Anda di halaman 1dari 61

WRAP UP

BLOK MEDIKOLEGAL ( SKENARIO 2 )


Astaga Ada Mayat Bayi di Kardus Aqua

KELOMPOK A.01

KETUA

: Kekar Yogantoro

1102011135

SEKRETARIS

: Zulfa Vinanta

1102011302

ANGGOTA

: Ayu Nujma Paradis

1102011058

Ivan Nugraha

1102010134

Inez Soraya

1102010130

Eva Amanda R
Rizkie Arianti Putri N
M. Arief Rachman A
Putri Wulandari

1102007103
1102010254
1102011147
1102011214

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2013/2014

SKENARIO 2

Astaga Ada Mayat Bayi di Kardus Aqua


Mayat bayi berjenis kelamin laki-laki ditemukan di sebuah tempat pembuangan akhir
(TPA) Darupono Kaliwangun Selatan,Kendal Jawa Tengah Kamis (6/12/12) pagi.Bayi berada di
dalam kerdus aqua dibungkus kantong plastic hitam, dalam keadaan membusuk dan berbau. Saat
ini,jasad bayi berada di Rumah Sakit Umum Suwondo Daerah (RSUD) Kabupaten Kendal.
Menurut Kepala Urusan (Kaur) Bin Ops Satuan Reskrim Polres Kendal,Ipnu Abdullah
Umar,mayat dibuang oleh seorang perempuan yang semula hamil tua,sekarang perutnya sudah
mengempis, bayi itu pertama kali ditemukan oleh seorang pemulung bernama Jakarmo (31),
warrga desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kendal.
Saat itu Jokarmo sedang mengais sampah.Dia mengaku terkejut ketika ada plastic hitam
besar yang dikerumuni lalat, kata Umar. Karena curiga,jelas Umar, pemulung tersebut
mendekati kantong plasik hitam. Setelah dekat,ia terkejut,saat melihat kepala bayi.Lalu plastic
itu dibuka dan terlihatlah sesosok mayat bayi. kemudian,pemulung itu melaporkannya ke kantor
polisi, jelasnya. Mayat bayi yang diperkirakan berusia 1 hari itu akan dibawa ke Rumah Sakit
Bhayangkara Semarang untuk diotopsi. Kasus itu sekarang masih ditangani oleh petugas polisi.
kami akan mencari orang tua dari mayat tersebut tambam umar. Pelaku sudah diamankan di
Polres.
Warni, sang pelaku mengaku dia juga korban pemerkosaan yang dilakukan oleh tetangga
desanya di Merepen Gerobokan, karena ketakutan hamil dan akan melahirkan, korban pergi ke
Kaliwungun untuk bekerja dipabrik gula dan mengasikan diri.

Kata-kata sulit
1.

Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat dengan tujuan untuk menemukan
proses penyakit atau adanya cedera, merangkan penyakit kematian, serta mencari
hubungan sebab akibat penyakit kematian.

2.

Perkosaan adalah hubungan sexual yang dilakukan diluar status pernikahan disertai
kekerasan dan pemaksaan.

Pertanyaan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bagaimana menentukan kematian bayi dan usia kematian ?


Bagaimana hukum membunuh bayi secara islam ?
Apa saja indikasi dilakukannya otopsi ?
Apa hukuman bagi ibu yang membunuh bayi ?
Apakah indikasi pembusukan pada mayat?
Bagaimana cara identifikasi pada korban pemerkosaan ?

Jawaban
1. Usia bayi = pemeriksaan antropometri
Usia kematian tes apung paru = tes apung paru ( apung = mati di dalam rahim,
tenggelam = setelah lahir )
2. Aborsi = hukuman mati
Membunuh anak sendiri = digugurkan hukumannya
3. Mati tidak wajar
4. Hukuman berat
5. Karena ada gas COCn
6.
Dari visum, kotoran dari rambut, celana dalam dan pakaian, kerokan kuku, air liur,
swab anal, swab vagina, swab payudara, bekas gigitan
Kesimpulan
Mayat bayi membusuk dan dilaporkan kepolisi. Setelah itu dilakukannya otopsi untuk
menemukan usia bayi, jenis kelamin, golongan darah, DNA, usia kematian, dan juga sebab
kematian. Sebab kematian ditemukannya lebam mayat, kaku mayat, ukuran lebam, ada tidaknya
belatung, perdarahan, fraktur. Setelah itu ditemukannya pelaku. Pelkau yang diketahui polisi
karena masalah perkosaan. Pelaku yaitu ibu kandung sendiri dengan hukuman negara seberatberatnya. Dan juga hukuman dalam islam tentang aborsi dan pembunuhan anak sendiri.

Sasaran Belajar
LI 1. Memahami dan Menjelaskan Visum
LO 1.1 Memahami dan Menjelaskan Perkosaan
LO 1.2 Memahami dan Menjelaskan Pembunuhan bayi
LI 2. Memahami dan Menjelaskan Otopsi mayat
LI 3. Memahami dan Menjelaskan Perubahan Pasca Kematian
LI 4. Memahami dan Menjelaskan Hukum Membunuh Anak dalam Islam dan Negara

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Visum


Visum et repertum disingkat VeR adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter
dalam ilmu kedokteran forensik[1] (Lihat:Patologi forensik) atas permintaan penyidik yang
berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun
bagian atau diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah,
untuk kepentingan pro yustisia.
Visum et repertum kemudian digunakan bukti yang sah secara hukum mengenai keadaan
terakhir korban penganiayaan, pemerkosaan, maupun korban yang berakibat kematian dan
dinyatakan oleh dokter setelah memeriksa (korban). Khusus untuk perempuan visum et repertum
termasuk juga pernyataan oleh dokter apakah seseorang masih perawan atau tidak.
Visum et repertum berperan sebagai salah satu alat bukti yang sah dalam proses
pembuktian perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Dalam VeR terdapat uraian
hasil pemeriksaan medis yang tertuang dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat
dianggap sebagai pengganti barang bukti. VeR juga memuat keterangan atau pendapat dokter
mengenai hasil pemeriksaan medis yang tertuang dalam bagian kesimpulan.
Bentuk Visum et Repertum berdasarkan objek :
1) Visum et Repertum Korban Hidup

Visum
et
Repertum
Visum et Repertum diberikan kepada korban setelah diperiksa didapatkan lukanya
tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan atau
aktivitasnya.

Visum
et
Repertum
Sementara
Misalnya visum yang dibuat bagi si korban yang sementara masih dirawat di rumah
sakit akibat luka-lukanya akibat penganiayaan.

Visum
et
Repertum
Lanjutan
Misalnya visum bagi si korban yang lukanya tersebut (Visum et Repertum
Sementara) kemudian lalu meninggalkan rumah sakit ataupun akibat luka-lukanya
tersebut si korban kemudian di pindahkan ke rumah sakit atau dokter lain ataupun
meninggal dunia.

2) Visum et Repertum pada mayat

Visum pada mayat dibuat berdasarkan otopsi lengkap atau dengan kata lain
berdasarkan pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam pada mayat.

3) Visum et Repertum Pemeriksaan di Tempat Kejadian Perkara (TKP)


4) Visum et Repertum Penggalian Mayat

5) Visum et Repertum Mengenai Umur


6) Visum et Repertum Psikiatrik
7) Visum et Repertum Mengenai Barang Bukti

Misalnya berupa jaringan tubuh manusia, bercak darah, sperma dan sebagainya.
(Peranan Dokter dalam Pembuktian Tindak Pidana,2008 : 51)

Perbedaan VeR dengan Catatan Medis dan Surat Keterangan Medis Lain
Catatan medis adalah catatan tentang seluruh hasil pemeriksaan medis beserta tindakan
pengobatan/perawatannya yang merupakan milik pasien, meskipun dipegang oleh
dokter/institusi kesehatan. Catatan medis ini terikat pada rahasia pekerjaan dokter yang diatur
dalam Peraturan Pemerintah No.10 tahun 1966 tentang rahasia kedokteran dengan sanksi hukum
seperti pasal 322 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).
Karena Visum et repertum dibuat berdasarkan undang-undang yaitu pasal 120, 179, dan
133 ayat 1 KUHAP, maka dokter tidak dapat dituntut karena membuka rahasia pekerjaan
sebagaimana diatur dalam pasal 322 KUHP, meskipun dokter membuatnya tanpa seizin pasien
Visum et Repertum pada Kasus PerlukaUmumnya, korban dengan luka ringan datang ke
dokter setelah melapor ke penyidik, sehingga membawa surat permintaan visum et repertum.
Sedangkan korban dengan luka sedang/berat akan datang ke dokter sebelum melapor ke
penyidik, sehingga surat permintaan datang terlamba2. Visum et Repertum Korban Kejahatan
Susila
Umumnya korban kejahatan susila yang dimintakan visum et repertumnya pada dokter adalah
kasus dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukuman oleh KUHP (meliputi perzinahan,
perkosaan, persetubuhan dengan wanita yang tidak berdaya, persetubuhan dengan wanita yang
belum cukup umur, serta perbuatan cabul).3. Visum et Repertum Jenazah
Jenazah yang akan dimintakan visum et repertumnya harus diberi label yang memuat identitas
mayat, dilak dengan diberi cap jabatan, diikatkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lainnya
Pada surat permintaan visum et repertum harus jelas tertulis jenis pemeriksaan yang diminta,
apakah pemeriksaan luar (pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan dalam/autopsi (pemeriksaan
bedah
jenazah).Pemeriksaan
forensik
terhadap
jenazah
meliputi
:
1. Pemeriksaa luar jenazah yang berupa tindakan yang tidak merusak keutuhan jaringan jenazah
secara
teliti
dan
sistematik.
2. Pemeriksaan bedah jenazah, pemeriksaan secara menyeluruh dengan membuka rongga
tengkorak, leher, dada, perut, dan panggul. 4. Visum et Repertum Psikiatrik
Visum et repertum psikiatrik perlu dibuat oleh karena adanya pasal 44 (1) KUHP yang berbunyi
Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya
6

disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, tidak
dipidana
Dasar Hukum
Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan tertulis
(resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap seseorang manusia baik hidup maupun
mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan dan interpretasinya, di bawah sumpah
dan untuk kepentingan peradilan. Menurut Budiyanto dkk (Ilmu Kedokteran Forensik,1997) ,

Dasar hukum Visum et Repertum adalah sebagai berikut :

Pasal 133 KUHAP menyebutkan:


(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis,
yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan
mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
Pasal 120 KUHP
Penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli dan ahli tersebut member bantuan dengan
pengetahuan sebaik-baiknya.
Pasal 179 KUHP
Dokter wajib melakukan pemeriksaan kedokteran forensic bila diminta oleh penyidik
berwenang.
Nilai hukum
- Pasal 184 KUHP tentang alat bukti yang sah, keterangan ahli, keterangan saksi, surat,
petunjuk, keterangan terdakwa.
- Pasal 187, surat yang dibuat oleh ahli berdasarkan keahliannya atas dasar permintaannya
yang sah.
Dasar hukum
Dalam KUHAP pasal 186 dan 187. (adopsi: Ordonansi tahun 1937 nomor 350 pasal 1)

Pasal 186: Keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang
pengadilan.
7

Pasal 187(c): Surat keterangan dari seorang ahli yang dimuat pendapat berdasarkan
keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi
daripadanya.
Kedua pasal tersebut termasuk dalam alat bukti yang sah sesuai dengan ketentuan dalam
KUHAP.

Selanjutnya,keberadaan Visum et Repertum tidak hanya diperuntukkan kepada seorang


korban (baik korban hidup maupun tidak hidup) semata, akan tetapi untuk kepentingan
penyidikan juga dapat dilakukan terhadap seorang tersangka sekalipun seperti VR Psikiatris.Hal
ini selaras dengan apa yang disampaikan dalam KUHAP yaitu :
Pasal 120 (1) KUHAP
Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat orang ahli atau orang
yang memiliki keahlian khusus.
Apabila pelaku perbuatan pidana tidak dapat bertanggung jawab, maka pelaku dapat dikenai
pidana. Sebagai perkecualian dapat dibaca dalam Pasal 44 KUHP sebagai berikut:
1. Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan padanya,
disebabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya (gebrekkige ontwikkeling) atau terganggu
karena penyakit (ziekelijke storing), tidak dipidana.
2. Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggung jawabkan padanya disebabkan karena
jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, maka hakim dapat
memerintahkan supaya orang itu dimasukkan dalam Rumah Sakit Jiwa, paling lama satu tahun
sebagai waktu percobaan.
3. Ketentuan tersebut dalam ayat (2) hanya berlaku bagi Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi,
dan
Pengadilan
Negeri.
Dalam menentukan adanya jiwa yang cacat dalam tumbuhnya dan jiwa yang terganggu
karena penyakit, sangat dibutuhkan kerjasama antar pihak yang terkait, yaitu ahli dalam ilmu
jiwa (dokter jiwa atau kesehatan jiwa), yang dalam persidangan nanti muncul dalam bentuk
Visum et Repertum Psychiatricum, digunakan untuk dapat mengungkapkan keadaan pelaku
perbuatan (tersangka) sebagai alat bukti surat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu
sebagaimana bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP. Penyidik yang dimaksud di sini
adalah penyidik sesuai dengan pasal 6(1) butir a, yaitu penyidik yang pejabat Polisi Negara RI.
Penyidik ini adalah penyidik tunggal bagi pidana umum, termasuk pidana yang berkaitan dengan
kesehatan dan jiwa manusia. Oleh karena Visum et Repertum adalah keterangan ahli mengenai
pidana yang berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak
berwenang meminta Visum et Repertum , karena mereka hanya mempunyai wewenang sesuai
dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7(2) KUHAP).

Sanksi hukum bila dokter menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan sanki pidana :

Pasal 216 KUHP :


Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut
undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasar- kan
tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana;
demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau mengga-galkan
tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan
dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
PASAL 224 KUHP :
Barangsiapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan
sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya,
diancam : dalam perkara pidana, dengan penjara paling lama sembilan bulan.
Faktor yang berperan:
1.
2.

Keaslian barang bukti


Saat pemeriksaan

3.

Teknik Pemeriksaan

4.

Koordinasi dokter dengan penyidik

Peran dan Fungsi


Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam
pasal184 KUHP.Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana
terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana VeR menguraikan segala sesuatu tentang hasil
pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap
sebagai pengganti barang bukti.Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter
mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan. Dengan
demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu
hukum sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang
telah terjadi pada seseorang, dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum
pada perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia. Apabila visum et repertum
belum dapat menjernihkan duduk persoalan di sidang pengadilan, maka hakim dapat meminta
keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti yang tercantum dalam KUHAP, yang
memungkinkan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti, apabila
timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil
pemeriksaan. Hal ini sesuai dengan pasal 180 KUHAP.
Bagi penyidik (Polisi/Polisi Militer) visum et repertum berguna untuk mengungkapkan
perkara. Bagi Penuntut Umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk menentukan pasal yangakan
didakwakan, sedangkan bagi Hakim sebagai alat bukti formal untuk menjatuhkan pidana atau
membebaskan seseorang dari tuntutan hukum. Untuk itu perlu dibuat suatu Standar Prosedur
9

Operasional Prosedur (SPO) pada suatu Rumah Sakit tentang tata laksana pengadaan visum et
repertum.Ada lima bagian tetap dalam laporan Visum et repertum, yaitu:

Pro Justisia. Kata ini diletakkan di bagian atas untuk menjelaskan bahwa visum et
repertum dibuat untuk tujuan peradilan. VeR tidak memerlukan materai untuk dapat dijadikan
sebagai alat bukti di depan sidangpengadilan yang mempunyai kekuatan hukum.

Pendahuluan. Kata pendahuluan sendiri tidak ditulis dalam VeR, melainkan langsung
dituliskan berupa kalimat-kalimat di bawah judul. Bagian ini menerangkan penyidik
pemintanya berikut nomor dan tanggal, surat permintaannya, tempat dan waktu pemeriksaan,
serta identitas korban yang diperiksa.

Pemberitaan. Bagian ini berjudul "Hasil Pemeriksaan", berisi semua keterangan


pemeriksaan. Temuan hasil pemeriksaan medik bersifat rahasia dan yang tidak berhubungan
dengan perkaranya tidak dituangkan dalam bagian pemberitaan dan dianggap tetap sebagai
rahasia kedokteran.

Kesimpulan. Bagian ini berjudul "kesimpulan" dan berisi pendapat dokter terhadap hasil
pemeriksaan, berisikan:
1. Jenis luka
2. Penyebab luka
3. Sebab kematian
4. Mayat
5. Luka
6. TKP
7. Penggalian jenazah
8. Barang bukti
9. Psikiatrik

Penutup. Bagian ini tidak berjudul dan berisikan kalimat baku "Demikianlah visum et
repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan
mengingat sumpah sesuai dengan kitab undang-undang hukum acara pidana/KUHAP".

Struktur dan Isi


Setiap visum et repertum harus dibuat memenuhi ketentuan umum sebagai berikut:
a. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa
b. Bernomor dan bertanggal
c. Mencantumkan kata Pro Justitia di bagian atas kiri (kiri atau tengah)
d. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
e. Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan temuan pemeriksaan
f. Tidak menggunakan istilah asing
g. Ditandatangani dan diberi nama jelas
h. Berstempel instansi pemeriksa tersebut
10

i. Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan


j. Hanya diberikan kepada penyidik peminta visum et repertum. Apabila ada lebih dari satu
instansi peminta, misalnya penyidik POLRI dan penyidik POM, dan keduanya berwenang
untuk itu, maka kedua instansi tersebut dapat diberi visum et repertum masing-masing asli
k. Salinannya diarsipkan dengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya, dan disimpan
sebaiknya hingga 20 tahun.
LO 1.1 Memahami dan Menjelaskan Perkosaan
Keberhasilan investigasi tergantung 3 faktor yang saling mendukung, yakni korban
petugas kepolisian petugas medis. Petugas kepolisian atau petugas medis yang pertama kali
tiba di tempat kejadian atau menemukan korban harus segera menangani kegawatdaruratan
medis. Bila korban terluka parah, usaha penyelamatan harus menjadi prioritas dibanding hal-hal
lain, seperti interogasi misalnya. Saat korban telah dievakuasi, atau ternyata korban ditemukan
dalam keadaan tak bernyawa, tempat kejadian harus segera diamankan dan penyelidikan mencari
barang bukti segera dilaksanakan. Kalaupun korban tak terluka secara fisik, korban pasti
memerlukan support untuk menangani trauma psikisnya. Akan lebih baik bila korban ditangani
oleh petugas kepolisian wanita.
Perlu juga kerjasama dari pihak korban, karena biasanya korban akan memaksa untuk
diantar / dijemput oleh keluarga / kenalan sehingga seringkali tidak menuju tempat fasilitas
medis, atau pemeriksaan yang harusnya dilakukan dengan segera menjadi tertunda dan buktibukti berharga hilang.
Alur Pemeriksaan Korban Perkosaan
Pemeriksaan Medis
Korban harus ditangani sesegera mungkin
Perlu Informed Consent
Dokter & Polisi memeriksa dalam waktu yang bersamaan agar hal-hal yang ditemukan
tidak berbeda
Dokter didampingi perawat wanita / bidan / polwan
Penjelasan pada korban tentang setiap pemeriksaan yang dilakukan korban diberi
pengertian sehingga mau bekerjasama
Pemeriksaan Fisik & Psikis
Luka deskripsi & foto (seluruh tubuh)
Keadaan emosional konseling profesional
Biasanya korban akan lebih memilih untuk ditangani oleh dokternya sendiri. Hal ini
dapat mengakibatkan kesulitan Kebanyakan dokter-dokter pribadi enggan melakukan
pemeriksaan semacam ini ataupun berurusan dengan sidang. Mereka juga tidak terlatih untuk
mengumpulkan barang-barang bukti. Bahkan sekalipun mereka bersedia melakukan pemeriksaan
tersebut, pemeriksaan mungkin tidak lengkap, bahan-bahan yang dibutuhkan tidak dikumpulkan
dengan baik, dan rangkaian pemeriksaan barang bukti tak dapat dinilai.
11

Hal-hal semacam ini dapat dicegah bila pemeriksaan dilakukan oleh dokter yang
berpengalaman dan memiliki peralatan yang lengkap untuk melakukan pemeriksaan tersebut
serta untuk mengumpulkan barang bukti.
Pemeriksaan medis korban kejahatan seksual yang kompeten dibutuhkan untuk
kepentingan medis dan hukum. Seluruh pemeriksaan harus didokumentasikan (dalam bentuk
tulisan, diagram, foto, dll). Luka-luka harus dideskripsikan dan difoto. Seluruh tubuh diperiksa,
yang biasa didapat pada korban kejahatan seksual adalah luka di daerah kepala, leher, dan
lengan. Tidak adanya luka di daerah perineum atau vagina bukan berarti meniadakan
kemungkinan kekerasan atau penetrasi paksa.
Pengumpulan spesimen merupakan hal yang penting. Akan lebih baik bila disiapkan
perlengkapan untuk mengumpulkan dan menyimpan barang bukti.
Rape Kit
Formulir rangkaian pemeriksaan barang bukti
Formulir pemeriksaan dokter
Amplop2 penyimpan barang bukti
Sisir untuk rambut pubis
Gunting untuk rambut pubis
Tabung pengambilan darah
Kertas saring untuk pengambilan saliva
Lidi kapas dan tabung untuk pengambilan spesimen swab vagina, anus, dan oral
Tabung kultur
Slide mikroskop
Label
Checklist
Banyak kesulitan pada pemeriksaan medis korban kejahatan seksual. Banyak dokter tidak
mau terlibat dalam proses hukum sebab mereka memiliki pengalaman dan pelatihan minimal,
juga kompensasi finansial yang tak sebanding karena mengurangi jam praktik. Dokter-dokter
umum juga tidak memiliki standarisasi pemeriksaan forensik dan mereka kurang berhubungan
baik dengan polisi. Karenanya banyak kasus perkosaan yang tak terselesaikan.
A. Perlindungan Hukum
Perlindungan korban tindak pidana dapat diartikan sebagai perlindungan untuk
memperoleh jaminan/santunan hukum atas penderitaan/kerugian orang yang telah
menjadi korban tindak pidana.
Perlindungan hukum terhadap wanita korban kekerasan perkosaan yakni berupa
penggantian kerugian materiil dapat dituntut langsung kepada si pelaku kejahatan. Akan
tetapi terhadap penggantian kerugian immateriil , di beberapa Negara (apabila pelaku
orang yang tidak mampu) dibebankan kepada negara.
12

1.

