Anda di halaman 1dari 13
PROGRAM PEMBANGUNAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA (P3MD) DIREKTORAT JENDERAL PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

PROGRAM PEMBANGUNAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA (P3MD) DIREKTORAT JENDERAL PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI

DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI Laporan Individu disusun oleh: STEPHANUS STEPHANUS MUL

Laporan Individu disusun oleh:

STEPHANUSSTEPHANUS MULMULYADI,YADI, S.S.,S.S., M.Sc.M.Sc.

SPT: 414.2/SPT-19-04/TA-6/2016 NKTR: 414.2/ktr-19-04/TA-6/2016

TA PENGEMBANGAN PELAYANAN SOSIAL DASAR KABUATEN KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT

SOSIAL DASAR KABUATEN KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT PENDAMPING DESA KABUPATEN KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT Jl.

PENDAMPING DESA KABUPATEN KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT

Jl. Kopral Rahman Hilir Kantor, Kec. Putussibau Utara Kab. Kapuas Hulu Kalimantan Barat HP/WA. 081280503764 E-Mail: stephanus_mulyadi@yahoo.de

2
3

LAPORAN INDIVIDU

TENAGA AHLI PENGEMBANGAN PELAYANAN DASAR (TA 6)

T.A . 2016

Nama

: STEPHANUS MULYADI, M.Sc

Posisi

: TA 6 ( PENINGKATAN PELAYANAN DASAR )

Lokasi Tugas

: KAPUAS HULU

Laporan Bulan : Jul 2016

Tugas : KAPUAS HULU Laporan Bulan : Jul 2016 Pendahuluan Gambaran Umum Kabupaten Kapuas Hulu, secara
Pendahuluan

Pendahuluan

Pendahuluan

Gambaran Umum

Kabupaten Kapuas Hulu, secara astronomis berada pada 0,5º Lintang Utara sampai 1,4º Lintang Selatan dan 111,40º sampai 114,10º Bujur Timur dengan ibukota Putussibau. Sebelah Utara berbatasan dengan Serawak (Malaysia Timur), sebelah Barat dan Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sintang dan Melawi, sementara sebelah Timur berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Kabupaten Kapuas Hulu merupakan kabupaten paling timur di Kalimantan Barat dengan luas wilayah 29.842 kilometer persegi (20,33% dari wilayah Provinsi Kalbar).

kilometer persegi (20,33% dari wilayah Provinsi Kalbar). Peta wilayah Kabupaten Kapuas Hulu 1. Letak geografis

Peta wilayah Kabupaten Kapuas Hulu

1. Letak geografis

Kabupaten Kapuas Hulu memanjang dari arah Barat ke Timur, dengan jarak kurang lebih 240 Km dan melebar dari Utara ke Selatan dengan jarak kurang lebih 126,70 Km.

Dari Pontianak, ibu kota provinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Kapuas Hulu ber- jarak kurang lebih 657 Km melalui jalan darat, dan 842 Km melalui Sungai Kapuas. Waktu tempuh ke Pontianak kurang lebih empat puluh lima menit penerbangan menggunakanPesawat Udara jenis ATR 42 Seri 300/F27 atau kurang lebih 16 jam dengan kendaraan darat.

2. Icon dunia

Kabupaten yang sangat luas ini termasuk kabupaten yang sangat unik karena memiliki 2 (dua) icon dunia yaitu Taman Nasional Danau Sentarum dan Betung Kerihun, yang merupakan kawasan hutan lindung atau konservasi.

Dilihat dari segi kawasan kehutanan Kapuas Hulu memiliki kawasan kehutanan sekitar 51,21 % dan Kapuas Hulu merupakan kawasan Hutan Lindung dan Konservasi terbesar di Kalbar. Dengan demikian Kabupaten Kapuas Hulu memberikan sumbangan yang besar dalam menahan lajunya perubahan iklim dunia.

3. Kaya Potensi

Kabupaten yang memiliki 23 Kecamatan, 278 Desa dan 4 Kelurahan ini memiliki potensi wilayah yang sangat besar di sektor pertanian, industri, perdagangan, UKM, koperasi, pertambangan dan lingkungan hidup dan pariwisata.

4. Minim Infrastruktur & rendahnya SDM

Berbagai keunggulan di atas tidak serta merta membuat masyarakat di kabupaten ini sejahtera. Minimnya infrastruktur transportasi dan komunikasi serta rendahnya SDM menempatkan kabupaten ini masih tergolong sebagai Kabupaten Tertinggal.

