Anda di halaman 1dari 26

TUGAS MATA ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN

DISUSUN OLEH

I WAYAN DARSANA

(1520025013)

HARI ADITYA RAHARJA

(1520025025)

I PUTU YOGA KUSUMA WIDNYANA

(1520025045)

GUSTI NYOMAN TRI MAHA PUTRA

(1520025049)

VIKY YUDI ALVIAN

(1520025051)

M. FAKHRURROZI

(1520025066)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Manusia

memerlukan

nutrisi

dalam

proses

pertumbuhan

dan

perkembangannya. Secara umum, nutrisi diperoleh manusia dari makanan dan


minuman yang dikonsumsi. Namun, sebagian besar kandungan nutrisi yang
terdapat dalam makanan dan minuman tidak dapat digunakan secara
langsung oleh tubuh manusia. Tubuh manusia memiliki sebuah sistem yang
dapat mengubah kandungan zat gizi pada makanan/minuman menjadi
senyawa kimia yang siap digunakan oleh tubuh manusia. Sistem tersebut
adalah sistem pencernaan.
Sistem pencernaan merupakan salah satu sistem penyusun makhluk
hidup. Sistem pencernaan memegang peranan penting dalam penyediaan
nutrisi

bagi

tubuh.

Sistem

pencernaan

bekerja

dengan

mencerna

makanan/minuman yang dikonsumsi untuk mendapatkan nutrisi yang siap


digunakan oleh tubuh. Proses pencernaan pada manusia dimulai dari mulut
dan berakhir di rektum. Sepanjang perjalanan dari mulut hingga rektum,
makanan/minuman

melewati

organ-organ

pencernaan

lainnya

seperti

kerongkongan, lambung, usus halus, dan usus besar. Struktur dan fungsi organ
pencernaan yang dilewati makanan/minuman akan menentukan bagaimana
makanan/minuman tersebut dicerna.
Mengingat pentingnya peran sistem pencernaan tersebut, maka
penulis tertarik untuk membahas struktur dan fungsi sistem pencernaan tubuh
manusia secara lebih mendalam. Selain itu, pembahasan lain yang akan
dimuat

dalam

pencernaan

makalah

dan

ini

aplikasi

antara

sistem

lain

penyakit/kelainan

pencernaan

dalam

pada

praktik

sistem

kesehatan

masyarakat serta kaitannya dengan cabang ilmu kesehatan masyarakat


lainnya.
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana struktur dan fungsi organ penyusun sistem pencernaan
manusia?
1.2.2 Apa saja penyakit/kelainan pada sistem pencernaan dan cara
pencegahannya?
1.2.3 Bagaimana penerapan sistem pencernaan dalam praktik kesehatan
masyarakat

serta

kaitannya

dengan

cabang

ilmu

kesehatan

masyarakat lainnya?
2

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui struktur dan fungsi organ penyusun sistem pencernaan
manusia.
1.3.2 Mengetahui penyakit/kelainan pada sistem pencernaan dan cara
pencegahannya.
1.3.3 Mengetahui penerapan sistem pencernaan dalam praktik kesehatan
masyarakat serta kaitannya dengan cabang ilmu kesehatan
masyarakat lainnya.
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Mahasiswa

Menambah

pencernaan manusia.
Dapat membantu menerapkan konsep-konsep sistem pencernaan

wawasan

dan

pengetahuan

mengenai

sistem

manusia dalam praktik kesehatan masyarakat.


1.4.2 Bagi Masyarakat

Memberikan

informasi

lebih

mendalam

mengenai

sistem

pencernaan beserta pencegahan penyakit yang berkaitan dengan

sistem pencernnaan.
Membantu
meningkatkan

kesehatan

masyarakat

melalui

penerapan konsep sistem pencernaan dalam praktik kesehatan


masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Struktur dan Fungsi Organ Penyusun Sistem Pencernaan
2.1.1 Rongga Mulut
Rongga mulut adalah sebuah ruangan yang dikelilingi oleh jaringan
lunak dan keras khususnya bibir, pipi, lidah, palatum (langit-langit mulut), dan
gigi (Shaker dkk, 2013). Proses pencernaan makanan secara fisik dan kimiawi
dimulai dalam rongga mulut (Campbell dkk, 2004). Selain sebagai salah satu
organ dalam sistem pencernaan, rongga mulut juga berperan dalam proses
bicara dan pernafasan.
Tahap awal proses pencernaan yang terjadi pada rongga mulut adalah
mastikasi (pengunyahan) dan penelanan. Mastikasi dikendalikan oleh sistem
saraf pusat dan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal
yang mempengaruhi adalah struktur gigi dan produksi saliva (air liur).
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi adalah struktur makanan
yang dikonsumsi. Proses mastikasi merupakan koordinasi dari gerakan rahang,
lidah, palatum lunak, dan tulang hyoid yang membantu melembutkan
makanan yang dikonsumsi sebelum dibentuk menjadi bolus dan ditelan. Proses
mastikasi dibantu oleh saliva (air liur) yang memberikan lubrikasi pada
makanan. Lubrikasi pada makanan berguna untuk memudahkan pembentukan
bolus dan melancarkan proses penelanan (Shaker dkk, 2013).
Fase penelanan (swallowing) merupakan tahap pencernaan yang terjadi
setelah proses mastikasi (pengunyahan). Proses penelanan dibagi menjadi tiga
fase yaitu fase bukal, fase faring, dan fase esofagus (kerongkongan). Fase
bukal terjadi secara sadar di dalam mulut ketika lidah menggerakkan
gumpalan makanan (bolus) ke dalam faring. Fase faring terjadi secara tidak
sadar ketika makanan memasuki faring. Palatum lunak dan uvula tertekuk ke
atas menutup nasofaring untuk mencegah masuknya makanan ke rongga
hidung. Epiglotis menekuk ke bawah sementara laring naik. Akibatnya, lubang
menuju laring (saluran pernafasan) tertutup dan makanan hanya dapat masuk
ke esofagus (saluran pencernaan). Fase esofagus terjadi secara tidak sadar di
dalam esofagus. Otot lingkar esofagus yang biasanya tertutup menjadi terbuka
untuk memungkinkan lewatnya makanan ketika laring naik selama penelanan.
Makanan menuruni esofagus dibantu dengan gerakan peristaltik (meremasremas). Ketika makanan mencapai bagian bawah esofagus, otot lingkar
4

lambung terbuka yang memungkinkan makanan memasuki lambung (Pack,


2007)

