Anda di halaman 1dari 15

REKOMBINASI, REKOMBINASI PADA MAKHLUK HIDUP EUKARIOTIK DAN

ENZIM-ENZIM PADA PROSES REKOMBINASI


RESUME
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Genetika 2
yang dibina oleh Prof. Dr. Hj. Siti Zubaidah, M. Pd dan
Andik Wijayanto, S.Si,M.Si

Oleh
Kelompok 10
1
2

Alifa Rizki Nabila Putri (140342601363) / Offering G-GK


Gizella Ayu Wilantika (140342600832) / Offering G-GL

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI

OKTOBER 2016

BAB 7
REKOMBINASI: PENGERTIAN, HUBUNGAN DENGAN MUTASI, PERAN
TERHADAP PROSES EVOLUSI SERTA KEJADIANNYA
Dewasa

ini sudah ada pendapat yang menyatakan bahwa semua molekul DNA

merupakan DNA rekombinan (Watson, dkk., 1987). Dalam hubungan ini sudah ada kesadaran
bahwa rekombinasi bukanlah suatu kebetulan tetapi sebaliknya merupakan suatu proses seluler
esensial, yang dikatalisasi oleh enzim-enzim yang dikode oleh sel sendiri.
Pengertian Rekombinasi dan Hubungannya dengan Mutasi
Rekombinasi adalah peristiwa pembentukan suatu jenis asosiasi baru dari molekul DNA
atau kromosom. Asosiasi baru itu dapat juga terbentuk dari bagian-bagian molekul-molekul
DNA (kromosom). Rekombinasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses yang mengakibatkan
terbentuknya kombinasi-kombinasi gen yang baru pada kromosom.

Antara rekombinasi dan mutasi sebenarnya tidak ada hubungan, terkecuali bahwa kedua
peristiwa itu sama-sama menimbulkan perubahan materi genetik, dan memang beberapa
peristiwa rekombinasi juga menimbulkan perubahan fenotipik yang lazimnya merupakan
dampak mutasi. Secara fisik rekombinasi menyebabkan penataan kembali struktur materi
genetik.
Peran Rekombinasi terhadap Proses Evolusi

Pindah silang bersama dengan kombinasi secara bebas merupakan mekanismemekanisme yang menghasilkan kombinasi-kombinasi gen yang baru. Proses seleksi alam
selanjutnya hanya mempertahankan kombinasi-kombinasi tersebut. Rekombinasi memang
merupakan suatu mekanisme sumber variasi genetik. Evolusi mekanisme-mekanisme yang
mendorong perubahan genetik antar individu benar-benar nyata dalam biologi seluruh
organisme, mulai dari prokariot hingga eukariot tinggi.
Rekombinasi juga memungkinkan sel untuk memperbaiki urutan-urutan nukleotida yang
hilang disaat molekul DNA mengalami kerusakan akibat mutasi ataupun senyawa kimia dengan
cara mengganti bagian yang rusak dengan sepenggal unting DNA yang berasal dari kromosom
homolognya. Tipe rekombinasi tertentu ikut mengatur ekspresi gen.
Dua DNA yang terlibat pada peristiwa rekombinasi umumnya merupakan molekulmolekul berbeda yang mempunyai suatu daerah homolog. Pada daerah homolog itu urutanurutan nukleotida sama atau sekurang-kurangnya sangat mirip. Lebih lanjut, molekul-molekul itu
berjajar berdampingan, serta berinteraksi melalui pertukaran bagian-bagian polinukleotida yang
identik. Pertukaran bagian-bagian itu dikatalisasi oleh enzim endonuklease serta dibantu oleh
pergeseran unting yang berakibat terbentuknya suatu percabangan pindah silang. Di pihak lain
terbentunya percabangan pindah silang itu menimbulkan/menghasilkan suatu heteroduplex dan
pada heteroduplex itu polinukleotida yang terputus dibagi diantara kedua helix ganda. Celah atau
bagian yang terputus itu ditutup oleh enzim ligase DNA, dan selanjutnya unting-unting ditukar
melalui migrasi cabang; dalam hal ini titik pindah silang bermigrasi sepanjang kedua molekul.
Struktur yang berperan dalam rekombinasi disebut dengan Holliday Intermediate atau
recombination intermediate atau chi form. Struktur tersebut ditemukan pada E.coli khususnya
terkait dengan plasmid ColE1 sebagai hasil suatu proses in vivo.