Pendahuluan (lanjutan)

Pendahuluan (lanjutan)

Pendahuluan (lanjutan)

Jabatan dan Tugas

Berdasarkan Surat Perintah Tugas (SPT) Nomor 414.2/SPT-19-04/TA-6/2016 tanggal 03 Febru- ari 2016 tentang penugasan Tenaga Ahli Pengembangan Pelayanan Sosial Dasar (TA-PSD) dalam melaksanakan tugas pendampingan pelaksanaan implementasi undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa dengan berfokus untuk memfasilitasi:

1. Pelayanan kesehatan bagi masyarakat secara terpadu;

2. Pelayanan pendidikan bagi masyarakat desa secara terpadu;

3. Pemberdayaan perempuan dan anak;

4. Pemberdayaaan kaum difabel/ berkebutuhan khusus;

5. Pemberdayaan kelompok marginal;

6. Pemberdayaan keluarga miskin;

7. Pengembangan kesejahteraan keluarga;

8. Pelestarian dan pengembangan adat dan kearifan lokal;

9. Pelestarian dan pengembangan seni budaya desa;

10. Pengembangan kerukunan dan ketenteraman antar warga desa dan / atau antar desa;

11. Pengembangan media informasidesa untuk masyarakat desa;

12. Pengeolaan akses informasi antar warga desa dan / antar desa.

Rencana Kerja TA-PD periode yang dilaporkan (8/2016)

Sesuai dengan rencana kerja yang disusun bulan Juli 2016, pekerjaan bulan Agustus 2016 difokus- kan untuk melakukan sosialisasi, pendampingan dan kajian keadaan desa khususnya bidang Pela- yanan Sosial Dasar. Sosialisasi dilakukan dalam BIMTEK penyusunan RKPDes di kecamatan dan desa-desa.

Desa yang dikunjungi bulan Agustus 2016 adalah Desa Bungan Jaya, Tanjung Lokang, Kec. Putussi- bau Selatan, Desa Temuyuk, Kec. Bunut Hulu, dan Desa Nanga Embaloh, Kec. Embaloh Hilir.

TujuanKec. Bunut Hulu, dan Desa Nanga Embaloh, Kec. Embaloh Hilir. Hasil yang akan dicapai selama 1

Tujuan

Hasil yang akan dicapai selama 1 (satu) bulan pelaksanaan kegiatan Pendampingan Desa (Agustus 2016)

1. Mendapatkan data (dan gambaran) konkret tentang keadaan kesehatan, pendidikan masyarakat, pemberdayaan perempuan dan anak dan keluarga miskin di desa.

2. Mendapatkan data (dan gambaran) konkret tentang keadaan adat dan seni budaya dan kearifan lokal di desa.

3. Identifikasi potensi, persoalan, factor penyebab dan kemungkinan mengembangkan langkah strategis untuk melakukan perbaikan situasi / penyelesaian masalah.

4. Mendapatkan landasan untuk penyusunan rekomendasi RKTL, koordinasi kerja dengan pihak terkait /lintas SKPD/ stakeholder untuk penyelesaian masalah.

5. Pengajuan pelepasan tanah di kawasan Hutan Lindung dan Taman Nasional di wilayah Kapuas Hulu, sehingga masyarakat pedalaman memiliki lahan untuk hidup. Pengajuan ini su- dah sampai di provinsi.

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

3.1. Pelaksanaan kajian keadaan desa bidang Pelayanan Sosial Dasar

Tugas pokok TA PSD adalah mengimplementasikan UU Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, khususnya mendorong pengembangan pelayanan social dasar (rincian tugas lihat hal 5 Jabatan dan Tugas).

Berdasarkan rencana kerja yang disusun bulan Ju- li 2016, bulan Agustus 2016 TA PSD melakukan pendampingan desa khususnya Aparat Desa dan Team Penyusunan RKPDes 2017 dalam bidang pe- layanan social dasar. Sampai sekarang masih ban- yak desa yang belum menjadikan bidang pelayanan Sosial Dasar sebagai prioritas pembangunan d de- sa, padahal bidang ini merupakan bidang pela- yanan yang mutlak harus diberikan oleh pemerintah Desa.

Selain itu mengadakan kunjungan khusus ke de- sa BunganJaya dan Tanjung Lokang, dua desa di hulu sungai Kapuas. Kedua desa ini merupakan desa terisolir dengan tingkat kesulitan medan yang sangat ekstrim. Khusus kunjungan ke Tan- jung Lokang dilakukan dalam rangka penyerahan bantuan pemerinta Kab. Kapuas Hulu untuk korban bencana banjir bandang yang terjadi bu- lan Juni lalu.

Bulan Agustus TA PSD juga memberikan pen- guatan kapasitas pengurus BUMDes untuk desa Temuyuk, Kec. Bunut Hulu.

