Anda di halaman 1dari 24

Tinjauan Perkuliahan Ilmu Negara

Mata kuliah Ilmu Negara yang berbobot 2-3 SKS membahas tentang aliran pikir negara dan
hokum dan penerapannya di berbagai negara termasuk Indonesia.
Secara umum tujuan perkuliahan Ilmu Negara adalah menganalisis penerapan konsep ilmu
negara di berbagai negara dan secara khusus di Indonesia.
Setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat memiliki kemampuan:
1. menjelaskan konsep ilmu Negara;
2. menjelaskan teori asal mula Negara;
3. menganalisis teori-teori yang memberi dasar hukum bagi kekuasaan Negara;
4. menjelaskan bentuk negara, bentuk pemerintahan dan sistem pemerintahan;
5. menjelaskan lembaga perwakilan rakyat dan penerapannya di Indonesia;
6. menjelaskan sejarah pembentukan pemerintahan Indonesia.
Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, materi mata kuliah ini disajikan dalam 6 modul sebagai
berikut.
1. Modul 1 Konsep Ilmu Negara.
2. Modul 2 Teori Asal Mula Negara.
3. Modul 3 Teori-teori yang Memberi Dasar Hukum bagi Kekuasaan Negara.
4. Modul 4 Bentuk Negara, Bentuk Pemerintahan dan Sistem Pemerintahan.
5. Modul 5 Lembaga Perwakilan Rakyat.
6. Modul 6 Pembentukan Pemerintahan Indonesia.
Yakinkan dalam hati bahwa Anda sebagai mahasiswa akan belajar dengan sungguh-sungguh,
dengan niat yang kuat, kerajinan yang cukup, dan usaha yang gigih, maka Anda akan dapat
menguasai seluruh isi modul ini. Pelajarilah setiap kegiatan belajar dengan saksama, jangan
terburu-buru. Latihlah mengungkapkan pengetahuan Anda dengan latihan setelah cukup
memahami uraian dan contoh. Gunakan rangkuman untuk mengingat dan mengambil inti sari
setiap kegiatan belajar. Kemudian kerjakanlah Tes Formatif pada setiap akhir kegiatan belajar.
Jangan lupa membaca Glosarium yang ada untuk membantu pemahaman Anda terhadap materi
1

uraian. Sedangkan fungsi Daftar Pustaka ialah memperluas wawasan Anda tentang topik yang
Anda pelajari pada modul ini. Usahakanlah membaca beberapa buku yang tercantum pada Daftar
Pustaka dengan cara membeli sendiri di toko buku, atau meminjam di perpustakaan, atau
meminjam dari teman yang memilikinya, supaya penguasaan materi Anda mantap.
MODUL 1: Konsep Ilmu Negara

Kegiatan Belajar 1: Pengertian Ilmu Negar


Rangkuman
Kelahiran dan keberadaan Ilmu Negara tidak dapat lepas dari jasa George Jellinek, seorang
pakar hukum dari Jerman yang kemudian dikenal sebagai bapak Ilmu Negara, pada tahun 1882
ia telah menerbitkan buku dengan judul Allgemeine Staatslehre (Ilmu Negara Umum), buku ini
kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Ilmu Negara.
Istilah Ilmu Negara dikenal dengan beberapa istilah, antara lain:
1. di Belanda dikenal dengan istilah Staatsleer,
2. di Jerman dikenal dengan istilah Staatslehre,
3. di Perancis dikenal dengan istilah Theorie d' etat, sedangkan
4. di Inggris dikenal dengan istilah Theory of State, The General Theory of State, Political
Science, atau Politics.
Dalam menyusun bukunya Allgeimeine Staaslehre George Jellinek menggunakan methode van
systematesering (metode sistematika), dengan cara mengumpulkan semua bahan tentang ilmu
negara yang ada mulai zaman kebudayaan Yunani sampai pada masanya sendiri (sesudah akhir
abad ke-19 atau awal abad ke-20 dan bahan-bahan itu kemudian disusunnya dalam suatu sistem.
Berkaitan dengan perbedaan penyelidikan objek antara Ilmu Negara dengan Ilmu Lain yang
pembahasan sama, yaitu Negara, bahwa Hukum Tata Negara RI dan Ilmu Politik Kenegaraan
memandang objeknya, yaitu negara dari sifatnya atau pengertiannya yang konkret, artinya
objeknya itu sudah terikat pada tempat, keadaan dan waktu, jadi telah mempunyai objek yang
pasti, misalnya negara Republik Indonesia, negara Inggris, negara Jepang dan seterusnya.
Kemudian, dari negara dalam pengertiannya yang konkret itu diselidiki atau dibicarakan lebih
lanjut susunannya, alat-alat perlengkapannya. Wewenang serta kewajiban daripada alat-alat

perlengkapan tersebut dan seterusnya.


Sedangkan Ilmu Negara memandang objeknya itu, yaitu Negara, dari sifat atau pengertiannya
yang abstrak, artinya objeknya itu dalam keadaan terlepas dari tempat, keadaan dan waktu,
belum mempunyai ajektif tertentu, bersifat abstrak-umum-universal.
Kegiatan Belajar 2: Ilmu Negara dalam Hubungannya dengan Ilmu Politik dan Ilmu
Kenegaraan
Rangkuman
Ilmu Negara dalam Hubungannya dengan Ilmu kenegaraan, munculnya Ilmu Negara sebagai ilmu
pengetahuan yang berdiri sendiri adalah berkat jasa George Jellinek dalam bukunya Algemeine
Staatlehre. Dalam bukunya, yaitu ia membagi Ilmu Kenegaraan atas dua bagian, yaitu sebagai
berikut.
1. Ilmu Negara dalam arti sempit (staatwisenschaften).
2. Ilmu Pengetahuan Hukum (Rechtwissenschaften).
Apa yang dimaksud oleh Jellinek dengan Rechtswissenschaften adalah hukum publik yang
menyangkut soal kenegaraan, misalnya Hukum Tata Negara Hukum Administrasi Negara,
Hukum Antara Negara, Hukum Pidana. Hal yang penting dalam pembagian Jellinek bagi ilmu
negara adalah bagian yang pertama, yaitu ilmu kenegaraan dalam arti sempit. Ilmu Kenegaraan
dalam arti sempit ini mempunyai 3 bagian sebagai berikut.
1. Beschreibende Staatswissenschaft.
2. Theoretische Staatswissenschaft.
3. Praktische Staatswissenschaft.
Ilmu Politik itu adalah semacam sosiologi daripada negara. Oleh karena pendapatnya itu ia masih
menganggap Ilmu Politik sebagai bagian dari ilmu sosiologi. Selanjutnya, dikatakan olehnya
bahwa Ilmu Negara dan hukum tata negara menyelidiki kerangka yuridis daripada negara,
sedangkan Ilmu Politik menyelidiki bagiannya yang ada di sekitar kerangka itu. Dengan
perumpamaan itu Hoelink telah menunjukkan betapa eratnya hubungan antara Ilmu Negara
dengan Ilmu Politik, oleh karena kedua-duanya itu mempunyai objek penyelidikan yang sama
yaitu negara, hanya bagiannya terletak dalam metode yang dipergunakan. Ilmu Negara
mempergunakan metode yuridis, sedangkan Ilmu Politik mempergunakan metode
Jadi, menurut paham Eropa Kontinental, Ilmu Politik itu mula-mula merupakan ilmu
pengetahuan sebagai bagian daripada Ilmu Kenegaraan (Applied Science) dan kemudian
Ilmu Politik menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri terpisah daripada Ilmu Negara
dan Ilmu Kenegaraan karena pengaruh dari sosiologi.
Bagaimanakah keadaan Ilmu Politik di negara Anglo Saxon? Di Inggris ilmu pengetahuan politik
3