Tampilan Holliday intermediate terlihat sebagai bentukan angka delapan yang terjadi
akibat persinggungan dua buah plasmid. Ada dua model yang berupaya menjelaskan pertukaran
unting yang asimetrik, dimana kedua model itu sama-sama menuju kepada pembentukan suatu
struktur Holliday, sekalipun melalui jalur yang berbeda. Kedua model tersebut adalah model
Meselson Radding serta model pemutusan unting ganda dan perbaikannya. Pada model
Meselson-Radding, rekombinasi diawali hanya oleh satu pemutusan unting pada salah satu pihak
dalam suatu pertukaran. Lebih lanjut sintesis DNA dalam rangka perbaikan ini mengganti suatu
unting tunggal yang menginvasi helix yang lain. Sintesis perbaikan bersama pada helix donor
serta degradasi unting DNA pada helix resipien menyebabkan terbentuknya suatu struktur
Holliday. Dalam hubungan ini DNA heteroduplex terdapat hanya pada helix resipien. Dalam
hubungan dengan perbaikan perpasangan yang salah, model ini bermanfaat untuk menjelaskan
kebanyakan observasi atas gene conversion maupun atas segregasi yang menyimpang pada
jamur. Pada model pemutusan unting ganda dan perbaikannya diduga bahwa rekombinasi
diawali oleh pembentukan suatu celah unting ganda. Ujung-ujung pada satu unting tunggal
menginvasi helix yang lain. Sintesis DNA berikutnya dalam rangka perbaikan pada kedua helix
mengarah ke daerah-daerah DNA heteroduplex yang asimetrik pada helix resipien maupun
mengarah ke perbaikan celah pada helix donor melalui pergantian total dengan acuan informasi
pada helix resipien. Dalam hal ini terbentuklah sepasang struktur Holliday yang resolusinya
dapat menuju ke pasangan yang dapat atau tidak dapat menjadi rekombinan bagi penanda
samping. Model ini tidak hanya menjelaskan sejumlah observasi khas berkenaan dengan

rekombinasi pada khamir, tetapi juga observasi yang dapat dijelaskan dengan baik melalui model
Meselson-Radding.

BAB 8
REKOMBINASI PADA MAKHLUK HIDUP EUKARIOTIK
Pindah silang umumnya terjadi salama meiosis pada semua makhluk hidup berkelamin
betina maupun jantan dan antara semua pasangan kromosom homolog.
Pindah Silang pada Meiosis Makhluk Hidup Eukariotik
Peristiwa pindah silang sudah jelas diketahui terjadi selama sinapsis dari kromosomkromosom homolog pada zygoten dan pachiten dari profase I meiosis (Gardner, dkk.,
1984). Gardner dkk. (1984) menyatakan pula bahwa karena replikasi kromosom berlangsung
selama interfase, maka peristiwa pindah silang itu terjadi pada tahap tetrad pasca replikasi pada
saat tiap kromosom telah mengganda, sehingga telah terbentuk empat kromatid untuk tiap
pasang kromosom homolog.
Peristiwa pindah silang terjadi antara keempat kromatid itu, tetapi yang terjadi antara dua
kromosom sesaudara (dari satu kromosom) jarang dapat dideteksi. Pindah silang juga mencakup
kromatid-kromatid sesaudara (dua kromatid dari satu kromosom), tetapi pindah silang tersebut
secara genetik jarang dapat dideteksi karena kromatid-kromatid sesaudara biasanya identik
(Gardner, 1984). Peristiwa pindah silang yang secara genetik mudah dideteksi adalah yang
berlangsung antara dua kromatid bukan saudara (non-sister chromatid).

