Anda di halaman 1dari 6

ABSTRAK Latar belakang: Pemakaian suksinilkolin sebagai fasilitas intubasi dan induksi masih

merupakan pilihan untuk tindakan yang singkat, emergensi, rawat jalan dan keadaan dimana
jalan napas belum tentu dapat dikuasai. Efek samping yang sering timbul adalah fasikulasi dan
mialgia yang ditandai meningkatnya kadar serum kreatin fosfokinase (CPK) dan ion kalium.
______________________________________________________________________________
__ 2 Jurnal Anestesiologi Indonesia Volume II, Nomor 1, Tahun 2010 Metode: Penelitian ini
merupakan uji klinik tahap I ( subyek manusia ) pada 60 penderita tumorjinak mama yang
menjalani operasi dengan anestesi umum. Semua penderita dipuasakan 6 jam dan tidak diberi
obat premedikasi.Pengambilan sampel darah perifer di daerah antebrakhii kontralateral infus
untuk pemeriksaan kadar ion kalium dan kreatin fosfokinase sebelum induksi. Penderita
dikelompokkan secara random menjadi 2 kelompok. Kelompok I mendapat pretreatment
atrakurium 0,05 mg/kgBB dan kelompok II mendapat pretreatment MgSO4 40% 40 mg/kgBB.
15 menit kemudian dilakukan induksi dengan suksinilkolin 1,5 mg/kgBB pada masing-masing
kelompok. 7 menit setelah intubasi dilakukan pengambilan sampel darah perifer kontralateral
infus untuk pemeriksaan kadar ion kalium pasca perlakuan dan 24 jam setelah operasi dilakukan
pengambilan sampel darah perifer kontralateral infus untuk pemeriksaan kadar kreatinin
fosfokinase. Uji statistik menggunakan independent t-test dan Mann-whitney U test serta uji
korelasi dengan rank Spearman dengan derajat kemaknaan : 0,05. Hasil: Tidak ada perbedaan
yang bermakna pada distribusi karateristik penderita serta kadar serum kreatin fosfokinase dan
kadar kalium sebelum perlakuan. Peningkatan kadar ion kalium antara kelompok atrakurium dan
kelompok magnesium sulfat terdapat perbedaan bermakna (p = 0,029) dan peningkatan kadar
serum kreatin fosfokinase antara kelompok atrakurium dan kelompok magnesium sulfat tidak
terdapat perbedaan bermakna ( p > 0,05 ). Hasil uji hubungan menunjukkan tidak terdapat
hubungan bermakna ( = - 0,138; p =0,466) peningkatan kadm kalium dan peningkatan kadar
CPK pada kelompok atrakurium demikian juga hasil uji hubungan menunjukkan tidak terdapat
hubungan bermakna ( = 0,186; p = 0,325) peningkatan kadar kalium dan peningkatan kadar
CPK pada kelompok MgSO4. Kesimpulan: Pemberian Magnesium Sulfat 40% 40 mg/kgBB
dapat mencegah peningkatankadar kreatin fosfokinase serum dan kadar kalium darah, meskipun
tidak seefektif Atrakurium, tetapi lebih baik dibanding yang lain. Kunci : suksinilkolin,
magnesium sulfat, kalium, fasikulasi
PENDAHULUAN Hampir sebagian besar pasien pasca operasi memberikan keluhan adanya rasa
nyeri otot dari sebagian anggota badan setelah menjalani operasi yang menggunakan pelumpuh
otot golongan depolarisasi suksinilkolin sebagai obat induksi dalam anestesi umum. Oleh
karenanya banyak para ahli anestesi melakukan berbagai macam penelitian untuk mengurangi
atau menghilangkan rasa sakit tersebut dengan berbagai macam jenis obat di antarannya adalah