Organ Penyusun Rongga Mulut


1. Gigi
Sebuah gigi memiliki struktur mahkota, leher, dan akar. Mahkota gigi
menjulang di atas gusi, lehernya dikelilingi gusi dan akarnya berada di
bawahnya. Gigi tersusun dari bahan yang sangat keras yaitu dentin. Dalam
pusat strukturnya terdapat rongga pulpa. Pulpa gigi terdiri dari jaringan ikat,
pembuluh darah, dan serabut saraf. Bagian gigi yang berada di atas gusi
ditutupi oleh lapisan email, yang jauh lebih keras dari dentin (Pearce, 2006).
Gigi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu gigi sementara/sulung/susu
dan gigi tetap. Pada masa anak-anak, terdapat dua puluh gigi sulung. Masingmasing rahang terdapat sepuluh gigi sulung. Susunan gigi sulung dari tengah
ke kedua sisi berturut-turut dinamai 2 insisivus atau gigi seri, 1 kaninus atau
gigi taring, dan 1 molar atau gigi geraham. Gigi tetap memiliki jumlah yang
lebih banyak dari gigi sulung yaitu sebanyak 32 buah. Masing-masing rahang
memiliki 16 buah gigi. Susunan gigi tetap dari tengah ke kedua sisi berturutturut disebut 2 insisivus atau gigi seri, 1 kaninus atau gigi taring, 2 premolar
atau geraham depan, dan 3 molar atau geraham belakang (Pearce, 2006)
Kesehatan gigi dapat dijaga dengan menggosok gigi saat pagi dan saat
malam sebelum tidur setiap hari. Selain itu, kunjungan teratur ke dokter gigi
selama 4 sampai 6 bulan sekali juga sangat penting dalam menjaga kesehatan
gigi.
2. Lidah
Lidah merupakan salah satu organ yang terdapat di rongga mulut. Lidah
terdiri atas otot serta melintang dan dilapisi selaput lendir. Otot lidah dapat
bekerja atau digerakkan ke segala arah. Struktur lidah terbagi menjadi 3
bagian yaitu, pangkal lidah (radiks lingua), punggung lidah (dorsum lingua)
dan ujung lidah (apeks lingua). Lidah mempunyai fungsi mengaduk makanan,
membentuk suara, merasakan makanan, alat pengecap, dan alat bantu proses
menelan (Priyanto dan Lestari, 2008)
3. Kelenjar Ludah
Kelenjar ludah adalah kelenjar yang menghasilkan air liur (saliva). Saliva
juga mengandung enzim ptialin/amilase yang membantu proses pencernaan
karbohidrat. Manusia memiliki tiga kelenjar ludah yaitu kelenjar parotis,
kelenjar submaksilaris, dan kelenjar sublingualis. Kelenjar parotis terletak di
bawah depan dari telinga di antara proseus mastoideus kiri dan kanan os
mandibular. Duktus atau salurannya bernama duktus stensoni yang keluar dari
kelenjar parotis menuju rongga mulut melalui pipi. Kelenjar submaksilaris
terletak di bawah rongga mulut bagian belakang. Duktus atau salurannya
bernama duktus wartoni. Kelenjar sublingualis terletak di bawah selaput lendir
6

dasar rongga mulut dan mengalir di dasar rongga mulut (Priyanto dan Lestari,
2008)

4. Faring
Faring adalah tabung fibromuskular yang melekat pada dasar tengkorak
di atas dan berhubungan dengan esofagus di bagian bawah. Faring terdiri dari
tiga bagian yaitu nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Sebelum makanan
memasuki

esofagus,

makanan

terlebih

dahulu

melewati

orofaring

dan

laringofaring (Gibson, 2002). Faring juga merupakan penghubung antara


rongga hidung, rongga telinga tengah, dan laring (Joshi, 2013).
2.1.2 Esofagus (Kerongkongan)
Esofagus

adalah

tabung

sepanjang

25

cm

yang

dimulai

dari

laringofaring dan turun di belakang trakea melalui mediastinum atau rongga


yang berada di antara paru-paru kiri dan kanan (Pack, 2007). Esofagus terdiri
dari empat lapisan. Empat lapisan tersebut dari dalam ke luar adalah lapisan
selaput lendir (mukosa), lapisan submukosa, lapisan otot melingkar sirkuler,
dan lapisan memanjang longitudinal (Priyanto dan Lestari, 2008).
Esofagus mengalirkan makanan dari faring menuju ke lambung. Gerakan
peristaltik akan mendorong bolus sepanjang esofagus yang sempit. Otot pada
bagian paling atas esofagus adalah otot lurik (otot sadar). Dengan demikian,
tindakan penelanan dimulai secara sadar, tetapi kemudian gelombang
kontraksi tak sadar oleh otot polos pada sisa esofagus selanjutnya akan
menggantikannya. Enzim amilase saliva terus menghidrolisis pati dan glikogen
sementara bolus makanan melewati esofagus (Campbell dkk, 2004)
2.1.3.Lambung
a. Anatomi Lambung
Lambung merupakan organ yang menyerupai ruang berbentuk kantung
mirip huruf J yang berada di bagian bawah diafragma yang terletak di region
epigastric, umbilika;, dan hipokondria kiri pada region abdomen (Tortora dan
Derrickson, 2009). Lambung merupakan organ pencernaan yang bentuknya
melebar yang terletak di antara ujung esophagus dan bagian awal dari usus
halus.
Secara anatomis, lambung memiliki 5 bagian utama, yaitu kardiak,
fundus, badan, antrum, dn pilori. Kardia merupakan daerah kecil yang terletak
pada daerah hubungan gastroesofageal (gastroesophageal junction) dan
terletak sebagai pintu masuk makanan menuju lambung. Fundus merupakan
8

daerah berbentuk kubah yang menonjol ke bagian kiri di atas kardia. Badan
merupakan suatu rongga longitudinal yang berdampingan dengan fundus dan
merupakan bagian terbesar dari lambung. Antrum merupakan bagian lambung
yang menghubungkan badan ke pilorik dan terdiri dari otot yang kuat. Pilorik
adalah suatu struktur tubular yang menghubungkan lambung dengan usus
duabelas jari (duodenum) dan mengandung spinkter pilorik (Schmitz dan
Martin, 2008).
b. Histologi Lambung
DInding lambung tersusun dari 4 lapisan dasar sama halnya dengan
lapisan saluran cerna lainnya secara umum dengan modifikasi tertentu, yaitu
lapisan mukosa, sub mukosa, muskularis eksterna, dan serosa (Schmitz dan
Martin, 2008). Adapun keempat lapisan tersebut yaitu:
1. Lapisan mukosa terdiri atas epitel permukaan, lamina propia,
danmuskularis mukosa. Epitel permukaan yang berlekuk ke dalam
lamina propia dengan kedalaman yang bervariasi yang membentuk
sumur-sumur lambung yang disebut dengan fovela gastrika. Epitel
yang menutupi permukaan dan melapisi lekukan-lekukan tersebut
merupakan epitel selapis, silindris, dan semua selnya mensekresi
mucus alkalis. Lamina propia lambung terdiri atas jaringan ikat
longgar yang disusupi oleh sel otot polos dan sel limfoid (Tortora dan
Derrickson, 2009).
2. Lapisan sub mukosa mengandung jaringan ikat, pembuluh daah,
sistem limfatik, limfosit, sel plasma dan sebagai tambahan terdapat
pleksus sub mukosa (Schmitz dan Martin, 2008).
3. Lapisan muskularis propia terdiri dari tiga lapisan otot, yaitu