Pada individu jantan dalam banyak jenis Diptera, termasuk dalam marga Drosophila,
peristiwa pindah silang tidak pernah terjadi.
Pindah Silang pada Makhluk Hidup Eukariotik Berlangsung Selama Tahap Tetrad Pasca
Replikasi
Bukti bahwa peristiwa pindah silang lebih sering terjadi setelah duplikasi kromosom
daripada mendahului duplikasi, paling mudah diperoleh dengan mempelajari kelas jamur
Ascomycetes, khususnya N.crassa. N.crassa memiliki sifat tertentu yang menjadikannya sangat
cocok dalam pengkajian tertentu di bidang genetika, diantaranya:
1. Meiosis berlangsung setelah fusi kedua inti haploid dari dua tipe kelamin (mating type)
yang menyebabkan terbentuknya satu inti diploid.
2. Ascospora-ascospora (haploid) hasil meiosis tersusun secara linier di dalam struktur
tabung yang disebut ascus dimana tiap ascus mengandung empat ascospora hasil dari satu
kejadian meiosis.
3. Ascospora-ascospra haploid tumbuh dan berkembang menghasilkan miselia multiseluler,
yang seluruh selnya tetap haploid sehingga keberadaan alela penanda yang resesif tidak
tertutup oleh alela-alela dominan.
4. Dapat tumbuh pada suatu medium buatan sederhana yang hanya mengandung garamgaram anorganik, suatu sumber karbohidrat (biasanya sukrosa), serta satu senyawa
organik lain (vitamin biotin).
5. Perkembangbiakannya secara kawin maupun tak kawin, dalam hal ini strain bergenotip
tertentu dapat dipertahankan.
Tiap ascospora pada N.crassa dapat diisolasi, ditumbuhkan, dan dipelajari ciri-cirinya
(miselium). Dari satu ascus diperoleh empat data (dari tempat ascospora yang sudah
ditumbuhkan) Data ini disebut data tetrad. Analisis atas data tetrad menunjukkan bahwa
peristiwa pindah silang lebih sering terjadi sesudah replikasi/duplikasi (pada tahap tetrad)
daripada mendahului replikasi. Apabila peristiwa pindah silang terjadi sebelum replikasi
(ataupun duplikasi), semua hasil (semua ascospora) dari suatu meiosis pasti memperlihatkan ciri
tipe rekombinan. Akan tetapi, jika pindah silang terjadi setelah replikasi (pada tahap tetrad),
maka hanya dua dari empat hasil suatu meiosis yang memperlihatkan tipe rekombinan.

Pemetaan Kromosom
Pengkajian pindah silang oleh A.H. Sturtevant berhasil membuktikan bahwa faktor-faktor
(gen) tersusun secara linier sepanjang kromosom. A.H. Sturtevant juga berhasil memanfaatkan
data frekuensi rekombinan (akibat peristiwa pindah silang) untuk kepentingan pembuatan peta
kromosom.

Pertukuran

bagian-bagian

antara

kromosom-kromosom

homolog

memang

menyebabkan perubahan posisi faktor (gen) tertentu dari suatu kromosom pasangan
homolognya. Keadaan ini mengakibatkan munculnya tipe turunan yang bukan tipe parental, yang
disebut tipe rekombinan.
Peta kromosom yang pertama kali dibuat oleh A.H. Sturtevant adalah peta kromosom
kelamin X Drosophila melanogaster. Pada Drosophila, pindah silang hanya terjadi selama
meiosis pada individu betina.
Satuan jarak yang digunakan untuk memperlihatkan posisi faktor satu dengan yang
lainnya pada suatu kromosom disebut sebagai unit peta (map unit), dimana satu unit peta setara
dengan 1% frekuensi rekombinan. Satuan unit peta biasanya ditulis dalam simbol mu (map unit)
ataupun cM (centi Morgan).
1. Pemetaan Kromosom yang Memanfaatkan Sarana Persilangan Trihibridisasi
Contoh dari persilangan trihibridisasi pada D.melanogaster yang
memperlihatkan ketiga faktor (gen) terpaut pada satu kromosom. Hal
ini akan diperlihatkan pada persilangan trihibridisasi antara strain n++
+ >< strain ywm.
Pada delapan gamet persilangan testcross menunjukkan bahwa
ketiga faktor gen terletak pada kromosom yang berlainan. Akan tetapi