3.2. Laporan Pelaksanaan TUPOKSI TA Pengembangan Pelayanan Sosial Dasar bulan Agustus 2016

3.2. Laporan Pelaksanaan TUPOKSI TA Pengembangan Pelayanan Sosial Dasar bulan Agustus 2016

Tanggal

1

2-3

Aktivitas

Persiapan Bimtek Team RKPDes Kec. Putussibau Selatan

BIMTEK tim penyusunan RKPDES sekec. Putussibau Selatan

BIMTEK tim penyusunan RKPDES se – kec. Putussibau Selatan 4 - 6,8 Kantoran 9 - 12
BIMTEK tim penyusunan RKPDES se – kec. Putussibau Selatan 4 - 6,8 Kantoran 9 - 12
BIMTEK tim penyusunan RKPDES se – kec. Putussibau Selatan 4 - 6,8 Kantoran 9 - 12

4-6,8

Kantoran

9-12

Kunjungan ke Bungan Jaya dan Tanjung Lokang, Kec. Putussibau Selatan

ke Bungan Jaya dan Tanjung Lokang, Kec. Putussibau Selatan 13 Kantoran 15 - 16 Kunjungan ke
ke Bungan Jaya dan Tanjung Lokang, Kec. Putussibau Selatan 13 Kantoran 15 - 16 Kunjungan ke
ke Bungan Jaya dan Tanjung Lokang, Kec. Putussibau Selatan 13 Kantoran 15 - 16 Kunjungan ke

13

Kantoran

15-16

Kunjungan ke kantor Camat Putussibau Selatanwawancara dengan Pak Camat

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Tanggal

Aktivitas

15-16

Kunjungan ke Putussibau Selatanwawancara dengan Pak Camat dan pendampingan IDM

Selatan — wawancara dengan Pak Camat dan pendampingan IDM 17 Persiapan BIMTEK BUMDes Desa Temuyuk 18
Selatan — wawancara dengan Pak Camat dan pendampingan IDM 17 Persiapan BIMTEK BUMDes Desa Temuyuk 18
Selatan — wawancara dengan Pak Camat dan pendampingan IDM 17 Persiapan BIMTEK BUMDes Desa Temuyuk 18

17

Persiapan BIMTEK BUMDes Desa Temuyuk

18

BIMTEK pengurus BUMDES Desa Temuyuk, Kec, Bunut Hulu

18 BIMTEK pengurus BUMDES Desa Temuyuk, Kec, Bunut Hulu 19 Kantor BAPPEDA — Rapat Koordinasi pengusulan
18 BIMTEK pengurus BUMDES Desa Temuyuk, Kec, Bunut Hulu 19 Kantor BAPPEDA — Rapat Koordinasi pengusulan
18 BIMTEK pengurus BUMDES Desa Temuyuk, Kec, Bunut Hulu 19 Kantor BAPPEDA — Rapat Koordinasi pengusulan

19

Kantor BAPPEDARapat Koordinasi pengusulan pelepasan wilayah (enklav) Kawasan Hutan Lindung dan Taman Nasional di Kapuas Hulu yang masuk ke wilayah perkampungan dan sumber usaha masyarakat

masuk ke wilayah perkampungan dan sumber usaha masyarakat 20 Kantoran 22 - 23 BIMTEK team penyusunan
masuk ke wilayah perkampungan dan sumber usaha masyarakat 20 Kantoran 22 - 23 BIMTEK team penyusunan
masuk ke wilayah perkampungan dan sumber usaha masyarakat 20 Kantoran 22 - 23 BIMTEK team penyusunan

20

Kantoran

22-23

BIMTEK team penyusunan RKPDES seKec. Embaloh Hilir

dan sumber usaha masyarakat 20 Kantoran 22 - 23 BIMTEK team penyusunan RKPDES se – Kec.
dan sumber usaha masyarakat 20 Kantoran 22 - 23 BIMTEK team penyusunan RKPDES se – Kec.
dan sumber usaha masyarakat 20 Kantoran 22 - 23 BIMTEK team penyusunan RKPDES se – Kec.
Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Tanggal

Aktivitas

24

Kantor BAPPEDARapat Koordinasi (lanjutan) pengusulan pelepasan wilayah (enklav) Kawasan Hutan Lindung dan Taman Nasional di Kapuas Hulu yang masuk ke wilayah perkampungan dan sumber usaha masyarakat

25-27

Kantoran

29

Rakor Kelembagaan Sosial dan Ekonomi DesaTA, PD, PLD,GSC se Kab. Kapuas Hulu di Putussibau

Desa — TA, PD, PLD,GSC se Kab. Kapuas Hulu di Putussibau 30 Rakor bulanan TA-PD 31
Desa — TA, PD, PLD,GSC se Kab. Kapuas Hulu di Putussibau 30 Rakor bulanan TA-PD 31
Desa — TA, PD, PLD,GSC se Kab. Kapuas Hulu di Putussibau 30 Rakor bulanan TA-PD 31

30

Rakor bulanan TA-PD

31

KantoranPenyusunan Laporan Invidu bulanan

3.3. Waktu, Maksud & Tujuan Kunjungan Lapangan

3.3.1. Waktu Pelaksanaan Kunjungan Lapangan

Kunjungan lapangan dilaksanakan antara tanggal

2-3,9-12,15-6,18-19,22-24 Agustus 2016.

