Anda di halaman 1dari 19

CORPORATE SOCIALREPORTING PRACTICE

an International Perspective

Oleh :
Fina Khillah Fathinah

(0910230013)

Firsty Kinanti

(0910230014)

Puput Wijayanti

(0910230021)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2011

Abstrak

Entitas bisnis dalam menjalankan operasionalnya tidak luput dari permasalahan baik itu
dari internal perusahaan ataupun ekskternal perusahaan. Permasalahan tersebut bisa berupa
dampak positif ataupun negatif yang diberikan perusahaan terhadap lingkungannya dalam hal ini
merupakan ekstrenal perusahaan. Akuntansi sosial secara umum bertujuan untuk mengukur dan
mengungkapkan untung rugi dan biaya sosial yang ditimbulkan oleh kegiatan perusahaan
tersebut di masyarakat. Biaya sosial ini umumnya dikaitan dengan ketenagakerjaan, konsumen
dan produk atau barang/jasa yang dihasilkan, kemasyarakatan, dan lingkungan hidup di sekitar
perusahaan. Pengungkapan biaya sosial ini dilakukan dalam laporan keuangan atau laporan
tahunan. Prinsip dasar good corporate governance mengharuskan perusahaan untuk memberikan
laporan bukan hanya kepada pemegang saham, calon investor, kreditur, dan pemerintah semata
tetapi juga kepada stakeholders lainnya termasuk karyawan dan masyarakat.
Dilihat dari sudut pandang global, sudah banyak perusahaan-perusahaan di dunia yang
menyadari akan pentingnya akuntansi pertanggung jawaban sosial dalam menjalankan entitas
bisnisnya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya perusahaan di dunia yang terus melakukan
perbaikan dan bersaing dengan perusahaan yang lain untuk menampilkan yang terbaik dari
perusahaannya. Kepekaan dan kesadaran perusahaan akan pentingnya akuntansi
pertanggungjawaban social dituangkan dalam bentuk Corporate Social Reporting (CSR),
sehingga tidak sedikit dari perusahaan-perusahaan tersebut yang telah membuat dan
menyampaikan akuntansi pertanggungjawaban mereka dalam annual report (laporan tahunan).
Penerapan dan praktek penggunaan CSR tidak hanya pada perusahaan-perusahaan di
Indonesia. Namun jauh sebelum itu SCR sudah banyak diterapkan di dunia internasional. Hal ini
dikarenakan banyak negara-negara di duniaa yang sadar akan pentingnya penerapan CSR
terhadap perusahaan. Tidak hanya itu, penerapan CSR disuatu perusahaan juga memiliki
beberapa alasan yang mendasar yang misalnya saja berkaitan dengan sumberdaya, manajemen
risiko, ijin usaha, motif perselisihan bisnis dan lain sebagainya. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa CSR adalah penting untuk diterapkan dalam suatu perusahaan mengingat aspek-aspek
yang nantinya akan berpengaruh terhadap perusahaan itu sendiri baik secara lokal ataupun
global.

BAB I
PENDAHULUAN

Seperti yang kita ketahui, dalam era globalisasi sekarang ini, dimana kemajuan dibidang
informasi dan teknologi serta adanya keterbukaan pasar, menyebabkan perusahaan-perusahaan
yang ada harus memperhatikan secara serius dan terbuka mengenai dampak-dampak atau tingkah
laku perusahaan itu sendiri terhadap lingkungan dan sosialnya (stakeholder). Dalam hal ini
Akuntansi ini menjadi penting karena perusahaan perlu menyampaikan informasi mengenai
aktivitas social, pertanggung jawaban social serta pelaoparannya kepada stakeholder perusahaan.
Dengan kata lain perusahaan tidak hanya menyampaikan informasi mengenai keuangan kepada
investor dan kreditor yang telah ada serta calon investor atau kreditor perusahaan, tetapi juga
perlu memperhatikan kepentingan sosial di mana perusahaan beroperasi. Dengan demikian,
tangung jawab perusahaan tidak hanya kepada investor atau kepada kredior, tetapi juga kepada
pemangku kepentingan lain, misalnya karyawan, konsumen, suplier, pemerintah, masyarakat,
media, organisasi industri, dan kelompok kepentingan lainnya.
Jika dilihat dari sudut pandang global, sudah banyak perusahaan-perusahaan di dunia
yang menyadari akan pentingnya akuntansi pertanggung jawaban sosial dalam menjalankan
entitas bisnisnya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya perusahaan di dunia yang terus melakukan
perbaikan dan bersaing dengan perusahaan yang lain untuk menampilkan yang terbaik dari
perusahaannya.

