Anda di halaman 1dari 6

Nama : M Rizka Putra B

NPM : 140310120009
Schrodinger
Persamaan Schrodinger 1 Dimensi

Tugas 3 Simulasi Kuantum

Telah dijelaskan sebelumnya dalam Fisika Kuantum bahwa Persamaan Schrodinger


menyatakan hubungan antara kecepatan, partikel dalam sebuah fungsi gelombang partikel.
Seperti yang dijelaskan dalam persamaan berikut :

Penyelesaian untuk mendapatkan solusi dari persamaan tersebut digunakan dua


metoda penghitungan yaitu metoda Finite Difference dan metoda Matrix.
1. Finite Difference Method
Untuk menentukan kemungkinan menemukan partikel pada suatu sumur potensial,
digunakan persamaan :

Persamaan Schrodinger merepresentasikan elektron yang diartikan sebagai


gelombang dalam bentuk persamaan differensial yang mana terdapat variabel ruang dan
waktu. Bentuk klasik dari persamaan gelombang 1 dimensi menggunakan hubungan de
Broglie :

Dengan menggunakan kombinasi dari persamaan diatas, di dapat persamaan baru :

Persamaan diatas merupakan persamaan schrodinger 1 dimensional timeindependent. Dan didapatkan bentuk schrodinger dengan menggunakan finite difference
method :

Dengan menggunakan pembanding energy, didapatkan ketika E > U(x) maka nilai k(x)
merupakan real, sehingga bentuk

(x)

berbentuk sinusoidal dalam sumur dan ketika E <

U(x)
maka nilai k(x) merupakan imajiner, sehingga bentuk ( x ) eksponensial naik atau turun.

Nama : M Rizka Putra B


NPM : 140310120009
Schrodinger

Tugas 3 Simulasi Kuantum

Ketika persamaan gelombang =0 dan terdapat nilai E maka kita dapat menyelesaikan
persamaan schrodinger. Nilai E akan bertambah dan berkurang sampai mengenai syarat
batas,dengan fungsi geombang maksimalnya mendekati 0. Ketika kondisi x=x(max)
fungsi gelombang akan berkurang secara eksponensial. Berikut ilustrasinya :

Matrix Method

Turunan kedua dari psi dapat digambarkan dalam bentuk matriks 4x4 (n=6).

Nama : M Rizka Putra B


NPM : 140310120009

Tugas 3 Simulasi Kuantum Schrodinger

Simulasi :
a. Listing Program
tc
close
all
clear
all clc
%
==========================================
%Ev
');

input('Enter

Ev = -296.6;
-21; Uv = -200;
[eV]

the

energy

in

% depth of potential well


% number of x values

%
=======================================

me = 9.109e-31;
kg

eV

-373.84 -296.63 -173.5


% depth of potential well

L = 1e-10;
[m] N = 1000;

hbar = 1.055e-34;
e = 1.602e-19;

INPUTS

CONSTANTS

%J.s
% C
%

%
SETUP
==============================

CALCULATIONS

% x coodinates
x_min= -1*L;
x_max= -x_min;
x= linspace(x_min,x_max,N);
dx = x(2)-x(1);
U0 = e * Uv;
E = e* Ev;

% potential well depth[J]


% total energy [J]

U = zeros(1,N);
psi = zeros(1,N);

% initial condition

psi(2) = 1;
% FDM =============================================
for n = 2:N-1

Nama : M Rizka Putra B


NPM : 140310120009

Tugas 3 Simulasi Kuantum Schrodinger

if abs(x(n)) < L/2, U(n) = U0; end;


SEconst = (2*me/hbar^2).*(E - U(n)).* dx^2;
psi(n+1) = (2 - SEconst) * psi(n) - psi(n-1);
end

% normalize wavefunction
A = simpson1d(psi.*psi,x_min,x_max);
psi = psi ./sqrt(A);
% No. of crossings
cross = 0;
for c = 2 : N
if psi(c-1)*psi(c) < 0, cross = cross + 1; end
end
% GRAPHICS ========================================
figure(1) set(gca,'fontsize',12);
plot(x*1e9,U/e,'r','lineWidth',3)
xlabel('position

(nm)')

ylabel('potential energy U (eV)');


figure(2)
set(gcf,'color',[1 1 1]);
plot(x,psi,'lineWidth',3)
hold on
plot([x_min x_max],[0 0],'k');
plot([x_min/2 x_min/2],[-1.2*max(psi) max(psi)],'r','lineWidth',2);
plot([x_max/2 x_max/2],[-1.2*max(psi) max(psi)],'r','lineWidth',2);
plot([x_min x_min/2],[max(psi) max(psi)],'r','lineWidth',2);
plot([x_max/2 x_max],[max(psi) max(psi)],'r','lineWidth',2);
plot([x_min/2 x_max/2],[-1.2*max(psi) -1.2*max(psi)],'r','lineWidth',2);
axis off
cross
psi(end)
toc

b. Tampilan

Simulasi dari persamaan Schrodinger dilakukan dengan melibatkan dua metoda yaitu
metoda Matrix Method sebagai bagian pembentuk sumur potensial, sementara Finite
Difference Method digunakan untuk menghasilkan simulasi dari gerakan electron sebagai
fungsi gelombang dalam sumur potensial. Dari tampilan diatas terlihat keadaan yang
bervariasi dari energi dan potensial-nya. Apabila semakin besar tingkatan energinya maka
akan semakin banyak osilasi dari partikelnya. Sementara apabila energinya lebih kecil
daripada kecepatannya maka osilasi akan teredam.

Referensi
Cooper, I. (n.d.). Quantum Mechanics Schrodinger Equation Time Independent Bound
States. Sydney: University if Sydney.