi sektor unggulan dan hirarki wilayahnya (IPK) memiliki kecenderungan
yang relatif tinggi.
Tabel 31 Nilai IPK, Indeks Entropi dan indikasi sektor unggulan per kecamatan
di Kabupaten Sambas
WP
I

II

III

IV

Pemangkat

104,83

Indeks
Entropi
0,6983

Selakau
Semparuk
Tebas

52,03
84,41
89,10

0,4998
0,5421
0,6444

Tekarang
Jawai

66,05
72,53

0,6356
0,5208

Jawai Selatan

100,80

0,7099

Sambas

177,06

0,8293

Subah
Sebawi

66,00
70,02

0,5037
0,6957

Sajad
Sejangkung

37,98
60,50

0,6240
0,5887

Teluk Keramat

76,18

0,6305

Tangaran
Paloh

55,39
57,82

0,5282
0,5609

Pertanian, Listrik & Air Minum, Keuangan, dan


Jasa
Pertanian dan Perdagangan
Pertanian dan Pertambangan

Galing
Sajingan Besar

55,54
50,38

0,3035
0,6087

Pertanian
Pertanian, Angkutan, Keuangan dan Jasa

Kecamatan

Sumber: Hasil Analisis

IPK

Indikasi Sektor Unggulan


Pertambangan, Industri, Listrik & Air Bersih,
Bangunan, Angkutan, Keuangan dan Jasa
Pertanian
Pertanian dan Angkutan
Pertanian, Bangunan, Perdagangan, Angkutan
dan Keuangan
Pertanian, Angkutan dan Keuangan
Pertanian, Listrik &Air Bersih, dan
Perdagangan
Pertanian, Pertambangan, Bangunan,
Angkutan, Keuangan dan Jasa
Industri, Listrik & Air Bersih, Bangunan,
Angkutan, Keuangan, dan Jasa
Pertanian
Pertambangan, Industri, Bangunan, Keuangan
dan Jasa
Industri, dan Perdagangan
Pertanian dan Industri

119

Pertumbuhan Sektor-Sektor Ekonomi Wilayah


Menurut

Budiharsono (2005), analisis shift share berguna untuk

mengidentifikasi sumber atau komponen pertumbuhan sektor-sektor ekonomi


wilayah dan mampu menunjukkan perubahan berbagai indikator kegiatan
ekonomi pada dua titik waktu di wilayah tersebut. Dari hasil analisis ini akan
diketahui bagaimana perkembangan suatu sektor di suatu wilayah dibandingkan
secara relatif dengan sektor-sektor lainnya, apakah tumbuh lebih cepat atau
lambat. Sektor-sektor yang tumbuh lebih cepat di wilayah/kecamatan yang
bersangkutan dari pada pertumbuhan tingkat wilayah yang lebih luas/kabupaten,
mengindikasikan bahwa sektor tersebut merupakan sektor unggulan atau sektor
yang memiliki keunggulan kompetitif. Analisis ini dapat memperkuat indikasi
sektor unggulan dari hasil analisis LQ yang menunjukkan keunggulan komparatif.
Dalam penelitian ini, analisis shift share dilakukan terhadap sektor-sektor PDRB
kecamatan di Kabupaten Sambas pada tiga titik tahun, yaitu pada tahun 2000,
2003 dan 2006 (Lampiran 17). Hal ini bertujuan melihat konsistensi keunggulan
kompetitif suatu sektor selama kurun waktu tersebut dalam suatu wilayah
kecamatan, yang kemudian dipadukan dengan keunggulan komparatifnya pada
wilayah kecamatan bersangkutan. Hasil analisis shift share terhadap sektor-sektor
PDRB kecamatan di Kabupaten Sambas pada tahun 2000-2003 ditunjukkan pada
Tabel 32.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten
Sambas dalam kurun waktu 2000-2003 sebesar 0,135 atau 13,5%. Sektor-sektor
yang mempunyai laju pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan
laju pertumbuhan total Kabupaten Sambas adalah sektor pertanian; listrik & air
bersih;

perdagangan dan jasa, sedangkan sektor-sektor lainnya memiliki laju

pertumbuhan yang lebih rendah.


Pada wilayah pengembangan (WP) I dalam kurun waktu tersebut, sektorsektor yang mempunyai tingkat kompetitif yang relatif lebih tinggi dibandingkan
dengan sektor-sektor lainnya adalah sektor bangunan, perdagangan dan angkutan.
Pada WP II, hampir semua sektor (7 dari 9 sektor) mempunyai tingkat kompetitif
yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya, kecuali
sektor industri dan bangunan. Sektor yang mempunyai tingkat kompetitif yang

120

relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya pada WP III ada
sebanyak dua sektor, yaitu sektor pertanian dan industri, sedangkan pada WP IV,
selain kedua sektor tersebut, sektor listrik dan air bersih serta angkutan juga
mempunyai tingkat kompetitif yang relatif lebih tinggi.
Tabel 32

Hasil analisis shift share terhadap sektor-sektor PDRB kecamatan


di Kabupaten Sambas pada tahun 2000-2003
Differential shift sektor

WP
I

II

III

IV

Kecamatan
Tani

Tbm

Ind

Ligas

Bang

Dag

Angkt

Keu

Jasa

Pemangkat

-0,117

-0,035

-0,034

0,022

0,026

0,018

0,016

-0,002

Selakau

-0,052

-0,322

-0,003

-0,085

-0,022

-0,015

-0,022

-0,017

-0,012

Semparuk

-0,077

0,002

-0,029

-0,067

-0,03

-0,015

-0,027

Tebas

0,035

-0,051

-0,001

0,022

-0,009

0,006

0,012

0,001

-0,012

Tekarang

-0,015

-0,059

-0,003

-0,029

-0,057

0,017

-0,036

-0,045

Jawai

-0,064

-0,025

-0,066

0,002

-0,018

-0,009

-0,018

0,030

Jawai Selatan

0,060

0,018

-0,020

-0,015

-0,019

-0,025

0,056

-0,052

-0,035

0,000

-0,029

0,002

0,001

0,001

-0,001

-0,001

Sambas

0,113

0,034

0,075

0,005

0,057

0,011

0,018

0,007

Subah

0,052

-0,214

-0,003

0,473

-0,017

-0,051

0,012

-0,024

-0,025

Sebawi

0,152

0,098

0,002

-0,032

-0,035

-0,012

-0,003

0,010

Sajad

0,088

-0,003

-0,026

-0,054

0,007

-0,030

0,038

Sejangkung

0,134

-0,029

0,001

0,008

-0,018

-0,050

0,010

-0,013

0,008

0,104

0,051

0,000

0,080

0,000

0,009

0,011

0,008

0,007

Teluk Keramat

0,040

-0,058

0,032

0,029

-0,004

0,001

-0,026

-0,005

-0,008

Tangaran

0,055

-0,091

0,003

-0,044

0,227

-0,053

-0,033

Paloh

0,029

-0,060

0,003

-0,090

-0,020

0,001

-0,066

-0,004

-0,002

0,039

-0,060

0,001

-0,004

-0,007

-0,007

-0,039

-0,009

-0,009

Galing

0,152

0,006

-0,020

-0,078

0,067

-0,011

-0,014

Sajingan Besar

0,301

-0,003

0,577

-0,016

-0,029

0,108

0,008

0,012

0,167

0,000

0,004

0,577

-0,019

-0,066

0,089

-0,003

-0,001

Proportional Shift

0,013

-0,138

-0,074

0,016

-0,054

0,023

-0,059

-0,056

0,064

Regional Share

0,135

0,135

0,135

0,135

0,135

0,135

0,135

0,135

0,135

Sumber: Hasil analisis.

Dalam kurun waktu yang sama, dalam wilayah pengembangan (WP) I,


sektor-sektor yang mempunyai tingkat kompetitif yang lebih tinggi dibandingkan
dengan sektor-sektor lainnya adalah sektor pertanian yang terdapat di Kecamatan
Tebas dan Jawai Selatan; sektor pertambangan di Kecamatan Jawai Selatan;
sektor Industri di Kecamatan Semparuk; sektor listrik dan air bersih di Kecamatan
Tebas; sektor bangunan di Kecamatan Pemangkat dan Jawai; sektor perdagangan
di Kecamatan Pemangkat dan Tebas; sektor angkutan di Kecamatan Pemangkat,

121

Tebas dan Tekarang; sektor keuangan di Kecamatan Pemangkat dan Tebas; serta
sektor jasa di Kecamatan Jawai dan Jawai Selatan.
Dalam WP II, sektor-sektor yang mempunyai tingkat kompetitif yang lebih
tinggi dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya adalah sektor pertanian yang
terdapat di semua wilayah pengembangan II; sektor pertambangan di Kecamatan
Sambas dan Sebawi; sektor industri di Kecamatan Sebawi

dan Sejangkung;

sektor listrik dan air bersih di Kecamatan Sambas, Subah dan Sejangkung; sektor
bangunan, perdagangan dan keuangan di Kecamatan Sambas; sektor angkutan di
Kecamatan Sambas, Subah, Sajad dan Sejangkung; serta sektor jasa di Kecamatan
Sambas, Sebawai, Sajad dan Sejangkung.
Sektor-sektor yang mempunyai tingkat kompetitif yang lebih tinggi
dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya di WP III dan IV adalah sektor
pertanian yang terdapat di semua wilayah pengembangan. Sektor lainnya yang
mempunyai tingkat kompetitif di WP III adalah sektor industri yang terdapat di
Kecamatan Teluk Keramat dan Paloh; sektor sektor listrik dan air bersih di
Kecamatan Teluk Keramat; sektor bangunan di Kecamatan Tangaran; sektor
perdagangan di Kecamatan Teluk Keramat dan Paloh; serta sektor angkutan di
Kecamatan Tangaran. Sedangkan di WP IV sektor lainnya yang mempunyai
tingkat kompetitif adalah sektor industri di Kecamatan Galing; sektor angkutan di
Kecamatan Galing dan Sajingan Besar; serta sektor listrik dan air bersih;
keuangan; dan jasa hanya terdapat di Kecamatan Sajingan Besar.
Sektor-sektor tersebut di atas, baik pada WP I, II, III dan IV mempunyai
tingkat laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat laju
pertumbuhan sektor yang sama secara umum (kabupaten) dan pengembangannya
akan menguntungkan wilayah kecamatan bersangkutan. Dengan demikian sektorsektor yang mempunyai tingkat kompetitif lebih tinggi tersebut dapat menjadi
sektor unggulan di kecamatan masing-masing. Pada tahun 2003-2006, hasil
analisis shift share terhadap sektor-sektor PDRB kecamatan di Kabupaten Sambas
ditunjukkan pada Tabel 33.

122

Tabel 33 Hasil analisis shift share terhadap sektor-sektor PDRB kecamatan


di Kabupaten Sambas pada tahun 2003-2006
Differential shift sektor
WP
I

II

Kecamatan
Tani

Tbm

Ind

Ligas

Bang

Dag

Angkt

Keu

Jasa

Pemangkat

-0,088

0,038

-0,002

-0,088

0,028

0,031

0,005

0,018

0,01

Selakau

-0,089

-0,299

-0,666

-0,01

-0,021

-0,007

-0,023

-0,043

Semparuk

-0,039

0,009

-0,017

-0,053

0,061

-0,019

-0,064

Tebas

-0,121

-0,082

-0,002

0,03

-0,015

0,008

-0,001

0,007

-0,031

Tekarang

-0,149

-0,094

0,019

-0,02

-0,047

0,025

-0,043

-0,074

Jawai

-0,059

0,001

-0,001

0,082

-0,002

-0,032

-0,024

-0,003

-0,03

Jawai Selatan

-0,073

0,021

-0,001

-0,017

-0,013

-0,02

-0,039

-0,032

-0,089

0,006

-0,001

1,000

0,004

0,001

0,010

0,002

-0,017

Sambas

-0,046

-0,025

-0,002

0,08

0,038

-0,006

0,021

0,069

Subah

-0,061

-0,206

-0,003

0,139

-0,019

-0,04

-0,027

-0,051

-0,056

Sebawi

-0,057

0,034

0,009

-0,017

-0,037

-0,024

-0,039

-0,037

Sajad

-0,081

0,019

-0,022

-0,046

0,004

-0,058

-0,007

Sejangkung

III

IV

0,009

-0,038

-0,002

0,174

-0,025

-0,001

-0,037

-0,022

-0,044

-0,033

0,003

-0,001

0,096

-0,003

0,009

-0,010

0,004

0,050

Teluk Keramat

-0,076

-0,041

0,021

0,05

-0,01

-0,004

-0,022

-0,005

-0,014

Tangaran

-0,191

-0,062

-0,001

-0,071

0,111

-0,044

-0,074

Paloh

1,398

-0,048

0,012

-0,058

-0,008

0,006

-0,077

-0,015

-0,043

0,343

-0,047

0,004

0,023

-0,009

-0,013

-0,042

-0,010

-0,027

Galing

-0,159

0,014

0,003

-0,03

0,186

-0,009

-0,051

Sajingan Besar

-0,032

0,076

-0,289

0,002

0,012

0,109

-0,032

-0,04

-0,145

0,000

0,026

-0,289

0,003

-0,019

0,144

-0,019

-0,045

Proportional Shift

0,07

-0,12

-0,096

0,038

-0,096

-0,04

-0,092

-0,1

-0,011

Regional Share

0,19

0,19

0,19

0,19

0,19

0,19

0,19

0,19

0,19

Sumber: Hasil analisis.

Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sambas dalam kurun waktu 20032006 seperti ditunjukkan pada Tabel 33 adalah sebesar 0,19 atau 19,0%.
Dibandingkan dengan periode kurun waktu sebelumnya, laju pertumbuhan
ekonomi Kabupaten Sambas mengalami kenaikan sebesar 5,5%. Sektor-sektor
yang mempunyai laju pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan
laju pertumbuhan total Kabupaten Sambas hanya sebanyak 2 sektor, yaitu sektor
pertanian; dan listrik & air bersih, sedangkan sektor-sektor lainnya memiliki laju
pertumbuhan yang lebih rendah. Bila dibandingkan dengan periode kurun waktu
sebelumnya (2000-2003), jumlah sektor yang mempunyai laju pertumbuhan
ekonomi lebih tinggi tersebut mengalami penurunan sebesar 50%. Sektor yang
tetap mengalami laju pertumbuhan ekonomi lebih tinggi adalah sektor pertanian.

