Anda di halaman 1dari 16

1

Rencana Operasional Promosi Kesehatan


dalam Pengendalian Tuberkulosis
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan hidayah-Nya maka
buku Rencana Operasional Promosi Kesehatan dalam Pengendalian Tuberkulosis (TB) dapat tersusun
dan diterbitkan.
Buku ini diterbitkan untuk memenuhi kebutuhan berbagai pihak, khususnya petugas perencana dan
pelaksana Program Pengendalian TB dan Promosi Kesehatan di pusat, provinsi dan kabupaten/kota,
mengingat TB masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan kembali muncul sebagai
penyebab kematian utama setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Data tahun 2007 menunjukkan bahwa TB Paru menyebabkan 250 kematian setiap harinya, sementara upaya pengendalian
TB dan strategi DOTS (Directly Observed Treatment of Shortcourse), kurang mendapat dukungan optimal dari pemerintah daerah. Oleh karena itu, upaya promosi kesehatan dalam pengendalian TB sangat
begitu penting.
Buku ini disusun bersama antara Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung dengan Pusat
Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI dengan tujuan untuk menjadi acuan dan agenda bersama dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan dalam Pengendalian TB mulai
dari pusat, provinsi dan kabupaten/kota untuk kurun waktu 5 tahun ke depan (2010-2014).
Buku ini memuat latar belakang, analisis masalah, isu strategis, kebijakan, kegiatan operasional di pusat
sampai dengan kabupaten/kota yang menyangkut advokasi, bina suasana, pemberdayaan masyarakat
dan kemitraan untuk pengendalian TB.
Kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya buku Rencana Operasional Promosi Kesehatan dalam Pengendalian TB, kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Disadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat
diharapkan demi perbaikan dan penyempurnaan di masa yang akan datang.
Semoga bermanfaat
Jakarta, Oktober 2010
Kepala Pusat Promosi Kesehatan
dr. Lily S Sulistyowati, MM

2
SAMBUTAN
DIREKTUR PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR LANGSUNG
Tuberkulosis merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Walaupun angka
kesakitan dan kematian akibat TB di Indonesia saat ini cenderung menurun. namun demikian pemerintah memandang TB masih merupakan ancaman terhadap status kesehatan masyarakat.
Pada tahun 2009 terdapat 528.063 untuk semua kasus TB baru dan 236.029 untuk kasus TB BTA positif
(WHO, 2009), sepertiga pasien tersebut terdapat di sekitar Puskesmas, sepertiga ditemukan di
pelayanan rumah sakit / klinik pemerintah dan swasta, praktik swasta dan sisanya belum terjangkau unit
pelayanan kesehatan. Sedangkan prevalensi untuk semua kasus TB diperkirakan sebanyak 565.614
atau 244/100.000 penduduk. Angka kematian karena TB diperkirakan 91.368 per tahun atau setiap hari
250 orang meninggal karena TB.
Upaya untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat TB terus dilakukan melalui program
pengendalian TB dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment of Shortcourse), yang meliputi
komitmen politis, pemeriksaan dahak mikroskopis, pengobatan jangka pendek dengan pengawasan
langsung pengobatan, jaminan ketersediaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang bermutu serta pencatatan dan pelaporan yang baku.
Dengan diterbitkannya Rencana Operasional Promosi Kesehatan dalam Pengendalian TB ini, saya
berharap agar kegiatan yang dilaksanakan di pusat, provinsi, kabupaten/kota dapat terkoordinasi dengan baik, sehingga mempunyai gaung yang luas dan daya ungkit yang tinggi menuju Masyarakat
bebas masalah TB, sehat dan mandiri.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyusun buku ini. Semoga
Tuhan Yang Maha Esa meridhoi upaya kita semua untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian
akibat TB dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat.
Jakarta, Oktober 2010
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung
dr. HM. Subuh, MPPM.
NIP. 195107221978031002

3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................................

iii

SAMBUTAN DIREKTUR PENGENDALIAN PENYAKIT


MENULAR LANGSUNG ...............................................................................................

DAFTAR ISI .................................................................................................................

vii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................


A. Latar Belakang ......................................................................................................
B. Analisis Masalah ......................................................................................... 5
C. Isu Strategis ..................................................................................................8
D. Dasar Hukum ...............................................................................................8
E. Pengertian.................................................................................................. 10

1
1

BAB II TUJUAN, TARGET, KEBIJAKAN DAN STRATEGI ......................... 13


A. Tujuan ......................................................................................................... 13
B. Target .......................................................................................................... 13
C. Kebijakan.................................................................................................... 14
D. Strategi ....................................................................................................... 14
BAB III KEGIATAN OPERASIONAL .................................................................. 17
A. Kegiatan Operasional di Pusat ............................................................17
B. Kegiatan Operasional di Provinsi .......................................................22
C. Kegiatan Operasional di Kabupaten/Kota ......................................25
BAB IV PEMANTAUAN DAN EVALUASI ..........................................................29
BAB V PENUTUP ....................................................................................................33

4
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mycobacterium tuberculosis (TB) telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia, menurut WHO sekitar 8
juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3 juta orang per tahun (WHO, 1993). Di negara
berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara-negara berkembang. Dengan munculnya epidemi
HIV dan AIDS di dunia jumlah penderita TB akan terus meningkat. Kematian wanita karena TB lebih
banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan serta nifas.
WHO mencanangkan keadaan darurat global untuk penyakit TB pada tahun 1993 karena diperkirakan
sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB.
Di Indonesia TB kembali muncul sebagai penyebab kematian utama setelah penyakit jantung dan
saluran pernafasan. Penyakit TB Paru, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Data tahun 2007
menunjukkan bahwa TB Paru menyebabkan 250 kematian setiap harinya.
Pada awal tahun 1990-an WHO dan International Union Againts Tuberculosis and Lung Disease
(IUATLD) telah mengembangkan strategi Pengendalian TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) atau pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung dan telah terbukti sebagai strategi pengendalian yang secara ekonomis paling efektif (costefective). Indonesia telah mengadopsi strategi DOTS pada tahun 1995 dan sejak saat itu strategi DOTS
diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait.
Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait, sehingga Pengendalian TB dapat lebih ditingkatkan
melalui gerakan terpadu yang bersifat nasional.
Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB
tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demikian menurunkan insidens
TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB.
Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci :
1. Komitmen politis
2. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.
3. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tata laksana kasus yang
tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan.
4. Jaminan ketersediaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang bermutu.
5. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan
pasien dan kinerja program secara keseluruhan.
Saat ini Pengendalian TB melalui Gerakan Terpadu Nasional mengacu pada STOP TB Partnership yang
merupakan gerakan global sejak tahun 2000, untuk mempercepat aksi sosial dan politik dalam rangka
menghentikan penyebaran TB di seluruh dunia. Salah satu kekuatan utama dari kemitraan ada-lah
kolaborasi antara komunitas penelitian TB dengan para pelaksana program TB di lapangan, yang
terwujud dalam beberapa kelompok kerja utamanya dengan saling mengkoordinasikan.
The Partnership telah mengembangkan Rencana Global Pengendalian TB Tahun 20062010 yang
ditujukan untuk menselaraskan agenda global dan mencapai target dalam Millenium Development
Goals (MDGs).