perhitungan frekuensi tipe-tipe rekombinan memperlihatkan gambaran


bahwa frekuensi tipe rekombinan semacam tersebut terjadi karena
faktor-faktor itu terletak pada satu kromosom. Dengan demikian,
terbukti bahwa semua tipe rekombinan tidak dapat terbentuk sendirisendiri satu sama lain.
2. Interferensi Genetik
Menurut Ayla (1984) apabila letak faktor tidak terlalu jauh maka frekuensi
rekombinan dapat dipandang sebagai suatu perkiraan probabilitas bahwa suatu peritiwa
rekombinasi akan terjadi antara faktorfaktor ini.
Nilai interferensi dapat dihitung dengan dengan cara 1 = 1 c. Besaran c merupakan
koefisien koinsiden yang merupakan hasil bagi (rasio) antara frekuensi peristiwa
rekombinasi ganda yang terjadi dan yang diharapkan. Interferensi yang memiliki nilai
rentang 0 1 disebut dengan interferensi positif. Nilai interferensi positif menunjukkan
bahwa pindah silang pertama mempengaruhi kejadian pada pindah silang kedua yang
berlansung di dekatnya. Apabila nilai koefisien koinsiden lebih besar dari 1 maka pindah
silang pertama dapat meningkatkan peluang pindah silang yang berlangsung didekatnya.
Pada keadan tersebut maka disebut dengan interferensi negatif.
Rekombinasi Somatik
Russel (1992) menyatakan bahwa pada mamalia ditemukan lima kelas protein antibodi
yaitu Ig A, Ig D, Ig E, Ig G, dan Ig M. Setiap kelompok antibodi tersebut memiliki rantai H
(Heavy) yang berbeda yaitu alpha, delta, epsilon, gamma, dan mu. Dan juga ditemukan rantai L
(light) yaitu K (kappa) dan (lambda).
Keberagaman rantai L ataupun rantai H terbentuk melalui rekombinasi somatik. Pada
rekombinsi ini terjadi penataan kembali molekul DNA, yang meliputi penyambungan berbagai
segmen gen membentuk suatu gen, yang kemudian ditranskripsikan menghasilkan suatu rantai
lg. Proses rekombinasi genetic itu sudah berlangsung selama perkembangan sel B.
Rekombinasi Somatik Gen Pengkode Polipeptida rantai L (daerah V)
Tiga tipe segmen gen DNA garis benih mencit pengkode polipeptida K rantai L:
1. Segmen L-Vk, yang terdiri dari sebuah urut-urutan pengarah (leader sequence atau L).
Segmen Vk mengkode sebagian besar asam amino daerah variabel polipeptida yang
berperan sebagai sinyal sekresi molekul Ig.

2. Suatu segmen Ck yang mengkode asam amino polipeptida K daerah konstan rantai L.
3. Segmen-segmen Jk yang menghubungkan segmen-segmen Vk dan Ck yang dibutuhkan
untuk membentuk suatu gen polipeptida K rantai L yang fungsional.
Pada ketiga segmen gen tersebut diketahui bahwa pada sel induk B atau sel pra B,
segmen-segmen L- Vk, Jk dan Ck tersebar luas pada kromosom. Pada setiasp segmen L- V k
memiliki ukuran panjang 400 pasang nukleotida dan tersusun dengan jarak satu sama lain 7
kb. Segmen-segmen Jk berukuran panjang 30 pasang nukleotida dan tersusun dengan jarak
satu sama lain 20 kb. Adapula intron berukuran 2-4 kb yang memisahkan segmen J k dan
segmen Ck.
Rekombinasi Somatik Gen Pengkodean Polipeptida rantai H (daerah V)
Pada mencit gen pengkode polipeptida rantai H dibentuk oleh segmen-segmen V H, CH,
dan JH. Keaberagaman tambahan ini disebabkan oleh suatu segmen gen D (diversity). Gen D
tersebut terletak antara segmen VH dan JH.
Rekombinasi Mitosis
Pada beberapa organisme pindah silang dapat berlangsung selama mitosis, seperti pada
saat meiosis. Pindah silang pada mitosis terjadi pada suatu tahap yang serupa atau mirip dengan
tahap tetrad meiosis. Dalam hal ini dinyatakan bahwa (sangat jarang) sesudah tiap kromosom
mengalami replikasi, mendahului metaphase, dua kromatid yang berasal dari tiap kromosom
induk jatan maupun betina berkumpul membentuk suatu tetrad yang analog dengan bentukan
tetrad saat meiosis, dan pada tahap itulah pindah silang dapat terjadi.
Pada Aspergillus meskipun biasanya tahap vegetatif tergolong haploid, ternyata beberapa
sel melakukan fusi. Hasil fusi yang berupa sel-sel diploid kemudian akan membelah secara
mitosis. Pada Drosophila juga mengalami hal tersebut, selama tahap diploid kadang-kadang
terjadi pindah silang diantara gen-gen yang terpaut sehingga menghasilkan sel-sel rekombinan.
Rekombinasi pada Organel
Rekombinasi tidak hanya terbatas pada gen dalam kromosom, tetapi juga melibatkan gen
somatik pada organela seperti mitokondria dan sebagainya. Hal ini ditunjukkan pada persilangan
Clamidomonas yang peka dan tidak peka terhadap antibiotik neamin dan streptomisin hasilnya
berupa 20% diantaranya merupakan tipe rekombinan padahal gen yang terkait terletak pada
genom kloroplas yang sirkuler.