123

Ini menunjukkan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Sambas sangat berpotensi


menjadi sektor unggulan.
Pada wilayah pengembangan (WP) I dalam kurun waktu tersebut, hampir
semua sektor mempunyai tingkat kompetitif yang relatif lebih tinggi dibandingkan
dengan sektor-sektor lainnya, kecuali sektor pertanian, industri dan jasa. Pada WP
II, sebagian besar sektor perekonomian (5 dari 9 sektor) mempunyai tingkat
kompetitif yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya,
yaitu sektor pertambangan; listrikdan air bersih; perdagangan; keuangan dan jasa.
Sektor yang mempunyai tingkat kompetitif yang relatif lebih tinggi dibandingkan
dengan sektor-sektor lainnya pada WP III ada sebanyak tiga sektor, yaitu sektor
pertanian, industri; dan listrik dan air bersih. Sedangkan pada WP IV, sektor yang
mempunyai tingkat kompetitif yang relatif lebih tinggi adalah sektor industri
bangunan dan perdagangan.
Dalam kurun waktu yang sama dalam wilayah pengembangan (WP) I, sektorsektor yang mempunyai tingkat kompetitif yang lebih tinggi dibandingkan dengan
sektor-sektor lainnya adalah sektor pertambangan yang terdapat di Kecamatan
Pemangkat, Jawai dan Jawai Selatan; sektor Industri di Kecamatan Semparuk dan
Tekarang; sektor listrik dan air bersih di Kecamatan Tebas dan Jawai; sektor
bangunan dan jasa di Kecamatan Pemangkat; sektor perdagangan di Kecamatan
Pemangkat dan Tebas; sektor angkutan di Kecamatan Pemangkat, Semparuk dan
Tekarang; serta sektor keuangan di Kecamatan Pemangkat dan Tebas.
Dalam WP II, sektor-sektor yang mempunyai tingkat kompetitif yang lebih
tinggi dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya adalah sektor pertanian yang
hanya terdapat di Sejangkung; sektor pertambangan di Kecamatan Sebawi; sektor
industri di Kecamatan Sebawi

dan Sajad; sektor listrik dan air bersih di

Kecamatan Sambas, Subah dan Sejangkung; sektor perdagangan, keuangan dan


jasa di Kecamatan Sambas; serta sektor angkutan di Kecamatan Sajad.
Sektor-sektor yang mempunyai tingkat kompetitif yang lebih tinggi
dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya di WP III adalah sektor industri yang
terdapat di Kecamatan Teluk Keramat dan Paloh; sektor listrik dan air bersih di
Kecamatan Teluk Keramat; sektor perdagangan di Kecamatan Paloh; dan sektor
angkutan di Kecamatan Tangaran. Sedangkan di WP IV, sektor yang mempunyai

124

tingkat kompetitif yang lebih tinggi adalah sektor industri; bangunan; dan angkutan,
yang terdapat di semua kecamatan (Galing dan Sajingan Besar), sedangkan sektor
perdagangan hanya terdapat di Kecamatan Sajingan Besar. Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya, bahwa sektor-sektor yang mempunyai tingkat laju
pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat laju pertumbuhan sektor
yang sama secara umum (kabupaten) tersebut, baik pada WP I, II, III maupun WP IV
sangat berpotensi menjadi sektor unggulan di kecamatan masing-masing.
Tabel 34 Sektor-sektor kompetitif pada setiap kecamatan di Kabupaten Sambas
tahun 2000-2003 dan 2003-2006
WP
I

II

III

IV

Kecamatan

2000-2003

2003-2006

Pemangkat

Sektor Bangunan, Perdagangan,


Angkutan, dan Keuangan

Sektor Pertambangan, Bangunan,


Perdagangan, Angkutan, Keuangan dan
Jasa

Selakau

Semparuk

Sektor Industri

Sektor Industri dan Angkutan

Tebas

Sektor Pertanian, Listrik & Air Bersih,


Perdagangan, Angkutan dan Keuangan

Sektor Listrik & Air Bersih, Perdagangan


dan Keuangan

Tekarang

Sektor Industri dan Angkutan

Jawai

Sektor Bangunan dan Jasa

Sektor Pertambangan dan Listrik & Air


Bersih

Jawai Selatan

Sektor Pertanian, Pertambangan dan Jasa

Sektor Pertambangan

Sektor sektor bangunan, perdagangan dan


angkutan

Sektor pertambangan; Listrik dan Air


Bersih; Bangunan; perdagangan;
Angkutan dan keuangan

Sambas

Sektor Pertanian, Pertambangan, Listrik &


Air Bersih, Bangunan, Perdagangan,
Angkutan, Keuangan dan Jasa

Sektor Listrik & Air Bersih, Perdagangan,


Keuangan dan Jasa

Subah

Sektor Pertanian, Listrik & Air Bersih dan


Angkutan

Sektor Listrik & Air Bersih

Sebawi

Sektor Pertanian, Pertambangan, Industri


dan Jasa

Sektor Pertambangan dan Industri

Sajad

Sektor Pertanian, Angkutan dan Jasa

Sektor Industri dan Angkutan

Sejangkung

Sektor Pertanian, Industri, Listrik & Air


Bersih, Angkutan dan Jasa

Sektor Pertanian dan Listrik & Air Bersih

Sektor Pertanian, Pertambangan, Listrik &


Air Bersih, Perdagangan, Angkutan,
Keuangan dan Jasa

Sektor Pertambangan; Listrik dan Air


Bersih; Perdagangan; Keuangan dan Jasa

Teluk Keramat

Sektor Pertanian, Industri, Listrik & Air


Bersih dan Perdagangan

Sektor Industri, Listrik & Air Bersih

Tangaran

Sektor Pertanian, Bangunan dan Angkutan

Sektor Angkutan

Paloh

Sektor Pertanian, Industri dan


Perdagangan

Sektor Pertanian, Industri dan


Perdagangan

Sektor Pertanian dan Industri

Sektor pertanian, industri; dan Listrik dan


Air Bersih

Galing

Sektor Pertanian, Industri dan Angkutan

Sektor Industri, Bangunan dan Angkutan

Sajingan Besar

Sektor Pertanian, Listrik & Air Bersih,


Angkutan, Keuangan dan Jasa

Sektor Industri, Bangunan, Perdagangan


dan Angkutan

Sektor Pertanian, Industri , listrik dan air


bersih; dan angkutan

Sektor Industri Bangunan dan


Perdagangan

Sumber: Hasil analisis

125

Secara rinci, sektor-sektor yang berpotensi menjadi sektor unggulan


(mempunyai tingkat kompetitif lebih tinggi) pada setiap kecamatan di Kabupaten
dari tahun 2000-2003 dan 2003-2006 terlihat pada Tabel 34.
Tabel 35 Identifikasi sektor unggulan berdasarkan kombinasi hasil analisis LQ
(2006) dan SSA (2000-2003 & 2003-2006) pada setiap kecamatan di
Kabupaten Sambas
WP
I

Kecamatan
Pemangkat

Tbm, Ind, Ligas, Bang,


Angkt, Keu dan Jasa

Sektor Unggulan*)

Tamb, Bang,
Dag, Angkt, Keu
dan Jasa

1.

Bang, Angkt, dan


Keu.

2.

Tamb dan Jasa.

Tani

Semparuk

Tani dan Angkt

Ind

Ind dan Angkt

1.

2.

Angkt

Tekarang

Jawai

Jawai Selatan

Sambas

Subah

Sebawi

Sajad

Sejangkung

Tani, Bang, Dag,


Angkt dan Keu

Tani, Ligas, Dag,


Angktan dan Keu

Ligas, Dag, dan


Keu

1.

Dag dan Keu..

2.

Angkt.

Tani, Angkt dan Keu

Ind dan Angkt

1.

2.

Angkt.

1.

2.

Ligas.

1.

Tbm.

2.

Tani dan Jasa.

Tani, Ligas dan Dag

Teluk Keramat

Tangaran

Paloh

Bang dan Jasa

Tbm dan Liga

Tani, Tbm, Bang,


Angkt, Keu dan Jasa

Tani, Tbm dan Jasa

Tani, Ligas, Dag dan


Angkt

Bang, Dag dan


Angkt

Tbm, Ligas,
Bang, Dag,
Angkt dan Keu

1.

Dag dan Angkt.

2.

Ligas

Ind, Ligas, Bang,


Angkt, Keu dan Jasa

Tani, Tmb, Ligas,


Bang, Dag, Angkt,
Keu dan Jasa

Ligas, Dag, Keu


dan Jasa

1.

Ligas, Keu dan


Jasa.

2.

Bang dan Angkt.

Tani, Ligas dan


Angkt

Ligas

1.

2.

Tani.

Tbm, Ind, Bang, Keu


dan Jasa

Tani, Tbm, Ind dan


Jasa

Tbm dan Ind

1.

Tbm dan Ind.

2.

Jasa.

Ind, dan Dag

Tani, Angkt dan


Jasa

Ind dan Angkt

1.

2.

Ind.

Tani, Ind, Ligas,


Angkt dan Jasa

Tani dan Ligas

1.

Tani.

2.

Ind.

Tani, Tamb, Ligas,


Dag, Angk, Keu dan
Jasa

Tbm, Ligas, Dag,


Keu dan Jasa

1.

Tmb, Ligas, Keu


& Jasa.

2.

Angkt.

Tani, Ligas, Keu, dan


Jasa

Tani, Ind, Ligas dan


Dag

Ind, Ligas

1.

Ligas.

2.

Tani.

Tani dan Dag

Tani, Bang dan


Angkt

Angkt

1.

2.

Tani.

Tani, Ind dan Dag

Tani, Ind dan


Dag

1.

Tani.

2.

Tani, Ind dan


Ligas

1.

Tani.

2.

Tani

Tani dan Ind

Tbm, Ind, Ligas, Bang,


Angkt, Keu dan Jasa

III

Bang, Dag, Angkt,


dan Keu

Hasil analisis SSA


2003-2006**)

Selakau

Tebas

II

Hasil analisis SSA


2000-2003**)

Hasil analisis LQ*)

Tani dan Tbm

Tani

Tani dan Ind

Tbm

126

Tabel 35 lanjutan.
WP

Kecamatan

IV

Galing

Sajingan Besar

Hasil analisis
SSA 20032006**)

Hasil analisis SSA


2000-2003**)

Hasil analisis LQ*)


Tani

Tani, Ind dan Angkt

Sektor Unggulan*)

Ind, Bang dan


Angkt

1.

2.

Tani.

Tani, Angk, Keu dan


Jasa

Tani, Ligas, Angkt,


Keu dan Jasa

Ind, Bang, Dag


dan Angkt

1.

Angkt

2.

Tani, Keu dan


Jasa.

Tani

Tani, Ligas, Dag dan


Jasa

Ind, Bang dan


Angkt

1.

Tani

2.

Sumber: Hasil analisis


Keterangan:
Tani

: Pertanian

Dag

: Perdagangan, Hotel dan Restoran

Tmb

: Pertambangan dan Penggalian

Akt

: Pengangkutan dan Komunikasi

Ind

: Industri Pengolahan

Keu

: Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

Ligas

: Listrik, Gas dan Air Bersih

Jasa

: Jasa-Jasa

Bang

: Bangunan

*)

: Sektor yang memiliki keunggulan komparatif.

**)

: Sektor yang memiliki keunggulan kompetitif .

***) : 1 = Sektor yang memiliki keunggulan komparatif & kompetitif dalam 3 titik tahun (2000-2003 & 2003-2006);
2 = Sektor yang memiliki keunggulan komparatif & kompetitif dalam 2 titik tahun (2000-2003, atau 2003- 2006);
Sektor-sektor yang tidak tercantum dalam ketiga kolom pada tabel tersebut diatas (hasil analisis LQ dan SSA) dalam
suatu wilayah kecamatan merupakan sektor-sektor yang tidak memiliki keunggulan komparatif & kompetitif.

Dari hasil analisis LQ dan SSA di atas, dapat diperoleh sektor-sektor


unggulan yang memiliki tingkat kompetitif dan komparatif tinggi dan tidak
berubah dalam kurun waktu 6 tahun (2000-2003 dan 2003-2006) seperti yang
ditunjukkan pada Tabel 35.

Dalam WP

I,

hasil kombinasi tersebut

memperlihatkan bahwa Kecamatan Pemangkat memiliki lebih banyak sektorsektor unggulan (5 sektor dari 9 sektor yang ada), sedangkan Kecamatan Selakau
tidak memiliki sektor unggulan yang kuat (sektor yang memiliki keunggulan
komparatif & kompetitif). Kecamatan lain yang juga memiliki sektor unggulan
adalah Kecamatan Tebas dan Jawai Selatan. Kedua kecamatan tersebut memiliki 3
sektor unggulan dari 9 sektor perekonomian yang ada di Kabupaten Sambas,
sedangkan kecamatan lainnya hanya memiliki satu sektor unggulan.
Dalam WP II, Kecamatan Sambas memiliki lebih banyak sektor-sektor
unggulan (5 sektor dari 9 sektor yang ada), sedangkan Kecamatan Subah dan Sajad
hanya memiliki satu sektor unggulan yang kuat. Kecamatan lain yang juga memiliki
sektor unggulan adalah Kecamatan Sebawi (3 sektor) dan Sejangkung (2 Sektor).
Berbeda dengan WP I dan WP II yang memiliki sektor-sektor unggulan
yang beragam, dalam WP III, sektor unggulan hanya didominasi oleh sektor

127

pertanian, kecuali pada Kecamatan Teluk Keramat yang juga memiliki sektor
listrik, gas dan air bersih sebagai sektor unggulannya. Hal yang sama juga terjadi
dalam WP IV yang terdiri dari 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Galing dan
Sajingan Besar, sektor pertanian merupakan sektor unggulan yang ada di kedua
kecamatan tersebut. Hanya saja pada Kecamatan Sajingan Besar, sektor angkutan,
keuangan dan jasa-jasa juga merupakan sektor unggulan. Karena pendekatan
penentuan sektor unggulan tersebut juga didasarkan pada basis ekonomi atau
sektor basis (sektor yang berorientasi ekspor), maka tidak semua sektor yang
memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dimasukkan dalam
sektor unggulan. Hasil identifikasi sektor-sektor unggulan tersebut dari tiap
kecamatan ditunjukkan pada Tabel 36.
Tabel 36 Identifikasi sektor-sektor unggulan pada tiap-tiap kecamatan di
Kabupaten Sambas
WP

Kecamatan

Sektor Unggulan

Pemangkat

Sektor Angkutan, Keuangan dan Pertambangan

Selakau

Semparuk

Sektor Angkutan

Tebas

Sektor Angkutan dan Keuangan

Tekarang

Sektor Angkutan

Jawai

Sektor Listrik, Gas & Air Bersih

Jawai Selatan

Sektor Pertanian dan Pertambangan


Sektor Angkutan; dan Listrik, Gas & Air Bersih

II

Sambas

Sektor Listrik, Gas & Air Bersih, Angkutan dan Keuangan

Subah

Sektor Pertanian

Sebawi

Sektor Pertambangan dan Industri

Sajad

Sektor Industri

Sejangkung

Sektor Pertanian dan Industri


Sektor Pertambangan; Listrik, Gas & Air Bersih; Angkutan, dan
Keuangan

III

Teluk Keramat

Sektor Pertanian, dan; Listrik, Gas & Air Bersih

Tangaran

Sektor Pertanian

Paloh

Sektor Pertanian
Sektor Pertanian

IV

Galing

Sektor Pertanian

Sajingan Besar

Sektor Pertanian
Sektor Pertanian

Sumber: Hasil analisis

128

Tipologi Wilayah Kabupaten Sambas


Penentuan tipologi suatu wilayah dapat dilakukan berdasarkan analisis
multivariat melalui metode analisis komponen utama atau Principal Components
Analysis (PCA), analisis klaster/gerombol (cluster analysis) dan analisis
diskriminan (discriminant analysis).
Hasil Analisis Komponen Utama (PCA)
Dalam analisis multivariat, analisis komponen utama dapat digunakan untuk
mendapatkan variabel baru dalam jumlah yang lebih kecil. Apabila sebagian besar
total variasi populasi (sekitar 80-90%) untuk jumlah yang besar dapat diterangkan
oleh 2 atau 3 komponen utama (principal components, PC), maka kedua atau
ketiga

komponen tersebut

dapat

menggantikan

variabel

semula

tanpa

menghilangkan banyak variasi/keragamannya (Iriawan dan Astuti 2006).


Proses analisis multivariat dengan metode analisis komponen utama untuk
Kabupaten Sambas didasarkan pada faktor-faktor yang menggambarkan
perkembangan suatu wilayah, antara lain diperoleh dari data Podes 2006 dan
faktor fisik wilayah yang dikelompokkan ke dalam 24 variabel yaitu variabel
bidang kependudukan, keuangan, komunikasi dan informasi, kesehatan,
pendidikan, ekonomi, aksesibilitas dan faktor-faktor fisik wilayah seperti terlihat
pada lampiran 2.
Variabel bidang kependudukan terdiri atas kepadatan penduduk dan
persentase keluarga pertanian.

Variabel keuangan kecamatan diwakili oleh

variabel pendapatan asli tiap kecamatan per jumlah penduduknya.

