Anda di halaman 1dari 4

BAB II

KONDISI SITU CISANTI


2.1

Kondisi Umum Situ Cisanti


Danau Cisanti atau Situ Cisanti atau Waduk Cisanti terletak di kaki Gunung Wayang,

Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Secara geografis Waduk


Cisanti terletak pada 107o3930 LS dan 7o1230 BT. Waduk ini merupakan salah satu
sumber mata air Sungai Citarum, Jawa Barat. Terdapat tujuh mata air yang bersatu di situ ini,
yaitu Pangsiraman, Cikahuripan, Cikawedukan, Koleberes, Cihaniwung, CIsadane, dan
Cisanti. Tujuh mata air disekitar hutan milik PT Perhutani ini mengalir sepanjang musim dan
menjadi sumber kehidupan bagi jutaan orang yang berada dibagian hilir.

Gambar 1. Kenampakan Situ Cisanti


Desa Tarumajaya terletak sekitar 40 km sebelah tenggara Kota Bandung, dengan
jetinggian sekitar 1.500 meter diatas permukaan laut. Jalan aspal yang menuju ke desa
tersebut telah menghubungkan dengan pusat keramaian Ciparay, Majalaya, dan Pangalengan.
Semula mata air Citarum yang berada di lereng Gunung Wayang, hanya berupa aliran selebar
1 meter lebih, dengan daerah rawa berumput sebelum menuju hilir. Namun sejak 2001,
pemandangan tersebut berubah menjadi sebuah situ (danau) yang indah seluah 6 hektar,
lengkap dengan keran pengatur air. Dinamakan Cisanti karena sesuai dengan salah satu nama
mata air terbesar di daerah itu.
Kondisi ketujuh mata air Situ Cisanti sudah tidak seperti dulu lagi. Dulu cucuran air
dari ketujuh mata air tersebut masih mampu mengairi Citarum yang merupakan daerah aliran
sungan (DAS) terpanjang di Jawa Barat , sekitar 269 km hingga ke hilir Bekasi. Dulu
pancaran dari sumber mata air sangat deras sehingga mulai dari hulu hingga hilir air tetap
besar dan tidak berubah baik saat musim hujan maupun saat musim kemarau. Hal ini

disebabkan hutan-hutan dikawasan sekitar hulu maupun sepanjang sungai sudah tidak selebat
dulu. Banyak bagian tanah yang gundul tanpa pepohonan besar. Hutan yang lebat berfungsi
menahan dan meresapnya air hujan.
2.2

Data Teknis Situ Cisanti


Luas permukaan Situ Cisanti tergolong kecil, kurang lebih sekitar 9 Ha dengan daerah

tangkapan yang dilindungi oleh pemerintah seluas 40 Ha. Kedalaman Situ Cisanti rata-rata 3
meter. Dilihat dari kedalamannya, yang terisi air hanya sekitar 2,5 meter.
Tabel 1. Data Teknis Situ Cisanti
No.
1.
2.
3.
4.

Elemen Kondisi Fisik Situ


Luas Situ
Kedalaman Situ
Kedalaman air rata-rata
Ketinggian DPL

Keterangan
88662.7313 m2
34m
2,5 m
1.575 1.584 m

Tabel 2. Kondisi Biogeofisik DAS Situ Cisanti


No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
2.3

Elemen Kondisi Biogeofisik


Luas DAS
Ketinggian dari permukaan air
Topografi
Geologi
Vegetasi
Intensitas hujan

Keterangan
2.127.411.177 m2
1573 2198 m
Datar curam (10 34%)
Batu endapan/alluvial
Hutan hujan tropis seperti pinus, kayu putih
10.77 19.33 mm/hari

Tataguna Lahan Daerah Tangkapan Situ Cisanti


Daerah tangkapan Situ Cisanti hampir semuanya merupakan lahan belum terbangun

berupa lahan vegetasi liar, semak belukar, dan pepohonan. Pepohonan yang tumbuh antara
lain pohon pinus, kayu putih, ki badak, rasamalam, dan suteu. Dahulu diketahui bahwa
daerah tangkapan Situ Cisanti berupa pepohonan yang sangat lebat, namun hutan tersebut
berkurang akibat penebangan yang dilakukan oleh penduduk sekitar. Perubahan tataguna
lahan dari hutan yang lebat menjadi kebun campuran, perkebunan, dan lahan campuran dapat
menyebabkan peningkatan limpasan permukaan.
Tabel 3. Tataguna Lahan Daerah Tangkapan Situ Cisanti
No.
1.
2.
3.

