Anda di halaman 1dari 12

Bab I

Pendahuluan

I.1 Latar Belakang


Daerah Sumatera merupakan salah satu daerah yang memiliki tatanan geologi
sangat kompleks, baik dari segi sedimentologi, vulkanologi, tektonik dan potensi
sumber daya alamnya. Tatanan tektonik yang terbentuk di sepanjang Sumatera
seperti pembentukan Sesar Besar Sumatera yang memotong jalur magmatisme
Tersier di Sumatera dan cekungan busur belakang serta munculnya rentetan
pegunungan aktif di bagian magmatic arc secara umum berasosiasi dengan sistem
hidrotermal. Sistem hidrotermal merupakan sistem yang berhubungan dengan
aktivitas magmatik yang berperan penting terhadap munculnya potensi panas
bumi di wilayah Sumatera.

Sistem hidrotermal bisa diidentifikasi dari produknya berupa alterasi hidrotermal


dan aktivitasnya. Pada sistem hidrotermal yang telah lampau biasanya diikuti oleh
pembentukan mineral alterasi yang sering berasosiasi dengan mineral ekonomis
dalam bentuk endapan bijih. Sedangkan yang masih aktif biasanya berkaitan
dengan aktifitas panas bumi berupa manifestasi panas bumi. Selanjutnya kondisi
hidrologi yang terbentuk bisa menjadikan terbentuknya beragam sistem panas
bumi. Klasifikasi hidrologi bisa dibagi menjadi dua lingkungan pembentukan,
yaitu di darat dan laut. Di lingkungan darat sendiri bisa dikelompokkan lagi
menjadi dua bagian, yaitu daerah gunungapi strato dan daerah cekungan.
Sedangkan di daerah laut dibagi menjadi magmatik dan air laut (Henley and Ellis,
1983).

Studi ini dibatasi pada lingkungan darat dengan kontrol pull apart basin sebagai
hasil dari Sistem Sesar Sumatera. Hal ini dikarenakan lokasi penelitian yang
berada pada bagian tengah sub-graben Sesar Sumatera yang diapit oleh dua
aktifitas vulkanik muda yaitu G.Talamau di selatan dan G.Sorik Marapi di utara.
Cekungan yang terbentuk akibat proses tektonik tersebut dianggap menyimpan

akumulasi material densitas rendah, dan umumnya cekungan yang terbentuk


cukup tebal. Densitas rendah pada bagian kerak benua bisa diartikan bahwa intrusi
magmatiknya lebih dalam karena adanya perbedaan kontras densitas pada batuan
magmatik tidak mampu mengangkat tubuh intrusi diapirnya lebih ke atas. Hal
tersebut mengakibatkan magmanya membentuk jalur tersendiri pada bagian
tengah basin (Lawless et al., 1995). (Gambar I.1.)

Gambar I.1. Model skematik dari sistem hidrotermal pada cekungan di lingkungan darat
(Lawless et al., 1995)

Pola di atas diperkirakan sebagai model dari aktifitas hidrotermal di daerah


penelitian bila didasarkan oleh kondisi morfologi yang berupa graben / depresi
Cubadak, hasil analisis kimia dan fisika manifestasi serta pengukuran nilai
densitas batuan pada metode gaya berat.

Kondisi Kabupaten Pasaman saat ini dinilai kurang dalam pemenuhan kebutuhan
energinya terutama suplai tambahan kebutuhan listrik yang saat ini hanya berasal
dari pembangkit listrik yang berada di Bukit Tinggi. Data potensi panas bumi di
Sumatera Barat diperkirakan 1656 Mwe, untuk daerah Cubadak 100 Mwe
(spekulatif), 73 Mwe (hipotetis), (Pusat Sumber Daya Geologi, 2007).

Kegiatan penelitian dikonsentrasikan di sekitar daerah yang diduga memilki


potensi panas bumi berupa daerah pemunculan manifestasi air panas Cubadak
yang mempunyai temperatur bervariasi antara 74 - 80 oC dengan pH 6,7 6,8
serta debit antara 0,1 - 1 L/ detik (Akbar, 1978).

I.2 Tujuan Penelitian


Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembentukan
sistem panas bumi dan potensinya dalam suatu sistem hidrotermal. Penelitian ini
juga dilakukan untuk mengetahui sejarah evolusi dari perubahan fluida
hidrotermal pada masa lampau hingga saat ini.