Variabel

sarana komunikasi dan informasi terdiri atas rasio sarana komunikasi (wartel,
warnet, kantor pos) terhadap 1000 penduduk, persentase keluarga yang
berlangganan PLN dan telepon. Variabel kesehatan terdiri atas rasio tenaga
kesehatan (dokter, bidan dan dukun bayi), rasio tempat pelayanan kesehatan
(RSU, rumah bersalin, poliklinik, puskesmas, tempat dokter/ bidan dan posyandu)
dan rasio tempat penjualan obat terhadap 1000 penduduk. Variabel pendidikan
terdiri atas rasio sarana pendidikan dasar dan menengah, rasio murid, rasio guru,
rasio tempat ibadah terhadap 1000 penduduk. Variabel ekonomi terdiri atas rasio
lembaga keuangan (bank, BPR, KUD, koperasi) dan rasio toko dan tempat

129

perbelanjaan (toko, kios, supermarket, restoran/kedai makan) terhadap 1000


penduduk. Variabel aksesibilitas terdiri atas jarak kecamatan terhadap ibukota
Kabupaten Sambas, jarak kecamatan terhadap ibukota kabupaten lain dan rasio
panjang jalan terhadap luas wilayah. Variabel faktor fisik terdiri atas persentase
luas hutan, luas non hutan, luas areal dengan lereng 0-8%, 8-15%, 15-45% dan
>45%. Hasil analisis dengan analisis komponen utama terhadap semua variabel
tersebut di atas, seperti ditunjukkan pada Gambar 26 dan Tabel 37.
Berdasarkan scree plot pada Gambar 26 dan eigenvalue (nilai varian
komponen utama, PC) Tabel 37 diperoleh hasil bahwa dari 24 variabel yang
diamati, dapat disederhanakan menjadi 5 (lima) variabel baru yang memiliki
eigenvalue lebih dari 1 yakni faktor 1 sampai dengan faktor 5. Dari kelima faktor
tersebut, faktor 1 (PC1) memiliki eigenvalue sebesar 9,12; faktor 2 (PC2)
memiliki eigenvalue sebesar 4,84; sedangkan faktor 3 (PC3), faktor 4 (PC4) dan
faktor 5 (PC5) masing-masing memiliki eigenvalue sebesar 2,71; 2,41 dan 1,34.
Plot of Eigenvalues
11
10
9,13
9
8

Value

7
6
4,84

5
4

2,71

2,41

2
1,34
0,94 0,83

1
0
1

0,51 0,37
0,23 0,21 0,17 0,12 0,09 0,05
0,04 0,00 0,00 0,00 0,00
9

11

13

15

17

19

Number of Eigenvalues

Gambar 26 Plot of eigenvalue


Tabel 37 Eigenvalues. Extraction : principal components
Value

Eigenvalue

1
2
3
4
5

9,13
4,84
2,71
2,41
1,34

Sumber: Hasil analisis

% Total
variance
38,03
20,17
11,29
10,05
5,58

Cumulative
Eigenvalue
9,13
13,97
16,68
19,09
20,43

Cumulative
%
38,03
58,20
69,49
79,54
85,12

130

Kelima faktor tersebut berturut-turut mewakili 38,03%; 20,17%; 11,29%;


10,05%; dan 5,58% dari total variabilitas. Apabila diakumulasikan, kelima faktor
tersebut menyatakan 85,12% dari total variabilitas. Ini berarti apabila 24 variabel
disederhanakan menjadi 5 variabel baru, maka kelima variabel tersebut (faktor 1
sampai dengan 5) dapat menjelaskan 85,12% dari total variabilitas ke 24 variabel.
Adapun penciri dari masing-masing faktor tersebut ditunjukkan oleh faktor
loading sebagaimana terlihat pada Tabel 38.
Tabel 38

Factor loadings (varimax normalized)


components (marked loadings are >,700000)

extraction:

Variabel*)

Factor 1

Factor 2

Factor 3

Factor 4

Factor 5

Kpdtn
KP
Pak
Sarkom
PLN
Telp
Tenkes
Temkes
Obat
Dikdas
Murid
Guru
Sarib
Lkeu
Toko
Jsbs
Jkbl
Jln
Hutan
Nonhtn
Ler0
Ler8
Ler15
Ler45
Expl.Var
Prp.Totl

-0,317914
0,231169
-0,108906
-0,173156
-0,699468
-0,019692
0,037557
0,186838
-0,280847
0,718760
0,474204
0,131667
0,342310
0,243957
-0,007313
0,835223
-0,007175
-0,088760
0,642353
-0,642353
-0,917040
0,907205
0,917045
0,854238
6,502193
0,270925

0,528490
-0,857211
0,896124
0,915424
0,380360
0,912414
-0,242778
0,034666
0,287592
0,182271
0,777405
0,267835
-0,216852
0,476131
0,134662
-0,113314
-0,261208
0,431716
-0,113450
0,113450
0,013860
-0,004606
-0,008921
-0,102133
5,080268
0,211678

-0,255525
0,063648
0,041514
-0,186496
-0,335597
-0,091078
0,877373
0,718959
0,340788
0,606474
0,091789
0,082117
0,714186
0,630834
0,248574
-0,231917
0,385139
-0,045315
-0,171270
0,171270
-0,196260
0,230365
0,159423
0,266642
3,433310
0,143055

0,694348
-0,172314
0,101540
0,093082
-0,111804
0,154669
-0,158496
-0,499923
0,308025
-0,150156
-0,133531
-0,613651
0,029053
0,062940
0,071464
0,272764
-0,815126
0,849282
-0,675373
0,675373
0,249285
-0,233147
-0,247948
-0,317963
4,015438
0,167310

0,020808
0,184475
0,055794
0,142829
-0,202031
-0,011158
0,091447
0,082828
-0,429306
0,033595
0,006015
0,027843
0,175662
-0,425380
0,911277
0,165907
-0,034107
-0,060901
-0,082694
0,082694
0,019476
0,011485
-0,033102
-0,084203
1,397386
0,058224

Principal

Sumber: Hasil analisis


Keterangan: *) = penjelasan tiap variabel seperti ditunjukkan pada Lampiran 2

Factor loading tersebut di atas (Tabel 38) menunjukkan tingkat keeratan


suatu variabel terhadap variabel yang terbentuk. Semakin besar nilai factor
loading-nya, maka semakin nyata variabel tersebut dapat dimasukkan dalam salah
satu faktornya, begitu pula sebaliknya. Suatu factor loading disebut nyata apabila

131

angka mutlaknya minimal sama dengan 0,70 (StatSoft 2001, dalam Saefulhakim
2008a), yang ditunjukkan dengan huruf tebal pada tabel di atas.
Berdasarkan hasil factor loading seperti ditunjukkan pada Tabel 38 dapat
dijelaskan bahwa faktor-faktor utama wilayah Kabupaten Sambas adalah sebagai
berikut :
-

Faktor 1 (F1) dapat dikelompokkan sebagai faktor kemiringan lereng dan luas
hutan, terdiri dari 6 variabel asal yaitu persentase luas wilayah dengan
kemiringan lereng 0-8%, 8-15%, 15-45%, dan luas wilayah dengan
kemiringan lereng lebih dari 45%, serta jarak kecamatan dengan ibu kota
Kabupaten Sambas dan rasio jumlah sarana pendidikan dasar dan menengah
(TK, SD, SLTP, SLTA/SMK negeri dan swasta) terhadap 1000 penduduk.
Variabel lain yang juga dapat menjadi penciri faktor ini, walaupun tidak nyata
(nilai mutlak factor loading < 0,70) adalah persentase luas hutan dan nonhutan suatu wilayah yang memiliki nilai mutlak factor loading sebesar 0,64.
Semakin besar skor suatu daerah pada faktor ini, semakin besar pula
persentase luas wilayah dengan kemiringan lereng lebih besar dari 8% atau
semakin bergelombang atau berbukit sampai curam pada wilayah tersebut;
semakin besar persentase luas hutannya; dan semakin jauh jaraknya dengan
ibu kota Kabupaten Sambas, serta semakin besar pula rasio ketersediaan
sarana pendidikan dasar dan menengah (diakibatkan penduduk yang jarang).
Semakin kecil skor suatu daerah pada faktor ini, semakin tinggi persentase
luas wilayahnya dengan kemiringan lereng yang datar sampai landai
(kemiringan lereng 0-8%), semakin kecil persentase luas hutannya dan
semakin dekat dengan ibu kota Kabupaten Sambas, serta semakin kecil daya
tampung sarana pendidikannya (berpenduduk padat). Nilai keragaman data
yang dapat dijelaskan oleh faktor 1 ini adalah sebesar 38,03%.

Faktor 2 (F2) sebagai faktor sarana dan penciri perkotaan, yang berkorelasi
positif dengan pendapatan asli kecamatan per kapita, rasio sarana komunikasi,
persentase keluarga yang berlangganan telepon, rasio murid dan berkorelasi
negatif dengan persentase keluarga petani. Walaupun tidak nyata, faktor ini
juga berkorelasi potif dengan kepadatan penduduk, persentase keluarga yang
berlangganan PLN dan rasio lembaga keuangan. Semakin besar skor suatu

132

daerah pada faktor ini, semakin lengkap sarana perkotaannya. Nilai keragaman
data yang dapat dijelaskan oleh faktor 2 ini adalah sebesar 20,17%.
-

Faktor 3 (F3) sebagai faktor pelayanan sosial, yang secara nyata berkorelasi
positif dengan rasio tenaga kesehatan (dokter, bidan, dukun bayi), rasio tempat
kesehatan (rumah sakit, poliklinik, puskesmas, polindes), dan rasio tempat
ibadah (mesjid, surau, geraja, pura,vihara). Faktor ini juga berkorelasi positif
dengan rasio tempat penjulan obat (apotik, toko obat) dan rasio sarana
pendidikan. Semakin besar skor suatu daerah pada faktor ini, semakin tinggi
tingkat pelayanan sosialnya. Nilai keragaman data yang dapat dijelaskan oleh
faktor 3 ini adalah sebesar 11,29%.

Faktor 4 (F4) sebagai faktor aksesibilitas, yang secara nyata berkorelasi


positif dengan rasio panjang jalan terhadap luas wilayah atau kerapatan jalan
dan secara nyata berkorelasi negatif dengan jarak dari ibu kota kabupaten lain.
Semakin besar skor suatu daerah pada faktor ini, semakin tinggi tingkat
aksesibilitasnya. Meskipun tidak nyata, kepadatan penduduk dan luas non
hutan berkorelasi positif dengan faktor ini, sedangkan persentase luas hutan
berkorelasi negatif. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kerapatan jalan
suatu wilayah, semakin padat jumlah penduduknya dan semakin kecil pula
luas hutannya. Nilai keragaman data yang dapat dijelaskan oleh faktor 4 ini
adalah sebesar 9.82%.

Faktor 5 (F5) sebagai faktor pelayanan ekonomi, yang secara nyata


berkorelasi positif dengan rasio toko atau tempat perbelanjaan. Semakin besar
skor suatu daerah pada faktor ini, semakin tinggi tingkat pelayanan
ekonominya. Nilai keragaman data yang dapat dijelaskan oleh faktor 5 ini
adalah sebesar 5,58%.

Hasil Analisis Klaster


Analisis klaster (cluster analysis) dalam penentuan tipologi wilayah
(kecamatan) di Kabupaten Sambas bertujuan mengelompokkan wilayah-wilayah
ke dalam beberapa kelompok (wilayah/kawasan) tertentu yang memiliki
kemiripan ciri sifat fisik dan sosial-ekonomi antar wilayah. Dasar pengelompokan
yang digunakan dalam analisis klaster adalah kemiripan (similarity) atau
ketakmiripan (dissimilarity) antara wilayah satu dengan wilayah lainnya dalam

133

beberapa dimensi (variabel). Wilayah yang ada dalam satu klaster relatif memiliki
kemiripan dibandingkan dengan wilayah yang berada dalam klaster yang lain.
Dengan demikian hasil yang diharapkan dari analisis klaster adalah adanya
perbedaan yang tinggi antara klaster satu dengan klaster lain, sehingga jelas
adanya perbedaan karakteristik antar klaster yang terbentuk, dan memiliki
kesamaan yang tinggi antar anggota klaster dalam satu klaster, sehingga dalam
satu klaster akan berisi wilayah yang memiliki karakteristik yang sama.
Variabel yang digunakan dalam analisis klaster adalah factor score pada
faktor utama tiap kecamatan yang diperoleh dari hasil analisis PCA, seperti
terlihat pada Tabel 39.
Tabel 39 Factor scores (Rotation : varimax normalized)
Extraction: Principal Components
Kecamatan
Selakau
Pemangkat
Semparuk
Tebas
Tekarang
Sambas
Subah
Sebawi
Sajad
Jawai
Jawai Selatan
Teluk Keramat
Tangaran
Galing
Sejangkung
Sajingan Besar
Paloh

Factor 1
0,6571
0,6185
-0,5124
0,5860
-0,7715
-1,0846
1,2387
-0,4160
-1,2869
-0,0872
-0,2253
-0,8400
-0,6281
-0,2386
-0,5463
2,6840
0,8527

Factor 2
-0,5990
1,9358
0,0868
0,9061
-0,4055
2,6515
-0,6805
0,0352
-1,2750
-0,4473
0,0262
0,0911
-0,9691
-0,5235
-0,5679
-0,1554
-0,1097

Factor 3
-1,4924
-0,4410
-0,7802
-0,5770
1,5795
0,7195
2,4452
0,2893
-0,4594
-0,5012
0,1973
-0,2881
-0,6214
0,1207
0,8731
0,2581
-1,3221

Factor 4
1,2538
1,5653
0,8230
-0,0964
0,8592
-1,0194
0,5817
-0,3828
-0,2559
1,1583
1,0979
-0,9654
-0,1200
-1,0817
-0,7495
-1,0355
-1,6327

Factor 5
-0,0621
0,2972
-1,4168
-0,6752
-2,1783
0,0705
0,2549
0,3067
0,3139
0,7785
1,6635
1,1140
-0,0945
1,2369
-0,4578
0,2644
-1,4157

Sumber: Hasil analisis

Analisis klaster terhadap data factor score tersebut dilakukan dengan teknik
K-Mean clustering (Non-hierarchical) untuk mengelompokan wilayah kecamatan
menjadi 4 klaster sesuai dengan pengelompokkan wilayah pengembangan (WP) di
Kabupaten Sambas. Hasil dari analisis klaster terhadap data factor score (Tabel
39) dengan menggunakan teknik K-Mean cluster ditunjukkan pada Tabel 40.

134

Tabel 40 Hasil analisis klaster dengan teknik K-Mean


Kecamatan

Factor 1

Factor 2

Factor 3

Factor 4

Factor 5

Cluster

-0,7715

-0,4055

1,5795

0,8592

-2,1783

Subah

1,2387

-0,6805

2,4452

0,5817

0,2549

Sejangkung

-0,5463

-0,5679

0,8731

-0,7495

-0,4578

Pemangkat

0,6185

1,9358

-0,4410

1,5653

0,2972

Semparuk

-0,5124

0,0868

-0,7802

0,8230

-1,4168

Tebas

0,5860

0,9061

-0,5770

-0,0964

-0,6752

Sambas

-1,0846

2,6515

0,7195

-1,0194

0,0705

Selakau

0,6571

-0,5990

-1,4924

1,2538

-0,0621

Sebawi

-0,4160

0,0352

0,2893

-0,3828

0,3067

Sajad

-1,2869

-1,2750

-0,4594

-0,2559

0,3139

Jawai

-0,0872

-0,4473

-0,5012

1,1583

0,7785

Jawai Selatan

-0,2253

0,0262

0,1973

1,0979

1,6635

Teluk Keramat

-0,8400

0,0911

-0,2881

-0,9654

1,1140

Tangaran

-0,6281

-0,9691

-0,6214

-0,1200

-0,0945

Galing

-0,2386

-0,5235

0,1207

-1,0817

1,2369

Sajingan Besar

2,6840

-0,1554

0,2581

-1,0355

0,2644

Paloh

0,8527

-0,1097

-1,3221

-1,6327

-1,4157

Mean cluster 1

-0,0264

-0,5513

1,6326

0,2305

-0,7937

Mean cluster 2

-0,0981

1,3950

-0,2697

0,3181

-0,4311

Mean cluster 3

-0,3831

-0,4577

-0,3444

0,0880

0,6571

Mean cluster 4

1,7683

-0,1325

-0,5320

-1,3341

-0,5757

Tekarang

Sumber: Hasil analisis

Berdasarkan analisis klaster terhadap lima faktor di atas, diperoleh hasil


pengelompokan kecamatan-kecamatan di Kabupaten Sambas, yaitu: (1) klaster 1
meliputi: Kecamatan Tekarang, Subah dan Sejangkung; (2) klaster 2 meliputi:
Kecamatan Pemangkat, Semparuk, Tebas dan Sambas; (3) klaster 3 meliputi:
Kecamatan

Selakau,

Sebawi,

Sajad,

Jawai,

Jawai

Selatan,

Teluk

Keramat,Tangaran, Galing, dan; (4) klaster 4 meliputi: Kecamatan Paloh dan


Sajingan Besar. Sedangkan perbedaan karakteristik setiap klaster hasil
pengelompokan terhadap faktor utama tiap kecamatan tersebut, seperti
ditunjukkan pada Gambar 27, yang merupakan grafik nilai tengah dari setiap
faktor untuk masing-masing klaster.