(political science) lebih terkenal daripada Ilmu Negara dan Ilmu Negara itu asing sama sekali
bagi negara-negara Anglo Saxon dan istilah-istilah yang dipergunakan juga adalah lain. Seperti
Ilmu Negara dipakainya istilah General Theory of State dan Ilmu Kenegaraan dipakainya Istilah
General Science. Istilah ini dapat dijumpai dalam buku "Contemporary of Political Science" yang
dikeluarkan oleh Unesco. Jadi, bagi negara-negara Anglo Saxon yang sentral adalah Political
Science dan bukan Ilmu Negara atau Ilmu Kenegaraan.
Kegiatan Belajar 3: Aliran-aliran dalam Ilmu Negara
Rangkuman
Plato telah menulis dalam bukunya Politieia tentang bagaimanakah corak negara yang sebaiknya
atau bentuk negara yang bagaimanakah sebagai negara yang ideal. Perlu diterangkan bahwa Ilmu
Negara pada zaman Plato merupakan cakupan dari seluruh kehidupan yang meliputi Polis (negara
kota). Oleh karena itu, Ilmu Negara diajarkan sebagai Civics/Staatsburgerlijke opvoeding yang
masih merupakan Sosial moral dan differensiasi ilmu pengetahuan yang pada waktu itu belum
ada. Segala soal yang berhubungan dengan negara kota atau polis tidak menjelaskan apa yang
dimaksud dengan negara, tetapi hanya menggambarkan negara-negara dalam bentuk ideal.

Dalam uraiannya Plato menyamakan negara dengan manusia yang mempunyai tiga
kemampuan jiwa, yaitu:
1. kehendak,
2. akal pikiran, dan
3. perasaan.
Sesuai dengan tiga kemampuan jiwa yang ada pada manusia tersebut maka di dalam negara juga
terdapat tiga golongan masyarakat yang mempunyai kemampuannya masing-masing. Golongan
yang pertama disebut golongan yang memerintah, yang merupakan otaknya di dalam negara
dengan mempergunakan akal pikirannya. Orang-orang yang mampu memerintah adalah orang
yang mempunyai kemampuan, dalam hal ini seorang raja yang berfilsafat tinggi. Golongan kedua
adalah golongan ksatria/prajurit dan bertugas menjaga keamanan negara jika diserang dari luar
atau kalau keadaan di dalam negara mengalami kekacauan. Mereka hidup di dalam asramaasrama dan menunggu perintah dari negara untuk tugas tersebut di atas. Golongan ini dapat
disamakan dengan kemauan dari hasrat manusia. Golongan ketiga adalah golongan rakyat biasa
yang disamakan dengan perasaan manusia. Golongan ini termasuk golongan petani dan pedagang
yang menghasilkan makanan untuk seluruh penduduk. Pada saat itu orang menganggap bahwa
golongan ini termasuk golongan yang terendah dalam masyarakat.
Jelas bahwa paham dari Plato hanya suatu angan-angan saja dan ia sadar bahwa negara semacam
itu tidak mungkin terjadi di dalam kenyataan karena sifat manusia itu sendiri tidak sempurna.
4

Selanjutnya ia menciptakan suatu bentuk negara yang maksimal dapat dicapai disebut sebagai
negara hukum. Dalam negara hukum semua orang tunduk kepada hukum termasuk juga penguasa
atau raja yang kadang-kadang dapat juga bertindak sewenang-wenang.
Daftar Pustaka

Abu Daud Busroh. (1990). Aksara Ilmu Negara. Jakarta: Bumi

Budiyanto. (2000). Dasar-dasar Ilmu Tata Negara untuk SMU. Jakarta: Erlangga.

C.S.T Kansil. (2001). Ilmu Negara (Umum dan Indonesia). Jakarta: Pradnya Paramita

Miriam Budiarjo. (1995). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.

Moh. Kusnardi dan Bintan Saragih. (1998). Ilmu Negara. Jakarta: Mega Media Pratama.

M.Solly Lubis. (1998). Ilmu Negara. Bandung: Penerbit Alumni.

R. Krannenburg. (1998). Ilmu Negara Umum. Jakarta: Pradnya Paramita.

Soehino. (1998). Ilmu Negara. Yogyakarta: Liberty.

MODUL 2: Teori Asal Mula Negara


Kegiatan
Belajar
1:
Pengertian
Negara
dan
Unsur-unsurnya
Rangkuman
Istilah negara sudah dikenal sejak zaman Renaissance, yaitu pada abad ke-15. Pada masa itu telah
mulai digunakan istilah Lo Stato yang berasal dari bahasa Italia, yang kemudian menjelma
menjadi L'etat' dalam bahasa Perancis, The State dalam bahasa Inggris atau Deer Staat dalam
bahasa Jerman dan De Staat dalam bahasa Belanda.
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian negara seperti dikemukakan oleh Aristoteles,
Agustinus, Machiavelli dan Rousseau.
Sifat khusus daripada suatu negara ada tiga, yaitu sebagai berikut.
1 Memaksa
Sifat memaksa perlu dimiliki oleh suatu negara, supaya peraturan perundang-undangan ditaati
sehingga penertiban dalam masyarakat dapat dicapai, serta timbulnya anarkhi bisa dicegah.
Sarana yang digunakan untuk itu adalah polisi, tentara. Unsur paksa ini dapat dilihat pada
ketentuan tentang pajak, di mana setiap warga negara harus membayar pajak dan bagi yang
melanggarnya atau tidak melakukan kewajiban tersebut dapat dikenakan denda atau disita
5

miliknya.
2 Monopoli
Negara mempunyai monopoli dalam menetapkan tujuan bersama dari masyarakat. Negara
berhak melarang suatu aliran kepercayaan atau aliran politik tertentu hidup dan disebarluaskan
karena dianggap bertentangan dengan tujuan masyarakat.
3 Mencakup semua
Semua peraturan perundang-undangan berlaku untuk semua orang tanpa, kecuali untuk
mendukung usaha negara dalam mencapai masyarakat yang dicita-citakan. Misalnya,
keharusan membayar pajak.
Hal yang dimaksud unsur-unsur negara adalah bagian-bagian yang menjadikan negara itu ada.
Unsur-unsur negara terdiri dari:
1. Wilayah, yaitu batas wilayah di mana kekuasan itu berlaku. Adapun wilayah terbagi
menjadi tiga, yaitu darat, laut, dan udara.
2. Rakyat, adalah semua orang yang berada di wilayah negara itu dan yang tunduk pada
kekuasaan negara tersebut.
3. Pemerintah, adalah alat negara dalam menyelenggarakan segala kepentingan rakyatnya
dan merupakan alat dalam mencapai tujuan.
4. Pengakuan dari negara lain. Unsur ini tidak merupakan syarat mutlak adanya suatu negara
karena unsur tersebut tidak merupakan unsur pembentuk bagi badan negara melainkan
hanya bersifat menerangkan saja tentang adanya negara. Jadi, hanya bersifat deklaratif
bukan konstitutif. Pengakuan dari negara lain dapat dibedakan dua macam, yaitu
pengakuan secara de facto dan pengakuan secara de jure.
Kegiatan Belajar 2: Teori Tujuan Negara dan Teori Asal Mula Negara
Rangkuman
Setiap negara mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Tujuan negara merupakan masalah yang
penting sebab tujuan inilah yang bakal menjadi pedoman negara disusun dan dikendalikan sesuai
dengan tujuan itu. Mengenai tujuan negara itu ada beberapa teori, yaitu menurut Lord Shang,
Nicollo Machiavelli, Dante, Immanuel Kant, menurut kaum sosialis dan menurut kaum kapitalis.
Ada beberapa paham tentang teori tujuan negara, yaitu teori fasisme, individualisme, sosialisme
dan teori integralistik.
Kemudian, mengenai teori asal mula terjadinya negara selain dapat dilihat berdasarkan
pendekatan teoretis, juga dapat dilihat berdasarkan proses pertumbuhannya.
Asal mula terjadinya negara dilihat berdasarkan pendekatan teoretis ada beberapa macam, yaitu
sebagai berikut.
1 Teori Ketuhanan
6

3
4

a
b

Menurut teori ini negara terbentuk atas kehendak Tuhan.