Ganti Kerugian Bagi Korban Perkosaan


Dasar hukumnya :
a. Pasal 1365 KUHAP
b. Pasal 98 KUHAP
c. UU Nomor 23 tahun 2002 dan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 telah mengatur
pidana denda bagi pelaku.
Ganti kerugian bagi korban perkosaan berupa :
Restitusi, ganti kerugian yang diberikan oleh pelaku
Kompensasi, ganti kerugian yang diberikan Negara karena pelaku tak
mampu.Dimungkinkan sebagai upaya pemberian pelayanan pada para korban kejahatan
dalam rangka mengembangkan kesejahteraan dan keadilan.
Bantuan : pengobatan, pemulihan mental ( psikiater, psikolog, sukarelawan), korban harus
diberitahukan tentang kondisi kesehatan. Aparat penegak hukum harussenantiasa siap siaga
membantu juga memberikan perhatian yang istimewa terhadaptiap korban
2. Tujuan Dari Perlindungan Korban
Adapun tujuan dari perlindungan korban adalah sebagai berkut:
Memberikan rasa aman kepada korban, khususnya pada saat memberikan keterangan pada
setiap proses peradilan pidana;
Memberikan dorongan dan motivasi kepada korban agar tidak takut dalam menjalani proses
peradilan pidana;
Memulihkan rasa percaya diri korban dalam hidup bermasyarakat;
Memenuhi rasa keadilan, bukan hanya kepada korban dan keluarga korban, tapi juga kepada
masyarakat;
Memastikan perempuan bebas dari segala bentuk kekerasan;
Menempatkan kekerasan berbasis jender sebagai bentuk kejahatan yang serius dan
merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia;
Mewujudkan sikap yang tidak mentolerir kekerasan berbasis jender;
Penegakan hukum yang adil terhadap pelaku kekerasan terhadap perempuan (perkosaan).
B. Dasar Hukum
Dasar hukum perlindungan terhadap wanita korban kekerasan perkosaan adalah sebagai berikut :
1. Pasal 285 KUHP, menurut KUHP perkosaan hanya dialamai oleh perempuan
perempuan, pada laki-laki perbuatan cabul.
2. Pasal 81 dan 82 UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan
3. Pasal 5,6 dan 8, 44, 46, 47 dan 48 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan
kekerasan dalam rumah tangga.
LO 1.2 Memahami dan Menjelaskan Pembunuhan bayi
Definisi dan Batasan Pengertian Pembunuhan Anak Sendiri
13

Pembunuhan anak sendiri (infanticide) adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu
atas anak kandungnya pada saat lahir atau tidak lama kemudian karena takut ketahuan telah
melahirkan anak. Dengan demikian berdasarkan pengertian di atas, persyaratan yang harus
dipenuhi dalam kasus pembunuhan anak, adalah:
1.
2.
3.
4.

Pelaku adalah ibu kandung.


Korban adalah anak kandung.
Alasan melakukan tindakan tersebut adalah takut ketahuan telah melahirkan anak.
Waktu pembunuhan, yaitu tepat pada saat melahirkan atau beberapa saat setelah melahirkan.
Untuk itu, dengan adanya batasan yang tegas tersebut, suatu pembunuhan yang tidak
memenuhi salah satu kriteria di atas tidak dapat disebut sebagai pembunuhan anak, melainkan
suatu pembunuhan biasa.
Dasar Hukum Menyangkut Pembunuhan Anak Sendiri
Dalam KUHP, pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab kejahatan terhadap
nyawa orang. Adapun bunyi pasalnya adalah:

Pasal 341. Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat
anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya,
diancam karena membunuh anak sendiri dengan pidana penjara paling lama tujuh
tahun.
Pasal 342. Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan
ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama
kemudian merampas nyawa anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling
lama sembilan tahun.
Pasal 343. Bagi orang lain yang turut serta melakukan kejahatan yang diterangkan
dalam pasal 342 KUHP diartikan sebagai pembunuhan atau pembunuhan berencana.
Berdasarkan undang-undang tersebut, dapat dilihat adanya tiga faktor penting, yaitu:

Ibu, yaitu hanya ibu kandung yang dapat dihukum karena melakukan pembunuhan anak
sendiri. Tidak dipersoalkan apakah ibu telah menikah atau belum. Sedangkan, bagi orang
lain yang melakukan atau turut membunuh anak tersebut dihukum karena pembunuhan atau
pembunuhan berencana, dengan hukuman yang lebih berat, yaitu 15 tahun penjara (pasal
338 pembunuhan tanpa rencana), atau 20 tahun, seumur hidup/hukuman mati (pasal 339 dan
340, pembunuhan dengan rencana).
Waktu, yaitu dalam undang-undang tidak disebutkan batasan waktu yang tepat, tetapi hanya
dinyatakan pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian. Sehingga boleh dianggap pada
saat belum timbul rasa kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Bila rasa kasih sayang
sudah timbul maka ibu tersebut akan merawat dan bukan membunuh anaknya.
Psikis, yaitu ibu membunuh anaknya karena terdorong oleh rasa ketakutan akan diketahui
orang lain telah melahirkan anak itu, biasanya anak yang dilahirkan tersebut didapatkan dari
hubungan tidak sah.
14

Bila ditemukan mayat bayi di tempat yang tidak semestinya, misalnya tempat sampah,
got, sungai dan sebagainya, maka bayi tersebut mungkin adalah korban pembunuhan anak
sendiri (pasal 341, 342), pembunuhan (pasal 338, 339, 340, 343), lahir mati kemudian dibuang
(pasal 181), atau bayi yang ditelantarkan sampai mati (pasal 308).

Peran Dokter pada Kasus Pembunuhan Anak Sendiri


Peran dokter pada kasus pembunuhan anak sendiri adalah memeriksa jenazah bayi.
Dokter akan diminta oleh penyidik secara resmi guna membantu penyidikan untuk memperoleh
kejelasan di dalam hal sebagai berikut:
1. Apakah anak tersebut dilahirkan hidup atau lahir mati?
2. Apakah terdapat tanda-tanda perawatan?
3. Apakah ada luka-luka yang dapat dikaitkan dengan penyebab kematian?
Visum et Repertum (VeR) itu juga mengandung makna sebagai pengganti barang bukti.
Oleh karena itu, segala hal yang terdapat dalam barang bukti, dalam hal ini yaitu tubuh anak,
harus dicatat dan dilaporkan. Dengan demikian, selain ketiga kejelasan di atas, masih ada dua hal
lagi yang harus diutarakan dalam VeR, yaitu:
1. Apakah anak yang dilahirkan itu cukup bulan dalam kandungan?
2. Apakah pada anak tersebut didapatkan kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi
kelangsungan hidup bagi si anak?
Untuk memenuhi kriteria pembunuhan anak sendiri, bayi tersebut harus dilahirkan hidup
setelah seluruh tubuhnya keluar dari tubuh ibu (separate existence). Selain itu, viabilitas dan
maturitas bayi juga perlu ditentukan untuk menerangkan sebab lahir mati. Bila bayi tersebut lahir
mati kemudian dibuang, maka hal tersebut bukanlah kasus pembunuhan anak sendiri, melainkan
kasus lahir mati kemudian dibuang atau menyembunyikan kelahiran dan kematian.
Lahir hidup atau lahir mati
Lahir hidup (live birth) adalah keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang lengkap,
yang setelah pemisahan, bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain tanpa mempersoalkan
usia gestasi, sudah atau belumnya tali pusat dipotong dan ari dilahirkan.
Lahir mati (stillbirth) adalah kematian hasil konsepsi sebelum keluar atau dikeluarkan
oleh ibunya, tanpa mempersoalkan usia kehamilan (baik sebelum ataupun setelah kehamilan
berumur 28 minggu dalam kandungan). Kematian ditandai oleh janin yang tidak bernapas atau
tidak menunjukkan tanda kehidupan lain seperti denyut jantung, denyut nadi tali pusat atau
gerakan otot rangka.
Tanda-tanda kehidupan pada bayi yang baru dilahirkan adalah pernapasan (paru
mengembang dan terdapat udara dalam lambung atau usus), menangis, adanya pergerakan otot,
sirkulasi darah dan denyut jantung serta perubahan hemoglobin, isi usus, dan keadaan tali pusat.
1. Pernapasan
Pernapasan spontan terjadi akibat rangsangan atmosfer dan adanya gangguan sirkulasi
plasenta, dan ini menimbulkan perubahan penting yang permanen pada paru. Pernapasan
setelah bayi lahir mengakibatkan perubahan letak diafragma dan sifat paru-paru.
a. Letak Diafragma

15

Pada bayi yang sudah bernapas, letak diafragma setinggi iga ke-5 atau ke-6.
Sedangkan pada yang belum bernapas setinggi iga ke-3 atau ke-4.
b. Gambaran Makroskopik Paru
Paru-paru bayi yang sudah bernapas berwarna merah muda tidak homogen namun
berbercak-bercak (mottled). Konsistensinya adalah seperti spons dan berderik pada
perabaan. Sedangkan, pada paru-paru bayi yang belum bernapas berwarna merah ungu
tua seperti warna hati bayi dan homogen, dengan konsistensi kenyal seperti hati atau
limpa.
c. Uji Apung Paru
Uji apung paru dilakukan dengan teknik tanpa sentuh (no touch technique), paruparu tidak disentuh untuk menghindari kemungkinan timbulnya artefak pada sediaan
histopatologik jaringan paru akibat manipulasi berlebihan.
Lidah dikeluarkan seperti biasa di bawah rahang bawah, ujung lidah dijepit dengan
pinset atau klem, kemudian ditarik ke arah ventrokaudal sehingga tampak palatum mole.
Dengan scalpel yang tajam, palatum mole disayat sepanjang perbatasannya dengan
palatum durum. Faring, laring, esophagus bersama dengan trakea dilepaskan dari tulang
belakang. Esofagus bersama dengan trakea diikat di bawah kartilago krikoid dengan
benang. Pengikatan ini dimaksudkan agar pada manipulasi berikutnya cairan ketuban,
mekonium atau benda asing lain tidak mengalir ke luar melalui trakea; bukan untuk
mencegah masuknya udara ke dalam paru.
Pengeluaran organ dari lidah sampai paru dilakukan dengan forsep atau pinset bedah
dan scalpel, tidak boleh dipegang dengan tangan. Kemudian esophagus diikat di atas
diafragma dan dipotong di atas ikatan. Pengikatan ini dimaksudkan agar udara tidak
masuk ke dalam lambung dan uji apung lambung-usus (uji Breslau) tidak memberikan
hasil meragukan.
Setelah semua organ leher dan dada dikeluarkan dari tubuh, lalu dimasukkan ke
dalam air dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Kemudian paru-paru kiri dan
kanan dilepaskan dan dimasukkan kembali ke dalam air, dilihat apakah mengapung atau
tenggelam. Setelah itu tiap lobus dipisahkan dan dimasukkan ke dalam air, dan dilihat
apakah mengapung atau tenggelam. Lima potong kecil dari bagian perifer tiap lobus
dimasukkan ke dalam air, diperhatikan apakah mengapung atau tenggelam.
Hingga tahap ini, paru bayi yang lahir mati masih dapat mengapung oleh karena
kemungkinan adanya pembusukan. Bila potongan kecil itu mengapung, letakkan di antara
dua karton dan ditekan dengan arah penekanan tegak lurus jangan digeser untuk
mengeluarkan gas pembusukan yang terdapat pada jaringan interstisial paru, lalu
masukkan kembali ke dalam air dan diamati apakah masih mengapung atau tenggelam.
Bila masih mengapung berarti paru terisi udara residu yang tidak akan keluar. Namun,
terkadang dengan penekanan, dinding alveoli pada mayat bayi yang telah membusuk
lanjut akan pecah dan udara residu keluar dan memperlihatkan hasil uji apung paru
negatif.
Uji apung paru harus dilakukan menyeluruh sampai potongan kecil paru mengingat
kemungkinan adanya pernapasan sebagian (parsial respiration) yang dapat bersifat
buatan atau alamiah (vagitus uternus atau vagitus vaginalis) yaitu bayi sudah bernapas
walaupun kepala masih dalam uterus atau dalam vagina).5
16

Hasil negatif belum berarti pasti lahir mati karena adanya kemungkinan bayi
dilahirkan hidup tapi kemudian berhenti bernapas meskipun jantung masih berdenyut,
sehingga udara dalam alveoli diresorpsi. Pada hasil uji negatif ini, pemeriksaan
histopatologik paru harus dilakukan untuk memastikan bayi lahir mati atau lahir hidup.5
Bila sudah jelas terjadi pembusukan, maka uji apung paru kurang dapat dipercaya,
sehingga tidak dianjurkan untuk dilakukan.
d. Mikroskopik paru-paru
Setelah paru-paru dikeluarkan dengan teknik tanpa sentuh, dilakukan fiksasi dengan
larutan formalin 10 %. Sesudah 12 jam, dibuat irisan melintang untuk memungkinkan
cairan fiksatif meresap dengan baik ke dalam paru. Setelah difiksasi selama 48 jam,
kemudian dibuat sediaan histopatologik. Biasanya digunakan perwarnaan HE dan bila
paru telah membusuk digunakan pewarnaan Gomori atau Ladewig.
Struktur seperti kelenjar bukan merupakan ciri paru bayi yang belum bernapas, tetapi
merupakan ciri paru janin yang belum mencapai usia gestasi 26 minggu. Tanda khas
untuk paru janin belum bernapas adalah adanya tonjolan (projection) yang berbentuk
seperti bantal (cushion-like) yang kemudian akan bertambah tinggi dengan dasar menipis
sehingga akan tampak seperti gada (club-like). Pada permukaan ujung bebas projection
tampak kapiler yang berisi banyak darah. Pada paru bayi belum bernapas yang sudah
membusuk dengan perwarnaan Gomori atau Ladewig, tampak serabut-serabut retikulin
pada permukaan dinding alveoli berkelok-kelok seperti rambut yang keriting, sedangkan
pada projection berjalan di bawah kapiler sejajar dengan permukaan projection dan
membentuk gelung-gelung terbuka (open loops).
Pada paru bayi yang lahir mati mungkin pula ditemukan tanda inhalasi cairan amnion
yang luas karena asfiksia intrauterin, misalnya akibat tertekannya tali pusat atau solusio
plasenta sehingga terjadi pernapasan janin prematur (intrauterine submersion). Tampak
sel-sel verniks akibat deskuamasi sel-sel permukaan kulit, berbentuk persegi panjang
dengan inti piknotik berbentuk huruf S, bila dilihat dari atas samping terlihat seperti
bawang. Juga tampak sel-sel amnion bersifat asidofilik dengan batas tidak jelas dan inti
terletak eksentrik dengan batas yang juga tidak jelas.
Mekonium yang berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua mungkin terlihat
dalam bronkioli dan alveoli. kadang-kadang ditemukan deskuamasi sel-sel epitel bronkus
yang merupakan tanda maserasi dini, atau fagositosis mekonium oleh sel-sel dinding
alveoli.
Lahir mati ditandai pula oleh keadaan yang tidak memungkinkan terjadinya
kehidupaan seperti trauma persalinan yang hebat, perdarahan otak yang hebat, dengan
atau tanpa robekan tentorium serebeli, pneumonia intrauterin, kelainan kongenitasl yang
fatal seperti anensefalus.
Adapun ringkasan perbedaan dari pemeriksaan paru:
n
Paru belum bernapas
Paru sudah bernapas
No.
1 Volume kecil, kolaps, menempel Volume 4-6x lebih besar, sebagian
1.
pada vertebra, konsistensi padat, menutupi jantung, konsistensi seperti karet
tidak ada krepitasi
busa (ada krepitasi)
17

2
2.
3.
4.

5.
6.

Tepi paru tajam

3 Warna
homogen,
merah
kebiruan/ungu
5 Kalau
diperas
di
bawah
permukaan air tidak keluar
gelembung gas atau bila sudah
ada pembusukan gelembungnya
besar dan tidak rata.
6 Tidak tampak alveoli yang
berkembang pada permukaan
6 Kalau diperas hanya keluar
darah sedikit dan tidak berbuih
(kecuali
bila
sudah
ada
pembusukan)
8 Berat paru kurang lebih 1/70 BB

Tepi paru tumpul


Warna merah muda
Gelembung gas yang keluar halus dan rata
ukurannya.
Tampak alveoli, kadang-kadang terpisah
sendiri
Bila diperas keluar banyak darah berbuih
walaupun belum ada pembusukan (volume
darah dua kali volume sebelum napas.
Berat paru kurang lebih 1/35 BB

7.
8.
9.

