Anda di halaman 1dari 17

LBM 5 HERBAL

CLINICAL TRIAL AND SCIENTIFICATION


OF TRADITIONAL HERBAL MEDICINE

STEP 1

Saintifikasi jamu
o Pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan yang
digunakan untuk upaya promotif, preventif, rehabilitatif serta paliatif hanya
dapat dilakukan oleh dokter atau dokter gigi yang terlisensi

Clinical trial
o Pengujian pada manusia untuk mengetahui atau memastikan adanya efek
farmakologis, tolerabilitas, manfaat dan keamanan dalam pengobatan dan
pencegahan penyakit

STEP 2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Regulasi mengenai jamu tersaintifikasi


Tujuan dari saintifaksi jamu
Ruang lingkup dari saintifikasi jamu
Sebutkan tahap-tahap clinical trial pada saintifikasi jamu!
Apa metode saintifikasi jamu?
Bagaimana syarat dokter untuk memberikan pelayanan jamu tersaintifikasi?
Kriteria pelaksanaan uji clinic?
Jelaskan perbedaan uji klinik pada fitofarmaka dan pada jamu tersaintifikasi! (proses,
metode, sampel, persyaratan, tujuan)
9. Apa saja obat tradisional yang dapat diresepkan oleh dokter maupun dokter herbal
klinik?
STEP 3
1. Regulasi mengenai jamu tersaintifikasi
Regulasi
Saintifikasi jamu masih bernaung dalam program penelitian dan
pelayanan (lit-yan)
Dokter yang melakukan harus dilatih dulu selama 50 jam
Bila jamu telah tersaintifikasi, selanjutnya ke jalur profesi (IDI),
apakah langsung boleh diterapkan oleh dokter atau ada syarat lain
Saat ini IDI sedang membahas masalah ini

http://www.farmako.uns.ac.id/perhipba/wpcontent/uploads/2012/01/
MU.2.pdf
2. Latar belakang munculnya saintifikasi jamu

3. Tujuan dari clinical saintifaksi jamu


Tujuan pengaturan saintifikasi jamu adalah:
a. Memberikan landasan ilmiah (evidence based ) penggunaan jamu secara
empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan.
b. Mendorong terbentuknya jejaring dokter atau dokter gigi dan tenaga
kesehatan lainnya sebagai peneliti dalam rangka upaya preventif, promotif,
rehabilitatif dan paliatif melalui penggunaan jamu.
c. Meningkatkan kegiatan penelitian kualitatif terhadap pasien dengan
penggunaan jamu.
d. Meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata yang
teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan
sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan.

4. Ruang lingkup dari saintifikasi jamu

5. Apa metode saintifikasi jamu?


Metodologi saintifikasi jamu
Uji preklinik: Uji toksisitas dan efikasi pada hewan coba
Uji klinik dengan disain pre-post intervention di Klinik Hortus
Medicus B2P2TOOT Tawangmangu
Uji klinik Randomized Clinical Trial (dengan kontrol) tetapi tidak
tersamar (not blinding)
6. Jelaskan perbedaan uji klinik pada fitofarmaka dan pada jamu tersaintifikasi! (proses,
metode, sampel, persyaratan, tujuan)
Jamu tersaintifikasi

http://www.farmako.uns.ac.id/perhipba/wpcontent/uploads/2012/01/MU.
2.pdf

Fitofarmaka
1. Tahap-tahap uji klinik
Untuk dapat menjadi fitofarmaka maka obat tradisional/obat herbal
harus dibuktikan khasiat dan keamanannya melalui uji klinik. Seperti
halnya dengan obat moderen maka uji klinik berpembanding dengan
alokasi acak dan tersamar ganda (randomized double-blind controlled
clinical trial) merupakan desain uji klinik baku emas (gold standard). Uji
klinik