inner

oblique, middle circular, outer longitudinal. Pada muskularis propia


terdapat pleksus myenterik (Schmitz dan Martin, 2008). Lapisan oblik
terbatas pada bagian badan dari lambung (Tortora dan Derrickson,
2009).
4. Lapisan serosa adalah lapisan yang tersusun atas epitel selapis
skuasoms (mesotelium) dan jaringan ikat areolar (Tortora dan
Derrickson, 2009). Lapisan serosa adalah lapisan terluar dan
merupakan bagian dari visceral peritoneum (Schmitz dan Martin,
2008).
c. Fisiologi Sekresi Getah Lambung
Sekitar 2 liter getah lambung dihasilkan oleh lambung setiap harinya.
Sel-sel yang bertanggung jawab untuk melakukan fungsi sekresi terletak di
9

lapisan mukosa lambung. Secara umum, mukosa lambung dapat dibagi


menjadi 2 bagian terpisah, yaitu mukosa oksinitik yang melapisi fundus dan
badan lambung, dan daerah kelenjar pilorik yang melapisi bagian antrum. Selsel kelenjar mukosa terdapat di kantung lambung (gastric pits), yaitu suatu
kantung yang terletak pada permukaan luminal lambung. Variasi sel sekretori
yang melapisi kantung ini beberapa diantaranya adalah eksokrin, endokrin,
parakrin (Sherwood, 2010). Terdapat tiga jenis sel tipe eksokrin yang terdapat
di dinding kantung dan kelenjar oksintik mukosa lambung, yaitu: sel mukus
yang melapisi kantung lambung yang menyekresikan mukus yang sifatnya
encer; bagian yang paling dalam dilapisi oleh sel utama dan sel parietal. Sel
utama mensekresikan precursor enzim pepsinogen; sel parietal (oksintik)
mempunyai arti tajam yang mengacu kepada kemampuan sel ini untuk
menghasilkan keadaan yang sangat asam dan dapat menghasilkan HCl.
Semua sekresi eksokrin ini dikeluarkan ke lumen lambung dan membentuk
getah lambung (Sherwood, 2010).
Sel mukus cepat membelah dan memiliki fungsi sebagai sel induk bagi
semua sel baru yang berada di mukosa lambung. Sel-sel anak yang dihasilkan
melalui proses pembelahan sel akan bermigrasi ke luar kantung untuk menjadi
sel epitel permukaan atau berdiferensiasi ke bawah untuk menjadi sel utama
atau sel parietal. Proses ini mengakibatkan seluruh mukosa lambung diganti
setiap tiga hari (Sherwood, 2010).
Kantung-kantung lambung yang berada pada daerah kelenjar pilorik
mengeluarkan mukus dan sedikit pepsinogen. Jenis sel yang berada di daerah
kelenjar pilorik adalah sel parakrin atau endokrin. Sel-sel tersebut adalah sel
enterokromafin yang menghasilkan histamin, sel G yang menghasilkan gastrin,
sel D yang menghasilkan somatostatin. Histamin yang dihasilkan berperan
sebagai stimulus untuk sekresi asetilokolin dan gastrin. Sel G yang dihasilkan
berperan sebagai stimulus sekresi produk protein dan sekresi asetilokolin. Sel
D berperan sebagai stimulus asam (Sherwood, 2010).
c.1. Mekanisme Sekresi Asam Klorida
Sel-sel parietal secara aktif mengeluarkan HCl ke dalam lumen kantung
lambung yang kemudian dialirkan ke dalam lumen lambung. Adapun fungsi
dari HCl yaitu: untuk mengaktifkan precursor enzim pepsinogen menjadi enzim
pepsin dan membentuk lingkungan asam yang optimal untuk aktivitas pepsin,
membantu penguraian serat otot dan jaringan ikat sehingga partikel makanan
berukuran besar dapat dipecah-pecah menjadi partikel yang ukurannya kecil,
dan bersama lisozim air liur mematikan sebagian besar mikroorganisme yang
10

masuk bersama makanan. pH lumen turun hingga 2 akibat sekresi HCl. Ion
hydrogen (H+) dan ion klorida (Cl-) secara aktif ditransportasikan oleh pompa
yang berbeda di membran plasma sel parietal 3. Ion H+ yang disekresikan
berasal dari proses-proses metabolisme di dalam sel parietal. Ion H +
disekresikan sebagai hasil dari pemecahan molekul H 2O menjadi H+ dan OH-. Di
sel parietal, H+ disekresikan ke lumen oleh pompa H + -K+-ATPase yang yang
berada di membran luminal sel parietal. Transport ini juga memompa K +
masuk ke dalam sel dari lumen. Ion K + yang telah ditransportkan secara pasif
kembali ke lumen melalui kanal sehingga jumlah K + tidak berubah setelah
sekresi H+. Sel-sel parietal memiliki banyak enzim karbonat anhidrase yang
mempermudah H2O untuk berikatan dengan CO2 yang diproduksi oleh sel
parietal melalui sel parietal melalui proses metabolism atau berdifusi masuk
dari darah. Kombinasi antara H2O dan CO2 menghasilkan H2CO3 yang secara
parsial terurai menjadi H+ dan HCO3-. HCO3- dipindahkan ke plasma oleh
antipoter Cl- - HCO3- pada membrane basolateral dari sel parietal yang
kemudian mengangkat Cl- dari plasma menuju lumen lambung. Pertukaran ini
mempertahankan netralitas listrik plasma selama sekresi HCl berlangsung
(Sherwood, 2010). Proses tersebut dapat dituliskan:
CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3-

11

2.1.4 Usus Halus


a.