Kepekaan

dan

kesadaran

perusahaan

akan

pentingnya

akuntansi

pertanggungjawaban social dituangkan dalam bentuk Corporate Social Reporting (CSR),


sehingga tidak sedikit dari perusahaan-perusahaan tersebut yang telah membuat dan
menyampaikan akuntansi pertanggungjawaban mereka dalam annual report (laporan tahunan).
Pada

dasarnya

laporan

pertanggung

jawaban

social

merupakan

bentuk

pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini dikarenakan Akuntansi


social ataupun kegiatan yang dilakukan perusahaan dalam operasionalnya berkaitan erat dengan
berbagai masalah yang berhubungan dengan kinerja perusahaan baik langsung maupun tidak
langsung yang berpengaruh terhadap lingkungan social sekitar perusahaan yang tidak bisa diukur
dengan angka. Dalam menjalankan operasionalnya, banyak dampak yang ditimbulkan oleh suatu
perusahaan. Dampak tersebut dalam hal ini tidak selau berdampak positif namun juga berdampak

negative. Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial ini muncul akibat adanya
konflik antara masyarakat sekitar dengan perusahaan akibat dampak negatif yang timbul akibat
keberadaan suatu perusahaan dalam suatu lingkungan tertentu. Akuntansi untuk mengukur
kegiatan pertanggungjawaban sosial perusahaan dikenal dengan akuntansi sosial
Adapun tujuan Corporate Social Reporting (CSR), adalah untuk memberikan informasi
yang memungkinkan pengaruh kegiatan perusahaan terhadap masyarakat dapat di evaluasi.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa akuntansi sosial berperan dan menjalankan fungsinya
sebagai bahasa bisnis yang mengakomodasi masalahmasalah sosial yang dihadapi oleh
perusahaan, sehingga pospos biaya sosial yang dikeluarkan kepada masyarakat dapat
menunjang operasional dan pencapaian tujuan jangka panjang perusahaan. Selain itu Corporate
Sosial reporting bertujuan untuk mengukur dan mengungkapkan untung rugi dan biaya sosial
yang ditimbulkan oleh kegiatan perusahaan tersebut di masyarakat. Biaya sosial ini umumnya
dikaitan dengan ketenagakerjaan, konsumen dan produk atau barang/jasa yang dihasilkan,
kemasyarakatan, dan lingkungan hidup di sekitar perusahaan
Pengungkapan biaya sosial tersebut dilakukan dalam laporan keuangan atau laporan
tahunan. Prinsip dasar good corporate governance mengharuskan perusahaan untuk memberikan
laporan bukan hanya kepada pemegang saham, calon investor, kreditur, dan pemerintah semata
tetapi juga kepada stakeholders lainnya termasuk karyawan dan masyarakat. Pengungkapan
corporate Social Responsibility/tanggung jawab sosial perusahan dalam laporan tahunan dapat
dikelompokkan berdasatkan tema yang diungkap, tipe pengungkapan, tingkat pengungkapan,
maupun lokasi dimana tanggung jawab sosial tersebut diungkapkan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perkembangan Corporate Social Reporting


Dilihat dari perspektif global, Corporate Social Reporting muncul dan berkembang
setelah terjadinya revolusi industri. Pada situasi tersebut, dimana perusahaan industri sedang
berkembang dengan pesat, kebanyakan perusahaan masih memfokuskan tujuan perusahaan
hanya sekedar untuk mencari keuntungan. Hal tersebut memunculkan ketimpangan ekonomi
antara pelaku usaha dengan masyarakat di sekitarnya. Hal ini dikarenakan kegiatan operasional
perusahaan tidak hanya memberikan dampak positif namun umumnya juga memberikan dampak
negatif, misalnya eksploitasi sumber daya alam dan rusaknya lingkungan di sekitar operasi
perusahaan. Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat kemudian menuntut perusahaan
untuk bertanggung jawab sosial. Dari permasalahan-permasalahan tersebut maka muncullah CSR
sebagai konsep baru dalam solusi masalah tersebut.
2.1.1

Perkembangan Teori Corporate Social Reporting (CSR)


Jika dilihat dari perspektif global, Corporate Social Reporting bukanlah hal yang baru.

Hal ini terbukti dari perkembangan teori yang dikemukakan oleh banyak ahli di dunia mulai dari
tahun 1953 hingga sekarang. Berikut teori-teori mengenai Corporate Social Reporting menurut
para ahli dan perkembangannya :
Howard R. Bowen (1953):
obligation of businessman to pursue those policies, to make those decision or to follow those
line of action which are desirable in term of the objectives and values of our society.
Keith Davis (1960-an):
Social responsibilities of businessmen need to be commensurate with their social power.
(Tanggung jawab sosial pengusaha sama dengan kedudukan sosial yang mereka miliki.
Sehingga, dalam jangka panjang, pengusaha yang tidak menggunakan kekuasaan dengan

bertanggungjawab sesuai dengan anggapan masyarakat akan kehilangan kekuasaan yang


mereka miliki sekarang).
Joseph W. McGuire (1963):
The idea of social responsibilities supposes that the corporation has not only economic and
legal obligations but also certain responsibilities to society which extend beyond these
obligations.
Committee for Economic Development (CED) (1971):
CED merumuskan CSR dengan menggambarkannya dalam lingkaran konsentris:
1. Lingkaran Dalam
Merupakan tanggungjawab dasar dari korporasi untuk penerapan kebijakan yang efektif atas
pertimbangan ekonomi (profit dan pertumbuhan).
2.