I.3 Lokasi Penelitian


Secara administratif daerah panas bumi Cubadak, termasuk ke dalam wilayah
Kecamatan Koto Duo, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat

Luas daerah penelitian sekitar 182

km2 (14 x 13 km), berada pada posisi

geografis antara 99 55' 46"- 100 03' 24 BT dan 0 15' 54 - 0 22' 38" LU atau
pada koordinat UTM zona 47 U WGS 84 pada 603432 mT 41730 mU 617619
mT 29301 mU (Gambar I.2.). Penelitian ini menggunakan Peta Rupa Bumi
Indonesia lembar peta Lubuksikaping, Sumatera Barat skala 1 : 50.000
(Bakosurtanal, 1991) sebagai peta dasar.

Pencapaian daerah penelitian bisa ditempuh dengan pesawat udara dari Jakarta
sampai ke Padang ( 2 jam), dilanjutkan dengan perjalanan darat melalui jalan
lintas Sumatera menggunakan bis atau kendaraan roda empat lainnya menuju
daerah Cubadak dengan waktu tempuh 5 jam perjalanan.

Gambar I.2. Peta Lokasi Penelitian, daerah Cubadak, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.

I.4 Perumusan Masalah


Studi Magmatic Hydrothermal Related System (MHRS), terutama mengenai
pembentukan sistem panas bumi dan alterasinya, merupakan salah satu bahasan
yang menarik disamping cukup komplek. Dalam studi ini dicoba untuk
menggabungkan beberapa metode penelitian seperti geologi, geokimia dan
geofisika dalam penerapannya. Untuk itu diperlukan analisis fluida dan batuan
yang lengkap serta detail, sehingga mampu untuk menjelaskan karakteristik panas
bumi hingga pembentukannya. Data fluida meliputi unsur unsur kimia dari

manifestasi di permukaan, digabungkan dengan data analisis batuan, yang


meliputi kandungan mineral alterasinya dan didukung oleh data bawah permukaan
dengan menggunakan metode gaya berat dan tahanan jenis (mapping sounding).
Sistem hidrotermal merupakan produk akhir terutama penentuan model sistem
hidrotermal di daerah penelitian.

I.5 Batasan Masalah


Ruang lingkup penelitian ini dibatasi oleh studi mengenai kondisi fisik dan
kimiawi manifestasi panas bumi termasuk kandungan unsur-unsur dalam fluida
panas bumi, lingkungan geologi yang meliputi batuan alterasi, batuan penyusun
(stratigrafi) dan hasil sayatan batuan serta data penunjang lain dalam bentuk
analisis geofisika yang meliputi data gaya berat dan tahanan jenis. Hasil sayatan
batuan dianalisis dengan harapan dapat digunakan untuk menentukan tipe alterasizonasi ubahan dan sistem hidrotermal yang terbentuk. Analisis unsur pada fluida
panas bumi diharapkan dapat memberikan gambaran jenis fluida yang
mempengaruhi pembentukan sistem panas bumi saat ini, serta memberikan
informasi tentang kondisi reservoir panas bumi dalam penentuan geotermometer
air. Analisis gaya berat diharapkan dapat memberikan gambaran kedalaman dan
dimensi batuan magmatik yang mempengaruhi proses hidrotermal serta
melokasisasi struktur-struktur di kedalaman yang mengontrol proses hidrotermal.
Data tahanan jenis dalam bentuk sounding diharapkan dapat memberikan
gambaran kondisi geologi bawah permukaan yang nantinya digunakan untuk
melokalisir daerah prospek dalam kompilasi data pada model tentatif sistem
hidrotermal di daerah penelitian.

I.6 Objek Penelitian dan Data


Penelitian ini merupakan kerjasama dengan Kelompok Penelitan Panas Bumi
Pusat Sumber Daya Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
dengan objek penelitian berada di daerah prospek panas bumi Sumatera Barat
yang terletak di sekitar daerah Cubadak, Kecamatan Koto Duo, Kabupaten
Pasamani. Objek penelitian difokuskan pada pembentukan sistem hidrotermal

panas bumi beserta alterasi batuan di daerah panas bumi Cubadak dengan
mengenali kondisi geologi dan geokimia sekitarnya. Data yang tersedia berupa
data fluida di daerah manifestasi panas bumi, data petrografi batuan dan data
pengukuran geofisika (gaya berat dan tahanan jenis).

I.7 Hipotesis Kerja dan Asumsi


I.7.1 Hipotesis Kerja
Proses alterasi batuan yang terbentuk pada masa lampau diperkirakan
berhubungan dengan tipe fluida hidrotermal pada manifestasi air panas yang
muncul di permukaan saat ini.

Komposisi kimia fluida hidrotermal dan temperaturnya merupakan faktor yang


mengontrol pembentukan alterasi serta dapat digunakan dalam penentuan suhu
reservoir pada sistem panas bumi (geotermometer).