Anatomi Usus Halus


Usus halus merupakan tabung yang kompleks, berlipat-lipat yang

membentang dari pilorus sampai katup ileosekal. Pada orang hidup panjang
usus halus sekitar 12 kaki (22 kaki pada kadaver akibat relaksasi). Usus ini
mengisi bagian tengah dan bawah abdomen. Ujung proksimalnya bergaris
tengah sekitar 3,8 cm, tetapi semakin kebawah lambat laun garis tengahnya
berkurang sampai menjadi sekitar 2,5 cm (Guyton & Hall, 2005).
Usus halus dibagi menjadi duodenum, jejenum, dan ileum. Pembagian
ini agak tidak tepat dan didasarkan pada sedikit perubahan struktur, dan yang
relatif lebih penting berdasarkan perbedaan fungsi. Duodenum panjangnya
sekitar 25 cm, mulai dari pilorus sampai kepada jejenum. Pemisahan
duodenum

dan

jejenum

ditandai

oleh

ligamentum

treitz,

suatu

pita

muskulofibrosa yang berorigo pada krus dekstra diafragma dekat hiatus


esofagus

dan

berinsersio

pada

perbatasan

duodenum

dan

jejenum.

Ligamentum ini berperan sebagai ligamentum suspensorium (penggantung).


Kira-kira dua perlima dari sisa usus halus adalah jejenum, dan tiga perlima
terminalnya adalah ileum. jejenum terletak di regio abdominalis media sebelah
kiri, sedangkan ileum cenderung terletak di region abdominalis bawah kanan.
Jejenum mulai pada juncture denojejunalis dan ileum berakhir pada junctura
ileocaecalis (Guyton & Hall, 2005; Manif, 2008).
Lekukan-lekukan jejenum dan ileum melekat pada dinding posterior
abdomen dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas yang
dikenal sebagai messenterium usus halus. Pangkal lipatan yang pendek
melanjutkan diri sebagai peritoneum parietal pada dinding posterior abdomen
sepanjang garis berjalan ke bawah dan ke kanan dari kiri vertebra lumbalis
kedua

ke

daerah

articulatio

sacroiliaca

kanan.

Akar

messenterium

memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabagn arteri vena mesenterica


superior antara kedua lapisan peritoneum yang membentuk messenterium
(Guyton & Hall, 2005; Manif, 2008).
b. Fisologi Usus Halus
Usus halus mempunyai dua fungsi utama : pencernaan dan absorpsi
bahan-bahan nutrisi dan air. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan
lambung oleh kerja ptialin, asam klorida, dan pepsin terhadap makanan
12

masuk. Proses dilanjutkan di dalam duodenum terutama oleh kerja enzimenzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat, lemak, dan protein menjadi
zat-zat yang lebih sederhana. Adanya bikarbonat dalam sekret pankreas
membantu menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja enzimenzim. Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan dengan
mengemulsikan lemak sehingga memberikan permukaan lebih bagus bagi
kerja lipase pankreas (Price & Wilson, 1994).
Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah
usus (sukus enterikus). Banyak diantara enzim-enzim ini terdapat pada brush
border vili dan mencernakanzat-zat makanan sambil diabsorpsi (Price &
Wilson, 1994).
Isi usus digerakkan oleh peristalsis yang terdiri atas dua jenis gerakan,
yaitu segmental dan peristaltik yang diatur oleh sistem saraf autonom dan
hormon (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Pergerakan segmental usus halus
mencampur zat-zat yang dimakan dengan sekret pankreas, hepatobiliar, dan
sekresi usus, dan gerakan peristaltik mendorong isi dari salah satu ujung ke
ujung lain dengan kecepatan yang sesuai untuk absorpsi optimal dan suplai
kontinu isi lambung (Price & Wilson, 1994).
Absorpsi adalah pemindahan hasil-hasil akhir pencernaan karbohidrat,
lemak dan protein (gula sederhana, asam-asam lemak dan asam-asam amino)
melalui dinding usus ke sirkulasi darah dan limfe untuk digunakan oleh sel-sel
tubuh. Selain itu air, elektrolit dan vitamin juga diabsorpsi. Absorpsi berbagai
zat berlangsung dengan mekanisme transpor aktif dan pasif yang sebagian
kurang dimengerti (Price & Wilson, 1994).
Lemak dalam bentuk trigliserida dihidrolisa oleh enzim lipase pankreas ;
hasilnya bergabung dengan garam empedu membentuk misel. Misel kemudian
memasuki membran sel secara pasif dengan difusi, kemudian mengalami
disagregasi, melepaskan garam empedu yang kembali ke dalam lumen usus
dan asam lemak seta monogliserida ke dalam sel. Sel kemudian membentuk
kembali trigliserida dan digabungkan dengan kolesterol, fosfolipid, dan
apoprotein untuk membentuk kilomikron, yang keluar dari sel dan memasuki
lakteal. Asam lemak kecil dapat memasuki kapiler dan secara langsung
menuju ke vena porta. Garam empedu diabsorpsi ke dalam sirkulasi
enterophepatik dalam ileum distalis. Dari kumpulan 5 gram garam empedu
yang memasuki kantung empedu, sekitar 0,5 gram hilang setiap hari;
13

kumpulan ini bersirkulasi ulang 6 kali dalam 24 jam (Sabiston, 1995; Schwartz,
2000).
Protein oleh asam lambung di denaturasi, pepsin memulai proses
proteolisis. Enzim protease pankreas (tripsinogen yang diaktifkan oleh
enterokinase

menjadi

tripsin,

dan

endopeptidase)

melanjutkan

proses

oencernaan protein, menghasilkan asam amino dan 2 sampai 6 residu peptida.


Transport aktif membawa dipeptida dan tripeptida ke dalam sel untuk
diabsorpsi (Schwartz, 2000)
Karbohidrat, metabolisme awalnya dimulai dengan menghidrolisis pati
menjadi maltosa (atau isomaltosa), yang merupakan disakarida. Kemudian
disakarida ini, bersama dengan disakarida utama lain, laktosa dan sukrosa,
dihidrolisis menjadi monosakarida glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Enzim
laktase, ukrase, maltase, dan isimaltase untuk pemecahan disakarida terletak
di dalam mikrovili 'brush border' sel epitel. Disakarida ini dicerna menjadi
monosakarida sewaktu berkontak dengan mikrovili ini atau sewaktu mereka
berdifusi ke dalam mikrovili. Produk pencernaan, monosakarida, glukosa,
galaktosa, dan fruktosa, kemudian segera diabsorpsi ke dalam darah porta
(Guyton, 1992).
Air dan elektrolit, cairan empedu, cairan lambung, saliva, dan cairan
duodenum

menyokong

sekitar

8-10

L/hari

cairan

tubuh,

kebanyakan

diabsorpsi. Air secara osmotik dan secara hidrostatik diabsorpsi atau melalui
difusi pasif. Natrium dan khlorida diabsorpsi dengan pemasangan zat terlarut
organik atau secara transport aktif. Bikarbonat diabsorpsi secara pertukaran
natrium/hidrogen. Kalsium diabsorpsi melalui transport aktif dalam duodenum
dan jejenum, dipercepat oleh hormon parathormon (PTH) dan vitamin D.
Kalium diabsorpsi secara difusi pasif (Schwartz, 2000).
2.1.5 Usus Besar
a.