Teori Perjanjian
Teori ini berpendapat, bahwa negara terbentuk karena antara sekelompok manusia yang
tadinya masing-masing hidup sendiri-sendiri, diadakan suatu perjanjian untuk mengadakan
suatu organisasi yang dapat menyelenggarakan kehidupan bersama.
Teori Kekuasaan
Kekuasaan adalah ciptaan mereka-mereka yang paling kuat dan berkuasa
Teori Kedaulatan
Setelah asal usul negara itu jelas maka orang-orang tertentu didaulat menjadi penguasa
(pemerintah). Teori kedaulatan ini meliputi:
Teori Kedaulatan Tuhan
Menurut teori ini kekuasaan tertinggi dalam negara itu adalah berasal dari Tuhan.
Teori Kedaulatan Hukum
Menurut teori ini bahwa hukum adalah pernyataan penilaian yang terbit dari kesadaran hukum
manusia dan bahwa hukum merupakan sumber kedaulatan.
Teori Kedaulatan Rakyat
Teori ini berpendapat bahwa rakyatlah yang berdaulat dan mewakili kekuasaannya kepada
suatu badan, yaitu pemerintah.
Teori Kedaulatan negara
Teori ini berpendapat bahwa negara merupakan sumber kedaulatan dalam negara. Kemudian,
teori asal mula terjadinya negara, juga dapat dilihat berdasarkan proses pertumbuhannya yang
dibedakan menjadi dua, yaitu terjadinya negara secara primer dan teori terjadinya negara
secara sekunder.

Kegiatan Belajar 3: Fungsi Negara dan Tipe-tipe Negara


Rangkuman
Hal yang dimaksud fungsi negara adalah tugas daripada organisasi negara untuk di mana negara
itu diadakan. Mengenai fungsi negara ini ada bermacam-macam pendapat, seperti Montesquieu,
Van Vallenhoven, dan Goodnow. Negara terlepas dari ideologinya itu menyelenggarakan
beberapa minimum fungsi yang mutlak perlu, yaitu sebagai berikut.
1 Melaksanakan penertiban
Negara dalam mencapai tujuan bersama dan untuk mencegah bentrokan-bentrokan dalam
masyarakat harus melaksanakan penertiban. Jadi, dalam hal ini negara bertindak sebagai
stabilitator.
2 Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.
Setiap negara selalu berusaha untuk mempertinggi kehidupan rakyatnya dan mengusahakan
supaya kemakmuran dapat dinikmati oleh masyarakatnya secara adil dan merata.
3 Pertahanan
Pertahanan negara merupakan soal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu
negara. Untuk menjaga kemungkinan serangan dari luar diperlukan pertahanan maka dari itu
negara perlu dilengkapi dengan alat-alat pertahanan.
4 Menegakkan keadilan
Keadilan bukanlah suatu status melainkan merupakan suatu proses. Keadilan dilaksanakan
7

melalui badan-badan pengadilan.


Tipe negara dibagi menjadi dua golongan, yaitu tipe negara menurut sejarahnya dan tipe negara
ditinjau dari sisi hukum.
Tipe negara menurut sejarahnya, dibagi menjadi berikut ini.
1. Tipe negara Timur Purba.
2. Tipe negara Yunani Kuno/Purba.
3. Tipe negara Romawi Kuno/Purba.
4. Tipe negara abad pertengahan.
5. Tipe negara modern.
Sedangkan tipe negara ditinjau dari sisi hukum dibedakan menjadi berikut ini.
1. Tipe negara Polisi (Polizei Staat)
2. Tipe negara hukum, yang dibagi 3 macam, yaitu sebagai berikut.
a. Tipe negara hukum liberal.
b. Tipe negara hukum formil.
c. Tipe negara hukum materiel.
3. Tipe negara Kemakmuran
Daftar Pustaka

Budiyanto, Drs. (2000). Dasar-Dasar Ilmu Tata Negara Untuk SMU. Jakarta: Erlangga.

Inu Kencana Syafiie, Drs. (1994). Ilmu Pemerintahan. Bandung: Mandar Maju.

Kansil, C.S.T., Drs. S.H. (1993). Sistem Pemerintahan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Kansil, C.S.T. Prof. Dr. S.H. (2001). Ilmu Negara (Umum dan Indonesia). Jakarta:
Pradnya Paramita.

Miriam Budiardjo, Prof. (1993). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

Moh. Kusnardi, S.H. (1993). Ilmu Negara. Jakarta: Gaya Media Pratama.

M. Solly Lubis, S.H. (1981). Ilmu Negara. Alumni Bandung.

Soehino, S.H. (2000). Ilmu Negara. Yogyakarta: Liberty.

MODUL 3: Teori-teori yang Memberi Dasar Hukum bagi Kekuasaan Negara


Kegiatan Belajar 1: Teori tentang Kekuasaan
Rangkuman
Ada keterkaitan secara konseptual antara kekuasaan, kewenangan dan kedaulatan. Ketiga konsep
tersebut sama-sama berkaitan dengan kekuasaan. Secara umum kekuasaan merupakan
kemampuan mempengaruhi agar pihak lain bertindak sesuai dengan pihak yang mempengaruhi.
Pengaruh yang terkait dengan negara, dari atau ditujukan kepada negara, khususnya dalam
pembuatan kebijakan publik, dan kekuasaan itu bisa dipaksakan secara fisik (koersif) merupakan
karakteristik kekuasaan politik. Kekuasaan politik berkait dengan kehidupan bersama atau sosial
atau ada dalam konteks sosial maka kekuasaan politik merupakan bagian dari kekuasaan sosial.
Atau kekuasaan dalam arti khusus (species).
Sedangkan kewenangan adalah kekuasaan, tetapi merupakan kekuasaan yang memiliki
legitimasi. Tidak semua kekuasaan memiliki legitimasi, baik legitimasi prosedural maupun hasil
atau akibat. Kemudian, kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi, yang menurut Jean Bodin
memiliki karakteristik: tunggal, asli, abadi dan tidak dapat dibagi-bagi. Namun, menurut Grotius
kedaulatan itu dapat dibagi atau dilakukan bersama-sama antara rakyat dengan pimpinannya.
Adapun sumber kekuasaan tertinggi atau kedaulatan ada dua aliran, yakni teori teokrasi dan teori
hukum alam. Menurut teori teokrasi sumber kekuasaan adalah dari Tuhan. Penganut aliran atau
paham ini, antara lain Agustinus dan Thomas Aquinas. Sedangkan menurut teori hukum alam
sumber kekuasaan adalah berasal dari rakyat yang diserahkan kepada penguasa atau raja melalui
perjanjian sosial. Pelopornya adalah Rousseau dan Thomas Hobbes.
Kemudian, tentang penjelasan mengenai pemegang kedaulatan paling tidak dikenal ada empat
teori, yakni teori kedaulatan Tuhan, teori kedaulatan Negara, teori kedaulatan Rakyat, dan teori
kedaulatan Hukum. Menurut teori kedaulatan Tuhan, kedaulatan ada di tangan Tuhan, yang
diwakili oleh raja atau Paus. Penganut ajaran ini adalah Agustinus, Thomas Aquinas, dan
Marsillius. Sedangkan menurut teori kedaulatan negara, negaralah yang berdaulat. Kedaulatan
ada pada negara terutama terlihat bahwa negaralah yang menciptakan hukum, hukum ada karena
adanya negara. Tiada suatu hukum pun yang berlaku jika tidak dikehendaki negara. Penganut
ajaran ini, antara lain George Jellinek dan Jean Bodin.
Selanjutnya menurut teori kedaulatan rakyat, rakyatlah sebagai pemegang kedaulatan. Pendukung
teori kedaulatan di antaranya Rousseau, Johannus Althusius. Menurut Rousseau kedaulatan
merupakan pengejawantahan dari kehendak umum (volonte generale) dari masyarakat atau suatu
bangsa yang merdeka, melalui perjanjian sosial rakyat membentuk organisasi untuk
melaksanakan kepentingan bersama, kemudian menyerahkan kekuasaan untuk memerintah
kepada seseorang atau beberapa orang. Sedangkan Althusius, sama dengan pendapat Rousseau
bahwa pada prinsipnya manusia itu merdeka. Oleh karena itu, kekuasaan terhadap manusia hanya
berlaku dengan sepengetahuan dan seizin yang dikenakan kekuasaan (manusia atau rakyat).
Kedaulatan dalam negara milik rakyat dan tidak dapat dimiliki seseorang.

