Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS PSIKOTIK

(SKIZOFRENIA PARANOID F20.0)

IDENTITAS PASIEN
NAMA

: Tn. AS

JENIS KELAMIN

: Laki laki

UMUR

: 34 tahun

AGAMA

: Islam

SUKU BANGSA

: Bugis

PEKERJAAN

: Petani

ALAMAT

: Jl. Jekka Desa Tarre Sinjai

TANGGAL MASUK RS

: 17 April 2014

I. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan utama dan alasan MRSJ/Terapi
Mengamuk
B. Riwayat gangguan sekarang
Keluhan dan gejala :
Pasien laki laki masuk RSKD untuk yang pertama kalinya dibawa
oleh keluarga dengan keluhan mengamuk. Mengamuk dialami sejak
1 minggu yang lalu. Bila mengamuk pasien melempar barang-barang
yang ada dirumahnya. Menurut keluarga, perubahan perilaku sejak 1
tahun yang lalu. Awal perubahan perilaku pasien sering bicara dan
tertawa sendiri, terkadang pasien tidak bisa tidur hanya mondar
mandir di dalam rumahnya. Pasien pernah kuliah di STISIP (Sekolah
Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), tetapi setelah KKN pasien

berhenti dan tidak ingin melanjutkan kuliahnya lagi, menurut pasien


tidak ingin melanjutkan kuliah karena berselisih paham dengan salah
satu dosennya. Pasien juga merasa kalau separuh badannya adalah
manusia proton. Pasien pernah berobat jalan ke poli RSKD Dadi 3
bulan yang lalu dan mendapatkan obat warna putih kecil 2 macam dan
orange.
Hendaya/disfungsi :
Hendaya sosial (+), pasien lebih sering berdiam diri di kamar

dan tidak suka bergaul.


Hendaya pekerjaan (+), pasien sudah tidak bekerja lagi

semenjak mengalami gangguan.


Hendaya penggunaan waktu senggang (+), pasien lebih senang
mengurung diri di kamar, pasien awalnya sering bermain
bersama teman-temannya, namun setelah gangguan yang
dialaminya pasien tidak lagi bermain dan senang seperti
biasanya. Terkadang juga pasien tidak bisa tidur hanya mondar

mandir didalam rumahnya.


Faktor stressor psikososial : tidak ada
C. Riwayat gangguan sebelumnya
Riwayat penyakit terdahulu (gangguan neurologis dan medis lainnya)

pada pasien tidak ada.


Riwayat penggunaan zat psikoaktif
o Pasien tidak pernah menggunakan obat-obatan ataupun zat
psikoaktif
o Pasien sering merokok kira-kira dua bungkus perhari
o Riwayat minum alkohol disangkal
Riwayat gangguan psikiatri sebelumnya

Pasien pernah berobat jalan ke poli RSKD Dadi dengan keluhan


mengamuk 3 bulan yang lalu dan mendapatkan obat warna putih
kecil dan orange.
D. Riwayat kehidupan pribadi
Riwayat prenatal dan perinatal (0-1 tahun)
Pasien lahir tanggal 1 Desember 1979. Pasien lahir cukup bulan,
lahir normal di rumah dan dibantu oleh dukun. Ibu pasien tidak

mengalami masalah selama mengandung pasien.


Riwayat masa kanak-kanak awal (1-3 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pasien

sama

dengan

pertumbuhan dan perkembangan anak-anak pada umumnya. Pasien

mendapatkan ASI hingga usia 2 tahun.


Riwayat masa kanak-kanak pertengahan (4-11 tahun)
Pasien masuk di Sekolah Dasar (SD) di Sinjai. Prestasi pasien di
sekolah biasa. Pasien dikenal sebagai anak yang rajin di sekolah.
Pasien merupakan anak yang agak pendiam. Pasien mempunyai

banyak teman sewaktu di sekolah.