pemberian pelumpuh otot nondepolarisasi dosis kecil, anestesi lokal, klorpromazine,
benzodiazepin, golongan OAINS dan lain-lain.1,2,3,4 Insiden nyeri otot ini menurut Aitkenhead
50%. 5 dan Shrivastava 45%. 6 sedang menurut Dennis dkk 5-83 % . 7 Besarnya angka
kejadian ini sampai sekarang masih merupakan tantangan bagi dokter anestesi untuk menurunkannya. Obat pelumpuh otot suksinilkolin golongan sampai sekarang merupakan obat yang

menguntungkan sebagai rapid sequence induction atau crash induction yang merupakan fasilitas
induksi oleh karena mempunyai sifat onset of action yang cepat dan duration of action yang
pendek oleh karena sifatnya itu sampai sekarang suksinilkolin masih merupakan obat gold
standard untuk tindakan intubasi cepat.8,9,10 Munculnya fasikulasi biasanya dimulai dari otot
rahang, leher, bahu dan dada. Pada pemakaian obat golongan OAINS yang bersifat inhibitor
prostaglandin
hasilnya
belum
memuaskan
______________________________________________________________________________
__ 3 Jurnal Anestesiologi Indonesia Volume II, Nomor 1, Tahun 2010 karena hanya mengatasi
mialgia oleh karena kerusakan otot akibat pemakaian suksinilkholin bukan mencegah mialgia
oleh karena kerusakan otot yang ditandai peningkatan kadar kreatin fosfokinase (CPK).11,12,13
Timbulnya nyeri otot ini dikarenakan timbulnya kontraksi-depolarisasi motor unit yang tidak
sinkron sehingga menyebabkan kekuatan tarikan serabutserabut otot rangka yang dirasakan
pasien setelah 24 jam pasca operasi.11 Menurut Leeson-Payne dkk kerusakan otot ini
menyebabkan peningkatan kadar CPK serta terganggunya proses pertukaran elektrolit yaitu
kalium (hiperkalemi).14 Terjadinya proses depolarisasi repolarisasi ini merupakan peran utama
akibat adanya pertukaran ion kalium dan natrium pada permukaan membran sel motorik yang
menghasilkan perubahan listik dalam tubuh.15 Pada penelitian pasien preeklamsi yang
mendapatkan magnesium sulfat dapat mencegah dan menghentikan proses terjadinya kejang, hal
ini disebabkan efek ion magnesium pada otot diketahui mempunyai efek kerja secara kompetitif
ion kalsium pada prejunctional site. Ketika kadar ion kalsiumnya tinggi di dalam plasma akan
meningkatkan pelepasan asetilkolin pada presynaptic nerve terminal sebaliknya manakala kadar
magnesium tinggi di plasma akan menghambat pelepasan asetilkolin, disamping itu keuntungan
magnesium lainnya adalah hambatan pada postjunctional potensials sehingga menyebabkan
menurunnya eksitabilitas pada membran sel serat-serat otot. Selanjutnya kontraksi otot tidak
terjadi sehingga fasikulasi, mialgia, peningkatan CPK dan hiperkalemi tidak terjadi. Fakta ini
menunjukkan peran dari CPK secara umum merupakan tolak ukur untuk menilai kerusakan otot.
Pada penelitian sebelumnya dikatakan penggunaan pelumpuh otot nondepolarisasi dosis kecil
sebagai pretreatment juga memberikan kemampuan untuk mengurangi mialgia khususnya
atrakurium pada dosis kecil lebih dominan pada postsynaptic receptor colinergic nicotinic
dibandingkan dosis besar target organ pada presynaptic dan postsynaptic nerve terminal.