3.3.2. Maksud dan Tujuan kunjungan

Kunjungan lapangan dimaksudkan untuk sosial- isasi, BIMTEK, pendampingan dan kajian keadaan desa berkaitan dengan Pelayanan Sosial Dasar.

Tujuan

memberikan pemahaman kepada pemerintah Desa dan team RKPDes tentang pentingnya bidang pelayanan social dasar dalam kerangka pembangunan desa.

Meningkatkan kapasitas aparatur desa dan team RKPDes dalam penyusunan RKPD yang holistic dan sesuai dengan prioritas riil di desa.

Melihat situasi PSD konkrit di desa Bungan Jaya dan Tanjung Lokang.

3.4. Hasil Kunjungan Lapangan

1. BIMTEK PENYUSUNAN RKPDES

3.4. Hasil Kunjungan Lapangan 1. BIMTEK PENYUSUNAN RKPDES BIMTEK RKPDES menjadi kesempatan yang san- gat bagus

BIMTEK RKPDES menjadi kesempatan yang san- gat bagus untuk memberikan penyadaran bagi Pemerintah Desa dan team RKPDes akan pent- ingnya pembangunan di desa, khususnya bidang pelayanan social dasar. Peserta BIMTEK akhirnya menyadari bahwa selama ini bidang Pelayanan Sosial Dasar sering terlupakan dalam pem- bangunan di desa, padahal bidang PSD merupa- kan prioritas utama pembangunan.

Kesadaran itu membantu mereka dalam me- nyusun RKPDES 2017 yang lebih menjawab kebutuhan dasar masyarakat desa. Sekarang de- sa-desa yang sudah mendapatkan bimbingan su- dah mampu menyusun RKPDES dengan memper- timbangkan prioritas pelayanan bidang PSD.

2. BIMTEK BUMDES

bimbingan su- dah mampu menyusun RKPDES dengan memper- timbangkan prioritas pelayanan bidang PSD. 2. BIMTEK BUMDES
Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

2. BIMTEK BUMDES

Laporan Pelaksanaan Kegiatan 2. BIMTEK BUMDES Pembangunan desa diarahkan pada pencapaian kesejahteraan masyarakat desa,

Pembangunan desa diarahkan pada pencapaian kesejahteraan masyarakat desa, peningkatan kualitas hidup manusia dan pengentasan kem- iskinan. Hal tersebut bisa tercapai jika masyara- kat memiliki sumber penghidupan yang berke- lanjutan. Kehadiran BUMDes di desa bisa men- jadi salah satu alternative pendorong upaya masyarakat mencapai kesejahteraan mereka secara berkelanjutan. Oleh karena itu BIMTEK dan pendampingan sangat besar perannya dalam peningkatan kapasitas masyarakat desa dalam pengelolaan BUMDes. Berkat BIMTEK dan pen- dampingan pengelola BUMDes di beberapa desa di Kapaus Hulu sudah mampu mengelola BUM- Des secara mandiri dan professional.

3. BUNGAN JAYA DAN TANJUNG LOKANG

mandiri dan professional. 3. BUNGAN JAYA DAN TANJUNG LOKANG Bungan Jaya dan Tajung Lokang merupakan dua

Bungan Jaya dan Tajung Lokang merupakan dua desa terpencil dan terluar diKabupatn Kapuas Hulu. Kedua desa ini belum memiliki akses jalan darat dan belum memiliki jaringan komunikasi dan informasi. Sarana transportasi satu-satunya melalui jalur sungai yang sangat berbahaya dan rentangnya sangat jauh. Sehingga biaya transport sangat tinggi dan pelayanan social dasar masih sangat minim di daerah ini. Saat terjadi bencana Banjir Bandang di Tanjung Lokang, kegiatan re- covery dan pemberian bantuan sangat sulit dikirim ke sana. Akibatnya bantuan dating san- gat terlambat (lebih dari sebulan). Persoalan lain adalah kedua desa ini masuk dalam kawasan Ta- man Nasional Betung Kerihun. Akibatnya warga masyarakat di kedua desa itutidak bisa memiliki hak atas tanah dan sulit mengembangkan sum- berkehidupan yang berbasih lahan, seperti berla- dang atau berkebun. Upaya mendesak pemerintah untuk segera membuat penataan ulang penggunaan kawasan dengan melepaskan (enklav) lahanmilik masyarakat sangat penting saat ini.

4.