Anatomi Usus Besar


Usus besar mempunyai panjang total kira-kira 1,5 meter membentuk

huruf U terbalik sepanjang sisi rongga perut. Bagian usus besar yang pertama
disebut caecum (usus buntu) dengan appendix vermiformis (umbai cacing di
ujungnya). DI dalam usus besar terdapat Caecum yang merupakan lokasi
tempat bersarangnya cacing. Cacing yang sering ditemukan adalah cacing
gelang atau ascaris lumbricoides dan cacing tambang ( ankylostoma ).
Caecum melanjutkan diri sebagai colon ascendens yang menuju atas di sisi
14

kanan rongga perut, lalu membelok di bawah hati membentuk colon


transversum yang menuju kiri dan terletak di sebelah bawah (inferior)
lambung. Dekat limpa ia akan membelok ke bawah membentuk colon
descendens di sisi kiri tubuh, lalu di panggul sebelah kiri melanjutkan diri
sebagai colon sigmoid. Colon sigmoid ini melanjutkan diri menjadi rectum yang
terletak di dalam rongga panggul bagian bawah dan berakhir sebagai anus
DI dalam colon tidak terjadi lagi proses pencernaan tetapi terjad
penyerapan air serta unsur-unsur lain. Dengan adanya kemampuan absorpsi
ini, pemberian obat tertentu dpat dilakukan melalui anus sehingga obat
tersebut akan memasuki peredaran darah melalui selaput lender rectum.
Gangguan penyerapan air oeh colon ditandai oleh buang air besar yang cair /
encer (diarrhea) dan pelebaran pembuluh darah balik (vena) pada dinding
anus menyebabkan kelainan yang disebut wasir haemorrhoid. (Evelyn C.
Pearce, 2002)
Struktur Colon terdiri atas keempat lapisan dinding yang sama seperti usus
halus. Serabut longitudinal pada dinding berotot tersusun dalam tiga jalur
yang memberi rupa berkerut-kerut dan berlubang-lubang. Dinding mukosa
lebih halus dari yang ada pada usus halus, dan tidak memiliki vili. Di dalamnya
terdapat kelenjar serupa kelenjar tubuler dalam usus dilapisi oleh epitelium
silinder yang memuat sel cangkir
Struktur Rektum serupa sengan yang ada pada kolon, tetapi dinding
yang berotot lebih tebal dan membrane mukosanya memuat lipatan-lipatan
membujur yang sisebut kolumna Morgagni. Semua ini menyambung ke dalam
saluran anus. Di dalam anus ini serabut otot sirkuler menebal untuk
membentuk otot sfinkter anus interna. Sel-sel yang melapisi saluran anus
berubah sifatnya ; epitelium bergaris menggantikan sel-sel silinder. Sfinkter
externa menjaga saluran anus dan orifisium supaya tertutup
b.

Fisiologi Usus Besar


Usus besar tidak ikut serta dalam pencernaan atau absorpsi makanan.

Bila isi usus halus mencapai sekum maka semua zat makanan telah diabsorpsi
dan isinya cair. Selama perjalanan di dalam kolon isinya menjadi makin padat
karena air diabsorpsi dan ketika ektum dicapai maka feses bersifat padatlunak. Peristaltic di dalam kolon sangat lamban. Diperlukan waktu kira-kira 16
sampai 20 jam bagi isinya untuk mencapai flexura sigmoid. Fungsi kolon dapat
diringkas sebagai berikut :

15

Absorpsi air, daram dan glukosa


Sekresi musin oleh kelenjar di dalam lapisan dalam
Penyiapan selulosa yang berupa hidrat karbon di dalam tumbuhtumbuhan , buah-buahan dan syuran hijau dan penyiapan sisa protein

yang belum dicernakan oleh kerja bakteri guna ekskresi.


Defekasi (pembuangan air besar)

Saat Defekasi, Rectum biasanya kosong sampai menjelang defekasi.


Seorang

yang

mempunyai

kebiasan

teratur

akan

merasa

kebutuhan

membuang air besar pada kira-kira waktu yang sama setiap hari. Hal ini
disebabkan oleh refleks gastro-kolika, yang biasanya bekerja sesudah makan
pagi. Setelah makanan ini mencapai lambung dan setelah pencernaan dimulai
maka peristaltic di dalam usus terangsang , merambat ke kolon mencapai
sekum, mulai bergerak. Isi kolon pelvis masuk ke dalam rektum; serentak
peristaltic keras terjadi di ddalam kolon dan terjadi perasaan di daerah
perineum. Tekanan intra-abdominal bertambah dengan penutupan glottis dan
kontraksi diafragma dan otot abdominal; sfinkter anus mengendor dan
kerjanya berakhir. (Daniel S. Wibowo, 2004)
2.1.6 Hepar (Hati)
a. Anatomi Hepar
Hepar

adalah organ yang terbesar dalam tubuh manusia. Hepar

berstektur lunak, lentur, dan terletak di bagian atas cavitas abdominalis tepat
di bawah diafragma. Hepar pada manusia terletak pada bagian atas cavum
abdominis, di bawah diafragma, di kedua sisi kuadran atas, yang sebagian
besar terdapat pada sebelah kanan. Beratnya 1200-1600 gram. Permukaan
atas terletak bersentuhan di atas organ-organ abdomen. Hepar difiksasi secara
erat oleh tekanan intraabdominal dan di bungkus oleh peritoneum kecuali di
daerah posterior-superior yang berdekatan dengan v.cava inferior dan
mengadakan kontak langsung dengan diafragma. (Snell,2006)
Secara anatomis, organ hepar terletak di hipochondrium kanan dan
epigastrium, dan melebar ke hipokondrium kiri. Hepar dikelilingi oleh vacuum
toraks dan bahkan pada orang normal tidak dapat dipalpasi (bila teraba berarti
ada pembesaran hepar). Bagian fungsional dari hepar di sebut sebagai lobulus
portal, yang terdiri dari 3 lobulus klasik (unit terkecil hepar atau lobulus hepar)
dan di tengahnya terdapat duktus interlobularis. Pada hepar terdapat unit
fungsional terkecil yang di sebut asinus hepar. Asinus hepar adalah bagian dari