Pretreatment dengan pelumpuh otot non depolarisasi (termasuk atrakurium) ini terbukti lebih
baik (superior) dibandingkan metode pretreatment dengan obat-obat lain sehingga menjadi
semacam baku emas. 2,3 Dengan alasan target kerja organ masingmasing obat diatas inilah
disamping obat MgSO4 mudah didapat didaerah terpencil sekalipun dan harganya murah
dibanding atrakurium kami mencoba berusaha membuktikan bahwa obat MgSO4 lebih
menguntungkan dalam mencegah terjadinya fasikulasi dan mialgia yang dilihat dari peningkatan
kadar ion kalium serum CPK dibandingkan atrakurium. Dengan penggunaan suksinilkolin 1,5
mg/kgBB dan magnesium sulfat 40% 40 mg/kgBB atau suksinilkolin 1,5 mg/kgBB dengan
atrakurium 0,05 mg/kgBB angka kejadian fasikulasi, mialgia hiperkalemi dan peningkatan CPK
post operasi dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan. Apabila ini dikerjakan pada pasien-pasien
operation ambulatory system maka dapat mengurangi atau menekan biaya dan waktu yang

diperlukan untuk rawat inap di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan menilai secara obyektif
efektifitas pemberian pretreatment atrakurium dan magnesium sulfat pada induksi suksinilkolin
yang
______________________________________________________________________________
__ 4 Jurnal Anestesiologi Indonesia Volume II, Nomor 1, Tahun 2010 dilihat dari kadar kreatin
fosfokinase dan ion kalium. Dari beberapa jurnal penelitian dalam satu dekade belakangan ini
baik dinegara Amerika, Eropa maupun Asia diketahui bahwa penggunaan MgSO4 dapat
menurunkan/ mengurangi angka kejadian infark miokard akut, aritmia, kejang akibat eklamsia,
level epineprin atau norepineprin dalam darah sehingga hemodinamik pasien lebih stabil.
METODE Jenis penelitian ini termasuk eksperimental berupa uji klinik tahap 2 yang dilakukan
secara acak tersamar ganda (double blind randomized controlled trial) dengan tujuan untuk
mengetahui bukti yang obyektif derajat beratnya fasikulasi-mialgia pasca operasi 24 jam yang
dilihat dari peningkatan kadar kreatin fosfokinase dan ion kalium dengan membandingkan 2
kelompok penelitian, yaitu kelompok kontrol atrakurium (I) dan magnesium sulfat (II) melalui
rancangan pretest posttest group design untuk variabel kadar kreatin fosfokinase darah dan ion
kalium. Untuk homogenitas sampel dengan luka operasi yang sama sehingga dihasilkan kualitas
penelitian yang baik dipilih pasien tumor mama jinak di RS. Dr. Kariadi yang dipersiapkan untuk
pembedahan dengan menggunakan teknik anestesi umum yang memenuhi kriteria seleksi
tertentu. Populasi target adalah semua penderita tumor mama jinak wanita berusia 15-60 th, berat
badan 35-60 kg tinggi badan 135-170 cm yang akan menjalani pembedahan elektif dengan
teknik anestesi umum. Kriteria inklusi, yaitu usia 15-60 tahun, ASA I-II, BMI 17-25 kg/m2 ,
tinggi badan 135-170 cm, bersedia sebagai sukarelawan (informed consent), lama dan jenis
operasi (1-2 jam). Kriteria eksklusi : pasien tidak kooperatif, riwayat hipertermia maligna, menggunakan obat tertentu (CPZ, vit E), penyakit atau kelainan neuromuskuler, penyakit atau
kelainan metabolik, latihan fisik atau trauma, keganasan, hemolisis, luka bakar dan kejang.