EKOLOGI

Mayoritas masyarakat pedesaan di Kapuas Hulu memiliki sumber penghidupann utama berbasis lahan. Mereka hidup sebagai petani, berkebun dan nelayan. Namun Tata Ruang Kawasan Kapuas Hulu hampir tidak memberikan lahan kepada masyarakat pedesaan, karena sebagian besar lahan dijadikan Hutan Lindung dan Taman Nasional dan perkebunan kelapa sawit. Padahal masyarakat sudah ada di sana jauh sebelum sta- tus HL dan TN ditetapkan.

DESA

KONSEP

PERMACULTURE

&

Untuk menjamin hak hidup masyarakat pedesaan, kawasan HL dan TN yang menjadi sumber penghidupan masyarakat harus dienklav. Dan agar kawasan yang sudah dienklav itu tetap bisa berfungsi sebagai hutan konsep pertanian permaculture dan pembangunan desa ekologi bisa dikembangkan di Kapuas Hulu.

Membangun Indonesia dari Pinggiran (NC3) MEMIMPIKAN TATA RUANG KAWASAN YANG LEBIH MANUSIAWI DI KAPUAS HULU Sebuah tinjauan Sosial oleh Stephanus Mulyadi

„Biar tekor asal kesohor“

Dilihat dari sisi Tata Ruang Kawasan ungkapan „ biar tekor asal kesohor“ ini mungkin cocok un- tuk menggambarkan situasi penataan kawasan di Kabupaten Kapuas Hulu saat ini. Kabupaten Kapuas Hulu merupakan salah satu Kabupaten terrsohor di mata dunia. „Bukan karena pem- bangunannya. Sebab dari segi pembangunan ka- bupaten ini bahkan masih masuk kategori kabu- paten tertinggal. Kabupaten Kapuas Hulu

tersohor karena Kabupaten Kapuas Hulu mem- iliki dua Taman Nasional, yaitu Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Da- nau Sentarum (TNDS). Selain kedua Taman Na- sional tersebut tidak tanggung-tanggung, dari 23 kecamatan, 20 kecamatan di Kapuas Hulu mem- iliki wilayah yang masuk kawasan Hutan Lin- dung. Mengagumkan!

Tetapi dari segi kemanusiaan Kabupaten Kapuas Hulu “tekor”. Tekor karena masyarakat di Kapuas

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Hulu hampir tidak memiliki lahan yang bisa diolah untuk menjadi sumber penghidupan (lihat peta di bawah). Karena hampir semua lahan merupakan kawasan konservasi atau kawasan lindung. Se- dangkan kawasan yang tidak masuk TN dan HL sudah dikuasai oleh perkebunan sawit.

Ketika mendengar kehebatan Taman Nasional atau Hutan Lindung di Kabupaten Kapuas Hulu, mung- kin tidak banyak orang yang tahu, bahwa ada ban- yak cerita memilukan tersembunyi di dalam lebatnya hutan tropis di kabupaten ini. Seakan dianggap tidak apa-apa, begitu banyak orang, be- gitu banyak komunitas masyarakat asli yang terse- bar di pedalaman Kapuas Hulu telah mengalami pengabaian hak asasi dan sosial secara sengaja dan massif oleh negara. Masyarakat asli yang men- galami pengabaian ini adalah komunitas- komunitas yang hidup di dalam kawasan Taman Nasional dan Hutan Lindung.

Sebut beberapa contoh. Pertama masyarakat sub suku Dayak Punan, yang tersebar di hulu Sungai Kapuas, di desa Bungan Jaya dan desa Tanjung Lokang, Kecamatan Putussibau Selatan. Mereka sudah ratusan atau mungkin ribuan tahun hidup

di sana. Sejak kawasan itu dijadikanTaman Na-

sional (TNBK) mereka kehilangan hak atas tanah untuk hidup. Mereka tidak bisa memiliki sertifikat hak milik atas tanah. Tidak hanya itu.

Masyarakat Bungan Jaya dan Tanjung Lokang bahkan dengan sengaja diisolir. Tidak boleh mem- iliki akses jalan darat. Pemerintah Indonesia melarang pembukaan jalan untuk akses trans- portasi ke desa-desa tersebut dengan alasan dae- rah itu adalah kawasan Taman Nasional. Sampai sekarang satu-satunya akses transportasi adalah melalui jalur sungai. Untuk itu masyarakat Tan- jung Lokang harus mengeluarkan biaya hingga Rp.5.000.000,00 (lima juta rupiah) pulang pergi dengan waktu tempuh dua hari dari Putussibau naik perahu. Padahal jika ada jalan darat paling lama 4 (empat) jam dari Putussibau dengan biaya tidak sampai Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah) pulang pergi. Melalui sungai mereka masih harus bertaruh nyawa melawan ganasnya arus sungai Kapuas dan sungai Bungan. Tidak jarang mereka karam hingga mengalami kerugian harta bahkan nyawa.Karena tidak memiliki jalan darat, pela- yanan sosial dasar di desa-desa tersebut sangat minim. Pendidikan hanya sebatas SD. Guru dan fasilitas pendidikan sangat terbatas. Di Tanjung

Lokang pelayanan kesehatan tidak lagi bisa dilaya-

ni di gedung PUSKESMAS karena gedungnya su-

dah hampir roboh. Tenaga medis sangat kurang. Fasilitas komunikasi dan informasi jangan ditan- ya. Bahkan ketika dua bulan lalu terjadi bencana air bah di Tanjung Lokang, bantuan sangat sulit dibawa kesana. Akibatnya sampai sekarang …….

korban bencana alam di Tanjung Lokang belum mendapatkan bantuan yang layak.

