Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

STRUMA
A. Pengertian Struma
Struma adalah perbesaran kelenjar tiroid yang menyebabkan pembengkakan di bagian
depan leher (Dorland, 2002).
Kelenjar tiroid terletak tepat dibawah laring pada kedua sisi dan sebelah anterior
trakea. Tiroid menyekresikan dua hormon utama, tiroksin (T4), dan triiodotironin (T3),
serta hormon kalsitonin yang mengatur metabolisme kalsium bersama dengan
parathormon yang dihasilkan oleh kelenjar paratiroid (Guyton and Hall, 2007).
Struma adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar
tiroid. Pembesaran kelenjar tiroid dapat disebabkan oleh kurangnya diet iodium yang
dibutuhkan untuk produksi hormon tiroid. Terjadinya pembesaran kelenjar tiroid
dikarenakan sebagai usaha meningkatkan hormon yang dihasilkan.
B. Etiologi Struma
Adanya struma atau pembesaran kelenjar tiroid dapat oleh karena ukuran selselnya bertambah besar atau oleh karena volume jaringan kelenjar dan sekitarnya
yang bertambah dengan pembentukan struktur morfologi baru. Yang mendasari proses
itu ada 4 hal utama.
1. Gangguan perkembangan, seperti terbentuknya kista (kantongan berisi cairan) atau
jaringan tiroid yang tumbuh di dasar lidah (misalnya pada kista tiroglosus atau tiroid
lingual).
2. Proses radang atau gangguan autoimun seperti penyakit Graves dan penyakit tiroiditis
Hashimoto.
3. Gangguan metabolik (misal, defisiensi iodium) serta hyperplasia, misalnya pada
struma koloid dan struma endemik.
4. Pembesaran yang didasari oleh suatu tumor atau neoplasia meliputi adenoma sejenis
tumor jinak dan adenokarsinoma, suatu tumor ganas.
5. Defisiensi iodium
6. Konsumsi goitrogenik glikosida agent secara berlebihan (memakan sekresi hormon
tiroid).
7. Mengkonsumsi obat-obatan anti tiroid jangka panjang
8.
Anomali
9.
Peradangan atau tumor/neoplasma
C. Klasifikasi Struma
1. Berdasarkan fisiologisnya :
a. Eutiroid : aktivitas kelenjar tiroid normal
b. Hipotiroid : aktivitas kelenjar tiroid yang kurang dari normal
c. Hipertiroid : aktivitas kelenjar tiroid yang berlebihan
2. Berdasarkan klinisnya :
a. Non-Toksik (eutiroid dan hipotiroid)
a) Difusa
: endemik goiter, gravid

b) Nodusa : neoplasma
b. Toksik (hipertiroid)
a) Difus
: grave, tirotoksikosis primer
b) Nodusa
: tirotoksikosis skunder
3. Berdasarkan morfologinya :
a. Struma Hyperplastica Diffusa
Suatu stadium hiperplasi akibat kekurangan iodine (baik absolut ataupun relatif).
Defisiensi iodine dengan kebutuhan excessive biasanya terjadi selama pubertas,
pertumbuhan, laktasi dan kehamilan. Karena kurang iodine kelenjar menjadi
hiperplasi untuk menghasilkan tiroksin dalam jumlah yang cukup banyak untuk
memenuhi kebutuhan supply iodine yang terbatas. Sehingga terdapat vesikel pucat
dengan sel epitel kolumner tinggi dan koloid pucat. Vaskularisasi kelenjar juga akan
bertambah. Jika iodine menjadi adekuat kembali (diberikan iodine atau kebutuhannya
menurun) akan terjadi perubahan di dalam struma koloides atau kelenjar akan menjadi
fase istirahat.
b. Struma Colloides Diffusa
Ini disebabkan karena involusi vesikel tiroid. Bila kebutuhan excessive akan tiroksin
oleh karena kebutuhan yang fisiologis (misal, pubertas, laktasi, kehamilan, stress,
dsb.) atau defisiensi iodine telah terbantu melalui hiperplasi, kelenjar akan kembali
normal dengan mengalami involusi. Sebagai hasil vesikel distensi dengan koloid dan
ukuran kelenjar membesar.
c. Struma Nodular
Biasanya terjadi pada usia 30 tahun atau lebih yang merupakan sequelae dari struma
colloides. Struma noduler dimungkinkan sebagai akibat kebutuhan excessive yang
lama dari tiroksin. Ada gangguan berulang dari hiperplasi tiroid dan involusi pada
masing-masing periode kehamilan, laktasi, dan emosional (fase kebutuhan). Sehingga
terdapat daerah hiperinvolusi, daerah hiperplasi dan daerah kelenjar normal. Ada
daerah nodul hiperplasi dan juga pembentukan nodul dari jaringan tiroid yang
hiperinvolusi.
Tiap folikel normal melalui suatu siklus sekresi dan istirahat untuk
memberikan kebutuhan akan tiroksin tubuh. Saat satu golongan sekresi, golongan lain
istirahat untuk aktif kemudian. Pada struma nodular, kebanyakan folikel berhenti
ambil bagian dalam sekresi sehingga hanya sebagian kecil yang mengalami
hiperplasi,