5
Visi dari The Partnership adalah dunia yang bebas TB, yang hendak dicapai dengan mewujudkan empat
misi, yaitu :
1. Menjamin setiap penderita TB mempunyai akses yang efektif terhadap diagnosis, pengobatan dan
kesembuhan.
2. Menghentikan penularan TB.
3. Mengurangi ketidakadilan beban sosial dan ekonomi akibat TB.
4. Mengembangkan dan mengimplementasikan berbagai strategi preventif, upaya diagnosis dan
pengobatan baru lainnya untuk menghentikan TB.
Target yang ditetapkan The Partnership sebagai tonggak pencapaian utama adalah :
1. Pada tahun 2015, beban global penyakit TB (prevalensi dan mortalitas) akan berkurang hingga
sebesar 50% dibandingkan tahun 1990, dan setidaknya 70% penderita TB dapat terdiagnosis
(melalui strategi DOTS) dan 85% diantaranya dinyatakan sembuh.
2. Pada tahun 2050 penyakit TB bukan merupakan masalah kesehatan masyarakat global.
Stop TB Partnership juga mempunyai komitmen untuk mencapai target MDGs, seperti yang disebutkan
pada tujuan 6, target 8, (to have halted and begun to reverse the incidence of TB) pada tahun 2015.
Dalam upaya mencapai target tersebut, The Partnership telah memiliki strategi ganda yang akan dikembangkan dalam waktu 10 tahun ke depan, yaitu akselerasi pengembangan dan penggunaan metode
yang lebih baik, untuk implementasi rekomendasi Stop TB yang baru berdasarkan strategi DOTS termasuk juga International Standard of TB Care (ISTC).
Tujuan yang ingin dicapai Rencana Global adalah untuk :
1. Meningkatkan dan memperluas pemanfaatan strategi yang ada untuk menghentikan penularan TB
dengan cara :
a. meningkatkan akses terhadap diagnosis yang akurat dan pengobatan yang efektif dengan
akselerasi pelaksanaan DOTS untuk mencapai target global dalam Pengendalian TB.
b. meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan dan kualitas obat anti TB.
2. Menyusun strategi untuk menghadapi berbagai tantangan yang muncul dengan cara: meng-adaptasi DOTS untuk mencegah, menangani TB dengan resistensi OAT (MDR-TB) dan me-nurunkan
dampak TB/HIV.
3. Mempercepat upaya eliminasi TB dengan cara: meningkatkan penelitian dan pengembangan untuk
berbagai alat diagnostik, obat dan vaksin baru; serta meningkatkan penerapan metode baru dan
menjamin pemanfaatan, akses dan keterjangkauannya.
Selain itu, untuk kesinambungan serta penajaman prioritas pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010, Presiden menginstruksikan memfokuskan pada pencapaian Tujuan Pembangunan Millennium termasuk Program Pengendalian HIV dan AIDS, Malaria dan penyakit menular
lainnya. Khusus untuk pengendalian TB dicanangkan peningkatan target cakupan penemuan kasus
baru TB paru BTA (Basil Tahan Asam) positif mencapai 75% dengan prioritas pada provinsi-provinsi
dengan cakupan penemuan kasus baru TB paru BTA positif di bawah 70%.
Pemberdayaan masyarakat terkait pengendalian Tuberkulosis, dikembangkan Pos TB Desa sejak Maret
2006. Pos TB Desa merupakan salah satu upaya ekspansi dan akselerasi DOTS di masyarakat yang
lebih ditekankan pada suatu bentuk kegiatan pelayanan dan tidak harus memerlukan adanya sarana
fisik khusus seperti misalnya Puskesmas Pembantu (Pustu), tetapi dapat memanfaatkan sarana yang
telah tersedia di desa tersebut, misalnya balai desa, rumah penduduk atau lain-lain yang mungkin dimanfaatkan untuk pos pelayanan TB. Dengan adanya pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga, maka Pos TB Desa menjadi bagian kegiatan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar di bidang TB. Sebagai bagian dari Desa dan Kelurahan Siaga Aktif pelaksanaan
kegiatan Pos TB desa dapat diintegrasikan dalam kegiatan Poskesdes, sebagai kegiatan