16

hepar yang terletak diantara vena sentralis. Asinus hepar memiliki cabang
terminal arteri hepatica, vena porta dan sistem duktuli biliaris.
Hati disuplai oleh dua pembuluh darah yaitu :
a. Vena porta hepatica yang berasal dari lambung dan usus, yang kaya
akan nutrient seperti asam amino, monosakarida, vitamin yang larut
dalam air, dan mineral.
b. Arteri hepatica, cabang dari arteri kuliaka yang kaya akan oksigen.
Cabang-cabang pembuluh darah vena porta hepatica dan arteri hepatica
mengalirkan darahnya ke sinusoid. Hematosit menyerap nutrient, oksigen, dan
zat racun dari darah sinusoid. Di dalam hematosit zat racun akan dinetralkan
sedangkan nutrient akan ditimbun atau dibentuk zat baru, dimana zat tersebut
akan disekresikan ke peredaran darah tubuh.
b. Fisiologi hati
Menurut Guyton dan Hall (2008), hati mempunyai beberapa fungsi yaitu :
a. Metabolisme karbohidrat
Fungsi hati dalam metabolism karbohirta adalah menyimpan glikogen
dalam jumlah besar, mengkonversi galaktosa dan fruktosa menjadi
glukosa, gluconeogenesis, dalam membentuk banyak senyawa kimia yang
penting dari hasil perantara metabolisme karbohidrat.
b. Metabolisme lemak
Fungsi hati yang berkaitan dengan metabolism lemak, antara lain :
mongksidasi asam lemak untuk menyplai energy bagi fungsi tubuh yang
lain, membentuk sebagian besar kolesterol, fosfolipid, dan lipoproteinj
membentuk lemak dari protein dan karbohidrat.
c. Metabolism protein
Fungsi hati dalam metabolism protein adalah deaminasi asam amino,
pembentukan urem untuk mengeluarkan ammonia dari cairan tubuh,
pembentukan protein plasma, dan interkonversi beragam asam amino dan
membentuk senyawa lain dari asam amino.
d. Lain-lain
Fungsi hati yang lain diantaranya hati merupakan tempat penyimpanan
vitamin, hati membentuk zat-zat yang digunakan untuk koagulasi darah
dalam jumlah banyak dan hati mengeluarkan atau mengekskresikan obatobatan, hormon, dan zat lain. Sedangkan mineral yang disimpan di hepar
antara lain tembaga dan besi.
c. Patologi hepar
- Radang.
Merupakan proses perlawanan yang dilakukan tubuh terhadap benda
asing. Di tandai dengan ditemukannya sel fagosit seperti monosit dan sel
polimorfonuklear.
17

Fibrosis
Merupakan kerusakan sel yang tidak disertai dengan regenerasi, sehingga
dalam makroskopis dapat berupa atrofi maupun hipertrofi.
Degenerasi
Dibagi menjadi dua macam degenerasi yaitu degenerasi parenkimatosa
dan degenerasi hidropik. Degenerasi parenkimatosa adalah degenerasi
yang paling ringan derajatnya, bersifat reversible. Memiliki nama lain
degenerasi keruh, degenerasi albuminosa dan cloudly swelling. Memiliki
tanda pembengkakan dan kekeruhan sitoplasma akibat protein yang
mengendap. Kerusakan hanya terjadi pada sebagian kecil struktur sel.
Kerusakan ini menyebabkan oksidasi sel terganggu, sehingga proses
eliminasi air pun juga terganggu. Sehingga penimbunan air dalam sel.
Degenerasi hidropik adalah degenerasi yang terjadi pada hepar dengan
ciri-ciri sel hepsr membengkak sampai dua kali normal. Bersifat reversible
dan sering disebut juga balooming degeneration. Derajat keparahannya
lebih tinggi bila dibandingkan dengan degenerasi parenkimatosa. Memiliki
gambaran khas yaitu gambaran vakuola dari kecil sampai besar yang

berisi air dan tidak mengandung lemak.


Nekrosis
Nekrosis adalah kematian sel atau jaringan pada organisme hidup.
Nekrosis ditandai dengan perubahan pada morfologi, inti sel yang
mengecil, kromatin dan serabut retikuler menjadi berlipat-lipat. Terkadang
inti dapat terlihat piknotik dan dapat hancur bersegmen-segmen. Sel hepar

dapat mengalami nekrosis pada daerah yang luas maupun kecil.


d. Histologi Hati
Sel-sel yang terdapat di hati antara lain : hepatosit, sel endotel, dan sel
makrofag yang disebut sebagai sel kuppfer, dan sel ito (sel peminmbun
lemak). Sel hepatosit berderet secara radier dalam lobulus hati dan
membentuk lapisan sebesar 1-2 sel serupa dengan susunan bata. Lempeng sel
ini mengarah dari tepian lobulus ke pusatnya dan beranastomosis secara
bebas membentuk struktur seperti labirin dan busa. Celah diantara lempenglepeng ini mengandung kapiler yang disebut sinusoid hati (Junquiera et
al,2007)
Sinusoid hati adalah saluran yang berliku-liku dan melebar, diameternya
tidak teratur, dilapisi sel endotel bertingkat yang tidak utuh. Sinusoid dibatasi
oleh 3 macam sel, yaitu sel endotel (mayoritas) dengan inti pipih gelap, sel
kupffer yang fagositik dengan inti ovoid, dan sel stelat atau sel Ito atau liposit
hepatic yang berfungsi untuk menyimpan vitamin A dan memproduksi matriks
ekstraseluler serta kolagen. Aliran darah di sinusoid berasal dari cabang
18