135

Plot of Means f or Each Cluster


3,0
2,5
2,0
1,5
1,0
0,5
0,0
-0,5
-1,0
-1,5
-2,0
-2,5
Factor 1

Factor 2

Factor 3

Factor 4

Factor 5

Cluster
Cluster
Cluster
Cluster

1
2
3
4

Variables

Gambar 27 Grafik nilai tengah dari faktor utama pada setiap klaster
Berdasarkan grafik nilai tengah dari faktor utama (Gambar 27) maka dapat
diidentifikasi karakteristik atau penciri pada setiap klaster dengan mean di atas 0,5
(tinggi) atau di bawah -0,5 (rendah). Pada klaster 1 penciri utamanya adalah faktor
2 dan faktor 5 yang rendah serta faktor 3 yang tinggi, sedangkan pada klaster 2
penciri utamanya adalah faktor 2 yang tinggi. Penciri utama pada klaster 3 adalah
faktor 5 yang tinggi, sedangkan faktor 1 yang tinggi serta faktor 3, 4 dan 5 yang
rendah merupakan penciri utama klaster 4.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada klaster 1 yang meliputi
Kecamatan Tekarang, Subah dan Sejangkung memiliki tipologi wilayah dengan
tingkat pelayanan sosial yang tinggi, sedangkan sarana perkotaan dan tingkat
pelayanan ekonominya rendah. Kecamatan yang termasuk dalam klaster ini
memiliki ketersediaan tenaga kesehatan (dokter, bidan, dukun bayi), tempat
kesehatan (rumah sakit, poliklinik, puskesmas, polindes), tempat ibadah (mesjid,
surau, geraja, pura,vihara) dan jumlah keluarga petani yang tinggi, serta memiliki
ketersediaan tempat penjulan obat (apotik, toko obat), sarana pendidikan dan
aksesibilitas yang cukup memadai, sedangkan pendapatan asli kecamatan, sarana
komunikasi, keluarga yang berlangganan telepon, ketersediaan toko atau tempat
perbelanjaannya rendah. Karena wilayah kecamatan pada kawasan ini relatif jauh
dari pusat ibu kota kabupaten, maka klaster ini mencirikan kawasan perdesaan
pedalaman.

136

Tipologi pada klaster 2 yang terdiri dari Kecamatan Pemangkat, Semparuk,


Tebas dan Sambas, memiliki sarana perkotaan yang tinggi. Klaster ini dicirikan
dengan pendapatan asli kecamatan per kapita, ketersediaan sarana komunikasi
(telepon, wartel, kiospon, kantor pos), anak usia sekolah yang tinggi dengan
kepadatan penduduk dan kerapatan jalan (aksesibilitas) cukup tinggi, ketersediaan
listrik dan lembaga keuangan yang memadai, serta jumlah keluarga pertanian
yang sedikit, wilayah yang relatif datar (kemiringan lereng 0-8%) dan luas hutan
yang cukup rendah. Kecamatan-kecamatan yang termasuk dalam klaster ini
merupakan kecamatan yang relatif maju. Dengan demikian, klaster ini mencirikan
tipologi kawasan perkotaan.
Pada klaster 3 yang meliputi Kecamatan Selakau, Sebawi, Sajad, Jawai,
Jawai Selatan, Teluk Keramat,Tangaran, Galing, tipologi wilayahnya dicirikan
dengan tingkat pelayanan ekonomi (rasio pertokoan terhadap jumlah penduduk)
yang tinggi, sedangkan sarana perkotaan, tingkat pelayanan sosial dan
aksesibilitasnya cukup memadai (sedang). Selain itu, wilayah kecamatan pada
klaster ini umumnya relatif datar dan sebagian besar berbatasan dengan laut,
sehingga klaster ini mencirikan kawasan perdesaan pesisir.
Berbeda dengan ketiga klaster di atas, pada klaster 4 yang teridiri dari
Kecamatan Paloh dan Sajingan Besar, tipologi wilayahnya dicirikan dengan faktor
kemiringan lereng dan hutan (biofisik wilayah) yang tinggi, sedangkan tingkat
pelayanan sosial, aksesibilitas (tingkat kerapatan jalan) dan tingkat pelayanan
ekonomi yang rendah. Wilayah pada klaster ini memiliki kemiringan lereng lebih
besar dari 8% yang tinggi atau memiliki topografi wilayah yang bergelombang
atau berbukit sampai curam yang luas, memiliki hutan yang luas, agak terpencil
atau sangat jauh dari ibu kota Kabupaten Sambas, kepadatan penduduk dan sarana
perkotaan yang agak rendah, tetapi tingkat ketersediaan sarana pendidikan dasar
dan menengahnya tinggi. Kecamatan-kecamatan dalam klaster ini relatif kurang
berkembang dan ternyata berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia.
Dengan demikian, klaster ini mencirikan tipologi kawasan perbatasan.

137

Hasil Analisis Diskriminan


Analisis diskriminan berguna untuk menentukan faktor-faktor yang paling
mencirikan tipologi wilayah hasil analisis klaster, atau faktor-faktor yang paling
berpengaruh terhadap masing-masing tipologi wilayah tersebut. Selain itu analisis
diskriminan juga dilakukan terhadap kelompok wilayah hasil pengelompokan
yang lain, yaitu pengelompokan berdasarkan hasil analisis tipologi Klassen dan
pengelompokan berdasarkan wilayah pengembangan (WP) yang dibentuk
Bappeda Kabupaten Sambas. Hal ini untuk mengetahui ketepatan pengelompokan
dari masing-masing metode tersebut. Pada pengelompokan berdasarkan hirarki
yang diperoleh dari analisis skalogram tidak dilakukan analisis diskriminan,
karena kecamatan yang memiliki hirarki I pada hasil analisis skalogram hanya
satu kecamatan. Persentase ketepatan hasil pengelompokan ketiga analisis tersebut
(klaster, tipologi Klassen dan WP) ditunjukkan pada Tabel 41.
Tabel 41 Persentase ketepatan hasil pengelompokan analisis klaster, tipologi
Klassen dan WP di Kabupaten Sambas
G_1:1
p=,17647

G_2:2
p=,23529

G_3:3
p=,47059

G_4:4
p=,11765

G_1:1
G_2:2
G_3:3
G_4:4

Persentase Ketepatan
Hasil Klasifikasi
100,00
100,00
100,00
100,00

3
0
0
0

0
4
0
0

0
0
8
0

0
0
0
2

Total

100,00

Persentase Ketepatan
Hasil Klasifikasi
100,00
100,00
50,00
80,00

G_1:1
p=,29412
5
0
1
1

G_2:2
p=,17647
0
3
1
0

G_3:3
p=,23529
0
0
2
0

G_4:4
p=,29412
0
0
0
4

Cluster

T-Klassen
G_1:1
G_2:2
G_3:3
G_4:4
Total

82,35

WP

Persentase Ketepatan
Hasil Klasifikasi

G_1:1
p=,41176

G_2:2
p=,29412

G_3:3
p=,17647

G_4:4
p=,11765

G_1:1
G_2:2
G_3:3
G_4:4

100,00
100,00
100,00
100,00

7
0
0
0

0
5
0
0

0
0
3
0

0
0
0
2

Total

100,00

Sumber : Hasil Analisis

Hasil analisis diskriminan di atas memperlihatkan bahwa ketepatan


pengelompokan berbagai kelompok menghasilkan ketepatan klasifikasi yang
berbeda. Ketepatan pengelompokan pada hasil analisis klaster dan WP mencapai

138

100%. Ini menunjukkan bahwa hasil pengelompokan wilayah Kabupaten Sambas


berdasarkan analisis klaster dan wilayah pengembangan (WP) yang disusun oleh
Bappeda Kabupaten Sambas menjadi empat klaster atau empat wilayah
pengembangan sudah tepat (100%), sesuai dengan tipologi wilayahnya masingmasing.
Tabel 42 Uji ketepatan hasil pengelompokan tipologi Klassen di wilayah
Kabupaten Sambas dengan analisis diskriminan
Kecamatan
Selakau
Pemangkat
Semparuk
Tebas
Tekarang
Sambas
Subah
Sebawi*)
Sajad
Jawai
Jawai Selatan*)
Teluk Keramat*)
Tangaran
Galing
Sejangkung
Sajingan Besar
Paloh

Hasil
Klasifikasi
T-Klassen
G_2:2
G_2:2
G_4:4
G_1:1
G_4:4
G_1:1
G_3:3
G_4:4
G_4:4
G_2:2
G_3:3
G_3:3
G_4:4
G_1:1
G_1:1
G_3:3
G_1:1

1
p=,29412

2
p=,17647

3
p=,23529

4
p=,29412

G_2:2
G_2:2
G_4:4
G_1:1
G_4:4
G_1:1
G_3:3
G_1:1
G_4:4
G_2:2
G_2:2
G_1:1
G_4:4
G_1:1
G_1:1
G_3:3
G_1:1

G_4:4
G_3:3
G_1:1
G_4:4
G_1:1
G_4:4
G_1:1
G_4:4
G_1:1
G_3:3
G_3:3
G_4:4
G_1:1
G_3:3
G_4:4
G_1:1
G_4:4

G_3:3
G_4:4
G_2:2
G_3:3
G_3:3
G_3:3
G_4:4
G_3:3
G_3:3
G_4:4
G_4:4
G_3:3
G_3:3
G_4:4
G_3:3
G_2:2
G_3:3

G_1:1
G_1:1
G_3:3
G_2:2
G_2:2
G_2:2
G_2:2
G_2:2
G_2:2
G_1:1
G_1:1
G_2:2
G_2:2
G_2:2
G_2:2
G_4:4
G_2:2

Sumber: Hasil analsis


)
Keterangan : * = Klasifikasi yang tidak tepat

Pada pengelompokan dengan analisis tipologi Klassen yang membagi


wilayah Kabupaten Sambas menjadi empat kelompok, ternyata ketepatannya hanya
mencapai 82,35%.

Kelompok daerah maju (G1) dan daerah maju tapi tertekan

(G2) terklasifikasi dengan tepat (100%), sedangkan pada kelompok daerah


berkembang (G3) dan daerah relatif terbelakang (G4), masing-masing hanya
terklasifikasi dengan ketepatan 50,00% dan 80,00% (Tabel 41). Dari 4 kecamatan
yang masuk kelompok daerah berkembang, ternyata hanya dua kecamatan yang
tepat, yaitu Kecamatan Subah dan Sajingan Besar, sedangkan Kecamatan Jawai
Selatan dan Teluk Keramat masing-masing seharusnya masuk pada kelompok
daerah maju tapi tertekan (G2) dan kelompok daerah maju (G1) seperti ditunjukkan
pada Tabel 42. Pada kelompok daerah relatif terbelakang (G5), dari lima kecamatan

139

yang ada, ternyata hanya satu kecamatan yang tidak tepat, yaitu Kecamatan Sebawi
yang seharusnya masuk pada kelompok daerah maju (G1). Ketidaktepatan dari
analisis tipologi Klassen tersebut

disebabkan pengelompokannya hanya

mempertimbangkan aspek rata-rata laju pertumbuhan dan PDRB per kapita saja
dan tidak mempertimbangkan aspek-aspek ketersediaan sarana dan prasarana serta
faktor kemiringan lereng dan luas hutan (biofisik wilayah).
Meskipun ketepatan pengelompokan wilayah Kabupaten Sambas menjadi
empat kelompok pada hasil analisis klaster dan WP mencapai 100%, akan tetapi
penciri utama dan anggota dari masing-masing kelompok berbeda. Berdasarkan
hasil analisis diskriminan terhadap kedua pengelompokan tersebut, diperoleh
koefisien fungsi klasifikasi seperti terlihat pada Tabel 43.
Tabel 43 Fungsi klasifikasi pengelompokan hasil analisis klaster (metode K
Mean) dan wilayah pengembangan (WP) pada analisis diskriminan
K-Mean

WP

Faktor
G1

G2

F1

0,5987

1,3788

G3

G4

-3,0664

8,6101

F2

-2,4066

5,5356

-2,5575

2,7688

F3

7,9094

-1,4184

-1,9015

F4

1,1225

G1

G2

G3

-0,6453

-0,2195

0,3001

2,3572

1,3775

-0,4456

-1,1354

-2,0040

-1,4213

-1,3841

1,4250

-0,2085

1,5944

-5,5055

5,6569

-2,4202

-4,0493

-7,6748

0,7722

2,7599

-3,7517

-9,1704

0,6834

-0,0048

F5

-4,3765

-2,4695

4,1738

-5,1911

-1,6309

0,7159

Konstanta

-10,6621

-5,9632

-3,6746

-15,1139

-4,0994

-2,2905

G4

Sumber: Hasil analisis

Dari Tabel 43 tersebut dapat ditulis persamaan fungsi diskriminan untuk


tiap-tiap Klaster adalah sebagai berikut:
Klaster I

= -10,6621 + 0,5987 F1 2,4066 F2 + 7,9094 F3 + 0,6834 F4 4,3765 F5

Klaster II = -5,9632 + 1,3788 F1 + 5,5356 F2 - 1,4184 F3 0,0048 F4 2,4695 F5


Klaster III = -3,6746 - 3,0664 F1 2,5575 F2 - 1,9015 F3 + 1,1225 F4 +
4,1738 F5
Klaster IV = -15,1139 + 8,6101 F1 + 2,7688 F2 - 1,4213 F3 5,5055 F4 5,1911 F5
Sedangkan persamaan fungsi diskriminan untuk tiap-tiap WP adalah sebagai
berikut:

140

WP I

= -4,0994 - 0,6453 F1 + 1,3775 F2 - 1,3841 F3 + 5,6569 F4 1,6309 F5

WP II

= -2,2905 - 0,2195 F1 - 0,4456 F2 + 1,4250 F3 2, 4202 F4 +


0,7159 F5

WP III = -3,7512 + 0,3001 F1 1,1354 F2 - 0,2085 F3 - 4,0493 F4 +


0,772 F5
WP IV = -9,1704 + 2,3572 F1 - 2,0040 F2 + 1,5944 F3 7,6748 F4 +
2,7599 F5
Dari persamaan tersebut, variabel dengan nilai koefisien terbesar merupakan
variabel yang mempunyai peranan terbesar dalam kelompok tersebut atau
merupakan penciri utamanya. Dengan demikian bahwa pada klaster 1 dicirikan
oleh faktor F3 atau tingkat pelayanan sosial (sekolah, puskesmas, rumah sakit,
dokter/tenaga kesehatan, tempat ibadah) yang tinggi dan faktor F5 (tingkat
pelayanan ekonomi/ketersediaan toko atau tempat perbelanjaan) yang rendah;
klaster 2 dicirikan dengan faktor F2 atau ketersediaan sarana perkotaan (listrik,
telepon, PAD kecamatan) yang tinggi; klaster 3 dicirikan oleh faktor F5 atau tingkat
pelayanan ekonomi (ketersediaan toko atau tempat perbelanjaan) yang tinggi dan
F1 (kemiringan lereng dan luas hutan) yang rendah; sedangkan klaster 4 dicirikan
oleh faktor F1 atau faktor kemiringan lereng dan luas hutan yang tinggi (lereng
bergelombang-berbukit, hutan masih sangat luas, jauh dari ibu kota kabupaten),
serta faktor F4 (aksesibilitas atau kerapatan jalan) dan faktor F5 (pelayanan
ekonomi) yang rendah. Hasil analisis ini memperkuat ciri utama tiap klaster dari
hasil analisis K-Mean klaster.
Pada wilayah pengembangan, WP I dicirikan oleh faktor F2 (sarana dan
penciri perkotaan) dan faktor F4 (aksesibilitas atau kerapatan jalan) yang tinggi
dan faktor F1 (kemiringan lereng dan luas hutan), F3 (pelayanan sosial) dan F5
(pelayanan ekonomi) yang rendah; WP 2 dicirikan oleh faktor F1 yang rendah dan
faktor F3 yang tinggi; WP 3 dicirikan oleh faktor F2 dan F4 yang rendah;
sedangkan WP 4 dicirikan oleh faktor F1, F3 dan F5 yang tinggi serta faktor F2
dan F4 yang rendah.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dalam menentukan tipologi
wilayah kecamatan di Kabupaten Sambas dengan ketiga metode tersebut (analisis

141

PCA, Klaster dan Diskriminan), diperoleh karakteristik tiap klaster seperti terlihat
pada Tabel 44, sedangkan secara spasial, keempat klaster tersebut ditunjukkan
pada Gambar 28.
Tabel 44

Karakteristik tipologi wilayah di Kabupaten Sambas


Tipologi Wilayah

Faktor
Utama

F1

Karakteritik Wilayah

Kawasan
Kawasan
Kawasan
Kawasan
Perdesaan
Perdesaan
Perkotaan
Perbatasan
Pedalaman
Pesisir
(Klaster 2)
(Klaster 4)
(Klaster 1)
(Klaster 3)

Jarak ke ibu kota Kabupaten Sambas

Sedang

Sedang

Rendah

Tinggi

Luas wilayah dengan kemiringan lereng < 8% (datar


landai)