Kemudian, terakhir menurut teori kedaulatan hukum. Menurut ajaran ini, hukumlah yang
berdaulat, bukan Tuhan, negara maupun rakyat. Penganut ajaran kedaulatan hukum, di antaranya
Duguit dan Krabbe. Duguit menyatakan meskipun hukum merupakan penjelmaan kemauan
negara, akan tetapi negara sendiri harus tunduk kepada hukum. Meskipun Krabbe berbeda dengan
Duguit dalam memberikan penjelasan tentang kedaulatan hukum, yaitu bukan merupakan
pengejawantahan dari kehendak negara, tetapi hukum tercipta dari rasa keadilan yang hidup
dalam sanubari masyarakat.
Terhadap berkembangnya ke empat gagasan atau aliran kedaulatan di atas, Wirjono Prodjodikoro
memberikan komentar ke empat ajaran tersebut secara kenyataan adalah benar. Namun, dalam
praktik tampak banyak diselewengkan oleh penguasa yang diktator.
Kegiatan Belajar 2: Klasifikasi Negara
Rangkuman
Klasifikasi negara dimaksudkan penggolongan bentuk negara berdasarkan kriteria tertentu.
Secara umum klasifikasi negara dapat dikelompokkan ke dalam klasifikasi tradisional dan
klasifikasi yang lain. Dalam klasifikasi tradisional dikenal dua paham, yaitu paham klasifikasi tribagian (tri-partite clasification) dan klasifikasi dwi-bagian (bi-partite clasification). Klasifikasi
tri-bagian terutama diajukan oleh Arsitoteles dengan kriteria kuantitatif (jumlah penguasa) dan
kualitatif (tujuan berkuasa untuk kesejahteraan rakyat atau pribadi/ kelompoknya). Dari kriteria
ini dihasilkan tiga bentuk ideal dan pemerosotannya, yaitu Monarchie bentuk merosotnya tirani,
aristokrasi bentuk merosotnya Oligarkhi dan politea bentuk merosotnya demokrasi.
Klasifikasi Arsitoteles ini kemudian juga dikembangkan oleh Polybios atau sering dikenal dengan
teori cycles Polybios. Perbedaan pendapat Aristoteles dengan Polybios terutama pada bentuk
pemerintahan/bentuk negara demokrasi. Jika Aristoteles memandang demokrasi sebagai bentuk
pemerosotan, tetapi bagi Polybios sebagai bentuk ideal yang bentuk pemerosotannya adalah
ochlocratie atau mobocratie.
Sedangkan klasifikasi dwi-bagian yang pertama-tama mengemukakan adalah Nicollo Machiavelli
yang menyatakan bentuk negara jika tidak Republik maka lainnya Monarchie. Machiavelli tidak
menjelaskan kriteria yang digunakan. George Jellinek dan Leon Duguit kemudian melengkapi
kriterianya. Kriteria yang diajukan Jellinek adalah "pembentukan kemauan negara". Jika
pembentukan kemauan negara ditentukan oleh seorang saja maka terjadilah Monarchie,
sebaliknya jika ditentukan oleh dewan (lebih dari seorang) maka terjadilah republik. Sedangkan
Duguit, mengajukan kriteria "cara penunjukan atau pengangkatan kepala negaranya". Jika kepala
negaranya diangkat berdasarkan turun-temurun, dinyatakan bentuknya monarchie, dan jika
diangkat atas dasar pemilihan maka bentuknya republik.
Dalam pandangan klasifikasi tradisional tri-bagian mengidentikan antara bentuk negara dengan
bentuk pemerintahan. Namun, akhir-akhir ini tampak kerancuan itu mulai dapat dipecahkan. Oleh
karena tampak ada kecenderungan bahwa bentuk pemerintahan atau istilah lainnya sistem
pemerintahan telah memperoleh penegasan klasifikasinya, yakni sistem pemerintahan
10

parlementer, sistem pemerintahan presidensiil dan sistem referendum.


Klasifikasi yang lain, di antaranya diajukan oleh Hans Kelsen dan Harold J. Laski. Kriteria yang
diajukan Kelsen adalah derajat pembatasan kebebasan dan keluasan mencampuri perikehidupan
warga negaranya., bersifat maksimum ataukah minimum. Atas dasar kriteria ini kemudian
dihasilkan bentuk negara heteronomi yang pembatasan kebebasan maksimum, negara autonomi
yang pembatasan kebebasannya minimum, negara totaliter yang keluasan mencampuri
perikehidupan warga negaranya maksimum, dan negara liberal yang minimum dalam
mencampuri perikehidupan warga negaranya. Sedangkan Laski mengajukan kriteria "ada
tidaknya wewenang ikut campur rakyat dalam membuat undang-undang". Jika ada wewenang
maka bentuk negara itu adalah demokrasi, sebaliknya jika tidak ada wewenang rakyat ikut
campur dalam pembuatan undang-undang maka bentuk negara tersebut autokrasi.
Kegiatan Belajar 3: Susunan Negara
Rangkuman
Penglihatan terhadap negara dari segi susunannya menghasilkan penggolongan negara bersusun
tunggal (negara kesatuan) dan negara bersusun jamak (negara federal). Negara kesatuan atau
negara unitaris, terdapat satu pemerintahan pusat dan tidak ada negara dalam negara.
Pemerintahan pusat pada negara kesatuan, pada awalnya menerapkan asas sentralisasi dan
konsentrasi. Pada perkembangan berikutnya, kemudian menerapkan asas dekonsentrasi dan
perkembangan terakhir tampak mengembangkan desentralisasi dan otonomi. Perkembangan
otonomi tampak dimaksudkan untuk mengimbangi sentralisasi.
Sedangkan negara federal sebagai negara bersusun jamak, memiliki karakteristik, antara lain (1)
terdiri atas negara federal atau negara gabungan dan negara-negara bagian; (2) pemerintahan
federal atau pemerintahan gabungan dan pemerintahan negara-negara bagian; (3) terdapat
Undang-undang Dasar negara federal dan Undang-undang Dasar negara-negara bagian.
Di samping negara bersusun jamak dalam bentuk negara federal atau negara serikat juga dikenal
perserikatan negara. Kriteria untuk menentukan apakah suatu negara merupakan negara serikat
atau perserikatan negara telah diajukan oleh Jellinek dan Kranenberg.
Jellinek mengajukan kriteria perbedaan-perbedaan terletak pada ada pada siapakah kedaulatan
itu. Jika kedaulatan itu pada negara federal maka merupakan negara serikat. Sebaliknya jika
kedaulatan itu ada pada negara-negara bagian, merupakan perserikatan negara.
Sedangkan Kranenberg mengajukan kriteria dapat tidaknya pemerintah federal membuat atau
mengeluarkan peraturan hukum yang mengikat secara langsung kepada warga negara-negara
bagian. Apabila mengikat langsung maka disebut negara serikat. Apabila tidak dapat mengikat
secara langsung, disebut sebagai perserikatan negara.
Kemudian, apabila mencoba melihat kombinasi antara bentuk negara, susunan negara dan bentuk
pemerintahan atau sistem pemerintahan maka akan dihasilkan variasi ketiganya di berbagai
11

negara di dunia. Misalnya, bisa dinyatakan bahwa negara Inggris merupakan Negara Kerajaan
Kesatuan Parlementer, Indonesia merupakan Negara Republik Kesatuan Presidentil, dan India
merupakan Negara Republik Serikat Parlementer.
Daftar Pustaka

Bhakti, Ikrar Nusa dan Sihbudi, Riza. (2002). Kontroversi Negara Federal: Mencari
Bentuk Negara Ideal Indonesia Masa Depan. Bandung: Mizan.