Lingkaran Tengah
Menggambarkan tanggung jawab korporasi untuk lebih sensitif terhadap nilai-nilai dan
prioritas sosial yang berlaku dalam menentukan kebijakan mana yang akan diambil.

3.

Lingkaran Luar
Menggambarkan tanggung jawab yang mungkin akan muncul seiring dengan meningkatnya
peran serta korporasi dalam menjaga lingkungan dan masyarakat.

Peter F. Drucker (1984):


But the proper social responsibility of business is to tame the dragon, that is to turn a social
problem into economic opportunity and economic benefit, into productive capacity, into human
competence, into well-paid jobs, and into wealth.

Persatuan Bangsa-Bangsa melalui World Commission on Environment and Development


(WECD) (1987):
Menerbitkan laporan yang berjudul Our Common Future yang berisi isu-isu lingkungan
sebagai agenda politik yang pada akhirnya bertujuan mendorong pengambilan kebijakan
pembangunan yang lebih sensitif pada isu-isu lingkungan. Laporan ini menjadi dasar kerjasama
multilateral dalam rangka melakukan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Earth Summit di Rio de Janeiro (1992):
Dihadiri oleh 172 negara dengan tema utama Lingkungan dan Pembangunan
Berkelanjutan. Hasil akhir dari pertemuan tersebut secara garis besar menekankan pentingnya
eco-efficiency dijadikan sebagai prinsip utama berbisnis dan menjalankan pemerintahan.
John Elkington (1998):
Mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yang terkenal dengan
sebutan The Triple Bottom Line, yaitu:
1. Economic growth,
2. Environmental protection, dan
3. Social equity,
Elkington mengemas CSR dalam fokus 3P, merupakan singkatan dari Profit, Planet dan People
dimana perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi (profit) belaka
melainkan memiliki pula kepedulian terhadap kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan
masyarakat (people).
Jika dilihat dari perkembangan teori CSR, maka pada dasarnya penerapan CSR di
perusahaan akan menciptakan iklim saling percaya di dalamnya, yang akan menaikkan motivasi
dan komitmen karyawan. Pihak konsumen, investor, pemasok, dan stakeholders yang lain juga
telah terbukti lebih mendukung perusahaan yang dinilai bertanggung jawab sosial, sehingga
meningkatkan peluang pasar dan keunggulan kompetitifnya. Dengan segala kelebihan tersebut,

perusahaan yang menerapkan CSR akan menunjukkan kinerja yang lebih baik serta keuntungan
dan pertumbuhan yang meningkat.
Pada saat ini belum tersedia formula yang dapat memperlihatkan hubungan praktik CSR
terhadap keuntungan perusahaan sehingga banyak kalangan dunia usaha yang bersikap skeptis
dan menganggap CSR tidak memberi dampak atas prestasi usaha, karena mereka memandang
bahwa CSR hanya merupakan komponen biaya yang mengurangi keuntungan. Praktek CSR akan
berdampak positif jika dipandang sebagai investasi jangka panjangang. Karena dengan
melakukan praktek CSR yang berkelanjutan, perusahaan akan mendapat tempat di hati dan ijin
operasional dari masyarakat, bahkan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan
berkelanjutan.
Januari 2005, dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, melalui Global Governance
Initiative, kalangan bisnis diajak memikirkan soal kemiskinan melalui praktik CSR. Pada tanggal
8 - 9 September 2005 bertempat di Jakarta, Indonesia menjadi tuan rumah AFCSR (Asian Forum
for Corporate Social Responsibility) yang memaparkan bagaimana CSR harus dipraktikkan oleh
bisnis di Asia. Terakhir, World Business Council for Sustainable Development (WBCSD)
menyatakan dalam sebuah side-event Pertemuan PBB New York (14-16/9), bahwa praktik CSR
adalah wujud komitmen dunia bisnis untuk membantu PBB merealisasikan target Millennium
Development Goals (MDGs).
2.2 Praktek CSR di Manca Negara
Di tingkat internasional, ada banyak prinsip yang mendukung praktik CSR di banyak
sektor. Misalnya Equator Principles yang diadopsi oleh banyak lembaga keuangan internasional.
Untuk menunjukkan bahwa bisnis mereka bertanggung jawab, di level internasional perusahaan
sebenarnya bisa menerapkan berbagai standard CSR seperti :