Riwayat masa remaja (12-18 tahun)
Setelah tamat Sekolah Dasar, pasien melanjutkan pendidikannya

ke SMP.
Riwayat masa dewasa (18 tahun sekarang)
Setelah tamat SMP pasien melanjutkan pendidikannya ke tingkat
SMA dan kemudian kuliah di salah satu Universitas di Sinjai, namun,
pasien berhenti.
o Riwayat pernikahan
Pasien belum menikah
o Riwayat pekerjaan
Pasien dahulu pernah bekerja sebagai room boy di hotel S.
Parman Palu Sulawesi Tengah, kemudian berhenti, dan kemudian

bekerja sebagai petani, saat dia minum obat teratur dan saat tidak
sakit.
o Riwayat kehidupan sosial
Pasien termasuk orang yang mudah bergaul. Hubungan pasien
dengan tetangga baik.
o Riwayat kehidupan sekarang
Pasien tinggal bersama saudaranya (kakak kandung)
E. Riwayat kehidupan keluarga
Pasien merupakan anak ke sepuluh dari 10 bersaudara
(,,,,,,,,,). Hubungan dengan keluarga baik. Ada
riwayat keluarga yang menderita seperti ini (saudara kedua).
F. Situasi sekarang
Pasien tinggal bersama saudaranya. Pasien sering bergaul dengan
lingkungan sekitar.
G. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya
Pasien tidak sadar kalau dirinya sakit.
II. AUTOANAMNESIS
Autoanamnesis pasien pada tanggal 26 April 2014 di bangsal Kenari
RSKD Dadi pukul 11.00 WITA.
DM

: Assalamualaikum pak

: Waalaikumsalam dok.

DM

: Saya Khuzaimah, pak. Tidak apa-apa ji kalau saya tanya-tanya ki


pak?

: Iya tanya mi.

DM

: bapak namanya siapa?

: Andi salman, bu.

DM

: Bapak tinggal dimana?

: Saya tinggal di Sinjai, Desa Kalle dusun Dekka

DM

: Dengan siapa bapak tinggal?

: Dengan keluarga

DM

: Pekerjaannya bapak apa?

: Sebelum berkebun, saya dulu itu room boy hotel


4

DM

: Di hotel apa bapak kerja?

: Di hotel S.Parman, Palu Sulawesi Tengah.

DM

: Bapak tau sekarang kita lagi dimana ini?

: Saya di rumah sakit jiwa sekarang.

DM

: Siapa yang bawa bapak kesini?

: Keluarga

DM

: Siapa itu?

: Andi Sahrir, kakakku itu bu dokter.

DM

: Bapak tahu kenapa kita bisa dibawa kesini?

: Karena saya mengamuk di Sinjai, suka pecah-pecahkan kaca

DM

: Ada yang suruh-suruh bapak pecahkan kaca?

: Tidak ji. Saya sendiri ji yang pecahkan kaca. Karena belum bisa ka
kendalikan ini.

DM

: Sudah sejak kapan bapak suka mengamuk?

: Mmmm.sudah sekitar 3 tahunan

DM

: Kenapa bapak bisa mengamuk?

: Kadang saya stress bu, biasanya karena masalah keluarga dan ini
yang paling parah penyakitnya karena doktrin-doktrinnya itu
banyak sekali pantangannya.itu mi kadang saya stress.

DM

: Doktrin apa itu? Siapa yang kasih begitu ki?

: Pengikutnya. Wadah saya sendiri bu, namanya SN

DM

: Sejak kapan ada wadah itu?

: Sejak saya jadi manusia sudah ada wadah itu. Saya ini toh bu dokter
sudah pernah mati 3 kali, saya pernah dikeluarkan badan saya yang
asli kemudian wadah SN hidupkan saya kembali. Saya juga sudah 5
kali dihukum mati tapi ada anak-anak baik membantu saya

DM

: Siapa yang bantu bapak?

: Namanya intel-intel KRIKA (kelompok kiri, Kristen, dan kelompok


kanan). Itu juga yang membantu saya mempopulerkan karya-karya
tulis saya yang judulnya 10 jurus menghilangkan stress.

DM

: Kenapa bapak bisa kenal intel ini:

: Dikenalkan sama kaka.

DM

: Terus bapak ikut sama ini kelompok?

: Iyya, ikut sampai sekarang.

DM

: Apa tugasnya bapak disini?

: Sebagai intel, sebagai pekerja juga, mendonasi kegiatan kalau ada


hasil dari karya ini.

DM

: Apa kegiatannya?

