Anda di halaman 1dari 12

Pendahuluan

Dalam pemerintahan terdapat pula kajian etika yang kajiannya berkaitan dengan baik
atau buruknya tindakan pemerintahan. Akan tetapi dalam pelaksanaannya warna dari
pemerintah itu beragam, nilai etika yang tetap itu dijalankan dengan beragam cara. Contoh
yang sangat nyata adalah manakala seorang pemimpin merencanakan pembangunan
wilayahnya, ada yang mengelola daerah menjadi kota niaga, kota wisata, kota industri,dll.
Perbedaan ini dapat kita lihat dari berbagai tindakan kongkrit yang dilakukan oleh pemerintah
dalam membangun, struktur daerah pastinya akan dirancang berdasarkan pada perencanaan
yang dilakukan oleh pemimpinnya.
Perbedaan didalam menjalankan pemerintahan itu akhirnya sirna manakala
pemerintah memegang teguh nilai-nilai umum seperti kepentingan umum dan juga
kesejahteraan social. Meskipun pemerintah memiliki banyak cara dalam melakukan
pembangunan, pembangunan yang dilakukan itu pada akhirnya adalah untuk masyarakat.
Keterbukaan pemerintah tersebut, manakala ditujukan untuk perkembangan masyarakat
tetaplah baik. Pemerintah tidak jarang dianggap melakukan pelanggaran dari berbagai sudut
seperti kebijakan bahkan yang paling rawan adalah anggaran. Pelaksanaan anggaran sering
menjadi kontrofersi, akan tetapi manakala itu kembali untuk publik dan bukan untuk
kepentingan pribadi itu dapat saja dikatakan baik, walaupun sebenarnya pasti ada saja yang
dilanggar.
Pada intinya, pemerintah sebenarnya memiliki banyak perbedaan didalam dirinya,
mulai dari perbedaan nilai dari berbagai lingkungan masyarakat, agama dan juga berbagai
golongan. Akan tetapi, nilai tersebut harus dapat dipersatukan dan ditujukan utnuk melakukan
pembangunan yang selaras utnuk kepentingan umum dan kesejah teraan masyarakat. Seperti
yang dilakukan oleh Ridwan Kamil dalam melakukan pembangunan yang memadukan pola
barat dan timur serta mensinergiskan nilai-nilai social budaya, agama dan alam.

Rumusan Masalah
1

Berangkat dari latar belakang tersebut maka penulis ingin mengetahui Bagaimana
perbedaan dan keterbukaan dalam penyelenggaraan pemerintahan di Kota Bandung?

Landasan Teori
Istilah etika berasal dari kata ethikus (latin) dan dalam bahasa Yunani disebut ethicos
yang berarti kebiasaan norma-norma, nilai-nilai, kaidah kaidah dan ukuran-ukuran baik dan
buruk tingkah laku manusia. Jadi, etika komunikasi adalah norma, nilai, atau ukuran tingkah
laku baik dalam kegiatan komunikasi di suatu masyarakat. Pendapat Drs. D.P. Simorangkir
Etika atau etik adalah pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai yang
baik. Menurut K. Bertens, etika secara umumnya sebagai berikut:
a. Etika adalah niat, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai
pertimbangan niat baik atau buruk sebagai akibatnya.
b. Etika adalah nurani (bathiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang
sesungguhnya timbul dari kesadaran dirinya.
c. Etika bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau perbuatan baik
mendapat pujian dan yang salah harus mendapat sanksi.
d. Etika berlakunya, tidak tergantung pada ada atau tidaknya orang lain yang hadir.
Berlainan dengan itilah etiket, berasal dari kata etiquette (Perancis), yang berarti kartu
undangan, yang biasa digunakan oleh raja-raja Perancis ketika menyelenggarakan pesta.
Dalam perkembangan selanjutnya istilah etiket tidak lagi berarti kartu undangan. Etiket artinya
lebih menitikberatkan pada cara-cara berbicara yang sopan, cara berpakaian, cara duduk, cara
menerima tamu di rumah/di kantor dan sopan santun lainnya. Etiket ini sering disebut pula tata
krama. Tata mempunyai arti adat, aturan, norma, peraturan, sedangkan krama berarti tindakan,
perbuatan. Dengan demikian tata krama berarti sopan santun, kebiasaan sopan santun atau tata
sopan santun. Kesadaran manusia mengenai baik buruk disebut kesadaran etis atau kesadaran
moral.
Etiket didukung oleh nilai-nilai berikut:
a. Nilai-nilai kepentingan umum.
b. Nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, kebaikan
c. Nilai-nilai kesejahteraan
2