terminal vena portal dan arteri hepatic, membawa darah kaya nutrisi dari
saluran pencernaan dan juga kaya oksigen dari jantung (Eroschenko,2010,
Junqueira et al, 2007)
Traktus portal terletak di sudut-sudut heksagonal. Pada traktus portal,
darah yang berasal dari vena portal dan arteri hepatic dialirkan ke vena
sentralis. Traktus portal terdiri dari 3 struktur utama yang disebut trias portal.
Struktur yang paling besar adalah venula portal terminal yang dibatasi oleh sel
endotel pipih. Kemudian terdapat arteriola dengan dinding yang tebal yang
merupakan cabang terminal dari arteri hepatic. Dan yang ketiga adalah duktus
biliaris yang mengalirkan empedu. Aliran darah di hati dibagi dalam unit
structural yang disebut asinus hepatic. Asinus hepatic berbentuk seperti buah
berry, terletak di traktus portal. Asinus ini terletak di antara 2 atau lebih
venula hepatic terminal, dimana darah mengalir dari traktus portalis ke
sinusoid, lalu ke venula tersebut. Asinus ini terbagi menjadi 3 zona, dengan
zona 1 terletak paling dekat dengan traktus portal sehingga paling banyak
menerima darah kaya oksigen, sedangkan zona 3 terletak paling jauh dan
hanya menerima sedikit oksigen. Zona 2 atau zona intermediet berada
diantara zona1 dan zona 3. Zona 3 ini paling mudah terkena jejas iskemik.
(Junquiera et al,2007)
2.2
Penyakit/Kelainan pada Sistem Pencernaan dan Upaya
Pencegahannya
Gangguan pada sistem pencernaan makanan dapat disebabkan oleh
pola makan yang salah, infeksi bakteri, dan kelainan alat pencernaan. Di
antara gangguan-gangguan ini adalah diare, sembelit, tukak lambung,
peritonitis, kolik, sampai pada infeksi usus buntu (apendisitis). Kelainan dan
penyakit pada sistem pencernaan antara lain sebagai berikut
2.2.1. Sakit Gigi
Di dalam gigi ada yang namanya pulpa gigi yang terdiri dari pembuluh
darah, jaringan, serta saraf-saraf yang sensitif. Sakit gigi terjadi ketika pulpa
mengalami radang.Peradangan itu sendiri penyebabnya bermacam-macam,
antara lain karena adanya tumpukan nanah di bagian dasar gigi akibat infeksi
bakteri (abses periapikal), gigi retak, penyusutan gusi, kerusakan gigi yang
mengakibatkan lubang, rusaknya tambalan, serta gigi yang terjepit di antara
gigi lainnya ketika tumbuh.Mereka yang menderita sakit gigi biasanya
mengalami gejala seperti nyeri di sekitar gigi dan rahang, pembengkakan,
sakit kepala, bahkan demam. Tingkat keparahan nyeri bisa bervariasi, mulai
19

dari ringan hingga hebat. Dan menurut pola kemunculannya, nyeri bisa timbul
dan

hilang

secara

berulang-ulang

atau

terasa

terus-menerus

(konstan).Seringkali penderita sakit gigi merasakan nyeri atau ngilu yang


memburuk pada malam hari atau ketika mereka makan dan minum, terutama
yang terlalu dingin atau panas.
2.2.2. Sariawan
Sariawan adalah suatu kelainan pada selaput lendir mulut berupa luka
pada mulut yang berbentuk bercak berwarna putih kekuningan dengan
permukaan agak cekung. Munculnya Sariawan ini disertai rasa sakit yang
tinggi.
2.2.3. Hepatitis
Hepatitis adalah peradangan pada hati karena toxin, seperti kimia atau
obat ataupun agen penyebab infeksi. Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6
bulan disebut hepatitis akut, hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan
disebut hepatitis kronis.
2.2.4. Diare
Diare adalah suatu kondisi yang ditandai dengan encernya tinja yang
dikeluarkan atau buang air besar (BAB) dengan frekuensi yang lebih sering
dibandingkan dengan biasanya. Pada umumnya, diare terjadi akibat konsumsi
makanan atau minuman yang terkontaminasi.
2.2.5. Konstipasi
Konstipasi adalah kondisi tidak bisa buang air besar secara teratur atau
tidak bisa sama sekali. Jika mengalaminya, Anda biasanya akan mengalami
gejala-gejala tertentu. Misalnya tinja Anda menjadi keras dan padat dengan
ukuran sangat besar atau sangat kecil.
2.2.6. Gastritis
Merupakan suatu peradangan akut atau kronis pada lapisan mukosa
(lender) dinding lambung. Penyebabnya ialah penderita memakan yang
mengandung kuman penyakit. Dilihat dari waktu terjadinya, gastritis dibagi
menjadi dua:
a. Gastritis akut atau muncul secara mendadak dan cepat reda.
b. Gastritis kronis atau terjadi secara perlahan dan berlangsung lama.
2.2.7. Disentri
20

Disentri adalah infeksi pada usus yang menyebabkan diare yang disertai
darah atau lendir. Ada dua jenis utama disentri yang digolongkan berdasarkan
penyebabnya, yaitu disentri basiler atau sigelosis yang disebabkan oleh
bakteri shigella dan disentri amoeba atau amoebiasis yang disebabkan oleh
amoeba (parasit bersel satu) bernama Entamoeba histolytica yang biasanya
ditemukan di daerah tropis. Disentri basiler biasanya lebih ringandibanding
dengan disentri amoeba.
2.2.8. Apendisitis
Apendisitis merupakan gangguan yang terjadi karena peradangan
apendiks. Penyebabnya ialah adanya infeksi bakteri pada umbai cacing (usus
buntu). Akibatnya, timbul rasa nyeri dan sakit.
2.2.9. Maag
Maag atau radang lambung atau tukak lambung adalah gejala penyakit
yang menyerang lambung dikarenakan terjadi luka atau peradangan pada
lambung yang menyebabkan sakit, mulas, dan perih pada perut.Penyebab
utama sakit maag ada dua, yakni bakteri helicobacter pylori (H. pylori) dan
penggunaan obat anti inflamasi non steroid (OAINS), seperti ibuprofen atau
aspirin dalam waktu yang cukup panjang. Bakteri H. pylori merupakan bakteri
yang dapat mengiritasi dan menyebabkan munculnya luka pada lambung atau
usus bagian
2.2.10. Tukak Lambung
Tukak lambung adalah luka yang muncul pada dinding lambung akibat
terkikisnya lapisan dinding lambung. Luka ini juga berpotensi muncul pada
dinding bagian pertama usus kecil (duodenum) serta kerongkongan (esofagus).
2.2.11. Radang Usus Buntu
Radang usus buntu (Appendicitis) merupakan nama penyakit yang
menyerang usus buntu. Appendicitis terjadi ketika appendix, nama lain dari
usus buntu telah meradang dan membuatnya rentan pecah, ini termasuk
darurat medis serius. Operasi dilakukan untuk penyembuhan radang usus
yang membengkak.
2.2.12. Demam Tifoid
Demam tifoid terjadi karena infeksi bakteri Salmonella typhi. Penyakit
yang banyak terjadi pada anak-anak ini dapat membahayakan nyawa jika tidak
ditangani dengan baik dan secepatnya. Demam Tifoid menular dengan cepat.
21