Contoh kasus kedua adalah masyarakat Dusun Laung, Desa Seneban, Kecamatan Seberuang. Sa- ma seperti masyarakat Bungan dan Tanjung Lo- kang, masyarakat dusun Laung sudah ratusan bahkan mungkin ribuan tahun hidup di sana. Bu- daya bersawah sudah ada di sana sejak sebelum jaman kemerdekaan. Pada tahun 1970-an dusun ini bahkan sudah menjadi lumbung padi bagi Ka- bupaten Kapuas Hulu karena dusun ini memiliki hamparan lahan sawah lebih dari 280 hektar. Oleh karena itu, pada akhir tahun 1970-an pemerintah membangun jalan poros dari Sejiram, ibu kota kecamatan menuju dusun Laung. Bupati Ali- as,SH., (Bupati Kapuas Hulu waktu itu) bahkan ikut menginap di hutan saat beliau ikut gotog- royong mencangkul jalan poros Laung-Sungai Apin. Sekitar tahun 1977 di dusun Laung dibangun bendungan irigasi permanen. Bahkan sejak 2008-2014 proyek-proyek PNPM Visew ma- suk ke dusun Laung. Namun kejayaan sawah Laung meredup setelah masyarakat diberitahu bahwa dusun mereka masuk kawasan Hutan Lin- dung. Akibatnya masyarakat menjadi takut mengerjakan sawah.

Sejak tahun 2013 kelompok Tani Laung beberapa kali mengajukan proposal cetak (sebenarnya lebih tepat rehab) lahan sawah kepada pemerintah. Semua proposal itu ditolak, dengan alasan Dusun Laung masuk kawasan Hutan Lindung. Sekarang petani di Laung menjerit, mau berladang terbentur instruksi Presiden yang melarang membakar la- han, mau menyadap karet harga kulat murah, mau menggarap sawah terhambat status kawasan Hutan Lindung. Lalu masyarakat mesti hidup dari apa?

TELAH

NILAI-NILAI PANCASILA

TERJADI

PELANGGARAN

TERHADAP

Entah disengaja atau tidak, pemerintah telah ber- laku buruk terhadap masyarakat dikawasan Ta- man Nasional dan Hutan Lindung. Perlakuan bu- ruk itu bahkan telah melanggar nilai-nilai PAN- CASILA, khusunya sila kedua dan sila kelima. Sila kedua Pancasila berbunyi, „Kemanusiaan yang adil dan beradab.“ Ketika masyarakat di kawasan Ta- man Nasional atau Hutan Lindung dirampas hak mereka untuk memiliki dan mengolah tanah, keti- ka mereka dibiarkan terisolir tanpa akses jalan yang memadai, bukankah itu telah melanggar asas dan nilai kemanusiaan? Manusiawikah suatu per- aturan atau Undang-Undang yang telah me- nyebabkan manusia atau sekelompok masyarakat tertentu kehilangan hak asasi, yaitu hak hidup mereka? Adakah negara, ketika akan menetapkan kawasan itu menjadi Taman Nasional atau Hutan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

Lindung, meminta perstujuan warga setempat? Tidak! Kalau begitu telah berlaku adilkah negara yang dengan sepihak menetapkan kawasan itu menjadi Taman Nasional atau Hutan Lindung lalu kemudian menghilangkan hayat hidup penduduk pedalaman yang lemah, yang telah ratusan atau bahkan mungkin ribuan tahun di sana? Tidak adil! Bahkan tidak beradab!

Kemudian sila kelima PANCASILA berbunyi,“ Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.“ Si- la ke lima ini sangat jelas memperlihatkan bahwa Negara harus menjamin hak seluruh rakyatnya untuk mendapatkan keadilan sosial. Namun nega- ra mengabaikan kewajiban itu ketika Negara dengan sengaja merampas hak-hak rakyat atas tanah untuk hidup, ketika negara merampas hak rakyat atas akses transportasi, informasi, komu- nikasi, pendidikan, kesehatan, rasa aman dan layanan sosial lainnya karena mereka berada di kawasan Hutan Lindung atau Taman Nasional. Terlebih-lebih seperti dalam Kasus di Kapuas Hulu komunitas-komunitas masyarakat itu sudah ada di sana jauh lebih dulu ratusan tahun sebelum status Taman Nasional atau Hutan Lindung itu ditetapkan.