Budiardjo, Mirriam. (1977). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.

Budihardjo, Mirriam, ed. (1984). Aneka Pemikiran tentang Kuasa dan Wibawa. Jakarta:
Sinar Harapan.

Busroh, Abu Daud. (2001). Ilmu Negara. Jakarta: Bumi Aksara.

Cholisin. (2001). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial UNY.

Isjwara, F. (1980). Pengantar Ilmu Politik. Bandung: Binacipta

Naning, Ramdlon. (1982). Aneka Asas Ilmu Negara. Surabaya: Bina Ilmu.

Prodjodikoro, Wirjono. (1981). Asas-asas Ilmu Negara dan Politik. Bandung: Eresco.

Soehino. (2002). Ilmu Negara. Yogyakarta: Liberty.

Surbakti, Ramlan. (1992). Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Widiasarana


Indonesia.

Syafi'ie, Inu Kencana. (2001). Pengantar Ilmu Pemerintahan. Bandung: Refika.

MODUL 4: Bentuk Negara, Bentuk Pemerintahan dan Sistem Pemerintahan


Kegiatan Belajar 1: Bentuk Negara dan Bentuk Pemerintahan
Rangkuman
Bentuk negara adalah merupakan batas antara peninjauan secara sosiologis dan peninjauan secara
yuridis mengenai negara. Peninjauan secara sosiologis jika negara dilihat secara keseluruhan
(ganzhit) tanpa melihat isinya, sedangkan secara yuridis jika negara\peninjauan hanya dilihat dari
isinya atau strukturnya.
12

Machiavelli dalam bukunya II Prinsipe bahwa bentuk negara (hanya ada dua pilihan) jika tidak
republik tentulah Monarkhi. Selanjutnya menjelaskan negara sebagai bentuk genus sedangkan
Monarkhi dan republik sebagai bentuk speciesnya.
Perbedaan dalam kedua bentuk Monarkhi dan republik (Jellinek, dalam bukunya Allgemene
staatslehre) didasarkan atas perbedaan proses terjadinya pembentukan kemauan negara itu
terdapat dua kemungkinan:
1. Apabila cara terjadinya pembentukan kemauan negara secara psikologis atau secara
alamiah, yang terjadi dalam jiwa/badan seseorang dan nampak sebagai kemauan
seseorang/individu maka bentuk negaranya adalah Monarkhi.
2. Apabila cara proses terjadinya pembentukan negara secara yuridis, secara sengaja dibuat
menurut kemauan orang banyak sehingga kemauan itu nampak sebagai kemauan suatu
dewan maka bentuk negaranya adalah republik.
Bentuk Negara pada Zaman Yunani Kuno
Menurut Plato terdapat lima macam bentuk negara yang sesuai dengan sifat tertentu dan jiwa
manusia, yaitu sebagai berikut.
1. Aristokrasi yang berada di puncak. Aristokrasi adalah pemerintahan oleh aristokrat
(cendikiawan) sesuai dengan pikiran keadilan. Keburukan mengubah aristokrasi menjadi:
2. Timokrasi, yaitu pemerintahan oleh orang-orang yang ingin mencapai kemasyhuran dan
kehormatan. Timokarsi ini berubah menjadi:
3. Oligarkhi, yaitu pemerintahan oleh para (golongan) hartawan. Keadaan ini melahirkan
milik partikulir maka orang-orang miskin pun bersatulah melawan kaum hartawan dan
lahirlah:
4. Demokrasi, yaitu pemerintahan oleh rakyat miskin (jelata). Oleh karena salah
mempergunakannya maka keadaan ini berakhir dengan kekacauan atau anarkhi.
5. Tirani, yaitu pemerintahan oleh seorang penguasa yang bertindak dengan sewenangwenang.
Menurut Aristoteles terdapat tiga macam bentuk negara yang dibaginya menurut bentuk yang
ideal dan bentuk pemerosotan, yaitu sebagai berikut.
1. Bentuk ideal Monarkhi bentuk pemerosatan Tirani/Diktator.
2. Bentuk ideal Aristokrasi bentuk pemrosotanya Oligarkhi/Plutokrasi.

13

3. Bentuk ideal Politea bentuk pemerosotannya Demokrasi.


Bentuk Negara pada Zaman Pertengahan
Pengertian lain dari bentuk negara dikemukakan oleh beberapa sarjana sejak akhir zaman
pertengahan yang hingga saat ini masih diakui oleh banyak sarjana-sarjana yang berpaham
modern.
Pengertian yang dimaksud adalah bentuk negara kerajaan atau Republik. Pengertian ini diajarkan
oleh Machiavelli yang menyebutkan bahwa negara itu kalau bukan Republik (Republica), tetapi
Kerajaan.
Bentuk Negara pada Zaman Sekarang
Tiga aliran yang didasarkan pada bentuk negara yang sebenarnya, yaitu sebagai berikut.
1. Paham yang menggabungkan persoalan bentuk negara dengan bentuk pemerintahan.
2. Paham yang membahas bentuk negara itu, atas dua golongan, yaitu demokrasi atau
diktaktor.
3. Paham yang mencoba memecahkan bentuk negara dengan ukuran-ukuran/ketentuan yang
sudah ada.
Pendapat yang menggabungkan bentuk negara (staatvorm) dengan bentuk Pemerintahan
(regeringvorm) terdiri dari berikut ini.
1. Bentuk pemerintahan di mana terdapat hubungan yang erat antara badan eksekutif dan
badan legislatif.
2. Bentuk pemerintahan di mana terdapat pemisahan yang tegas antara badan eksekutif,
legislatif dan yudikatif.
3. Bentuk pemerintahan di mana terdapat pengaruh/pengawasan yang langsung dari rakyat
terhadap badan legislatif.
Kegiatan Belajar 2: Sistem Pemerintahan
Rangkuman
Sistem pemerintahan terdiri dari dua suku kata, yaitu "sistem" dan "pemerintahan". Kata "sistem"
berarti menunjuk pada hubungan antara pelbagai lembaga negara sedemikian rupa sehingga
merupakan suatu kesatuan yang bulat dalam menjalankan mekanisme kenegaraan. Dalam praktik
penyelenggaraan suatu negara jika kita tinjau dari segi pembagian kekuasaan negara bahwa
organisasi pemerintahan negara itu bersusun, bertingkat dan terdiri atas berbagai macam alat
14