8 Seluruh bagian paru tenggelam Bagian-bagian paru yang mengembang


dalam air
terapung dalam air.
9 Letak diafragma setinggi iga 3 Letak diafragma setinggi iga 5 atau 6
atau 4

2. Menangis
Bernapas dapat terjadi tanpa menangis, tetapi menangis tidak dapat terjadi tanpa
bernapas. Suara tangis yang terdengar belum berarti bayi tersebut lahir hidup karena suara
tangisan dapat terjadi dalam uterus atau dalam vagina. Yang merangsang bayi menangis
dalam uterus adalah masuknya udara dalam uterus dan kadar oksigen dalam darah menurun
dan atau kadar CO2 dalam darah meningkat.
3. Pergerakan Otot
Keadaan ini harus disaksikan oleh saksi mata, karena post mortem tidak dapat dibuktikan.
Kaku mayat dapat terjadi pada bayi yang lahir hidup kemudian mati maupun yang lahir mati.
4. Peredaran Darah, Denyut Jantung, dan Perubahan pada Hemoglobin
Meliputi bukti fungsional yaitu denyut tali pusat dan detak jantung (harus ada saksi
mata) dan bukti anatomis yaitu perubahan-perubahan pada Hb serta perubahan dalam duktus
arteriosus, foramen ovale dan dalam duktus venosus (cabang vena umbilicalis yang langsung
masuk vena cava inferior).
Bila ada yang menyaksikan denyut nadi tali pusat/detak jantung pada bayi yang sudah
terlahir lengkap, maka ini merupakan bukti suatu kelahiran hidup. Foramen ovale tertutup
bila telah terjadi pernapasan dan sirkulasi (satu hari sampai beberapa minggu). Duktus
arteriosus perlahan-lahan menjadi jaringan ikat (paling cepat dalam 24 jam) Duktus venosus
menutup dalam 2-3 hari sampai beberapa minggu.
5. Isi Usus dan Lambung
18

Bila dalam lambung bayi ditemukan benda asing yang hanya dapat masuk akibat reflek
menelan, maka ini merupakan bukti kehidupan (lahir hidup). Udara dalam lambung dan usus
dapat terjadi akibat pernapasan wajar, pernapasan buatan, atau tertelan. Keadaan-keadaan
tersebut tidak dapat dibedakan. Cara pemeriksaan yaitu esophagus diikat, dikeluarkan
bersama lambung yang diikat pada jejunum lekuk pertama, kemudian dimasukkan ke dalam
air. makin jauh udara usus masuk dalam usus, makin kuat dugaan adanya pernapasan 24-48
jam post mortem, mekonium sudah keluar semua seluruhnya dari usus besar.
6. Keadaan Tali Pusat
Yang harus diperhatikan pada tali pusat adalah pertama ada atau tidaknya denyut tali
pusat setelah kelahiran. Ini hanya dapat dibuktikan dengan saksi mata. Kedua, pengeringan
tali pusat, letak dan sifat ikatan, bagaimana tali pusat itu di putus (secara tajam atau tumpul).
7. Keadaan Kulit
Tidak satupun keadaan kulit yang dapat membuktikan adanya kehidupan setelah bayi
lahir, sebaliknya ada satu keadaan yang dapat memastikan bahwa bayi tersebut tidak lahir
hidup yaitu maserasi, yang dapat terjadi bila bayi sudah mati di dalam uterus beberapa hari
(8-10 hari). Hal ini harus dibedakan dengan proses pembusukan yaitu pada maserasi tidak
terbentuk gas karena terjadi secara steril. Kematian pada bayi dapat terjadi waktu dilahirkan,
sebelum dilahirkan atau setelah terpisah sama sekali dari ibu.
Kematian pada bayi dapat terjadi saat bayi dilahirkan, sebelum dilahirkan, atau setelah
terpisah sama sekali dari si ibu. Bukti kematian dalam kandungan adalah:
a. Ante partum rigor mortis yang sering menimbulkan kesulitan waktu melahirkan
b. Maserasi, yaitu perlunakan janin dalam air ketuban dengan ciri-ciri:
Warna merah kecoklatan (pada pembusukan warnanya hijau).
Kutikula putih, sering membentuk bula berisi cairan kemerahan.
Tulang-tulang lentur dan lepas dari jaringan lunak.
Tidak ada gas, baunya khas.
Maserasi ini terjadi bila bayi sudah mati 8-10 hari dalam kandungan.
Tanda Perawatan
Penentuan ada tidaknya tanda perawatan sangat penting artinya dalam kasus pembunuhan
anak. Keadaan baru lahir dan belum dirawat merupakan petunjuk dari bayi tersebut tidak lama
setelah dilahirkan. Menurut Ponsold, bayi baru lahir (neugeborenen) adalah bayi yang baru
dilahirkan dan belum dirawat. Jika sudah dirawat, maka bayi itu bukan bayi baru lahir dan tidak
dapat disebut sebagai pembunuhan anak sendiri.
Adapun anak yang baru dilahirkan dan belum mengalami perawatan dapat diketahui dari
tanda-tanda sebagai berikut:
Tubuh masih berlumuran darah.
Ari-ari (plasenta) masih melekat dengan tali pusat dan masih berhubungan dengan pusat
(umbilikus).
Bila ari-ari tidak ada, maka ujung tali pusat tampak tidak beraturan, hal ini dapat diketahui
dengan meletakkan ujung tali pusat tersebut ke permukaan air.
Adanya lemak bayi (vernix caseosa), pada daerah dahi serta di daerah yang mengandung
lipatan-lipatan kulit, seperti daerah lipat ketiak, lipat paha dan bagian belakang bokong.3,5

19

Gambar 1. Tali Pusat Belum Terpotong dan Masih Terhubung dengan Ari-Ari.
Viabilitas
Bayi yang viable adalah bayi yang sudah mampu untuk hidup di luar kandungan ibunya
atau sudah mampu untuk hidup terpisah dari ibunya (separate existence). Viabilitas mempunyai
beberapa syarat, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

Umur 28 minggu dalam kandungan.


Panjang badan 35 cm.
Berat badan 2500 gram.
Tidak ada cacat bawaan yang berat.
Lingkaran fronto-ocipital 32 cm.

Selain itu, juga dilihat adanya kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi kelangsungan
hidup bayi, seperti kelainan jantung (ASD, VSD), otak (anensefalus atau mikrosefalus), dan
saluran pencernaan (stenosis esophagus, gastroskizis).

Cukup Bulan dalam Kandungan


Bayi yang cukup bulan (matur, term) adalah bayi yang lahir setelah dikandung selama 37
minggu atau lebih tetapi kurang dari 42 minggu penuh. Pengukuran bayi cukup bulan dapat
dinilai dari:
Ciri-ciri eksternal
Daun telinga
Pada bayi yang lahir cukup bulan, daun telinga menunjukkan pembentukan tulang
rawan yang sudah sempurna, pada helix teraba tulang rawan yang keras pada bagian
dorsokranialnya dan bila dilipat cepat kembali ke keadaan semula.
Susu
Pada bayi yang matur putting susu sudah berbatas tegas, areola menonjol diatas
permukaan kulit dan diameter tonjolan susu itu 7 milimeter atau lebih.
20

Kuku jari tangan


Kuku jari tangan sudah panjang, melampaui ujung jari, ujung distalnya tegas dan
relatif keras sehingga terasa bila digarukkan pada telapak tangan pelaku autopsi.
Kuku jari kaki masih relatif pendek. Pada bayi yang prematur kuku jari tangan belum
melampaui ujung jari dan relatif lebih lunak sehingga ujungnya mudah dilipat.
Garis telapak kaki
Pada bayi yang matur terdapat garis-garis pada seluruh telapak kaki, dari depan
hingga tumit. Yang dinilai adalah garis yang relatif lebar dan dalam. Dalam hal kulit
telapak kaki itu basah maka dapat juga tampak garis-garis yang halus dan superfisial.
Alat kelamin luar
Pada bayi laki-laki matur, testis sudah turun dengan sempurna yakni pada dasar
skrotum dan rugae pada kulit skrotum sudah lengkap. Pada bayi perempuan yang
matur, labia minor sudah tertutup dengan baik oleh labia mayor.
Rambut kepala
Rambut kepala relatif kasar, masing-masing helai terpisah satu sama lain dan tampak
mengkilat. Batas rambut pada dahi jelas. Pada bayi yang prematur rambut kepala
halus seperti bulu wol atau kapas, masing-masing helai sulit dibedakan satu sama lain
dan batas rambut pada dahi tidak jelas.
Skin opacity
Pada bayi matur, jaringan lemak bawah kulit cukup tebal sehingga pembuluh darah
yang agak besar pada dinding perut tidak tampak atau tampak samar-samar. Pada bayi
prematur pembuluh-pembuluh tersebut tampak jelas.

Processus xiphoideus
Pada bayi yang matur processus xiphoideus membengkok ke dorsal, sedangkan pada
yang prematur membengkok ke ventral atau satu bidang dengan korpus manubrium
sterni.

Alis mata
Pada bayi yang matur, alis mata sudah lengkap, yakni bagian lateralnya sudah
terdapat, sedangkan pada yang prematur bagian itu belum terdapat.3
Pusat penulangan
Pusat-pusat penulangan khususnya pada tulang paha (femur) mempunyai arti yang
cukup penting. Bagian distal femur dan proksimal tibia akan menunjukkan pusat
penulangan pada umur kehamilan 36 minggu. Demikian juga pada cuboideum dan
cuneiform. Sedangkan, talus dan calcaneus pusat penulangan akan tampak pada umur
kehamilan 28 minggu.
Penaksiran umur gestasi
Rumus De Haas
21

Menurut rumus De Haas, untuk 5 bulan pertama panjang kepala-tumit dalam


sentimeter adalah sama dengan kuadrat angka bulan. Untuk 5 bulan terakhir, panjang
badan adalah sama dengan angka bulan dikalikan dengan angka 5.3
Rumus Arey
Menggunakan panjang kepala, tumit dan bokong.
Umur (bulan) = panjang kepala - tumit (cm) x 0,2
Umur (bulan) = panjang kepala - bokong (cm) x 0,3.
Rumus Finnstrom
Menggunakan panjang lingkar kepala oksipito-frontal.
Umur gestasi = 11,03 + 7,75 (panjang lingkar kepala)
Penyebab Kematian
Bila terbukti bayi lahir hidup (sudah bernafas), maka harus ditentukan penyebab
kematiannya. Bila terbukti bayi lahir mati (belum bernafas) maka ditentukan sebab lahir mati
atau sebab mati antenatal atau sebab mati janin (fetal death).
Ada berbagai penyebab kematian pada bayi, yaitu:
a. Kematian wajar
1. Kematian secara alami
Imaturitas
Terjadi jika bayi yang lahir belum cukup matang dan mampu hidup di luar
kandungan sehingga mati setelah beberapa saat sesudah lahir.
Penyakit kongenital
Seringkali terjadi jika ibu mengalami sakit ketika sedang mengandung seperti
sifilis, tifus, campak sehingga anak memiliki cacat bawaan yang menyebabkan
kelainan pada organ internal seperti paru-paru, jantung dan otak.
2. Perdarahan
Perdarahan dapat terjadi dari umbilikus, perut, anus dan organ genital.
3. Malformasi
Kadangkala bayi tumbuh dengan kondisi organ tubuh yang tidak lengkap seperti
anensefali. Jika kelainan tersebut fatal, maka bayi tidak akan bisa bertahan hidup.
4. Penyakit plasenta
Penyakit plasenta atau pelepasannya secara tidak sengaja dari dinding uterus akan
dapat menyebabkan kematian dari bayi dan ibu, dan dapat diketahui jika sang ibu
meninggal dan dilakukan pemeriksaan dalam.
5. Spasme laring
Hal ini dapat terjadi karena aspirasi mekonium ke dalam laring atau akibat pembesaran
kelenjar timus.
6. Eritroblastosis fetalis
Ini dapat terjadi karena ibu yang memiliki rhesus negatif mengandung anak dengan
rhesus positif, sehingga darah ibu akan membentuk antibodi yang menyerang sel darah

22

merah anak dan menyebabkan lisisnya sel darah merah anak, sehingga menyebabkan
kematian anak baik sebelum maupun setelah kelahiran.
c. Kematian akibat kecelakaan
1. Akibat persalinan yang lama
Ini dapat menyebabkan kematian pada bayi akibat ekstravasasi dari darah ke selaput
otak atau hingga mencapai jaringan otak akibat kompresi kepala dengan pelvis,
walaupun tanpa disertai dengan fraktur tulang kepala.
2. Jeratan tali pusat
Tali pusat seringkali melingkar di leher bayi selama proses kelahiran. Hal ini dapat
menyebabkan bayi menjadi tercekik dan mati karena sufokasi.
3. Trauma
Hantaman yang keras pada perut wanita hamil dengan menggunakan senjata tumpul,
terjatuhnya ibu dari ketinggian juga merupakan penyebab kematian bayi intrauterin.
Untuk kasus seperti ini harus diperiksa tanda-tanda trauma pada ibu.
4. Kematian dari ibu
Ketika ibu mati saat proses melahirkan ataupun sebelum melahirkan, maka anak tidak
akan bertahan lama di dalam kandungan sehingga harus dilahirkan sesegera mungkin.
Jika kematian disebabkan oleh penyakit kronis, seperti perdarahan kronis, maka
kesempatan untuk menyelamatkan nyawa anak sangatlah kecil. Sedangkan jika
kematian disebabkan karena kejadian akut seperti kecelakaan, dimana ibu sebelumnya
sehat, maka kemungkinan untuk menyelamatkan nyawa bayi lebih besar.
d. Kematian karena tindakan pembunuhan
1. Pembekapan (sufokasi)
Ini merupakan tindakan yang paling sering dilakukan. Bayi baru lahir sangat mudah
dibekap dengan menggunakan handuk, sapu tangan atau dengan tangan. Dapat juga
ditemukan benda asing yang menyumbat jalan napas, seringkali karena ibu berusaha
mencegah agar anak tidak menangis dan ini justru menyebabkan kematian.
2. Penjeratan (strangulasi)
Penjeratan juga merupakan cara pembunuhan anak yang cukup sering ditemui. Sering
ditemukan tanda-tanda kekerasan yang sangat berlebihan dari yang dibutuhkan untuk
membuat bayi mati. Tanda-tanda bekas jeratan akan ditemukan di daerah leher disertai
dengan memar dan resapan darah. Kadang juga ditemukan penjeratan dengan
menggunakan tali pusat sehingga terlihat bahwa bayi mati secara alami.
3. Penenggelaman (drowning)
Ini dilakukan dengan membuang bayi ke dalam penampungan berisi air, sungai dan
bahkan toilet.
4. Kekerasan tumpul pada kepala

23

Jika ditemukan fraktur kranium, maka dapat diperkirakan bahwa terjadi kekerasan
terhadap bayi. Pada keadaan panik, ibu memukul kepala bayi hingga terjadi patah
tulang.
5. Kekerasan tajam
Kematian pada bayi baru lahir yang dilakukan dengan melukai bayi dengan senjata
tajam seperti gunting atau pisau dan menyebabkan luka yang fatal hingga menembus
organ dalam seperti hati, jantung dan otak.
6. Keracunan
Jarang dilakukan, tetapi pernah terjadi dimana ditemukan sisa opium pada putting susu
ibu, yang kemudian menyusui bayinya dan menyebabkan bayi tersebut mati.
Penentuan penyebab kematian dapat ditunjang dari pemeriksaan patologi anatomi yang diambil
dari jaringan tubuh mayat bayi.
Pemeriksaan terhadap Pelaku Pembunuhan Anak Sendiri
Pemeriksaan terhadap wanita yang disangka sebagai ibu dari bayi bersangkutan bertujuan
untuk menentukan apakah wanita tersebut baru melahirkan. Pada pemeriksaan juga perlu dicatat
keadaan jalan lahir untuk menjawab pertanyaan Apakah mungkin wanita tersebut mengalami
partus presipitatus?.
1. Tanda telah melahirkan anak
a. Robekan baru pada alat kelamin
b. ostium uteri dapat dilewati ujung jari
c. keluar darah dari rahim
d. ukuran rahim saat post partum setinggi pusat, 6-7 hari post partum setinggi tulang
kemaluan
e. payudara mengeluarkan air susu
f. hiperpigmentasi aerola mamma
g. striae gravidarum dari warna merah menjadi putih
2. Berapa lama telah melahirkan
a. ukuran rahim kembali ke ukuran semula 2-3 minggu
b. getah nifas : 1-3 hari post partum berwarna merah
4-9 hari post partum berwarna putih
10-14 hari post partum getah nifas habis
c. robekan alat kelamin sembuh dalam 8-10 hari
3. Mencari tanda-tanda partus precipitatus
a. robekan pada alat kelamin
b. inversio uteri (rahim terbalik) yaitu bagian dalam rahim menjadi keluar, lebih-lebih bila
tali pusat pendek
c. robekan tali pusat anak yang biasanya terdapat pada anak atau pada tempat lekat tali
pusat. Robekan ini harus tumpul dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis
d. luka pada kepala bayi menyebabkan perdarahan di bawah kulit kepala, perdarahan di
dalam tengkorak2

24

4. Pemeriksaan histopatologi yaitu sisa plasenta dalam darah yang berasal dari rahim.
Upaya membuktikan seorang tersangka ibu sebagai ibu dari anak yang diperiksa adalah
suatu hal yang paling sukar. Beberapa cara dapat digunakan, yaitu:
1. Mencocokkan waktu partus ibu dengan waktu lahir anak
Si ibu diperiksa, apakah memang baru melahirkan (tinggi fundus uteri, lochia, kolostrum
dan sebagainya). Sedangkan saat lahir si anak dilihat dari usia pasca lahir ditambah lama
kematian.
2. Memeriksa golongan darah ibu dan anak
Hal ini juga sulit karena tidak adanya golongan darah ayah. Ekslusi hanya dapat
ditegakkan bila 2 faktor dominan terdapat bersama-sama pada satu individu sedang
individu lain tidak mempunyai sama sekali. Contohnya adalah bila golongan AB
sedangkan si anak golongan O atau sebaliknya. Penggunaan banyak jenis golongan darah
akan lebih memungkinkan mencapai tujuan, tetapi oleh karena kendala biaya maka cara
ini tidak merupakan prosedur rutin.
3. Pemeriksaan DNA
Cara ini merupakan cara yang canggih dan membutuhkan dana yang besar.
LI 2. Memahami dan Menjelaskan Otopsi mayat
Definisi
Otopsi (juga dikenal pemeriksaan kematian atau nekropsi) adalah investigasi medis
jenazah untuk memeriksa sebab kematian. Kata "otopsi" berasal dari bahasa Yunani yang berarti
"lihat dengan mata sendiri". "Nekropsi" berasal dari bahasa Yunani yang berarti "melihat mayat".
Autopsi (otopsi) adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, dengan tujuan menemukan proses
penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut,
menerangkan penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan
yang ditemukan dengan penyebab kematian. (Mansjoer, 2000).
Terdapat 4 teknik autopsi dasar yaitu, teknik Virchow, Rokitansky, Letulle, dan Ghon.
Perbedaan terutama saat pengangkatan keluar organ, baik dalam urutan maupun
jumlah/kelompok organ yang dikeluarkan pada satu saat, serta bidang pengirisan organ yang
diperiksa.
Tujuan Otopsi
Tujuan dilakukannya Otopsi klinik adalah untuk:
Menentukan sebab kematian yang pasti.
Menentukan apakah diagnosis klinik yang dibuat selama perawatan sesuai dengan
diagnosis postmortem,
Mengetahui korelasi proses penyakit yang ditemukan dengan diagnosis klinis dan
gejala-gejala klinik.
Menentukan efektifitas pengobatan.
Mempelaiari perjalanan lazim suatu proses penyakit.
Pendidikan para mahasiswa kedokteran dan para dokter.
25

Autopsi klinik ini mutlak diperlukan izin dari keluarga terdekat mayat yang bersangkutan
untuk mendapatkan hasil yang maksimal, yang terbaik adalah melakukan Otopsi klinik yang
lengkap, meliputi pembukaan rongga tengkorak, dada dan perut/panggul, serta melakukan
pemeriksaan terhadap seluruh alat-alat dalam/organ. Namun bila pihak keluarga berkeberatan
untuk dilakukannya otopsi klinik lengkap, masih dapat diusahakan untuk melakukan Autopsi
klinik parsial, yaitu yang terbatas pada satu atau dua rongga badan tertentu. Apabila ini masih
ditolak, kiranya dapat diusahakan dilakukannya suatu needle autopsy terhadap organ tubuh
tertentu,
untuk
kemudian
dilakukan
pemeriksaan
histopatologik.
Autopsi forensik atau Autopsi medikolegal dilakukan terhadap mayat seseorang
berdasarkan peraturan undang-undang, dengan tujuan membantu dalam hal penentuan identitas
mayat. Menentukan sebab pasti kematian, memperkirakan cara kematian serta memperkirakan
saat kematian. mengumpulkan serta mengenali benda-benda bukti untuk penentuan identitas
benda penyebab serta identitas pelaku kejahatan. Membuat laporan tertulis yang obyektif dan
berdasarkan fakta dalam bentuk visum et repertum melindungi orang yang tidak bersalah dan
membantu dalam penentuan identitas serta penuntutan terhadap orang yang bersalah.
Untuk melakukan Autopsi forensik ini, diperlukan suatu Surat Permintaan
Pemeriksaan/Pembuatan visum et repertum dan yang berwenang, dalam hal ini pihak penyidik.
Dan keluarga tidak diperlukan, bahkan apabila ada seseorang yang menghalang-halangi
dilakukannya autopsi forensik, yang bersangkutan dapat dituntut berdasarkan undang-undang
yang berlaku.
Dalam melakukan Autopsi forensik, mutlak diperlukan pemeriksaan yang lengkap,
meliputi pemeriksaan tubuh bagian luar, pembukaan rongga tengkorak, rongga dada dan rongga
perut/panggul. Seringkali perlu pula dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya, antara lain
pemeriksaan toksikologi forensik, histopatologi forensik, serologi forensik dan sebagainya.
Pemeriksaan yang tidak lengkap, yaitu autopsi parsial atau needle necropsy dalam rangka
pemeriksaan ini tidak dapat dipertanggung jawabkan, karena tidak akan dapat mencapai tujuantujuan tersebut di atas. Otopsi forensik harus dilakukan oleh dokter, dan ini tidak dapat
diwakilkan kepada mantri atau perawat.
Baik dalam melakukan Autopsi klinik maupun Autopsi forensik, ketelitian yang
maksimal harus diusahakan. Kelainan yang betapa kecil pun harus dicatat. Autopsi sendiri harus
dilakukan sedini mungkin, karena dengan lewatnya waktu, pada tubuh mayat dapat terjadi
perubahan yang mungkin akan menimbulkan kesulitan dalam menginterpretasikan kelainan yang
ditemukan.
Jenis-jenis Otopsi
Berdasarkan tujuannya, otopsi terbagi atas :

Otopsi Anatomi, dilakukan untuk keperluan pendidikan mahasiswa fakultas kedokteran.