yang

lainnya

mengalami

hiperinvolusi

(involusi

yang

berlebihan/mengecil).
D. Patofisiologi
Berbagai faktor diidentifikasi sebagai penyebab terjadinya hipertrofi kelenjar tiroid
termasuk didalamnya defisiensi iodium, goitrogenik glikosida agent ( zat atau bahan ini
dapat memakan sekresi hormon tiroid) seperti ubi kayu, jagung lobak, kangkung, kubis
bila dikonsumsi secara berlebihan, obat-obatan anti tiroid, anomali, peradangan atau
tumor atau neoplasma. Sedangkan secara fisiologis menurut Benhard (1991) kelenjar
tiroid dapat membesar sebagai akibat peningkatan aktivitas kelenjar tiroid sebagai upaya

mengimbangi kebutuhan tubuh yang meningkat pada masa pertumbuhan dan masa
kehamilan. Bahkan dikatakan pada kondisi stress sekalipun kebutuhan tubuh akan
hormon ini cenderung meningkat. Laju metabolisme tubuh pada kondisi-kondisi diatas
meningkat.
Berdasarkan kejadian atau penyebarannya ada yang disebut Struma Endemis dan
Sporadis. secara sporadis dimana kasus-kasus struma ini dijumpai menyebar diberbagai
tempat atau daerah. Bila dihubungkan dengan penyebab, maka struma sporadis banyak
disebabkan oleh faktor goitrogenik, anomali dan penggunaan obat-obatan anti tiroid,
peradangan dan neoplasma. Secara endemis dimana kasus-kasus ini struma ini dijumpai
pada sekelompok orang di suatu daerah tertentu, dihubungkan dengan penyebab
defisiensi iodium. Bahan dasar pembentukan hormon-hormon kelenjar tiroid adalah
iodium yang diperoleh dari makanan dan minuman yang mengandung iodium. Ion iodium
(iodida) darah masuk kedalam kelenjar tiroid secara transport aktif dengan ATP sebagain
sumber energi. selanjutnya sel-sel folikel kelenjar tiroid akan mensintesis Tiroglobulin
(sejenis glikoprotein) dan selanjutnya mengalami iodinisasi sehingga akan terbentuk
iodotironin (DIT) dan mono iodotironin (MIT). Proses ini memerlukan enzim peroksida
sebagai katalisator. Proses akhir adalah berupa reaksi penggabungan. Penggabungan dua
molekul DIT akan membentuk tetra iodotironin tiroxin (T4) dan molekul DIT bergabung
dengan MIT menjadi tri iodotironin (T3) untuk selanjutnya masuk kedalam plasma dan
berikatan dengan protein binding iodine. Reaksi penggabungan ini dirangsang oleh
hormon TSH dan dihambat oleh tiourasil, Tiourea, sulfonamid dan metilkaptoimidazol.
Melihat proses singkat terbentuknya hormon tiroid maka pemasukan iodium yang
berkurang, gangguan berbagai enzim dalam tubuh, hiposekresi TSH, bahan atau zat yang
mengandung tiourea, tiourasil, sulfonamid, dan metilkaptoimidazol, glukosil goitrogenik,
gangguan pada kelenjar tiroid sendiri serta faktor pengikat dalam plasma sangat
menentukan adekuat tidaknya sekresi hormon tiroid. bila kadar hormon-hormon tiroid
kurang makan akan terjadi mekanisme umpan balik terhadap kelenjar tiroid sehingga
aktivitas kelenjar meningkat dan terjadi pembesaran (hipertropi). Dengan kompensasi ini
kadar hormon seimbang kembali.
Dampak struma thdp tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat
mempengaruhi kedudukan organ-organ disekitarya. Dibagian posterior medial kelenjar
tiroid terdapat trakea dan esofagus. Struma dapat mengarah kedalam sehingga mendorong
trakea, esofagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia yang akan
berdampak thdp gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit.
penekanan pada pitasuara akan menyebabkan suara menjadi serak atau parau. Bila
pembesaran keluar, maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat simetris atau
tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia. tentu dampaknya lebih ke arah
estetika atau kecantikan. perubahan bentuk leher dapat mempengaruhi rasa aman dan
konsep diri klien.