AccountAbilitya(AA1000) standard, yang berdasar pada prinsip Triple Bottom Linear


(Profit, People, Planet) yang digagas oleh John Elkington

Global Reporting Initiative (GRI) panduan pelaporan perusahaan untuk mendukung


pembangunan berkesinambungan yang digagas oleh PBB lewat Coalition for
Environmentally Responsible Economies (CERES) dan UNEP pada tahun 1997

Social Accountability International SA8000 standard

ISO 14000 environmental management standard

Kemudian, ISO 26000.4


Kesadaran tentang pentingnya mengimplementasikan CSR ini menjadi tren global seiring

dengan semakin maraknya kepedulian masyarakat global terhadap produk-produk yang ramah
lingkungan dan diproduksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial dan prinsip-prinsip hak
azasi manusia (HAM). Bank-bank di Eropa menerapkan kebijakan dalam pemberian pinjaman
hanya kepada perusahaan yang mengimplementasikan CSR dengan baik. Sebagai contoh, bankbank Eropa hanya memberikan pinjaman pada perusahaan-perusahaan perkebunan di Asia
apabila ada jaminan dari perusahaan tersebut, yakni ketika membuka lahan perkebunan tidak
dilakukan dengan membakar hutan.
Tren global lainnya dalam pelaksanaan CSR di bidang pasar modal adalah penerapan
indeks yang memasukkan kategori saham-saham perusahaan yang telah mempraktikkan CSR.
Sebagai contoh, New York Stock Exchange memiliki Dow Jones Sustainability Index (DJSI)
bagi saham-saham perusahaan yang dikategorikan memiliki nilai corporate sustainability dengan
salah satu kriterianya adalah praktik CSR. Begitu pula London Stock Exchange yang memiliki
Socially Responsible Investment (SRI) Index dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) yang
memiliki FTSE4Good sejak 2001. Inisiatif ini mulai diikuti oleh otoritas bursa saham di Asia,
seperti di Hanseng Stock Exchange dan Singapore Stock Exchange. Konsekuensi dari adanya
indeks-indeks tersebut memacu investor global seperti perusahaan dana pensiun dan asuransi
yang hanya akan menanamkan dananya di perusahaan-perusahaan yang sudah masuk dalam
indeks.
Menghadapi tren global dan resistensi masyarakat sekitar perusahaan, maka sudah
saatnya setiap perusahaan memandang serius pengaruh dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan
dari setiap aktivitas bisnisnya, serta berusaha membuat laporan setiap tahunnya kepada
stakeholdernya. Laporan bersifat non financial yang dapat digunakan sebagai acuan oleh
perusahaan dalam melihat dimensi sosial, ekonomi dan lingkungannya.

Di Uni Eropa pada tanggal 13 Maret 2007, Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi
berjudul Corporate Social Responsibility: A new partnership yang mendesak Komisi Eropa
untuk meningkatkan kewajiban yang terkait dengan persoalan akuntabilitas perusahaan seperti
tugas direktur (directors duties), kewajiban langsung luar negeri (foreign direct liabilities) dan
pelaporan kinerja sosial dan lingkungan perusahaan (environmental and social reporting).
Banyak pihak menyambut gembira perkembangan ini. Semakin lama semakin disadari bahwa
walaupun perusahaan (sektor bisnis) selama ini sudah berkontribusi sangat positif terhadap
pembangunan dunia, pada saat yang sama perusahaan harus diminta semakin bertanggung jawab.
Karena, upaya memupuk laba cenderung (meski tidak selalu) mengabaikan tanggung jawab
sosial.
Di Inggris, sudah lama perusahaan diikat dengan kode etik usaha. Dan karena sudah ada
banyak aturan dan undang-undang yang mengatur praktik bisnis di Inggris, maka tidak
diperlukan UU khusus CSR. Sekedar diketahui, perusahaan di Inggris ini tidak lepas dari
pengamatan publik (masyarakat dan negara) karena harus transparan dalam praktik bisnisnya.
Publik

bisa

protes

terbuka

ke

perusahaan

jika

perusahaan

merugikan

masyarakat/konsumen/buruh/lingkungan. Melihat perkembangan ini, tahun lalu, disahkan


Companies Act 2006 yang mewajibkan perusahaan yang sudah tercatat di bursa efek untuk
melaporkan bukan saja kinerja perusahaan (kinerja ekonomi dan financial) melainkan kinerja
sosial dan lingkungan. Laporan ini harus terbuka untuk diakses publik dan dipertanyakan.
Dengan demikian, perusahaan didesak agar semakin bertanggung jawab.
Mac Oliver EA Marshal (Company Law Handbook Series, 1991) berpendapat,
perusahaan Amerika yang beroperasi di luar negeri diharuskan melaksanakan Sullivan Principal
dalam rangka melaksanakan Corporate Social Responsibilty, yaitu:

Tidak ada pemisahan ras (non separation of races) dalam makan, bantuan hidup dan
fasilitas kerja.