6
Pengendalian TB di Poskesdes. Pengendalian TB di Poskesdes merupakan salah satu sarana
mendekatkan akses pelayanan TB yang berkualitas untuk masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat di desa atau kelurahan.
Untuk itu, dalam rangka mempercepat upaya pencapaian tujuan MDGs pada umumnya dan tercapainya
keluaran serta target penyelesaian INPRES 3 Tahun 2010 dan 2011 maka perlu dibuat Rencana Operasional Promosi Kesehatan dalam Pengendalian TB. Rencana Operasional ini akan menjadi agenda
bersama antara Pengelola Program Pengendalian TB dan Pengelola Program Promosi Kesehatan mulai
dari pusat, provinsi dan kabupaten/kota, yang akan dijabarkan dalam DIPA masing- masing unit setiap
tahunnya dalam kurun waktu 2010-2014 dengan sumber dana yang berasal dari APBN, APBD maupun
sumber lainnya.
B. Analisis Masalah
Laporan global WHO tahun 2009 menunjukkan terdapat 528.063 untuk semua kasus TB baru atau
228/100.000 penduduk dan 236.029 untuk kasus TB BTA positif atau 102/100.000 penduduk dimana
sekitar sepertiga penderita terdapat di sekitar Puskesmas, sepertiga ditemukan di pelayanan rumah sakit / klinik pemerintah dan swasta, praktik swasta dan sisanya belum terjangkau unit pelayanan kesehatan. Sedangkan prevalensi untuk semua kasus TB diperkirakan sebanyak 565.614 atau 244/100.000
penduduk. Angka kematian karena TB diperkirakan 91.368 per tahun atau setiap hari 250 orang meninggal karena TB.
Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2007 didapatkan data bahwa prevalensi Tuberkulosis Paru Klinis yang tersebar di seluruh Indonesia adalah 1,0%. Tujuh belas provinsi diantaranya
mempunyai angka prevalensi di atas angka nasional, yaitu provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa
Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Tenggara, Gorontalo, Papua Barat dan Papua. Secara umum prevalensi yang tertinggi yaitu Papua
Barat (2.5%) dan terendah di provinsi Lampung (0,3%)
Penyakit TB menyerang sebagian besar kelompok usia kerja produktif, penderita TB kebanyakan dari
kelompok sosio ekonomi rendah. Dari 1995-1998, cakupan penderita TB Paru dengan strategi DOTS
(Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy) atau pengawasan langsung menelan obat
jangka pendek/setiap hari-baru mencapai 36% dengan angka kesembuhan 87%. Sebelum strategi
DOTS (1969-1994) cakupannya sebesar 56% dengan angka kesembuhan yang dapat dicapai hanya
40-60%. Karena pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak cukup dimasa lalu
kemungkinan telah timbul kekebalan kuman TB terhadap OAT (Obat Anti Tuberkulosis) secara meluas
atau Multi Drug Resistance (MDR).
Dalam era desentralisasi, pembiayaan program kesehatan, termasuk pengendalian TB sangat bergantung pada alokasi dari pemerintah pusat dan daerah. Alokasi APBD untuk pengendalian TB secara
umum rendah dikarenakan tingginya pendanaan dari donor dan banyaknya masalah kesehatan masyarakat yang juga memerlukan pendanaan. Pembiayaan program TB saat ini masih mengandalkan pendanaan donor dan alokasi pendanaan pemerintah pusat untuk pengadaan obat.
Tabel 1 Sumber : Global Report TB, WHO, 2009 (data tahun 2007)

Anggaran pengadaan obat ini dalam beberapa tahun terakhir menurun sehingga sempat menimbulkan
stock-out. Rendahnya komitmen politis untuk pengendalian TB merupakan ancaman bagi kesinambungan program pengendalian TB. Program pengendalian TB nasional semakin perlu penguatan kappasitas untuk melakukan advokasi dalam meningkatkan pembiayaan dari pusat maupun daerah.
Berdasarkan hasil survai prevalensi TB (2004) mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku (PSP)
menunjukkan bahwa 76% keluarga pernah mendengar tentang TB, 26% dapat menyebutkan dua tanda
dan gejala utama, 51% memahami cara penularannya, dan hanya 19% yang mengetahui bahwa pro-

7
gram pengendalian TB menyediakan obat TB gratis. Stigma TB di masyarakat terutama dapat dikurangi
dengan meningkatkan pengetahuan dan persepsi masyarakat mengenai TB, menyingkirkan mitos-mitos
TB melalui kampanye pada kelompok tertentu dan membuat materi penyuluhan yang sesuai dengan
budaya setempat.
Berbagai bentuk kemitraan dengan LSM telah ada sejak lama, meskipun baru pada tahun 2002 terbentuk kemitraan antara pemerintah pusat dan LSM melalui pembentukan Gerakan Terpadu Nasional
(Gerdunas)TB, yang kemudian diikuti oleh pembentukan Country Coordinating Mechanism (CCM) di tahun 2003. Meskipun demikian, di kabupaten/kota, koordinasi dan kerjasama antara pemerintah dan
LSM masih terbatas. Pada umumnya pengetahuan dan pengertian masyarakat tentang penyakit TB dan
pengobatannya masih rendah. Masyarakat dan pasien TB perlu diberdayakan melalui pemberian informasi yang memadai tentang TB dan pentingnya upaya pencegahan dan pengendalian TB. Salah satu
isu utama adalah pemenuhan hak dan kewajiban pasien TB sebagaimana tercantum dalam TB patient
charter. Pendampingan dan pemberdayaan sosial ekonomi pasien merupakan bagian dari upaya
pemenuhan kebutuhan tersebut. Upaya promosi kesehatan dapat pula menunjang kebutuhan tersebut
sekaligus memberdayakan masyarakat secara umum. Pemberdayaan masyarakat lebih lanjut dapat
difasilitasi melalui penguatan Desa atau Kelurahan Siaga untuk pengendalian TB. Seluruh upaya tersebut memerlukan payung hukum untuk menjaga kesinambungannya.
Berkembangnya wacana revitalisasi Gerdunas ataupun pembentukan komisi nasional pengendalian TB
akhir-akhir ini menggarisbawahi perlunya penguatan kemitraan dalam pengendalian TB.
C. Isu Strategis
1. Kurangnya dukungan dari para pemangku kepentingan (stakeholder) terkait di daerah untuk Pe ngendalian TB.
2. Belum seluruh fasilitas pelayanan kesehatan terutama rumah sakit yang sudah menerapkan Stra tegi DOTS.
3. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang pencegahan dan pencarian pengobatan TB.
4. Kurangnya kerjasama antar lintas program, sektor serta mitra terkait dalam Pengendalian TB.
5. Kurangnya akses dan informasi bagi masyarakat tentang TB.
D. Dasar Hukum
1. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
2. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Pe merintah Daerah.
3. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang.
4. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Pengendalian Wabah penyakit Menular
(Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 49, tambahan Lembaran Negara Nomor 3447).
7. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan
Provinsi sebagai Daerah Otonom.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Kelurahan.
10. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2006 tentang Kewenangan Wajib Standar Pelayanan Mi nimal Bidang Kesehatan.
11. Peraturan Presiden RI Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan.
12. Instruksi Presiden RI Nomor 3 tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan
13. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 203/ Menkes/SK/III/1999 tentang Gerakan Terpadu Na sional Pengendalian TB.
14. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 951/Menkes/SK/V/2000 Tahun 2000 tentang Upaya Kesehatan Dasar di Puskesmas.
15. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah RI Nomor 9 Tahun 2001 tentang Kader
Pemberdayaan Masyarakat.