E. Manifestasi Klinis Struma


1. Berdebar-debar/meningkatnya denyut nadi
Berdebar-debar dan terasa berat pada bagian jantung akibat kerja perangsangan
jantung, sehingga curah jantung dan tekanan darah sistolik akan meningkat. Bila
akhirnya penyakit ini menghebat, bias timbul fibrilasi atrial dan akhirnya gagal
jantung kongestif. Tekanan nadi hampir selalu dijumpai meningkat (pulsus celer)
Pulsus celer biasanya terdapat pada peyakit 3A, 3B dan IN (anemia gravis,
arterioveneus shunt, aorta insufficiency, botali persisten, beri-beri, basedow dan
nervositas. Pembuluh darah di perifer akan mengalami dilatasi. Laju filtrasi
glomerulus, aliran plasma ginjal, serta traspor tubulus akan meningkat di ginjal,
sedangkan di hati pemecahan hormone steroid dan obat akan dipercepat.
2. Keringat
Metabolisme energi tubuh akan meningkat sehingga meningkatkan metabolisme
panas, proteolisis, lipolisis, dan penggunaan oksigen oleh tubuh. Metabolisme basal
hampir mendekati dua kalinya menyebabkan pasien tidak tahan terhadap hawa panas
lalu akan mudah berkeringat.
3. Konstipasi
Karena pada penderita kurang asupan nutrisi dan cairan, yang mengakibat kurangnya
atau tidak adanya nutrisi dan cairan yang bisa diserap oleh usus. Maka dari itu system
eliminasi pada penderita struma terganggung.
4. Gemetar
Kadang-kadang pasien menggerakkan tangannya tanpa tujuan tertentu, timbul tremor
halus pada tangan
5. Gelisah
Peningkatan eksitabilitas neuromuscular akan menimbulkan hiperrefleksia saraf tepi
oleh karena hiperaktifitas dari saraf dan pembuluh darah akibat aktifitas T3 dan T4.
Gangguan sirkulasi ceberal juga terjadi oleh karena hipervaskularisasi ke otak,
menyebabkan pasien lebih mudah terangsang. Nervous, gelisah depresi dan
mencemaskan hal-hal yang sepele.
6. Berat badan menurun
Lipolisis (proses pemecahan lemak yang tersimpan dalam sel lemak tubuh)
menyebabkan berat badan menurun, asam lemak bebas dihasilkan menuju aliran
darah dan bersirkulasi ke tubuh. Lipolisis juga menyebabkan hiperlipidasidemia dan
meningkatnya enzim proteolitik sehingga menyebabkan proteolisis yang berlebihan
dengan peningkatan pembentukan dan ekresi urea.
7. Mata membesar

Gejala mata terdapat pada tirotoksikosis primer, pada tirotoksikosis yang sekunder,
gejala mata tidak selalu ada dan kalaupun ada tidak seberapa jelas. Pada
hipertiroidisme imunogenik (morbus Graves) eksoftalmus dapat ditambahkan terjadi
akibat retensi cairan abnormal di belakang bola mata; penonjolan mata dengan
diplopia, aliran air mata yang berlebihan, dan peningkatan fotofobia. Penyebabnya
terletak pada reaksi imun terhadap antigen retrobulbar yang tampaknya sama dengan
reseptor TSH. Akibatnya, terjadi inflamasi retrobulbar dengan pembengkakan bola
mata, infiltrasi limfosit, akumulasi asam mukopolisakarida, dan peningkatan jaringan
ikat retrobulbar.
8. Nyeri pada tenggorokan ( Karena area trakea tertekan )
9. Kesulitan bernapas dan menelan ( Karena area trakea tertekan )
Dibagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trachea dan eshopagus, jika struma
mendorong trachea sehingga terjadi kesulitan bernapas yang akan berdampak pada
gangguan pemenuhan oksigen.
10. Suara serak
Struma dapat mengarah kedalam sehingga mendorong pita suara, sehingga terdapat
penekanan pada pita suara yang menyebabkan suara menjadi serak atau parau.
F. Komplikasi
1. Suara menjadi serak/parau
Struma dapat mengarah kedalam sehingga mendorong pita suara, sehingga terdapat
penekanan pada pita suara yang menyebabkan suara menjadi serak atau parau.
2. Perubahan bentuk leher
Jika terjadi pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat
simetris atau tidak.
3. Disfagia
Dibagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trachea dan eshopagus, jika struma
mendorong eshopagus sehingga terjadi disfagia yang akan berdampak pada gangguan
pemenuhan nutrisi, cairan, dan elektrolit.
4. Sulit bernapas
Dibagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trachea dan eshopagus, jika struma
mendorong trachea sehingga terjadi kesulitan bernapas yang akan berdampak pada
gangguan pemenuhan oksigen.
5. Penyakit jantung hipertiroid
Gangguan pada jantung terjadi akibat dari perangsangan berlebihan pada jantung oleh
hormon tiroid dan menyebabkan kontratilitas jantung meningkat dan terjadi takikardi
sampai dengan fibrilasi atrium jika menghebat. Pada pasien yang berumur di atas 50
tahun, akan lebih cenderung mendapat komplikasi payah jantung.
6. Oftalmopati Graves
Oftalmopati Graves seperti eksoftalmus, penonjolan mata dengan diplopia, aliran air
mata yang berlebihan, dan peningkatan fotofobia dapat mengganggu kualitas hidup
pasien sehinggakan aktivitas rutin pasien terganggu.
7. Dermopati Graves