Sama dan adil dalam melaksanakan pekerjaan (equal and fair employment process).

Pembayaran upah yang sama untuk pekerjaan yang sebanding (equal payment
compansable work).

Program training untuk mempersiapkan kulit hitam dan non kulit putih lain sebagai
supervisi, administrasi , klerk, teknisi dalam jumlah yang substansial.

Memperbanyak kulit hitam dan non kulit putih lain dalam profesi manajemen dan
supervisi.

Memperbaiki tempat hidup pekerja di luar lingkungan kerja seperti perumahan,


transportasi, kesehatan, sekolah dan rekreasi.5
Implementasi CSR di beberapa negara bisa dijadikan referensi untuk menjadi contoh

penerapan CSR. Australia, Kanada, Perancis, Jerman, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat
telah mengadopsi code of conduct CSR yang meliputi aspek lingkungan hidup, hubungan
industrial, gender, korupsi, dan hak asasi manusia (HAM). Berbasis pada aspek itu, mereka
mengembangkan regulasi guna mengatur CSR. Australia, misalnya, mewajibkan perusahaan
membuat laporan tahunan CSR dan mengatur standardisasi lingkungan hidup, hubungan
industrial, dan HAM. Sementara itu, Kanada mengatur CSR dalam aspek kesehatan, hubungan
industrial, proteksi lingkungan, dan penyelesaian masalah sosial.
Di beberapa negara dibutuhkan laporan pelaksanaan CSR, walaupun sulit diperoleh
kesepakatan atas ukuran yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam aspek sosial.
Sementara aspek lingkunganapalagi aspek ekonomimemang jauh lebih mudah diukur. Banyak
perusahaan sekarang menggunakan audit eksternal guna memastikan kebenaran laporan tahunan
perseroan yang mencakup kontribusi perusahaan dalam pembangunan berkelanjutan, biasanya
diberi nama laporan CSR atau laporan keberlanjutan. Akan tetapi laporan tersebut sangat luas
formatnya, gayanya dan metodologi evaluasi yang digunakan (walaupun dalam suatu industri
yang sejenis). Banyak kritik mengatakan bahwa laporan ini hanyalah sekedar pemanis bibir
(suatu basa-basi), misalnya saja pada kasus laporan tahunan CSR dari perusahaan Enron dan juga
perusahaan-perusahaan rokok. Namun, dengan semakin berkembangnya konsep CSR dan
metode verifikasi laporannya, kecenderungan yang terjadi sekarang adalah peningkatan
kebenaran isi laporan. Bagaimanapun, laporan CSR atau laporan keberlanjutan merupakan upaya
untuk meningkatkan akuntabilitas perusahaan di mata para pemangku kepentingannya.

2.3 Penerapan Corporate Social Reporting di Indonesia


Salah satu bentuk dari tanggung jawab sosial perusahaan yang sering diterapkan di
Indonesia adalah community development. Perusahaan yang mengedepankan konsep ini akan
lebih menekankan pembangunan sosial dan pembangunan kapasitas masyarakat sehingga akan
menggali potensi masyarakat lokal yang menjadi modal sosial perusahaan untuk maju dan
berkembang. Selain dapat menciptakan peluang-peluang sosial-ekonomi masyarakat, menyerap
tenaga kerja dengan kualifikasi yang diinginkan, cara ini juga dapat membangun citra sebagai
perusahaan yang ramah dan peduli lingkungan. Selain itu, akan tumbuh rasa percaya dari
masyarakat. Rasa memiliki perlahan-lahan muncul dari masyarakat sehingga masyarakat
merasakan bahwa kehadiran perusahaan di daerah mereka akan berguna dan bermanfaat.
Kepedulian kepada masyarakat sekitar komunitas dapat diartikan sangat luas, namun
secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam
sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas.
CSR adalah bukan hanya sekedar kegiatan amal, di mana CSR mengharuskan suatu perusahaan
dalam pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibatnya
terhadap seluruh pemangku kepentingan(stakeholder) perusahaan, termasuk lingkungan hidup.
Hal ini mengharuskan perusahaan untuk membuat keseimbangan antara kepentingan beragam
pemangku kepentingan eksternal dengan kepentingan pemegang saham, yang merupakan salah
satu pemangku kepentingan internal.
Setidaknya ada tiga alasan penting mengapa kalangan dunia usaha mesti merespon dan
mengembangkan isu tanggung jawab sosial sejalan dengan operasi usahanya. Pertama,
perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan
memperhatikan kepentingan masyarakat. Kedua, kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya
memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme. Ketiga, kegiatan tanggung jawab sosial
merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindari konflik sosial
Pada saat ini di Indonesia, praktek CSR belum menjadi perilaku yang umum, namun
dalam abad informasi dan teknologi serta adanya desakan globalisasi, maka tuntutan terhadap
perusahaan untuk menjalankan CSR semakin besar. Tidak menutup kemungkinan bahwa CSR