Mereka bukan perambah Hutan Lindung atau Ta- man Nasional! Sebaliknya pemberian status kawa- san Hutan Lindung atau Taman Nsional itulah yang telah merambah dan merampas peradaban manusia di sana. Maka jelas, nilai-nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tidak diberla- kukan terhadap masyarakat di kawasan Taman Nasional atau Hutan Lindung. Itu adalah pelang- garan!

SOLUSI STRTATGIS

Pemerintah mesti mencari solusi strategis dan bi- jaksana untuk mengatasi masalah tersebut. Na- mun langkah yang mendesak untuk dibuat ada- lah, demi pertimbangan manusiawi dan berkeadi- lan sosial, sesuai amanat sila kedua dan kelima PANCASILA, pemerintah harus segera mengem- balikan hak masyarakat yang telah dirampas aki- bat terdampak oleh Taman Nasional dan Hutan Lindung, yaitu hak masyarakat atas kawasan yang sudah menjadi sumber penghidupan utama masyarakat sebelum status Taman Nasional dan Hutan Lindung dikeluarkan.Tentu pemerintah ju- ga harus memperhatikan pertimbangan ekologis, misalnya ada kawasan yang memang tidak bisa di- enklav karena pertimbangan keamanan, misalnya daerah rawan bencana, daerah aliran sungai (DAS) atau pegunungan yang menjadi tangkapan hujan. Dan memang tidak semua kawasan TN atau HL harus di-enklav. Yang harus di-enklav adalah ka- wasan desa/dusun yang sudah menjadi tempat pemukiman dan lahan yang sejak lama sudah

menjadi sumber penghidupan masyarakat, misal- nya kawasan yang sudah menjadi kebun, ladang, sawah, tembawang sebelum status TN dan HL ditetapkan. Maka di sini perlu dilakukan pemetaan partisipatif, melibatkan warga terdampak, untuk menetapkan kawasan mana yang sepantasnya menjadi hak warga.

Pemerintah harus menghormati kemampuan masyarakat mengelola hutan. Masyarakat yang terbiasa hidup di sekitar atau di dalam hutan san- gat tahu manfaat hutan. Maka secara alami dan dengan kearifan lokal mereka selalu memelihara keutuhan hutan. Namun karena keterbatasan sa- rana-dan prasarana serta informasi, mereka mem- butuhkan bantuan dari pihak lain (pemerintah) untuk menata desa dan sumber penghidupan mereka secara berkelanjutan tanpa harus merusak alam. Seperti contohnya bagi desa atau dusun yang memiliki potensi pertanian. Bantuan bisa berupa pembukaan (rehab) lahan pertanian, penyediaan sarana-prasarana pertanian dan pem- binaan masyarakat dalam hal pertanian. Di sinilah prinsip subsidiaritas diberlakukan.

REKOMENDASI:

Permaculture terpadu desa ekologi

Dalam pemikiran saya ada satu jalan keluar yang akan menguntungkan semua pihak. Jalan keluar itu adalah pembangunan dengan menerapkan konsep permaculture (prinsip pertnian permanen) terpadu Desa Ekologi di kawasan Taman Nasional atau Hutan Lindung. System permaculture adalah system pertanian organic berkelanjutan. Sistem pertanian ini memberikan hasil pertanian maksi- mal bagi masyarakat tetapi ramah lingkungan dengan penggunaan lahan yang minim.

Sedangkan desa ekologi menjadikan masyarakat desa sebagai subyek pemelihara keutuhan hutan

serta dapat menarik manfaat dari sektor ekonomi kreatif, seperti sektor pariwisata dengan mengem- bangkan wisata ekologi. Tugas pemerintah dan lembaga lain, misalnya pihak pengelola Taman Na- sional, adalah memberdayakan masyarakat setem- pat untuk ikut mengelola (menjadi pegawai) Taman

H u t a n L i n d u n g .

N a s i o n a l a t a u

Dengan menerapkan konsep permaculture terpadu desa ekologi, keutuhan hutan di sekitar desa akan terjaga karena masyarakat setempat memiliki sumber penghidupan yang baik dan berkelanjutan

tanpa harus merusak alam. Mimpi ini bisa ter- wujud, jika pemerintah memiliki niat baik dan mau repot-repot memajukan rakyatnya. Kita ber- harap segera ada penataan kawasan yang lebih manusiawi di Kapuas Hulu.