perlengkapan (organ) yang berbeda satu sama lain berdasar tugas dan fungsi masing-masing
(pembagian secara horizontal) maupun dalam satu bagian dibagi menjadi organ yang lebih tinggi
dan rendah (pembagian secara vertikal).
Perbedaan Monarkhi dan Republik lebih jelasnya dapat dibedakan sebagai berikut.
1. Kerajaan atau Monarkhi, ialah negara yang dikepali oleh seorang Raja dan bersifat turuntemurun dan menjabat untuk seumur hidup. Selain Raja, kepala negara suatu Monarkhi
dapat berupa Kaisar atau Syah (kaisar Kerajaan Jepang, Syah Iran dan sebagainya).
(Contoh Monarkhi Inggris, Belanda, Norwegia, Swedia, Muang Thai).
2. Republik: (berasal dari bahasa Latin: Res Publica = kepentingan umum), ialah negara
dengan pemerintahan rakyat yang dikepalai oleh Seorang Presiden sebagai Kepala Negara
yang dipilih dari dan oleh rakyat untuk suatu masa jabatan tertentu (Amerika Serikat 4
tahun Indonesia 5 tahun). Biasanya Presiden dapat dipilih kembali setelah habis masa
jabatannya.
3.
Beberapa sistem Monarkhi, yaitu sebagai berikut.
1. Monarkhi Mutlak (absolut): Seluruh kekuasaan dan wewenang tidak terbatas (kekuasaan
mutlak). Perintah raja merupakan undang-undang yang harus dilaksanakan. Kehendak
raja adalah kehendak rakyat. Terkenal ucapan Louias ke-XIV dari Prancis: L'Etat cest moi
(Negara adalah saya).
2. Monarkhi konstitusional ialah Monarkhi, di mana kekuasaan raja itu dibatasi oleh suatu
Konstitusi (UUD). Raja tidak boleh berbuat sesuatu yang bertentangan dengan konstitusi
dan segala perbuatannya harus berdasarkan dan sesuai dengan isi konstitusi.
3. Monarkhi parlementer ialah suatu Monarkhi, di mana terdapat suatu Parlemen (DPR),
terhadap dewan di mana para Menteri, baik perseorangan maupun secara keseluruhan
bertanggung jawab sepenuhnya.
Dalam sistem parlementer, raja selaku kepala negara itu merupakan lambang kesatuan negara,
yang tidak dapat diganggu gugat, tidak dapat dipertanggungjawabkan (The King can do no
wrong), yang bertanggung jawab atas kebijaksanaan pemerintah adalah Menteri baik bersamasama untuk seluruhnya maupun seseorang untuk bidangnya sendiri (sistem pertanggungjawaban
menteri: tanggung jawab politik, pidana dan keuangan).
Seperti halnya dengan Monarkhi maka Republik itupun mempunyai sistem-sistem:
1. Republik mutlak (absolut),

15

2. Republik Konstitusional,
3. Republik Parlementer.
Ke dalam pengertian bentuk pemerintah termasuk juga diktatur. Diktatur adalah negara yang
diperintah oleh seorang diktator dengan kekuasaan mutlak. Diktator memperoleh kekuasaan yang
tak terbatas itu bukan karena hak turun-temurun (raja) melainkan karena revolusi yang
dipimpinnya. Ia memerintah selama ia dapat mempertahankan dirinya.
Inggris yang merupakan Negara Kesatuan (Unitary State) dan juga Kerajaan (United Kingdom)
ini tampak bahwa jabatan Perdana Menteri sangat kuat, sekarang bagaimanakah kedudukan
Parlemen. Parlemen terdiri dari dua kamar (bicameral), yaitu sebagai berikut.
1. House of Commons (diketuai Perdana Menteri).
2. House of Lord (merupakan warisan).
Saat ini partai-partai yang memperebutkan kekuatan di Parlemen adalah Partai Konservatif dan
Partai Buruh (yang berasal dari paham liberalisme kemudian berubah menjadi paham sosialisme).
Kedudukan Parlemen dikatakan kuat karena selain diisi oleh orang-orang dari partai yang
menang dalam Pemilihan Umum, bukankah PM berasal dari kalangan mereka yang memerintah
selama kekuasaan masih diberikan padanya. Namun, begitu oposisi dibiarkan subur bertambah
hingga demokrasi dapat berjalan lancar. Cara seperti ini banyak dicontoh negara-negara lain
terutama bekas jajahannya. Cara atau sistem pemerintahan yang memperlihatkan bahwa
kedaulatan berada di tangan rakyat (Parliament Sovereignty) ini membuat Inggris dikenal sebagai
Induknya Parlemen (Mother of Parliament).
Dalam hal Pemerintahan Daerah, bukan Inggris yang mencontoh Amerika Serikat, tetapi Amerika
Serikatlah yang meniru Inggris, yaitu sampai pada tingkat tertentu didesentralisasikan, dengan
kekuasaan di tangan Council yang dipilih oleh rakyat di daerah masing-masing. Inggris adalah
negara penjajah nomor satu di dunia, yaitu jauh di atas Portugis, Spanyol, Belanda dan Perancis.
Bahkan separuh dunia ini pernah dijajah oleh Inggris. Mengapa Inggris harus menjajah? Berbagai
alasan penyebabnya, di antaranya karena alasan ekonomi, politik, sosial budaya.
Dalam proses perjalanan kepartaian di Amerika Serikat sudah menjadi kebiasaan bahwa:
1. Partai yang kalah dalam pemilu harus segera menyusun program lanjutan dan berusaha
mendapatkan dukungan pressure group.
2. Tiap-tiap partai politik meningkatkan kepercayaan masyarakat, atas dasar kepribadian
masing-masing partai.
3. Menanamkan kepercayaan kepada masyarakat bahwa tujuan partai politik adalah untuk

16

kesejahteraan umum.
4. Meng-sinkronnisasi-kan kepentingan-kepentingan yang bertentangan.
5. Merupakan golongan profesional sebagai pembuat undang-undang.
Dalam pemisahan kekuasaan berusaha untuk betul-betul seperti kehendak Montesquieu, yaitu
dengan tegas dipisahkan antara badan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Sehingga menjadi
"check and balance" yang betul-betul sempurna antara lembaga-lembaga kekuasaan tersebut
(cheking power with power).
Legislatif di Amerika Serikat adalah becameral (dua kamar), yaitu sebagai berikut.
1) Senate
Yaitu sama jumlah wakil (senator) dalam setiap negara bagian, yaitu dua orang senator.
2) House of Representative
Yaitu tergantung jumlah penduduk pada negara-negara bagian, 30.000 orang mempunyai 1
wakil, tetapi batas seluruhnya harus 435 orang (peraturan sejak 1910).
Ada dua macam kabinet ekstra parlementer dalam sejarah ketatanegaraan Belanda dan Indonesia.
1. Zaken kabinet, yaitu suatu kabinet yang mengikat diri untuk menyelenggarakan suatu
program yang terbatas.
2. National Kabinet (Kabinet Nasional), yaitu suatu kabinet yang menteri-menterinya
diambil dari berbagai golongan masyarakat. Kabinet macam ini biasanya dibentuk dalam
keadaan krisis di mana komposisi kabinet diharap mencerminkan persatuan nasional.
Daftar Pustaka

C.S.T Kansil dan Christine. (2001). Ilmu Negara. Jakarta: Pradnya Paramita.

C.S.T. Kansil. (1987). Hukum Antar Tata Pemerintahan (Comparative Government).


Jakarta: Erlangga.

Ibrahim R.dkk. (1995). Sistem Pemerintahan Parlementer dan Presidesial. Jakarta:


Grafindo Persada.

Inu Kencana Syafiie. (1994). Ilmu Pemerintahan. Bandung: Mandar Maju.

Kusnardi dan Bintan Saragih. (1993). Ilmu Negara. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Kranenburg dan B. Sabarroedin. (1981). Ilmu Negara Umum. Jakarta: Pradnya Paramita.

17

Miriam Budiardjo. (1977). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.