menjadi kewajiban baru standar bisnis yang harus dipenuhi seperti layaknya standar ISO. Dan
diperkirakan pada akhir tahun 2009 mendatang akan diluncurkan ISO 26000 on Social
Responsibility, sehingga tuntutan dunia usaha menjadi semakin jelas akan pentingnya program
CSR dijalankan oleh perusahaan apabila menginginkan keberlanjutan dari perusahaan tersebut.
Pelaksanaan CSR di Indonesia sangat tergantung pada pimpinan puncak korporasi.
Artinya, kebijakan CSR tidak selalu dijamin selaras dengan visi dan misi korporasi. Jika
pimpinan perusahaan memiliki kesadaran moral yang tinggi, besar kemungkinan korporasi
tersebut menerapkan kebijakan CSR yang benar. Sebaliknya, jika orientasi pimpinannya hanya
berkiblat pada kepentingan kepuasan pemegang saham (produktivitas tinggi, profit besar, nilai
saham tinggi) serta pencapaian prestasi pribadi, boleh jadi kebijakan CSR hanya sekadar
kosmetik.
Penerapan CSR dimulai pada tahun 1993 - 1998 dimana pelaksanaan program CD
dijalankan oleh Public Relations dengan kegitan yang bersifat insidental dan kedermawanan.
Pada 1999 July 2005 kegiatan CD lebih mengarah ke penguatan komunitas di bawah
Departemen Community Development yang kemudian didirikan Community Development
Foundation. Pada November 2005 CSR Department terbentuk dan pada tahun 2007 dibentuk
Sustainability Director dan menandatangani The Global Compact untuk mendukung terwujudnya
tujuan-tujuan Millenium Development Goals (MDGs).
Perusahaan tersebut menyimpulkan bahwa melaksanakan bisnis di Indonesia memiliki
tantangan yang besar terutama untuk perusahaan extractive. Bisnis bukan hanya dilaksanakan
beyond compliance tapi harus juga melibatkan stakeholder (stakeholders engagement) .
Perusahaan tersebut berkomitmen untuk menjalankan usaha dengan mengutamakan prinsipprinsip sustainable management, Socio-economic contribution dan conservation and
environmental responsibility. CSR sebagai core competency dilakukan sebagai sebuah nilai yang
dilakukan oleh semua. Salah satu yang dilakukan perusahaan tersebut adalah melakukan
collaborative effort dengan LSM sebagai usaha untuk mengelola konflik dan isu sosial serta
ekonomi yang merupakan tiket untuk melakukan bisnis sehingga bisa menjanjikan bisnis yang
berkelanjutan.

2.4 Pelaporan dan pemeriksaan


Untuk menunjukkan bahwa perusahaan adalah warga dunia bisnis yang baik maka
perusahaan dapat membuat pelaporan atas dilaksanakannya beberapa standar CSR termasuk
dalam hal:

Akuntabilitas atas standar AA1000 berdasarkan laporan sesuai standar John Elkington
yaitu laporan yang menggunakan dasar triple bottom line (3BL)

Global Reporting Initiative, yang mungkin merupakan acuan laporan berkelanjutan yang
paling banyak digunakan sebagai standar saat ini.

Verite, acuan pemantauan

Laporan berdasarkan standar akuntabilitas sosial internasional SA8000

Standar manajemen lingkungan berdasarkan ISO 14000


Di beberapa negara dibutuhkan laporan pelaksanaan CSR, walaupun sulit diperoleh

kesepakatan atas ukuran yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam aspek sosial.
Sementara aspek lingkungan--apalagi aspek ekonomi--memang jauh lebih mudah diukur. Banyak
perusahaan sekarang menggunakan audit eksternal guna memastikan kebenaran laporan tahunan
perseroan yang mencakup kontribusi perusahaan dalam pembangunan berkelanjutan, biasanya
diberi nama laporan CSR atau laporan keberlanjutan. Akan tetapi laporan tersebut sangat luas
formatnya, gayanya dan metodologi evaluasi yang digunakan (walaupun dalam suatu industri
yang sejenis). Banyak kritik mengatakan bahwa laporan ini hanyalah sekedar "pemanis bibir"
(suatu basa-basi), misalnya saja pada kasus laporan tahunan CSR dari perusahaan Enron dan juga
perusahaan-perusahaan rokok. Namun, dengan semakin berkembangnya konsep CSR dan
metode verifikasi laporannya, kecenderungan yang sekarang terjadi adalah peningkatan
kebenaran isi laporan. Bagaimanapun, laporan CSR atau laporan keberlanjutan merupakan upaya
untuk meningkatkan akuntabilitas perusahaan di mata para pemangku kepentingannya
2.5 Alasan terkait bisnis (business case) untuk CSR