HASIL Sampel penelitian berjumlah 60 orang perempuan yang merupakan pasien tumor mama
jinak di RS. Dr. Kariadi Semarang yang dipersiapkan untuk pembedahan dengan menggunakan
teknik anestesi umum yang memenuhi kriteria seleksi tertentu. Jumlah sampel tersebut kemudian
dibagi menjadi dua kelompok yaitu 30 orang mendapat perlakuan atrakurium dan 30 orang lagi
mendapat perlakuan MgSO4. Rerata berat badan kelompok atrakurium 55,2 kg ( 8,0)
sedangkan rerata tinggi badan 1,57 m (t 0,06). Rerata umur kelompok atrakurium adalah 36
tahun 8,8 sedikit lebih tua dibandingkan kelompok MgSO4 yaitu 31 tahun 11,3. Deskripsi
umur, berat badan dan tinggi badan sampel dapat dilihat pada Tabel 1. Rerata tekanan darah
sistole awal pada kelompok atrakurium adalah 128 mmHg 16,6, sedangkan rerata tekanan darah
sistol awal pada kelompok MgSO4 adalah 126 mmHg 10,2. Rerata tekanan darah diastol awal
pada kelompok atrakurium adalah 74 mmHg 9,2, sedangkan rerata tekanan darah diastole awal
pada kelompok MgSO4 adalah 73 mmHg 7,7. Gambaran lengkap hemodinamik awal sampel
dapat dilihat pada Tabel 1. Distribusi data umur, berat badan dan tinggi badan berdasarkan uji
Kolmogorov Smirnov menunjukkan data yang normal, sehingga uji beda di antara ke dua
______________________________________________________________________________
__ 5 Jurnal Anestesiologi Indonesia Volume II, Nomor 1, Tahun 2010 kelompok dengan

independent t-test. Tidak terdapat perbedaan bermakna berat badan, tinggi badan dan umur
antara kelompok atrakurium danMgSO4 (p> 0,05). (Tabel l) Hasil uji Kolmogornov Smirnov
menunjukkan bahwa data kadar kalium awal dan data kadar CPK awal tidak berdistribusi normal
sehingga uji beda kadar kalium awal dan kadar CPK awal antara kelompok atrakurium dan
MgSO4 dengan uji Mann Whitney. Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar kalium awal dan
kadar CPK awal antara kelompok atrakurium dan MgSO4. (Tabel 2) Hasil uji Kolmogomov
Smirnov menunjukkan bahwa data kadar kalium akhir, data kadar CPK akhir tidak berdistribusi
normal. Sehingga uji beda kadar kalium akhir, kadar CPK akhir, antara kelompok atrakurium dan
MgSO4 dengan Uji Mann Whitney. Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar kalium akhir dan
kadar CPK akhir antara kelompok atrakurium dan MgSO4 (p > 0,05) (Tabel 3). Hasil uji
Kolmogornov Smirnov menunjukkan bahwa data selisih kadar kalium dan data selisih kadar
CPK, tidak berdistribusi normal,. sehingga uji beda selisih kadar kalium dan selisih kadar CPK,
antara kelompok atrakurium dan MgSO4 dengan uji Mann Whitney. Tidak terdapat perbedaan
bermakna selisih kadar CPK antara kelompok atrakurium dan MgSO4 (p > 0,05) namun terdapat
perbedaan bermakna selisih kadar kalium (p = 0,029), antara kelompok atrakurium dan MgsO4
(Tabel 4). Pada kelompok Atrakurium, selisih kadar kalium dan selisih kadar CPK untuk
kelompok atrakurium tidak berdistribusi normal, sehingga uji hubungan selisih kadar kalium dan
selisih kadar CPK dilakukan dengan uji rank Spearman Hasil uji hubungan menunjukkan tidak
terdapat hubungan bermakna (p = - 0,138; p: 0,466) selisih kadar kalium dan selisih kadar CPK
pada kelompok atrakurium. Diagram tebar selisih kadar CPK data dilihat pada hubungan antara
selisih kadar kalium dan Gambar 1. Pada kelompok MgSO4, selisih kadar karium dan serisih
kadar CPK untuk kelompok MgSo4 tidak berdistribusi normal, sehingga uji hubungan selisih