Bahan yang dipakai adalah mayat yang dikirim ke rumah sakit yang setelah disimpan 2 x
24 jam di laboratorium ilmu kedokteran kehakiman tidak ada ahli waris yang
mengakuinya. Setelah diawetkan di laboratorium anatomi, mayat disimpan sekurang26

kurangnya satu tahun sebelum digunakan untuk praktikum anatomi. Menurut hukum, hal
ini dapat dipertanggungjawabkan sebab warisan yang tak ada yang mengakuinya menjadi
milik negara setelah tiga tahun (KUHPerdata pasal 1129). Ada kalanya, seseorang
mewariskan mayatnya setelah ia meninggal pada fakultas kedokteran, hal ini haruslah
sesuai dengan KUHPerdata pasal 935.
Ciri-cirinya :
o Mayat yang di otopsi biasanya dari gelandangan, tapi tidak bisa langsung di
otopsi, tetapi ditunggu selama satu tahun.
o Sementara menunggu tsb, mayat diawetkan dalam lemari pendingin atau difiksasi.
Bila dalam 1 tahun tidak ada keluarganya maka dilakukan otopsi anatomi.
o Sebenarnya secara hukum kita harus menunggu selama 3 tahun, oleh karena
ketentuan hukum bahwa sesuatu barang bukti bila tidak ada ahli warisnya selama
3 tahun maka barang bukti tersebut menjadi milik negara.

Otopsi Klinik, dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi akibat suatu
penyakit. Tujuannya untuk menentukan penyebab kematian yang pasti, menganalisa
kesesuaian antar diagnosis klinis dan diagnosis postmortem, patogenesis penyakit, dan
sebagainya. Otopsi klinis dilakukan dengan persetujuan tertulis ahli waris, ada kalanya
ahli waris sendiri yang memintanya.
Ciri-cirinya :
o Tidak perlu menyeluruh
o Harus ada persetujuan keluarga
o Bila tidak perlu persetujuan keluarga yaitu pada anggota ABRI meninggal tibatiba dalam tugas / pendidikan yang bukan disebabkan oleh tembakan.
o Otopsi forensik
o Dilakukan menyeluruh
o Tidak perlu persetujuan keluarga
o Dilakukan untuk penyidikan
o Yang perlu adalah keluarga diberitahukan (lihat KUHAP 133 dan 134)
o Bila keluarga menolak, polisi tunggu 2 x 24 jam dengan maksud untuk
pendekatan kepada keluarga.
o Bila setelah 2 x 24 jam keluarga menolak maka otopsi telah dikerjakan
Guna otopsi secara klinik :
o Untuk mengetahui sebab kematian
o Untuk mengetahui apakah obat-obat yang diberi sesuai atau tidak
o Untuk mengetahui perjalanan penyakit

Otopsi Forensik/Medikolegal, dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga


meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan,
pembunuhan, maupun bunuh diri. Otopsi ini dilakukan atas permintaan penyidik
sehubungan dengan adanya penyidikan suatu perkara.
Otopsi medikolegal dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan dengan adanya
penyidikan suatu perkara. Hasil pemeriksaan adalah temuan obyektif pada korban, yang
diperoleh dari pemeriksaan medis.
27

Dasar hukum otopsi forensik


KUHAP 133
KUHAP 134
KUHAP 222
Reglemen pencatatan sipil Eropa 72
Reglemen pencatatan sipil Tionghoa 80
STBL 1871/91
UU RI No 23 Th 1992 Pasal 70
Barang bukti
Misalnya : Pakaian, dompet dan isinya, surat-surat, perhiasan, anak peluru dsb.
Barang bukti harus diperiksa oleh dokter dicatat dilaporkan dalam V.et R.
Barang bukti setelah diperiksa diserahkan kepada penyidik secepatnya dengan disertai
surat tanda penerimaan yang ditanda tangani oleh penyidik.
(KUHAP 42).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada otopsi medikolegal :
Tempat untuk melakukan otopsi adalah pada kamar jenazah. Otopsi hanya dilakukan jika
ada permintaan untuk otopsi oleh pihak yang berwenang. Otopsi harus segera dilakukan begitu
mendapat surat permintaan untuk otopsi. Hal-hal yang berhubungan dengan penyebab kematian
harus dikumpulkan dahulu sebelum memulai otopsi. Tetapi kesimpulan harus berdasarkan
temuan-temuan dari pemeriksaan fisik.
Pencahayaan yang baik sangat penting pada tindakan otopsi. Identitas korban yang sesuai
dengan pernyataan polisi harus dicatat pada laporan. Pada kasus jenazah yang tidak dikenal,
maka tanda-tanda identifikasi, photo, sidik jari, dan lain-lain harus diperoleh. Ketika dilakukan
otopsi tidak boleh disaksikan oleh orang yang tidak berwenang.
Pencatatan perincian pada saat tindakan otopsi dilakukan oleh asisten. Pada laporan otopsi tidak
boleh ada bagian yang dihapus. Jenazah yang sudah membusuk juga bisa diotopsi.
Tujuan dari otopsi medikolegal adalah :
Untuk memastikan identitas seseorang yang tidak diketahui atau belum jelas.
Untuk menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat kematian.
Untuk mengumpulkan dan memeriksa tanda bukti untuk penentuan identitas benda
penyebab dan pelaku kejahatan.
Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk visum et
repertum.
Teknik Otopsi
Informasi untuk dokter sebelum melakukan otopsi
Kecelakaan lalu lintas
o Bagaimana kecelakaan terjadi
o Siapakah korban
28

o Apakah ada dugaan korban mabuk, minum obat sejenis Amphetamine dsb
Kecelakaan lain
Dokter harus diberitahu benda yang menyebabkan kecelakaan
Pembunuhan, bunuh diri
Kematian mendadak
Kematian setelah berobat/perawatan
Tanggal dan jam korban ditemukan meninggal, tanggal dan jam korban terakhir terlihat
masih hidup

Alat-alat yang diperlukan untuk otopsi


Timbangan besar (500 kg)
Timbangan kecil (3 kg)
Pita pengukur
Penggaris
Alat pengukur cairan
Pisau
Gunting
Pinset
Gergaji dengan gigi halus
Jarum besar-jarum goni
Benang yang kuat
Bahan-bahan yang diperlukan untuk otopsi
Botol/stoples untuk spesium pemeriksaan toksikologi
Alkohol 96% 5 liter
Botol untuk spesium pemeriksaan histopatologi
Formalin 10% 1 liter
Kaca sediaan dan kaca penutup
PEMERIKSAAN LUAR
Bagian pertama dari teknik otopsi adalah pemeriksaan luar. Sistematika pemeriksaan luar
adalah :
1. Memeriksa label mayat (dari pihak kepolisian) yang biasanya diikatkan pada jempol kaki
mayat. Gunting pada tali pengikat, simpan bersama berkas pemeriksaan. Catat warna,
bahan, dan isi label selengkap mungkin. Sedangkan label rumah sakit, untuk identifikasi
di kamar jenazah, harus tetap ada pada tubuh mayat.
2. Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta kondisi (ada tidaknya bercak/pengotoran) dari
penutup mayat.
3. Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta kondisi (ada tidaknya bercak/pengotoran) dari
bungkus mayat. Catat tali pengikatnya bila ada.
4. Mencatat pakaian mayat dengan teliti mulai dari yang dikenakan di atas sampai di bawah,
dari yang terluar sampai terdalam. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar, warna dan
corak tekstil, bentuk/model pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu,
29

monogram/inisial, dan tambalan/tisikan bila ada. Catat juga letak dan ukuran pakaian bila
ada tidaknya bercak/pengotoran atau robekan. Saku diperiksa dan dicatat isinya.
5. Mencatat perhiasan mayat, meliputi jenis, bahan, warna, merek, bentuk serta ukiran
nama/inisial pada benda perhiasan tersebut.
6. Mencatat benda di samping mayat.
7. Mencatat perubahan tanatologi :
o Lebam mayat; letak/distribusi, warna, dan intensitas lebam.
o Kaku mayat; distribusi, derajat kekakuan pada beberapa sendi, dan ada tidaknya
spasme kadaverik.
o Suhu tubuh mayat; memakai termometer rektal dam dicatat juga suhu ruangan
pada saat tersebut.
o Pembusukan.
o Lain-lain; misalnya mumifikasi atau adiposera.
8. Mencatat identitas mayat, seperti jenis kelamin, bangsa/ras, perkiraan umur, warna kulit,
status gizi, tinggi badan, berat badan, disirkumsisi/tidak, striae albicantes pada dinding
perut.
9. Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas khusus, meliputi
rajah/tatoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit, anomali dan cacat pada tubuh.
10. Memeriksa distribusi, warna, keadaan tumbuh, dan sifat dari rambut. Rambut kepala
harus diperiksa, contoh rambut diperoleh dengan cara memotong dan mencabut sampai
ke akarnya, paling sedikit dari 6 lokasi kulit kepala yang berbeda. Potongan rambut ini
disimpan dalam kantungan yang telah ditandai sesuai tempat pengambilannya.
11. Memeriksa mata, seperti apakah kelopak terbuka atau tertutup, tanda kekerasan, kelainan.
Periksa selaput lendir kelopak mata dan bola mata, warna, cari pembuluh darah yang
melebar, bintik perdarahan, atau bercak perdarahan. Kornea jernih/tidak, adanya kelainan
fisiologik atau patologik. Catat keadaan dan warna iris serta kelainan lensa mata. Catat
ukuran pupil, bandingkan kiri dan kanan.
12. Mencatat bentuk dan kelainan/anomali pada daun telinga dan hidung.
13. Memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi dengan lengkap,
termasuk jumlah, hilang/patah/tambalan, gigi palsu, kelainan letak, pewarnaan, dan
sebagainya.
14. Bagian leher diperiksa jika ada memar, bekas pencekikan atau pelebaran pembuluh darah.
Kelenjar tiroid dan getah bening juga diperiksa secara menyeluruh.
15. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan. Pada pria dicatat kelainan bawaan yang
ditemukan, keluarnya cairan, kelainan lainnya. Pada wanita dicatat keadaan selaput darah
dan komisura posterior, periksa sekret liang sanggama. Perhatikan bentuk lubang
pelepasan, perhatikan adanya luka, benda asing, darah dan lain-lain.
16. Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda perbendungan, ikterus, sianosis,
edema, bekas pengobatan, bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh.
17. Bila terdapat tanda-tanda kekerasan/luka harus dicatat lengkap. Setiap luka pada tubuh
harus diperinci dengan lengkap, yaitu perkiraan penyebab luka, lokasi, ukuran, dll. Dalam
luka diukur dan panjang luka diukur setelah kedua tepi ditautkan. Lokalisasi luka dilukis
dengan mengambil beberapa patokan, antara lain : garis tengah melalui tulang dada, garis
tengah melalui tulang belakang, garis mendatar melalui kedua puting susu, dan garis
mendatar melalui pusat.
Contoh :
30

Luka panjang dua setengah sentimeter dan masuk ke dalam dada. Ujung yang satu
letaknya dua sentimeter sebelah kiri dari garis tengah melalui tulang dada dan dua
sentimeter di atas garis mendatar melalui kedua puting susu. Sedangkan ujung yang lain
lima sentimeter sebelah kiri dari garis tengah melalui tulang dada dan empat sentimeter di
atas garis mendatar melalui kedua puting susu. Saluran tusuk dilukis di bagian
pemeriksaan dalam, ditulis organ apa saja yang tertusuk.
18. Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis/sifatnya.
PEMERIKSAAN DALAM
Pemeriksaan dalam bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut ini :
Insisi I dimulai di bawah tulang rawan krikoid di garis tengah sampai prosesus xifoideus
kemudian 2 jari paramedian kiri dari puat sampai simfisis, dengan demikian tidak perlu
melingkari pusat.
Insisi Y, merupakan salah satu tehnik khusus otopsi dan akan dijelaskan kemudian.
Insisi melalui lekukan suprastenal menuju simfisis pubis, lalu dari lekukan suprasternal
ini dibuat sayatan melingkari bagian leher. (3,4)
Pada pemeriksaan dalam, organ tubuh diambil satu persatu dengan hati-hati dan dicatat :
1. Ukuran : Pengukuran secara langsung adalah dengan menggunakan pita pengukur. Secara
tidak langsung dilihat adanya penumpulan pada batas inferior organ. Organ hati yang
mengeras juga menunjukkan adanya pembesaran.
2. Bentuk.
3. Permukaan : Pada umumnya organ tubuh mempunyai permukaan yang lembut, berkilat
dengan kapsul pembungkus yang bening. Carilah jika terdapat penebalan, permukaan
yang kasar , penumpulan atau kekeruhan.
4. Konsistensi: Diperkirakan dengan cara menekan jari ke organ tubuh tersebut.
5. Kohesi: Merupakan kekuatan daya regang anatar jaringan pada organ itu. Caranya
dengan memperkirakan kekuatan daya regang organ tubuh pada saat ditarik. Jaringan
yang mudah teregang (robek) menunjukkan kohesi yang rendah sedangkan jaringan yang
susah menunjukkan kohesi yang kuat.
6. Potongan penampang melintang: Disini dicatat warna dan struktur permukaan
penampang organ yang dipotong. Pada umumnya warna organ tubuh adalah keabuabuan, tapi hal ini juga dipengaruhi oleh jumlah darah yang terdapat pada organ tersebut.
Warna kekuningan, infiltrasi lemak, lipofisi, hemosiferin atau bahan pigmen bisa
merubah warna organ. Warna yang pucat merupakan tanda anemia.
Struktur organ juga bisa berubah dengan adanya penyakit. Pemeriksaan khusus juga bisa
dilakukan terhadap sistem organ tertentu, tergantung dari dugaan penyebab kematian. Insisi pada
masing-masing bagian-bagian tubuh yaitu :
1. Dada :
Seksi Jantung :
Jantung dibuka menurut aliran darah : pisau dimasukkan ke vena kava inferior sampai
keluar di vena superior dan bagian ini dipotong. Ujung pisau dimasukkan melalui katup
trikuspidalis keluar di insisi bilik kanan dan bagian ini dipotong. Ujung pisau lalu dimasukkan
arteri pulmonalis dan otot jantung mulai dari apeks dipotong sejajar dengan septum
interventrikulorum.Ujung pisau dimasukkan ke vena pulmonalis kanan keluar ke vena
o

31

pulmonalis kiri dan bagian ini dipotong. Ujung pisau dimasukkan melalui katup mitral keluar di
insisi bilik kiri dan bagian ini dipotong. Ujung pisau kemudian dimasukkan melalui katup aorta
dan otot jantung dari apeks dipotong sejajar dengan septum inetrventrikulorum. Jantung sekarang
sudah terbuka, diperiksa katup, otot kapiler, chorda tendinea, foramen ovale, septum
interventrikulorum.
Arteri koronaria diiris dengan pisau yang tajam sepanjang 4-5 mm mulai dari lubang
dikatup aorta. Otot jantung bilik kiri diiris di pertengahan sejajar dengan epikardium dan
endokardium, demikian pula dengan septum interventrikulorum.
Paru-paru :
Paru-paru kanan dan kiri dilepaskan dengan memotong bronkhi dan pembuluh darah di
hilus, setelah perkardium diambil. Vena pulmonalis dibuka dengan gunting, kemudian bronkhi
dan terakhir arteri pulmonalis. Paru-paru diiris longitudinal dari apeks ke basis.
Tulang dada diangkat dengan memotong tulang rawan iga 1 cm dari sambungannya dengan cara
pisau dipegang dengan tangan kanan dengan bagian tajam horizontal diarahkan pada tulang
rawan iga dan dengan tangan yang lain menekan pada punggung pisau. Pemotongan dimulai dari
tulang rawan iga no. 2. Tulang dada diangkat dan dilepaskan dari diafragma kanan dan kiri
kemudian dilepaskan mediastinum anterior. Rongga paru-paru diperiksa adanya perlengketan,
darah, pus atau cairan lain kemudian diukur.
Kemudian pisau dengan tangan kanan dimasukkan dalam rongga paru-paru, bagian tajam
tegak lurus diarahkan ke tulang rawan no.1 dan tulang rawan dipotong sedikit ke lateral,
kemudian bagian tajam pisau diarahkan ke sendi sternoklavikularis dengan menggerak-gerakkan
sternum, sendi dipisahkan. Prosedur diulang untuk sendi yang lainnya.
Mediastinum anterior diperiksa adanya timus persistens. Perikardium dibuka dengan Y terbalik,
diperiksa cairan perikardium, normal sebanyak kurang lebih 50 cc dengan warna agak kuning.
Apeks jantung diangkat, dibuat insisi di bilik dan serambi kanan diperiksa adanya embolus yang
menutup arteri pulmonalis. Kemudian dibuat insisi di bilik dan serambi kiri. Jantung dilepaskan
dengan memotong pembuluh besar dekat perikardium.
o

2. Perut :
Esofagus-Lambung-Doudenum-Hati :
Semua organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Esofagus diikat ganda dan
dipotong. Diafragma dilepaskan dari hati dan esofagus dan unit tadi dapat diangkat. Sebelum
diangkat, anak ginjal kanan yang biasanya melekat pada hati dilepaskan terlebih dahulu.
Esofagus dibuka terus ke kurvatura mayor, terus ke duodenum. Perhatikan isi lambung, dapat
membantu penentuan saat kematian. Kandung empedu ditekan, bulu empedu akan menonjol
kemudian dibuka dengan gunting ke arah papila Vater, kemudian dibuka ke arah hati, lalu
kandung empedu dibuka. Perhatikan mukosa dan adanya batu.
Buluh kelenjar ludah diperut dibuka dari papila Vater ke pankreas. Pankreas dilepaskan
dari duodenum dan dipotong-potong transversal.
Hati : perhatikan tepi hati, permukaan hati, perlekatan, kemudian dipotong longitudinal.
Usus halus dan usus besar dibuka dengan gunting ujung tumpul, perhatikan mukosa dan isinya,
cacing.
o Ginjal, Ureter, Rektum, dan Kandung Urine:
Organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Ginjal dengan suatu insisi lateral
dapat diangkat dan dilepaskan dengan memotong pembuluh darah di hilus, kemudian ureter
o

32

dilepaskan sampai panggul kecil. Kandung urine dan rektum dilepaskan dengan cara
memasukkan jari telunjuk lateral dari kandung urine dan dengan cara tumpul membuat jalan
sampai ke belakang rektum. Kemudian dilakukan sama pada bagian sebelahnya. Tempat
bertemunya kedua jari telunjuk dibesarkan sehingga 4 jari kanan dan kiri dapat bertemu,
kemudian jari kelingking dinaikkan ke atas dengan demikian rektum lepas dari sakrum. Rektum
dan kandung urine dipotong sejauh dekat diafragma pelvis.
Anak ginjal dipotong transversal. Ginjal dibuka dengan irisan longitudinal dari lateral ke
hilus. Ureter dibuka dengan gunting sampai kandung urine, kapsul ginjal dilepas dan perhatikan
permukaannya. Pada laki-laki rektum dibuka dari belakang dan kandung urine melalui uretra dari
muka. Rektum dilepaskan dari prostat dan dengan demikian terlihat vesika seminalis. Prostat
dipotong transversal, perhatikan besarnya penampang.
Testis dikeluarkan melalui kanalis spermatikus dan diiris longitudinal, perhatikan besarnya,
konsistensi, infeksi, normal, tubuli semineferi dapat ditarik seperti benang.
o Urogenital Perempuan :
Kandung urine dibuka dan dilepaskan dari vagina. Vagina dan uterus dibuka dengan insisi
longitudinal dan dari pertengahan uterus insisi ke kanan dan ke kiri. Ke kornu. Tuba diperiksa
dengan mengiris tegak lurus pada jarak 1-1,5 cm. Ovarium diinsisi longitudinal.
Pada abortus provokatus kriminalis yang dilakukan dengan menusuk ke dalam uterus, seluruhnya
: kandung urine, uterus dan vagina, rektum difiksasi dalam formalin 10% selama 7 hari, setelah
itu dibuat irisan tegak lurus pada sumbu rektum setebal 1,25 cm, kemudian semuanya direndam
dalam alkohol selama 24 jam. Saluran tusuk akan terlihat sebagai noda merah, hiperemis. Dari
noda merah ini dibuat sediaan histopatologi.
Usus halus dipisahkan dari mesenterium, usus besar dilepaskan, duodenum dan rektum
diikat ganda kemudian dipotong.
Limpa : dipotong di hilus, diiris longitudinal, perhatikan parenkim, folikel, dan septa.
3. Leher :
Lidah, laring, trakea, esofagus, palatum molle, faring dan tonsil dikeluarkan sebagai satu unit.
Perhatikan obstruksi di saluran nafas, kelenjar gondok dan tonsil. Pada kasus pencekikan tulang
lidah harus dibersihkan dan diperiksa adanya patah tulang.
4. Kepala :
Kulit kepala diiris dari prosesus mastoideus kanan sampai yang kiri dengan mata pisau
menghadap keluar supaya tidak memotong rambut terlalu banyak. Kulit kepala kemudian
dikelupas ke muka dan ke belakang dan tempurung tengkorak dilepaskan dengan
menggergajinya. Pahat dimasukkan dalam bekas mata gergaji dan dengan beberapa ketukan
tempurung lepas dan dapat dipisahkan. Durameter diinsisi paralel dengan bekas mata gergaji.
Falx serebri digunting dibagian muka. Otak dipisah dengan memotong pembuluh darah dan saraf
dari muka ke belakang dan kemudian medula oblongata. Tentorium serebri diinsisi di belakang
tulang karang dan sekarang otak dapat diangkat. Selaput tebal otak ditarik lepas dengan cunam.
Otak kecil dipisah dan diiris horisontal, terlihat nukleus dentatus. Medula oblongata diiris
transversal, demikiaan pula otak besar setebal 2,5 cm. Pada trauma kepala perhatikan adanya
edema, kontusio, laserasi serebri.
5. Tengkorak Neonatus :