Penggunaan Lahan
Hutan
Semak/Belukar
Perkebunan/kebun

Luas (m2)
1.289.425.607
474.012.039
234.184.519

4.
2.4

Tegalan/Ladang

129.789.011

Iklim Wilayah Daerah Tangkapan Situ Cisanti


Situ Cisanti terletak di kaki Gunung Wayang, dimana faktor orografi sangat

mempengaruhi cuacanya seperti kebanyakan daerah pegunungan di pulau Jawa. Faktor


orografi menyebabkan hujan sering turun pada siang dan sore hari. Posisi geografis Situ
Cisanti terletak di daerah tropis dimana perbedaan temperatur tidak begitu besar. Berdasarkan
kondisi tersebut maka dapat diasumsikan bahwa Situ Cisanti tidak berstratifikasi secara
termal. Pada daerah tropis terjadi dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan.
Pergantian kedua musim tersebut mempengaruhi tinggi rendahnya curah hujan. Tinggi
rendahnya curah hujan yang terjadi turut mempengaruhi fluktuasi muka air Situ Cisanti.
2.5

Pemanfaatan Situ Cisanti


Pemanfaatan utama Situ Cisanti adalah sebagai sarana wisata. Ada beberapa alasan

kenapa situ ini dijadikan tempat wisata, yaitu karena udara di Situ Cisanti cukup dingin dan
sejuk, letaknya juga dikelilingi hutan rimba campur dengan puluhan spesies pohon yang
usianya mungkin sudah ratusan tahun, dari sisa perambahan hutan yang dilakukan warga
setempat.
Banyak pengunjung atau wisatawan yang melakukan kegiatan pemancingan yang
berlebihan, dalam arti kegiatan pemancingan dijadikan sebagai sandaran untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini sangat bertentangan dengan keinginan PT Perhutani
yang justru menghimbau serta mengajak warga setempat dan wisatawan untuk ikut
melestarikan ikan-ikan yang berada di lokasi Situ Cisanti dengan cara

menanam dan

menabur benih ikan pada situ. Kegiatan pemancingan boleh dilakukan hanya sebatas hobi
dan dalam frekuensi yang tidak terlalu sering. Keberadaan Situ Cisanti sebagai salah satu
mata air untuk Sungai Citarum sangat penting dan perlu dilestarikan, termasuk habitat
ikannya mengingat bayaknya kerusakan hutan yang terjadi di Jawa Barat. Mata air ini dapat
menjadi andalan kebutuhan air untuk pertanian, minum, dan pembangkin tenaga listrik.
Sumber : http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/632/jbptitbpp-gdl-zuhrilalim-31571-4-2008ta3.pdf
Kasus Pencemaran Sungai Citarum
Begitu banyak jenis sumber daya alam yang terdapat di negara indonesia. Akan tetapi, lama
kelamaan sumber daya alam tersebut habis digunakan untuk memenuhi kehidupan manusia,

permasalahan yang terjadi bukan hanya habis digunakan, tetapi juga terjadi kerusakan
struktur kandungan alami sumber daya tersebut akibat ulah manusia itu sendiri. seperti yang
terjadi pada sungai citarum.
Citarum harusnya bisa diandalkan untuk air minum, listrik, perikanan, dan irigasi. Akan
tetapi, karena beberpa faktor hal sungai citarum mengalami kerusakan atau pencemaran
lingkungan yang terbilang cukup parah. Percemaran dan sedimentasi terjadi mulai dari hulu
sungai di Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang, Kertasari Kab.Bandung. Aliran sungai ini
melewati perkampungan padat Desa Tarumajaya, Kec. Kertasari, Kab. Bandung, yang
sebagian besar penduduknya merupakan petani sayur dan peternak sapi perah.
Kawasan perbukitan dan DAS hulu sungai beralih fungsi menjadi perkebunan, belum
lagi masyarakat peternak sapi perah di desa Tarumajaya membuang kotoran sapinya langsung
ke sungai, yang menjadikan air sungai sudah tercemar sejak dari hulu, dan masuk kekawasan
Majalaya tidak sedikit pabrik yang tidak memiliki pengolahan air hingga tingkat pencemaran
air Citarum semakin tinggi, (Lintas Jabar, Tarung News) - Julukan Sungai Terjorok di Dunia
yang dimuat di koran The Sun pada 2010 dan Sungai Panjang Terkotor oleh kantor berita
CNN pada 2011 memang layak disematkan Sungai Citarum.
Hampir sepanjang 297 kilometer mulai dari hulu sungai di Kertasari Kab. Bandung
hingga bermuara di Pantai Muara Merdeka, Muara Gembong Kab. Bekasi, eksploitasi disertai
pengrusakan tanpa batas terus dilakukan terhadap Sungai Citarum. Kita seakan tidak
menyadari terhadap keberadaan Sungai Citarum yang sebelum mengalir ke Laut Jawa, sungai
terbesar dan terpanjang di Jabar ini digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di
Waduk Saguling yang menghasilkan 700 - 1.400 megawatt, Waduk Cirata (1.008 MW), dan
Waduk Jatiluhur (187 MW).