Sedang

Sedang

Rendah

Tinggi

Luas wilayah dengan kemiringan lereng > 8%


(bergelombang, berbukit-curam)

Sedang

Sedang

Rendah

Tinggi

Luas tutupan hutan

Sedang

Sedang

Rendah

Tinggi

Rasio sarana pendidikan dasar dan menengah (TK, SD,


SLTP, SLTA/SMK) terhadap 1000 penduduk

Sedang

Sedang

Rendah

Tinggi

Jumlah sarana komunikasi, keluarga yang berlangganan


PLN, rasio jumlah murid terhadap 1000 penduduk

Rendah

Tinggi

Sedang

Sedang

Pendapatan asli kecamatan perkapita

Rendah

Tinggi

Sedang

Sedang

Jumlah keluarga petani

Rendah

Tinggi

Sedang

Sedang

F3

Rasio Tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan, dukun


bayi), rasio tempat kesehatan (pustu, puskesmas, rumah
sakit), rasio tempat ibadah terhadap 1000 penduduk

Tinggi

Sedang

Sedang

Rendah

F4

Aksesibilitas (kerapatan jalan), Jarak ke ibu kota kabupaten


lain, kepadatan penduduk

Sedang

Sedang

Sedang

Rendah

F5

Rasio sarana perekonomian (super market, swalayan,


pertokoan,warung)

Rendah

Sedang

Tinggi

Rendah

F2

Sumber: Hasil analisis

Gambar 28 Peta tipologi wilayah Kabupaten Sambas hasil analisis multivariat

142

Disparitas Pembangunan antar Wilayah di Kabupaten Sambas


Analisis disparitas pembangunan antar wilayah di Kabupaten Sambas
dilakukan dengan 2 metode, yaitu

metode indeks Williamson untuk melihat

tingkat disparitas antar wilayah secara keseluruhan dan indeks Theil untuk
mendekomposisi

disparitas

wilayah

menjadi

disparitas

dalam

wilayah

pengembangan (WP) dan antar wilayah dalam wilayah pengembangan (WP)


seperti yang dilakukan Fujita dan Hu (2001).
Tingkat Disparitas Pembangunan Antar Wilayah
Indeks Williamson merupakan salah satu indeks yang paling sering
digunakan untuk mengukur disparitas antar wilayah (Rustiadi et al. 2007; Susanti
et al. 2007) dan lebih sensitif terhadap perubahan ketimpangan serta lebih dapat
dipercaya (Portov dan Felsenstein 2005). Indeks Williamson akan menghasilkan
indeks yang lebih besar atau sama dengan nol. Jika dihasilkan nilai indeks sama
dengan nol, berarti tidak adanya disparitas perekonomian atau pembangunan antar
wilayah, sedangkan indeks lebih besar dari nol menunjukkan adanya disparitas
perekonomian atau pembangunan antar daerah.

Semakin besar indeks yang

dihasilkan semakin besar tingkat kesenjangan antar wilayah di suatu wilayah yang
lebih luas.
Analisis indeks Williamson dengan menggunakan data PDRB per kapita
dan jumlah penduduk tiap kecamatan di Kabupaten Sambas pada tahun 20002006 terlihat pada Lampiran 19 s.d 32, sedangkan hasil analisisnya seperti
ditunjukkan pada Gambar 29. Berdasarkan hasil analisis tersebut (Gambar 29)
dalam kurun waktu 2000-2002, tingkat disparitas di Kabupaten Sambas
mengalami penurunan yang ditunjukkan dengan indeks Williamson sebesar 0,464
pada tahun 2000 menjadi 0,391 pada tahun 2002. Namun setelah tahun 2002,
tingkat disparitasnya mengalami kecenderungan meningkat atau semakin melebar,
yaitu dari 0,391 pada tahun 2002 menjadi 0,532 pada tahun 2006. Bila dilihat
dalam wilayah pengembangan (WP) di Kabupaten Sambas dalam kurun waktu
yang sama, terlihat bahwa tingkat disparitas tertinggi terdapat pada WP II, diikuti
kemudian WP IV dan WP I, sedangkan tingkat disparitas terendah terdapat di WP
III. Hal ini sesuai dengan hasil analisis entropi, dimana dalam WP II memiliki

143

selisih indeks entropi antar kecamatan yang terbesar dibanding WP lainnya,


kemudian diikuti oleh WP IV, WP I dan yang terkecil adalah WP III. Hal ini
menunjukkan bahwa perbedaan perkembangan wilayah, terutama dari aspek
perkembangan keberagaman aktivitas sektor-sektor perekonomian sangat nyata
mempengaruhi tingkat disparitas.
0,600
0,550

Indeks Williamson

0,500
0,450
0,400
0,350

0,525

0,518

0,464 0,457
0,448
0,411 0,414

0,501

0,495

0,487

0,457

0,453

0,450

0,423 0,394
0,391

0,397
0,395

0,396

0,532
0,482

0,473
0,459
0,451
0,422
0,418
0,392

0,393

Kab.
Sambas
WP I
WP II
WP III

0,300
0,250

WP IV

0,200 0,160
0,150

0,158

0,156

0,154

0,160

0,166

2001

2002

2003
Tahun

2004

2005

0,182

0,100
2000

2006

Gambar 29 Perkembangan indeks Williamson pada wilayah pengembangan (WP)


dan Kabupaten Sambas tahun 2000-2006
Berbeda dengan wilayah pengembangan lainnya di Kabupaten Sambas,
walaupun memiliki tingkat disparitas yang terendah, pada WP III kecenderungan
tingkat disparitasnya semakin tinggi/melebar dari tahun ke tahun terutama setelah
tahun 2003, padahal pada tahun sebelumnya memiliki kecenderungan yang
menurun, meskipun relatif kecil. Dalam pengembangan (WP) I, WP II dan WP IV
pada kurun waktu yang sama seperti ditunjukkan Gambar 28, kecenderungan
tingkat disparitasnya semakin menurun. Pada tahun 2000 tingkat disparitas dalam
WP I, II dan IV masing-masing sebesar 0,411; 0,525 dan 0,464; turun menjadi
0,393; 0,475 dan 0,422 pada tahun 2006. Secara rinci, perkembangan tingkat
disparitas dalam wilayah pengembangan (WP) dan Kabupaten Sambas atas dasar
PDRB per kapita dari tahun 2000, 2003 dan 2006 ditunjukkan pada Tabel 45
(rincian dari tahun 2000-2006 terdapat pada lampiran 19-32).

144

Tabel 45 Indeks Williamson PDRB per kapita atas dasar harga konstan dalam
wilayah pembangunan (WP) di Kabupaten Sambas tahun 2000, 2003
dan 2006
2000
WP

II

III

IV

Kecamatan

2003

2006

PDRB
per kapita

Vw

PDRB
per kapita

Vw

PDRB
per kapita

Vw

Pemangkat

4.304,14

0,4113

4.678,97

0,3936

7.405,15

0,3929

Selakau

6.287,63

6.662,08

5.275,77

Semparuk

2.667,92

2.839,06

3.288,61

Tebas

3.979,59

4.470,46

4.950,95

Tekarang

2.131,58

2.337,64

2.577,76

Jawai

4.876,75

5.155,57

5.759,77

Jawai Selatan

1.807,28

Sambas

6.070,48

Subah

3.255,95

3.838,74

4.551,67

Sebawi

2.050,41

2.258,86

2.477,11

Sajad

1.656,80

1.843,81

2.058,17

Sejangkung

4.448,78

5.130,04

5.998,14

Teluk Keramat

2.994,28

Tangaran

2.484,26

2.806,59

2.963,43

Paloh

3.989,77

5.130,04

5.223,80

Galing

3.716,77

Sajingan Besar

1.359,16

Kabupaten Sambas

3.977,88

2.017,82
0,5245

0,1601

0,4645

6.499,38

3.357,00

4.592,57

2.243,07
0,4947

0,1542

0,4528

1.729,62
0,4482

4.570,11

7.058,53

3.749,35

4.965,95

0,4728

0,1816

0,4217

2.019,75
0,3953

4.912,12

0,4749

Sumber : Hasil analisis


Keterangan : Vw = Indeks Williamson

Selain PDRB per kapita, aspek aloksi dana pembangunan yang dapat
mempengaruhi disparitas pembangunan antar wilayah juga dianalisis dengan
indeks williamson. Karena terbatasnya ketersediaan data, maka dalam penelitian
ini hanya menggunakan data alokasi anggaran fisik yang bersumber pada APBD
Kabupaten Sambas dari tahun 2005-2006 untuk tiap kecamatan seperti
ditunjukkan pada Tabel 46.
Hasil analisis indeks Williamson terhadap alokasi anggaran fisik

pada

wilayah pengembangan dan Kabupaten Sambas terlihat Gambar 30. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa dalam kurun waktu dua tahun, yaitu tahun 2005-2006,
disparitas alokasi anggaran fisik pemerintah daerah kabupaten mengalami
penurunan dari 0,69 pada tahun 2005 menjadi 0,55 pada tahun 2006. Kecuali pada
wilayah pengembangan (WP) IV, penurunan indeks Williamson juga terjadi pada
semua WP. Pada WP I, II dan III di tahun 2005 masing-masing memiliki indeks
Williamson sebesar 0,40; 0,77; dan 0,27,sedangkan di tahun 2006 berturut-turut

145

turun menjadi 0,29; 0,62 dan 0,27. Sedangkan pada WP IV memiliki indeks
Willamson sebesar 0,34 di tahun 2005 naik menjadi 0,44 di tahun 2006.
Tabel 46 Alokasi anggaran fisik per kapita pada tiap kecamatan di Kabupaten
Sambas tahun 2005-2006
WP
I

II

III

IV

Kecamatan

Anggaran per kapita (rupiah)


2005

2006

Pemangkat

48.866

107.865

Selakau

59.586

212.087

Semparuk

111.859

180.081

Tebas

54.817

174.222

Tekarang

172.803

237.268

Jawai

73.208

308.685

Jawai Selatan

43.354

264.665

65.954

192.767

Sambas

330.097

635.163

Subah

151.268

253.051

Sebawi

98.858

190.023

Sajad

95.009

295.488

Sejangkung

94.958

283.396

200.360

410.236

Teluk Keramat*

57.917

129.918

Paloh

150.318

225.383

78.055

150.628

Galing

113.827

205.165

Sajingan Besar

230.864

521.877

151.390

306.809

101.055

234.956

Kabupaten Sambas

Sumber: Setda Kab.Sambas (2008) diolah


Keterangan: * = masih bergabung dengan Kec. Tangaran

Tingkat ketimpangan tertinggi seperti yang ditunjukkan Gambar 30 baik


pada tahun 2005 maupun 2006 terdapat di WP II, hal ini disebabkan dalam WP II
terdapat ibu kota kabupaten yang merupakan pusat pelayanan wilayah yang lebih
luas yaitu seluruh kabupaten, tentunya memerlukan biaya fisik yang besar pula,
sedangkan kecamatan lain dalam WP tersebut hanya merupakan pusat pelayanan
wilayah kecamatan itu sendiri. Dilihat dari alokasi anggaran pembangunan fisik
per kapita seperti ditunjukkan Tabel 46, tidak semua wilayah yang berkembang
mendapat alokasi anggaran fisik yang lebih besar dari wilayah lainnya.

Indeks Willamson

146

0,80000
0,70000
0,60000
0,50000
0,40000
0,30000
0,20000
0,10000
0,00000

0,77
0,69

0,62

0,55

0,44

0,40
0,29

0,27

0,44
0,34

2005

2006

Kab.
Sambas

WP I

WP II

WP III

WP IV

Gambar 30 Indeks Williamson alokasi anggaran fisik pada wilayah


pengembangan (WP) dan Kabupaten Sambas tahun 2005-2006
Pada WP III dan IV, Kecamatan Paloh dan Sajingan Besar yang merupakan
kawasan perbatasan dengan tingkat perkembangan wilayah yang rendah justru
mendapat alokasi yang lebih besar dari kecamatan lain dalam wilayah
pengembangannya. Walaupun besarnya alokasi anggaran fisik pada kawasan
perbatasan masih belum menunjukkan hasil yang nyata seperti ditunjukkan pada
hasil analisis skalogram tahun 2006, yang diduga akibat penggunaan anggaran
fisik tidak hanya digunakan untuk membangun prasarana baru, tetapi juga
digunakan untuk biaya pemeliharaan, sehingga penambahan jumlah maupun jenis
prasarana wilayahnya tidak nyata. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan
Pemerintah

Daerah

Kabupaten

Sambas

dalam

mengurangi

disparitas

pembangunan antar wilayah pada kurun waktu tersebut sudah dilakukan dengan
baik. Selain itu, besarnya alokasi anggaran fisik pada kawasan perbatasan, juga
terkait dengan upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas untuk memajukan
kawasan tersebut beberapa tahun ke depan menjadi kawasan indutri dan jasa yang
lebih dikenal dengan kawasan Palsa (Paloh dan Sajingan Besar), serta rencana
pembukaan pelayanan pos lintas batas antar negara di kecamatan tersebut.
Dekomposisi Sumber Disparitas Pembangunan
Untuk mendekomposisi sumber disparitas di Kabupaten Sambas menjadi
disparitas antar wilayah pengembangan (WP) dan antar wilayah dalam wilayah
pengembangan (WP) digunakan indeks Theil. Data yang digunakan adalah data
PDRB atas dasar harga konstan dan jumlah penduduk per kecamatan di

147

Kabupaten Sambas dari tahun 2000-2006. Analisis tersebut seperti terlihat pada
Lampiran 34 s.d 39, sedangkan hasilnya ditunjukkan pada Gambar 31.
0,030000

0,0285 0,0282
0,0258 0,0255 0,0251
0,0247 0,0250

0,025000

Indeks Theil

0,020000

0,0242 0,0240

0,0224 0,0223 0,0221 0,0218 0,0218

0,015000

Disparitas
antar WP

0,010000
0,005000

Total
Disparitas

0,0043 0,0042 0,0035


0,0032 0,0030 0,0029 0,0033

Disparitas
dalam WP

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

Tahun

Gambar 31 Dekomposisi disparitas di Kabupaten Sambas tahun 2000-2006


dengan menggunakan PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000
Deskomposisi sumber disparitas di Kabupaten Sambas menunjukkan bahwa
dalam kurun waktu 2000-2006, sumber utama disparitas berasal dari ketimpangan
antar wilayah dalam wilayah pengembangan atau antar kecamatan yang
menyumbang lebih dari 80% dari total ketimpangan di Kabupaten Sambas,
sedangkan disparitas antar wilayah pengembangan hanya menyumbang kurang
dari 20% (Gambar 32). Dilihat dari kecenderungannya seperti terlihat pada
Gambar 30, sumber disparitas tersebut relatif semakin meningkat. Pada tahun
2000 sumber disparitas yang berasal dari ketimpangan antar wilayah dalam
wilayah pengembangan sebesar 84,99%, terus meningkat menjadi 88,09% pada
tahun 2005 dan sedikit menurun menjadi 86,96% pada tahun 2006. Sebaliknya,
pada sumber

disparitas

yang

berasal dari ketimpangan antar

wilayah

pengembangan (WP), kontribusinya terhadap disparitas secara total cenderung


mengalami penurunan. Pada Pada tahun 2000 sumber disparitas yang berasal dari
ketimpangan antar wilayah pengembangan sebesar 15,01%, terus menurun menjadi
11,91% pada tahun 2005 dan sedikit naik menjadi 13,041% pada tahun 2006.