33

Kulit kepala dibuka seperti biasa, tengkorak dibuka dengan menggunting sutura yang masih
terbuka dan tulang ditekan ke luar, sehingga otak dengan mudah dapat diangkat. (3)
PEMERIKSAAN KHUSUS
Pada beberapa keadaan tertentu, diperlukan berbagai prosedur khusus dalam tindakan otopsi,
antara lain : insisi Y, insisi pada kasus dengan kelainan leher, tes emboli udara, tes apung paru,
tes pada pneumothorax, dan tes alphanaphthylamine.
Insisi Y
1. Insisi yang dilakukan dangkal (shallow incision) yang dilakukan pada tubuh pria.
Buat sayatan yang letaknya tepat di bawah tulang selangka dan sejajar dengan
tulang tersebut, kiri dan kanan, sehingga bertemu pada bagian tengah (incisura
jugularis).
Lanjutkan sayatan, dimulai dari incisura jugularis ke arah bawah tepat di garis
pertengahan sampai ke sympisis os pubis menghindari daerah umbilikus.
Kulit daerah leher dilepaskan secara hati-hati sampai ke rahang bawah;
tindakan ini dimulai dari sayatan yang telah dibuat pertama kali.
Dengan kulit daerah leher dan dada bagian atas tetap utuh, alat-alat dalam
rongga mulut dan leher dikeluarkan.
Tindakan selanjutnya sama dengan tindakan pada bedah mayat yang biasa.
2. Insisi yang lebih dalam (deep incision), yang dilakukan untuk kaum wanita.
Buat sayatan yang letaknya tepat di bawah buah dada, dimulai dari bagian
lateral menuju bagaian medial (proc. Xiphoideus); bagian lateral disini dapat
dimulai dari ketiak, ke arah bawah sesuai dengan arah garis ketiak depan
(linea axillaris anterior), hal yang sama juga dilakukan untuk sisi yang lain
(kiri dan kanan).
Lanjutkan sayatan ke arah bawah seperti biasa, sampai simphisis os pubis,
dengan demikian pengeluaran dan pemeriksaan alat-alat yang berada dalam
rongga mulut, leher, dan rongga dada lebih sulit bila dibandingkan dengan
insisi Y yang dangkal.
Insisi Y, dilakukan semata-mata untuk alasan kosmetik, sehingga jenazah yang sudah
diberi pakaian, tidak memperlihatkan adanya jahitan setelah dilakukan bedah mayat. Ada dua
macam insisi Y, yaitu :

Insisi pada Kasus dengan Kelainan di Daerah Leher


o Buat insisi I, yang dimulai dari incisura jugularis, ke arah bawah seperti biasa,
sampai ke simpisis os pubis.
o Buka rongga dada, dengan jalan memotong tulang dada dan iga-iga.
o Keluarkan jantung, dengan menggunting mulai dari v.cava inferior,
vv.pulmonalis, a.pulmonalis, v.cava superior dan terakhir aorta.
o Buka rongga tengkorak, dan keluarkan organ otaknya.
o Dengan adanya bantalan kayu pada daerah punggung, maka daerah leher akan
bersih dari darah, oleh karena darah telah mengalir ke atas ke arah tengkorak dan
ke bawah, ke arah rongga dada; dengan demikian pemeriksaan dapat dimulai.

34

Insisi ini dimaksudkan agar daerah leher dapat bersih dari darah, sehingga kelainan yang
minimalpun dapat terlihat; misalnya pada kasus pencekikan, penjeratan, dan penggantungan.
Prinsip dari teknik ini adalah pemeriksaan daerah dilakukan paling akhir.

Tes emboli udara


o buat sayatan I, dimulai dari incisura jugularis, ke arah bawah sampai ke
symphisis pubis,
o potong rawan iga mulai dari iga ke-3 kiri dan kanan, pisahkan rawan iga dan
tulang dada keatas sampai ke perbatasan antara iga ke-2 dan iga ke-3,
o potong tulang dada setinggi perbatasan antara tulang iga ke-2 dan ke-3,
o setelah kandung jantung tampak, buat insisi pada bagian depan kandung jantung
dengan insisi I, sepanjang kira-kira 5-7 sentimeter; kedua ujung sayatan
tersebut dijepit dan diangkat dengan pinset (untuk mencegah air yang keluar),
o masukkan air ke dalam kandung jantung, melalui insisi yang telah dibuat tadi,
sampai jantung terbenam; akan tetapi bila jantung tetap terapung, maka hal ini
merupakan pertanda adanya udara dalam bilik jantung,
o tusuk dengan pisau organ yang runcing, tepat di daerah bilik jantung kanan, yang
berbatasan dengan pangkal a. Pulmonalis, kemudian putar pisau itu 90 derajat;
gelembung-gelembung udara yang keluar menandakan tes emboli hasilnya positif,
o bila tidak jelas atau ragu-ragu, lakukan pengurutan pada a. Pulmonalis, ke arah
bilik jantung, untuk melihat keluarnya gelembung udara,
o bila kasus yang dihadapi adalah kasus abortus, maka pemeriksaan dengan prinsip
yang sama, dilakukan mulai dari rahim dan berakhir pada jantung,
o semua yang disebut di atas adalah untuk melakukan tes emboli pulmoner, untuk
tes emboli sistemik, pada prinsipnya sama, letak perbedaannya adalah : pada tes
emboli sistemik tidak dilakukan penusukan ventrikel, tetapi sayatan melintang
pada a. Coronaria sinistra ramus desenden, secara serial beberapa tempat, dan
diadakan pengurutan atas nadi tersebut, agar tampak gelembung kecil yang
keluar,
o dosis fatal untuk emboli udara pulmoner 150-130 ml, sedangkan untuk emboli
sistemik hanya beberapa ml.

Emboli udara, baik yang sistemik maupun emboli udara pulmoner, tidak jarang terjadi.
Pada emboli sistemik udara masuk melalui pembuluh vena yang ada di paru-paru, misalnya pada
trauma dada dan trauma daerah mediastinum yang merobek paru-paru dan merobek pembuluh
venanya.
Emboli pulmoner adalah emboli yang tersering, udara masuk melalui pembuluhpembuluh vena besar yang terfiksasi, misalnya pada daerah leher bagian bawah, lipat paha atau
daerah sekitar rahim (yang sedang hamil); dapat pula pada daerah lain, misalnya pembuluh vena
pergelangan tangan sewaktu diinfus, dan udara masuk melalui jarum infus tadi. Fiksasi ini
penting, mengingat bahwa tekanan vena lebih kecil dari tekanan udara luar, sehingga jika ada
robekan pada vena, vena tersebut akan menguncup, hal ini ditambah lagi dengan pergerakan
pernapasan, yang menyedot.

Tes Apung Paru-paru

35

o
o
o
o
o
o
o

o
o

Keluarkan alat-alat dalam rongga mulut, leher dan rongga dada dalam satu
kesatuan, pangkal dari esophagus dan trakea boleh diikat.
Apungkan seluruh alat-alat tersebut pada bak yang berisi air.
Bila terapung lepaskan organ paru-paru, baik yang kiri maupun yang kanan.
Apungkan kedua organ paru-paru tadi, bila terapung lanjutkan dengan pemisahan
masing-masing lobus, kanan terdapat lima lobus dan kiri dua lobus.
Apungkan semua lobus tersebut, catat yang mana yang tenggelam dan mana yang
terapung.
Lobus yang terapung diambil sebagian, yaitu tiap-tiap lobus 5 potong dengan
ukuran 5 mm x 5 mm, dari tempat yang terpisah dan perifer.
Apungkan ke 25 potongan kecil-kecil tersebut, bila terapung, letakkan potongan
tersebu pada dua karton, dan lakukan penginjakan dengan menggunakan berat
badan, kemudian dimasukkan kembali ke dalam air.
Bila terapung berarti tes apung paru positif, paru-paru mengandung udara, bayi
tersebut pernah dilahirkan hidup.
Bila hanya sebagian yang terapung, kemungkinan terjadi pernafasan partial, bayi
tetap pernah dilahirkan hidup.

Tes apung paru-paru dikerjakan untuk mengtahui apakah bayi yang diperiksa itu pernah
hidup. Untuk melaksanakan test ini, persyaratannya sama dengan test emboli udara, yakni
mayatnya harus segar. Cara melakukan tes apung paru-paru:

Tes Pada Pneumothoraks


o buka kulit dinding dada pada bagian yang tertinggi dari dada, yaitu sekitar iga ke
4 dan 5 ( udara akan berada pada tempat yang tertinggi ),
o buat kantung dari kulit dada tersebut mengelilingi separuhnya dari daerah iga 4
dan 5 ( sekitar 10 x 5 cm )
o pada kantung tersebut kemudian diisi air, dan selanjutnya tusuk dengan pisau,
adanya gelembung udara yang keluar berarti ada pneumothorax; dan bila
diperiksa paru-parunya, paru-paru tersebut tampak kollaps,
o cara lain; setelah dibuat kantung , kantung ditusuk dengan spuit besar dengan
jarum besar yang berisi air separuhnya pada spuit tersebut; bila ada
pneumothorax, tampak gelembung-gelembung udara pada spuit tadi.
Pada trauma di daerah dada, ada kemungkinan jaringan paru robek, sedemikian rupa
sehingga terjadi mekanisme ventil di mana udara yang masuk ke paru-paru akan diteruskan ke
dalam rongga dada, dan tidak dapat keluar kembali, sehingga terjadi kumulasi udara, dengan
akibat
paru-paru
akan
kolaps
dan
korban
akan
mati.
Diagnosa pneumothorax yang fatal semata-mata atas dasar test ini, bila test ini tidak dilakukan,
diagnosa sifatnya hanya dugaan. Cara melakukan test ini adalah sebagai berikut:

Tes Alpha Naphthylamine


o kertas saring Whatman direndam dalam larutan alpha-naphthylamine, dan
keringkan dalamoven, hindari jangan sampai terkena sinar matahari,
o pakaian yang akan diperiksa, yaitu yang diduga mengandung butir-butir mesiu,
dipotong dan di atasnya diletakkan kertas saring yang telah diberi alphanaphthylamine,
36

di atas kertas saring yang mengandung alpha-naphthylamine tadi ditaruh lagi


kertas saring yang dibasahi oleh aquadest,
o keringkan dengan cara menyeterika tumpukan tersebut, yaitu kain yang akan
diperiksa, kertas yang mengandung alpha-naphthylamine dan kertas saring yang
basah,
o test yang positif akan terbentuk warna merah jambu (pink colour), pada kertas
saring yang mengandung alpha-naphthylamine; bintik-bintik merah jambu tadi
sesuai dengan penyebaran butir-butir mesiu pada pakaian.
Test ini dilakukan untuk mengetahui adanya butir-butir mesiu khususnya pada pakaian
korban penembakan,
Setelah otopsi selesai, semua organ tubuh dimasukkan kembali ke dalam rongga tubuh.
Lidah dikembalikan ke dalam rongga mulut sedangkan jaringan otak dikembalikan ke dalam
rongga tengkorak. Jahitkan kembali tulang dada dan iga yang dilepaskan pada saat membuka
rongga dada. Jahitkan kulit dengan rapi menggunakan benang yang kuat, mulai dari dagu sampai
ke daerah simfisis. Atap tengkorak diletakkan kembali pada tempatnya dan difiksasi dengan
menjahit otot temporalis, baru kemudian kulit kepala dijahit dengan rapi. Bersihkan tubuh mayat
dari darah sebelum mayat diserahkan kembali pada pihak keluarga.
o

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada otopsi juga dilakukan prosedur laboratorium yaitu :
1. Sediaan histopatologi dari masing-masing organ.
Dari tiap organ diambil sediaan sebesar 2 x 2 x1 cm kubik dan difiksasi dalam formalin
10%.Organ yang diambil adalah: paru-paru, hati, limpa, pankreas, otot jantung, arteri
koronaria, kelenjar gondok, ginjal, prostat, uterus, korteks otak, basal ganglia dan dari
bagian lain yang menunjukkan adanya kelainan.
2. Pemeriksaan toksikologi.
o Lambung dan isinya.
o Seluruh usus dan isinya dengan membuat sekat dengan ikatan-ikatan pada pada
usus setiap jarak sekitar 60 cm.
o Darah, yang berasal dari sentral (jantung) dan yang berasal dari perifer
(v,jugularis; a.femoralis, dan sebagainya), masing-masing 50 ml dan dibagi dua,
yang satu diberi bahan pengawet dan yang lain tidak diberi bahan pengawet.
o Hati, sebagai tempat detoksifikasi , diambil sebanyak 500 gram.
o Ginjal, diambil keduanya yaitu pada kasus keracunan logam berat khususnya atau
bila urine tidak tersedia.
o Otak, diambil 500 gram. Khusus untuk keracunan chloroform dan sianida,
dimungkinkan karena otak terdiri dari jaringan lipoid yang mempunyai
kemampuan untuk meretensi racun walaupun telah mengalami pembususkan.
o Urine, diambil seluruhnya. Karena pada umunya racun akan diekskresikan
melalui urine, khususnya pada test penyaring untuk keracunan narkotika, alkohol
dan stimulan.
o Empedu, diambil karena tempat ekskresi berbagai racun.
o Pada kasus khusus dapat diambil: jaringan sekitar suntikan, jaringan otot, lemak
di bawah kulit dinding perut, rambut, kuku dan cairan otak.

37

Prinsip pengambilan sampel pada kasus keracunan adalah diambil sebanyakbanyaknya setelah kita sisihkan untuk cadangan dan untuk pemeriksaan
histopatolgik. Secara umum sampel yang harus diambil adalah:
Pada pemeriksaan intoksikasi, digunakan alkohol dan larutan garam jenuh pada
sampel padat atau organ. NaF 1% dan campuran NaF dan Na sitrat digunakan
untuk sampel cair. Sedangkan natrium benzoate dan phenyl mercuric nitrate
khusus untuk pengawet urine.
3. Pemeriksaan bakteriologi.
Dalam hal ada dugaan sepsis diambil darah dari jantung dan sediaan limpa untuk
pembiakan kuman. Permukaan jantung dibakar dengan menempelkan spatel yang
dipanaskan sampai merah, kemudiaan darah jantung diambil dengan tabung injeksi yang
steril dan dipindah dalam tabung reagen yang steril. Permukaan limpa dibakar dengan
cara tersebut di atas dan dengan pinset dan gunting yang steril diambil sepotong limpa
dan dimasukkan dalam tabung reagen yang steril dan kedua tabung dikirim ke
laboratorium bakteriologi.
4. Sediaan apus bagian korteks otak, limpa dan hati. Mungkin perlu dilakukan untuk melihat
parasit malaria.Sediaan hapus lainnya adalah dari tukak sifilis atau cairan mukosa.
5. Darah dan cairan cerebrospinalis diambil untuk pemeriksaan analisa biokimia.
6. Pemeriksaan urine dan feces.
7. Usapan vagina dan anus, utamanya pada kasus kejahatan seksual.
8. Cairan uretra
LAPORAN OTOPSI
Laporan otopsi adalah suatu catatn permanen mengenai penemuan dan hal penting
terutama untuk medikolegal ketika tiap kata-kata dalam bedah mayat digunakan untuk suatu
pengadilan beberapa bulan atau tahun kemudian. Setelah itu, berguna jika semua rekoleksi
pemeriksaan telah hilang dari pikiran ahli patologi forensik oleh beratus-ratu otopsi. Di dalam
suatu otopsi klinis di dalam suatu rumah sakit, pembedahan mungkin dipertunjukkan dan dibahas
dengan dokter-dokter lain. Bagaimanapun, laporan suatu otopsi forensik menjadi suatu dokumen
sah dan semuanya harus dilakukan tepat waktunya untuk membuat laporan itu bermanfaat dan
menyeluruh.
FORMAT LAPORAN OTOPSI
Laporan terdiri dari dua jenis utama, dan praktek lokal dan tentu saja perundang-undangan
boleh menentukan yang mana yang digunakan, tanpa tergantung dengan berbagai keinginan ahli
patologi itu. Pilihan adalah, bagaimana, yang sering dipakai oleh staf dari kasus alamiah tersebut
a. Suatu gaya bebas esai, yang masih bertahan, tetapi membuat ahli patologi bebas untuk
memperluas pada berbagai aspek menurut perkiraannya. Jenis ini pada umumnya
digunakan pada kasus kematian kejahatan di mana mungkin proses pengadilan.
Mempunyai keuntungan bahwa semua bagian dari otopsi dapat diperluas tanpa batasan ;
format laporan dapat diubah menjadi suatu statement yang sah untuk peradilan.
b. Suatu proforma yang dicetak, dimana berbagai bagian pemeriksaan dan sistem organ
telah ditulis sebagai judul, sisa-sisa spasi kosong untuk menulis penemuan itu.
38

Keuntungan meliputi fakta bawah ini terdapat daftar untuk bertindak sebagai suatu
catatan peringatan bagi ahli patologi itu, siapa yang tidak melakukan sejumlah besar
otopsi dan juga penerima yang tidak medis jadilah lebih mampu mengikuti pola teladan
yang diset laporan itu. Satu kerugian adalah bahwa pengaturan jarak mencegah
fleksibilitas uraian kecuali jika proforma adalah besar, ketika sebagian besar spasi
mungkin ditinggalkan kosong. Juga ada jarak spasi cukup pada ujung format untuk suatu
pendapat dan diskusi yang luas tentang penemuan berdasar fakta yang terdahulu. Tipe
format ini biasanya digunakan untuk otopsi non-ligitious sebagai contoh kasus bunuh diri
dan kematian mendadak pada kasus-kasus koroner.
Adapun juga yang format, harus berisi informasi, Numeration berurutan, Persandian komputer,
aspek administratif dan lainnya, tetapi berbagai hal yang berikut harus disediakan untuk dalam
semua laporan otopsi, meskipun demikan tidak harus di dalam urutan ini
1. Identitas yang detail, kecuali jika tidak dikenal, ini meliputi nama, jenis kelamin,
umur, pekerjaan dan alamat.
2. Tempat, tanggal dan waktunya otopsi itu.
3. Nama, kecakapan dan status ahli patologi.
4. Orang-orang yang hadir dalam pemeriksaan itu.
5. Pengawas otopsi itu
6. Catatan orang yang mengidentifikasi orang tersebut.
7. Nama dan alamat, nomor pokok reguler penjaga medis.
8. Tanggal dan waktu kematian jika diketahui.
9. Keadaan kematian. Catatan itu, ahli patologi harus memfilekannya juga
menyimpulkan penyebab kematian dalam kasus itu.
10. Pemeriksaan eksternal.
11. Pemeriksaan internal.
12. Daftar spesimen dan contoh untuk pemeriksaan lebih lanjut dikirim ke
laboratorium ilmu pengetahuan forensik, harus secara formal dikenali atas
pertolongan nomor urut dan nama orang untuk siapa mereka telah disampaikan.
13. Hasil pemeriksaan lebih lanjut seperti histologi, mikrobiologi, toksikologi, dan
serology.
14. Suatu ringkasan luka yang dipertunjukkan oleh otopsi.
15. Diskusi penemuan, jika perlu dipandang dari sudut sejarah yang dikenal.
16. Suatu pendapat menyangkut urutan peristiwa yang hampir bisa dipastikan atau
yang terbatas yang mendorong ke arah kematian.
17. Suatu penyebab formal kematian, di dalam format yang direkomendasikan oleh
Organisasi Kesehatan Dunia, yang pantas untuk penyelesaian suatu sertifikasi
kematian.
18. Tandatangan ahli patologi itu.
Pemeriksaan eksternal perlu merekam detail uraian, materi yang utama menjadi
1. Tinggi badan, berat badan dan status gizi nyata.
2. Penampakan dari penyakit alami seperti oedema, bengkak abdominal, penyakit kulit,
perubahan senile, dll.