8
16. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1547/Menkes/SK/X/2003 Tahun 2003 tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.
17. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128/Menkes/SK/II/2004 Tahun 2004 tentang Kebijakan
Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat.
18. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1193/ Menkes/SK /X/2004 tentang Kebijakan Nasional
Promosi Kesehatan.
19. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1575/Menkes/SK/XI/2005 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan.
20. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1114/ Menkes/SK /VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah.
21. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 331/Menkes/SK/V/2006 Tahun 2006 tentang Rencana
Strategis Departemen Kesehatan.
22. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 564/Menkes/SK/VII/2006 Tahun 2006
23. tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga.
24. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 585/Menkes/SK /V/2007 tentang Pedoman Pelaksanaan
Promosi Kesehatan di Puskesmas.
25. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 267/Menkes/SK/II/2010 Tahun 2010 tentang Penetapan
Roadmap Reformasi Kesehatan Masyarakat.
26. Kerangka Kerja Strategi Pengendalian TB Indonesia Tahun 2006-2010.
E. Pengertian
1. Strategi Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy (DOTS) Adalah strategi yang
dikembangkan oleh WHO dalam intervensi pengendalian TB yang paling efektif, terdiri dari 5 komponen kunci yaitu :
a. Komitmen politis.
b. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.
c. Pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung.
d. Jaminan ketersediaan Obat Anti Tuberkulosis yang bermutu.
e. Sistem pencatatan dan pelaporan.
2. Advokasi, Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS), suatu kerangka kerja atau tindakan intervensi
dalam mendukung program Pengendalian TB dan terkait erat dengan strategi Pengendalian TB.
Secara operasional AKMS TB merupakan rangkaian kegiatan advokasi, komunikasi dan mobilisasi
sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis dalam mendukung keberhasilan program
Pengendalian TB. AKMS dalam Pengendalian TB menjadi penting dan strategis, karena Pengen dalian TB memerlukan upaya terpadu dan sistematis di berbagai aspek baik melalui advokasi
kebijakan publik, strategi komunikasi untuk perubahan perilaku serta mobilisasi kekuatan elemen
sosial kemasyarakatan.
3. Gerdunas TB; (Gerakan Terpadu Nasional) adalah suatu gerakan lintas sektor yang dibentuk pada
tahun 1999 dari tingkat pemerintah pusat hingga daerah untuk mempercepat akselerasi pengendalian TB berdasarkan kemitraan melalui pendekatan yang terintegrasi dengan rumah sakit, sektor
swasta, akademisi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), lembaga penyandang dana, dan para
pemangku kepentingan lainnya.
4. Promosi Kesehatan; adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri,
serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat sesuai sosial budaya setempat
dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.
5. Pos TB Desa, salah satu bentuk kemitraan yang menjadi bagian dari kegiatan Desa atau Kelurahan Siaga. Pos TB Desa lebih ditekankan dalam bentuk kegiatan pelayanan dan tidak harus
memerlukan adanya sarana fisik khusus tetapi dapat memanfaatkan sarana yang telah tersedia di
desa tersebut. Tujuannya untuk memperluas jangkauan dan mendekatkan pelayanan TB bagi
masyarakat di daerah yang sulit dijangkau dalam rangka meningkatkan pencapaian keberhasilan
program pengendalian TB yang terintegrasi di Poskesdes dan UKBM lainnya.

9
6.
7.

Pengawas Menelan Obat (PMO) Pengawas Menelan Obat untuk menjamin keteraturan pengobatan seorang pasien. PMO adalah seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui oleh petugas
kesehatan maupun pasien namun lebih diutamakan PMO adalah petugas kesehatan itu sendiri.
Rencana Operasional Promosi Kesehatan dalam Pengendalian TB yang diselenggarakan secara
berjenjang dari pusat, provinsi dan kabupaten / kota dalam upaya mencapai cakupan dan tujuan
program secara terencana dalam jangka waktu 2010-2014.
BAB II
Tujuan, Target, Kebijakan dan Strategi

A. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatnya perilaku masyarakat dalam Pengendalian TB untuk menurunkan angka kesakitan
dan kematian akibat TB.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan dukungan kebijakan dalam pengendalian TB dari para pengambil keputusan di
pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
b. Meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan khususnya rumah
sakit dalam penerapan strategi DOTS.
c. Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat dalam pencegahan dan pencarian
pengobatan TB.
d. Meningkatkan aksi nyata berbagai komponen masyarakat dalam pengendalian TB.
e. Meningkatkan penyebarluasan informasi tentang TB secara terkoordinasi dan berkesinambungan.
B. Target Program Pengendalian TB
Target Program Pengendalian TB yang ingin dicapai pada tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut
C. Kebijakan
1. Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu.
2. Menghadapi TB/HIV, Multy Drugs Resistance-TB (MDR-TB), dan kebutuhan masyarakat miskin
serta rentan lainnya.
3. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, masyarakat (sukarela), milik perusahaan dan
swasta melalui pendekatan Public-Private Mix (PPM) dan menjamin kepatuhan terhadap International Standards of TB Care.
4. Memberdayakan masyarakat dan pasien TB.
5. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistem kesehatan dan manajemen program pengendalian
TB.
6. Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap Program Pengendalian TB.
7. Mendorong penelitian, pengembangan dan pemanfaatan informasi strategis.
D. Strategi
Strategi Promosi Pengendalian TB, adalah Advokasi, Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS). Mobilisasi Sosial sebagai ujung tombak, yang didukung oleh
Target
No Indikator

Komunikasi dan Advokasi. Masing-masing strategi harus diintegrasikan semangat dan dukungan
kemitraan dengan berbagai stakeholder. Kesemuanya diarahkan agar masyarakat mampu mempraktikkan perilaku pencegahan dan pengobatan TB.

10
1.

2.

3.