: Penyadaran ke masyarakat

DM

: Siapa yang tulis itu karya 10 jurus menghilangkan stress?

: Saya yang tulis bu dok, tadi malam

DM

: Siapa yang bantu bapak menulis karya?

: Teman-teman dalam tubuh saya. Ada juga namanya Budiman


Sujatmiko itu politikus kawakan yang bantu ka juga populerkan
karya-karya saya

DM

: Orang mana itu Budiman Sujatmiko?

: Orang Sumatera itu

DM

: Bapak menghasilkan karya tulis seperti puisi yah?

: Iyya puisi, kadang tulisan-tulisan letter, kadang buku-buku cerita.

DM

: Selain mengamuk apa lagi bapak bikin?

: Saya bentak-bentak orang bu dokter

DM

: Siapa itu yang bapak bentak-bentak?

: Lawan atau musuh saya, bu.

DM

: Ada musuhnya bapak?

: Iya ada, ada musuh dalam diri saya.

DM

: Katanya bapak bilang kalau bapak ini manusia robot yah?

: Bukan manusia robot.. saya ini manusia proton

DM

: Apa itu manusia proton?

: Manusia yang dibuat dengan sistem tekhnologi. Dibagian mata saya


ada namanya juru pementik mata sebelah kiri dan kanan, gunanya
untuk membuka atau memperlebar jalur supaya orang-orang saya
bisa lewat.

DM

: Apa lagi kemampuannya bapak yang lain?

: Itu ji, menulis juga. Bisa juga menyanyi.

DM

: Itu saja kemampuannya bapak sebagai manusia proton?

: Iya

DM

: Badannya bapak terbuat dari apa?

: Dari tanah. Coba kita senter tanganku bu dokter, ada yang mau saya
perlihatkan. ada gerakan disini.

DM

: Gerakan apa itu pak?

: Kita lihat sendiri mi.

DM

: Apa isinya tangannya bapak?

: Besi. Disini dulu ada semacam tulang terkelupas, endogennya


tulang yang keluar (sambil menunjuk tangannya).

DM

: Kenapa bisa begitu tangannya bapak?

: Memang begini saya, ada sistem robot dalam tubuh saya.

DM

: Dari dulu itu sudah ada begitu dalam tubuhnya bapak?

: Iyya, dari dulu, sudah 8 tahun.

DM

: Siapa yang jadikan bapak manusia proton?

: Kelompok EDI

DM

: Apa itu EDI?

: Elemen dasar industri.

DM

: Dimana itu EDI? Kelompok apa itu bapak?

: Di vasata tinggal.

DM

: Apa itu vasata?

: Rumah..rumah

DM

: Kenapa bisa EDI buat ki jadi manusia proton?

: Rencananya mau diorbit jadi presiden, tapi tidak jadi.

DM

: Kenapa tidak jadi bapak?

: Ya..karena saya sendiri yang tidak mau

DM

: Kenapa tidak mau jadi presiden?

: Dampaknya bu. Banyak dampaknya. Saya masih belum mampu.

DM

: Bapak merasa belum mampu?

: Bisa ji iyya, tapi masih banyak keperluan keluarga.

DM

: Bapak jadi manusia proton sekarang ini apa tugasnya?

: Saya stress, kadang saya berbuat gila.

DM

: Kenapa bapak bisa stress?

: Itulah dramatisnya kehidupan saya.

DM

: Bapak stress bukan karena dikendalikan?

: Kalau itu tidak masalah ji.

DM

: Bapak masih stress sekarang?

: Iya, karena ada yang jahili saya.

DM

: Siapa yang jahili bapak?

: Ada wadah yang kasih pindah badanku ke badan baru.

DM

: Katanya bapak dulu kuliah yah?

: Iya, saya pernah kuliah tapi di keluarkan.

DM

: Kenapa bapak bisa dikeluarkan?

: Karena saya lari kiri, beraliran sosialis sampainya komunis.

DM

: Apalagi yang biasanya buat bapak stress?

: Karena itu mi yang tadi, dok. Ada namanya juga forum pencinta
Allah dirumah. Itu yang menciptakan surga. Karena allah
sesungguhnya sudah ada di bumi.

DM

: Bapak tahu Allah sesungguhnya?

: Iya, wadahnya sudah diketahui.