kadar kalium dan selisih kadar CPK dilakukan dengian uji rank sparman. Hasil uji hubungan
menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna (p = 0,186; p = 0,325) selisih kadar kalium dan
selisih kadar CPK pada kelompok MgSo4. Diagram tebar hubungan antara selisih kadar kalium
dan selisih kadar CPK kelompok MgSO4 dapat dilihat pada Gambar 2. PEMBAHASAN Pada
penelitian ini kedua kelompok, kelompok Atrakurium dan kelompok MgSO4 untuk karateristik
penderita, jenis operasi, sistolik, diastolik, MAP, kadar kalium dan CPK preoperasi tidak
didapatkan perbedaan yang bermakna dan berdistribusi normal sehingga data dapat dikatakan
homogen dan dapat dibandingkan. Secara statistik peningkatan serum konsentrasi ion karium
didapatkan perbedaan bermakna pada kedua kelompok. Fakta ini berbeda dengan penelitian
Stoelting dan Peterson12 serta Ferres15 dkk dalam penelitiannya mengatakan peningkatan ion
kalium sama antara yang menggunakan pretreatment atau tidak menggunakan pretreatment obat
golongan non depolarisasi. Kejadian ini dapat diterangkan secara teori bahwa pelumpuh otot
golongan
______________________________________________________________________________
__ 6 Jurnal Anestesiologi Indonesia Volume II, Nomor 1, Tahun 2010 Tabel 1. Rerata umur,
antropometri dan hemodinamik sampel pada kedua kelompok Variabel Rerata ( SD) Kelompok
Atrakurium Rerata ( SD) Kelompok MgSO4 P Berat badan (kg) 55,2 8,01 51,47,26 0,057
Tinggi (m) 1570,06 1580,05 0,811 Umur (tahun) 368,7 3111,3 0,073 Sistol (mmHg)
12816,6 12610,2 0,642 Diastol (mmHg) 749,2 737,7 0,651 MAP 9110,4 918,4 0,870

Laju jantung 89,812,6 90,611,9 0,810 Tabel 2. Perbedaan Nilai Awal Kadar Kalium dan CPK
pada kedua kelompok Variabel Rerata (SD) Kelompok Atrakurium Rerata (SD) Kelompo k
MgSO4 P Kadar Kalium 4,24 (0,34) 4,2 (0,46) 0,660* Kadar CPK 64,7 (43,69) 51,8
(29,72) 0,301** Ket : a = uji beda dengan Mann Whitney Tabel 3. Perbedaan Nilai Akhir Kadar
Kalium dan CPK pada ke dua kelompok Variabel Rerata ( SD) Kelompok Atrakurium Rerata (
SD) Kelompok MgSO4 P Kadar Kalium 4,320,33 4,380,35 0,639 Kadar CPK 209,6223,7
140,4137,7 0,128 Ket : a = uji beda dengan Mann Whitney Tabel 4. Perbedaan Peningkatan
Akhir dengan Awal Kadar Kalium dan CPK Variabel Rerata (SD) Kelompok Atrakurium Rerata
(SD) Kelompok MgSO4 P Kadar Kalium 0,08 0,12 0,18 0,20 0,029 Kadar CPK 144,9
196,7 88,6 134,8 0,080 Gambar 1. Diagram tebar antara selisih kadar kalium dan selisih kadar
MgSO4 + Kelompok Atrakurium Gambar 2. Diagram tebar antara selisih kadar kalium dan
selisih
kadar
MgSO4
+
Kelompok
Atrakurium
______________________________________________________________________________
__ 7 Jurnal Anestesiologi Indonesia Volume II, Nomor 1, Tahun 2010 nondepolarisasi bekerja
dengan cara berkompetisi dengan neurotransmitter asetilkolin untuk menduduki reseptor
asetilkolin sedangkan magnesium bekerja dengan cara kompetitif inhibitor terhadap ion kalsium
sehingga asetilkolin yang dilepaskan dari presinap berkurang. 8,15,16,17 Di post sinap
magnesium menurunkan efek asetilkolin pada reseptor dan meningkatkan batas ambang eksitasi
akson. Pada penelitian yang dilakukan Sugirt tentang penggunaan MgSo4 untuk penatalaksanaan
paroksismal atrial takikardi juga mendapatkan hasil yang berbeda bermakna antara yang
mendapatkan MgSO4 dengan yang tidak mendapatkan MgSO4. Aktivitas listrik jantung berasal
dari pergerakan berbagai ion yang melintasi membrane sel miokardium. Dalam hal ini ion