d. Nilai-nilai kesopanan, harga menghargai


e. Nilai-nilai pertimbangan rasional, mampu membedakan sesuatu yang bersifat rahasia
dan yang bukan rahasia.
Dalam menelaah ukuran baik dan buruk suatu tingkah laku yang ada dalam
masyarakat kita bisa melakukan penggolongan etika, yakni terdapat dua macam etika yaitu:2
a. Etika Deskriptif
Merupakan usaha menilai tindakan atau perilaku berdasarkan pada ketentuan atau norma baik
buruk yang tumbuh dalam kehidupan bersama di dalam masyarakat. Kerangka etika ini pada
hakikatnya menempatkan kebiasaan yang sudah ada di dalam masyarakat sebagai acuan etis.
Suatu tindakan seseorang disebut etis atau tidak, tergantung pada kesesuaiannya dengan yang
dilakukan kebanyakan orang.
b. Etika Normatif
Etika yang berusaha menelaah dan memberikan penilaian suatu tindakan etis atau tidak,
tergantung dengan kesesuaiannya terhadap norma-norma yang sudah dilakukan dalam suatu
masyarakat. Norma rujukan yang digunakan untuk menilai tindakan wujudnya bisa berupa
tata tertib, dan juga kode etik profesi.
Schwartz (1994) juga menjelaskan bahwa nilai adalah (1) suatu keyakinan, (2)
berkaitan dengan cara bertingkah laku atau tujuan akhir tertentu, (3) melampaui situasi
spesifik, (4) mengarahkan seleksi atau evaluasi terhadap tingkah laku, individu, dan
kejadian-kejadian, serta (5) tersusun berdasarkan derajat kepentingannya. Berdasarkan
pendapat tersebut, terlihat kesamaan pemahaman tentang nilai, yaitu (1) suatu keyakinan, (2)
berhubungan dengan cara bertingkah laku dan tujuan akhir tertentu. Jadi dapat disimpulkan
bahwa nilai adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang
diinginkan individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya.
Schwartz berpandangan bahwa nilai merupakan representasi kognitif dari tiga tipe
persyaratan hidup manusia yang universal, yaitu :
1. kebutuhan individu sebagai organisme biologis;
2. persyaratan interaksi sosial yang membutuhkan koordinasi interpersonal;
3. tuntutan institusi sosial untuk mencapai kesejahteraan kelompok dan kelangsungan
hidup kelompok (Schwartz & Bilsky, 1987; Schwartz, 1992, 1994).