Advokasi, yakni upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen
dan dukungan dari seluruh pemangku kebijakan. Advokasi diarahkan untuk menghasilkan kebijakan yang mendukung upaya pengendalian TB. Kebijakan yang dimaksud disini dapat mencakup
peraturan perundang-undangan di tingkat nasional maupun kebijakan daerah seperti Peraturan
Daerah (PERDA), Surat Keputusan Gubernur, Bupati/Walikota, Peraturan Desa, dan lain sebagainya. Strategi advokasi sekaligus menjawab isu strategis tentang kurangnya dukungan dari para
pemangku kepentingan (stakeholder) terkait di daerah dalam Pengendalian TB.
Komunikasi, merupakan upaya untuk menciptakan opini atau lingkungan sosial yang mendorong
masyarakat dan petugas kesehatan agar bersedia bersama-sama menanggulangi penularan TB.
Lingkungan sosial yang mendukung dapat diartikan sebagai :
a. Adanya dukungan positif dari masyarakat terhadap persepsi bahwa TB bukan penyakit
keturunan atau kena guna-guna.
b. Adanya dukungan keluarga sebagai Pengawas Menelan Obat bagi pasien TB agar berobat
sampai tuntas.
c. Adanya dukungan positif masyarakat terhadap perilaku pencegahan penularan TB.
d. Adanya kampanye STOP TB.
Strategi komunikasi sekaligus menjawab isu strategis tentang kurangnya pemahaman masyarakat
dalam pencegahan dan pencarian pengobatan TB, kurangnya kerjasama antar lintas program,
sektor serta mitra terkait dalam Pengendalian TB dan kurangnya akses dan informasi bagi masyarakat tentang TB.
Mobilisasi Sosial, adalah proses pemberian informasi secara terus menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran, agar memiliki pengetahuan, sikap dan mempraktikkan perilaku yang diharapkan. Mobilisasi Sosial juga merupakan
kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, kemampuan
masyarakat dalam pengendalian TB. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan ekspansi dan
akselarasi DOTS terwujud. Sasaran utama dari pemberdayaan dalam konteks Pengendalian TB
adalah pasien TB dan keluarga. Dalam mobilisasi sosial diperlukan kemitraan untuk menjalin jejaring kerja serta kerja sama dengan berbagai pihak untuk menjalankan program yang terintegrasi
dan koordinatif dalam setiap komponen program yang ditentukan melalui Stop TB Partnership.
Strategi mobilisasi sosial untuk menjawab isu strategis tentang kurangnya pemahaman masyarakat
dalam pencegahan dan pencarian pengobatan TB, kurangnya kerjasama antar lintas program,
sektor serta mitra terkait dalam Pengendalian TB serta kurangnya akses dan informasi bagi
masyarakat tentang TB.

BAB III
KEGIATAN OPERASIONAL
Kegiatan operasional Promosi Kesehatan dalam Pengendalian TB dilakukan secara berjenjang mulai
pusat, provinsi dan kabupaten/kota yang dijabarkan dalam kurun waktu 5 tahun untuk mencapai target
Program Pengendalian TB Tahun 2010-2014.
A. Di Pusat
1. Advokasi
1.1. Kajian dan Pemetaan kebijakan yang mendukung Upaya Pengendalian TB Tingkat Nasional.
Kegiatan kajian dan pemetaan dimaksudkan untuk mengetahui kebijakan-kebijakan apa yang
sudah ada dan kebijakan apa lagi yang perlu dikembangkan untuk mendukung upaya Pengendalian TB.
1.2. Sosialisasi Kebijakan Publik Pengendalian TB. Sosialisasi dimaksudkan untuk menginformasikan hasil kajian dan pemetaan kebijakan publik yang mendukung upaya Pengendalian
TB.

11
1.3. Mengembangkan dan memproduksi Media Advokasi Kit TB.
Media Advokasi Kit perlu direview dan dikembangkan sesuai masalah dan perkembangan
Program Pengendalian TB terkini serta kecenderungannya ke depan untuk dijadikan bahan
pelaksanaan advokasi baik di pusat maupun daerah.
1.4. Menyusun dan memproduksi Modul Pelatihan Advokasi bagi Tim AKMS TB.
Modul pelatihan advokasi bagi Tim AKMS TB diperlukan agar pelaksanaan pelatihan sesuai
dengan tujuan yang diinginkan dan sebagai bekal dalam melaksanakan advokasi.
1.5. Melakukan pelatihan advokasi bagi Tim AKMS TB Pusat dan Provinsi.
Pelatihan advokasi dilaksanakan bagi Tim AKMS TB yang terdiri dari lintas sektor dan lintas
program terkait.
1.6. Melaksanakan Advokasi kepada pemangku kebijakan.
Pelaksanaan advokasi dilakukan kepada pemangku kebijakan baik di dalam lingkungan program kesehatan maupun sektor terkait guna mendukung pelaksanaan TB termasuk penyediaan anggaran untuk OAT selama 5 tahun ke depan untuk kesinambungan ketersediaannya.
1.7. Melaksanakan advokasi kepada media massa.
Kegiatan ini dilakukan untuk menjadikan Program TB masuk sebagai agenda pemberitaan di
media massa (media relation).
2. Komunikasi
Melalui komunikasi diharapkan dapat menimbulkan perubahan pengetahuan TB, perubahan sikap
hingga terjadinya perubahan perilaku dalam bentuk meningkatnya keterlibatan masyarakat, lintas
sektor dan lintas program dalam Pengendalian TB.
2.1. Menyusun data base mitra potensial.
Data base mitra potensial dimanfaatkan untuk meningkatkan peran aktif para mitra sesuai
dengan potensi mitra dalam upaya pengendalian TB.
2.2. Melakukan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) dengan para mitra potensial
yang mendukung upaya pengendalian TB.
2.3. Menyusun pedoman program kerjasama kemitraan dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
(Corporate Social Responsibility/CSR) untuk pengendalian TB.
Pedoman ini dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan program kerjasama dan program
CSR di bidang kesehatan bagi para mitra dari organisasi kemasyarakatan dan swasta/dunia
usaha untuk mendukung kegiatan pengendalian TB.
2.4. Menyusun dan menerbitkan newsletter pengendalian TB.
Menerbitkan newsletter secara berkala 3 edisi dalam setahun dan didistribusikan ke seluruh
stakeholders dan mitra terkait di pusat maupun daerah.
2.5. Melaksanakan pertemuan kemitraan dengan organisasi kemasyarakatan, media massa, swasta / dunia usaha dan lembaga donor. Pertemuan dilakukan secara berkala untuk menginformasikan perkembangan program pengendalian TB dan menggalang dukungan kerjasama dari
para mitra terkait.
2.6. Melaksanakan pers briefing dan jumpa pers secara berkesinambungan.
Kegiatan ini dimaksudkan agar kelompok media massa memperoleh informasi terkini tentang
permasalahan dan perkembangan upaya pengendalian TB.
2.7. Mengembangkan dan memproduksi media Pengendalian TB bagi petugas, tokoh masyarakat
dan kader. Media dikembangkan untuk meningkatkan pemahaman petugas, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat dan kader dalam pengendalian TB.
2.8. Mengembangkan dan memproduksi media kampanye pengendalian TB.
Untuk menjaga adanya konsistensi pesan dan desain media promosi pengendalian TB, perlu
dikembangkan dan diproduksi prototipe media dalam bentuk media cetak (poster, leaflet, selebaran, stiker, spanduk, umbul-umbul, billboard, baliho, tas, kaos, topi dll) dan media elektro nik berupa TV Spot dan Radio Spot. Prototipe ini dapat dijadikan acuan bagi provinsi dan
kabupaten/kota dalam memproduksi atau menggandakan media.
2.9. Melaksanakan Kampanye TB melalui media massa secara nasional. Melaksanakan kampanye
TB secara nasional melalui media cetak dan eletronik dengan tema sesuai dengan kebutuhan
program.