148

100,00

Sumber Ketimpangan (%)

90,00

84,99

85,12

86,62

87,58

87,87

88,09

86,96

80,00
70,00
60,00
50,00

Antar WP

40,00
30,00
20,00

Dalam WP
15,01

14,88

13,38

12,42

12,13

11,91

13,04

2000

2001

2002

2003 2004
Tahun

2005

2006

10,00
0,00

Gambar 32 Persentase sumber disparitas di Kabupaten Sambas tahun 2000-2006


dengan menggunakan PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000
Dengan demikian selama kurun waktu 2000-2006 sumber utama disparitas
di Kabupaten Sambas berasal dari ketimpangan antar wilayah dalam wilayah
pengembangan atau lebih tepatnya antar wilayah kecamatan.
0,050
0,045

0,0419
0,0392

Indeks Theil

0,040

0,0437

0,0444

0,0454

0,0467
Total
Disparita
s

0,0389

0,035

0,030
0,025
0,020
0,015

0,0212

0,0221

0,0222

0,0226

0,0223

0,0185

0,0187
0,0202

0,0207

0,0222

0,0228

0,0207

0,0216

0,0245

2000

2001

2002

2003
Tahun

2004

2005

2006

Disparita
s antar
WP
Disparita
s dalam
WP

0,010

Gambar 33 Dekomposisi disparitas di Kabupaten Sambas tahun 2000-2006


dengan menggunakan PDRB per kapita atas dasar harga konstan tahun
2000
Jika analisis indeks Theil tersebut menggunakan data PDRB per kapita
(Lampiran 40 s.d 46) seperti yang dilakukan oleh Akita dan Alisyahbana (2002)
dalam Sjafrizal (2008), maka diperoleh hasil seperti terlihat pada Gambar 33. Dari
Gambar 33 tersebut terlihat bahwa kencederungan tingkat disparitas secara
keseluruhan di Kabupaten Sambas dengan menggunakan data PDRB per kapita
atas dasar harga konstan menurun dari 0,0392 pada tahun 2000 menjadi 0,0389 di
tahun 2001, akan tetapi setelah itu terus meningkat hingga tahun 2006 menjadi

149

0,0467. Kecenderungan tersebut hampir sama dengan hasil analisis dengan


menggunakan metode Williamson. Hanya saja pada analisis Williamson,
penurunan diparitas yang terjadi hingga tahun 2002. Apabila hasil dekomposisi
indeks Theil tersebut (Gambar 33) dihitung dalam persen, maka besarnya
disparitas yang berasal dari ketimpangan antar wilayah pengembangan dan antar
wilayah dalam pengembangan seperti terlihat pada Gambar 34.
54,00
53,00

52,91

52,00

50,65

51,00
Persen (%)

52,37

52,01
50,47
50,08

50,25

50,00
49,00

48,00

47,99

49,35

49,53

49,92 49,75

47,09

Antar WP

47,63

47,00

Dalam WP

46,00
45,00
44,00
2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

Tahun

Gambar 34 Persentase sumber disparitas di Kabupaten Sambas tahun 2000-2006


dengan menggunakan PDRB per kapita atas dasar harga konstan tahun
2000
Gambar 34 menunjukkan bahwa kecenderungan tingkat disparitas wilayah
dalam wilayah pengembangan sama seperti kecenderungan tingkat disparitas
secara keseluruhan seperti yang dihasilkan pada analisis Williamson. Ini
menunjukkan bahwa sumber utama disparitas di Kabupaten Sambas lebih
dipengaruhi atau didominasi oleh disparitas pembangunan antar wilayah dalam
wilayah pengembangan, bukan dari ketimpangan antar wilayah pengembangan.
Dengan demikian, maka upaya-upaya pengurangan tingkat disparitas di
Kabupaten Sambas lebih di fokuskan pada pemerataan pembangunan di tingkat
kecamatan atau wilayah dalam wilayah pengembangan.
Selain dekomposisi disparitas dari aspek ekonomi (PDRB), dekomposisi
disparitas juga dapat dilakukan terhadap alokasi anggaran fisik di Kabupaten
Sambas pada dua titik tahun, yaitu tahun 2005 dan 2006. Hasil dekomposisi
disparitas tersebut terlihat pada Tabel 47.

150

Tabel 47

Dekomposisi disparitas alokasi anggaran fisik di Kabupaten Sambas


tahun 2005-2006

Tahun

Total
Disparitas

Disparitas
antar WP

Disparitas
dalam WP

Persen
Disparitas
antar WP

Persen
Disparitas
dalam
WP

2005

0,098755

0,051155

0,047601

51,80

48,20

2006

0,055697

0,026653

0,029044

47,85

52,15

Sumber: Hasil analisis

Hasil tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan sumber utama


disparitas pada alokasi anggaran fisik dari ketimpangan antar WP menjadi
ketimpangan dalam WP atau antar kecamatan. Hal ini terlihat dari bertambah
besarnya kontribusi ketimpangan alokasi anggaran dalam WP pada tahun 2006
yaitu sebesar 52,15% dari tahun sebelumnya sebesar 47,85%. Dilihat dari
kecenderungannya, disparitas alokasi anggaran fisik yang terjadi mengalami
penurunan.
Faktor-Faktor Penyebab Disparitas Pembangunan antar Wilayah
Untuk

mengetahui

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

disparitas

pembangunan antar wilayah di Kabupaten Sambas, maka dilakukan analisis


regresi berganda dengan variabel-variabel hasil dari analisis PCA (factor score),
baik terhadap tingkat perkembangan kecamatan (IPK), terhadap PDRB perkapita
maupun terhadap produktivitas lahan pada suatu wilayah. Karena data yang
digunakan hanya pada satu titik tahun, yaitu tahun 2006, maka data tingkat
perkembangan kecamatan (IPK), PDRB per kapita atas dasar harga konstan dan
produktivitas lahan/wilayah yang digunakan juga berasal dari data pada tahun
yang sama. Produktivitas lahan diperoleh dengan membagi PDRB suatu wilayah
(dalam jutaan rupiah) dengan luas wilayahnya (dalam hektar) seperti dijelaskan
oleh Syaifulhakim (2008a) yang merupakan salah satu variabel indikator kinerja
pembangunan ekonomi wilayah. Adapun data produktivitas wilayah kecamatan di
Kabupaten Sambas tahun 2006 terlihat pada Tabel 48.
Menurut Iriawan dan Astuti (2006), analisis regresi dalam berbagai
penelitian sangat berguna untuk mengukur kekuatan hubungan antara variabel
respons/penjelas (dependent) dengan variabel prediktor/penduga (independent),
mengetahui pengaruh suatu atau beberapa variabel prediktor terhadap variabel

151

respon dan memprediksi pengaruh suatu variabel atau beberapa variabel prediktor
terhadap variabel respon. Dengan demikian, dalam penelitian ini akan diketahui
kekuatan/keeratan hubungan antara IPK, PDRB per kapita dan produktivitas
wilayah dengan faktor utama hasil analisis PCA (factor score), pengaruh faktor
utama hasil analisis PCA (factor score) terhadap IPK, PDRB per kapita dan
produktivitas wilayah serta dapat memprediksi pengaruh utama hasil analisis PCA
(factor score) terhadap IPK, PDRB per kapita dan produktivitas wilayah.
Tabel 48 Produktivitas wilayah tiap kecamatan di Kabupaten Sambas tahun 2006
WP

Kecamatan

Pemangkat
Selakau
Semparuk
Tebas
Tekarang
Jawai
Jawai Selatan

II

Sambas
Subah
Sebawi
Sajad
Sejangkung

III

Teluk Keramat
Tangaran
Paloh

IV

Galing
Sajingan Besar
Kabupaten Sambas

PDRB
(juta rupiah)
451.595,760
195.108,640
72.632,220
306.037,850
29.793,780
216.924,360
43.560,460
1.315.653,070
294.665,220
76.185,900
36.695,870
20.017,770
112.573,070
540.137,830
234.671,590
58.592,880
119.191,420
412.455,890
78.879,160
15.162,270
94.041,430
2.362.288,220

Luas (ha)
19.375
29.250
9.015
39.564
8.316
19.399
9.351
134.270
24.666
64.455
16.145
9.494
29.126
143.886
55.443
18.667
114.884
188.994
33.300
139.120
172.420
639.570

PDRB/Luas
Wilayah
(jutaan
rupiah / ha)
23,308
6,670
8,057
7,735
3,583
11,182
4,658
9,799
11,946
1,182
2,273
2,108
3,865
3,754
4,233
3,139
1,037
2,182
2,369
0,109
0,545
3,694

Sumber: BPS Kab.Sambas (2007a, 2007c) diolah

Selain itu, analisis regresi berganda juga bertujuan untuk mengetahui model
persamaan yang menjelaskan hubungan antara IPK, PDRB perkapita ataupun
produktivitas wilayah sebagai variabel tujuan dengan faktor-faktor yang diduga
mempengaruhi tingkat perkembangan kecamatan (IPK), PDRB perkapita atau
produktivitas wilayah sebagai variabel penjelas. Variabel-variabel penduganya
(peubah bebas) adalah variabel-variabel hasil PCA (komponen utama), sebagai
berikut :
1. F1 yaitu faktor kemiringan lereng dan luas hutan atau biofisik wilayah
(persentase luas wilayah dengan kemiringan lereng 0-8%, 8-15%, 15-45%,

152

dan luas wilayah dengan kemiringan lereng lebih dari 45%, luas hutan dan
non-hutan), serta jarak kecamatan dengan ibu kota Kabupaten Sambas dan
rasio jumlah sarana pendidikan dasar dan menengah terhadap 1000
penduduk).
2. F2 yaitu faktor sarana dan penciri perkotaan (pendapatan asli kecamatan per
kapita, rasio sarana komunikasi, persentase keluarga yang berlangganan
telepon, rasio murid dan persentase keluarga petani).
3. F3 yaitu faktor pelayanan sosial (rasio tenaga kesehatan, rasio tempat
kesehatan, dan rasio tempat ibadah).
4. F4 yaitu faktor aksesibilitas (rasio panjang jalan terhadap luas wilayah atau
kerapatan jalan dan jarak ke ibu kota kabupaten lain serta kepadatan
penduduk).
5. F5 yaitu faktor pelayanan ekonomi (rasio toko atau tempat perbelanjaan).
Hasil analisis regresi berganda terhadap perkembangan wilayah (IPK),
PDRB per kapita maupun produktivitas wilayah dengan faktor-faktor tersebut di
atas ditunjukkan pada Tabel 49, sedangkan hasil analisisnya secara rinci
ditunjukkan pada Lampiran 47.
Tabel 49 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap IPK, PDRB per kapita dan
produktivitas wilayah
Peubah Tak Bebas (Y)
Peubah Bebas (F)
Faktor kemiringan lereng dan luas hutan (F1)
Faktor sarana dan penciri perkotaan (F2)

IPK

PDRB
Per Kapita

Produktivitas
Wilayah

-7,492*

0,061 ns

-0,485 ns

28,006**

1,003*

4,0339**

4,828

ns

Faktor aksesibilitas (F4)

1,730

ns

Faktor pelayanan ekonomi (F5)

2,975 ns

-0,002 ns

0,323 ns

75,145**

4,269**

5,733**

0,898

0,340

0,832

Faktor pelayanan sosial (F3)

Intercept
Koefisien determinasi (R)

-0,152

ns

-1,231 ns

0,081

ns

2,953**

Sumber : hasil analisis


Keterangan : Koefisien Regresi () : * = nyata pada 0,05; ** = nyata pada 0,01; ns = non signifikan

Seperti terlihat pada Tabel 49, bahwa hasil analisis regresi berganda
terhadap perkembangan wilayah (IPK) menunjukan bahwa dari 5 variabel
penduga (peubah bebas) hanya 2 variabel saja yang berpengaruh nyata terhadap
variabel tujuan (peubah tak bebas). Variabel tersebut adalah F1 yang nyata pada

153

tarap = 0,05 dan F2 yang nyata pada tarap = 0,01 (Tabel 49), sedangkan F3,
F4 dan F5 tidak berpengaruh nyata (non signifikan). Persamaan yang dihasilkan
dari analisis regresi berganda tersebut adalah sebagai berikut :
Y = 75,145 - 7,492 F1 + 28,006 F2 + 4,828 F3 + 1,730 F4 + 2,975 F5
Dimana : Y = indeks perkembangan kecamatan (IPK)
F1 = faktor kemiringan lereng dan luas hutan (biofisik wilayah)
F2 = faktor sarana dan penciri perkotaan
F3 = faktor pelayanan sosial
F4 = faktor aksesibilitas
F5 = faktor pelayanan ekonomi
Sedangkan nilai koefisien determinasi (R) dari persamaan tersebut adalah 0,898
yang berarti bahwa model persamaan tersebut mampu menjelaskan keragaman
data sebesar 89,8%.
Berdasarkan hasil analisis di atas maka faktor yang paling berpengaruh
terhadap indeks perkembangan kecamatan (IPK) adalah faktor sarana dan penciri
perkotaan (F2) dan kemiringan lereng dan luas hutan (F1). Besarnya pengaruh
faktor-faktor tersebut dapat dilihat dari besarnya koefisien regresi yang
dimilikinya dan arah dari nilai koefisien tersebut (positif atau negatif). Semakin
besar nilai koefisiennya, semakin besar pula pengaruh variabel tersebut sesuai
dengan arah nilainya, begitu juga sebaliknya. Variabel yang memiliki koefisien
bernilai positif (F2) menunjukkan bahwa peningkatan variabel tersebut akan dapat
meningkatkan IPK, sedangkan variabel yang memiliki koefisien bernilai negatif
akan mempengaruhi penurunan IPK. Pengaruh dari faktor tersebut terhadap
perkembangan wilayah kecamatan dapat dijelaskan sebagai berikut:
-

F2 yaitu faktor sarana dan penciri perkotaan (pendapatan asli kecamatan per
kapita, rasio sarana komunikasi, persentase keluarga yang berlangganan
telepon, rasio murid dan persentase keluarga petani serta kepadatan
penduduk). Variabel ini memiliki pengaruh yang searah (memiliki koefisien
positif) dengan peningkatan IPK, sehingga kecamatan yang memiliki
pendapatan asli per kapita yang tinggi, sarana komunikasi yang lengkap,
jumlah pelanggan telepon yang banyak, jumlah murid yang tinggi, jumlah
keluarga petani yang rendah dan memiliki penduduk yang cukup padat akan
mempunyai perkembangan wilayah yang tinggi. Dengan demikian kecamatan

154

yang memiliki sarana perkotaan yang tinggi akan memiliki tingkat


perkembangan wilayah yang tinggi pula. Oleh karenanya salah satu upaya
untuk mengurangi tingkat disparitas yang tinggi dari aspek ketersediaan sarana
dan prasarana wilayah/fasilitas sosial-ekonomi, diperlukan pembangunan
fasilitas tersebut pada wilayah-wilayah yang kurang berkembang.
-

F1 yaitu faktor kemiringan lereng dan luas hutan (persentase luas wilayah
dengan kemiringan lereng 0-8%, 8-15%, 15-45%, lebih dari 45% dan luas
hutan dan non-hutan), serta jarak kecamatan dengan ibu kota Kabupaten
Sambas dan rasio jumlah sarana pendidikan dasar dan menengah terhadap
1000 penduduk, penduduk cukup jarang). Variabel ini memiliki pengaruh
yang berlawanan arah (memiliki koefisien negatif) dengan peningkatan IPK,
sehingga

kecamatan

yang

memiliki kondisi

biofisik

wilayah

yang

bergelombang, berbukit sampai curam, memiliki hutan yang cukup luas, dan
jauh dari pusat pelayanan kabupaten serta rasio pelayanan pendidikan dasar
dan menengah tinggi, serta jumlah penduduk yang cukup jarang akan
mempunyai tingkat perkembangan wilayah yang rendah. Dengan demikian
wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pelayanan kabupaten dengan kondisi
wilayah berbukit sampai curam dan memiliki hutan yang cukup luas serta
kepadatan penduduk yang cukup jarang, akan memiliki tingkat perkembangan
wilayah yang rendah pula. Upaya untuk mengurangi tingkat disparitas pada
wilayah ini dilihat dari aspek ketersediaan sarana dan prasarana wilayah relatif
mengalami dilema. Seperti yang dijelaskan Kartasasmita (1996), bahwa
pembangunan sarana dan prasarana /fasilitas pada daerah-daerah yang kurang
padat atau terpencil dengan kondisi wilayah berbukit sampai curam untuk
mencapai penduduk dan memberikan pelayanan sosial dan ekonomi yang
sama seperti daerah berkembang memerlukan biaya yang sangat besar, disisi
lain anggaran pembangunan daerah yang tersedia sangat terbatas. Apabila
pembangunannya hanya didasarkan pada kelayakan ekonomi atau efisiensi,
maka pada wilayah tersebut akan sulit dibangun dan justru akan semakin
tertinggal dan disaparitas pembangunan antar semakin melebar. Oleh sebab
itu pembangunan sarana dan prasarana serta utilitas di daerah tersebut harus
dilandasi dengan keinginan politik yang kuat. Selain itu dari sudut pandang
manusiawi, untuk keadilan memang perlu perhatian dan biaya yang lebih