Jadi, dalam membentuk tipologi dari nilai-nilai, Schwartz mengemukakan teori


bahwa nilai berasal dari tuntutan manusia yang universal sifatnya yang direfleksikan dalam
kebutuhan organisme, motif sosial (interaksi), dan tuntutan institusi sosial (Schwartz &
Bilsky, 1987). Ketiga hal tersebut membawa implikasi terhadap nilai sebagai sesuatu yang
diinginkan.
Schwartz menambahkan bahwa sesuatu yang diinginkan itu dapat timbul dari minat
kolektif (tipe nilai benevolence, tradition, conformity) atau berdasarkan prioritas pribadi /
individual (power, achievement, hedonism, stimulation, self-direction), atau kedua-duanya
(universalism, security). Nilai individu biasanya mengacu pada kelompok sosial tertentu atau
disosialisasikan oleh suatu kelompok dominan yang memiliki nilai tertentu (misalnya
pengasuhan orang tua, agama, kelompok tempat kerja) atau melalui pengalaman pribadi
yang unik (Feather, 1994; Grube, Mayton II & Ball-Rokeach, 1994; Rokeach, 1973;
Schwartz, 1994).
Nilai sebagai sesuatu yang lebih diinginkan harus dibedakan dengan yang hanya
diinginkan, di mana lebih diinginkan mempengaruhi seleksi berbagai modus tingkah laku
yang mungkin dilakukan individu atau mempengaruhi pemilihan tujuan akhir tingkah laku
(Kluckhohn dalam Rokeach, 1973). Lebih diinginkan ini memiliki pengaruh lebih besar
dalam mengarahkan tingkah laku, dan dengan demikian maka nilai menjadi tersusun
berdasarkan derajat kepentingannya.
Sebagaimana terbentuknya, nilai juga mempunyai karakteristik tertentu untuk
berubah. Karena nilai diperoleh dengan cara terpisah, yaitu dihasilkan oleh pengalaman
budaya, masyarakat dan pribadi yang tertuang dalam struktur psikologis individu
(Danandjaja, 1985), maka nilai menjadi tahan lama dan stabil (Rokeach, 1973). Jadi nilai
memiliki kecenderungan untuk menetap, walaupun masih mungkin berubah oleh hal-hal
tertentu. Salah satunya adalah bila terjadi perubahan sistem nilai budaya di mana individu
tersebut menetap (Danandjaja, 1985).
Factor-faktor yang mempengaruhi perubahan nilai dalam kehidupan social antara
lain:1
1 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, hal. 283
4

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kontak dengan kebudayaan lain,


Sistem pendidikan formal yang maju,
Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju
Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang.
Sistem terbuka lapisan masyarakat,
Penduduk yang heterogen
Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.
Orientasi ke masa depan.
Nilai bahwa manusia harus senantisa berikhtiar untuk memperbaiki hidupnya.

Pembahasan

Dalam pemerintahan perbedaan dalam penyelenggaraan pemerintahan itu selalu ada


akan tetapi hal tersebut pada akhirnya dapat ditolelir manakala, berbagai perbedaan tersebut
menuju pada hal yang sama yaitu untuk kepentingan umum dan juga kesejahteraan
masyarakat. Berangkat dari hal tersebut, perbedaan dari cara melakukan pembangunan pada
suatu daerah, akan bergantung pada program yang direncanakan oleh seorang pemimpin.
Seperti yang dipillih oleh Rinwan Kamil (RK) sebagai Walikota Bandung yang menerapkan
pola pembangunan Bandung sebagai kota wisata.
Ciri khas pembangunan yang dilakukan oleh RK sebagai Walikota, utamanya
berkaitan dengan estetika kota. Sebagai kota wisata, keindahan kota menjadi hal yang utama,
untuk menarik wisatawan, tentunya kota itu harus dahulu terlihat indah dan nyaman, sehingga
dapat menarik wisatawan untuk datang. Badung yang begitu diikenal sebagi kota wisata
mode serta perniagaan yang sangat maju, akan cocok untuk dijadikan kota wisata, karena
potensinya yang kuat dibidang perniagaan.
Wajah Kota Bandung sebagai kota wisata, dirubah dari sisi kenyamanan, terutama
keindahan dari taman-taman kota dan berbagai arsitektur lainnya yang memperlihatkan kota
menjadi lebih indah dan nyaman. Focus RK pada perubahan wajah Kota Bandung, terutama
taman-taman yang banyak dan memiliki beragam tema mampu memperlihatkan tujuan
pembangunan sebagai kota wisata. Penataan berbagai taman yang menarik dan jadi objek
wisata bagi berbagai kalangan masyarakat hingga manca negara tersebuut diantaranya
adalah:2
1. Taman vanda
2. Taman pustaka bunga
3. Taman jomlo
4. Taman fotografi
5. Taman skate
6. Taman film
7. Taman music centrum
8. Taman lansia
9. Taman hewan (pet park)
10. Taman super hero
11. Taman dewi sartika
12. Taman teras cikapundung
13. Taman balai kota
2 Secara lebih lengkap baca: http://www.wisatabdg.com/2014/09/inilah-taman-tematik-di-kotabandung.html, http://www.destinasibandung.co.id/15-taman-tematik-di-bandung-yang-asik-untukdikunjungi.html, http://www.irhamfaridh.com/2015/09/taman-taman-tematik-di-kota-bandung.html
6