Infeksi dan demam tifoid terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau
minuman yang telah terkontaminasi sejumlah kecil tinja, atau yang lebih tidak
umum, urin yang terinfeksi bakteri.
2.2.13. Wasir Atau Hemoroid
Wasir atau hemoroid adalah pembengkakan yang berisi pembuluh darah
yang membesar. Pembuluh darah yang terkena wasir berada di dalam atau di
sekitar bokong, baik di dalam rektum atau di dalam anus. Kebanyakan
hemoroid adalah penyakit ringan dan bahkan tidak menimbulkan gejala.
2.2.14. Cacingan
Biasanya orang yang mengalami cacingan terjadi karena kurangnya
menjaga kebersihan sehingga memungkinkan telur-telur cacing akan masuk ke
dalam mulut dan hidup di dalam usus manusia, biasanya anak-anak yang
kurang menjaga kebersihan saat bermain di luar akan rentan tertular penyakit
cacingan ini.
2.3. Penerapan anatomi dan fisiologi sistem pencernaan dalam
praktik kesehatan masyarakat serta kaitannya dengan cabang
ilmu kesehatan masyarakat
Berdasarkan hasil diskusi kelompok, anatomi dan fisiologi sistem
pencernaan memiliki kaitan dengan cabang ilmu kesehatan masyarakat. Bila
ditinjau dari ilmu gizi, pemahaman masyarakat mengenai sistem pencernaan
akan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi makanan
dengan gizi yang seimbang. Apabila masyarakat memiliki pola makan tidak
teratur dengan gizi yang tidak seimbang, maka masyarakat akan rentan
terkena penyakit seperti diabetes mellitus dan jantung koroner. Sebab, sistem
pencernaan manusia tidak bisa menyeleksi zat gizi yang akan diserap.
Misalnya, seseorang memiliki lemak yang berlebih pada tubuhnya. Kemudian,
ia mengonsumsi makanan yang mengandung kadar lemak tinggi. Meskipun
telah diketahui bahwa orang tersebut memiliki lemak yang berlebih, sistem
pencernaan tubuh akan tetap menyerap lemak yang terkandung pada
makanan yang dikonsumsinya.
Bila ditinjau dari cabang ilmu epidemiologi dan kesehatan lingkungan,
pengetahuan mengenai sistem pencernaan manusia akan memudahkan
penanggulangan wabah penyakit terkait. Penyakit-penyakit dalam sistem
pencernaan yang rentan menjadi wabah antara lain diare dan disentri.
Penyakit tersebut pada umumnya disebabkan oleh keadaan lingkungan yang
22

tidak sehat. Sehingga dengan memiliki pengetahuan dari ilmu epidemiologi,


kesehatan lingkungan, dan sistem pencernaan, maka diharapkan penyakitpenyakit sistem pencernaan dapat dicegah dan wabah penyakit dapat
ditanggulangi dengan baik.

23

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan

Sistem pencernaan manusia disusun oleh berbagai organ. Pencernaan dimulai


dari rongga mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan
berakhir di rektum. Selain organ tersebut, sistem pencernaan juga dibantu
oleh organ lain yaitu hati. Sistem pencernaan merupakan salah satu sistem
yang rentan terserang penyakit seperti diare, disentri, maag, sariawan, dan
lain sebagainya. Namun, sebagian besar penyakit tersebut mudah dicegah
dengan menerapkan pola hidup sehat dan mengatur waktu makan secara
teratur. Anatomi dan fisiologi sistem pencernaan memiliki kaitan dengan
cabang ilmu kesehatan masyarakat seperti gizi, epidemiologi, dan kesehatan
lingkungan
3.2.

Saran

Saran yang dapat kami berikan adalah pemerintah dan masyarakat bersamasama

meningkatkan

pengetahuan

dan

kesadaran

masyarakat

tentang

pentingnya pola hidup yang sehat. Pola hidup sehat yang berkaitan dengan
sistem pencernaan adalah mengatur waktu makan secara teratur, menghitung
kalori dari makanan/minuman yang dikonsumsi, dan memastikan kualitas
makanan/minuman yang akan dikonsumsi.

24

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neill A., Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell. 2004. BIOLOGI
Edisi Kelima Jilid 3. Diterjemahkan oleh Wasmen Manalu. Jakarta:
Erlangga
Gibson,

John.

2002.

Fisiologi

dan

Anatomi

Modern

untuk

Perawat.

Diterjemahkan oleh Bertha Sugiarto. Jakarta: EGC


Guyton, A.C. 1992. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC
Guyton A.C. dan Hall J.E. 2005. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta :
EGC
Guyton, A.C., dan Hall J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.
Jakarta: EGC
Joshi,

Arjun

S.

2013.

Pharynx

Anatomy.http://emedicine.medscape.com/article/1949347-overview.
Diakses pada 7 Mei 2016
Junqueira, L.C., 2007. Histologi Dasar: Teks & Atlas. Edisi. 10. Jakarta: EGC
Manif Niko, Kartadinata. 2008. Obstruksi Ileus - Cermin Dunia Kedokteran.
http://www.portalkalbe.com/files/obstruksiileus.pdf diakses pada 16 Mei
2016
Pack,

Phillip

E.

2007.

Cliffs

Quick

ReviewTM

Anatomi

dan

Fisiologi.

Diterjemahkan oleh Theodorus Dharma Wibisono. Bandung: Pakar Raya


Pearce, Evelyn C. 2006. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Price, S.A., dan Wilson, L.M. (1994). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit. Edisi 4. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Priyanto, Agus dan Sri Lestari. 2008. Endoskopi Gastrointestinal. Jakarta:
Penerbit Salemba Medika
Sabiston, D., 1994. Buku Ajar Bedah: Essentials Of Surgery. Bagian 2. Jakarta:
EGC
Schwartz, I.S., 2000. Principles of Surgery 7th. Jakarta: EGC.

25

Schmitz, P.G., dan Martin, K.J. 2008. Internal Medicine: Just The Facts.
Singapore: The McGraw-Hill Companies
Shaker, Reza, Peter C. Belafsky, Gregory N. Postma, dan Caryn Easterling.
2013. Principles of Degluitition: A Multidisciplinary Text for Swallowing
and Its Disorders. New York: Springer
Sherwood, L. 2010. Human Physiology: From Cells to Systems. 7th Edition.
Canada: Yolanda Cossio
Sjamsuhidajat, R. dan De Jong W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Snell, R. S., 2006. Anatomi Klinik. Edisi 6. Jakarta: EGC
Tortora, G.J. dan Derrickson, B.H. 2009. Principles of Anatomy and Physiology.
Twelfth Edition. Asia: Wiley.

26