155

besar guna memberikan taraf dan kualitas pelayanan yang relatif sama,
terutama pada kebutuhan pelayanan dasar.
Pada hasil analisis regresi berganda terhadap PDRB perkapita (Tabel 49)
menunjukan bahwa dari 5 variabel penduga hanya 1 variabel

saja yang

berpengaruh nyata terhadap variabel tujuan pada tarap nyata sebesar = 0,05.
Variabel tersebut adalah F2 (faktor sarana dan penciri perkotaan), sedangkan
variabel lain (F1, F3, F4 dan F5) tidak memberikan pengaruh yang nyata.
Persamaan yang dihasilkan dari analisis regresi berganda tersebut adalah sebagai
berikut:
Y = 4,269 + 0,061 F1 + 1,003 F2 0,152 F3 + 0,081 F4 0,002 F5
Dimana : Y = PDRB perkapita.
Nilai R dari persamaan tersebut adalah 0,340 yang menunjukkan bahwa model
persamaan tersebut hanya mampu menjelaskan keragaman data sebesar 34,0%.
Berdasarkan hasil analisis di atas maka faktor yang berpengaruh terhadap
PDRB per kapita kecamatan adalah faktor sarana dan penciri perkotaan, namun
persamaan tersebut hanya mampu menjelaskan keragaman model sebesar 34,0%,
selebihnya (60% lebih) dijelaskan oleh faktor-faktor lain. Hal ini karena
penghitungan PDRB per kapita merupakan perhitungan faktor ekonomi untuk
mengukur tingkat perekonomian suatu wilayah sedangkan variabel-variabel yang
dianalisis merupakan semua variabel yang diduga mempengaruhi perkembangan
suatu wilayah didasarkan atas ketersediaan sarana dan prasarana wilayah serta
kedekatan atau jarak pelayanannya. Kondisi ini juga ditunjukkan oleh hasil
penentuan perkembangan wilayah dengan metode skalogram dan tipologi Klassen
yang berbeda. Pada hasil analisis perkembangan wilayah dengan metode tipologi
Klassen yang hanya didasarkan atas aspek ekonomi (rata-rata laju pertumbuhan
dan PDRB per kapita), wilayah kecamatan yang berkembang atau maju dari aspek
ekonomi, ternyata tidak diikuti dengan tingkat perkembangan atau hirarki yang
tinggi pada hasil analisis dengan metode skalogram. Sebagai contoh, untuk
Kecamatan Galing, Sejangkung dan Paloh yang merupakan wilayah maju
berdasarkan hasil analisis tipologi Klassen, ternyata merupakan hirarki III atau
wilayah dengan tingkat perkembangan rendah pada hasil analisis skalogram.
Dengan demikian indikator PDRB saja belum cukup menggambarkan tingkat
perkembangan suatu wilayah. Kondisi ini memperkuat hasil penelitian Mahmubah

156

(2008) yang menyebutkan bahwa tingginya indikator PDRB saja belum cukup
mewakili untuk mengukur tingginya tingkat perkembangan suatu wilayah.
Hasil analisis regresi berganda terhadap produktivitas wilayah (Tabel 49)
menunjukan bahwa dari 5 variabel penduga hanya 2 variabel yang berpengaruh
nyata terhadap variabel tujuan pada tarap nyata sebesar = 0,01.

Variabel

tersebut adalah F2 (faktor sarana dan penciri perkotaan) dan F4 (faktor


aksesibilitas), sedangkan faktor F1, F3 dan F5 tidak berpengaruh nyata.
Persamaan yang dihasilkan dari analisis regresi berganda tersebut adalah sebagai
berikut :
Y = 5,733 0,485 F1 + 4,034 F2 1,231 F3 + 2,9532 F4 + 0,323 F5
Dimana : Y = produktivitas lahan/wilayah.
Nilai R dari persamaan tersebut adalah 0,832 yang artinya bahwa model
persamaan tersebut hanya mampu menjelaskan keragaman data sebesar 83,2%.
Berdasarkan hasil analisis di atas maka faktor yang berpengaruh terhadap
produktivitas wilayah adalah faktor sarana dan penciri perkotaan (F2) dan
aksesibilitas (F4) yang memiliki koefisien positif atau searah dengan produktivitas
wilayah. Hal ini menggambarkan bahwa semakin banyak sarana perkotaan suatu
wilayah, semakin tinggi produktivitas wilayahnya, begitu pula jika suatu wilayah
memiliki aksesibilitas atau kerapatan jalan yang semakin tinggi, maka semakin
tinggi pula produktivitas wilayahnya. Hanya saja pengaruh jumlah sarana
perkotaan suatu wilayah lebih besar dari aksesibilitas atau kerapatan jalan suatu
wilayah terhadap produktivitas wilayah. Pengaruh dari faktor tersebut terhadap
produktivitas wilayah kecamatan dapat dijelaskan sebagai berikut:
-

F2 yaitu faktor sarana dan penciri perkotaan (pendapatan asli kecamatan per
kapita, rasio sarana komunikasi, persentase keluarga yang berlangganan
telepon, rasio murid dan persentase keluarga petani serta kepadatan
penduduk). Variabel ini memiliki pengaruh yang searah (memiliki koefisien
positif) dengan peningkatan produktivitas wilayah, sehingga kecamatan yang
memiliki pendapatan asli per kapita yang tinggi, sarana komunikasi yang
lengkap, jumlah pelanggan telepon yang banyak, jumlah keluarga petani yang
rendah dan memiliki penduduk yang cukup padat akan mempunyai
produktivitas wilayah yang tinggi. Dengan demikian kecamatan yang
memiliki sarana perkotaan yang tinggi akan memiliki tingkat produktivitas

157

wilayah yang tinggi pula. Oleh karenanya salah satu upaya untuk
meningkatkan prodiktivitas wilayah dari aspek ketersediaan sarana dan
prasarana wilayah/fasilitas sosial-ekonomi, diperlukan upaya pembangunan
fasilitas tersebut pada wilayah-wilayah yang memiliki produktivitas wilayah
yang lebih rendah.
-

F4 yaitu faktor aksesibilitas (rasio panjang jalan terhadap luas wilayah atau
kerapatan jalan dan jarak ke ibu kota kabupaten lain serta kepadatan penduduk
yang relatif tinggi). Variabel ini memiliki pengaruh yang sama seperti pada
variabel F2, hanya saja pengaruhnya lebih kecil bila dibandingkan dengan
pengaruh F2 terhadap peningkatan produktivitas wilayah. Kecamatan yang
memiliki rasio panjang jalan terhadap luas wilayahnya atau kerapatan jalan
tinggi, dekat dengan ibu kota kabupaten lain atau ibu kota Kabupaten Sambas
dan memiliki kepadatan penduduk yang relatif tinggi, akan mempunyai
tingkat produktivitas wilayah yang tinggi pula. Dengan demikian kecamatan
yang memiliki aksesibilitas atau kerapatan jalan yang tinggi serta memiliki
jumlah penduduk yang relatif padat dapat meningkatkan produktivitas suatu
wilayah. Seperti ditunjukkan pada Tabel 48, bahwa wilayah-wilayah yang
memiliki produktivitas tinggi, relatif mempunyai tingkat perkembangan
wilayah yang tinggi pula. Oleh karena produktivitas suatu wilayah juga
mempengaruhi perkembangan suatu wilayah, maka peningkatan aksesibilitas
pada wilayah-wilayah yang kurang berkembang akan dapat mengurangi
disparitas pembangunan antar wilayah. Hanya saja peningkatan aksesibilitas
yang umum melalui pembangunan jalan memerlukan biaya yang relatif besar,
sedangkan kesediaan dana pemerintah sangat terbatas (Sadyohutomo 2008).
Sintesis dan Alternatif Upaya Pengurangan Tingkat Disparitas
Pembangunan antar Wilayah
Disparitas pembangunan antar wilayah walaupun merupakan fenomena

universal yang terjadi dalam suatu daerah, pada tingkat yang lebih tinggi dapat
berimplikasi terhadap masalah-masalah sosial, ekonomi, politik dan bahkan
memicu terjadinya disintegrasi bangsa. Oleh karenanya upaya mengurangi tingkat
disparitas pembangunan antar wilayah merupakan salah satu aspek penting dalam
kebijakan pembangunan daerah guna mewujudkan pemerataan pembangunan dan

158

hasil-hasilnya. Menurut Hadi (2001), Pemerataan pembangunan (equity) bukan


berarti identik dengan persamaan pembangunan (equality), tetapi lebih ke arah
adanya keseimbangan yang proporsional antara kemajuan satu wilayah dengan
wilayah lainnya, sesuai dengan potensi dan kondisi wilayah masing-masing.
Berdasarkan hasil analisis perkembangan wilayah yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa dari aspek ketersediaan sarana dan prasarana wilayah,
perkembangan wilayah di sebagian besar wilayah kecamatan di Kabupaten
Sambas masih dalam taraf perkembangan yang rendah dan memiliki
kecenderungan yang relatif meningkat terutama dari tahun 2003 ke tahun 2006,
sedangkan wilayah maju hanya satu kecamatan saja, yaitu Kecamatan Sambas. Ini
menunjukkan bahwa telah terjadi pemusatan sarana dan prasarana serta fasilitas
pelayanan umum pada Kecamatan Sambas, dengan nilai IPK yang sangat
mencolok perbedaannya dengan IPK kecamatan-kecamatan lainnya. Kondisi ini
juga menggambarkan bahwa hasil-hasil pembangunan berupa sarana prasarana
dan fasilitas pelayanan umum yang dibangun masih belum merata dinikmati
seluruh masyarakat Kabupaten Sambas, meskipun upaya pemerataan telah
dilakukan seperti ditunjukkan pada perkembangan IPK. Hal tersebut dikarenakan
sejak pemekaran wilayah di Kabupaten Sambas menjadi 2 kabupaten dan 1 kota
pada pertengahan tahun 1999, ibu kota kabupaten yang semula berada di Kota
Singkawang pindah ke Kecamatan Sambas. Sehingga Kecamatan Sambas yang
semula merupakan pusat pelayanan kecamatan, mengalami perubahan fungsi
pelayanan yang lebih luas, yaitu sebagai ibu kota kabupaten yang melayani
seluruh wilayah yang ada di Kabupaten Sambas. Dengan demikian, diperlukan
sarana dan prasarana yang lebih banyak di Kecamatan Sambas. Karena
terbatasnya dana pembangunan, maka pembangunan sarana dan prasarna terpusat
pada ibu kota kabupaten yang memerlukan pusat pelayanan yang lebih tinggi,
sehingga terjadi pemusatan sarana dan prasarana selama kurun waktu tersebut.
Selain itu, selama kurun waktu tahun 2000-2006, sebagian besar (64,71%)
wilayah-wilayah kecamatan di Kabupaten Sambas memiliki struktur hirarki yang
relatif tidak berubah, dimana IPK tertinggi tetap dimiliki Kecamatan Sambas, IPK
terendah dimiliki Kecamatan Sajad. Hal ini mengindikasikan bahwa belum ada
perubahan nyata pada kebijakan pengembangan wilayah dalam menyikapi kondisi

159

dan permasalahan yang dihadapi masing-masing wilayah, sehingga pembangunan


yang dilaksanakan dilakukan relatif sama antar wilayah kecamatan dari tahun ke
tahun.
Dilihat dari aspek laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita
kecamatan, menunjukkan bahwa tidak semua kecamatan-kecamatan yang memiliki
tingkat perkembangan wilayah yang tinggi (daerah maju) atau daerah berkembang
diikuti dengan tingkat ketersediaan sarana dan prasarana serta aksesibilitas wilayah
yang tinggi. Begitu pula pada daerah yang relatif terbelakang dari aspek ekonomi
juga belum tentu memiliki tingkat ketersediaan sarana dan prasarana serta
aksesibilitas yang kurang memadai (Gambar 35). Hal ini dikarenakan, sebagian
wilayah yang maju atau berkembang dari aspek ekonomi memiliki sektor unggulan
dibidang

pertanian,

terutama

subsektor

perkebunan.

Pada daerah-daerah

perkebunan tersebut biasanya ketersediaan sarana dan prasarana wilayahnya relatif


kurang memadai, selain jauh dari pusat kota, daerah ini juga memiliki kepadatan
penduduk yang relatif rendah, namun memiliki produktivitas lahan yang relatif
tinggi. Oleh sebab itu dalam meningkatkan perkembangan wilayah di perdesaan
baik di pesisir maupun di pedalaman termasuk kawasan perbatasan, pemerataan
dan peningkatan sarana dan prasarana wilayah perdesaan menjadi sangat penting.
Perkembangan wilayah dari Aspek Ketersediaan Sarana dan Prasarana Wilayah
(Skalogram)
Tinggi
(Hirarki I)

Rendah
(Hirarki III)

Sambas
(0,829)

Tebas (0,644)

Paloh (0,561)
Galing (0,304)
Sejangkung (0,589)

Daerah Maju
Tapi Tertekan

Pemangkat (0,698)

Selakau (0,500)
Jawai (0,521)

Daerah
Berkembang

Jawai Selatan (0,710)

Teluk Keramat (0,631)


Sajingan Besar (0,609)
Subah (0,504)

Semparuk (0,542)

Tangaran (0,528)
Sajad (0,624)
Sebawi (0,696)
Tekarang (0,636)

Daerah Maju

Perkembangan
Wilayah dari
Aspek Ekonomi
(Tipologi
Klassen)

Sedang
(Hirarki II)

Daerah Relatif
Terbelakang

Keterangan: angka di dalam kurung menunjukkan Indeks Entropi sektor perekonomian

Gambar 35 Tingkat perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Sambas


berdasarkan hasil analisis skalogram, indeks entropi dan tipologi
Klassen

160

Pada wilayah-wilayah kecamatan yang baru dimekarkan, seperti Kecamatan


Subah dan Galing yang dibentuk pada tahun 2001, Kecamatan Tekarang pada
tahun 2002, Kecamatan Semparuk pada tahun 2003, Kecamatan Sajad, Sebawi dan
Jawai Selatan pada tahun 2004 serta Kecamatan Tangaran pada tahun 2006,
menunjukkan bahwa tidak semua kecamatan pemekaran baru tersebut memiliki
tingkat perkembangan wilayah yang rendah. Dari aspek ketersediaan sarana dan
prasarana wilayah serta aksesibilitas, Kecamatan Semparuk dan Jawai Selatan
merupakan wilayah yang cukup berkembang (memiliki hirarki II). Selanjutnya dari
aspek ekonomi, Kecamatan Galing merupakan daerah yang maju, sedangkan
Kecamatan Subah dan Jawai Selatan merupakan daerah berkembang. Dengan
demikian dari 8 kecamatan hasil pemekaran, hanya 4 kecamatan saja yang benarbenar memiliki tingkat perkembangan yang rendah, baik dari aspek ketersediaan
sarana dan prasarana wilayah (hirarki III), maupun dari aspek ekonomi (daerah
relatif terbelakang) yaitu Kecamatan Tekarang, Sebawi, Sajad dan Tangaran. Oleh
karenanya dalam upaya mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah,
keempat kecamatan tersebut perlu mendapat perhatian serius atau menjadi prioritas
pembangunan baik dari aspek sarana dan prasarana wilayah maupun dari aspek
ekonomi. Selain itu, karena keempat kecamatan tersebut memiliki sektor unggulan
(sektor

yang

memiiliki

keunggulan

komparatif

dan

kompetitif),

maka

pengembangan dan peningkatan sektor tersebut juga sebaiknya dilakukan agar


dapat menggerakkan roda perekonomian di wilayah kecamatan tersebut.
Selama kurun waktu tahun

2000-2006,

secara umum komposisi

perkembangan sektor-sektor perekonomian di Kabupaten Sambas relatif cukup


berkembang, namun perkembangan tersebut tidak merata pada wilayah
pengembangan (WP). Pada WP I dan II sektor-sektor perekonomiannya relatif
cukup berkembang dan beragam, sedangkan pada WP III dan IV sektor-sektor
yang berkembang relatif sedikit atau aktivitas ekonominya lebih memusat.
Sektor-sektor

perekonomian

di

Kabupaten

Sambas

yang

dapat

dikembangkan menjadi sektor unggulan antara lain adalah sektor angkutan; dan
listrik, gas dan air bersih yang dapat dikembangkan pada wilayah pengembangan
(WP) I, sektor pertambangan; listrik, gas dan air bersih; dan angkutan dapat
dikembangkan di WP II, sedangkan sektor pertanian dapat dikembangkan pada

161

WP III dan IV. Sektor-sektor yang berpotensi untuk dikembangkan tersebut


memiliki keungulan kompetitif dan komparatif yang relatif lebih tinggi dari
sektor-sektor lainnya di Kabupaten Sambas. Dengan pengembangan sektor-sektor
unggulan tersebut diharapkan dapat memacu pertumbuhan wilayah tersebut,
sehingga perkembangan wilayahnya dapat meningkat.
Adanya perbedaan kondisi sosial, ekonomi, demografi, sarana dan prasarana
serta biofisik wilayah pada suatu daerah, menyebabkan terjadinya perbedaan
perlakuan kebijakan pembangunan wilayah tersebut sesuai dengan karakterisitk
wilayahnya masing-masing. Oleh karenanya, untuk membantu manajemen
kebijakan pembangunan yang diterapkan agar sesuai dengan karakteristik
wilayahnya, maka diperlukan pengelompokan wilayah-wilayah yang memiliki ciri
dan karakterisitik yang mirip. Dengan mengetahui karakteristik atau tipologi
wilayah tersebut, maka penerapan kebijakan pembangunannyapun akan berbedabeda sesuai dengan karakteristik wilayahnya masing-masing, terutama dalam
rangka mengurangi tingkat disparitas pembangunan antar wilayah tersebut, karena
perbedaan yang nyata dalam karakteristik tersebut dapat menjadi penyebab
timbulnya disparitas antar wilayah. Berdasarkan hasil tipologi wilayah di
Kabupaten Sambas diperoleh empat klaster atau tipologi wilayah dengan
karakteristik sebagai berikut:
-

Klaster 1 (kawasan perdesaan pedalaman) dengan karakterisitik utama tingkat


pelayanan sosial yang tinggi, sedangkan tingkat pelayanan ekonominya
rendah. Kecamatan yang termasuk dalam klaster ini memiliki ketersediaan
tenaga kesehatan (dokter, bidan, dukun bayi), tempat kesehatan (rumah sakit,
poliklinik, puskesmas, polindes), dan tempat ibadah (mesjid, surau, geraja,
pura,vihara) yang tinggi, serta memiliki ketersediaan tempat penjualan obat
(apotik, toko obat), sarana pendidikan dan aksesibilitas yang cukup memadai,
sedangkan ketersediaan toko atau tempat perbelanjaannya rendah. Kecamatan
yang termasuk klaster ini adalah Kecamatan Tekarang, Subah dan
Sejangkung. Dari hasil analisis skalogram, ketiga kecamatan tersebut
termasuk dalam hirarki III (tingkat perkembangan wilayah yang rendah),
sedangkan sektor

unggulannya

berbeda-beda,

yaitu sektor

angkutan

(Tekarang), pertanian (Subah dan Sejangkung) dan industri (Sejangkung).