14. Taman Cikapundung Riverspot


15. Taman fitness
Berbagai kehadiran taman tersebut, termasuk kelebihannya yang diperuntukan bagi
publik, memberikan timbal balik yang juga baik untuk daerah, karena dengan estetika kota
tersebut dapat membuat bandung kembali memnagkan Adipura. Pembangunan Bandung
tersebut sejalan dengan latar belakang dari RK sendiri yang merupakan sarjana Teknik
Arsitektur.
Focus masyarakat, tidak hanya pada pembangunan yang baik, akan tetapi pada
peningkatan kesejahteraan masyarakat Bandung sendiri. Kepemimpinan RK tdak hanya
mendapat pujian, akan tetapi juga hujatan, RK yang memanfaatkan keahliannya dalam
menata kota dinaggap belum mampu untuk meningkatkan kesejahteraan dan juga mengatasi
masalah pokok di Kota Bandung seperti macet dan juga banjir serta PKL. Akan tetapi, sebagi
pemimpin yang diakui RK memiliki pendapatan total Rp. 120 juta setiap bulannya sebagai
wwalikota, tetaplah tidak cukup.3 Dalam memimpin Kota Bandung, dengan pendapatan yang
dianggap cukup besar RK sering mendapat kunjungan dari masyarakat dengan tujuan untuk
meminta dengan berbagai alasan termasuk juga beragan proposal yang diajukan. 4 Sebagai
pemimpin RK mendapat teguran dari istri terkait pendapatannya yang tidak cukup untuk
membiayai berbagai kebutuhan keluarga, karena Rk mengakui sebagai arsitek pendapatannya
lebih besar.

pernyataan RK tersebut memperlihatkan bahwa sebenarnya menjadi seorang

pemimpin itu tidaklah mudah, terdapat beragam rintangan terutama untuk melakukan
pembangunan di kota dalam peningkatan kesejahteraan. Penataan estitika kota belum mampu
untuk mendokrak masyarakat memiliki pendapatan yang lebih sehingga mampu untuk
mengatasi masalahnya sendiri.

3 Secara lebih lengkap baca:


http://regional.kompas.com/read/2014/03/05/1835281/Ridwan.Kamil.Bukabukaan.soal.Gaji.Rp.120.Juta.Per.Bulan
4 Secara lebih lengkap baca:
http://regional.kompas.com/read/2014/03/05/1835281/Ridwan.Kamil.Bukabukaan.soal.Gaji.Rp.120.Juta.Per.Bulan
5 Secara lebih lengkap baca:
http://regional.kompas.com/read/2014/03/05/1835281/Ridwan.Kamil.Bukabukaan.soal.Gaji.Rp.120.Juta.Per.Bulan
7

Pemanfaatan keterampillan RK sebagai walikota, diperlihatkan melalui perubahan


Masjid Agung Bandung. Masjid Agung Bandung yang kini menjadi salahsatu tujuan wsata
bagi banyak masyarakat telah mengalami perubahan yang sangat signifikan. Dari wajah
Masjid Agung yang dulunya sangat padat dengan banyaknya pedangang dan riuh rendah
kegiatan perniagaan, kini berubah menjadi tempat wisata keluarga yang menarik. Penataaan
Masjid Agung yang memiliki basement 2 sekaligus dengan aparat keamanan yang lengkap
menjadi ikon baru wisata di Bandung selain kegiatan Islamiknya. Penataan Masjid Agung
yang menggunakan basement untuk menenpatkan berbagai pedangang yang dulunya berada
di lingkungan tersebut telah berhasil merubah wajah Alun-Alun yang dulunya kumuh
menjadi pusat wisata yang nyaman.6
Perubahan yang terjadi pada Masjid agung tetaplah diselaraskan dengna kegatan
keagamaan. Terlepas dari tempat wisata, Masjid Agung adalah sarana keagamaan, yang
memiliki beragan kegiatan keagamaan diantaranya adalah kegiatan pengajian yang diikuti
oleh berbagai majelis taklim. Keselarasan antara pembangunan dengan nilai keagamaan
sendiri diperlihatkan oleh RK dengan mengikuti rangkaian kegiatan pengaajian rutin di Kota
Bandung.7 Sinergi berbagai nilai yang ada didalam pemerintahan dikemukakan oleh RK,
dimana harus sterdapat keseimbangan antara tiga pilar utama didalam pembangunan kota
yaitu budaya, alam, dan agama.8 Kombinasi dari tiga pilar yang dikemukakna oleh RK
ditujukan untuk membangun kota yang nyaman dan memiliki keselaran, sehingga
masyarakatnya dapat mandiri dan merasa nyaman dengan pembangunan kota. Adopsi ketiga
pilar tersebut ditujukan untuk meminimalisir tingkat stress masyarakat, agar tidak terjadi
seperti seperti Singapura yang 40% warganya ingin pindah atau Korea Selatan yang tingkat
bunuh diri warganya sangat tinggi.