MODUL 5: Lembaga Perwakilan Rakyat


Kegiatan Belajar 1:Sifat dan Fungsi Lembaga Perwakilan
Rangkuman
1. Apabila seseorang duduk dalam Lembaga Perwakilan melalui pemilihan umum maka sifat
perwakilannya disebut perwakilan politik (political representation). Apa pun fungsinya dalam
masyarakat, kalau yang bersangkutan akhirnya menjadi anggota Lembaga Perwakilan melalui
pemilihan umum tetap disebut perwakilan politik. Umumnya perwakilannya adalah orang
populer karena reputasi politiknya, tetapi belum tentu menguasai bidang-bidang teknis
pemerintahan, perekonomian. Sedang para ahli sudah memilih melalui perwakilan politik, apalagi
dengan sistem pemilihan distrik.
2. Di Negara-negara maju, pemilihan umum tetap merupakan cara yang terbaik untuk menyusun
keanggotaan Parlemen dan membentuk pemerintah. Lain halnya pada beberapa negara sedang
berkembang, menganggap bahwa perlu mengangkat orang-orang tertentu dalam Lembaga
Perwakilan di samping melalui pemilihan umum.
3. Pengangkatan orang-orang tersebut di Lembaga. Perwakilan biasanya didasarkan pada
fungsi/jabatan atau keahlian orang tersebut dalam masyarakat dan perwakilannya disebut
perwakilan fungsional (functional or occupational representation). Walaupun seseorang anggota
Partai Politik, misalnya dari Partai A, tetapi dia seorang ahli atau tokoh fungsional, misalnya
buruh, kalau ia duduk dalam Lembaga Perwakilan berdasarkan pengangkatan di tetap disebut
golongan fungsional. Tidak termasuk dalam kategori ini suatu Parlemen dari suatu negara yang
terbentuk berdasarkan seluruh pengangkatan karena hasil dari suatu perebutan kekuasaan atau
penguasa yang lama membubarkan Parlemen hasil Pemilu dan membentuk Parlemen baru
menurut penunjukannya.
4. Sering para ahli menyebutkan kadar demokrasi yang dianut oleh suatu negara banyak
ditentukan oleh pembentukan Parlemennya, apakah melalui pemilihan umum atau pengangkatan
atau gabungan pemilihan atau pengangkatan. Makin dominan perwakilan hasil pemilu makin
tinggi demokrasinya dan sebaliknya makin dominan pengangkatan makin rendah kadar
demokrasi yang dianut oleh negara tersebut. Akan tetapi, seperti diuraikan dalam bab demokrasi,
susah mencari dan menilai demokrasi yang sama di dua Negara di dunia.
Kegiatan Belajar 2:Partai Politik
Rangkuman
1. Partai politik pertama-tama lahir di negara-negara Eropa Barat. Dengan meluasnya gagasan
18

bahwa rakyat merupakan faktor yang perlu diperhitungkan serta diikutsertakan dalam proses
politik maka partai politik telah lahir secara spontan dan berkembang menjadi penghubung antara
rakyat di satu pihak dan pemerintah di pihak lain.
2. Ada beberapa pendapat mengenai pengertian partai politik, seperti dikemukakan oleh Mac Iver,
R.H. Soltan, dan Sigmund Newman. Akan tetapi, secara umum dapat dikatakan bahwa partai
politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi,
nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Adapun tujuan kelompok ini adalah untuk memperoleh
kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik, biasanya dengan cara konstitusionil untuk
melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka.
3. Klasifikasi partai dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu sebagai berikut.
1. Dilihat dari segi jumlah dan fungsi anggotanya, terdiri dari berikut ini.
1. Partai massa, yaitu partai yang mengutamakan kekuatan berdasarkan keunggulan
jumlah anggota.
2. Partai kader, yaitu partai yang mementingkan loyalitas dan kedisiplinan anggotaanggotanya.
2. Dilihat dari segi sifat dan orientasinya, terdiri dari berikut ini.
1. Partai lindungan, yaitu partai yang lebih mementingkan dukungan dan kesetiaan
anggotanya terutama dalam pemilu.
2. Partai asas atau ideologi, yaitu partai yang program-programnya atas dasar
ideologi tertentu.
4. Sistem kepartaian dapat dibedakan menjadi berikut ini.
a Sistem satu partai
Isilah sistem satu partai ini dipakai untuk partai yang benar-benar merupakan satu-satunya
partai dalam suatu negara maupun untuk partai yang mempunyai kedudukan dominan di
antara beberapa partai lainnya.
b Sistem dwi partai
Pengertian sistem dwi partai biasanya diartikan adanya dua partai atau adanya beberapa
partai, tetapi dengan peranan dominan dari dua partai.
c Sistem multipartai.
Pola multipartai dianggap lebih mencerminkan keanekaragaman budaya dan politik daripada
pola dwi partai.
5. Fungsi partai politik ada bermacam-macam, yaitu sebagai berikut.

19

1. Sarana komunikasi politik.


2. Sarana sosialisasi politik.
3. Sarana rekrutmen politik.
4. Sarana pengatur konflik.
Kegiatan Belajar 3: Lembaga Perwakilan di Indonesia
Rangkuman
1. Perkembangan Badan Legislatif yang pernah ada dan berlaku di Indonesia; Volksraad berlaku
1918-1942; Komite Nasional Indonesia berlaku: 1945-1949, DPR dan Senat Republik Indonesia
Serikat berlaku 19491950; DPR Sementara berlaku: 1950-1956; DPR hasil pemilihan umum
1955 berlaku 1956-1959, DPR peralihan berlaku 1959-1960; DPR Gotong-Royong Demokrasi
Terpimpin berlaku 1960-1966; DPR Gotong-Royong Demokrasi Pancasila berlaku 1966-1971
dan DPR (hasil pemilu 1971).
Real Parliamentary Control dapat dilakukan melalui 3 cara: Control of Executive, Control of
Expendditure, dan Control of Taxation by Parliament. Selain itu DPR dalam susunan dan
kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dart UU No.
2/1985 yang telah disempurnakan dalam UU No. 4/1999 pada Pasal 33 ayat (3) DPR untuk
melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana yang dimaksud ayat (2), DPR mempunyai hak:

meminta keterangan kepada Presiden,


mengadakan penyelidikan,
mengadakan perubahan atas rancangan undang-undang,
mengajukan pernyataan pendapat,
mengajukan rancangan undang-undang,
mengajukan pernyataan pendapat,
mengajukan/menganjurkan seseorang untuk jabatan tertentu jika ditentukan oleh suatu
peraturan perundang-undangan,
menentukan anggaran DPR.

3. Selanjutnya Lembaga Perwakilan lebih lanjut diatur dalam UUD 1945 diatur dalam pasal-pasal
tersendiri, namun fungsi, peran, dan kedudukan DPR melalui UUD 1945 telah dilakukan
beberapa perubahan dan penyempurnaan meliputi empat tahap (amandemen). Secara umum
perubahan dan penyempurnaan tersebut lebih mengedepankan peranan fungsi Dewan Perwakilan
Rakyat.
Daftar Pustaka

20

Budiarjo, M. (1995). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.

Budiardjo M. (1977). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.

Budiyanto. (2000). Dasar-dasar Ilmu Tata Negara untuk SMU. Jakarta: Erlangga.

Busroh, A.D. (1990). Ilmu Negara. Jakarta: Bumi Aksara.

Ibrahim R.dkk. (1995). Sistem Pemerintahan Parlementer dan Presidesial. Jakarta:


Grafindo Persada.

I Syafie IK. (1994). Ilmu Pemerintahan. Bandung: Mandar Maju.

Kansil CST. (1987). Hukum AntarTata Pemerintahan (Comparative Government). Jakarta:


Erlangga.

Kansil, CST. (2001). Ilmu Negara (Umum dan Indonesia). Jakarta: Pradnya Paramita.