pada

manusia

hanya

dapat

dilakukan

apabila

obat

tradisional/obat herbal tersebut telah terbukti aman dan berkhasiat


pada uji preklinik. Pada uji klinik obat tradisional seperti halnya dengan
uji klinik obat moderen, maka prinsip etik uji klinik harus dipenuhi.
Sukarelawan harus mendapat keterangan yang jelas mengenai penelitian
dan memberikan informed-consent sebelum penelitian dilakukan, dan
diberi ethical clearance. Standardisasi sediaan merupakan hal yang
penting untuk dapat menimbulkan efek yang terulangkan (reproducible)
Menurut Deklarasi Helsinki uji klinik terdiri dari 4 fase.
1. Fase I calon uji pada sukarelawan sehat untuk mendapatkan hasil yang
sama dengan hewan percobaan. Biasanya dilakukan terhadap 50-150
sukarelawan yang sehat
2. Fase II calon obat diuji pada pasien tertentu, diamati efi kasi pada
penyakit yang diobati. Dilakukan terhadap 100-200 pasien.
Fase II awal
: dilakukan pada pasien
dalam jumlah
terbatas, tanpa pembanding. Jumlah pasien 100-200; dilakukan
uji toksisitas kronik, uji sediaan bahan obat
Fase II akhir

:dilakukan pada

pasien jumlah terbatas,

dengan pembanding.

3. Fase III efikasi dan keamanan obat baru dibandingkan obat


pembanding efeknya pada kelompok besar yang sakit. Pasien yang
dilibatkan biasanya 50-5000 orang.
Setelah calon obat dibuktikan berkhasiat, mirip obat yang sudah ada dan
menunjukkan keamanan bagi si pemakai, maka obat baru diizinkan untuk
diproduksi oleh industri sebagai legal drug. Obat dipasarkan dengan nama
dagang tertentu yang dapat diresepkan oleh dokter.

Selama uji klinik banyak senyawa calon obat dinyatakan tidak dapat
digunakan. Akhirnya obat baru hanya lolos 1 dari lebih kurang 10.000
senyawa yang disintesis karena risikonya lebih besar dari manfaatnya

atau kemanfaatannya lebih kecil dari obat yang sudah ada.


Keputusan untuk mengakui obat baru dilakukan oleh badan pengatur
nasional, di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan,
o di Amerika Serikat oleh FDA (Food and Drug Administration),
o di Kanada oleh Health Canada,
o di Inggris oleh MHRA (Medicine and Healthcare Product
Regulatory Agency), di negara Eropah lain oleh EMEA ( European
Agency for the Evaluation of Medicinal Product) dan di Australia

oleh TGA (Therapeutics Good Administration).


Untuk dapat dinilai oleh badan tersebut, industri pengusul harus
menyerahkan data dokumen uji praklinik dan klinik yang sesuai dengan
indikasi

yang

diajukan,

efikasi

dan

keamanannya

harus

sudah

ditentukan dari bentuk produknya (tablet, kapsul dll.) yang telah


-

memenuhi persyaratan produk melalui kontrol kualitas.


Pengembangan obat tidak terbatas pada pembuatan produk dengan zat
baru, tetapi dapat juga dengan memodifikasi bentuk sediaan obat yang
sudah ada atau meneliti indikasi baru sebagai tambahan dari indikasi
yang sudah ada. Baik bentuk sediaan baru maupun tambahan indikasi
atau perubahan dosis dalam sediaan harus didaftarkan ke Badan POM
dan dinilai oleh Komisi Nasional Penilai Obat Jadi. Pengembangan ilmu
teknologi farmasi dan biofarmasi melahirkan new drug delivery system
terutama bentuk sediaan seperti tablet lepas lambat, sediaan liposom,
tablet salut enterik, mikroenkapsulasi dll. Kemajuan dalam teknik
rekombinasi DNA, kultur sel dan kultur jaringan telah memicu

kemajuan dalam produksi bahan baku obat seperti produksi insulin dll.
Setelah calon obat dapat dibuktikan berkhasiat sekurang-kurangnya
sama dengan obat yang sudah ada dan menunjukkan keamanan bagi si

pemakai maka obat baru diizinkan untuk diproduksi oleh industri


sebagai legal drug dan dipasarkan dengan nama dagang tertentu serta
dapat diresepkan oleh dokter.