6 Secara lebih lengkap baca: https://komunitasaleut.com/2015/01/28/melihat-wajah-baru-alun-alun-bandung/,


http://tempatwisatadibandung.info/masjid-raya-bandung/,
http://www.tribunnews.com/ramadan/2012/08/07/taman-yang-asri-masjid-raya-bandung-tinggal-kenangan.

7 Secara lebih lengkap baca: http://www.masjidagungtransstudiobandung.com/2016/10/01/agendamasjid-agung-tsb-oktober-2016/


8 Secara lebih lengkap baca:
regional.kompas.com/read/2016/10/11/12423561/ridwan.kamil.banyak.kota.maju.masyarakatnya.eng
gak.betah.enggak.bahagia
8

Tiga pilar utama yang diadopsi dalam pembangunan Bandung memperlihatkan bahwa
nilai yang baik itu memiliki suatu kesatuan. Seperti yang telah dijelaskan pada landasan teori,
bahwa sanya terdapat beragam nilai yang berbeda dari berbagai landasan seperti agama,
pergaulan, lingkungan pekerjaan. Pada penerapan pemerintahan seperti yang dikemukakan
oleh RK, intisari dari nilai-nilai yang berbeda tersebut akhirnya bersatu ddalam
pemerintahan, bukan karena kepentingan atau kebutuhan, akan tetapi nilai tersebut akhirnya
bersatu karena memiliki kesamaan dari sudut kepentingan umum dan juga kesejahteraan
umum. Pembangunan kota, yang tidak memperhatikan nilai (alam, budaya, agama) seperti
yang dikemukakan RK, dimana tertuju pada kepentingan umum dan kesejahteraaan
masyarakatnya, akan menciptakan masyarakat yang tidak betah, tidak nyaman, stress, bahkan
hingga mengakhiri hidupnya. Dengan demikian, nilai tersebut pada akhirnya dapat pula
berubah atau bergeser berdasarkan pada factor-faktor yang telah dikemukakan oleh Soerjono
Soekanto, bahwa nilai itu akhirnya dapat berubah dan selalu memperbaiki dirinya.
Perbedaan lain yang dikemukakan oleh RK dalam pembangunan kota, terutama yang
didalam pola pemikirannya. Dimana masyarakat barat sangat mengandalkan logika dalam
berpikir serta tak pernah lepas dari perhitungan angka. Berbeda dengan budaya orang timur
yang selalu melibatkan pendekatan emosional dalam berbagai hal. Karena itu dalam konteks
pola berpikir pemerintah dalam melakukan pembangunan di dalam budaya barat akan
mengedepaknkan logika, akan tetapi pada masyarakat timur akan lebih mengedepankan
harmonisaasi antara tiga pilar yang ada yaitu religi, social budaya dan juga alam. Dari
pernyataan tersebut sangat terlihat bahwasanya nilai yang digunakan oleh masyarakat akan
berbeda, tergantung masyarakat dan budayanya. Berangkat dari nilai yang ada, maka
masyarakat akan menggunakan pola piker yang berdasarkan pada nilai tersebut, sehingga
cara yan gdigunakan pun akan berbeda. Dalam hal ini masyarakat barat yang modern akan
selalu menggunakan logika dan referensi, akantetapi masyarakat timur akan lebihh
mengedepankan emosi dan juga memori.9 Dalam hal ini RK sebagai walikota berusaha untuk
melakukan kombinasi dalam penataan pembangunan kota bandung, dimana banyak nilai
yang dianutnya, yang diharapkan akan mampu untuk menciptakan pemahaman terhadap
masyarakat dengan baik sehingga dapat menyentuh berbagai masalah social yang ada
didalam masyarakat.
9 Secara lebih lengkap baca:
http://regional.kompas.com/read/2016/10/11/16492871/ridwan.kamil.bicara.soal.perbedaan.pola.pikir.
masyarakat.barat.dan.timur
9