39

3. Identifikasi seperti warna kulit, tato, parut, kelainan bawaan, bentuk gigi palsu, warna
mata dan rambut.
4. Kekakuan, hypostatis, pembusukkan dan pewarnaan kulit abnormal. Suhu badan suhu
lingkungan harus dicatat sesuai, dengan kalkulasi mengenai cakupan waktu perkiraan
kematian, meskipun aspek ini boleh ditunda sampai Ringkasan akhir dan Kesimpulan.
5. Kondisi mata, mencakup petechie, arcus senilis, ukuran pupil dan kondisi iris dan lensa.
6. Kondisi mulut dan bibir, mencakup luka-luka, gigi dan material asing.
7. Kondisi dubur/pelepasan dan alat kelamin eksternal.
8. Daftar/Lis dan uraian dan semua luka-luka eksternal baik yang baru maupun yang lama.
Pemeriksaan internal semua kelainan, pada umunya di dalam suatu urutan konvensional seperti :
1. Sistem kardiovaskuler : (berat) jantung, dilatasi, pembesaran ventrikuler, cacat sejak
lahir, perikardium, epikardium, endokardium, katup, arteri koroner, myocardium, aorta,
pembuluh darah besar dan pembuluh darah perifer.
2. Sistem pernafasan : eksternal nares, glotis, laring, trakea, bronkus, rongga pleura, pleura,
paru-paru (mencakup berat) dan arteri pulmonalis.
3. Sistem gastrointestinal : mulut, faring, esofagus, rongga peritoneal, omentum, gaster,
duodenum, usus halus, usus besar, liver (berat), pancreas, kandung empedu, dan rektum.
4. Sistem endokrin : pituitary, gondok, thymus, dan adrenal.
5. Sistem retikulo-endotelial : limpa (berat) dan kelenjar getah bening.
6. Sistem genitourinary : ginjal (berat), ureter, kandung kencing, prostat, uterus, ovarium,
testis.
7. Sistem muskuloskeletal : tengkorak, tulang belakang, tulang rangka, dan musculature jika
perlu.
8. Sistem saraf pusat : Kulit kepala, tengkorak, meninges, pembuluh darah cerebral, otak
(berat), telinga tengah, sinus, sumsum tulang belakang.
LI 3. Memahami dan Menjelaskan Perubahan Pasca Kematian
Mati klinis adalah henti nafas (tidak ada gerak nafas spontan) ditambah henti sirkulasi
(jantung) total dengan semua aktivitas otak terhenti, tetapi tidak ireversibel. Pada masa dini
kematian inilah, pemulaian resusitasi dapat diikuti dengan pemulihan semua fungsi sistem organ
vital termasuk fungsi otak normal, asalkan diberi terapi optimal.
Mati biologis (kematian semua organ) selalu mengikuti mati klinis bila tidak dilakukan
resusitasi jantung paru (RJP) atau bila upaya resusitasi dihentikan. Mati biologis merupakan
proses nekrotisasi semua jaringan, dimulai dengan neuron otak yang menjadi nekrotik setelah
kira-kira 1 jam tanpa sirkulasi, diikuti oleh jantung, ginjal, paru dan hati yang menjadi nekrotik
selama beberapa jam atau hari. Pada kematian, seperti yang biasa terjadi pada penyakit akut atau
kronik yang berat, denyut jantung dan nadi berhenti pertama kali pada suatu saat, ketika tidak
hanya jantung, tetapi organisme secara keseluruhan begitu terpengaruh oleh penyakit tersebut
sehingga tidak mungkin untuk tetap hidup lebih lama lagi. Upaya resusitasi pada kematian
normal seperti ini tidak bertujuan dan tidak berarti.
Henti jantung (cardiac arrest) berarti penghentian tiba-tiba kerja pompa jantung pada
organisme yang utuh atau hampir utuh. Henti jantung yang terus berlangsung sesudah jantung
pertama kali berhenti mengakibatkan kematian dalam beberapa menit. Dengan perkataan lain,
40

hasil akhir henti jantung yang berlangsung lebih lama adalah mati mendadak (sudden death).
Diagnosis mati jantung (henti jantung ireversibel) ditegakkan bila telah ada asistol listrik
membandel (intractable, garis datar pada EKG) selama paling sedikit 30 menit, walaupun telah
dilakukan RJP dan terapi obat yang optimal.
Mati serebral (kematian korteks) adalah kerusakan ireversibel (nekrosis) serebrum,
terutama neokorteks. Mati otak (MO, kematian otak total) adalah mati serebral ditambah dengan
nekrosis sisa otak lainnya, termasuk serebelum, otak tengah dan batang otak.
Mati sosial (status vegetatif yang menetap, sindroma apalika) merupakan kerusakan
otak berat ireversibel pada pasien yang tetap tidak sadar dan tidak responsif, tetapi mempunyai
elektroensefalogram (EEG) aktif dan beberapa refleks yang utuh. Ini harus dibedakan dari mati
serebral yang EEGnya tenang dan dari mati otak, dengan tambahan ketiadaan semua refleks saraf
otak dan upaya nafas spontan. Pada keadaan vegetatif mungkin terdapat daur sadar-tidur.
Menurut pernyataan IDI 1988,seseorang dinyatakan mati bila a) fungsi spontan
pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti atau b) telah terbukti terjadi MBO. Secara
klasis dokter menyatakan mati berdasarkan butir a tersebut dan ini dapat dilakukan di mana saja,
di dalam atau di luar rumah sakit. Bahwa fungsi spontan nafas dan jantung telah berhenti secara
pasti, dapat diketahui setelah kita mencoba melakukan resusitasi darurat. Pada resusitasi darurat,
di mana kita tidak mungkin menentukan MBO, seseorang dapat dinyatakan mati bila 1) terdapat
tanda-tanda mati jantung atau 2) terdapat tanda-tanda klinis mati otak yaitu bilamana setelah
dimulai resusitasi, pasien tetap tidak sadar, tidak timbul pula nafas spontan dan refleks muntah
(gag reflex) serta pupil tetap dilatasi selama 15-30 menit atau lebih, kecuali kalau pasien
hipotermik, di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umum.
Mati suri (suspended animation, apparent death) adalah terhentinya ketiga sistem
kehidupan diatas yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan
kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Mati
suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik, dan tenggelam.
Kriteria diagnostik penentuan kematian:
1. Hilangnya semua respon terhadap sekitarnya (respon terhadap komando atau perintah,
dan sebagainya)
2. Tidak ada gerakan otot serta postur, dengan catatan pasien tidak sedang berada dibawah
pengaruh obat-obatan curare.
3. Tidak ada reflek pupil
4. Tidak ada reflek kornea
5. Tidak ada respon motorik dari saraf kranial terhadap rangsangan
6. Tidak ada reflek menelan atau batuk ketika tuba endotracheal didorong ke dalam
7. Tidak ada reflek vestibulo-okularis terhadap rangsangan air es yang dimasukkan ke
dalam lubang telinga
8. Tidak ada napas spontan ketika respirator dilepas untuk waktu yang cukup lama
walaupun pCO2 sudah melampaui wilayah ambang rangsangan napas (50 torr)
Tes klinik ini baru boleh dilakukan paling cepat 6 jam setelah onset koma serta apneu dan
harus diulangi lagi paling cepat sesudah 2 jam dari tes yang pertama. Sedangkan tes konfirmasi
41

dengan EEG dan angiografi hanya dilakukan jika tes klinik memberikan hasil yang meragukan
atau jika ada kekhawatiran akan adanya tuntutan di kemudian hari.
Tanda Kematian dibagi menjadi 2:
1. Tanda Kematian Tidak Pasti
1.

Berhentinya sistem pernafasan dan sistem sirkulasi.


Secara teoritis, diagnosis kematian sudah dapat ditegakkan jika jantung
dan paru berhenti selama 10 menit, namun dalam prakteknya seringkali terjadi
kesalahan diagnosis sehingga perlu dilakukan pemeriksaan dengan cara
mengamati selama waktu tertentu. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan
mendengarkannya melalui stetoscope pada daerah precordial dan larynx dimana
denyut jantung dan suara nafas dapat dengan mudah terdengar.
Kadang-kadang jantung tidak segera berhenti berdenyut setelah nafas
terhenti, selain disebabkan ketahanan hidup sel tanpa oksigen yang berbeda-beda
dapat juga disebabkan depresi pusat sirkulasi darah yang tidak adekwat, denyut
nadi yang menghilang merupakan indikasi bahwa pada otak terjadi hipoksia.
Sebagai contoh pada kasus judicial hanging dimana jantung masih berdenyut
selama 15 menit walaupun korban sudah diturunkan dari tiang gantungan.

2. Kulit yang pucat


Kulit muka menjadi pucat ,ini terjadi sebagai akibat berhentinya sirkulasi
darah sehingga darah yang berada di kapiler dan venula dibawah kulit muka akan
mengalir ke bagian yang lebih rendah sehingga warna kulit muka tampak menjadi
lebih pucat. Akan tetapi ini bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya.
Kadang-kadang kematian dihubungkan dengan spasme agonal sehingga wajah
tampak kebiruan. Pada mayat yang mati akibat kekurangan oksigen atau
keracunan zat-zat tertentu (misalnya karbon monoksida) warna semula dari raut
muka akan bertahan lama dan tidak cepat menjadi pucat.
3. Relaksasi otot
Pada saat kematian sampai beberapa saat sesudah kematian , otot-otot
polos akan mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Relaksasi
pada stadium ini disebut relaksasi primer. Akibatnya rahang turun kebawah yang
menyebabkan mulut terbuka, dada menjadi kolap dan bila tidak ada penyangga
anggota gerakpun akan jatuh kebawah. Relaksasi dari otot-otot wajah
menyebabkan kulit menimbul sehingga orang mati tampak lebih muda dari umur
sebenarnya, sedangkan relaksasi pada otot polos akan mengakibatkan iris dan
sfincter ani akan mengalami dilatasi. Oleh karena itu bila menemukan anus yang
mengalami dilatasi harus hati-hati menyimpulkan sebagai akibat hubungan
seksual perani/anus corong.
42

4. Perubahan pada mata


Perubahan pada mata meliputi hilangnya reflek kornea dan reflek cahaya
yang menyebabkan kornea menjadi tidak sensitif dan reaksi pupil yang negatif.
Knight mengatakan hilangnya reflek cahaya pada kornea ini disebabkan
karena kegagalan kelenjar lakrimal untuk membasahi bola mata. Kekeruhan pada
kornea akan timbul beberapa jam setelah kematian tergantung dari posisi kelopak
mata. Akan tetapi Marshall mengatakan kornea akan tetap menjadi keruh tanpa
dipengaruhi apakah kelopak mata terbuka atau tertutup. Walaupun sering ditemui
kelopak mata tertutup secara tidak komplit, ini terjadi oleh karena kekakuan otototot kelopak mata. Kekeruhan pada lapisan dalam kornea ini tidak dapat
dihilangkan atau diubah kembali walaupun digunakan air untuk membasahinya.
Bila kelopak mata tetap terbuka sclera yang ada disekitar kornea akan
mengalami kekeringan dan berubah menjadi kuning dalam beberapa jam yang
kemudian berubah menjadi coklat kehitaman. Area yang berubah warna ini
berbentuk trianguler dengan basis pada perifer kornea dan puncaknya di
epikantus. Area ini disebuttaches noires de la sclerotiques yang pertama kali
digambarkan oleh Somner pada tahun 1833.
Knight mengatakan iris masih bereaksi dengan stimulasi kimia sampai 4
jam sesudah kematian somatik, tetapi reflek cahaya segera hilang bersamaan
dengan iskemik pada batang otak. Pupil biasanya pada posisi mid midriasis yang
disebabkan oleh karena relaksasi dari muskulus pupilaris walaupun ada sebagian
ahli yang menganggap ini sebagai proses rigor mortis. Diameter pupil sering
dihubungkan dengan sebab kematian seperti lesi di otak atau intoksikasi obat
seperti keracunan morphin dimana sewaktu hidup pupil menunjukan kontraksi.
Akan tetapi Price (1963) memeriksa mata dari 1000 mayat dan menyimpulkan
bahwa keadaan pupil tidak berhubungan dengan sebab kematian, dan kematian
menyebabkan pupil menjadi dilatasi atau cadaveric position .
Setelah kematian tekanan intra okuler akan turun, tekanan intra okuler
yang turun ini mudah menyebabkan kelainan bentuk pupil sehingga pupil
kehilangan bentuk sirkuler setelah mati dan ukurannya pun menjadi tidak sama
,pupil dapat berkontraksi dengan diameter 2 mm atau berdilatasi sampai 9 mm
dengan rata-rata 4-5 mm oleh karena pupil mempunyai sifat tidak tergantung
dengan pupil lainnya maka sering terdapat perbedaan sampai 3 mm.
Nicati (1894) telah melakukan pengukuran terhadap tekanan bola mata
posmortem dimana tekanan normal pada bola mata pada waktu hidup adalah 14g
-25g akan tetapi begitu sirkulasi terhenti maka penurunan tekanan bola mata
menjadi sangat rendah (tidak sampai mencapai 12g) dan dalam waktu 30 menit
akan berkurang menjadi 3g yang kemudian menjadi nol setelah 2 jam kematian.
Penurunan tekanan bola mata ini pernah dicoba untuk menentukan perkiraan saat
kematian.
43

Kervokian (1961) berusaha menerangkan perubahan-perubahan yang


terjadi pada retina 15 jam pertama setelah kematian dimana kornea dapat
dipertahankan dalam keadaan baik dengan menggunakan air atau larutan garam
fisiologis yang kemudian dilakukan pemeriksaan dengan optalmoskop.
Pemeriksaan ini tidaklah mudah, ternyata pemeriksaan retina pada mayat jauh
lebih sulit bila dibandingkan dengan orang hidup. Dan perubahan warna yang
terjadi pada retina dicoba dihubungkan dengan perkiraan saat kematian. Dengan
berhentinya aliran darah maka pembuluh darah retina akan mengalami
perubahan yang disebut segmentasi atau trucking dan ini terjadi dalam 15 menit
pertama setelah kematian. Pada pemeriksaan dalam 2 jam pertama setelah
kematian, dapat dilihat retina tampak pucat dan daerah sekitar fundus tampak
kuning, demikian pula daerah sekitar makula. Sekitar 6 jam batas fundus menjadi
tidak jelas, dan tampak gambaran segmentasi pada pembuluh darah, dengan latar
belakang yang berwarna kelabu kekuningan. Gambaran ini mencapai seluruh
perifer retina sekitar 7-10 jam. Setelah 12 jam diskus hanya dapat dilihat sebagai
titik yang terlokalisasi dengan sisa-sisa pembuluh darah yang bersegmentasi
hingga pada akhirnya diskus dan pembuluh darah retina menghilang yang ada
hanya makula yang berwarna coklat gelap. Beberapa pengamat menggambarkan
perubahan dini posmortem yang terjadi pada retina mempunyai arti yang kecil
untuk dihubungkan dengan perkiraan saat mati. Sedangkan Tomlin ( 1967)
beranggapan bahwa segmentasi pada retina lebih berindikasi pada kematian
serebral daripada penghentian sirkulasi.
Wroblewski dan Ellis (1970) mempelajari perubahan mata pada 300 mayat
dimana tidak hanya perubahan yang terjadi pada retina tetapi juga perubahan
yang terjadi pada kornea juga dicatat. Mereka telah memeriksa 204 fundus dari
subjek dan 115 diantaranya terdapat segmentasi atau trucking pada satu atau
kedua mata setelah satu jam posmortem dan negatif pada 89 lainnya. Bagian
yang paling sulit pada pemeriksaan ini adalah kekeruhan kornea yang terjadi
dalam 75% pasien dalam 2 jam setelah kematian. Akhirnya mereka
menyimpulkan bahwa segmentasi merupakan perubahan posmortem yang alami
daripada menghubungkannya dengan perkiraan saat kematian.

2. Tanda Kematian Pasti


1. Lebam Mayat
Lebam Mayat disebut juga Post Mortem Lividity, Post Mortem Suggilation,
Hypostasis, Livor Mortis, Stainning. Lebam mayat terbentuk bila terjadi kegagalan
sirkulasi darah dalam mempertahankan tekanan hidrostatik yang menggerakan darah
mencapai capillary bed dimana pembuluhpembuluh darah kecil afferent dan efferent
saling berhubungan. Maka secara bertahap darah yang mengalami stagnasi di dalam
pembuluh vena besar dan cabang-cabangnya akan dipengaruhi gravitasi dan mengalir ke
bawah, ke tempattempat yang terendah yang dapat dicapai. Dikatakan bahwa gravitasi
lebih banyak mempengaruhi sel darah merah tetapi plasma akhirnya juga mengalir ke
44

bagian terendah yang memberikan kontribusi pada pembentukan gelembunggelembung


di kulit pada awal proses pembusukan.
Adanya eritrosit di daerah yang lebih rendah akan terlihat di kulit sebagai
perubahan warna biru kemerahan. Oleh karena pengumpulan darah terjadi secara pasif
maka tempattempat di mana mendapat tekanan lokal akan menyebabkan tertekannya
pembuluh darah di daerah tersebut sehingga meniadakan terjadinya lebam mayat yang
mengakibatkan kulit di daerah tersebut berwarna lebih pucat.
Lebam mayat ini biasanya timbul setengah jam sampai dua jam setelah kematian,
Dimana setelah terbentuk hypostasis yang menetap dalam waktu 1012 jam ternyata akan
memberikan lebam mayat pada sisi yang berlawanan setelah dilakukan reposisi pada
tubuh dari pronasi ke supinasi (interpostmorchange).
Lebam mayat ini biasanya berkembang secara bertahap dan dimulai dengan
timbulnya bercak-bercak yang berwarna keunguan dalam waktu kurang dari setengah jam
sesudah kematian dimana bercak-bercak ini intensitasnya menjadi meningkat dan
kemudian bergabung menjadi satu dalam beberapa jam kemudian, dimana fenomena ini
menjadi komplet dalam waktu kurang lebih 812 jam, pada waktu ini dapat dikatakan
lebam mayat terjadi secara menetap. Menetapnya lebam mayat ini disebabkan oleh
karena terjadinya perembesan darah kedalam jaringan sekitar akibat rusaknya pembuluh
darah akibat tertimbunnya selsel darah dalam jumlah yang banyak, adanya proses
hemolisa sel-sel darah dan kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah. Dengan demikian
penekanan pada daerah lebam yang dilakukan setelah 8-12 jam tidak akan menghilang.
Hilangnya lebam pada penekanan dengan ibu jari dapat memberi indikasi bahwa suatu
lebam belum terfiksasi secara sempurna.Setelah empat jam,kapiler-kapiler akan
mengalami kerusakan dan butir-butir darah merah juga akan rusak. Pigmen-pigmen dari
pecahan darah merah akan keluar dari kapiler yang rusak dan mewarnai jaringan di
sekitarnya sehingga menyebabkan warna lebam mayat akan menetap serta tidak hilang
jika ditekan dengan ujung jari atau jika posisi mayat dibalik. Jika pembalikan posisi
dilakukan setelah 12 jam dari kematiannya maka lebam mayat baru tidak akan timbul
pada posisi terendah, karena darah sudah mengalami koagulasi.
Fenomena lebam mayat yang menetap ini sifatnya lebih bersifat relatif. Perubahan
lebam ini lebih mudah terjadi pada 6 jam pertama sesudah kematian, bila telah terbentuk
lebam primer kemudian dilakukan perubahan posisi maka akan terjadi lebam sekunder
pada posisi yang berlawanan. Distribusi dari lebam mayat yang ganda ini adalah penting
untuk menunjukan telah terjadi manipulasi posisi pada tubuh. Akan tetapi waktu yang
pasti untuk terjadinya pergeseran lebam ini adalah tidak pasti, Polson mengatakan untuk
menunjukan tubuh sudah diubah dalam waktu 8 sampai 12 jam, sedangkan Camps
memberi patokan kurang lebih 10 jam.
Akan tetapi pada kematian wajarpun darah dapat menjadi permanent incoagulable
oleh karena adanya aktifitas fibrinolisin yang dilepas kedalam aliran darah selama proses
kematian. Sumber dari fibrinolisin ini tidak diketahui tetapi kemungkinan berasal dari
endothelium pembuluh darah, dan permukaan serosa dari pleura. Aktifitas fibrinolisin ini
45

nyata sekali pada kapiler-kapiler yang berisi darah. Darah selalu ditemukan cair dalam
venule dan kapiler, dan ini yang bertanggung jawab terhadap lebam mayat.
Akumulasi darah pada daerah yang tidak tertekan akan menyebabkan
pengendapan darah pada pembuluh darah kecil yang dapat mengakibatkan pecahnya
pembuluh darah kecil tersebut dan berkembang menjadi petechie (tardieu`s spot) dan
purpura yang kadang-kadang berwarna gelap yang mempunyai diameter dari satu sampai
beberapa milimeter, biasanya memerlukan waktu 18 sampai 24 jam untuk terbentuknya
dan sering diartikan bahwa pembusukan sudah mulai terjadi. Fenomena ini sering terjadi
pada asphyxia atau kematian yang terjadinya lambat.
2. Kaku Mayat (Rigor Mortis)
Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot yang
kadang-kadang disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot, yang terjadi setelah
periode pelemasan/ relaksasi primer. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan
kimiawi pada protein yang terdapat pada serabut-serabut otot. Menurut Szen-Gyorgyi di
dalam pembentukan kaku mayat peranan ATP adalah sangat penting. Seperti diketahui
bahwa serabut otot dibentuk oleh dua jenis protein, yaitu aktin dan myosin, dimana kedua
jenis protein ini bersama dengan ATP membentuk suatu masa yang lentur dan dapat
berkontraksi (gambar II.3). Bila kadar ATP menurun, maka akan terjadi pada perubahan
pada akto-miosin, diamana sifat lentur dan kemampuan untuk berkontraksi menghilang
sehingga otot yang bersangkutan akan menjadi kaku dan tidak dapat berkontraksi.