12
2.10. Menyelenggarakan Forum Gerdunas TB (Gerakan Terpadu Nasional). Forum Gerdunas
harus diselenggarakan secara berkala sedikitnya 3 bulan sekali dan berkesinambungan.
2.11. Mereview dan mengembangkan modul Pelatihan Komunikasi Interpersonal bagi Petugas
Kesehatan dan Kader. Mereview dan mengembangkan modul pelatihan bagi petugas dan
kader sesuai perkembangan program pengendalian TB di Indonesia.
2.12. Melatih Pelatih Pelatihan Komunikasi Interpersonal.
Pelatihan ditujukan untuk pelatih di pusat dan provinsi dengan harapan pelatih di provinsi
mampu melatih petugas kabupaten/kota.
3. Mobilisasi Sosial
3.1. Menyusun Pedoman Mobilisasi Sosial Pengendalian TB.
Pedoman mobilisasi sosial disusun untuk menjadi acuan seluruh komponen masyarakat
dalam melaksanakan mobilisasi sosial mulai dari pusat sampai desa/kelurahan.
3.2. Sosialisasi Pedoman Mobilisasi Sosial Pengendalian TB.
Sosialisasi dilakukan bagi stakeholder di pusat dan provinsi untuk memperoleh kesamaan
pemahaman dan kesepakatan untuk melaksanakan mobilisasi sosial mulai dari pusat sampai
desa/kelurahan.
3.3. Menyusun Pedoman Pelaksanaan Pos TB Desa yang terintegrasi dengan Poskesdes di Desa
dan Kelurahan Siaga Aktif. Pedoman pelaksanaan Pos TB Desa disusun untuk menjadi
acuan bidan di desa dan kader dalam mengembangkan dan melaksanakan Pos TB Desa
yang terintegrasi dengan Poskesdes di Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
3.4. Sosialisasi Pedoman Pelaksanaan Pos TB Desa yang terintegrasi dengan Poskesdes di De sa dan Kelurahan Siaga Aktif. Sosialisasi dimaksudkan untuk memperoleh kesamaan pemahaman dan kesepakatan dalam mengembangkan dan melaksanakan Pos TB Desa yang
terintegrasi dengan Poskesdes di Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
3.5. Mereview, mengembangkan dan mendistribusikan TB Kit untuk Pos TB Desa. TB Kit untuk
Pos TB Desa akan menjadi pegangan bidan dan kader di desa/kelurahan dalam penyelenggaraan Pos TB Desa.
3.6. Melaksanakan mobilisasi Mobilisasi Sosial Pengendalian TB Tingkat Nasional.
Melaksanakan mobilisasi sosial pengendalian TB secara nasional dengan melibatkan seluruh stakeholder terkait dan menggalang gerakan masyarakat secara serentak yang dikaitkan
dengan momentum hari-hari Kesehatan.
B. Di Provinsi
1. Advokasi
1.1. Kajian dan pemetaan kebijakan yang mendukung pengendalian TB di provinsi.
Kegiatan kajian dan pemetaan dimaksudkan untuk mengetahui kebijakan-kebijakan apa
yang sudah ada dan kebijakan apa lagi yang perlu dikembangkan untuk mendukung upaya
pengendalian TB.
1.2. Sosialisasi Kebijakan pengendalian TB. Sosialisasi dimaksudkan untuk menginformasikan
hasil kajian dan pemetaan kebijakan publik yang mendukung upaya pengendalian TB.
1.3. Melakukan Pelatihan advokasi bagi Tim AKMS Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Pelatihan advokasi bagi Tim AKMS yang terdiri dari lintas sektor dan lintas program terkait.
1.4. Melaksanakan Advokasi kepada pemangku kebijakan.
Bersama Pusat, Provinsi melakukan advokasi untuk memperoleh dukungan kebijakan dan
anggaran untuk pengendalian TB dari Gubernur, DPRD dan BAPPEDA, instansi sektor
terkait, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha/swasta dan penyandang dana. Dukungan
anggaran TB sangat diperlukan, terutama OAT selama 5 tahun ke depan untuk kesinambungan ketersediaannya.
1.5. Melaksanakan advokasi kepada media massa. Kegiatan ini dilakukan untuk menjadikan
Program Pengendalian TB masuk sebagai agenda pemberitaan di media massa (media
relation).
2. Komunikasi