BAB 9
ENZIM-ENZIM PADA PROSES REKOMBINASI
Mutan Sel F E.coli yang tidak dapat mengalami rekombinasi setelah berkonjugasi dengan
sel Hrf pada replica plate ada hubungannya dengan tiga gen yang disebut recA, recB, recC.
Enzim-enzim yang Dikode Gen recA, recB dan recC
Protein recA merupakan suatu enzim yang berperan dalam rekombinasi umum maupun
pada perbaikan DNA termasuk pada E. coli. Protein (dalam kondisi in vitro) tersebut berfungsi
sebagai pengkatalisis pembentukan struktur Holliday (struktur jembatan silang) dengan berikatan
pada molekul DNA unting ganda maupun unting tunggal (suatu transfer unting) diikuti dengan
migrasi dari struktur Halliday tadi. Selain itu protein recA juga memiliki fungsi untuk membuka
DNA unting ganda untuk kemungkinan terjadinya perpasangan dengan suatu DNA unting
tunggal menggunakan energy dari hidrolisis ATP. Sehingga menyebabkan suatu sinapsis molekul
DNA yang memiliki urutan pasangan nukleotida yang mirip. Serta untuk perbaikan DNA saat
E.coli diberikan perlakuan UV ataupun agen-agen kimia dengan cara memperantarai perbaikan
oleh rekombinasi antara daerah yang rusak dan tidak rusak dari molekul DNA turunan pasca
replikasi. Fungsi ini diaktivasi oleh DNA unting tunggal dimana protein recA akan memotong
setidaknya 2 molekul repressor yaitu repressor profag lambda yang menyebabkan induksi profag
dan repressor yang berfungsi dalam tingkat ekspresi gen yang terlibat dalam perbaikan DNA dan
fungsi survival (SOS) produk dari gen lex A.
Fungsi gen recB dan recC yaitu mengkode dua sub unit suatu nuclease (sebagai resolvase
yang memeotong jembatan silang pada struktur Halliday saat proses rekombinasi) yang
tergantung pada ATP. Ketidakadaan produk kedua gen ini (enzim) berkurangnya ratusan hasil
rekombinan. Kompleks kedua enzim (recBC) memiliki aktivitas membuka DNA (hanya pada
DNA yang memiliki suatu ujung dupleks yang bebas) dan aktivitas nuclease sehingga
memunculkan DNA unting tunggal yang mempunyai suatu ujung bebas yang mana akan
mendoroh enzim recA mulai melaksanakan reaksi perpasangan.
Enzim pada insersi ke dalam Genom E. coli yang Terjadi Melalui Rekombinasi

Fag mengkode enzim integrase yang berperan pada saat insersi DNA fag ke dalam
genom E.coli. Insersi tersebut terjadi melalui rekombinasi pada tapak-tapak spesifik di ke dua
genom

DNA, dan hasil insersi melalui rekombinasi itu adalah terbentuknya satu molekul sirkuler baru
yang lebih besar.

Selain enzim integrase, insersi genom fag ke dalam genom E.coli juga membutuhkan
protein IHF (Integration Host Factor) serta ion-ion magnesium. Tapak-tapak yang menjadi
tempat berlangsungnya rekombinasi dalam rangka insersi itu adalah attP (pada genom fag ) dan
attB (pada genom E.coli). Enzim integrase dipastikan dapat berperan pada proses penggabungan,
yang pada akhirnya berakibat terbentuknya dua molekul DNA yang terpisah-pisah. Enzim
integrase pada kenyataannya juga dapat berperan sebagai suatu enzim topoisomerase, dimana
enzim integrase membuat suatu pemutusan dalam posisi menyamping (tidak berhadapan) dan
jarak antara kedua tempat yang terpotong adalah sejauh 7 nukleotida. Pemutusan unting DNA ini
terjadi pada tapak attP maupun attB.