DM

: Apa wadahnya?

: Berupa manusia.

DM

: Itu tadi yang namanya EDI, pernah tidak bapak lihat?

: Pernah saya lihat satu kali

DM

: Dimana bapak lihat?

: Di televisi. Saya pernah mati tapi hidup lagi, karena ada penggerak
di tubuh saya untuk mengganti sel-sel yang rusak.

DM

: Ada suara-suara sering bapak dengar?

: Iya ada, tapi dulu. Dulu saya dilarang makan sama shalat

DM

: Siapa yang larang bapak?

: Wadah-wadah saya.

DM

: Ada yang sering ancam-ancam bapak?

: Iya, diancam ka tidak dikasih uang dan akan dimatikan lagi kalau
tidak membayar.

DM

: Kalau cita-citanya bapak apa?

: Itu tadi, mau jadi presiden.

DM

: Bapak sekarang merasa sakitkah?

: Ya.alhamdulillah dok, sudah mendingan.

DM

: Apa ini bapak? (tunjuk pulpen)

: Pulpen

DM

: Dipakai buat apa ini bapak?

: Menulis

DM

: 10-7 berapa bapak?

: Tiga

DM

: Kalau bapak dapat dompet dijalan apa yang bapak bikin?

: Mengambilnya, kemudian diserahkan kepada yang berwenang

DM

: Ooh iyya. Sudah mi pele bapak neh. Istirahat mi bapak. Terimakasih


bapak.

III.

: Iyya dokter, sama-sama.

STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum :
1. Penampilan
Tampak seorang laki-laki. Memakai baju kaos garis-garis merah,
celana jeans. Perawakan sesuai usianya. Tidak terlalu tinggi.
Perawatan diri cukup.
2. Kesadaran
Berubah.
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Tenang
4. Verbalisasi
9

Spontan, lancar, intonasi tinggi.


5. Sikap terhadap pemeriksa
Cukup Kooperatif
B. Keadaan afektif, mood, empati :
1. Mood
: Sulit dinilai
2. Afek
: Terbatas
3. Empati
: Tidak dapat dirabarasakan
4. Keserasian : Tidak serasi
C. Fungsi Intelektual :
1. Taraf pendidikan
: Sesuai taraf pendidikan
2. Daya konsentrasi
: Cukup.
3. Orientasi (waktu, tempat, dan orang) :
Waktu
: Baik
Tempat
: Baik
Orang
: Baik
4. Daya ingat
Jangka panjang : Baik
Jangka pendek : Baik
Jangka segera
: Baik
5. Pikiran abstrak
: Cukup
6. Kemampuan menolong diri sendiri : Kurang
7. Bakat kreatif
: Tidak ada
D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi
: Halusinasi auditorik (+), pasien mendengar suarasuara dari dalam tubuhnya yang memerintahkan
dia untuk melakukan sesuatu.
2. Ilusi
: Tidak ada
3. Depersonalisasi : Tidak ada
4. Derealisasi
: Tidak ada
E. Proses berpikir
1. Arus pikir
Produktivitas
: Relevan
Kontinuitas
: Kadang Asosiasi longgar
Hendaya bahasa : Tidak ada
2. Isi pikiran
Pre okupasi
: Tidak ada
Gangguan isi pikir :
- Waham kebesaran (+), merasa yakin kalau separuh dirinya
adalah manusia proton. Dan dibagian matanya terdapat juru
pementik mata sebelah kiri dan kanan, gunanya untuk

10

membuka atau memperlebar jalur supaya orang-orang bisa

IV.

lewat.
F. Pengendalian Impuls

: Tidak bisa mengendalikan

G. Daya nilai
1. Normo Sosial
2. Uji Daya Nilai
3. Penilaian Realitas
H.
Tilikan (Insight)
I. Taraf dapat dipercaya

: Terganggu
: Terganggu
: Terganggu
: Derajat 1 Pasien tidak merasa dirinya sakit)
: Tidak dapat percaya

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


A. Pemeriksaan fisik
Status internus :
o Tekanan Darah
: 110/70 mmHg
o Nadi
: 84x / menit
o Pernapasan
: 20x / menit
o Suhu
: 36,5oC
Status neurologis
o GCS
: 15 (E4 V5 M6) fungsi motorik dan sensorik dalam
batas normal dan tidak ditemukan adanya refleks patologis.