Evaluasi, Rekomendasi & RKTL

Evaluasi, Rekomendasi & RKTL

Evaluasi, Rekomendasi & RKTL

4.1. Evaluasi

1. Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan sosialisasi, pendampingan dan kajian keadaan desa difokuskan pada prioritas pelayanan sosial dasar dalam pembangunan desa. Sosialisasi PSD diintegrasikan dengan pendampingan penyusunan RKPDES yang dilakukan di Ke. Putussibau Selatan dan Kec. Embaloh Hilir dalam kesempatan BIMTEK Team Penyusunan RKPDes 2017. Pengintegrasian ini dilakukan karena sampai sekarang di kebanyakan desa di Kabupaten Kapuas Hulu, bidang PSD belum banyak mendapat perhatian, sehingga belum menjadi prioritas dalam perencanaan kegiatan desa (RKPDes) dan APBDes. Padahal sebanarnya pemerintah desa dituntut untuk memenuhi pelayanan sosial dasar di desa. Dalam diskusi diperoleh penyebab kurangnya perhatian desa terhadap PSD, antara lain kurangnya pemahaman pemerintah desa tentang PSD dan sulitnya melaksanakan kegiatan pelaksanaan bidang PSD.

Ada kekhawatiran terjadi kesalahan dalam penggunaan dana untuk kegiatan PSD yang bukan kegiatan infrastruktur. Masalah kedua yang ditemukan dilapangan adalah masalah terkait Hutan Lindung dan Taman Nasional. Di Kapuas Hulu dari 23 kecamatan yang ada, 20 kecamatan memiliki kawasan yang masuk Hutan Lindung atau Taman Nasional. Persoalannya adalah di daerah ini sumber penghidupan masyarakat berbasis lahan. Sayangnya belum semua desa di Kapuas Hulu menyadari hal ini. Sehingga belum banyak desa yang menyuarakannya.

TA PSD P3MD baru-baru ini berkoordinasi dengan SEKDA, BAPPEDA dan beberapa SKPD terkait di Kapuas Hulu, seperti pertanian, kehutanan, perkebunan, dll., untuk mengajukan usulan pelepasan kawasan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat dan sudah ditempati masyarakat sejak sebelum status HL dan TN itu ditetapkan.

4.2. Kendala

TA Pelayanan Sosial Dasar membutuhkan Kajian Keadaan Desa untuk dapat mengindentifikasi permasalahan dan peluang/potensi desa. Hasil identifikasi ini sangat penting untuk menjadi da- sar rekomendasi dan RKTL bagi semua pihak terkait dalam rangka pembangunan desa. Namun pelaksanaan kegiatan kajian keadaan desa terkendala karena dua hal:

Pertama, desa-desa di Kapuas Hulu tersebar di wilayah yang sangat luas dengan medan ekstrim dan jauh terpencil.

Kedua, untuk mencapai desa-desa di pedalaman ersebut membutuhkan biaya yang tinggi dan wak- tu yang lama.

4.3. Permasalahan

a. Belum terfasilitasinya perencanaan pela- yanan social dasar desa Dari hasil kunjungan lapangan ditemukan bahwa masih banyak desa yang perencanaan pelayanan social dasar desa tahun anggaran 2016 belum terfasilitasi karena beberapa keterbatasan, diantaranya kekosongan PD/ PLD, kapasitas PD/PLD rendah karena belum ada pelatihan/pembekalan, desa yang jauh tanpa sinyal dan pemahaman terhadap regulasi yang ada berbeda-beda khususnya dalam pelaksanaan penataan usulan di empat bidang:Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan, Pembangunan, Pembinaan dan Pemberdayaan Masyarakat sesuai dengan permendagri 114. Demikian juga menyangkut pemahaman ten- tang Permendes 21 berkaitan dengan penentu- an prioritas pembangunan desa relative masih kurang. Hal itu terlihat dari kebingungan desa dalam penyusunan RKPDes maupun APBDes.

b. Minim riset dan data tidak valid Diperlukan suatu dasar akurat untuk menyu-

-sun suatu perencanaan pembangunan yang berkelanjutan. Demikian juga untuk me- nyusun rencana pengembangan pelayanan social dasar. Sementara ini hasil penelitian ilmiah mengenai kondisi terkini pelayanan so- cial dasar di bannyak desa di Kabupaten Kapuas Hulu masih sangat minim, sehingga pihak-pihak terkait yang akan menyusun ke- bijakan & perencanaan pengembangan pela- yanan social dasar masih sulit mendapat ref- erensi.

c. Kapasitas SDM Minim Dari hasil studi di beberapa desa yang sudah dikunjungi disadari bahwa permasalahan min- imnya kapasitas SDM di desa masih menjadi salah satu factor penghambat pelaksanaan pelayanan social dasar di KH. Absennya tena- ga pendidik dan tenaga medis berkualitas di daerah pedalaman juga menjadi hambatan terbesar melakukan pelayanan dasar bidang pendidikan dan kesehatan di daerahdaerah sulit tersebut.

13