4. Fase IV setelah obat dipasarkan masih dilakukan studi pascapemasaran


yang diamati pada pasien dalam berbagai kondisi, usia, dan ras. Studi ini
dilakukan pada jangka waktu lama untuk melihat terapeutik dan
pengalaman jangka panjang dalam menggunakan obat. Setelah hasil studi
fase ini dievaluasi, masih memungkinkan obat ditarik dari perdagangan jika
membahayakan.
Sebagai contoh cerivastatin, suatu obat antihiperkolesterolemia yang
dapat merusak ginjal. Talidomid dinyatakan tidak aman untuk wanita hamil
karena dapat menyebabkan kecacatan janin. Sedangkan troglitazon suatu
obat antidiabetes di Amerika Serikat ditarik karena merusak hati.
Prof

Dr

Ellin

Yulinah,

Farmakolog

Institut

Teknologi

Bandung.

http://www.trubusonline.co.id/mod.php?
mod=publisher&op=printarticle&artid=1467
http://www.kalbe.co.id/index.php?
mn=med&tipe=cdk&detail=printed&cat=det&det_id=141

a.
b.
c.
d.

Fase
Fase
Fase
Fase

I: terbuka, tanpa kontrol


II: paralel, acak, tersamar
III: paralel, acak, tersamar
IV: studi observasional atau paralel

Untuk obat tradisional yang sudah lama beredar luas di masyarakat dan tidak
menunjukkan efek samping yang merugikan, setelah mengalami uji preklinik
dapat langsung dilakukan uji klinik dengan pembanding. Untuk obat tradisional
yang belum digunakan secara luas harus melalui uji klinik pendahuluan (fase I
dan II) guna mengetahui tolerabilitas pasien terhadap obat tradisional
tersebut.
Berbeda dengan uji klinik obat modern, dosis yang digunakan umumnya
berdasarkan dosis empiris tidak didasarkan dose-ranging study. Kesulitan yang
dihadapi adalah dalam melakukan pembandingan secara tersamar dengan

plasebo atau obat standar. Obat tradisional mungkin mempunyai rasa atau bau
khusus sehingga sulit untuk dibuat tersamar.
Saat ini belum banyak uji klinik obat tradisional yang dilakukan di Indonesia
meskipun nampaknya cenderung meningkat dalam lima tahun belakangan ini.
Kurangnya uji klinik yang dilakukan terhadap obat tradisional antara lain
karena:
a. Besarnya biaya yang dibutuhkan untuk melakukan uji klinik
b. Uji klinik hanya dapat dilakukan bila obat tradisional telah terbukti
berkhasiat dan aman pada uji preklinik
c. Perlunya standardisasi bahan yang diuji
d. Sulitnya menentukan dosis yang tepat

karena

penentuan

dosis

berdasarkan dosis empiris, selain itu kandungan kimia tanaman


tergantung pada banyak faktor.
e. Kekuatiran produsen akan hasil yang negatif terutama bagi produk yang
telah laku di pasaran
Setelah melalui penilaian oleh Badan POM, dewasa ini terdapat sejumlah obat
bahan alam

yang digolongkan sebagai obat herbal terstandar dan dalam

jumlah lebih sedikit digolongkan sebagai fitofarmaka.


(Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 8, Agustus 2007)

Fitofarmaka adalah obat herbal yang telah mengalami beberapa proses


penelitian hingga pada tahap uji klinis (uji pada manusia). Sehingga pada obat
herbal dapat diketahui langsung efek dan khasiatnya dan bisa disejajarkan
dengan obat kimia yang sudah beredar dipasaran (Anonim, 2013)

Fitofarmaka adalah sediaan obat yang telah dibuktikan keamanan dan


khasiatnya, bahan bakunya terdiri dari simplisia atau sediaan galenik yang
telah mementuh persyaratan (Permenkes RI No.760, 1992).
Contoh bahan dari obat herbal yang sudah termasuk didalam fitofarmaka
(anonim, 2013) yaitu:
1. Meniran
2. Jamur Ling Zhi