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Pasien laki laki masuk RSKD Dadi untuk yang pertama kalinya
dibawa oleh keluarganya dengan keluhan mengamuk. Mengamuk dialami
sejak 1 minggu yang lalu. Bila mengamuk pasien melempar barang-barang
yang ada di rumahnya. Menurut keluarga, perubahan perilaku sejak 1 tahun
yang lalu. Awal perubahan perilaku pasien sering bicara dan tertawa sendiri,
terkadang pasien tidak bisa tidur hanya mondar mandir di dalam rumahnya.
Pasien pernah kuliah di STISIP (Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik), tetapi setelah KKN pasien berhenti dan tidak ingin melanjutkan
kuliahnya lagi, menurut pasien tidak ingin melanjutkan kuliah karena
berselisih paham dengan salah satu dosennya. Pasien juga merasa kalau

11

separuh badannya adalah manusia proton. Pasien pernah berobat jalan ke poli
RSKD Dadi 3 bulan yang lalu dan mendapatkan obat warnah putih kecil 2
macam dan orange.
Dari pemeriksaan status mental didapatkan kesadaran berubah,
aktivitas psikomotor tenang, verbalisasi lancar, spontan, dan intonasi tinggi.
Pasien cukup kooperatif, mood sulit nilai, afek terbatas, empati tidak dapat
dirabarasakan, keserasian tidak serasi. Fungsi intelektual sesuai taraf
pendidikan, orientasi waktu, tempat, dan orang baik. Daya ingatan jangka
panjang, pendek, dan segera baik. Pikiran abstrak cukup. Gangguan persepsi
(+) yakni halusinasi auditorik, pasien sering mendengar suara suara yang
memerintahkannya untuk melakukan sesuatu. Gangguan isi pikir (+) yakni
waham kebesaran (merasa kalau separuh dirinya adalah manusia proton).
Derajat tilikan yakni derajat 1, karena pasien tidak merasa dirinya sakit.

VI.

EVALUASI MULTI AKSIAL


A. Aksis I
Berdasarkan alloanamnesis dan autoanamnesis serta pemeriksaan
status mental didapatkan gejala klinis yang bermakna yakni Mengamuk.
Bila mengamuk pasien melempar barang-barang yang ada dirumahnya,
sering bicara sendiri dan tertawa sendiri, terkadang pasien tidak bisa tidur
hanya mondar mandir di dalam rumahnya. Keadaan ini menimbulkan
penderitaan bagi pasien dan keluarganya. Terdapat hendaya dalam fungsi

12

sosial, pekerjaan, dan penggunaan waktu senggang sehingga dapat


disimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan jiwa.
Pada pemeriksaan status mental didapatkan hendaya dalam menilai
realita berupa halusinasi audiotorik, waham kebesaran sehingga
didiagnosis gangguan jiwa psikotik.
Dari status internus dan pemeriksaan neurologis tidak ditemukan
kelainan sehingga kelainan organik dapat disingkirkan dan dikategorikan
sebagai gangguan jiwa psikotik non organik.
Pada pemeriksaan status mental didapatkan adanya afek terbatas,
halusinasi auditorik, waham kebesaran, perilaku tenang, tapi kadang tibatiba gelisah serta perubahan perilaku, sehingga berdasarkan PPDGJ/III
memenuhi kriteria diagnosis, sehingga pasien didiagnosis gangguan
skizofrenia paranoid (F20.0).
B. Aksis II
Ciri kepribadian pasien tidak khas.
C. Aksis III
Tidak ada diagnosis.
D. Aksis IV
Tidak ada
E. Aksis V
GAF (Global Assesment Functioning) Scale 50-41, beberapa gejala
berat, disabilitas sedang dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dll.
VII.

DAFTAR PROBLEM
A. Organobiologik :

Tidak terdapat kelainan yang

spesifik, namun diduga terdapat ketidakseimbangan


neurotransmitter

maka

pasien

memerlukan

farmakoterapi.

13

B. Psikologi

: Ditemukan adanya hendaya berat

dalam bidang sosial, pekerjaan dan penggunaan waktu


senggang sehingga memerlukan sosioterapi.