Dermopati tiroid terdiri dari penebalan kulit terutama kulit di bagian atas tibia bagian
bawah (miksedema pretibia), yang disebabkan penumpukan glikosaminoglikans.
Kulit sangat menebal dan tidak dapat dicubit.
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Palpasi, teraba batas yang jelas, bernodul satu atau lebih, konsistensinya kenyal. Jika
di auskultasi terdengar bunyi seperti pluit.
2. Termografi
Termografi adalah suatu metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit
pada suatu tempat. Alatnya adalah Dynamic Tele-Thermography. Hasilnya disebut n
panas apabila perbedaan panas dengan sekitarnya > 0,9C dan dingin apabila <0,9C.
Pada penelitian Alves didapatkan bahwa yang ganas semua

hasilnya panas.

Dibandingkan dengan cara pemeriksaan yang lain ternyata termografi ini adalah
paling sensitif dan spesifik.
3. Pada pemeriksaan laboratorium,

ditemukan

serum

T4

(troksin)

dan

T3

(triyodotironin) dalam batas normal.


Nilai normal :
1. T4 serum
: 4.9 12.0 g/Dl
2. Tiroksin bebas
: 0.5 2.8 g/dL
3. T3 serum
: 115 - 190 g/dL
4. TSH serum
: 0.5 4 g/dL
5. FT1 serum
: 6.4 - 10 %
4. Pada pemeriksaan USG (ultrasonografi)
Dapat menentukan apakah lesi tersebut kistik ataukah padat. Kebanyakan karsinoma
adalah padat, kebanyakan lesi yang kistik atau campuran adalah jinak. Teknik
ultasonografi digunakan untuk menentukan apakah nodul tiroid, baik yang teraba
pada palpasi maupun yang tidak, merupakan nodul tunggal atau multiple padat atau
kistik. Pemeriksaan ultasonografi ini terbatas nilainya dalam menyingkirkan
kemungkinan keganasan tapi hanya dapat mendeteksi nodul yang berpenampang lebih
dari setengah centimeter.
Kelainan- kelainan yang dapat didiagnosis secar USG ialah:
1. Kista; kurang lebih bulat, seluruhnya hipoekoik sonolusen, dindingnya tipis.
2. Adenoma/ nodul padat; iso atau hiperekoik, kadang-kadang disertai hal yaitu
suatu lingkaran hipoekoik disekelilingnya.
3. Kemungkinan karsinoma; nodul padat, biasanya tanpa halo.
4. Tiroditis; hipoekoik, difus, meliputi seluruh kelenjar.
USG bermanfaat pada pemeriksaan tiroid untuk:
1.
2.
3.
4.

Dapat menentukan jumlah nodul.


Dapat membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik.
Dapat mengukur volume dari nodul tiroid.
Dapat mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang tidak menangkap
iodium, yang tidak terlihat dengan sidik tiroid.

5. Pada kehamilan di mana pemeriksaan sidik tiroid tidak dapat dilakukan,


pemeriksaan USG sangat membantu mengetahui adanya pembesaran tiroid.
6. Untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang akan dilakukan biopsi
terarah.
7. Dapat dipakai sebagai pengamatan lanjut hasil pengobatan.
5. Pemeriksaan sidik tiroid.
Hasil pemeriksaan dengan radioisotope adalah teraan ukuran, bentuk lokasi, dan yang
utama ialah fungsi bagian-bagian tiroid. Pada pemeriksaan ini pasien diberi Na
peroral dan setelah 24 jam secara foto grafik ditentukan konsentrasi yadium radioaktif
yang ditangkap oleh tiroid.
6. Dilakukan foto thorak posterior anterior.
7. Memperjelas adanya deviasi trakea, atau pembesaran struma retrosternal, untuk
evaluasi kondisi jalan nafas.
H. Penatalaksanaan
1.
Struma Difus Toksik (Grave's Disease)
Tujuan pengobatan hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormon tiroid yang
berlebihan dengan cara menekan produksi (obat antitiroid) atau merusak jaringan
tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi subtotal).
a. Obat antitiroid
Indikasi :
1. Terapi untuk memperpanjang remisi atau mendapatkan remisi yang menetap,
pada pasien muda dengan struma ringan sampai sedang dan tirotoksikosis.
2. Obat untuk mengontrol tirotoksikosis pada fase sebelum pengobatan, atau
sesudah pengobatan pada pasien yang mendapat yodium aktif.
3. Persiapan tiroidektomi
4. Pengobatan pasien hamil dan orang lanjut usia.
5. Pasien dengan krisis tiroid.
Obat antitiroid yang sering digunakan :
Obat
Karbimazol
Metimazol
Propiltourasil