Tahapan Legitimasi Fitofarmaka


Isolasi senyawa aktif
-

Isolasi senyawa aktif berfungsi untuk menentukan fungsional jenis


senyawa atau perkiraan jenis senyawa pada bahan herbal sebagai
standarisasi senyawa aktif untuk menetukan khasiat bahan obat ideal
berdasarkan sisi efektivitas, efisiensi dan terjangkaunya harga oleh
masyarakat.
Isolasi melalui fitokimia dilakukan dengan cara megisolasi senyawa yang
terkandung dalam suatu bahan kemudian diuji aktivitasnya menggunakan
metode tertentu. Pengambilan senyawa dilakukan dengan prioritas
senyawa utama (major compound) dilanjutkan dengan senyawa-senyawa
lainnya.
Pendekatan Fitokimia terdapat beberapa kendala antara lain waktu
pengerjaan lama dan biaya mahal. Isolasi dengan pendekatan bioassay
guided isolation dilakukan dengan cara mengisolasi bahan dengan
pemantauan uji aktivitas pada setiap tahap pengerjaannya baik dari tahap
ekstraksi, partisi, fraksinasi maupun isolasinya. Sistem pendekatan ini
cukup menguntungkan karena waktunya cepat dan biaya lebih murah, serta
langsung diketahui senyawa mana yang bertanggung jawab terhadap
aktivitas tersebut (Wahyuono, 2005)
Identifikasi senyawa aktif

Identifikasi dilakukan menentukan struktur kimia hasil isolasi dari


bahan alam. Struktur kimiawi berfungsi untuk mengetahui mekanisme
aktifitas dan digunakan sebagai senyawa identitas untuk standarisasi
bahan alam.
Identifikasi dapat dilakukan dengan penetapan titik lebur,
kristalografi, derivatisasi dan ciri spektrum violet (UV), infrared (IR),
massa (MS) dan nuklir magnetik resonansi (NMR).
Senyawa hasil isolasi yang telah dikenal identitasnya, identifikasinya
dapat menggunakan perbandingan antara kromatogram dan spektrum
senyawa yang diteliti dengan kromatogram dan spektrum pembanding
senyawa yang telah ada dalam literatur, sedangkan untuk senyawa baru,
struktur senyawa dapat ditentukan berdasarkan penafsiran secara
spektroskopi yaitu menggunakan spektra (UV, IR, MS dan NMR).
Spektra UV digunakan untuk melihat keberadaan ikatan rangkap
terkonjunggasi serta pengaruh dari pelarut,
sedangkan spektra IR digunakan untuk melihat keberadaan gugus
fungsional dalam suatu senyawa dan perkiraan jenis senyawa.

Spektra MS digunakan untuk mendeteksi berat molekul (BM), informasi


elemen (unsur) penyusun senyawa secara kualitatif. Spektra 13C-NMR
digunakan untuk menentukan jumlah dan jenis atom carbon (C) penyusun
senyawa,
sedangkan H-NMR digunakan untuk menentukan struktur absolut senyawa
dengan melihat informasi tentang jumlah dan jenis hidrogen (H) penyusun
senyawa, konfigurasi dan stereokimiawi (Silverstein, et al, 1981; Friebolin
2005)
Penentuan potensi senyawa aktif

Penentuan potensi senyawa aktif dilakukan dengan membandingkan


antara bahan yang teliti dengan pembanding obat yang telah beredar
dan digunakan secara klinis.
Uji praklinik merupakan persyaratan calon obat sehingga diperoleh
informasi tentang efikasi (efek farmakologi), profil farmakokinetik dan
toksisitas calon obat.
Dengan menggunakan hewan uji dapat diketahui apakah obat
menimbulkan efek toksik pada dosis pengobatan.
Pengujian toksisitas merupakan cara potensial untuk mengevaluasi efek
toksik bahan yang berhubungan dengan pemberian obat akut atau kronis,
kerusakan genetik (genotoksitas, mutagenisitas), pertumbuhan tumor
(onkogenisitas atau karsinogenesitas), serta kejadian cacat waktu lahir
(teratogenisitas).
Selain toksisitas, uji pada hewan dapat mempelajari sifat farmakokinetik
obat meliputi absorbsi distribusi metabolisme dan eliminasi obat. Semua
hasil pengamatan pada hewan menentukan apakah calon obat dapat
diteruskan dengan uji pada manusia (Anonim, 2000; Anonim, 2004)
Penentuan kadar senyawa aktif