Gambar II.3. Kontraksi otot


46

Oleh karena kadar glikogen yang terdapat pada setiap otot itu berbeda-beda,
sehingga sewaktu terjadinya pemecahan glikogen menjadi asam laktat dan energi pada
saat terjadinya kematian somatic, dimana energi tersebut digunakan untuk resintesa ATP,
akan menyebabkan adanya perbedaan kadar ATP dalam setiap otot. Keadaan tersebut
dapat menerangkan mengapa kaku mayat akan mulai nampak pada jaringan otot yang
jumlah serabut ototnya sedikit. Atas dasar itulah mengapa pada kematian karena infeksi,
konvulsi kelelahan fisik serta keadaan suhu keliling yang tinggi akan dapat mempercepat
terbentuknya kaku mayat, demikian pula pada mereka yang keadaan gizinya jelek akan
lebih cepat terjadi kaku mayat bila dibandingkan dengan korban yang mempunyai tubuh
yang baik.
Secara biokimiawi saat relaksasi primer, pH protoplasma sel otot masih alkalis.
Perubahan alkalis menjadi asam terjadi 2-6 jam kemudian karena adanya perubahan
biokimia, yaitu glikogen menjadi asam sarkolaktik / fosfor. Perubahan protoplasma
menjadi asam menyebabkan otot menjadi kaku (rigor). Relaksasi sekunder terjadi setelah
ada perubahan biokimia, yaitu asam berubah menjadi alkalis kembali saat terjadi
pembusukan.
Kaku mayat akan terjadi pada seluruh otot (gambar II.4), baik otot lurik maupun
otot polos. Dan bila terjadi pada otot rangka, maka akan didapatkan suatu kekakuan yang
mirip atau menyerupai papan sehingga dibutuhkan cukup tenaga untuk dapat melawan
kekakuan tersebut , bila hal ini terjadi otot dapat putus sehingga daerah tersebut tidak
mungkin lagi terjadi kaku mayat.

Gambar II.4. Kaku mayat pada lengan dan leher


Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortem dan mencapai puncaknya
setelah 10-12 jam pos mortem, keadaan ini akan menetap selama 24 jam dan setelah 24
jam kaku mayat mulai menghilang sesuai dengan urutan terjadinya, yaitu dimulai dari
otot-otot wajah, leher, lengan, dada, perut, dan tungkai.
Adanya kejanggalan dari postur pada mayat dimana kaku mayat telah terbentuk
dengan posisi sewaktu mayat ditemukan, dapat menjadi petunjuk bahwa pada tubuh
korban telah dipindahkan setelah mati. Ini mungkin dimaksudkan untuk menutupi sebab
kematian atau cara kematian yang sebenarnya.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi kaku mayat :
a. Kondisi otot
47

Persediaan glikogen
Cepat lambat kaku mayat tergantung persediaan glikogen otot. Pada kondisi tubuh
sehat sebelum meninggal, kaku mayat akan lambat dan lama, juga pada orang
yang sebelum mati banyak makan karbohidrat, maka kaku mayat akan lambat.
- Gizi
Pada mayat dengan kondisi gizi jelek saat mati, kaku mayat akan cepat terjadi.
- Kegiatan Otot
Pada orang yang melakukan kegiatan otot sebelum meninggal maka kaku mayat
akan terjadi lebih cepat.
b. Usia
- Pada orang tua dan anak-anak lebih cepat dan tidak berlangsung lama.
- Pada bayi premature tidak terjadi kaku mayat, kaku mayat terjadi pada bayi cukup
bulan.
c. Keadaan Lingkungan
- Keadaan kering lebih lambat dari pada panas dan lembab
- Pada mayat dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan berlangsung
lama.
- Pada udara suhu tinggi, kaku mayat terjadi lebih cepat dan singkat, tetapi pada
suhu rendah kaku mayat lebih lambat dan lama.
- Kaku mayat tidak terjadi pada suhu dibawah 10oC, kekakuan yang terjadi
pembekuan atau cold stiffening.
d. Cara Kematian
- Pada mayat dengan penyakit kronis dan kurus, kuku mayat lebih cepat terjadi dan
berlangsung tidak lama.
- Pada mati mendadak, kaku mayat terjadi lebih lambat dan berlangsung lebih
lama.
Waktu terjadinya rigor mortis (kaku mayat)
Kurang dari 3 4 jam post mortem : belum terjadi rigor mortis
Lebih dari 3 4 jam post mortem : mulai terjadi rigor mortis
Rigor mortis maksimal terjadi 12 jam setelah kematian
Rigor mortis dipertahankan selama 12 jam
Rigor mortis menghilang 24 36 jam post mortem
Terdapat kekakuan pada pada mayat yang menyerupai kaku mayat :

Cadaveric spasme (instantaneous rigor), adalah bentuk kekakuan otot yang


terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasme sesungguhnya merupakan
kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi
primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat
setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum
meninggal.
Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan sikap terakhir masa hidupnya.
Misalnya, tangan yang menggenggam erat benda yang diraihnya pada kasus tenggelam,
tangan yang menggenggam pada kasus bunuh diri.

Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas.
Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tepi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat
48

dijumpai pada korban mati terbakar. Pada saat stiffening serabut-serabut ototnya
memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha, dan lutut, membentuk sikap
petinju (pugilistic attitude). Perubahan sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap
semasa hidup, intravitalitas, penyebab atau cara kematian.

Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin (dibawah 3,5 oC
atau 40oF), sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan
jaringan lemak subkutan dan otot, bila cairan sendi yang membeku menyebabkan sendi
tidak dapat digerakan. Bila sendi di bengkokkan secara paksa maka akan terdengar suara
es pecah. Dan mayat yang kaku ini akan menjadi lemas kembali bila diletakkan ditempat
yang hangat, kemudian rigor mortis akan terjadi dalam waktu yang sangat singkat.
3. Pembusukan Atau Decompositio
Pembusukan mayat nama lainnya dekomposisi dan putrefection. Pembusukan
adalah proses degradasi jaringan pada tubuh mayat yang terjadi sebagai akibat proses
autolisis dan aktivitas mikroorganisme, terutama Clostridium welchii.
Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan
steril melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim intraseluler, sehingga
organ-organ yang kaya dengan enzim-enzim akan mengalami proses autolisis lebih cepat
daripada organ-organ yang tidak memiliki enzim, dengan demikian pankreas akan
mengalami autolisis lebih cepat dari pada jantung. Proses autolisis ini tidak dipengaruhi
oleh mikroorganisme oleh karena itu pada mayat yang steril misalnya mayat bayi dalam
kandungan proses autolisis ini tetap terjadi. Proses auotolisis terjadi sebagai akibat dari
pengaruh enzim yang dilepaskan pasca mati. Mula-mula yang terkena adalah
nukleoprotein yang terdapat pada kromatin dan sesudah itu sitoplasmanya, kemudian
dinding sel akan mengalami kehancuran sebagai akibatnya jaringan akan menjadi lunak
dan mencair.
Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat oleh pengaruh suhu
yang rendah maka proses autolisis ini akan dihambat demikian juga pada suhu tinggi
enzim-enzim yang terdapat pada sel akan mengalami kerusakan sehingga proses ini akan
terhambat.
Setelah seseorang meninggal, maka semua sistem pertahanan tubuh akan hilang,
bakteri yang secara normal dihambat oleh jaringan tubuh akan segera masuk ke jaringan
tubuh melalui pembuluh darah, dimana darah merupakan media yang terbaik bagi bakteri
untuk berkembang biak. Bakteri ini menyebabkan hemolisa, pencairan bekuan darah
yang terjadi sebelum dan sesudah mati, pencairan trombus atau emboli, perusakan
jaringan-jaringan dan pembentukan gas pembusukan. Bakteri yang sering menyebabkan
destruktif ini sebagian besar berasal dari usus dan yang paling utama adalah Cl. welchii.
Bakteri ini berkembang biak dengan cepat sekali menuju ke jaringan ikat dinding perut
yang menyebabkan perubahan warna. Perubahan warna ini terjadi oleh karena reaksi
antara H2S (gas pembusukan yang terjadi dalam usus besar) dengan Hb menjadi SulfMeth-Hb. Tanda pertama pembusukan baru dapat dilihat kira-kira 24 jam - 48 jam pasca
mati berupa warna kehijauan pada dinding abdomen bagian bawah, lebih sering pada fosa
iliaka kanan dimana isinya lebih cair, mengandung lebih banyak bakteri dan letaknya
yang lebih superfisial. Perubahan warna ini secara bertahap akan meluas keseluruh
dinding abdomen sampai ke dada dan bau busukpun mulai tercium. Perubahan warna ini
49

juga dapat dilihat pada permukaan organ dalam seperti hepar, dimana hepar merupakan
organ yang langsung kontak dengan kolon transversum. Pada saat Cl.welchii mulai
tumbuh pada satu organ parenchim, maka sitoplasma dari organ sel itu akan mengalami
disintegrasi dan nukleusnya akan dirusak sehingga sel menjadi lisis atau rhexis.
Kemudian sel-sel menjadi lepas sehingga jaringan kehilangan strukturnya.
Bakteri ini kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan berkembang biak
didalamnya yang menyebabkan hemolisa yang kemudian mewarnai dinding pembuluh
darah dan jaringan sekitarnya. Bakteri ini memproduksi gas-gas pembusukan yang
mengisi pembuluh darah yang menyebabkan pelebaran pembuluh darah superfisial tanpa
merusak dinding pembuluh darahnya sehingga pembuluh darah beserta cabangcabangnya tampak lebih jelas seperti pohon gundul (arborescent pattern atau arborescent
mark) yang sering disebut marbling. Bakteri pembusukan ini banyak terdapat dalam
intestinal dan paru, maka gambaran marbling ini jelas terlihat pada bahu,dada bagian
atas, abdomen bagian bawah dan paha.
Secara mikroskopis bakteri dapat dilihat menggumpal pada rongga-rongga
jaringan dimana bakteri tersebut banyak memproduksi gelembung gas. Ukuran
gelembung gas yang tadinya kecil dapat cepat membesar menyerupai honey combed
appearance. Lesi ini dapat dilihat pertama kali pada hati . Kemudian permukaan lapisan
atas epidermis dapat dengan mudah dilepaskan dengan jaringan yang ada dibawahnya
dan ini disebut skin slippage. Skin slippage ini menyebabkan identifikasi melalui sidik
jari sulit dilakukan. Pembentukan gas yang terjadi antara epidermis dan dermis
mengakibatkan timbulnya bula-bula yang bening, fragil, yang dapat berisi cairan coklat
kemerahan yang berbau busuk. Cairan ini kadang-kadang tidak mengisi secara penuh di
dalam bula. Bula dapat menjadi sedemikian besarnya menyerupai pendulum yang
berukuran 5 7,5 cm dan bila pecah meninggalkan daerah yang berminyak, berkilat dan
berwarna kemerahan, ini disebabkan oleh karena pecahnya sel-sel lemak subkutan
sehingga cairan lemak keluar ke lapisan dermis oleh karena tekanan gas pembusukan dari
dalam. Selain itu epitel kulit, kuku, rambut kepala, aksila dan pubis mudah dicabut dan
dilepaskan oleh karena adanya desintegrasi pada akar rambut.
Selama terjadi pembentukan gas-gas pembusukan, gelembung-gelembung udara
mengisi hampir seluruh jaringan subkutan. Gas yang terdapat di dalam jaringan dinding
tubuh akan menyebabkan terabanya krepitasi udara. Gas ini menyebabkan pembengkakan
tubuh yang menyeluruh, dan tubuh berada dalam sikap pugilistic attitude.
Scrotum dan penis dapat membesar dan membengkak, leher dan muka dapat
menggembung, bibir menonjol seperti frog-like-fashion, Kedua bola mata keluar, lidah
terjulur diantara dua gigi, ini menyebabkan mayat sulit dikenali kembali oleh
keluarganya. Pembengkakan yang terjadi pada seluruh tubuh mengakibatkan berat badan
mayat yang tadinya 57 - 63 kg sebelum mati menjadi 95 - 114 kg sesudah mati.
Tekanan yang meningkat didalam rongga dada oleh karena gas pembusukan yang
terjadi didalam cavum abdominal menyebabkan pengeluaran udara dan cairan
pembusukan yang berasal dari trakea dan bronkus terdorong keluar, bersama-sama
dengan cairan darah yang keluar melalui mulut dan hidung. Cairan pembusukan dapat
ditemukan di dalam rongga dada, ini harus dibedakan dengan hematotorak dan biasanya
cairan pembusukan ini tidak lebih dari 200 cc.
Pengeluaran urine dan feses dapat terjadi oleh karena tekanan intra abdominal
yang meningkat. Pada wanita uterus dapat menjadi prolaps dan fetus dapat lahir dari
50

uterus yang pregnan. Pada anak-anak adanya gas pembusukan dalam tengkorak dan otak
menyebabkan sutura-sutura kepala menjadi mudah terlepas.
Organ-organ dalam mempunyai kecepatan pembusukan yang berbeda-beda.
Jaringan intestinal,medula adrenal dan pancreas akan mengalami autolisis dalam
beberapa jam setelah kematian. Organ-organ dalam lain seperti hati, ginjal dan limpa
merupakan organ yang cepat mengalami pembusukan. Perubahan warna pada dinding
lambung terutama di fundus dapat dilihat dalam 24 jam pertama setelah kematian. Difusi
cairan dari kandung empedu kejaringan sekitarnya menyebabkan perubahan warna pada
jaringan sekitarnya menjadi coklat kehijauan. Pada hati dapat dilihat gambaran honey
combs appearance, limpa menjadi sangat lunak dan mudah robek, dan otak menjadi
lunak.
Pembusukan lanjut dari organ dalam ini adalah pembentukan granula-granula
milliary atau milliary plaques yang berukuran kecil dengan diameter 1-3 mm yang
terdapat pada permukaan serosa yang terletak pada endotelial dari tubuh seperti pleura,
peritoneum, pericardium dan endocardium.
Golongan organ berdasarkan kecepatan pembusukannya, yaitu:
1. Early : Organ dalam yang cepat membusuk antara lain jaringan intestinal, medula
adrenal, pankreas, otak, lien, usus, uterus gravid, uterus post partum, dan darah
2. Moderate : Organ dalam yang lambat membusuk antara lain paru-paru, jantung,
ginjal, diafragma, lambung, otot polos dan otot lurik.
3. Late : Uterus non gravid dan prostat merupakan organ yang lebih tahan terhadap
pembusukan karena memiliki struktur yang berbeda dengan jaringan yang lain
yaitu jaringan fibrousa.
Pada orang yang mengalami obesitas, lemak-lemak tubuh terutama perirenal,
omentum dan mesenterium dapat mencair menjadi cairan kuning yang transluscent yang
mengisi rongga badan diantara organ yang dapat menyebabkan autopsi lebih sulit
dilakukan.
Disamping bakteri pembusukan insekta juga memegang peranan penting dalam
proses pembusukan sesudah mati. Beberapa jam setelah kematian lalat akan hinggap di
badan dan meletakkan telur-telurnya pada lubang-lubang mata, hidung, mulut dan telinga.
Biasanya jarang pada daerah genitoanal. Bila ada luka ditubuh mayat lalat lebih sering
meletakkan telur-telurnya pada luka tersebut, sehingga bila ada telur atau larva lalat
didaerah genitoanal ini maka dapat dicurigai adanya kekerasan seksual sebelum
kematian. Telur-telur lalat ini akan berubah menjadi larva dalam waktu 24 jam. Larva ini
mengeluarkan enzim proteolitik yang dapat mempercepat penghancuran jaringan pada
tubuh.Larva lalat dapat kita temukan pada mayat kira-kira 36-48 jam pasca kematian.
Berguna untukmemperkirakan saat kematian dan penyebab kematian karena keracunan.
Saat kematian dapat kitaperkirakan dengan cara mengukur panjang larva lalat. Penyebab
kematian karena racun dapat kitaketahui dengan cara mengidentifikasi racun dalam larva
lalat.
Insekta tidak hanya penting dalam proses pembusukan tetapi meraka juga
memberi informasi penting yang berhubungan dengan kematian. Insekta dapat
dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian, memberi petunjuk bahwa tubuh
mayat telah dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainnya, memberi tanda pada badan

51

bagian mana yang mengalami trauma, dan dapat dipergunakan dalam pemeriksaan
toksikologi bila jaringan untuk specimen standart juga sudah mengalami pembusukan.
Aktifitas pembusukan sangat optimal pada temperatur berkisar antara 70-100F
(21,1-37,8C) aktifitas ini dihambat bila suhu berada dibawah 50F(10C) atau pada suhu
diatas 100F (lebih dari 37,8C). Bila mayat diletakkan pada suhu hangat dan lembab
maka proses pembusukan akan berlangsung lebih cepat. Sebaliknya bila mayat diletakkan
pada suhu dingin maka proses pembusukan akan berlangsung lebih lambat. Pada mayat
yang gemuk proses pembusukan berlangsung lebih cepat dari pada mayat yang kurus.
Pembusukan berlangsung lebih cepat karena kelebihan lemak akan menghambat
hilangnya panas tubuh dan pada mayat yang gemuk memiliki darah yang lebih banyak,
yang merupakan media yang baik untuk perkembangbiakkan organisme pembusukan.
Pada bayi yang baru lahir hilangnya panas tubuh yang cepat menghambat
pertumbuhan bakteri disamping pada tubuh bayi yang baru lahir memang terdapat sedikit
bakteri sehingga proses pembusukan berlangsung lebih lambat. Proses pembusukan juga
dapat dipercepat dengan adanya septikemia yang terjadi sebelum kematian seperti
peritonitis fekalis, aborsi septik, dan infeksi paru. Disini gas pembusukan dapat terjadi
walaupun kulit masih terasa hangat.
Secara garis besar terdapat 17 tanda pembusukan pada jenazah, yaitu :
1. Wajah membengkak.
2. Bibir membengkak.
3. Mata menonjol.
4. Lidah terjulur.
5. Lubang hidung keluar darah.
6. Lubang mulut keluar darah.
7. Lubang lainnya keluar isinya seperti feses (usus), isi lambung, dan partus (gravid).
8. Badan gembung.
9. Bulla atau kulit ari terkelupas.
10. Aborescent pattern / morbling yaitu vena superfisialis kulit berwarna kehijauan.
11. Pembuluh darah bawah kulit melebar.
12. Dinding perut pecah.
13. Skrotum atau vulva membengkak.
14. Kuku terlepas.
15. Rambut terlepas.
16. Organ dalam membusuk.
17. Larva lalat.
Pembusukan dipengaruhi oleh beberapa faktor interinsik diatas, selain itu juga
dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik antara lain kelembaban udara dan medium di mana
mayat berada. Semakin lembab udara di sekeliling mayat maka pembusukan lebih cepat
berlangsung, sedangkan pembusukan pada medium udara lebih cepat dibandingkan
medium air dan pembusukan pada medium air lebih cepat dibandingkan pada medium
tanah.
Pada keadaan tertentu tanda-tanda pembusukan tersebut tidak dijumpai, namun
yang ditemui adalah modifikasi pembusukan. Jenis-jenis modifikasi pembusukan antara
lain.
a. Mumifikasi

52

Mumifikasi dapat terjadi karena proses dehidrasi jaringan yang cukup cepat
sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan
pembusukan. Proses mumufikasi terjadi bila keadaan disekitar mayat kering,
kelembaban rendah, suhunya tinggi dan tidak ada kontaminasi dengan bakteri.
Terjadinya beberapa bulan sesudah mati dengan tanda-tanda sebagai berikut mayat
menjadi kecil, kering, mengkerut atau melisut, warna coklat kehitaman, kulit
melekat erat dengan tulang di bawahnya, tidak berbau, dan keadaan anatominya
masih utuh.
b. Saponifikasi
Saponifikasi dapat terjadi pada mayat yang berada di dalamsuasana hangat, lembab
atau basah. Terjadi karena proses hidrolisis dari lemak menjadi asam lemak.
Selanjutnya asam lemak yang tak jenuh akan mengalami dehidrogenisasi menjadi
asam lemak jenuh dan kemudian bereaksi dengan alkali menjadi sabun yang tak
larut. Terbentuk pertama kali pada lemak superfisial bentuk bercak, di pipi, di
payudara, bokong bagian tubuh atau ekstremitas. Terjadinya saponikasi
memerlukan waktu beberapa bulan dan dapat terjadi pada setiap jaringan tubuh
yang berlemak dengan tanda-tanda berwarna keputihan dan berbau tengik seperti
minyak kelapa.
4.