Masalah utama dalam pembangunan kota di bandung sendiri utamya adalah macet
dan juga banjir, itu menghambat kegiatan ekonomi yang berpengaruh terhadap kesejahteraan
masyarakat.pergerakan kesejah teraan masyarakat ditunjang oleh kegiatan pemerintah
terutama dari sudut regulasi.

Seperti Rk yang memanfaatkan keterampilannya didalam

menata kota, maka pembangunan diarahkan pada kota wisata, dimana estetika kota ditata
sedemikian rupa agar nyaman dan lancar untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dari sudut
wisata dan niaga yang ada. Pola pembangunan Kota Bandung untuk mengatasi macet dengan
melakukan pembangunan fisik yang diantaranya adalah pembangunan skywalk sepanjang 450
meter dan proyek pembangunan jembatan layang Antapani, selain itu juga terdapat rencana
RK untuk melakukan perubahan Jalan Pahlawan arah Taman Makam Pahlawan Cikutra, Jalan
Veteran, dan Simpang Lima Ahmad Yani yang selama ini identic dengan kemacetan. Selain
itu untuk mengatasi masalah banjir sendiri RK telah melakukan perbaikan dengan cara
Perbaikan fasilitas pedestrian dan gorong-gorong.10
Pola pembangunan yang dilakukan oleh RK tersebut tidak lepas dari kontrofersi.
Dimana terdapat tiga paradigm didalam pembangunan yaitu :
1. Old public administration (OPA), dimana memiliki fokus pada peran utama birokrasi
didalam melakukan berbagai fungsi pemerintahan
2. New public manajemen (NPM), dimana memiliki fokus pada prinsip bisnis atau
swasta didalam pengelolaan urusan pemerintahan
3. New public service (NPS), yang merupakan kombinasi dari kedua paradigm
sebelumnya dan memfokuskan
Kontrofersi didalam masyarakat adalah terkait peran serta pemerintah yang dimana
pemerintah bekerjasama dengan pihak asing untuk melakukan pembangunan, dan tentunya
aka nada timbal balik yang harus diberikan, meskipun itu bersifat bantuan hibah. Seperti
kegiatan RK ke Korea dengan tujuan utnuk menjemput bantuan dana pembangunan dari
Korea International Cooperation Agency (Koica). Atau pembangunan jalan yang
mendapatkan bantuan dari Bloomberg Philantropies. Dari sudut cara yang dilakukan oleh
RK, dalam ilmu etika itu berkaitan dengan cara atau lebih condong pada etiket. Dimana RK
tetap memikirkan cara untuk melakukan perbaikan, meskipun dalam hal ini mungkin tidak
secra langsung dapat menyentuh perkembangan masyarakat, tetapi tetap berpedoan pada nilai
10 Secara lebih lengkap baca: https://m.tempo.co/read/news/2016/10/12/058811600/ridwan-kamil-3jalan-di-bandung-salah-desain-bikin-macet, dan
http://regional.kompas.com/read/2016/10/12/15050081/bandung.macet.parah.ini.kata.ridwan.kamil
10