Obat bahan alam yang memenuhi standar baik secara kimia, biologi maupun
farmasi termasuk jaminan kualitas produk.
Standarisasi berdasarkan atas kandungan senyawa aktif adalah
standarisasi yang bersifat spesifik bagi bahan yang diteliti, dan berbeda
dengan standarisasi non spesifik yang berdasarkan atas hasil pengukuran
fisis seperti kadar air, kadar larut asam, etanol dll.
Standarisasi berdasarkan senyawa aktif berhubungan langsung dengan
derajat biologi dan merupakan salah satu parameter yang akan
diperhitungkan dalam uji stabilitas dan uji klinis. Penentuan Standarisasi
senyawa aktif calon obat dilakukan pada masing-masing tahapan isolasi
baik dari bahan dasar, hasil ekstraksi dan hasil fraksinasi yang mempunyai

nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan terlebih dahulu


(Sticher, 1996; Grimminger, 1996)
Uji potensi produk
-

Uji potensi dengan hewan meliputi uji toksikologi untuk menilai keamanan
dan uji farmakodinamik untuk membuktikan khasiat produk.
Uji toksisitas akut merupakan pengujian sampel dengan dosis tunggal yang
dapat memperlihatkan efek toksik, sedangkan toksisitas subkronis
menggunakan minimal 3 tingkatan dosis yang berbeda yang diberikan
selama 1-3 bulan. Penggunaan secara kronis seperti pengobatan hipertensi
harus disertai data karsinogenik, mutagenik dan teratogenik. Uji
farmakodinamik menggunakan metode tertentu untuk membuktikan secara
ilmiah khasiat atau efek dari obat bahan alam tersebut. Pedoman ini akan
memberikan petunjuk secara garis besar prinsip-prinsip yang harus
dipenuhi apabila akan melakukan uji efek farmakologi obat bahan
alam(Anonim, 2004).
Legitimasi dan formalitas

Keputusan untuk mengakui keberadaan obat baru secara formal dilakukan


oleh badan pengatur nasional, di Indonesia oleh BPOM-RI,
sedangkan di Amerika Serikat oleh FDA ( Food and drug Administration).
Untuk dapat di nilai oleh badan tersebut, industri pengusul harus
menyertakan data dokumen uji praklinik dan klinik yang sesuai dengan
indikasi yang diajukan, efikasi dan keamanan harus sudah ditentukan dari
bentuk produk yang memenuhi persyaratan produk melalui kontrol kualitas
(Anonim, 2004; Blumenthal, 1996)

Anonim, 2004, Penyusun Pedoman Penelitian Obat Bahan Alam , Pusat


Riset Obat dan Makanan, Badan POM, Jakarta
Grimminger, W., 1996, Quality Requirements for Herbal Drugs That
Contain Minimally Processed Plant Material, USP open conference on
botanicals for medicinal and dietary uses: standards and information
issues, P 7-13, The united States Pharmacopeial Convention, Inc,
Maryland
http://mot.farmasi.ugm.ac.id/files/33Edisi%20khusus%20des
%2006_bu%20mae.pdf
Siverstein, R. M. Bassler, G. C., and Morrill, T. C., 1981,
Spectrometric Identification of Organic Compounds , John Wilry & sons,
New York

Sticher, O., 1996, Challenge in the Standardization and Quality Control


of Natural Product, USP Open Conference on Botanicals of Medicinal and
Dietary Uses : Standards and information issues, p.91-95 , The United
States Pharmacopeial Convention, Inc, Maryland.

2. Syarat-syarat uji klinik


Terhadap calon fitofarmaka dapat dilakukan pengujian klinik pada
manusia apabila sudah melalui penelitian toksisitas dan kegunaan pada
hewan coba yang sesuai dan dinyatakan memenuhi syarat yang
membenarkan dilakukan pengujian klinik pada manusia.
Alasan untuk melaksanakan uji klinik terhadap suatu fitofarmaka
dapat didasarkan pada:
a. Adanya data pengujian farmakologik pada hewan coba yang
menunjukkan

bahwa

calon

fitofarmaka

tersebut

mempunyai

aktivitas farmakologik yang sesuai dengan indikasi yang menjadi


tujuan uji klinik fitofarmaka tersebut.
b. Adanya pengalaman empiric dan / atau histori bahwa fitofarmaka
tersebut

mempunyai

manfaat

klinik

dalam

pencegahan

dan

pengobatan penyakit atau gejala penyakit.


Uji klinik fitofarmaka harus memenuhi syarat-syarat ilmiah dan
metodelogi suatu uji klinik untuk pengembangan dan evaluasi khasiat

klinik suatu obat baru.