Penurunan suhu tubuh mayat/algor mortis


Pada saat sel masih hidup ia akan selalu menghasilkan kalor dan energi. Kalor dan
energi ini terbentuk melalui proses pembakaran sumber energi seperti glukosa, lemak,
dan protein. Sumber energi utama yang digunakan adalah glukosa. Satu molekul glukosa
dapat menghasilkan energi sebanyak 36 ATP yang nantinya digunakan sebagai sumber
energi dalam berbagai hal seperti transport ion, kontraksi otot dan lain-lain. Energi
sebanyak 36 ATP hanya menyusun sekitar 38% dari total energi yang dihasilkan dari
satu molekul glukosa (gambar II.1). Sisanya sebesar 62% energi yang dihasilkan inilah
yang dilepaskan sebagai kalor atau panas.
Sesudah mati, metabolisme yang menghasilkan panas akan terhenti sehingga suhu
tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium di sekitarnya. Penurunan ini
disebabkan oleh adanya proses radiasi, konduksi, dan pancaran panas. Proses penurunan
suhu pada mayat ini biasa disebut algor mortis. Algor mortis merupakan salah satu
perubahan yang dapat kita temukan pada mayat yang sudah berada pada fase lanjut post
mortem.
Pada beberapa jam pertama, penurunan suhu terjadi sangat lambat dengan bentuk
sigmoid. Hal ini disebabkan ada 2 faktor, yaitu :
1. Masih adanya sisa metabolisme dalam tubuh mayat, yakni karena masih adanya
proses glikogenolisis dari cadangan glikogen yang disimpan di otot dan hepar
(gambar II.2).
2. Perbedaan koefisien hantar sehingga butuh waktu mencapai tangga suhu.
Pada jam-jam pertama penurunannya sangat lambat tetapi sesudah itu penurunan
menjadi lebih cepat dan pada akhirnya menjadi lebih lambat kembali. Jika dirata-rata
53

maka penurunan suhu tersebut antara 0,9 sampai 1 derajat celcius atau sekitar 1,5 derajat
Fahrenheit setiap jam, dengan catatan penurunan suhu dimulai dari 37 derajat Celcius
atau 98,4 derajat Fahrenheit sehingga dengan dapat dirumuskan cara untuk
memperkirakan berapa jam mayat telah mati dengan rumus (98,4 oF - suhu rectal oF) :
1,5oF. Pengukuran dilakukan per rectal dengan menggunakan thermometer kimia (long
chemical thermometer).
Terdapat dua hal yang mempengaruhi cepatnya penurunan suhu mayat ini yakni:
1. Faktor internal
a. Suhu tubuh saat mati
Sebab kematian, misalnya perdarahan otak dan septikemia, mati dengan suhu
tubuh tinggi. Suhu tubuh yang tinggi pada saat mati ini akan mengakibatkan
penurunan suhu tubuh menjadi lebih cepat. Sedangkan, pada hypothermia tingkat
penurunannya menjadi sebaliknya.
b. Keadaan tubuh mayat
Konstitusi tubuh pada anak dan orang tua makin mempercepat penurunan suhu
tubuh mayat. Pada mayat yang tubuhnya kurus, tingkat penurunannya menjadi
lebih cepat.

2. Faktor Eksternal
a. Suhu medium
Semakin besar selisih suhu antara medium dengan mayat maka semakin cepat
terjadinya penurunan suhu. Hal ini dikarenakan kalor yang ada di tubuh mayat
dilepaskan lebih cepat ke medium yang lebih dingin.
b. Keadaan udara di sekitarnya
Pada udara yang lembab, tingkat penurunan suhu menjadi lebih besar. Hal ini
disebabkan karena udara yang lembab merupakan konduktor yang baik. Selain
itu, Aliran udara juga makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat
c. Jenis medium
Pada medium air, tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat sebab air
merupakan konduktor panas yang baik sehingga mampu menyerap banyak panas
dari tubuh mayat.
d. Pakaian mayat
Semakin tipis pakaian yang dipakai maka penurunan suhu mayat semakin cepat.
Hal ini dikarenakan kontak antara tubuh mayat dengan suhu medium atau
lingkungan lebih mudah.
LI 4. Memahami dan Menjelaskan Hukum Membunuh Anak dalam Islam dan Negara
Larangan membunuh
Islam melarang umatnya membunuh seseorang manusia atau seekor binatang sekalipun,
kalau itu tidak berdasarkan kebenaran hukumnya. Dalam Islam orang-orang yang halal darah
54

atau boleh dibunuh karena perintah hukum dengan prosedurnya adalah orang-orang murtad,
yaitu orang-orang Islam yang berpindah agama dari Islam ke agama lainnya, sesuai dengan hadis
Rasulullah saw: Man baddala diynuhu faqtuluwhu (barangsiapa yang menukar agamanya
maka bunuhlah dia). Ketentuan ini dilakukan setelah orang murtad itu diajak kembali ke agama
Islam selama batas waktu tiga hari, kalau selama itu dia tidak juga sadar baru dihadapkan ke
pengadilan.
Yang halal darah juga adalah pembunuh, bagi dia berlaku hukum qishash yakni
diberlakukan hukuman balik oleh yang berhak atau negara melalui petugasnya. Penzina muhshan
(yang sudah kawin) adalah satu pihak yang halal darah juga dalam Islam melalui eksekusi rajam,
mengingat jelek dan bahayanya perbuatan dia yang sudah kawin tetapi masih berzina juga.
Semua pihak yang halal darah tersebut harus dieksekusi mengikut prosedur yang telah ada dan
tidak boleh dilakukan oleh seseorang yang tidak punya otaritas baginya.
Selain dari tiga pihak tersebut dengan ketentuan dan prosedurnya masing-masing tidak
boleh dibunuh, sebagaimana firman Allah swt: ...wala taqtulun nafsal latiy harramallahu illa
bilhaq... (...jangan membunuh nyawa yang diharamkan Allah kecuali dengan kebenaran...) (QS.
al-Anam: 151). Larangan ini berlaku umum untuk semua nyawa baik manusia maupun hewan,
kecuali yang dihalalkan Allah sebagaimana terhadap tiga model manusia di atas tadi atau hewan
nakal yang mengganggu manusia dan hewan yang disembelih dengan nama Allah.
Allah memberi perumpamaan terhadap seorang pembunuh adalah: ...barangsiapa yang
membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena
membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah
memelihara kehidupan manusia semuanya... (QS. Al-Maidah: 32).
Hukuman bagi pembunuh
Hukuman duniawi terhadap seorang pembunuh dalam Islam sangatlah berat yaitu
dibunuh balik sebagai hukuman qishash ke atasnya. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan
atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang
merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat
suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik,
dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara
yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat.
Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. (QS. alBaqarah: 178).
Sementara hukuman ukhrawi-nya adalah dilemparkan dalam neraka oleh Allah SWT
suatu masa nanti, sesuai dengan firman-Nya: Dan barangsiapa yang membunuh seorang
mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka
kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. an-Nisa: 93)
Bagi pembunuh yang sudah dimaafkan oleh keluarga terbunuh sehingga bebas dari
hukuman qishash, wajib baginya membayar diyat kepada keluarga terbunuh sebanyak 100 ekor
unta. Jumhur ulama sepakat dengan jumlahnya dan bagi wilayah yang tidak mempunyai unta
dapat diganti dengan lembu atau kerbau atau yang sejenis dengannya. Dalam Islam, qishash
55

diberlakukan karena di sana ada kelangsungan hidup umat manusia, sebagaimana firman Allah:
Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang
berakal, supaya kamu bertakwa. (QS. al-Baqarah: 179).
Qishash ini betul-betul sebuah keadilan dalam sistem hukum pidana Islam, di mana
seseorang yang membunuh orang lain tanpa salah harus dibunuh balik. Ini sama sekali tidak
melanggar hak azasi manusia (HAM) sebagaimana diklaim orang-orang yang tidak paham
hukum Islam. Bagaimana mungkin kalau seseorang membunuh orang lain tanpa dibenarkan
agama dapat diganti dengan hukuman penjara 5-9 tahun, sementara orang yang dibunuhnya
sudah meninggal. Malah yang seperti itulah melanggar HAM, karena tidak berimbang antara
perbuatan jahat yang dilakukannya dengan hukuman terhadapnya.
Ada tiga macam jenis pembunuhan dalam Islam yang mempunyai hukum qishash yang
berbeda, yaitu pembunuhan sengaja, semi sengaja dan tidak sengaja. Pembunuhan sengaja adalah
seseorang sengaja membunuh orang lain yang darah dan keselamatan jiwanya dilindungi. Yaitu
dengan menggunakan alat untuk membunuh seperti senjata api dan senjata tajam.
Tindak pidana pembunuhan secara sengaja jika memenuhi unsur-unsur: (1) orang yang
melakukan pembunuhan adalah orang dewasa, berakal, sehat, dan bermaksud membunuh; (2)
terbunuh adalah orang yang terpelihara darahnya (tidak halal untuk dibunuh); dan (3) alat yang
digunakan untuk membunuh dapat mematikan atau menghilangkan nyawa orang. Jika pembunuh
sengaja dimaafkan oleh keluarga terbunuh maka sipembunuh wajib membayar diyat berat berupa
100 ekor unta, terdiri dari 30 ekor unta betina berumur 3-4 tahun, 30 ekor unta betina berumur 45 tahun, dan 40 ekor unta betina yang sedang bunting.
Pembunuhan semi sengaja adalah menghilangkan nyawa orang lain dengan alat yang
tidak biasa digunakan untuk membunuh dan tidak dimaksudkan untuk membunuh. Ia juga harus
membayar diyat berat kalau sudah dimaafkan keluarga terbunuh dengan cara mengangsurnya
selama 3 tahun. Sementara pembunuhan tidak sengaja adalah seperti orang melempar buah
mangga di pohon lalu terkena seseorang di bawah pohon mangga tersebut sehingga mati.
Diyat bagi kasus seperti ini adalah diyat ringan, yaitu 100 ekor unta terdiri atas 20 ekor
unta betina berumur 1-2 tahun, 20 ekor unta betina berumur 2-3 tahun, 20 ekor unta jantan
berumur 2-3 tahun, 20 ekor unta betina berumur 3-4 tahun, dan 20 ekor unta betina berumur 4-5
tahun. Pihak pembunuh wajib membayarnya dengan mengangsur selama 3 tahun, setiap tahun
wajib membayar sepertiganya. Kalau tidak dapat dibayar 100 ekor unta, maka harus dibayar 200
ekor lembu atau 2.000 ekor kambing.
PEMBUNUHAN MENURUT NEGARA
Pembunuhan secara terminologi berarti perkara membunuh, atau perbuatan membunuh.
Sedangkan dalam istilah KUHP pembunuhan adalah kesengajaan menghilangkan nyawa orang
lain.
Tindak pidana pembunuhan dianggap sebagai delik material bila delik tersebut selesai
dilakukan oleh pelakunya dengan timbulnya akibat yang dilarang atau yang tidak dikehendaki
oleh Undang-undang.

56

Dalam KUHP, ketentuan-ketentuan pidana tentang kejahatan yang ditujukan terhadap


nyawa orang lain diatur dalam buku II bab XIX, yang terdiri dari 13 Pasal, yakni Pasal 338
sampai Pasal 350.
Bentuk kesalahan tindak pidana menghilangkan nyawa orang lain ini dapat berupa
sengaja (dolus) dan tidak sengaja (alpa). Kesengajaan adalah suatu perbuatan yang dapat terjadi
dengan direncanakan terlebih dahulu atau tidak direncanakan. Tetapi yang penting dari suatu
peristiwa itu adalah adanya niat yang diwujudkan melalui perbuatan yang dilakukan sampai
selesai. Berdasarkan unsur kesalahan, tindak pidana pembunuhan dapat dibedakan menjadi:

Pertama, Pembunuhan Biasa

Tindak pidana yang diatur dalam Pasal 338 KUHP merupakan tindak pidana dalam bentuk pokok
(Doodslag In Zijn Grondvorm), yaitu delik yang telah dirumuskan secara lengkap dengan semua
unsur-unsurnya.
Adapun rumusan Pasal 338 KUHP adalah:
Barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan, dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun
Sedangkan Pasal 340 KUHP menyatakan:
Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain diancam,
karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur
hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.
Pada pembunuhan biasa ini, Pasal 338 KUHP menyatakan bahwa pemberian sanksi atau
hukuman pidananya adalah pidana penjara paling lama lima belas tahun. Di sini disebutkan
paling lama jadi tidak menutup kemungkinan hakim akan memberikan sanksi pidana kurang dari
lima belas tahun penjara.
Dari ketentuan dalam Pasal tersebut, maka unsur-unsur dalam pembunuhan biasa adalah sebagai
berikut :
Unsur subyektif: perbuatan dengan sengaja. Dengan sengaja (Doodslag) artinya bahwa
perbuatan itu harus disengaja dan kesengajaan itu harus timbul seketika itu juga, karena sengaja
(opzet/dolus) yang dimaksud dalam Pasal 338 adalah perbuatan sengaja yang telah terbentuk
tanpa direncanakan terlebih dahulu, sedangkan yang dimaksud sengaja dalam Pasal 340 adalah
suatu perbuatan yang disengaja untuk menghilangkan nyawa orang lain yang terbentuk dengan
direncanakan terlebih dahulu (Met voorbedachte rade).
Unsur obyektif : perbuatan menghilangkan, nyawa, dan orang lain. Unsur obyektif yang
pertama dari tindak pembunuhan, yaitu menghilangkan, unsur ini juga diliputi oleh kesengajaan;
artinya pelaku harus menghendaki, dengan sengaja, dilakukannya tindakan menghilangkan
tersebut, dan ia pun harus mengetahui, bahwa tindakannya itu bertujuan untuk menghilangkan
nyawa orang lain.
Berkenaan dengan nyawa orang lain maksudnya adalah nyawa orang lain dari si
pembunuh. Terhadap siapa pembunuhan itu dilakukan tidak menjadi soal, meskipun
pembunuhan itu dilakukan terhadap bapak/ibu sendiri, termasuk juga pembunuhan yang
dimaksud dalam Pasal 338 KUHP.
57

Dari pernyataan ini, maka undang-undang pidana kita tidak mengenal ketentuan yang
menyatakan bahwa seorang pembunuh akan dikenai sanksi yang lebih berat karena telah
membunuh dengan sengaja orang yang mempunyai kedudukan tertentu atau mempunyai
hubungan khusus dengan pelaku.
Berkenaan dengan unsur nyawa orang lain juga, melenyapkan nyawa sendiri tidak
termasuk perbuatan yang dapat dihukum, karena orang yang bunuh diri dianggap orang yang
sakit ingatan dan ia tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Kedua, Pembunuhan Dengan Pemberatan (Gequalificeerde Doodslag) Hal ini diatur Pasal
339 KUHP yang bunyinya sebagai berikut :

Pembunuhan yang diikuti, disertai, atau didahului oleh kejahatan dan yang dilakukan dengan
maksud untuk memudahkan perbuatan itu, jika tertangkap tangan, untuk melepaskan diri sendiri
atau pesertanya daripada hukuman, atau supaya barang yang didapatkannya dengan melawan
hukum tetap ada dalam tangannya, dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup atau
penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.
Perbedaan dengan pembunuhan Pasal 338 KUHP ialah: diikuti, disertai, atau didahului
oleh kejahatan. Kata diikuti (gevold) dimaksudkan diikuti kejahatan lain. Pembunuhan itu
dimaksudkan untuk mempersiapkan dilakukannya kejahatan lain.

Ketiga, Pembunuhan Berencana (Moord)

Tindak pidana ini diatur dalam Pasal 340 KUHP, unsur-unsur pembunuhan berencana adalah;
unsur subyektif, yaitu dilakukan dengan sengaja dan direncanakan terlebih dahulu, unsur
obyektif, yaitu menghilangkan nyawa orang lain.
Jika unsur-unsur di atas telah terpenuhi, dan seorang pelaku sadar dan sengaja akan
timbulnya suatu akibat tetapi ia tidak membatalkan niatnya, maka ia dapat dikenai Pasal 340
KUHP.
Ancaman pidana pada pembunuhan berencana ini lebih berat dari pada pembunuhan yang
ada pada Pasal 338 dan 339 KUHP bahkan merupakan pembunuhan dengan ancaman pidana
paling berat, yaitu pidana mati, di mana sanksi pidana mati ini tidak tertera pada kejahatan
terhadap nyawa lainnya, yang menjadi dasar beratnya hukuman ini adalah adanya perencanaan
terlebih dahulu. Selain diancam dengan pidana mati, pelaku tindak pidana pembunuhan
berencana juga dapat dipidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua
puluh tahun.

Keempat, Pembunuhan yang Dilakukan dengan Permintaan yang Sangat dan Tegas oleh
Korban Sendiri.

Jenis kejahatan ini mempunyai unsur khusus, atas permintaan yang tegas (uitdrukkelijk) dan
sungguh-sungguh/ nyata (ernstig). Tidak cukup hanya dengan persetujuan belaka, karena hal itu
tidak memenuhi perumusan Pasal 344 KUHP.
Pembunuhan tidak sengaja.
58

Tindak pidana yang di lakukan dengan tidak sengaja merupakan bentuk kejahatan yang
akibatnya tidak dikehendaki oleh pelaku. Kejahatan ini diatur dalam Pasal 359 KUHP,
Terhadap kejahatan yang melanggar Pasal 359 KUHP ini ada dua macam hukuman yang
dapat dijatuhkan terhadap pelakunya yaitu berupa pidana penjara paling lama lima tahun atau
pidana kurungan paling lama satu tahun.
Ketidaksengajaan (alpa) adalah suatu perbuatan tertentu terhadap seseorang yang beraki
bat matinya seseorang. Bentuk dari kealpaan ini dapat berupa perbuatan pasif maupun aktif.
Dalam perilaku sosial, tindak kejahatan merupakan prilaku menyimpang, yaitu tingkah
laku yang melanggar atau menyimpang dari aturan-aturan pengertian normatif atau dari harapanharapan lingkungan sosial yang bersangkutan. Dan salah satu cara untuk mengendalikan adalah
dengan sanksi pidana.
Hakikat dari sanksi pidana adalah pembalasan, sedangkan tujuan sanksi pidana adalah
penjeraan baik ditujukan pada pelanggar hukum itu sendiri maupun pada mereka yang
mempunyai potensi menjadi penjahat. Selain itu juga bertujuan melindungi masyarakat dari
segala bentuk kejahatan dan pendidikan atau perbaikan bagi para penjahat.
Adapun sanksi tindak pidana pembunuhan sesuai dengan KUHP bab XIX buku II adalah sebagai
berikut :
1. Pembunuhan biasa, diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun.
2. Pembunuhan dengan pemberatan, diancam dengan hukuman penjara seumur hidup atau
penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun
3. Pembunuhan berencana, diancam dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau
penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun
4. Pembunuhan bayi oleh ibunya, diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh
tahun
5. Pembunuhan bayi oleh ibunya secara berencana, diancam dengan hukuman penjara
selama-lamanya sembilan tahun
6. Pembunuhan atas permintaan sendiri, bagi orang yang membunuh diancam dengan
hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun
7. Penganjuran agar bunuh diri, jika benar-benar orangnya membunuh diri pelaku
penganjuran diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun.

59

DAFTAR PUSTAKA
Dimaio Vincent J. Diminick Dimaio Forensic Pathology. Second Edition CRC
Hamdani, Njowito. 1992. Ilmu Kedokteran Kehakiman Edisi Kedua. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama.
Abdul Minim Idries,2008. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses
Penyidikan.
Idries, A.M., 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi 1, Binarupa Aksara, Jakarta
Budiyanto,1997.Ilmu Kedokteran Forensik.
Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Autopsi. Dalam: Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius. Jakarta. 2000: 187-9.
Chadha, PV. Otopsi Mediko-Legal. Dalam: Ilmu Forensik dan Toksikologi. Edisi Kelima.
Guntur, P.J.L.,2000. Penerapan Visum et Repertum sebagai Alat Bukti dalam Peradilan Pidana.
HUT FK-UGM ke-54 RSUP Dr Sardjito ke-18, Yogyakarta.
http://aceh.tribunnews.com/2013/05/03/pembunuhan-dalam-perspektif-islam
60

http://www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/VetR.pdf
www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/TANATOLOGI .pdf
ocw.usu.ac.id/course/download/1110000120.../gis156_slide_tanatologi.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31430/3/Chapter%20II.pdf
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/13/02/28/miwd9j-hukum-berat-pelakuperkosaan
http://pustaka.unpad.ac.id/archives/80023/abortus-dalam-pandangan-islam.
http://www.referensimakalah.com/2013/03/pembunuhan-menurut-kuhp.html

61