VIII. PROGNOSIS
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prognosis pasien yaitu :
A. Faktor pendukung :
Terdapat riwayat yanng sama dalam keluarga
Gejala yang muncul adalah gejala positif
B. Faktor penghambat :
Dukungan keluarga kurang
Status sosio-ekonomi bawah
Onset sudah beberapa tahun
Kepatuhan minum obat kurang
IX.

PROGNOSIS
Prognosis Dubia et malam

X. PEMBAHASAN / TINJAUAN PUSTAKA


Dari Alloanamnesis dan Autoanamnesis serta pemeriksaan status
mental, maka disimpulkan bahwa pasien didiagnosis dengan Skizofrenia
Paranoid (F20.0) sesuai dengan Pedoman Penggolongan Diagnisis Gangguan
Jiwa III (PPDGJ-III).
Skizofrenia merupakan salah satu dari kelompok gangguan psikotik,
yang dikarakteristikan dengan simptom positif atau negatif dan sering
dihubungkan dengan kemunduran penderita dalam menjalankan fungsinya
sehari-hari. Dalam tahun 1911, Eugen Bleuler memperkenalkan istilah
skizofrenia karena gangguan ini menyebabkan terjadinya perpecahan antara
pikiran, emosi, dan perilaku. Istilah Skizofrenia berasal dari bahasa Jerman,
yaitu Schizo (= Perpecahan/Split) dan Phrenos (= Mind).

14

Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa edisi


ke III (PPDGJ-III), pedoman diagnostik Skizofrenia (F20) yaitu dengan
memenuhi kriteria berikut :

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya
dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang
jelas):
(a) -

thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang

atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran


ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau
-

thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari


luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya
diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal);

thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga


orang lain atau umum mengetahuinya;

(b) -

delusion

of

control

waham

tentang

dirinya

dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau


-

delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh


suatu kekuatan tertentu dari luar; atau

delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan


pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar;
(tentang dirinya = secara jelas merujuk ke pergerakan
tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan
khusus);

15

delusional perception = pengalaman inderawi yang tak wajar,


yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik
atau mukjizat;

(c) Halusinasi auditorik


-

Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap


perilaku pasien, atau

Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara


berbagai suara yang berbicara), atau

Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh

(d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat


dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal
keyakikan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan
di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau
berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).
Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara
jelas:
(a) Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai
baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah
berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh
ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila
terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan
terus menerus;

16

(b) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang
tidak relevan, atau neologisme;
(c) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativism,
mutisme, dan stupor;
(d) Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang
jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar,
biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan
menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal
tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun


waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
prodromal);

Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi
(personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (selfabsorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.
Pedoman diagnostik untuk mendiagnosis Skizofrenia Paranoid (F20.0)

menurut PPDGJ-III adalah sebagai berikut :


Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
Sebagai tambahan :
- Halusinasi dan/atau waham harus menonjol;

17

(a) suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi


perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi
pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa
(laughing);
(b) halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual,
atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi
jarang menonjol;
(c) waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan
(delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau
passivity (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar
-

beraneka ragam, adalah yang paling khas;


Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala
katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol.

XI.

RENCANA TERAPI
Farmakoterapi

: Haloperidol 1,5 mg 3x1


Chlorpromazine 100 mg 0 - 0 - 1
Trihexyphenidyl 2 mg 2x1 (kp)

Psikoterapi suportif :
o Ventilasi
Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan isi
pikirannya atau kecemasannya sehingga pasien merasa lega.
o Konseling
Memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien tentang
penyakitnya agar pasien memahami kondisi dirinya dan memahami
cara menghadapinya, serta tetap memotivasi pasien agar tetap minum

obat secara teratur.


Sosioterapi
:

18

Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang terdekat


pasien tentang gangguan yang dialami oleh pasien, sehingga tercipta
dukungan moril dan lingkungan yang kondusif sehingga membantu
proses penyembuhan pasien.
XII.

FOLLOW UP
Memantau keadaan dan perkembangan pasien dan menilai efektivitas
dari

pengobatan

serta

kemungkinan

terjadinya

efek

samping

dari

farmakoterapi yang diberikan.

19