162

Berdasarkan karakteristik tersebut, maka pengembangan pada klaster 1 atau


tipologi kawasan perdesaan pedalaman dalam rangka mengurangi tingkat
disparitas adalah meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana wilayah
perdesaan, pengembangan sektor unggulan, serta peningkatan pelayanan
ekonomi perdesaan.
-

Klaster 2 (kawasan perkotaan) dengan karakterisitik utama memiliki sarana


perkotaan yang tinggi. Klaster ini dicirikan dengan pendapatan asli kecamatan
per kapita, ketersediaan sarana komunikasi (telepon, wartel, kiospon, kantor
pos), anak usia sekolah yang tinggi dengan kepadatan penduduk dan kerapatan
jalan (aksesibilitas) cukup tinggi, ketersediaan listrik dan lembaga keuangan
yang memadai, serta jumlah keluarga pertanian yang sangat rendah, wilayah
yang relatif datar (kemiringan lereng 0-8%) dan luas hutan yang cukup sedikit.
Kecamatan yang termasuk klaster ini adalah Kecamatan Pemangkat,
Semparuk, Tebas dan Sambas. Berdasarkan hasil analisis skalogram,
kecamatan pada klaster dua ini termasuk dalam tingkat hirarki I (daerah maju,
yaitu Kecamatan Sambas) dan II (wilayah dengan perkembangan sedang,
yaitu Kecamatan Pemangkat, Tebas dan Semparuk). Namun berdasarkan
analisis tipologi Klassen, Kecamatan Semparuk termasuk daerah yang relatif
terbelakang dari aspek ekonomi. Dengan demikian, pengembangan wilayah
pada klaster ini lebih difokuskan di Kecamatan Semparuk, terutama dari aspek
ekonomi, dengan tetap mempertahankan dan meningkatkan perkembangan
wilayah lainnya pada klaster ini.

Klaster 3 (kawasan perdesaan pesisir) dengan karakterisitik utama dicirikan


dengan pelayanan ekonomi (rasio pertokoan terhadap jumlah penduduk) yang
tinggi,

sedangkan

sarana

perkotaan,

tingkat

pelayanan

sosial

dan

aksesibilitasnya cukup memadai (sedang) serta tingkat pelayanan pendidikan


dasar dan menengah yang rendah. Kecamatan yang termasuk klaster ini adalah
Kecamatan Selakau, Sebawi, Sajad, Jawai, Jawai Selatan, Teluk Keramat,
Tangaran dan Galing. Berdasarkan analisis skalogram, sebagian besar wilayah
pada klaster ini (kecuali Kecamatan Teluk Keramat dan Jawai Selatan)
memiliki hirarki III (wilayah dengan perkembangan yang rendah). Sedangkan
dari aspek ekonomi, tiga kecamatan yaitu Kecamatan Tangaran, Sajad dan

163

Sebawi termasuk wilayah yang relatif terbelakang. Walaupun wilayah pada


klaster ini memiliki sektor unggulan yang relatif beragam, namun pertanian
merupakan sektor unggulan yang banyak dijumpai pada klaster ini. Dengan
karakteristik tersebut, maka pengembangan wilayah dalam rangka mengurangi
tingkat disparitas pada klaster 3 (kawasan perdesaan pesisir) dilakukan dengan
meningkatkan pelayanan pendidikan sekolah dasar dan menengah melalui
pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, peningkatan sarana dan
prasarana wilayah atau fasilitas umum lainnya baik jumlah maupun jenisnya
terutama pada kecamatan hirarki III serta peningkatan sarana prasarana di
sektor pertanian. Selain itu, pada wilayah dengan tingkat perekonomian yang
rendah sebaiknya lebih mengembangkan sektor unggulan yang dimilikinya.
-

Klaster 4 (kawasan perbatasan) dengan karakterisitik utama dicirikan oleh


faktor kemiringan lereng dan luas hutan yang tinggi, sedangkan faktor
pelayanan sosial, pelayanan ekonomi dan aksesibilitasnya (tingkat kerapatan
jalan) rendah. Wilayah pada klaster ini memiliki kemiringan lereng lebih besar
dari 8% yang tinggi atau memiliki topografi wilayah yang bergelombang atau
berbukit sampai curam yang luas, memiliki hutan yang luas, agak terpencil
atau sangat jauh dari ibu kota Kabupaten Sambas, kepadatan penduduk dan
sarana perkotaan yang agak rendah, tetapi tingkat ketersediaan sarana
pendidikan dasar dan menengahnya tinggi. Selain itu wilayah pada klaster ini
juga memiliki rasio tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan, dukun bayi),
rasio tempat kesehatan (pustu, puskesmas, rumah sakit), rasio tempat ibadah,
dan rasio sarana perekonomian (super market, swalayan, pertokoan,warung)
yang rendah. Kecamatan yang termasuk pada klaster ini adalah Kecamatan
Paloh dan Sajingan Besar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga
Malaysia. Pada hasil analisis skalogram, kedua kecamatan ini memiliki tingkat
hirarki yang rendah (III), namun dari aspek ekonomi memiliki tingkat
perkembangan yang baik, yaitu Kecamatan Paloh termasuk daerah maju dan
Kecamatan Sajingan Besar termasuk daerah berkembang. Oleh karenanya,
pembangunan sarana dan prasarana wilayah (termasuk sarana dan prasarana
sektor pertanian) dan peningkatan aksesibilitas kawasan menjadi sangat
penting dalam mempercepat perkembangan kawasan perbatasan guna

164

mengurangi disparitas pembangunan. Selain itu, pengembangan sektor


pertanian yang menjadi sektor unggulan pada kedua kecamatan tersebut dapat
lebih ditingkatkan untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dan
perkembangan kedua wilayah tersebut. Selain itu peningkatan pembangunan
sarana dan prasarana sosial dan ekonomi di klaster ini juga merupakan prioritas
utama dalam mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah. Mengingat
karakteristik kawasan perbatasan yang memiliki kepadatan penduduk dan
tingkat hirarki wilayah yang rendah, namun memiliki nilai strategis yang
tinggi, serta kemampuan pemerintah daerah yang terbatas, maka pembangunan
sarana dan prasarana wilayah termasuk pembangunan jalan di kawasan tersebut
akan memerlukan biaya yang sangat besar. Oleh sebab itu peranan pemerintah
pusat dalam membangun kawasan perbatasan juga sangat diharapkan.
Analisis disparitas antar wilayah dengan metode indeks Williamson
menggunakan data PDRB per kapita di Kabupaten Sambas dari tahun 2000-2006
menghasilkan kecenderungan yang turun dari 0,448 pada tahun 2000 menjadi
0,391 pada tahun 2003, kemudian meningkat menjadi 0,475 pada tahun 2006.
Kecenderungan tersebut sama dengan perubahan pada jumlah desa hirarki III di
Kabupaten Sambas, dimana pada tahun 2000 jumlah desa hirarki III sebesar
68,36% turun menjadi 67,03% di tahun 2003 dan kemudian naik menjadi 69,02%
pada tahun 2006. Sedangkan pada tingkat kecamatan, kecenderungan tersebut
sama setelah tahun 2003, yaitu meningkat dari 64,71% menjadi 70,59% pada
tahun 2006. Ini menunjukkan adanya dugaan bahwa bertambahnya desa-desa atau
kecamatan yang maju dan berkurangnya desa-desa atau kecamatan yang kurang
berkembang akan dapat mengurangi tingkat disparitas pembangunan antar
wilayah, karena berkurangnya desa atau kecamatan berhirarki III (kurang
berkembang) berarti meningkatknya desa atau kecamatan berhirarki yang lebih
tinggi (hirarki II/berkembang atau hirarki I/maju), begitu pula sebaliknya. Oleh
karenanya peningkatan pembangunan sarana dan prasarana wilayah pada desadesa atau kecamatan yang kurang berkembang akan dapat mengurangi disparitas
pembangunan antar wilayah.
Bila disparitas tersebut didekomposisi menjadi disparitas antar wilayah
pengembangan dan antar wilayah dalam wilayah pengembangan dengan indeks

165

Theil, maka diperoleh hasil bahwa lebih dari 80 persen disparitas antar wilayah
berasal dari ketimpangan antar wilayah dalam wilayah pengembangan, sedangkan
selebihnya berasal dari ketimpangan antar wilayah pengembangan. Gambaran
tersebut diperkuat dengan hasil analisis dengan indeks Theil menggunakan PDRB
per kapita, dimana tingkat disparitas secara keseluruhan (hasil analisis
williamson) sangat dipengaruhi oleh tingkat disparitas antar wilayah dalam
wilayah pengembangan atau antar kecamatan yang ditunjukkan oleh kenaikan
atau penurunan (kecenderungan) pada ketimpangan dalam wilayah pengembangan
juga diikuti oleh kenaikan atau penurunan ketimpangan secara keseluruhan. Hal
ini terlihat dari berbagai hasil analisis yang juga menunjukkan bahwa hampir
semua pusat pengembangan dalam wilayah pengembangan (kecuali WP IV),
memiliki tingkat perkembangan wilayah yang relatif jauh lebih tinggi dari subpusat wilayah pengembangannya (hinterland-nya), baik dari aspek jumlah desa
hirarki I, ketersediaan sarana dan prasarana wilayah, maupun dari aspek ekonomi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ada dugaan antara pusat pengembangan dengan
sub pusat pengembangannya memiliki keterkaitan yang lemah. Dengan demikian
fokus utama pengurangan disparitas pembangunan antar wilayah di Kabupaten
Sambas sebaiknya ditujukan pada peningkatan perkembangan wilayah-wilayah
kecamatan dalam wilayah pengembangan, terutama terhadap faktor-faktor yang
mempengaruhi

besarnya

tingkat

disparitas

tersebut

serta

memperkuat

keterkaitannya.
Hasil analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
wilayah kecamatan (IPK) menunjukkan bahwa faktor sarana dan penciri
perkotaan dan faktor biofisik wilayah memiliki pengaruh yang nyata terhadap
perkembangan wilayah kecamatan. Faktor sarana dan penciri perkotaan memiliki
pengaruh yang besar dan searah (memiliki koefisien positif)

dengan

perkembangan suatu wilayah kecamatan, sedangkan faktor biofisik wilayah


memiliki pengaruh yang berlawanan arah (negatif) dengan perkembangan wilayah
kecamatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa strategi pengembangan wilayah yang
diterapkan dalam membangun sarana dan prasarana wilayah/perkotaan lebih
didasarkan pada besaran jumlah penduduk dan kondisi biofisik fisik wilayah serta
keuntungan ekonomi. Sehingga wilayah-wilayah yang memiliki hutan yang luas

166

dengan topografi yang bergelombang sampai curam serta memiliki kepadatan


penduduk rendah relatif kurang berkembang. Oleh karena itu untuk mengurangi
disparitas pembangunan pada wilayah tersebut diperlukan kemauan politik yang
kuat untuk membangun atau mengembangkan wilayah tersebut. Selain itu, strategi
pengembangan wilayah juga sebaiknya harus memperhitungkan aspek posisi
strategis kawasan, mengingat wilayah yang memiliki kodisi seperti tersebut
umumnya berada di kawasan perbatasan antar negara. Dengan adanya
pembangunan sarana dan prasarana wilayah/perkotaan maka perkembangan
wilayah pada kawasan tersebut diharapkan dapat meningkat sehingga tingkat
disparitas yang terjadi menjadi berkurang.
Selain itu, pada analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap PDRB per
kapita menunjukkan bahwa faktor sarana dan penciri perkotaan juga berpengaruh
nyata terhadap peningkatan PDRB per kapita, hanya saja tingkat keragaman yang
dapat dijelaskannya relatif kecil, yaitu 34,0%. Sedangkan pada analisis faktorfaktor yang berpengaruh terhadap produktivitas lahan/wilayah, menunjukkan
bahwa faktor sarana dan penciri perkotaan dan aksesibilitas berpengaruh nyata
terhadap

peningkatan produktivitas

suatu

wilayah.

Karena

peningkatan

produktivitas wilayah juga dapat meningkatkan perkembangan suatu wilayah,


maka peningkatan sarana perkotaan dan aksesibilitas di wilayah-wilayah kurang
berkembang akan dapat mengurangi tingkat disparitas pembangunan antar
wilayah. Dengan demikian bahwa peranan pembangunan fasilitas perkotaan dan
peningkatan aksesibilitas pada suatu wilayah sangat penting dalam meningkatkan
perkembangan wilayah tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan arahan alternatif upaya-upaya
pengurangan tingkat disparitas pembangunan antar wilayah secara umum di
Kabupaten Sambas sebagai berikut:
1. Pemerataan pembangunan sarana dan prasarana perkotaan pada setiap wilayah
kecamatan di Kabupaten Sambas melalui peningkatan pembangunan sarana
dan prasarana perkotaan serta prasarana sosial dan ekonomi khususnya pada
kawasan perbatasan dan kawasan perdesaan.

167

2. Pemerataan dan peningkatan pembangunan sarana perhubungan/jalan untuk


lebih meningkatkan aksesibilitas dan keterkaitan antar wilayah satu dengan
wilayah lainnya, terutama sekali pada kawasan perbatasan dan perdesaan.
3. Mengembangkan sektor-sektor perekonomian yang dapat dikembangkan
menjadi sektor unggulan pada masing-masing wilayah pengembangan, yaitu
sektor angkutan dan sektor listrik, gas dan air bersih yang dapat
dikembangkan pada wilayah pengembangan (WP) I, sektor pertambangan;
listrik, gas dan air bersih, dan; angkutan di WP II, serta sektor pertanian di WP
III dan IV.
4. Adanya indikasi ketimpangan antara kawasan perkotaan dan perdesaan, maka
untuk mengurangi tingkat ketimpangan tersebut dilakukan dengan upaya
kebijakan-kebijakan pengembangan industri perdesaan berbasis bahan baku
lokal (sektor unggulan), meningkatkan keterkaitan antar sektor dan antar
wilayah yang sinergis serta menumbuhkan kota-kota kecil di kawasan
perdesaan. Menurut Lee (2000), kebijakan pengembangan industri perdesaan
dapat mengurangi tingkat disparitas antara kawasan perkotaan dan perdesaan.