Skala dan sifat keuntungan dari CSR untuk suatu organisasi dapat berbeda-beda
tergantung dari sifat perusahaan tersebut. Banyak pihak berpendapat bahwa amat sulit untuk
mengukur kinerja CSR, walaupun sesungguhnya cukup banyak literatur yang memuat tentang
cara mengukurnya. Literatur tersebut misalnya metode "Empat belas poin balanced scorecard
oleh Deming. Literatur lain misalnya Orlizty, Schmidt, dan Rynes yang menemukan suatu
korelasi positif walaupun lemah antara kinerja sosial dan lingkungan hidup dengan kinerja
keuangan perusahaan. Kebanyakan penelitian yang mengaitkan antara kinerja CSR (corporate
social performance) dengan kinerja finansial perusahaan (corporate financial performance)
memang menunjukkan kecenderungan positif, namun kesepakatan mengenai bagaimana CSR
diukur belumlah lagi tercapai. Mungkin, kesepakatan para pemangku kepentingan global yang
mendefinisikan berbagai subjek inti (core subject) dalam ISO 26000 Guidance on Social
Responsibility--direncanakan terbit pada September 2010--akan lebih memudahkan perusahaan
untuk menurunkan isu-isu di setiap subjek inti dalam standar tersebut menjadi alat ukur
keberhasilan CSR.
Secara umum, alasan terkait bisnis untuk melaksanakan biasanya berkisar satu ataupun lebih dari
argumentasi di bawah ini:
Sumberdaya manusia
Program CSR dapat berwujud rekruitmen tenaga kerja dan memperjakan masyarakat
sekitar. Lebih jauh lagi CSR dapat dipergunakan untuk menarik perhatian para calon pelamar
pekerjaan, terutama sekali dengan adanya persaingan kerja di antara para lulusan. Akan terjadi
peningkatan kemungkinan untuk ditanyakannya kebijakan CSR perusahaan, terutama pada saat
perusahaan merekruit tenaga kerja dari lulusan terbaik yang memiliki kesadaran sosial dan
lingkungan. Dengan memiliki suatu kebijakan komprehensif atas kinerja sosial dan lingkungan,
perusahaan akan bisa menarik calon-calon pekerja yang memiliki nilai-nilai progresif. CSR dapat
juga digunakan untuk membentuk suatu atmosfer kerja yang nyaman di antara para staf, terutama
apabila mereka dapat dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang mereka percayai bisa
mendatangkan manfaat bagi masyarakat luas, baik itu bentuknya "penyisihan gaji",
"penggalangan dana" ataupun kesukarelawanan (volunteering) dalam bekerja untuk masyarakat.

Manajemen risiko
Manajemen risiko merupakan salah satu hal paling penting dari strategi perusahaan. Reputasi
yang dibentuk dengan susah payah selama bertahun-tahun dapat musnah dalam sekejap melalui
insiden seperti skandal korupsi atau tuduhan melakukan perusakan lingkungan hidup. Kejadiankejadian seperti itu dapat menarik perhatian yang tidak diinginkan dari penguasa, pengadilan,
pemerintah dan media massa. Membentuk suatu budaya kerja yang "mengerjakan sesuatu
dengan benar", baik itu terkait dengan aspek tata kelola perusahaan, sosial, maupun lingkungan-yang semuanya merupakan komponen CSR--pada perusahaan dapat mengurangi risiko
terjadinya hal-hal negatif tersebut..
Membedakan merek
Di tengah hiruk pikuknya pasar maka perusahaan berupaya keras untuk membuat suatu cara
penjualan yang unik sehingga dapat membedakan produknya dari para pesaingnya di benak
konsumen. CSR dapat berperan untuk menciptakan loyalitas konsumen atas dasar nilai khusus
dari etika perusahaan yang juga merupakan nilai yang dianut masyarakat. [7]. Menurut Philip
Kotler dan Nancy Lee, setidaknya ada dua jenis kegiatan CSR yang bisa mendatangkan
keuntungan terhadap merek, yaitu corporate social marketing (CSM) dan cause related
marketing (CRM). Pada CSM, perusahaan memilih satu atau beberapa isu--biasanya yang terkait
dengan produknya--yang bisa disokong penyebarluasannya di masyarakat, misalnya melalui
media campaign. Dengan terus menerus mendukung isu tersebut, maka lama kelamaan
konsumen akan mengenali perusahaan tersebut sebagai perusahaan yang memiliki kepedulian
pada isu itu. Segmen tertentu dari masyarakat kemudian akan melakukan pembelian produk
perusahaan itu dengan pertimbangan kesamaan perhatian atas isu tersebut. CRM bersifat lebih
langsung. Perusahaan menyatakan akan menyumbangkan sejumlah dana tertentu untuk
membantu memecahkan masalah sosial atau lingkungan dengan mengaitkannya dengan hasil
penjualan produk tertentu atau keuntungan yang mereka peroleh. Biasanya berupa pernyataan
rupiah per produk terjual atau proporsi tertentu dari penjualan atau keuntungan. Dengan
demikian, segmen konsumen yang ingin menyumbang bagi pemecahan masalah sosial dan atau
lingkungan, kemudian tergerak membeli produk tersebut. Mereka merasa bisa berbelanja
sekaligus menyumbang. Perusahaan yang bisa mengkampanyekan CSM dan CRM-nya dengan