Tapak attP terdiri dari 250 pasang nukleotida; sedangkan tapak attB terdiri dari sekitar 20
pasang nukleotida. Baik enzim integrase maupun protein IHF berikatan pada posisi yang berbeda
sepanjang tapak attP. Kebanyakan daerah inti tapak attB maupun attP terdiri dari 15 pasang
nukleotida. Jika urut-urutan inti pada tapak attP maupun attB sedikit mengalami perubahan
(sendiri-sendiri), laju rekombinasi sangat berkurang. Tetapi jika sedikit perubahan itu terjadi
pada tapak attP maupun attB (identik), maka rekombinasi masih berlangsung efisien. Kenyataan
seperti itu menunjukkan bahwa enzim integrase membutuhkan suatu homologi urut-urutan pada
daerah inti yang merupakan tempat pengikatannya. Meskipun belum diketahui bagaimana enzim
integrase mendeteksi homologi diantara unting-unting ganda sebelum dipotong dan dibuka.
Selain itu, ketika suatu profag diinduksi untuk tumbuh, maka keadaannya yang terintegrasi
akan beralih dan peristiwa itu disebut eksisi. Profag

memulai eksisi dengan cara

mengekspresikan protein eksiokinase yang memungkinan enzim integrase mengkatalisasi


rekombinasi yang melibatkan tapak-tapak pelekatan hibrid dan profag.

Pertanyaan
Nama : Alifa Rizki Nabila Putri
NIM
1

: 140342601363

Jelaskan fungsi enzim recA, recB, dan recC dalam mengkatalisasi kejadian rekombinasi !

Jawab:
Enzim-enzim recA, recB, dan recC dalam kondisi in vitro sudah terbukti mengkatalisasi struktur
Holliday, recA juga berperan dalam perbaikan DNA. Enzim recB dan recC baru bekerja setelah
recA bekerja. Fungsi recB dan recC adalah berupa nuklease yang berperan sebagai suatu

resolvase, yang membuka lilitan DNA dan memotong struktur Holliday sehingga terbentuk
unting tunggal DNA.
2

Jelaskan perbedaan model Meselson-Radding dan model pemutusan unting ganda dan
perbaikannya pada pertukaran unting yang asimetrik!

Jawab :
Pada model Meselson-Radding, rekombinasi diawali hanya oleh satu pemutusan unting pada
salah satu pihakdalam suatu pertukaran. Lebih lanjut sintesis DNA dalam rangka perbaikan ini
mengganti suatu unting tunggal yang menginvasi helix yang lain. Sintesis perbaikan bersama
pada helix donor serta degradasi unting DNA pada helix resipien menyebabkan terbentuknya
suatu struktur Holliday. Dalam hubungan ini DNA heteroduplex terdapat hanya pada helix
resipien. Pada model pemutusan unting ganda dan perbaikannya diduga bahwa rekombinasi
diawali oleh pembentukan suatu celah unting ganda. Ujung-ujung pada satu unting tunggal
menginvasi helix yang lain. Sintesis DNA berikutnya dalam rangka perbaikan pada kedua helix
mengarah ke daerah-daerah DNA heteroduplex yang asimetrik pada helix resipien maupun
mengarah ke perbaikan celah pada helix donor melalui pergantian total dengan acuan informasi
pada helix resipien. Dalam hal ini terbentuklah sepasang struktur Holliday yang resolusinya
dapat menuju ke pasangan yang dapat atau tidak dapat menjadi rekombinan bagi penanda
samping. Model ini tidak hanya menjelaskan sejumlah observasi khas berkenaan dengan
rekombinasi pada khamir, tetapi juga observasi yang dapat dijelaskan dengan baik melalui model
Meselson-Radding.

Nama : Gizella Ayu Wilantika


NIM
1

: 140342600832
Apakah ada hubungan antara rekombinasi dalam mutasi terhadap evolusi?

Jawab: rekombinasi dan mutasi merupakan suatu peristiwa yang tidak


berhubungan. Akan tetapi, kedua peristiwa tersebut menyebabkan
perubahan materi genetik sehingga juga menyebabkan perubahan
fenotip. Rekombinasi adalah suatu peristiwa yang dikatalis oleh enzim
yang dihasilkan oleh sel itu sendiri sehingga menyebabkan penataan
atau pengaturan kembali struktur materi genetik, sedangkan mutasi
adalah suatu peristiwa yang diakibatkan oleh pajanan baik berupa
pajanan fisika, kimia maupun biologi. Dengan demikian, antara
rekombinasi dan mutasi tidak terdapat hubungan satu sama lain.
2

Apakah fungsi dari gen recB dan recC?


Jawab: Fungsi gen recB dan recC yaitu mengkode dua sub unit suatu nuclease (sebagai
resolvase yang memeotong jembatan silang pada struktur Halliday saat proses
rekombinasi) yang tergantung pada ATP. Ketidakadaan produk kedua gen ini (enzim)
berkurangnya ratusan hasil rekombinan.