kepentingan umum. Tata cara yang dilakukan dengan menerima bantuan dan juga kerjasama,
yang pada akkhirnya mungkin mengharuskan RK membuat korea street di bandung itu
adalah sebuah pilihan, akan tetapi itu bergantung pada sudut pandang dan tujuan dibalik itu.
Tentunya setiap pemimpin akan berpedoman kepada tatacara yang dianggapnya baik
dan akan menghasilkan kebaikan pula, meskipun dalam hal ini kebaikan itu tidak harus
dirasakan langsung seperti peningkatan ekonomi yang langsung terjadi. Proses yang
ditemppuh RK ini adalah pola pembangunan yang diharapkan dapat memberikan dampak
ekonomi yang baik bagi masyarakat. Perbaikan dalam pembangunan yang dilakukan oleh
pemerintah dapat dilakukan melalui pendidikan. Pilihan pembangunan yang dilakukan RK,
dengan melakukan kerjasama melalui berbagai pihak ternasuk swasta dan luar negri juga
dilakukan malalui jalur pendidikan yang diberikan pada aparat pemerintah Kota Bandung,
dengan pendidikan ke Seoul. Dengan demikian tatacara pembangunan baik itu OPA, NPM
atau NPS, yang dilakukan oleh RK, dilakukan untuk melakukan sinergitas dalam percepatan
pembangunan kota wisata Bandung.11
Pribadi RK dalam memimpin bukan hanya aktif didalam melakukan pembangunan
akan tetapi juga tegas didalam penegalkkan aturan. Seperti yang pernah dilakukan RK untuk
memberikan peingatan kepada supir angkot yang menggunakan jalur sepeda. RK berusaha
untuk memberikan peringatan dengan tegas, akan tetapi, tindakannya yang hingga menyentuh
warganya ini dianggap tidak baik.12 Dari maksud RK untuk memberikan teguran sebenarnya
adalah baik, dimana pemimpin dapat mengingatkan warganya. Akan tetapi dari sudut etiket
(cara) yang dilakukan oleh RK hingga menyentuh tubuh warganya, dianggap tidak pantas.
Hal ini dikaitkan RK sebagai seorang pemimpin seharusnya mampu untuk memberikan
pemahaman yang baik dengan cara yang lebih baik. Karena seorang pemimpin yang rentan
terkena fitnah. Proses yang dilakukan RK ini adalah upaya untuk memberikan kesadaran
hukum, yang menjadi ciri dari maayarakat modern, dan itu adalah hal yang sebenarnya baik.
Akan tetapi karena pemimpin itu rawan dengan fitnah maka sebaiknya RK menjaga etiketnya
11 Secara lebih lengkap baca:
http://regional.kompas.com/read/2016/10/07/21080501/ridwan.kamil.pergi.ke.korea.selatan.untuk.jem
put.bantuan.
12 Secara lebih lengkap baca:
http://regional.kompas.com/read/2016/03/20/23000061/Bantah.Pukul.Sopir.Angkutan.Ini.Kronologis.
Versi.Ridwan.Kamil,
http://tv.kompas.com/read/2016/03/29/4821029248001/ini.kronologis.versi.ridwan.kamil., dan
http://regional.kompas.com/read/2016/03/21/15565141/Ridwan.Kamil.Apa.Kota.Ini.Mau.Dibiarkan.D
ikuasai.Preman.
11

dengan menggunakan cara-cara yang lebih halus untuk dapat memberikan teguran kepada
masyarakat.
Kesimpulan
Pada dasarnya didalam proses pemerintahan terdapat berbagai nilai yang diakomodir,
dan dalam hal ini didalam penyelenggaraan penmerintahan sendiri memiliki banyak
pandangan dan juga beragam cara yang dapat digunakan. Sejalan dengna perbedaan tersebut,
pemerintah yang berpegang pada nilai-nilai kepentingan umum dan kesejahteraan umum,
dapat memberikan toleransi pada perbedaan nilai, cara pandang dan jug acara yang
digunakan oleh aparat pemerintah. Keterbukaan pemerintah ini dapat ditolelir, manakala
tidak bertentangan dengan etika, misalkan tidak merugikan pemerintah, tidak bertentangan
dengan kepentingan umum, tidak bertentangan dengan peningkatan kesejahteraan atau
bertentangan dengan pelayanan umum yang harus diterima masyarakat. Karena itu, didalam
pemerintahan terdapat beragam perbedaan yang disatukan seperti yang dicontohkan oleh RK
bahwa menggunakan tiga pilar utama yaitu agama, social budaya dan alam, serta kombinasi
rasionalitas barat dan juga pendekatan emosi dari budaya timur dapat digunakan dalam
mengelola pemerintahan.

12