baik akan mendapati produknya lebih banyak dibeli orang, selain juga mendapatkan citra sebagai
perusahaan yang peduli pada isu tertentu.
Ijin usaha
Perusahaan selalu berupaya agar menghindari gangguan dalam usahanya melalui perpajakan atau
peraturan. Dengan melakukan sesuatu 'kebenaran" secara sukarela maka mereka akan dapat
meyakinkan pemerintah dan masyarakat luas bahwa mereka sangat serius dalam memperhatikan
masalah kesehatan dan keselamatan, diskriminasi atau lingkungan hidup maka dengan demikian
mereka dapat menghindari intervensi. Perusahaan yang membuka usaha diluar negara asalnya
dapat memastikan bahwa mereka diterima dengan baik selaku warga perusahaan yang baik
dengan memperhatikan kesejahteraan tenaga kerja dan akibat terhadap lingkungan hidup,
sehingga dengan demikian keuntungan yang menyolok dan gaji dewan direksinya yang sangat
tinggi tidak dipersoalkan.
Motif perselisihan bisnis
Kritik atas CSR akan menyebabkan suatu alasan dimana akhirnya bisnis perusahaan
dipersalahkan. Contohnya, ada kepercayaan bahwa program CSR seringkali dilakukan sebagai
suatu upaya untuk mengalihkan perhatian masyarakat atas masalah etika dari bisnis utama
perseroan.

BAB III
KESIMPULAN
Akuntansi pertanggungjawaban merupakan topik yang perlu mendapat perhatian khusus
dari akuntan. Isu ini menjadi penting karena perusahaan perlu mempertanggungjawabkan
dampak aktivitas operasinya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini Akuntansi
ini menjadi penting karena perusahaan perlu menyampaikan informasi mengenai aktivitas social,
pertanggung jawaban social serta pelaoparannya kepada stakeholder perusahaan.
Jika dilihat dari sudut pandang global, sudah banyak perusahaan-perusahaan di dunia
yang menyadari akan pentingnya akuntansi pertanggung jawaban sosial dalam menjalankan
entitas bisnisnya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya perusahaan di dunia yang terus melakukan
perbaikan dan bersaing dengan perusahaan yang lain untuk menampilkan yang terbaik dari
perusahaannya.

Kepekaan

dan

kesadaran

perusahaan

akan

pentingnya

akuntansi

pertanggungjawaban social dituangkan dalam bentuk Corporate Social Reporting (CSR),


sehingga tidak sedikit dari perusahaan-perusahaan tersebut yang telah membuat dan
menyampaikan akuntansi pertanggungjawaban mereka dalam annual report (laporan tahunan).
Pada dasarnya penerapan CSR di Indonesia adalah hasil dari adopsi penerapan CSR dari
negara-negara lain. Dengan kata lain dalam perspektif global, perusahaan-perusahaan di dunia
sudah terlebih dulu menerapkan CSR dalam menjalankan entitas bisnisnya. Dalam hal ini,
praktek penggunaan CSR di negara-negara di dunia (lingkup internasional) sudah lama
diterapkan. Hal ini dikarenakan perusahaan-perusahaan tersebut menyadari pentingnya SCR
tidak hanya pada perusahaan namun juga kepada lingkungan dimana perusaan tersebut
menjalankan entitas bisnisnya. Selain itu pelaporan CSR di lingkup internasional sudah
diterapkan berdasarkan standart-standart yang berlaku umum. Tidak hanya itu, penerapan CSR
disuatu perusahaan juga memiliki beberapa alasan yang mendasar yang misalnya saja berkaitan
dengan sumberdaya, manajemen risiko, ijin usaha, motif perselisihan bisnis dan lain sebagainya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa CSR adalah penting untuk diterapkan dalam suatu
perusahaan mengingat aspek-aspek yang nantinya akan berpengaruh terhadap perusahaan itu
sendiri baik secara lokal ataupun global.

Daftar Pustaka