natrium (Na+ ), kalium (K+ ), kalsium (Ca++) dan magnesium (Mg++) merupakan ion yang
paling berperan. Ion Mg merupakan elemen penting untuk kinerja berbagai enzim vital, termasuk
energi yang mengatur distribusi ion Na+ , K + , Ca+ pada saat melintasi membran sel, sehingga
perubahan ion Mg+ dalam serum mempunyai potensi besar terhadap pengaturan aktivitas listrik
jantung. Aksi antagonis ion Mg++ terhadap ion Ca+ adalah dengan berkompetisi pada membrane
sel juga dengan memodulasi pergerakan transmembran maupun fuansportasi ion Ca+ melalui
sistem retikulo endoplasmik. Disamping itu pemberian Mg+ akan mengakibatkan penurunan
sekresi katekolamin dalam miokardium.18-20 Dalam hal peningkatan kadar kreatin fosfokinase,
pada kedua kelompok tidak didapatkan perbedaan bermakna secara statistik (p = 0.080) namun
secara klinis nilai peningkatan kadar CPK kelompok MgSO4 mempunyai kecenderungan lebih
rendah dibandingkan kelompok atrakurium. Fakta ini sesuai teori bahwa atrakurium dosis besar
(dosis induksi) mempunyai efektivitas kerja pada presinap dan postsinap neuromuscular
junction, sedangkan pada dosis kecil (dosis pretreatment) Atrakurium lebih dominan pada
postsinap, sehingga blokade pada pintu gerbang ion kalsium dipresinap tidak terjadi dengan
sempurna menyebabkan asetilkolin banyak diproduksi dan dikeluarkan kedalam rongga lipatan
postsinap yang memungkinkan masih terjadinya proses depolarisasi yang membutuhkan energi
yang besar yang di suplai oleh enzim CPK untuk membentuk energi tersebut.21 Secara biokimia
dapat diterangkan salah satu enzim yang diaktifkan oleh Ca2+ - kalmodulin adalah glikogen
fosforilase kinase, enzim yang sama yang diatur oleh fosforilase yang diaktifkan oleh hormon.

Sewaktu kalmodulin diaktifkan oleh Ca2+ yang dibebaskan dari retikulum sarkoplasma sewaktu
otot berkontraksi, C 2+ -kalmodulin mengikat glikogen fosforilase kinase otot dan
mengaktifkannya. Akibatnya glikogen otot diuraikan menjadi glukosa l-fosfat selama olahraga
untuk memberi bahan bakar bagi otot dengan demikian bila terjadi blok gerbang Ca2+ maka
pembentukan bahan energi tidak terbentuk.22 Peningkatan CPK merupakan indikasi adanya
kerusakan otot oleh suksinilkolin. Peningkatan ini terjadi 24 jam setelah pemakaian
suksinilkolin.23 Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Maddineni dkk didapatkan hubungan
antara mialgia dengan meningkatnya serum CPK akibat induksi suksinilkolin.24 Besamya angka
kejadian peningkatan CPK dan peningkatan ion kalium tidak didapatkan hubungan yang
signifikan,
sesuai
dengan
hasil
penelitian
Jae
Hwan
______________________________________________________________________________
__ 8 Jurnal Anestesiologi Indonesia Volume II, Nomor 1, Tahun 2010 Kim dkk dan Naguib M
dkk. Mcloughlin mencatat menurunnya kejadian mialgia (CPK menurun) pada peningkatan ion
kalium tidak berbeda bermakna antara kelompok yang mendapatkan pretreatment non
depolarisasi atau tidak fakta ini berbeda dengan hasil penelitian Chatterji.18 Perbedaan ini semua
dapat disebabkan oleh perbedaan dosis yang digunakan serta dimungkinkan oleh karena
masingmasing obat mempunyai dominasi tempat kerja yang berbeda disamping itu kelompok
sebaran umur yang lebar menyebabkan data tidak normal, ini disebabkan jumlah pasien yang
tidak terlalu banyak sehingga merupakan salah satu keterbatasan dari penelitian ini.
http://www.janesti.com/journal/view/full/2/1