Dosis awal (mg/hari)


30-60
30-60
300-600

Pemeliharaan (mg/hari)
5-20
5-20
5-200

b. Pengobatan dengan yodium radioaktif


Indikasi :
1. Pasien umur 35 tahun atau lebih
2. Hipertiroidisme yang kambuh sesudah penberian dioperasi
3. Gagal mencapai remisi sesudah pemberian obat antitiroid
c. Operasi
Tiroidektomi subtotal efektif untuk mengatasi hipertiroidisme.
Indikasi :
1. Pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons terhadap obat
antitiroid.
2. Pada wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan obat antitiroid dosis
besar
3. Alergi terhadap obat antitiroid, pasien tidak dapat menerima yodium radioaktif

4. Adenoma toksik atau struma multinodular toksik


5. Pada penyakit Graves yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul
2. Struma Nodular Toksik
Terapi dengan pengobatan antitiroid atau beta bloker dapt mengurangi gejala tetapi
biasanya kurang efektif dari pada penderita penyakit Graves. Radioterapi tidak efektif
seperti penyakit Graves karena pengambilan yang rendah dan karena penderita ini
membutuhkan dosis radiasi yang besar. Untuk nodul yang soliter, nodulektomi atau
lobektomi tiroid adalah terapi pilihan karena kanker jarang terjadi. Untuk struma
multinodular toksik, lobektomi pada satu sisi dan subtotal lobektomi pada sisi yang lain
adalah dianjurkan (Sadler et al, 1999)
3. Struma Non Toksis
Terapi dengan pengobatan antitiroid atau beta bloker dapt mengurangi gejala tetapi
biasanya kurang efektif dari pada penderita penyakit Graves. Radioterapi tidak efektif
seperti penyakit Graves karena pengambilan yang rendah dan karena penderita ini
membutuhkan dosis radiasi yang besar. Untuk nodul yang soliter, nodulektomi atau
lobektomi tiroid adalah terapi pilihan karena kanker jarang terjadi. Untuk struma
multinodular toksik, lobektomi pada satu sisi dan subtotal lobektomi pada sisi yang lain
adalah dianjurkan (Sadler et al, 1999)
Indikasi operasi pada struma nodosa non toksika ialah:
a. Keganasan
b. Penekanan
c. Kosmetik
2. Tindakan operasi yang dikerjakan tergantung jumlah lobus tiroid yang terkena. Bila
hanya satu sisi saja dilakukan subtotal lobektomi, sedangkan kedua lobus terkena
dilakukan subtotal tiroidektomi. Bila terdapat pembesaran kelenjar getah bening leher
maka dikerjakan juga deseksi kelenjar leher fungsional atau deseksi kelenjar leher
radikal/modifikasi tergantung ada tidaknya ekstensi dan luasnya ekstensi di luar
kelenjar getah bening.
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas bd adanya massa
2. Gangguan pertukaran gas bd obstruksi partial mekanik
3. Ketidakefektifan pola nafas bd adanya obstruksi trakkeofaringeal
4. Gangguan perfusi jaringan bd suplai O2 tidak adekuat
5. Gangguan rasa nyaman nyeri bd proses penyakit (pembesaran kelenjar tiroid)
6. Gangguan menelan bd obstruksi partial mekanik
7. Gangguan pemenuhan nutrisi bd disfagia
8. Gangguan citra diri bd perubahan fisiologis tubuh (pembengkakan leher)
9. Cemas bd tindakan pre-operasi

INTERVENSI KEPERAWATAN

NO
1.

Diagnosa

Tujuan dan criteria

Intervensi Keperawatan

Keperawatan
Ketidakefektifan

hasil
Setelah dilakukan

bersihan jalan nafas

tindakan keperawatan

bd adanya massa

diharapkan bersihan

1.

jalan nafas pasien


hasil:

jalan nafas paten

kedalaman dan kerja pernafasan.


Rasional :
Pernafasan secara normal kadangkadang cepat, tetapi berkembangnya

efektif dengan kriteria

- Mempertahankan

Pantau frekuensi pernafasan,

distres pada pernafasan merupakan


indikasi kompresi trakea karena edema

2.

atau perdarahan.
Auskultasi suara nafas, catat adanya
suara ronchi.
Rasional :
Ronchi merupakan indikasi adanya

dengan mencegah
aspirasi.

obstruksi.spasme laringeal yang

- RR normal (16-24

membutuhkan evaluasi dan intervensi

x/menit)
3.

yang cepat.
Kaji adanya dispnea, stridor, dan
sianosis. Perhatikan kualitas suara.
Rasional :
Indikator obstruksi trakea/spasme
laring yang membutuhkan evaluasi dan

4.

intervensi segera.
Waspadakan pasien untuk
menghindari ikatan pada leher,
menyokog kepala dengan bantal.
Rasional :
Menurunkan kemungkinan tegangan

5.

pada daerah luka karena pembedahan.