13
2.1. Menyusun data base mitra potensial.
Data base mitra potensial dimanfaatkan untuk meningkatkan peran aktif para mitra sesuai
dengan potensi mitra dalam upaya pengendalian TB.
3.2. Melaksanakan pertemuan kemitraan dengan organisasi kemasyarakatan, media massa,
swasta/dunia usaha dan lembaga donor. Pertemuan dilakukan secara berkala untuk menginformasikan perkembangan program pengendalian TB dan menggalang dukungan kerjasama dari para mitra terkait.
3.3. Melakukan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) dengan para mitra potensial
yang mendukung upaya pengendalian TB.
3.4. Menyusun pedoman program kerjasama kemitraan dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
(Corporate Social Responsibility/CSR) untuk pengendalian TB. Pedoman ini dapat dijadikan
acuan dalam mengembangkan program kerjasama dan program CSR di bidang kesehatan
bagi para mitra dari organisasi kemasyarakatan dan swasta/dunia usaha untuk mendukung
kegiatan pengendalian TB.
3.5. Menggandakan dan mendistribusikan media Pengendalian TB bagi petugas, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat dan kader. Media yang diterima dari pusat tidak selalu bisa
memenuhi kebutuhan daerah, oleh karena itu provinsi bisa menggandakan media tersebut
untuk didistribusikandikembangkan untuk meningkatkan pemahaman petugas, organisasi
kemasyarakatan, tokoh masyarakat dan kader dalam pengendalian TB.
3.6. Memproduksi dan mendistribusikan media kampanye pengendalian TB. Untuk menjaga
adanya konsistensi pesan dan desain media kampanye pengendalian TB, maka prototipe
media dalam bentuk media cetak dan media elektronik yang dikirim oleh pusat dapat digandakan untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan kampanye di provinsi dan kabupaten /
kota.
3.7. Melaksanakan Kampanye TB di provinsi. Melaksanakan kampanye TB di provinsi melalui
media cetak dan eletronik daerah dengan tema sesuai dengan kebutuhan program.
3.8. Menyelenggarakan forum Gerduda TB (Gerakan Terpadu Daerah). Forum Gerduda harus
diselenggarakan secara berkala sedikitnya 3 bulan sekali dan berkesinambungan.
2.9. Mengembangkan dan memproduksi media promosi Pengendalian TB disesuaikan dengan
spesifik lokal. Provinsi mengembangkan dan memproduksi media promosi Pengendalian TB
spesifik daerah sesuai kebutuhannya.
2.10. Melaksanakan pelatihan komunikasi interpersonal. Melaksanakan pelatihan komunikasi interpersonal bagi petugas kesehatan di kabupaten/kota.
2.11. Pelaksanaan pers briefing dan jumpa pers secara berkesinambungan dengan memanfaatkan
setiap tanggal-tanggal penting dalam kesehatan seperti Hari TB Sedunia, Hari Tanpa Tembakau, Hari Kesehatan Dunia dan Hari Kesehatan Nasional.
3. Mobilisasi Sosial
3.1. Melakukan sosialisasi Pedoman Mobilisasi Sosial Pengendalian TB. Provinsi melakukan sosialisasi pedoman mobilisasi sosial Pengendalian TB di provinsi dan kabupaten/kota bagi
seluruh stakeholders terkait.
3.2. Melakukan sosialisasi Pedoman Pelaksanaan Pos TB Desa yang terintegrasi dengan
Poskesdes di Desa atau Kelurahan Siaga Aktif ke kabupaten / kota. Pedoman pelaksanaan
Pos TB Desa yang telah disusun disosialisasikan kepada kabupaten/kota yang akan melaksanakan Pos TB Desa terintegrasi dengan Poskesdes di Desa dan Kelurahan Siaga.
3.3. Mendistribusikan TB Kit untuk Pos TB Desa ke kabupaten/kota. TB Kit untuk menunjang
pelaksanaan Pos TB Desa di Desa/Kelurahan Siaga Aktif yang telah diterima oleh provinsi
didistribusikan ke kabupaten / kota.
3.4. Menyusun rencana kegiatan Pos TB Desa tingkat Kabupaten / desa. Perencanaan kegiatan
Pos TB Desa disusun berdasarkan daerah terpencil yaitu Desa/Kelurahan Siaga Aktif yang
sulit dalam mengakses fasilitas pelayanan kesehatan.
3.5. Melibatkan mitra TB (organisasi kemasyarakatan, lintas program, lintas sektor, dunia usaha,
dan swasta dalam Pengendalian TB. Melakukan sosialisasi kepada mitra potensial TB yang
ada di provinsi dan kabupaten/kota dan melakukan pertemuan rutin sedikitnya 3 bulan sekali.

14
C. Di Kabupaten/Kota
1. Advokasi
1.1. Kajian dan pemetaan kebijakan yang mendukung pengendalian TB di kabupaten/kota. Kegiatan kajian dan pemetaan dimaksudkan untuk mengetahui kebijakan-kebijakan apa yang
sudah ada dan kebijakan apa lagi yang perlu dikembangkan untuk mendukung upaya pengendalian TB.
1.2. Sosialisasi kebijakan pengendalian TB. Sosialisasi dimaksudkan untuk menginformasikan hasil
kajian dan pemetaan kebijakan publik yang mendukung upaya pengendalian TB.
1.3. Melaksanakan advokasi kepada pemangku kebijakan.
Bersama Provinsi melakukan advokasi untuk memperoleh dukungan kebijakan dan anggaran
untuk pengendalian TB dari Bupati/walikota, DPRD dan BAPPEDA kabupaten/kota, instansi
sektor terkait, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha / swasta dan penyandang dana. Dukungan anggaran TB sangat diperlukan, terutama OAT selama 5 tahun ke depan untuk kesinambungan ketersediaannya.
1.4. Melaksanakan advokasi kepada media massa.
Kegiatan ini dilakukan untuk menjadikan Program TB masuk sebagai agenda pemberitaan di
media massa lokal (media relation).
2. Komunikasi
2.1. Mendistribusikan media promosi Pengendalian TB di kabupaten / kota.
Media promosi Pengendalian TB yang telah diterima dari provinsi didistribusikan ke fasilitas
pelayanan kesehatan yang ada di kabupaten / kota, kecamatan dan desa.
2.2, Mengembangkan dan memproduksi media promosi Pengendalian TB spesifik daerah.
Kabupaten/kota mengembangkan dan memproduksi media promosi Pengendalian TB spesifik
daerah sesuai kebutuhan dan kelompok sasaran.
2.3. Melakukan kampanye TB melalui media cetak dan elektronik.
Melaksanakan kampanye TB melalui media cetak dan elektronik daerah serta memasang
media promosi Pengendalian TB di luar gedung (spanduk, umbul-umbul, billboard,dll)
2.4. Menyelenggarakan forum Gerduda TB (Gerakan Terpadu Daerah).
Forum Gerduda harus diselenggarkan secara berkala sedikitnya 3 bulan sekali dan berkesinambungan.
2.5. Melaksanakan pertemuan kemitraan dengan organisasi kemasyarakatan, media massa, swasta
/ dunia usaha dan lembaga donor. Pertemuan dilakukan secara berkala untuk menginformasikan perkembangan program pengendalian TB dan menggalang dukungan kerjasama dari
para mitra terkait.
2.6. Pelaksanaan pers briefing dan jumpa pers secara berkesinambungan dengan memanfaatkan
setiap tanggal-tanggal penting dalam kesehatan seperti Hari TB Sedunia, Hari Tanpa Tembakau, Hari Kesehatan Dunia dan Hari Kesehatan Nasional.
2.7. Melaksanakan pelatihan komunikasi interpersonal.
Melaksanakan pelatihan komunikasi interpersonal bagi petugas kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.
3. Mobilisasi Sosial
3.1. Melakukan sosialisasi Pedoman Mobilisasi Sosial Pengendalian TB. Kabupaten / kota melakukan sosialisasi Pedoman Mobilisasi Sosial Pengendalian TB kepada stakeholder terkait di
kabupaten/kota dan Puskesmas.
3.2. Melakukan sosialisasi Pedoman Pelaksanaan Pos TB Desa yang terintegrasi dengan Poskesdes di Desa dan Kelurahan Siaga Aktif. Pedoman pelaksanaan Pos TB Desa yang telah di susun disosialisasikan kepada Puskesmas yang akan melaksanakan Pos TB Desa terin-tegrasi
dengan Poskesdes di desa.
3.3. Melakukan pendampingan Puskesmas dalam pelaksanaan Pos TB Desa. Kabupaten/kota
melakukan pendampingan Puskesmas dalam pelaksanaan Pos TB Desa yang terintegrasi dengan Poskesdes di Desa dan Kelurahan Siaga aktif, mulai dari pemilihan desa, pemilihan