Kansil dan CST Christine. (2001). Ilmu Negara. Jakarta: Pradnya Paramita.

Krannenburg, R. (1998). Ilmu Negara Umum. Jakarta: Pradnya paramita.

Kusnardi dan Saragih B. (1993). Ilmu Negara. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Kusnardi, M. dan Saragih B. (1998). Ilmu Negara. Jakarta: Mega Media Pratama.

Lubis M.S. (1998). Ilmu Negara. Bandung: Penerbit Alumni.

Saragih, B.S. (1993). Ilmu Negara. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Soehino. (1998). Ilmu Negara. Yogyakarta: Liberty.

Thaib D. (1994). DPR dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Yogyakarta: Liberty.

__________. (1993). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

__________. (1999). Undang-undang Parpol Dan Pemilu. Jakarta: Panca Usaha.

MODUL 6: Pembentukan Pemerintahan Indonesia

21

Kegiatan Belajar 1: Inti Proklamasi Kemerdekaan


Rangkuman
Masa sidang pertama BPUPKI berlangsung mulai tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945.
Dalam masa sidang ini lebih banyak dibahas tentang rancangan dasar negara. Usulan tentang
dasar negara telah diajukan oleh Mr. Muh. Yamin, Mr. Soepomo, dan Ir. Soekarno. Setelah
menampung berbagai usulan dan melalui modus kompomi, BPUPKI berhasil menyepakati
nasakah Piagam Jakarta, yang pada hakikatnya adalah naskah rancangan Pembukaan UUD.
Masa sidang ke dua berlangsung tanggal 10-17 Juli 1945. Dalam masa sidang ini dibentuk tiga
panitia, yaitu Panitia Perancang Hukum Dasar, Panitia Pembelaan Tanah Air, dan Panitia
Perekonomian dan Keuangan. Dari tiga panitia tersebut, kegiatan lebih banyak digunakan untuk
membahas rancangan Hukum Dasar, di samping batang tubuh, juga masih membahas
pembukaan.
Berita tentang penyerahan tanpa syarat Jepang mendorong para semangat para pemuda untuk
mempercepat kemerdekaan. Timbul ketegangan antara Soekarno-Hatta dengan para pemuda
dalam beberapa hal menjelang proklamasi. Setelah ketegangan dapat diatasi, naskah proklamasi
berhasil disusun pada dini hari tanggal 17 Agustus 1945 di kediaman Laksamana Maeda.
Akhirnya, kemerdekaan diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta atas
nama bangsa Indonesia.
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 mempunyai makna sebagai puncak perjuangan
mencapai kemerdekaan, pernyataan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, penjebolan
sistem hukum kolonial dan pembangunan hukum nasional, serta sumber hukum bagi
terbentuknya negara Republik Indonesia.
Kegiatan Belajar 2: Lahirnya Pemerintah Indonesia
Rangkuman
Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 telah memutuskan (i) mengesahkan UUD 1945, meliputi
Pembukaan dan Batang Tubuh, (ii) memilih Presiden dan Wakil Presiden, dan (iii) menetapkan
bahwa untuk sementara waktu Presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional. Perubahan
final berbagai materi rancangan Pembukaan dan Batang Tubuh yang dihasilkan oleh BPUPKI
dilakukan secara dalam sidang PPKI tersebut. Dengan mengacu pada Aturan Peralihan Pasal III
UUD 1945, PPKI berhasil memilih Presiden dan Wakil Presiden secara aklamasi.
Sidang hari kedua PPKI tanggal 19 Agustus 1945 memutuskan pembentukan 12 kementerian dan
8 provinsi. Pembentukan kabinet yang pertama, pengangkatan delapan orang Gubernur, dan
pengangkatan beberapa orang pejabat tinggi negara dilaksanakan pada tanggal 2 September 1945.
Dengan pengangkatan pejabat-pejabat tersebut maka diharapkan pemerintahan di pusat maupun
daerah dapat berjalan.

22

Kegiatan Belajar 3: Kekuasaan Pemerintahan Negara Indonesia Menurut UUD 1945


Rangkuman
Negara merupakan organisasi kekuasaan politik yang mengatur hampir setiap segi kehidupan
warganya. Negara meewujudkan kekuasaannya melalui berbagai instrumen peraturan, yang
bersifat mengikat dan memaksa. Meskipun kekuasaan negara sangat luas, akan tetapi perlu
adanya batas-batas kekuasaan negara. Batas-batas itu juga diperlukan agar tidak terjadi
kesewenang-wenangan negara terhadap rakyatnya. Untuk itulah diperlukan konstitusi, yang berisi
pembatasan kekuasaan negara dan perlindungan terhadap hak-hak asasi warga negara.
Mengingat luasnya kekuasaan negara, maka perlu adanya sistem pemisahan kekuasaan. Hal itu
agar tidak terjadi pemusatan kekuasaan di satu tangan.
Menurut Montesquieu, kekuasaan negara harus dipisahkan menjadi tiga macam fungsi
kekuasaan, meliputi kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Kekuasaan pemerintahan
negara dalam arti luas meliputi ketiga macam kekuasaan itu. Dalam arti sempit, kekuasaan
pemerintahan berarti kekuasaan eksekutif.
Pemegang kekuasaan legislatif atau kekuasan untuk membuat undang-undang menurut UUD
1945 melibatkan Presiden dan DPR. Setelah dilakukan amanden terhadap UUD 1945, terjadi
pergeseran peranan dalam pembuatan undang-undang. Sebelumnya, Presiden memegang
kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR. Setelah amandemen, DPR
memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Rancangan undang-undang dibahas oleh DPR
dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama.
Pemegang kekuasaan eksekutif atau kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang menurut
UUD 1945 berada di tangan Presiden. Inilah pengertian kekuasaan pemerintahan dalam arti
sempit. Presiden adalah kepala pemerintahan, yang dalam tugasnya dibantu oleh menteri-menteri.
Presiden bersama para menteri disebut kabinet.
Pemegang kekuasaan yudikatif atau kekuasaan untuk mempertahankan undang-undang berada di
tangan Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan peradilan meliputi
peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah
Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga peradilan baru yang dibentuk
sebagai hasil amandemen ketiga terhadap UUD 1945.
Daftar Pustaka

Alfian. (1990). Pembangunan Politik Di Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.

Budiharjo, Meriam. (1987). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.

Isdmaun. (1972). Pancaila Dasar Filsafat Negara Republik Indonesia. Bandung: CV.
Remaja.

23

Joeniarto. (1993). Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia. Yogyakarta: Liberty.

Kaelan. (1998). Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan. Yogyakarta: Paradigma.

Kartodirdjo dkk, Sartono. (1976). Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lembaga Soekarno-Hatta. (1986). Sejarah Lahirnya UUD 1945 dan Pancasila. Jakarta:
Inti Idayu Press.

Moerdiono, dkk. (1995). Cita Negara Persatuan Indonesia. Penyunting Soeprapto, dkk.
Jakarta: Inti Idayu Press.

Notonagoro. (1955). Pancasila Dasar Falsafah Negara. Jakarta: CV. Pantjuran Tujuh.

Notosusanto, Nugroho. (1981). Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara. Jakarta: Balai
Pustaka.

Pranarka, A.M.W. (1985). Sejarah Pemikiran Pancasila. Jakarta: CSIS.

Roestandi, Achmad. (1988). Pendidikan Pancasila. Bandung: Armico.

Soemantri, Sri. (1986). Tentang Lembaga-lembaga Negara Menurut UUD 1945. Bandung:
Alumni

Yamin, Muhammad. (1959). Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945. Jakarta:


Parapantja.

Anonim. (2002). Persandingan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun


1945. Jakarta: Lembaga Informasi Nasional Republik Indonesia.

24