Bantu dalam perubahan posisi,
latihan nafas dalam dan atau batuk
efektif sesuai indikasi.
Rasional :
Mempertahankan kebersihan jalan
nafas dan evaluasi. Namun batuk tidak
dianjurkan dan dapat menimbulkan
nyeri yang berat, tetapi hal itu perlu

untuk membersihkan jalan nafas.


6.
Selidiki kesulitan menelan,
penumpukan sekresi oral.
Rasional :
Merupakan indikasi edema/perdarahan
yang membeku pada jaringan sekitar
daerah operasi.

7.

Pertahankan alat trakeosnomi di


dekat pasien.
Rasional :
Terkenanya jalan nafas dapat
menciptakan suasana yang mengancam
kehidupan yang memerlukan tindakan

2.

yang darurat.
1.
kaji frekuensi kedalaman pernapasan.

Gangguan

Setelah dilakukan

pertukaran gas bd

tindakan keperawatan

Catat penggunaan otot aksesori, napas

obstruksi partial

diharapkan tidak

bibir,

mekanik

terjadi gangguan

berbicara/berbimcang
R : berguna dalam evaluasi derajat

pertukaran gas dengan

distres

kriteria hasil:

Pasien

2.
tidak

lagi mengeluh
sulit bernapas

Pasien
lagi

tidak
terlihat

pucat
3.

ketidakmampuan

pernapasan

dan

kornisnya

proses penyakit
Tinggikan kepala tempat tidur, bantu
pasien utnuk memilih posisi yang
mudah untuk bernapas. Dorong napas
dalam perlahan
R : pengiriman

oksigen

dapat

diperbaiki dengan posisi duduk tinggi


dan latihan napas untuk menurunkan
kolaps jalan napas, dispnea
Kaji/awaso secara rutin kulit dan
warna membran mukosa
R: sianosis mungkin perifer (terlihat
pada kuku) atau sentral( terlihat pada
bibir)

. keabu-abuan dan dianosis

sentral mengindikasi hipoksemia berat


4.
Evaluasi tingkat toleransi aktivitas

5.

dan batasi aktifitas pasien


R : istirahat diselingi

aktivitas

perawatan

program

penting

dari

pengobatan
Awasi tanda vital dan irama jantung
R : takikardi, disritmia, dan perubahan
TD

dapat

hipoksemia

menunjukkan
sistemik

pada

efek
fungsi

jantung
Kolaborasi
1.

Awasi seri GDA


R : PCO2 biasanya meningkat dan PO2

menurun sehingga hipoksia terjadi


2.

dengan derajat lebih kecil


Berikan oksigen tambahan bila
diperlukan
R : dapat

memperbaiki/mencegah

memperburuknya hipoksia

3.

Ketidakefektifan

Setelah dilakukan

1.

pola nafas bd

tindakan keperawatan

adanya obstruksi

diharapkan pola nafas

trakkeofaringeal

pasien efektif:

2.

RR= 16-20x/ menit

Pantau frekwensi pernafasan ,


kedalaman, dan kerja pernafasan
R : Untuk mengetahui adanya
gangguan pernafasan pada pasien.
Waspadakan pasien agar leher tidak
tertekuk/posisikan semi ekstensi atau

Kedalaman inspirasi
dan kedalaman

eksensi pada saat beristirahat


R : Menghindari penekanan pada jalan

bernafas Ekspansi

nafas untuk meminimalkan

dada simetris Tidak

penyempitan jalan nafas


3. Ajari pasien latihan nafas dalam
ada penggunaan otot
R : Untuk menstabilkan pola nafas
bantu nafas
4.
Persiapkan operasi bila diperlukan.
R : Operasi diperlukan untuk
memperbaiki kondisi pasien
4

Gangguan perfusi

Setelah dilakukan

Mandiri

jaringan bd suplai

tindakan keperawatan1.

O2 tidak adekuat

diharapkan

dengan kaki ditinggikan


R:
Untuk meningkatkan aliran

menunjukkan

balik vena. Membantu

peningkatan suplai

mempertahankan / meningkatkan

darah ke jaringan

sirkulasi dan pengiriman oksigen ke

normal dengan
kreteria hasil
1.

2.

Tanda-tanda vital
Kapiler refill kurang
dari 3 detik

3.

Akral hangat

4.

Tidak terdapat
sianosis

otak.
Catat perubahan dalam tingkat
kesadaran keluhan sakit kepala, pusing,

dalam batas normal


2.