15
kader, pelatihan bidan, kader dan PMO sampai tindak lanjut kegiatan kader di desa atau
kelurahan.
3.4. Mendistribusikan TB Kit untuk Pos TB Desa ke Desa dan Kelurahan Siaga aktif.
TB Kit untuk menunjang pelaksanaan Pos TB Desa di Desa/Kelurahan siaga Aktif yang telah
diterima dari provinsi didistribusikan kepada bidan, kader dan PMO yang telah dilatih program
Pengendalian TB.
3.5. Menyusun Rencana Kegiatan Pos TB Desa Tingkat Kecamatan/Desa.
Perencanaan kegiatan Pos TB Desa disusun berdasarkan daerah terpencil yaitu Desa / Kelurahan Siaga aktif yang sulit mengakses fasilitas pelayanan kesehatan. Perencanaan ini termasuk membantu Puskesmas melakukan identifikasi kelompok masyarakat dan pasien TB
yang ada agar mereka berperan aktif dalam penemuan suspek TB dan pendampingan menelan
obat bagi pasien TB.
3.6. Melaksanakan pertemuan kemitraan dengan organisasi masyarakat, media massa, swasta /
dunia usaha dan lembaga dana.
3.7. Melaksanakan mobilisasi sosial pengendalian TB. Kabupaten/kota melaksanakan mobilisasi
sosial keseluruh kecamatan dan desa.

BAB IV
PEMANTAUAN DAN EVALUASI
Pemantauan Rencana Operasional Promosi Kesehatan dalam Pengendalian TB dilakukan secara
berjenjang dan berkesinambungan setiap tahun dalam kurun waktu 5 tahun (2010-2014). Pemantauan
merupakan upaya untuk mengamati seberapa jauh kegiatan yang direncanakan sudah dilaksanakan.
Evaluasi dilaksanakan untuk melihat kemajuan dan keberhasilan pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan dalam pengendalian TB.
Pemantauan rencana dan pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan dalam pengendalian TB dilaksanakan oleh pengelola program pengendalian TB, pengelola program promosi kesehatan dan mitra
terkait pada masing-masing jenjang administrasi mulai dari pusat, provinsi sampai kabupaten/kota yang
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel
Rencana Operasional Promosi Kesehatan

BAB V
PENUTUP
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang kesembuhannya sangat dipengaruhi oleh kedisiplinan penderita untuk minum obat secara teratur dalam jangka waktu yang cukup lama (6 bulan), sehingga memerlukan Pengawas Menelan Obat (PMO). Oleh karena itu peran promosi kesehatan sangatlah penting dalam pemberdayaan masyarakat khususnya kader dan keluarga penderita dalam
Pengendalian Tuberkulosis.
Rencana Operasional Promosi Kesehatan dalam Pengendalian Tuberkulosis memberikan arahan
operasional bagi pengelola program Tuberkulosis dan pengelola program Promosi Kesehatan di pusat,
provinsi dan kabupaten/kota dalam perencanaan dan implementasi program Pengendalian Tuberkulosis.
Rencana Operasional ini tidak akan berhasil diimplentasikan tanpa dukungan dari lintas program dan
sektoral terkait serta kemitraan dengan kelompok potensial. Melalui Rencana Operasional ini diha-

16
rapkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan dapat menurunkan prevalensi
penyakit Tuberkulosis danmeningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
-------------------Tim Penyusun
Tim Pengarah:
dr. Lily S. Sulistyowati, MM
Tim Penyusun:
Yoana Anandita, SKM
drg. Devi Yuliastanti
Dr. Ir. Bambang Setiaji, SKM, M.Kes
Muhani, SKM, M.Kes
Febrima Wulan, SKM
Dra. Ruflina Rauf, SKM, M.Si
Kontributor :
Dr. Kodrat Pramudho, SKM, M.Kes
Ismoyowati, SKM, M.Kes
drg. Widyawati, M.KM
Dewi Sibuea, SKM
drg. Roswita Siregar
Dra. Hafni Rochmah, SKM, MPH
Andi Sari Bunga Untung, SKM, MPH (HP)
Marsuli, S.Sos M.Kes
Mulyana Candra, S.Si
Febrima Wulan, SKM
Riza Afriani Margaresa, SKM
Raden Danu Ramadityo, S.Psi
-------------------