Model hidrotermal merupakan hasil kombinasi dari kompilasi data geologi,


geokimia dan geofisika yang menggambarkan kondisi bawah permukaan suatu
sistem hidrotermal.

I.7.2 Asumsi-Asumsi
Hidrotermal sistem yang terbentuk pada daerah Sumatera sangat berhubungan
dengan aktifitas magmatik yang dicirikan dengan pembentukan batuan vulkanik
dan sistem gunungapi.

Tatanan tektonik yang terbentuk oleh aktifitas Sesar Sumatera membentuk pola
pull apart basin sangat cocok untuk pembentukan sistem hidrotermal dan
memiliki potensi besar untuk pembentukan daerah prospek sistem hidrotermal.

Aktifitas tektonik sangat berperan dalam pembentukan suatu zona permeabel


sebagai reservoir dan hadirnya sesar membantu keluarnya fluida panas ke

permukaan sebagai manifestasi di daerah penelitian. Kondisi topografi yang


berkontur akan membantu terbentuknya sistem hidrologi di daerah penelitian guna
memenuhi suplai fluida ke daerah resapan.

Munculnya batuan vulkanik dan intrusi berperan penting dalam pembentukan


sumber panas dan transfer panas pada sistem hidrologi. Nilai kontras densitas
tinggi bisa diinterpretasikan sebagai sumber panas terutama bila lokasinya berada
dekat dengan manifestasi panas bumi.

Batuan yang memiliki nilai tahanan jenis rendah dan mengalami alterasi sangat
berpotensi sebagai batuan penudung yang menahan keluarnya air, uap dan gas ke
permukaan.

Batuan yang resistif dengan permeabilitas tinggi berfungsi sebagai reservoir


dalam sistem panas bumi.

I.8 Metode Penelitian


I.8.1 Pemerolehan data
Metode penelitian meliputi aspek geologi, kimia dan fisika panas bumi (Gambar
I.3.). Pembagian data dikelompokan menjadi dua, yaitu data utama dan data
pendukung.

1) Data utama
a) Data petrografi batuan
b) Data XRD (X-ray Diffraction)
c) Data kimia fluida panas bumi
d) Data fisik manifestasi panas bumi

2) Data pendukung
a) Data litologi
b) Data struktur

c) Data pengukuran tahanan jenis


d) Data pengukuran densitas batuan

Terdapat dua tahapan penelitian yang dilakukan, yaitu studi literatur dan
penelitian lapangan. Studi literatur dilakukan sebelum berangkat ke lapangan,
bertujuan untuk mengumpulkan data yang relevan dari hasil penelitian terdahulu
sebagai pembanding. Tahapan ini menghasilkan kerangka berpikir dan efisiensi
cara kerja di lapangan yang lebih terarah. Penelitian lapangan bertujuan untuk
mengumpulkan data hasil pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan
terhadap gejala-gejala geologi, kimia dan fisika yang difokuskan di sekitar
manifestasi dan sekitar daerah alterasi. Penelitian lapangan terdiri dari tahapan
pengamatan, pengukuran, dan pengambilan sampel. Sampel selanjutnya dianalisis
di laboratorium dan semua data akan diolah dan dianalisis.

Sistematika kerja penelitian bisa dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :


1) Pengamatan
a) pengamatan manifestasi,
b) pengamatan morfologi,
c) pengamatan jenis batuan dan penyebarannya, dan
d) pengamatan struktur geologi.

2) Pengukuran
a) pengukuran sifat fisik manifestasi meliputi pengukuran temperatur
manifestasi (air panas, hembusan uap, tanah panas, lumpur panas,
fumarol), temperatur udara, pH manifestasi, debit air panas, daya hantar
listrik dan contoh air dingin di sekitar lokasi manifestasi.
b) pengukuran arah jurus/ kemiringan perlapisan batuan
c) pengukuran arah jurus/ kemiringan struktur geologi.
d) pengukuran densitas batuan
e) pengukuran nilai tahanan jenis batuan

PERSIAPAN

Studi literatur
Digitasi peta dasar
Interpretasi citra landsat
Persiapan peralatan lapangan

PEMEROLEHAN
DATA

Pengamatan dan pengukuran data geologi


Pemilihan sampel petrografi & XRD
Pengambilan sampel air panas
Pengukuran densitas dan nilai resistiviti batuan

Analisis laboratorium

air & gas


batuan
batuan
batuan

PEMROSESAN
DATA

Pembuatan diagram segitiga kimia & isotop


Penentuan zonasi alterasi
Pembuatan peta gayaberat & tahanan jenis
Pembuatan penampang & diagram pagar
sounding