Berikan posisi datar pada anak

terjadi devisi sensori/ motori pada anak


R: Perubahan dapat menunjukan
penurunan perfusi pada SSP akibat

iskemia infark
3.
Pantau tanda-tanda vital
R : Perubahan dapat menunjukan
penurunan sirkulasi / hipoksia yang
meningkatkan oklusi kapiler
4.
Pertahanan suhu lingkungan
R : Mencegah vasokontriksi membantu
dalam mempertahankan sirkulasi dan

perfusi.
Kolaborasi
1.

Kolaborasi, cairan sesuai indikasi, O2


sesuai indikasi dan obat obatan
Rasional : untuk mengecek cairan yang
telah didokumentasikan

Gangguan rasa

Se Setelah dilakukan

Mandiri

nyaman nyeri bd

tindakan keperawatan1.

proses penyakit

diharapkan nyeri

verbal maupun non verbal, catat lokasi,

(pembesaran

hilang, dengan kriteria

intensitas (0-10), dan lamanya.

kelenjar tiroid)

hasil:

R: Bermanfaat dalam mengevaluasi

1.

Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik

Pasien tidak lagi nyeri, menentukan pilihan intervensi,


mengeluh nyeri pada menentukan efektivitas terapi.
tenggorokkannya

2.

Tanda-tanda

2.

Ekspresi

pasien

untuk

teknik

vital relaksasi napas dalam

dalam rentang normal


3.

Anjurkan

R: Dengan teknik relaksasi dapat

muka mengurangi nyeri.

pasien sudah tampak


3.
rileks

Berikan

minuman

yang

sejuk/makanan yang lunak ditoleransi


jika

pasien

mengalami

kesulitan

menelan.
Rasional

Menurunkan

tenggorok

tetapi

ditoleransi

jika

makanan
pasien

nyeri
lunak

mengalami

kesulitan menelan.
Kolaborasi
1.

Berikan analgetik sesuai indikasi.


Rasional: pemberian analgetik dapat

mengurangi rasa nyeri


Gangguan menelanSeSetelah
dilakukan Mandiri
tindakan keperawatan
bd obstruksi partial
1.
Bantu pasien dengan mengontrol
diharapkan gangguan
mekanik
menelan pasien dapat kepala
teratasi.
Dengan
Rasional : menetralkan hiperekstensi,
kriteria hasil:

Pasien tidak lagi membantu


mengeluh sulit saat mencegah aspirasi dan meningkatkan

menelan.

Berat

kemampuan untuk menelan


badan
2.

pasien kembali normal

letakan pasien pada posisi duduk /


tegak selama dan setelah makan
Rasional

menggunakan

gravitasi

untuk memudahkan proses menelan


dan

menurunkan

resiko

terjadinya

aspirasi
3.

letakan makan pada mulut yang tidak


terganggu
Rasional

memberikan

stimulasi

sensorik (termsuk rasa kecap) yang


dapat

mencetuskan

usaha

untuk

menelan dan meningkatkan masukan


Kolaborasi
1.

Berikan cairan melalui IV atau


makanan

melalui

selang
Rasiona : mungkin diperlukan untuk
memberikan cairan pengganti dan juga
makanan jika pasien tidak mampu
untuk

memasukan

segala

sesuatu

kedalam.
7

Gangguan

Setelah dilakukan

Mandiri :

keseimbangan

tindakan keperawatan1.

cairan dan elektrolit

diharapkan pasien

Monitor intake dan output cairan.


R: Memberikan informasi tentang

bd intake yang tidak

dapat memenuhi

adekuat

kebutuhan cairan dan

2.

keadaan volume cairan.


Kaji turgor kulit, kelembapan dan
membran mukosa.
R : Peningkatan suhu atau demam

elektrolit dengan
kriteria hasil:
1.
2.
3.

dapat meningkatkan laju metabolik.


3.
Ukur berat badan tiap hari.
Turgor kulit baik.
R: Indikator langsung keadekuatan
TTV stabil
cairan dan nutrisi.
Membran mukosa

lembab

Kolaborasi :
1.

Berikan cairan tambahan IV sesuai


kebutuhan.
R : Mempertahankan cairan untuk

Gangguan

memperbaiki kehilangan cairan.


Mandiri

Se Setelah dilakukan

pemenuhan nutrisi

tindakan keperawatan1.

bd disfagia

diharapkan kebutuhan

dan muntah yang dialami pasien.

nutrisi klien dapat

Rasional : Untuk menetapkan cara

teratasi. Dengan

mengatasinya.

kriteria hasil:

2.

Kaji cara / bagaimana makanan

Pasien tidak lagi dihidangkan.


mengeluh

sulit Rasional :

menelan

Berat

Cara

menghidangkan

makanan dapat mempengaruhi nafsu


badan makan pasien.

pasien pasien kembali


3.
normal

Kaji keluhan mual, sakit menelan,

Berikan makanan yang mudah ditelan


seperti bubur.

