Anda di halaman 1dari 2

Nama: Hari Mulia Atmaja

No
: 14

Agresi Modern,
Perilaku Agresif &
Aggressive Tax

Agresi dan Agresif adalah dua kata yang bermakna positif dalam memacu semangat
kita berkarya dan beraktivitas. Mereka akan menggerakkan kita untuk maju saat bermalasmalasan terasa lebih menggoda dan untuk terus melangkahkan kaki saat yang lain pasif dan
nyaman dengan dunianya sendiri. Mereka hidup di lingkungan yang menuntut kesuksesan
dan kemewahan. Akan tetapi, mereka dipandang negatif oleh komunitas masyarakat dunia.
Pengalaman historis menentang agresi yang mengusik dan merantai kebebasan. Aspek
psikologis menentang perilaku yang agresif karena cenderung berulah sebagai trouble maker.
Lalu, bagaimana dengan Aggresiveness Tax?. Mari kita ulik dan kupas bukan hanya dari
perspektif keuangan saja, namun juga dari persektif historis dan psikologis.
Agresi modern tidak lagi mengerahkan serangan militer. Agresi modern tidak juga
dilakukan oleh satu negara. Agresi modern dilakukan dengan mengeruk kekayaan dan harta
benda negara lain dengan cara yang modern dan elegan. Agresi modern memiskinkan negara
yang dijajah. Penghindaran atau pengelakan pajak yang dilakukan oleh korporasi atau
pengusaha secara implisit turut memiskinkan negara dengan berkurangnya penerimaan kas
negara dan tidak berjalannya roda perekonomian secara kondusif. Pengusaha menggunakan
aggressive accounting sebagai salah satu bentuk creative accouting, permainan angka-angka
dalam laporan keuangan. Alhasil, pengusaha tersebut memperoleh keuntungan yang lebih
besar dibandingkan pengusaha yang jujur.
Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim, menyatakan bahwa:
When taxes are evaded, when state assets are

taken and put into these havens, all of these


things can have a tremendous negative effect
on our mission to end poverty and boost
prosperity

Agresif identik dengan ofensif, yaitu bersifat atau bernafsu untuk menyerang. Agresif
diperlukan dalam memenangkan pertandingan. Agresif juga diperlukan untuk memajukan

perusahaan. Namun, hal ini berlawanan dengan agresif terkait hubungan antara akuntansi
dengan perpajakan. Frank, et al (2004, 2) menyatakan bahwa Perusahaan yang terlibat
dalam pelaporan keuangan yang agresif (menaikkan laba) juga terlibat dalam pelaporan pajak
secara agresif (menurunkan laba). Dua sisi yang saling berkontradiksi ternyata memiliki
kesamaan tujuan, yaitu menguntungkan pengusaha dan merugikan negara.
Mengobrol tentang psikologi dalam perpajakan tidak lepas dengan jurnal yang
diterbitkan oleh Erich Kirchler (2007) tentang The Psychology of Tax Behaviour yang
berkaitan dengan pengaruh faktor psikologis, sosial dan perilaku dalam kepatuhan pajak.
Erich Kirchler lebih lanjut menyatakan bahwa sebagian besar lebih memilih menjadi honest
taxpayers daripada tax evaders, sehingga yang berperilaku agresif hanya sebagian kecil.

Agresi, Agresif dan Aggressive Tax pada akhirnya merupakan tiga serangkai kata yang
berkonotasi negatif dalam dunia akuntansi dan perpajakan. Memang, perusahaan dan
pengusaha yang agresif maju dan sukses dalam bisnisnya. Tetapi, perlu dicatat bahwa
kesuksesan tersebut diraih dengan cara yang licik. Mereka tak ubahnya sama dengan
penjajah era modern yang melakukan agresi keuangan secara agresif yang menggunakan
aggressive accounting dan aggressive tax sebagai senjata perangnya yang telah berhasil
memiskinkan negara yang dijajahnya.
Sebagai Menteri Keuangan di negara asal saya
Indonesia, saya melihat langsung bagaimana
sistem pajak yang lemah telah mengikis
kepercayaan publik. Penghindaran pajak oleh
kaum elite adalah sebuah praktik umum sehingga
negara tidak bisa memobilisasi sumber daya yang
dibutuhkan untuk membangun infrastruktur,
menciptakan lapangan kerja, dan memerangi
kemiskinan