Penentuan tipe geothermometer

Temperatur reservoir

Pembuatan peta pengamatan, geomorfologi,


geologi, hidrologi
Model sistem hidrotermal & peta prospeksi
Kompilasi data & Uji hipotesis

INTERPRETASI

KESIMPULAN

Karakteristik & evolusi fluida


Model hidrotermal
Daerah prospek panas bumi

PENYUSUNAN
LAPORAN

Presentasi laporan
Laporan tesis

Gambar I.3. Diagram alir metode penelitian

3) Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel batuan dilakukan secara selektif terhadap batuan yang
dianggap mewakili setiap satuan batuan terutama batuan yang diperkirakan
telah mengalami alterasi untuk digunakan analisis petrografi dan densitas
batuan. Sampel batuan berupa batuan segar maupun batuan ubahan hasil
proses hidrotermal. Sampel juga diambil pada mata air panas dan gas unutk
mengetahui kimia air panas dan gas.

4) Pengolahan Data
Data yang diperoleh di lapangan kemudian diplot dalam peta kerangka
geologi, berupa data lokasi titik pengamatan, pengambilan sampel petrografi,
XRD, manifestasi, arah/kemiringan perlapisan batuan, indikasi struktur
geologi, dan lokasi serta penyebarannya.
Data kimia dilakukan di laboratorium untuk dianalisis sampel air dalam
bentuk unsur-unsur seperti SiO2, B, Al, Fe, Ca, Mg, Na, K, Li, As, NH4, F, Cl,
SO4, HCO3, CO3 dan isotop O18.
Data densitas dan tahanan jenis batuan dilakukan plotting dan gridding setiap
lintasannya untuk dilakukan sebaran nilai densitas dan tahanan jenisnya.

5) Pelaporan
Pelaporan berupa laporan tertulis mengenai hasil penelitian, meliputi hasil
analisis laboratorium, peta, dan pemodelan yang selanjutnya akan dipaparkan
dalam kegiatan sidang pasca sarjana.

I.8.2 Pemrosesan Data


1) Sampel Batuan
Sampel batuan segar dan batuan alterasi ditentukan mineraloginya dengan analisis
petrografi dan XRD. Hasil sayatan dianalisis dengan mikroskop polarisator untuk
mengetahui adanya mineral mineral sekunder serta asosiasinya yang digunakan
untuk penentuan tipe ubahan dan paragenesa/ sejarah pembentukannya. Contoh
batuan juga dianalisis dengan menggunakan metoda XRD dimana data tersebut

10

digunakan untuk penentuan jenis mineral lempung yang digunakan dalam


penentuan zona alterasi. Selanjutnya hasil analisis digunakan untuk pemodelan
sistem hidrotermalnya.

2) Sampel fluida
Manifestasi air panas diambil sampel airnya untuk dilakukan analisis kandungan
kimianya, data unsur tersebut dikorelasikan dengan fluida hidrotermal di masa
lalu yang mempengaruhi proses alterasi batuan dengan komposisi fluida panas
bumi saat ini. Data unsur kimia juga digunakan untuk menentukan tipe airnya.
Temperatur air dan pH air di ukur sebagai data sekunder dalam pendugaan dan
pengukuran kondisi reservoir serta digunakan dalam pendugaan geotermometer
yang sesuai.

3) Data tahanan jenis


Pengolahan data tahanan jenis dibagi dalam dua tahap, yaitu pengolahan data awal
(di lapangan) dan pengolahan data lanjutan (di studio).
Pengolahan data awal berupa kegiatan sebagai berikut.
a) Pemasukan data arus listrik (I), beda potensial (V), dan jarak bentangan
AB/2 masing-masing metode untuk tiap titik ukur ke tabel data.
b) Penghitungan nilai tahanan jenis semu untuk tiap titik di ukur
c) Pengeplotan nilai tahanan jenis pada kertas grafik skala log-log untuk masingmasing bentangan AB/2 pada peta dasar, untuk mengetahui sebaran tahanan
jenis semu pada setiap titik pengukuran.

4) Data densitas batuan


Pengukuran gaya berat dilakukan di titik yang telah ditentukan baik titik lintasan
maupun acak. Metode pengukuran yang digunakan adalah metode poligon
tertutup, Metode ini mengukur di suatu titik di lanjutkan ke titik-titik lainnya dan
kembali lagi ke titik ukur awal. Selanjutnya dilakukan interpretasi terhadap nilai
anomali tersebut dengan cara membuat model bawah permukaan berdasar nilai
anomali sisa

11

Data lapangan lainnya seperti data struktur geologi, kemiringan batuan, dan data
pendukung lainnya digunakan sebagai acuan pembuatan peta geologi panas bumi
dan model hidrotermal.

12