Pasien

sudah Rasional

Membantu

mengurangi

mampu makan lebih kelelahan pasien dan meningkatkan


dari 6 suap.

asupan makanan .
4.

Berikan makanan dalam porsi kecil


dan frekuensi sering.
Rasional : Untuk menghindari mual.

5.

Catat jumlah / porsi makanan yang


dihabiskan oleh pasien setiap hari.
Rasional :

Untuk

mengetahui

pemenuhan kebutuhan nutrisi.


6.

Ukur berat badan pasien setiap


minggu.
Rasional : Untuk mengetahui status gizi
pasien
Kolaborasi

1.

Berikan

obat-obatan

antiemetik

sesuai program dokter.


Rasional :

Antiemetik

membantu

pasien mengurangi rasa mual dan


muntah dan diharapkan intake nutrisi
pasien meningkat.
2.

Konsultasikan/rujuk ke ahli gizi.


R: agar pasien mendapatkan gizi
seimbang.

Gangguan citra diriSe Setelah dilakukan

1.

bd perubahan

tindakan keperawatan

fisiologis tubuh

diharapkan pasien

(pembengkakan

menunjukkan

leher)

Pantau tingkat perubahan rentang


harga diri rendah
R : Mengetahui kopping individu

pasien
2.
Pastikan tujuan tindakan yang kita
Penerimaan diri secara
lakukan adalah realistis
verbal Mengerti akan
R : Meningkatkan hubungan saling
kekuatan diri
Melakukan perilaku

3.

percaya dengan pasien


Sampaikan hal-hal yang positif secara
mutlak untuk pasien, tingkatkan

yang dapat

pemahaman tentang penerimaan anda

meningkatkan rasa

pada pasien sebagai seorang individu

percaya diri

yang berharga.
R : Meningkatkan harga diri pasien
4.
Diskusikan masa depan pasien, bantu
pasien dalam menetapkan tujuan-tujuan
jangka pendek dan panjang.
R : Membantu pasien menentukan
masa depan yang diinginkan
10

Cemas bd tindakan Se Setelah dilakukan


pre-operasi

1.

Jelaskan apa yang terjadi selama

tindakan keperawatan

periode pra operasi dan pasca operasi,

diharapkan Tujuan :

termasuk test laboratorium pra op,

Pasien

persiapan kulit, alasan status puasa,

mengungkapkan

obat-obatan pre op, aktifitas area

ansietas

tunggu, tinggal diruang pemulihan dan

berkurang/hilang.

program pasca operasi.

Kriteria evaluasi:

R: Pengetahuan tentang apa yang diper-

Pasien melaporkan

lukan membantu mengurangi ansie-tas

lebih sedikit perasaan

& meningkatkan kerjasama pasien

gugup,

selama pemulihan, mempertahankan

mengungkapkan pe-

kadar analgesik darah konstan,

mahaman tentang

memberikan kontrol nyeri terbaik

kejadian pra operasi 2.

Informasikan pasien bahwa obatnya

dan pasca operasi,

tersedia bila diperlukan untuk

postur tubuh riileks

mengontrol nyeri, anjurkan untuk


memberitahu nyeri dan meminta obat
nyeri sebelum nyerinya bertambah
hebat.
3.

Informasikan pasien bahwa ada suara

serak & ketidaknyamanan menelan


dapat dialami setelah pembedahan,
tetapi akan hilang secara bertahap
dengan berkurangnya bengkak 3-5
hari.
R: Pengetahuan tentang apa yang diperkirakan membantu mengurangi ansietas.
4.

Ajarkan & biarkan pasien


mempraktekkan bagaimana
menyokong leher untuk menghindari
tegangan pada insisi bila turun dari
tempat tidur atau batuk.
R: Praktek aktifitas-aktifitas pasca operasi membantu menjamin penurunan
program pasca operasi terkomplikasi

5.

Biarkan pasien dan keluarga


mengungkapkan perasaan tentang
pengalaman pembedahan, perbaiki jika
ada kekeliruan konsep. Rujuk
pertanyaan khusus tentang pembedahan
kepada ahli bedah.
R: Dengan mengungkapkan perasaan
membantu pemecahan masalah dan
memungkinkan pemberi perawatan
untuk mengidentifikasi kekeliruan yang
dapat menjadi sumber kekuatan.
Keluarga adalah sistem pendukung
bagi pasien. Agar efektif, sistem
pendukung harus mempunyai
mekanisme yang kuat.

6.

Lengkapi daftar aktifitas pada daftar


cek pre op, beritahu dokter jika ada
kelainan dari test Lab. pre op.
R: Daftar cek memastikan semua aktifitas yang diperlukan telah lengkap.
Aktifitas ini dirancang untuk memastikan pasien telah siap secara fisiologis

untuk operasi dan mengurangi resiko


lamanya penyembuhan.