Uji klinik fitofarmaka

disiplin.
Uji klinik fitofarmaka harus memenuhi prinsip-prinsip etika sejak

merupakan suatu kegiatan pengujian multi

perencanaan sampai pelaksanaan dan penyelesaian uji klinik. Setiap


pengujian harus mendapatkan ijin kelaikan etik (ethical clearance) dari

panitia etika penelitian biomedik pada manusia.


Uji klinik fitofarmaka hanya dapat dilakukan oleh tim peneliti yang
mempunyai keahlian, pengalaman, kewenangan, dan tanggungjawab
dalam pengujian klinik dan evaluasi khasiat klinik obat.

Uji klinik fitofarmaka hanya dapat dilakukan oleh unit-unit pelayanan


dan penelitian yang memungkinkan untuk pelaksanaan suatu uji klinik,
baik dipandang dari segi kelengkapan sarana, keahlian personalia,
maupun tersedianya pasien yang mencukupi. Pengujian klinik dalam unitunit pelayanan kesehatan diluar sentra

uji fitofarmaka, misalnya di

puskesmas atau rumah sakit harus mendapatkan supervise dan


monitoring

dari

sentra

unit

fitofarmaka

sejak

perencanaan,

pelaksanaan sampai dengan penyelesaiannya.

7. Apa saja obat tradisional yang dapat diresepkan oleh dokter maupun dokter herbal
klinik?

STEP 4
Dr. klinik

Syarat:

STR
Surat
izin
sertifikat

Jamu
tersaintifika
si

Tahapan
Tujuan
Syarat
Metode
karakteristik

STEP 5
1. Regulasi mengenai jamu tersaintifikasi
2. Latar belakang munculnya saintifikasi jamu
3. Tujuan dari clinical saintifaksi jamu
4. Ruang lingkup dari saintifikasi jamu
5. Apa metode saintifikasi jamu?
6. Jelaskan perbedaan uji klinik pada fitofarmaka dan pada jamu tersaintifikasi! (proses,
metode, sampel, persyaratan, tujuan) dibuat tabel
CLIICAL TRIAL PHYTOPHARMACA

CLINICAL TRIAL
MEDICINE

SCIENTIFICATION

TRADITIONAL

HERBAL

7. Apa saja obat tradisional yang dapat diresepkan oleh dokter maupun dokter herbal
klinik?
8. Tahapan uji klinik fitofarmaka (tujuan, sampel, jumlah sampel, desain, boleh
dipasarkan pada fase berapa?)
9. Persyaratan dokter yang boleh meresepkan dokter tersaintifikasi jamu
10. Bagaimana persyaratan klinik/rumah sakit/puskesmas yang ditunjuk sebagai yang
dapat memberikan jamu tersaintifikasi (tempat, penulisan resep bagaimana,
pengambilan obat dimana dibandingkan dengan RS/klinik umum)

STEP 6
STEP 7
1. Regulasi mengenai jamu tersaintifikasi
2. Latar belakang munculnya saintifikasi jamu
3. Tujuan dari clinical saintifaksi jamu
4. Ruang lingkup dari saintifikasi jamu
5. Apa metode saintifikasi jamu?
6. Jelaskan perbedaan uji klinik pada fitofarmaka dan pada jamu tersaintifikasi! (proses,
metode, sampel, persyaratan, tujuan) dibuat tabel
CLIICAL TRIAL PHYTOPHARMACA

CLINICAL TRIAL
MEDICINE

SCIENTIFICATION

TRADITIONAL

HERBAL

7. Apa saja obat tradisional yang dapat diresepkan oleh dokter maupun dokter herbal
klinik?
8. Tahapan uji klinik fitofarmaka (tujuan, sampel, jumlah sampel, desain, boleh
dipasarkan pada fase berapa?)
9. Persyaratan dokter yang boleh meresepkan dokter tersaintifikasi jamu
10. Bagaimana persyaratan klinik/rumah sakit/puskesmas yang ditunjuk sebagai yang
dapat memberikan jamu tersaintifikasi (tempat, penulisan resep bagaimana,
pengambilan obat dimana dibandingkan dengan RS/klinik umum)